Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.
Apa Itu Syi’ah?
Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)
Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)
Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)
Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.
Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi . (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)
Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:
“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).
Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.
Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.
Siapakah Pencetusnya?
Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)
KENAPA SYI'AH DINAMAKAN DENGAN RAFIDHAH ?
Penamaan ini disebutkan oleh Syaikh mereka Al Majlisi dalam bukunya 'Al-Bihaarâ' dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka[1].
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!, lalu beliau menjawab : Mereka berdua (Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka. Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai'at dan sepakat dengan Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah[2].
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar[3].
Dan dikatakan mereka dimanakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama[4].
RAFIDHAH TERPECAH MENJADI BEBERAPA FIRQOAH (GOLONGAN)
Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma'arif bahwasanya : golongan yang muncul dari cabang-cabang syi’ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang terkenal itu [5].
Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad [6], sesungguhnya seluruh firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini menjadi tujuhpuluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi'ah. Dan sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.
Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga ratus) firqoh [7].
As Syahrastaani berkata : Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al-Ismailiyah [8].
Al Baghdadi berkata : Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan : Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah. [9]
Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari firqoh-firqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.
APAKAH YANG DIMAKSUD AQIDAH AL-BADAA YANG DIIMANI OLEH RAFIDAH?
Al Badaa' yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna timbulnya pandangan baru. Al Badaa' sesuai dengan kedua makna itu, haruslah didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah) menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa'.
Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : "Saya telah mendengar Al Ridha berkata : Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa' [10]. Dan dari Abi Abdillah ia berkata : "Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa'[11]. Maha Tinggi Allah dari hal itu dengan ketinggian yang besar.
Lihatlah wahai saudarku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan tentang diri-Nya :
Artinya :Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu ghaib kecuali Allah.
Dan di sisi lain Rafidhah (syi'ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.
Apakah ini keyakinan Islam (aqidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- ??????
[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Lihat buku : Al Bihaar, oleh Al Majlisi, hal : 68-96-97. (Dia ini merupakan salah seorang tempat bertanya orang-orang rafidhah (syi'ah) untuk zaman-zaman terakhir).
[2] At Ta'liiqaatu â'Ala Matni Lumâ' atil âItiqaad, oleh : Syeikh Alaamah Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, -semoga Allah menjaganya-, hal : 108.
[3] Lihat : catatan kaki buku Maqaalaat Al Islamiyiin, oleh Muhyiddin Abdul Hamid, (1/89).
[4] Lihat : di buku Maqaalaat Al Islamiyiin, (1/89).
[5] Daairatul Ma'arif, (4/67).
[6] Dia adalah Muhammad Baqir bin Muhammad Al Asadi, termasuk tokoh besar syi'ah.
[7] Dia adalah Al Maqrizi du Al Khuthath, ((2/351).
[8] Al Milal wan Nihal, oleh As Syahrastani, hal :147.
[9] Al Farqu Bainal Firaq, oleh Al Baghdadi, hal : 41.
[10] Ushulul Kafi, hal :40
[11] Ushulul Kafi, oleh Al Kulaini di kitab tauhid : 1/133.
Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.
a. Tentang Al Qur’an
Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.”
Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”
(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).
Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.
b. Tentang shahabat Rasulullah
Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)
Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)
Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)
Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:
Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)
(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)
Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)
Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)
Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)
c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)
Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)
Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.
d. Tentang Taqiyyah
Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)
Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)
e. Tentang Raj’ah
Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)
f. Tentang Al-Bada’
Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)
Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah
Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.
1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.
Tentang Taqiyyah
Seseorang belumlah dikatakan mengenal hakekat Syi’ah Rafidhah dengan sebenar-benarnya bila belum mengetahui hakekat taqiyyah disisi mereka. Padahal dengan taqiyyah inilah, mereka berhasil mengelabui sekian banyak kaum muslimin.
Maka janganlah kita tercengang kalau mendengar atau membaca sedemikian ragam tanggapan positif sebagian kaum muslimin terhadap mereka seperti: "Para penganut Syi’ah Rafidhah merupakan bagian dari kaum muslimin, Negara Iran yang resmi berasaskan aqidah Syi’ah Ja’fariyah (bagian dari sekte Syi’ah Rafidhah) adalah negara Islam, Khomeini merupakan tokoh revolusi Islam Iran, gagasan untuk diadakan taqrib (persatuan pandangan) antara Syi’ah dan Sunni (Ahlus Sunnah), anggapan bahwa aqidah Syi’ah Rafidhah yang menyatakan bahwa para sahabat Nabi telah kafir, Al Qur’an telah mengalami perubahan hanyalah sekedar tuduhan Ahlus Sunnah semata".
Definisi Taqiyyah
Taqiyyah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Menyembunyikan dan menjaga. (Lisanul Arab 15/401 dan Al Qamus Al Muhith hal. 1731)
Sedangkan secara terminologi syariat, taqiyyah memiliki arti: Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka. (Disarikan dari Atsarut Tasyayyu’ hal 33 - 34)
Taqiyyah Menurut Tinjauan Syariat Islam
Islam sebagai agama yang sempurna dan penuh rahmat telah mengatur hubungan penganutnya dengan orang-orang kafir yang zhalim dan menguasai kehidupan keagamaan kaum muslimin. Pada saat yang sama, Islam juga sangat memperhatikan kelangsungan hidup para pemeluknya.
Dalam rangka mencapai dua keadaan itu, Islam memberikan salah satu solusi kepada umatnya berupa taqiyyah berdasarkan bimbingan dalil-dalil syar’i. Di dalam dalil–dalil tersebut terdapat kriteria-kriteria yang membolehkan seorang muslim melakukan taqiyyah. Kriteria-kriteria tersebut adalah:
1. Dia tidak mampu melakukan hijrah syar’i dari negeri orang kafir yang dia tinggal di dalamnya, karena alasan (udzur) yang syar’i pula. (An Nisaa’: 97-98)
2. Taqiyyah dilakukan dihadapan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)
3. Taqiyyah ditempuh karena dia benar-benar dalam keadaan dipaksa untuk mengucapkan atau mengerjakan kekufuran. (An Nahl: 106)
4. Bersamaan itu, dia benar-benar merasa ketakutan dari kejahatan orang-orang kafir. (Ali Imran: 28)
5. Walaupun demikian, hatinya tetap tenang dan kokoh diatas keimanan. (An Nahl: 106)
Taqiyyah Menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah
Atas dasar riwayat-riwayat batil yang ada pada mereka, maka dapat dipastikan bahwa mereka telah berbuat 3 kesalahan fatal:
A. Definisi Taqiyyah Yang Bertentangan Dengan Definisi Taqiyyah Secara Syar’i
Di dalam Al Kasykul 1/202 karya Yusuf Al Bahrani mengatakan: “ Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kesamaan dengan keyakinan agama orang-orang yang menyelisihi mereka karena adanya rasa takut.”
Al Kulaini meriwayatkan -dengan dusta- dari Abu Ja’far, beliau berkata: “Berkumpullah dengan mereka (orang-orang yang menyelisihi Syi’ah Rafidhah -red) secara dhahir namun selisihilah mereka secara batin”.
Al Khomeini di dalam Kasyful Asrar hal. 147 mendefinisikan makna taqiyyah: “Seseorang yang mengucapkan atau mengamalkan sesuatu, berbeda dengan kenyataan (hatinya) yang membatalkan timbangan-timbangan syariat …”.
Tampak dari ucapan-ucapan mereka bahwa definisi taqiyyah menurut Syi’ah Rafidhah:
1. Tidak membedakan apakah taqiyyah mereka amalkan dihadapan kaum muslimin atau orang-orang kafir. Lalu apa bedanya mereka dengan orang-orang munafik di jaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam ?!.
2. Apa yang mereka sembunyikan bukanlah keimanan namun justru kekufuran tatkala berkumpul dengan kaum muslimin.
3. Taqiyyah mereka tidak memperhatikan timbangan-timbangan atau kriteria-kriteria syar’i.
B. Kedudukan dan Keutamaan Taqiyyah yang Berlebihan Menurut Syi’ah Rafidhah
1. Taqiyyah adalah pokok agama mereka.
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/174 menukilkan –dengan dusta- ucapan Abu Ja’far: “Taqiyyah merupakan agamaku dan agama para pendahuluku. Tidak ada keimanan bagi seseorang yang tidak bertaqiyyah”. Dalam riwayat lain -dengan dusta- dari Abu Abdillah: “Tidak ada agama bagi seorang yang tidak bertaqiyyah”.
2. Taqiyyah adalah kemuliaan agama seseorang.
Al Kulaini di dalam Al Kafi 2/176 meriwayatkan –dengan dusta- ucapan Abu Abdillah kepada Sulaiman bin Khalid: “Wahai Sulaiman, sesungguhnya engkau diatas agama yang apabila seseorang menyembunyikannya (bertaqiyyah), maka Allah akan muliakan dia. Barangsiapa menampakkannya maka Allah akan hinakan dia”.
3. Taqiyyah merupakan sebuah ibadah yang paling dicintai Allah
Abu Abdillah mengatakan di dalam Al Kafi 2/219 karya Al Kulaini –dengan dusta- : “Tidaklah Allah diibadahi dengan suatu amalan yang lebih Dia cintai daripada Al Khab’u. Aku (periwayat) bertanya: “Apa itu Al Khab’u ? Beliau menjawab: “Taqiyyah”.
4. Taqiyyah merupakan seutama-utama amalan hamba.
Di dalam Tafsirul Askari hal. 163 dinukilkan -dengan dusta- bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Taqiyyah merupakan salah satu amalan mukmin yang paling utama. Dia menjaga diri dan saudaranya dengan taqiyyah dari orang-orang jahat (kaum muslimin -red).
5. Taqiyyah merupakan semulia-mulia akhlak.
Dari Al Baqir, dia berkata: “Semulia-mulia akhlak para imam dan orang-orang mulia dari kelompok kami adalah taqiyyah”. (Al Ushul Ashliyah hal. 320 karya Abdullah Syabbar)
6. Hukum taqiyyah setingkat tauhid dan shalat wajib
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat mengatakan: “Taqiyyah hukumnya wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka kedudukannya seperti meninggalkan shalat wajib.”
Dia meriwayatkan didalam kitab tersebut dari Ali bin Hasan –dengan dusta– beliau berkata: “Allah mengampuni seluruh dosa seorang mukmin dan mensucikannya di dunia dan akhirat kecuali 2 dosa: meninggalkan taqiyyah dan meninggalkan hak-hak saudaranya (saudara sesama Syi’ah Rafidhah –red).”
7. Mereka membatasi kewajiban bertaqiyyah sampai munculnya Imam Mahdi
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat juga mengatakan: “Taqiyyah hukumnya wajib. Tidak boleh menghapus kewajiban itu sampai muculnya Imam Mahdi...”.
C. Munculnya Amalan-Amalan Kemungkaran Sebagai Realisasi Pandangan Sesat Mereka Terhadap Taqiyyah
1. Pengkafiran kaum muslimin yang tidak melakukan taqiyyah ala Syi’ah Rafidhah
Al Qummi di dalam Al I’tiqadaat ketika menyebutkan tentang kewajiban taqiyyah, mengatakan: “... Barangsiapa meninggalkan (taqiyyah) sebelum munculnya Imam Mahdi maka dia telah keluar dari agama Allah, agama Imamiyyah dan menyelisihi Allah, Rasul serta para imam mereka.”
2. Pembolehan untuk melakukan taqiyyah didalam segala keadaan walaupun dalam keadaan tidak terpaksa
Ath Thusi meriwayatkan –dengan dusta– di dalam Al Amaali hal. 229 dari Ash Shadiq, beliau berkata: “Bukanlah dari golongan kami, seseorang yang tidak menjadikan taqiyyah sebagai syiar dan bajunya walaupun ditengah orang-orang yang dia percayai. Hal itu tetap dia lakukan agar selalu menjadi tabiatnya ketika ditengah orang-orang yang mengancamnya.”
3. Ibadah yang diiringi dengan taqiyyah memiliki keutamaan besar
Ash Shaduq di dalam Man Laa Yahdhuruhul Faqih 1/266 meriwayatkan –dengan dusta– dari Abu Abdillah, berkata: “Tidaklah salah seorang diantara kalian menunaikan shalat wajib sesuai waktunya lalu shalat lagi dengan taqiyyah bersama mereka (kaum muslimin) dalam keadaan berwudlu’ kecuali Allah tulis (keutamaan) baginya sebesar 25 derajat. Oleh karena itu berharaplah kalian untuk mendapatkannya.”
4. Riwayat-riwayat para Imam mereka yang bertolak belakang dengan aqidah mereka dianggap sebagai taqiyyah (diringkas dari Firaqusy Syi’ah hal. 85-87 karya An Naubakhti)
5. Penafsiran yang batil terhadap ayat-ayat Allah Ta'ala
Surat Fushshilat 34 :
وَلاَ تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
yang artinya: “Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejelekan. Balaslah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik.”
Abu Abdillah berkata: “Kebaikan itu adalah taqiyyah, sedangkan kejelekan itu adalah terang-terangan di dalam beragama.” (Al Kafi 2/173 karya Al Kulaini)
Sedangkan ‘cara yang lebih baik’ itu adalah taqiyyah. (Al Kafi hal. 482 karya Al Kulaini)
Surat Al Hujurat 13 :
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling taqwa.”
Ash Shadiq - seorang syi'i - berkata: “Yaitu orang-orang yang paling mengetahui tentang taqiyyah.” (Al I’tiqadaat karya Al Qummi)
Aqidah Taqiyyah Merupakan Ciri Khas Syi’ah Rafidhah
Di dalam Al I’tiqadaat karya Al Qummi diriwayatkan –dengan dusta– dari Ali bin Husain, beliau berkata: “Kalau seandainya tidak ada taqiyyah maka wali-wali kami tidak akan dikenal diantara musuh-musuh kami.”
Hakekat Taqiyyah Syi’ah Rafidhah Sama Dengan Kemunafikan
Sangat tepat untuk dinyatakan bahwa hakekat taqiyyah mereka tidaklah beda dengan kemunafikan di masa kenabian Rasul Shallallahu 'alaihi wassallam. Padahal Allah Ta'ala banyak memperingatkan sifat-sifat mereka (kaum munafik) di dalam kitab-Nya, diantaranya:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Artinya : “Dan jika mereka (kaum munafik) bertemu dengan orang-orang beriman mereka berkata: ‘Kami beriman.’ Namun bila mereka bertemu dengan para syaithan, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanyalah mengejek mereka (kaum muslimin).” (Al Baqarah: 14)
Allah juga berfirman :
قُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ
yang artinya: “Mereka (orang-orang munafik) mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di hatinya.” (Al Fath: 11)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam mengingatkan tentang keadaan mereka:
“Dan kalian akan dapati sejelek-jelek manusia adalah yang bermuka dua, yaitu dia mendatangi suatu kaum dengan satu wajah dan mendatangi kaum yang lain dengan wajah yang lain pula.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Ahli Bait Berlepas Diri Dari Taqiyyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam Minhajus Sunnah 2/46 menyebutkan bahwa Allah membersihkan kaum mukminin dari kalangan Ahli Bait dari perbuatan taqiyyah. Bahkan mereka merupakan manusia paling jujur dalam keimanan. Agama mereka adalah ketaqwaan dan bukan taqiyyah.
Wednesday, August 3, 2011
Tuesday, August 2, 2011
KHITAN, HUKUM DAN PERMASALAHANNYA
Penulis: Salim Rasyid Asy-Syibli, Muhammad Khalifah Muhammad Rabaah
Telah pasti di dalam banyak hadits tentang disyari'atkannya khitan, di antaranya:
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
"Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak."
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Imam Bukhari (6297-Al-Fath, Imam Muslim (3/27- Imam Nawawi), Imam Malik di dalam Al-Muwattha' (1927), Imam Abu Dawud (4198), Imam Tirmidzi (2756), Imam Nasa'i (I/14-15), Imam Ibnu Majah (292), Imam Ahmad di dalam Al-Musnad (2/229) dan Imam Baihaqi (8/323).
2. Dari `Utsaim bin Kulaib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya ia pernah datang kepada Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam lalu mengatakan:
"Sungguh saya telah masuk Islam." Maka Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: "Buanglah darimu bulu (rambut) kekufuran dan berkhitanlah."
Hadits hasan, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (356) dan Imam Baihaqi dari beliau (1/172) juga Imam Ahmad (3/415.
Berkata Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa' (79): Ini adalah hadits hasan, karena hadits ini memiliki dua pendukung. Salah satunya dari Qatadah dan Abu Hisyam, sedangkan yang satu dari Wa'ilah bin Asqa'. Dan sungguh saya telah membicarakan tentang keduanya. Telah saya jelaskan juga di dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 1383) bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berhujjah dengan hadits ini.
3. Dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
"Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun."
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (6298-Al-Fath), Imam Muslim (2370), Imam Baihaqi (8/325) dan Imam Ahmad (2/322-418) dan lafadz hadits ini ada pada beliau.
Di dalam hadit-hadits di atas terdapat keterangan tentang disyari'atkannya khitan. Dan bahwasanya orang tuapun tetap diperintah untuk melaksanakannya, jika ia belum pernah berkhitan.
Khitan bagi Wanita
Adapun tentang disyari'atkannya khitan bagi para wanita, maka dalam hal ini ada beberapa hadits, di antaranya sebagai berikut ini:
1. Sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam kepada Ummu `Athiyah radhiyallahu `anha (seorang wanita juru khitan):
"Khitanlah (anak-anak perempuan), tetapi jangan dipotong habis! Karena sesungguhnya khitan itu membuat wajah lebih berseri dan membuat suami lebih menyukainya."
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (5271), Imam Al-Hakim (3/525), Imam Ibnu `Adi di dalam Al-Kamil (3/1083) dan Imam Al-Khatib di dalam Tarikh-nya (12/291).
2. Sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam:
"Apabila dua khitan (khitan laki-laki dan khitan perempuan) sudah bertemu, maka sudah wajib mandi."
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (108-109), Imam Syafi'i (1/36), Imam Ibnu Majah (608), Imam Ahmad (6/161), Imam Abdurrazzaq (1/245-246) dan Imam Ibnu Hibban (1173-1174-Al-Ihsan).
Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam menisbatkan khitan untuk para wanita. Maka ini menjadi dalil tentang disyari'atkan juga khitan ini bagi mereka.
3. Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu `anha secara marfu':
"Apabila seorang lelaki telah berada di atas empat bagian tubuh istrinya, dan khitannya telah menyentuh dengan khitan istrinya, maka sudah wajib mandi."
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/291-Al-Fath), Imam Muslim (349-Imam Nawawi), Imam Abu `Awanah (1/289), Imam Abdurrazzaq (939-940), Imam Ibnu Abi Syaibah (1/85) dan Imam Baihaqi (1/164).
Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam juga mengisyaratkan adanya dua tempat khitan, yaitu pada seorang lelaki dan pada seorang perempuan. Maka hal ini menunjukkan bahwa seorang perempuan juga dikhitan.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: Di dalam hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa para wanita dahulu juga dikhitan.
Hendaklah diketahui bahwa khitan wanita merupakan hal yang ma'ruf (dikenal umum, red) di kalangan para salaf. Barangsiapa yang ingin menambah panjang lebar penjelasan tentang hal ini, silakan melihat kitab Silsilatul Ahaditsush Shahihah (2/353). Karena sesungguhnya Syaikh Al-Albani -semoga Allah melimpahkan pahala untuk beliau- telah menyebutkan banyak hadits dan atsar yang berkaitan dengan hal ini di dalam kitab tersebut.
Hukum Khitan
Pendapat yang rajih (kuat) adalah wajib. Dan itulah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada maupun kebanyakan pendapat para ulama. Dan telah pasti pula perintah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam kepada seorang yang baru masuk Islam untuk berkhitan. Kata beliau kepadanya:
"Buanglah darimu rambut/bulu kekufuran dan berkhitanlah."
Maka perintah beliau Shallallahu `alaihi wa sallam kepada orang itu untuk berkhitan ini merupakan dalil terkuat yang menunjukkan tentang wajibnya.
Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah (hal. 69) berkata:
"Adapun hukum khitan, maka yang rajih menurut kami adalah wajib. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Syafi'i maupun Imam Ahmad. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. Beliau membawakan lima belas sisi dalam berdalil untuk mendukung pendapat ini. Meskipun masing-masing sisi tidak kokoh (dukungannya terhadap pendapat ini) ketika berdiri sendiri. Akan tetapi secara keseluruhan tidak diragukan lagi kuatnya sisi-sisi pendalilan tersebut. Hanya saja di sini bukan tempatnya untuk membicarakan semuanya, tetapi kami cukupkan di sini untuk menyebutkan dua sisi saja, yaitu:
1. Firman Allah Ta'ala:
"Kemudian Kami wahyukan…kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah." (An-Nahl: 123)
Khitan termasuk di antara millah (ajaran) Ibrahim sebagaimana terdapat di dalam hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan setelah ini. Dan ini merupakan hujjah yang terbaik sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Baihaqi yang juga disadur oleh Al-Hafidz di dalam Al-Fath (10/281).
2. Bahwa khitan itu merupakan syi'ar-syi'ar Islam yang paling nampak, yang membedakan antara seorang muslim dengan nashrani. Hingga kaum muslimin hampir-hampir menganggap orang yang tidak berkhitan itu tidak termasuk dari kalangan mereka (kaum muslimin).
Kami tambahkan pula sisi yang ketiga untuk mendukung dalil wajibnya hukum khitan, yaitu yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Al-Fath (10/417) dari Abu Bakr Ibnul Arabi ketika beliau membicarakan tentang hadits:
"Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan,…"
Kata beliau: "Menurut pandangan saya bahwasanya kelima cabang yang disebutkan di dalam hadits ini semuanya wajib. Karena apabila seseorang meninggalkannya, niscaya tidak tersisa penampilannya sebagai seorang bani Adam, lalu mana mungkin ia (penampilannya) termasuk dari kalangan kaum muslimin."
Hukum khitan ini umum untuk kaum pria maupun kaum wanita. Hanya saja tidak ada pada sebagian kaum wanita bagian tubuh yang dipotong untuk dikhitan, yaitu apa yang dinamakan dengan clitoris. Maka tidak masuk akal kalau kita perintahkan kepada mereka untuk dipotong (dikhitan), sedangkan hal itu tidak ada padanya.
Ibnu Hajj di dalam Al-Madkhal (3/396) berkata: "Diperselisihkan hukum khitan ini pada para wanita. Apakah mereka dikhitan secara mutlak ataukah dibedakan antara wanita Timur dengan wanita Barat. Adapun para wanita timur, maka mereka diperintahkan karena adanya bagian kemaluannya (untuk dipotong), yang lebih dari asal penciptaannya. Sedangkan para wanita barat, maka tidak diperintahkan kepada mereka keterangan tidak adanya hal itu pada mereka. Sehingga hal ini kembalinya kepada tuntutan `illah (sebab yang menetapkan hukum).
Waktu Khitan
Sungguh telah berlalu penjelasan tentang hukum khitan yaitu wajib. Dan termasuk di antara hal-hal yang telah diketahui di dalam ilmu ushul fiqh; bahwasanya suatu kewajiban menuntut agar dilakukannya perintah tersebut dengan segera. Sesungguhnya telah ada di dalam sebagian hadits penentuan waktu khitan, yaitu pada hari ketujuh.
Terdapat di dalam masalah ini tiga hadits yang menunjukkan bahwa khitan itu dilakukan pada hari ketujuh. Dan hadits-hadits tersebut tidak ada yang terluput dari perbincangan para ulama. Dan kami bawakan keterangan rinci tentang hal ini di dalam pembahasan berikut ini:
1. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu `anhu:
"Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain (dan beliau Shallallahu `alaihi wa sallam mengkhitan keduanya pada hari ketujuh).
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu `Adi di dalam Al-Kamil (3/1075), Imam Thabrani di dalam Ash-Shaghir (2/122), Imam Baihaqi di dalam Al-Kubra (8/324) dan di dalam Asy-Syu'ab (6/394) dari jalan sanad Muhammad bin Abis Sarii Al-Atsqalani mengatakan: Telah bercerita kepadaku Al-Walid bin Muslim dari Zuhair bin Muhammad dari Muhammad bin Munkadir darinya. Dan berkata Imam Thabrani: Tidak ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Munkadir kecuali Zuhair bin Muhammad. Akan tetapi tak seorang pun yang meriwayatkan hadits ini yang menambahkan lafadz:
"Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam mengkhitan keduanya pada hari ketujuh."
Kami katakan: Ini adalah sanad yang lemah, padanya ada cacat yang beruntun:
* Pertama, Muhammad bin Abis Sarii -Abu `Ashim Al-Atsqalani. Al-Hafidz di dalam At-Taqrib berkata: Ia seorang yang shaduq dan `arif, tetapi banyak keliru (dalam periwayatan). Maka kami khawatir bahwa hadits ini termasuk di antara kekeliruannya.
* Kedua, Al-Walid bin Muslim telah melakukan tadlis taswiyah dan menyebutkan riwayatnya dengan `an dari gurunya terus ke atas.
* Ketiga, Zuhair bin Muhammad. Al-Hafidz di dalam At-Taqrib berkata:
"Periwayatan ahlu Syam darinya tidak tetap. Oleh karenanya hadits ini dha'if."
Beliau katakan juga dalam At-Tahdzib (3/301-302):
"Berkata Imam Bukhari: Hadits yang diriwayatkan oleh ahlu Syam darinya sesungguhnya merupakan hadits-hadits yang mungkar. Berkata Imam Abu Hatim: Kedudukannya sebagai orang yang jujur, tetapi hafalannya buruk. Dan haditsnya yang ada di Syam lebih mungkar dari haditsnya yang ada di Iraq. Berkata Al `Ajli: Ia tidak mengapa, tetapi hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahlu Syam darinya tidak membuatku kagum."
Kami katakan: Hadits di atas termasuk di antara riwayat-riwayat ahlu Syam, karena Al-Walid bin Muslim adalah seorang Dimasyqi Syamii (yakni penduduk Syam -ed). Lagi pula tambahan yang tersebut di dalam hadits di atas adalah mungkar. Di mana ada tujuh sahabat yang meriwayatkan hadits ini, tetapi mereka tidak menyebutkan adanya tambahan tersebut. Ketujuh sahabat tersebut adalah: Ali bin Abi Thalib, Jabir bin Abdullah (riwayat Abu Zubair darinya), Anas bin Malik, Abdullah bin `Amr, Abdullah ibnu Abbas, Buraidah Al-Aslami dan Ummul Mukminin `Aisyah radhiyallahu `anhum ajma'in. Tidak seorangpun dari ketujuh sahabat tersebut yang meriwayatkan tambahan lafadz: "Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam mengkhitan keduanya pada hari ketujuh". Hanya saja dipersilisihkan dalam tambahan ini atas Jabir radiyallahu `anhu.
Maka Abu Zubair meriwayatkan hadits ini darinya tanpa tambahan, sehingga mencocoki riwayat jama'ah shahabat yang lain, yaitu dengan lafadz: bahwasanya "Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain". Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf (8/46), Imam Abu Ya'la (1933), Imam Thabrani di dalam Al-Kabir (2573). Diriwayatkan juga hadits ini oleh Muhammad bin Munkadir dari Jabir dengan tambahan tersebut, sedangkan illah-nya bukan darinya, karena ia sebagaimana dikatakan di dalam At-Tahdzib: Ia seorang yang tsiqah dan utama. Akan tetapi illah tersebut dari rawi yang meriwayatkan darinya sebagaiman penjelasan yang telah lalu.
2. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma ia berkata:
"Tujuh perkara di antara Sunnah pada anak bayi di hari ketujuh adalah: dinamai, dikhitan,…" Al-Hadits.
Diriwayatkan oleh Imam Thabrani di dalam Al-Ausath (1/334-335) dari jalan sanad Rawwad bin Jaraah dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha' darinya.
Al Hafidz di dalam At-Talkhis (4/84) berkata: Di dalam sanadnya ada Rawwad bin Jaraah seorang yang dha'if.
Juga beliau menyebutkan biografinya di dalam At-Taqrib dengan mengatakan: Ia seorang yang shaduq (jujur), tetapi kacau hafalannya di akhir umurnya sehingga ditinggalkan.
Imam Adz Dzahabi di dalam Diwanudh Dhu'afa' wal Matrukiin (1/293) berkata: Ia dinyatakan tsiqah oleh Imam Ibnu Ma'in.
Imam Abi Hatim berkata: Kedudukannya sebagai orang yang jujur. Imam Daraquthni berkata: Ia dha'if.
Berkata Imam Ibnu `Adi di dalam Al-Kamil (3/1039) berkata: Umumnya riwayat yang ia riwayatkan dari gurunya tidak diikuti oleh orang lain. Ia seorang syaikh yang shalih, akan tetapi di antara hadits orang-orang yang shalih ada hadits yang mungkar. Hanya saja ia termasuk orang yang ditulis haditsnya.
Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa' (4/385) berkata: Saya katakan: Orang yang seperti itu keadaannya apakah haditsnya dianggap? Atau dijadikan hujjah? Baik sebagai penguat atau pendukung? Maka menurut kami harus diteliti. Wallahu a'lam.
Akan tetapi nampaknya syaikh Al-Albani memandang rajih untuk menjadikan hadits ini sebagai pendukung. Karena beliau menyatakan di dalam Tamamul Minnah (68) tentang hadits Ibnu Abbas dan hadits Jabir radiyallahu `anhuma: "Akan tetapi salah satu di antara kedua hadits ini memperkuat yang lain, karena makhrajnya berbeda dan di dalam sanad kedua hadits tersebut tidak ada rawi yang tertuduh."
Catatan:
Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah tentang hadits Jabir (yang pertama) berkata:
"Hadits ini dinisbatkan oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath (10/282) kepada Imam Abu Syaikh dan Imam Baihaqi. Akan tetapi beliau mendiamkan saja. Barangkali hadits ini ada pada beliau berdua dari jalan yang lain."
Kami katakan: Bahkan hadits tersebut diriwayatkan dari jalan sanad itu sendiri sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Fath (11/343) oleh Al Hafizh: Dan hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Syaikh dari jalan sanad Al-Walid bin Muslim dari Zuhair bin Muhammad dari Ibnul Munkadir atau yang lain dari Jabir.
Maka hadits ini diriwayatkan dari jalan sanad Imam Thabrani sendiri, Imam Baihaqi maupun Imam Ibnu `Adi.
3. Dari Abu Ja'far ia berkata:
"Dahulu Fathimah mengaqiqahi anaknya pada hari ketujuh sekaligus mengkhitannya, mencukur rambut kepalanya dan bershadaqah uang seberat timbangan rambutnya."
Dikeluarkan hadits ini oleh Imam Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannaf-nya (8/53) dari jalan `Abduh bin Sulaiman dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Abdul Malik bin Al-Lahyan dari Abu Ja'far.
Berkata Syaikh Muhammad `Id Al-`Abasi: Abu Ja'far ini barangkali adalah Muhammad bin Ali bin Husain. Karena beliau orang yang paling masyhur dengan kuniyah tersebut. Demikian itu yang dituntut oleh kaidah-kaidah ilmu hadits. Maka berarti sanad hadits ini terputus karena Abu Ja'far tidak mendapati Fathimah radiyallanhu `anha.
Jadi jelas hadits ini adalah dha'if, hanya saja masih bisa dijadikan sebagai pendukung.
Ada juga di dalam Musnad Al-Firdaus karya Imam Dailami dari hadits Ali sebagai pendukung keempat. Hanya saja di dalam sanadnya ada seorang kadzdzab (pendusta besar), sehingga tidak bisa dijadikan sebagai pendukung. Maka secara umum tiga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya menunjukkan bahwa hadits tersebut ada asalnya. Sehingga jadilah hadits ini hasan. Wallahu a'lam.
Hal ini (pelaksanaan khitan pada hari ketujuh) merupakan perbuatan bersegera kepada kebaikan sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman Allah Ta'ala:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu." (Ali Imran: 133)
Tidak diragukan lagi bahwa bersegera melakukannya lebih utama bagi seorang anak, di mana rasa sakitnya jelas lebih ringan. Berbeda dengan jika ditunda. Maka ketika itu sakit lebih terasa. Dan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam apabila dihadapkan kepada dua pilihan, maka tidaklah beliau memilih kecuali yang lebih mudah/ringan. Dan juga di dalam khitan terdapat penyingkapan aurat. Sedangkan penyingkapan aurat anak kecil lebih sedikit kejelekannya dari pada yang sudah besar.
Di samping itu terdapat sebuah atsar dari Ibnu Abbas ketika beliau ditanya: "Berapa umurmu ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam wafat?" Beliau menjawab: "Aku ketika itu sudah dikhitan. Dan dulu mereka tidak mengkhitan seseorang hingga ia menjadi anak yang paham (baligh)."
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (11/90-Al-Fath), Imam Ahmad (1/264-287-357), Imam Thabrani di dalam Al-Kabir (10/10575-10578-10579). Akan tetapi keduanya tidak mengeluarkan tambahan lafazh: Dan dulu mereka tidak mengkhitan….
Al-Isma'ili menganggap cacat atsar ini dengan alasan goncang, hal ini karena adanya perbedaan umur yang telah dicapai oleh Ibnu Abbas radiyallahu `anhu. Maka beliau mengatakan: Sesungguhnya perkataan: "Dan dulu mereka tidak mengkhitan…", adalah perkataan yang dimasukkan ke dalam atsar ini. Akan tetapi disanggah pernyataan beliau ini oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Al-Fath (11/90), maka lihatlah kesana karena pentingnya hal ini.
Maka atsar ini menunjukkan atas bolehnya menunda khitan hingga anak tersebut mencapai usia baligh. Karena atsar tersebut menjelaskan tentang amalan kebanyakan para shahabat dalam hal khitan ini dan menunda hingga anak mencapai usia baligh. Dan tidak ragu lagi bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam telah hidup bersama mereka. Maka kalau saja perbuatan mereka tersebut menyelisihi syari'at, tentu beliau Shallallahu `alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini kepada mereka. Sehingga hal ini merupakan indikasi yang mengalihkan perintah tersebut dari bersegera melakukannya. Hanya saja masih tetap ada wajibnya perintah ini, maka tidak boleh untuk menunda khitan tersebut sampai melebihi usia baligh.
Al-`Allamah Al-Mawardi sebagaimana disebutkan di dalam Fathul Bari (10/342) berkata: Dalam hal khitan ada dua waktu; yaitu waktu wajib dan waktu sunnah. Waktu wajib adalah ketika baligh dan waktu sunnah adalah sebelumnya. Yang terbagus adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran. Dan disukai agar tidak menunda dari waktu sunnah kecuali karena udzur.
Berkata Al-Haitsami di dalam Az-Zawajir (2/163):
"Yang benar bahwasanya jika kami menyatakan wajibnya khitan berarti meninggalkannya tanpa udzur adalah suatu kefasikan. Maka pahamilah bahwa pembicaraan hal ini hanyalah berkisar pada khitan bagi kaum pria bukan kaum wanita. Sehingga kaum pria dikatakan melakukan perbuatan fasiq dengan meninggalkan khitan ini. Dan jika perbuatan ini dikatakan sebagai kefasiqan, berarti itu merupakan dosa besar."
Hiburan dalam Acara Khitanan
Dari Ummu `Alqamah ia menceritakan:
Bahwa keponakan perempuan `Aisyah radhiyallahu `anha dikhitan. Maka ada yang berkata kepada `Aisyah: "Bolehkah kami memanggil untuk mereka orang-orang yang memberikan hiburan?"
Maka beliau menjawab" Ya boleh."
Lalu aku menyuruh agar dipanggilkan `Udi. Karena ia adalah seorang yang memiliki banyak sya'ir. Maka datanglah ia kepada mereka. Ketika `Aisyah radhiyallahu `anha lewat di rumah kami, maka beliau melihat `Udi sedang bernyanyi seraya menggoyang-goyangkan kepalanya dengan riang. Berkatalah `Aisyah radhiyallahu `anha seketika itu: "Ih! Syaithan itu! Usir dia! Usir dia!"
Hadits hasan, dikeluarkan oleh Imam Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad (1247).1
Maka hadits ini menjelaskan kepada kita tentang disyari'atkannya hiburan untuk anak yang dikhitan dalam acara khitanan, dengan tujuan agar ia melupakan rasa sakit yang dirasakannya dengan sebab khitan tersebut. Dan ini merupakan kesempurnaan perhatian syari'at kepadanya. Maka demikian itulah para salafush shalih radhiyallahu `anhum.
Akan tetapi sebaliknya, tidak boleh berlebih-lebihan dalam hiburan ini seperti apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang beupa nyanyian dengan alat-alat music dan melalukan walimah (makan-akan/pesta) maupun yang lain yang tidak dibiarkan oleh syari'at kita yang toleran ini.
Walimah Khitan
Tidak disyari'atkan walimah (pesta/makan-makan) dalam acara khitanan, karena tidak adanya nash yang enetapkannya. Bahkan ada atsar dari seorang shahabat, yaitu `Utsman bin Abil `Ash radhiyallahu `anhu yang mengingkari perbuatan ini. Dari Al-Hasan ia berkata:
`Utsman bin Abil `Ash pernah diundang untuk mendatangi acara khitanan. Maka beliau tidak mau mendatanginya. Lalu ada yang menanyakan hal itu kepadanya. Maka beliau menjawab: "Sesungguhnya kami dulu tidak pernah mendatangi acara khitanan di zaman Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dan tidak pernah pula beliau Shallallahu `alaihi wa sallam diundang (untuk mendatanginya)."
Hadits ini dha'if, diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (4/217) dan Imam Thabrani di dalam Al-Kabir (9/48). Juga dibawakan oleh Al-Haitsami di dalam Al-Majma' (4/60) dan beliau mengatakan: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Thabrani di dalam Al-Kabir. Dan di dalam sanadnya ada Ibnu Ishaq. Ia seorang yang tsiqah tetapi melakukan tadlis.
Meskipun atsar di atas tidak tsabit (tidak pasti shahih) dari sisi sanad, akan tetapi itulah hukum asalnya. Karena khitan adalah hukum syari'at. Maka segala apa yang ditabahkan kepadanya (dikaitkan dengannya) harus ada dalil baik dari Al-Qur'an atau As-Sunnah. Sedangkan walimah khitan (pesta/makan-makan yang berkaitan dengan khitan) merupakan sesuatu yang ditambahkan kepada acara khitan dan dikaitkan dengannya. Maka mengkaitkan acara ini butuh kepada dalil. Walahu a'lam.
Footnote:
1Berkata syaikh kami dan ustadz kami Syaikh Muhammad `Id Al-`Abbasi atsabahullah: "Sanad hadits ini hasan, rawi-rawinya tsiqah kecuali Ummu `Alqamah yang bernama Murjanah. Al-Hafidz di dalam At-Taqrib berkata: Ia maqbulah (diterima riwayatnya), yakni ketika ada yang mengikuti. Akan tetapi ia seorang wanita tabi'iyah, di mana ada dua orang tsiqah yang meriwayatkan darinya; yaitu putranya sendiri `Alqamah dan Bakir bin Abdilah Al-Asyaj. Maka seorang rawi yang demikian itu keadaannya dianggap hasan haditsnya. Sebagaimana amalan yang telah berlaku pada kebanyakan ahli hadits seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Syaikh Al-Albani."
Kami katakan: Sebelum mereka berdua adalah Al-Hafizh Imam Dzahabi dan Al-Hafizh Ibnu Rajab maupun Al-Hafizh Ibnu Katsir.
Syaikh Al-Albani berkata tentang hadits ini di dalam Ash-Shahihah (2/538): "Sanadnya masih mungkin untuk dinyatakan hasan. Karena rawi-rawinya tsiqah kecuali Ummu `Alqamah ini. Nama adalah Murjanah dan dinyatakan tsiqah oleh Al-`Ajli maupun Imam Ibnu Hibban. Juga telah meriwayatkan darinya dua orang rawi yang tsiqah."
Kami katakana: "Sungguh Al-Hafizh telah menyebutkan bahwa Imam Bukhari menyebutkan haditsnya di dalam bab haidh. Akan tetapi Imam Dzahabi membawakannya di dalam Al-Mizan (747) termasuk di antaranya wanita-wanita yang majhul (tidak dikenal).
Penulis: Salim Rasyid Asy-Syibli, Muhammad Khalifah Muhammad Rabaah
Telah pasti di dalam banyak hadits tentang disyari'atkannya khitan, di antaranya:
1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
"Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak."
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Imam Bukhari (6297-Al-Fath, Imam Muslim (3/27- Imam Nawawi), Imam Malik di dalam Al-Muwattha' (1927), Imam Abu Dawud (4198), Imam Tirmidzi (2756), Imam Nasa'i (I/14-15), Imam Ibnu Majah (292), Imam Ahmad di dalam Al-Musnad (2/229) dan Imam Baihaqi (8/323).
2. Dari `Utsaim bin Kulaib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya ia pernah datang kepada Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam lalu mengatakan:
"Sungguh saya telah masuk Islam." Maka Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: "Buanglah darimu bulu (rambut) kekufuran dan berkhitanlah."
Hadits hasan, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (356) dan Imam Baihaqi dari beliau (1/172) juga Imam Ahmad (3/415.
Berkata Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa' (79): Ini adalah hadits hasan, karena hadits ini memiliki dua pendukung. Salah satunya dari Qatadah dan Abu Hisyam, sedangkan yang satu dari Wa'ilah bin Asqa'. Dan sungguh saya telah membicarakan tentang keduanya. Telah saya jelaskan juga di dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 1383) bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berhujjah dengan hadits ini.
3. Dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu bahwa Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
"Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun."
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (6298-Al-Fath), Imam Muslim (2370), Imam Baihaqi (8/325) dan Imam Ahmad (2/322-418) dan lafadz hadits ini ada pada beliau.
Di dalam hadit-hadits di atas terdapat keterangan tentang disyari'atkannya khitan. Dan bahwasanya orang tuapun tetap diperintah untuk melaksanakannya, jika ia belum pernah berkhitan.
Khitan bagi Wanita
Adapun tentang disyari'atkannya khitan bagi para wanita, maka dalam hal ini ada beberapa hadits, di antaranya sebagai berikut ini:
1. Sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam kepada Ummu `Athiyah radhiyallahu `anha (seorang wanita juru khitan):
"Khitanlah (anak-anak perempuan), tetapi jangan dipotong habis! Karena sesungguhnya khitan itu membuat wajah lebih berseri dan membuat suami lebih menyukainya."
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (5271), Imam Al-Hakim (3/525), Imam Ibnu `Adi di dalam Al-Kamil (3/1083) dan Imam Al-Khatib di dalam Tarikh-nya (12/291).
2. Sabda Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam:
"Apabila dua khitan (khitan laki-laki dan khitan perempuan) sudah bertemu, maka sudah wajib mandi."
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi (108-109), Imam Syafi'i (1/36), Imam Ibnu Majah (608), Imam Ahmad (6/161), Imam Abdurrazzaq (1/245-246) dan Imam Ibnu Hibban (1173-1174-Al-Ihsan).
Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam menisbatkan khitan untuk para wanita. Maka ini menjadi dalil tentang disyari'atkan juga khitan ini bagi mereka.
3. Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu `anha secara marfu':
"Apabila seorang lelaki telah berada di atas empat bagian tubuh istrinya, dan khitannya telah menyentuh dengan khitan istrinya, maka sudah wajib mandi."
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/291-Al-Fath), Imam Muslim (349-Imam Nawawi), Imam Abu `Awanah (1/289), Imam Abdurrazzaq (939-940), Imam Ibnu Abi Syaibah (1/85) dan Imam Baihaqi (1/164).
Di dalam hadits ini, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam juga mengisyaratkan adanya dua tempat khitan, yaitu pada seorang lelaki dan pada seorang perempuan. Maka hal ini menunjukkan bahwa seorang perempuan juga dikhitan.
Imam Ahmad rahimahullah berkata: Di dalam hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa para wanita dahulu juga dikhitan.
Hendaklah diketahui bahwa khitan wanita merupakan hal yang ma'ruf (dikenal umum, red) di kalangan para salaf. Barangsiapa yang ingin menambah panjang lebar penjelasan tentang hal ini, silakan melihat kitab Silsilatul Ahaditsush Shahihah (2/353). Karena sesungguhnya Syaikh Al-Albani -semoga Allah melimpahkan pahala untuk beliau- telah menyebutkan banyak hadits dan atsar yang berkaitan dengan hal ini di dalam kitab tersebut.
Hukum Khitan
Pendapat yang rajih (kuat) adalah wajib. Dan itulah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada maupun kebanyakan pendapat para ulama. Dan telah pasti pula perintah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam kepada seorang yang baru masuk Islam untuk berkhitan. Kata beliau kepadanya:
"Buanglah darimu rambut/bulu kekufuran dan berkhitanlah."
Maka perintah beliau Shallallahu `alaihi wa sallam kepada orang itu untuk berkhitan ini merupakan dalil terkuat yang menunjukkan tentang wajibnya.
Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah (hal. 69) berkata:
"Adapun hukum khitan, maka yang rajih menurut kami adalah wajib. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam Syafi'i maupun Imam Ahmad. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. Beliau membawakan lima belas sisi dalam berdalil untuk mendukung pendapat ini. Meskipun masing-masing sisi tidak kokoh (dukungannya terhadap pendapat ini) ketika berdiri sendiri. Akan tetapi secara keseluruhan tidak diragukan lagi kuatnya sisi-sisi pendalilan tersebut. Hanya saja di sini bukan tempatnya untuk membicarakan semuanya, tetapi kami cukupkan di sini untuk menyebutkan dua sisi saja, yaitu:
1. Firman Allah Ta'ala:
"Kemudian Kami wahyukan…kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah." (An-Nahl: 123)
Khitan termasuk di antara millah (ajaran) Ibrahim sebagaimana terdapat di dalam hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan setelah ini. Dan ini merupakan hujjah yang terbaik sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Baihaqi yang juga disadur oleh Al-Hafidz di dalam Al-Fath (10/281).
2. Bahwa khitan itu merupakan syi'ar-syi'ar Islam yang paling nampak, yang membedakan antara seorang muslim dengan nashrani. Hingga kaum muslimin hampir-hampir menganggap orang yang tidak berkhitan itu tidak termasuk dari kalangan mereka (kaum muslimin).
Kami tambahkan pula sisi yang ketiga untuk mendukung dalil wajibnya hukum khitan, yaitu yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Al-Fath (10/417) dari Abu Bakr Ibnul Arabi ketika beliau membicarakan tentang hadits:
"Fitrah itu ada lima, yaitu: khitan, mencukur bulu kemaluan,…"
Kata beliau: "Menurut pandangan saya bahwasanya kelima cabang yang disebutkan di dalam hadits ini semuanya wajib. Karena apabila seseorang meninggalkannya, niscaya tidak tersisa penampilannya sebagai seorang bani Adam, lalu mana mungkin ia (penampilannya) termasuk dari kalangan kaum muslimin."
Hukum khitan ini umum untuk kaum pria maupun kaum wanita. Hanya saja tidak ada pada sebagian kaum wanita bagian tubuh yang dipotong untuk dikhitan, yaitu apa yang dinamakan dengan clitoris. Maka tidak masuk akal kalau kita perintahkan kepada mereka untuk dipotong (dikhitan), sedangkan hal itu tidak ada padanya.
Ibnu Hajj di dalam Al-Madkhal (3/396) berkata: "Diperselisihkan hukum khitan ini pada para wanita. Apakah mereka dikhitan secara mutlak ataukah dibedakan antara wanita Timur dengan wanita Barat. Adapun para wanita timur, maka mereka diperintahkan karena adanya bagian kemaluannya (untuk dipotong), yang lebih dari asal penciptaannya. Sedangkan para wanita barat, maka tidak diperintahkan kepada mereka keterangan tidak adanya hal itu pada mereka. Sehingga hal ini kembalinya kepada tuntutan `illah (sebab yang menetapkan hukum).
Waktu Khitan
Sungguh telah berlalu penjelasan tentang hukum khitan yaitu wajib. Dan termasuk di antara hal-hal yang telah diketahui di dalam ilmu ushul fiqh; bahwasanya suatu kewajiban menuntut agar dilakukannya perintah tersebut dengan segera. Sesungguhnya telah ada di dalam sebagian hadits penentuan waktu khitan, yaitu pada hari ketujuh.
Terdapat di dalam masalah ini tiga hadits yang menunjukkan bahwa khitan itu dilakukan pada hari ketujuh. Dan hadits-hadits tersebut tidak ada yang terluput dari perbincangan para ulama. Dan kami bawakan keterangan rinci tentang hal ini di dalam pembahasan berikut ini:
1. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu `anhu:
"Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain (dan beliau Shallallahu `alaihi wa sallam mengkhitan keduanya pada hari ketujuh).
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu `Adi di dalam Al-Kamil (3/1075), Imam Thabrani di dalam Ash-Shaghir (2/122), Imam Baihaqi di dalam Al-Kubra (8/324) dan di dalam Asy-Syu'ab (6/394) dari jalan sanad Muhammad bin Abis Sarii Al-Atsqalani mengatakan: Telah bercerita kepadaku Al-Walid bin Muslim dari Zuhair bin Muhammad dari Muhammad bin Munkadir darinya. Dan berkata Imam Thabrani: Tidak ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Munkadir kecuali Zuhair bin Muhammad. Akan tetapi tak seorang pun yang meriwayatkan hadits ini yang menambahkan lafadz:
"Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam mengkhitan keduanya pada hari ketujuh."
Kami katakan: Ini adalah sanad yang lemah, padanya ada cacat yang beruntun:
* Pertama, Muhammad bin Abis Sarii -Abu `Ashim Al-Atsqalani. Al-Hafidz di dalam At-Taqrib berkata: Ia seorang yang shaduq dan `arif, tetapi banyak keliru (dalam periwayatan). Maka kami khawatir bahwa hadits ini termasuk di antara kekeliruannya.
* Kedua, Al-Walid bin Muslim telah melakukan tadlis taswiyah dan menyebutkan riwayatnya dengan `an dari gurunya terus ke atas.
* Ketiga, Zuhair bin Muhammad. Al-Hafidz di dalam At-Taqrib berkata:
"Periwayatan ahlu Syam darinya tidak tetap. Oleh karenanya hadits ini dha'if."
Beliau katakan juga dalam At-Tahdzib (3/301-302):
"Berkata Imam Bukhari: Hadits yang diriwayatkan oleh ahlu Syam darinya sesungguhnya merupakan hadits-hadits yang mungkar. Berkata Imam Abu Hatim: Kedudukannya sebagai orang yang jujur, tetapi hafalannya buruk. Dan haditsnya yang ada di Syam lebih mungkar dari haditsnya yang ada di Iraq. Berkata Al `Ajli: Ia tidak mengapa, tetapi hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ahlu Syam darinya tidak membuatku kagum."
Kami katakan: Hadits di atas termasuk di antara riwayat-riwayat ahlu Syam, karena Al-Walid bin Muslim adalah seorang Dimasyqi Syamii (yakni penduduk Syam -ed). Lagi pula tambahan yang tersebut di dalam hadits di atas adalah mungkar. Di mana ada tujuh sahabat yang meriwayatkan hadits ini, tetapi mereka tidak menyebutkan adanya tambahan tersebut. Ketujuh sahabat tersebut adalah: Ali bin Abi Thalib, Jabir bin Abdullah (riwayat Abu Zubair darinya), Anas bin Malik, Abdullah bin `Amr, Abdullah ibnu Abbas, Buraidah Al-Aslami dan Ummul Mukminin `Aisyah radhiyallahu `anhum ajma'in. Tidak seorangpun dari ketujuh sahabat tersebut yang meriwayatkan tambahan lafadz: "Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam mengkhitan keduanya pada hari ketujuh". Hanya saja dipersilisihkan dalam tambahan ini atas Jabir radiyallahu `anhu.
Maka Abu Zubair meriwayatkan hadits ini darinya tanpa tambahan, sehingga mencocoki riwayat jama'ah shahabat yang lain, yaitu dengan lafadz: bahwasanya "Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam mengaqiqahi Al-Hasan dan Al-Husain". Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf (8/46), Imam Abu Ya'la (1933), Imam Thabrani di dalam Al-Kabir (2573). Diriwayatkan juga hadits ini oleh Muhammad bin Munkadir dari Jabir dengan tambahan tersebut, sedangkan illah-nya bukan darinya, karena ia sebagaimana dikatakan di dalam At-Tahdzib: Ia seorang yang tsiqah dan utama. Akan tetapi illah tersebut dari rawi yang meriwayatkan darinya sebagaiman penjelasan yang telah lalu.
2. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu `anhuma ia berkata:
"Tujuh perkara di antara Sunnah pada anak bayi di hari ketujuh adalah: dinamai, dikhitan,…" Al-Hadits.
Diriwayatkan oleh Imam Thabrani di dalam Al-Ausath (1/334-335) dari jalan sanad Rawwad bin Jaraah dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha' darinya.
Al Hafidz di dalam At-Talkhis (4/84) berkata: Di dalam sanadnya ada Rawwad bin Jaraah seorang yang dha'if.
Juga beliau menyebutkan biografinya di dalam At-Taqrib dengan mengatakan: Ia seorang yang shaduq (jujur), tetapi kacau hafalannya di akhir umurnya sehingga ditinggalkan.
Imam Adz Dzahabi di dalam Diwanudh Dhu'afa' wal Matrukiin (1/293) berkata: Ia dinyatakan tsiqah oleh Imam Ibnu Ma'in.
Imam Abi Hatim berkata: Kedudukannya sebagai orang yang jujur. Imam Daraquthni berkata: Ia dha'if.
Berkata Imam Ibnu `Adi di dalam Al-Kamil (3/1039) berkata: Umumnya riwayat yang ia riwayatkan dari gurunya tidak diikuti oleh orang lain. Ia seorang syaikh yang shalih, akan tetapi di antara hadits orang-orang yang shalih ada hadits yang mungkar. Hanya saja ia termasuk orang yang ditulis haditsnya.
Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa' (4/385) berkata: Saya katakan: Orang yang seperti itu keadaannya apakah haditsnya dianggap? Atau dijadikan hujjah? Baik sebagai penguat atau pendukung? Maka menurut kami harus diteliti. Wallahu a'lam.
Akan tetapi nampaknya syaikh Al-Albani memandang rajih untuk menjadikan hadits ini sebagai pendukung. Karena beliau menyatakan di dalam Tamamul Minnah (68) tentang hadits Ibnu Abbas dan hadits Jabir radiyallahu `anhuma: "Akan tetapi salah satu di antara kedua hadits ini memperkuat yang lain, karena makhrajnya berbeda dan di dalam sanad kedua hadits tersebut tidak ada rawi yang tertuduh."
Catatan:
Syaikh Al-Albani di dalam Tamamul Minnah tentang hadits Jabir (yang pertama) berkata:
"Hadits ini dinisbatkan oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath (10/282) kepada Imam Abu Syaikh dan Imam Baihaqi. Akan tetapi beliau mendiamkan saja. Barangkali hadits ini ada pada beliau berdua dari jalan yang lain."
Kami katakan: Bahkan hadits tersebut diriwayatkan dari jalan sanad itu sendiri sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Fath (11/343) oleh Al Hafizh: Dan hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Syaikh dari jalan sanad Al-Walid bin Muslim dari Zuhair bin Muhammad dari Ibnul Munkadir atau yang lain dari Jabir.
Maka hadits ini diriwayatkan dari jalan sanad Imam Thabrani sendiri, Imam Baihaqi maupun Imam Ibnu `Adi.
3. Dari Abu Ja'far ia berkata:
"Dahulu Fathimah mengaqiqahi anaknya pada hari ketujuh sekaligus mengkhitannya, mencukur rambut kepalanya dan bershadaqah uang seberat timbangan rambutnya."
Dikeluarkan hadits ini oleh Imam Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannaf-nya (8/53) dari jalan `Abduh bin Sulaiman dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Abdul Malik bin Al-Lahyan dari Abu Ja'far.
Berkata Syaikh Muhammad `Id Al-`Abasi: Abu Ja'far ini barangkali adalah Muhammad bin Ali bin Husain. Karena beliau orang yang paling masyhur dengan kuniyah tersebut. Demikian itu yang dituntut oleh kaidah-kaidah ilmu hadits. Maka berarti sanad hadits ini terputus karena Abu Ja'far tidak mendapati Fathimah radiyallanhu `anha.
Jadi jelas hadits ini adalah dha'if, hanya saja masih bisa dijadikan sebagai pendukung.
Ada juga di dalam Musnad Al-Firdaus karya Imam Dailami dari hadits Ali sebagai pendukung keempat. Hanya saja di dalam sanadnya ada seorang kadzdzab (pendusta besar), sehingga tidak bisa dijadikan sebagai pendukung. Maka secara umum tiga hadits di atas dengan keseluruhan jalannya menunjukkan bahwa hadits tersebut ada asalnya. Sehingga jadilah hadits ini hasan. Wallahu a'lam.
Hal ini (pelaksanaan khitan pada hari ketujuh) merupakan perbuatan bersegera kepada kebaikan sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman Allah Ta'ala:
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu." (Ali Imran: 133)
Tidak diragukan lagi bahwa bersegera melakukannya lebih utama bagi seorang anak, di mana rasa sakitnya jelas lebih ringan. Berbeda dengan jika ditunda. Maka ketika itu sakit lebih terasa. Dan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam apabila dihadapkan kepada dua pilihan, maka tidaklah beliau memilih kecuali yang lebih mudah/ringan. Dan juga di dalam khitan terdapat penyingkapan aurat. Sedangkan penyingkapan aurat anak kecil lebih sedikit kejelekannya dari pada yang sudah besar.
Di samping itu terdapat sebuah atsar dari Ibnu Abbas ketika beliau ditanya: "Berapa umurmu ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam wafat?" Beliau menjawab: "Aku ketika itu sudah dikhitan. Dan dulu mereka tidak mengkhitan seseorang hingga ia menjadi anak yang paham (baligh)."
Dikeluarkan oleh Imam Bukhari (11/90-Al-Fath), Imam Ahmad (1/264-287-357), Imam Thabrani di dalam Al-Kabir (10/10575-10578-10579). Akan tetapi keduanya tidak mengeluarkan tambahan lafazh: Dan dulu mereka tidak mengkhitan….
Al-Isma'ili menganggap cacat atsar ini dengan alasan goncang, hal ini karena adanya perbedaan umur yang telah dicapai oleh Ibnu Abbas radiyallahu `anhu. Maka beliau mengatakan: Sesungguhnya perkataan: "Dan dulu mereka tidak mengkhitan…", adalah perkataan yang dimasukkan ke dalam atsar ini. Akan tetapi disanggah pernyataan beliau ini oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Al-Fath (11/90), maka lihatlah kesana karena pentingnya hal ini.
Maka atsar ini menunjukkan atas bolehnya menunda khitan hingga anak tersebut mencapai usia baligh. Karena atsar tersebut menjelaskan tentang amalan kebanyakan para shahabat dalam hal khitan ini dan menunda hingga anak mencapai usia baligh. Dan tidak ragu lagi bahwa Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam telah hidup bersama mereka. Maka kalau saja perbuatan mereka tersebut menyelisihi syari'at, tentu beliau Shallallahu `alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini kepada mereka. Sehingga hal ini merupakan indikasi yang mengalihkan perintah tersebut dari bersegera melakukannya. Hanya saja masih tetap ada wajibnya perintah ini, maka tidak boleh untuk menunda khitan tersebut sampai melebihi usia baligh.
Al-`Allamah Al-Mawardi sebagaimana disebutkan di dalam Fathul Bari (10/342) berkata: Dalam hal khitan ada dua waktu; yaitu waktu wajib dan waktu sunnah. Waktu wajib adalah ketika baligh dan waktu sunnah adalah sebelumnya. Yang terbagus adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran. Dan disukai agar tidak menunda dari waktu sunnah kecuali karena udzur.
Berkata Al-Haitsami di dalam Az-Zawajir (2/163):
"Yang benar bahwasanya jika kami menyatakan wajibnya khitan berarti meninggalkannya tanpa udzur adalah suatu kefasikan. Maka pahamilah bahwa pembicaraan hal ini hanyalah berkisar pada khitan bagi kaum pria bukan kaum wanita. Sehingga kaum pria dikatakan melakukan perbuatan fasiq dengan meninggalkan khitan ini. Dan jika perbuatan ini dikatakan sebagai kefasiqan, berarti itu merupakan dosa besar."
Hiburan dalam Acara Khitanan
Dari Ummu `Alqamah ia menceritakan:
Bahwa keponakan perempuan `Aisyah radhiyallahu `anha dikhitan. Maka ada yang berkata kepada `Aisyah: "Bolehkah kami memanggil untuk mereka orang-orang yang memberikan hiburan?"
Maka beliau menjawab" Ya boleh."
Lalu aku menyuruh agar dipanggilkan `Udi. Karena ia adalah seorang yang memiliki banyak sya'ir. Maka datanglah ia kepada mereka. Ketika `Aisyah radhiyallahu `anha lewat di rumah kami, maka beliau melihat `Udi sedang bernyanyi seraya menggoyang-goyangkan kepalanya dengan riang. Berkatalah `Aisyah radhiyallahu `anha seketika itu: "Ih! Syaithan itu! Usir dia! Usir dia!"
Hadits hasan, dikeluarkan oleh Imam Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad (1247).1
Maka hadits ini menjelaskan kepada kita tentang disyari'atkannya hiburan untuk anak yang dikhitan dalam acara khitanan, dengan tujuan agar ia melupakan rasa sakit yang dirasakannya dengan sebab khitan tersebut. Dan ini merupakan kesempurnaan perhatian syari'at kepadanya. Maka demikian itulah para salafush shalih radhiyallahu `anhum.
Akan tetapi sebaliknya, tidak boleh berlebih-lebihan dalam hiburan ini seperti apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang beupa nyanyian dengan alat-alat music dan melalukan walimah (makan-akan/pesta) maupun yang lain yang tidak dibiarkan oleh syari'at kita yang toleran ini.
Walimah Khitan
Tidak disyari'atkan walimah (pesta/makan-makan) dalam acara khitanan, karena tidak adanya nash yang enetapkannya. Bahkan ada atsar dari seorang shahabat, yaitu `Utsman bin Abil `Ash radhiyallahu `anhu yang mengingkari perbuatan ini. Dari Al-Hasan ia berkata:
`Utsman bin Abil `Ash pernah diundang untuk mendatangi acara khitanan. Maka beliau tidak mau mendatanginya. Lalu ada yang menanyakan hal itu kepadanya. Maka beliau menjawab: "Sesungguhnya kami dulu tidak pernah mendatangi acara khitanan di zaman Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dan tidak pernah pula beliau Shallallahu `alaihi wa sallam diundang (untuk mendatanginya)."
Hadits ini dha'if, diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya (4/217) dan Imam Thabrani di dalam Al-Kabir (9/48). Juga dibawakan oleh Al-Haitsami di dalam Al-Majma' (4/60) dan beliau mengatakan: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Thabrani di dalam Al-Kabir. Dan di dalam sanadnya ada Ibnu Ishaq. Ia seorang yang tsiqah tetapi melakukan tadlis.
Meskipun atsar di atas tidak tsabit (tidak pasti shahih) dari sisi sanad, akan tetapi itulah hukum asalnya. Karena khitan adalah hukum syari'at. Maka segala apa yang ditabahkan kepadanya (dikaitkan dengannya) harus ada dalil baik dari Al-Qur'an atau As-Sunnah. Sedangkan walimah khitan (pesta/makan-makan yang berkaitan dengan khitan) merupakan sesuatu yang ditambahkan kepada acara khitan dan dikaitkan dengannya. Maka mengkaitkan acara ini butuh kepada dalil. Walahu a'lam.
Footnote:
1Berkata syaikh kami dan ustadz kami Syaikh Muhammad `Id Al-`Abbasi atsabahullah: "Sanad hadits ini hasan, rawi-rawinya tsiqah kecuali Ummu `Alqamah yang bernama Murjanah. Al-Hafidz di dalam At-Taqrib berkata: Ia maqbulah (diterima riwayatnya), yakni ketika ada yang mengikuti. Akan tetapi ia seorang wanita tabi'iyah, di mana ada dua orang tsiqah yang meriwayatkan darinya; yaitu putranya sendiri `Alqamah dan Bakir bin Abdilah Al-Asyaj. Maka seorang rawi yang demikian itu keadaannya dianggap hasan haditsnya. Sebagaimana amalan yang telah berlaku pada kebanyakan ahli hadits seperti Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Syaikh Al-Albani."
Kami katakan: Sebelum mereka berdua adalah Al-Hafizh Imam Dzahabi dan Al-Hafizh Ibnu Rajab maupun Al-Hafizh Ibnu Katsir.
Syaikh Al-Albani berkata tentang hadits ini di dalam Ash-Shahihah (2/538): "Sanadnya masih mungkin untuk dinyatakan hasan. Karena rawi-rawinya tsiqah kecuali Ummu `Alqamah ini. Nama adalah Murjanah dan dinyatakan tsiqah oleh Al-`Ajli maupun Imam Ibnu Hibban. Juga telah meriwayatkan darinya dua orang rawi yang tsiqah."
Kami katakana: "Sungguh Al-Hafizh telah menyebutkan bahwa Imam Bukhari menyebutkan haditsnya di dalam bab haidh. Akan tetapi Imam Dzahabi membawakannya di dalam Al-Mizan (747) termasuk di antaranya wanita-wanita yang majhul (tidak dikenal).
Penulis: Salim Rasyid Asy-Syibli, Muhammad Khalifah Muhammad Rabaah
HUKUM MENGUSAP ATAU MENYAPU MUKA SETELAH BERDOA
Tanya: Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Setelah salam (akhir sholat) dan selesai berdo’a kebanyakan orang menyapu muka. Apakah menyapu muka itu diajarkan Rosulullah? Apa dalilnya?
Ahmad Jazuli (dc_bj***@yahoo.com)
Jawab: Wa ‘alaikumussalaam warahmatullahi wabarokatuh.
Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo’a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak bisa dijadikan sandaran, di antara hadits-hadits itu:
1. Hadits Umar, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma’in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho’iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho’ifkan pula oleh Ad Daruquthni.
2. Hadits dari Saib bin Yazid dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdo’a beliau mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya no. 1492. Di dalam sanad haditsnya ada rawi yang bernama Hafs bin Hasyim keadaannya majhul (tidak diketahui) dan ada Ibnu Lahi’ah yang dho’if.
3. Hadits Ibnu Abbas, “Apabila kamu telah selesai berdo’a, maka usaplah wajahmu dengan keduanya (kedua tangan).” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi pada sanadnya ada rawi yang bernama Sholeh bin Hasan, munkarul hadits seperti kata Al Bukhori. Adapun An Nasa`i beliau mengatakan tentangnya, “Matrukul hadits.”
Dari uraian di atas maka jelaslah hadits-hadits dalam masalah ini sangat lemah. Meski banyak, hadits-hadits itu tidaklah saling menguatkan karena kedho’ifannya yang sangat. Untuk lebih terperincinya lihat Irwa`ul Ghalil: 2/ 178-179.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang yang berdo’a tidak boleh mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, karena mengusapnya dengan kedua tangan adalah ibadah, butuh kepada dalil yang shohih yang menjadi hujjah bagi seseorang di sisi Allah bila ia mengamalkannya. Adapun hadits dho’if, maka tidaklah kokoh untuk dijadikan hujjah.” (Dari Syarhul Mumthi: 4/54). Wal ‘ilmu ‘indallah.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.
SUMBER : Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-41 Tahun ke-2 / 03 September 2004 M / 18 Rajab 1425 H
Setelah salam (akhir sholat) dan selesai berdo’a kebanyakan orang menyapu muka. Apakah menyapu muka itu diajarkan Rosulullah? Apa dalilnya?
Ahmad Jazuli (dc_bj***@yahoo.com)
Jawab: Wa ‘alaikumussalaam warahmatullahi wabarokatuh.
Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo’a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak bisa dijadikan sandaran, di antara hadits-hadits itu:
1. Hadits Umar, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma’in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho’iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho’ifkan pula oleh Ad Daruquthni.
2. Hadits dari Saib bin Yazid dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdo’a beliau mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya no. 1492. Di dalam sanad haditsnya ada rawi yang bernama Hafs bin Hasyim keadaannya majhul (tidak diketahui) dan ada Ibnu Lahi’ah yang dho’if.
3. Hadits Ibnu Abbas, “Apabila kamu telah selesai berdo’a, maka usaplah wajahmu dengan keduanya (kedua tangan).” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi pada sanadnya ada rawi yang bernama Sholeh bin Hasan, munkarul hadits seperti kata Al Bukhori. Adapun An Nasa`i beliau mengatakan tentangnya, “Matrukul hadits.”
Dari uraian di atas maka jelaslah hadits-hadits dalam masalah ini sangat lemah. Meski banyak, hadits-hadits itu tidaklah saling menguatkan karena kedho’ifannya yang sangat. Untuk lebih terperincinya lihat Irwa`ul Ghalil: 2/ 178-179.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang yang berdo’a tidak boleh mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, karena mengusapnya dengan kedua tangan adalah ibadah, butuh kepada dalil yang shohih yang menjadi hujjah bagi seseorang di sisi Allah bila ia mengamalkannya. Adapun hadits dho’if, maka tidaklah kokoh untuk dijadikan hujjah.” (Dari Syarhul Mumthi: 4/54). Wal ‘ilmu ‘indallah.
Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary.
SUMBER : Buletin Al Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-41 Tahun ke-2 / 03 September 2004 M / 18 Rajab 1425 H
ASYURA DAN TERBUNUHNYA HUSAIN RA
Asyura
Setiap tahun umat Islam selalu memperingati hari Asyura. Kita memperingatinya dengan cara yang telah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw. Dimana agar kita berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, serta banyak beristigfar memohon ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Begitu pula agar di hari Asyura, kita banyak bersedekah, terutama kepada anak yatim.
Karena itu kegiatan tersebut, selalu dikerjakan oleh Muslimin sejak zaman Rasulullah sampai sekarang dan insya Allah sampai akhir zaman.
Dengan demikian apabila ada orang yang berkomentar bahwa Asyura sekarang tidak diperingati, maka penilaian semacam itu tidak benar, sebab bertolak belakang dengan apa yang selama ini dikerjakan umat Islam. Tapi kalau yang dimaksud, harus memperingati Asyura dengan cara memukul-mukul badan dengan rantai dan pedang sampai berlumuran darah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang syiah, memang tidak dilakukan oleh umat islam. Sebab hal tersebut dilarang oleh Allah dan RasulNya.
Hari Asyura adalah hari yang bersejarah, hari dimana Allah SWT, telah mengampuni hamba-hambaNya yang bertaubat, serta memohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah diperbuat. Sehingga hari itu merupakan hari maghfiroh atau hari pengampunan. Itulah diantara alasan-alasan mengapa hari Asyura diperingati.
Sebelum umat Muhammad dianjurkan oleh Rasulullah saw memperingati hari Asyura, orang-orang Yahudi dan Arab Jahiliyah sudah memperingati hari tersebut. Hal mana mereka lakukan, karena mereka juga mengetahui akan kebesaran hari tersebut, di mana banyak peristiwa yang terjadi pada hari itu seperti :
Pada hari Asyura Allah SWT, telah mengampuni dosa nabi
Adam as.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan dan mendaratkan Nabi Nuh as dengan kapalnya.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun bersama tentaranya.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Yunus as dari ikan Khuut (Paus).
Di samping itu masih banyak lagi peristiwa yang terjadi pada hari Asyura.
Cara orang-orang Yahudi memperingati hari Asyura, diantaranya ada yang dengan merayakan hari tersebut dengan berpuasa sehari, tepatnya berpuasa pada hari ke sepuluh dalam bulan Muharram.
Orang-orang Arab Jahiliyah juga mengikuti jejak orang-orang Yahudi, mereka merayakan hari itu, bahkan pada hari itu mereka membungkus Ka’bah dengan kain.
Adapun sebab dan cara Rasulullah memperingati Asyura, maka diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim sebagai berikut :
Ketika Rasulullah saw kembali ke Madinah (dari bepergian) beliau mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa, kemudian beliau berkata kepada mereka : “Hari apa yang kalian puasai ini?” Mereka menjawab : “Hari ini adalah hari yang sangat mulia, hari di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya. Oleh karena Musa as berpuasa pada hari tersebut sebagai rasa syukur kepada Allah, maka kami ikut berpuasa.
Kemudian Rasulullah berkata: “Kami lebih berhak dan lebih utama dalam mengikuti Nabi Musa as daripada kalian.” Selanjutnya Nabi Muhammad berpuasa dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari Asyura. Bahkan beliau kemudian menganjurkan agar umatnya berpuasa dua hari, yaitu pada hari kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram, dan puasa tersebut dikenal dengan puasa Tasua dan Asyura. Disamping hadits diatas, masih banyak hadits yang menerangkan mengenai pahala orang yang berpuasa pada hari tersebut.
Oleh karena itu kita sekarang memperingati hari tersebut, kita memperingati dengan melaksanakan apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dimana agar kita berpuasa dan bertaubat memohon ampunan dari Allah atas segala dosa yang telah kita perbuat. Karena di hari Asyura Allah memberikan ampunan (magfiroh) pada hamba-hambaNya yang berdo’a memohon ampunan. Disamping masih banyak lagi ajaran Rasulullah, seperti agar kita banyak bersodaqoh pada anak yatim.
Itulah cara memperingati hari Asyura, sesuai dengan apa yang telah dijalankan dan diajarkan oleh Rasulullah saw beserta sahabat-sahabat dan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Imam Ali ra dan Imam Husin ra, serta oleh seluruh Ahlil Bait dan turunannya sampai sekarang.
& Bagaimana hukumnya orang-orang syi’ah yang memperingati hari Asyura dengan jalan menangis dan memukul-mukul badannya, bahkan ada yang melukai dirinya sendiri sampai berlumuran darah, ada yang memukuli badannya sendiri dengan rantai, bahkan ada yang melukai dirinya dengan pedang?
Ulama-ulama kita menilai cara mereka tersebut, merupakan suatu perbuatan bid’ah (dholaalah), karena sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah saw.
Rasulullah saw bersabda :
“Bukan dari golonganku, orang-orang yang suka memukuli wajahnya dan merobek kantongnya (pakaiannya) serta menyerukan kepada perbuatan jahiliyah.”
Dalam sabdanya yang lain, beliau melarang orang-orang menangisi orang-orang yang sudah mati. Seperti yang dilakukan orang-orang Syi’ah sekarang, mereka berkumpul dan menangis bersama-sama, dengan berteriak-teriak, sebentar memuji dan sebentar melaknat serta memukuli badannya.
Cara semacam itu adalah cara orang-orang Jahiliyah yang dilarang oleh Rasulullah saw.
Dalam kitab “Attasyayyu’ Baina Mafhumi Al Aimmah Wa Mafhumi Al-Farisi” disebutkan : Bahwa orang-orang Syi’ah juga berpuasa pada hari Asyura, tetapi hanya sampai waktu ashar saja.
Berpuasa semacam ini jelas merupakan suatu perbuatan bid’ah, karena tidak pernah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.
Perlu diketahui bahwa orang-orang Syi’ah dalam memperingati hari Asyura, mereka hanya mengambil dari satu peristiwa saja, yaitu dimana pada hari itu, Sayyidina Husin menjadi syahid di Karbala (Irak). Adapun mereka menangis dan memukul-mukul badannya, sebagaimana yang kami sebutkan di atas, maka menurut pengakuan ulama mereka, adalah usaha mereka dalam menebus dosa-dosa orang-orang Syi’ah yang terdahulu, yang karena perbuatan mereka, Sayyidina Husin sampai mati terbunuh (syahid) di Karbala.
Siapa pembunuh Imam Husin ?
Dalam kita-kitab sejarah dikisahkan : Bahwa Imam Husin dalam rangka menghindari Bai’at kepada Yazid, beliau beserta keluarganya meninggalkan Madinah manuju Makkah.
Berita sampainya Imam Husin di Makkah ini tersebar ke berbagai daerah, bahkan orang-orang Kufah setelah mendengar berita tersebut, mereka segera mengirim surat kepada Imam Husin, dengan maksud meminta kepadanya agar beliau datang ke Kufah untuk di bai’at sebagai khalifah.
Meskipun surat yang dikirim dari Kufah tidak ada henti-hentinya, namun Imam Husin tetap tidak mau pergi ke Kufah. Sebab beliau masih ingat betul pengkhianatan orang-orang Kufah terhadap ayahnya dan saudaranya. Mereka mengaku sebagai Syi’ahnya Imam Ali, tapi kenyataannya mereka justru berkhianat.
Setelah melalui berbagai surat gagal, maka orang-orang Kufah tersebut mengutus beberapa orang guna menemui Imam Husin, meminta agar Imam Husin mau datang ke Kufah untuk dibai’at sebagai khalifah.
Sebagai orang yang arif lagi bijaksana, walaupun sudah berkali-kali dikhianati oleh orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, beliau akhirnya mengutus Muslim bin Agil (sepupunya) ke Kufah guna membuktikan apa yang sudah mereka sampaikan.
Sesampainya Muslim bin Agil di Kufah, puluhan ribu penduduk Kufah menyambutnya serta membai’atnya sebagai wakil Imam Husin.
Muslim bin Agil segera mengirim surat kepada Imam Husin memberitahukan mengenai keadaan dan apa yang terjadi di Kufah, serta mengharap agar Imam Husin segera berangkat ke Kufah.
Setelah menerima surat tersebut, Imam Husin segera memutuskan untuk segera pergi ke Kufah dan rencana tersebut beliau sampaikan kepada famili-familinya serta sahabat-sahabatnya.
Abdullah bin Abbas (sepupu Imam Ali) begitu mendengar rencana Imam Husin tersebut segera mendatangi Imam Husin dan menasehati agar Imam Husin menggagalkan rencananya. Sebab Ibnu Abbas tahu benar watak orang-orang yang selalu mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait tersebut.
Dengan harapan dapat menyelamatkan Negara dari orang-orang yang tidak layak memimpin negara, maka Imam Husin terpaksa menolak nasihat Ibnu Abbas dan keluarganya yang lain dan tetap berangkat ke Kufah beserta keluarga dan familinya.
Namun apa yang terjadi di Kufah?
Muslim bin Agil akhirnya ditangkap dan dibunuh oleh Gubernur Kufah (Ubaidillah bin Ziyad). Sedang orang-orang Kufah yang telah menyatakan dirinya sebagai Syi’ahnya Imam Husin dan telah membai’at Muslim bin Agil sebagai wakil Imam Husin tersebut, telah berkhianat. Mereka berubah haluan, mereka terpengaruh oleh bujukan dan rayuan Ubaidillah bin Ziyad dan berbalik menjadi pengikut Yazid. Bahkan mereka menjadi tentara yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad waktu menyerang dan membunuh Imam Husin beserta keluarganya di Karbala.
Begitulah asal mula terjadinya peristiwa Karbala. Satu-satunya anak laki-laki Sayyidina Husin yang tidak mati dan selamat dari kekejaman orang-orang Syi’ah tersebut adalah Sayyidina Ali Zainal Abidin. Beliaulah yang paling mengetahui sebab terjadinya peristiwa Karbala.
Seorang ahli sejarah (tokoh Syi’ah) yang dikenal dengan sebutan AL Ya’Quubi, menerangkan dalam kitabnya sebagai berikut : Ketika Imam Ali Zainal Abidin memasuki kota kufah, beliau melihat orang-orang Syi’ah (Syi’ah ayahnya) menangis, beliaupun berkata kepada mereka :
“ Kalian membunuhnya tetapi kalian menangisinya. Kalianlah yang membunuhnya, lalu siapa yang membunuhnya kalau bukan kalian ? Kalianlah yang membunuhnnya.”
Itulah keterangan ulama Syi’ah, mengenai kata-kata Imam Ali Zainal Abidin dalam menanggapi tangisan orang-orang Syi’ah, atas terbunuhnya keluarga Rasulullah saw di Karbala.
Tetapi anehnya sekarang dalam berkampanye, orang-orang Syi’ah selalu membawa cerita-cerita Karbala dengan mengkambing hitamkan orang lain, padahal merekalah pembunuh dan penyebab terbunuhya Imam Husin dan keluarganya di Karbala.
Hal yang sama dalam pengkhianatan orang-orang Syi’ah, adalah apa yang mereka lakukkan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib ra (ayah Imam Husin ra). Karena tidak puas dengan keputusan Imam Ali ra dalam perdamaiannya dengan Mu’awiyah, maka sebagian orang Syi’ah telah bersekongkol dengan musuh-musuh Imam Ali ra yang kemudian dikenal dengan nama Khowaarij. Bahkan pembunuh Imam Ali ra yang bernama Abdurrahman bin Muljam, adalah seorang Syi’ah yang ikut berkhianat.
Setiap muslim akan merasa sedih dan berduka, apabila membaca atau mendengarkan sejarah terbunuhnya Imam Husin ra dan keluarganya di Karbala. Tetapi juga dapat kita ketahui, bagaimana ketabahan Imam Husin ra dalam menghadapi musuh yang begitu banyak. Beliau tidak takut dan tidak gentar serta tidak mengenal taqiyah dalam menghadapi musuh-musuhnya. Karena kebenaranlah beliau berkorban. Dan karena berkorban itu, beliau mendapat kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT sebagai syahid. Sehingga tepat sekali, kalau sebelumnnya Rasulullah saw sudah mengatakan, bahwa Sayyidina Husin ra dan Sayyidina Hasan ra adalah Sayyidaa Syabaab Ahlil Jannah
(Pemimpin Pemuda Surga)
Dengan demikian, hari Asyura adalah hari kemenangan dan kegembiraan, terutama bagi Imam Husin ra, sebab pada hari itu Imam Husin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya, yaitu ibunya Fatimah Az-Zahra’ ayahnya Imam Ali dan datuknya Rasulullah saw, sehingga hari itu merupakan hari yang sudah lama dinanti-nantikanya.
Pada hari itu beliau menghadap Tuhanya dalam keadaan berpuasa Asyura, sebagaimana yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW.
Bahkan saat saudarinya menganjurkan agar beliau membatalkan puasanya, maka beliau menjawab ”Saya akan berbuka bersama datukku Rasulullah saw.”
Itulah Imam Husin, meskipun beliau dalam peperangan, tapi beliau tetap berpuasa Asyura.
Bagaimana dengan Hadist Syiah ; menangis atas kematian
Sayyidina Husin ?
Sejak dahulu orang-orang Syi’ah sudah terkenal dalam membuat hadist-hadist palsu, bahkan mereka mempunyai keahlian dalam membuat riwayat-riwayat palsu. Mereka tidak segan-segan mencatut nama-nama Ahlul Bait, demi kepentingan golongannya. Mereka juga terbiasa menghalalkan segala cara demi kepentingannya.
Begitu juga dalam memperingati hari Asyura. Ulama SyI’ah dalam usahanya menguatkan cara memperingati hari tersebut, mereka telah membuat hadist-hadist palsu dengan mengatas namakan Ahlul Bait. Diantaranya sebagai berikut :
1. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin, maka Allah akan mengampuni segala dosanya baik yang sudah dilakukkan maupun yang akan dilakukan.
2. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin, wajiblah (pastilah) dirinya mendapat surga.
Demikianlah jaminan dari ulama Syi’ah, cukup menangis atas kematian Sayyidina Husin ra pasti masuk surga.
Disamping riwayat-riwayat diatas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka buat, tidak kurang dari 458 (empat ratus lima puluh delapan) riwayat, mengenai ziarah kemakam Imam-imam Syi’ah, bahkan dari jumlah tersebut 338 (tiga ratus tiga puluh delapan) khusus mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah kemakam Imam Husin ra atau ke Karbala. Sebagai contoh :
1. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin sekali, maka pahalanya sama dengan haji sebanyak 20 kali.
2. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin di Karbala pada hari arafah, maka pahalanya sama dengan haji 1.000.000 kali bersama Imam Mahdi, disamaping mendapatkan pahalanya memerdekakan 1000 (seribu) budak dan pahalanya bersodaqoh 1000 ekor kuda.
3. Barang siapa ziarah ke makam Imam Husin pada Nisfu Sya’ban maka sama dengan ziarah Allah di ‘Arasy-Nya.
4. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin diKarbala pada hari Asyura, maka akan mendapat pahala dari Allah sebanyak pahalanya orang haji 2000 kali dan diberi pahalanya orang umroh sebanyak 2000 kali dan diberi pahalanya orang yang berperang bersama Rasululllah saw 2000 kali.
5. Andaikata saya katakan mengenai pahalanya ziarah ke makam Imam Husin niscaya kalian tinggalkan ibadah haji dan tidak seorangpun yang akan mengerjakan haji.
ItuIah diantara hadist-hadist palsu yang bersumber dari kitab Syi’ah : “ WASAAIL ASY-SYI’AH” oleh Al Khurrul Amily ( ulama Syi’ah ).
Ulam-ulama kita tidak ada yang melarang orang berkunjung atau berziarah ke Karbala. Bahkan dengan berkunjung ke Karbala, kita akan mendapat pelajaran, bagaiaman kita harus waspada dan tidak mudah menerima rayuan orang-orang syi’ah yang sejak dulu sudah dikenal sebagai orang-orang yang suka berdusta dan berkhianat. Sebagaimana yang mereka lakukkan terhadap Imam Ali ra dan Imam Husin ra serta Ahlul Bait pada masa lalu.
Setiap tahun umat Islam selalu memperingati hari Asyura. Kita memperingatinya dengan cara yang telah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw. Dimana agar kita berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, serta banyak beristigfar memohon ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang telah kita perbuat. Begitu pula agar di hari Asyura, kita banyak bersedekah, terutama kepada anak yatim.
Karena itu kegiatan tersebut, selalu dikerjakan oleh Muslimin sejak zaman Rasulullah sampai sekarang dan insya Allah sampai akhir zaman.
Dengan demikian apabila ada orang yang berkomentar bahwa Asyura sekarang tidak diperingati, maka penilaian semacam itu tidak benar, sebab bertolak belakang dengan apa yang selama ini dikerjakan umat Islam. Tapi kalau yang dimaksud, harus memperingati Asyura dengan cara memukul-mukul badan dengan rantai dan pedang sampai berlumuran darah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang syiah, memang tidak dilakukan oleh umat islam. Sebab hal tersebut dilarang oleh Allah dan RasulNya.
Hari Asyura adalah hari yang bersejarah, hari dimana Allah SWT, telah mengampuni hamba-hambaNya yang bertaubat, serta memohon ampun atas semua dosa-dosa yang telah diperbuat. Sehingga hari itu merupakan hari maghfiroh atau hari pengampunan. Itulah diantara alasan-alasan mengapa hari Asyura diperingati.
Sebelum umat Muhammad dianjurkan oleh Rasulullah saw memperingati hari Asyura, orang-orang Yahudi dan Arab Jahiliyah sudah memperingati hari tersebut. Hal mana mereka lakukan, karena mereka juga mengetahui akan kebesaran hari tersebut, di mana banyak peristiwa yang terjadi pada hari itu seperti :
Pada hari Asyura Allah SWT, telah mengampuni dosa nabi
Adam as.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan dan mendaratkan Nabi Nuh as dengan kapalnya.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun bersama tentaranya.
Pada hari Asyura Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Yunus as dari ikan Khuut (Paus).
Di samping itu masih banyak lagi peristiwa yang terjadi pada hari Asyura.
Cara orang-orang Yahudi memperingati hari Asyura, diantaranya ada yang dengan merayakan hari tersebut dengan berpuasa sehari, tepatnya berpuasa pada hari ke sepuluh dalam bulan Muharram.
Orang-orang Arab Jahiliyah juga mengikuti jejak orang-orang Yahudi, mereka merayakan hari itu, bahkan pada hari itu mereka membungkus Ka’bah dengan kain.
Adapun sebab dan cara Rasulullah memperingati Asyura, maka diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim sebagai berikut :
Ketika Rasulullah saw kembali ke Madinah (dari bepergian) beliau mendapatkan orang-orang Yahudi sedang berpuasa, kemudian beliau berkata kepada mereka : “Hari apa yang kalian puasai ini?” Mereka menjawab : “Hari ini adalah hari yang sangat mulia, hari di mana Allah telah menyelamatkan Nabi Musa as dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun beserta tentaranya. Oleh karena Musa as berpuasa pada hari tersebut sebagai rasa syukur kepada Allah, maka kami ikut berpuasa.
Kemudian Rasulullah berkata: “Kami lebih berhak dan lebih utama dalam mengikuti Nabi Musa as daripada kalian.” Selanjutnya Nabi Muhammad berpuasa dan menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari Asyura. Bahkan beliau kemudian menganjurkan agar umatnya berpuasa dua hari, yaitu pada hari kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram, dan puasa tersebut dikenal dengan puasa Tasua dan Asyura. Disamping hadits diatas, masih banyak hadits yang menerangkan mengenai pahala orang yang berpuasa pada hari tersebut.
Oleh karena itu kita sekarang memperingati hari tersebut, kita memperingati dengan melaksanakan apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dimana agar kita berpuasa dan bertaubat memohon ampunan dari Allah atas segala dosa yang telah kita perbuat. Karena di hari Asyura Allah memberikan ampunan (magfiroh) pada hamba-hambaNya yang berdo’a memohon ampunan. Disamping masih banyak lagi ajaran Rasulullah, seperti agar kita banyak bersodaqoh pada anak yatim.
Itulah cara memperingati hari Asyura, sesuai dengan apa yang telah dijalankan dan diajarkan oleh Rasulullah saw beserta sahabat-sahabat dan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Imam Ali ra dan Imam Husin ra, serta oleh seluruh Ahlil Bait dan turunannya sampai sekarang.
& Bagaimana hukumnya orang-orang syi’ah yang memperingati hari Asyura dengan jalan menangis dan memukul-mukul badannya, bahkan ada yang melukai dirinya sendiri sampai berlumuran darah, ada yang memukuli badannya sendiri dengan rantai, bahkan ada yang melukai dirinya dengan pedang?
Ulama-ulama kita menilai cara mereka tersebut, merupakan suatu perbuatan bid’ah (dholaalah), karena sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah saw.
Rasulullah saw bersabda :
“Bukan dari golonganku, orang-orang yang suka memukuli wajahnya dan merobek kantongnya (pakaiannya) serta menyerukan kepada perbuatan jahiliyah.”
Dalam sabdanya yang lain, beliau melarang orang-orang menangisi orang-orang yang sudah mati. Seperti yang dilakukan orang-orang Syi’ah sekarang, mereka berkumpul dan menangis bersama-sama, dengan berteriak-teriak, sebentar memuji dan sebentar melaknat serta memukuli badannya.
Cara semacam itu adalah cara orang-orang Jahiliyah yang dilarang oleh Rasulullah saw.
Dalam kitab “Attasyayyu’ Baina Mafhumi Al Aimmah Wa Mafhumi Al-Farisi” disebutkan : Bahwa orang-orang Syi’ah juga berpuasa pada hari Asyura, tetapi hanya sampai waktu ashar saja.
Berpuasa semacam ini jelas merupakan suatu perbuatan bid’ah, karena tidak pernah dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.
Perlu diketahui bahwa orang-orang Syi’ah dalam memperingati hari Asyura, mereka hanya mengambil dari satu peristiwa saja, yaitu dimana pada hari itu, Sayyidina Husin menjadi syahid di Karbala (Irak). Adapun mereka menangis dan memukul-mukul badannya, sebagaimana yang kami sebutkan di atas, maka menurut pengakuan ulama mereka, adalah usaha mereka dalam menebus dosa-dosa orang-orang Syi’ah yang terdahulu, yang karena perbuatan mereka, Sayyidina Husin sampai mati terbunuh (syahid) di Karbala.
Siapa pembunuh Imam Husin ?
Dalam kita-kitab sejarah dikisahkan : Bahwa Imam Husin dalam rangka menghindari Bai’at kepada Yazid, beliau beserta keluarganya meninggalkan Madinah manuju Makkah.
Berita sampainya Imam Husin di Makkah ini tersebar ke berbagai daerah, bahkan orang-orang Kufah setelah mendengar berita tersebut, mereka segera mengirim surat kepada Imam Husin, dengan maksud meminta kepadanya agar beliau datang ke Kufah untuk di bai’at sebagai khalifah.
Meskipun surat yang dikirim dari Kufah tidak ada henti-hentinya, namun Imam Husin tetap tidak mau pergi ke Kufah. Sebab beliau masih ingat betul pengkhianatan orang-orang Kufah terhadap ayahnya dan saudaranya. Mereka mengaku sebagai Syi’ahnya Imam Ali, tapi kenyataannya mereka justru berkhianat.
Setelah melalui berbagai surat gagal, maka orang-orang Kufah tersebut mengutus beberapa orang guna menemui Imam Husin, meminta agar Imam Husin mau datang ke Kufah untuk dibai’at sebagai khalifah.
Sebagai orang yang arif lagi bijaksana, walaupun sudah berkali-kali dikhianati oleh orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait, beliau akhirnya mengutus Muslim bin Agil (sepupunya) ke Kufah guna membuktikan apa yang sudah mereka sampaikan.
Sesampainya Muslim bin Agil di Kufah, puluhan ribu penduduk Kufah menyambutnya serta membai’atnya sebagai wakil Imam Husin.
Muslim bin Agil segera mengirim surat kepada Imam Husin memberitahukan mengenai keadaan dan apa yang terjadi di Kufah, serta mengharap agar Imam Husin segera berangkat ke Kufah.
Setelah menerima surat tersebut, Imam Husin segera memutuskan untuk segera pergi ke Kufah dan rencana tersebut beliau sampaikan kepada famili-familinya serta sahabat-sahabatnya.
Abdullah bin Abbas (sepupu Imam Ali) begitu mendengar rencana Imam Husin tersebut segera mendatangi Imam Husin dan menasehati agar Imam Husin menggagalkan rencananya. Sebab Ibnu Abbas tahu benar watak orang-orang yang selalu mengaku sebagai Syi’ahnya Ahlul Bait tersebut.
Dengan harapan dapat menyelamatkan Negara dari orang-orang yang tidak layak memimpin negara, maka Imam Husin terpaksa menolak nasihat Ibnu Abbas dan keluarganya yang lain dan tetap berangkat ke Kufah beserta keluarga dan familinya.
Namun apa yang terjadi di Kufah?
Muslim bin Agil akhirnya ditangkap dan dibunuh oleh Gubernur Kufah (Ubaidillah bin Ziyad). Sedang orang-orang Kufah yang telah menyatakan dirinya sebagai Syi’ahnya Imam Husin dan telah membai’at Muslim bin Agil sebagai wakil Imam Husin tersebut, telah berkhianat. Mereka berubah haluan, mereka terpengaruh oleh bujukan dan rayuan Ubaidillah bin Ziyad dan berbalik menjadi pengikut Yazid. Bahkan mereka menjadi tentara yang dikirim oleh Ubaidillah bin Ziyad waktu menyerang dan membunuh Imam Husin beserta keluarganya di Karbala.
Begitulah asal mula terjadinya peristiwa Karbala. Satu-satunya anak laki-laki Sayyidina Husin yang tidak mati dan selamat dari kekejaman orang-orang Syi’ah tersebut adalah Sayyidina Ali Zainal Abidin. Beliaulah yang paling mengetahui sebab terjadinya peristiwa Karbala.
Seorang ahli sejarah (tokoh Syi’ah) yang dikenal dengan sebutan AL Ya’Quubi, menerangkan dalam kitabnya sebagai berikut : Ketika Imam Ali Zainal Abidin memasuki kota kufah, beliau melihat orang-orang Syi’ah (Syi’ah ayahnya) menangis, beliaupun berkata kepada mereka :
“ Kalian membunuhnya tetapi kalian menangisinya. Kalianlah yang membunuhnya, lalu siapa yang membunuhnya kalau bukan kalian ? Kalianlah yang membunuhnnya.”
Itulah keterangan ulama Syi’ah, mengenai kata-kata Imam Ali Zainal Abidin dalam menanggapi tangisan orang-orang Syi’ah, atas terbunuhnya keluarga Rasulullah saw di Karbala.
Tetapi anehnya sekarang dalam berkampanye, orang-orang Syi’ah selalu membawa cerita-cerita Karbala dengan mengkambing hitamkan orang lain, padahal merekalah pembunuh dan penyebab terbunuhya Imam Husin dan keluarganya di Karbala.
Hal yang sama dalam pengkhianatan orang-orang Syi’ah, adalah apa yang mereka lakukkan terhadap Imam Ali bin Abi Thalib ra (ayah Imam Husin ra). Karena tidak puas dengan keputusan Imam Ali ra dalam perdamaiannya dengan Mu’awiyah, maka sebagian orang Syi’ah telah bersekongkol dengan musuh-musuh Imam Ali ra yang kemudian dikenal dengan nama Khowaarij. Bahkan pembunuh Imam Ali ra yang bernama Abdurrahman bin Muljam, adalah seorang Syi’ah yang ikut berkhianat.
Setiap muslim akan merasa sedih dan berduka, apabila membaca atau mendengarkan sejarah terbunuhnya Imam Husin ra dan keluarganya di Karbala. Tetapi juga dapat kita ketahui, bagaimana ketabahan Imam Husin ra dalam menghadapi musuh yang begitu banyak. Beliau tidak takut dan tidak gentar serta tidak mengenal taqiyah dalam menghadapi musuh-musuhnya. Karena kebenaranlah beliau berkorban. Dan karena berkorban itu, beliau mendapat kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT sebagai syahid. Sehingga tepat sekali, kalau sebelumnnya Rasulullah saw sudah mengatakan, bahwa Sayyidina Husin ra dan Sayyidina Hasan ra adalah Sayyidaa Syabaab Ahlil Jannah
(Pemimpin Pemuda Surga)
Dengan demikian, hari Asyura adalah hari kemenangan dan kegembiraan, terutama bagi Imam Husin ra, sebab pada hari itu Imam Husin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya, yaitu ibunya Fatimah Az-Zahra’ ayahnya Imam Ali dan datuknya Rasulullah saw, sehingga hari itu merupakan hari yang sudah lama dinanti-nantikanya.
Pada hari itu beliau menghadap Tuhanya dalam keadaan berpuasa Asyura, sebagaimana yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW.
Bahkan saat saudarinya menganjurkan agar beliau membatalkan puasanya, maka beliau menjawab ”Saya akan berbuka bersama datukku Rasulullah saw.”
Itulah Imam Husin, meskipun beliau dalam peperangan, tapi beliau tetap berpuasa Asyura.
Bagaimana dengan Hadist Syiah ; menangis atas kematian
Sayyidina Husin ?
Sejak dahulu orang-orang Syi’ah sudah terkenal dalam membuat hadist-hadist palsu, bahkan mereka mempunyai keahlian dalam membuat riwayat-riwayat palsu. Mereka tidak segan-segan mencatut nama-nama Ahlul Bait, demi kepentingan golongannya. Mereka juga terbiasa menghalalkan segala cara demi kepentingannya.
Begitu juga dalam memperingati hari Asyura. Ulama SyI’ah dalam usahanya menguatkan cara memperingati hari tersebut, mereka telah membuat hadist-hadist palsu dengan mengatas namakan Ahlul Bait. Diantaranya sebagai berikut :
1. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin, maka Allah akan mengampuni segala dosanya baik yang sudah dilakukkan maupun yang akan dilakukan.
2. Barang siapa menangis atau menangis-tangiskan dirinya atas kematian Husin, wajiblah (pastilah) dirinya mendapat surga.
Demikianlah jaminan dari ulama Syi’ah, cukup menangis atas kematian Sayyidina Husin ra pasti masuk surga.
Disamping riwayat-riwayat diatas, masih banyak lagi riwayat-riwayat palsu yang mereka buat, tidak kurang dari 458 (empat ratus lima puluh delapan) riwayat, mengenai ziarah kemakam Imam-imam Syi’ah, bahkan dari jumlah tersebut 338 (tiga ratus tiga puluh delapan) khusus mengenai kebesaran dan keutamaan serta pahala besar bagi peziarah kemakam Imam Husin ra atau ke Karbala. Sebagai contoh :
1. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin sekali, maka pahalanya sama dengan haji sebanyak 20 kali.
2. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin di Karbala pada hari arafah, maka pahalanya sama dengan haji 1.000.000 kali bersama Imam Mahdi, disamaping mendapatkan pahalanya memerdekakan 1000 (seribu) budak dan pahalanya bersodaqoh 1000 ekor kuda.
3. Barang siapa ziarah ke makam Imam Husin pada Nisfu Sya’ban maka sama dengan ziarah Allah di ‘Arasy-Nya.
4. Barang siapa ziarah kemakam Imam Husin diKarbala pada hari Asyura, maka akan mendapat pahala dari Allah sebanyak pahalanya orang haji 2000 kali dan diberi pahalanya orang umroh sebanyak 2000 kali dan diberi pahalanya orang yang berperang bersama Rasululllah saw 2000 kali.
5. Andaikata saya katakan mengenai pahalanya ziarah ke makam Imam Husin niscaya kalian tinggalkan ibadah haji dan tidak seorangpun yang akan mengerjakan haji.
ItuIah diantara hadist-hadist palsu yang bersumber dari kitab Syi’ah : “ WASAAIL ASY-SYI’AH” oleh Al Khurrul Amily ( ulama Syi’ah ).
Ulam-ulama kita tidak ada yang melarang orang berkunjung atau berziarah ke Karbala. Bahkan dengan berkunjung ke Karbala, kita akan mendapat pelajaran, bagaiaman kita harus waspada dan tidak mudah menerima rayuan orang-orang syi’ah yang sejak dulu sudah dikenal sebagai orang-orang yang suka berdusta dan berkhianat. Sebagaimana yang mereka lakukkan terhadap Imam Ali ra dan Imam Husin ra serta Ahlul Bait pada masa lalu.
HUSAIN RA DIBUNUH OLEH SYIAH KUFAH BUKAN YAZID
Terlebih dahulu kita akan menyatakan dakwaan kita secara terus terang dan terbuka bahawa pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya bukanlah Yazid tetapi adalah golongan Syiah Kufah.
Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membahagi-bahagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bahagian :
(1) Bukti-bukti utama
(2) Bukti-bukti sokongan
I. BUKTI-BUKTI UTAMA
Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah yang dibangunkan untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai pesalah dan sebagai penjenayah yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahsia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.
Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahawa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan "At Tawwaabun" yang kononnya menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah kerana kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.
Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan "At Tawaabun" itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun cuba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara.
Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tunggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baaqir Majlisi menulis :
"Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, " Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh "Ketua Pemuda Ahli Syurga" kerana Ibn Ziad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa-apa". (Jilaau Al'Uyun, m.s. 430)
Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalisu Al'Mu'minin bahawa selepas sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata, " Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita ". Dengan itu berkumpullah sekian ramai orang-orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, " Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu ". (Al Baqarah :54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran "At Tawaabun".
Sejarah tidak melupai dan tidak akan melupai peranan Syits bin Rab'ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab'ie? Dia adalah seorang Syiah pekat, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, sentiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?
Sejarah memaparkan bahawa dialah yang mengepalai 4,000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. (Jilaau Al'Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 37)
Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syiahnya Syits bin Rab'ie dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mulla Baaqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal ? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan daripada pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu.
Lihatlah pula kepada Qais bin Asy'ats ipar Sayyidina Husain yang tidak diragui tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah mendedahkan kepada kita bahawa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya selepas selesai pertempuran ? (Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 192)
Selain daripada pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain, kenyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup selepas peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat dirakamkan oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau :
" Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-mush di dalam menentang kami ". (Jilaau Al' Uyun, ms 391).
Beliau juga berkata kepada Syiah:
"Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sebarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sebarang sebab? " (Ibid).
Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau:
"Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka kerana mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami ". (Ibid)
Beliau juga dirakamkan telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya: "Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya". (Mulla Baqir Majlisi-Jilaau Al'Uyun, m.s. 409).
Daripada kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mulla Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahawa:
(i) Diayah yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam menerusi penulisan sejarah bahawa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Siffin dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata kerana pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah.
(ii) Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala ke atas Syiah.
(iii) Upacara menyeksa tubuh badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah.
Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah wujud upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahawa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.
(iv) Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian ramai ahli keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya kerana sebaik saja mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tibanya 10 Muharram?
Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas berlakunya peristiwa itu pula berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang merentap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, " Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?" (At Thabarsi-Al Ihtijaj, m.s. 156).
Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau, " Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sedar bahawasa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu".
Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, " Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering kerana kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran...Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tompokan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun". (Jilaau Al ' Uyun, ms 424).
Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari ini.
Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata sambil menangis di atas segedupnya, " Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari ahli rumahnya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu".
Beliau juga berkata, " Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti". (Ibid, ms 426-428)
Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, " Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali (Sayyidina Ali). Sentiasa darah-darah kami menitis dari hujung-hujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih ".
Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana-mana Syiah berada.
Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Daripada keterangan dalam kedua-dua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :
1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.
2. Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.
3. Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara- saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiahlah yang telah membunuh mereka.
4. Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung kerana kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka.
Mahkamah di dunia ini menerima keempat-empat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenar di dalam sesuatu kes pembunuhan, iaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan kemuncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat-empat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua mahkamah sebagai kes pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain itu ?
Dakwaan ini berdasarkan beberapa fakta dan bukti-bukti daripada sumber-sumber rujukan sejarah yang muktabar. Kita akan membahagi-bahagikan bukti-bukti yang akan dikemukakan nanti kepada dua bahagian :
(1) Bukti-bukti utama
(2) Bukti-bukti sokongan
I. BUKTI-BUKTI UTAMA
Dengan adanya bukti-bukti utama ini, tiada mahkamah yang dibangunkan untuk mencari kebenaran dan mendapatkan keadilan akan memutuskan Yazid sebagai pesalah dan sebagai penjenayah yang bertanggungjawab di dalam pembunuhan Sayyidina Husain. Bahkan Yazid akan dilepaskan dengan penuh penghormatan dan akan terbongkarlah rahsia yang selama ini menutupi pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain yang sebenarnya di Karbala.
Bukti pertamanya ialah pengakuan Syiah Kufah sendiri bahawa merekalah yang membunuh Sayyidina Husain. Golongan Syiah Kufah yang mengaku telah membunuh Sayyidina Husain itu kemudian muncul sebagai golongan "At Tawwaabun" yang kononnya menyesali tindakan mereka membunuh Sayyidina Husain. Sebagai cara bertaubat, mereka telah berbunuh-bunuhan sesama mereka seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sebagai pernyataan taubatnya kepada Allah kerana kesalahan mereka menyembah anak lembu sepeninggalan Nabi Musa ke Thur Sina.
Air mata darah yang dicurahkan oleh golongan "At Tawaabun" itu masih kelihatan dengan jelas pada lembaran sejarah dan tetap tidak hilang walaupun cuba dihapuskan oleh mereka dengan beribu-ribu cara.
Pengakuan Syiah pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain ini diabadikan oleh ulama-ulama Syiah yang merupakan tunggak dalam agama mereka seperti Baaqir Majlisi, Nurullah Syustri dan lain-lain di dalam buku mereka masing-masing. Baaqir Majlisi menulis :
"Sekumpulan orang-orang Kufah terkejut oleh satu suara ghaib. Maka berkatalah mereka, " Demi Tuhan! Apa yang telah kita lakukan ini tak pernah dilakukan oleh orang lain. Kita telah membunuh "Ketua Pemuda Ahli Syurga" kerana Ibn Ziad anak haram itu. Di sini mereka mengadakan janji setia di antara sesama mereka untuk memberontak terhadap Ibn Ziad tetapi tidak berguna apa-apa". (Jilaau Al'Uyun, m.s. 430)
Qadhi Nurullah Syustri pula menulis di dalam bukunya Majalisu Al'Mu'minin bahawa selepas sekian lama (lebih kurang 4 atau 5 tahun) Sayyidina Husain terbunuh, ketua orang-orang Syiah mengumpulkan orang-orang Syiah dan berkata, " Kita telah memanggil Sayyidina Husain dengan memberikan janji akan taat setia kepadanya, kemudian kita berlaku curang dengan membunuhnya. Kesalahan kita sebesar ini tidak akan diampunkan kecuali kita berbunuh-bunuhan sesama kita ". Dengan itu berkumpullah sekian ramai orang-orang Syiah di tepi Sungai Furat sambil mereka membaca ayat yang bermaksud, " Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu ". (Al Baqarah :54). Kemudian mereka berbunuh-bunuhan sesama sendiri. Inilah golongan yang dikenali dalam sejarah Islam dengan gelaran "At Tawaabun".
Sejarah tidak melupai dan tidak akan melupai peranan Syits bin Rab'ie di dalam pembunuhan Sayyidina Husain di Karbala. Tahukah anda siapa itu Syits bin Rab'ie? Dia adalah seorang Syiah pekat, pernah menjadi duta kepada Sayyidina Ali di dalam peperangan Siffin, sentiasa bersama Sayyidina Husain. Dialah juga yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk mencetuskan pemberontakan terhadap kerajaan pimpinan Yazid, tetapi apakah yang telah dilakukan olehnya?
Sejarah memaparkan bahawa dialah yang mengepalai 4,000 orang bala tentera untuk menentang Sayyidina Husain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Sayyidina Husain. (Jilaau Al'Uyun dan Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 37)
Adakah masih ada orang yang ragu-ragu tentang Syiahnya Syits bin Rab'ie dan tidakkah orang yang menceritakan perkara ini ialah Mulla Baaqir Majlisi, seorang tokoh Syiah terkenal ? Secara tidak langsung ia bermakna pengakuan daripada pihak Syiah sendiri tentang pembunuhan itu.
Lihatlah pula kepada Qais bin Asy'ats ipar Sayyidina Husain yang tidak diragui tentang Syiahnya tetapi apa kata sejarah tentangnya? Bukankah sejarah mendedahkan kepada kita bahawa itulah orang yang merampas selimut Sayyidina Husain dari tubuhnya selepas selesai pertempuran ? (Khulashatu Al Mashaaib, m.s. 192)
Selain daripada pengakuan mereka sendiri yang membuktikan merekalah sebenarnya pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain, kenyataan saksi-saksi yang turut serta di dalam rombongan Sayyidina Husain sebagai saksi-saksi hidup di Karbala yang terus hidup selepas peristiwa ini juga membenarkan dakwaan ini termasuk kenyataan Sayyidina Husain sendiri yang sempat dirakamkan oleh sejarah sebelum beliau terbunuh. Sayyidina Husain berkata dengan menujukan kata-katanya kepada orang- orang Syiah Kufah yang siap sedia bertempur dengan beliau :
" Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat maksud- maksud jahatmu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kamu di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk memimpin dan membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepadamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-mush di dalam menentang kami ". (Jilaau Al' Uyun, ms 391).
Beliau juga berkata kepada Syiah:
"Binasalah kamu! Bagaimana boleh kamu menghunuskan perang dendammu dari sarung-sarungnya tanpa sebarang permusuhan dan perselisihan yang ada di antara kamu dengan kami? Kenapakah kamu siap sedia untuk membunuh Ahlul Bait tanpa sebarang sebab? " (Ibid).
Akhirnya beliau mendoakan keburukan untuk golongan Syiah yang sedang berhadapan untuk bertempur dengan beliau:
"Ya Allah! Tahanlah keberkatan bumi dari mereka dan selerakkanlah mereka. Jadikanlah hati-hati pemerintah terus membenci mereka kerana mereka menjemput kami dengan maksud membela kami tetapi sekarang mereka menghunuskan pedang dendam terhadap kami ". (Ibid)
Beliau juga dirakamkan telah mendoakan keburukan untuk mereka dengan kata-katanya: "Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat……..Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuhmu dan mukamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keberuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untukmu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya". (Mulla Baqir Majlisi-Jilaau Al'Uyun, m.s. 409).
Daripada kata-kata Sayyidina Husain yang dipaparkan oleh sejarawan Syiah sendiri, Mulla Baqir Majlisi, dapat disimpulkan bahawa:
(i) Diayah yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam menerusi penulisan sejarah bahawa pembunuhan Ahlul Bait di Karbala merupakan balas dendam dari Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait yang telah membunuh pemimpin-pemimpin Bani Umayyah yang kafir di dalam peperangan Badar, Uhud, Siffin dan lain-lain tidak lebih daripada propaganda kosong semata-mata kerana pembunuh-pembunuh Sayyidina Husain dan Ahlul Bait di Karbala bukannya datang dari Syam, bukan juga dari kalangan Bani Umayyah tetapi dari kalangan Syiah Kufah.
(ii) Keadaan Syiah yang sentiasa diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang sejarah membuktikan termakbulnya doa Sayyidina Husain di medan Karbala ke atas Syiah.
(iii) Upacara menyeksa tubuh badan dengan memukul tubuhnya dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh golongan Syiah itu sehingga mengalir darah juga merupakan bukti diterimanya doa Sayyidina Husain dan upacara ini dengan jelas dapat dilihat hingga sekarang di dalam masyarakat Syiah.
Adapun di kalangan Ahlus Sunnah tidak pernah wujud upacara yang seperti ini dan dengan itu jelas menunjukkan bahawa merekalah golongan yang bertanggungjawab membunuh Sayyidina Husain.
(iv) Betapa kejam dan kerasnya hati golongan ini dapat dilihat pada tindakan mereka menyembelih dan membunuh Sayyidina Husain bersama dengan sekian ramai ahli keluarganya walaupun setelah mendengar ucapan dan doa keburukan untuk mereka yang dipinta oleh beliau. Itulah dia golongan yang buta mata hatinya dan telah hilang kewarasan pemikirannya kerana sebaik saja mereka selesai membunuh, mereka melepaskan kuda Zuljanah yang ditunggangi Sayyidina Husain sambil memukul-mukul tubuh untuk menyatakan penyesalan. Dan inilah dia upacara perkabungan pertama terhadap kematian Sayyidina Husain yang pernah dilakukan di atas muka bumi ini sejauh pengetahuan sejarah. Dan hari ini tidakkah anak cucu golongan ini meneruskan upacara perkabungan ini setiap kali tibanya 10 Muharram?
Ali Zainal Abidin anak Sayyidina Husain yang turut serta di dalam rombongan ke Kufah dan terus hidup selepas berlakunya peristiwa itu pula berkata kepada orang-orang Kufah lelaki dan perempuan yang merentap dengan mengoyak-ngoyakkan baju mereka sambil menangis, dalam keadaan sakit beliau dengan suara yang lemah berkata kepada mereka, " Mereka ini menangisi kami. Tidakkah tidak ada orang lain yang membunuh kami selain mereka ?" (At Thabarsi-Al Ihtijaj, m.s. 156).
Pada halaman berikutnya Thabarsi menukilkan kata-kata Imam Ali Zainal Abidin kepada orang-orang Kufah. Kata beliau, " Wahai manusia (orang-orang Kufah)! Dengan Nama Allah aku bersumpah untuk bertanya kamu, ceritakanlah! Tidakkah kamu sedar bahawasa kamu mengutuskan surat kepada ayahku (menjemputnya datang), kemudian kamu menipunya? Bukankah kamu telah memberikan perjanjian taat setia kamu kepadanya? Kemudian kamu membunuhnya, membiarkannya dihina. Celakalah kamu kerana amalan buruk yang telah kamu dahulukan untuk dirimu".
Sayyidatina Zainab, saudara perempuan Sayyidina Husain yang terus hidup selepas peristiwa itu juga mendoakan keburukan untuk golongan Syiah Kufah. Katanya, " Wahai orang-orang Kufah yang khianat, penipu! Kenapa kamu menangisi kami sedangkan air mata kami belum lagi kering kerana kezalimanmu itu. Keluhan kami belum lagi terputus oleh kekejamanmu. Keadaan kamu tidak ubah seperti perempuan yang memintal benang kemudian dirombaknya kembali. Kamu juga telah merombak ikatan iman dan telah berbalik kepada kekufuran...Adakah kamu meratapi kami padahal kamu sendirilah yang membunuh kami. Sekarang kamu pula menangisi kami. Demi Allah! Kamu akan banyak menangis dan sedikit ketawa. Kamu telah membeli keaiban dan kehinaan untuk kamu. Tompokan kehinaan ini sama sekali tidak akan hilang walau dibasuh dengan air apapun". (Jilaau Al ' Uyun, ms 424).
Doa anak Sayyidatina Fatimah ini tetap menjadi kenyataan dan berlaku di kalangan Syiah hingga ke hari ini.
Ummu Kulthum anak Sayyidatina Fatimah pula berkata sambil menangis di atas segedupnya, " Wahai orang-oang Kufah! Buruklah hendaknya keadaanmu. Buruklah hendaklah rupamu. Kenapa kamu menjemput saudaraku Husain kemudian tidak membantunya bahkan membunuhnya, merampas harta bendanya dan menawan orang-orang perempuan dari ahli rumahnya. Laknat Allah ke atas kamu dan semoga kutukan Allah mengenai mukamu".
Beliau juga berkata, " Wahai orang-orang Kufah! Orang-orang lelaki dari kalangan kamu membunuh kami sementara orang-orang perempuan pula menangisi kami. Tuhan akan memutuskan di antara kami dan kamu di hari kiamat nanti". (Ibid, ms 426-428)
Sementara Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain pula berkata, " Kamu telah membunuh kami dan merampas harta benda kami kemudian telah membunuh datukku Ali (Sayyidina Ali). Sentiasa darah-darah kami menitis dari hujung-hujung pedangmu……Tak lama lagi kamu akan menerima balasannya. Binasalah kamu! Tunggulah nanti azab dan kutukan Allah akan berterusan menghujani kamu. Siksaan dari langit akan memusnahkan kamu akibat perbuatan terkutukmu. Kamu akan memukul tubuhmu dengan pedang-pedang di dunia ini dan di akhirat nanti kamu akan terkepung dengan azab yang pedih ".
Apa yang dikatakan oleh Sayyidatina Fatimah bt. Husain ini dapat dilihat dengan mata kepala kita sendiri di mana-mana Syiah berada.
Dua bukti utama yang telah kita kemukakan tadi, sebenarnya sudah mencukupi untuk kita memutuskan siapakah sebenarnya pembunuh Sayyidina Husain di Karbala. Daripada keterangan dalam kedua-dua bukti yang lalu dapat kita simpulkan beberapa perkara :
1. Orang-orang yang menjemput Sayyidina Husain ke Kufah untuk memberontak adalah Syiah.
2. Orang-orang yang tampil untuk bertempur dengan rombongan Sayyidina Husain di Karbala itu juga Syiah.
3. Sayyidina Husain dan orang-orang yang ikut serta di dalam rombongannya terdiri daripada saudara- saudara perempuannya dan anak-anaknya menyaksikan bahwa Syiahlah yang telah membunuh mereka.
4. Golongan Syiah Kufah sendiri mengakui merekalah yang membunuh di samping menyatakan penyesalan mereka dengan meratap dan berkabung kerana kematian orang-orang yang dibunuh oleh mereka.
Mahkamah di dunia ini menerima keempat-empat perkara yang tersebut tadi sebagai bukti yang kukuh dan jelas menunjukkan siapakah pembunuh sebenar di dalam sesuatu kes pembunuhan, iaitu bila pembunuh dan yang terbunuh berada di suatu tempat, ada orang menyaksikan ketika mana pembunuhan itu dilakukan. Orang yang terbunuh sendiri menyaksikan tentang pembunuhnya dan kemuncaknya ialah pengakuan pembunuh itu sendiri. Jika keempat-empat perkara ini sudah terbukti dengan jelas dan diterima oleh semua mahkamah sebagai kes pembunuhan yang cukup bukti-buktinya, maka bagaimana mungkin diragui lagi tentang pembunuh- pembunuh Sayyidina Husain itu ?
Monday, August 1, 2011
PERKARA YANG BISA MERUSAK NILAI PUASA
hal-hal yang merusak nilai ibadah puasa:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
... “Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu (ucapan sia-sia) dan rafats (ucapan kotor), maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.”[Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, lihat kitab Shahih Targhib]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لا تَسَابَّ وَأَنْتَ صَائِمٌ وَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِس
Dari Abu Hurairah dari Nabi ia bersabda: “Janganlah kamu saling mancaci (bertengkar mulut) sementara kamu sedang berpuasa. Maka bila seseorang mencacimu katakana saja: ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah: 3/241, Nasa'i dalam Sunan Kubra: 2/241]
Dan Rasulullah juga menyatakan:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya.” [Shahih, HR. Al-Bukhari].
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ
... “Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya puasa itu bukan menahan dari makan dan minum saja, hanyalah puasa yang sebenarnya adalah menahan dari laghwu (ucapan sia-sia) dan rafats (ucapan kotor), maka bila seseorang mencacimu atau berbuat tindakan kebodohan kepadamu katakanlah: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.”[Shahih, HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, lihat kitab Shahih Targhib]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لا تَسَابَّ وَأَنْتَ صَائِمٌ وَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ فَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِس
Dari Abu Hurairah dari Nabi ia bersabda: “Janganlah kamu saling mancaci (bertengkar mulut) sementara kamu sedang berpuasa. Maka bila seseorang mencacimu katakana saja: ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa’, dan kalau kamu sedang berdiri maka duduklah.” [Shahih, HR Ibnu Khuzaimah: 3/241, Nasa'i dalam Sunan Kubra: 2/241]
Dan Rasulullah juga menyatakan:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya.” [Shahih, HR. Al-Bukhari].
DIANTARA AMALAN SUNNAH DALAM BERBUKA PUASA
Adab-adab puasa yang disunnahkan:
1. Membaca doa
a. Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w bersabda: «إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ »
Maksudnya: sesungguhnya doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak ketika dia berbuka. (hadis riwayat Ibnu Majah, no 1753, sanadnya sahih. Lihat Sunan Ibn Majah bi tahqiq Muhamad Fuad Abdil Baqi, Dar al-Fikr, Beirut, jilid 1, halaman 557).
Kita diharuskan berdoa pada Allah s.w.t apa saja yang kita hajatkan tetapi doa yang dianjurkan ialah seperti yang diajar oleh Rasulullah s.a.w dalam hadis Ibnu Umar:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ »
Maksudnya: Apabila berbuka Rasulullah saw berkata:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
(telah hilanglah dahaga, telah basahlah urat-urat dan tetaplah pahala إِنْ شَاءَ اللَّهُ) (riwayat Ibnu Majah, no 1825, dan al-Hakim. Kata beliau hadis ini sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim. Al-Zahabi menyetujui kata-kata al-Hakim).
Dalam riwayat Ibnu Majah bahawa Ibnu Umar r.a ketika berbuka berdoa dengan doa ini:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِى
Maksudnya: Ya Allah aku memohon pada-Mu dengan rahmat-Mu yang luas untuk setiap sesuatu agar Engkau ampunkan dosaku. (riwayat al-Hakim no 1535, hadis sahih).
Oleh itu kita dibolehkan berdoa apa saja yang kita kehendaki namun adalah lebih baik doa yang diajar oleh baginda s.a.w kerana ia merupakan wahyu ilahi dan kita disuruh mengikut petunjuk baginda jika kita benar-benar mencintai Allah s.w.t.
b. Rasulullah صلى الله عله وسلام bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca:
بِسْمِ اللهِ
“Dengan nama Allah.”
Apabila seseorang itu terlupa untuk membacakan doa pada permulaannya ia makan, maka hendaklah ia membaca:
بِسْمِ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
“Dengan (menyebut) nama Allah dari awal dan di akhir (aku makan).”
(Hadis Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi. Lihat juga kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi, 2/167)
c. Doa Selepas Makan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.” (Diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan (penyusun kitab-kitab Sunan), kecuali an-Nasa’i. Lihat juga Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/159)
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، غَيْرَ [مُكْفِيٍّ وَلاَ] مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang sentiasa dipanjatkan, diperlukan dan tidak boleh ditinggalkan, ya Tuhan kami.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, dan juga at-Tirmidzi dengan lafaz yang sama)
2. Menyegerakan Berbuka Puasa.
Disunnahkan juga kita menyegerakan berbuka puasa. Waktu paling afdal ialah ketika matahari mula terbenam atau dilaungkan azan Maghrib. Utamakan berbuka dari sibuk berzikir, membaca al-Quran atau ibadah lain kerana perintah Nabi s.a.w. Rasulullah SAW bersabda:
Ini berdasarkan hadis-hadis yang sahih seperti sabda baginda s.a.w:
إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: « لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ »
Maksudnya: manusia itu sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa. (hadis riwayat Bukhari, no 1957, dan Muslim, no 1098).
Di samping hadis ini menerangkan pada kita tentang fadilat menyegerakan berbuka puasa, ia juga memberitahu kita bahawa punca kekalnya insan dalam kebaikan disebabkan mereka berpegag pada al-sunnah dan mengikut petunjuk agama serta memahami batasannya. Dalam hal di atas kekalnya manusia itu dalam kebaikan berpunca dari perbuatan menyegerakan berbuka puasa kerana ia adalah sunnah Rasulullah s.a.w. (rujuk Nuzhah al-Muttaqin syarah Riyadh al-Salihin, Muhammad Amin Lutfy, Ali al-Syarbaji, Muhyiddin Misto, halaman 132).
Dalam sebuah hadis qudsi, sabda Rasulullah s.a.w:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَحَبُّ عِبَادِى إِلَىَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا »
Maksudnya: sabda Rasulullah s.a.w: Allah azza wa jalla berfirman: hamba yang paling Aku kasihi dikalangan hamba-hamba-Ku ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa. (hadis riwayat Tirmizi, hadis hasan).
- Dari Amru bin Maimun Al-Audi, telah berkata :
[ كان أصحاب محمد أسرع الناس إفطارا و أبطأهم سحورا ]
Maksudnya : ” Sesungguhnya sahabat Muhammad adalah orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat bersuhur ” [HR Abdurrazzaq : 7591][1]
- Mengapakah perlu segera berbuka ?
a. Dapat menghasilkan kebaikan
- Dari Sahl bin Sa’d, Nabi r telah bersabda :
[ لا يزال الناس بخير ما ععجلوا الفطر ]
Maksudnya : ” Manusia tidak akan sunyi dari kebaikan selama mana menyegerakan
berbuka puasa ” [HR Al-Bukhari : 1856, Muslim : 1093]
b. Ia merupakan sunnah Rasulullah r :
- Dari Sahl bin Sa’d, Nabi r telah bersabda :
[ لا تزال أمتي على سنتي ما لم تنتظر بفطرها النجوم ]
Maksudnya : ” Umatku akan sentiasa dalam sunnahku selama mana mereka tidak
menunggu bintang untuk berbuka puasa “. [HR Ibnu Hibban : 891][2]
c. Mengelakkan dari menyerupai amalan yahudi dan nasrani
- Dari Abu Hurairah, Nabi r bersabda :
[ لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر، لأن اليهود و النصارى يؤخرون ]
Maksudnya : ” Agama ini akan sentiasa menang selama mana manusia menyegerakan
berbuka, kerana yahudi dan nasrani mengakhirkannya “. [HR Abu Daud : 2353][3]
3. Berbuka Puasa Dengan Buah Rutab, Tamar Atau Air.
Rutab (رُطَبٌ) ialah buah tamar yang telah masak dan basah yang mana ia lembut dan manis, manakala tamar (تَمَرٌ) adalah buah tamar yang kering. (lihat al-Mu’jam al-Wasit, Ibrahim Mustafa wa al-akharun, tahqiq majma’ al-lughah al-arabiyyah, jilid 1, halaman 730). Kedua-dua jenis kurma ini terdapat di pasaran dalam negara kita. Seperti yang diketahui rutab lebih mahal daripada tamar kering sesuai dengan kualitinya. Rasulullah s.a.w mengutamakan berbuka puasa dengan rutab. Sekiranya rutab tiada barulah baginda berbuka dengan tamar dan apabila tiada tamar baginda berbuka dengan air. Ini bersandarkan pada hadis di bawah:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Maksudnya: dari Anas r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum solat, jika tiada rutab baginda berbuka dengan tamar, dan sekiranya tamar tiada baginda akan berbuka dengan air. (hadis riwayat Abu Dawud, no 2357, dan Tirmizi, no 696. Kata Tirmizi ia hadis hasan).
Berbuka dengan turutan mengikut keutamaan dengan rutab, tamar dan air adalah sunnah yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w untuk umat baginda. Kita diberi pahala apabila mengamalkannya kerana cinta kepada petunjuk nabawi. Adapun kelebihannya, kata al-Syawkani: disunnahkan berbuka puasa dengan rutab keranan ia manis dan yang manis itu menguatkan pandangan yang menjadi lemah disebabkan puasa. (rujuk Nail al-Awtar, Muhammad ’Ali al-Syawkani, cetakan Beirut, jilid 4, halaman 302). Namun yang lebih tepat ialah seperti yang Rasulullah s.a.w sendiri sebut iaitu kerana keberkatannya. Hadis di bawah menjelaskan perkara tersebut.
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر فإنه بركة فإن لم يجد تمرا فالماء فإنه طهور »
Maksudnya: apabila seseorang dari kamu berbuka puasa hendaklah dia berbuka dengan tamar kerana ia barakah. Jika dia tidak mendapati tamar hendaklah dia berbuka dengan air kerana ia suci. (hadis riwayat Tirmizi, no 694. Kata al-Tirmizi: hadis sahih).
4. Bersegera Mengerjakan Solat Maghrib jika makanan malam belum terhidang
Ini difahami dari hadis Anas yang telah disebutkan sebelum ini iaitu:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ…
Maksudnya: Rasulullah s.a.w berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum solat…
Dari hadis ini kita faham bahawa selepas berbuka puasa dengan rutab atau tamar atau air, baginda s.a.w menunaikan solat Maghrib. Ini sekiranya makanan belum dihidang tapi jika sudah terhidang, adalah makruh kita meninggalkan makanan untuk menunaikan solat. Hal ini dijelaskan oleh Imam al-Nawawi dalam syarah hadis ini. Kata beliau: dalam hadis-hadis tersebut dapat difahami bahawa dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan kerana ia mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk. (Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim bin Hajjaj, al-Nawawi, Muhyiddin Syaraf, jilid 2, halaman 321).
Hadis lain turut menyentuh hal ini seperti hadis di bawah:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم « إذا قدم العَشاء فابدؤوا به قبل أن تصلوا صلاة المغرب ولا تعجلوا عن عشائكم »
Maksudnya: apabila dihidangkan makanan maka mulailah dengannya (makanan itu) sebelum kamu solat Maghrib dan janganlah kamu tergopoh-gapah semasa makan. (hadis riwayat Bukhari, no 672 dan Muslim, no 557).
Dalam hadis yang lain yang juga riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud, baginda s.a.w menyebut:
« إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ وَلاَ يَعْجَلَنَّ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ » وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُوضَعُ لَهُ الطَّعَامُ وَتُقَامُ الصَّلاَةُ فَلاَ يَأْتِيهَا حَتَّى يَفْرُغَ ، وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قِرَاءَةَ الإِمَامِ
Maknanya: “apabila diletakkan hidangan makanan seseorang dari kamu dan solat pun didirikan, mulailah dengan makanan itu dan jangan dia tergesa-gesa (ketika makan) hinggalah dia selesai darinya”. Adalah Ibnu Umar apabila dihidangkan padanya makanan dan solat didirikan, dia tidak tunaikan solat sehingga beliau selesai makan sedangkan dia mendengar bacaan imam. (hadis riwayat Bukhari, no 673 dan Muslim, no 559. Hadis ini dengan lafaz Bukhari).
Ini tidak bermakna kita diajar mementingkan makanan dari solat sebaliknya untuk menjaga kesempurnaan solat. Oleh itu al-Hafiz Ibnu Hajar menyebut dalam Fath al-Bari bahawa Ibnu Jawzi berkata: ada orang menyangka bahawa mendahulukan makan sebelum solat adalah mendahulukan hak seorang hamba berbanding hak Allah, tetapi sebenarnya ia kerana hendak mengutamakan hak Allah agar insan menunaikan ibadah solat dengan hati yang khusyuk dan penuh tumpuan. Sesungguhnya makanan para sahabat adalah sedikit dan itu tidak melambatkan mereka terputus jamaah (solat). (rujuk: Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 15, halaman 383).
Menurut Imam al-Nawawi : “Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.”
5. Berbuka Puasa Secara Sederhana.
Hal ini bersesuaian dengan firman Allah s.w.t dalam surah al-A’raf ayat 31:
﴿ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴾
Maknanya: dan makan serta minumlah kalian dan jangan kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak suka pada orang-orang yang berlebih-lebihan.
Baginda s.a.w juga menyebut dalam sabda baginda:
« ما مَلأ آدميٌّ وِعاءً شَرّاً مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابنِ آدمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فإنْ كَانَ لا مَحالَةَ، فَثُلُثٌ لِطعامِهِ، وثُلُثٌ لِشَرابِهِ، وثُلُثٌ لِنَفسه »
Maksudnya: tidaklah anak Adam itu mengisi satu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Sudah cukuplah bagi anak Adam itu dengan beberapa suap (makanan) yang dapat meluruskan tulang belakangnya (sekadar memberi tenaga), jika tidak boleh, maka satu pertiga untuk makanannya, satu pertiga untuk minumannya dan satu pertiga untuk pernafasan. (riwayat Ibnu Majah, no 3474 dan Tirmizi, no 2380. Kata al-Tirmizi: hadis hasan sahih).
6. Makan dan minum dengan tangan kanan.
Dalam persoalan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan pesanannya kepada kita dengan sabdanya (maksudnya),
“Apabila seseorang dari kamu makan, maka makanlah dengan tangan kanannya dan apabila minum, maka minumlah dengan tangan kanannya. Ini kerana sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab al-Asyrabah)
7. Menjamu Makanan Untuk Berbuka Bagi Orang Berpuasa.
Sesungguhnya Islam menganjurkan umatnya mengadakan majlis berbuka puasa untuk menjamu makan bagi mereka yang berpuasa terutamanya kepada orang-orang miskin, anak-anak yatim dan mereka yang ditimpa musibah. Firman Allah SWT :
“Mereka juga memberi makan sebarang makanan yang dihajati dan disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (sambil berkata dengan lidah atau hati): Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu semata-mata kerana Allah dan kami langsung tidak inginkan sebarang balasan daripada kamu atau ucapan terima kasih.” – Surah al-Insan: 8-9.
Menjamu makan untuk berbuka puasa telah dijanjikan dengan ganjaran pahala yang begitu besar. Semakin ramai jumlah orang yang dijamu makan, semakin tinggilah jumlah gandaan pahalanya. Sabda baginda SAW :
Nabi r bersabda :
[ من فطر صائما كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا ]
Maksudnya : ” Barang sesiapa yang memberi makan untuk orang berbuka puasa, baginya pahala orang berpuasa tanpa dikurang sedikitpun dari pahalanya ” [HR At-Tirmidzi : 804, Ibnu majah : 1746]
8. Berdoa untuk orang yang menjamu kita berbuka puasa
Nabi s.a.w apabila dijemput ke rumah Sa’ad bin ’Ubadah r.a dan dihidangkan makanan, baginda mendoakan untuk Sa’ad r.a:
« أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ »
Maksudnya: orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kamu, orang-orang yang baik telah makan makanan kamu dan para malaikat telah berselawat ke atas kamu. (riwayat Abu Dawud, sanadnya sahih, no 3854. Imam Ahmad meriwayatkan hadis yang sama apabila baginda s.a.w dijemput berbuka puasa di rumah sahabat-sahabat lain, no 1670).
Disunnah juga membaca doa seperti riwayat dibawah ini.
Dari Miqdad, Nabi saw bersabda :
[ اللهم أطعم من أطعمني، و اسق من سقاني ]
Maksudnya : ” Ya Allah ya Tuhan kami, berilah makan kepada orang yang memberi makan kepada kami, dan berilah minum kepada orang yang memberi minum kepada kami “. [HR Muslim : 2055].
Semoga adab-adab berbuka puasa yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w ini dapat kita amalkan sepanjang bulan yang mulia ini, disamping melipat gandakan dan berlumba-lumba melakukan amal salih yang lain yang disyariatkan oleh Allah s.w.t serta mengharap balasan syurga. Sabda baginda saw dalam hadis di bawah:
« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ »
Maksudnya: sesungguhnya terdapat satu pintu dalam syurga yang dipanggil al-Rayyan di mana ia akan dimasuki oleh mereka yang berpuasa. Tiada seorang pun yang tidak boleh memasukinya kecuali mereka. Terdapat suara bertanya: di manakah orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka pun bangun (dan memasuki pintu al-Rayyan), tiada seorang pun yang tidak berpuasa boleh memasukinya. Apabila mereka telah masuk, pintu itu ditutup tanpa seorang pun dapat memasukinya. (riwayat Bukhari,no 1896).
9. Diantara doa-doa yang populer tetapi berlandaskan hadis yang lemah ( tidak disunnahkan untuk membacanya ) adalah sebagai berikut :
a. Doa Makan Yang Tidak Shahih (Tidak Tsabit) Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللهِ
“Ya Allah, berkatilah untuk kami dalam sesuatu yang telah Engkau kurniakan kepada kami, dan jagalah kami dari azab neraka. Dengan menyebut nama Allah.”
Penjelasan (oleh Syaikh Amir bin Ali Yasin) tentang hadis ini:
Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam ad-Du’a, no. 888, Ibnu as-Sunni, no. 457, dan Ibnu Adi, 6/2212 dari beberapa jalur, “dari Hisyam bin Amar, Muhammad bin Isa bin Sami’ menceritakan kepada kami”, “Muhammad bin Abi az-Zu’aiza’ah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari datuknya” dengan hadis tersebut.
Sanad ini adalah sanad yang bersangatan lemahnya (dhoif jiddan). Hisyam dan Ibnu Sami’, keduanya dipertikaikan, tetapi masalah yang sebenarnya terletak pada Ibnu Abi az-Zu’aiza’ah, kerana ia tertuduh dusta lagi matruk, dan hadisnya mungkar lagi sangat dhoif. Dengannya, hadisnya ini dinilai mungkar oleh Ibnu Adi, adz-Dzahabi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
Sila lihat, komentar Syaikh Amir bin Ali Yasin dalam semakannya ke atas al-Azkar an-Nawawiyah, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, Riyadh, 1422H/2001M, Cet. 1, hadis no. 674.
b. Terdapat doa yang masyhur dikalangan masyarakat tetapi tidak sunnah dan berlandaskan hadis yang lemah ( sila rujuk kitab fiqhussanh sayyid sabiq ), seperti doa :
[ اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت ]
Maksudnya : ” Ya Allah, ya Tuhan kami, kerana-Mu kami berpuasa, dan atas rezeki-Mu kami berbuka”.[HR Abu Daud : 2358]
Hadis yang menyebut tentang doa ini, adalah dari riwayat Mu’az bin Zuhrah. Beliau bukan sahabat sebaliknya beliau adalah tabi’in (generasi selepas sahabat Nabi r). Tetapi beliau telah meriwayatkan hadis ini secara langsung dari Nabi r. Dalam ilmu mustolah, hadis ini dikenali sebagai hadis mursal, kerana tabi’in meriwayatkan dari Nabi r sedangkan dia tidak pernah bertemu dengan Nabi r. Hadis mursal mengikut muhaddithin adalah hadis yang lemah dan tidak boleh dijadikan hujjah. Syeikh Salim ‘Eid Al-Hilali dalam Nailul Authar Bi Takhrij Ahadisil Azkar[7], menyebut : Sanad hadis ini lemah kerana 3 kecacatan :
1. Mu’az bin Zuhrah tidak dikenali (مجهول)
2. Hadis ini mursal, kerana Mu’az adalah tabi’i
3. Perawi dari Mu’az adalah seorang lelaki yang tidak diketahui namanya (مبهم)
Oleh itu, untuk menyandarkan doa ini kepada Nabi r adalah salah sama sekali!! Sebaliknya, jika seseorang itu ingin berdoa tanpa menyandarkannya kepada Nabi r, maka perkara itu dibolehkan. Tetapi alangkah baiknya, melafazkan kalimah yang dilafazkan oleh manusia yang paling mulia iaitu Rasulullah saw.
c. Hadis-hadis berkenaan puasa berikut mungkin biasa terdengar. Tapi tahukah kita statusnya?
1. "Bulan ramadan itu permulannya bulan rahmat, pertengahannya bulan maghrifah (ampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka"
Hadis ini berstatus hadis mungkar. Diriwayatkan oleh Al U'qaili dalam Adh Dhu'afa (172), Ibnu Adi (1/165), Al Khatib dalam Al Muwadhadhih (2/77), Ad Dailami (1/1/10-11), Ibnu 'Asakir (8/506/1), dari jalan Sallam Bin Siwar dari Maslamah b Ash Shalt dari Az Zuhri dari Abu SAlamah dari Abu Hurairah secara marfu'.
Al 'Uqaili berkata: "tidak ada asalnya dari Az Zuhri"
Ibn Adi berkata: "Dan Sallam (bin Sulaiman b Siwar) menurutku adalah seorang mungkarul hadis. Dan Masalamah tidak dikenali."
ibn Hatim berkata tentang Masalamah: "Dia itu martukul hadis" (Lihat Ad Dha'ifah, 4/70, no 1569)
2. Bulan Ramadan itu tergantung di antara langit dan bumi dan tidak akan diangkat kepada Allah kecualidengan zakat fitrah"
Hadis daif. Ibn Jauzi menyatakan ianya tidak sahih (Al 'llal Al Mutanahiyah (2/8/824). Di dalamnya terdapat Muhammad b Ubaid Al Bashari. Dia majhul (tidak dikenal).
1. Membaca doa
a. Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w bersabda: «إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ »
Maksudnya: sesungguhnya doa orang yang berpuasa itu tidak tertolak ketika dia berbuka. (hadis riwayat Ibnu Majah, no 1753, sanadnya sahih. Lihat Sunan Ibn Majah bi tahqiq Muhamad Fuad Abdil Baqi, Dar al-Fikr, Beirut, jilid 1, halaman 557).
Kita diharuskan berdoa pada Allah s.w.t apa saja yang kita hajatkan tetapi doa yang dianjurkan ialah seperti yang diajar oleh Rasulullah s.a.w dalam hadis Ibnu Umar:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ »
Maksudnya: Apabila berbuka Rasulullah saw berkata:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
(telah hilanglah dahaga, telah basahlah urat-urat dan tetaplah pahala إِنْ شَاءَ اللَّهُ) (riwayat Ibnu Majah, no 1825, dan al-Hakim. Kata beliau hadis ini sahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim. Al-Zahabi menyetujui kata-kata al-Hakim).
Dalam riwayat Ibnu Majah bahawa Ibnu Umar r.a ketika berbuka berdoa dengan doa ini:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِى وَسِعَتْ كُلَّ شَىْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِى
Maksudnya: Ya Allah aku memohon pada-Mu dengan rahmat-Mu yang luas untuk setiap sesuatu agar Engkau ampunkan dosaku. (riwayat al-Hakim no 1535, hadis sahih).
Oleh itu kita dibolehkan berdoa apa saja yang kita kehendaki namun adalah lebih baik doa yang diajar oleh baginda s.a.w kerana ia merupakan wahyu ilahi dan kita disuruh mengikut petunjuk baginda jika kita benar-benar mencintai Allah s.w.t.
b. Rasulullah صلى الله عله وسلام bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu memakan makanan, hendaklah membaca:
بِسْمِ اللهِ
“Dengan nama Allah.”
Apabila seseorang itu terlupa untuk membacakan doa pada permulaannya ia makan, maka hendaklah ia membaca:
بِسْمِ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
“Dengan (menyebut) nama Allah dari awal dan di akhir (aku makan).”
(Hadis Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi. Lihat juga kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi, 2/167)
c. Doa Selepas Makan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ
“Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.” (Diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan (penyusun kitab-kitab Sunan), kecuali an-Nasa’i. Lihat juga Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/159)
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ، غَيْرَ [مُكْفِيٍّ وَلاَ] مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا
“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah, yang sentiasa dipanjatkan, diperlukan dan tidak boleh ditinggalkan, ya Tuhan kami.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, dan juga at-Tirmidzi dengan lafaz yang sama)
2. Menyegerakan Berbuka Puasa.
Disunnahkan juga kita menyegerakan berbuka puasa. Waktu paling afdal ialah ketika matahari mula terbenam atau dilaungkan azan Maghrib. Utamakan berbuka dari sibuk berzikir, membaca al-Quran atau ibadah lain kerana perintah Nabi s.a.w. Rasulullah SAW bersabda:
Ini berdasarkan hadis-hadis yang sahih seperti sabda baginda s.a.w:
إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: « لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ »
Maksudnya: manusia itu sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa. (hadis riwayat Bukhari, no 1957, dan Muslim, no 1098).
Di samping hadis ini menerangkan pada kita tentang fadilat menyegerakan berbuka puasa, ia juga memberitahu kita bahawa punca kekalnya insan dalam kebaikan disebabkan mereka berpegag pada al-sunnah dan mengikut petunjuk agama serta memahami batasannya. Dalam hal di atas kekalnya manusia itu dalam kebaikan berpunca dari perbuatan menyegerakan berbuka puasa kerana ia adalah sunnah Rasulullah s.a.w. (rujuk Nuzhah al-Muttaqin syarah Riyadh al-Salihin, Muhammad Amin Lutfy, Ali al-Syarbaji, Muhyiddin Misto, halaman 132).
Dalam sebuah hadis qudsi, sabda Rasulullah s.a.w:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: « قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَحَبُّ عِبَادِى إِلَىَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا »
Maksudnya: sabda Rasulullah s.a.w: Allah azza wa jalla berfirman: hamba yang paling Aku kasihi dikalangan hamba-hamba-Ku ialah mereka yang menyegerakan berbuka puasa. (hadis riwayat Tirmizi, hadis hasan).
- Dari Amru bin Maimun Al-Audi, telah berkata :
[ كان أصحاب محمد أسرع الناس إفطارا و أبطأهم سحورا ]
Maksudnya : ” Sesungguhnya sahabat Muhammad adalah orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat bersuhur ” [HR Abdurrazzaq : 7591][1]
- Mengapakah perlu segera berbuka ?
a. Dapat menghasilkan kebaikan
- Dari Sahl bin Sa’d, Nabi r telah bersabda :
[ لا يزال الناس بخير ما ععجلوا الفطر ]
Maksudnya : ” Manusia tidak akan sunyi dari kebaikan selama mana menyegerakan
berbuka puasa ” [HR Al-Bukhari : 1856, Muslim : 1093]
b. Ia merupakan sunnah Rasulullah r :
- Dari Sahl bin Sa’d, Nabi r telah bersabda :
[ لا تزال أمتي على سنتي ما لم تنتظر بفطرها النجوم ]
Maksudnya : ” Umatku akan sentiasa dalam sunnahku selama mana mereka tidak
menunggu bintang untuk berbuka puasa “. [HR Ibnu Hibban : 891][2]
c. Mengelakkan dari menyerupai amalan yahudi dan nasrani
- Dari Abu Hurairah, Nabi r bersabda :
[ لا يزال الدين ظاهرا ما عجل الناس الفطر، لأن اليهود و النصارى يؤخرون ]
Maksudnya : ” Agama ini akan sentiasa menang selama mana manusia menyegerakan
berbuka, kerana yahudi dan nasrani mengakhirkannya “. [HR Abu Daud : 2353][3]
3. Berbuka Puasa Dengan Buah Rutab, Tamar Atau Air.
Rutab (رُطَبٌ) ialah buah tamar yang telah masak dan basah yang mana ia lembut dan manis, manakala tamar (تَمَرٌ) adalah buah tamar yang kering. (lihat al-Mu’jam al-Wasit, Ibrahim Mustafa wa al-akharun, tahqiq majma’ al-lughah al-arabiyyah, jilid 1, halaman 730). Kedua-dua jenis kurma ini terdapat di pasaran dalam negara kita. Seperti yang diketahui rutab lebih mahal daripada tamar kering sesuai dengan kualitinya. Rasulullah s.a.w mengutamakan berbuka puasa dengan rutab. Sekiranya rutab tiada barulah baginda berbuka dengan tamar dan apabila tiada tamar baginda berbuka dengan air. Ini bersandarkan pada hadis di bawah:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتَمَرَاتٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Maksudnya: dari Anas r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum solat, jika tiada rutab baginda berbuka dengan tamar, dan sekiranya tamar tiada baginda akan berbuka dengan air. (hadis riwayat Abu Dawud, no 2357, dan Tirmizi, no 696. Kata Tirmizi ia hadis hasan).
Berbuka dengan turutan mengikut keutamaan dengan rutab, tamar dan air adalah sunnah yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w untuk umat baginda. Kita diberi pahala apabila mengamalkannya kerana cinta kepada petunjuk nabawi. Adapun kelebihannya, kata al-Syawkani: disunnahkan berbuka puasa dengan rutab keranan ia manis dan yang manis itu menguatkan pandangan yang menjadi lemah disebabkan puasa. (rujuk Nail al-Awtar, Muhammad ’Ali al-Syawkani, cetakan Beirut, jilid 4, halaman 302). Namun yang lebih tepat ialah seperti yang Rasulullah s.a.w sendiri sebut iaitu kerana keberkatannya. Hadis di bawah menjelaskan perkara tersebut.
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر فإنه بركة فإن لم يجد تمرا فالماء فإنه طهور »
Maksudnya: apabila seseorang dari kamu berbuka puasa hendaklah dia berbuka dengan tamar kerana ia barakah. Jika dia tidak mendapati tamar hendaklah dia berbuka dengan air kerana ia suci. (hadis riwayat Tirmizi, no 694. Kata al-Tirmizi: hadis sahih).
4. Bersegera Mengerjakan Solat Maghrib jika makanan malam belum terhidang
Ini difahami dari hadis Anas yang telah disebutkan sebelum ini iaitu:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ…
Maksudnya: Rasulullah s.a.w berbuka puasa dengan beberapa biji rutab sebelum solat…
Dari hadis ini kita faham bahawa selepas berbuka puasa dengan rutab atau tamar atau air, baginda s.a.w menunaikan solat Maghrib. Ini sekiranya makanan belum dihidang tapi jika sudah terhidang, adalah makruh kita meninggalkan makanan untuk menunaikan solat. Hal ini dijelaskan oleh Imam al-Nawawi dalam syarah hadis ini. Kata beliau: dalam hadis-hadis tersebut dapat difahami bahawa dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan kerana ia mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk. (Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim bin Hajjaj, al-Nawawi, Muhyiddin Syaraf, jilid 2, halaman 321).
Hadis lain turut menyentuh hal ini seperti hadis di bawah:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم « إذا قدم العَشاء فابدؤوا به قبل أن تصلوا صلاة المغرب ولا تعجلوا عن عشائكم »
Maksudnya: apabila dihidangkan makanan maka mulailah dengannya (makanan itu) sebelum kamu solat Maghrib dan janganlah kamu tergopoh-gapah semasa makan. (hadis riwayat Bukhari, no 672 dan Muslim, no 557).
Dalam hadis yang lain yang juga riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud, baginda s.a.w menyebut:
« إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ وَلاَ يَعْجَلَنَّ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ » وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُوضَعُ لَهُ الطَّعَامُ وَتُقَامُ الصَّلاَةُ فَلاَ يَأْتِيهَا حَتَّى يَفْرُغَ ، وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قِرَاءَةَ الإِمَامِ
Maknanya: “apabila diletakkan hidangan makanan seseorang dari kamu dan solat pun didirikan, mulailah dengan makanan itu dan jangan dia tergesa-gesa (ketika makan) hinggalah dia selesai darinya”. Adalah Ibnu Umar apabila dihidangkan padanya makanan dan solat didirikan, dia tidak tunaikan solat sehingga beliau selesai makan sedangkan dia mendengar bacaan imam. (hadis riwayat Bukhari, no 673 dan Muslim, no 559. Hadis ini dengan lafaz Bukhari).
Ini tidak bermakna kita diajar mementingkan makanan dari solat sebaliknya untuk menjaga kesempurnaan solat. Oleh itu al-Hafiz Ibnu Hajar menyebut dalam Fath al-Bari bahawa Ibnu Jawzi berkata: ada orang menyangka bahawa mendahulukan makan sebelum solat adalah mendahulukan hak seorang hamba berbanding hak Allah, tetapi sebenarnya ia kerana hendak mengutamakan hak Allah agar insan menunaikan ibadah solat dengan hati yang khusyuk dan penuh tumpuan. Sesungguhnya makanan para sahabat adalah sedikit dan itu tidak melambatkan mereka terputus jamaah (solat). (rujuk: Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, jilid 15, halaman 383).
Menurut Imam al-Nawawi : “Di dalam hadis-hadis tersebut dimakruhkan solat apabila terhidangnya makanan yang hendak dimakan kerana ia boleh mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.”
5. Berbuka Puasa Secara Sederhana.
Hal ini bersesuaian dengan firman Allah s.w.t dalam surah al-A’raf ayat 31:
﴿ وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴾
Maknanya: dan makan serta minumlah kalian dan jangan kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak suka pada orang-orang yang berlebih-lebihan.
Baginda s.a.w juga menyebut dalam sabda baginda:
« ما مَلأ آدميٌّ وِعاءً شَرّاً مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابنِ آدمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فإنْ كَانَ لا مَحالَةَ، فَثُلُثٌ لِطعامِهِ، وثُلُثٌ لِشَرابِهِ، وثُلُثٌ لِنَفسه »
Maksudnya: tidaklah anak Adam itu mengisi satu bekas yang lebih buruk daripada perutnya. Sudah cukuplah bagi anak Adam itu dengan beberapa suap (makanan) yang dapat meluruskan tulang belakangnya (sekadar memberi tenaga), jika tidak boleh, maka satu pertiga untuk makanannya, satu pertiga untuk minumannya dan satu pertiga untuk pernafasan. (riwayat Ibnu Majah, no 3474 dan Tirmizi, no 2380. Kata al-Tirmizi: hadis hasan sahih).
6. Makan dan minum dengan tangan kanan.
Dalam persoalan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampaikan pesanannya kepada kita dengan sabdanya (maksudnya),
“Apabila seseorang dari kamu makan, maka makanlah dengan tangan kanannya dan apabila minum, maka minumlah dengan tangan kanannya. Ini kerana sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab al-Asyrabah)
7. Menjamu Makanan Untuk Berbuka Bagi Orang Berpuasa.
Sesungguhnya Islam menganjurkan umatnya mengadakan majlis berbuka puasa untuk menjamu makan bagi mereka yang berpuasa terutamanya kepada orang-orang miskin, anak-anak yatim dan mereka yang ditimpa musibah. Firman Allah SWT :
“Mereka juga memberi makan sebarang makanan yang dihajati dan disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan (sambil berkata dengan lidah atau hati): Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu semata-mata kerana Allah dan kami langsung tidak inginkan sebarang balasan daripada kamu atau ucapan terima kasih.” – Surah al-Insan: 8-9.
Menjamu makan untuk berbuka puasa telah dijanjikan dengan ganjaran pahala yang begitu besar. Semakin ramai jumlah orang yang dijamu makan, semakin tinggilah jumlah gandaan pahalanya. Sabda baginda SAW :
Nabi r bersabda :
[ من فطر صائما كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا ]
Maksudnya : ” Barang sesiapa yang memberi makan untuk orang berbuka puasa, baginya pahala orang berpuasa tanpa dikurang sedikitpun dari pahalanya ” [HR At-Tirmidzi : 804, Ibnu majah : 1746]
8. Berdoa untuk orang yang menjamu kita berbuka puasa
Nabi s.a.w apabila dijemput ke rumah Sa’ad bin ’Ubadah r.a dan dihidangkan makanan, baginda mendoakan untuk Sa’ad r.a:
« أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ »
Maksudnya: orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kamu, orang-orang yang baik telah makan makanan kamu dan para malaikat telah berselawat ke atas kamu. (riwayat Abu Dawud, sanadnya sahih, no 3854. Imam Ahmad meriwayatkan hadis yang sama apabila baginda s.a.w dijemput berbuka puasa di rumah sahabat-sahabat lain, no 1670).
Disunnah juga membaca doa seperti riwayat dibawah ini.
Dari Miqdad, Nabi saw bersabda :
[ اللهم أطعم من أطعمني، و اسق من سقاني ]
Maksudnya : ” Ya Allah ya Tuhan kami, berilah makan kepada orang yang memberi makan kepada kami, dan berilah minum kepada orang yang memberi minum kepada kami “. [HR Muslim : 2055].
Semoga adab-adab berbuka puasa yang ditunjukkan oleh Rasulullah s.a.w ini dapat kita amalkan sepanjang bulan yang mulia ini, disamping melipat gandakan dan berlumba-lumba melakukan amal salih yang lain yang disyariatkan oleh Allah s.w.t serta mengharap balasan syurga. Sabda baginda saw dalam hadis di bawah:
« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ »
Maksudnya: sesungguhnya terdapat satu pintu dalam syurga yang dipanggil al-Rayyan di mana ia akan dimasuki oleh mereka yang berpuasa. Tiada seorang pun yang tidak boleh memasukinya kecuali mereka. Terdapat suara bertanya: di manakah orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka pun bangun (dan memasuki pintu al-Rayyan), tiada seorang pun yang tidak berpuasa boleh memasukinya. Apabila mereka telah masuk, pintu itu ditutup tanpa seorang pun dapat memasukinya. (riwayat Bukhari,no 1896).
9. Diantara doa-doa yang populer tetapi berlandaskan hadis yang lemah ( tidak disunnahkan untuk membacanya ) adalah sebagai berikut :
a. Doa Makan Yang Tidak Shahih (Tidak Tsabit) Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللهِ
“Ya Allah, berkatilah untuk kami dalam sesuatu yang telah Engkau kurniakan kepada kami, dan jagalah kami dari azab neraka. Dengan menyebut nama Allah.”
Penjelasan (oleh Syaikh Amir bin Ali Yasin) tentang hadis ini:
Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam ad-Du’a, no. 888, Ibnu as-Sunni, no. 457, dan Ibnu Adi, 6/2212 dari beberapa jalur, “dari Hisyam bin Amar, Muhammad bin Isa bin Sami’ menceritakan kepada kami”, “Muhammad bin Abi az-Zu’aiza’ah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari datuknya” dengan hadis tersebut.
Sanad ini adalah sanad yang bersangatan lemahnya (dhoif jiddan). Hisyam dan Ibnu Sami’, keduanya dipertikaikan, tetapi masalah yang sebenarnya terletak pada Ibnu Abi az-Zu’aiza’ah, kerana ia tertuduh dusta lagi matruk, dan hadisnya mungkar lagi sangat dhoif. Dengannya, hadisnya ini dinilai mungkar oleh Ibnu Adi, adz-Dzahabi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
Sila lihat, komentar Syaikh Amir bin Ali Yasin dalam semakannya ke atas al-Azkar an-Nawawiyah, terbitan Dar Ibnu Khuzaimah, Riyadh, 1422H/2001M, Cet. 1, hadis no. 674.
b. Terdapat doa yang masyhur dikalangan masyarakat tetapi tidak sunnah dan berlandaskan hadis yang lemah ( sila rujuk kitab fiqhussanh sayyid sabiq ), seperti doa :
[ اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت ]
Maksudnya : ” Ya Allah, ya Tuhan kami, kerana-Mu kami berpuasa, dan atas rezeki-Mu kami berbuka”.[HR Abu Daud : 2358]
Hadis yang menyebut tentang doa ini, adalah dari riwayat Mu’az bin Zuhrah. Beliau bukan sahabat sebaliknya beliau adalah tabi’in (generasi selepas sahabat Nabi r). Tetapi beliau telah meriwayatkan hadis ini secara langsung dari Nabi r. Dalam ilmu mustolah, hadis ini dikenali sebagai hadis mursal, kerana tabi’in meriwayatkan dari Nabi r sedangkan dia tidak pernah bertemu dengan Nabi r. Hadis mursal mengikut muhaddithin adalah hadis yang lemah dan tidak boleh dijadikan hujjah. Syeikh Salim ‘Eid Al-Hilali dalam Nailul Authar Bi Takhrij Ahadisil Azkar[7], menyebut : Sanad hadis ini lemah kerana 3 kecacatan :
1. Mu’az bin Zuhrah tidak dikenali (مجهول)
2. Hadis ini mursal, kerana Mu’az adalah tabi’i
3. Perawi dari Mu’az adalah seorang lelaki yang tidak diketahui namanya (مبهم)
Oleh itu, untuk menyandarkan doa ini kepada Nabi r adalah salah sama sekali!! Sebaliknya, jika seseorang itu ingin berdoa tanpa menyandarkannya kepada Nabi r, maka perkara itu dibolehkan. Tetapi alangkah baiknya, melafazkan kalimah yang dilafazkan oleh manusia yang paling mulia iaitu Rasulullah saw.
c. Hadis-hadis berkenaan puasa berikut mungkin biasa terdengar. Tapi tahukah kita statusnya?
1. "Bulan ramadan itu permulannya bulan rahmat, pertengahannya bulan maghrifah (ampunan) dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka"
Hadis ini berstatus hadis mungkar. Diriwayatkan oleh Al U'qaili dalam Adh Dhu'afa (172), Ibnu Adi (1/165), Al Khatib dalam Al Muwadhadhih (2/77), Ad Dailami (1/1/10-11), Ibnu 'Asakir (8/506/1), dari jalan Sallam Bin Siwar dari Maslamah b Ash Shalt dari Az Zuhri dari Abu SAlamah dari Abu Hurairah secara marfu'.
Al 'Uqaili berkata: "tidak ada asalnya dari Az Zuhri"
Ibn Adi berkata: "Dan Sallam (bin Sulaiman b Siwar) menurutku adalah seorang mungkarul hadis. Dan Masalamah tidak dikenali."
ibn Hatim berkata tentang Masalamah: "Dia itu martukul hadis" (Lihat Ad Dha'ifah, 4/70, no 1569)
2. Bulan Ramadan itu tergantung di antara langit dan bumi dan tidak akan diangkat kepada Allah kecualidengan zakat fitrah"
Hadis daif. Ibn Jauzi menyatakan ianya tidak sahih (Al 'llal Al Mutanahiyah (2/8/824). Di dalamnya terdapat Muhammad b Ubaid Al Bashari. Dia majhul (tidak dikenal).
Subscribe to:
Posts (Atom)