Wednesday, July 6, 2011

LARANGAN MENCELA PARA SAHABAT NABI MUHAMMAD SAW

Larangan Mencela Para Sahabat Nabi


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung uhud tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.

Takhrij Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh :
1. Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al Manaqib Bab Qauluhu Lau Itakhadztu Kholilaan no. 3397 dan lafadz lafadz Al Bukhari.
2. Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Fadhoil Al Sahabat Bab Tahrim Sabbi Al Sahabat no. 4610 dan 4611.
3. Imam Al Tirmidzi dalam Sunan-nya kitab Al Manaqib ‘An Al Nabi Bab Fiman Sabba Ashaabi Al Nabi no 3796
4. Imam Abu Daud dalam Sunan-nya Kitab Al Sunnah Bab Al Nahyu ‘An Sabb Ashabi Al nabi no. 4039
5. Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya kitab Muqaddimah bab Fadhlu Ahli Badr no. 157.
6. Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 10657, 11092 dan 11180.

Penjelasan Kosa Kata
(لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي) : jangan mencela sahabatku. Kata (أَصْحَابِي ) menurut etimoligi bahasa Arab diambil dari kata (صُحْبَة ) bermakna hidup bersama.[1] Abu Bakar Muhammad bin Al Thoyyib Al Baaqilaaniy (wafat tahun 463) berkata: “Ahli bahasa Arab sepakat bahwa perkataan ( صحابي) berasal dari kata (صُحْبَة ) dan bukan dari ukuran persahabatan yang khusus, bahkan ia berlaku untuk semua orang yang menemani seseorang, baik sebentar atau lama”. Kemudian ia menyatakan: “Hal ini menunjukkan secara bahasa hal ini berlaku kepada orang yang menemani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam walaupun sesaat di siang hari. Ini asal dari penamaan ini”. [2] Sedangkan Imam Ahmad bin Hambal mendefinisikan sahabat dalam pernyataan beliau: “Setiap orang yang bersahabat dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam setahun atau sebulan atau sehari atau sesaaat atau hanya melihatnya maka ia termasuk sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam “.[3]
Namun definisi yang rajih adalah definisi Al Haafidz Ibnu Hajar Rahimahullah yaitu: “Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan mukmin (beriman kepadanya) dan meninggal dalam keadaan Islam”.[4] Sehingga definisi ini mencakup orang yang berjumpa dengan beliau dan ber-mulazamah lama atau sebentar, orang yang meriwayatkan hadits dari beliau atau yang tidak, orang yang berperang bersama beliau atau tidak dan orang yang melihat beliau walaupun belum bermajelis dengannya dan orang yang tidak melihat beliau karena buta.
(فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ ) : Ucapan ini ditujukan kepada sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan dalil sebab adanya hadits ini adalah kisah yang disebutkan dalam hadits ini, yaitu perkataan Abu Sa’id :

كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ شَيْءٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ

Antara Khalid bin Al Walid dan Abdurrahman bin ‘Auf terjadi perseteruan, lalu Khalid mencelanya[5].

Dengan demikian jelaslah kedudukan Khalid tidak sama dengan kedudukan Abdurrahman bin ‘Auf, karena Abdurrahman termasuk sahabat-sahabat yang masuk islam di awal dakwah Rasul sedangkan Khalid bin Walid masuk Islam belakangan setelah penaklukan kota Makkah.
Hal ini seperti firman Allah Ta’ala:

لاَيَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولاَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبير

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Al Hadid 57:10

Namun orang yang setelahnya pun masuk dalam larangan ini
(أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا) : Berinfak emas sebesar gunung uhud.
(مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ ) : tidak dapat menyamai satu mud infak mereka dalam bentuk apapun. Satu Mud adalah ¼ sha’.
(وَلَا نَصِيفَهُ ) : An Nashief bermakna An Nisfu yaitu setengah mud
Penjelasan Makna Hadits
Hadits yang mulia ini menunjukkan larangan mencela sahabat dan kedudukan dan keutamaan para sahabat, sampai-sampai jika diantara kita berinfak emas sebesar gunung uhud tidak akan dapat menyamai infaknya mereka sebesar mud dan tidak pula setengahnya.

Faedah Hadits

Dari hadits ini dapat ambil beberapa faedah, diantaranya:

1. Larangan mencela sahabat.

Mencela sahabat sangat diharamkan dalam islam dengan dalil:
a. Itu merupakan ghibah dan menyakiti kaum mukmin yang dilarang, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah :

وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Al Hujurat:12

Dan firman Allah:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَااكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Al Ahzab:58

b. Allah telah meridhai para sahabat dan pencelaan terhadap para sahabat menunjukkan ke-tidak-ridha-an terhadap mereka, sehingga bertentangan dengan firman Allah :

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sungguh Allah telah meridhoi kaum mukminin ketika mereka memba’iatmu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). QS. Al Fath:18

c. Perintah beristighfar (memohonkan ampunan) bagi mereka, sebagaiman firman Allah:

وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:’Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang. Al Hasyr:10

‘Aisyah menafsirkan ayat ini dalam pernyataan beliau kepada keponakannya yang bernama Urwah bin Al Zubeir :

يَا ابْنَ أُخْتِي أُمِرُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِأَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَبُّوهُمْ

Wahai keponakanku mereka diperintahkan untuk memohon ampunan bagi para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tetapi malahan mereka mencacinya.[6]

Imam Nawawi menjelaskan pernyataan ‘Aisyah ini: ‘Tampaknya, beliau menyatakan hal ini ketika penduduk Mesir mencela Utsman dan penduduk Syam mencela Ali sedangkan Al Haruriyah mencela keduanya. Adapun perintah memohon ampunan yang beliau isyaratkan, maka ia adalah firman Allah:

وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ

Dan dengan ayat ini juga Imam Maalik berhujjah bahwa orang yang mencela sahabat tidak berhak mendapatkan harta Fa’i. Karena Allah hanya menjadikan harta tersebut kepada orang yang datang setelah sahabat yang memohon ampunan bagi mereka.[7]

d. Allah melaknat orang yang mencela para sahabat, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

Barang siapa mencela sahabatku maka ia mendapat laknat Allah.[8]

e. Larangan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits Abu Sa’id diatas.
Bahkan ini sudah merupakan kesepakatan Ahlu Sunnah Wal Jamaa’ah sebagaimana dinyatakan Ibnu Hajar dalam pernyataan beliau dalam fathul Bari (13/34): “Ahlu Sunnah wal Jamaah telah bersepakat tentang kewajiban tidak mencela seorang pun dari para sahabat“.[9]

2. Bahaya mencela sahabat

Diantara bahaya yang timbul dari perbuatan mencela sahabat adalah

a. Mencela sahabat sebagai tanda kerendahan pelakunya dan merupakan satu kebid’ahan dalam agama. Hal ini dinyatakan oleh Abu Al Mudzaffar Al Sam’aaniy dalam pernyataannya: “Mencela sahabat merupakan tanda kerendahan pelakunya. Ia juga merupakan kebid’ahan dan kesesatan”.[10]
b. Mencela mereka berarti mencela saksi Al Qur’an dan Sunnah dan dapat membawa pelakunya menjadi zindiq. Hal ini diungkapkan imam Abu Zur’ah Al Raziy dalam pernyataan beliau:
“Jika kamu melihat seseorang melecehkan seorang sahabat nabi n maka ketahuilah ia seorang zindiq. Itu karena Rasululloh n menurut kita adalah benar dan Al Qur’an benar. Sedangkan yang menyampaikan Al Qur’an dan Sunnah nabi n kepada kita adalah para sahabat. Mereka hanya ingin mencela para saksi kita untuk menghancurkan Al Qur’an dan Sunnah. Celaan kepada mereka (para pencela) lebih pantas dan mereka adalah zindiq”.[11]

c. Mendapat hukuman pidana, minimal berupa ta’zir (Didera menurut kebijaksanaan pemerintah Islam).[12]

d. Mendapatkan laknat Allah Ta’ala ,sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

Barang siapa mencela sahabatku maka ia mendapat laknat Allah.[13]

e. Mencela sahabat Rasulullah sama saja menuduh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tercela, karena memiliki sahabat yang berhak di cela, sebagaimana diungkapkan Imam Malik dalam pernyataannya: “Mereka kaum yang jelek ingin mencela Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , namun tidak bisa. Lalu mereka mencela para sahabat beliau sampai dikatakan: ‘Orang jelek tentu memiliki sahabat yang jelek pula’ “.[14]

3. Hukum Orang Yang Mencela Sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
Orang yang mencela sahabat dapat kita bagi menjadi beberapa bagian:

1. Orang yang sekedar mencela sahabat. Maka masih perselisihkan hukumnya karena ia berada diantara melaknat karena marah dan karena I’tiqad.[15]

2. Orang yang mencela sahabat dengan keyakinan ‘Ali Radhiyallahu’anhu sebagai Tuhan atau Nabi, maka ia telah kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun orang yang mengiringi celaannya dengan keyakinan Ali sebagai tuhan atau ia seorang Nabi atau keyakinan Jibril salah dalam menyampaikan wahyu; maka ini tidak diragukan kekafirannya, bahkan tidak diragukan juga kekafiran orang yang tidak mengkafirkannya”.[16]

3. Orang yang mencela sahabat karena keyakinannya akan kekafiran sahabat, maka ia adalah kafir berdasarkan ijma’ dan dia dihukumi dengan hukum bunuh, karena ia telah mengingkari sesuatu yang secara pasti telah diakui dalam Agama, yaitu ijma’ umat Islam tentang keimanan para sahabat.[17] Syaikhul Islam berkata: “Adapun orang yang melewati hal itu (yaitu sekedar mencela (pen)) sampai menganggap para sahabat telah murtad setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam kecuali sejumlah kecil tidak sampai belasan orang atau menganggap para sahabat seluruhnya fasiq; maka tidak diragukan lagi kekafirannya, karena ia telah mendustakan nash Al Qur’an yang banyak berisi keridhaan dan pujian kepada mereka. Bahkan orang yang ragu tentang kekafiran yang seperti ini maka kekafirannya itu pasti”.[18]

4. Orang yang mencela sahabat seluruhnya dengan keyakinan mereka seluruhnya fasiq maka ia kufur, sebagaimana disampaikan Ibnu Taimiyah diatas.

5. Orang yang mencela sahabat dengan keyakinan bahwa mencela mereka itu merupakan pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah. Sikap ini merupakan natijah (akibat) dari kebencian mereka terhadap sahabat, dan tentu ini adalah sebagai konsekuensi dari keyakinan mereka tentang kefasikan sahabat. Tentu hal itu adalah kufur dan keluar dari Islam.
Imam Ath Thahawi mengatakan: “Benci terhadap sahabat adalah kufur, nifak dan melampaui batas”.
Imam Malik mengatakan: “Barang siapa yang bangun pagi sedangkan di dalam hatinya ada kebencian terhadap salah seorang sahabat, berarti berlaku baginya ayat Al Qur’an, yakni firman Allah Ta’ala:

لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min.(QS. Al Fath:29)”[19]

6. Orang mencela sahabat dengan celaan yang tidak merusak keadilan dan agama mereka, seperti menyatakan Abu Sufyaan bakhil atau Abu Hurairah sukanya makan dan sejenisnya; maka ia berhak di didik dan dihukum ta’zir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun orang yang mencela mereka (para sahabat) dengan celaan yang tidak merusak keadilan dan agama para sahabat- seperti mensifatkan sebagian mereka dengan bakhil atau penakut atau sedikit ilmu atau tidak memiliki sifat zuhud dan sejenisnya-. Maka orang inilah yang berhak mendapat pembinaan dan hukuman ta’zir dan kita tidak menghukumnya kafir hanya dengan hal ini saja”.[20]

Kesimpulannya disampaikan Ibnu Taimiyah dalam pernyataan beliau: “Kesimpulannya; ada diantara orang yang mencela sahabat yang sudah pasti kekufurannya dan ada yang tidak divonis kufur serta ada yang masih dibimbangkan kekufurannya”.

4. Hukum Mencela Istri-Istri Nabi.[21]

Adapun orang yang mencela istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam; misalnya orang yang menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu’anha dengan tuduhan keji yang sesungguhnya telah dibantah oleh Allah Ta’ala, maka ia telah kafir, lebih dari seorang ulama telah menyampaikan ijma’ ini. Sedangkan orang yang mencela selain beliau dari para istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam , maka terdapat dua pendapat ulama dalam hal ini:

a. Pendapat pertama, disamakan hukumnya sebagaimana mencela salah seorang sahabat.

b. Pendapat kedua, hukum menuduh seorang dari ummahat Al Mukminin (istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam) sama dengan hukum menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu’anha. – dan inilah yang benar-
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.
Penulis: Ustadz Khalid Syamhudi, Lc.
Artikel UstadzKholid.Com
________________________________________
[1] Al Qaamus Al Muhiith karya Al Fairuz Abadiy, cetakan kelima tahun 1416, Muassasah Al Risaalah, Beirut hal. 134
[2] Diambil dari kitab Al Kifaayah Fi Ilmi Riwayah karya Abu Bakar Ahmad bin Ali Al Khothib Al Baghdadiy, cetakan tahun 1409 H, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut hlm 51.
[3] Ibid
[4] Al Ishabah Fi Tamyiiz Al Shahabat karya Al Haafidz Ibnu Hajar, cetakan tanpa tahun, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, hal. 1/4
[5] Disebutkan dalam riwayat Muslim.
[6] Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, no.5344.
[7] Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi, Tahqiq Syaikh Khalil Ma’muun Syaikhoo, cetakan ketiga tahun 1417 H , Dar Al Ma’rifah, Beirut hal. 18/352-353
[8] Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 1001 hlm 2/469 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Dzilalil Jannah fi Takhrij Al Sunnah 2/469. lihat kitab As Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim dengan Dzilal Al Jannah karya Muhammad Nashiruddin Al Albani, cetakan ketiga tahun 1413 H, Al Maktab Al Islamiy, Bairut.
[9] Dinukil dari kitab Min Aqwaal Al Munshifiin Fi Al Sahabat Al Kholifah Mu’awiyah, karya Syaikh Abdulmuhsin bin Hamd Al ‘Abaad, cetakan pertama tahun 1416 H, Markas Syu’un Al Dakwah, Al Jami’ah Al Islamiyah, Madinah, hal. 13.
[10] Ibid hal 12.
[11] Ibid
[12] Lihat Mukhtashor Al Sharim Al Mashlul ‘Ala Syatim Al Rasul karya Ibnu Taimiyah oleh Muhammad bin ‘Ali Al Ba’liy, Tahqiiq ‘Ali bin Muhammad Al Imraan, cetakan pertama tahun 1422 H, Dar ‘Aalam Al Fawaaid, Makkah, hal. 121
[13] Riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 1001 hal. 2/469 dan dihasankan oleh Al Albani dalam Dzilalil Jannah fi Takhrij As Sunnah 2/469. Lihat kitab As Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim dengan Dzilal Al Jannah karya Muhammad Nashiruddin Al Albani, cetakan ketiga tahun 1413 H, Al Maktab Al Islamiy, Bairut.
[14] Mukhtashor Al Sharim Al Mashlul ‘Ala Syatim Al Rasul op.cit hal 122.
[15] Ibid hal. 127
[16] Mukhtashor Al Sharim Al Mashlul ‘Ala Syatim Al Rasul karya Ibnu Taimiyah, Tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdulhamid , Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut hlm 586
[17] Lihat Majalah Al Sunnah edisi 12/1/1415-1995 hal. 23 menukil dari majalah Al Furqaan edisi 54 tahun IV Robi’ Al Akhir 1415 H/ Oktober 1994.
[18] Mukhtashor Al Sharim Al Mashlul ‘Ala Syatim Al Rasul op.cit hlm 586-587.
[19] Majalah As Sunnah edisi 12/I/1415-1995 hal 23-24.
[20] Al Sharim Al Masluul op.cit hlm 586.
[21] Masalah ini diterjemahkan dari Mukhtashar Al Sharim Al Maslul op.cit hal. 116.

SIAPAKAH HASAN AL - SAQQAF

Siapa Hassan al-Saqqaf?

Hassan Ibn Ali al-Saqqaf berasal dari Jordan. Beliau mendakwa dari keturunan Khalifah Ali Ibn Abi Talib radhiyallahu'anhu dan cukup berbangga dengan pangkat itu seolah-olah ianya menjaminkan dirinya bersifat ma'sum dan sentiasa di atas kebenaran.

Beliau cuba menonjolkan diri bahawa beliau seorang ahli Sunnah yang bermazhab al-Imam al-Syafi`i. Dalam masa yang sama beliau selalu menghentam secara lisan para sahabah yang terlibat dalam peperangan menentang Khalifah Ali Ibn Abi Talib radhiyallahu'anhu.

Di negara-negara Timur Tengah, istilah "as-Saqqafiyyah" ini amat masyhur bagi merujuk kepada pemikiran rosak golongan yang merujuk kepada kitab-kitab dan tulisan-tulisan pengasasnya, Hassan al-Saqqaf.

Berikut kami akan paparkan dua contoh penyelewengan Hassan al-Saqqaf yang telah dikutip oleh Zamihan al-Ghari di dalam kitabnya.

1) Mencela Para Sahabat

Menurut Prof. Madya Abdul Fattah Haron Ibrahim, bekas pensyarah Universiti Kebangsann Malaysia (UKM), kitab "Kesahihan As-Salaf dan Al-Khalaf" adalah cetakan pertama kitab "Salafiyah Wahabiyah", lalu telah dihapuskan beberapa hal dalam cetakan selanjutnya.

Hassan al-Saqqaf lalu, dengan hadith ini, mengaitkan ‘peristiwa murtad’ yang berlaku pada Zaman Khalifah Abu Bakr As-Siddiq sebagai alasan dan bukti untuk menjustifikasikan bahawa sebahagian Sahabat telah murtad. Semoga Allah melindungi kami dari bersikap biadap terhadap para Sahabat.

Jika kita merujuk pada syarah Imam an-Nawawi rahimahullah mengenai hadith ini, beliau memaksudkan istilah "sahabat" sebagai berikut:

"Mereka yang dinisbahkan kepada persahabatan dengan Baginda shallallahu 'alayhi wasallam (dari kalangan Umat Baginda)" (Jilid 17, Halaman 125)

Beliau bermaksud: mereka yang dinisbahkan kepada persahabatan dengan Baginda shallallahu 'alayhi wasallam dalam konteks bahasanya dan bukannya dalam konteks istilah ulama.

Maksud sedemikian disokong oleh riwayat kedua yang juga di riwayatkan oleh Muslim selepas riwayat di atas dengan lafaz:

“Pada umatku terdapat 12 orang munafiq…”

Inilah antara kepentingan Ilmu Takhrij Hadith yang melibatkan pengumpulan riwayat kerana sebahagian riwayat itu boleh membantu kita memahami maksud sebahagian yang lain.

Besar kemungkinan as-Saqqaf memang tahu bahawa perkataan أصحابي tersebut bukan bermaksud Sahabat Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam mengikut istilah Ulama. Namun, lantaran kecenderungannya kepada pemikiran Syi'ah, beliau hanya ingin mengelirukan golongan yang bebal dan malas mengkaji.

Sayangnya, Zamihan al-Ghari sekadar memetik dari kata-kata as-Saqqaf tanpa merujuk kitab asal dan syarah para ulama Ahlussunnah terhadap hadith tersebut.

Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam telah berpesan:
“Jangan kamu mengecam Sahabat-sahabat ku! Jangan kamu mencela Sahabat-sahabat ku! Kerana demi (Allah) yang nyawaku di tanganNya, jika seseorang daripada kamu membelanjakan emas sebesar Bukit Uhud sekalipun nescaya tidak menyamai nilai secupak emas atau setengah cupak emas yang dibelanjakan oleh mereka” (Hadith Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

2) Menuduh Ibn Taymiyyah rahimahullah Ber-'Aqidah Sesat

Kebencian terhadap Sheikhul Islam Ibn Taymiyyah rahimahullah amat terserlah di kalangan Syi'ah dan Sufi akibat tulisan-tulisan beliau yang membungkam firqah-firqah yang menyeleweng ini.

Perlu difahami kaedah Ahlussunnah dalam memahami Sifat-Sifat Allah, yakni tanpa tahrif, ta'thil, takyif dan tamstil.

Tahrif - tidak mengubah lafaz atau mengalih maksud Sifat-Sifat tersebut. Sifat Tangan Allah tidak diubah menjadi kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya.

Ta’thil - tidak menolak atau menafikan atau mengalih (takwil) Sifat-sifat tersebut selagi ianya dikhabarkan oleh nas yang sahih.

Takyif - tidak bertanya atau menggambarkan bagaimana bentuk atau ciri-ciri atau tatacara Sifat-sifat tersebut, yakni tidak menjisimkannya.

Tamtsil - tidak menyerupa atau mengumpamakan Sifat-sifat tersebut dengan mana-mana makhluk yang ada di sekalian alam.

Cukuplah buat masa sekarang ini kami mengungkapkan penafian Ibn Taymiyyah sendiri terhadap tuduhan tersebut:

“Sesungguhnya (sesiapa yang) menjadikan sifat Allah seumpama sifat makhluk-makhluk, seperti berkata: “Istiwa’ Allah sebagaimana istiwa’ makhluk atau “Nuzul (Penurunan) Allah sebagai nuzul makhluk” dan apa-apa lain seperti itu, maka (orang itu) adalah seorang pembuat bid‘ah yang sesat. Kerana sesungguhnya al-Qur’an dan al-Sunnah bersama akal telah menunjukkan bahawa Allah tiadalah Dia seumpama makhluk-makhluk dalam apa jua bentuk atau cara sekalipun.” (Majmu' al-Fatawa, 5/262. )

Pandangan JAKIM Terhadap Hassan al-Saqqaf

Malah, lebih dari sekadar mengumumkan kecenderungan as-Saqqaf terhadap fahaman Syi'ah (sebagaimana dipaparkan di atas), kajian Cawangan Aqidah JAKIM ini juga telah mendedahkan hubungkait fahaman ekstremis al-Ahbash dengan golongan as-Saqqafiyyah.

Al-Ahbash adalah kumpulan sufi yang mengkafirkan ramai di kalangan ulama terdahulu dan juga ulama sekarang, termasuk Ibn Taymiyyah rahimahullah. Mereka telah difatwakan sesat oleh Mufti Mesir, Kajian Islam al-Azhar, Institut Kajian Ilmiah Arab Saudi dan Majlis Tertinggi Fatwa Amerika Selatan.

Golongan as-Saqqafiyyah juga telah dikecam oleh para ulama Jordan seperti Sheikh Syu'aib al-Arnauth dan Prof. Dr. Qahthan al-Duri al-Iraqi. Mereka berkomentar bahawa golongan as-Saqqafiyah akan menggalakkan budaya tuduh-menuduh dan membawa kepada kafir-mengkafir sesama umat Islam.


Rujukan:
"Isu Wahhabiyah: Menanganinya Secara Realiti"oleh Mohd Aizam Bin Mas'od, Cawangan Aqidah JAKIM
"Penyelewengan Pemikiran as-Saqqafiyyah" oleh Prof. Madya Abdul Fattah Haron Ibrahim
"Pembongkaran Jenayah Ilmiah Buku Salafiyah Wahabiyah" oleh Hafiz Firdaus Abdullah

HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU

HADIS PALSU DAN LEMAH

Yang patut di jauhi dari Beramal dan dijadikan Hujah MUQADDIMAH

Quote: 1. Hadith-hadith yang diriwayatkan dari Nabi SAW tak semuanya sahih. Ada yang lemah, bahkan ada yang palsu.

2. Antara sebab sesuatu hadith menjadi lemah, bahkan palsu adalah kerana kecacatan perawinya. Disamping ada juga berpunca dari gugurnya perawi dari sanad hadith.

3. Cara mengetahui status sesuatu hadith samada ia sahih,hasan, lemah atau palsu ialah melalui ilmu rijalul hadis, (ilmu mengenai perawi-perawi hadis serta ilmu jarah dan ta'dil (ilmu mengenai kecacatan dan keadilan perawi-perawi hadith).

4. Mengetahui kesohehan dan kedhaifan sesuatu hadith adalah perlu supaya kita tidak berhukum dan beramal dengan sesuatu yang tidak thabit dari Nabi SAW.

5. Menurut pendapat Imam Yahya bin Ma'in (wafat 233H), Imam AI-Bukhari (wafat 256H), Imam Muslim (wafat 261H), dan Imam Ibnu Hazm (wafat 456H), tidak boleh beramal sama sekali dengan hadith dhaif (apa lagi palsu) dalam hukum hakam dan fadhail a'mal (keutamaan-keutamaan amalan).

6. Imam An-Nawawi didalam Muqaddimah Syarah Sahih Muslim menyifatkan pendapat membolehkan beramal dengan hadith lemah dalam hukum-hakam adalah tidak benar bahkan sangat keji.

7. Buku ini ditujukan khusus kepada masyarakat awam Islam yang mana sebahagian besar dari mereka menganggap semua hadith-hadith Nabi SAW adalah sahih dan boleh diamalkan, sedangkan ianya tidak demikian.

8. Dengan menyedari kedudukan masyarakat Islam yang kurang memahami dan mendalami ilmu hadith, penulis membentangkan cara yang cukup mudah sebagai penjelasan mengapa satu hadith itu menjadi lemah bahkan palsu melalui komentar-komentar ulama pengkritik hadith yang jujur, adil, amanah dan kepercayaan.

9. Mudah-mudahan usaha yang kecil ini mendatangkan kebaikan dan manafaat khasnya kepada masyarakat awam Islam dan diterima disisiNya sebagai satu amalan soleh yang berpanjangan pahalanya.

10. Akhimya Penulis memohon keampunan yang sebanyak-banyaknya kepada Allah sekiranya terdapat kesalahan dan kesilapan yang mana ia merupakan sifat hamba yang lemah. Kebenaran dan kesempumaan hanyalah milik Allah SWT. . Hamba Yang Mengharapkan Keampunan Tuhannya; Ibrahim Mohd Raja Taman Gombak Ria, Jamadil Awwa11426/Jun 2005

Hadith 1
Menuntut Ilmu Sampai Ke Negeri China Maksudnya: Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri China
1. Periwayat- Periwayat Hadith: Ibnu Adi, Abu Nu'aim, Ibnul Abdul Bar, AI-Khatib AI-Baghdadi 2. Status Hadith: PALSU
3. Sebabnya: Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bemama Abu Atikah Tharif bin Salman. Ia telah disepakati akan kelemahannya. Kata Imam AI-Bukhari: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Kata Imam AI-Uqaili : Ia seorang yang ditinggalkan, hadithnya (matruk) Kata Imam An-Nasai: Ia tidak thiqah(kepercayaan). Kata Imam Ad-Daruqutni dan Imam Ibnu Hajar: Ia lemah. As-Sulaimani menanggapinya lebih dari itu ( dengan maksud Abu Atikah ini dikenali sebagai seorang pemalsu hadith ). Ini disebut oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya At- Taqrib. Imam Ahmad mengingkari hadith ini dengan keingkaran yang bersangatan. Kata Imam Ibnu Hibban: Hadith ini bathil, tiada asalnya. Oleh kerana itu Imam Ibnul Jauzi menghukum hadith ini sebagai palsu.
Nota kaki: . 1. Perawi mungkar adalah perawi yang melakukan kesalahan yang parah atau pelupa atau jelas kefasikannya. Juga didefinasikan sebagai perawi lemah yang riwayatnya menyalahi perawi yang kepercayaan. Adapun disisi Imam AI-Bukhari ia membawa maksud seorang perawi yang tidak halal meriwayatkan hadith darinya.
2. Perawi matruk adalah perawi yang dituduh berdusta. (perhatian: Istilah ini akan ditemui oleh pembaca sekelian didalam hadith-hadith yang akan datang).

Hadith 2
Ramadhan: Awalnya Rahmat, Pertengahannya Keampunan, Akhirnya Pembebasan Dari Api Neraka. Maksudnya: Permulaan bulan Ramadhan itu rahmat, pertengahannya keampunan dan akhimya pembebasan dari neraka.
1. Periwayat-Periwayat Hadith: Ibnu Adi, AI-UqaiIi, AI-Khatib AI-Baghdadi, Ad-DaiIami, Ibnu Asakir
2. Status Hadith: SANGAT LEMAH
3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat dua orang perawi yang dipertikaikan iaitu; Sallam bin Sawwar. Kata Imam Ibnu Adi: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Kata Imam Ibnu Hibban: Ia tidak boleh dijadikan hujjah. Kata Imam Ibnu Hajar: Ia lemah. Kata Imam Az-Zahabi: Ia tidak dikenali dan khabamya mungkar. Maslamah bin As-Shalt Kata Imam Ibnu Adi: Ia tidak ma 'ruf (dikenali). Kata Imam Abu Hatim: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya (matruk).
4. Keterangan: Hadith ini dengan lafaz yang hampir sarna juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah didalam Sohehnya. Tetapi status hadith tersebut adalah lemah, kerana didalam sanadnya ada seorang perawi bemama Ali bin Zaid bin Jud' an. Kata Imam Abu Zur'ah : Ia tidak kuat,waham(keliru) dan melakukan kesalahan. Kata Imam Ibnu Ma'in : Ia tidak dapat dijadikan hujjah. Kata Imam An-Nasai dan Imam Ibnu Hajar : Ia lemah Kata Imam Abu Hatim: Tidak boleh berhujjah dengannya.
5. Kesimpulannya: .. Kedua-dua hadith ini tidak dapat menguatkan antara satu sama lain kerana kecacatan perawi-perawinya terlalu nyata dan ketara.

Hadith3
Membaca Surah Yaasin Keatas Orang Yang Akan Mati Maksudnya: Bacalah keatas orang akan mati dikalangan kamu Surah Yaasin
1. Periwayat-Periwayat Hadith: Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, AI-Hakim, AI-Baihaqi , At- Thabarani, Ibnu Abi Syaibah
2. Status Hadith: LEMAH
3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat dua orang perawi yang tidak dikenali (majhul) iaitu Abu Uthman dan bapanya Kata Imam Ad-Daruqutni: Hadith ini lemah sanadnya, tidak dikenali matannya (lafaz hadith ), Tiada sah satu hadith pun dalam bab ini. ( yakni yang bersumber dari Nabi SAW).
4. Keterangan: Paling utama ialah beramal dengan sunnah Nabi SAW dengan mengajar orang yang hampir mati dengan LaillahaillAllah.Sabda Nabi SAW dalam hadith riwayat Ahmad, Muslim,Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasai, Ibnu Majah, AI-Baihaqi, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah: Maksudnya: Ajarkanlah orang yang akan mati dikalangan kamu dengan LaillahaillAllah

Hadith 4
Lagi Membaca Surah Yaasin Keatas Orang Yang Akan Mati Maksudnya: Mana-mana orang yang akan mati lalu dibacakan disisinya Surah Yaasin nescaya Allah permudahkan keatasnya. 1. Periwayat-Periwayat Hadith: Abu Nu'aim, Ad-Dailami, Ar-Ruyani 2. Status Hadith: PALSU 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Marwan bin Salim, Kata Imam Abu Hatim, Imam AI-Bukhari dan Imam Muslim: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Kata Imam Ahmad, Imam Uqaili dan Imam Nasai: ia tidak thiqah(kepercayaan). Kata Imam Ad-Daruqutni dan Imam Ibnu Hajar: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya. Kata Imam As-Saji: Ia seorang pembohong yang memalsukan hadith.

Hadith 5
Berhaji Tapi Tidak Menziarahi Rasulullah Saw Maksudnya: Sesiapa yang menunaikan haji dan tidak menziarahiku, sesungguhnya ia telah menjauhkan dirinya dariku. 1. Periwayat-Periwayat Hadith: Ibnu Adi, Ibnu Hibban, Ad-Daruqutni 2. Status Hadith: .PALSU 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Muhammad bin Muhammad bin An Nu'man. Kata Imam Ad-Daruqutni: Kecelaan pada hadith ini datangnya dari Muhammad bin Muhammad. Kerana itu Imam Ad-Daruqutni menuduhnya sebagai pembohong. Kata Imam Ibnu Hajar: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya(matruk). .Begitu juga dengan datuknya, iaitu An-Nu'man. Dia merupakan seorang perawi yang tertuduh (dengan kelemahan). Berkata Imam Ibnu Hibban mengenai An-Nu'man: An-Nu'man membawa dari perawi-perawi kepercayaan hadith-hadith yang huru-hara (tidak tentu arah). Kerana itu Imam Az-Zahabi menyebut hadith ini sebagai PALSU. 4. Keterangannya: Hukum menziarahi kubur Nabi SAW adalah sunat.

Hadith 6
Solal Sunat Sebelum Musafir Maksudnya: Tiada satu pun yang lebih utama ditinggalkan seseorang pada keluarganya dari solat dua rakaat yang dilakukannya disisi mereka sewaktu hendak musafir. 1. Periwayat-Periwayat Hadith: Ibnu Abi Syaibah, At- Thabarani 2. Status Hadith: LEMAH 3. Sebabnya: Sanadnya terputus antara AI-Muth'im bin AI-Miqdam dan Nabi SAW. Kata Imam Ibnu Hajar: Tidak thabit AI-Muth'im mendengar mana-mana hadith dari sahabat. Kata Imam Ibnu Hajar lagi: AI-Muth'im adalah dari kalangan pengikut At-Tabi'ien ia meriwayatkan hadith dari Imam Mujahid, Imam Said bin Jubair dan lain-lain. Hadis ini adalah Mu' dhal (hadith yang gugur perawinya dua orang atau lebih secara berturut-turut); dan hadis Mu'dhal termasuk dalam kategori hadith lemah. 4. Keterangan: Disana ada sebuah hadith riwayat At- Thabarani mengenai seorang lelaki yang ingin bermusafir ke Bahrain untuk berniaga, Nabi SAW bersabda kepadanya: yang bermaksud: "Solatlah dua rakaat". Hadis ini juga lemah kerana didalam sanadnya terdapat seorang perawi yang lemah bernama Abdullah bin Sufian AI-Wasithi. 5. Kesimpulannya: Amalan sunnah ialah solat 2 rakaat sekembali dari musafir. Solat ini dikerjakan oleh Nabi SAW di masjid sebagaimana dalam hadith riwayat AI-Bukhari dan Muslim. Berkata Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahib Muslim: Maksudnya: Solat ini bermaksud bagi sekembali dari musafir, bukannya solat Tahiyyatul Masjid. Nota kaki: 1. Tabi'ien: Sesiapa yang sempat berjumpa dengan sahabat Nabi SAW dalam keadaan ia Islam dan mati atas Agama Islam. 2. Pada hadis tersebut telah gugur sekurang-kurangnya 2 orang perawi antara AI-Muth'im dengan Nabi SAW.

Hadith 7
Membaca Talqin Di Kubur Maksudnya: Apabila telah mati salah seorang dari saudara kamu, lalu kamu ratakan tanah kuburnya, maka hendaklah berdiri salah seorang dari kamu diatas arah kepala kuburnya, kemudian ucapkan: "Wahai fulan bin fulan bin fulanah", sesungguhnya ia mendengar tapi tak dapat menjawab. Kemudian ucapkan lagi: "Wahai fulan bin fulanah", sesungguhnya ia tegak duduk. Kemudian ucapkan lagi: "Wahai fulan bin fulanah", maka ia (simayat) berkata; "ajarkan kepada kami, mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepadamu".Akan tetapi kamu tidak menyedarinya. Kemudian ucapkan lagi: "Ingatlah apa yang dengannya engkau telah keluar dari dunia iaitu persaksian : Tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu hambaNya dan RasulNya, sesungguhnya engkau redha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai Agama, Muhammad sebagai Nabi dan AI-Quran sebagai Imam". Maka Malaikat Mungkar dan Nakir akan saling memegang tangan antara kedua-duanya seraya berkata: "Marilah kita pergi, kita tidak akan berada disisi mayat yang diajarkan hujjah (jawapannya)". Maka Allahlah yang menjadi hujjah keatas kedua malaikat tersebut. Berkata seorang lelaki:"Wahai Rasulullah, sekiranya ia (pembaca talkin) tidak mengetahui siapa ibunya (simati)"? JawabNabi SAW: "Hendaklah ia nasabkan kepada Hawa"', (iaitu dengan menyebut: "Wahai fulan bin Hawa "'). 1. Periwayat-Periwayat Hadith: At-Thabarani 2. Status Hadith: LEMAH 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Said Al-Azdi yang menurut Imam Ibnu Abi Hatim adalah majhul (seorang perawi yang tidak dikenali). .Menurut Imam Al-Haithami di dalam sanadnya terdapat jemaah (ramai) perawi yang tidak dikenalinya. Hadith serupa ini juga dikeluarkan oleh Ad-Dhiya' Al-Maqdisidan Ibnu Asakir. Tetapi di dalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Abdullah bin Muhammad, juga seorang perawi yang tidak dikenali. Zahir dari ini, dapat dikatakan bahawa Abdullah bin Muhammad ini termasuk dalam jemaah perawi yang tidak dikenali oleh Imam Al-Haithami. Hadith ini juga telah dilemahkan sanadnya oleh Imam An-Nawawi di dalam kitabnya Al-Majmu'. Begitu juga telah dilemahkan sanadnya oleh Imam AI-Iraqi ketika mengeluarkan hadith-hadith dari kitab Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali. 4. Keterangan: Hadith talqin ini juga diriwayatkan oleh Said bin Mansur didalam Sunannya dengan lafaz yang lebih pendek, iaitu: Maksudnya: Wahai sifulan, katakan: 'Tiada Tuhan melainkan Allah,aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah' diucapkan 3 kali, kemudian katakan :'Tuhanku Allah, Agamaku Islam, Nabiku Muhammad', kemudian beredarlah (dari kubur). Hadith riwayat Said bin Mansur ini tidak dapat dijadikan penguat untuk menetapkan hukum talqin dari riwayat At- Thabarani diatas kerana: . 1. Kedudukan lafaz hadith ini terlalu pendek tanpa memiliki keterangan-keterangan lain sebagaimana yang disebutkan didalam riwayat At- Thabarani. 2. Hadith ini adalah hadith mauquf yang diriwayatkan oleh beberapa orang tabi' en dari Syam, antaranya Dhamrah bin Habib dan menisbahkan perbuatan talqin ini kepada sahabat-sahabat Nabi SAW tanpa menyebut nama-nama mereka. 3. Kemauqufan hadith riwayat Said bin Mansur ini disebut oleh Imam Ibnu Hajar didalam kitabnya Bulugul Maram. 4. Perbuatan talqin ini hanya dilakukan oleh penduduk Syam sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ahmad dan ianya dikuatkan oleh kenyataan Imam An-Nawawi di dalam kitabnyaAl-Majmu'. Sekiranya talqin ini sesuatu yang thabit dari sunnah, sudah pasti ianya dilakukan oleh penduduk kota Madinah, tempat tertegaknya sunnah Nabi SAW. 5. Kesimpulan: Paling utama ialah berdoa dan memohon keampunan untuk simati setelah selesai dikebumikan dengan berdiri disisi kubur sebagaimana thabit dalam sunnah Nabi SAW. Baginda bersabda kepada sahabat-sahabat yang hadir diupacara pengkebumian: Maksudnya: Mintalah keampunan untuk saudara kamu dan mohonlah baginya ketetapan (dapat jawab soalan Mungkar dan Nakir) kerana sesungguhnya ia sekarang sedang disoal. (Hadith riwayat A:bu Daud, AI-Hakim, AI-Baihaqi ) Nota Kaki: 1.Hadith Mauquf ialah hadith yang disandarkan kepada Sahabat Nabi SAW samada dari ucapan atau perbuatan atau pengakuan mereka .(Adapun bila suatu hadith itu disandarkan kepada Nabi SAW ia dipanggil Hadith Marfu' dan apabila disandarkan kepada tabi'en , ia dipanggil Hadith Maqthu').

Hadith 8
Berjabat Tangan (Bersalam) Sambil Berselawat Maksudnya: Mana-mana dua orang hamba yang berkasih sayang keranaAllah, kedua-duanya berjumpa lalu bersalam sambil berselawat keatas Nabi SAW, nescaya sebelum kedua-duanya berpisah Allah pasti mengampunkan dosa kedua-duanya samada dosa yang terdahulu dan kemudian. 1. Periwayat-Periwayat Hadith: Ibnu As-Sunni, Ibnu Hibban 2. Status Hadith: LEMAH 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Durust bin Hamzah. Kata Imam Ibnu Hibban: Ia seorang yang sangat mungkar hadithnya. Kata Imam Abu Daud, Imam Ad-Daruqutni dan Imam Ibnu Hajar: Ia lemah. Kata Imam Abu Zur'ah: Ia seorang yang lemah hadithnya. Kata Imam Abu Hatim: Hadithnya tidak boleh berdiri sendiri. (untuk dijadikan hujjah).

Hadith 9
Binatang Korban Sebagai Tunggangan Maksudnya: Pilihlah binatang korban kamu yang baik (gemuk, mahal, kuat, sihat) kerana ia akan menjadi kenderaan tunggangan kamu diatas titian As-Sirath,( pada Hari Qiamat). 1. Periwayat Hadith: Ad-Dailami 2. Status Hadith: SANGAT LEMAH 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bemama Yahya bin Ubaidullah. Kata Imam Abu Hatim: Ia seorang yang lemah hadithnya. Kata Imam Ahmad: Ia seorang yang mungkar hadithnya, tidak thiqah (kepercayaan). Kata Imam An-Nasai dan Imam Ibnu Hajar: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya (matruk). Kata Imam Ad-Daruqutni: Ia lemah. Imam AI-Hakim menuduhnya sebagai pemalsu hadis. 4. Keterangan: .Disana ada satu lafaz lain mengenai hadith ini Maksudnya : Pilihlah binatang korban kamu yang baik (gemuk, mahal, kuat, sihat) kerana ia akin menjadi kenderaan tunggangan kamu diatas titian As-Sirath,( pada Hari Qiamat). Hadith dengan lafaz ini tiada asalnya, ia muncul ditengah-tengah kaum muslimin mengiringi hadith yang sangat lemah dengan lafaz diatas. 5. Kesimpulan: Menurut Imam Abu Bakar Ibnul Arabi, tiada satu hadith soheh pun mengenai keutamaan korban.

Hadith 10
15 Perkara Yang Menyebabkan Bala Maksudnya: Apabila ummatku telah mengerjakan 15 perkara, halallah keatas mereka bala', lalu ditanya kepada Nabi SAW :apakah dia (15 perkara itu), wahai Rasulullah. Jawab Nabi SAW: 1. Apabila harta kekayaan hanya berlegar di kalangan mereka yang kaya sahaja. 2. Amanah dijadikan punca kekayaan. 3. Mengeluarkan zakat dianggap seperti membayar hutang. 4. Seorang suami taat kepada isterinya. 5. Derhaka kepada ibu. 6. Berbuat baik kepada kawan dengan bersangatan.(melebihi berbuat baik kepada kaum kerabat sendiri). 7. Seseorang menjauhkan diri dari bapanya. 8. Ditinggikan suara dalam masjid (dengan sesuatu yang lagha seperti bertengkar, bergurau, bermain-main dll). 9. Pemimpin suatu kaum dilantik dari kalangan orang yang paling hina. 10. Dimuliakan seseorang kerana takutkan kejahatannya. 11. Arak diminum dengan berleluasa. 12. Sutera dipakai oleh ramai kaum lelaki. 13. Ramai artis-artis (penyanyi). 14. Muzik banyak dimainkan. 15. Orang terakhir dari umat ini (khalaf) melaknat orang yang terdahulu (salaf). Apabila telah terjadi demikian maka tunggulah azab dengan kedatangan angin panas atau ditelan oleh bumi atau diubah rupa bentuk. 1. Periwayat Hadith: At-Tirmizi 2. Status Hadith: LEMAH 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bemama AI-Faraj bin Fadhalah. Kata Imam AI-Bukhari dan Imam Muslim: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Kata Imam Ibnu Ma' in dan Imam Ad -Daruqutni: Ia seorang yang lemah hadithnya. Kata Imam An-Nasai dan Imam Ibnu Hajar: Ia lemah. Kata Imam Ibnu Hibban: Tidak halal berhujjah dengannya. Kerana itu Imam AI-Iraqi dan Imam AI-Munziri melemahkan hadith ini. Juga sanad hadith ini terputus antara seorang perawi bernama Muhammad bin Umar dengan datuknya Ali. Ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Ibnu Hajar didalam kitabnya At- Taqrib. Tentang terputusnya sanad hadith ini juga telah dikuatkan oleh Imam AI-Mubarakpuri didalam kitabnya Tuhfatul Ah-Wazi.

Hadith 11
Tha'labah Tidak Membayar Zakat Maksudnya: Celakalah kamu wahai Tha'labah, sedikit (harta) yang membawa kamu bersyukur lebih baik dari banyak (harta) yang membawa kamu tidak mampu menanggungnya. Nota: 1. Hadith ini kononnya mengenai seorang sahabat yang bemama Tha'labah bin Hatib AI-Anshari yang tidak membayar zakat setelah ia meminta dari Nabi SAW supaya mendoakannya menjadi kaya. Ia juga meninggalkan solat berjamaah dan seterusnya solat Jumaat setelah kambingnya semakin membiak dalam jumlah yang banyak. Sampai kepada zaman pemerintahan Abu Bakar, Umar dan Uthman, kesemuanya enggan menerima zakat dari Tha'labah disebabkan Nabi SAW sendiri pemah enggan menerima zakatnya. Akhimya Tha'labah mati di zaman pemerintahan Uthman RA. 2. Kisah Tha'labah ini dijadikan sebab turunnya ayat 75- 77 Surah At- Taubah. Maksudnya: Diantara mereka itu ada yang telah berjanji dengan Allah SWT: Demi jika Dia memberikan kepada kami kurniaNya, nescaya kami sedekahkan dan kami termasuk orang-orang yang soleh.75 ... Tatkala Allah memberikan kurniaNya kepada mereka, mereka menjadi bakhil dan berpaling, sedang mereka tetap berpaling.76. LaluAllah menjadikan akibat mereka jadi munafiq dalam hatinya sampai pada hari mereka menemuiNya (hari qiamat), disembarking mereka telah melanggar yang mereka janjikan, lagi kerana mereka berdusta.77 1. Periwayat-Periwayat Hadith: At-Thabarani, .AI-Baihaqi, .At- Thabari Status Hadith: SANGAT LEMAH Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat dua orang perawi yang dipertikaikan iaitu: 1. Mu'an bin Rifaah As-Salami Kata Imam Abu Ratim: Ditulis hadithnya tapi tidak boleh dijadikan hujah. Kata Imam Ibnu Ma'in: Ia lemah. Kata Imam Ibnu Ribban: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Kata Imam Ibnu Rajar: Ia seorang yang lemah hadithnya. 2. Ali bin Yazid Al-Alhani Kata Imam Al-Bukhari: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Kata Imam An-Nasai, Imam Ad-Damqutni dan Imam Al-Raithami : Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya (matruk). Kata Imam Abu Zur'ah: Ia tidak kuat. Kata Imam Ibnu Abi Hatim: Ia seorang yang lemah hadithnya. Kata Imam Ibnu Hajar: Ia lemah. .Kelemahan hadith ini diperkuatkan lagi oleh:- 1. Imam AI-Iraqi didalam "Takhrij Al-Ihya'" dengan kenyataannya bahawa sanad hadith ini lemah. 2. Imam Ibnu Hajar didalam "Takhrij Ahadith Al-Kasyaf' dengan kenyataannya bahawa sanad hadith ini sangat lemah. 3. Kata Imam Ibnu Hazm didalam kitab AI-Muhalla: Riwayat ini bathil. 4. Kata Imam AI-Munawi didalam kitabnya Faidhul Qadir: Lemah 4. Keterangan: Kata Imam AI-Qurtubi didalam tafsimya yang bermaksud; "Tha'labah adalah ahli Badar dari golongan Ansar dan termasuk dari kalangan org yang dipersaksikan oleh Allah dan Rasulnya dengan keimanan. Apa yang diriwayat mengenainya (yakni kisahnya serta sebab turun ayat ) adalah tidak sahih". Kata Imam Ibnul Athir didalam kitabnya Usudhul Ghabah: Mereka semuanya ( yakni Imam Ibnu Mandah, Imam Abu Nu'aim dan Ibnul Abdul Barr) mengatakan bahawa Tha'labah berperang dalam perperangan Badar. Penegasan tentang penyertaan Tha'labah dalam perperangan Badar dikuatkan lagi oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Ibnu Hazm, Imam Abdul Barr dan Imam Ibnu Hajar. 5. Kesimpulan: Adalah tidak masuk akal sahabat yang mulia ini, yang dipersaksikan keimanannya oleh Allah dan Rasul melakukan demikian dan sebegitu sekali kesudahan hidupnya. Ahli Badar merupakan orang yang terpilih disisi Allah dan Rasul sebagaimana disebutkan didalam hadith riwayat Al-Bukhari: Datang Jibrail AS bertanya kepada Nabi SAW. "Apa pandangan kamu mengenai orang yang berperang di Badar" Jawab Nabi SAW yang bermaksud: "Mereka adalah orang yang terpilih dikalangan kami". Ahli Badar tidak akan sekali-kali masuk neraka , sabda Nabi SAW didalam hadis riwayatAhmad yang bermaksud: "Tidak akan masuk neraka sesiapa yang menghadiri perperangan Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah".Ahli Badar diampunkan dosanya oleh Allah. Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi riwayat AI-Bukhari, Muslim dan Tirmizi yang bermaksud: "Buatlah apa yang kamu sukai (wahai ahli Badar), sesungguhnya Aku telah ampun segala dosa kamu". Sebaiknya kisah sahabat yang mulia ini tidak lagi dijadikan bahan cerita setelah nyata ianya tidak benar kerana dibimbangi termasuk dalam mencela sahabat-sahabat Nabi SAW. Sabda Nabi SAW dalam hadith riwayat At- Thabarani yang bermaksud: "Barangsiapa yang mencela sahabat-sahabatku maka ke atasnya laknat Allah, Malaikat dan manusia seluruhnya"

Hadith 12
Kefakiran Membawa Kepada Kekufuran Maksudnya: Hampir-hampir kefakiran itu membawa kepada kekufuran. 1. Periwayat-Periwayat Hadith: AI-Baihaqi, Abu Nu'aim, Ibnu Adi, Ibnu As-Sakan , Ibnul Jauzi 2. Status Hadith: LEMAH 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bemama Yazid bin Aban Ar-Raqasyi Kata Imam Ibnu Ma'in, Imam Ad-Daruqutni dan Imam Ibnu Hajar: Ia lemah Kata Imam An-Nasai: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya (matruk). Kata Imam Ahmad: Ia dilemahkan (oleh ahli-ahli hadith). Kata Imam Syu 'bah: Bahawa berzina lebih aku sukai dari meriwayatkan hadith dari Yazid Ar-Raqasyi ( ini sebagai tanda penolakan yang kuat Imam Syu'bah terhadap periwayatan hadith dari Yazid, bukan bermakna ia betul-betul ingin berzina). Kata Imam As-Sakhawi: Jalan-jalan periwayatan hadith ini semuanya lemah.

Hadith13
Doa Senjata Orang-orang Beriman Maksudnya: Doa itu senjata bagi orang-orang beriman, tiang agama dan cahaya bagi langit dan bumi. 1. Periwayat-Periwayat Hadith: Abu Ya'la, AI-Hakim , Ibnu Adi 2. Status Hadith: PALSU 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bemama Muhammad bin AI-Hasan AI-Hamdani. Kata Imam Ibnu Ma'in, Imam Abu Daud dan Imam Ibnul Jauzi: Ia pembohong. Kata Imam An-Nasai dan Imam AI-Haithami: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya(matruk). Kata Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan Imam Ibnu Hajar: Ia lemah. .Kata Imam Abu Hatim: Ia tidak kuat. Disamping itu sanad hadith ini juga terputus sebagaimana yang disebut oleh Imam Az-Zahabi. Ia terputus antara Ali bin AI-Hussain dan datuknya iaitu Ali bin Abi Thalib RA. 4. Keterangan: Abu Ya'la juga ada meriwayatkan dari jalan lain iaitu hadith yang hujungnya disebut : Maksudnya: Maka sesungguhnya doa itu senjata orang-orang beriman. Tetapi riwayat ini juga PALSU kerana didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Sallam bin Sulaim At-Thawil. Kata Imam Ibnu Khirash : Ia pembohong. Kata Imam Ibnu Hibban: Ia meriwayatkan hadith-hadith palsu. Kata Imam Ad-Daruqutni, Imam An-Nasai dan Imam Ibnu Hajar: Ia seorang yang ditinggalkan hadithnya(matruk). Kata Imam Ibnu Ma'in: Ia lemah,hadithnya tidak patut perlu ditulis. Kata Imam Ahmad: Ia seorang yang mungkar hadithnya. Imam Ibnul Madini bersangatan dalam melemahkannya. Disamping itu terdapat seorang lagi perawi lain didalam sanad hadith ini iaitu Muhammad bin Abi Humaid. Ia merupakan seorang perawi yang lemah. 5. Kesimpulan: .. Kedudukan doa tetap utuh dan teguh disisi orang-orang beriman dalam permohonan dan pengaduan mereka kepada Allah walaupun tanpa kedua-dua hadith ini. Terlalu banyak ayat-ayat AI-Quran dan hadith-hadith lain yang soheh yang membicarakan mengenai doa.

Hadith14
Doa Otak Ibadat Maksudnya: Doa adalah otak (isi) kepada ibadah. Periwayat Hadith: At-Tirmizi Status Hadith: LEMAH Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Abdullah bin Lahi'ah Ia lemah dari segi hafalan. Hafalannya bercampur aduk selepas kitab-kitabnya terbakar sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar didalam kitabnya At-Taghrib. Ahli-ahli hadith bersepakat dalam melemahkannya selepas kitab-kitabnya terbakar. Hadith yang sahih dari Nabi SAW dalam bab ini ialah: Maksudnya: Doa itu adalah ibadah. Hadith ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At- Tirmizi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu'aim dan AI-Hakim.

Hadith I5
Yaasin Hati AI-quran Maksudnya: Sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu itu mempunyai hati dan hati Al-Quran itu adalah Surah Yaasin. Barangsiapa yang membaca Surah Yaasin, Allah mencatatkan pahala bacaannya seperti membaca AI-Quran sepuluh kali. Periwayat-Periwayat Hadith: At- Tirmizi , Ad-Dailami, AI-Baihaqi Status Hadith: LEMAH 3. Sebabnya: Didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Harun Abu Muhammad. Ia adalah seorang perawi yang majhul (tidak dikenali). Ini diisyaratkan sendiri oleh Imam At- Tirmizi didalam Jami'nya (atau lebih dikenali dikalangan masyarakat Islam dengan Sunan At- Tirmizi) dengan katanya: Maksudnya: Dan Harun Abu Muhammad adalah seorang sheikh yang tidak dikenali. 4. Keterangan: Didalam sanad hadith ini juga terjadi perselisihan keatas seorang perawi bemama Muqatil. Didalam sanad ini, ia adalah Muqatil bin Hayyan, seorang perawi yang benar, yang menurut Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Ma'in sebagai seorang perawi yang thiqah (kepercayaan). Tetapi menurut Imam Ibnu Hatim dan diikuti oleh Imam Az-Zahabi, ia bukan Muqatil bin Hayyan tetapi Muqatil bin Sulaiman. Muqatil bin Sulaiman adalah seorang perawi yang pembohong. Sekiranya apa yang disebutkan oleh Imam Abu Hatim dan Imam Az-Zahabi ini diperkirakan, maka hadith "Yaasin hati AI-Quran" ini adalah berstatus palsu disebabkan wujudnya seorang perawi pembohong didalam sanadnya iaitu Muqatil bin Sulaiman. Hadith ini dengan lafaz setakat: Diriwayatkan juga oleh AI-Bazzar. Tetapi sanad hadith ini juga lemah kerana didalam sanadnya terdapat seorang perawi bemama Humaid AI-Makki maula (bekas hamba) kepada keluarga AI-Qamah. Kata Imam Ibnu Hajar: Humaid AI-Makki ini seorang perawi yang majhul (tidak dikenali). Jadi, hadith ini juga lemah untuk dijadikan hujah dalam bab ini.

Tuesday, July 5, 2011

BENARKAH KISAH THA'LABAH?

Kebenaran Kisah Tha’labah?


Soalan: Benarkah kisah sahabat Nabi s.a.w Tha’labah bin Hatib yang kononnya miskin, lalu dia meminta Nabi s.a.w doakan agar dia kaya, apabila dia kaya dia tak mahu membayar zakat, lalu al-Quran mengutuk perbuatannya itu. Kisah ini selalu dijadikan bahan ceramah.

Jawapan: Kisah ini yang sering disebut oleh ramai pendakwah sebagai satu contoh buruk. Tha’labah dikatakan meminta agar Nabi s.a.w. mendo`akan kekayaannya. Apabila beliau kaya dan berharta beliau enggan memberi zakat. Kononnya, Al-Quran turun mengutuk perbuatan tersebut dalam Surah al-Taubah: 75-77:

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنْ الصَّالِحِينَ(75)فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوا وَهُمْ مُعْرِضُونَ(76)فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Maksudnya: Dan di antara mereka ada yang membuat janji dengan Allah dengan berkata: “Sesungguhnya jika Allah memberi kepada kami dari limpah kurniaNya, tentulah kami akan bersedekah, dan tentulah kami akan menjadi dari orang-orang yang soleh”. Akibatnya Allah menimbulkan perasaan munafik dalam hati mereka (berkekalan) hingga ke masa mereka menemui Allah, kerana mereka telah memungkiri apa yang mereka janjikan kepada Allah dan juga kerana mereka sentiasa berdusta.Kemudian setelah Allah memberi kepada mereka dari limpah kurniaNya, mereka bakhil dengan pemberian Allah itu, serta mereka membelakangkan janjinya; dan sememangnya mereka orang-orang yang sentiasa membelakangkan (kebajikan).

Rasulullah S.A.W dikatakan wafat dalam keadaan tidak menerima zakatnya. Begitu juga Abu Bakr dan `Umar r.ahuma selepas itu enggan menerima zakatnya. Beliau dikatakan meninggal pada zaman pemerintah `Uthman bin `Affan r.a.

Memang tidak dinafikan ramai para penafsir telah mengaitkan ayat ini dengan Tha’labah dan dia dianggap dari golongan munafik berdasarkan ayat di atas. Sedang Ibn Hajar al-`Asqalani menyebut di dalam al-Isabah bahawa dia adalah ahli perang Badr. Kita hendaklah sedar, jika dia ahli Perang Badr, maka Ahli peperangan Badar tidak mungkin menjadi seorang munafik. Kesemua ahli Badr adalah ahli syurga. Di sana ada fadilat khas yang diberikan untuk ahli peperangan Badar. Nabi s.a.w.

لَعَلَّ الله اطَّلعَ عَلى أهْلِ بَدْرٍ فقـال “اعـمَلوا مَا شِـئْتُم فَقَد وَجَبَتْ لَكُمُ الجَنَّةُ أو فقد غَفَرْتُ لكم”

” Allah melihat kepada ahli Perang Badar dan berfirman ” buatlah apa yang kamu suka sesungguhnya telah pasti untuk kamu syurga atau Aku telah ampuni kamu semua” (al-Bukhari dan Muslim) Dia dikatakan terbunuh di dalam peperangan Uhud. Dengan itu al-Hafizd Ibn Hajar menafikan kesahihan cerita tersebut (Al-Isabah, 1/206). Demikian juga al-Imam Ibn Hazm (meninggal 456H) dalam al-Muhalla menganggap kisah ini sebagai batil tanpa syak (Ibn Hazm, Al-Muhalla, Beirut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyyah). Antara ulama dahulu yang mengkritik riwayat ini Ibn `Abd al-Barr (meninggal 463H), al-Haithami الهيثمي (meninggal 807H) dan lain-lain. Ulama zaman ini yang mengkritik riwayat ini antaranya al-Syeikh Ahmad Muhammad Syakir, al-Syeikh Nasir al-Din al-Albani, al-Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi`I dan lain-lain. Satu buku khas mengkritik riwayat ini telah ditulis oleh `Adab عداب bin Mahmud al-Himsy الحمش bertajuk ثعلبة بن حاطب الصحابي المفترى عليه yang bermaksud Tha’labah bin Hatib, seorang sahabah yang didustai ke atasnya, adalah satu tulisan yang baik untuk dibaca.

Oleh itu wajar berhati-hati agar kita tidak menuduh sahabah tanpa asas yang kukuh. Walaupun tidak dinafikan cerita ini begitu tersebar dan buku-buku tafsir, namun sikap mengkaji dan meneliti sangat penting.

Monday, July 4, 2011

HUKUM SHOLAT TASBIH

Apakah hukum menunaikan solat sunat Tasbih ? Adakah ia merupakan sunnah Nabi saw?

JAWAPAN :

روي عن ابن عباس – رضي الله عنهما – قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم للعباس بن عبد المطلب‏:‏ ‏(‏يا عباس، يا عماة‏:‏ ألا أعطيك‏؟‏ ألا أمنحك‏؟‏ ألا أحبوك‏؟‏ ألا أفعل بك عشر خصال إذا أنت فعلت ذلك غفر الله لك ذنبك، أوله وأخره، وقديمه وحديثه، وخطأه وعمده، وصغيره وكبيره، وسره وعلانيته‏؟‏ عشر خصال‏:‏ إن تصلي أربع ركعات، تقرأ في كل ركعة بفاتحة الكتاب وسورة، فإذا فرغت من القراءة في أول ركعة فقل وأنت قائم‏:‏ سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر، خمس عشرة مرة، ثم تركع فتقولها وأنت راكع عشراً، ثم ترفع رأسك من الركوع فتقولها عشراً، ثم تهوي ساجداً وتقولها وأنت ساجد عشراً ثم ترفع رأسك أومن السجود فتقولها عشراً، ثم تسجد فتقولها عشراً، ثم ترفع رأسك من السجود فتقولها عشراً، فذلك خمس وسبعون في كل ركعة، تفعل ذلك في أربع ركعات، وإن استطعت أن تصليها في كل يوم مرة فافعل، فإن لم تستطع ففي كل جمعة مرة، فإن لم تفعل ففي كل شهر مرة، فإن لم تفعل ففي كل سنة مرة، فإن لم تفعل ففي عمرك مرة‏)

Maksudnya : “Wahai Abbas Pakcikku, Aku ingin memberikan padamu, aku benar-benar mencintaimu, aku ingin engkau melakukan -sepuluh sifat- jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu, baik yang pertama dan terakhir, yang terdahulu dan yang baru, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh sifat adalah: Engkau melaksankan shalat empat rakaat; engkau baca dalam setiap rakaat Al-Fatihah dan surat, apabila engkau selesai membacanya di rakaat pertama dan engkau masih berdiri, mka ucapkanlah: Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian ruku’lah dan bacalah do’a tersebut 10 kali ketika sedang ruku, kemudian sujudlah dan bacalah do’a tersebut 10 kali ketika sujud, kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali kemudian sujudlah dan bacalah 10 kali kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap rakaat, dan lakukanlah hal tersebut pada empat rakaat. Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu( HR Abu daud bab solat tasbih no : 1297 )

Solat sunat tasbih yang dikatakan adalah solat yang disunatkan oleh Rasulullah saw adalah berdasarkan hadis yang diriwayatkan seperti di atas oleh Ibnu Abbas.Berikut saya bawakan komentar beberapa orang ulama berkenaan hadis solat sunat tasbih ini
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Tirmizi (no:482)dan ibnu Majah (no:1386) dari jalan Abu Rafi’ yang mana dinilai sebagai hadis gharib (pelik) oleh Tirmizi sendiri.Malah berkata Ibnu al-‘Arabi pada mensyarahkan hadis Tirmizi ini dengan mengatakan bahawa ianya adalah hadis dhoif dan tidak ada asalnya pada menilainya sohih dan hasan.An-Nasaie mengatakan hadis ini matruk (ditinggalkan).
( Tahqiq Tuhfatuz Zakirin Imam Syaukani oleh As-syaikh Ibrahim Al-Misri , m/s : 223 )

Ibnu Qudamah berkata: “Jika ada orang yang melakukannya maka hal tersebut tidak mengapa, karena solat nawafil dan Fadhoilul A’maal tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan kepada hadits sahih” (Al-Mughny 2/123)

Ibnu Qudamah menukil riwayat dari Imam Ahmad bahwa tidak ada hadis sohih yang menjelaskan hal tersebut. Ibnuljauzi mengatakan bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan solat tasbih termasuk maudhu yang diletakkan dalam kitabnya al-Maudhu’aat`.

Berkata Al-Suyuti dalam اللآلئ daripada Ibnu Hajar : bahwa yang benar adalah seluruh riwayat hadits adalah dhaif meskipun hadits Ibnu Abbas mendekati syarat hasan, akan tetapi hadits itu syadz karena hanya diriwayatkan oleh satu orang rawi dan tidak ada hadits lain yang menguatkannya. Dan juga solat tasbih berbeza gerakannya dengan solat-solat yang lain.

As-Syaikh Al-albani pula mengatakan hadis riwayat Ibnu Abbas ini adalah dinilai sebagai sohih li-ghairihi (lihat sohih al-targhib wa al-tarhib , no : 677)

Manakala Ibnu Uthaimin melalui risalah fatawanya menyatakan bahawa , Ibnu Taimiyah menyebut hadis-hadis yang menceritakan tentang solat tasbih adalah batil dan dusta semata.Ini kerana asal ibadah itu adalah tidak boleh dilaksanakan melainkan adanya dalil yang menyuruh untuk kita membuatnya.( Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Uthaimin , juz 14 , m/s 22 , no: 895 )

Tahqiq / Tarjih hukum :

Solat sunat Tasbih adalah solat yang tidak disyariatkan atas dalil :

1. bahawa hadis yang meriwayatkan tentangnya adalah mudhtarib yang mana diperselisihkan martabat hadis tersebut oleh ulama dengan berbagai-bagai bentuk.
2. Asal ibadah tidak boleh melainkan adanya dalil yang menyuruh untuk dilakukan.

Sunday, July 3, 2011

BID'AH-BID'AH (AMALAN YANG TIDAK SUNNAH ) DIBULAN SYA'BAN

Bid’ah-Bid’ah Bulan Sya’ban

Menurut hadits-hadits sahih, Rasulullah s.a.w. berpuasa sepanjang atau hampir sepanjang bulan Sya’ban.

Dan lain-lain hadith lagi yang menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. menghayati semua atau sebahagian besar bulan Sya'ban dengan mengerjakan puasa sunat.
Hanya amalan puasa inilah sahaja yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. dalam bulan Sya'ban ini. Selain puasa tidak ada riwayat yang sah mengenai adanya amalan-amalan khas yang lain yang dikerjakan oleh Rasulullah s.a.w. di bulan Sya'ban ini dan yang disyariatkan kepada umatnya, dan tidak ada pula riwayat yang menunjukkan para sahabat menghayati sepanjang bulan Sya'ban ini dengan amalan-amalan yang khusus.
Adapun puasa khas pada hari Nisfu Sya'ban, solat khas pada malamnya yang dikenali dengan solatul-Khair, upacara membaca Surah Yaasin dengan kaifiat yang khusus, dan berdoa dengan doa yang khusus, meminta murah rezki, panjang umur dan sebagainya bukanlah amalan Sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w.danpara sahabatnya dan tidak pula dikerjakan oleh As-Salafus-Soleh

Imam An-Nawawi berkata di dalam kitab Al-Majmu':

"Solat yang dikenal dengan solat ar-Raghaib iaitu dua belas rakaat yang dilakukan di antara Maghrib dan Isyak pada malam Jumaat pertama dari bulan Rejab dan solat Nisfu Sya'ban sebanyak seratus rakaat; kedua-dua solat tersebut adalah bid'ah yang mungkar. Janganlah hendaknya orang terpedaya kerana kedua-duanya disebutkan dalam kitab Qutul-Qulub dan Ihyau-Ulumiddin, dan jangan pula terpedaya dengan hadith yang disebutkan dalam kedua-dua kitab itu kerana semuanya adalah batil belaka.
(Al-Ibda', halaman 288)

Al-Imam Ibnu Taiymiah pula berkata:

“Adapun mengadakan solat dengan bilangan rakaat yang tertentu dan bacaan yang tertentu dan dikerjakan secara berjamaah tetap seperti solat Ar-Raghaib pada malam Jumaat pertama bulan Rejab, solat Alfiah pada awal bulan Rejab, solat Nisfu Sya'ban, solat malam 27hb.Rejab (malam Israk dan Mikraj) dan lain-lain sepertinya tidaklah disyari'atkan dengan sepakat imam-imam orang-orang Is¬lam sebagaimana yang dinashkan oleh ulama-ulama yang mu' tabar. Orang yang menciptanya tiada lain kecuali orang orang jahil”. (Majmu' Fatawa Ibnu Taimiah 2, halaman 3)

Dalam masyarakat kita sejak turun temurun malam Nisfu Sya'ban ini disambut dengan penuh debar dan harapan kerana ia malam seribu berkat di mana pada malam ini diyakini Allah menetapkan urusan-urusannya terhadap makhluknya.
Oleh kerana itu lahirlah upacara solat khas, membaca Yaasin dan membaca doa khas untuk memohon dari Allah supaya dipanjangkan umur, diangkat bala dan dimurahkan rezeki dan sebagainya. Masjid-masjid dan surau-surau penuh sesak dengan para makmum yang datang sejak awal-awal lagi kerana khuatir akan terluput dari upacara yang bermakna ini.

Risalah-risalah yang memuatkan keistimewaan-keistimewaan malam Nisfu Sya'ban, amalan-amalan khasnya dan doa-doanya yang di anggap mustajab tersebar di mana-mana, baik ia disebarkan oleh orang-orang perseorangan mahupun oleh pertubuhan-pertubuhan. Tiada siapa yang berani menilai amalan-amalan dan hadith-hadith yang disebarkan itu sehingga ia seakan-akan berita yang mutawatir dari Rasulullah s.a.w.

Solat Nisfu-Sya’ban

Al-Hafiz al-Irqi berkata:
“Hadits mengenai solat Nisfu Sya’ban adalah hadits Maudhu’ yang didustakan ke atas diri Rasulullah s.a.w”. (Al-Ibda’, hlm. 287-288)

Al-Hafiz Ibnul-Jazari pula berkata:
“Adapun solat Raghaib pada awal khamis bulan Rejab dan solat Nisfu Sya’ban dan solat Lailatul-Qadr dari bulan Ramadhan, maka sanadnya adalah batil, tidak sah”.
(Al-Ibda’, hlm. 287-288)

Ibnul-‘Arabi mengatakan:
“Tidak ada sebuah hadits pun yang boleh dipegang mengenai keutamaan malam Nisfu-Sya’ban dan mengenai penghapusan ajal padanya, maka janganlah kamu memberikan perhatian kepadanya”. (Al-Ibda’, hlm. 287-288)

Sebagaimana puasa khas dan solat khas Nisfu Sya'ban itu adalah amalan bid'ah yang mungkar, maka upacara membaca surahYaasin, membaca doa khas beramai-ramai di masjid-masjid dan surau-surau adalah perbuatan bid'ah pula. la sama sekali tidak dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w. dan tidak pula di amalkan oleh para sahabat dan as-Salafus-soleh r.a.

Imam Abu Syamah berkata:
"Di antara bid'ah-bid'ah yang diada-adakan oleh ahli bid'ah dan penyelewengan mereka dari apa yang telah digariskan oleh agama dan mereka telah menjalani sunnah agama Majusi dan menjadikan agama sebagai permainan dan senda-sendaan ialah menyalakan api pada malam Nisfu Sya'ban.

Tidak ada sebuah hadith pun yang sah dari Nabi s.a.w. mengenai keutamaan malam Nisfu Sya'ban dan Rasulullah s.a.w tidak bersabda mengenai solat pada malam ini dan juga menyalakan api padanya. Apa yang diada-adakan itu tidak lain hanya oleh orang yang mempermain-mainkan syari'at Muhammad s.a.w. dan orang yang gemar kepada agama Majusi kerana api itu adalah penyembahan mereka. Perkara ini mulanya diadakan pada zaman Barmaki. Mereka memasukkan ke dalam agama Islam sesuatu yang mereka sadurkannya kepada orang-orang bodoh, iaitu mereka menjadikan unggunan api di bulan Sya'ban seolah-olah salah satu dari ciri-ciri iman sedangkan tujuan mereka yang sebenarnya ialah penyembahan api dan menegakkan agama mereka. Ini adalah iman yang paling rugi sehingga apabila orang-orang Islam bersolat, maka rukuk dan sujud adalah kepada api yang mereka nyalakan itu”. (Al-Ibda’, hlm. 291)

Menurut Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, bahawa ada hadith yang sah mengenai keutamaan malam Nisfu Sya'ban ini, iaitulah hadith Takhrij Ibnu Abu 'Ashim dalam kitab As-Sunnah dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya yang diterima dari Mu'az bin Jabal:

Allah memerhatikan kepada makhluknya pada Malam Nisfu Sya'ban lalu la memberi keampunan kepada semua makhluknya kecuali orang musyrik dan orang munafik yang sangat jelek.

Hadith ini adalah sahih, perawi-perawinya (sanadnya) orang-orang kepercayaan. Dan hadith ini ada pula syahid-syahidnya dari jalan lain tetapi kesahihan hadith ini tidaklah boleh dijadikan dalil bagi menjadikan malam Nisfu Sya’ban ini sebagai musim perayaan di mana orang ramai berkumpul pada malamnya dan melakukan sebahagian dari perkara-perkara bid'ah. Demikian menurut ulama hadith yang terkenalini. (Ta'liq atas kitab Ishlahul-Masajid, halaman 99)

Menghidupkan malam Nisfu Sya'ban dengan mengadakan perhimpunan di masjid-masjid dan surau-surau dengan menyalakan lampu yang berlebih-lebihan, membaca surah Yaasin beramai-ramai, membaca doa yang khusus, mengerjakan solat yang khusus bererti menambahkan amal dan syi'ar yang sama sekali tidak disyari'atkam oleh Allah dan Rasulnya.

Nisfu Sya’ban & Lailatul-Qadr

Yang lebih mendukacitakan lagi kononnya malam Nisfu Sya'ban itu adalah malam Lailatul-Qadr, maka oleh kerana itu malam tersebut dihayati sedemikian rupa. Kepercayaan ini kononnya didasarkan kepada firman Allah:

“Haa Mim, demi Kitab Allah (al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada satu malam yang berkat dan sesunggahnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu Kami jelaskan segala urusan yang penuh hikmat, iaitu urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutuskan Rasul-Rasul sebagai rahmat dari Tuhanmu, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. – surah ad-Dukhan ayat 1-6

Mereka sandarkan pendapat mereka kepada pendapat yang diriwayatkan dari 'Ikrimah yang mengatakan bahawa Lailatul-Qadr itu jatuh pada malam Nisfu Sya’ban.
Pendapat ini sesungguhnya adalah tidak benar kerana bertentangan dengan riwayat hadith-hadith yang sahih mengenai Lailatul-Qadr ini dan berlawanan dengan pernyataan al-Quran sendiri, kerana al-Quran diturunkan pada malam Lailatul-Qadr di bulan Ramadhan.

Doa Khas & Bacaan Yaasin

Ataupun doa berikut:

إلـهِىْ بِالتَّجَلِّىْ الأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَغْبِانَ.

Bukanlah datangnya dari Rasulullah s.a.w. atau pun dari para sahabat, tetapi ianya berasal dari doa yang diambil oleh Al-'Alim Abu Bakar bin Ahmad daripada al-'Alim Abdullah bin Asad Al-Yafi'ey semasa dalam perjalanan ke Madinah pada tahun 733H dan dari sebahagian orang-orang soleh. Demikian pula mengenai kaifiat atau tatacara bacaan doanya yang disyaratkan sebanyak tiga kali dengan diselangselikan dengan bacaan Yaasin beserta dengan niat panjang umur, menolak bala dan minta dimurahkan rezeki sama sekali tidak dikenali pada zaman Nabi dan para sahabat.
Membaca Yaasin dan berdoa memang digalakkan pada semua masa dan tempat yang munasabah, akan tetapi jika ia telah dijadikan upacara yang tetap dan pada masa yang tetap, dengan kaifiat yang tetap, yang tidak ditetapkan oleh pembuat syarak, maka galakan itu bertukar menjadi terlarang.

.Mengenai ini Asy-Syaikh Ali Mahfuz berkata:
"Di antara bid'ah-bid'ah yang merebak di kalangan manusia ialah orang-orang Islam berkumpul di masjid-masjid bagi menghidupkan malam Nisfu Sya'ban dengan solat dan doa setelah selesai solat Maghrib. Mereka membacanya dengan suara keras dengan talkin imam kerana menghayati malam Nisfu Sya'ban dengan cara demikian dan dengan kaifiat yang makruf itu tidak berlaku pada zaman Rasulullah s.a. w. dan tidak juga pada zaman sahabat r.a."

Dan selanjutnya beliau berkata: "Adapun doa yang kerananya orang ramai berkumpul di masjid-masjid pada malam Nisfu sya'ban, maka tidaklah sabit datangnya dari Rasulullah s.a.w. dan tidak juga daripara As-Salaf Ash-Shalih r.a. bahawa mereka berkumpul di masjid-masjid pada malam Al-Qadr ini kerana tujuan tersebut."
Dan selanjutnya beliau berkata:

"Kadang-kadang (memang sudah menjadi syi'ar) mereka mensyaratkan supaya doa terkabul dengan membaca surah Yaasin dan solat dua rakaat sebelumnya. Mereka melakukan pembacaan Yaasin, solat dan doa sebanyak tiga kali.
Kali yang pertama dengan niat panjang umur, kali yang kedua dengan niat tolak bala dan kali yang ketiga dengan niat supaya murah rezeki, dan mereka meyakini bahawa amalan ini adalah sebahagian dari syi'ar agama, malam ini adalah malam yang utama dan mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang khusus. Hal ini menyebabkan mereka memberikannya perhatian lebih daripada perhatian mereka kepada perkara-perkara yang wajib dan sunat-sunat.

Oleh kerana itu anda melihat mereka segera ke masjid-masjid sebelum matahari jatuh malam Nisfu Sya'ban. Di antara mereka ada yang meninggalkan solat dengan keyakinan bahawa amalan malam Nifsu Sya'ban itu dapat menutup segala taksiran yang telah lalu dan bahawa ia akan dipanjngkan umur dan mereka merasa sial bila terlepas peluang ini. Oleh kerana itu amalan ini sayugialah ditinggalkan dan tidak memberikan perhatian kepadanya seperti telah dinyatakan mengenai bid'ah-bid'ah musim perayaan yang dihubungkan kepada syarak padahal ia bukanlah dari ajaran Syarak.

Ya, berdoa' kepada Allah adalah dituntut pada semua masa dan pada semua tempat, tetapi bukanlah dengan cara yang diada-adakan, tetapi hendaklah mendekatkan diri dengan Allah dengan apa yang telah disyari'atkan, bukan dengan cara bid'ah.(Al-Ibda'.halaman 286 dan 287)

Pengarang kitab As-Sunanu wal-Mlubtada'at" berkata:
"Al-Imam Al-Fattani berkata di dalam kitab Tazkiratul-Maudhu'at: Di antara perkara-perkara baru yang diada-adakan (bid'ah) pada malam Nishfu Sya'ban ialah solat Al-Fiah iaitu seratus rakaat dengan bacaan surah Al-Ikhlas masing-masing sepuluh kali secara berjamaah. Mereka memberikan perhatian kepadanya lebih daripada kepada solat Jumaat dan solat-solat Hari Raya, padahal tiada warid hadith atau athar melainkan yang dha'if ataupun maudhu'. Janganlah hendaknya orang terpedaya kerana ia disebutkan oleh pengarang kitab Qutul-Qulub, kitab Al-Ihya' dan lain-lainnya, dan janganlah pula hendaknya or¬ang tertipu kerana ia disebutkan oleh Tafsir Ath-Tha'labi bahawa malam Nishfu Sya'ban adalah malam Lailatul-Qadr."

Pendapat-Pendapat Ulama

Kata Al-Imam Al-Hafiz al-'Iraqi: "Hadith mengenai solat Nishfu Sya'ban adalah batil dan Ibnul-Jauzi mentakhrijkannya dalam kitab Al- Maudhu'at".
"Solat enam rakaat pada malam Nishfu Sya'ban dengan niat tolak bala, minta panjang umur dan murah rezeki (kaya), membaca Yaasin dan doa' di antara solat itu tidak syak lagi bahawa ianya adalah satu bid'ah dalam agama dan berlawanan dengan Sunnah Sayyidul-Mursalin."

Kata Pensyarah kitab Al-Ihya':
"Solat ini terkenal dalam kitab-kitab golongan mutaakhkhirin dari syaikh-syaikh Sufi. Aku tidak melihat solat ini dan doa ini sandarannya dari Sunnah yang sahih, kecuali ianya adalah di antara amalan syaikh-syaikh sufi. Sahabat-sahabat kami berkata: Adalah makruh berkumpul untuk menghayati satu malampun dari malam-malam yang disebutkan di masjid-masjid dan lain-lainnya."

"Mengenai cara menghayati malam Nishfu Sya'ban secara berjamaah ini maka An-Najmu Al-Ghaithi berkata: Bahawa ianya diingkari oleh kebanyakan ulama Hijaz di antaranya ialah 'Atha', Ibnu Abi Mulaikah, fuqaha' Madinah dan sahabat-sahabat Malik. Mereka berkata: Yang demikian itu adalah bid'ah dan tiada sabit mendirikan solat secara berjamaah ini daripada Nabi s.a.w dan tidak pula dari para sahabat r.a."

Kata Al-Imam An-Nawawi:
"Solat Rejab dan solat Sya'ban adalah dua perkara bid'ah yang mungkar lagi jelek".
Pengarang kitab As-Sunanu wal-Mubtada'at itu berkata lagi, Adapun doa:

اللهُم يَاذا الـمنِّ ولا يُمَنُّ عَليهِ ياذا الجلالِ والإكرام.

Maka kata pensyarah kitab Ihya' Ulumuddin" dia adalah doa yang tidak berasal dan tidak mempunyai san-darannya". Demikian pula kata pengararig kitab "Asnal-Mathalib". Dia hanyalah di antara susunan sebahagian ahli Ash-Shalah dari dirinya sendiri dan ada yang mengatakan bahawa ia dibuat oleh Al-Buni.
Dan mengenai iktiqad bahawa malam Nishfu Sya'ban itu adalah malam Lailatul-Qadr maka ia adalah batil. Pendapat ini disepakati oleh para muhaqiqin dan ulama hadith. Dia dipandang batil oleh Al-Imam Ibnu Kathir dalam kitab Tafsirnya.
Kata Al-Imam Ibnul-'Arabi dalam kitab Syarah At-Tirmizi:

"Sebahagian ahli Tafsir menyebutkan bahawa firman Allah: “Bahawa kami telah menurunkannya (Al-Quran)” ialah pada malam Nishfu Sya'ban. Pendapat ini adalah batil, kerana Allah tidak menurunkan Al-Quran pada bulan Sya'ban.

Allah hanya berfirman: "bahawa sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam Al-Qadr. Malam Al-Qadr itu ialah pada bulan Ramadhan.

Pendapat di atas adalah pendapat orang yang menyimpang dari kitab Allah, yang tidak peduli apa yang dikatakannya. Kami mengingatkan anda semua mengenainya kerana Allah berfirman pula:

Padanya (malam Al-Qadri) Kami jelaskan segala urusan yang penuh hikmah.
Segala perkara tersebut hanya ditetapkan oleh para Malaikat pada malam Al-Qadr yang berkat, bukan pada malam Nisfu Sya'ban”.( As-Sunanu wal-Mubtada'at, halaman 145-146.)

Kesimpulannya, amalan-amalan khusus yang dilakukan pada malam Nisfu Sya'ban dan pada keesokan harinya hanyalah didasarkan kepada hadith-hadil maudhu’ dan batil, dan kepercayaan bahawa malam Nisfu Sya’ban itu adalah malam Al-Qadr adalah kepercayaan yang boleh merosakkan iman kerana ia berlawanan dengan dalil-dalil yang qath'iy dari al-Quran dan al-Hadits dari Rasulullah s.a.w.

Sesungguhnya tiada sesiapapun (selain Nabi) yang berhak menentukan jenis-jenis amal, masanya dan kaifiatnya yang tertentu kecuali dengan tuntutan dari Allah dan Rasulnya. Mengada-ngadakan amalan-amalan yang tertentu tanpa dalil yang sah tiada lain melainkan membuat bid'ah yang samasekali tidak diterima oleh Allah, bahkan diancam dengan hukuman yang berat diakhirat.
Wallahu 'A'alam bish-Shawab.

Oleh Dr Abd Ghani Azmi

BID'AH-BID'AH (AMALAN YANG TIDAK SUNNAH ) DIBULAN RAJAB

Bid'ah-Bid'ah Bulan Rejab

Bulan Rejab adalah salah satu daripada bulan-bulan haram dan padanya berlaku Israk dan Mikraj, iaitu pada malam 27hb. dan padanyalah disyari'atkan solat lima waktu sehari semalam; Orang-Orang Arab zaman jahiliah mengagung-agungkan bulan Rejab ini dan mereka menamakannya bulan Al-Ashamm, bulan yang pekak, kerana pada bulan ini tiada kedengaran jeritan, tangisan, pertempuran dan bunyi senjata bertarung dalam peperangan kerana bulan Rejab adalah bulan damai, bulan diharamkan peperangan.

Setelah kedatangan Islam sisa-sisa jahiliah itu (mengagung-agungkan bulan Rejab) masih lagi berkekalan apalagi kerana Israk dan Mikiraj Rasulullah s.a.w. berlaku pada bulan ini. Tukang-tukang bid'ah lalu mengambil kesempatan membuat hadith-hadith palsu yang menyatakan keutamaan-keutamaan bulan ini dan kemudian lahirlah beberana jenis ibadat yang tidak disunnahkan oleh Rasulullah s.a.w. dan tidak pula dilakukan oleh para sahabat dan golongan Salaf r.a.

Di antara amalan-amalan tersebut ialah:

1. Mengadakan solat khas pada malam pertama bulan Rejab.
2. Mengadakan solat khas pada malam Jumaat minggu pertama bulan Rejab yang
dinamakan solat Ar-Raghaib.
3. Solat khas pada malam Nisfu Rejab.
4. Solat khas pada malam 27hb.Rejab (malam Israk dan Mikraj).
5. Puasa khas pada Ihb Rejab.
6. Puasa khas hari Khamis minggu pertama Rejab.
7. Puasa khas pada hari Nisfu Rejab.
8. Puasa khas pada 27hb. Rejab.
9. Puasa pada awal, pertengahan dan akhir bulan Rejab.
10. Berpuasa sekurang-kurangnya seharipada bulan Rejab.
11. Memperbanyakkan Istighfar pada bulan Rejab.
12. Dan lain-lain lagi.

Keutamaan Amalan Bulan Rejab?

Menyentuh tentang keutamaan bulan Rejab ada seorang guru yang mengajar di sebuah masjid di negeri ini menyatakan bahawa Rejab adalah nama sebuah sungai di syurga. 'Untuk dapat minum air sungai ini hendaklah berpuasa tiga hari pada bulan Rejab.
Dan banyak lagi cerita-cerita dongeng yang diperdengarkan orang dalam bulan Rejab.
Sebenarnya tidak ada sebuah hadith pun yang sah dari Rasulullah s.a.w. mengenai keutamaan-keutamaan bulan Rejab dan amalan-amalan yang khusus padanya.

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-'Asqalani berkata:

"Tidak ada hadith shahih yang dapat dijadikan hujjah mengenai keutamaan bulan Rejab, mengenai puasanya, mengenai hari yang khusus untuk berpuasa dan tidak ada malam khusus untuk bersolat padanya" (Fiqhus-Sunnah I, halaman 383)

Asy-Syaukani menukilkan pendapat Alibin Ibarahim Al-Aththar yang berkata dalam sebuah risalahnya: Bahawa apa yang diriwayatkan orang mengenai keutamaan puasa Rejab semuanya maudhu' belaka, dan dha'if tidak berasal. Dan beliau berkata: Adalah Abdullah al-Anshari tiada berpuasa bulan Rejab dan beliau melarangnya serta berkata:Tiadasesuatupunyang sah dari Nabi s.a.w.mengenai ini. Apa yang dilakukan sekarang ini iaitu mengeluarkan zakat pada bulan Rejab, tidak di bulan lain adalah tidak berasal.

Demikian pula dengan amalan penduduk Mekah yang membanyakkan kerja Umrah pada bulan Rejab, tidak di bulan lain. Ini menurut pengetahuanku adalah tidak berasal. Dan di antara yang diada-adakan oleh orang-orang awam ialah berpuasa hari Khamis pertama bulan Rejab, semuanya ini adalah bid'ah. Dan di antara perkara-perkara yang diada-adakan oleh mereka dibulan Rejab dan Sya'ban ialah mereka bersungguh-sungguh mengerjakan ibadat dalam bulan-bulan ini padahal tidak begitu di bulan-bulan lain. Dan apa yang diriawayatkan bahawa Allah memerintah Nuh supaya membuat bahtera pada bulan Rejab dan menyuruh orang-orang mukmin yang bersama-samanya supaya berpuasa Rejab adalah maudhu' belaka" .( Al-Fawaid,halaman 440 )

Solat Ar-Raghaib - Hadits Maudhu’

Semua amalan yang tersebut di atas sebenarnya di didasarkan kepada hadith-hadith Maudhu' dan Mungkar yang berikut:

1. Abdul-Jabbar bin Ibrahim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda;

Barangsiapa berpuasa sehari dari bulan Rejab dan ia bersolat padanya empat rakaat, ia membaca pada rakaatpertama seratus kali ayat al-Kursi, pada rakaat kedua seratus kali surah al-Ikhlas, maka ia tidak akan mati sebelum ia melihat tempat kediamannya dari syurga ataupun diperlihatkan kepadanya. (Maudhu) ( Lihat Al-Maudhu'at 11/23, Al-Fawaaid, halaman 47 dan lihat pula kitab Al-La-a-Liul-Mashuu'ah, 11/55 )

2. Al-Juzqani meriwayatkan dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
Barangsiapa bersolat Maghrib pada rnalam awal bulan Rejab, kemudian ia bersolat sesudahnya dua puluh rakaat dengan bacaan Fatihah dan surah al-Ikhlas sekali dan ia bersalam padanya sepuluh kali salam, maka tahukah kainu apakah pahalanya? keranaar-Ruh al-Amin (Jibril) jnemberitahu kepadaku yang demikian itu.Kami berkata: Allah dan Rasulnyalah yang lebih mengetahui. Beliau lalu bersabda: Allah menjaga dirinya, hartanya, ahlinya (isterinya), anaknya dan ia diselamatkan dari azab kubur dan ia akan menyeberangi Shirat bagaikan kilat, tanpa hisab dan tanpa azab. (Maudhu') ( LihatAl-Maudhuu'at, 1/124.;Al-Fawaaid Al-Majmu'ah, halaman 47, dan Al-La-a-Liul-Mashnu'ah, 11/55.)

3. Al-Juzqani meriwayatkan dari Anas bin Malik bahawa Rasul s.a.w. bersabda (Lihat Al-Maudhuu'at, 1/125, Al-Fawaaid, halaman 47-48, dan lihat pula kitab Al-La-alLiul-Mashnu'ah, 11/55,56, dan 114, 115.) :

Rejab bulan Allah, Sya'ban bulanku dan Ramadhan bulan umatku. Rasulullah lalu ditanya: Ya Rasulullah, apakah maknanya perkataan anda "Rejab bulan Al-lah? Beliaumenjawab: Ker ana iadikhususkandengan keampunan (Allah), padanya darah-darah terpelihara, padanya Allah menerima taubat para Nabinya dan padanya pula Allah menyelamatkan para walinya dari tangan-tangan musuh mereka, maka sesiapa yang berpuasa padanya berkewajipanlah atas Allah tiga perkara: Mengampuni dosanya yang telah lalu, memeliharanya dari dosa-dosa pada sisa umurnya dan selamat dari dahaga pada hari pembentangan amal (qiamat) yang agung.

Di waktu itu bangkitlah seorang tuayang dha'iflalu berkata:Ya Rasulullah saya sungguh tidak mampu untuk berpuasa bulan Rejab sepenuhnya. Lantas Rasul s.a.w. bersabda: Berpuasalah pada hari pertamanya kerana satu kebajikan dibalas dengan sepuluh kali ganda, dan berpuasalah pada pertengahan bulan dan pada akhirnya kerana engkau akan diberikan pahala orang-orang berpuasa sepanjang bulan, tetapi janganlah kamu melupakan inalam pertama bulan Rejab kerana ia adalah inalam yang dipanggil ar-Raghaib oleh para Malaikat.Yang demikian ialah apabila berlalu sepertiga malam, maka tiada tinggal seorang pun Malaikat Muqarrabin di seluruh langit dan bumi melainkan semua mereka berkumpul di Ka’abah dan disekelilingnya, maka Allah memandang mereka sekali pandang lalu berfirman: Wahai para Malaikatku! Mintalah kepadaKu apa-apa yang kamu kehendakki! Para Malaikat lalu berkata: Wahai Tuhan Kami, hajat kami ialah supaya Tuhan mengampuni orang-orang yang berpuasa bulan Rejab! Allah berfirman: Aku telahpun berbuat demikian itu!

Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada seorang pun yang berpuasa pada hari Khamis minggu pertama bulan Rejab, kemudian ia bersolat dua belas rakaat di antara waktu Maghrib dan 'Atamah (waktu sepertiga awal malam) yakni pada malam Jumaat, pada tiap-tiap rakaat ia membaca Fatihah sekali dan surah Al-Qadri tiga kali dan surah al-Ikhlas dua belas kali, ia pisahkan antara tiap-tiap dua rakaat dengan satu salam. Apabila selesai ia bersalawat tujuhpuluh kali ke atas Nabi Muhammad s.a.w. dan kemudian membaca:

“Allah humma solli’ala Muhammaddin an-Nabiyil ‘ummiyyi wa ‘ala alihi”
kemudian ia bersujud dan membaca dalam sujudnya:

“Subbuuhun khuduusun robbul malaikati warruuhhi”
sebanyak tujuhpuluh kali, kemudian ia mengangkat kepalanya dan membaca:
“Rabbi’ifirli warhamni watajaawas ‘amma ta’lamuun innaka antal ‘azizul ‘a’tomi”
sebanyak tujuhpuluh kali, kemudian ia bersujud kali yang kedua dan membaca seperti bacaan dalam sujudnya yang pertama, kemudian ia meminta kepada Allah akan hajatnya, maka Allah mengabulkan hajatnya itu.

Demi Allah yang diriku ini dalam genggamannya, tiada seorang hamba Allah pun; baik lelaki mahupun perempuan yang mengerjakan solat ini melainkan Allah mengampuni semua dosanya walaupun banyaknya seperti buih di laut, walaupun sebanyak dedaun di pokok, dan pada hari qiamat ia akan memberi syafaat kepada tujuh ratus keluarganya.
Dan apabila hari pertama ia dalam kubur pahala solat akan datang lalu menyapanya dengan wajah yang manis dan lidah yang fasih dan ia berkata: Kekasihku! bergembiralah! Kerana anda telah bebas dari segala kesusahan. Si mati yang mengerjakan solat itu bertanya: Siapakah engkau? Demi Allah aku belum pernah melihat wajah yang lebih cantik daripada wajahmu. Aku belum pernah mendengar percakapan yang lebih baik daripada percakapanmu, dan aku pun belum pernah mencium bau-bauan yang lebih harum daripada bau-bauanmu.

Pahala solat itu menjawab: Hai kekasihku, akulah pahala solatyangengkau kerjakan pada malam sekian danpada bulan sekian. Saya datang pada malam ini untuk menunaikan hah anda dan untuk menemani anda dan untuk menghilangkan kesepian anda. Dan apabila ditiupkan sangkakala saya akan melindungi anda di atas kepala anda (memayungi) di mahsyar pada hari qiamat. Bergembiralah, anda tidak akan keputusan kebajikan dari Tuhan anda buat selama-lamanya) (Maudhu')

Semua Hadith di atas dijadikan sebagai dalil bagi menyunatkan solat dan juga puasa pada awal bulan Rejab dan puasa pada hari Khamis dan solat pada malam Jumaat minggu pertama bulan Rejab, Solat Raghaib (malam Jumaat minggu pertama) inilah yang paling terkenal sekali dari antara solat-solat khas pada bulan Rejab ini.
Para ulama hadith sepakat menyatakan bahawa hadith-hadith mengenai solat ar-Raghaib ini adalah maudhu' (Palsu). Al-Imam, al-Hafiz Ibnul-Jazari mengatakan:
"Ada pun solat ar-Raghaib pada hari Khamis (malam Jumaat) dari bulan Rejab dan solat malam Nisfu Sya'ban dan solat malam lailatul-Qadr dari bulan Ramadhan, maka tidaklah sah dan sanadnya adalah maudhu' dan batil" (Al-Ibda' .halaman 287-288)

Olrh Dr Abd Ghani