Aliran dan golongan yang bertentangan dengan ahlu sunnah wal jamaah tidak tersembunyi lagi bahkan sekarang ia semakin mendapat tempat di kalangan umat islam di Indonesia dan negara lain. Aliran dan golongan tersebut adalah NII, Ahmadiyah, Hizbuttahrir, Golongan radikal yang mencetukan aksi terorisme dan pengeboman, Islam liberal, Golongan anti hadis, Sufi yang tersesat, dan Syiah.
Saya ingin mengajak semua saudara sesama Ahlu Sunnah Wal Jama’ah untuk bekerja keras memahamkan kepada umat Islam tentang bahayanya paham dan golongan diatas terutama syiah. Gunakan blog, forum dan apa juga sarana untuk menerangkan kesalahan aliran syiah sambil menjawab syubuhat-syubuhat mereka.
Perkara yang penting juga untuk para pendakwah, guru dan ustadz atau ustadzah agar menyelitkan subjek syiah kedalam kuliah-kuliah tafsir, hadis, fikah, akhlak dan sirah dan apa saja yang mereka ajarkan. Semoga dengan usaha demikian kita dapat membendung virus Syiah dari terus merebak.
AHLU BAIT
Dalam rangka kita menolak syiah , jangan pula ada unsur yang terlanjur sehingga kita menolak Ahlu Bait yakni kaum keluarga Rasulullah saw yang terdiri dari pada isteri dan saudara mara beliau. Perlu di ingat bahwa Ahlu Sunnah Wal Jamaah mencintai dan memuliakan serta membela para sahabat Nabi saw diamana diantaranya adalah Ahlu Bait Nabi saw. Bahkan kita bersholawat kepada mereka dalam setiap sholat fardhu dan sunat yang kita laksanakan setiap hari.
Didalam satu riwayat, al ‘Abbas pernah mengadu kepada Rasulullah saw tentang layanan buruk yang diberikan orang-orang kepadanya. Terhadap aduan ini Baginda diriwayatkan bersabda :”Mereka tidak akan memperoleh kebaikansehinggalah mereka mencintai kalian karena Allah dan karena talian kekerabatan denganku.”( Fadhail shahabah oleh Imam Ahmad , no :1756 )
Kita sepatutnya memahami bahwa satu natijah kecintaan kita kepada Rasulullah saw adalah dengan mencintai Ahlu Bait Baginda. Demikian juga salahsatu bukti kecintaan kita kepada Ahlu bait adalah dengan membela mereka.
Selanjutnya kita masuk kepada perkara yang sangat penting, yaitu bagaimana kita membela Ahlu Bait. Pembelaan kita terhadap Ahlu Bait terdiri dari dua aspek :
1.Membela Ahlu Bait dari pada pihak yang merendahkan mereka yaitu orang-orang yang menghina, membenci, dan mengeluarkan kata-kata yang kasar terhadap mereka. Ahlu sunnah wal Jamaah membersihkan diri daripada membenci dan menghina mereka.
2.Membela Ahlu Bait daripada pihak yang meninggi-ninggikan mereka melebihi kedudukan yang telah ditetapkan oleh Qur an dan Hadis shahih. Dikalangan umat Islam, saat ini aliran Syiah telah meninggikan Ahlu Bait Rasulullah saw ketahap bebas dari kesalahan ( Maksum ), mendapat Ilham secara langsung dari Allah dan mengetahui perkara ghaib.
Maka kita sebagai Ahlu Sunnah wal jamaah berkewajiban untuk membela Ahlu Bait agar kedudukan mereka dapat dikembalikan kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Nabi saw . Ini adalah kewajiban yang telah diwasiatkan oleh Nabi saw, apabila Baginda bersabda yang mafhumnya :
Aku tinggalkan kepada kalian al-Tsaqalain (dua perkara yang penting) : Yang pertama adalah kitab Allah (al-Qur an ), didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpegang teguhlah kepada kitab Allah. ( Yang kedua ) adalah Ahlu Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu Baitku. ( Shahih Muslim, No : 2408 )
FATWA PARA ULAMA TENTANG KESESATAN SYIAH
IMAM MALIK
Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”
.
( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )
Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :
“ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.
Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.
(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)
Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.
(Tafsir Al Qurthubi, 16-297).
IMAM AHMAD
Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”.
( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).
Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.
(Al Khalal / As Sunnah, 2-558).
Beliau Al Khalal juga berkata :
“ Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.
(Al Khalal / As Sunnah, 2-558)
Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :
“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad SAW dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.
AL BUKHORI
Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).
AL FARYABI
Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.
(Al Khalal / As Sunnah, 6-566)
.
AHMAD BIN YUNUS
Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.
(Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).
ABU ZUR’AH AR ROZI
Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur'an dan As Sunnah”.
(Al Kifayah, halaman 49).
ABDUL QODIR AL BAGHDADI
Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”.
(Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357).
Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’
IBNU HAZM
Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur'an sesungguhnya sudah diubah”.
Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur'an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”.
(Al Fashl, 5-40).
ABU HAMID AL GHOZALI
Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.
Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.
(Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).
AL QODHI ‘IYADH
Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.
Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur'an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
Syiah Ismailiyah”.
(Ar Risalah, halaman 325).
AL FAKHRUR ROZI
Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.
Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.
Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”.
Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.
(Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).
IBNU TAIMIYAH
Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur'an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur'an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur'an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas....
(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).
SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI
Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.
(Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300).
MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI
Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.
Pertama : Menentang Allah.
Kedua : Menentang Rasulullah.
Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk
melenyapkannya.
Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur'an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.
(Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)
PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN
Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata : “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur'an dari kekurangan dan tambahan”.
(Nahjus Salaamah, halaman 29-30).
Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof). Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah.
“Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.”
KESALAHAN DAN SYUBHAT SYIAH
SYUBHAT PERTAMA :
Syubhat pertama kaum syiah adalah meragukan keabsahan khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu . Mereka menganggap dibai’atnya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah adalah tidak sah, karena Ali radhiallahu ‘anhu dan keluarganya atau Ahlul Bait tidak diajak musyawarah, padahal Ali radhiallahu ‘anhu lebih berhak menjadi khalifah daripada abu Bakar atau Umar radhiallahu ‘anhuma . Demikianlah syubhat syi’ah yang mereka hembuskan dimana-mana, dengan kalimat yang sama dari tokoh syi’ah yang berbeda-beda, bagaikan satu kaset yang diputar berulang-ulang.
Pemahaman sesat dari orang Persia ini selalu mengatas-namakan Ahlul Bait dan menganggap pemahamannya sebagai “Madzhab Ahlul Bait”. Sehingga yang paling mudah terbawa dengan pemahaman syi’ah ini adalah orang-orang yang mengaku sebagai turunan Ali radhiallahu ‘anhu atau Alawiyyin –kecuali yang Allah rahmati–. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa Ahlul Bait terdzalimi bangkitlah emosi kekeluargaannya. Padahal apa yang disampaikan oleh kaum syi’ah –yang merupakan jelmaan kaum majusi Persia– adalah kedustaan yang nyata dan tidak memiliki bukti yang otentik.
Mereka biasanya mengambil riwayat-riwayat tersebut dari kitab yang pa-ling terkenal di kalangan mereka yaitu Nahjul Balaghah. Kitab ini berisi ucapan-ucapan, khutbah-khutbah dan sya’ir-sya’ir yang seluruhnya diatasnamakan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu . Penulis buku tersebut mengesankan bahwa seakan-akan Ali radhiallahu ‘anhu tidak terima dengan keputusan para shahabat ketika memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Bahkan dalam buku ini dinukil bahwa Ali radhiallahu ‘anhu mencaci dan mencerca Abu Bakar, Umar dan para shahabat yang lain. Namun sayang penulis buku tersebut tidak membawakan ucapan-ucapan Ali radhiallahu ‘anhu tersebut dengan sanadnya (rantai para rawi) sehingga tidak dapat diperiksa keotentikannya secara ilmiyyah dengan standar ilmu hadits.
Kitab ini –yang dikalangan kaum Syi’ah sejajar dengan al-Qur’an– ternyata disusun dan dikarang oleh seorang tokoh sesat dari kalangan Syi’ah imamiyyah, Rafidah yang bernama al-Murtadla Abi Thalib Ali bin Husein bin Musa Al Musawi (w th. 436 Hijriyah). Buku ini telah dinyatakan oleh para ulama Ahlus Sunnah sebagai kedustaan atas nama Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.
Imam adz-Dzahabi berkata –ketika membahas biografi orang ini– sebagai berikut: “Dia adalah penghimpun kitab Nahjul Balaghah yang menyandarkan kalimat-kalimat yang ada dalam kitab ini kepada Imam Ali radhiallahu ‘anhu tanpa disebutkan sanad-sanadnya. Sebagian besar kalimat-kalimat itu batil, meskipun juga di dalamnya ada hal yang benar. Namun ucapan-ucapan palsu yang terdapat dalam kitab ini mustahil diucapkan oleh Imam Ali”. (Siyar A’lamin Nubala,17/589-590).
Beliau juga berkata:”…Barang siapa yang melihat buku Nahjul Balaghah ini, maka ia akan yakin bahwa ucapan-ucapan itu adalah dusta atas nama Amirul Mukminin Ali radhiallahu ‘anhu , karena di dalamnya terdapat caci-makian yang sangat jelas terhadap dua tokoh besar shahabat yaitu Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma . Juga tedapat ungkapan-ungkapan yang kaku (menurut kaidah sastra arab, pent) yang bagi orang yang telah mengenal jiwa bangsa Quraisy (dan tingginya bahasa mereka, pen.) dari kalangan para shahabat dan orang-orang setelahnya akan mengerti dengan yakin bahwa kebanyakan isi kitab tersebut adalah batil. (Mizanul i’tidal 3/124 Lisanul Mizan 4/223).
Ibnu Sirin menilai bahwa seluruh apa yang mereka (kaum Syi’ah) riwayatkan dari Ali radhiallahu ‘anhu semuanya kedustaan. (Al-‘ilmus Syamikh, hal 237)
Demikian pula Al-Khathib al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Jami’ Li Akhlaqir rawi wa adibis sami’ (juz 2 hal. 161) telah memberikan isyarat tentang Kedustaan kandungan kitab ini”.
Syaikhul IslamIbnu Taimiyah berkata: “… sebagian besar khutbah-khutbah yang dinukil penyusun kitab Nahjul Balaghah adalah dusta atas nama Ali radhiallahu ‘anhu . Beliau terlalu mulia dan terlalu tinggi kapasitasnya untuk berbicara dengan ucapan seperti itu. Tetapi mereka mereka-reka kebohongan dengan anggapan bahwa hal itu sebagai sanjungan. Sungguh Itu bukanlah kebenaran, bukan pula merupakan sanjungan…. (Minhajus Sunnah an-Nabawiyah, 8/55-56)
Sedangkan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah telah meriwayatkan dengan sanad –dan sanad tersebut telah diteliti keshahihannya secara ilmiyyah—ucapan-ucapan Ali radhiallahu ‘anhu yang ternyata bertentangan dengan apa yang mereka riwayatkan seratus delapan puluh derajat. Di antaranya:
Pertama, riwayat yang menunjukkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu setuju dengan keputusan para sahabat dalam pengang-katan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah. Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Ubaidah bahwa ia mendengar Ali radhiallahu ‘anhu mengatakan:
اقْضُوْا كَمَا أَنْتُمْ تَقْضُوْنَ فَإِنِّيْ أَكْرَهُ الْخِلاَفُ حَتَّى يَكُوْنَ النَّاسَ جَمَاعَةً أَوْ أَمُوْتُ كَمَا مَاتَ أَصْحَابِيْ.
Putuskanlah sebagaimana kalian putus-kan, sesungguhnya aku membenci perselisihan hingga manusia berada dalam satu jama’ah atau lebih baik aku mati seperti para shahabat-shahabatku yang telah mati. (AR. Bukhari dalam Fadha-ilus Shahabah 3504) Kedua, diriwayatkan pula secara mustafidh dari Ali bin Abi Thalib sendiri sebagaimana dalam Shahih Bukhari dengan menyebutkan sanadnya sampai kepada Muhammad ibnul Hanafiyah rahimahullah:
قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ r؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخاري في فضائل الصحابة 3468 وفتح البارى 7/20)
Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ): “Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku berta-nya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia men-jawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali se-orang dari kalangan muslimin”. (AR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)
Ketiga, berkata Ibnu Taimiyah bahwa riwayat yang seperti ini (yakni riwayat di atas) telah diriwayatkan dari Imam Ali lebih dari 80 riwayat. Dan bahwasanya imam Ali ibnu Abi Thalib pernah berbicara di mimbar Kuffah, mengancam orang-orang yang mengutamakan dirinya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta.
لاَ أُوْتِيَ بِأَحَدٍ يَفْضِلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُّهُ حَدَّ الْمُفْتَرِيْنَ
Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku di atas Abu Bakar dan Umar kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.
Maka ketika itu seorang yang menga-takan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).
Keempat, Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya yang bersambung dan shahih sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa dia pernah menghadiri jenazah Umar bin Khathab, dia berkata:
إِني لَوَاقِفٌ فِي قَوْمٍ نَدْعُوا اللهَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَقَدْ وُضِعَ عَلَى سَرِيْرِهِ، إِذَا رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي قَدْ وَضَعَ مِرْفَقَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ يَقُوْلُ: رَحِمَكَ اللهَ إِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ ِلأَنِّيْ كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُوْلَ اللهِ r يَقُوْلُ: كُنْتُ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَفَعَلْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَإِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَهُمَا، فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ. (رواه البخاري في فضائل الصحابة، باب من فضائل عمر 3389 (4/1858))
Sungguh aku pernah berdiri di keru-munan orang yang sedang mendoakan Umar bin Khathab yang telah diletak-kan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku –yang me-letakkan sikunya di kedua pundakku– berkata: “Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah mengga-bungkan engkau bersama dua shaha-batmu raYakni Rasulullah dan Abu Bakar), karena aku sering mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’, dan ‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar…’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabung-kan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. (HR. Bukhari dalam Fadlailus Shahabah, 3389).
Keenam, diriwayatkan oleh Imam Malik rahimahullah bahwa telah terjadi ijma’ (kesepakatan) penduduk Madinah atas afdlaliyah (keutamaan) Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma di atas Ali radhiallahu ‘anhu, beliau radhiallahu ‘anhu berkata:
مَا أَدْرَكْتُ أَحَدًا مِمَّنْ يَقْتَدِي بِهِ يَشُكُّ فِي تُقَدِّمِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ.
Tidak kutemui satu orang pun dari ulama yang dijadikan teladan yang ragu terhadap diutamakannya Abu Bakar dan Umar di atas yang lainnya. ( Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/421; lihat Al-Imamatul ‘Udhma, Abdullah Ibnu Umar Ibnu Sulaiman ad-Damiji, hal. 311)
Ketujuh , maka setelah ini kita katakan kepada kaum Syi’ah dan kalangan mutasyayi’in (yang kesyi’ah-syi’ahan) ucapan Imam Ats-Tsauri sebagai berikut:
مَنْ زَعَمَ أَنَّ عَلِيًّا كَانَ أَحَقُّ بِالْوَلاَيَةِ مِنْهُمَا فَقَدْ خَطَأَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَالْمُهَاجْرِيْنَ وَاْلأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْ جَمِيْعِهِمْ وَمَا أَرَاهُ يَرْتَفِعَ لَهُ مَعَ هَذَا عَمَلُ إِلَى السَّمَاءِ
Barangsiapa yang menganggap Ali lebih berhak menjadi khalifah daripada Abu Bakar dan Umar, maka berarti dia telah menyalahkan Abu Bakar, Umar, Muhajirin dan Anshar radhiallahu ‘anhum. Maka Aku ti-dak mengira kalau amalannya akan naik ke langit (yakni diterima di sisi Allah). (Riwayat Abu Dawud dalam Ki-tabus Sunnah, bab at-Tafdlil; lihat Aunul Ma’bud, 8/382).
Dalam riwayat lain Sufyan ats-Tsauri berkata:
…فَقَدْ أَزْرَى عَلَى اثْنَيْ عَشَرَ أَلْفًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ .
Barang siapa menganggap Ali lebih berhak untuk menjadi khalifah, maka dia telah menuduh dua belas ribu para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (Al-Musnad min Masa’il Imam Ahmad oleh al-Khalal dalam bentuk manuskrip dan dishahihkan sanad-sanadnya oleh Imam Nawawi lihat ash-Shawaiq al-Muhriqah oleh Ibnu Hajar al-Haitsami melalui nukilan ad-Damiji dalam al-Imamatul ‘Udzma hal. 313)
SYUBHAT KEDUA :
Di antara alasan kaum Syi’ah Rafidlah yang menganggap bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu lebih berhak menjadi khalifah adalah:
1. Mereka menganggap Ali radhiyallahu ‘anhu lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.
2. Ali radhiyallahu ‘anhu termasuk keluarga Rasulullah (ahlul bait).
3. Wasiat Rasulullah di Ghadir Qum.
Kita jawab alasan mereka satu persatu:
Pertama pendapat mereka tentang keutamaan Ali radhiyallahu ‘anhu di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma.
Pendapat ini menyelisihi hadits Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan ijma’ kesepakatan para shahabat dan seluruh kaum muslimin. Bahkan menyelisihi ucapan Ali radhiallahu 'anhu sendiri.
1. Diriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Ibnu Umar:
كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. (رواه البخاري فتح الباري ج 7 ص 16)
Kami membanding-bandingkan di antara manusia di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Maka kami menganggap yang terbaik adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman bin Affan. (HR. Bukhari)
Dalam lafazh lain dikatakan:
كُنَّا نَقُوْلُ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ أَفْضَلُ أُمَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَهُ أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ. رواه أبو داود في كتاب السنة باب التفضيل انظر عون المعبود ج 8 صلى الله عليه و سلم 381 والترمذي وقال حديث حسن صحيح)
Kami mengatakan dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam masih hidup bahwa yang paling utama dari umat nabi shallallahu `alaihi wa sallam setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi berkata: Hadits hasan)
Dua hadits ini merupakan dalil yang qath’i (pasti) karena Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menyebutkan dua kalimat yang penting yang menunjukkan bahwa ucapannya tidak memiliki muatan subyektif. Pertama, kalimat tersebut adalah: “Kami membanding-bandingkan…”, atau “Kami mengatakan……”. Kedua kalimat tersebut menunjukkan bahwa ucapan itu adalah ucapan para shahabat seluruhnya dan tidak ada seorang pun dari mereka yang membantahnya.
Kalimat kedua adalah ucapan beliau: “Dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam masih hidup…” atau dalam lafazh lain: “di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam…..”. Ucapan ini menunjukkan bahwa ucapan para shahabat tersebut didengar dan disaksikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, dan beliau shallallahu `alaihi wa sallam tidak membantahnya. Inilah yang dinamakan oleh ahlul hadits dengan hadits taqriri yang merupakan hujjah dan dalil yang qath’i.
2. Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:
قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20)
Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khawatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)
Bahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan diri-nya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta.
لاَ أُوْتِيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِيْنَ.
Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.
Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu pernah menceritakan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagai berikut:
إِني لَوَاقِفٌ فِي قَوْمٍ نَدْعُوا اللهَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَقَدْ وُضِعَ عَلَى سَرِيْرِهِ، إِذَا رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي قَدْ وَضَعَ مِرْفَقَيْهِ عَلَى مَنْكِبِي يَقُوْلُ: رَحِمَكَ اللهَ إِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ ِلأَنِيْ كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُوْلَ اللهِ ? يَقُوْلُ: كُنْتُ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَفَعَلْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَإِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَهُمَا، فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ. (رواه البخاري في فضائل الصحابة، باب من فضائل عمر 3389 (4/1858))
Sungguh aku pernah berdiri di kerumunan orang yang sedang mendoakan Umar bin Khathab ketika telah diletakkan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku yang meletakkan kedua sikunya di kedua pundakku berkata: “Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah menggabungkan engkau bersama dua shahabatmu (Yakni Rasulullah dan Abu Bakar) karena aku sering mendengar Rasulullah ? bersabda: ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’, ‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar...’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabungkan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.
Hadits-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar-besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidlah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma.
3. Bahkan ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam siapa yang paling dicintainya, beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Abu Bakar”. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu 'anhuma berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالاً.
Bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengutus pasukan dalam perang dzatu tsalatsil. Maka aku mendatanginya, dan bertanya kepadanya: “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Aisyah.” Aku berkata: “Dari kalangan laki-laki wahai Rasulllah?” Beliau menjawab: “Ayahnya”. Aku berkata: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Umar”. Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang. (HR. Bukhari dalam Fadhailil A’mal, fathul Bari juz ke 7, hal. 18 dan Muslim dalam Fadhailus Shahabah juz ke-4 hal. 1856 no. 2384)
4. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar:
ثُمَّ اقْتَدُوا بِاللَّذِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ مِنْ أَصْحَابِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ...
Kemudian ikutilah teladan orang-orang setelahku dari shahabatku yaitu Abu Bakar dan Umar…. (HR. Tirmidzi, Baihaqi dan Hakim; Lihat Silsilah Ash-Shahihah juz 3 hal. 233, hadits no. 1233)
5. Banyak isyarat dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar dan sekaligus isyarat bahwa beliaulah yang pantas mewakili Rasulullah shalla-llahu `alaihi wa sallam.
Diriwayatkan dari Jubair ibni Muth’im, dia berkata:
أَتَتِ امْرَأَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنَ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُوْلُ الْمَوْتَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِيْنِيْ فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ.
Datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam, maka Rasulullah menyuruhnya untuk datang kembali. Maka wanita itu mengatakan: “Bagaimana jika aku tidak mendapatimu?” –seakan-akan wanita itu memaksudkan jika telah meninggalnya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Beliau menjawab: “Jika engkau tidak mendapatiku, maka datangilah Abu Bakar”. (HR. Bukhari 2/419; Muslim, 7/110; lihat Zhilalul Jannah hal. 541-542, no. 1151)
Maka dengan riwayat-riwayat ini seluruh ulama ahlus sunnah sepakat bahwa manusia terbaik setelah rasulnya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, ke-mudian Utsman kemudian Ali radhiyallahu 'anhum.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar di atas Utsman dan Ali radhiallahu 'anhum: “Yang demikian telah disepakati oleh para imam-imam kaum muslimin yang terkenal keilmuan dan keshalihannya dari kalangan shahabat, tabi’in, pengikut tabi’in, dan ini pula madzhab Imam Malik dan seluruh penduduk Madinah, Imam Al-Laits Ibnu Sa’ad dan seluruh ulama Mesir, al-Auzai dan seluruh penduduk Syam, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Hammad ibni Zaid, Hammad Ibni Salamah dan seluruh penduduk Iraq. Dan ini juga madzhabnya imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq Ibnu Rahuyah, Abu Ubaid dan lain-lain dari para imam-imam kaum muslimin”. (Maj-mu’ Fatawa juz IV hal. 421).
Imam Malik mengatakan bahwa itu adalah ijma’ penduduk Madinah dalam ucapannya:
مَا أَدْرَكْتُ أَحَدًا مِمَّنْ يَقْتَدِي بِهِ يَشُكُّ فِي تَقَدِّمِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرً.
Tidak kutemui satu orang pun dari ulama yang dijadikan teladan yang ragu terhadap diutamakannya Abu Bakar dan Umar di atas yang lainnya. (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/421; lihat Al-Imamatul ‘Udhma, Abdullah Ibnu Umar Ibnu Sulaiman ad-Damiji, hal. 311)
Sebaliknya barangsiapa yang menyelisihi pendapat ini, maka ia adalah orang yang lebih sesat dari keledai piaraannya.
SYUBHAT KETIGA :
Alasan kedua kaum Syi’ah Rafidlah menganggap bahwa Ali radliyallahu 'anhu lebih berhak menjadi khalifah dari pada Abu Bakar dan Umar radliyallahu 'anhuma adalah karena Ali radliyallahu 'anhu termasuk keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Alasan ini adalah sama seperti alasan Yahudi yang mengatakan bahwa penguasa harus dari keluarga Daud. Anggapan mereka ini adalah batil, karena tidak ada satu pun dalil yang menyatakan bahwa kepemimpinan atau khilafah harus dari kalangan ahlul bait. Demikian pula tidak disyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) itu harus dari kalangan ahlul bait.
Syarat-syarat seorang untuk layak menjadi pemimpin sangat jelas dalam al-Qur’an dan sunnah. Di antaranya syarat umum yang harus ada pada seorang pemimpin adalah Islam, baligh, berakal, merdeka (bukan hamba sahaya), laki-laki dan berilmu. Kemudian syarat-syarat khusus yang harus ada pada seorang pemimpin yaitu adanya sifat-sifat keadilan, kesempurnaan mental, kesempurnaan fisik seperti ucapan Allah subhanahu wa ta'ala tentang Thalut yang Allah angkat menjadi pemimpin.
Perhatikan firman Allah:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ.
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah: 247)
Selain sifat di atas, harus ada pula pada seorang pemimpin sifat keshalihan dan ketaqwaan, karena Allah akan mewarisi bumi ini untuk orang-orang yang shalih. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ اْلأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُون.َ
Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur, sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang shalih. (al-Anbiya’: 105)
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي.
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (an-Nuur: 55)
Oleh karena itu ketika Allah menjadikan Ibrahim sebagai imam dan Ibrahim meminta keturunannya juga menjadi pemimpin, Allah menyatakan bahwa kepemimpinan tidak akan diberikan kepada orang-orang dhalim dari keturunannya.
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dhalim". (al-Baqarah: 124)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah mengutip ucapan Mujahid dalam menafsirkan ayat ini: “Yakni: adapun orang-orang yang shalih dari mereka, maka aku akan jadikan mereka sebagai pemimpin. Adapun orang yang dhalim dari mereka, maka Kami tidak akan menjadikannya sebagai pemimpin dan Kami tidak peduli. (Tafsir Ibnu Katsir, juz I, hal. 167)
Dengan demikian berarti kepemimpinan itu didapat bukan karena faktor keturunan, tetapi karena faktor keshalihan.
Di samping itu, sifat yang harus ada agar seseorang layak menjadi pemimpin adalah memiliki kesabaran dan keyakinan yang tinggi. Allah juga berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ.
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (as-Sajdah: 24)
Adapun syarat terakhir dari seorang pemimpin adalah Quraisyiyah (turunan Quraisy). Namun syarat ini adalah setelah terpenuhinya syarat-syarat tadi di atas. Artinya kalaupun ia adalah turunan Quraisy, namun jika memiliki kekurangan-kekurangan dari sifat-sifat di atas, tentunya ia tidak layak menjadi pemimpin atau khalifah. Jika ada beberapa orang yang memiliki syarat-syarat di atas dan di antara mereka ada seorang turunan Quraisy, maka yang paling layak untuk menjadi seorang pemimpin adalah dari turunan Quraisy.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyatakan bahwa khalifah itu adalah seluruhnya dari kaum Quraisy dalam sebuah riwayat:
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ هَذَا اْلأَمْرَ لاَ يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِيَ فِيهِمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً قَالَ ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلاَمٍ خَفِيَ عَلَيَّ قَالَ فَقُلْتُ ِلأَبِي مَا قَالَ قَالَ كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.
Dari Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Aku masuk bersama ayahku menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, maka aku mendengar beliau berkata: “Sesungguhnya urusan ini tidak akan lenyap hingga berakhir di antara mereka dua belas khalifah”. Kemudian beliau berbicara dengan ucapan yang tersamar atasku. Maka aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang dikatakan oleh beliau?”. Ia menjawab: “Seluruhnya dari kalangan Quraisy”. (HR. Bukhari Muslim)
Dengan riwayat yang shahih ini jelaslah bahwa syarat untuk menjadi seorang pemimpin tidak harus dari kalangan ahlul bait. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam hanya mengatakan dari kaum Quraisy. Oleh karena itu seluruh para ulama sepakat bahwa syaratnya hanya quraisyiyah, apakah dari ahlul bait atau tidak.
Berkata Imam Ahmad rahimahullah: “Khilafah adalah pada Quraisy, selama manusia masih tersisa dua orang. Dan tidak seorang pun dari manusia yang berhak untuk merebutnya dari mereka, tidak keluar dari mereka, dan kami tidak menetapkannya untuk selain mereka sampai hari kiamat”. (Thabaqat Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la; Lihat kitab Imamatul Udhma, ad-Damiji, hal. 269)
Demikian pula imam Syafi’i rahimahullah menetapkan syarat ini dalam kitabnya al-Umm juz 1, hal. 143.
Berkata imam Malik rahimahullah: “Tidaklah menjadi seorang imam kecuali orang Quraisy”. (Ahkamul Qur’an, Ibnul Arabi, juz IV, hal. 1721; lihat Imamatul Udhma, hal. 269)
Tidak ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali beberapa kelompok sempalan seperti khawarij, mu’tazilah dan Asy’ariyah. Sedangkan kaum Syi’ah Rafidlah, mereka menyempitkannya dan menganggap bahwa yang dimaksud Quraisy adalah ahlul bait.
Orang-orang Syi’ah Rafidlah dari sekte imamiyah atau itsna atsariyyah mempunyai keyakinan bahwa kepemim-pinan setelah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam harus dari kalangan Ahlul bait yaitu Ali bin Abi Thalib, kemudian kepada al-Hasan, kemudian al-Husein hingga kepada turunan al-Husein hingga berakhir dengan al-Mahdi al-muntadzar yang dianggapnya dari keturunan Husein yaitu Muhammad bin al-Hasan al-Askari yang sudah lahir dan masuk gua, kemudian ditunggu keluarnya sampai hari ini. (lihat edisi selanjutnya, Insya Allah)
Padahal dari sekian banyak hadits yang ada, seluruhnya hanya menyatakan dari Quraisy, dan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan dari ahlul bait.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَزَالُ هَذَا اْلأَمْرُ فِي قُرَيْشٍ مَا بَقِيَ مِنَ النَّاسِ اثْنَانِ.
Dari Abdullah bin ‘Amr radliyallahu 'anhu, ia berkata: berkata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: “Akan tetap urusan ini di tangan Quraisy, hingga manusia tinggal tersisa dua orang”. (HR. Bukhari)
إِنَّ هَذَا اْلأَمْرَ فِي قُرَيْشٍ لاَ يُعَادِيْهِمْ أَحَدٌ إِلاَّ كَبَّهُ اللهُ عَلَى وَجْهِهِ مَا أَقَامُوا الدِّيْنَ.
Sesungguhnya urusan ini tetap ada di tangan Quraisy selama mereka masih menegakkan agama ini. Tidak ada yang menentang mereka seorang pun, kecuali akan Allah sungkurkan wajahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
النَّاسُ تَبَعٌ لِقُرَيْشٍ فِي هَذَا الشَّأْنِ مُسْلِمُهُمْ لِمُسْلِمِهِمْ وَكَافِرُهُمْ لِكَافِرِهِمْ
Manusia itu selalu mengikut Quraisy dalam urusan ini. Kaum muslimnya mengikuti muslim mereka dan kafirnya mengikuti kafir mereka. (HR. Bukhari)
قُرَيْشٌ وُلاَةُ هَذَا اْلأَمْرِ فَبَرُّ النَاسُ تَبَعٌ لِبِرِّهِمْ وَفَاجِرُهُمْ تَبَعٌ لِفَاجِرِهِمْ قَالَ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ صَدَقْتَ نَحْنُ الْوِزَرَاءُ وَأَنْتُمُ اْلأُمَرَاءُ
Kaum Quraisy adalah pemilik urusan ini, orang yang baiknya akan mengikuti orang yang baik mereka. Dan orang yang jahatnya akan mengikuti orang yang jahat mereka. Kemudian Sa’ad berkata: “Engkau benar, kami (kaum Anshar) adalah para menteri, sedangkan kalian (kaum Quraisy) adalah para pemimpin. (HR. Ahmad)
SYUBHAT KE EMPAT :
Pada edisi kali ini, akan kami sajikan adanya isyarat dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang penunjukan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah sepeninggal beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini merupakan bukti dan penguat akan keabsahan beliau sebagai halifah sebagaimana telah kami sebutkan pada edisi 36. Isyarat ini sekaligus meruntuhkan syubhat dan kesesatan yang dilontarkan oleh Syi’ah Rafidlah yang meragukan keabsahan kekhalifahan beliau
Para ulama telah berbeda pendapat tentang bagaimana pengangkatan Abu Bakar ash-Shidiq sebagai khalifah. Apakah pengangkatan tersebut ditentukan dengan nash secara langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dengan musyawarah antara kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa pengangkatan beliau sebagai khalifah ada lah hasil dari musyawarah dari kaum muslimin ketika itu.
Sedangkan Hasan al-Bashri dan sebagian para ulama dari kalangan ahlul hadits berpendapat bahwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah adalah dengan nash yang samar dan isyarat dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 471)
Dalil-dalil yang menunjukkan akan adanya isyarat secara tidak langsung (bukan wasiat) dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan bahwa Abu Bakarlah yang lebih pantas menjadi khalifah sangat banyak.
Isyarat-isyarat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dipilih sebagai imam Shalat pengganti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
Hadits-hadits yang menunjukkan diperintahkannya Abu Bakar untuk memimpin shalat menggantikan Rasulullah, shalallahu ‘alaihi wasallam sangat masyhur. Salah satu di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Musa radhiallahu ‘anhu berikut:
مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ فَاشْتَدَّ مَرَضُهُ فَقَال مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ مَتَى يَقُمْ مَقَامَكَ لاَ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَقَالَ مُرِي أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَإِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ قَالَ فَصَلَّى بِهِمْ أَبُو بَكْرٍ حَيَاةَ رَسُولِ اللَّهِ. ]متفق عليه
Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sakit parah beliau berkata: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia”. Maka berkatalah Aisyah: “Ya Rasulullah sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat perasa (mudah menangis). Bagaimana dia akan menggantikan kedudukanmu, dia tidak akan mampu untuk memimpin manusia”. Rasulullah berkata lagi: “Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami manusia! Sesungguhnya kalian itu seperti saudara-saudaranya nabi Yusuf”. Abu Musa berkata: maka Abu Bakar pun mengimami shalat dalam keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. (HR. Bukhari Muslim)
2. Perintah untuk meneladani Abu Bakar radhiallahu ‘anhu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اقْتَدُوْا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ… (رواه الترمذي والحاكم وصححه الألباني في الصحيحة: 1233)
Teladanilah dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar… (HR. Tirmidzi dan Hakim, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1233)
Syaikh Albani menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan dari beberapa shahabat, seperti Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah Ibnul Yaman, Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar. Hadits ini juga dikeluarkan oleh banyak pakar-pakar ahlul hadits seperti Tirmidzi, Hakim, Ahmad, Ibnu Hibban, ath-Thahawi, al-Humaidi, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi ‘Ashim, Abu Nu’aim, Ibnu Asakir dan lain-lain. (Lihat Silsilah Ahadits ash-Shahihah, juz 3 hal. 234, hadits no. 1233)
3. Abu Bakar adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
Disebutkan dalam suatu riwayat dari ‘Amr bin ‘Ash:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالاً. )رواه البخاري ومسلم)
Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus Abu Bakar memimpin pasukan dalam perang dzatu tsalatsil. Aku mendatangi Rasulullah dan bertanya kepada beliau: “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Aisyah.” Aku berkata: “Dari kalangan laki-laki wahai Rasululah?” Beliau menjawab: “Ayahnya”. Aku berkata: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Umar”. Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang. (HR. Bukhari dalam Fadhailil A’mal, fathul Bari juz ke 7, hal. 18 dan Muslim dalam Fadhailus Shahabah juz ke-4 hal. 1856 no. 2384)
4. Abu Bakar dijadikan wakil menggantikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
Diriwayatkan dari Jubair bin Muth’im, dia berkata:
أَتَتِ امْرَأَةُ النَّبِيَّ فَأَمَرَهَا أَنَ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُوْلُ الْمَوْتَ قَالَ إِنْ لَمْ تَجِدِيْنِيْ فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ. (رواه البخاري)
Datang seorang wanita kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah menyuruhnya untuk datang kembali. Maka wanita itu mengatakan: “Bagaimana jika aku tidak mendapatimu?” –seakan-akan wanita itu memaksudkan jika telah meninggalnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab: “Jika engkau tidak mendapatiku, maka datangilah Abu Bakar”. (HR. Bukhari 2/419; Muslim, 7/110; lihat ???? ????? hal. 541-542, no. 1151)
Hadits ini merupakan isyarat yang jelas dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa yang akan menggantikan dirinya sepeninggal beliau adalah Abu Bakar ash-Shidiq radhiallahu ‘anhu.
5. Rencana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menuliskan wasiat kepada Abu Bakar radhiallahu ‘anhu
Lebih tegas lagi ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sakit, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada ‘Aisyah untuk memanggil ayahnya, Abu Bakar, untuk diberikan wasiat kepadanya. Tetapi kemudian beliau mengatakan: “Allah dan kaum mukminin tidak akan ridla, kecuali Abu Bakar”. Lihatlah riwayat lengkapnya sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ: ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ أَبَاَكِ وَأَخَاكِ، حَتَّى أَكْتُبُ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ، وَيَقُوْلُ قَائِلُ: أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu?, ia berkata; berkata kepadaku Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Panggillah Abu Bakar Bakar, Ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan (kepemimpinan –pent.), kemudian berkata: “Aku lebih utama”. Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridlai, kecuali Abu Bakar”. (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Sha-hihah, juz 2, hal. 304, hadits 690)
Dalam riwayat ini jelas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menghendaki dengan isyaratnya beliau bahwasanya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu lah yang lebih layak menjadi khalifah sepeninggalnya. Tetapi beliau tidak jadi menulis wasiatnya, karena beliau yakin kaum mukminin tidak akan berselisih terhadap penunjukkan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah. Dan hal ini terbukti, setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam wafat, kaum muslimin sepakat untuk menunjuk Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah.
6. Abu Bakar adalah orang terdekat dan kekasih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ عَبْدٌ خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ زَهْرَةَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَهُ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ وَبَكَى فَقَالَ فَدَيْنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا قَالَ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ هُوَ الْمُخَيَّرُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا بِهِ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي مَالِهِ وَصُحْبَتِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً وَلَكِنْ أُخُوَّةُ اْْلإِ سْلاَمِ لاَ تُبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ خَوْخَةٌ إِلاَّ خَوْخَةَ أَبِي بَكْرٍ. (متفق عليه)
Dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di atas mimbar, beliau bersabda: “Allah memberikan pilihan kepada seorang hamba antara diberi keindahan dunia atau apa yang ada di sisi-Nya. Maka hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi-Nya. Maka Abu Bakar pun menangis seraya berkata: bapak-bapak dan ibu-ibu kami sebagai tebusan wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Abu Sa’id berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itulah hamba yang diberi pilihan tersebut dan ternyata Abu Bakar adalah orang yang paling tahu di antara kami. Maka bersabdalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya manusia yang paling berjasa kepadaku dengan harta dan jiwanya adalah Abu Bakar. Kalau aku mengambil seorang kekasih, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalil (kekasih), tetapi persaudaraan Islam lebih baik. Tidak tersisa masjid satu pintu pun, kecuali pintunya Abu Bakar. (HR. Bukhari dengan Fathul Bary, juz 7, hal. 359, hadits 3654; Muslim dengan Syarh Nawawi, juz 15 hal. 146, hadits 6120)
Al-Khullah adalah kecintaan yang paling tinggi. Para ulama menyatakan bahwa derajat khullah lebih tinggi dari tingkatan mahabbah. Oleh karena itu seorang yang disebut sebagai khalil, lebih tinggi kedudukannya daripada habib. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Allah hanya mengambil dua orang manusia sebagai khalil, yaitu nabi Ibrahim dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan masalah mahabbah Allah sering menyebutkan dalam al-Qur’an, Allah mencintai orang-orang yang beriman, sabar, berjihad di jalan-Nya dan lain-lain.
Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyatakan kalau saja beliau menjadikan khalil, maka niscaya Abu Bakarlah orangnya. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Bakar adalah orang yang terdekat dan paling dicintai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Hanya saja beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengambil khalil dari kalangan manusia.
Dengan disebutkannya beberapa isyarat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di atas cukuplah kiranya menjadi hujjah yang tegas bahwa Abubakar adalah seorang yang paling layak menjadi khalifah. Dan kekhalifahannya adalah sah, tidak ada yang menyelisihi kecuali orang-orang yang dalam hatinya adanya penyakit.
Namun perlu diketahui bahwa pendapat ahlus sunnah ini adalah pernyataan yang keluar dari hujjah yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah secara ijma’, hal ini sama sekali tidak keluar dari kebencian kepada ahlul bait.
SYUBHAT KELIMA :
Di antara alasan kaum Syi’ah menganggap Ali radhiallahu ‘anhu lebih berhak menjadi khalifah adalah adanya riwayat-riwayat palsu yang menyebutkan tentang wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Ali radhiallahu ‘anhu di Ghadir Khum. Padahal ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam wafat, beliau tidak memberikan wasiat berupa apapun dan kepada siapapun, kecuali dengan al-Qur’an.
Diriwayatkan dalam dua kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Thalhah ibnu Musharif, bahwa dia bertanya kepada Abdullah ibnu Abi Aufa radhiallahu ‘anhu: سَأَلْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا هَلْ أَوْصَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لاَ قُلْتُ فَكَيْفَ كُتِبَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ الْوَصِيَّةُ أَوْ فَكَيْفَ أُمِرُوا بِالْوَصِيَّةِ قَالَ أَوْصَى بِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. (رواه البخاري ومسلم) Aku bertanya kepada Abdullah ibnu Abi Aufa: “Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan wasiat?” Beliau menjawab: “Tidak.” Maka saya katakan: “Kalau begitu bagaimana dia menuliskan buat manusia pesan-pesan atau memerintahkan wasiatnya?” Dia menjawab: “Beliau mewasiatkan dengan kitabullah ‘azza wajalla”. (HR. Bukhari; Fathul Bary 3/356, hadits 2340; dan Muslim dalam Kitabul Wasiat 3/1256, hadits 16).
Demikian pula diriwayatkan dari ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang beliau mening-gal di pangkuannya, tentunya beliau lebih tahu apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat atau tidak. Dia berkata dalam riwayat Muslim: مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَلاَ شَاةً وَلاَ بَعِيرًا وَلاَ أَوْصَى بِشَيْءٍ. (رواه مسلم) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan dirham; tidak pula dinar, tidak seekor kambing, tidak pula seekor unta dan tidak mewasiatkan dengan apa pun. (HR. Muslim, dalam Kitabul Wasiat, 3/256, hadits 18) Dalam riwayat
lainnya dari Aswad bin Yazid bahwa ia berkata: ذَكَرُوا عِنْدَ عَائِشَةَ أَنَّ عَلِيًّا كَانَ وَصِيًّا فَقَالَتْ مَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ فَقْدُ كُنْتُ مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي أَوْ قَالَتْ حِجْرِي فَدَعَا بِالطَّسْتِ فَلَقَدِ انْخَنَثَ فِي حِجْرِي وَمَا شَعَرَتْ أَنَّهُ مَاتَ فَمَتَى أَوْصَى إِلَيْهِ. (رواه البخاري ومسلم) Mereka menyebutkan di sisi Aisyah bah-wa Ali adalah seorang yang mendapatkan wasiat. Maka beliau (Aisyah) berkata: “Kapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepadanya, padahal aku adalah sandaran beliau ketika beliau bersandar di dadaku –atau ia berkata: pangkuanku—kemudian beliau meminta segelas air.
Tiba-tiba beliau terkulai di pangkuanku, dan aku tidak merasa kalau beliau ternyata sudah meninggal, maka kapan beliau berwasiat kepadanya?”. (HR. Bukhari dalam kitab al-Washaya, Fathul Bari 5/356, hadits 2471; Muslim dalam kitabul Washiyat, Bab Tarkul Wasiat liman laisa lahu Syaiun Yuushi bihi, 3/1257, no. 19) Demikianlah, riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak berwasiat ketika wafat sangat banyak, sehingga mereka –para shahabat– seluruhnya memahami bahwa wasiat beliau secara umum adalah al-Qur’an. Diriwayatkan pula bahwa di antara keluarga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yaitu Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menyatakan pula kekecewaannya, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak sempat berwasiat disebabkan silang pendapat di antara ahlul bait. Sebagian di antara mereka menyatakan cukup al-Qur’an, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sedang dalam keadaan sakit yang parah.
Sedangkan sebagian yang lain, mengharapkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sallam menulis wasiat, hingga datanglah ajal beliau dalam keadaan belum sempat memberikan wasiat. Maka Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: إِنَّ الرَزِيَةَ كُلَّ الرَّزِيَةِ مَاحَالَ بَيْنَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتَابَ مِنِ اخْتِلاَفِهِمْ وَلِغْطِهِمْ. (رواه البخار ومسلم) Sesungguhnya kerugian segala kerugian adalah terhalangnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis wasiat kepada mereka, karena adanya perselisihan dan silang pendapat di antara mereka. (HR. Bukhari dalam Kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabi; Fathul Bari, juz 8, hal. 132 no. hadits 4432; Muslim dalam Kitabul Wasiat, bab Tarkul Wasiat liman laisa lahu Syaiun Yuushi bihi, juz 3 hal. 1259, no. 22) Dalam memandang kejadian ini, ahlus sunnah wal jama’ah tidak berburuk sangka kepada para shahabat, apalagi ke-pada ahlu bait dan keluarga dekat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, karena kedua belah pihak mengharapkan kebaikan. Sebagian mengharapkan ditulisnya wasiat untuk kebaikan umat, dan sebagian keluarga beliau yang lain merasa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan sedang merasakan sakit yang berat, sehingga tidak perlu diganggu. Sedangkan kita sudah memiliki al-Qur’an sebagai wasiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam –kata mereka. Yang dimaksud adalah ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : وَقَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ. (رواه مسلم) Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelah-ya jika kalian berpegang teguh dengan-ya yaitu kitabullah (al-Al-Qur’an). (HR. Muslim)
Sebaliknya, kaum Syi’ah Rafidlah menjadikan riwayat ini sebagai ajang pencaci-makian terhadap para shahabat. Mereka menuduh perbuatan para shahabat itu untuk menghalangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan merebut tampuk kepemimpinan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan diberikannya kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Ucapan mereka ini jelas batil dan penuh dengan kedustaan, karena pada waktu itu Abu Bakar sendiri tidak berada di sana. Beliau berada di daerah Sunh –di pinggiran kota Madinah– yaitu berada di rumah salah satu istrinya yang lain. Bahkan ucapan mereka ini justru mencerca dan mencela ahlul bait sendiri.
Untuk itu mereka tidak pantas disebut pecinta ahlul bait. Lihatlah dalam riwayat yang lebih lengkap sebagai berikut: عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan.
Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan memberikan wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)
Berkata Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi: “Tidakkah cukup nash ini untuk membantah Rafidlah yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib dengan khilafah? Kedustaan mereka tampak jelas dengan hadits ini dari beberapa sisi: 1. Penolakan Ali radhiallahu ‘anhu untuk meminta khilafah atau menanyakannya. 2. Kejadian tersebut terjadi pada waktu wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam (yang membuktikan bahwa beliau tidak berwasiat apapun –pent.). 3. Kalau saja ada nash (wasiat) sebelum itu untuk Ali radhiallahu ‘anhu tentu dia akan menjawab kepada Abbas: “Bagaimana kita menanyakan untuk siapa urusan ini padahal dia telah mewasiatkannya kepadaku?”. (Kitab Al-Imamah war Radd ‘Ala Rafidlah, Abu Nu’aim al-Asbahani dengan tahqiq Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi dalam foot notenya hal. 237-238; Lihat Badzlul Majhuud Fi Musyabahatir Rafidlah bil Yahuudi, juz I hal. 191, Abdullah bin Jumaili) Dalam riwayat ini terlihat jelas sekali bahwasanya yang menolak untuk memin-ta wasiat kepada Nabi adalah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri. Masih banyak lagi riwayat-riwayat lainnya tentang kejadian ini, karena pada saat itu memang beberapa hadirin ikut berbicara sehingga suasana menjadi ramai dan berakhir dengan wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak memberikan wasiat apapun tentang khilafah kepada siapa pun.
Kemudian bagaimana mereka –kaum syi’ah tersebut— menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib mendapatkan wasiat untuk menjadi khalifah setelahnya, ketika beliau berada di Ghadir Khum. Mengapa mereka tidak menanyakannya kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri, padahal mereka mengaku pecinta ahlul bait?! Kalau mereka benar-benar cinta kepada ahlul bait dan mengaku pengikut setia ahlul bait khususnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maka dengarkanlah riwayat dari beliau dengan sanad yang shahih sebagai berikut: عَنْ أَبِي الطًُّفَيْلِ قَالَ سُئِلَ عَلِيٌّ أَخَصَّكُمْ رُسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَمَ بِشَيْءٍ فَقَالَ مَا خَصَّنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَيْءٍ لَمْ يَعُمْ بِهِ النَّاسَ كَافَّةً إِلاَّ مَا كَانَ فِي قُرَابِ سَيْفِي هَذَا قَالَ فَأَخْرَجَ صَحِيْفَةً مَكْتُوْبٌ فِيْهَا لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ… (رواه مسلم)
Diriwayatkan dari Abu Thufail bahwa Ali radhiallahu ‘anhu ditanya: “Apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan sesuatu kepadamu? (yakni wasiat khusus, pent.). Maka beliau menjawab: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menghususkan aku dengan sesuatu pun yang beliau tidak menyebarkannya kepada manusia, kecuali apa yang ada di sarung pedangku ini. Kemudian beliau mengeluarkan lembaran dari sarung pedangnya yang tertulis padanya: Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah… “ (HR. Muslim) Demikianlah, tidak akan diterima sebuah pengakuan tanpa bukti, maka tidak bisa diterima pengakuan Syi’ah Rafidlah di atas. Wallahu a’lam.
KESALAHAN-KESALAHAN AJARAN SYIAH
Rasulullah saw. Yang benar dan diakui kebenarannya mengatakan:
Aku tinggalkan bagi kamu sekalian dua pegangan, kamu tidak akan pernah sesat selama kamu berpegang teguh kepada dua hal tersebut, yaitu: Kitabullah dan sunnah Nabi. (Hadits riwayat Imam Malik dalam Kitab Muwaththo'').
Rasulullah pernah mengatakan:
Akan pecah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu kelompok(millah). Ditanya oleh sahabat: kelompok yang mana itu ya Raslullah? Dijawab oleh Rasulullah: Yaitu millah yang saya anut ini beserta para sahabat-sahabatku.
Rasulullah mengatakan:
Apabila kamu dapati orang yang mencela serta mencaci sahabat-sahabatku, maka katakanlah kepada mereka: Laknat Allah terhadap kejahatanmu.(Hadits riwayat Tirmidzi).
Diriwayatkan oleh Ibnu ''Asakir bahwa Rasulullah pernah mengatakan:
Apabila muncul bid''ah dan laknat dikemudian hari, maka kewajiban orang-orang yang mempunyai ilmu hendaklah menyampaikan ilmunya. Orang yang diam dan tidak menjelaskan pengetahuannya sama dengan menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shalallahu ''alaihi wasallam (Al-Quran). (Demikianlah tertulis dalam kitab Jamik Shagir karangan Imam Suyuthi).
Hadits Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam:
Apabila timbul kutukan (laknat) dari orang yang kemudian terhadap orang yang terdahulu, maka barang siapa yang mnyembunyikan hadits dan tidak menyampaikannya kepada umat manusia, samalah ia dengan orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammmad shalallahu ''alaihi wasallam (Al-quran). (Hadits riwayat Ibnu Majah).
Sebagaimana telah sama-sama kita maklumi, bahwa dewasa ini telah bermunculan ilhad, pemutarbalikan, kefasikan, bid''ah dan berbagai usaha menjelek-jelekkan Islam serta syiar-syiar agama, termasuk merusak citra orang-orang terdahulu (salaf) seperti sahabat dan Tabi''in. Telah bertebaran berbagai fitnah, orang-orang jahat telah menyesatkan kaum awam yang tidak tahu dengan pemikiran yang salah. Mereka telah mengubah ajaran-ajaran Islam, dan memutarbalikkan Al-Quran atas nama Islam dengan tidak merasas malu dan tidak bermoral. Mereka telah menyebarkan Ilhad, Zindiq, fasik serta kejahatan lainnya dengan mengatasnamakan Islam yang suci.
Yang paling berbahaya dan jahat dari fitnah keji ajaran ini adalah yang disebut Rafd dan tasyayuk (membantah kebenaran dan tergelincir dari yang benar). Dengan ini disebarkannya kepada orang-orang bodoh yang tidak mengenal hakekat Islam dengan memakai topeng mencintai keluarga Rasulullahdan para Imam. Ajaran ini dengan sengaja disebarluaskannya di tengah masyarakat ramai dan dengan cara-cara modern. Segala kepandaian dan tipu daya yang dipergunakan untuk mencapai tujuan mereka yang keji.
Maka adalah kewajiban bagi para Juru Dakwah Muslimin, para Guru-Guru Agama dan Ulama-Ulama, menjelaskan hakekat kejahatan mereka serta menyampaikan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat. Guna menyadarkan dan memelihara Aqidah Islamiah di tengah tengah masyarakat Islam.
Bertakwalah kepada Allah, jagalah diri dan Umat Islam dari kejahatan yang membawa umat Islam (yang lemah dan bodoh) menurut kemauan mereka, menukar yang hak dengan yang bathil.
Mereka mendakwahkan bahwa akidah Syiah berasal dari sayidina Ali ra. Dan para keluarganya, padahal sesungguhnya Ali bin Abi Thalib dan keluarganya bersih sama sekali dari ajaran Syiah. Ali bin Abi Thalib adalah pemimpindan sau mata rantai dari pengikut ahli sunnah wal jamaah.
Ali bin Abi thalib dan seluruh keluarganya, sampai kepada Ja''far as-Shadiq hidup dalam alam lingkungan kota Madinah Munawwarah. Lingkungan yang penuh iman dan Islam, di bawah lindungan Quran dan Sunnah. Semua peribadatannya dan amal-amalnya sesuai dengan ahli Sunnah wal Jamaah.
Tatkala dikatakan kepada orang-orang Syiah, bahwa Ali bin Abi Thalib dan keluarganya adalah pengikut ahli Sunnah wal Jamaah dan semua amal serta kehidupannya adalah menurut ajaran ahli Sunnah wal Jamaah. Mereka mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib berpura-pura pengikut Ahli Sunnah wal Jamaah adalah dengan thaqiyah (berbohong). Ali bin Abi Thalib menyisihkan waktu satu jam dalam sehari dengan para pengikutnya menyiarkan mazhab Syiah.
Nyata sekali bagi kita kebohongan mereka, dengan tuduhan bahwa pemimpin yang dua puluh tiga jam berada dalam kebathilan, dan satu jam cuma dalam satu hari berada dalam haq, menurut pendapat mereka itu. Sungguh satu kebohongan besar, dan mengada-mengada dari ajaran syiah terhadap Ali bin Abi Thalib beserta para keluarganya. Laknat Allah bagi orang-orag yang bohong.
BAHAYA AJARAN SYIAH DI IRAN
Sebenarnya persoalan ttg Syiah dan akidah mereka telah lama diperdebatkan samada di forum-forum atau medan-medan yang lain sebelum ini. Walaubagaimanapun masih ramai di kalangan kita yang masih tertanya-tanya kerana keliru dengan status golongan ini di dalam Islam. Malah kenyataan-kenyataan kebanyakan para forumers samada pro atau kontra, masih berlegar di anjung luar Syiah, bukan diruang tamunya, apalagi dibilik tidurnya. Oleh sebab itulah persoalannya seakan-seakan tidak bertemu titik noktahnya. Dan oleh kerana persoalan tentang Syiah adalah menyangkut masalah akidah yang wajib dijaga oleh setiap muslim agar sedikitpun tidak tercemar, maka saya mengajak semua umat Islam samada yang pro atau kontra agar benar-benar memperbincangkannya secara jujur dan ilmiah agar objektif untuk memperkukuhkan akidah kita dapat kita capai, dan apa sahaja kekeliruan yang timbul daripadanya dapat difahami bersama.
Untuk mencapai tuntutan ini, biarlah saya mulakan dahulu perbincangannya berdasarkan maklumat-maklumat yang saya selidiki sebelum ini agar ia dapat disambut oleh kaum muslimin yang lain dengan respon-respon yang jujur, sopan, bertanggungjawab, tepat dan ilmiah. Bukan dengan respon-respon yang emosional, dangkal dan tidak berasas.
Kelahiran Syiah. Syiah diasaskan oleh Abdullah Ibnu Saba’ seorang Yahudi dari San’a’ Yaman yang berpura-pura memeluk Islam untuk melemahkan kekuatan Islam dari dalam setelah usaha mengalahkan Islam dari luar tidak pernah menemui kejayaan. Abdullah bin Saba'' seorang bangsa Yahudi , Musuh Islam dan Kaum Muslimin. Kemudian didukung dan dilanjutkan oleh pengikut-pengikutnya seperti: Zararah, Abi Bashir, Abduillah bin Ya''fur, Abi Mukhanaf Luth bin Yahya dan lain-lain sebagai pembohong yang merobek-robek kebenaran Islam serta mencampuradukkan kebenaran Islam dan memecah belah kesatuan Kaum Muslimin.Usaha tesebut bermula dengan gerakan menentang Khalifah Utsman bin Affan r.a. melalui percubaan menggugat perpaduan umat di setiap wilayah yang baru dikuasai Islam. Akhirnya hasil daripada usaha yang hebat dilancarkan itu, sahabat agung yang disunting oleh Rasulullah s.a.w. sebagai menantu kepada dua orang puteri kesayangan baginda, telah syahid di dalam rumahnya sendiri sehingga darah beliau membasahi mushaf al-Quran yang sedang dibacanya. Berkenaan dengan kedudukan dan kemuliaan beliau baginda s.a.w. pernah memberikan jaminan kepada beliau lantaran jasa dan sumbangannya yang agung melalui curahan harta benda beliau yang tak terhitung melalui sabda baginda;
“Selepas hari ini tiada lagi amalan boleh merosakkan Uthman.”(Ahmad-Tirmidzi).
Selepas tragedi hitam tersebut, pedang-pedang umat Islam tidak lagi terhunus ke arah musuh, sebaliknya mereka mula bercakaran sesama sendiri di medan perang saudara untuk sekian lama.
Kewujudan Ibnu Saba’ walaupun cuba dinafikan, telah didedah serta diakui oleh golongan Syiah sendiri. At-Thusi sendiri misalnya, seorang tokoh ulama' mutaqaddimin Syi’ah, yang dianggap sebagai tokoh yang mendalam ilmunya tentang riwayat dan rijal menulis di dalam kitabnya yang dianggap sebagai kitab yang terpenting tentang Rijal Syi’ah yang dikenali dengan `Rijal Kasyi’;
Sebahagian ahli ilmu menyebut bahawa Abdullah Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi yang kemudiannya memeluk Islam dan membela Sayyidina Ali a.s. Semasa beragama Yahudi dia berpendapat Yusya’ bin Nun merupakan Washi bagi Nabi Musa secara ekstrim. Setelah dia masuk Islam (secara pura-pura), fahaman yang sama dibawakan tentang Ali sebagai Washi bagi Rasulullah s.a.w. sepeninggalan Baginda s.a.w. Dialah orang yang mula-mula mengisytiharkan kewajiban melantik Ali sebagai Imam, menyatakan secara terbuka penentangannya terhadap musuh-musuh Ali dan berlepas diri dari mereka bahkan mengkafirkan mereka. Dari sinilah orang yang menentang Syi’ah mengatakan punca ajaran Syi’ah dan Rafidhah ialah Agama Yahudi. (Rijal Kasyi Hal: 108)
Di antara tokoh-tokoh Syi’ah yang juga telah menyebutkan perkara yang sama ialah an-Naubakhti dalam “Firaq asy-Syi’ah” (hal: 43-44), al-Hulli dalam “Kitabul al-Rijal” (hal: 469), Mamaqami seorang tokoh ulama' muta’akhir Syi’ah tentang Rijal dalam kitabnya “Tanqihu al-Maqal” Jilid 2 hal: 184), al-Ustarabadi dalam kitab “Manhaju al-Maqal” (hal: 203), Ibnu Abi al-Hadid dalam “Syarah Nahju al-Balaghah” (Jilid 2 hal: 309), Syeikh Abbas al-Qummi dalam kitabnya “Tuhfatu al-Ahbab” (hal: 184) dan lain-lain.
Di kalangan tokoh-tokoh Ahli Sunnah pula yang menyebut tentang ajaran Ibnu Saba’ dan peranannya dalam memecahbelahkan umat Islam ialah Abu Hasan al-Asyaari dalam “Maqalat al-Islamiyin” (Jilid 1 hal:50), Abdul Qahir al-Baghdadi dalam “al-Farqu Baina al-Firaq” (hal: 233-235), al-Isfiraini dalam “at-Tabsir fi ad-Din” (hal: 108-109), Syahrastani dalam “al-Milal wa an-Nihal” (Jilid 2 hal: 11), at-Tabari dalam “Tarikh al-Umam wa al-Muluk” (Jilid 5 hal 90), Ibnu Kathir dalam “al-Bidayah wa an-Nihayah” (Jilid 7 Hal: 167), Hafiz Ibnu Hajar dalam “Lisan al-Mizan” (Jilid 3 hal: 289) dan lain-lain.
Ajaran Syi’ah, jika diteliti dari segenap aspek, merupakan sebuah ajaran yang telah dirancang sebegitu rupa untuk mengambil alih atau dijadikan sebagai agama alternatif kepada agama Islam. Segala-galanya disusun dengan perencanaan rapi sehingga umat Islam yang pengetahuannya tidak begitu mendalam tentang Islam akan selesa meneguknya sebagai ajaran Islam yang sebenar.Di antara ajaran-ajaran Syiah dan implikasi penerimaannya ke dalam masyarakat Islam ialah;
1 Aqidah ajaran Syiah dan implikasinya: Ajaran Syi'ah Menggalakkan aqidah-aqidah Syirik yang jelas dengan;
1) Mengangkat kedudukan dan kekuasaan para Imam menyamai keagungan Allah s.w.t.
2)Menganggap sesetengah ilmu tersembunyi daripada pengetahuan Allah s.w.t. melalui Aqidah al-Bada’
3) Mendakwa kandungan al-Qur'an yang berada di tangan umat Islam hari ini telah ditokok tambah melalui Aqidah Tahrif aL-Qur'an
4) Melalui Aqidah Imamah dan Walayah mereka mempercayai bahawa Imam-Imam dua belas dilantik berdasarkan nas dan mereka adalah Ma’sum serta wajib ditaati,
5) Berdasarkan aqidah Takfir Sahabat, mereka percaya bahawa kebanyakkan para sahabat telah murtad sepeninggalan Nabi s.a.w. kecuali tiga atau empat orang sahaja daripada kalangan mereka.
6)Dengan aqidah ar-Raj'ah pula, mereka percaya bahawa para Imam akan dibangkitkan semula ke dunia ini sebelum Qiamat kononnya untuk menuntut bela dan menghukum perampas hak-hak mereka
2 Syariat ajaran Syiah dan implikasinya:
1) Meremehkan syariat Islam dengan menganggap bahawa pelaksanannya tidak penting asalkan seseorang sudah mempunyai perhubungan kasih sayang dengan para Imam.
2) Mengadakan syariat-syariat baru dalam bentuk bid'ah yang melampau seperti syariat cintakan ahlulbait, menziarahi kubur para Imam, menangisi dan meratapi kematian mereka, mewajibkan khumus di atas nama Imam mereka yang ghaib, mengutamakan tanah Karbala berbanding tanah suci Mekah dan Madinah, menambah ucapan Syahadah dalam azan dan lain-lain lagi.
3) Menggalakkan persundalan melalui syariat Mut'ah yang tidak memerlukan saksi, wali, pengisytiharan dan bayaran yang besar. Boleh dilakukan dengan sesiapa sahaja tanpa had masa dan bilangan pasangan, termasuk isteri orang, kanak-kanak bawah umur, perempuan Yahudi, Kristian, Majusi malah pelacur sekalipun sebanyak manapun yang dikehendakinya. Malah mereka juga mengharuskan menyewa dan mengahadiahkan farajdan membenarkan amalan sodomi.
3. Akhlak ajaran Syiah dan implikasinya.
1) Menghina para Rasul dengan cara yang biadap dengan menganggap darjat para Imam mengatasi para rasul termasuk Nabi Muhammad s.a.w. sendiri.
2) Menghina dan mencaci Isteri-Isteri Nabi s.a.w. selaku ibu-ibu sekelian orang-orang yang beriman.
3) Menghina dan melaknat para sahabat yang agung
4)Menggalakkan amalan berbohong iaitu Taqiyyah atas nama agama.
4 Implikasi ajaran Syiah kepada ummat.
1) Memecahbelahkan perpaduan ummah dengan menyemai bibit-bibit kebencian terhadap Ahli Sunnah dengan menganggap mereka sebagai lebih kafir daripada iblis, anak zina, najis, lebih hina daripada anjing, halal harta mereka sementara sembelihan mereka tidak halal.
2) Menggalakkan amalan-amalan Bid'ah, Khurafat dan Tahyul seperti menganggap Kufah adalah Tanah Haram, manakala Karbala adalah tanah suci
3) Merayakan hari kebesaran orang-orang Majusi dan menganggap mandi pada hari itu adalah sunat.
4)Mengadakan upacara perkabungan pada tarikh sepuluh Muharram dengan melakukan bermacam-macam bid'ah, khurafat dan kekufuran.
5)Menyemarakkan keganasan dan mengundang bencana kemanusiaan di kalangan umat dengan mengharuskan pembunuhan Ahlu Sunnah
6)Menggambarkan Imam Mahdi sebagai manusia yang dahagakan darah
7)Memusnahkan Imej Islam dengan mengadakan upacara-upacara ritual yang ekstrim seperti yang diadakan pada Sepuluh Muharram yang tak ubah seperti upacara-upacara keugamaan Hindu pada hari Thaipusam, Taoisme, masyarakat primitif di pedalaman Afrika dan seumpamanya.
8) Mengagung dan mendewa-dewakan pembunuh Saidina ‘Umar yang beragama Majusi iaitu Abu Lu’luah dengan menyambut hari pembunuhan tersebut dengan perayaan yang khusus. Mereka menggelarkan Abu Lu’luah dengan Baba Syuja’uddin sebagai menghargai keberaniannya.
5. Implikasi ajaran Syiah kepada negara.
Mempelopori gerakan menentang ketua negara yang adil dan sah dengan mencetuskan keadaan panik, huru-hara dan rusuhan di dalam kerajaan hasil daripada fitnah yang dicetuskan seperti yang dilakukan kepada pemerintahan Khalifah Uthman r.a. oleh Gerakan Ibnu Saba'.
1) Mencetuskan konflik dalaman sehingga mengheret kepada peperangan saudara seperti yang berlaku pada peperangan Jamal (yang pertama seumpamanya di dalam sejarah Islam), peperangan Siffin dan sebagainya.
2) Merupakan gunting dalam lipatan yang memainkan peranan dalam menjatuhkan kerajaan-kerajaan Islam yang lalu dengan menyokong dari belakang atau membuka jalan kepada musuh-musuh Islam untuk menyerang.
3)Bertindak kejam kepada pejuang Ahlu Sunnah khususnya di kalangan ulama' mereka sekiranya mereka berkuasa atau memerintah negara
4) Menafikan kewujudan sesebuah kerajaan Islam sebelum turunnya Imam Mahdi dengan menganggap bahawa sesebuah kerajaan Islam yang ditegakkan itu tidak sah walaupun penegaknya berada di atas jalan yang benar, menerusi teori `Walayatul Faqih’ yang merupakan kuasa ketuhanan dan mutlak sehingga boleh membatalkan mana-mana ketentuan Syariat.
Kesimpulannya, apalah lagi yang tinggal pada aqidah, syariah dan nilai akhlak umat Islam seperti yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabat baginda yang mulia setelah ajaran Syi’ah yang sebegini rupa dianggap sebagai ajaran Islam?.Malangnya dalam menilai Syiah hari ini, kita sering meletakkan persoalan akidah yang wajib diletakkan paling utama berbanding persoalan yang lain, di belakang apa yang kita dakwakan sebagai perpaduan Islam, sedangkan melalui fakta-fakta di atas, ajaran Syiah telah terlencong amat jauh meninggalkan ajaran murni Islam malah dalam masa yang sama memusuhi serta ingin menghancurkan Islam. Ada juga di antara kita yang mendakwa mereka tetap dikira Islam kerana mengucap 2 kalimah syahadah, sedangkan jumlah syahadah Syiah bukannya 2, tetapi mereka menambahnya sehingga kepada 14, iaitu tambahan syahadah kepada 12 Imam mereka. Malah tambahan ini boleh didengari dengan jelas di dalam azan mereka apabila syahadah tersebut menjadi 3 setelah ditambah Ali r.a., bukannya 2.
Ada juga yang mendakwa bahawa ajaran ini dibawakan oleh keturunan Rasulullah s.a.w., sedangkan para Imam yang terdiri daripada anak cucu Rasulullah s.a.w. yang diwar-warkan sebagai Imam ajaran mereka tidak terlibat sama sekali dengan ajaran-ajaran yang diperkenalkan di atas nama mereka itu. Malah para Imam itu sendiripun sebenarnya telah mengetahui sikap-sikap hipokrit golongan yang mendakwa sebagai Syi’ah atau pendokong setia mereka itu. Imam Jaafar as-Sadiq sendiri pernah mendedahkan sikap talam dua muka golongan Syi’ah dengan berkata;
“Tidak ada satu pun ayat yang diturunkan oleh Allah tentang golongan munafiqin melainkan kandungan ayat itu pasti ada pada orang yang mendakwa Syi’ah.” (Rijal Kasyi, Hal: 299).
Lebih menyedihkan lagi ada juga yang mengatakan Syiah sekarang ini (Imamiyyah Itsna Asyariayyah) yang dijadikan sebagai agama rasmi Republik Iran bukannya Syiah yang sesat. Jadi, berdasarkan fakta-fakta di atas adakah wujud suatu percanggahan di antara Syi’ah yang dipropagandakan tersebut, dengan Syi’ah yang digelar oleh ulama'-ulama' Islam dahulu sebagai Syi’ah Ghulat yang telah mereka hukumkan terkeluar dari Islam?. Dan jika mereka menggangap bahawa masih wujud golongan yang tidak sesat di dalam Syiah, ketahuilah bahawa Syiah tersebut yang dikenali sebagai Syiah Zaidiyyah yang turut digelar sebagai Syiah Mufaddholah atau Tafdhiliyyah sudah tidak wujud lagi di dalam dunia Islam.
Ada juga di antara mereka yang mengungkit gerakan Taqrib yang diusahakan oleh al-Azhar sebagai justifikasi untuk tidak mudah menolak Syiah. Untuk mengetahui samada usaha penyatuan yang diperkenalkan melalui majlis at-Taqrib disambut dengan jujur oleh golongan Syiah dan adakah objektifnya dicapai, dengari keluhan-keluhan daripada ulama’-ulama’ Sunnah yang terlibat di dalam usaha Taqrib tersebut;
1. Dr. Muhammad Bahi, salah seorang pendukung gerakan “Dar Taqrib”, setelah menyedari ketidakjujuran Syiah dalam usaha tersebut, beliau mengatakan dalam bukunya Pemikiran Islam dan Masyarakat Modern hal 439, bahawa gerakan tersebut lebih ditujukan kepada menyerapkan kembali pemahaman Syiah tentang fiqh, ushul dan tafsir dan tidak menuju kepada apa yang diseru oleh al-Qur’an.
2. Syeikh Muhammad Arafah, salah satu anggota Majlis Ulama Besar di al-Azhar dan juga Syeikh Muhammad Thoha Sakit, keduanya meninggalkan Daar At Taqrib, setelah mengetahui bahwa tujuannya adalah untuk menyebarkan faham Syiah di kalangan sunni dan bukannya pendekatan. Hal ini disebutkan oleh pentahqiq buku Al Khutut Al Aridhoh.
3. Syeikh Ali Thonthowi dalam bukunya Dzikriyat 7/132, beliau menyebutkan bahawa ketika beliau mengunjungi Syeikh al-Qummi, ulama’ dari Iran yang ikut serta dalam Dar Taqrib, beliau melepaskan geramnya dengan memarahi al-Qummi yang pada hakikatnya telah berusaha menyebarkan mazhab Syiah, bukannya berusaha untuk mengadakan pendekatan. Ketika itu Syeikh Muhammad Arafah turut berada di situ dan telah berusaha meredakan suasana.
4. Muhammad Rasyid Ridho penulis Kitab Tafsir Al Manar, telah berusaha dengan saling mengutuskan surat dengan ulama’ Syiah, namun beliau hanya mendapati sikap keras kepala golongan tersebut untuk tetap berpegang dengan mazhab mereka, merendah-rendahkan para sahabat dan penjaga as-Sunnah dan berusaha menerangkan hakikat mazhab Syiah..... (majalah Al Manar jilid 31 hal 291)
5. Dr. Musthofa as-Sibai, beliau adalah salah seorang pemerhati usaha pendekatan antara Sunni dan Syiah yang juga menjawat jawatan seorang pensyarah di kuliah Fiqh Syiah, fakulti Syariah di Syria. Namun apa yang dapat beliau simpulkan hanyalah terpaksa berputus arang dengan ulama Syiah, pengalaman ini beliau ungkapkan dalam bukunya Sunnah Wakanatuha Fii Tasyri’il Islami hal 4. Beliau mendedahkan bahawa maksud dari pendekatan itu adalah mendekatkan Sunni kepada Syiah, hal 9.
6. Dr. Abdful Mun’im an Namir Mantan menteri Wakaf Mesir menyebutkan dalam bukunya “Syiah, Al Mahdi, Ad Duruz” tentang pertemuannya dengan Syeikh Syeikhri salah satu ulama’ Iran dan diskusi beliau bersamanya di Oman tahun 1988. Beliau menjelaskan bahwa orang Syiah diminta untuk berlepas diri dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada mereka dan memperingatkan supaya menghentikan usaha mencetak kitab-kitab induk yang menyebarkan pemahaman ini. Malangnya permintaan beliau tidak mendapat sambutan.
Untuk mengetahui dengan lebih terperinci, cubalah baca tulisan Dr. Nashir Qifari yang bertajuk “Problematika Pendekatan Antara Sunni dan Syiah”. Dan untuk mengetahui bahawa adakah Sunnah dan Syiah boleh bersatu, bacalah tulisan Allamah Muhibuddin al-Khotib yang bertajuk, Mungkinkah Sunnah Dan Syiah Bersatu. Lagipun mengapa tidak kita temui usaha penerapan secara praktikal dan serius kepada pendekatan tersebut dianjurkan di Iran yang merupakan negara Syiah yang memiliki kuasa pemerintahan yang mutlak?. Lebih menghairankan lagi mengapa tidak dibenarkan sebuah masjid Sunnipun didirikan di ibu kota Tehran? Dan apakan alasannya kaum Sunni di Iran tidak diberi kebebasan untuk melakukan aktiviti agamanya yang bertentangan dengan Syiah?. Lebih menyedihkan lagi, mengapa kaum Sunni tidak memperoleh hak politik yang sama dibandingkan dengan kaum Yahudi Iran yang lebih diberikan keistimewaan dan kedudukan di Parlimen.
Sikap double standard sesetengah kita juga amat dikesali apabila sering mengangkat Iran dan Hizbullah sebagai hero yang amat berani menentang Amerika dan Israel. Sedangkan pada hakikatnya mereka hanya berkonfrontasi di pentas dunia, sedangkan yang dilanyak adalah umat Islam Sunni di bumi Afghanistan, Iraq dan Palestin. Malah golongan Syiah juga menjadi duri dalam daging dalam mengganggu kelahiran sebuah Negara Islam seperti di Afghanistan dan menangguk di air keruh apabila mengambil peluang daripada ketidakstabilan politik di Iraq dengan menyembelih ulama'-ulama' dan masyarakat awam Ahlu Sunnah.
Dalam mengangkat Iran dan Hizbullah pula mereka seolah-olah lupa bahawa pejuang-pejuang sebenar yang dihantar sebagai Mujahidin di Afghanistan, Iraq, Palestin, Chechnya, Kosovo dan Kashmir adalah pejuang sunnah Ikhwanul Muslimin. Malah dalam kes Iraq pula dengan senangnya golongan Syiah yang diketuai oleh Ahmad Syalabi menjemput Amerika untuk melanda Iraq dengan dibantu oleh penduduk Syiah Iraq dengan membuka pintu Basrah yang bersempadanan dengan Iran dan mengalu-alukan kehadhiran tentera Amerika. Dan akhirnya dengan senang juga Amerika menghadiahkan Iraq kepada kerajaan Syiah yang diketuai oleh Nuri al-Maliki si Syiah yang disokong penuh oleh Iran dengan ikrar Tehran untuk berdiri teguh dibelakang kerajaan baru Iraq itu.
Saturday, May 14, 2011
Saturday, May 7, 2011
APAKAH ASY'ARIYAH ?
Soal 1 : Apakah yang dimaksud dengan Asy’ariyah ?
Jawaban :
“Asy’ariyah” yang juga di kenal “Asya’irah” adalah penisbatan sebuah pemahaman dalam aqidah kepada imam Abu Hasan al-Asy’ari, dimana mereka sebetulnya berpegang pada pemahaman Abu Hasan al-Asy’ari pada fase kedua kehidupannya, yang dikenal pada saat itu beliau menganut paham Kullabiyah.
Alangkah baiknya jika setiap orang yang menisbatkan diri kepadanya dalam aqidah untuk betul-betul mengetahui fase-fase kehidupannya, terutama fase beliau ketiga dimana Imam Abu Hasan al-Asy’ari kembali kepada paham salaf.
Kehidupan Imam Abu Hasan al-Asy’ari melalui tiga fase, yaitu :
1.Fase dengan membawa pemahaman Mu’tazilah, gurunya dalam pemahaman ini adalah bapak tirinya yang bernama Abu Ali Al-Jubba’i,hal ini berlangsung hingga beliau berusia 40 tahun. ( Tabyin Kadzibil Muftari, hal.40 )
2.Fase dengan membawa pemahaman Kullabiyah, suatu pemahaman yang diambil dari tokoh pendirinya Abdullah bin Said bin Kullab al-Qaththan ( 240 H ). Pemahaman inilah yang menjadi tonggak ajaran dan pokok pemahaman mereka dalam madzhab, pemahaman ini dituangkan oleh beliau dalam kitab al-Luma’ fir Radd ‘ala Ahliz Zaighi wal Bida.’Pemahaman yang tersebar dan diikuti ramai pada hari ini adalah pemahaman pada fase yang kedua ini, yaitu suatu pemahaman yang berasaskan kepada paham Kullabiyah, dengan mentakwilkan sifat-sifat Allah.
3.Fase dengan membawa pemahaman salaf ( Ahlu sunnah wal jama’ah ), pemahaman yang mana beliau wafat dengannya, beliau tuangkan dalam karangannya yaitu al-Ibanah, Risalah ila Ahli Tsaghar dan Maqalat Islamiyyin.
Soal ke 2 : Apakah yang dimaksud dengan Ahlu sunnah wal jamaah?
Jawaban :
Makna Ahlu sunnah wal jama’ah secara singkat adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw dan mengikuti jama’ah sahabat Rasulullah saw dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
As’ariyah sepakat dalam definisi Ahlu sunnah wal jama’ah diatas, sebagai didalam kitab mereka Jauharah at-Tauhid dikatakan : “ Seluruh kebaikan dengan mengikuti salaf ( yang terdahulu ), dan semua keburukan pada bid’ah orang khalaf ( yang datang kemudian ).” Akan tetapi, benarkah pemahaman mereka adalah pemahaman para sahabat Nabi saw dan aqidah mereka adalah aqidah imam yang empat ?
Soal ke 3 : Apakah Syaikh Abu Hasan Ali al-Asy’ari adalah seorang ulama yang merumuskan dan mengumpulkan secara rapi akidah ahlu sunnah wal jama’ah yang belum tersusun di dalam Qur an dan Hadis?
Jawaban :
Pernyataan bahwa syaikh Abu Hasan al asy’ari adalah perumus akidah ahlu sunnah adalah tidak benar. Perlu di ketahui bahwa syaikh Abu Hasan Ali al-Asy’ari lahir di Basrah tahun 260 H dan wafat di Basrah juga pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun. Telah banyak para ulama yang telah menyusun kitab aqidah sebelum imam Abu Hasan Ali al-Asy’ari, seperti Imam Abu Bakr Bin Abu Syaibah ( wafat 235 H ) yang telah menyususun kita al-Iman, Imam Ahmad Bin Hanbal ( wafat tahun 241 H ) menulis kitab Ushulus Sunnah dan ar-Raddu ‘alal Jahmiyah wal Zanadiqah, Imam Bukhari (wafat tahun 256 H ) menyusun kitab Khalqu Af’alil Ibaad, Imam Ahmad Bin Muhammad Bin Abu Hashim ( wafat tahun 287 H ) dengan kitab as-Sunnah, Imam Abu Bakar Ahmad Bin Muhammad al- Khallal ( wafat 311 H ) menyusun kitab as-Sunnah, Imam Muhammad Bin Ishaq Bin Khuzaimah ( wafat 311 H )menyusun kitab Tauhi wa Itsbaati Shifaati Rabbi ‘Azza wa Jalla, Imam Abu Ja’far Ahmad Bin Muhamad at-Thahawi (wafat 321H ) dengan kitabnya yang terkenal al-Aqidah ath-Thahawiyah.
Berdasarkan banyaknya para ulama yang telah menyusun kitab aqidah sebelum Syaikh Abu Hasan al-Asy’ari di atas, maka tidak patut kita mengatakan bahwa beliau adalah penyusun dan yangmerumuskan aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Bahkan pada fase yang kedua Imam Abu Hasan as-Asy’ari adalah kembali kepada pemahaman salaf dalam memahami sifat Allah. I’tiqad tersebut beliau cantumkan dalam kitab yang terakhir beliau tulis seperti al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah,Maqalatul Islamiyyin wa ikhtilafil Mushallin, dan Risalah ila Ahli Tsaghr.
Soal ke 4: Apakah pemahaman asy’ariyah yang mentakwilkan sifat Allah seperti jika berjumpa ayat yang mengatakan “Allah diatas Arasy” maka di takwikan menjadi “Allah menguasai Arasy” adalah pemahaman para sahabat Nabi saw ?
Jawaban :
Aqidah Asy’ariyah bukan aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah meyakini ayat-ayat dan hadis tentang sifat Allah dengan menetapkan ( itsbath) lafaz dan makna secara hakiki tanpa ta’wil (adalah merubah makna dari maknanya yang Haq) dan tanpa ta’thil (adalah menghilangkan makna atau sifat Allah ), tanpa takyif (adalah mempersoalkan hakikat asma’ dan sifat Allah dengan bertanya “bagaimana”.), tanpa tasybih, atau tajsim dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), dan tanpa tafwidh ( Penyerahan makna dan keadaan secara bersama ).
Perkataan salaf tentang Itsbath ( menetapkan ) sifat Allah diatas sangat banyak seperti :
Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisyi meriwayatkan dari Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al- Khathib berkata , “ Adapun pembicaraan tentang sifat Allah seperti yang termaktub dalam kitab sunan dan shahih, yaitu mazhab salaf adalah menetapkan ( itsbat ) sifat-sifat tersebut pada makna zahirnya secara hakiki dengan tidak menanyakan bentuknya dan menafikan adanya penyerupaan ( tasybih ). Jika kita katakan bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran, penglihatan, maka ini hanyalah sifat-sifat Allah yang Allah telah tetapkan sendiri bagi diriNya. Maka kita jangan mengatakan bahwa arti tangan adalah kekuasaan, arti pendegaran, penglihatan dan ilmu adalah anggota badan, dan kita tidak menyerupakannya dengan anggota badan dan alat berbuat. Kita katakan demikian karena itulah yang termaktub didalam nash dengan wajib menafikan tasybih. ( Dzammu Ta’wil, hal 15 ) Disebutkan juga oleh
Imam adz-Dzahabidalam at-Tazdkirah (3/1142-1143).
Para ulama salaf mengatakan, “ Berlakukanlah nash sifat itu seperti datangnya ( maknakan secara hakiki, tidak di tahrif )dan jangan ditanyakan bentuknya.” Mereka yang mengatakan Imam Tsauri, Laits bin Sa’ad, al-Auza’i, Ma’mar bin Rasyid ( Lihat Dzammu Ta’wil hal. 18-21,tahqiq Badr al-Badr )
Penetapan sifat wajah secarahakiki, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Bakr ash-Shiddiq dan Anas bin Malik dalam tafsir surah yunus : 26.
Artinya :
Untuk orang-orang Yang berusaha menjadikan amalnya baik dikurniakan Segala kebaikan serta satu tambahan ( ziyadah ) Yang mulia dan air muka mereka pula (berseri-seri) tidak diliputi oleh sebarang kesedihan dan kehinaan. mereka itulah ahli syurga, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Abu Bakr berkata, “ Ziyadah adalah melihat wajah Allah SWT. “ Begitu juga ucapan Anas bin Malik, dengan menambahkan, “ Oleh karena itu, hari itu disebut yaum al-mazid ( hari adanya tambahan nikmat ).”
Sifat istiwa’, Ahlusunnah wal jama’ah meyakini bahwa istiwa’ berarti tinggi, diatas, bukan menguasai. Dengan demikian, Allah berada di atas’Arsy secara hakiki sesuai keagunganNya, tidak sama dengan sifat makhluk. Sifat istiwa’ termaktub di dalam al Qur an seperti di dalam surah al’Araf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’du: 2, Thaha: 5, al-Fur qan: 59, as-Sajadah: 4, al-Hadid: 4.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Ketika Allah memutuskan urusan makhluk, Dia menulis disisiNya di atas ‘Arsy Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku.” HR Bukhari, Muslim. Pemahaman ini di yakini leh para sahabat, tabi’in, dan ulama setelahnya.
-Abdullah bin Abbas , pakar tafsir dari kalangan sahabat Nabi saw, Mujahid-murid beliau, Abul ‘Aliyah, dan Ishaq bin Rahawaih menafsirkan “Istawaa” pada surah al’Araf, ayat 54 : Allah berada di atas arsy dan tinggi. ( Bukari, kitab tauhid ). Inilah pendapat yang dipilih ulama tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya.
-Umar al-Khathab menyatakan bahawa:
“Bahawasanya segala urusan itu (datang) dari sana (sambil mengisyarat-kan tangannya ke langit).” (al-Imam az-Zhahabi di dalam kitab-nya menyatakan bahawa riwayat ini sahih.)
“Daripada Ibnu Abbas (ia berkata) bahawa Rasulullah s.a.w. berkhutbah kepada manusia pada hari Nahr (tanggal 10 Zulhijjah) kemudian Ibnu abbas menyebutkan khutbah Nabi s.a.w. kemudian beliau mengangkat (mendongakkan) kepalanya ke arah langit sambil mengucapkan: “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan!” (Riwayat Imam Bukhari, juz.2 halaman 191)
-Zainab binti jahsyi, berbangga terhadap para isteri Rasulullah saw lainnya dengan mengatakan , “ kalian dinikahkan dengan Rasulullah saw oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang ketujuh". HR Bukhari.
Adapun perkataan para ulama sangat masyhur tentang istiwa’. Abu Muthi’ al-Hakam bin Abdullah al-Balkhi berkata,”Aku menanyakan kepada Abu Hanifah tentangorang yang berkata :”Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di langit atau di bumi.” Jawab Abu Hanifah, “Dia Kafir, karena Allah SWT berfirman yang mafhumnya : Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy. QS.Thaha : 5.
Dan “Arsy-Nya diatas langit.”Aku bertanya lagi, “ orang itu berkata, Allah di atas ‘Arsy, tetapi aku tidak tahu apakah ‘Arsy-Nya di atas langit atau di bumi.” Jawab Abu Hanifah, “ Jika dia mengingkari Allah diatas langit maka sesungguhnya dia telah kafir.”( Mukhtashar al-Uluw, hl. 136 ).
Imam Auza’i berkata, “ kami para tabi’in yang banyak berkata, Allah diatas ‘Arsy-Nya, kami mengimani sifat yang terdapat di sunnah.” ( al-‘Uluw, hal. 137-138 )
Imam Malik bin Anas, ketika ada orang bertanya tentang istiwa’ beliau menjawab, “Bentuk istiwa’ tidak diketahui, istiwa’ adalah diketahui ( maknanya yaitu di atas ), mengimaninya wajib dan menanyakan ( bentuknya ) adalah bid’ah, aku khawatir engkau termasuk orang yang sesat.” Maka orang tadi diusir dari majlis (al-‘Uluw, hal 141 ).
Imam Abdullah bin al-Mubarak ditanya,”Bagaimana kita mengethui Rabb kita?” Jawabnya, “ Dia berada diatas langit yang tujuh diatas ‘Arsy-Nya. Kami tidak mengatakan seperti Jahmiyah bahwa Allah itu di bumi.” Hal ini ditanyakan kepada Ahmad bin Hanbal, maka beliau berkata,”Begitu juga pendapatku.”(al-‘Uluw, hal. 151 )
Imam syafii berkata,” Ucapan yang sesuai sunnah yang aku katakan dan pendapatku sesuai dengan mereka seperti Sufyan, Malik dan lainnya yaitu mengikrarkan syahadat tiada Ilah yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, Allah berada di ‘Arsy-Nya diatas langit, Dia mendekat kepada makhluksesuai kehendak-Nya dan turun kelangit dunia sesuai kehendak-Nya.” (al-‘Uluw, hal. 176 )
Jadi inilah perkataan imam sunnah tentang istiwa’dan tidak ada yang mengubah maknanya menjadi menguasai. Arti menguasai itu bukan keyakinan Ahlu sunnah wal jama’ah sebaliknya itu keyakinan yang menyimpang dari Ahlu sunnah. Bahkan arti istiwa’ menjadi istaula sangat tidak dikenal dalam bahasa arab.
Imam Ibnul ‘Arabi , seorang ulama pakar bahasa arab ketika diminta oleh tokoh mu’tazilah, Ahmad bin abu duwad untuk mencari makna istawa yang artinya istaula ( menguasai ) dalam bahasa arab, maka beliau menjawab, “ demi Allah itu tidak ada, aku tidak menemukannya” ( dikeluarkan oleh khatib al-Baghdadi dalam tarikh baghdad, 5/283).
Pakar bahasa lainnya Imam khalil bin Ahmad ketika ditanya juga berkata,”makna Istaula tidak dikenal oleh orang arab dan tidak ada dalam bahasa mereka ( Majmu’ Fatawa 5/146 ), Ibnul Jauzi berkata ,”makna itu dalam bahasa arab adalah mungkar ( Zadul Masiir,3/213 ), Ibnu Abdil Barr berkata, “ Ucapan mereka yang mentakwil Istawa menjadi Istaula tidak sesuai, karena tidak didapati dalam bahasa arab ( At- Tamhid, 7/131 )
Soal ke 5 : Benarkah paham asyaairah adalah paham yang benar berdasarkan hujah dibawah ini Firman Allah SWT dlm surat al_maidah ayat 54 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya :
"Hai orang2 yg beriman, barangsiapa di antara kamu yg murtad dr agama'a, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yg bersikap lemah lembut terhadap orang yg mu'min,bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yg berjihad dijalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yg suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui".
حدثنا محمد بن المثنى قال ، حدثنا محمد بن جعفر قال ، حدثنا شعبة ، عن سماك بن حرب ، عن عياض الأشعري قال : لما نزلت هذه الآية ، " يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه " قال : أومأ رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أبي موسى بشيء كان معه ، فقال : هم قوم هذا
Artinya :
"kami telah diberi hadist oleh muhammad bin al_mutsanna,ia berkata kami telah diberi hadist oleh muhammad bin ja'far,ia berkata kami telah d beri hadist oleh syu'bah dr simak bin harb dari 'iyadhz al_asy'ari ia berkata : manakala turun ayat ini :"Hai orang2 yg beriman, barangsiapa di antara kamu yg murtad dr agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya".'iyadhz berkata : Rasulullah menunjuki kepada abi musa al_asy'ari dgn sesuatu yg ada besertanya, Rasulullah pun berkata : mereka adalah kaum org ini (abu musa al_asy'ari Radhi Allahu 'anhu)".
Jawab :
Nabi saw menyuruh kita untuk berpegang kepada sunnahnya dan sunnah para sahabatnya. Pemahaman mentakwilkan sifat Allah seperti yang amalkan golongan asyaairah tidak diamalkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya, termasuk Abu Musa al-‘asy ari sendiri. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan bahwa Abu Musa al-asy’ari mengikut paham takwil dalam memehami sifat Allah SWT, sebagaimana paham asyaairah.
Didalam hadis di atas Nabi saw menjelaskan bahwa golongan yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya adalah kaum ( keturunan ) Abu Musa al-asy’ari dan apa yang bersama dengannya ( pemahaman dan amalan ). Jika keturunannya yang di fokuskan untuk diikuti, maka ada syarat kedua yang harus dipahami yaitu apa yang bersama dengan Abu Musa al-asy’ari yaitu pemahaman dan amalannya. Adakah syaikh Abu Hasan al-asy’ari mewarisi pemahaman dan amalan Abu Musa al-asy’ari dalam paham dan amalan tentang sifat Allah? Justru tidak, karena seluruh para sahabat Nabi saw termasuk Abu Musa al-asy’ari tidak ada yang mentakwilkan sifat Allah sebagaimana paham Abu Hasan al-asy’ari ( paham fase dia yang kedua yaitu kullabiyah ).
Soal ke 6 : Adakah pertentangan antara ungkapan “Allah di langit” dan “Allah ada dan tidak bertempat?”
Jawaban :
Nabi saw bersabda :
أن النبي صلى الله عليه وسلم لما عن الآية (ثم دنى فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) قال صلى الله عليه وسلم هو جبريل لأن الله موجود بلا مكان فلا يوصف بصفات الأجسام ولا بالمسافة بالمرة
Artinya :
"Sesungguhnya Nabi Shollallahu 'alaihi wa Sallam ketika di tanya tentang ayat (Tsumma dana fa tadalla fa kana qoba qowsaini aw adna) Bersabdalah Nabi, IA ADALAH JIBRIL KARENA SESUNGGUHNYA ALLAH DZAT YG WUJUD TANPA TEMPAT, MAKA TIDAK BOLEH DI SHIFATI DGN BEBERAPA SHIFATNYA JISIM DAN TIDAK DI SHIFATI DG JARAK JANGKAUAN.” HR Imam Bukhori dn Muslim dan Bayhaqi dalam kitab Asma wa al shifat /260.
Perhatikan hadis diatas,....Nabi saw mengatakan Allah adalah Dzat yang wujud tanpa tempat. Inilah yang dijadikan pegangan imam syafii dan golongan salaf untuk megatakan bahwa Allah adalah Dzat tanpa tempat.
Adakah ia ( perkataan Allah tidak bertempat ) bertentangan dengan sabda Nabi pada Hadis Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami dimana Beliau mengatakan bahwa Allah dilangit?
Jawabannya tentu tidak, karena dua – duanya adalah sifat Allah yang harus kita pahami maknanya dan kita tetapkan ( Itsbath ) sebagaimana apa yang telah di tetapkan Allah dan rasulNya ttg sifat Allah serta beriman kepadanya tanpa mentakwilkannya dan mempertanyakannya “bagaimana," seperti golongan yang di dalam hatinya ada kecenderungan sesat dan membuat fitnah, dan mereka berusaha juga untuk mentakwilkannya. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya :
Dia lah Yang menurunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Kitab suci Al-Quran. sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan Yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah faham Yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) - Adapun orang-orang Yang ada Dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa Yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut Yang disukainya). padahal tidak ada Yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya Yang sebenar) melainkan Allah. dan orang-orang Yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya Dalam ilmu-ilmu ugama, berkata:" Kami beriman kepadaNya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" dan tiadalah Yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang Yang berfikiran. QS. Ali Imran : 7
Ini kaedah yang Allah dan RasulNya ajarkan kepada kita, ini yang di pahami golongan salaf, ini yang di pahami oleh para 4 imam mazhab. Dua sifat diatas akan nampak bertentangan jika kita mengkajinya dengan akal kita saja, tanpa merujuk pemahaman Nabi saw dan para sahabatnya. Seperti golongan asyaairah yang akhirnya terpaksa harus mentakwilkan Istawaa kepada Istaula, karena dilihat ketidakcocokan menurut akal mereka.
Imam asy-Syafi'i juga menulis Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar, beliau juga diantara ulama yang mengimani Bahwa Allah tidak bertempat yang merupakan sifat Allah tanpa takwil dan tanpa mempertanyakan “bagaimana”. Imam asy-Syafi’i berkata:
واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)
Artinya :
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Soal ke 7 : Jelaskan diantara contoh kesalahan paham asya’irah ?
Jawaban :
1.Sebagaimana kita ketahui bahwa mashdar talaqqi ( sumber dasar pengambilan ) Ahlu sunnah wal jama’ah adalah al-Qur an, Sunnah, ijma’, qiyas. Berbeda dengan Asy’ariyah dimana sumber pengambilan mereka adalah akal. Hal ini diperkuat oleh pendapat para tokoh mazhab seperti al-Juwaini, ar-Razi, al-Ghazali, al Amidi dan seluruh ulama mereka yang mengatakan jika akal dan nash saling bertentangan, maka yang menang adalah akal. Bahkan mereka mengatakan bahwa mengambil azair kitab dan sunnah termasuk dari pokok paham kekufuran. ( Sebagaimana disebutkan as-Sanusi(885 H) dalam syarhul kubra dan ar-Razi dalam Asasut taqdis, hal. 172 ). Mereka juga mengatakan bahwa nash-nash didalam kitab dan sunnah bersifat zhanniyah dilalah ( tidak mutlak mengandung kebenaran )dengan tidak memberi keyakinan, yang qath’i ( mendatangkan keyakinan ) adalah akal. ( Ma’alim Ushuluddin, Fakhruddin ar-Razi, hal. 24 ). Mereka memandang bahwa hadis tidak dapat dijadikan pegangan dalam akidah. Jika terjadi pertentangan dengan akal , maka yangmutawatir harus di takwil dan yang ahad tidak perlu di gubris. Kitab-kita akidah mereka selalu di penuhi dengan perkataan para filosof, sanjutnya kosong dari pada pemahaman dan amalan para sahabat saw.
2.Menurut salaf, keberadaan Allah merupakan hal yang fitri , dalil tentang hal itu telah terpatri pada alam, jiwa dan wahyu. Pada setiap sesuatu ada bukti tentang wujud Allah SWT. Sedangkan asy’ariyah hanya mempunyai satu-satunya alasan tentang wujud Allah yaitu “huduts” ( baru ) dan “ qidam “ ( terdahulu ). Menurut mereka , bukti bahwa Allah SWT itu wujud adalahbahwa semua makhluk bersifat baru dan setiap yang baru mesti ada yang terdahulu. Kekhususan Dzat yang terdahulu bahwa semua sifat – sifatnya tidak boleh sama ( baik lafaz maupun makna ) dengan sifat makhluk. Makanya Allah menurut mereka bukanlah jauhar (badan halus), tidak jisim ( badan kasar ), tidak mempunyai arah, dan tidak punya tempat… dan seterusnya. Karena itu sifat makhluk ( hadits ). Menurut salaf, sifat Allah ialah apa yang ditetapkan didalam syariat-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya tanpa mentakwil, menyerupakan, membayangkan, dan seterusnya sebagaimana di terangkan di dalam kitab aqidah.
3.Mentakwilkan ( merubah makna dari makna hakikinya ) sifat-sifat Allah seperti istiwa di takwil ( di ubah maknanya ) kepada istaula, dimana pekara ini tidak ada contoh dari Nabi saw dan para sahabatnya
4.Iman menurut Ahlu sunnah adalah pengakuan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Sedangkan menurut asy’ariyah cukup dengan pembenaran hati, tidak bertambah dan berkurang. Ini menyerupai Jahmiyah sebagaimana yang disebut pada semua pembahasan aqidah mereka. ( al-Irsyad, hal. 397, al-Insaf, hal. 55, al-Baqillani.
Ahlu sunnah wal jama’ah menyatakanbahwa al-Qur an adalah kalamullah, sebaliknya asyaairah merupakan kombinasi antara pemahaman ahlu sunnah dan muktazilah yang mereka mengatakan qur an itu makhluk. Asy’ariyah membedakan antara lafaz dengan makna. Kalam yang mereka tetapkan adalah makna dalam diri-Nya, bukan berupa suara dan bukan pula huruf. Adapun kitab-kitab yang diturunkan termasuk al-Qur an bukanlah kalam Allah, akan tetapi ia tidak lebih dari dari sebuah makna yang terpahami oleh Jibril dan terpisah dari Dzat-Nya, jika diungkapkan dalam bahasa Ibani jadilah ia Taurat, jika berbahasa suryani maka jadilah ia Injil, dan jika berbahasa arab jadilah ia al-Qur an. Semuanya makhluk, sedangkan penyebutannya dengan kalamullah hanya sebagai majaz atau kiasan. ( al-Insaf, hal. 96-97, Ushuluddin, hal. 107, syarh al Bajuri, hal 64-66.
Jawaban :
“Asy’ariyah” yang juga di kenal “Asya’irah” adalah penisbatan sebuah pemahaman dalam aqidah kepada imam Abu Hasan al-Asy’ari, dimana mereka sebetulnya berpegang pada pemahaman Abu Hasan al-Asy’ari pada fase kedua kehidupannya, yang dikenal pada saat itu beliau menganut paham Kullabiyah.
Alangkah baiknya jika setiap orang yang menisbatkan diri kepadanya dalam aqidah untuk betul-betul mengetahui fase-fase kehidupannya, terutama fase beliau ketiga dimana Imam Abu Hasan al-Asy’ari kembali kepada paham salaf.
Kehidupan Imam Abu Hasan al-Asy’ari melalui tiga fase, yaitu :
1.Fase dengan membawa pemahaman Mu’tazilah, gurunya dalam pemahaman ini adalah bapak tirinya yang bernama Abu Ali Al-Jubba’i,hal ini berlangsung hingga beliau berusia 40 tahun. ( Tabyin Kadzibil Muftari, hal.40 )
2.Fase dengan membawa pemahaman Kullabiyah, suatu pemahaman yang diambil dari tokoh pendirinya Abdullah bin Said bin Kullab al-Qaththan ( 240 H ). Pemahaman inilah yang menjadi tonggak ajaran dan pokok pemahaman mereka dalam madzhab, pemahaman ini dituangkan oleh beliau dalam kitab al-Luma’ fir Radd ‘ala Ahliz Zaighi wal Bida.’Pemahaman yang tersebar dan diikuti ramai pada hari ini adalah pemahaman pada fase yang kedua ini, yaitu suatu pemahaman yang berasaskan kepada paham Kullabiyah, dengan mentakwilkan sifat-sifat Allah.
3.Fase dengan membawa pemahaman salaf ( Ahlu sunnah wal jama’ah ), pemahaman yang mana beliau wafat dengannya, beliau tuangkan dalam karangannya yaitu al-Ibanah, Risalah ila Ahli Tsaghar dan Maqalat Islamiyyin.
Soal ke 2 : Apakah yang dimaksud dengan Ahlu sunnah wal jamaah?
Jawaban :
Makna Ahlu sunnah wal jama’ah secara singkat adalah mereka yang berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah saw dan mengikuti jama’ah sahabat Rasulullah saw dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
As’ariyah sepakat dalam definisi Ahlu sunnah wal jama’ah diatas, sebagai didalam kitab mereka Jauharah at-Tauhid dikatakan : “ Seluruh kebaikan dengan mengikuti salaf ( yang terdahulu ), dan semua keburukan pada bid’ah orang khalaf ( yang datang kemudian ).” Akan tetapi, benarkah pemahaman mereka adalah pemahaman para sahabat Nabi saw dan aqidah mereka adalah aqidah imam yang empat ?
Soal ke 3 : Apakah Syaikh Abu Hasan Ali al-Asy’ari adalah seorang ulama yang merumuskan dan mengumpulkan secara rapi akidah ahlu sunnah wal jama’ah yang belum tersusun di dalam Qur an dan Hadis?
Jawaban :
Pernyataan bahwa syaikh Abu Hasan al asy’ari adalah perumus akidah ahlu sunnah adalah tidak benar. Perlu di ketahui bahwa syaikh Abu Hasan Ali al-Asy’ari lahir di Basrah tahun 260 H dan wafat di Basrah juga pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun. Telah banyak para ulama yang telah menyusun kitab aqidah sebelum imam Abu Hasan Ali al-Asy’ari, seperti Imam Abu Bakr Bin Abu Syaibah ( wafat 235 H ) yang telah menyususun kita al-Iman, Imam Ahmad Bin Hanbal ( wafat tahun 241 H ) menulis kitab Ushulus Sunnah dan ar-Raddu ‘alal Jahmiyah wal Zanadiqah, Imam Bukhari (wafat tahun 256 H ) menyusun kitab Khalqu Af’alil Ibaad, Imam Ahmad Bin Muhammad Bin Abu Hashim ( wafat tahun 287 H ) dengan kitab as-Sunnah, Imam Abu Bakar Ahmad Bin Muhammad al- Khallal ( wafat 311 H ) menyusun kitab as-Sunnah, Imam Muhammad Bin Ishaq Bin Khuzaimah ( wafat 311 H )menyusun kitab Tauhi wa Itsbaati Shifaati Rabbi ‘Azza wa Jalla, Imam Abu Ja’far Ahmad Bin Muhamad at-Thahawi (wafat 321H ) dengan kitabnya yang terkenal al-Aqidah ath-Thahawiyah.
Berdasarkan banyaknya para ulama yang telah menyusun kitab aqidah sebelum Syaikh Abu Hasan al-Asy’ari di atas, maka tidak patut kita mengatakan bahwa beliau adalah penyusun dan yangmerumuskan aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Bahkan pada fase yang kedua Imam Abu Hasan as-Asy’ari adalah kembali kepada pemahaman salaf dalam memahami sifat Allah. I’tiqad tersebut beliau cantumkan dalam kitab yang terakhir beliau tulis seperti al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah,Maqalatul Islamiyyin wa ikhtilafil Mushallin, dan Risalah ila Ahli Tsaghr.
Soal ke 4: Apakah pemahaman asy’ariyah yang mentakwilkan sifat Allah seperti jika berjumpa ayat yang mengatakan “Allah diatas Arasy” maka di takwikan menjadi “Allah menguasai Arasy” adalah pemahaman para sahabat Nabi saw ?
Jawaban :
Aqidah Asy’ariyah bukan aqidah ahlu sunnah wal jama’ah. Aqidah ahlu sunnah wal jama’ah meyakini ayat-ayat dan hadis tentang sifat Allah dengan menetapkan ( itsbath) lafaz dan makna secara hakiki tanpa ta’wil (adalah merubah makna dari maknanya yang Haq) dan tanpa ta’thil (adalah menghilangkan makna atau sifat Allah ), tanpa takyif (adalah mempersoalkan hakikat asma’ dan sifat Allah dengan bertanya “bagaimana”.), tanpa tasybih, atau tajsim dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), dan tanpa tafwidh ( Penyerahan makna dan keadaan secara bersama ).
Perkataan salaf tentang Itsbath ( menetapkan ) sifat Allah diatas sangat banyak seperti :
Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisyi meriwayatkan dari Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al- Khathib berkata , “ Adapun pembicaraan tentang sifat Allah seperti yang termaktub dalam kitab sunan dan shahih, yaitu mazhab salaf adalah menetapkan ( itsbat ) sifat-sifat tersebut pada makna zahirnya secara hakiki dengan tidak menanyakan bentuknya dan menafikan adanya penyerupaan ( tasybih ). Jika kita katakan bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran, penglihatan, maka ini hanyalah sifat-sifat Allah yang Allah telah tetapkan sendiri bagi diriNya. Maka kita jangan mengatakan bahwa arti tangan adalah kekuasaan, arti pendegaran, penglihatan dan ilmu adalah anggota badan, dan kita tidak menyerupakannya dengan anggota badan dan alat berbuat. Kita katakan demikian karena itulah yang termaktub didalam nash dengan wajib menafikan tasybih. ( Dzammu Ta’wil, hal 15 ) Disebutkan juga oleh
Imam adz-Dzahabidalam at-Tazdkirah (3/1142-1143).
Para ulama salaf mengatakan, “ Berlakukanlah nash sifat itu seperti datangnya ( maknakan secara hakiki, tidak di tahrif )dan jangan ditanyakan bentuknya.” Mereka yang mengatakan Imam Tsauri, Laits bin Sa’ad, al-Auza’i, Ma’mar bin Rasyid ( Lihat Dzammu Ta’wil hal. 18-21,tahqiq Badr al-Badr )
Penetapan sifat wajah secarahakiki, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Bakr ash-Shiddiq dan Anas bin Malik dalam tafsir surah yunus : 26.
Artinya :
Untuk orang-orang Yang berusaha menjadikan amalnya baik dikurniakan Segala kebaikan serta satu tambahan ( ziyadah ) Yang mulia dan air muka mereka pula (berseri-seri) tidak diliputi oleh sebarang kesedihan dan kehinaan. mereka itulah ahli syurga, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Abu Bakr berkata, “ Ziyadah adalah melihat wajah Allah SWT. “ Begitu juga ucapan Anas bin Malik, dengan menambahkan, “ Oleh karena itu, hari itu disebut yaum al-mazid ( hari adanya tambahan nikmat ).”
Sifat istiwa’, Ahlusunnah wal jama’ah meyakini bahwa istiwa’ berarti tinggi, diatas, bukan menguasai. Dengan demikian, Allah berada di atas’Arsy secara hakiki sesuai keagunganNya, tidak sama dengan sifat makhluk. Sifat istiwa’ termaktub di dalam al Qur an seperti di dalam surah al’Araf: 54, Yunus: 3, ar-Ra’du: 2, Thaha: 5, al-Fur qan: 59, as-Sajadah: 4, al-Hadid: 4.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Ketika Allah memutuskan urusan makhluk, Dia menulis disisiNya di atas ‘Arsy Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku.” HR Bukhari, Muslim. Pemahaman ini di yakini leh para sahabat, tabi’in, dan ulama setelahnya.
-Abdullah bin Abbas , pakar tafsir dari kalangan sahabat Nabi saw, Mujahid-murid beliau, Abul ‘Aliyah, dan Ishaq bin Rahawaih menafsirkan “Istawaa” pada surah al’Araf, ayat 54 : Allah berada di atas arsy dan tinggi. ( Bukari, kitab tauhid ). Inilah pendapat yang dipilih ulama tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya.
-Umar al-Khathab menyatakan bahawa:
“Bahawasanya segala urusan itu (datang) dari sana (sambil mengisyarat-kan tangannya ke langit).” (al-Imam az-Zhahabi di dalam kitab-nya menyatakan bahawa riwayat ini sahih.)
“Daripada Ibnu Abbas (ia berkata) bahawa Rasulullah s.a.w. berkhutbah kepada manusia pada hari Nahr (tanggal 10 Zulhijjah) kemudian Ibnu abbas menyebutkan khutbah Nabi s.a.w. kemudian beliau mengangkat (mendongakkan) kepalanya ke arah langit sambil mengucapkan: “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan!” (Riwayat Imam Bukhari, juz.2 halaman 191)
-Zainab binti jahsyi, berbangga terhadap para isteri Rasulullah saw lainnya dengan mengatakan , “ kalian dinikahkan dengan Rasulullah saw oleh keluarga kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang ketujuh". HR Bukhari.
Adapun perkataan para ulama sangat masyhur tentang istiwa’. Abu Muthi’ al-Hakam bin Abdullah al-Balkhi berkata,”Aku menanyakan kepada Abu Hanifah tentangorang yang berkata :”Aku tidak mengetahui apakah Rabbku di langit atau di bumi.” Jawab Abu Hanifah, “Dia Kafir, karena Allah SWT berfirman yang mafhumnya : Tuhan Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arsy. QS.Thaha : 5.
Dan “Arsy-Nya diatas langit.”Aku bertanya lagi, “ orang itu berkata, Allah di atas ‘Arsy, tetapi aku tidak tahu apakah ‘Arsy-Nya di atas langit atau di bumi.” Jawab Abu Hanifah, “ Jika dia mengingkari Allah diatas langit maka sesungguhnya dia telah kafir.”( Mukhtashar al-Uluw, hl. 136 ).
Imam Auza’i berkata, “ kami para tabi’in yang banyak berkata, Allah diatas ‘Arsy-Nya, kami mengimani sifat yang terdapat di sunnah.” ( al-‘Uluw, hal. 137-138 )
Imam Malik bin Anas, ketika ada orang bertanya tentang istiwa’ beliau menjawab, “Bentuk istiwa’ tidak diketahui, istiwa’ adalah diketahui ( maknanya yaitu di atas ), mengimaninya wajib dan menanyakan ( bentuknya ) adalah bid’ah, aku khawatir engkau termasuk orang yang sesat.” Maka orang tadi diusir dari majlis (al-‘Uluw, hal 141 ).
Imam Abdullah bin al-Mubarak ditanya,”Bagaimana kita mengethui Rabb kita?” Jawabnya, “ Dia berada diatas langit yang tujuh diatas ‘Arsy-Nya. Kami tidak mengatakan seperti Jahmiyah bahwa Allah itu di bumi.” Hal ini ditanyakan kepada Ahmad bin Hanbal, maka beliau berkata,”Begitu juga pendapatku.”(al-‘Uluw, hal. 151 )
Imam syafii berkata,” Ucapan yang sesuai sunnah yang aku katakan dan pendapatku sesuai dengan mereka seperti Sufyan, Malik dan lainnya yaitu mengikrarkan syahadat tiada Ilah yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah, Allah berada di ‘Arsy-Nya diatas langit, Dia mendekat kepada makhluksesuai kehendak-Nya dan turun kelangit dunia sesuai kehendak-Nya.” (al-‘Uluw, hal. 176 )
Jadi inilah perkataan imam sunnah tentang istiwa’dan tidak ada yang mengubah maknanya menjadi menguasai. Arti menguasai itu bukan keyakinan Ahlu sunnah wal jama’ah sebaliknya itu keyakinan yang menyimpang dari Ahlu sunnah. Bahkan arti istiwa’ menjadi istaula sangat tidak dikenal dalam bahasa arab.
Imam Ibnul ‘Arabi , seorang ulama pakar bahasa arab ketika diminta oleh tokoh mu’tazilah, Ahmad bin abu duwad untuk mencari makna istawa yang artinya istaula ( menguasai ) dalam bahasa arab, maka beliau menjawab, “ demi Allah itu tidak ada, aku tidak menemukannya” ( dikeluarkan oleh khatib al-Baghdadi dalam tarikh baghdad, 5/283).
Pakar bahasa lainnya Imam khalil bin Ahmad ketika ditanya juga berkata,”makna Istaula tidak dikenal oleh orang arab dan tidak ada dalam bahasa mereka ( Majmu’ Fatawa 5/146 ), Ibnul Jauzi berkata ,”makna itu dalam bahasa arab adalah mungkar ( Zadul Masiir,3/213 ), Ibnu Abdil Barr berkata, “ Ucapan mereka yang mentakwil Istawa menjadi Istaula tidak sesuai, karena tidak didapati dalam bahasa arab ( At- Tamhid, 7/131 )
Soal ke 5 : Benarkah paham asyaairah adalah paham yang benar berdasarkan hujah dibawah ini Firman Allah SWT dlm surat al_maidah ayat 54 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya :
"Hai orang2 yg beriman, barangsiapa di antara kamu yg murtad dr agama'a, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yg bersikap lemah lembut terhadap orang yg mu'min,bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yg berjihad dijalan Allah, dan tidak takut kepada celaan orang yg suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui".
حدثنا محمد بن المثنى قال ، حدثنا محمد بن جعفر قال ، حدثنا شعبة ، عن سماك بن حرب ، عن عياض الأشعري قال : لما نزلت هذه الآية ، " يا أيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه " قال : أومأ رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أبي موسى بشيء كان معه ، فقال : هم قوم هذا
Artinya :
"kami telah diberi hadist oleh muhammad bin al_mutsanna,ia berkata kami telah diberi hadist oleh muhammad bin ja'far,ia berkata kami telah d beri hadist oleh syu'bah dr simak bin harb dari 'iyadhz al_asy'ari ia berkata : manakala turun ayat ini :"Hai orang2 yg beriman, barangsiapa di antara kamu yg murtad dr agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya".'iyadhz berkata : Rasulullah menunjuki kepada abi musa al_asy'ari dgn sesuatu yg ada besertanya, Rasulullah pun berkata : mereka adalah kaum org ini (abu musa al_asy'ari Radhi Allahu 'anhu)".
Jawab :
Nabi saw menyuruh kita untuk berpegang kepada sunnahnya dan sunnah para sahabatnya. Pemahaman mentakwilkan sifat Allah seperti yang amalkan golongan asyaairah tidak diamalkan oleh Nabi saw dan para sahabatnya, termasuk Abu Musa al-‘asy ari sendiri. Tidak ada satu riwayatpun yang mengatakan bahwa Abu Musa al-asy’ari mengikut paham takwil dalam memehami sifat Allah SWT, sebagaimana paham asyaairah.
Didalam hadis di atas Nabi saw menjelaskan bahwa golongan yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya adalah kaum ( keturunan ) Abu Musa al-asy’ari dan apa yang bersama dengannya ( pemahaman dan amalan ). Jika keturunannya yang di fokuskan untuk diikuti, maka ada syarat kedua yang harus dipahami yaitu apa yang bersama dengan Abu Musa al-asy’ari yaitu pemahaman dan amalannya. Adakah syaikh Abu Hasan al-asy’ari mewarisi pemahaman dan amalan Abu Musa al-asy’ari dalam paham dan amalan tentang sifat Allah? Justru tidak, karena seluruh para sahabat Nabi saw termasuk Abu Musa al-asy’ari tidak ada yang mentakwilkan sifat Allah sebagaimana paham Abu Hasan al-asy’ari ( paham fase dia yang kedua yaitu kullabiyah ).
Soal ke 6 : Adakah pertentangan antara ungkapan “Allah di langit” dan “Allah ada dan tidak bertempat?”
Jawaban :
Nabi saw bersabda :
أن النبي صلى الله عليه وسلم لما عن الآية (ثم دنى فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) قال صلى الله عليه وسلم هو جبريل لأن الله موجود بلا مكان فلا يوصف بصفات الأجسام ولا بالمسافة بالمرة
Artinya :
"Sesungguhnya Nabi Shollallahu 'alaihi wa Sallam ketika di tanya tentang ayat (Tsumma dana fa tadalla fa kana qoba qowsaini aw adna) Bersabdalah Nabi, IA ADALAH JIBRIL KARENA SESUNGGUHNYA ALLAH DZAT YG WUJUD TANPA TEMPAT, MAKA TIDAK BOLEH DI SHIFATI DGN BEBERAPA SHIFATNYA JISIM DAN TIDAK DI SHIFATI DG JARAK JANGKAUAN.” HR Imam Bukhori dn Muslim dan Bayhaqi dalam kitab Asma wa al shifat /260.
Perhatikan hadis diatas,....Nabi saw mengatakan Allah adalah Dzat yang wujud tanpa tempat. Inilah yang dijadikan pegangan imam syafii dan golongan salaf untuk megatakan bahwa Allah adalah Dzat tanpa tempat.
Adakah ia ( perkataan Allah tidak bertempat ) bertentangan dengan sabda Nabi pada Hadis Mu’awiyah bin Hakam as-Sulami dimana Beliau mengatakan bahwa Allah dilangit?
Jawabannya tentu tidak, karena dua – duanya adalah sifat Allah yang harus kita pahami maknanya dan kita tetapkan ( Itsbath ) sebagaimana apa yang telah di tetapkan Allah dan rasulNya ttg sifat Allah serta beriman kepadanya tanpa mentakwilkannya dan mempertanyakannya “bagaimana," seperti golongan yang di dalam hatinya ada kecenderungan sesat dan membuat fitnah, dan mereka berusaha juga untuk mentakwilkannya. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya :
Dia lah Yang menurunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Kitab suci Al-Quran. sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "Muhkamaat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat Muhkamaat itu ialah ibu (atau pokok) isi Al-Quran. Dan Yang lain lagi ialah ayat-ayat "Mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya). Oleh sebab itu (timbulah faham Yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) - Adapun orang-orang Yang ada Dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa Yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari Takwilnya (memutarkan maksudnya menurut Yang disukainya). padahal tidak ada Yang mengetahui Takwilnya (tafsir maksudnya Yang sebenar) melainkan Allah. dan orang-orang Yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya Dalam ilmu-ilmu ugama, berkata:" Kami beriman kepadaNya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami" dan tiadalah Yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang Yang berfikiran. QS. Ali Imran : 7
Ini kaedah yang Allah dan RasulNya ajarkan kepada kita, ini yang di pahami golongan salaf, ini yang di pahami oleh para 4 imam mazhab. Dua sifat diatas akan nampak bertentangan jika kita mengkajinya dengan akal kita saja, tanpa merujuk pemahaman Nabi saw dan para sahabatnya. Seperti golongan asyaairah yang akhirnya terpaksa harus mentakwilkan Istawaa kepada Istaula, karena dilihat ketidakcocokan menurut akal mereka.
Imam asy-Syafi'i juga menulis Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar, beliau juga diantara ulama yang mengimani Bahwa Allah tidak bertempat yang merupakan sifat Allah tanpa takwil dan tanpa mempertanyakan “bagaimana”. Imam asy-Syafi’i berkata:
واعلموا أن الله تعالى لا مكان له، والدليل عليه هو أن الله تعالى كان ولا مكان له فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان، إذ لا يجوز عليه التغير في ذاته ولا التبديل في صفاته، ولأن من له مكان فله تحت، ومن له تحت يكون متناهي الذات محدودا والحدود مخلوق، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا، ولهذا المعنى استحال عليه الزوجة والولد لأن ذلك لا يتم إلا بالمباشرة والاتصال والانفصال (الفقه الأكبر، ص13)
Artinya :
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Dalil atas ini adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang Azali sebelum menciptakan tempat, ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik pada Dzat-Nya maupun pada sifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah, dan bila demikian maka mesti ia memiliki bentuk tubuh dan batasan, dan sesuatu yang memiliki batasan mestilah ia merupakan makhluk, Allah Maha Suci dari pada itu semua. Karena itu pula mustahil atas-Nya memiliki istri dan anak, sebab perkara seperti itu tidak terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel, dan terpisah, dan Allah mustahil bagi-Nya terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Karenanya tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya suami, istri, dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Soal ke 7 : Jelaskan diantara contoh kesalahan paham asya’irah ?
Jawaban :
1.Sebagaimana kita ketahui bahwa mashdar talaqqi ( sumber dasar pengambilan ) Ahlu sunnah wal jama’ah adalah al-Qur an, Sunnah, ijma’, qiyas. Berbeda dengan Asy’ariyah dimana sumber pengambilan mereka adalah akal. Hal ini diperkuat oleh pendapat para tokoh mazhab seperti al-Juwaini, ar-Razi, al-Ghazali, al Amidi dan seluruh ulama mereka yang mengatakan jika akal dan nash saling bertentangan, maka yang menang adalah akal. Bahkan mereka mengatakan bahwa mengambil azair kitab dan sunnah termasuk dari pokok paham kekufuran. ( Sebagaimana disebutkan as-Sanusi(885 H) dalam syarhul kubra dan ar-Razi dalam Asasut taqdis, hal. 172 ). Mereka juga mengatakan bahwa nash-nash didalam kitab dan sunnah bersifat zhanniyah dilalah ( tidak mutlak mengandung kebenaran )dengan tidak memberi keyakinan, yang qath’i ( mendatangkan keyakinan ) adalah akal. ( Ma’alim Ushuluddin, Fakhruddin ar-Razi, hal. 24 ). Mereka memandang bahwa hadis tidak dapat dijadikan pegangan dalam akidah. Jika terjadi pertentangan dengan akal , maka yangmutawatir harus di takwil dan yang ahad tidak perlu di gubris. Kitab-kita akidah mereka selalu di penuhi dengan perkataan para filosof, sanjutnya kosong dari pada pemahaman dan amalan para sahabat saw.
2.Menurut salaf, keberadaan Allah merupakan hal yang fitri , dalil tentang hal itu telah terpatri pada alam, jiwa dan wahyu. Pada setiap sesuatu ada bukti tentang wujud Allah SWT. Sedangkan asy’ariyah hanya mempunyai satu-satunya alasan tentang wujud Allah yaitu “huduts” ( baru ) dan “ qidam “ ( terdahulu ). Menurut mereka , bukti bahwa Allah SWT itu wujud adalahbahwa semua makhluk bersifat baru dan setiap yang baru mesti ada yang terdahulu. Kekhususan Dzat yang terdahulu bahwa semua sifat – sifatnya tidak boleh sama ( baik lafaz maupun makna ) dengan sifat makhluk. Makanya Allah menurut mereka bukanlah jauhar (badan halus), tidak jisim ( badan kasar ), tidak mempunyai arah, dan tidak punya tempat… dan seterusnya. Karena itu sifat makhluk ( hadits ). Menurut salaf, sifat Allah ialah apa yang ditetapkan didalam syariat-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagunganNya tanpa mentakwil, menyerupakan, membayangkan, dan seterusnya sebagaimana di terangkan di dalam kitab aqidah.
3.Mentakwilkan ( merubah makna dari makna hakikinya ) sifat-sifat Allah seperti istiwa di takwil ( di ubah maknanya ) kepada istaula, dimana pekara ini tidak ada contoh dari Nabi saw dan para sahabatnya
4.Iman menurut Ahlu sunnah adalah pengakuan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Sedangkan menurut asy’ariyah cukup dengan pembenaran hati, tidak bertambah dan berkurang. Ini menyerupai Jahmiyah sebagaimana yang disebut pada semua pembahasan aqidah mereka. ( al-Irsyad, hal. 397, al-Insaf, hal. 55, al-Baqillani.
Ahlu sunnah wal jama’ah menyatakanbahwa al-Qur an adalah kalamullah, sebaliknya asyaairah merupakan kombinasi antara pemahaman ahlu sunnah dan muktazilah yang mereka mengatakan qur an itu makhluk. Asy’ariyah membedakan antara lafaz dengan makna. Kalam yang mereka tetapkan adalah makna dalam diri-Nya, bukan berupa suara dan bukan pula huruf. Adapun kitab-kitab yang diturunkan termasuk al-Qur an bukanlah kalam Allah, akan tetapi ia tidak lebih dari dari sebuah makna yang terpahami oleh Jibril dan terpisah dari Dzat-Nya, jika diungkapkan dalam bahasa Ibani jadilah ia Taurat, jika berbahasa suryani maka jadilah ia Injil, dan jika berbahasa arab jadilah ia al-Qur an. Semuanya makhluk, sedangkan penyebutannya dengan kalamullah hanya sebagai majaz atau kiasan. ( al-Insaf, hal. 96-97, Ushuluddin, hal. 107, syarh al Bajuri, hal 64-66.
Tuesday, April 26, 2011
MENGUNGKAP KESALAHAN THAREQAT SUFI/ TASAWWUF
Adalah fakta yang tidak bisa di pungkiri bahwa hari ini ajaran tasawuf telah tersebar di seluruh negara-negara islam, termasuk di Indonesia. Bahkan dapat kita lihat di kalangan masyarakat bahwa ajaran tasawuf telah menjadi ciri khas jika seseorang itu dinamakan ahlu sunnah wal jamaah. Banyak di kalangan masyarakat kita dengan bangga mengatakan “ saya ahlu sunnah wal jamaah dimana akidah kami asy’ari dan mazhab kami syafi’i serta tarekat kami naqsabandi.” ( Takrif seperti ini adalah keliru, yang benar bahwa Ahlu sunnah wal jamaah adalah pengikut Nabi saw dan para sahabatnya dengan tidak mengikuti paham asyaairah, fanatik bermazhab dan bertarikat sufi, karena semua itu tidak ada contoh dari Nabi saw )
Dalam menanggapi ajaran tasawuf biasanya masyarakat akan ada yang pro dan kontra. Masing-masing akan mempertahankan pendapatnya dan merujuk kepada para ulamaknya. Melihat adanya perbedaan seperti ini, sepatutnya kita sebagai ahlu sunnah wal jamaah ( pengikut Nabi saw dan para sahabatnya ) tidak perlu panik, karena Nabi aw sendiri telah memberitahukan kepada kita bahwa perbedaan akan berlaku, bahkan Nabi saw juga memberitahu bagaimana cara kita selamat dari berbagai perbedaan yaitu untuk berpegang kepada sunnahnya dan sunnah para sahabatnya.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
( فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ )
Maksudnya : “ Sesungguhnya, orang yang hidup di antara kalian selepasku akan melihat banyak perselisihan yang timbul ; maka tetaplah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa al-Mahdiyyin al-Rashidiin, berpeganglah dengannya, dan gigitlah ia dengan geraham …“. [HR Abu Daud : 4607, al-Tirmidzi : no.2676]
Untuk menghadapi perbedaan tentang pro dan kontra ajaran tasawuf, maka saya mengajak saudara seislam untuk memilih dan mengambil pendapat yang sesuai dengan amalan nabi saw dan para sahabatnya, serta meninggalkan pendapat yang tidak di amalkan nabi saw dan para sahabatnya
Banyak orang menyangka bahwa ajaran tasawuf itu berasal dari islam, sebagaimana banyak yang menyangka bahwa diantara sufi ada yang menjadi wali Allah. Saya berharap agar kaum muslim mengkaji kembali ucapan dan amalan mereka sehingga dapat mengetahui betapa jauhnya mereka orang-orang sufi dari ajaran Islam.
Apa yang menyebabkan kaum sufi terjebak kepada kesesatan padahal mereka juga berkata bahwa mereka berpegang pada Qur’an dan Hadis?...Yang menyebabkan mereka sesat dalam ajarannya adalah karena mereka memahami Al-Qur’an dan Hadis tidak mengikut paham Nabi saw dan para sahabatnya. Mereka hanya mengikut kepada paham guru/ mursyidnya saja.
Berbagai kesalahan kaum sufi yang tidak ada contoh dari Nabi saw :
1.Munculnya istilah tasawuf adalah nama baru yang memecah belah kaum muslimin. Makna tasawuf atau shufi itu sendiri tidak mempunyai dasar yang jelas. Seperti ada yang mengatakan bahwa kata “ shufiyah “ diambil dari kata shufiyaa. Shufiyah bukan diambil dari kata “As-Shofa “, yang akan mejadi “Shofaa’i “ dan bukan “Shufi”. Terkadang antara ajaran tasawuf yang awal-awal dengan ajaran tasawuf yang akhi-akhir/ sekarang ini terjadi perbedaan. Bahkan ajaran tasawuf pada hari ini kesalahannya lebih banyak dari pada pendahulunya.
Di dalam al-Quran, al-Hadith dan Bahasa Arab tidak terdapat kalimah tasawuf atau sufi, atau suatu kalimah yang memberikan makna tertentu dari kalimah sufi atau tasawuf tersebut. Kalimah ini (sufi/tasawuf) berjaya dimasukkan ke dalam Bahasa Arab (diArabkan) oleh aktivis tasawuf melalui saluran falsafah yang mereka amal dan perjuangkan.
Apa yang terdapat di dalam al-Quran atau al-Hadith hanyalah kalimah takwa dan zuhud yang berbeza maksud, tujuan dan prinsipnya dengan tasawuf atau sufi, takwa dan zuhud melarang pelakunya dari meninggalkan syariat walau seinci sekalipun. Namun ada yang menyangka bahawa kedua-dua kalimah ini mempunyai sedikit persamaan.
Dalil tentang zuhud telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa-Ta'ala dengan pengertian dan penjelasannya yang sebenar: "Dan mereka merasa tidak tertarik hati padanya". YUSUF, 12:20.
Kalimah "zuhud" di ayat ini, bererti: "Tidak tertarik, tidak terikat, tidak terpengaruh dan tidak terasa cinta kepada sesuatu yang bersifat kebendaan". Walaupun begitu ia tidak pula ditinggalkan kerana kebendaan tersebut boleh dijadikan kepentingan dalam kehidupan di dunia walaupun bukan menjadi tujuan utama. Zuhud merupakan satu daripada amalan para nabi, para rasul, para sahabat dan orang-orang soleh.
Zuhud juga bukanlah satu ajaran yang menekankan supaya sentiasa mencari-cari Allah, kerana orang-orang yang zuhud sudah tahu di mana Allah berada melalui ilmu dan keimanannya terhadap ayat-ayat al-Quran yang telah mengkhabarkan di mana Allah berada. Antara ayat penerangan yang dimaksudkan ialah ayat di bawah ini:
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.
"Dialah (Allah) yang bersifat Amat Pemurah, bersemayam di atas 'Arsy". TAHA, 20:5.
Imam Malik rahimahullah telah menjelaskan tentang "Arsy Allah" dan "Istiwa" yang disebutkan oleh ayat di atas iaitu:
"A1-Istiwa itu maklum, caranya tidak diketahui (majhul), beriman dengannya wajib dan mempersoalkannya (bertanya tentangnya) adalah bid'ah". (Al-Baihaqi, (اصول الاعتقاد), hlm. 166. & Ibn Taimiyah, Fatawa, jld. 5, 365)
Dalam sebuah hadith Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam telah bertanya kepada seorang budak perempuan:
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ : فِى السَّمَاءِ . قَالَ : مَنْ اَنَا ؟ قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ الله . قَالَ : اَعْتِقْهَا فَاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
"Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam pernah bertanya kepada seorang hamba perempuan: Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasulullah bertanya lagi: Siapa aku? Dia menjawab: Engkau adalah Rasulullah. Setelah itu Rasulullah bersabda: Merdekakanlah dia kerana dia seorang yang beriman". (H/R Muslim, 836, al-Masajid wa Maudu'us as-Solah. An-Nasaii, (1203), Kitab as-Sahwum. Abu Daud (795), as-Solah.)
Orang-orang sufi/tasawuf berusaha mencari Allah di dunia. Ada yang mendakwa telah melihat Allah dengan kedua biji matanya dan ada pula yang mengakui bersatu dengan Allah. Dakwaan ini adalah dakwaan yang bohong dan terlalu keji. Ada pula yang mengakui dirinya sebagai tuhan dengan beralasan melalui teori hulul atau hululiah (الحلول او الحلولية). Khurafat ini telah disuarakan oleh Al-Bustami:
طلبت الله ستين سنة ، فاذا انا هو.
"Aku mencari-cari Allah selama enam puluh tahun, tiba-tiba aku dapati akulah dia (Allah). ( البدء والتاريخ , jld. 5. p. 91)
Oleh kerana keasyikan penganut sufi/tasawuf mencari Allah yang berpandukan kepada akal fikiran (hawa nafsu), mereka mudah menganggap sesuatu yang aneh dan kelihatan baik sebagai tuhan lalu disembah (sujud padanya):
وَاِذَا رَاَوْا صُوْرَةً حَسَنَةً خَرُّوْا لَهُ سَجُّدًا ، وَكَثِيْرٌ مِنْ اَهْلِ الْهِنْدِ يَفْعَلُوْنَ هَذَا.
"Apabila mereka melihat sesuatu yang dirasakan baik, mereka segera sujud kepadanya. Sebagaimana kebanyakan penganut Hindu melakukan seperti ini". ( البدء والتاريخ , jld. 5. p. 91)
Orang-orang yang zuhud tidak mencari-cari Allah kerana mereka tahu di mana Allah. Mereka menjadikan zuhud sebagai tali penghubung segala amalan dan perasaan cintanya kepada Allah dan juga sebagai tali penghubung antara sesama manusia.AHLI SUNNAH WAL JAMAAH
Syeikhul Islam Muhaiddin an-Nawawi as-Syafie rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul "Ar Raddatul ar Raudah":
وَمَنْ يَدِيْنُ بِهَذَا فَهُوِ زِنْدِيْق ، اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَق : صُوْفِىفَالصُّوْفِيَّةُ مُرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ اْلاِيْمَان الْحَقّ.
"Sesiapa yang beragama (menganut agama) sufi-tasawuf (yang dipelopori oleh al Hallaj) maka dia adalah zindik, atau dengan ibarat yang lebih jelas : Dia sufis, maka penganut sufi (seperti ini) samalah seperti seseorang yang menentang keimanan". (Burhannuddin al-Baqii,pمصرع التصوف,31)
Imam Syafie rahimahullah pernah memperkatakan tentang kebodohan sufi/tasawuf:
اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ ، وَلَوْ تَصَوََّفَ رَجُلٌ اَوَّل النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْر اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَق.
"Tasawuf dibina dia atas kemalasan, jika sekiranya seorang lelaki menganut tasawuf di pagi hari, tidak akan sempai ke Zohor dia akan jadi seorang yang biul/goblok". (Lihat: مصرع التصوف او تنبيه الغبى الى تكفير ابن عربي Bahruddin al-Baihaqi. Tahqia Abdulrahman al-Wakil.)
Dizaman Hasan Basri rahimahullah (21H) lahir seorang yang mula-mula digelar sufi yang pertama, iaitu Abu Hasyim al-Kufi berasal dari Kufah. Dia banyak melahirkan kata-kata yang anih, pelik dan bertentangan dengan naluri manusia dan syara. Dan Imam Syafie rahimahullah terlalu benci terhadap keekstriman, keradikalan dan kezindikan Sufi/tasawuf, beliau berkata:
"Saya meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan". (Lihat: تلبيس ابليس hlm. 370. Ibn Jauzi.)
Amalan Sufi/tasawuf dianggap oleh Imam Syafie sebagai amalan yang fasik dan beliau banyak memperkatakan tentang penyelewengan kaum sufi/tasawuf, antaranya beliau pernah berkata:
"Tiada yang sanggup melakukan amalan itu (sufi/tasawuf dan tahlilan) kecuali orang yang fasik" (Lihat: حقيقةالتصوف وموقف الصوفية من اصول العبادة والدين Syeikh Soleh Bin Fauzan al-Fauzan.)
Menurut kekarutan Ibnu Arabi lagi di dalam teori wahdatul wujudnya: "Allah itu adalah segala-galanya, tidak ada sesuatu kecuali semuanya itu adalah Allah, oleh kerana itu apa sahaja yang disembah adalah Allah, sama ada berbentuk berhala, patung dan sebagainya kerana itu semua adalah hakikat Allah". (Lihat: مصرع التصوف. Hlm. 49-50. Burhanuddin al-Baihaqi.)
Abu Yazid al-Bustami pula adalah orang sufi pertama yang mempunyai fahaman ittihad dan menyebar-luaskan ajaran ini. Antara kata-kata beliau yang ditentang oleh ulama akidah ialah:
اِنِّيْ اَنَا اللهُ لاَ اِلَهَ اَلاَّ اَنَا فَاعْبُدُوْنِيْ
"Sesungguhnya akulah Allah, tidak ada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku".
Disuatu kejadian pernah berlaku kepada Abu Yazid ucapan yang bertentangan dengan syara:
اَتَى رَجُلٌ اَبَا يَزِيْدَ ، وَدَقَّ عَلَيْهِ الْبَابَ فَقَالَ : مَنْ تَطْلُبُ؟ قَالَ : اَبَا يَزِيْدُ قَالَ : مُرَّ فَلَيْسَ فِى الْبَيْتِ غَيْرُ اللهِ عِزَّوَجَلَّ.
"Seorang lelaki mendatangi rumah Abu Yazid dan mengetuk pintunya. Abu Yazid bertanya: Siapa yang engkau cari? Jawabnya: Abu Yazid. Lalu Abu Yazid berkata: Pergilah! Di rumah ini tak ada sesiapa kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi".
Di dalam perkataan Abu Yazid di atas menunjukkan bahawa beliau mengaku sebagai Allah. Pernah juga dia berkata:
لَيْسَ فِى الْجُبَّةِ اِلاَّ اللهُ
"Tiada (apa-apa) di dalam jubahku (bajuku) selain Allah". (Lihat: Analisa Kritis Terhadap Tasawuf. hlm. 18-19. Samudi Abdullah. Pustaka Nasional. Singapura.)
Mereka yang mempunyai akal yang sihat dan memahami persoalan syara walaupun sedikit, tentu mengingkari semua kenyataan para tokoh-tokoh sufi di atas kerana bertentangan dengan syara.
2.Berbai’at kepada mursyid sebelum mengikuti tarekat. Berbaiat seperti yang diamalkan para kaum sufi tidak ada contoh dari nabi saw dan para sahabatnya. Orang-orang terdahulu belajar agama kepada para sahabat tanpa adanya bait khusus sebagaimana amalan pada mursyid thariqat.
3.Berdzikir dengan melafazkan “ Allah” saja tanpa diiringi dengan kalimah lain seperti Allahu akbar, alhamdulillah dll itu tidak di contohkan Nabi saw. Begitu juga dengan menentukan bilangannya, menentukan tempat khusus, cara khusus sewaktu melafadzkan dzikir.
4.Berdzikir dengan lafadz “Laa Ilaaha” saja,atau melafazkan kalimah “Illallahu” saja dengan tidak menyebut semuanya seperti “Laa ilaaha Illallahu”. Dan ada juga yang berdzikir dengan melafazkan hanya kalimah “hu”. Amalan seperti ini juga tidak dicontohkan Nabi saw dan para sahabatnya.
Menurut kaum sufi juga bahwa Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran. Tatacara melafadzkan dzikir kalimah tauhid ini tidak ada contohpun dari Nabi saw dan para sahabatnya.
Segala amalan seperti berbai'at kepada mursyid sebelum beribadah, serta berdzikir dengan lafaz "Allah" saja dengan cara dan bilangan serta tempat yang khusus adalah tertolak pahalanya, karena tidak di contohkan nabi saw. Sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya :
"Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami perintahkan, maka amalannya tertolak." HR Muslim.
5.Ajaran tasawuf mempunyai banyak thariqat-thariqat ( suatu cara/ jalan secara khusus yang dirancang oleh syaikh atau pemimpinnya untuk para muridnya berupa kewajiban dan metode yang harus di pegangi oleh para muridnya secara ketat seperti thariqat At Tijaniyah, Al Qadariyah, Asy-Syaadziliyah, Ar-Rifaiyah, jistiyah dll dimana setiap thariqat menklaim bahwa thariqatnya yang benar dan yang lain salah. Islam melarang perpecahan seperti ini. Seperti fakta perkataan salah satu syaikh sufi dibawah ini :
Syekh Abi Hasan Asy-Syadzili mengatakan: “Barangsiapa yang tidak ikut masuk thoriqot-ku yaitu thoriqot shufiyyah (thoriqot-nya orang-orang ahli tasawwuf) maka ketika mati, orang itu membawa dosa besar karena hukumnya fardlu‘ain. Oleh karena itu, maka wajib untuk pergi mencari seorang guru Mursyid untuk minta talqin dzikir, dan jika sudah menemukan Mursyid yang telah masyhur dalam mengobati muridnya, namun walaupun orang yang mau belajar itu dilarang oleh orang tuanya maka ia wajib untuk berguru.“
Sikap mereka yang berpecah dan saling membanggakan diri didalam perkara yang salah ini bertentangan dengan firman Allah SWT :
Artinya :
31. Hendaklah kamu (Wahai Muhammad dan pengikut-pengikutmu) sentiasa rujuk kembali kepada Allah (dengan mengerjakan amal-amal bakti) serta bertaqwalah kamu kepadanya; dan kerjakanlah sembahyang Dengan betul sempurna; dan janganlah kamu menjadi dari mana-mana golongan orang musyrik -
32. Iaitu orang-orang Yang menjadikan fahaman ugama mereka berselisihan mengikut kecenderungan masing-masing serta mereka pula menjadi berpuak-puak; tiap-tiap puak bergembira Dengan apa Yang ada padanya (dari fahaman dan amalan Yang terpesong itu). QS. Ar-Rum : 31-32
6.Orang-orang sufi berdoa kepada selain Allah, berupa para wali baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Mereka dalam doa berkata :” Wahai jailany, wahai Rifa’i dan wahai rasulullah saw , tolong kami selamatkan kami, hanya kepadamu tempat bersandar”.
Allah melarang kita berdoa kepada selain Dia, dan amalan ini dikatakan syirik. Sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
Dan janganlah Engkau (Wahai Muhammad) menyembah atau memuja Yang lain dari Allah, Yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan juga tidak dapat mendatangkan mudarat kepadamu. oleh itu, sekiranya Engkau mengerjakan Yang demikian, maka pada saat itu menjadilah Engkau dari orang-orang Yang berlaku zalim (terhadap diri sendiri Dengan perbuatan syirik itu).Q.S Yunus : 106.
7.Didalam ajaran tasawuf terdapat banyak thariqat-thariqat, seperti thariqat at-Tijaniyah, Asy-Syadziliyah, An-Naqsabandiyah dll. Padahal islam hanya mempunyai satu jalan saja yaitu jalan nabi Muhammad saw. Sebagaimana firman-Nya “
Artinya :
Dan Bahawa Sesungguhnya Inilah jalanKu (ugama Islam) Yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan Yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa.Al-An’am : 153.
8.Orang-orang sufi mendakwahkan dirinya dapat menyingkap dan mengetahui ilmu ghaib. Al Qur an mengingkari ungkapan mereka sebagaimana dalam firman-Nya :
Artinya :
Katakanlah lagi: tiada sesiapapun di langit dan di bumi Yang mengetahui perkara Yang ghaib melainkan Allah!" dan tiadalah mereka menyedari Bilakah masing-masing akan dibangkitkan hidup semula (Sesudah mati).An-Naml ; 65
9.Orang-orang sufi mengklaim dan mendakwahkan bahwa mereka sekarang ini dapat melihat Rasul saw dalam keadaan terjaga. Al-Qur an mendustakan anggapan mereka sebagaimana firmanNya :
Artinya : "Supaya Aku mengerjakan amal-amal Yang soleh Dalam perkara-perkara Yang telah Aku tinggalkan". Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataannya itu hanyalah kata-kata Yang ia sahaja Yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka ada alam barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari mereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat). Al Mukminun : 100
Tidak ada satu sahabat nabi saw yang dapat melihat Nabi saw setelah beliau wafatdalam keadaan terjaga. Maka apakah mereka lebih mulia dari pada sahabat nabi saw.
10.Orang-orang sufi sengaja mengadakan lawatan ke kuburan-kuburan untuk bertabarruk(meminta keberkahan) kepada penghuni kuburan ( simati ). Ini adalah kesyirikan. Orang-orang sufi biasanya akan mengadakan "rombongan ziarah" ke kuburan wali (ke masjid Demak misalnya ). Dengan itu mereka telah menyelisihi sabda Rasulullah saw yang artinya :
" tidak boleh melakukan kunjungan ( secara khusus kemasjid-masjid ) kecuali tiga tempat, masjidil haram, masjidku ini ( masjid nabawi ) dan masjidil Aqsha." HR Muttafaqun 'alaih.
11.Orang sufi mengaku bahwa mereka mengambil ilmu dari Allah secara langsung tanpa melalui perantara nabi saw. Ungkapan ini batil dan menyelisihi firman-Nya :
Artinya :Wahai Rasul Allah! sampaikanlah apa Yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu; dan jika Engkau tidak melakukannya (dengan menyampaikan semuanya), maka bermakna tiadalah Engkau menyampaikan perutusanNya; dan Allah jualah akan memeliharamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada kaum Yang kafir. Al Maidah , ayat 67.
Imam Ibnu Katsir berkata; Ayat ini ( surah al Hijr :99 ) menjadi dalil kesalahan kaum mulhid ( pelaku kekufuran ) yang berpendapat bahwa pengertian al-yaqin dalam QS.15/99 adalah ma’rifah. ( Sehingga menurut versi mereka ) siapa saja yang telah mencapai derajat ma’rifah, maka tanggungan taklifnya gugur.
12.Orang-orang sufi berpendapat bahwa Allah menciptakan Nabi saw dari cahayaNya dan dari cahaya Nya tersebut Allah menciptakan segala sesuatu ( Allah menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad demikian anggapan sufi ). Al Qur an mendustakan anggapan mereka sebagaimana firmanNYa :
Artinya :
Katakanlah (Wahai Muhammad): "Sesungguhnya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaKu Bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang satu; oleh itu, sesiapa Yang percaya dan berharap akan pertemuan Dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal Yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan sesiapapun Dalam ibadatnya kepada Tuhannya".QS. Al-Kahfi : 110
13.Orang-orang sufi mengklaim bahwa Allah dapat dilihat didunia ini. Al Qur’an mendustakan anggapan mereka ketika Allah berfirman melalui lisan Nabi Musa As :
Artinya :
Dan ketika Nabi Musa datang pada waktu Yang Kami telah tentukan itu, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaKu (ZatMu Yang Maha Suci) supaya Aku dapat melihatMu". Allah berfirman: "Engkau tidak sekali-kali akan sanggup melihatKu, tetapi pandanglah ke Gunung itu, maka kalau ia tetap berada di tempatnya, nescaya Engkau akan dapat melihatKu", setelah Tuhannya "Tajalla" (menzahirkan kebesarannya) kepada Gunung itu, (maka) "TajalliNya" menjadikan Gunung itu hancur lebur dan Nabi Musa pun jatuh pengsan. setelah ia sedar semula, berkatalah ia: "Maha suci Engkau (Wahai Tuhanku), Aku bertaubat kepadaMu, dan Akulah orang Yang awal pertama beriman (pada zamanku). QS. Al ‘Araf : 143
Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin ( Bab Hikayatul muhibbin wamukassyafaatihim ), ia menyebutkan sebuah kisah , inilah kisahnya : Pada suatu hari Abu Turab berkata : “ Aduhai sekiranya aku dapat melihat Abu Yazid “, maka temannya menimpalinya : “ Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesempatan menemuinya. Karena aku telah melihat Allah Ta’ala, maka aku tidak berkeinginan lagi melihat Abu Yazid.” Abu Turab berkata : “ Celaka kamu apakah kamu akan terpedaya dengan melihat Allah Azza wa jalla? Padahal sekiranya kamu melihat Abu YazidAl-Busthomi ( Abu Yazid Al-Busthomi adalah tokoh sufi zindik wafat tahun 261 H ) sekali saja, maka hal itu lebih bermanfaat bagimu daripada kamu melihat Allah sebanyak 70 kali.” Kemudian Al-Ghazali berkomentar : “ Contoh-contoh Al-Mukasyafaat ( Menyingkap tabir ghaib ) seperti ini hendaknya seorang mukmin tidak mengingkarinya.
Perkataan Al-Ghazali diatas sangat bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah dan akal sehat. Justeru sebaliknya seorang mukmin wajib mengingkarinya.
14.Mereka beranggapakan bahwa Al-Qur’an mempunyai kandungan arti lahir dan arti batin. Arti lahir adalah yang dipahami lafaz-lafaznya, sesuai dengan kaedah-kaedah seperti yang dapat dilihat dalam kitab-kitab tapsir. Adapun arti bathin menurut mereka adalah arti yang tersembunyi dibalik kata-katanya. Inilah yang disebut dengan istilah Ashabul isyarat. Mereka mencela para ulama fekah sebagai orang yang tiak ada perhatian kepada amalan-amalan hati. Ini adalah kaedah yang batil dalam ilmu tafsir,tidak ada istilah arti lahir dan bathin dalam al-Qur’an . Al-Qur’an hanya mempunyai satu arti yang benar seperti apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi saw.
15.Adanya penyimpangan dalam memahami agama disebabkan pemisahan antara syariat dan hakikat. Menurut Ahlu sunnah wal jama’ah syariat adalah hakikat itu sendiri,seperti sholat yang terdiri dari gerakan – gerakan tertentu yang harus ditunaikan dengan disertai perasaan khusyuk dan inabah.
Syariat menurut mereka adalah merupakan sejumlah hukum praktis berupa tuntutan, yaitu apa yang di kenal dengan sebutan “Al-Fiqh Al Islami”, sedangkan hakikat adalah isyarat dan rahasia yang terkandung dibalik hukum tersebut. Menurut mereka bahwa para fuqaha mengajar umat tentang rukun sholat dan sunnahnya. Sedangkan orang sufi memperhatikan aspek amalan hati berupa almahabbah wal kasyyah ( cinta dan takut ).
Ini pada kelompok moderat, adapun untuk kelompok sufi yang ekstrim, bahwa syariat hukum ditujukan kepada masyarakat awam, mengingat keterbatasan daya fikir dan hati mereka dalam menguasai apa yang terkandung dibalik syariat dan hukum agama. Yang menjadi sasaran orang-orang sufi dalam memahami syariat adalah tujuan yang ada dibalik ketetapan syariat tersebut. Bila mana hal itu telah dapat diselami , maka bagi mereka syariat bukan lagi suatu keharusan.Contoh seperti sholat. Hakikat dari pensyariatan sholat adalah terjalinnya komunikasi antara manusia dan Allah secara berterusan. Bilamana komunikasi tersebut bisa terjalin , maka yang bersangkutan tidak perlu lagi mengerjakan sholat, bagi orang yang telah dapat mengenal hakikat maka tidak ada lagi tuntutan untuk mengerjakan syariat.
Pemahaman yang sangat sesat menyesatkan ini bermula dari pada kaedah pemisahan antara syariat dan hakikat, yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
16.Orang-orang sufi sangat mengkultuskan mursyid. Orang-orang sufi telah meletakkan berbagai peraturan umum untuk pendidikan yang harus diikuti oleh para santrinya, seluruh peraturan itu berkisar kepada kepatuhan total dari santri kepada syaikh atau guru. Sehingga dengan peraturan itu santri berubah menjadi robot yang telah di program tanpa kepribadian yang merdeka.Dengan itu berubah menjadi pengikut buta . Jika pendidikan ini selesai, maka para santri dibebani ketentuan lainyang serba khusus seperti dalam berpakaian, berjalan, berguru kepada syaikh dan menempuh thariqat. Diantara peraturan itu :
a.Jadilah engkau di depan syaikh/ guru bagai mayat di tangan orang yang sedang memandikannya.
b.Jangan membantah sehingga tidak terusir.
c.Barang siapa mengatakan kepada gurunya : Mengapa?, maka dia tidak akan lulus ( beruntung )
d.Barang siapa yang tidak mempunyai syaikh, maka syaikhnya adalah syaitan.
Para sahabat nabi saw tidak pernah menerapkan sistim pendidikan yang mengharuskan para santri patuh tanpa reserve, akan tetapi sistim pendidikan yang ditempuh oleh mereka adalah sistim pendidikan kepemimpinan dan kesantrian.Sehingga pernah salah seorang dari mereka bertanya kepada rasulullah saw : Apakah keputusan ini berdasarkan wahyu atau berdasarkan pendapat hasil musyawarah ya Rasulullah saw.
Sifat ta’ashub / fanatik orang-orang sufi kepada syaikh atau mursyidnya menyelisihi firman-Nya :
Artinya : Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui. QS, Al-Hujurat:1
Rasulullah saw bersabda yang artinya :Tidak ada keta’atan kepada seorangpun dalam bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya keta’atan itu dalam hal yang ma’ruf ( kebaikan ). Muttafaqun ‘alaihi.
17.Diantara orang sufi ada yang mengaku wali dan para muridnya mengatakan bahwa mursyidnya adalah wali, dengan didapati beberapa kelebihan yang dianggap sebagai karamah.
Ketahuilah bahwa tidak akan ada seorang dikatakan wali Allah tetapi dalam keyakinan dan amalan bertentangan dengan Allah dan RasulNya, kecuali itu adalah istidraj ( memperdayakan ) bagi mereka agar tetap berjalan kepada kesesatan. Itu adalah adalah diantara perbuatan syaitan. Sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
Dan sesiapa Yang berpaling dari pengajaran (Al-Quran Yang diturunkan oleh Allah) Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya Syaitan (yang menghasut dan menyesatkannya), lalu menjadilah Syaitan itu Temannya Yang tidak renggang daripadanya. QS. Az-Zukhruf : 36
18. Menurut kajian Dr Qassim Ganny, dalam "Tarikh at Tasawuf fil Islam",
faktor ideologi tarikat sufi/tasawuf meresap dalam masyarakat Islam adalah seperti berikut:
1. Ia telah diresapkan ke dalam ajaran Islam oleh musuh-musuh Islam pada zaman perluasan Islam ke Rom dan Iran (Parsi).
2. Wujud persamaan doktrin dalam ideologi tarikat sufi/tasawuf dengan kepercayaan mistik agama Hindu-Buddha. Sufi/tasawuf berasal dari Agama Majusi yang meresap masuk apabila ramai penganut dan para pendita Agama Hindu dan Buddha memeluk agama Islam.
3. Sufi (tarikat tasawuf) tumbuh dari kesan pemikiran (fikrah) falsafah, tidak terkecuali falsafah Neoplatonisme. Adanya persamaan antara teori falsafah tarikat falsafah Greek (Yunani).
4. Sufi (tasawuf) terpengaruh dari ajaran Masihi, Yahudi dan pendita-penditanya. Menghidupkan ideologi tersebut setelah mereka memeluk agama Islam, sama ada dengan kesedaran (keikhlasan) atau secara nifak yang bertujuan jahat.
5. Sufi (tasawuf) pada kenyataannya, diambil dan terpengaruh dari teori falsafah orang-orang kafir, terutama dari Agama Hindu-Buddha yang tujuan asalnya menggunakan falsafah tersebut untuk menentang kaum filosof yang menyerang Islam melalui falsafah.
6. Tarikat sufi (tasawuf) dan segala tarikat kebatinan yang terdapat dalam kepercayaan masyarakat Islam yang telah menjadi amalan dan pegangan mereka, pada asalnya adalah ciptaan yang dipelopori oleh Yahudi dan diresapkan ke dalam akidah Islamiyah. Gerakan ini diketuai oleh seorang pendita Yahudi, iaitu Abdullah bin Saba (berasal dari Yaman). Gerakan konspirasi jahat ini diprogramkan semata-mata untuk merosakkan akidah, ibadah, memecah-belah perpaduan Islam, mengkucar-kacirkan barisan ummah serta untuk melemahkan kekuatan dan keutuhan Daulah Islamiyah.
19. Banyak orang menyangka bahawa ajaran tasawuf itu dari Islam, dan banyak pula orang menyangka bahawa antara penganut sufi ada yang menjadi wali.
Kajilah, ucapan-ucapan mereka dibawah ini menunjukkan betapa jauhnya orang-orang sufi dari Islam dan ajaran al-Quran.
(1). Syeikh Muhayiddin Ibn Arabi yang dikuburkan di Damaskus (Syiria) adalah salah seorang tokoh besar sufi, dia berkata di dalam kitabnya Al-Futuhaat al-Makiyah:
"Berapa banyak hadis menjadi sahih dari jalan periwayatnya sampai kepada al-Makaasyif (orang yang menyingkap tabir ghaib) kerana sudah ditentukan tanda-tandanya. Lalu ia bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa-sallam tentang darjat hadis tersebut, maka baginda mengingkarinya lantas bersabda: Saya tidak pernah mengatakannya dan saya juga tidak pernah menghukumi dengannya".
Kitab hadis masyhur karangan al-Ajluny amat merbahaya dan ucapan semacam ini sangat merbahaya sekali dan menghina hadis nabi serta merendahkan ulama-ulama hadis seperti Imam Bukhari, Muslim dan lain-lainnya.
(2). Ibn Arabi telah berkata tentang kesatuan antara agama-agama seperti agama Yahudi, Nasrani dan Majusi dan Islam:
"Dahulu saya membantah temanku kerana agamaku tidak menjadi agamanya. Kemudian hatiku boleh menerima atas semua keadaan itu, kini hatiku jadi padang gembalaan orang-orang kesamaran, menjadi kuil para pendita, rumah untuk penyembah patung, Ka'bah untuk orang tawaf, papan untuk menulis Taurat dan Mushaf menulis ayat al-Quran".
Al-Quran mengingkari perkataan Ibn Arabi ini dengan firman:
"Barangsiapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi". ALI-IMRAN 3: 85.
(3). Ibn Arabi beriktikad bahawa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah. Sehingga antara yang satu dengan yang lain saling mengibadahi. Ia memperkatakan tentang hal ini dengan ucapannya:
"Dia (Allah) memujiku dan akupun memujiNya, Dia beribadah kepadaku dan akupun beribadah kepadaNya".
(4). Ibn Arabi dalam kitabnya al-Fusyush berkata: "Sesungguhnya apabila seseorang suami menyetubuhi isterinya, maka sesungguhnya dia sedang menyetubuhi Allah".
(5). An-Nablisi menjelaskan maksud ungkapan Ibnu Arabi di atas: "Sesungguhnya ia sedang menikahi al-haq (Allah)."
(6). Abu Yazid al-Bustami mendakwa berbicara secara langsung kepada Allah: "Dan hiasilah aku dengan ke EsaanMu, ikut sertakanlah aku ke dalam rabbaniyah (sifat ketuhanan)Mu, sehingga apabila hamba-hambaMu melihatku mereka akan berkata: Kami melihatMu".
Sehingga ia berkata kepada dirinya sendiri: "Maha suci aku, maha suci aku, alangkah agungnya kedudukanku, al-Jannah (syurga) hanyalah permainan anak-anak kecil."
(7). Jalalluddin ar-Rumi berkata: "Saya adalah seorang muslim tapi juga Nasrani, saya seorang Brahmana juga Zorodisty. Aku tidak mempunyai tempat ibadah kecuali satu masjid, gereja dan rumah berhala."
(8). Ibnu al-Faridh berkata: "Sesungguhnya Allah menampakkan diri kepada Qais dalam bentuk Laila. Ia menampakkan diri kepada Kutsair dalam bentuk Azah dan ia menampakkan diri kepada Jumail dalam bentuk Busainah".
Apa yang tersebut dalam syair at-Taubah yang terkenal adalah bukti bahawa dia mengakui penampakan-penampakan Allah. (Ibnu al-Faridh yang sufi tersebut memiliki kesamaan iktiqad dengan agama Hindu (reinkarnasi).
(9). Rabiah al-Adawiyah pernah ditanya: Apakah kamu membenci syaitan? Dia menjawab: "Kecintaanku hanya untuk Allah, maka tidak pernah tersisa dalam hatiku kebencian kepada seorangpun (walaupun terhadap syaitan)".
Dia (Rabiah al-Adawiyah kononnya) pernah berbicara dengan Allah Ta'ala: "Jika aku beribadah kepadaMu lantaran rasa takut dari api nerakaMu, maka bakarlah diriku dengannya (api neraka itu)."
Padahal Allah Ta'ala telah kerkali-kali mengingatkan supaya kita berwaspada dari api neraka sebagaimana firmanNya: "Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". AT-TAHRIM 66:6
Ramai manusia yang berkata tentang (keperibadian) Rabiah: "Sesungguhnya dia adalah seorang wanita penyanyi (artis) atau penari. Lalu bagaimana kita boleh mengambil ucapan-ucapan yang bertentangan dengan al-Quran?
(10). As-Syeikh Usman al-Burhani, seorang sufi kontemporer dari Sudan, dia menulis sebuah buku berjudul "Intisaru Aulia'ir-Rahman 'Ala Aulia'isy-Syaitan" yang ia maksudkan adalah orang-orang Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin.
20.Golongan sufi/tasawuf telah membawa ramai penganutnya ke alam fantasi, khayalan dan syatahat yang bertentangan dengan syara.
Teori ajaran kesufian ini seolah-olah menginginkan agar agama Islam menjadi suatu metos yang seakan-akan serupa dengan hikayat seribu satu malam yang dipenuhi dengan lamunan yang tidak jejak di alam nyata.
Mereka melakukan pemujaan secara ghulu terhadap syeikh-syeikh yang disangka mempunyai keramat dan dianggap wali, sama ada yang masih hidup atau yang sudah mati.
Mengkeramatkan kubur para syeikh mereka yang dianggap wali serta mencipta cerita-cerita keluar-biasaan para wali sufi sehingga semuanya itu hampir serupa dengan keajaiban dalam cerita dongeng dewa-dewa Buddha/Hindu yang tidak ada kena-mengena dengan agama Islam.
Dalam menanggapi ajaran tasawuf biasanya masyarakat akan ada yang pro dan kontra. Masing-masing akan mempertahankan pendapatnya dan merujuk kepada para ulamaknya. Melihat adanya perbedaan seperti ini, sepatutnya kita sebagai ahlu sunnah wal jamaah ( pengikut Nabi saw dan para sahabatnya ) tidak perlu panik, karena Nabi aw sendiri telah memberitahukan kepada kita bahwa perbedaan akan berlaku, bahkan Nabi saw juga memberitahu bagaimana cara kita selamat dari berbagai perbedaan yaitu untuk berpegang kepada sunnahnya dan sunnah para sahabatnya.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
( فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ )
Maksudnya : “ Sesungguhnya, orang yang hidup di antara kalian selepasku akan melihat banyak perselisihan yang timbul ; maka tetaplah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa al-Mahdiyyin al-Rashidiin, berpeganglah dengannya, dan gigitlah ia dengan geraham …“. [HR Abu Daud : 4607, al-Tirmidzi : no.2676]
Untuk menghadapi perbedaan tentang pro dan kontra ajaran tasawuf, maka saya mengajak saudara seislam untuk memilih dan mengambil pendapat yang sesuai dengan amalan nabi saw dan para sahabatnya, serta meninggalkan pendapat yang tidak di amalkan nabi saw dan para sahabatnya
Banyak orang menyangka bahwa ajaran tasawuf itu berasal dari islam, sebagaimana banyak yang menyangka bahwa diantara sufi ada yang menjadi wali Allah. Saya berharap agar kaum muslim mengkaji kembali ucapan dan amalan mereka sehingga dapat mengetahui betapa jauhnya mereka orang-orang sufi dari ajaran Islam.
Apa yang menyebabkan kaum sufi terjebak kepada kesesatan padahal mereka juga berkata bahwa mereka berpegang pada Qur’an dan Hadis?...Yang menyebabkan mereka sesat dalam ajarannya adalah karena mereka memahami Al-Qur’an dan Hadis tidak mengikut paham Nabi saw dan para sahabatnya. Mereka hanya mengikut kepada paham guru/ mursyidnya saja.
Berbagai kesalahan kaum sufi yang tidak ada contoh dari Nabi saw :
1.Munculnya istilah tasawuf adalah nama baru yang memecah belah kaum muslimin. Makna tasawuf atau shufi itu sendiri tidak mempunyai dasar yang jelas. Seperti ada yang mengatakan bahwa kata “ shufiyah “ diambil dari kata shufiyaa. Shufiyah bukan diambil dari kata “As-Shofa “, yang akan mejadi “Shofaa’i “ dan bukan “Shufi”. Terkadang antara ajaran tasawuf yang awal-awal dengan ajaran tasawuf yang akhi-akhir/ sekarang ini terjadi perbedaan. Bahkan ajaran tasawuf pada hari ini kesalahannya lebih banyak dari pada pendahulunya.
Di dalam al-Quran, al-Hadith dan Bahasa Arab tidak terdapat kalimah tasawuf atau sufi, atau suatu kalimah yang memberikan makna tertentu dari kalimah sufi atau tasawuf tersebut. Kalimah ini (sufi/tasawuf) berjaya dimasukkan ke dalam Bahasa Arab (diArabkan) oleh aktivis tasawuf melalui saluran falsafah yang mereka amal dan perjuangkan.
Apa yang terdapat di dalam al-Quran atau al-Hadith hanyalah kalimah takwa dan zuhud yang berbeza maksud, tujuan dan prinsipnya dengan tasawuf atau sufi, takwa dan zuhud melarang pelakunya dari meninggalkan syariat walau seinci sekalipun. Namun ada yang menyangka bahawa kedua-dua kalimah ini mempunyai sedikit persamaan.
Dalil tentang zuhud telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wa-Ta'ala dengan pengertian dan penjelasannya yang sebenar: "Dan mereka merasa tidak tertarik hati padanya". YUSUF, 12:20.
Kalimah "zuhud" di ayat ini, bererti: "Tidak tertarik, tidak terikat, tidak terpengaruh dan tidak terasa cinta kepada sesuatu yang bersifat kebendaan". Walaupun begitu ia tidak pula ditinggalkan kerana kebendaan tersebut boleh dijadikan kepentingan dalam kehidupan di dunia walaupun bukan menjadi tujuan utama. Zuhud merupakan satu daripada amalan para nabi, para rasul, para sahabat dan orang-orang soleh.
Zuhud juga bukanlah satu ajaran yang menekankan supaya sentiasa mencari-cari Allah, kerana orang-orang yang zuhud sudah tahu di mana Allah berada melalui ilmu dan keimanannya terhadap ayat-ayat al-Quran yang telah mengkhabarkan di mana Allah berada. Antara ayat penerangan yang dimaksudkan ialah ayat di bawah ini:
اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى.
"Dialah (Allah) yang bersifat Amat Pemurah, bersemayam di atas 'Arsy". TAHA, 20:5.
Imam Malik rahimahullah telah menjelaskan tentang "Arsy Allah" dan "Istiwa" yang disebutkan oleh ayat di atas iaitu:
"A1-Istiwa itu maklum, caranya tidak diketahui (majhul), beriman dengannya wajib dan mempersoalkannya (bertanya tentangnya) adalah bid'ah". (Al-Baihaqi, (اصول الاعتقاد), hlm. 166. & Ibn Taimiyah, Fatawa, jld. 5, 365)
Dalam sebuah hadith Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam telah bertanya kepada seorang budak perempuan:
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ : فِى السَّمَاءِ . قَالَ : مَنْ اَنَا ؟ قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ الله . قَالَ : اَعْتِقْهَا فَاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
"Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam pernah bertanya kepada seorang hamba perempuan: Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasulullah bertanya lagi: Siapa aku? Dia menjawab: Engkau adalah Rasulullah. Setelah itu Rasulullah bersabda: Merdekakanlah dia kerana dia seorang yang beriman". (H/R Muslim, 836, al-Masajid wa Maudu'us as-Solah. An-Nasaii, (1203), Kitab as-Sahwum. Abu Daud (795), as-Solah.)
Orang-orang sufi/tasawuf berusaha mencari Allah di dunia. Ada yang mendakwa telah melihat Allah dengan kedua biji matanya dan ada pula yang mengakui bersatu dengan Allah. Dakwaan ini adalah dakwaan yang bohong dan terlalu keji. Ada pula yang mengakui dirinya sebagai tuhan dengan beralasan melalui teori hulul atau hululiah (الحلول او الحلولية). Khurafat ini telah disuarakan oleh Al-Bustami:
طلبت الله ستين سنة ، فاذا انا هو.
"Aku mencari-cari Allah selama enam puluh tahun, tiba-tiba aku dapati akulah dia (Allah). ( البدء والتاريخ , jld. 5. p. 91)
Oleh kerana keasyikan penganut sufi/tasawuf mencari Allah yang berpandukan kepada akal fikiran (hawa nafsu), mereka mudah menganggap sesuatu yang aneh dan kelihatan baik sebagai tuhan lalu disembah (sujud padanya):
وَاِذَا رَاَوْا صُوْرَةً حَسَنَةً خَرُّوْا لَهُ سَجُّدًا ، وَكَثِيْرٌ مِنْ اَهْلِ الْهِنْدِ يَفْعَلُوْنَ هَذَا.
"Apabila mereka melihat sesuatu yang dirasakan baik, mereka segera sujud kepadanya. Sebagaimana kebanyakan penganut Hindu melakukan seperti ini". ( البدء والتاريخ , jld. 5. p. 91)
Orang-orang yang zuhud tidak mencari-cari Allah kerana mereka tahu di mana Allah. Mereka menjadikan zuhud sebagai tali penghubung segala amalan dan perasaan cintanya kepada Allah dan juga sebagai tali penghubung antara sesama manusia.AHLI SUNNAH WAL JAMAAH
Syeikhul Islam Muhaiddin an-Nawawi as-Syafie rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul "Ar Raddatul ar Raudah":
وَمَنْ يَدِيْنُ بِهَذَا فَهُوِ زِنْدِيْق ، اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَق : صُوْفِىفَالصُّوْفِيَّةُ مُرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ اْلاِيْمَان الْحَقّ.
"Sesiapa yang beragama (menganut agama) sufi-tasawuf (yang dipelopori oleh al Hallaj) maka dia adalah zindik, atau dengan ibarat yang lebih jelas : Dia sufis, maka penganut sufi (seperti ini) samalah seperti seseorang yang menentang keimanan". (Burhannuddin al-Baqii,pمصرع التصوف,31)
Imam Syafie rahimahullah pernah memperkatakan tentang kebodohan sufi/tasawuf:
اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ ، وَلَوْ تَصَوََّفَ رَجُلٌ اَوَّل النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْر اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَق.
"Tasawuf dibina dia atas kemalasan, jika sekiranya seorang lelaki menganut tasawuf di pagi hari, tidak akan sempai ke Zohor dia akan jadi seorang yang biul/goblok". (Lihat: مصرع التصوف او تنبيه الغبى الى تكفير ابن عربي Bahruddin al-Baihaqi. Tahqia Abdulrahman al-Wakil.)
Dizaman Hasan Basri rahimahullah (21H) lahir seorang yang mula-mula digelar sufi yang pertama, iaitu Abu Hasyim al-Kufi berasal dari Kufah. Dia banyak melahirkan kata-kata yang anih, pelik dan bertentangan dengan naluri manusia dan syara. Dan Imam Syafie rahimahullah terlalu benci terhadap keekstriman, keradikalan dan kezindikan Sufi/tasawuf, beliau berkata:
"Saya meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan". (Lihat: تلبيس ابليس hlm. 370. Ibn Jauzi.)
Amalan Sufi/tasawuf dianggap oleh Imam Syafie sebagai amalan yang fasik dan beliau banyak memperkatakan tentang penyelewengan kaum sufi/tasawuf, antaranya beliau pernah berkata:
"Tiada yang sanggup melakukan amalan itu (sufi/tasawuf dan tahlilan) kecuali orang yang fasik" (Lihat: حقيقةالتصوف وموقف الصوفية من اصول العبادة والدين Syeikh Soleh Bin Fauzan al-Fauzan.)
Menurut kekarutan Ibnu Arabi lagi di dalam teori wahdatul wujudnya: "Allah itu adalah segala-galanya, tidak ada sesuatu kecuali semuanya itu adalah Allah, oleh kerana itu apa sahaja yang disembah adalah Allah, sama ada berbentuk berhala, patung dan sebagainya kerana itu semua adalah hakikat Allah". (Lihat: مصرع التصوف. Hlm. 49-50. Burhanuddin al-Baihaqi.)
Abu Yazid al-Bustami pula adalah orang sufi pertama yang mempunyai fahaman ittihad dan menyebar-luaskan ajaran ini. Antara kata-kata beliau yang ditentang oleh ulama akidah ialah:
اِنِّيْ اَنَا اللهُ لاَ اِلَهَ اَلاَّ اَنَا فَاعْبُدُوْنِيْ
"Sesungguhnya akulah Allah, tidak ada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku".
Disuatu kejadian pernah berlaku kepada Abu Yazid ucapan yang bertentangan dengan syara:
اَتَى رَجُلٌ اَبَا يَزِيْدَ ، وَدَقَّ عَلَيْهِ الْبَابَ فَقَالَ : مَنْ تَطْلُبُ؟ قَالَ : اَبَا يَزِيْدُ قَالَ : مُرَّ فَلَيْسَ فِى الْبَيْتِ غَيْرُ اللهِ عِزَّوَجَلَّ.
"Seorang lelaki mendatangi rumah Abu Yazid dan mengetuk pintunya. Abu Yazid bertanya: Siapa yang engkau cari? Jawabnya: Abu Yazid. Lalu Abu Yazid berkata: Pergilah! Di rumah ini tak ada sesiapa kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi".
Di dalam perkataan Abu Yazid di atas menunjukkan bahawa beliau mengaku sebagai Allah. Pernah juga dia berkata:
لَيْسَ فِى الْجُبَّةِ اِلاَّ اللهُ
"Tiada (apa-apa) di dalam jubahku (bajuku) selain Allah". (Lihat: Analisa Kritis Terhadap Tasawuf. hlm. 18-19. Samudi Abdullah. Pustaka Nasional. Singapura.)
Mereka yang mempunyai akal yang sihat dan memahami persoalan syara walaupun sedikit, tentu mengingkari semua kenyataan para tokoh-tokoh sufi di atas kerana bertentangan dengan syara.
2.Berbai’at kepada mursyid sebelum mengikuti tarekat. Berbaiat seperti yang diamalkan para kaum sufi tidak ada contoh dari nabi saw dan para sahabatnya. Orang-orang terdahulu belajar agama kepada para sahabat tanpa adanya bait khusus sebagaimana amalan pada mursyid thariqat.
3.Berdzikir dengan melafazkan “ Allah” saja tanpa diiringi dengan kalimah lain seperti Allahu akbar, alhamdulillah dll itu tidak di contohkan Nabi saw. Begitu juga dengan menentukan bilangannya, menentukan tempat khusus, cara khusus sewaktu melafadzkan dzikir.
4.Berdzikir dengan lafadz “Laa Ilaaha” saja,atau melafazkan kalimah “Illallahu” saja dengan tidak menyebut semuanya seperti “Laa ilaaha Illallahu”. Dan ada juga yang berdzikir dengan melafazkan hanya kalimah “hu”. Amalan seperti ini juga tidak dicontohkan Nabi saw dan para sahabatnya.
Menurut kaum sufi juga bahwa Dzikir Tauhid (juga dzikir tahlil atau dzikir nafty wa itsbat) terdiri atas bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat la ilaha illa llah, yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi la permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata berikutnya, illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara, memusnahkan segala kotoran. Tatacara melafadzkan dzikir kalimah tauhid ini tidak ada contohpun dari Nabi saw dan para sahabatnya.
Segala amalan seperti berbai'at kepada mursyid sebelum beribadah, serta berdzikir dengan lafaz "Allah" saja dengan cara dan bilangan serta tempat yang khusus adalah tertolak pahalanya, karena tidak di contohkan nabi saw. Sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya :
"Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak pernah kami perintahkan, maka amalannya tertolak." HR Muslim.
5.Ajaran tasawuf mempunyai banyak thariqat-thariqat ( suatu cara/ jalan secara khusus yang dirancang oleh syaikh atau pemimpinnya untuk para muridnya berupa kewajiban dan metode yang harus di pegangi oleh para muridnya secara ketat seperti thariqat At Tijaniyah, Al Qadariyah, Asy-Syaadziliyah, Ar-Rifaiyah, jistiyah dll dimana setiap thariqat menklaim bahwa thariqatnya yang benar dan yang lain salah. Islam melarang perpecahan seperti ini. Seperti fakta perkataan salah satu syaikh sufi dibawah ini :
Syekh Abi Hasan Asy-Syadzili mengatakan: “Barangsiapa yang tidak ikut masuk thoriqot-ku yaitu thoriqot shufiyyah (thoriqot-nya orang-orang ahli tasawwuf) maka ketika mati, orang itu membawa dosa besar karena hukumnya fardlu‘ain. Oleh karena itu, maka wajib untuk pergi mencari seorang guru Mursyid untuk minta talqin dzikir, dan jika sudah menemukan Mursyid yang telah masyhur dalam mengobati muridnya, namun walaupun orang yang mau belajar itu dilarang oleh orang tuanya maka ia wajib untuk berguru.“
Sikap mereka yang berpecah dan saling membanggakan diri didalam perkara yang salah ini bertentangan dengan firman Allah SWT :
Artinya :
31. Hendaklah kamu (Wahai Muhammad dan pengikut-pengikutmu) sentiasa rujuk kembali kepada Allah (dengan mengerjakan amal-amal bakti) serta bertaqwalah kamu kepadanya; dan kerjakanlah sembahyang Dengan betul sempurna; dan janganlah kamu menjadi dari mana-mana golongan orang musyrik -
32. Iaitu orang-orang Yang menjadikan fahaman ugama mereka berselisihan mengikut kecenderungan masing-masing serta mereka pula menjadi berpuak-puak; tiap-tiap puak bergembira Dengan apa Yang ada padanya (dari fahaman dan amalan Yang terpesong itu). QS. Ar-Rum : 31-32
6.Orang-orang sufi berdoa kepada selain Allah, berupa para wali baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Mereka dalam doa berkata :” Wahai jailany, wahai Rifa’i dan wahai rasulullah saw , tolong kami selamatkan kami, hanya kepadamu tempat bersandar”.
Allah melarang kita berdoa kepada selain Dia, dan amalan ini dikatakan syirik. Sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
Dan janganlah Engkau (Wahai Muhammad) menyembah atau memuja Yang lain dari Allah, Yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepadamu dan juga tidak dapat mendatangkan mudarat kepadamu. oleh itu, sekiranya Engkau mengerjakan Yang demikian, maka pada saat itu menjadilah Engkau dari orang-orang Yang berlaku zalim (terhadap diri sendiri Dengan perbuatan syirik itu).Q.S Yunus : 106.
7.Didalam ajaran tasawuf terdapat banyak thariqat-thariqat, seperti thariqat at-Tijaniyah, Asy-Syadziliyah, An-Naqsabandiyah dll. Padahal islam hanya mempunyai satu jalan saja yaitu jalan nabi Muhammad saw. Sebagaimana firman-Nya “
Artinya :
Dan Bahawa Sesungguhnya Inilah jalanKu (ugama Islam) Yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan Yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa.Al-An’am : 153.
8.Orang-orang sufi mendakwahkan dirinya dapat menyingkap dan mengetahui ilmu ghaib. Al Qur an mengingkari ungkapan mereka sebagaimana dalam firman-Nya :
Artinya :
Katakanlah lagi: tiada sesiapapun di langit dan di bumi Yang mengetahui perkara Yang ghaib melainkan Allah!" dan tiadalah mereka menyedari Bilakah masing-masing akan dibangkitkan hidup semula (Sesudah mati).An-Naml ; 65
9.Orang-orang sufi mengklaim dan mendakwahkan bahwa mereka sekarang ini dapat melihat Rasul saw dalam keadaan terjaga. Al-Qur an mendustakan anggapan mereka sebagaimana firmanNya :
Artinya : "Supaya Aku mengerjakan amal-amal Yang soleh Dalam perkara-perkara Yang telah Aku tinggalkan". Tidak! Masakan dapat? Sesungguhnya perkataannya itu hanyalah kata-kata Yang ia sahaja Yang mengatakannya, sedang di hadapan mereka ada alam barzakh (yang mereka tinggal tetap padanya) hingga hari mereka dibangkitkan semula (pada hari kiamat). Al Mukminun : 100
Tidak ada satu sahabat nabi saw yang dapat melihat Nabi saw setelah beliau wafatdalam keadaan terjaga. Maka apakah mereka lebih mulia dari pada sahabat nabi saw.
10.Orang-orang sufi sengaja mengadakan lawatan ke kuburan-kuburan untuk bertabarruk(meminta keberkahan) kepada penghuni kuburan ( simati ). Ini adalah kesyirikan. Orang-orang sufi biasanya akan mengadakan "rombongan ziarah" ke kuburan wali (ke masjid Demak misalnya ). Dengan itu mereka telah menyelisihi sabda Rasulullah saw yang artinya :
" tidak boleh melakukan kunjungan ( secara khusus kemasjid-masjid ) kecuali tiga tempat, masjidil haram, masjidku ini ( masjid nabawi ) dan masjidil Aqsha." HR Muttafaqun 'alaih.
11.Orang sufi mengaku bahwa mereka mengambil ilmu dari Allah secara langsung tanpa melalui perantara nabi saw. Ungkapan ini batil dan menyelisihi firman-Nya :
Artinya :Wahai Rasul Allah! sampaikanlah apa Yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu; dan jika Engkau tidak melakukannya (dengan menyampaikan semuanya), maka bermakna tiadalah Engkau menyampaikan perutusanNya; dan Allah jualah akan memeliharamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada kaum Yang kafir. Al Maidah , ayat 67.
Imam Ibnu Katsir berkata; Ayat ini ( surah al Hijr :99 ) menjadi dalil kesalahan kaum mulhid ( pelaku kekufuran ) yang berpendapat bahwa pengertian al-yaqin dalam QS.15/99 adalah ma’rifah. ( Sehingga menurut versi mereka ) siapa saja yang telah mencapai derajat ma’rifah, maka tanggungan taklifnya gugur.
12.Orang-orang sufi berpendapat bahwa Allah menciptakan Nabi saw dari cahayaNya dan dari cahaya Nya tersebut Allah menciptakan segala sesuatu ( Allah menciptakan segala sesuatu dari Nur Muhammad demikian anggapan sufi ). Al Qur an mendustakan anggapan mereka sebagaimana firmanNYa :
Artinya :
Katakanlah (Wahai Muhammad): "Sesungguhnya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaKu Bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan Yang satu; oleh itu, sesiapa Yang percaya dan berharap akan pertemuan Dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal Yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan sesiapapun Dalam ibadatnya kepada Tuhannya".QS. Al-Kahfi : 110
13.Orang-orang sufi mengklaim bahwa Allah dapat dilihat didunia ini. Al Qur’an mendustakan anggapan mereka ketika Allah berfirman melalui lisan Nabi Musa As :
Artinya :
Dan ketika Nabi Musa datang pada waktu Yang Kami telah tentukan itu, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaKu (ZatMu Yang Maha Suci) supaya Aku dapat melihatMu". Allah berfirman: "Engkau tidak sekali-kali akan sanggup melihatKu, tetapi pandanglah ke Gunung itu, maka kalau ia tetap berada di tempatnya, nescaya Engkau akan dapat melihatKu", setelah Tuhannya "Tajalla" (menzahirkan kebesarannya) kepada Gunung itu, (maka) "TajalliNya" menjadikan Gunung itu hancur lebur dan Nabi Musa pun jatuh pengsan. setelah ia sedar semula, berkatalah ia: "Maha suci Engkau (Wahai Tuhanku), Aku bertaubat kepadaMu, dan Akulah orang Yang awal pertama beriman (pada zamanku). QS. Al ‘Araf : 143
Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin ( Bab Hikayatul muhibbin wamukassyafaatihim ), ia menyebutkan sebuah kisah , inilah kisahnya : Pada suatu hari Abu Turab berkata : “ Aduhai sekiranya aku dapat melihat Abu Yazid “, maka temannya menimpalinya : “ Sesungguhnya aku tidak mempunyai kesempatan menemuinya. Karena aku telah melihat Allah Ta’ala, maka aku tidak berkeinginan lagi melihat Abu Yazid.” Abu Turab berkata : “ Celaka kamu apakah kamu akan terpedaya dengan melihat Allah Azza wa jalla? Padahal sekiranya kamu melihat Abu YazidAl-Busthomi ( Abu Yazid Al-Busthomi adalah tokoh sufi zindik wafat tahun 261 H ) sekali saja, maka hal itu lebih bermanfaat bagimu daripada kamu melihat Allah sebanyak 70 kali.” Kemudian Al-Ghazali berkomentar : “ Contoh-contoh Al-Mukasyafaat ( Menyingkap tabir ghaib ) seperti ini hendaknya seorang mukmin tidak mengingkarinya.
Perkataan Al-Ghazali diatas sangat bertentangan dengan Al-Qur’an, sunnah dan akal sehat. Justeru sebaliknya seorang mukmin wajib mengingkarinya.
14.Mereka beranggapakan bahwa Al-Qur’an mempunyai kandungan arti lahir dan arti batin. Arti lahir adalah yang dipahami lafaz-lafaznya, sesuai dengan kaedah-kaedah seperti yang dapat dilihat dalam kitab-kitab tapsir. Adapun arti bathin menurut mereka adalah arti yang tersembunyi dibalik kata-katanya. Inilah yang disebut dengan istilah Ashabul isyarat. Mereka mencela para ulama fekah sebagai orang yang tiak ada perhatian kepada amalan-amalan hati. Ini adalah kaedah yang batil dalam ilmu tafsir,tidak ada istilah arti lahir dan bathin dalam al-Qur’an . Al-Qur’an hanya mempunyai satu arti yang benar seperti apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi saw.
15.Adanya penyimpangan dalam memahami agama disebabkan pemisahan antara syariat dan hakikat. Menurut Ahlu sunnah wal jama’ah syariat adalah hakikat itu sendiri,seperti sholat yang terdiri dari gerakan – gerakan tertentu yang harus ditunaikan dengan disertai perasaan khusyuk dan inabah.
Syariat menurut mereka adalah merupakan sejumlah hukum praktis berupa tuntutan, yaitu apa yang di kenal dengan sebutan “Al-Fiqh Al Islami”, sedangkan hakikat adalah isyarat dan rahasia yang terkandung dibalik hukum tersebut. Menurut mereka bahwa para fuqaha mengajar umat tentang rukun sholat dan sunnahnya. Sedangkan orang sufi memperhatikan aspek amalan hati berupa almahabbah wal kasyyah ( cinta dan takut ).
Ini pada kelompok moderat, adapun untuk kelompok sufi yang ekstrim, bahwa syariat hukum ditujukan kepada masyarakat awam, mengingat keterbatasan daya fikir dan hati mereka dalam menguasai apa yang terkandung dibalik syariat dan hukum agama. Yang menjadi sasaran orang-orang sufi dalam memahami syariat adalah tujuan yang ada dibalik ketetapan syariat tersebut. Bila mana hal itu telah dapat diselami , maka bagi mereka syariat bukan lagi suatu keharusan.Contoh seperti sholat. Hakikat dari pensyariatan sholat adalah terjalinnya komunikasi antara manusia dan Allah secara berterusan. Bilamana komunikasi tersebut bisa terjalin , maka yang bersangkutan tidak perlu lagi mengerjakan sholat, bagi orang yang telah dapat mengenal hakikat maka tidak ada lagi tuntutan untuk mengerjakan syariat.
Pemahaman yang sangat sesat menyesatkan ini bermula dari pada kaedah pemisahan antara syariat dan hakikat, yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
16.Orang-orang sufi sangat mengkultuskan mursyid. Orang-orang sufi telah meletakkan berbagai peraturan umum untuk pendidikan yang harus diikuti oleh para santrinya, seluruh peraturan itu berkisar kepada kepatuhan total dari santri kepada syaikh atau guru. Sehingga dengan peraturan itu santri berubah menjadi robot yang telah di program tanpa kepribadian yang merdeka.Dengan itu berubah menjadi pengikut buta . Jika pendidikan ini selesai, maka para santri dibebani ketentuan lainyang serba khusus seperti dalam berpakaian, berjalan, berguru kepada syaikh dan menempuh thariqat. Diantara peraturan itu :
a.Jadilah engkau di depan syaikh/ guru bagai mayat di tangan orang yang sedang memandikannya.
b.Jangan membantah sehingga tidak terusir.
c.Barang siapa mengatakan kepada gurunya : Mengapa?, maka dia tidak akan lulus ( beruntung )
d.Barang siapa yang tidak mempunyai syaikh, maka syaikhnya adalah syaitan.
Para sahabat nabi saw tidak pernah menerapkan sistim pendidikan yang mengharuskan para santri patuh tanpa reserve, akan tetapi sistim pendidikan yang ditempuh oleh mereka adalah sistim pendidikan kepemimpinan dan kesantrian.Sehingga pernah salah seorang dari mereka bertanya kepada rasulullah saw : Apakah keputusan ini berdasarkan wahyu atau berdasarkan pendapat hasil musyawarah ya Rasulullah saw.
Sifat ta’ashub / fanatik orang-orang sufi kepada syaikh atau mursyidnya menyelisihi firman-Nya :
Artinya : Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya, dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui. QS, Al-Hujurat:1
Rasulullah saw bersabda yang artinya :Tidak ada keta’atan kepada seorangpun dalam bermaksiat kepada Allah, karena sesungguhnya keta’atan itu dalam hal yang ma’ruf ( kebaikan ). Muttafaqun ‘alaihi.
17.Diantara orang sufi ada yang mengaku wali dan para muridnya mengatakan bahwa mursyidnya adalah wali, dengan didapati beberapa kelebihan yang dianggap sebagai karamah.
Ketahuilah bahwa tidak akan ada seorang dikatakan wali Allah tetapi dalam keyakinan dan amalan bertentangan dengan Allah dan RasulNya, kecuali itu adalah istidraj ( memperdayakan ) bagi mereka agar tetap berjalan kepada kesesatan. Itu adalah adalah diantara perbuatan syaitan. Sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
Dan sesiapa Yang berpaling dari pengajaran (Al-Quran Yang diturunkan oleh Allah) Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya Syaitan (yang menghasut dan menyesatkannya), lalu menjadilah Syaitan itu Temannya Yang tidak renggang daripadanya. QS. Az-Zukhruf : 36
18. Menurut kajian Dr Qassim Ganny, dalam "Tarikh at Tasawuf fil Islam",
faktor ideologi tarikat sufi/tasawuf meresap dalam masyarakat Islam adalah seperti berikut:
1. Ia telah diresapkan ke dalam ajaran Islam oleh musuh-musuh Islam pada zaman perluasan Islam ke Rom dan Iran (Parsi).
2. Wujud persamaan doktrin dalam ideologi tarikat sufi/tasawuf dengan kepercayaan mistik agama Hindu-Buddha. Sufi/tasawuf berasal dari Agama Majusi yang meresap masuk apabila ramai penganut dan para pendita Agama Hindu dan Buddha memeluk agama Islam.
3. Sufi (tarikat tasawuf) tumbuh dari kesan pemikiran (fikrah) falsafah, tidak terkecuali falsafah Neoplatonisme. Adanya persamaan antara teori falsafah tarikat falsafah Greek (Yunani).
4. Sufi (tasawuf) terpengaruh dari ajaran Masihi, Yahudi dan pendita-penditanya. Menghidupkan ideologi tersebut setelah mereka memeluk agama Islam, sama ada dengan kesedaran (keikhlasan) atau secara nifak yang bertujuan jahat.
5. Sufi (tasawuf) pada kenyataannya, diambil dan terpengaruh dari teori falsafah orang-orang kafir, terutama dari Agama Hindu-Buddha yang tujuan asalnya menggunakan falsafah tersebut untuk menentang kaum filosof yang menyerang Islam melalui falsafah.
6. Tarikat sufi (tasawuf) dan segala tarikat kebatinan yang terdapat dalam kepercayaan masyarakat Islam yang telah menjadi amalan dan pegangan mereka, pada asalnya adalah ciptaan yang dipelopori oleh Yahudi dan diresapkan ke dalam akidah Islamiyah. Gerakan ini diketuai oleh seorang pendita Yahudi, iaitu Abdullah bin Saba (berasal dari Yaman). Gerakan konspirasi jahat ini diprogramkan semata-mata untuk merosakkan akidah, ibadah, memecah-belah perpaduan Islam, mengkucar-kacirkan barisan ummah serta untuk melemahkan kekuatan dan keutuhan Daulah Islamiyah.
19. Banyak orang menyangka bahawa ajaran tasawuf itu dari Islam, dan banyak pula orang menyangka bahawa antara penganut sufi ada yang menjadi wali.
Kajilah, ucapan-ucapan mereka dibawah ini menunjukkan betapa jauhnya orang-orang sufi dari Islam dan ajaran al-Quran.
(1). Syeikh Muhayiddin Ibn Arabi yang dikuburkan di Damaskus (Syiria) adalah salah seorang tokoh besar sufi, dia berkata di dalam kitabnya Al-Futuhaat al-Makiyah:
"Berapa banyak hadis menjadi sahih dari jalan periwayatnya sampai kepada al-Makaasyif (orang yang menyingkap tabir ghaib) kerana sudah ditentukan tanda-tandanya. Lalu ia bertanya kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa-sallam tentang darjat hadis tersebut, maka baginda mengingkarinya lantas bersabda: Saya tidak pernah mengatakannya dan saya juga tidak pernah menghukumi dengannya".
Kitab hadis masyhur karangan al-Ajluny amat merbahaya dan ucapan semacam ini sangat merbahaya sekali dan menghina hadis nabi serta merendahkan ulama-ulama hadis seperti Imam Bukhari, Muslim dan lain-lainnya.
(2). Ibn Arabi telah berkata tentang kesatuan antara agama-agama seperti agama Yahudi, Nasrani dan Majusi dan Islam:
"Dahulu saya membantah temanku kerana agamaku tidak menjadi agamanya. Kemudian hatiku boleh menerima atas semua keadaan itu, kini hatiku jadi padang gembalaan orang-orang kesamaran, menjadi kuil para pendita, rumah untuk penyembah patung, Ka'bah untuk orang tawaf, papan untuk menulis Taurat dan Mushaf menulis ayat al-Quran".
Al-Quran mengingkari perkataan Ibn Arabi ini dengan firman:
"Barangsiapa mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi". ALI-IMRAN 3: 85.
(3). Ibn Arabi beriktikad bahawa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah. Sehingga antara yang satu dengan yang lain saling mengibadahi. Ia memperkatakan tentang hal ini dengan ucapannya:
"Dia (Allah) memujiku dan akupun memujiNya, Dia beribadah kepadaku dan akupun beribadah kepadaNya".
(4). Ibn Arabi dalam kitabnya al-Fusyush berkata: "Sesungguhnya apabila seseorang suami menyetubuhi isterinya, maka sesungguhnya dia sedang menyetubuhi Allah".
(5). An-Nablisi menjelaskan maksud ungkapan Ibnu Arabi di atas: "Sesungguhnya ia sedang menikahi al-haq (Allah)."
(6). Abu Yazid al-Bustami mendakwa berbicara secara langsung kepada Allah: "Dan hiasilah aku dengan ke EsaanMu, ikut sertakanlah aku ke dalam rabbaniyah (sifat ketuhanan)Mu, sehingga apabila hamba-hambaMu melihatku mereka akan berkata: Kami melihatMu".
Sehingga ia berkata kepada dirinya sendiri: "Maha suci aku, maha suci aku, alangkah agungnya kedudukanku, al-Jannah (syurga) hanyalah permainan anak-anak kecil."
(7). Jalalluddin ar-Rumi berkata: "Saya adalah seorang muslim tapi juga Nasrani, saya seorang Brahmana juga Zorodisty. Aku tidak mempunyai tempat ibadah kecuali satu masjid, gereja dan rumah berhala."
(8). Ibnu al-Faridh berkata: "Sesungguhnya Allah menampakkan diri kepada Qais dalam bentuk Laila. Ia menampakkan diri kepada Kutsair dalam bentuk Azah dan ia menampakkan diri kepada Jumail dalam bentuk Busainah".
Apa yang tersebut dalam syair at-Taubah yang terkenal adalah bukti bahawa dia mengakui penampakan-penampakan Allah. (Ibnu al-Faridh yang sufi tersebut memiliki kesamaan iktiqad dengan agama Hindu (reinkarnasi).
(9). Rabiah al-Adawiyah pernah ditanya: Apakah kamu membenci syaitan? Dia menjawab: "Kecintaanku hanya untuk Allah, maka tidak pernah tersisa dalam hatiku kebencian kepada seorangpun (walaupun terhadap syaitan)".
Dia (Rabiah al-Adawiyah kononnya) pernah berbicara dengan Allah Ta'ala: "Jika aku beribadah kepadaMu lantaran rasa takut dari api nerakaMu, maka bakarlah diriku dengannya (api neraka itu)."
Padahal Allah Ta'ala telah kerkali-kali mengingatkan supaya kita berwaspada dari api neraka sebagaimana firmanNya: "Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". AT-TAHRIM 66:6
Ramai manusia yang berkata tentang (keperibadian) Rabiah: "Sesungguhnya dia adalah seorang wanita penyanyi (artis) atau penari. Lalu bagaimana kita boleh mengambil ucapan-ucapan yang bertentangan dengan al-Quran?
(10). As-Syeikh Usman al-Burhani, seorang sufi kontemporer dari Sudan, dia menulis sebuah buku berjudul "Intisaru Aulia'ir-Rahman 'Ala Aulia'isy-Syaitan" yang ia maksudkan adalah orang-orang Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin.
20.Golongan sufi/tasawuf telah membawa ramai penganutnya ke alam fantasi, khayalan dan syatahat yang bertentangan dengan syara.
Teori ajaran kesufian ini seolah-olah menginginkan agar agama Islam menjadi suatu metos yang seakan-akan serupa dengan hikayat seribu satu malam yang dipenuhi dengan lamunan yang tidak jejak di alam nyata.
Mereka melakukan pemujaan secara ghulu terhadap syeikh-syeikh yang disangka mempunyai keramat dan dianggap wali, sama ada yang masih hidup atau yang sudah mati.
Mengkeramatkan kubur para syeikh mereka yang dianggap wali serta mencipta cerita-cerita keluar-biasaan para wali sufi sehingga semuanya itu hampir serupa dengan keajaiban dalam cerita dongeng dewa-dewa Buddha/Hindu yang tidak ada kena-mengena dengan agama Islam.
Sunday, April 17, 2011
APAKAH DAKWAH DAN SIAPAKAH YANG BERDAKWAH
Apakah arti dakwah dan siapa yang berdakwah
1. Dakwah secara istilah adalah mengajak manusia kepada Allah swt, itu dibuktikan dengan memahami dan mengamalkan sunah-sunnah nabi saw, termasuk dalam dakwah itu sendiri.
2. Pengertian dakwah secara bahasa adalah mengajak atau memanggil. Dalam konteks pemahaman seperti ini, adalah suatu pemikiran yang tidak rasional kalau kita katakan bahwa orang lain tidak buat dakwah kecuali kita. Sehinggalah dalam urusan perniagaan duniawi, manusia saling mengajak manusia untuk membeli barang perniagaannya.
3. Masih lagi dalam pengertian secara bahasa, maka terdapat golongan yang salah dan sesat mendakwahkan pahamannya, Seperti Ahmadiyah, syiah, sekuler dan kelompok leberal, khawarij dll.
4. Adakah golongan asyaa’irah, fanatisme bermazhab dan tarekat sufi naqsabandi/ qadariyah, jistiyah, sadziliyah termasuk dalam mendakwahkan dalam makna secara istilah? Tentu tidak. Karena pemahaman-pemahaman tersebut bertentangan dengan apa yang di pahami dan di amalkan oleh nabi saw dan para sahabatnya, bahkan oleh 4 imam mazhab sekalipun. Sesiapa saja dan golongan mana saja yang mendakwahkan pemahaman selain yang di pahami kaum salaf ( nabi saw dan para sahabatnya ), maka dikatakan tidak berdakwah kepada Allah, atau berdakwah dengan makna istilahi. Tetapi mereka berdakwah kepada paham golongan mereka, ini termasuk dakwah secara bahasa saja.
5. Bagaimana cara untuk menilai golongan tertentu itu adalah mendakwahkan pahaman golongan atau berdakwah kepada Allah?.......
Pertama kita lihat pendiri golongan/ jamaah tersebut. Apakah pemahamannya dalam akidah?, apakah mazhabnya dalam fekah ( fanatik dalam bermazhab atau tidak )?, apa tarekat tasawufnya?
Kedua, lihat ditempat markaz/ atau pusat pendidikan mereka,kitab apakah yang digunakan dalam mehamai akidah?kitab apakah yang di gunakan dalam belajar fekah, kitab apakah yang di gunakan dalam belajat tasawuf?
6. Kita ambil contoh mudah kepada jama’ah tabligh. Jika saudara ingin melihat sejauh mana kebenaran jama’ah ini kita lihat dari beberapa soal di bawah ini: Pertama, apakah pemahaman akidah syaikh Mohd Ilyas dalam bab asma wa sifat Tuhan?, apakah mazhab fekah dia ?, apakah tarekat tasawuf yang dia ikuti? Di setiap markaz jamaah ini yang dijadikan pusat pendidikan ( markaz India, banglades, dan pakistan ),kitab apa yang di gunakan dalam pelajaran akidah?, kitab apa yang dipelajari dalam fekah dan bagaimana pelaksanaannya ( ada unsur fanatisme bermazhab atau tidak )?,adakah pengajaran atau pembenaran terhadap ajaran tarekat sufi seperti naqsabandi, qadariyah, jistiyah dan sadziliyah?
7. Shaikh Mohd Ilyas adalah berpaham maturudiyah dalam akidah, bermazhab hanafi dalam fekah dan jistiyah dalam tarekat. Di markaz markaz tabligh terdapat pelajar-pelajar di ajarkan pemahaman merujuk kepada kitab yang sepaham dengan pendirinya,bahkan ada suatu tradisi bagi yang telah belajar kitab, untuk mengikuti tarekat sufi sebagai pelengkap keilmuan rohani. Seperti jika di Indonesia terdapat beberapa markaz yang didapat mengajarkan kitab tafsir jalalain dimana penulisnya berpaham asyaairah dalam akidah, juga di ajarkan kita ihya ulumiddin dimana penulisnya adalah sufi yang berpaham asyaairah dlam akidah.
8. Sangat jelas bagi orang yang berakal dan pencari kebenaran untuk melihat,bahawa jamaah ini berdakwah dalam pengertian bahasa, yaitu mengajak atau mendakwah manusia kepada paham golongan.
9. Terdapat di kalangan awam jamaah ini berdalih dan mengatakan :”kita mengajak orang ke masjid, kita mengajak orang meninggalkan maksiat, kita mengislamkan orang, tidak kah ini salah?”
10. Saya jawab, anda tidak salah karena anda yang melakukan itu semua, tetapi kesalahan anda adalah anda di tempat yang salah. Anda sedang melakukan kebaikan bersama pendiri dan tokoh-tokoh di dalam suatu jamaah yang bermasalah pemahamannya. Siapa yang menjamin bahwa orang-orang yang akhi islamkan, dan orang –orang yang saudara jauhkan dari maksiat tersebut bisa tidak berakidah asyaairah, fanatik dalam bermazhab dan mengikut ajaran tarekat sufi? Adakah anda bisa menjamin itu semua?
11. Contoh mudah, anda mengajak orang untuk masuk islam. Ini adalah amalan yang baik, selanjutnya anak orang yang masuk Islam itu akan di hantar ke madrasah jamah tabligh. Anak tersebut akan belajar selama 8 tahun sehingga menjadi maulana/ orang yang alim, istilah di kalangan jamaah tabligh. Adakah anda bisa menjamin bahwa di sana ribuan anak yang belajar untuk tidak berpegang kepada akidah asyaairah, fanatisme dalam bermazhab, dan ajaran tarekat sufi?
12. Tentu sangat mustahil anda bisa menjamin semua itu. Maka akhi muslim, pahamilah perkara ini dengan tenang hati dan dengan akal fikiran yang terbuka.
13. Jika anda tidak aktif dan tidak ikut aktif dalam aktiviti jamaah tabligh, bukan berarti akhi tidak berdakwah. Doktrin dimana seakan akan orang diluar jamaah tabligh tidak buat dakwah sangat kuat di jamaah ini. Seakan akan hanya mereka saja yang sedang berdakwah. Ini pemahaman yang sangat keliru.
14. Pastikan bahwa kita mempunyai pemahaman yang benar dalam akidah, beribadah, dan akhlak. Selanjutnya dakwahkan secara infiradi kepada siapa saja yang terdekat. Jika kita dapat ada jamaah suatu dakwah yang benar pemahamannya ( tidak asyaaira, tidak fanatik dalam bermazhab dan tidak bertarekat sufi ), maka ikutilah untuk berjamaah dalam dakwah. Jika jamaah itu tidak kita temui,.....maka teruskan dakwah secara infiradi bersama sahabat-sahabat terdekat yang sepaham , teruskan istiqamah sampai mati. Karena pekara tersebut sudah dianggap berjamaah, karena saudara berpegang kepada kebenaran walau bersendirian.
15. Untuk orang yang alim, yang memahami ilmu salaf, boleh datang kepada mereka. Baik itu mengikuti khuruj mereka atau berkawan dengan mereka, untuk mengajak mereka meninggalkan pemahaman yang salah ( akidah asyaairah, fanatisme dalam bermazhab dan bertarekat sufi). Adapun untuk golongan awam, sebaiknya jangan khuruj dengan mereka, perbanyak belajar tentang ilmu-ilmu salaf dengan ulama-ulama dan ustaz yang memahami ilmu salaf. Karena siapa yang ikut mereka, biasanya sangat susah untuk memahami kebenaran hingga keluar daripadanya,karena di jamaah tabligh sangat kuat doktrin kesufian dimana seseorang harus taat pada amir atau syaikh sehingga kepada masalah pemahaman agama sekalipun secara tidak sadar.Bolehkah orang awam berkawan dengan orang jamaah ini? boleh selama masih bisa untuk membatasi diri agar tidak terpengaruh, karena terkadang banyak juga di kalangan jamaah ini dari golongan awam yang perlu kita pahamkan.
16. Apakah yang harus di luruskan atau di perbaiki di jamaah tabligh agar bisa dikatakan suatu jamaah yang mengajak menusia kepada Allah? Pertamaa,proses pemahaman akidah yang ada di madrasah-madrasah jamaah ini harus di ubah, yakni dari pemahaman asyaairah kepada pemahaman salaf ( Nabi saw dan para sahabatnya ). Dengan itu harus ada perubahan diri dari kalangan para tokohnya untuk kembali kepada ajaran salaf dalam akidah. Kedua, dalam proses pembelajaran fekah di madrasah hendaknya diajarkan konsep bermazhab yang tidak fanatik. Artinya kembali kepada kaedah para imam mazhab, jika di dapati pada pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil yang shahih, maka harus ditinggalkan.Ketiga, para tokoh jamaah ini hendaknya sepakat untuk meninggalkan ajaran tarekat sufi seperti naqsabandiyah, qadariyah, sadziliyah, jistiyah dan apapun bentuknya, selanjutnya ajaran tarekat tersebut di hapuskan di setiap madrasah-madrasah di markas jamaah tabligh. Untuk orang awam memang sulit memahami pentingnya kembali kepada salaf,mereka biasanya akan bersikap mengikut para masyaikhnya, tetapi bagaimana untuk para tokoh dan masyaikh yang ada di raiwind,India dan bangladesh?....adakah mereka semua siap untuk kembali kepada salaf. kalau ya jawabannya, maka jamaah ini harus di dukung, dan tidak ada siapa muslim di muka bumi ini kecuali harus mendukung gerakan dakwah ini. kalau tidak siap, dan tetap memusuhi ulama salafi serta tetap berpegang kepada paham sedia ada, maka jamaah ini tetap jamaah yang mengajak kepada golongan yang tetap harus di jauhi untuk orang awam dan di dakwahi bagi orang alim yang memahami ilmu salaf.
1. Dakwah secara istilah adalah mengajak manusia kepada Allah swt, itu dibuktikan dengan memahami dan mengamalkan sunah-sunnah nabi saw, termasuk dalam dakwah itu sendiri.
2. Pengertian dakwah secara bahasa adalah mengajak atau memanggil. Dalam konteks pemahaman seperti ini, adalah suatu pemikiran yang tidak rasional kalau kita katakan bahwa orang lain tidak buat dakwah kecuali kita. Sehinggalah dalam urusan perniagaan duniawi, manusia saling mengajak manusia untuk membeli barang perniagaannya.
3. Masih lagi dalam pengertian secara bahasa, maka terdapat golongan yang salah dan sesat mendakwahkan pahamannya, Seperti Ahmadiyah, syiah, sekuler dan kelompok leberal, khawarij dll.
4. Adakah golongan asyaa’irah, fanatisme bermazhab dan tarekat sufi naqsabandi/ qadariyah, jistiyah, sadziliyah termasuk dalam mendakwahkan dalam makna secara istilah? Tentu tidak. Karena pemahaman-pemahaman tersebut bertentangan dengan apa yang di pahami dan di amalkan oleh nabi saw dan para sahabatnya, bahkan oleh 4 imam mazhab sekalipun. Sesiapa saja dan golongan mana saja yang mendakwahkan pemahaman selain yang di pahami kaum salaf ( nabi saw dan para sahabatnya ), maka dikatakan tidak berdakwah kepada Allah, atau berdakwah dengan makna istilahi. Tetapi mereka berdakwah kepada paham golongan mereka, ini termasuk dakwah secara bahasa saja.
5. Bagaimana cara untuk menilai golongan tertentu itu adalah mendakwahkan pahaman golongan atau berdakwah kepada Allah?.......
Pertama kita lihat pendiri golongan/ jamaah tersebut. Apakah pemahamannya dalam akidah?, apakah mazhabnya dalam fekah ( fanatik dalam bermazhab atau tidak )?, apa tarekat tasawufnya?
Kedua, lihat ditempat markaz/ atau pusat pendidikan mereka,kitab apakah yang digunakan dalam mehamai akidah?kitab apakah yang di gunakan dalam belajar fekah, kitab apakah yang di gunakan dalam belajat tasawuf?
6. Kita ambil contoh mudah kepada jama’ah tabligh. Jika saudara ingin melihat sejauh mana kebenaran jama’ah ini kita lihat dari beberapa soal di bawah ini: Pertama, apakah pemahaman akidah syaikh Mohd Ilyas dalam bab asma wa sifat Tuhan?, apakah mazhab fekah dia ?, apakah tarekat tasawuf yang dia ikuti? Di setiap markaz jamaah ini yang dijadikan pusat pendidikan ( markaz India, banglades, dan pakistan ),kitab apa yang di gunakan dalam pelajaran akidah?, kitab apa yang dipelajari dalam fekah dan bagaimana pelaksanaannya ( ada unsur fanatisme bermazhab atau tidak )?,adakah pengajaran atau pembenaran terhadap ajaran tarekat sufi seperti naqsabandi, qadariyah, jistiyah dan sadziliyah?
7. Shaikh Mohd Ilyas adalah berpaham maturudiyah dalam akidah, bermazhab hanafi dalam fekah dan jistiyah dalam tarekat. Di markaz markaz tabligh terdapat pelajar-pelajar di ajarkan pemahaman merujuk kepada kitab yang sepaham dengan pendirinya,bahkan ada suatu tradisi bagi yang telah belajar kitab, untuk mengikuti tarekat sufi sebagai pelengkap keilmuan rohani. Seperti jika di Indonesia terdapat beberapa markaz yang didapat mengajarkan kitab tafsir jalalain dimana penulisnya berpaham asyaairah dalam akidah, juga di ajarkan kita ihya ulumiddin dimana penulisnya adalah sufi yang berpaham asyaairah dlam akidah.
8. Sangat jelas bagi orang yang berakal dan pencari kebenaran untuk melihat,bahawa jamaah ini berdakwah dalam pengertian bahasa, yaitu mengajak atau mendakwah manusia kepada paham golongan.
9. Terdapat di kalangan awam jamaah ini berdalih dan mengatakan :”kita mengajak orang ke masjid, kita mengajak orang meninggalkan maksiat, kita mengislamkan orang, tidak kah ini salah?”
10. Saya jawab, anda tidak salah karena anda yang melakukan itu semua, tetapi kesalahan anda adalah anda di tempat yang salah. Anda sedang melakukan kebaikan bersama pendiri dan tokoh-tokoh di dalam suatu jamaah yang bermasalah pemahamannya. Siapa yang menjamin bahwa orang-orang yang akhi islamkan, dan orang –orang yang saudara jauhkan dari maksiat tersebut bisa tidak berakidah asyaairah, fanatik dalam bermazhab dan mengikut ajaran tarekat sufi? Adakah anda bisa menjamin itu semua?
11. Contoh mudah, anda mengajak orang untuk masuk islam. Ini adalah amalan yang baik, selanjutnya anak orang yang masuk Islam itu akan di hantar ke madrasah jamah tabligh. Anak tersebut akan belajar selama 8 tahun sehingga menjadi maulana/ orang yang alim, istilah di kalangan jamaah tabligh. Adakah anda bisa menjamin bahwa di sana ribuan anak yang belajar untuk tidak berpegang kepada akidah asyaairah, fanatisme dalam bermazhab, dan ajaran tarekat sufi?
12. Tentu sangat mustahil anda bisa menjamin semua itu. Maka akhi muslim, pahamilah perkara ini dengan tenang hati dan dengan akal fikiran yang terbuka.
13. Jika anda tidak aktif dan tidak ikut aktif dalam aktiviti jamaah tabligh, bukan berarti akhi tidak berdakwah. Doktrin dimana seakan akan orang diluar jamaah tabligh tidak buat dakwah sangat kuat di jamaah ini. Seakan akan hanya mereka saja yang sedang berdakwah. Ini pemahaman yang sangat keliru.
14. Pastikan bahwa kita mempunyai pemahaman yang benar dalam akidah, beribadah, dan akhlak. Selanjutnya dakwahkan secara infiradi kepada siapa saja yang terdekat. Jika kita dapat ada jamaah suatu dakwah yang benar pemahamannya ( tidak asyaaira, tidak fanatik dalam bermazhab dan tidak bertarekat sufi ), maka ikutilah untuk berjamaah dalam dakwah. Jika jamaah itu tidak kita temui,.....maka teruskan dakwah secara infiradi bersama sahabat-sahabat terdekat yang sepaham , teruskan istiqamah sampai mati. Karena pekara tersebut sudah dianggap berjamaah, karena saudara berpegang kepada kebenaran walau bersendirian.
15. Untuk orang yang alim, yang memahami ilmu salaf, boleh datang kepada mereka. Baik itu mengikuti khuruj mereka atau berkawan dengan mereka, untuk mengajak mereka meninggalkan pemahaman yang salah ( akidah asyaairah, fanatisme dalam bermazhab dan bertarekat sufi). Adapun untuk golongan awam, sebaiknya jangan khuruj dengan mereka, perbanyak belajar tentang ilmu-ilmu salaf dengan ulama-ulama dan ustaz yang memahami ilmu salaf. Karena siapa yang ikut mereka, biasanya sangat susah untuk memahami kebenaran hingga keluar daripadanya,karena di jamaah tabligh sangat kuat doktrin kesufian dimana seseorang harus taat pada amir atau syaikh sehingga kepada masalah pemahaman agama sekalipun secara tidak sadar.Bolehkah orang awam berkawan dengan orang jamaah ini? boleh selama masih bisa untuk membatasi diri agar tidak terpengaruh, karena terkadang banyak juga di kalangan jamaah ini dari golongan awam yang perlu kita pahamkan.
16. Apakah yang harus di luruskan atau di perbaiki di jamaah tabligh agar bisa dikatakan suatu jamaah yang mengajak menusia kepada Allah? Pertamaa,proses pemahaman akidah yang ada di madrasah-madrasah jamaah ini harus di ubah, yakni dari pemahaman asyaairah kepada pemahaman salaf ( Nabi saw dan para sahabatnya ). Dengan itu harus ada perubahan diri dari kalangan para tokohnya untuk kembali kepada ajaran salaf dalam akidah. Kedua, dalam proses pembelajaran fekah di madrasah hendaknya diajarkan konsep bermazhab yang tidak fanatik. Artinya kembali kepada kaedah para imam mazhab, jika di dapati pada pendapat ulama yang bertentangan dengan dalil yang shahih, maka harus ditinggalkan.Ketiga, para tokoh jamaah ini hendaknya sepakat untuk meninggalkan ajaran tarekat sufi seperti naqsabandiyah, qadariyah, sadziliyah, jistiyah dan apapun bentuknya, selanjutnya ajaran tarekat tersebut di hapuskan di setiap madrasah-madrasah di markas jamaah tabligh. Untuk orang awam memang sulit memahami pentingnya kembali kepada salaf,mereka biasanya akan bersikap mengikut para masyaikhnya, tetapi bagaimana untuk para tokoh dan masyaikh yang ada di raiwind,India dan bangladesh?....adakah mereka semua siap untuk kembali kepada salaf. kalau ya jawabannya, maka jamaah ini harus di dukung, dan tidak ada siapa muslim di muka bumi ini kecuali harus mendukung gerakan dakwah ini. kalau tidak siap, dan tetap memusuhi ulama salafi serta tetap berpegang kepada paham sedia ada, maka jamaah ini tetap jamaah yang mengajak kepada golongan yang tetap harus di jauhi untuk orang awam dan di dakwahi bagi orang alim yang memahami ilmu salaf.
Monday, April 11, 2011
HIKMAH PERJALANAN UMRAH
HIKMAH PERJALANAN UMRAH
Tepat pada hari Senin, tanggal 11 April 2011 jam 3 sore, saya beserta keluarga (istri, ibunda, dan kakak ipar)tiba di Alor Setar Kedah, Malaysia dari Jeddah. Perjalanan umrah selama 10 hari sangat mengesankan, penuh dengan berbagai penglihatan dan pengalaman yang di lalui. Madinah dengan masjid nabawi dan makkah dengan masjidulharam akan senantiasa memberikan rasa rindu untuk kita selalu pergi kesana, mengingat Allah swt dengan Haji dan Umrah ikhlas hanya untukNya, mengikut sunnah RasulNya. Apabila menghadirkan diri ke dalam Masjidil Haram, airmata akan terus melimpahi kelopak mata, terkena panah kerinduan kepadaNya, dan rasa penyesalan terhadap dosa, serta merendahkan diri kepada Allah swt.
Di masjidul haram, kita akan senantiasa melihat banyaknya manusia bertafakur, beribadah dan menangis merendahkan diri dan meminta kepada Allah swt. Ya Allah, berilah kami hidayahMu.....ampunkanlah dosa-dosa kami.....berikanlah kami ridhaMu...syurgaMu, dan kami berlindung kepadaMu dari kemarahanMu dan nerakaMU.
Memahami Hakikat..
Perbedaan antara Makkah yang didalamnya ada masjidul haram dan Madinah yang didalamnya ada masjid Nabawi dengan tempat-tempat lain adalah terletak kepada rahmat dan karuniaNya. Banyak hadis-hadis yang menyampaikan tentang fadhilah beribadah di masjid Nabawi dan Masjid haram berbanding masjid-masjid lain. Begitu juga hadis yang mengatakan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki kota Makkah dan Madinah dll.
Pembahasan disini saya ingin menyampaikan untuk kita bisa membedakan bahwa kita bukan membesarkan Madinah dan Makkah, tetapi tetap membesarkan Allah swt yang menjadikan Makkah dan Madinah. Kita hanya mengagumi kelebihan Makkah dan Madinah berbanding tempat-tempat lain yang Allah sendiri telah tentukan. Tidak ada sekutu bagi Allah, baik itu di Makkah dan Madinah atau di tempat selain dari padanya. Dimana saja kita berada, kita tetap mentauhidkan Allah swt dengan mengamalkan sunnah rasulNya.
Kita tidak menyembah Makkah atau Kaabah, tetapi datang kerana di sini dilimpahi rahmat dan kurniaanNya. Cara berfikir seperti ini wajib difahami agar seorang hamba tidak tersalah. Jangan sampai ada seseorang membesarkan tempat,seseorang atau waktu tertentu, terlupa bahawa kesemua itu hendaklah dikembalikan kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Kita dapat merujuk kepada apa yang di ucapkan Umar Bin Khattab saat beliau hendak mencium hajar aswad, bagaimana kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus membedakan antara mengagungkan hajar aswad atau sunnah Nabi Muhammad saw. Sebab itu Saidina Umar bin al-Khattab apabila hendak mencium Hajarul Aswad berkata:
“Sesungguhnya aku mengetahui, engkau hanyalah batu yang tidak memberi manfaat dan mudarat. Jika tidak kerana aku melihat Rasulullah menciummu, nescaya aku tidak akan menciummu” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Pelajaran ini sepatutnya ada pada proses belajar dan mengajar dalam dunia pendidikan, khususnya pada pengajian agama. Kita sepatutnya mengatakan : “ Saya mengikuti pendapatmu wahai guruku atau masyaikhku karena pendapatmu merujuk kepada dalil yang tidak bertentangan dengan sunnah nabiku ( Nabi Muhammad saw ), dan saya tidak mengikuti pendapatmu karena dalil dan hujahmu bertentangan dengan sunnah nabiku.”
Malangnya pada situasi hari ini, banyak golongan pelajar masih lagi fanatik buta kepada guru dan masayaikhnya tanpa mengkaji dalil-dalil ucapannya, sehingga mereka terjebak kepada mengikuti guru/ masyaikh dari pada harus mengikuti nabi saw dan para sahabatnya. Mereka terjebak kepada membesarkan guru/ masyaikh dari pada harus membesarkan Allah swt dan mengikuti sunnah NabiNya.
Akidah
Pemahaman akidah sebelum menunaikan umrah dan haji sangat diperlukan, kalau tidak maka semua yang dia korbankan akan sia-sia saja di hadapan Allah, baik itu pengorbanan harta, tenaga dll. Mentauhidkan Allah swt maknanya melakukan sunnah NabiNya ikhlas karena Allah saja. Melakukan ikhlas karena Allah maknanya tidak mengamalkan amalan syirik dan kufur yang dibenciNya.
Sebagai contoh amalan syirik dan amalan-amalan yang boleh membatalkan iman serta menghapuskan pahala kebaikan ialah masih terdapat diantara jamaah haji dan umrah yang datang ke Makkah dan Madinah dengan membawa azimat/ tangkal agar dengannya ia selamat di perjalanan, memberi makan burung di sekitar masjidil haram untuk mendapatkan berkah, mengusap kiswah ka’bah dengan kain untuk dijadikan tangkal, pergi haji dan umrah tetapi masih lagi yakin dan percaya kepada dukun untuk menjauhkan diri dari mudharat dan musibah, pergi ke Makkah dengan membawa bendera fanatisme kepada golongan, partai dan mazhab, berkerja sama dengan orang kafir untuk memusuhi saudara seiman demi kepentingan dunia, masih mengekalkan sifat ingin dan suka menzalimi sesama, memfitnah sesama, mencaci maki sesama dan lain sebagainya.
Demikian amalan-amalan diatas yang wajid dijauhi oleh sesiapa yang ingin menjejakkan kaki ke bumi suci ini agar terpelihara ketulusan tauhid. Kita bukan hanya dididik untuk mengamalkan sunnah dalam haji dan umrah secara zahir, tetapi kita juga mentarbiyah hati kita untuk bersih dari amalan yang dibenci Allah dan rasulNya.
Betapa ramai orang yang pergi ke Makkah dan Madinah, tetapi adakah seramai itu yang pergi dengan tauhid dan sunnah-sunnah rasulNya dalam melaksanakan haji dan umrah. Kalau memang ya jawabannya, kenapa semakin banyak yang melakukan haji dan umrah tetapi banyaknya yang bermusuhan dan saling membenci juga tidak kalah jumlahnya dari yang pergi ke sana.
Ibadah haji dan umrah sepatutnya melahirkan sifat ikhlas untuk taat kepada Allah dan rasulNya, bukan taat kepada ego dan pendiriannya. Bukan juga taat kepada golongan, mazhab, partai dan masyaikhnya melebihi taat kepada Allah dan rasulNya. Seperti masih ramai lagi di kalangan masyarakat bahkan pada pelajar yang berpegang kepada akidah asyairah, fanatik kepada mazhab dan mengamalkan tarekat sufi dimana itu semua tidak pernah dicontohkan Nabi saw. Malangnya, masih banyak juga masyarakat kita terjebak kepada untuk mengikut aktiviti-aktiviti dakwah jama’ah atau kumpulan-kumpulan dakwah hanya sebatas semangat dalam dakwah, tanpa mengetahui bahwa pendiri dan tokoh-tokohnya adalah penyebar paham tarekat, fanatisme dalam bermazhab dan penganut akidah asyaairah.
Amalan
Tiada harapan yang lebih besar dari seorang insan ketika berada di msjidil haram dari harapan agar Allah menerima ibadah dan memakbulkan doa. Demikianlah apa yang Ibrahim dan Ismail harapkan ketika mereka membina Kaabah.
Firman Allah (maksudnya):
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim bersama-sama Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Kaabah) itu, sambil keduanya berdoa: “Wahai Tuhan kami! terimalah daripada kami (amal kami); Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui” (al-Baqarah: 127).
Jika Ibrahim dan Ismail yang merupakan nabi berdoa agar amalan mereka Allah terima, maka kita jauh lebih patut berdoa agar amalan kita ini diterima. Segala belanja perjalanan dan masa yang ditumpukan tidak memberi makna jika amalan tertolak.
Maka, untuk memastikan amalan kita diterima, tauhid hendaklah benar-benar tulus tanpa syirik. Kemudian, amalan yang diamalkan itu hendaklah seperti yang diajar oleh Tuhan Kaabah melalui Ibrahim dan pewarisnya Nabi Muhammad s.a.w. Bukan amalan yang ditunjukkan oleh mutawwif atau guru-guru di travel-travel yang mengadakan umrah dan haji sedangkan tiada contoh yang ditunjukkan oleh pewaris Ibrahim, iaitu Nabi Muhammad s.a.w. Ini soal penting.
Nabi Ibrahim dan anaknya ketika membina Kaabah telah berdoa: (maksudnya)
“dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara Ibadat kami” (al-Baqarah: 128).
Walaupun Ibrahim dan Ismail telah membangun Kaabah, tetapi mereka tetap meminta kepada Allah bagaimana cara beribadah. Justeru, mereka memohon agar Allah menunjukkan kepada mereka cara ibadah yang Allah mahu. Ibadah hanya kepada Allah dengan cara yang Allah inginkan. Bukan ibadah kepada Allah dengan cara yang kita inginkan!
Malangnya, kita lihat manusia ketika tawaf dan sa’i ada berbagai cara dan rupa. Mereka bergantung kepada guru pakej atau mutawwif mereka, sehingga lupa untuk bertanya sunnah Nabi s.a.w ketika tawaf dan sa’i.
Perkara amalan yang menyelisihi/ tidak diajarkan nabi saw diantaranya masih lagi melafazkan niat umrah atau haji, padahal niat adalah amalan hati, yang dilafazkan adalah pada saat berihlal dan talbiah saja. Ada yang tawaf dengan doa-doa khas bagi setiap putaran, padahal itu tidak pernah ada dalam petunjuk Ibrahim, atau Ismail atau Muhammad a.s. Mereka sibuk membaca buku panduan sambil tawaf dan sa’i sehingga bertabrakan dengan orang didepannya,
Ada pula yang menjerit berdoa beramai-ramai bersama seorang pemimpinnya yang telah dibayar. Mereka melaungkan doa bagaikan berdemonstrasi di depan Kaabah. Keadaan ini cukup mengganggu insan yang lain tanpa disadari.
Ada juga mencium apa yang tidak dicium oleh Nabi s.a.w, melakukan apa yang tidak dilakukan Nabi saw. Kesemua itu berada di bawah sabda Nabi Muhammad s.a.w:
“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak”. (Riwayat Muslim).
Jika melihat fenomena pelaksanaan haji dan umrah tidak merujuk kepada sunnah, maka akan didapai kesimpulan bahwa pelaksanaan haji dan umrah akan menjadi susah, seakan-akan perlu masa yang lama untuk mempelajarinya. Padahal jika kita merujuk kepada sunnah Nabi saw, kita akan dapati bahwa amalan haji dan umrah secara khususnya sangat lah mudah, ia bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus dibebani dengan membaca dan menghapal doa yang panjang terkadang justru si pembaca tidak memahaminnya.
Tatacara umrah
1. Disunnahkan bagi yang hendak melaksanakan umrah agar mandi sebelum ihram, baik itu perempuan maupun lelaki. Bagi lelaki, agar mengenakan pakaian yang tidak berjahit, yaitu yang sering dinamakan oleh para ahli fikih dengan “pakaian tanpa jahitan.” Umumnya memakai seperti kain apa saja untuk menutupi bagian atas dan satu helai lainnya menutupi bagian bawah. Dibolehkan memakai sandal ( yang tidak berjahit juga ) atau setiap yang melindungi kedua belah telapak kaki asal tidak menutupi kedua tumit. Tidak boleh memakai peci, sorban dan apa saja untuk menutupi kepala secara langsung, hukum ini berlaku hanya bagi lelaki.
Rasulullah saw bersabda, yang mafhumnya :
Bagi yang berihram tidak boleh mengenakan gamis, sorban, mantel yang bertudung , celana, atau pakaian yang dicelup sumba dan wewangian, khuf (sepatu dari kulit), terkecuali jika tidak ada sandal(boleh mengenakan khuf). Dan beliau besabda ; “ wanita yang berihram tidak dibenarkan mengenakan niqab (yaitu penutup ujung hidung dan jenisnya bermacam-macam) dan sarung tangan”. Muttafaqun alaihi”shahih abi daud”.
Ia harus mengenakan kain ihram sebelum miqat walaupun dirumahnya, sebagaimana dikerjakan oleh Nabi saw dan para sahabatnya. Hal ini memudahkan bagi jamaah umrah yang menggunakan pesawat, karena tiak memungkinkan untuk memakai kain ihram di miqat, maka mereka diperbolehkan memakai kain pakaian ihram sebelum naik pesawat, tetapi mereka tidak niat untuk berihram kecuali sejenak sebelum sampai miqat agar tidak terlewatkan miqat tanpa berihram. Amalan di atas khususnya untuk jamaah umrah yang pergi dari Indonesia atau Malaysia terus menuju Jeddah dan ke makkah. Adapun yang dari Jeddah terus ke Madinah, maka mereka bisa berihram di miqat Dzul hulaifah atau Birr ali.Selanjunta pergi menuju Makkah.
Hendaknya memakai minyak wangi dibagian tubuh dengan menggunakan parfum apapun yang tidak berwarna, terkecuali bagi wanita. Karena parfum mereka adalah yang berwarna dan tidak berbau. Semua itu dilakukan sebelum berniat ihram di miqat, sedangkan setelah itu diharamkan.
Perkara yang dilarang setelah ihram :
Sengaja mencukur, memotong atau mencabut mana-mana bulu diseluruh badan. Sengaja memotong kuku kaki atau tangan. Sengajamemakai wewangian ketika ihram. Menikah, atau menikahkan orang lain, meminang, menjadi wali atau wakil. Sengaja membunuh atau memburu haiwan darat ( yang bukan peliharaan ), berjima’, bercumbu dengan isteri tanpa jima’, melakukan dosa atau maksiat dengan sengaja dan berdebat.
2. Jika jamaah terus pergi ke Madinah sesampai di Jeddah, tentu nantinya akan bermiqat di Birr ali. Adapun amalan sesampai di miqat seperti Dzulhulaifah/ Birr ali adalah :
Mandi dan memakai kain ihram ( jika sebelumnya belum mandi dan belum memakai kain ihram ), sholat dua rakaat, sholat ini bukan sholat untuk ihram sebagaimana dipahami banyak orang. Sholat itu dilakukan karena kekhususan tempat dan barakahnya. Tidak ada sholat khusus untuk ihram, tetapi jika masuk sholat sebelum masa ihram, maka seseorang tetap sholat kemudian baru berihram setelah sholat. Dengan cara itu berarti ia telah meneladani Nabi saw, karena beliau memakai pakaian ihram setelah sholat zhuhur.
Selanjutnya berdiri menghadap kiblah, berniat untuk melakukan umrah ( tidak perlu di lafazkan seperti mengucapkan “ sengaja aku melakukan umrah karena Allah swt”, karena itu tidak ada contoh dari Nabi saw. Ianya adalah amalan hati dan ketetapan hati yang perlu di pastikan saja. Selanjutnya niat dan amalan hati tersebut di lafazkan dengan menyebut ucapan saat berihlal yaitu : Labbaika Allahumma ‘umratan.
Kemudian membaca doa : “ Allahummah hadzihi ‘umratun laa riya’a fiiha walaa sum’ah. ( Ya Allah ini adalah umrah tidak mengandung riya’ maupun sum’ah ).
Dibolehkan juga membaca setelah itu : Allahumma mahaali haitsu habastani ( Ya Allah tempat tahallulku dimana Engkau menahan diriku untuk tiak bisa melanjutkan umrahku. )
Karena jika telah menggantung niat sedemikian rupa, kemudian tertahan atau sakit, maka ia boleh tahallul untuk menyelesaikan umrahnya dan tidak diwajibkan membayar dam atau denda.
Selanjutnya memulakan untuk bertalbiah : Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda , wanni’mata laka wa mulka, laa syariika laka.
Ucapan talbiah di atas terus di ucapkan sepanjang perjalanan sehingga kita sampai di mekkah dan melihat rumah-rumah disana, atau sampai kita melihat ka’bah saat hendak memulakan tawaf.
Disunnahkan untuk mengeraskan ucapan talbiyah, begitu juga untuk perempuan, selama tidak menjadi godaan bagi kaum lelaki, karena Aisyah juga bertalbiah dengan suara keras hingga terdengar oleh kaum lelaki.
3. Barang siapa berkesempatan untuk mandi sebelum memasuki kota Makkah, maka hendaknya ia mandi. Dan masuk pada siang harinya meneladani Rasulullah saw. Hendaknya masuk dari arah atas yang sekarang disebut dengan pintu almu’allah, karena nabi saw masuk dari bukit yang paling tinggi yaitu bukit Kada’ diatas kuburan, dan memasuki masjid dari pintu bani syaibah, karena pintu ini adalah jalan terdekat menuju hajar aswad. Di perbolehkan juga untuk memasukinya dari pintu manapun.
4. Jika anda memasuki masjid, jangan lupa untuk mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan : Allahumma sholli wa sallim ‘ala Muhammad, Allahummaftahlii abwaaba rahmatika. (Ya Allah, berilah shalawat dan salam atas Muhammad, ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMU. )
5. Apabila melihat ka’bah, seyogyanya agar mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Disini tidak ada dalil yang bisa dijadikan sandaran dari nabi saw tentang doa khusus, maka boleh berdoa dengan doa-doa yang mudah, atau berdoa dengan doanya Umar ra :
Allahumma antassalaamu waminkassalaamu, fa hayyinaa rabbanaa bissalaam. ( Ya Allah, Engkaulah keselamatan, dariMula keselamatan, maka hidupkanlah kami dengan penuh kesejahteraan wahai Rabb kami ).
6. Kemudian segera menuju hajar aswad dan menatapnya dengan sungguh-sungguh kemudian mengucap basmalah dan bertakbir. Kemudian mengusapnya dengan tangannya, menciumnya dengan bibirnya, dan membungkukkan badan menghadapnya. Jika kita tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka kita bisa menyentuh dengan tangan kemudian mencium tangan. Jika tidak bisa juga untuk menyentuhnya cukup dengan mengisyaratkan tangan kepadanya. Amalan mengusap dan mencium hajar aswad dengan bibir, dan jika tidak bisa cukup dengan mengisyaratkan dengan tangan adalah amalan yang harus dilakukan pada setiap putaran, sehingga 7 putaran.
7. Kemudian memulakan tawaf seputar ka’bah dengan memposisikan ka’bah disebelah kiri kita, Dari hajar aswad sampai hajar aswad lagi terhitung satu putaran. Semuanya di lakukan dengan pakaian ihram secara idhthiba’ ( memasukkan kain ihram sebelah atas dari bawah ketiaknya yang sebelah kanan, dan meletakkan ujungnya diatas pundak kiri ) pada tiga putaran pertama, bermula dari hajar aswad dan berakhir di hajar aswad, dan berjalan pada putaran-putaran selanjutnya.
8. Mengusap rukun yamani dengan tangan pada setiap putaran jika memungkin, jika tidak bisa mengusapnya maka tidak perlu mengisyaratkan tangan, cukup berjalan dan melaluinya saja.
9. Jika kita diantara rukun yamani dan rukun hajar aswad, maka disunnah membaca :
Rabbanaa aa tinaa fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar ( Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari adzab api neraka ). Jika mampu dan memungkinkan, seseorang boleh beriltizam antara rukun hajar aswad dan pintu ( mengarahkan dada, wajah dan kedua bahu kepadanya).
Tidak ada doa khusus dalam tawaf, ia boleh membaca alQur an, atau berdzikir sesuka hatinya yang mudah baginya.
10. Jika telah telah selesai putaran ketujuh, maka bertolak menuju maqam ibrahim membaca : Watta khidzuu mimmaqaami ibrahiima musholla(Dan jadikanlah sebahagian maqam ibrahim tempat shalat) Ali Imran : 125.
Dengan memposisikan maqam ibrahim antara dirinya dan ka’bah, lalu sholat disaa dua rakaat dengan membaca surah al kafirun pada rakaat pertama dan surah al ikhlas pada rakaat kedua. Jika tidak mampu untuk sholat di tempat tersebut, maka boleh sholat dimana saja di dalam masjid haram.
11. Jika selesai sholat, hendaklah ia menuju tempat air zamzam, meminum air zamzam tersebut, serta mengusapkannya di kepala. Kemudian kembali ke hajar aswad, untuk menciumnya dengan bibir, atau mengusapnya dengan tangan, atau mengisyaratkan tangan kepadanya.
12. Kemudian pergi menuju shafa untuk memulakan sa’i , jika telah dekat dengan shafa maka bacalah ayat 158 dari surah al Baqarah
Artinya : Sesungguhnya "Safa" dan "Marwah" itu ialah sebahagian daripada Syiar (lambang) ugama Allah; maka sesiapa Yang menunaikan Ibadat Haji ke Baitullah atau mengerjakan Umrah, maka tiadalah menjadi salah ia bersaie (berjalan Dengan berulang-alik) di antara keduanya. dan sesiapa Yang bersukarela mengerjakan perkara kebajikan, maka Sesungguhnya Allah memberi balasan pahala, lagi Maha mengetahui.
Lalu mengucapkan : Nabda’u bimaa bada Allahu bihi
Kemudian mendaki atas bukit shafa berdiri menghadap ka’bah hingga melihatnya,mengucap takbir tiga kali, terus membaca :
Laa ilaaha Illallahu wahdahulaa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu, yuhyii wayumiitu, wahuwa ‘ala kulli syai in qadir. Laa ilaaha Illallahu wahdahulaa syarikalahu, anjaza wa’dah, wanashara ‘abdahu, wahazamal ahzaaba wahdahu. ( 3 kali ).
Selanjutnya boleh berdoa dengan doa apa saja yang mudah untuk dilafazkan.
Kemudian turun dari bukit shafa, untuk melaksanakan sa’i menuju bukit marwah. Jika sampai pada tanda lampu hijau dari kanan dan kiri maka hendaklah melakukan lari-lari kecildengan cepat menuju tanda hijau berikutnya, dari situ terus melanjutkan untuk berjalan menuju bukit marwah.Sesampai di bukit marwah, terus naik menuju atas bukit lalu melakukan sebagaimana dilakukan di atas bukit shafa. Kemudian turun dari bukit marwah untuk menuju bukit shafa, dengan berjalan ditempat yang diperintahkan untukberjalan dan berlari-lari kecil ditempat lari-lari kecil, dan ini dihitung sebagai putaran kedua. Tidak ada bacaan khusus yang harus dibaca dan dihafal semasa melakukan sa’i. Untuk itu, siapapun yang melakukan sa’I, boleh membaca apa yang termudah baginya, seperti membaca quran yang dia hapal, atau berdzikir .
13. Kemudia kembali ke marwah, dan begitu seterusnya hingga lengkap baginya tujuh putaran yang berakhir di bukit marwah.
14. Jika telah selesai dari putaran ketujuh di marwah, setelah membaca apa apa yang patut di baca sebagaimana di bukit shafa, maka selanjutnya mencukur rambut kepalanya bagi lelaki, boleh juga memendekkannya sahaja. Adapun untuk perempuan maka cukup baginya untuk memotong rambutnya sedikit atau sepanjang ruas jari.
Dengan demikian, maka umrahnya telah selesai, dan menjadi halal apa yang diharamkan baginya sewaktu ihram.
Tepat pada hari Senin, tanggal 11 April 2011 jam 3 sore, saya beserta keluarga (istri, ibunda, dan kakak ipar)tiba di Alor Setar Kedah, Malaysia dari Jeddah. Perjalanan umrah selama 10 hari sangat mengesankan, penuh dengan berbagai penglihatan dan pengalaman yang di lalui. Madinah dengan masjid nabawi dan makkah dengan masjidulharam akan senantiasa memberikan rasa rindu untuk kita selalu pergi kesana, mengingat Allah swt dengan Haji dan Umrah ikhlas hanya untukNya, mengikut sunnah RasulNya. Apabila menghadirkan diri ke dalam Masjidil Haram, airmata akan terus melimpahi kelopak mata, terkena panah kerinduan kepadaNya, dan rasa penyesalan terhadap dosa, serta merendahkan diri kepada Allah swt.
Di masjidul haram, kita akan senantiasa melihat banyaknya manusia bertafakur, beribadah dan menangis merendahkan diri dan meminta kepada Allah swt. Ya Allah, berilah kami hidayahMu.....ampunkanlah dosa-dosa kami.....berikanlah kami ridhaMu...syurgaMu, dan kami berlindung kepadaMu dari kemarahanMu dan nerakaMU.
Memahami Hakikat..
Perbedaan antara Makkah yang didalamnya ada masjidul haram dan Madinah yang didalamnya ada masjid Nabawi dengan tempat-tempat lain adalah terletak kepada rahmat dan karuniaNya. Banyak hadis-hadis yang menyampaikan tentang fadhilah beribadah di masjid Nabawi dan Masjid haram berbanding masjid-masjid lain. Begitu juga hadis yang mengatakan bahwa Dajjal tidak akan dapat memasuki kota Makkah dan Madinah dll.
Pembahasan disini saya ingin menyampaikan untuk kita bisa membedakan bahwa kita bukan membesarkan Madinah dan Makkah, tetapi tetap membesarkan Allah swt yang menjadikan Makkah dan Madinah. Kita hanya mengagumi kelebihan Makkah dan Madinah berbanding tempat-tempat lain yang Allah sendiri telah tentukan. Tidak ada sekutu bagi Allah, baik itu di Makkah dan Madinah atau di tempat selain dari padanya. Dimana saja kita berada, kita tetap mentauhidkan Allah swt dengan mengamalkan sunnah rasulNya.
Kita tidak menyembah Makkah atau Kaabah, tetapi datang kerana di sini dilimpahi rahmat dan kurniaanNya. Cara berfikir seperti ini wajib difahami agar seorang hamba tidak tersalah. Jangan sampai ada seseorang membesarkan tempat,seseorang atau waktu tertentu, terlupa bahawa kesemua itu hendaklah dikembalikan kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Kita dapat merujuk kepada apa yang di ucapkan Umar Bin Khattab saat beliau hendak mencium hajar aswad, bagaimana kita dapat mengambil pelajaran bahwa kita harus membedakan antara mengagungkan hajar aswad atau sunnah Nabi Muhammad saw. Sebab itu Saidina Umar bin al-Khattab apabila hendak mencium Hajarul Aswad berkata:
“Sesungguhnya aku mengetahui, engkau hanyalah batu yang tidak memberi manfaat dan mudarat. Jika tidak kerana aku melihat Rasulullah menciummu, nescaya aku tidak akan menciummu” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Pelajaran ini sepatutnya ada pada proses belajar dan mengajar dalam dunia pendidikan, khususnya pada pengajian agama. Kita sepatutnya mengatakan : “ Saya mengikuti pendapatmu wahai guruku atau masyaikhku karena pendapatmu merujuk kepada dalil yang tidak bertentangan dengan sunnah nabiku ( Nabi Muhammad saw ), dan saya tidak mengikuti pendapatmu karena dalil dan hujahmu bertentangan dengan sunnah nabiku.”
Malangnya pada situasi hari ini, banyak golongan pelajar masih lagi fanatik buta kepada guru dan masayaikhnya tanpa mengkaji dalil-dalil ucapannya, sehingga mereka terjebak kepada mengikuti guru/ masyaikh dari pada harus mengikuti nabi saw dan para sahabatnya. Mereka terjebak kepada membesarkan guru/ masyaikh dari pada harus membesarkan Allah swt dan mengikuti sunnah NabiNya.
Akidah
Pemahaman akidah sebelum menunaikan umrah dan haji sangat diperlukan, kalau tidak maka semua yang dia korbankan akan sia-sia saja di hadapan Allah, baik itu pengorbanan harta, tenaga dll. Mentauhidkan Allah swt maknanya melakukan sunnah NabiNya ikhlas karena Allah saja. Melakukan ikhlas karena Allah maknanya tidak mengamalkan amalan syirik dan kufur yang dibenciNya.
Sebagai contoh amalan syirik dan amalan-amalan yang boleh membatalkan iman serta menghapuskan pahala kebaikan ialah masih terdapat diantara jamaah haji dan umrah yang datang ke Makkah dan Madinah dengan membawa azimat/ tangkal agar dengannya ia selamat di perjalanan, memberi makan burung di sekitar masjidil haram untuk mendapatkan berkah, mengusap kiswah ka’bah dengan kain untuk dijadikan tangkal, pergi haji dan umrah tetapi masih lagi yakin dan percaya kepada dukun untuk menjauhkan diri dari mudharat dan musibah, pergi ke Makkah dengan membawa bendera fanatisme kepada golongan, partai dan mazhab, berkerja sama dengan orang kafir untuk memusuhi saudara seiman demi kepentingan dunia, masih mengekalkan sifat ingin dan suka menzalimi sesama, memfitnah sesama, mencaci maki sesama dan lain sebagainya.
Demikian amalan-amalan diatas yang wajid dijauhi oleh sesiapa yang ingin menjejakkan kaki ke bumi suci ini agar terpelihara ketulusan tauhid. Kita bukan hanya dididik untuk mengamalkan sunnah dalam haji dan umrah secara zahir, tetapi kita juga mentarbiyah hati kita untuk bersih dari amalan yang dibenci Allah dan rasulNya.
Betapa ramai orang yang pergi ke Makkah dan Madinah, tetapi adakah seramai itu yang pergi dengan tauhid dan sunnah-sunnah rasulNya dalam melaksanakan haji dan umrah. Kalau memang ya jawabannya, kenapa semakin banyak yang melakukan haji dan umrah tetapi banyaknya yang bermusuhan dan saling membenci juga tidak kalah jumlahnya dari yang pergi ke sana.
Ibadah haji dan umrah sepatutnya melahirkan sifat ikhlas untuk taat kepada Allah dan rasulNya, bukan taat kepada ego dan pendiriannya. Bukan juga taat kepada golongan, mazhab, partai dan masyaikhnya melebihi taat kepada Allah dan rasulNya. Seperti masih ramai lagi di kalangan masyarakat bahkan pada pelajar yang berpegang kepada akidah asyairah, fanatik kepada mazhab dan mengamalkan tarekat sufi dimana itu semua tidak pernah dicontohkan Nabi saw. Malangnya, masih banyak juga masyarakat kita terjebak kepada untuk mengikut aktiviti-aktiviti dakwah jama’ah atau kumpulan-kumpulan dakwah hanya sebatas semangat dalam dakwah, tanpa mengetahui bahwa pendiri dan tokoh-tokohnya adalah penyebar paham tarekat, fanatisme dalam bermazhab dan penganut akidah asyaairah.
Amalan
Tiada harapan yang lebih besar dari seorang insan ketika berada di msjidil haram dari harapan agar Allah menerima ibadah dan memakbulkan doa. Demikianlah apa yang Ibrahim dan Ismail harapkan ketika mereka membina Kaabah.
Firman Allah (maksudnya):
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim bersama-sama Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Kaabah) itu, sambil keduanya berdoa: “Wahai Tuhan kami! terimalah daripada kami (amal kami); Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui” (al-Baqarah: 127).
Jika Ibrahim dan Ismail yang merupakan nabi berdoa agar amalan mereka Allah terima, maka kita jauh lebih patut berdoa agar amalan kita ini diterima. Segala belanja perjalanan dan masa yang ditumpukan tidak memberi makna jika amalan tertolak.
Maka, untuk memastikan amalan kita diterima, tauhid hendaklah benar-benar tulus tanpa syirik. Kemudian, amalan yang diamalkan itu hendaklah seperti yang diajar oleh Tuhan Kaabah melalui Ibrahim dan pewarisnya Nabi Muhammad s.a.w. Bukan amalan yang ditunjukkan oleh mutawwif atau guru-guru di travel-travel yang mengadakan umrah dan haji sedangkan tiada contoh yang ditunjukkan oleh pewaris Ibrahim, iaitu Nabi Muhammad s.a.w. Ini soal penting.
Nabi Ibrahim dan anaknya ketika membina Kaabah telah berdoa: (maksudnya)
“dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara Ibadat kami” (al-Baqarah: 128).
Walaupun Ibrahim dan Ismail telah membangun Kaabah, tetapi mereka tetap meminta kepada Allah bagaimana cara beribadah. Justeru, mereka memohon agar Allah menunjukkan kepada mereka cara ibadah yang Allah mahu. Ibadah hanya kepada Allah dengan cara yang Allah inginkan. Bukan ibadah kepada Allah dengan cara yang kita inginkan!
Malangnya, kita lihat manusia ketika tawaf dan sa’i ada berbagai cara dan rupa. Mereka bergantung kepada guru pakej atau mutawwif mereka, sehingga lupa untuk bertanya sunnah Nabi s.a.w ketika tawaf dan sa’i.
Perkara amalan yang menyelisihi/ tidak diajarkan nabi saw diantaranya masih lagi melafazkan niat umrah atau haji, padahal niat adalah amalan hati, yang dilafazkan adalah pada saat berihlal dan talbiah saja. Ada yang tawaf dengan doa-doa khas bagi setiap putaran, padahal itu tidak pernah ada dalam petunjuk Ibrahim, atau Ismail atau Muhammad a.s. Mereka sibuk membaca buku panduan sambil tawaf dan sa’i sehingga bertabrakan dengan orang didepannya,
Ada pula yang menjerit berdoa beramai-ramai bersama seorang pemimpinnya yang telah dibayar. Mereka melaungkan doa bagaikan berdemonstrasi di depan Kaabah. Keadaan ini cukup mengganggu insan yang lain tanpa disadari.
Ada juga mencium apa yang tidak dicium oleh Nabi s.a.w, melakukan apa yang tidak dilakukan Nabi saw. Kesemua itu berada di bawah sabda Nabi Muhammad s.a.w:
“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak”. (Riwayat Muslim).
Jika melihat fenomena pelaksanaan haji dan umrah tidak merujuk kepada sunnah, maka akan didapai kesimpulan bahwa pelaksanaan haji dan umrah akan menjadi susah, seakan-akan perlu masa yang lama untuk mempelajarinya. Padahal jika kita merujuk kepada sunnah Nabi saw, kita akan dapati bahwa amalan haji dan umrah secara khususnya sangat lah mudah, ia bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus dibebani dengan membaca dan menghapal doa yang panjang terkadang justru si pembaca tidak memahaminnya.
Tatacara umrah
1. Disunnahkan bagi yang hendak melaksanakan umrah agar mandi sebelum ihram, baik itu perempuan maupun lelaki. Bagi lelaki, agar mengenakan pakaian yang tidak berjahit, yaitu yang sering dinamakan oleh para ahli fikih dengan “pakaian tanpa jahitan.” Umumnya memakai seperti kain apa saja untuk menutupi bagian atas dan satu helai lainnya menutupi bagian bawah. Dibolehkan memakai sandal ( yang tidak berjahit juga ) atau setiap yang melindungi kedua belah telapak kaki asal tidak menutupi kedua tumit. Tidak boleh memakai peci, sorban dan apa saja untuk menutupi kepala secara langsung, hukum ini berlaku hanya bagi lelaki.
Rasulullah saw bersabda, yang mafhumnya :
Bagi yang berihram tidak boleh mengenakan gamis, sorban, mantel yang bertudung , celana, atau pakaian yang dicelup sumba dan wewangian, khuf (sepatu dari kulit), terkecuali jika tidak ada sandal(boleh mengenakan khuf). Dan beliau besabda ; “ wanita yang berihram tidak dibenarkan mengenakan niqab (yaitu penutup ujung hidung dan jenisnya bermacam-macam) dan sarung tangan”. Muttafaqun alaihi”shahih abi daud”.
Ia harus mengenakan kain ihram sebelum miqat walaupun dirumahnya, sebagaimana dikerjakan oleh Nabi saw dan para sahabatnya. Hal ini memudahkan bagi jamaah umrah yang menggunakan pesawat, karena tiak memungkinkan untuk memakai kain ihram di miqat, maka mereka diperbolehkan memakai kain pakaian ihram sebelum naik pesawat, tetapi mereka tidak niat untuk berihram kecuali sejenak sebelum sampai miqat agar tidak terlewatkan miqat tanpa berihram. Amalan di atas khususnya untuk jamaah umrah yang pergi dari Indonesia atau Malaysia terus menuju Jeddah dan ke makkah. Adapun yang dari Jeddah terus ke Madinah, maka mereka bisa berihram di miqat Dzul hulaifah atau Birr ali.Selanjunta pergi menuju Makkah.
Hendaknya memakai minyak wangi dibagian tubuh dengan menggunakan parfum apapun yang tidak berwarna, terkecuali bagi wanita. Karena parfum mereka adalah yang berwarna dan tidak berbau. Semua itu dilakukan sebelum berniat ihram di miqat, sedangkan setelah itu diharamkan.
Perkara yang dilarang setelah ihram :
Sengaja mencukur, memotong atau mencabut mana-mana bulu diseluruh badan. Sengaja memotong kuku kaki atau tangan. Sengajamemakai wewangian ketika ihram. Menikah, atau menikahkan orang lain, meminang, menjadi wali atau wakil. Sengaja membunuh atau memburu haiwan darat ( yang bukan peliharaan ), berjima’, bercumbu dengan isteri tanpa jima’, melakukan dosa atau maksiat dengan sengaja dan berdebat.
2. Jika jamaah terus pergi ke Madinah sesampai di Jeddah, tentu nantinya akan bermiqat di Birr ali. Adapun amalan sesampai di miqat seperti Dzulhulaifah/ Birr ali adalah :
Mandi dan memakai kain ihram ( jika sebelumnya belum mandi dan belum memakai kain ihram ), sholat dua rakaat, sholat ini bukan sholat untuk ihram sebagaimana dipahami banyak orang. Sholat itu dilakukan karena kekhususan tempat dan barakahnya. Tidak ada sholat khusus untuk ihram, tetapi jika masuk sholat sebelum masa ihram, maka seseorang tetap sholat kemudian baru berihram setelah sholat. Dengan cara itu berarti ia telah meneladani Nabi saw, karena beliau memakai pakaian ihram setelah sholat zhuhur.
Selanjutnya berdiri menghadap kiblah, berniat untuk melakukan umrah ( tidak perlu di lafazkan seperti mengucapkan “ sengaja aku melakukan umrah karena Allah swt”, karena itu tidak ada contoh dari Nabi saw. Ianya adalah amalan hati dan ketetapan hati yang perlu di pastikan saja. Selanjutnya niat dan amalan hati tersebut di lafazkan dengan menyebut ucapan saat berihlal yaitu : Labbaika Allahumma ‘umratan.
Kemudian membaca doa : “ Allahummah hadzihi ‘umratun laa riya’a fiiha walaa sum’ah. ( Ya Allah ini adalah umrah tidak mengandung riya’ maupun sum’ah ).
Dibolehkan juga membaca setelah itu : Allahumma mahaali haitsu habastani ( Ya Allah tempat tahallulku dimana Engkau menahan diriku untuk tiak bisa melanjutkan umrahku. )
Karena jika telah menggantung niat sedemikian rupa, kemudian tertahan atau sakit, maka ia boleh tahallul untuk menyelesaikan umrahnya dan tidak diwajibkan membayar dam atau denda.
Selanjutnya memulakan untuk bertalbiah : Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda , wanni’mata laka wa mulka, laa syariika laka.
Ucapan talbiah di atas terus di ucapkan sepanjang perjalanan sehingga kita sampai di mekkah dan melihat rumah-rumah disana, atau sampai kita melihat ka’bah saat hendak memulakan tawaf.
Disunnahkan untuk mengeraskan ucapan talbiyah, begitu juga untuk perempuan, selama tidak menjadi godaan bagi kaum lelaki, karena Aisyah juga bertalbiah dengan suara keras hingga terdengar oleh kaum lelaki.
3. Barang siapa berkesempatan untuk mandi sebelum memasuki kota Makkah, maka hendaknya ia mandi. Dan masuk pada siang harinya meneladani Rasulullah saw. Hendaknya masuk dari arah atas yang sekarang disebut dengan pintu almu’allah, karena nabi saw masuk dari bukit yang paling tinggi yaitu bukit Kada’ diatas kuburan, dan memasuki masjid dari pintu bani syaibah, karena pintu ini adalah jalan terdekat menuju hajar aswad. Di perbolehkan juga untuk memasukinya dari pintu manapun.
4. Jika anda memasuki masjid, jangan lupa untuk mendahulukan kaki kanan dan mengucapkan : Allahumma sholli wa sallim ‘ala Muhammad, Allahummaftahlii abwaaba rahmatika. (Ya Allah, berilah shalawat dan salam atas Muhammad, ya Allah bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMU. )
5. Apabila melihat ka’bah, seyogyanya agar mengangkat kedua tangan untuk berdoa. Disini tidak ada dalil yang bisa dijadikan sandaran dari nabi saw tentang doa khusus, maka boleh berdoa dengan doa-doa yang mudah, atau berdoa dengan doanya Umar ra :
Allahumma antassalaamu waminkassalaamu, fa hayyinaa rabbanaa bissalaam. ( Ya Allah, Engkaulah keselamatan, dariMula keselamatan, maka hidupkanlah kami dengan penuh kesejahteraan wahai Rabb kami ).
6. Kemudian segera menuju hajar aswad dan menatapnya dengan sungguh-sungguh kemudian mengucap basmalah dan bertakbir. Kemudian mengusapnya dengan tangannya, menciumnya dengan bibirnya, dan membungkukkan badan menghadapnya. Jika kita tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka kita bisa menyentuh dengan tangan kemudian mencium tangan. Jika tidak bisa juga untuk menyentuhnya cukup dengan mengisyaratkan tangan kepadanya. Amalan mengusap dan mencium hajar aswad dengan bibir, dan jika tidak bisa cukup dengan mengisyaratkan dengan tangan adalah amalan yang harus dilakukan pada setiap putaran, sehingga 7 putaran.
7. Kemudian memulakan tawaf seputar ka’bah dengan memposisikan ka’bah disebelah kiri kita, Dari hajar aswad sampai hajar aswad lagi terhitung satu putaran. Semuanya di lakukan dengan pakaian ihram secara idhthiba’ ( memasukkan kain ihram sebelah atas dari bawah ketiaknya yang sebelah kanan, dan meletakkan ujungnya diatas pundak kiri ) pada tiga putaran pertama, bermula dari hajar aswad dan berakhir di hajar aswad, dan berjalan pada putaran-putaran selanjutnya.
8. Mengusap rukun yamani dengan tangan pada setiap putaran jika memungkin, jika tidak bisa mengusapnya maka tidak perlu mengisyaratkan tangan, cukup berjalan dan melaluinya saja.
9. Jika kita diantara rukun yamani dan rukun hajar aswad, maka disunnah membaca :
Rabbanaa aa tinaa fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah waqinaa ‘adzaabannaar ( Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari adzab api neraka ). Jika mampu dan memungkinkan, seseorang boleh beriltizam antara rukun hajar aswad dan pintu ( mengarahkan dada, wajah dan kedua bahu kepadanya).
Tidak ada doa khusus dalam tawaf, ia boleh membaca alQur an, atau berdzikir sesuka hatinya yang mudah baginya.
10. Jika telah telah selesai putaran ketujuh, maka bertolak menuju maqam ibrahim membaca : Watta khidzuu mimmaqaami ibrahiima musholla(Dan jadikanlah sebahagian maqam ibrahim tempat shalat) Ali Imran : 125.
Dengan memposisikan maqam ibrahim antara dirinya dan ka’bah, lalu sholat disaa dua rakaat dengan membaca surah al kafirun pada rakaat pertama dan surah al ikhlas pada rakaat kedua. Jika tidak mampu untuk sholat di tempat tersebut, maka boleh sholat dimana saja di dalam masjid haram.
11. Jika selesai sholat, hendaklah ia menuju tempat air zamzam, meminum air zamzam tersebut, serta mengusapkannya di kepala. Kemudian kembali ke hajar aswad, untuk menciumnya dengan bibir, atau mengusapnya dengan tangan, atau mengisyaratkan tangan kepadanya.
12. Kemudian pergi menuju shafa untuk memulakan sa’i , jika telah dekat dengan shafa maka bacalah ayat 158 dari surah al Baqarah
Artinya : Sesungguhnya "Safa" dan "Marwah" itu ialah sebahagian daripada Syiar (lambang) ugama Allah; maka sesiapa Yang menunaikan Ibadat Haji ke Baitullah atau mengerjakan Umrah, maka tiadalah menjadi salah ia bersaie (berjalan Dengan berulang-alik) di antara keduanya. dan sesiapa Yang bersukarela mengerjakan perkara kebajikan, maka Sesungguhnya Allah memberi balasan pahala, lagi Maha mengetahui.
Lalu mengucapkan : Nabda’u bimaa bada Allahu bihi
Kemudian mendaki atas bukit shafa berdiri menghadap ka’bah hingga melihatnya,mengucap takbir tiga kali, terus membaca :
Laa ilaaha Illallahu wahdahulaa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu, yuhyii wayumiitu, wahuwa ‘ala kulli syai in qadir. Laa ilaaha Illallahu wahdahulaa syarikalahu, anjaza wa’dah, wanashara ‘abdahu, wahazamal ahzaaba wahdahu. ( 3 kali ).
Selanjutnya boleh berdoa dengan doa apa saja yang mudah untuk dilafazkan.
Kemudian turun dari bukit shafa, untuk melaksanakan sa’i menuju bukit marwah. Jika sampai pada tanda lampu hijau dari kanan dan kiri maka hendaklah melakukan lari-lari kecildengan cepat menuju tanda hijau berikutnya, dari situ terus melanjutkan untuk berjalan menuju bukit marwah.Sesampai di bukit marwah, terus naik menuju atas bukit lalu melakukan sebagaimana dilakukan di atas bukit shafa. Kemudian turun dari bukit marwah untuk menuju bukit shafa, dengan berjalan ditempat yang diperintahkan untukberjalan dan berlari-lari kecil ditempat lari-lari kecil, dan ini dihitung sebagai putaran kedua. Tidak ada bacaan khusus yang harus dibaca dan dihafal semasa melakukan sa’i. Untuk itu, siapapun yang melakukan sa’I, boleh membaca apa yang termudah baginya, seperti membaca quran yang dia hapal, atau berdzikir .
13. Kemudia kembali ke marwah, dan begitu seterusnya hingga lengkap baginya tujuh putaran yang berakhir di bukit marwah.
14. Jika telah selesai dari putaran ketujuh di marwah, setelah membaca apa apa yang patut di baca sebagaimana di bukit shafa, maka selanjutnya mencukur rambut kepalanya bagi lelaki, boleh juga memendekkannya sahaja. Adapun untuk perempuan maka cukup baginya untuk memotong rambutnya sedikit atau sepanjang ruas jari.
Dengan demikian, maka umrahnya telah selesai, dan menjadi halal apa yang diharamkan baginya sewaktu ihram.
Subscribe to:
Posts (Atom)