Tuesday, March 1, 2011

BAGAIMANA MEMAHAMI TAUHID

Tauhid adalah perkara yang sangat penting dalam kehidupan manusia,ia adalah asas sebagai tolak ukur dari kebenaran suatu ibadah, juga sebagai wujud tanggungjawab di hadapan Tuhan kelak. Jika tauhid seseorang itu benar, maka Insya Allah amalnya akan diterima. Tetapi jika tauhidnya batil, maka seluruh amalnya akan terhapus sia-sia. Memahai tauhid adalah kewajiban setiap insan dan merupakan haq Allah yang wajib kita tunaikan. Memahami tauhid hendaknya mengikut cara Nabi muhammad saw dan para sahabatnya, karena dengan cara itulah kita akan sampai kepada pemahaman tauhid sesuai yang dimaksudkan Allah SWT. Jika memahami tauhid dengan selain cara mereka ( dengan akal secara mutlak dan mengikuti hawa nafsu serta unsur-unsur falsafah yang bertentangan dengan syarak), maka kesesatan hasilnya.

Menggunakan akal fikiran untuk mengenal dan memahami keimanan memang wajib,tetapi akal pada masanya harus tunduk kepada wahyu Ilahi. Jalan yang selamat untuk memahami tauhid adalah dengan mengikuti pemahaman generasi salaf, Sebagaimana Allah berfirman :

Artinya :Dan sesiapa Yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut jalan Yang lain dari jalan orang-orang Yang beriman, Kami akan memberikannya Kuasa untuk melakukan (kesesatan) Yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke Dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. An-Nisa’ :115

Maka di bawah ini kami ingin menjelaskan tauhid dan perkara yang berkenaan dengannya secara ringkas :

1. Apakah makna tauhid.

Dari segi bahasa : berasal dari kata ‘ mengesakan Allah SWT , jika berikrar dengan mengatakan bahawa Allah itu satu, maka maksudnya secara istilah adalah mengesakan peribadatan hanya kepada Allah.
Allah berfirman pada surah Adz Dzariat : 56

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Allah berfirman juga pada surah Al Isra’ : 23

Artinya : Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850].

2. Makna kalimah tauhid Laa ilaaha illallah.

Memahami makna لاَ إِلهَ إِلاَّ الله merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah atas setiap muslim, sebagaimana dalam firman-Nya :

Artinya : Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.Muhammad : 19

Al Imam Al Biqo’i berkata: “Sesungguhnya ilmu tentang " Laa Ilaaha Illallah " ini merupakan ilmu yang paling agung yang dapat menyelamatkan dari kengerian di hari kiamat (Fathul Majid hal. 54)

لاَ إِلهَ إِلاَّ الله bila ditinjau secara harfiah bermakna :

-لاَ (Laa) : Tidak ada, atau tiada

-إله (Ilaaha): Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:” اَلإلَهُ adalah zat yang diibadahi lagi ditaati. Al Imam Ibnul Qoyyim berkata : اَلإلَهُ adalah zat yang hati ini rela untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh kecintaan, pemujaan, kepasrahan, pemuliaan, pengagungan, pengabdian, perendahan diri, ketakutan dan harapan serta penyerahan diri. (lihat Taisirul ‘Azizil Hamid hal.75)

إلاَّ- (Illa) : Kecuali, atau melainkan

الله- (Allah) : Ibnu Abbas berkata: Allah, Dialah yang mempunyai hak penyembahan dan ibadah atas seluruh makhluk-Nya. (Fathul Majid hal. 19).

Adapun bila ditinjau dari rangkaian kata secara utuh, maka maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Al Ushul Ats Tsalatsah yaitu :

لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ إِلاَّ الله “Tiada penyembahan (Tuhan) yang berhak diibadahi melainkan Allah semata. لاَإِلهَ sebagai nafyu (peniadaan) atas segala apa yang diibadahi selain Allah, إِلاَّالله sebagai itsbat (penetapan) bahwa seluruh ibadah hanyalah milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah ini sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam hal kekuasaan.”

Dari penjelasan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas ada suatu permasalahan yang menarik untuk dibahas, yaitu : yang berkaitan dengan makna ' la Ilaaha Illallahu ' itu sendiri, dimana muncul suatu tanda tanya :

- Mengapa dimaknakan seperti itu ?! Dan mengapa tidak dimaknakan dengan “Tiada Tuhan melainkan Allah?” atau لاَ خَالِقَ إِلاَّ الله“Tiada Pencipta melainkan Allah?”

- Mengapa ada tambahan بِحقٍّ “ yang berhak”, apakah ada dasarnya ?
Adapun tanda tanya pertama, mengapa tidak dimaknakan dengan “Tiada tuhan melainkan Allah” ? maka jawabnya adalah, kerana tidak sesuai dengan realita yang ada, yaitu adanya Tuhan-Tuhan di dalam semesta ini yang diibadahi selain Allah, seperti pohon, batu, manusia dan lain sebagainya.

Allah berfirman yang bermaksud :

Demikianlah, Karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak[1185] dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil; dan Sesungguhnya Allah dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar. (Q.S. Luqman:30).

Bahkan Allah sendiri yang mengistilahkan penyembahan-penyembahan selain-Nya itu dengan istilah أَلِهَة”Tuhan-Tuhan”
sebagaimana dalam Q.S Huud: 101 yang bermaksud :

Artinya : Dan kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, Karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. Juga dalam Surah Shaad ayat 5 Allah berfirman :

Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya Ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.
Tidak pula dimaknakan dengan “tiada pencipta melainkan Allah”, kerana إله dalamkalimat Laa Ilaa ha Illallah ini bermakna مَأْلُوْهٌ yang artinya مَعْبُوْدٌ ”yang diibadahi” sebagaimana yang telah lalu dari penjelasan para ulama.

Jika kalian ditanya apakah makna kalimah “ Laa ilaaha illallah itu ? maka jawablah dengan tegas “ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah atau tidak ada penyembahan yang benar kecuali Allah “.

Jadi, segala sesuatu yang dijadikan penyembahan oleh manusia , baik berupa berhala-berhala atau patung-patung, pepohonan ,batu-batuan, atau kuburan yang dikeramatkan, jin dan syaitan, atau orang soleh yang telah mati, maka semua itu adalah penyembahan yang batil ( salah ).
Allah berfirman :

Artinya : (Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah Karena Sesungguhnya Allah, dialah (Tuhan) yang Haq dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar. QS. Al Haj :62.

3. Rukun kalimah Laa ilaaha illallah

Kalimah Laa ilaaha illallah mempunyai 2 rukun, yaitu :
An Nafyu (mentiadakan), yaitu mentiadakan atau meninggalkan seluruh bentuk penyembahan yang diagungkan dan dipuja oleh umat manusia selain Allah, hal ini tercermin dalam kalimah ‘ Laa ilaaha ‘. (tidak ada penyembahan yang benar ).
Al Istbat ( menetapkan ), yaitu menetapkan dengan penuh keyakinan bahawa satu-satunya yang berhak diibadahi atau disembah hanyalah Allah SWT, tidak ada sekutu bagiNya . Hal ini tercermin dalam kata “ illallah “ (kecuali Allah)

4. Pembahagian tauhid.

Tauhid adalah perkara yang sangat penting dalam hidup manusia, setiap orang Islam wajib untuk mempelajari ilmu tauhid. Dikarenakan pentingnya ilmu tauhid ini, maka para ulama mencuba membuat suatu methode atau rumusan untuk memudahkan dalam memahami ilmu tauhid. Terdapat dua pendekatan atau methode yang terkenal di masyarakat kita hari ini, yaitu :

Pertama Tauhid dengan pendekatan sifat 20, dimana pemahaman ini dinisbahkan kepada pemahaman Syaikh Abu Hasan al-Asy’ari. Dan kedua Tauhid dengan pendekatan 3 pembahagian ( Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa sifat ), dimana pendekatan ini telah disampaikan oleh Ibnu Jarir At thobari, beliau telah membahagikan tauhid kepada 3 bahagian ( Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa sifat ), sebagaimana yang terdapat dalam kitab tasirnya ( Tafsir At Thobari ), begitu juga dengan Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qoyyim Al jauziah.

Pada kesempatan ini kita memilih untuk memahami tauhid dengan pendekatan 3 pembahagian, dikarenakan pendekatan ini lebih mudah untuk dipahami, dan lebih mendekati kebenarannya merujuk kepada pemahaman nabi saw dan para sahabatnya berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Yang menjadi penentu kebenaran sesuatu itu bukanlah pada nama dan istilahnya sebalik pada isi kandungannya.

Ada sebahagian masyarakat berkata bahawa Pemahaman Tauhid dengan pendekatan 3 pembahagian tidak wujud dizaman Rasulullah saw, dan beliau tidak pernah menggunakan doktrin ini. Mereka seolah-olah lupa bahawa tauhid dengan pendekatan Sifat 20 yang mereka pertahankan juga tiada di zaman Rasulullah SAW.
Persoalannya, antara isi kandungan Tauhid 3 pembahagian dan Sifat 20, manakah yang lebih sesuai dengan al-Quran dan al-Sunnah, manakah yang lebih mudah difahami untuk mempelajari akidah. Inilah yang patut dibahaskan, bukannya bergaduh dengan isu nama dan istilah Tauhid al-Uluhiyyah dan lain-lain.

Tauhid terbahagi menjadi 3 ( Tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan Asma’ wa sifat ) berdasarkan istiqra’ ( penelitian menyeluruh ) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana ulama nahwu membahagikan kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3 : Isim, fi’il, dan huruf, berdasarkan penelitian menyeluruh terhadap kalimat-kalimat yang ada di dalam bahasa arab. ( Lihat Kitab At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad Ash-Shabuny fii At-Tafsir karangan Syeikh Bakr Abu Zaid hal: 30, cet. Darur Rayah- Riyadh )

Kami sebutkan disini di antara ulama-ulama yang menyebutkan pembahagian ( atau pemahaman tauhid dengan pendekatan 3 pembahagian ) ini baik secara jelas mahupun dengan isyarat :

1. Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi ( wafat th. 321 ) , di dalam muqaddimah kitab beliau Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah . Beliau berkata :
نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق الله إن الله واحد لا شريك له ، و لا شيء مثله ، و لا شيء يعجزه ، و لا إله غيره
Ertinya: Kami mengatakan di dalam pengesaan kepada Allah dengan meyakini : bahawa Allah satu tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada yang serupa denganNya, tidak ada yang melemahkanNya, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya.
Perkataan beliau ” tidak ada yang serupa denganNya ” : ini termasuk tauhid Asma’ dan Sifat . Perkataan beliau ” tidak ada yang melemahkanNya ” : ini termasuk tauhid Rububiyyah. Perkataan beliau ” dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya.” : ini termasuk tauhid Uluhiyyah.

2. Ibnu Abi Zaid Al-Qairawany Al-Maliki ( wafat th. 386 H ) , di dalam muqaddimah kitab beliau Ar-Risalah Al-Fiqhiyyah hal. 75 ( cet. Darul Gharb Al-Islamy ) . Beliau mengatakan :
من ذلك : الإيمان بالقلب و النطق باللسان بأن الله إله واحد لا إله غيره ، و لا شبيه له و لا نظير، … ، خالقا لكل شيء ، ألا هو رب العباد و رب أعمالهم والمقدر لحركاتهم و آجالهم .
Ertinya : Termasuk di antaranya adalah beriman dengan hati dan mengucapkan dengan lisan bahawasanya Allah adalah sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya…Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahawa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang mentakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka .
Perkataan beliau ” sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia ” : ini termasuk tauhid Uluhiyyah .
Perkataan beliau ” tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya ” : ini termasuk tauhid Asma’ wa Sifat.
Perkataan beliau ” Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahawa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang mentakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka ” : ini termasuk tauhid Rubiyyah.

3. Ibnu Baththah Al-’Akbari ( wafat th. 387 H ), di dalam kitab beliau Al-Ibanah ‘an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujanabatil Firaq Al-Madzmumah ( 5 / 475 )
وذلك أن أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء : أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مباينا لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعا . الثاني : أن يعتقد وحدانيته ، ليكون مباينا بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره . والثالث : أن يعتقده موصوفا بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفا بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه

Ertinya : Dan yang demikian itu bahawa asas keimanan kepada Allah yang wajib ke atas para makhluk untuk meyakininya di dalam menetapkan keimanan kepadaNya ada tiga perkara :

Pertama : Hendaklah seorang hamba meyakini rabbaniyyah Allah ( kekuasaan Allah ) supaya dia membezakan diri dari jalan orang-orang atheisme yang mana mereka tidak menolak adanya pencipta.
Kedua : Hendaklah meyakini wahdaniyyah Allah ( keesaan Allah dalam peribadatan ) supaya dia membezakan diri daripada jalan orang-orang musyrik yang mana mereka mengakui adanya pencipta alam kemudian mereka menyekutukanNya dengan selainNya.
Ketiga : Hendaklah meyakini bahawasanya Dia bersifat dengan sifat-sifat yang mesti Dia miliki, seperti ilmu, qudrah ( kekuasaan ), hikmah ( kebijaksanaan ) , dan sifat-sifat yang lain yang Dia tetapkan di dalam kitabNya.

4. Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi ( wafat th. 520 H ), di dalam muqaddimah kitab beliau Sirajul Muluk ( 1 / 1 ) , beliau berkata :
وأشهد له بالربوبية والوحدانية. وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى. والصفات العلى. والنعت الأوفى
Ertinya : Dan aku bersaksi atas rububiyyahNya dan uluhiyyahNya, dan atas apa-apa yang Dia bersaksi atasnya untuk dirinya berupa nama-nama yang paling baik dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.

5. Al-Qurthubi ( wafat th. 671 H ) , di dalam tafsir beliau (1/ 102) , beliau berkata ketika menafsirkan lafaz jalalah ( الله) di dalam Al-Fatihah:
فالله اسم للموجود الحق الجامع لصفات الإلهية، المنعوت بنعوت الربوبية، المنفرد بالوجود الحقيقي، لا إله إلا هو سبحانه.
Ertinya : Maka ( الله ) adalah nama untuk sesuatu yang benar-benar ada, yang mengumpulkan sifat-sifat ilahiyyah ( sifat-sifat sesuatu yang berhak disembah ) , yang bersifat dengan sifat-sifat rububiyyah ( sifat-sifat sesuatu yang berkuasa ) , yang bersendiri dengan kewujudan yang hakiki, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya.

Adapun pembahagian tauhid tersebut adalah :

a. Tauhid rububiyyah.

Tauhid rububiyyah bermakna : Keyakinan untuk mengesakan Allah SWT dengan perbuatan-perbuatanNya, seperti :
1. Allah menjadikan segala kejadian alam ini.
2. Allah memberi rezeki kepada makhlukNya.
3. Allah menghidupkan makhlukNya.
4. Allah mematikan makhlukNya.
5. Allah menyusun dan mentadbir alam ini.
6. Allah memberi pertolongan kepada makhlukNya.

Ketahuilah bahwa ikrar terhadap tauhid rububiyyah mengandung konsekuensi untuk ikrar terhadap tauhid uluhiyyah, sedangkan ikrar terhadap tauhid uluhiyyah menngandung pengertian ikrar terhadap tauhid rububiyyah. Penjelasanya adalah:

Bahwa tauhid yang pertama (rububiyyah) merupakan petunjuk pasti untuk sampai kepada tauhid yang kedua (uluhiyah) yakni ikrar terhadap tauhid rububiyah secara pasti mewajibkan pula untuk ikrar terhadap tauhid uluhiyah sebab apabila telah diyakini bahwa Allah-lah satu-satunya pencipta dan pengatur segala sesuatu, dan bahwa ditangan-Nyalah segala kekuasaan, maka Dia menjadi wajib untuk disembah dan bukan selain-Nya.

Sedangkan tauhid yang kedua (uluhiyah) ketika seseorang telah mengimani, otomatis ia (mestinya) mengimani tauhid yang pertama (rububiyah), sebab tidak ada yang bisa dijadikan Ilah (sesembahan) kecuali Ar Rabb Ta`ala, Dzat yang memiliki sifat Rububiyyah, maha pencipta dan maha pengatur segala urusan.

Orang-orang musyrik Mekah dizaman Rasulullah saw telah berikrar rububiyah Allah, mereka menyadari bahawa Allah yang menciptakan langit dan bumi. Tetapi mereka mengingkari uluhiyah Allah. Mereka tidak tunduk dan meyembah Allah.

Dalil-dalil al Qur`an yang menegaskan bahwa orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu telah mengikrarkan rububiyyah Allah antara lain:

Artinya : Bertanyalah kepada mereka (yang musyrik itu): "Siapakah Yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? atau siapakah Yang Menguasai pendengaran dan penglihatan? dan siapakah Yang mengeluarkan makhluk Yang hidup dari benda Yang mati, dan mengeluarkan benda Yang mati dari makhluk Yang hidup? dan siapakah pula Yang mentadbirkan urusan sekalian alam? "(Dengan pertanyaan-pertanyaan itu) maka mereka (yang musyrik) tetap akan menjawab (mengakui) Dengan berkata: "Allah jualah Yang Menguasai segala-galanya! "Oleh itu, katakanlah: "(Jika kamu mengakui Yang demikian), maka mengapa kamu tidak mahu bertaqwa?Yunus : 31

Didalam surah Al Mukminun ayat 84-89 Allah berfirman :

Artinya : 84. Tanyakanlah (Wahai Muhammad): "Kepunyaan siapakah bumi ini dan Segala Yang ada padanya, kalau kamu mengetahui?"
85. mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah". katakanlah: "Mengapa kamu tidak mahu ingat (dan insaf)?"
86. Tanyakanlah lagi: "Siapakah Tuhan Yang memiliki dan mentadbirkan langit Yang tujuh, dan Tuhan Yang mempunyai Arasy Yang besar?"
87. mereka akan menjawab: "(Semuanya) kepunyaan Allah". katakanlah: "Mengapa kamu tidak mahu bertaqwa?"
88. Tanyakanlah lagi: siapakah Yang memegang Kuasa pemerintahan tiap-tiap sesuatu, serta ia dapat melindungi (segala-galanya) dan tidak ada sesuatupun Yang dapat disembunyi daripada kekuasaannya? (Jawablah) jika kamu mengetahui!"
89. mereka akan menjawab: "(Segala-galanya) dikuasai Allah". katakanlah: "Jika demikian, Bagaimana kamu tertarik hati kepada perkara Yang tidak benar?"

Dengan demikian adalah amat nyata bahwa kaum musyrikin benar-benar telah mengikrarkan tauhid rububiyah, namun hal itu tidaklah cukup bagi mereka untuk disebut sebagai orang-orang yang bertauhid, dan tidak cukup pula untuk menjadikan terpeliharanya darah serta harta benda mereka.

Dari sini menjadi amat terang pula bahwa barang siapa yang mengingkari tauhid al-ibadah (uluhiyah), maka bukanlah ia termasuk golongan orang muslim, sekalipun ia mengimani rububiyyah Allah.

Itulah kejahilan mereka dalam memahami makna tauhidullah, hingga mereka hanya ikrar terhadap tauhid rububiyyah saja tanpa tauhid uluhiyah, menyebabkan mereka terjerumus dalam peribadatan kepada selain Allah.

Di dalam surah Luqman ayat 25 Allah juga berfirman :

Artinya : Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah : "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.
Banyak sekali ayat Al Qur`an yang menerangkan tentang ikrar mereka terhadap tauhid rububiyyah, tetapi ikrar mereka tersebut tidak memberikan arti apa-apa bagi mereka, sebab yang mereka ikrarkan hanyalah tauhid rububiyyah belaka. Selamanya, iman terhadap tauhid rububiyyah tidak akan memberi manfaat apapun kepada pelakunya sebelum ia juga berikrar terhadap tauhid uluhiyyah dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah semata.

Begitulah manusia jahiliyah, mereka menyembah patung-patung, kayu-kayu, kuburan-kuburan dan monumen-monumen orang–orang shalih dengan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah peribadatan tetapi hanyalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta`ala telah berfirman mengenai meareka:

Artinya : Ingatlah! (hak Yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah Segala Ibadat dan bawaan Yang suci bersih (dari Segala rupa syirik). dan orang-orang musyrik Yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi Pelindung dan Penolong (sambil berkata): "Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan Kami kepada Allah sehampir-hampirnya", - Sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang-orang Yang tidak melakukan syirik) tentang apa Yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang Yang tetap berdusta (mengatakan Yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik). Az-Zumar : 3

Mereka sebenarnya yakin dan mengakui bahwa benda serta patung-patung tesebut tidaklah akan mampu memberikan manfaat atau madharat apapun kepada mereka, hanya saja mereka beranggapan bahwa semua itu adalah pemberi syafa`at kelak disisi Allah. akan tetapi sungguh sayang, syafa`at semacam itu adalah syafa`at yang tiada bermanfaat, sebuah syafaat yang hakikatnya tidak ada, sebeb tiada seorangpun yang bisa memberi syafaat tanpa idzin dari Allah, padahal Allah ta`ala tidak mungkin akan mengijinkan seseorang untuk memberikan syafa`atnya (kelak di hari kiamat) kecuali kepada orang yang diridhai-Nya.

Siapapun yang tidak diridhai oleh Allah baik yang memberi syafa`at maupun yang diberi, maka Allah tidak mungkin memberi izin padanya untuk memberi atau mendapat syafa`at. Firman-Nya:

Artinya : Maka tidak akan berguna kepada mereka sebarang syafaat pertolongan Kalaulah ditakdirkan ada) sesiapa Yang boleh memberikan syafaat itu.

b. Tauhid uluhiyyah

Syaikul Islam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata :”Ketahuilah semoga Allah merahmati anda bahwa tauhid ialah mengesakan Allah dengan beribadah. Inilah dia agama semua Rasul Allah yang diutus untuk para hamba- Nya. Utusan paling pertama adalah adalah Nuh alahissalam yang diutus Allah Ta’ala kapada kaumnya ketika mereka berlaku ghuluw (berlebih-lebihan ) terhadap para ulama sholihin yaitu Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq, serta Nasr “.

Tauhid uluhiyyah bermakna tauhid secara istilah, yaitu : Mengesakan Allah SWT dengan beribadah hanya kepada-Nya sahaja, dan tidak sekali-kali menyekutukan-Nya dalam segala jenis ibadah.

Mengesakan Allah dengan cara mempersembahkan segala apa yang khusus menjadi hak Allah; berupa asma`, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan peribadatan hanya kepada Allah semata, baik secara ilmu maupun secara aqidah (keyakinan).Contohnya : Sholat, penyembelihan binatang, memohon pertolongan, doa, nadzar, korban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali / taubat) dan ibadah yang lainnya.

Rasul Allah paling pertama adalah Nuh alihis-salam, beliau diutus untuk menyeru kaumnya agar mereka mentauhidkan Allah serta mengingatkan mereka supaya jangan menyembah kepada patung: Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nashr.

Sebab-sebab peribadatan mereka terhadap patung-patung itu ialah karena ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang–orang shalih.

Nama-nama Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nashar, sebelumnya nama orang-orang shalih yang telah wafat, kemudian mereka dimonumentalkan menjadi patung-patung. Mula-mula tidak disembah, namun ketika zaman menjadi semakin panjang, akhirnya patung-patung inipun disembah.

Karena itulah Nuh ‘alaihi salam mengajak mereka untuk kembali bertauhid kepada Allah dan mengingatkan mereka supaya jangan syirik kepada Allah Azza wa Jalla. Begitu pulalah semua rasul Allah, mereka diutus untuk mengemban prinsip ini, prinsip Tauhidullah.(Al-Anbiya`:25)

Kemudian rasul paling akhir adalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau inilah yang telah membinasakan patung-patung orang shalih tersebut.

Manakala terjadi Fathul Makkah, ketika beliau masuk Ka`bah, beliau mendapati patung-patung yang jumlahnya mencapai 360 buah patung, terdapat didalam dan disekitar Ka`bah, lalu dihancurkan lah patung–patung itu oleh beliau dengan kampak seraya mengucapkan: “yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (Al-Isra`:81)

Allah Ta`ala telah (sengaja) mengutus Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wa salam ini ketengah-tengah manusia yang beribadah, berhaji, shadaqoh dan berdzikir (banyak-banyak) kepada Allah, namun bersamaan dengan itu, mereka menjadikan para makluk sebagai wasilah (perantara) yang dianggap bisa menjadi penghubung antara diri mereka dengan Allah. Mereka mengatakan: “Kami menginginkan mereka untuk menjadi wasilah yang mendekatkan diri kami kepada Allah, kami menghendaki syafa`at mereka.”

Tauhid uluhiyyah inilah yang ditolak dan di ingkari oleh orang-orang kafir sejak zaman nabi Nuh AS hinggalah ke zaman nabi Muhammad saw. Jika seseorang menyekutukan Allah atau mengingkari tauhid uluhiyyah ini maka akan terhapuslah seluruh amalannya dan ia akan menjadi orang yang rugi. Sebagaimana firman Allah pada surah Az-Zumar :65-66

Artinya : 65. Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.
66. Karena itu, Maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur".
Dan konsep ketauhidan ini adalah merupakan intipati dakwah para rasul, bermula dari rasul yang pertama sehinggalah yang terakhir. Sebagaimana Allah berfirman :

Artinya : Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Dalam kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): "Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut". maka di antara mereka (yang menerima seruan Rasul itu), ada Yang diberi hidayah petunjuk oIeh Allah dan ada pula Yang berhak ditimpa kesesatan. oleh itu mengembaralah kamu di bumi, kemudian lihatlah Bagaimana buruknya kesudahan umat-umat Yang mendustakan Rasul-rasulNya.
An-Nahl : 36

Allah berfirman :

Artinya :Dan Kami tidak mengutus sebelummu (Wahai Muhammad) seseorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahawa Sesungguhnya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku; oleh itu, Beribadatlah kamu kepadaku". Al-Anbiya’: 25


Jadi, jelaslah bahawa Tauhid uluhiyah adalah maksud atau intipati utama dari dakwah para rasul yang diutuskan. Dikatakan sedemikian adalah kerana uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya, “Allah”, yang ertinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah).

Juga disebut “tauhid ibadah”, kerana ubudiyah adalah sifat ‘abd (hamba) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, kerana ketergantungan mereka kepadanya.

Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Ketahuilah, keperluan seorang hamba untuk menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya denga sesuatu apa pun, tidak memiliki bandingan yang dapat dikiankan, tetapi dari sebahagian sudut mirip dengan keperluan jasad kepada makanan dan minuman. Akan tetapi di antara keduanya ini terdapat perbezaan mendasar. Kerana hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya, ia tidak boleh bergantung melainkan kepada Allah yang tiada Tuhan melainkan-Nya. Ia tidak mampu beroleh ketenangan di dunia ini kecuali dengan mengingati-Nya. Seandainya hamba memperoleh kenikmatan dan kesenangan tanpa Allah, maka hal itu tidak akan berlangsung atau berkekalan lama, tetapi pasti akan berpindah-pindah dari suatu subjek kepada subjek yang lainnya. Adapun Tuhannya maka Dia diperlukan setiap saat dan setiap waktu, di mana pun ia berada maka dia selalu bersamanya.” (Majmu’ Fatawa, 1/24)

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, kerana ia adalah asas dan dasar perlaksanaan segala amalan. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah tidak akan diterima. Kerana andainya ia tidak wujud, maka akan bangkitlah lawannya, iaitu kesyirikan. Sedangkan Allah s.w.t. berfirman:

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syirik mempersekutukanNya (dengan sesuatu apajua), dan akan mengampunkan dosa Yang lain dari itu bagi sesiapa Yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya). dan sesiapa Yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu Yang lain), maka Sesungguhnya ia telah melakukan dosa Yang besar. Nisa :48

Dan skop tauhid ini adalah kewajiban pertama seluruh hamba. Allah s.w.t. berfirman:

Artinya :Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya Engkau tidak menyembah melainkan kepadanya semata-mata, dan hendaklah Engkau berbuat baik kepada ibu bapa. jika salah seorang dari keduanya, atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua Dalam jagaan dan peliharaanMu, maka janganlah Engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan "Ha", dan janganlah Engkau menengking menyergah mereka, tetapi Katakanlah kepada mereka perkataan Yang mulia (yang bersopan santun).Al-Isra’:23

c. Tauhid Asma’ wa sifat ( nama dan sifat Allah ).

Tauhid Asma’ wa sifat yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam al-Qur'an dan hadis shahih tentang sifat-sifat Allah yang Dia ungkapkan tentang diriNya atau diungkapkan oleh Ralulullah saw tentang sifat-sifat Allah tersebut.

Beriman kepada sifat-sifat Allah harus sebagaimana adanya, dengan memahami makna setiap sifat Allah dengan menetapkan ( Itsbath ) sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya ttg sifat Allah SWT tanpa ta’wil (adalah merubah makna dari maknanya yang Haq)dan tanpa ta’thil (adalah menghilangkan makna atau sifat Allah ), tanpa takyif(adalah mempersoalkan hakikat asma’ dan sifat Allah dengan bertanya “bagaimana”.), tanpa tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya),dan tanpa tafwidh ( Penyerahan makna dan keadaan secara bersama ).

Misalnya tentang sifat al-Istiwa' ( bersemayam diatas ), an-nuzul( turun ), al yad ( tangan ) al-maji' ( kedatangan )dan sifat-sifat lainnya,kita menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf. Al-Istiwa' misalnya, menurut keterangan para thabi'in sebagaimana yang ada didalam Shahih Bukhari berarti al- 'Uluw wal irtifa' ( tinggi dan berada di atas )sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah. Allah berfirman .Berdasarkan firman Allah s.w.t.:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tiada sesuatupun yang serupa dengan (ZatNya, sifat-sifatNya, dan pentadbiranNya) dan Dia lah yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat. (asy-Syura 42: 11).

Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah sebagaimana adanya dengan menetapkan (itsbath) sebagaimana apa yang telah ditetapkan Allah dan rasulNya adalah tanpa hal-hal berikut dibawah ini :

1.Tahrif adalah memalingkan zhahir ayat dan hadis shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa (tinggi dan berada di atas langit) diartikan istaula (menguasai).

2.Ta’til ialah mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit, sebagian kelompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat.

3.Takyif ialah menvisualisasikan sifat-sifat Allah, misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas langit itu begini dan begitu. Padahal bersemayamnya Allah diatas ‘Arsy itu tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tiak seorangpun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah semata.

4.Tamtsil ialah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhlukNya. Karena itu tidak boleh mengatakan, “Allah turun ke langit sebagaimana kita turun.” Hadis tentang nuzul Allah (turunnya Allah ) itu ada dalam riwayat imam Muslim. Sebagian orang yang tidak berilmu menisbatkan tasybih ( penyerupaan ) nuzul ini kepada syaikh Islam Ibnu Taimiyyah. Ini adalah bohong dan fitnah besar. Kami menemukan keterangan tersebut dalam kitab beliau , justru sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang menafikan tamtsil dan tasybih.

5.Tafwidh ( penyerahan ) : Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif ( hal dan keadaan ), tidak pada maknanya. Al Istiwa’ misalnya berarti al’uluw ( ketinggian ), yang tak seorangpun mengetahui bagaimana dan seberapa ketingian tersebut kecuali Allah. Adapun orang yang menganut paham tafwidh ( penyerahan ), maka menurut mufawwidhah ( orang yang menganut paham tafwidh ) adalah penyerahan dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang di terangkan oleh ulama salaf seperti Ummu Salamah ra, Rabi’ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua berpendapat bahwa “Istiwa’ ( bersemayam di atas ) itu jelas pengertiannya,bagaimana cara / keadaan itu tidak diketahui, iman kepadanya wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.

Adapun diantara contoh tauhid asma’ wa sifat beserta pembahasannya adalah :

a-Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya :

ءأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Patutkah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit. (al-Mulk 67: 16)

Untuk memahami ayat diatas, bahwa Allah di langit, kita merujuk kepada hadis shahih dibawah ini:

sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Tidakkah kalian percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di atas langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang.” (HR. Bukhori-Muslim).

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja yang ada di bumi niscaya kalian akan disayangi oleh Yang berada di atas langit.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Al-Albani).

قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّلَمِي : وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحُدٍ وَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَاِذَا بَالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ اَسَفَ كَمَا يَاْسِفُوْنَ . لَكِنَّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَ اَعْتِقُهَا ؟ قَالَ : اِئْتِنِيْ بِهَا . فَقَالَ لَهَا : اَيْنَ اللهُ ؟ قَالَتْ : فِى السَّمَاءِ . قَالَ : مَنْ اَنَا ؟ قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ . قَالَ : اَعْتِقُهَا فِاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.

"Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: Wahai Rasulullah, adakah aku harus memerdekakannya!" Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. “Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku? Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah wanita ini kerana dia adalah seorang mukminah". (H/R Muslim dan Abi Daud)

Begitu pula dengan hadits pertanyaan Rosululloh kepada budak perempuan yang telah disebutkan di atas. Imam Adz-Dzahabi berkata setelah membawakan hadits budak perempuan di atas, “Demikianlah pendapat kami bahwa setiap orang yang ditanyakan di manakah Allah, dia segera menjawab dengan fitrahnya, ‘Allah di atas langit!’ Dan di dalam hadits ini ada dua perkara yang penting; Pertama disyariatkannya pertanyaan, ‘Dimana Allah?’ Kedua, disyariatkannya jawaban yang ditanya, ‘Di atas langit’. Maka siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia mengingkari Al-Musthofa shollallohu ‘alaihi wa sallam“. (Mukhtashor Al-’Uluw)

Nabi saw bersabda :

أن النبي صلى الله عليه وسلم لما عن الآية (ثم دنى فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) قال صلى الله عليه وسلم هو جبريل لأن الله موجود بلا مكان فلا يوصف بصفات الأجسام ولا بالمسافة بالمرة

Artinya :

"Sesungguhnya Nabi Shollallahu 'alaihi wa Sallam ketika di tanya tentang ayat (Tsumma dana fa tadalla fa kana qoba qowsaini aw adna) Bersabdalah Nabi, IA ADALAH JIBRIL KARENA SESUNGGUHNYA ALLAH DZAT YG WUJUD TANPA TEMPAT, MAKA TIDAK BOLEH DI SHIFATI DGN BEBERAPA SHIFATNYA JISIM DAN TIDAK DI SHIFATI DG JARAK JANGKAUAN.” HR Imam Bukhori dn Muslim dan Bayhaqi dalam kitab Asma wa al shifat /260.

Perhatikan hadis diatas,....Nabi saw mengatakan Allah adalah Dzat yang wujud tanpa tempat. Inilah yang dijadikan pegangan imam syafii dan golongan salaf untuk megatakan bahwa Allah adalah Dzat tanpa tempat.

Adakah ia ( perkataan Allah tidak bertempat ) bertentangan dengan sabda Nabi pada Hadis Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami dimana Beliau mengatakan bahwa Allah dilangit?

Jawabannya tentu tidak, karena dua – duanya adalah sifat Allah yang harus kita pahami maknanya dan kita tetapkan ( Itsbath ) sebagaimana apa yang telah di tetapkan Allah dan rasulNya ttg sifat Allah serta beriman kepadanya tanpa mentakwilkannya dan mempertanyakannya “bagaimana," seperti golongan yang di dalam hatinya ada kecenderungan sesat dan membuat fitnah, dan mereka berusaha juga untuk mentakwilkannya. Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya :
Dia lah Yang menurunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Kitab suci Al-Quran. sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan Yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah faham Yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) - Adapun orang-orang Yang ada Dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa Yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut Yang disukainya). padahal tidak ada Yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya Yang sebenar) melainkan Allah. dan orang-orang Yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya Dalam ilmu-ilmu ugama, berkata:" Kami beriman kepadaNya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" dan tiadalah Yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang Yang berfikiran. QS. Ali Imran : 7

Ini kaedah yang Allah dan RasulNya ajarkan kepada kita, ini yang di pahami golongan salaf, ini yang di pahami oleh para 4 imam mazhab. Dua sifat diatas akan nampak bertentangan jika kita mengkajinya dengan akal kita saja, tanpa merujuk pemahaman Nabi saw dan para sahabatnya. Seperti golongan asyaairah yang akhirnya terpaksa harus mentakwilkan Istawaa kepada Istaula, karena dilihat ketidakcocokan menurut akal mereka.

Imam asy-Syafi'i juga menulis Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar, beliau juga diantara ulama yang mengimani Bahwa Allah tidak bertempat yang merupakan sifat Allah tanpa takwil dan tanpa mempertanyakan “bagaimana”. Imam asy-Syafi’i berkata:

واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)

Artinya :
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

Para sahabat Nabi saw juga berpendirian sebagaimana apa yang di firmankan Allah dan apa yang disabdakan RasulNya di atas, seperti :

-Abdullah bin Abbas , pakar tafsir dari kalangan sahabat Nabi saw, Mujahid-murid beliau, Abul ‘Aliyah, dan Ishaq bin Rahawaih menafsirkan “Istawaa” pada surah al’Araf, ayat 54 : Allah berada di atas arsy dan tinggi. ( Bukari, kitab tauhid ). Inilah pendapat yang dipilih ulama tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya.

-Umar al-Khathab menyatakan bahawa:

“Bahawasanya segala urusan itu (datang) dari sana (sambil mengisyarat-kan tangannya ke langit).” (al-Imam az-Zhahabi di dalam kitab-nya menyatakan bahawa riwayat ini sahih.)

“Daripada Ibnu Abbas (ia berkata) bahawa Rasulullah s.a.w. berkhutbah kepada manusia pada hari Nahr (tanggal 10 Zulhijjah) kemudian Ibnu abbas menyebutkan khutbah Nabi s.a.w. kemudian beliau mengangkat (mendongakkan) kepalanya ke arah langit sambil mengucapkan: “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan!” (Riwayat Imam Bukhari, juz.2 halaman 191)

-Zainab binti jahsyi, berbangga terhadap para isteri Rasulullah saw lainnya dengan mengatakan , “ kalian dinikahkan dengan Rasulullah saw oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang ketujuh". HR Bukhari.

Dibawah ini dapat kita perhatikan beberapa pandangan para ulama :

"Sesiapa mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya dia telah kafir. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi? Berkata al-Imam Abu Hanifah: Sesungguhnya dia telah kafir kerana Allah telah berfirman: Ar-Rahman di atas ‘Arasy al Istiwa" (Lihat: Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137. Imam Az-Zahabi. Tahqiq al Albani)

"Allah berada di atas langit sedangkan ilmu-Nya di tiap-tiap tempat (di mana-mana), tidak tersembunyi sesuatupun daripada-Nya" (Lihat: Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137. Imam Az-Zahabi. Tahqiq al Albani, Hlm. 140)

"Benar, Allah di atas Arasy-Nya dan tidak sesiapapun yang tersembunyi daripada pengetahuan-Nya" (Lihat: Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137. Imam Az-Zahabi. Tahqiq al Albani, Hln. 188)

"Barangsiapa TIDAK menetapkan Allah Ta'ala di atas ‘Arasy-Nya dan Allah istiwa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya". (Lihat: Ma'rifah Ulum al-Hadis. Hlm. 84. Riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh al-Hakim)

Berkata lagi Imam Ibnu Khuzaimah (dari kalangan ulama as-Syafieyah):
"Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa-'Ala sesungguhnya Pencipta kami Ia beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arasy-Nya. Kami Tidak mengganti/mengubah kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (perbuatan kaum) yang menghilangkan sifat-sifat Allah seperti golongan Jahmiyah yang pernah berkata: Sesungguhnya Dia istawla (menguasai) ‘ArasyNya bukan istiwa (bersemayam). Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka, ini menyerupai perbuatan Yahudi tatkala diperintah mengucapkan: Hithtatun (Ampunkanlah dosa-dosa kami), tetapi mereka mengucapkan (mengubah): Hinthah (makanlah gandum)! Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi maka seperti itulah (perbuatan kaum) Jahmiyah". (Lihat: Kitabut Tauhid Fi Ithbatis Sifat. Hlm. 101. Oleh Ibnu Khuzaimah)

Beliau menjelaskan:

"Tidak boleh mensifatkan Allah bahawa Ia berada di tiap-tiap tempat. Bahkan (wajib) mengatakan: Sesungguhnya Allah di atas langit (yakni) di atas ‘Arasy sebagaimana Ia telah berfirman: Ar-Rahman di atas ‘Arasy, Ia beristiwa.(Surah Taha, 20:5) Dan wajiblah memutlakkan sifat istiwa tanpa takwil, sesungguhnya Allah istiwa dengan Zat-Nya di atas ‘Arasy. Keadaan-Nya di atas ‘Arasy disebut pada tiap-tiap kitab yang Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa bertanya (para nabi yang diutus tidak bertanya): Bagaimana caranya (Allah istiwa di atas ‘ArasyNya)?" (Lihat: Fatawa Hamwiyah Kubra. Hlm. 84)

Imam Az-Zahabi, salah seorang ulama besar bermazhab Syafie:

“Sesiapa mengingkari bahawa Allah ‘Azza wa-Jalla di langit, maka dia seorang yang kafir”. (Lihat: مختصرالعلو للعلي الغفار oleh al-Hafiz Syamsuddin az-Zahabi. Hlm. 137).

Telah berkata Imam Malik Bin Annas:

“Allah berada di langit sedangkan ilmu-Nya di tiap-tiap tempat dan tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya.”

Telah berkata imam as-syafi’e:

“Dan Allah di atas ‘arsy-Nya di atas langit-Nya.”

Telah berkata Imam Ahmad:

“Benar! Allah di atas ‘arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.”

Telah berkata imam at-Tirmidzi:

“Telah berkata ahli ilmu: Dan Ia (Allah) di atas ‘arsy sebagaimana Ia telah menetapkan diri-Nya.”

(Rujukan daripada Kitab al-‘Uluw, oleh Imam az-Zhahabi)

Telah berkata imam Ibnu Khuzaimah:

“Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah di atas ‘arsy-Nya Ia istiwa’ di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhan-Nya (setelah hujah ditegakkan)... (Sahih, dikeluarkan oleh al-Hakim di dalam kitabnya Ma’rifah ‘ulumil-Hadits, halaman 84)

Telah berkata Sheikhul Islam imam Abdul Kadir Jailani:

“Tidak boleh mensifatkan-Nya bahawa Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat (Allah di mana-mana). Bahkan wajib mengatakan, “Sesungguhnya Ia di atas langit (iaitu) di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Ia telah berfirman: “ar-Rahman di atas ‘arsy, Ia istawa’”, di dalam surah Thoha, ayat ke 5.” (Fatwa Hamawiyyah Kubra, halaman 87)

Berikut pula saya membawakan kata-kata ibnu Katheer di dalam tafseernya, yang mana mentafsirkan ayat “summas tawa ‘alal ‘arsy (ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ)” sebagai di bawah (petikan di bawah).

Berikut kita lihat kata-kata Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah:

“Adapun firman-Nya:

“Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. (al-a’raaf: 54)

Orang-orang mempunyai berbagai pendapat dalam permasalahan ini dan sekarang bukanlah tempatnya untuk membahasnya secara luas, namun dalam perkara ini, kita menempuh mazhab para salafus-Soleh seperti imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, as-Syafi’e, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih dan lain-lain dari kalangan para imam kaum muslimin, baik yang dahulu mahupun yang sekarang, iaitu membiarkan sebagaimana datangnya tanpa takyif, tasybih dan ta’thil. Apa yang terbersit (tergambar) di dalam benak fikiran orang-orang Musyabbih (yang menyamakan sifat Allah dengan makhluk-Nya) tidak terdapat pada Dzat allah s.w.t., sebab Allah sedikitpun tidak sama dengan makhluk-Nya. Allah berfirman (maksudnya):

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang maha mendengar lagi Maha melihat.” (as-Syuura: 11)

Bahkan perkara ini sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang imam yang bernama Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru kepada imam al-Bukhari: “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Barangsiapa yang mengingkari apa yang telah disifatkan Allah terhadap Dzat-Nya, maka ia telah kafir. Apa yang Allah sebutkan tentang sifat-sifat-Nya dan yang Rasulullah s.a.w. sebutkan tentang sifat-sifat Allah tidak merupakan tasybih (penyerupaan Allah dengan Makhluk). Barangsiapa yang menetapkan untuk allah apa yang dengan jelas telah tercantum dalam ayat dan hadith-hadith sahih yang sesuai dengan kemulian Allah serta menafikan dari Dzat Allah semua sifat kekurangan, bererti ia telah menempuh jalan petunjuk.” (Tafseer al-‘Azim, Ibnu Kather)

Jelaslah bahawa, hakikat-nya para imam itu sendiri seperti ibnu Katheer, as-Syafi’e, imam Ahmad bin Hanbal, imam Malik, dan lain-lain adalah bersama para salaf dalam menyatakan bahawa Allah itu bersemayam di ‘arsy selaras dengan keagungan-Nya tanpa ta’wil dan ta’til.

Allah berfirman :

هَؤُلاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
“maka tidak ada Yang lebih zalim dari orang-orang yang berdusta terhadap Allah.” (al-Kahfi: 15)

Imam Ibnul ‘Arabi , seorang ulama pakar bahasa arab ketika diminta oleh tokoh mu’tazilah, Ahmad bin abu duwad untuk mencari makna istawa yang artinya istaula ( menguasai ) dalam bahasa arab, maka beliau menjawab, “ demi Allah itu tidak ada, aku tidak menemukannya” ( dikeluarkan oleh khatib al-Baghdadi dalam tarikh baghdad, 5/283).

Pakar bahasa lainnya Imam khalil bin Ahmad ketika ditanya juga berkata,”makna Istaula tidak dikenal oleh orang arab dan tidak ada dalam bahasa mereka ( Majmu’ Fatawa 5/146 ), Ibnul Jauzi berkata ,”makna itu dalam bahasa arab adalah mungkar ( Zadul Masiir,3/213 ), Ibnu Abdil Barr berkata, “ Ucapan mereka yang mentakwil Istawa menjadi Istaula tidak sesuai, karena tidak didapati dalam bahasa arab ( At- Tamhid, 7/131 )

b-Allah mempunyai tangan, sebagaimana firmanNya:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah sentiasa terbuka Dia menafkahkan sebagaimana yang Dia kehendaki... (al-Ma’idah 5: 64)

c-Allah mempunyai muka. Ini adalah sifat dzatiyah Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Allah s.w.t. berfirman:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ
Dan tetap kekalah Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan Kemuliaan (ar-Rahman 55: 27)

d-Allah mempunyai mata, sebagaimana firmanNya :

فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
...maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami... (at-Thur 52: 48)

Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahawa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka Dia diberi nama dan sifat dengan nama dan sifat yang Dia sendiri berikan untuk diri-Nya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh Rasul-Nya (melalui hadis).

Al-Qur’an dan as-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, kerana tidak seorangpun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya, menta’wilkannya dari maknanya yang benar (haq), maka dia telah berbicara tentang allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Allah s.w.t. berfirman:

هَؤُلاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (al-Kahfi 18: 15)

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh, ketika itu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya.” Periwayat berkata, “Maka orang-orang pun menyebut bahwa dialah sang penghuni surga yang paling rendah kedu...dukannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: Maka Ibnu Mas’ud pun tertawa, lalu berkata, “Apakah kalian tidak bertanya kepadaku mengapa aku tertawa?”. Mereka menjawab, “Mengapa engkau tertawa?”. Beliau menjawab, “Demikian itulah tertawanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. -Ketika itu- mereka -para sahabat- bertanya, ‘Mengapa anda tertawa wahai Rasulullah?’. ‘Disebabkan tertawanya Rabbul ‘alamin tatkala orang itu berkata, ‘Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabbul ‘alamin?’. Lalu Allah berfirman, ‘Aku tidak sedang mengejekmu. Akan tetapi Aku Maha kuasa melakukan segala sesuatu yang Kukehendaki.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/314-315])

Allah pun bisa tertawa, namun tertawanya Allah tidak sebagaimana makhluk. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11). Syaikh Ibnu Utsai...min rahimahullah berkata, “Para salaf telah bersepakat menetapkan ‘tertawa’ ada pada diri Allah. Oleh sebab itu wajib menetapkannya (menerimanya, pent) tanpa menyelewengkan maknanya, tanpa menolaknya, tanpa membagaimanakan sifatnya, dan tidak menyerupakannya. Itu merupakan tertawa yang hakiki yang sesuai dengan -keagungan- Allah ta’ala.” (lihat Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 61)

MANHAJ SALAF (PARA SAHABAT, TABI’IN DAN ULAMA PADA KURUN WAKTU YANG DIUTAMAKAN) DALAM HAL ASMA’ DAN SIFAT ALLAH

Iaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.*

* Iman seperti ini juga dianut oleh Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (wafat tahun 561 H.), lihat kitabnya “al-Fathur Rabbani wal Faidhur Rahmaniy”, cetakan al-Haramain, hal. 34, 61, 76, dan 303).

Imam Ahmad rahimahullah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati oleh-Nya untuk Diri-Nya atau apa yang sifatkan melalui Rasul-Nya, serta tidak boleh melampaui al-Qur’an dan al-Hadis. Mazhab (jalan/landasan) salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk Diri-Nya dan dengan apa yang disifatkan melalui Rasul-Nya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil.

Kita mengetahui bahawa apa yang Allah sifatkan untuk Diri-Nya adalah haq (benar), tidak mengandungi teka-teki dan tidak untuk dibongkar. Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian, tidaklah ada sesuatu yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)-Nya Yang Maha Suci yang disebut dalam asma’ dan sifat-Nya, juga tidak dalam perbuatan-Nya. Sebagaimana yang kita yakini bahawa Allah s.w.t. mempunyai Dzat, juga ad’al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamai-Nya, juga tidak dalam perbuatan-Nya.

Sifat-sifat Allah terbahagi menadi dua bahagian. Bahagian pertama, adalah sifat dzatiyah, iaitu sifat yang senantiasa melekat dengan-Nya. Sifat ini tidak berpisah dari DzatNya. Seperti “العلم” (ilmu(, “القدرة” (kekuasaan), “السمع” (mendengar), “البصر” (melihat), “العزة” (kemuliaan), “الحكمة” (hikmah), “العلو” (ketinggian), “العظمة” (keagungan), “الوجة” (wajah), “اليدين” (dua tangan), “العينين” (dua mata).

Bahagian kedua, adalah sifat fi’liyah. Iaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak. Seperti, bersemayam di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam, dan datang pada hari kiamat.

Monday, February 21, 2011

BAGAIMANA TATACARA SHOLAT JENAZAH

Jika ada kematian, maka disunahkan bagi orang yang hidup atau ahli waris untuk melaksanakan sholat jenazah. Rasulullah saw senantiasa melakukan sholat jenazah jika ada kematian, kalau tidak maka baginda akan menyuruh orang lain untuk mensholatkan.

- Dari Abu Hurairah : Bahawa seorang lelaki yang meninggal dalam keadaan berhutang disampaikan beritanya kepada Nabi saw. Maka Nabi akan menanyakan apakah ia meninggalkan kelebihan buat membayar hutangnya. Jika dikatakan orang bahawa ia ada meninggalkan harta untuk pembayarannya, maka beliau akan menyembahyangkan mayat itu. Jika tidak, beliau akan memesankan kepada kaum muslimin : " Solatkanlah temanmu !" HR Bukhari , Muslim.

Dalam mengerjakan solat jenazah, yang paling utama ialah dikerjakan secara berjemaah dan harus dijadikan tiga saf (barisan) sekurang-kurangnya.
Bagi orang perempuan diperbolehkan mengikuti berjemaah bersama-sama dengan orang lelaki atau boleh mendirikan solat ke atas jenazah setelah disolatkan oleh orang lelaki.

Adapun hukum solat jenazah ini adalah Fardhu Kifayah seperti hal menguruskannya.
Solat jenazah terdiri dari , lima, enam, tujuh atau sembilan takbir. Semuanya itu telah ditetapkan, namun itu hanya sekedar perbedaan jenis. Mana sahaja yang dikerjakan oleh seorang muslim, hal itu sudah sah. ( Lihat kitab Bughyatul Mutathawwi' fii solaatit Tathawwu', bab solat jenazah, Muhammad Bin Umar Bin Salim Bazmul. Dan kitab Almausuu'ah alfiqhiyyah al muyassarah fii alkitab wa assunnah al muthaharah, bab mensolatkan jenazah, oleh Husein bin 'audah al 'awaysyah. )

Kalaupun ada keharusan untuk berpegang pada satu macam dari berbagai macam takbir tersebut, maka berpegang kepada empat takbir adalah lebih utama, kerana yang demikian itu disebabkan hadist-hadis yang berkenaan empat takbir lebih kuat dan lebih banyak, adapun makmum hendaknya mengikuti imam bagaiamana imam bertakbir. ( Lihat kitab talkhisu ahkamil al-janazah, oleh Muhammad Nashiruddin Albani.

SUNAT MEMBENTUK TIGA SHAF DAN MERATAKANNYA

- Diriwayatkan oleh Malik bin Hurairah, bahawa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda
Disunatkan bagi orang –orang yang mensolatkan jenazah itu membentuk 3 shaf. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Malik bin Hubairah, bahawa ia mendengar Rasulullah saw. Bersabda :
"Tidak seorang mukminpun yang meninggal, kemudian di solatkan oleh umat islam yan banyaknya sampai 3 shaf, kecuali akan diampuni dosanya."- Oleh itu Malik bin Hubairah selalu berusaha membentuk 3 shaf, jika jumlah orang yang solat jenazah itu tak banyak. HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, juga Tirmidzi yang menyatakan hasan, dan Hakim yang menyatakan shahih.

SOLAT JENAZAH SECARA BERJAMAAH

Solat jenazah wajib dilakukan secara berjamaah, sebagaimana solat fardhu. Perkara itu kerana Nabi saw selalu solat berjamaah pada setiap mensolatkan jenazah, juga Rasulullah saw berkata : "Solatlah sebagaimana akusolat". HR Bukhari.
Imam Nawawi berkata didalamkitab Al-Majmu' ( 314/5 ) berkata :" Dibolehkan solat jenazah sendiri ( tanpa berjamaah ), dan tidak ada khilaf dalam perkara ini. Adapun sunnahnya adalah solat secara berjamaah, kerana banyaknya hadis-hadis yang masyhur tentang itu didalam "kitab shahih", berikut ijma' kaum muslimin. ( Lihat kitab Almausuu'ah alfiqhiyyah al muyassarah fii alkitab wa assunnah al muthaharah, bab mensolatkan jenazah, Ms 123, oleh Husein bin 'audah al 'awaysyah. )
Sedikitnya orang dalam melaksanakan solat berjamaah adalah 3 orang.
-Dari Abdillah bin Abi Talhah : Sesungguhnya Abu Talhah menjemput Rasulullah saw untuk mendatangi 'Umair bin Abi Talhah ketika dia wafat. Makah Rasulullah saw. Mendatanginya , dan mensolatkannya dirumah mereka, maka berdirilah Rasulullah saw (untuk solat jenazah), sedangkan Abu Talhah dibelakangnya, dan Ummu Sulaim dibelakang Abu Talhah, dan tidak ada orang lain selain daripada mereka. HR Hakim.

DISUNATKAN BANYAK PENGIKUT

- Dari Aisyah bahawa Nabi saw bersabda : "Tidak satu mayatpun yang disolatkan oleh jama'ah Muslimin yang banyaknya mencapai seratus orang, dan semua mendoakannya dengan tulus ikhlas, kecuali akan dikabulkan doa mereka terhadapnya. HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi.

- Dari Ibnu Abbas, bahawa ia mendengar Rasulullah besabda : "Tidak seorang muslimpun yang meninggal lalu ia disolatkan oleh 40 orang lelaki yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun juga, kecuali ia akan beroleh syafa'at atau tertolong oleh mereka. HR Ahmad, Muslim, Abu Daud.

ORANG YANG KETINGGALAN ( MASBUQ ) DALAM SOLAT JENAZAH

Hukum masbuq dalam solat jenazah seperti masbuq dalam solat fardhu, sebagaimana Rasulullah saw bersabda : " ….Maka apa yang yang telah kamu lakukan maka solatlah, dan apa yang tertinggal darimu maka sempurnakanlah…HR Bukhari, Muslim.
- Berkara Ibnu Hazm rahimahullah didalamkitab Al-Muhalla 263/5-masalah 623 : " Dan siapa yang tertinggal beberapa takbir dalam solat jenazah: Dia hendaknya bertakbir saat ia datang, dan tidak menunggu takbir imam, apabila imam mengucapkan salam maka ia menyempurnakan apa yangtertinggal dari pada takbir, serta berdoa antara takbir dan takbir sebagaimana ia buat saat bersama imam. Sesuai dengan sabda Rasululla saw " Barang siapa yang hendak solat maka hendaklah solat ( memulakan solat ) sebagaimana apa yang di lakukan imam dan menyempurnakan apa yang tertinggal daripadanya, dan ini ( solat jenazah ) adalah solat. ( Lihat kitab Almausuu'ah alfiqhiyyah al muyassarah fii alkitab wa assunnah al muthaharah, bab mensolatkan jenazah, Ms 146, oleh Husein bin 'audah al 'awaysyah. )

WANITA BOLEH MELAKUKAN SOLAT

Dibolehkan bagi perempuan untuk mensolatkan jenazah seperti lelaki baik secara perseorangan maupun berjamaah. Umar pernah menunggu Ummu Abdullah hingga ia turut mensolatkan 'Uthbah. Begitu juga dari 'Abbad bin Abdullah bin Zubair : Sesungguhnya 'Aisyah menyuruh agar jenazah Sa'ad bin Abi Waqas dibawa kepadanya dimasjid kemudian ia mensolatkan jenazahnya, maka orang-orangpun mengingkarinya, maka 'Aisyah ra. pun berkata : " Alangkah cepatnya apa yang telah manusia melupakannya, Tidaklah Rasulullah saw solat keatas Suhail bin Al-Baidha' kecuali didalam masjid. HR Muslim.

CARA MELAKUKAN SOLAT JENAZAH

- Hendaknya Imam itu berdiri setentang kepala jenazah lelaki, dan setentang pinggang perempuan. Berdasarkan hadis dari Anas ra :
"Bahawa ia yakni Anas ra, menyembahyangkan jenazah lelaki, maka ia berdiri dekat kepalanya."

Setelah jenazah itu diangkat, lalu dibawa jenazah perempuan , maka disolatkannya pula dengan beridiri dekat pinggangnya. Lalu ditanyakan orang kepadanya :"Beginikah cara Rasulullah saw menyembahyangkan jenazah, yaitu bila lelaki berdiri di tempat seperti anda berdiri dan jika perempuan juga seperti anda lakukan?" "Benar," ujar Anas..
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Ibnu majah juga oleh Tirmidzi yang menyatakan sebagai hadis hasan.

- Solat jenazah berbeza dengan solat-solat yang lain kerana cara mengerjakannya hanya dengan berdiri dan takbir empat kali tanpa rukuk dan sujud, juga tidak perlu azan dan iqamat. Adapun tatacara pelaksanaannya adalah :

1. Berniat.
Niat adalah ketetapan dan amalan hati ( Niat tidak dilafazkan, kerana tidak dicontohkan oleh Nabi saw.)

2. Takbir yang pertama
Takbir kemudian dilanjutkan dengan membaca ta'awudz, Al-Fatihah, dan boleh dilanjutkan dengan bacaan surah :

- Diriwayatkan oleh Bukhari dari Thalhah bin Abdullah bin 'Auf, katanya : " Saya mensolatkan satu jenazah dibelakang Ibnu Abbas ra. Maka ia membaca Al-Fatihah ( dan surah, serta ia membacanya secara jahar sehingga membuatkan kita mendengarnya. Setelah selesai solat saya pegang tangannya ( mendekatinya ) dan bertanya kepadanya ) lalu ia berkata : ( Sesungguhnya aku membacanya secara jahar ) agar supaya mereka mengetahui bahawa ianya sunnah ( benar ).

3. Takbir yang kedua.
Membaca lafaz takbir seperti pada takbir pertama, kemudian dilanjutkan dengan membaca selawat atas Nabi Muhammad s.a.w :
Bacaan selawat


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
"Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah, berikanlah berkat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung."
[Muttafaqun 'Alaihi]

- Dari Abi 'Umamah Bin Sahl, bahwasanya dia diberitahu oleh seorang sahabat Nabi saw. : " Yang sunnah dalam solat jenazah adalah imam bertakbir kemudian membaca al-fatihah setelah takbir yang pertama secara pelan ( sirri ), setelah itu imam membaca solawat kepada Nabi saw, kemudian membaca doa secara tulus bagi jenazah pada semua takbir, namun tidak membaca bacaan apapun pada takbir-takbir tersebut. Selanjutnya, mengucapkan salam secara pelan (sirri )." Diriwayatkan oleh as-Syafi'i didalam kitab al-Umm.

4. Takbir yang ketiga
Selepas takbir yang ketiga hendaklah membaca doa untuk jenazah adapun pembacaan doa itu telah dianggap terlaksana walaupun hanya secara singkat. Doa-doa yang berasal dari Nabi s.a.w adalah sebagai berikut :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْماَءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَ أَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ
Diterima dari 'Aut bin Malik,katanya : "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, yakni ketika ia mensolatkan jenazah :
"Ya Allah! Ampunilah dia dan kasihanilah dia dan sejahterakanlah serta ampunilah dosa kesalahan dia. Dan muliakanlah kedatangannya dan luaskanlah tempat masuknya (kuburnya) dan bersihkanlah dia dengan air salju dan embun, bersihkanlah dia dari segala dosa dan sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya dan gantikanlah isteri yang lebih baik dari isterinya dan gantikanlah keluarga yang lebih dari keluarganya dan peliharalah (hindarkanlah) dia dari seksa kubur dan seksa neraka." HR Muslim

5. Takbir yang ke empat
Selepas takbir yang keempat hendaklah membaca doa untuk jenazah adapun pembacaan doa itu telah dianggap terlaksana walaupun hanya secara singkat. Doa-doa yang berasal dari Nabi saw adalah sebagai berikut :
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا، وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا، وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا، وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اْلإِسْلاَمِ، وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلإِيْمَانِ، اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْناَ أَجْرَهُ، وَلاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah saw. Mensolatkan jenazah,maka sabdanya waktu berdoa :

Ya Allah , berilah keampunan bagi kami , baik yang hidup maupun yang mati, yang kecil atau yang besar, lelaki atau perempuan , yang hadir maupun yang sedang berpergian. Ya Allah siapa-siapa yang engkau wafatkan , mohon diwafatkan dalam keimanan.
Ya Allah, janganlah kami terhalang buat beroleh pahalanya, dan janganlah kami disesatkan sepeninggalnya.HR Ahmad dan ashabus sunan.


Setelah takbir ke empat disunnahkan juga untuk berdiri dan membaca doa, diantara dalil tentang sunnahnya membaca doa setelah takbir keempat adalah :

Nabi saw. Bersabda : " Jika kamu mensolatkan jenazah maka berdoalah untuknya dengan tulus dan ikhlas. HR Abu Daud, Ibnu majah.
Selepas mengangkat takbir yang keempat disunahkah membaca doa, walaupun seorang setelah berdoa setelah takbir yang ketiga. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Abi Aufa :
Bahawa puteri Abdullah bin Aufa meninggal dunia, maka disembahyangkannya dengan membaca empat kali takbir, kemudian setelah takbir keempat ia masih berdiri selama kira-kira antara dua takbir, membaca doa. Kemudian katanya : " Rasulullah saw biasa melakukan seperti ini terhadap jenazah ".

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah s.a.w, berikut ini kami sampaikan juga pendapat ulama mengenai bacaan doa-doa lain selepas takbir yang keempat adalah :

Berkata Syafi'i : "Setelah takbir ke empat itu hendaklah dibaca : "Allahumma la tahrimna ajrahuwala taf tinna ba'dahu ( Ya Allah janganlah kami terhalang buat beroleh pahalanya, dan hindarkanlah fitnah dari kami sepeninggalnya

Dan berkata Abu Hurairah : "Orang-orang dulu biasanya membaca setelah takbir keempat itu : "Allahumma rabbana atina fid dunya hasanah, wafil akhiratil hasanah waqina 'azaban nar ". ( Ya Allah Tuhan kami berilahkami didunia ini kebaikan dan juga di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.

6. Mengucapkan salam.
Ibnu Mas'ud berkata : "Mengucapkan salam sewaktu solat jenazah, adalah seperti salam pada solat biasa.

Saturday, February 19, 2011

TASHFIYAH DAN TARBIYAH

Asas perubahan kepada kebaikan adalah dakwah diatas manhaj tashfiyah dan tarbiyah. Kata ‘dakwah’ bukan suatu kata yang asing bagi masyarakat islam. Dakwah maknanya mengajak manusia kepada agama Allah, justru akan menjadi asing jika dikatakan ada orang Islam yang tidak melakukan dakwah. Maknanya, kita berprasangka baik bahwa hari ini umat Islam sedang berdakwah, hanya dengan cara yang berbeda.

Dakwah dapat juga dilakukan melalui tulisan, lembaga pendidikan, organisasi, persatuan atau jamaah-jamaah, atau ceramah di majlis-majlis ilmu yang biasanya akan dihadiri oleh masyarakat ramai. Tetapi malangnya hari ini dakwah tersebut terkadang hanya terfokus kepada penyampaian risalah saja, tidak diiringi dengan pembentukan individu secara bertahap atau tarbiyah. Terkadang ada dakwah yang terfokus kepada pembinaan atau tarbiyah saja, tidak diiringi dengan pencerahan kepada pemahaman yang betul. Seorang pendakwah terkadang bangga dengan ramai pengikut, tetapi dia tak peduli kepada pentingnya penyatuan pemahaman yang betul. Ada juga pendakwah yang sangat terfokus kepada pembetulan pahaman, tetapi kurang peduli kepada pembinaan, pendidikan secara bertahap untuk suatu perubahan.

Di dalam suatu majlis ilmu, terkadang didapati seorang pendakwah bersikap berlebihan, seperti dengan mudah menghukum orang yang tidak sepaham dengan sebutan sesat, ahli bid’ah, bahkan kafir. Di sisi lain dia justru mengatakan bahwa cara dakwah adalah ijtihadiyah. Setiap kelompok dapat berdakwah dengan caranya masing-masing. Dan ketika ditanya tentang penyelewengan ahlul bid’ah, dia menjawab bahwa mereka pun punya dalil, atau perkara ini adalah khilafiyah, jadi jangan diperbincangkan. Sungguh fenomena dakwah seperti ini sangat menyedihkan.

PENYEBAB KERUNTUHAN UMAT ISLAM

Saya ingin menjelaskan pada kesempatan ini, suatu hal yang amat penting namun dilalaikan oleh mayoritas kaum muslimin, yaitu sebab-sebab keruntuhan dan kehinaan umat Islam. Umat Islam banyak jumlahnya, tetapi seperti buih dilautan yang tidak memberikan pengaruh dan perubahan apa-apa. Bahkan tetap kekal dengan kondisi mereka yang terpuruk berupa kehinaan dan penindasan kaum kafir, bahkan kaum yahudi terhadap sebagian dunia Islam.

Penyebab kehinaan dan keruntuhan ini bukanlah karena mayoritas ulama Islam tidak memahami Fiqhul Waqi' ( keadaan masyarakat dari sudut pandang politik, ekonomi, sosial dan budaya ) atau tidak mengetahui rencana-rencana dan tipu daya orang-orang kafir sebagaimana anggapan sebagian orang.

Telah banyak kita dapati pengajian, seminar dan majlis-majlis ilmu yang membahas Fiqhul Waqi’, bahkan wujud perhatian yang dicurahkan secara berlebihan terhadap Fiqhul Waqi' , hingga menjadikannya sebagai manhaj bagi para da'i dan generasi muda, dimana mereka membina dan terbina di atasnya, dengan menganggapnya sebagai "jalan kesalamatan", ini adalah sebuah kesalahan yang sangat nyata dan kekeliruan yang amat jelas.


Sedangkan para ulama dan fuqaha' telah bersepakat bahwa penyebab yang paling mendasar bagi sebab keruntuhan dan kehinaan kaum muslimin sehingga terhentinya perjalanan mereka (untuk terus maju) adalah:

Kejahilan/kebodohan kaum muslimin terhadap Islam yang diturunkan Allah Jalla Jalaluhu, ke dalam hati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mayoritas kaum muslimin yang mengetahui hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan berbagai kepentingan mereka, tidak melaksanakannya, mereka cenderung untuk tidak memperdulikan, meremehkan dan menyia-nyiakan.

sabda Rasulullah SAW yang artinya :
“Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem ‘iinah , menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk kepada dien kamu”. .HR Abu Daud

Jadi asasnya ialah RUJUK kepada ISLAM.

Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma’tsur yang ditulis dengan tinta emas : “Barangsiapa mengada-adakan bid’ah di dalam Islam kemudian menganggap bid’ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad SAW menghianati risalah”. Bacalah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Artinya :
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-sempurnakan buatmu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu”. .
“Oleh karenanya apa yang hari itu bukan agama, maka hari ini-pun bukan agama, dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini”.

Kalimat terakhir di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya :

“Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini”.

Dengan demikian, solusi bagi kembalinya kemuliaan Islam adalah dengan kembali kepada Islam, dengan cara memahami dan mengamalkan Islam atau sunnah Nabi saw dan para sahabatnya. Memahami dan mengamalkan Islam adalah perkara yang mulia, tidak mungkin dicapai oleh kaum muslimin kecuali dengan menerapkan manhaj/metode "tasfiyah" dan "tarbiyah" dalam dakwah.

Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi berkata : “Beberapa orang yang arif tentang Islam dan ikhlas kepada Allah telah banyak menetapkan dan menjelaskan bahwa setiap perkara yang menimpa kaum Muslimin berupa kelemahan, kerendahan, dan penyelewengan, penyebabnya adalah jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar. Hal itu terjadi karena beberapa faktor berikut :

- Tersamarnya Ad Dien dengan perkara-perkara yang bukan dari Dien (bid’ah).

- Lemahnya keyakinan terhadap apa yang benar-benar dari Dien.

- Tidak diamalkannya hukum-hukum Dien.”

(Nukilan Syaikh Ali Hasan dalam bukunya Tashfiyah wa Tarbiyah)

Dari sini berarti dalam memperbaiki keadaan umat Islam kita tidak lepas dari dua amalan besar, yaitu :

Pertama, membersihkan dan memurnikan Islam dari hal-hal yang mengaburkannya seperti bid’ah-bid’ah, khurafat, dan berbagai macam pemahaman-pemahaman yang menyeleweng. Inilah yang kita maksudkan dengan TASHFIYAH.

Kedua, mendidik dan membina kaum Muslimin untuk meyakini dan mengamalkan Islam yang murni tersebut. Inilah yang dimaksudkan dengan TARBIYAH.

PENTINGNYA TASHFIYAH (Pemurnian ajaran)

Sesungguhnya Dien dibangun di atas ilmu dan amal, maka ketika ilmu tersebut tidak dalam keadaan jernih dan tidak bersih dari syubhat-syubhat dan bid’ah-bid’ah, bangunan Dien tersebut tidak seperti apa yang ada pada generasi pertamanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hikmah-Nya menjaga ilmu ini dan memilihkan pula para pembawa-pembawa ilmu ini adalah orang-orang yang jujur dan adil yang selalu menjaga dan membersihkan ilmu tersebut dari kerancuan-kerancuan yang mengaburkannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Ilmu (Dien) ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil dari setiap generasi. Mereka membersihkan (ilmu tersebut) dari penyelewengan orang-orang ghuluw (melampaui batas), kedustaan orang-orang bathil, dan penafsiran orang-orang jahil.” (Hadits hasan)

Yang dimaksud ilmu dalam hadits ini adalah ilmu Dien. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad bin Sirrin rahimahullah :

Sesungguhnya ilmu ini adalah Dien, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil Dien kalian. (Atsar riwayat Muslim dalam Muqadimah Shahih-nya)

Ibnul Qayyim berkata tentang hadits ini : “Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengkabarkan bahwa ilmu yang disampaikannya akan dibawa oleh orang-orang adil dari umatnya di setiap generasi agar tidak hilang dan tidak lenyap.” (Miftah Darus Sa’adah 1/163)

Dari sini kita tahu bahwa peranan para pembawa ilmu atau seringkali disebut dengan ulama dan para pewaris Nabi adalah menegakkan tiga perkara :

1) Memberantas ghuluw (sikap ekstrim).

2) Membantah kebathilan.

3) Memerangi kebodohan.

Al ‘Allamah Shiddiq Hasan Khan ketika menjelaskan hadits ini mengatakan : “Yang dimaksud adalah ilmu kitab dan sunnah yang akan dibawa dari setiap generasi yang datang setelah Salaf oleh orang-orang yang adil dari mereka yaitu para perawinya.”

Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid hafidhahullah berkata :

- Tahriful Ghalin adalah perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melampaui batas dalam masalah Dien. Sedangkan tahrif adalah merubah hak dengan kebathilan dengan cara merubah lafadz atau maknanya.

- Intihalul Mubthilin adalah kedustaan ahlul bathil. Sedangkan intihal adalah mengaku sesuatu ucapan atau syair-syair bagi dirinya dengan dusta padahal itu hasil karya orang lain. Dalam hadits ini, kalimat tersebut sebagai ungkapan kedustaan.

- Ta’wilul Jahilin yaitu menakwilkan tanpa ilmu dan pemahaman yang benar terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits serta memalingkan dari makna dhahirnya.

Hadits ini sebagai dalil yang jelas tentang pujian (ta’dil) terhadap Ahlul Hadits melalui lisan Rasulullah Nabiyurrahmah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.” (Tashfiyah wa Tarbiyah halaman 25-26)

Maka kita katakan bahwa hadits ini juga merupakan dalil yang jelas terhadap manhaj tashfiyah. Berarti tashfiyah ini merupakan jalan dan metode dakwah Ahlil Hadits sebagaimana dikatakan oleh beliau dalam kitab tersebut. Para ulama Ahlul Hadits tetap istiqamah dalam sunnah dan tetap membersihkan dan memurnikan Islam dari berbagai macam bid’ah walaupun mereka mendapatkan tantangan dan ujian-ujian yang berat.

Kita lihat Imam Ahmad bin Hanbal istiqamah dalam membantah fitnah khalqul Qur’an (anggapan bahwa Al Qur’an itu makhluk) sehingga beliau dipenjara dan disiksa. Tapi ketika Al Marwazi, salah seorang muridnya masuk menemui beliau dan berkata : “Wahai ustadz, bukankah Allah berfirman :

Dan janganlah kalian bunuh diri-diri kalian. (An Nisa’ : 29)

Kita paham bahwa ucapan Marwazi ini mengharapkan agar Imam Ahmad mengalah dan beliau tidak binasa. Tapi apa jawaban Imam Ahmad rahimahullah? Beliau berkata : “Wahai Marwazi, keluarlah dan perhatikanlah apa yang engkau lihat!” Marwazi berkata : “Lalu aku keluar di sekitar istana khalifah, maka aku melihat manusia yang tidak dapat dihitung jumlahnya kecuali oleh Allah. Di tangan mereka terdapat pena dan lembaran-lembaran serta tinta.” Maka aku bertanya kepada mereka : “Apa yang kalian kerjakan?” Mereka menjawab : “Kami menunggu apa yang akan diucapkan imam untuk kami tulis.” Aku katakan kepada mereka : “Tetaplah ditempat kalian.” Maka beliau segera masuk menemui Imam Ahmad bin Hanbal kemudian berkata kepadanya : “Aku melihat orang-orang dengan kertas dan pena di tangan mereka menunggu apa yang akan engkau ucapkan untuk mereka tulis.” Berkata Imam Ahmad : “Wahai Marwazi, apakah aku akan menyesatkan semuanya?! Tidak! Biarlah aku binasa tanpa menyesatkan mereka.” (Manaqibul Imam Ahmad halaman 330, lihat Tashfiyah wat Tarbiyah Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid halaman 13)

Demikianlah ketegaran beliau dalam membersihkan atau mentashfiyah Al Islam dari penyelewengan-penyelewengan walaupun diri beliau sebagai taruhannya. Oleh karena itu ketika ada seseorang yang berkata kepadanya : “Semoga Allah menghidupkan engkau di atas Islam.” Beliau menjawab : “Dan sunnah.” Yang demikian karena beliau mengerti bahwa umat Islam telah berpecah dalam berbagai firqah. Maka beliau melengkapi doanya dengan kata-kata : “Dan sunnah.” Maksudnya di atas Islam dan sunnah yang tidak dicampuri oleh berbagai macam bid’ah.

Inilah barangkali yang dikatakan oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid bahwa hidayah ada dua macam, yaitu :

- Hidayah ila (kepada) Islam.

- Hidayah fi (di dalam) Islam.

Seorang yang mendapatkan hidayah ke dalam Islam belum tentu mendapatkan hidayah di dalam Islam. Untuk lebih jelasnya kita contohkan sebagai berikut, kalau seorang kafir mendapatkan hidayah kemudian masuk Islam, belum tentu dia mendapatkan hidayah di dalam Islam kepada sunnah. Seringkali mereka justru mengikuti aliran-aliran sesat dan pemahaman-pemahaman yang bid’ah. Maka Imam Ahmad seringkali berdoa dengan doa :

Ya Allah, matikanlah kami di atas Islam dan Sunnah.

Coba kita simak kembali ucapan dan sikap Imam Ahmad dan para Ahlul Hadits. Kita betul-betul melihat sangat jelas. Imam Ahmad dan Ahlil Hadits menerapkan manhaj tashfiyah, dan jauh dai pada menebarkan fitnah pengkaburan dan penipuan. Seperti perkara syubhat yang diucapkan terhadap kebid’ahan ahlil bid’ah bahwa : “Mereka pun punya dalil”, yang membawa orang awam kepada kebingungan dan ketidakjelasan. Ini dari satu sisi. Sedangkan dari sisi lain ucapan tersebut merupakan kedustaan yang nyata. Karena pada hakikatnya ayat yang diselewengkan, hadits yang disalahgunakan, atau hadits-hadits dlaif dan palsu tidaklah dikatakan sebagai dalil. Atsar yang kita sebut di atas menunjukkan bahwa para Ahlil Hadits pembawa ilmu ini justru membersihkan ilmu Dien ini dari semua itu.

Kalau demikian maka :

- Riwayat-riwayat yang diselewengkan oleh beberapa kelompok dakwah untuk membaiat pemimpin mereka juga bukan merupakan dalil.

- Ayat-ayat yang ditakwilkan oleh para Khawarij Gaya Baru untuk mengkafirkan kaum Muslimin tidaklah dikatakan dalil.

- Kedustaan-kedustaan dan hadits-hadits palsu yang dibuat oleh orang-orang Syiah dan yang sejenisnya sama sekali tidak pantas dikatakan dalil.

Dari sini kita ketahui betapa besar bahaya ucapan mereka tadi yang secara sadar atau tidak mereka telah menipu orang-orang awam. Juga dari sini kita tahu betapa pentingnya manhaj tashfiyah yang dengannya akan menjadi jelas dan terang mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, sehingga setelah itu atau bersamaan dengan itu tarbiyah (pendidikan) kepada umat dilaksanakan di atas kejelasan.

Inilah jalan satu-satunya dalam pemecahan problematika ummat yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana firman Allah Jalla Jalaluhu.

"Artinya : ... Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" [Muhammad : 7]

Maha suci Allah, Dia tidak berhajah kepada pertolongan manusia. Maksud ayat diatas adalah kita tidak akan mendapatkan pertolongan Allah swt jika kita tidak menegakkan Islam, yaitu menegakkan sunnah Rasulullah s a w dan para sahabatnya.

TASHFIYAH DALAM SEGALA BIDANG

Dien ini telah sampai kepada kita melalui dua wahyu, Al Kitab dan As Sunnah. Keduanya datang dalam keadaan jernih, bersih dari kotoran kesyirikan, kebathilan, dan kebid’ahan. Namun ketika manusia bertambah jauh dari jalan Ahlul Hadits dalam memahami keduanya, mereka terjatuh ke dalam berbagai macam kebathilan.

Dalam masalah akidah, sebagian mereka terjatuh dalam penyelewengan asma’ dan sifat-sifat Allah, menolak atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Bahkan sebagian mereka mewajibkan ta’wil. Di antara ucapan bathil mereka :


Semua nash (ayat ataupun hadits) yang mengesankan penyerupaan (Allah dengan makhluk-Nya) TA’WILKANLAH atau TAFWIDLKANLAH. Dan tujukanlah sebagai pensucian.

Ta’wil yang dimaksud adalah memalingkan sesuatu dari makna sebenarnya. Sedangkan tafwidl adalah menyerahkan makna sesuatu kepada Allah (hanya Allah yang mengetahuinya), padahal Al Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab untuk dapat dipahami.

Demikian pula kalau kita bertanya kepada orang-orang yang telah terjun sebagai juru dakwah apalagi orang-orang awam dengan pertanyaan : “Di manakah Allah?” Kita akan mendapatkan jawaban sebagian mereka : “Di mana-mana, di hatiku, dan tidak di mana-mana.” Atau bahkan dengan marah menyalahkan pertanyaan tersebut. Sedikit sekali yang menjawab dengan benar bahwa Allah berada di langit di atas ‘Arsy-Nya.

Saudaraku para pembaca, kejadian ini menunjukkan betapa jauhnya mereka dari pemahaman akidah yang benar dan sekaligus menunjukkan bahwa pemikiran mereka terkotori oleh keyakinan-keyakinan bid’ah yang dimasukkan ke dalam Islam.

Dalam masalah As Sunnah (kita telah paham bahwa) telah sampai kepada kita riwayat-riwayat melalui sanad-sanad (rantai para rawi) dalam kitab-kitab yang telah dikenal, baik dalam bentuk musnad (yang disusun berdasarkan sanad), sunan (yang disusun berdasarkan masalah-masalah fiqh), shahih (yang telah dipisahkan hadits-hadits dlaif darinya), dan bentuk kitab-kitab hadits lainnya.

Para ulama Ahlul Hadits telah berjasa besar dalam masalah ini. Generasi pertama mereka mengumpulkan semua ucapan-ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam kemudian mencatatnya. Seperti lembaran-lembaran catatan para shahabat yang kemudian generasi berikutnya mengumpulkannya dari para shahabat, baik secara langsung ataupun dengan melalui catatan mereka. Kemudian generasi selanjutnya mengumpulkan semua ucapan dengan sanadnya, baik yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam) ataupun yang mauquf (berhenti sampai ucapan para shahabat). Inilah yang sering diistilahkan dengan kitab-kitab jami’. Kemudian mulai disusun berdasarkan nama-nama shahabat yang meriwayatkan ataupun berdasarkan bab-bab fiqh dengan tetap dicantumkan silsilah para perawinya. Semua itu untuk memudahkan kaum Muslimin melihat kebenaran hadits dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Setelah itu muncul para ulama yang berusaha memeriksa siapa para perawi tersebut dan bagaimana kejujurannya, agamanya, hapalannya, dan lain-lain. Kemudian dikumpulkan dalam kitab-kitab khusus yaitu kitab-kitab Rijalul Hadits. Juga bermunculan para ulama yang berusaha mengumpulkan hadits-hadits yang shahih dan dikhususkan dalam kitab-kitab shahih seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Demikianlah mereka berusaha mentashfiyah dengan mengkaji, meneliti, kemudian memisahkan mana hadits-hadits yang benar- benar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan mana yang bukan, mana yang shahih, hasan, dlaif, atau palsu.

Sungguh upaya mereka ini merupakan amal yang besar karena berkaitan dengan semua bidang yang lain dalam Dien ini. Penyelewengan yang terjadi dalam masalah akidah seringkali disebabkan oleh penggunaan riwayat-riwayat yang lemah dan palsu. Demikian pula bid’ah-bid’ah yang terjadi dalam hukum-hukum syariat yang faktor utamanya adalah hadits-hadits yang bukan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Di dalam tafsir Al Qur’an pun banyak dijumpai penafsiran-penafsiran yang menyeleweng dan keliru karena bersandarkan kepada kisah-kisah Israiliyat dan riwayat-riwayat yang lemah.

Termasuk juga tashfiyah terhadap sunnah adalah membantah bid’ah-bid’ah yang muncul yang sudah dianggap sebagai sunnah karena bid’ah-bid’ah inilah yang menjadikan sunnah terlihat keruh dan kabur. Para Salafiyun (penerus jejak Salafus Shalih) --alhamdulillah-- terus memperingatkan umat dari bid’ah-bid’ah dan menjelaskan kepada umat perkara-perkara yang dianggap sunnah, ternyata dia adalah tambahan ide-ide manusia. Mereka berulang-ulang menjelaskan bahwa syariat Islam telah sempurna dan tidak memerlukan tambahan atau pun perubahan apalagi pengganti. Mereka terus berjalan di atas keyakinan terhadap ucapan Allah :

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku sempurnakan pula nikmat-Ku atasmu serta Aku ridlai Islam sebagai agamamu. (Al Maidah : 3)

Bahkan para da’i Ahlus Sunnah, Salafiyun, sejak dahulu selalu membuka majlis-majlis mereka khususnya dalam khutbah Jum’at dengan pembukaan yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang di antara kalimatnya berbunyi :

Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah dan gigitlah dengan geraham kalian. Dan hati-hatilah dengan perkara baru yang diada-adakan karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan (dalam Dien, pent.) adalah bid’ah.

Seakan-akan kalimat-kalimat ini adalah syi’ar dan ciri khas Ahlus Sunnah di sepanjang masa.

TASHFIYAH DALAM BIDANG TAFSIR

Tafsir adalah ilmu yang luas yang tidak pantas untuk dimasuki kecuali oleh orang yang mengerti Al Kitab dan As Sunnah, paham bahasa Arab, mengetahui nasikh dan mansukhnya, serta mengerti adab Al Qur’an dan hukum-hukumnya. Tetapi kenyataan yang kita lihat sekarang ini seperti ucapan Syaikhul Islam rahimahullah : “Di dalam buku-buku yang dinamakan oleh kebanyakan orang tafsir ini terdapat banyak sekali nukilan-nukilan yang mengatasnamakan Salaf dengan dusta dan ucapan atas nama Allah dan Rasul-Nya padahal semata-mata pendapatnya. Bahkan ternyata hanya syubhat dari qiyas atau syubhat sastra ... (hingga ucapan beliau) … telah diketahui pula bahwa di dalam buku-buku tafsir banyak sekali nukilan-nukilan dari Ibnu Abbas yang ternyata dusta dari riwayat Al Kalbi dari Abi Shalih dan lainnya. Maka harus ada pembenaran nukilan agar hujjah menjadi tegak.” (Majmu’ Fatawa 6/389)

Kita berikan contoh satu kisah yang hampir semua kitab tafsir memuatnya, yaitu kisah seorang shahabat yang mulia, Tsa’labah bin Hatib. Mereka menyebutkan bahwa dia seorang shahabat yang berjanji kepada Allah jika dia mendapatkan rizki akan berinfaq di jalan Allah. Kemudian Allah memberikan kepadanya harta, tetapi dia tidak menunaikan janjinya dan tidak mau membayar zakat hartanya. Maka para shahabat lain mensifatinya dengan kemunafikan karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak mau menerima zakatnya, tidak pula Umar dan Abu Bakar hingga dia meninggal di masa khalifah Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu.

Tidak samar lagi bahwa kisah ini merupakan pelecehan terhadap seorang shahabat yang ikut perang Badar. Sedangkan kita mengetahui bagaimana jaminan Allah terhadap Ahli Badr (Lihat pembahasan “Shahabat Bukan Munafik”, SALAFY IV tahun I rubrik Akidah).

Hal tersebut terjadi karena penukilan riwayat yang lemah dan tidak jelas. Para pakar Ahlul Hadits telah menjelaskan kelemahan riwayat kisah ini seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/266, Al ‘Iraqi dalam Takhrij Al Ihya’ 3/366, Al Manawi dalam Al Faidlul Qadir 4/527, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/207, Ibnu Hamzah dalam Al Bayan wat Ta’rif 3/66, dan Syaikh Al Albani dalam Dla’iful Jami’ 4/125, dan lain-lain. Demikian sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ali Hasan dalam Tashfiyah-nya. Bahkan Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali menulis dalam buku khusus dengan judul Asy Syihabuts Tsaqib fidz Dzabbi ‘Anis Shahabi Tsa’labah bin Hatib yang maknanya kurang lebih : “Meteor Yang Tsaqib (menembus) Dalam Membela Shahabat Tsa’labah Bin Hatib.” Bukunya telah dicetak.

Di sini terlihat betapa perlunya tashhih (pembenaran) dan tashfiyah dalam bidang tafsir sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam di atas. Juga terlihat betapa perlunya kita terhadap bimbingan para ulama Ahlul Hadits di setiap zaman.

Demikianlah manhaj dakwah Salafiyah yang selalu menerapkan secara bersama tarbiyah dan tashfiyah dalam segala bidang. Seperti tashfiyah dalam bidang fiqh dari ta’ashub dan fanatik madzhab, taqlid, dan lain-lain. Tashfiyah dalam bidang pemikiran dari pemikiran-pemikiran yang asing yang bersumber dari agama lain atau hasil olah filsafat yang merusak akal kaum Muslimin. Demikian pula tashfiyah dalam berhukum dan seterusnya.

TARBIYAH (Pendidikan dan Pengajaran)

Kata tarbiyah sudah sangat tenar di kalangan remaja masjid dan para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok dakwah. Bahkan terkadang mereka menjuluki teman-teman sekelompoknya dengan istilah ‘anak tarbiyah’ dan menjuluki pembimbingnya dengan ‘murabbi’ dan seterusnya.

Tetapi sayangnya di samping mereka mendidik atau mentarbiyah beberapa perkara syar’i, mereka juga memasukkan kaidah-kaidah yang meruntuhkan perkara-perkara syar’i tadi dalam tarbiyahnya. Seperti kaidah ‘maslahat dakwah’ (demi kepentingan dakwah) yang mereka pahami bahwa setiap yang mengganggu kepentingan ‘kelompoknya’ dapat dirubah hukumnya. Tidakkah mereka melihat riwayat-riwayat para ulama Ahlus Sunnah, seperti riwayat Imam Ahmad yang kita sebut di awal tulisan yang ucapannya patut dicatat dengan tinta emas : “Lebih baik aku binasa tanpa menyesatkan mereka.” Dan tidak kemudian mengalah dan mengatakan : “Tidak apa demi maslahah dakwah?” Padahal sebenarnya maslahah pribadi atau keluarga.

Baiklah kita lihat apa yang dimaksud dengan tarbiyah. Kita nukilkan keterangan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid sebagai berikut : “Di antara makna tarbiyah dalam bahasa Arab adalah Taghdziyah yang berarti memenuhi kebutuhan manusia dari makanan atau minuman hingga menjadi sempurna perkembangan tubuhnya, dapat menikmati kesehatan dan keselamatan, serta mampu untuk berusaha di muka bumi, menggali, dan mengeluarkan kebaikan-kebaikan darinya. Juga berusaha menyingkap rahasia-rahasianya kemudian mengeluarkan harta yang tersimpan di dalamnya yang tidak terhitung jumlahnya. Kemudian kata tarbiyah ini dipakai juga untuk mengungkapkan pensuplaian kepada akal, indera, ruh, dan perasaan yang menjadikan manusia tumbuh dan memiliki keistimewaan, kebiasaan, dan prinsip yang terpelihara.

Maka tarbiyah yang kita maksudkan adalah mendidik generasi yang baru tumbuh dengan ilmu-ilmu Islam yang telah ditashfiyah dan dimurnikan dari segala yang telah kita sebut di atas dengan cara pendidikan yang benar dan Islami sejak masih lunak kukunya tanpa dipengaruhi oleh tarbiyah-tarbiyah yang asing dan kafir.

Allah berfirman :

Jadilah kalian rabbaniyin dengan kitab yang kalian ajarkan dan dengan apa-apa yang kalian pelajari. (Ali Imran : 79)

Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan kurikulum dari Allah dan mengikuti tahapan-tahapan sampai mereka mencapai tingkatan yang tinggi yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (At Tashfiyah cetakan 1 halaman 42-43)

Sehingga kurang lebih makna tarbiyah adalah menyampaikan ilmu sedikit demi sedikit kepada umat dan dilatih untuk meyakini dan mengamalkan ilmu tersebut sehingga umat ini tumbuh di atas Islam yang murni. Kita dengar ucapan Salaf ketika mempelajari Al Qur’an dari para shahabat : “Sesungguhnya kami mengambil Al Qur’an dari suatu kaum yang mengabarkan bahwa mereka jika belajar sepuluh ayat tidak akan melampauinya kepada sepuluh ayat yang lain hingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya. Maka kami mempelajari Al Qur’an dan amal (prakteknya).” (Atsar riwayat Ibnu Sa’ad 6/172 dengan sanad yang shahih)

Berarti jalan tarbiyah ini panjang. Mungkin ada yang berkata cara seperti ini terlalu lama sedangkan umat dalam keadaan terpecah belah dan harus segera diselamatkan. Maka kita katakan sebagaimana perkataan Syaikh Ali Hasan : “Ya, memang umat terpecah belah. Tapi bukankah kalian telah mencoba sekian tahun dengan manhaj-manhaj perbaikan lain yang dianggap ‘cepat’, ‘segera’, dan ‘semangat’? Bukankah kalian telah mempraktekan itu semua? Tentunya demi Allah kalian telah melakukannya. Tetapi kalian --dengan sangat disesalkan-- tetap di tempat kalian dalam keadaan ragu tanpa ada kemajuan atau perkembangan. Mengapa?”

Tentunya kita tahu apa jawabannya. Sesungguhnya jalan yang akan menyampaikan umat manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat dan jalan yang membawa kepada tegaknya Islam dan syariat Islam adalah satu, yaitu jalan yang telah digariskan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam walaupun terasa lambat sesuai dengan lambatnya pertumbuhan manusia.

HUBUNGAN ANTARA TASHFIYAH DAN TARBIYAH

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak memisahkan antara tashfiyah dan tarbiyah. Tashfiyah beliau sekaligus merupakan tarbiyah kepada para shahabatnya radliyallahu 'anhum.

Sebagaimana dalam riwayat seorang shahabat yang berkata di hadapan beliau : “Masya Allahu wa Syi’ta (atas kehendak Allah dan kamu).” Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam segera membantahnya dengan ucapan :

Apakah engkau menjadikan aku sekutu bagi Allah? Bahkan semua itu atas kehendak Allah semata. (HR. Ahmad 1/214 dan 224, Bukhari dalam Adabul Mufrad 783, Ibnu Majah 2117, Al Baihaqi 3/217, dalam sanadnya ada Ajlah bin Abdillah dan dia shaduq sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidh. Maka hadits ini hasan). Demikian takhrij Syaikh Ali Hasan.

Teguran tegas beliau ini merupakan tashfiyah sekaligus merupakan tarbiyah bagi shahabat itu sendiri dan para shahabat yang lain. Demikian pula riwayat Adi bin Hatim ketika seseorang berkhutbah di sisi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Di antara ucapannya : “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah lurus dan barangsiapa yang bermaksiat kepada keduanya, maka dia menyeleweng.” Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata dalam rangka mentashfiyah akidah dan meluruskan lidahnya (yang artinya) : “Sejelek-jelek khatib adalah kamu. Ucapkan : Barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim 870, Abu Dawud 4960, An Nasa’i 6/90, Baihaqi 3/216, Ahmad 4/256, 379, Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 17/98. Demikian takhrij Syaikh Ali Hasan dalam Tarbiyah)

Di sini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam meluruskan lidah orang tersebut ketika keliru mensejajarkan Allah dan Rasul-Nya dengan kata-kata ‘keduanya’. Teguran keras ini adalah tarbiyah bagi para shahabat dan bagi kita semua bahwa permasalahan ini bukan permasalahan kecil.

Ketahuilah sesungguhnya tidak akan tegak dakwah dengan sebenar-benarnya kecuali jika terwujud tashfiyah dan tarbiyah ini. Dan inilah dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan tugas beliau yang Allah terangkan dalam ayat-Nya :

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah dan sesungguhnya mereka dahulu benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali Imran : 164)

Syaikh Ali Hasan dalam bukunya berkata bahwa : “Tidak akan sempurna tazkiyah (pembersihan) kecuali dengan tarbiyah dan tidak akan sempurna ilmu kecuali dengan tashfiyah.”

Demikianlah tidak akan dipisahkan antara keduanya dan tidak akan sempurna dakwah tanpa keduanya. Maka wajib bagi para ulama dan para pencari ilmu serta para da’i untuk menghadapkan perhatian mereka pada tashfiyah dan tarbiyah terhadap umat ini. Menjelaskan kepada mereka jalan yang benar agar perahu kita ini tidak tenggelam karena sesungguhnya yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas.

Wallahu A’lam Bis Shawab.

(Dinukil dari kitab At Tashfiyah wat Tarbiyah cetakan 1 dan 2. Karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid )

AMALAN YANG BERMANFAAT BAGI ORANG YANG MENINGGAL

1. Doa seorang muslim untuk keampunannya. Seorang muslim sepatutnya mendoakan saudaranya semuslim, baik dia kenal ataupun tidak.

Berdasarkan firman Allah SWT :
Dan Orang-orang yang datang dibelakang mereka, mereka memohon : "Ya Tuhan kami,berilah keampunan bagi kami dan bagi saudara-saudara kami yangtelah lebih dulu beriman pada kami, danjanganlah Engkau jadikan pada hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Al Hasyr : 110.

- Dari Abi Darda' ra. Rasulullah saw bersabda : Doa seorang muslim terhadap saudaranya yang ghaib ( berjauhan ) adalah mustajab….HR Muslim.

2. Qadha wali mayat untuk puasa nazar, bukan puasa ramadhan.

Jika simati bernazar dalam puasa, maka ahli waris wajib menunaikannya.

- Dari Ibnu Abbas berkata : " Seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw. Katanya : " Ya Rasulullah saw., ibuku meninggal dunia,sedang ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah akan saya kadha atas namanya ?" Ujar Nabi saw .: "Jika ibumu mempunyai hutang , apakah akan kamu bayarkan untuknya?" "Memang", ujarnya. "Nah", kata Nabi saw pula maka hutang kepaa Allah lebih layak untuk dibayar."
HR Bukhari,Muslim.

- Dari Ibnu Abbas ra. : Sesungguhnya Sa'ad bin Ubadah ra. meminta fatwa kepada Nabi saw maka ia berkata : Sesungguhnya ibuku meninggal dan dia mempunyai nazar. Nabi saw bersabda : Penuhilah nazarnya. HR Bukhari, Muslim

- Dari Aisyah ra. Sesunguhnya Nabi saw bersabda : " Siapa yang meninggal dan baginya puasa,maka hendaklah walinya berpuasa untuknya. HR Bukhari, Muslim.

Abu Daud berkata didalam "Al-Masa il " ( 96 ) : " Saya mendengar Ahmad Bin Hanbal berkata : Tidak ada puasa bagi si mayat kecuali puasa nazar.

- Dari 'Amrah : Sesungguhnya ibunya meninggal dan baginya puasa dibulan ramadhan , maka ia berkata kepada Aisyah : "Apakah saya menunaikan puasa untuknya ?" Aisyah berkata : " Tidak, tetapi bersedakahlah untuknya, setiap hari dengan satu sha' makanan untuk setiap orang miskin. HR Athahawi dan Ibnu Hazm.

- Dari Said bin Jubeir ra. dari Ibnu Abbas ra. Berkata : Jika seseorang sakit dibulan ramadhan kemudian meninggal sedangkan ia tidak berpuasa, berilah makanan untuknya, tidak ada baginya qadha' tetapi jika baginya nazar maka bagi walinya untuk menunaikannya. HR Abu Daud
( Lihat kitab Almausuu'ah alfiqhiyyah al muyassarah fii alkitab wa assunnah al muthaharah, jilid 4, Ms 192, oleh Husein bin 'audah al 'awaysyah. )

3. Membayarkan hutang.

4. Amalan soleh dari anak yang soleh, kerana amalan yang anak adalah hasil dari pada apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

- Dan bahawasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah dia usahakan. An Najm : 39.

- Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan lain-lain dari Abu Hurairah :
"Bahawa seorang lelaki betanya kepada Rasulullah saw. : "Bapakku meninggal dunia dan ada meninggalkan harta serta tidak memberikan wasiat. Apakah dapat menhapuskan dosanya bila aku sedekahkan atas namanya ?" Ujar Nabi saw. : "Ya"

- Dari Sa'ad bin 'Ubadah : "Bahawa ibunya meninggal , maka tanyanya kepada Rasulullah saw. " Ya Rsulullah, ibuku meninggal, dapatkah saya bersedekah atas namanya?" Ujarnya : "Dapat". Lalu ujarnya lagi : "Sedekah manakah yuang lebih utama ?" Ujarnya : "Menyediakan air". Kata Hasan :" Itulah dia menyediakan air dari keluarga Sa'ad di Madinah." HR Ahmad, Nasai, dan lain-lain.

- Dari Ibnu Abbas : "Bahawa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya : "Ibuku bernazar akan melakukan haji, tetapi belum juga dipenuhinya sampai ia meninggal. "Apakah akan saya lakukan haji untuknya ?" Ujar Nabi saw : "Ya lalkukanlah !" Bagaimana pendapatmu seandainya ibumu berhutang , apakah akan kamu bayar ?" Bayarlah, kerana Allah lebihlayak untuk menerima pembayaran." HR Bukahari.

5. Sadaqah jariyah.

- Dari Abu Hurairah ra. Bahawa Nabi saw bersabda : "Jika seorang meninggal ,putuslah amalannya kecuali dari yang tiga : Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang mendoakannya". HR Muslim.