Wednesday, January 4, 2012

Kenapa membenci syiah ( Imam syafii dituduh sebagai orang syiah )

B (Ahlus Sunnah) : “Karena Syiah menghina dan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar.”

A : “Kami tidak mengkafirkan mereka, yang mengkafirkan adalah Rafidhah, adapun kami bukan rafidhah tapi hanya syiah. Rafidhah sudah pasti Syiah, sedangkan Syiah belum tentu Rafidhah.”

B : “Dan kalian juga ghuluw (berlebih2an) terhadap imam-imam kalian sendiri. Kalian menganggap mereka ma’shum, kalian juga taqlid buta kepada mereka, semuanya kalian ikuti walaupun itu salah.”

A : “Apakah kalian tidak taqlid kepada imam-imam kalian?”

B : “Kami tidak taqlid kepada siapapun kecuali Rasulullah, karena selain Rasulullah tidak ma’shum, dan mereka bisa benar bisa salah.”

A : “Yang menganggap mereka ma’shum adalah dari Rafidhah, bukan dari kami. Ana mau tahu, apa madzhab kalian sebagai orang Indonesia?”

B : “Madzhab kami atau kebanyakan orang Indonesia adalah Madzhab Syafi’iyah.”

A : “Siapa Imamnya?”

B : “Imam Asy Syafi’i.”

A : “Nah…kamu tahu tidak, kalo Imam Syafi’i adalah Syiah dan mengakui Syiah, sama seperti kami.”

B : “Apa buktinya? Imam Asy Syafi’i adalah seorang Ahlus Sunnah, Bukan Syi’i.”

A : “Buktinya adalah dari syairnya beliau sendiri yang terkenal. Beliau berkata,
‘Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad, Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.’

B : “Ana tahu syair itu. Memang itu syair beliau. Dan selamat, perkataan kamu telah menjadi bumerang bagi kamu sendiri alias senjata makan tuan.”

A : “Ada apa dengan bait syair itu? Bukankah itu bukti yang jelas kalau Imam Syafii adalah Syi’i dan mengakui tentang kebenaran Syiah?”

B : “Pertama, perkataan Imam Syafi’i tersebut mengambil atau mengikuti dari firman Allah,
“Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (QS. az-Zukhruf: 81)

Apakah kamu menyakini bahwa ar-Rahman memiliki anak?! Tidak, sekali lagi tidak. Oleh karena ar-Rahman tidak memiliki anak itu maka Allah menggunakan susunan bahasa ini untuk menolak ucapan orang2 musyrik dan klaim mereka.

Jadi, Imam as-syafi’i menggunakan susunan bahasa al-Qur`an, yang membawa balaghah besar yang layak dengan kedudukan dan keluasan ilmu Imam as-Syafi’i. Imam as-Syafi’i dengan ucapannya: ‘Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad’, bermaksud mengungkapkan kemustahilan kalau al-Rafdh dimaknai kecintaan kepada keluarga Muhammad’.

Metode Imam Syafi’i ini telah dikenal oleh para ahlul ilmi. Sebagai contoh, saat orang2 liberal mengingkari kita karena berpegang teguh dengan agama ini, dengan menyatakan bahwa keteguhan itu adalah fanatisme, dan fanatisme itu merupakan satu keterbelakangan dan kemunduran, maka kita menjawab mereka dengan mengatakan, ‘Jika berpegang teguh dengan Islam itu adalah satu keterbelakangan dan kemunduran, maka saksikanlah bahwa kami orang2 yang mundur dan terbelakang.’

Kedua, kamu hanya mengambil bait syair sebagian saja, padahal masih ada lanjutannya dan bait2 syair lainnya. Beliau juga berkata,

“Mereka mengatakan, ‘Kalau begitu Anda telah menjadi Rafidhi?’ Saya katakan, ‘Sekali-kali tidak… tidaklah al-Rafdh (menolak Khalifah Abu Bakar dan Umar) itu agamaku, tidak juga keyakinanku.”

Di sini, Imam Syafi’i Rahimahullah berlepas diri dari Rafidhah (Syi’ah), dan menampakkan keheranannya dari pertanyaan ini. Kemudian dia menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia tidak berada diatas agama Syi’ah (Rafidhah), tidak juga di atas keyakinan mereka.

A : “Glekkk….”

B : “Eiit…tunggu dulu…masih ada yang ketiga..”

A : “Apa itu?”

B : “Ketiga, kamu membawakan hujjah dari syair Imam Asy Syafi’i yaitu ‘Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.’ Disini Imam Syafi’i memakai kata Rafidhi, bukan memakai kata Syi’i, padahal di awal kamu mengatakan bahwa kamu adalah Syiah dan bukan Rafidhah. Aneh bukan, kamu mengaku bukan Rafidhi tapi hujjah yang kamu bawakan adalah tentang Rafidhi? Nah, berhubung kamu membawakan hujjah tentang Rafidhi, maka mulai sekarang ana menganggap kamu adalah Rafidhi, atau Rafidhah dengan Syiah sama saja…!”

A : “Glek lagi…”

=============================

Berikut pendapat imam asy syafii tentang syiah.

- Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

- Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

- Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

- asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

- Imam as-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II/576), lihat juga Ushulud Din (342))

Oleh Abu Fahd Negara Tauhid

Sumber: http://www.facebook.com/negara.tauhid/posts/1642934770570?ref=notif¬if_t=feed_comment#!/negara.tauhid/posts/1647690169452

PANDANGAN IMAM SYAFII TENTANG SAHAABT NABI SAW

Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais

• Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Allah telah memuji para Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam al-Qur’an, Taurat dan Injil. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memuji keluhuran mereka, sementara untuk yang lain tidak disebutkan. Maka semoga Allah merahmati mereka, dan menyambut mereka dengan memberikan kedudukan yang paling tinggi sebagai shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.

Mereka telah menyampaikan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita. Mereka juga telah menyaksikan turunnya wahyu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya, mereka mengetahui apa yang dimaksud oleh Rasulullah, baik yang bersifat umum maupun khusus, kewajiban maupun anjuran. Mereka mengetahui apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui tentang sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka di atas kita di dalam segala hal, ilmu dan ijtihad, kehati-hatian dan pemikiran, dan hal-hal yang diambil hukumnya. Pendapat-pendapat mereka, menurut kita, juga lebih unggul daripada pendapat-pendapat kita sendiri.” [24]

• Imam al-Baihaqi menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman bahwa ia mendengar Imam Syafi’i memandang Abu Bakar adalah yang paling utama di antara semua sahabat, kemudian Umar, Ustman dan kemudian Ali. [25]
• Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abdullah bin Abd al-Hakam, katanya, ia mendengar Imam Syafi’i berkata: “Manusia yang paling mulia sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman dan kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum.” [26]

• Imam al-Harawi meriwayatkan dari Yusuf bin Yahya al-Buwaiti, katanya, saya bertanya kepada Imam Syafi’i: “Apakah saya boleh shalat bermakmum di belakang orang Rafidhi (Syi’ah) ?” Beliau menjawab: “Jangan kamu shalat menjadi makmum orang Rafidhi, Qadari (penganut paham Qadariyah), dan penganut paham Murji’ah.” Saya bertanya lagi: “Apakah tanda-tanda mereka itu?” Beliau menjawab: “Orang yang berpendapat bahwa iman itu hanyalah ucapan saja, maka ia penganut paham Murji’ah. Orang yang berpendapat bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan imam umat Islam adalah penganut paham Rafidhah. Dan orang yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kehendak mutlak dan dapat menentukan nasibnya sendiri, ia adalah penganut paham Qadariyah.” [27]

[24] Manaqib Imam asy-Syafi’i, I/442
[25] Ibid
[26] Ibid, I/433
[27] Dzamm al-Kalam, lembar 215. adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, X/31

Referensi: Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi'i dan Ahmad)
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&parent_id=1982&parent_section=kj072&idjudul=1973

Pendapat para ulama tentang Syiah Rafidhah.

Pendapat para ulama tentang Syiah Rafidhah.

Ibn Hajar berkata:1 "Pelaku bid'ah itu ada yang menjadi kafir dan fasiq. Bahwa perbuatan bid'ah ada yang menjadikan pelakunya kafir, ini disepakati oleh para ulama. Misalnya, (bid'ah) pada ajaran Rafidhah ekstrim. Sebagian Rafidhah meyakini bahwa Tuhan telah mengambil tempat pada diri 'Ali dan lainnya. Menurut mereka, 'Ali akan kembali ke dunia sebelum hari kiamat.
Syi'ah Imamiyah, juga meyakini kebangkitan kembali Imam Muhammad ibn Hasan al-Askari berikut para pendukung maupun musuhnya, sebelum hari kiamat. Mereka ini tergolong kaum Rafidhah ekstrim yang dipandang kafir lantaran bid'ahnya, dan karenanya, riwayat mereka ditolak."Dr. Musthafa as-Siba'i, dalam buku as-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri' al-Islami, mengutip tulisan Imam 'Abd al-Qadir al-Baghdadi dalam buku al-Farq bayn al-Firaq sebagai berikut:2
"Satu hal yang cukup jelas bagi saya, bahwa ulama al-Jarh wat-ta'dil menolak riwayat pembid'ah apabila (hadits) yang diriwayatkan itu sesuai dengan ajaran bid'ahnya. Para ulama juga menolak riwayat orang yang membolehkan dusta, misalnya untuk membuat hadits palsu sesuka hati. Karena itu ulama al jarh wat-ta'dil menolak riwayat kaum Rafidhah. Tetapi, para ulama itu menerima riwayat sebagian orang Syi'ah yang dikenal jujur (shidq wa amanah)."
Ma'mal ibn Ihab mengaku mendengar Yazid ibn Harun berkata, "Aku mencatat (riwayat) dari pembid'ah walaupun ia mempromosikan bid'ahnya, kecuali riwayat kaum Rafidhah yang suka berdusta"3
Hammad ibn Salamah bercerita tentang seorang guru Rafidhah yang berkata: "Bila kami sedang berkumpul, dan melihat sesuatu yang kami pandang baik, maka langsung itu kami jadikan sebuah hadits."5
Menurut Abul Qasim ath-Thabari, Imam Syafi'i pernah berkata begini, "Aku tak pernah melihat orang yang paling suka memberikan kesaksian palsu, lebih daripada kaum Syiah Rafidhah."6Selain itu, banyak lagi pernyataan-pernyataan yang senada. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak, silahkan membaca buku Minhaj as-Sunnah dan al-Muntaqa,

Catatan Kaki:
1. Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2, hal. 143.
2 .As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri' al-Islami, hal. 93, 94.
3 .Minhaj as-Sunnah, juz 1, hal. 13.
4. Idem.
5. Idem.
6. Idem.

http://www.hujahsunnah.page.tl/Pendapat-Para-Ulama-tentang-Syiah-Rafidhah-.-.htm

Pandangan Asy-Syafi’I terhadap Syiah

Pandangan Asy-Syafi’I terhadap Syiah

Sebagaimana telah diketahui tentang pemikiran dan aqidah syi’ah yang telah dibahas pada artikel lalu. Dalam masalah pemikiran dan keyakinan yang Syi’ah miliki maka imam Syafi’I tidak sependapat dengan mereka, disebabkan beberapa hal yang patut diingat dalam pembahasan ini yaitu:

1/ Imam Syafi’I meriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyaynah bahwa rasulullah SAW bersabda: ikutilah dua sahabat sesudahku yaitu Abu Bakr dan Umar.

2/ Ar-Rabi’ meriwayatkan bahwa Imam Syafi’I berkata “khalifah itu ada lima, empat sudah terkenal [ Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali] dan yang kelima adalah Umar bin Abdul Aziz, karena ketegasan dalam menegakan keadilan dan riwayatnya yang sangat harum.

3/ Harmalah meriwayatkan bahwa imam Syafi’I berkata “Setiap orang Quraisy yang berhasil memegang tongkat khilafah [kepemimpinan] walaupun dengan pedang maka ia adalah khalifah yang sah.

4/ ketika imam Syafi’I ditanya oleh salah satu pengikut golongan Syi’ah “Hanya kamu wahai Syafi’I dari keturunan Bani Hasyim yang lebih mengutamakan kepemimpinan Abu Bakr dan Umar ketimbang kepemimpinan Ali.” Syafi’I menjawab “Ali RA adalah anak dari paman dan bibiku dan aku adalah keturunan Abd Manaf, akan tetapi dalam hal kepemimpinan maka tidak dapat dipandang dari segi itu, bila kita pandang dari segi itu, maka Alilah yang menjadi orang yang paling berhak. Akan tetapi kepemimpinan dalam islam bukan seperti itulah caranya.

Jelas sudah bahwa imam Syafi’I adalah orang yang sangat realistis dan objectif dalam memandang setiap permasalahan dan menemukan pemecahannya.

Patut diketahui bahwa perkataan dan pendangan Syafi’I ini jelas membantah tuduhan orang-orang yang mengira dan menuduh beliau sebagai pengikut Syi’ah yang setia.

Sekian, Wallahu A’lam

Monday, January 2, 2012

Salah Faham K.H. Sirajuddin Abbas Terhadap Ibn Taimiyah Dalam Bukunya "Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah"

Salah Faham K.H. Sirajuddin Abbas Terhadap Ibn Taimiyah Dalam Bukunya "Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah"



Kertas kerja ini telah dibentang dan dikulliahkan di beberapa masjid di Perlis, di Selangor, di Johor, di Pulau Pinang dan di Pertubuhan Muhammadiyah Singapura. Pada mulanya kertas kerja ini ditulis, dibentang dan dikulliahkan atas permintaan beberapa orang ulama Perlis yang membantah tuduhan Sirajuddin Abbas di dalam bukunya “Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah”. Yang mana di dalam buku tersebut termuat beberapa fitnah, tuduhan yang tidak berasas, palsu, keterlaluan dan liar terhadap Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah.

Kemudian kertas kerja ini dikulliahkan semula di Singapura dan dibeberapa negari di Malaysia atas permintaan beberapa individu yang terlibat dengan kegiatan dakwah Islamiyah sama ada yang terdiri dari ahli-ahli jawatan kuasa masjid, pertubuhan atau badan NGO.

Antara tujuan kertas kerja ini diterbitkan ialah untuk membantu memperbaiki kesilapan serta kekeliruan pandangan kebanyakan masyarakat Islam Nusantara terhadap akidah dan sejarah hidup Ibn Taimiyah.

Semoga kertas kerja yang serba ringkas ini mampu memberi jawapan secara ilmiyah kepada mereka yang selama ini mempersoalkan atau tersalah anggap terhadap akidah Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, kerana pada hakikatnya beliau amat berpegang teguh kepada akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mengikut manhaj ulama Salaf as-Soleh.

بِسْـــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

اِنَّ الْحَمْدَ للهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرُوْرِ اَنْفُسِنَا ، وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَمُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَدِيَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .

{يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتَنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ} . اَمَّا بَعْدُهُ:

Salah Faham K.H. Sirajuddin Abbas

Terhadap Ibn Taimiyah Dalam Bukunya

“Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah”

Kertas kerja ini, bukanlah bertujuan untuk memperkata kan biodata atau kesilapan isi kandungan buku "Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah" tulisan K.H Sirajuddin Abbas, kerana tidak ramai dari kalangan umat Islam Nusantara mengenali beliau. Malah beliau langsung tidak dikenali oleh umat Islam antarabangsa. Namun, Ibn Taimiyah rahimahullah yang menjadi sasaran tuduhan dan fitnah Sirajuddin pula sebaliknya, khidmat dan perjuangan Ibn Taimiyah dengan pedang dan pena untuk membela Islam sangat dikenali dan diketahui oleh para ulama serta sebahagian besar umat Islam di seluruh dunia, sama ada di dunia Islam atau bukan Islam. Oleh yang demikian, tulisan ini hanya bertujuan mengkoreksi dan menyanggah tuduhan serta fitnah Sirajuddin terhadap Syeikhul Islam Ibn Taimiyah. Namun, bukanlah pula tujuan penulis untuk mengajak para pembaca supaya fanatik atau ghulu kepada Ibn Taimiyah. Penulis memulakan tulisan ringkas ini dengan membawakan sedikit biodata Ibn Taimiyah rahimahullah:

Ibn Taimiyah adalah seorang ulama besar, mujahid (berjuang dengan pedang, tulisan dan jiwa raganya), mujaddid (refomis) dan diberi julukan sebagai Syeikhul Islam oleh para ulama Salaf as-Soleh. Nama penuh beliau ialah Taqiyudin Abul Abbas Ahmad as-Syeikh Syihabudddin Abi al-Mohsin Abdulhalim ibn Syeikhul Islam Majdudin Abil Barakat Abdussalam Ibn Abi Muhammad Abdullah bin Abi al-Qasim al-Khadar bin Muhammad bin al-Khadar bin Ali bin Abdullah Ibn Taimiyah al-Harrani yang dinasabkan kepada Al-Harran di Negeri Syam.[1]

Ibn Taimiyah dilahirkan di Harran pada 590H. Menghafal al-Quran al-Karim, mendalami hadis dari pamannya Fahruddin dan beberapa orang ulama sehingga menjadi penghafal hadis (Ahli Hadis). Belayar mencari ilmu hingga ke Bagdad ibu negeri Khalifah Abbassiyah pada tahun 603H dan wafat pada 672H. di Bagdad.[2]

Ibn Taimiyah diiktiraf keilmuannya oleh para ulama Islam di serata dunia sehinggalah ke hari ini. Menghasilkan ratusan kitab yang tidak dipertikaikan dan mendapat pujian dari az-Zahabi rahimahullah: "Setiap hadis yang tidak diketahui oleh Ibn Taimiyah maka dia bukanlah hadis".[3] Di segi ilmu, beliau menerima dan mengguna pakai dalam fatwa-fatwanya ilmu-ilmu dari kesemua ulama Salaf terutamanya dari imam mazhab yang empat, dari pembesar hadis seperti Bukhari, Syafie, Tabari, al-Asbahani, al-Lalakai, Ibn Khuzaimah[4] (dan yang lain-lainnya).

Keilmuan Ibn Taimiyah terbukti telah diiktiraf (diakui kebenarannya) oleh para ulama Nusantara termasuklah oleh pakar-pakar rujuk Pusat Islam Malaysia dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Sebagai contoh:

1. Prof. Dr. Abdulfatah Harun Ibrahim dari Jabatan Usuluddin dan Falsafah, Fakulti Pengajian Islam UKM sebagaimana yang terdapat dalam nukilan takhrij hadis daripada Ibn Taimiyah dalam risalah "Martabat Tujuh Tajjali (Penampakan) Allah Melalui Tujuh Martabat (Lapisan). Risalah ini diterbitkan oleh JAKIM. Lihat cetakan pertama. l998. Hlm. 4.

2. Risalah Mengenal Hadis Maudhu' oleh penel Bahagian Penyelidikan Islam, Jakim. Cetakan pertama. l998. Hlm 55-71. Wan Subki Wan Salleh. Kolej JAIPETRA, Kelantan dalam artikel "Usaha-Usaha Ulama Mendedahkan Hadis Palsu".

3. Al-Hadis al-Qussos, susunan Ibn Taimiyah dijadikan sebagai kitab rujukan dalam membongkar hadis-hadis palsu yang terbesar di kalangan umat Islam (Risalah: Mengenal Hadis Maudhu' oleh Penel Bahagian Penyelidikan Islam, JAKIM. Cetakan pertama. l998. Hlm. 20.

4. Anak murid Ibn Taimiyah yang terkenal seperti Ibn Kathir dan Ibn Qaiyim al-Jauzi diiktiraf sebagai ulama tafsir dan akidah oleh masyarakat Islam Malaysia. Contohnya: Prof. Madya Dr. Huda @ Udah bin Mohsin, UKM menukil dalam rujukan nota kakinya dari kitab tulisan Ibn Qaiyim al-Jauzi. Lihat: "CONTOH-CONTOH HADITH PALSU". Hlm. 43.

Sememangnya penulis merasakan amat berkewajipan dan perlu menulis, membentang dan mengenengahkan kertas kerja ini lantaran permintaan dari beberapa orang yang telah membaca buku K.H Sirajuddin Abbas: "Akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah". Terutama para ulama dari Negeri Perlis yang amat peka dengan mereka yang memusuhi dan ingin menghancurkan amalan dan akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah yang berpegang dengan manhaj Salaf as-Soleh. Mereka meminta agar penulis mengkoreksi beberapa kesilapan K.H Sirajuddin Abbas tentang fitnah dan tuduhannya terhadap pejuang sunnah iaitu Syeikhul Islam Ibn Taimiyah yang dimuatkan di dalam buku beliau.

Di dalam kertas kerja ini, penulis mencuba sedaya upaya membetulkan tuduhan dan fitnah tersebut. Diharap para Muslimin/Muslimat terutama yang mengikuti kulliah atau menghadiri pembentangan kertas kerja ini serta para pembaca yang budiman dapat sama-sama membuka minda dan berlapang dada dengan rasa keikhlasan supaya mendapat manfaat dari pengkoreksian ini.

Tuduhan K.H. Sirajuddin (1)

K.H. Sirajuddin dengan mudah menghukum sesat Syeikhul Islam Ibn Taimiyah mungkin lantaran ketidak fahaman, belum membaca atau tidak meneliti dengan cermat kitab-kitab Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, sehingga penjelasan beliau yang berdasarkan al-Quran, hadis, athar yang sahih serta fatwa para ulama muktabar bahawa Tuhan mempunyai muka, tangan, mata, rusuk dan bersemayam (istiwa), semuanya itu tidak pernah mencernai lubuk hati K.H. Sirajuddin, lantas beliau menyesatkan Ibn Taimiyah dan pastinya menyesatkan juga semua ulama Salaf as-Soleh yang sefahaman dengan Ibn Taimiyah.

K.H. Sirajuddin juga menyesatkan Ibn Taimiyah kerana beliau menyatakan bahawa Tuhan (Allah) berada di langit atau bertempat, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas, Tuhan mempunyai jari, mempunyai tangan, mempunyai tumit kaki, mempunyai tangan kanan, mempunyai nafas, turun-naik dan Tuhan itu "masa". Bersebab dari kenyataannya ini maka K.H. Sirajuddin menamakan Ibn Taimiyah sebagai kaum Mujassimiyah atau Musyabbihah yang sesat.[5]

Penjelasan (1)

Pada hakikatnya bukan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah seorang sahaja yang menyatakan bahawa Tuhan mempunyai muka, mempunyai tangan, mempunyai mata, mempunyai jari, berada di langit (bertempat) serta mempunyai sifat-sifat lain yang paling sempurna dan layak bagiNya, oleh itu beliau tidak boleh dihukum sesat oleh K. H. Sirajuddin dan oleh mereka yang terpengaruh dengan fahaman K.H. Sirajuddin.

Dalam hal ini, fahaman, pegangan dan amalan Ibn Taimiyah adalah berdasarkan fahaman para sahabat, tabi'in, tabi’ut at-tabi’in dan semua para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh, kerana kenyataannya beliau bersefahaman, sependapat dan seakidah dengan mereka. Antara mereka yang jelas semanhaj (sefahaman dan seakidah) dengan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah ialah:

(1). Imam al-Auza'ii yang dianggap Imam ahli Syam di zamannya. Beliau telah menegaskan:

كُنَّا وَالتَّابَعُوْنَ مُتَوَافِرُوْنَ نَقُوْلُ : انَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ وَنُؤْمِنُ بِمَا وَرَدَتْ بِهِ السُنَّةَ مِنْ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى.



"Kami dan para Tabi'in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul kami bahawa: Sesungguhnya Allah di atas 'ArasyNya dan kami beriman dengan apa yang telah dinyatakan oleh Sunnah berkenaan sifat-sifat Allah Taala".[6]

(2). Imam Abu Hasan Al-Asy'ari rahimahullah, yang dikenali sebagai Imam Ahli sunnah wal-Jamaah, beliau telah menegaskan bahawa al-Quran bukan makhluk dan diturunkan oleh Allah yang berada di langit dan beliau seterusnya menjelaskan:

"Allah mempunyai sifat, mempunyai tangan, bersemayam di atas ArasyNya dan mempunyai muka. Al-Quran itu Kalamullah bukan makhluk dan al-Quran diturunkan dari langit".[7]



(3). Imam as-Syafie rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Talib setelah beliau ditanya tentang sifat Allah):



وَاَنَّ لَهُ يَدَيْنِ بَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ) وَاَنَّ لَهُ يَمِيْنًا بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ (وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَات بِيَمِيْنِهِ) وَاَنَّ لَهُ وَجْهًا بِقَوْلِهِ (كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَه)...وَاَنَّ لَهُ قَدَمًا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ (حَتَّى يَضَعَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْهَا قَدمَهُ)... وَاَنَّ لَهُ اُصْبُعًا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَا مِنْ قَلْبٍ اِلاَّ هُوَ بَيْنَ اُصْبُعَيْنِ مِنْ اَصَابِعِ الرَّحْمَن).... نُثبِتُ هَذِهِ الصِّفَات وَنَنفِي التَّشْبِيْه كَمَا نفِى ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ فَقَالَ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ).


"Dan bagiNya dua tangan sebagaimana firmanNya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. BagiNya tangan sebagaimana firmanNya: Dan langit digulung dengan tangan kananNya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firmanNya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali WajahNya. Baginya kaki sebagai sabda Nabi saw: Sehinggalah Dia meletakkan wajah dan KakiNya. Dia Mempunyai jari sebagaimana sabda Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan dari menyerupakan sebagaimana dinafikan sendiri oleh Allah sebagaimana difirmankan: (Tiada sesuatu yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)".[8]



Beliau (Imam Syafie) seterusnya menjelaskan:



"Dan Allah Ta'ala di atas 'ArasyNya (Dan 'ArasyNya) di langit".[9]



Imam Syafie seterusnya menjelaskan lagi:


"Kita menetapkan sifat-sifat (Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh al-Quran dan yang warid tentangNya dari sunnah, kami menafikan tasybih (penyerupaan) tentangNya kerana dinafikan oleh diriNya sendiri sebagaimana firmanNya (Tiada sesuatu yang semisal denganNya)".[10]



Imam Syafie telah menjelaskan juga tentang turun naiknya Allah:



وَاَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.



"Sesungguhnya Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam".[11]

Imam Syafie dan Ibn Taimiyah, mereka berdua ada kesepakatannya dalam meyakini tentang turun-naiknya Allah. Mereka berlandaskan kepada sabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam:



يَنْزِلُ رَبُّنَا اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِي فَاَسْتَجِيْبَ لَهُ ، مَنْ يَسْاَلُنِيْ فَاعْطِيْهِ ، مَنْ يَسْتَغفرُنِيْ فَاَغْفِرلَهُ.



"Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: Sesiapa yang berdoa akan Aku perkenankan, sesiapa yang meminta akan Aku tunaikan dan sesiapa yang meminta keampunan akan Aku ampunkan".[12]



(4). Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang bagaimana untuk kita mengetahui di mana Allah? Beliau menyatakan:



وَقِيْلَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ : كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا ؟ قَالَ : بَاَنَّهُ فَوْقَ السَّمَآءِ السَابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ



"Ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita boleh mengetahui di mana Tuhan kita? Beliau menjawab: Dengan mengetahui bahawa Dia di atas langit ketujuh di atas Arasy".[13]

Di sebuah hadis sahih, Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam mengakui dan menerima penjelasan seorang hamba bahawa Allah itu di langit, tetapi kita tidak tahu bagaimana K.H Sirajuddin boleh menolak hakikat dan kenyataan hadis sahih ini:

قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّلَمِي : وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحُدٍ وَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَاِذَا بَالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ اَسَفَ كَمَا يَاْسِفُوْنَ . لَكِنَّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَ اَعْتِقُهَا ؟ قَالَ : اِئْتِنِيْ بِهَا . فَقَالَ لَهَا : اَيْنَ اللهُ ؟ قَالَتْ : فِى السَّمَاءِ . قَالَ : مَنْ اَنَا ؟ قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ . قَالَ : اَعْتِقُهَا فِاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.



"Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku., Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya" Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah" Dijawabnya: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku" Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah wanita ini, kerana dia adalah seorang mukminah".[14]

Dalam satu riwayat hadis mutaffaq 'alihi, bahawa Allah itu "ad-Dahr" atau "masa". Namun, bagaimana K.H. Sirajuddin Abbas menafikannya. Sabda Rasulullah ini:

لاَ تَسُبُّوْا الدَّهْرَ فَاِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ.

"Janganlah kamu maki ad-dahr (masa), kerana sesungguhnya Allah itu adalah Masa"[15]

Tuduhan K.H. Sirajuddin (2)

Tanpa fakta yang konkrit dan betul K.H. Sirajuddin cuba menuduh dan terus memfitnahkan bahawa beliau (Syeikhul Islam Ibn Taimiyah) terpengaruh dengan fahaman kaum Musyabbihah dan Mujassimiyah yang sesat, kerana kononnya Ibn Taimiyah menyerupakan Tuhan dengan makhlukNya. Tuduhan dan fitnah K.H. Sirajuddin ini telah mempengaruhi ramai kaum muslimin yang jahil tentang siapakah Syeikhul Islam Ibn Taimiyah yang sebenarnya. Tuduhan dan fitnah ini telah ditangkis dan diperbetulkan oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah.

Penjelasan (2)

Pada hakikatnya, boleh dianggap mustahil untuk ditolak dan dinafikan bagi sesiapa yang mengkaji kesemua kitab-kitab yang memperkatakan tentang akidah hasil tulisan Ibn Taimiyah, yang mana ternyata Ibn Taimiyah amat menentang dan memerangi dengan keras, tegas dan serius semua fahaman sesat termasuklah Musyabbihah dan Mujassimah. Ini dapat dibuktikan melalui tulisannya sebagimana dinyatakan oleh beliau sehingga berulang kali:

مِنَ اْلاِيْمَانِ بِاللهِ : اَلاِيْمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفَسَهُ مِنْ غَيْرِتَحْرِيْفِ فِى كِتَابِهِ ، وَبِمَا وَصَفَ بِهِ رَسُوْلَهُ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيْفِ وَلاَ تَعْطِيْل وَغَيْرِ تَكْيِيْفِ وَلاَ تَمْثِيْلِ بَلْ يُؤْمِنُ بِاَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ).



"Beriman kepada Allah ialah beriman dengan apa yang disifatkannya sendiri (oleh Allah) tanpa tahrif (tidak merubah lafaz dan maknanya) mengikut sebagaimana di dalam kitabNya, mengikut sebagaimana disifatkan oleh RasulNya tanpa tahrif, ta'til (meniadakan sifat Ilahiyah, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada ZatNya), tanpa takyif (diperbagaimana) dan tanpa tamsil (memisalkan dengan makhluk), sebaliknya beriman bahawa Allah Subhanahu wa-Ta’ala (Tiada sesuatu yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)".[16]

Sebenarnya Ibn Taimiyah telah mengklasifikasikan Musyabbihah dan Mujassimah sebagai golongan yang kufur dan sesat. Maka bagaimana K.H. Sirajuddin menamakan Ibn Taimiyah sebagai kaum Musyabbihah dan Mujassimiyah? Ibn Taimiyah pernah berkata tentang golongan yang berjaya (selamat ke syurga) dan menolak golongan sesat seperti golongan Musyabbihah:

"Fahaman (yang selamat ialah) yang pertengahan, bukan golongan Jahmiyah yang menta'til (sifat Allah) dan bukan juga golongan ahli tamsil seperti Musyabbihah".[17]

Penjelasan Ibn Taimiyah ini tidak dapat dinafikan oleh mereka yang rajin meneliti dan mengkaji kitab-kitab tulisan beliau. Tetapi K.H. Sirajuddin telah membuat tuduhan melulu kerana beliau tidak meneliti kitab Syeikhul Islam ini yang ratusan jumlahnya.

Tuduhan K.H. Sirajuddin (3)

Menurut kenyataan dan tuduhan K.H. Sirajuddin bahawa Syeikhul Islam Ibn Taimiyah menentang imam yang empat, sombong, menuduh para ulama semuanya penganut khurafat dan bid'ah. K.H. Sirajuddin mengaitkan nenek dan bapa Ibn Taimiyah dengan kesilapan Ibn Taimiyah yang direka-reka oleh musuh Islam dan akhirnya K.H. Sirajuddin menuduh Ibn Taimiyah sombong hanya kerana tidak pernah berhenti memerangi bid'ah dan khurafat.

Penjelasan (3)

Kalau orang-orang yang berfahaman seperti K.H. Sirajuddin mampu meneliti dan mengkaji semua kitab-kitab hasil tulisan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, pasti mereka merasa malu kerana pada hakikatnya Ibn Taimiyahlah salah seorang yang telah mempertahankan, memperjuangkan dan mengimarahkan (menghidupkan) semula ajaran-ajaran sebenar para Imam yang empat. Para pengikut mazhab-mazhab tersebut hanya mendakwa mengikut mazhab yang diakuinya, tetapi rata-rata hanya bertaklid, menerima dan mengamalkan pendapat para ulama yang menasabkan ajarannya kepada mereka (imam mazhab yang empat), sedangkan pada hakikatnya mereka bukan bermazhab dengan sang Imam kerana terlalu banyak meninggalkan, menentang dan melanggar fatwa si Imam.

Contohnya, pengikut mazhab Syafie bermati-matian mengaku sebagai bermazhab dan bertaklid dengan Imam Syafie, tetapi ternyata (seperti Sirajuddin salah seorang dari mereka) tidak secara langsung dan mungkin tanpa disedarinya telah menentang Imam Syafie. Misalnya, Imam Syafie dan Imam Ibn Taimiyah menentang khurafat tariqat sufi falsafi, tasawuf dan tariqat kebatinan sebagaimana kenyataan dari Imam Syafie:

اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ وَلَوْ تَصَوَّفَ رَجُلٌ اَوَّلَ النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْرَ اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَقُ.



"Tasawuf dibina di atas kemalasan, jika sekiranya seseorang itu menganut tasawuf di awal siang (pagi), tidak akan sempat sampai ke waktu Zuhur, dia sudah jadi bodoh (biul/goblok)".[18]



مَنْ يَدِيْنُ بِهَذَا (التَّصَوُّف) فَهُوَ زِنْدِيْقٌ اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَقٍّ صُوْفِيّ فَالصُّوْفِيُّ مَرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ الاِيْمَان الْحَق.



“Sesiapa yang menganut agama ini (sufi) maka dia seorang yang zindik atau dengan kata lain dia adalah sufi yang zindik, maka fahaman sufi samalah seperti setiap fahaman yang menentang keimanan yang hak”.

Imam Syafie amat benci kepada kezindikan sufi lalu beliau berkata:

“Saya lari meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan”.

Berkata Hasan al-Basri rahimahullah:

أما عَلِمْتَ اَنَّ اَكْثَرَ اَصْحَابُ النَّارِ اَصْحَابُ اْلاَكْسِيةِ ؟ (اَلتَّصَوُّفِ).

"Tidakkah engkau ketahui sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka ialah penganut sufi/tasawuf?".[19]

Tidakkah K.H. Sirajuddin dan mereka yang sefahaman dengannya dapat menerima hakikat kenyataan Imam Syafie ini. Imam Syafie dengan tegas mengharamkan akidah dan pengamalan sufi/tawasuf?

Tuduhan K.H. Sirajuddin (4)

Seterusnya menurut tuduhan K.H. Sirajuddin Abbas: Seolah-olah ia (Ibn Taimiyah rahimahullah) mengatakan bahawa ia sahajalah yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, sedang ulama-ulama yang terdahulu daripadanya dianggap penganut khurafat dan bid'ah.

Penjelasan (4)

Tuduhan K.H. Sirajuddin yang keterlaluan ini sama sekali tidak berasas, kerana kitab-kitab besar hasil tulisan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah terutamanya yang terhimpun dalam kitab seperti "Majmu' Fatawa" yang berjumlah 37 jilid dipenuhi dengan nukilan qaul-qaul (fatwa-fatwa) para ulama terdahulu seperti Syafie, Maliki, Hanafi, Hambali dan termasuklah dari para ulama muktabar dari kalangan ulama akidah, ahli tafsir dan para ulama hadis. Sesiapa yang telah membaca dan merujuk kepada kitab-kitab Ibn Taimiyah tidak akan menafikan hakikat dan kenyataan ini.

K.H. Sirajuddin ternyata membuat tuduhan dan fitnah sebelum mengenal, mengetahui, memahami dan memutalaah (mengkaji) kitab-kitab akidah hasil tulisan Syeikh Ibn Taimiyah. Ini adalah suatu kesilapan dan aib yang besar. Amat perlu kita ketahui bahawa apabila seseorang ulama menegah dan banyak memperkatakan kemungkaran bid’ah dan kefasikan yang berlaku di zamannya, ini bukanlah bermakna semua ulama di zaman itu telah dibid’ahkan atau dianggap fasik oleh ulama tersebut. Maka itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah rahimahullah.

Tuduhan K.H. Sirajuddin (5)

K.H. Sirajuddin menuduh bahawa Ibn Taimiyah memaklumkan perlawanan (penentangannya) kepada orang-orang Islam yang menganut dan bertaqlid dalam furu' syariat kepada mazhab yang empat. Kononnya menurut K.H. Sirajuddin lagi bahawa ia (Ibn Taimiyah) menganjurkan agar setiap orang berijtihad sendiri.

Penjelasan (5)

Pada hakikatnya bukan Syeikhul Islam Imam Ibn Taimiyah seorang sahaja yang melarang orang yang berakal, berilmu, beriman dan bertakwa dari bertaqlid buta kepada mana-mana Imam mazhab yang ada, tetapi semua ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh termasuk Imam Syafie, Maliki, Hanafi, Hambali, Sufiyah ath-Thauri dan yang lain-lainnya semua mereka melarang dari bertaqlid buta. Mereka telah menjelaskan:

قَالَ اْلاِمَامُ الشَّـافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : كُلُّ مَا قُلْتُ وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفُ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِحْ ، فَحَدِيْثُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَوْلَى وَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ.



"Berkata Imam Syafie rahimahullah Ta'ala: Setiap apa yang telah aku katakan dan ada perkataanku itu yang bertentangan dengan (hadis) yang sahih, maka hadis Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam adalah lebih diutamakan dan janganlah kamu sekalian bertaqlid denganku".[20]



وَقَالَ اَيْضًا : مَنْ قَلَّدَ مُعَيَّنًا فِى تَحْرِيْمِ شَيْءٍ اَوْ تَحْلِيْلِهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِى الْحَدَيْثِ الصَّحِيْحِ عَلَى خِلاَفِهِ وَمَنْعِهِ تَقْلِيْدِ عَنِ الْعَمَلِ بِالسُّنَّةِ فَقَدْ اتِّخَذَ مَنْ قَلَّدَهُ رَبًّا مِنْ دُوْنِ اللهِ تَعَالَى.



“Imam as-Syafie berkata lagi: Sesiapa yang bertaqlid pada sesuatu dalam pengharaman sesuatu atau penghalalannya sedangkan telah nyata hadis sahih yantg bertentangan dengannya dan menegah dari bertaqlid kerana diperintahkan (diwajibkan) beramal dengan sunnah, maka dia telah mengambil orang yang ditaqlidkan itu sebagai Tuhan selain Allah Subhanahu wa-Ta'ala".[21]



قَالَ اْلاِمَامُ اَحْمَدُ بْنُ حَنْبَل رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : لاَ تُقَلِّدْ دِيْنَكَ اَحَدًا مِنْ هَؤُلاَءِ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخُذْ بِهِ ، ثُمَّ التَّابِعِيْنَ بَعْدَ الرَّجُلِ فِيْهِ مُخَيَّرٌ.



"Berkata Imam Ahmad bin Hambal: Dalam agamamu janganlah engkau bertaqlid dengan sesiapapun dari mereka-mereka. Apa yang datang dari nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam maka ambillah olehmu, kemudian ambil dari para tabiin, adapun orang-orang yang sesudahnya diberi pilihan sama ada diambil atau ditinggalkan".[22]



قَالَ اْلاِمَامُ اَحْمَدُ : لاَ تُقَلِّدُونِيْ وَلاَ مَالِكًا وَلاَ اَبَا حَنِيْفَةً وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلاَوْزَعِيْ وَلاَ الثَوْرِيِّ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى وَخُذْ مِنْ حَيْثُ اَخَذُوْا.



"Janganlah kamu bertaqlid kepadaku, janganlah bertaqlid kepada Malik, Abu Hanifah, Syafie, Auzaii dan Thauri rahimahumullah Ta’ala. Ambillah dari mana (atau sebagaimana) mereka mengambil".[23]



قَالَ ابْنُ حَزَمُ : اِنَّ الْفُقَهَاءَ الَّذِيْنَ قلدُّوْا مبطلوْنَ لِلتَّقْلِيْدِ وَاَنَّهُمْ نُهُوْا اَصْحَابَهُمْ عَنْ تَقْلِيْدِهِمْ ، وَكَانَ اَشَدُّهُمْ فِى ذَلِكَ الشَّافِعِي.



"Berkata Ibn Hazam: Sesungguhnya para fukaha yang menjadi ikutan mereka membatalkan pentaqlidan kepada mereka dan sesungguhnya mereka menegah para pengikutnya dari bertaqlid kepada mereka. Dan yang paling kuat menentang (perbuatan bertaqlid) ialah as-Syafie".[24]



وَقَالَ عَلِيُّ حَسَنُ بْنُ عَبْدُ الْحَمِيْد : وَمَنْ لَمْ يُفرِق التَّقْلِيْدِ لَمْ يَكُنْ لِعِلْمِهِ كَثِيْرُ فَائِدَةٍ.



"Berkata Ali Hasan bin Abdul Hamid: Sesiapa yang tidak meninggalkan taqlid maka pada ilmunya tidak akan memberi banyak faedah".[25]



قَالَ سَنَدُ بْنُ عَنَانُ رَحِمَهُ اللهُ : اعْلَمْ اَنَّ مُجَرَّدَ اْلاِقْتِصَارِ عَلَى مَحْضِ التَّقْلِيْدِ لاَ يَرْضَى بِهِ رَجُلٌ رَشِيْدٌ وَاِنَّمَا هُوَ شَاْنُ الْجَاهِلِ الْبَلِيْدِ اَوْ الْغَبِيِّ الْعَنِيْدِ.



"Berkata Sanad bin Anan rahimahullah: Ketahuilah sesungguhnya hanya dengan mengambil jalan mudah sehingga mendorong bertaqlid adalah tidak digemari oleh seorang lelaki yang bijaksana. Sesungguhnya (bertaqlid) adalah cara seorang yang bodoh lagi bebal dan si tolol yang keras kepala".[26]



اَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى اَنَّ الْمُقَلِّدَ لَيْسَ مَعْدُوْدًا مِنْ اَهْلِ الْعِلْمِ وَاَنَّ الْعِلْمَ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ بِدَلِيْلِهِ.



"Manusia telah sepakat bahawa para muqallid tidak terhitung sebagai kalangan ahli ilmu, bahawasanya ahli ilmu mengenali kebenaran melalui dalilnya".[27]

Kalau dibaca kitab-kitab hasil tulisan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, tidak akan terdapat walaupun satu kenyataan atau kaul dari Ibn Taimiyah yang menganjurkan agar semua orang berijtihad terutamanya orang awam yang tidak berilmu. Malah Ibn Taimiyah mensyaratkan beberapa syarat kepada mereka yang mahu berijtihad sebagaimana juga yang disyaratkan oleh Imam Syafie rahimahullah dan para imam yang lain, maka bagaimana K.H. Sirajuddin boleh membuat tuduhan palsu seperti ini?

Tuduhan K.H. Sirajuddin (6)

Menurut tuduhan dan fitnah K.H. Sirajuddin Abbas yang seterusnya bahawa kononnya Syeikh Ibn Taimiyah telah mengatakan:

"Duduknya Tuhan di atas ‘Arasy sama dengan duduknya Ibn Taimiyah di atas kursinya dan turunnya Tuhan dari langit sama seperti turunnya Ibn Taimiyah dari mimbar dan Tuhan itu dilihat (di sebelah) atas, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas”.

Penjelasan(6)

Tuduhan K.H. Sirajuddin sebagaimana yang diungkapkan di atas diulang berkali-kali, seolah-olah supaya ianya diberi perhatian oleh pembaca. Namun, K.H. Sirajuddin tidak berhati-hati dan tidak ilmiyah dalam penukilannya sehingga menjadi tuduhan palsu dan fitnah yang keterlaluan serta diada-adakan. Apa yang diketengahkan oleh beliau hanyalah tuduhan yang merujuk kepada buku "Rahlah Ibnu Bathuthah".

Menurut K.H. Sirajuddin (kononnya) Ibnu Bathuthah mendengar dan melihat sendiri kejadian Ibn Taimiyah berkata dan melakukan sebagaimana yang didakwakannya, iaitu: "Turunnya Tuhan sama seperti turunnya beliau dari mimbar".

Ada dua alasan yang kuat untuk membantah, menolak dan membatalkan tuduhan K.H Sirajuddin yang penuh dengan penipuan dan fitnah ini, iaitu:

Pertama: Memang Ibn Taimiyah sehingga ke hari ini masih dituduh sebagai Penyerupa Allah dengan makhlukNya atau Mujassimah, sedangkan terlalu banyak bukti penentangan Ibn Taimiyah terhadap kaum Musyabbihah dan Mujassimiyah sebagaimana penolakan beliau terhadap golongan Qadariyah, Jahmiyah, Muktazilah.[28] Amat mustahil orang yang menentang kaum-kaum yang sesat seperti Ibn Taimiyah akan menerima fahaman sesat yang sangat ditentang dan dibencinya.



Sebenarnya Ibnu Bathutah tidak pernah mendengar malah tidak pernah menghadiri majlis-majlis ilmu yang disampaikan oleh Ibn Taimiyah. Menurut catitan sejarah, sampainya Ibnu Bathuthah di Damsyik pada hari Khamis 9hb Ramadan 727H. Ibn Taimiyah dimasukkan ke penjara Damsyik pada awal bulan Sya'ban ditahun yang sama (727H). Tercatit dalam sejarah bahawa Ibn Taimiyah wafat pada malam Ithnin 20hb Zulqaidah 728H.



Timbul persoalan, bagaimana Ibnu Bathutah boleh melihat Ibn Taimiyah menyampaikan ilmu di atas mimbar Jamek dan boleh mendengar majlis ilmunya sedangkan setibanya Ibnu Bathutah di Damsyik Ibn Taimiyah telah dimasukkan ke dalam penjara?[29]



Kedua: Ibn Taimiyah tidak pernah menyampaikan ilmunya di atas mimbar Jamek sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Bathutah: "Aku menghadiri majlisnya pada hari Jumaat, dia sedang menyampaikan ilmunya di atas mimbar Jamek". Malah Ibn Taimiyah tidak pernah berkhutabah di atas mimbar walaupun Ibnu Bathuthah mendakwa: "Dia turun dari tangga-tangga mimbar".



Ketiga: Kebiasaannya Ibn Taimiyah hanya duduk di atas kerusi semasa beliau menyampaikan pelajarannya.



Keempat: Sebenarnya Ibnu Bathutah tidak pernah menulis tentang pelayarannya dengan tangannya sendiri.[30]

K.H. Sirajuddin tidak teliti dalam tuduhannya kepada Ibn Taimiyah, contohnya beliau menuduh Ibn Taimiyah menyerupakan istiwa Allah sebagaimana duduk bersilanya beliau, sedangkan sama sekali tidak terdapat di dalam kitab-kitab Ibn Taimiyah yang memaknakan istiwa sebagaimana yang didakwa oleh K.H Sirajuddin.

Dalam hal ini K.H. Sirajuddin tidak menyedari malah beliau menolak kenyataan dan fatwa para ulama Salaf as-Soleh bahawa Allah itu bertempat sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibn Taimiyah.

Para ulama Salaf sepakat/sependapat dan seakidah dengan Ibn Taimiyah iaitu: "Allah bersemayam di atas ArasyNya dan ArasyNya berada di atas langit". Ini bermakna Allah bertempat iaitu di langit sebagaimana penjelasan para ulama Salaf as-Soleh yang berikut ini:

(1). Berkata al-Imam Abu Hanifah rahimahullah: "Sesiapa mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya dia telah kafir. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi? Berkata al-Imam Abu Hanifah: Sesungguhnya dia telah kafir kerana Allah telah berfirman: Ar-Rahman di atas Arasy al Istiwa"[31].



(2). Berkata Al-Imam Malik rahimahulla:

"Allah berada di atas langit sedangkan ilmuNya di tiap-tiap tempat (di mana-mana), tidak tersembunyi sesuatupun daripadaNya"[32]



(3). Berkata al-Imam as-Syafie rahimahullah: "Sesungguhnya Allah di atas ArasyNya dan ArsyNya di atas langit"[33]



(4). Berkata al-Imam Ahmad Bin Hambal rahimahullah: "Benar! Allah di atas Arasy-Nya dan tidak sesiapapun yang tersembunyi daripada pengetahuanNya"[34]



(5). Athar Imam Ibnu Khuzaimah pula menjelaskan: "Barangsiapa tidak menetapkan Allah Ta'ala di atas ArasyNya dan Allah istiwa di atas tujuh langitNya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya".[35]



(6). Athar Syaikhul Islam Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menjelaskan: "Tidak boleh mensifatkanNya bahawa Ia berada di tiap-tiap tempat. Bahkan (wajib) mengatakan: Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas Arasy sebagaimana Ia telah berfirman: Ar-Rahman di atas Arasy, Ia beristiwa.[36] Dan patutlah memutlakkan sifat istiwa tanpa takwil, sesungguhnya Allah istiwa dengan ZatNya di atas Arasy. KeadaanNya di atas Arasy disebut pada tiap-tiap kitab yang Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya): Bagaimana caranya (Allah istiwa di atas Arasy-Nya)?"[37]



(7). Berkata al-Imam Abul Hasan al-Asy`ari rahimahullah: "Di atas langit-langit itulah Arasy, maka tatkala Arasy berada di atas langit-langit Allah berfirman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Sesungguhnya Ia istiwa (bersemayam) di atas Arasy yang berada di atas langit dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan 'As-Sama (langit), maka Arasy berada di atas langit. Bukanlah yang dimaksudkan di dalam firman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Bukan di seluruh langit! Tetapi ArasyNya yang berada di atas langit."[38]

Dari hujah-hujah di atas amatlah jelas, bahawa larangan mentakwil terhadap sifat-sifat Allah oleh Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, ianya nyata disepakati oleh seluruh ulama muktabar dari kalangan Imam-Imam mazhab fikeh dan akidah yang antara mereka ialah Maliki, Hambali, Hanafi, as-Syafie, Abu Hasan al-Asy’ari, Ibn Khuzaima dan lain-lainnya tetapi malangnya ditentang habis-habisan oleh K.H. Sirajuddin Abbas dan orang-orang yang sehaluan dengan beliau.

(8). Berkata pula Imam Ibnu Khuzaimah (dari kalaangan ulama as-Syafieyah):

"Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa-'Ala sesungguhnya Pencipta kami Ia beristiwa (bersemayam) di atas ArasyNya. Kami Tidak mengganti/mengubah kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (perbuatan kaum) yang menghilangkan sifat-sifat Allah seperti golongan Jahmiyah yang pernah berkata: Sesungguhnya Dia istawla (menguasai) ArasyNya bukan istiwa! (bersemayam). Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka, ini menyerupai perbuatan Yahudi tatkala diperintah mengucapkan: Hithtatun (Ampunkanlah dosa-dosa kami), tetapi mereka mengucapkan (mengubah): Hinthah (makanlah gandum)! Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi maka seperti itulah (perbuatan kaum) Jahmiyah".[39]

Dikhuatiri orang-orang yang mengubah Kalam Allah telah mewarisi perangai, perbuatan dan sikap orang-orang Yahudi. Yang paling ditakuti pula jika ditimpakan nasib yang sama sebagaimana nasib yang menimpa kepada kaum Yahudi di akhirat kelak, Na’uzubillah! Oleh itu, jauhilah sikap, perbuatan dan akidah Yahudi kerana Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka dia tergolong dari kaum itu”.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ، ثَبِّتْ قَلْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَطَعَاتِكَ

“Wahai Yang Membolak-balikkan hati! Tetapkanlah hati kami di atas agamaMu dan ketaatan kepadaMu”.

[1]. Lihat: Al-Fatawa al-Kubra, Jld. 1. (muqaddimah). Qaddama lahu wa-'arrafa bihi: Muhammad Makhluf. Dar al-Ma'rifah. Beirut.

[2]. Ibid.

[3]. Lihat: Muqaranah baina al-Gazali wa Ibn Taimiyah. Hlm. 22. Dr.Muhammad Rasyad Salim. Cetakan. 1395H -1975M. Ad-Dar as-Salafiyah.

[4]. Ibid.

[5]. Lihat: Keterangan Sirajuddin dalam bukunya "I'itiqad AhlussunahWal-Jamaah" hlm. 262-263.

[6]. Lihat: Fathul Bari. Jld. Hlm. 406. Ibn Hajar al-Asqalani. Dar Ihya at-Turath al-Arabi. Beirut.

[7]. Lihat: Iktiqad Aimatul hadis (اعتقاد ائمة الحديث) hlm. 50-51. Ismaili.

[8]. Lihat: Iktiqad Aimmah al-Arba'ah Abi Hanifah wa Malik wa as-Syafie wa Ahmad. Hlm. 46-47. Cetakan pertama. 1412 -1992. Darul'Asimah Saudi Arabia.

[9]. Lihat: Iktiqad Qimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa-Ahmad. Hlm. 40.

[10].Ibid. Hlm. 42.

[11].Ibid. Hlm. 47.

[12].H/R Bukhari (1141), Muslim (758), Abu Daud (4733), Turmizi (4393),Ibn Majah (1366) dan Ahmad (1/346).

[13].Lihat: As-Sunnah. Hlm. 5. Abdullah bin al-Imam Ahmad.

[14].H/R Muslim dan Abi Daud.

[15].H/R Bukhari dan Muslim.

[16].Lihat: Syarah al-Akidah al-Wasitiyah. Hlm. 17-19, Ibn Taimiyah.Cetakan ketiga. al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah al-Munawarah.Saudi Arabia.

[17].Lihat: Mujmal Iktiqad Aimatus Salaf. Hlm. 86, Dr. Abdullah binAbdulmuhsin at-Turky. Cetakan pertama. 1413 -1993. Muassasah ar-Risalah. Beirut.

[18].Lihat: Bahaya Tarikat sufi/Tasawuf Terhadap Masyarakat. Hlm. 30. Rasul Dahri. Cetakan pertama. 1998. Malaysia. Lihat: Talbisu al-Iblis. hlm. 159. Ditahqiq dan ditashih oleh paraulama al- Azhar as-Syarif kali kedua pada 1368H. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Beirut.

[19].At-Tasawuf. Hlm 21. Dr. Mustafa Hilmi. Dar ad-Dakwah. Al-Iskandariah.

[20].Lihat: اعلام الموقعين (17) Ibn Qaiyim al-Jauzi.

[21]:Lihat: Hal Muslim Mulzimun biittiba'i Mazhabun Mu'ayanun minalMazhaabil al-Arbah. Hlm. 69. Muhammad Sultan al-Maksumi

[22]:Lihat: Masail al-Imam Ahmad. Diriwayatkan oleh Abu Daud. Hlm.277.

[23].Ibid.

[24].Lihat: Al-Ahkam fi Usul al-Ahkam. (118). Tahqiq oleh AhmadMuhammad Syakir. Cetakan kedua. Dar al-Afaq al-Jadidah. Beirut.

[25].Lihat: 'Audah Ila Sunnah. Hlm. 36.

26. Lihat: Hal Muslim Mulzimun Fiitiba'i Mazhabun Mu'aiyan MinMazhabil Arba’a. Hlm. 70. Muhammad Sultan al-Maksumi.

[27].Lihat: Hal Muslim Mulzamun Fiittiba'i Mazhabun Mu'ayan MinalMazahabil Arba’. Muhammad Sultan al-Maksumi.

[28].Lihat: Syarah Hadis Nuzul. Hlm. 2. Zahir as-Syawisy. Cetakankelima. 1397H-1977M. Al-Maktab al-Islami. Beirut.

[29].Ibid. Hlm. 2.

[30].Ibid.

[31].Lihat: Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137. Imam Az-Zahabi. Tahqiq al-Albani.

[32].Ibid. Hlm. 140.

[33].Ibid. 179.

[34].Ibid. 188.

[35].Lihat: Ma'rifah Ulum al-Hadis. Hlm. 84. Riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh al-Hakim.

[36].Surah Taha, 5.

[37].LIhat: Fatawa Hamwiyah Kubra. Hlm. 84.

[38].Lihat: Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah. Hlm. 48.

[39].Lihat: Kitabut Tauhid fi ithbatis Sifat. Hlm. 101. Ibnu Khuzaimah.

http://rasuldahri.tripod.com/articles/kka1_satu.htm

Risalah ‘Amman, disanjung Ali Hasan tapi difatwa sesat oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizahullah

Risalah ‘Amman, disanjung Ali Hasan tapi difatwa sesat oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizahullah


Syaikh Ali Hasan Al-Halabi, siapa yang tak mengenalnya?

Siapa pula yang tak mengakui keilmuannya?

Ia dikenal pula sebagai seorang yang bagus hafalannya

Namun, siapa saja yang mengikuti perjalanan dakwah salafy dari masa ke masa pasti tahu, bahwa memang Syaikh Ali Hasan Al-Halabi tidak sedikit melakukan kesalahan….

Bukan baru-baru ini saja, sejak dari dulu kekeliruan-kekeliruan itu ia lakukan. Para ulama’ kibar rasanya terlalu sabar terus menasehati dia, Syaikh Rabi’, Syaikh Muhammad Hadi, dan selain keduanya…

Sampai-sampai Syaikh Muhammad bin Hadi ketika melihat bahwa Syaikh Ali terus menerus seperti itu, beliau mengatakan, “Ali la’ab (Ali ini main-main)” maksudnya main-main dengan hal manhaj dan aqidah. Tidak mau menerima nasehat para ulama’….

Kesalahan pun terus mengalir, dari memuji para gembong mubtadi’ seperti Abu Ishaq Al-Huwaini, Muhammad Hassan, dan selain mereka.

Tak cukup disitu, ia juga melecehkan para ulama’ kibar, dan menyamakan dirinya sama dengan para ulama’ kibar seperti Syaikh Rabi’ dan selain beliau..

Lebih dari itu, kita dikagetkan dengan pujian beliau di salah satu khutbahnya terhadap RISALAH ‘AMMAN, yaitu risalah tentang persatuan agama, walaupun ia mengingkari bahwa risalah itu bukan seruan penyatuan agama [lihat cuplikannya di sini ] …. la haula wala quwwata illa billah

Setelah itu, kekeliruannya dalam hal manhaj dan dalam meletakkan qa’idah manhaj ia tuangkan dalam buku terakhirnya manhaj salaf ash-shalih.

——–

Alhamdulillah, Kemudian tampillah Syaikh Dr. Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul Hafizhahullah Ta’ala menulis bantahan dan terhadap Ali Hasan Al-Halabi…., dan menjelaskan kekeliruanya dalam hal manhaj dal selainnya…

Barangsiapa yang ingin melihat lebih jauh kesalahan Syaikh Ali Al-Halabi bisa membaca buku beliau.. download disini http://www.2shared.com/file/7b-F-kPV/siyanatsalafisyaikhahmadbaz.htmlsalafisyaikhahmadbazmul.zip atau disini http://upload.ugm.ac.id/699siyanat.

Apa itu risalah Amman ???

Ali Hasan Al-Halabi menolak jika risalah ‘amman mengajak kepada persatuan agama, tetapi realita membuktikan bahwa memang risalah itu adalah upaya kepada wihdatul adyan.

Kita akan lebih memahami bahwa risalah itu benar-benar ada upaya penyatuan agama dari jawaban Syaikh Shalih Al-Fauzan berikut, Insya Allah Ta’ala.

Pada acara Daurah Al-Imam Abdul ‘Aziz bin Baaz Al-’Ilmiyyah tahun 1431 H yang diselenggarakan di Thoif, dilontarkan sebuah pertanyaan kepada Asy-Syaikh yang mulia Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, anggota hai’ah kibarul ulama’ saudi arabiyah sebagai berikut:

“Aku mendapatkan sebuah ungkapan dalam salah satu risalah, disebutkan disitu:

أصل الديانات الإلهيّة واحد ، والمسلم يؤمن بجميع

الرسل، ولا يفرّق بين أحد منهم،

وإنّ إنكار رسالة أي واحد منهم خروج عن الإسلام،

مما يؤسس إيجاد قاعدة واسعة للالتقاء مع المؤمنين

بالديانـــــات الأخرى علـــــى صعد مشتركـــــــة

في خدمة المجتمع الإنساني دون مساس

بالتميّز العقدي والاستقــلال الفكري ) اهـ

————————

Itulah bunyi pertanyaan yang dilontarkan kepada Fadhilatusy Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala. Perlu anda ketahui, bahwa teks arab di atas yang ditanyakan kepada Syaikh Al-Fauzan adalah nukilan dari isi risalah ‘amman yang disanjung oleh Ali Hasan Al-Halabi dalam satu ceramah atau khutbahnya.

Sekarang, simak jawaban Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafizhahullah Ta’ala:

“INI ADALAH UCAPAN SESAT -wal-’iyadzu billah-…

benar, kita beriman kepada seluruh para rasul dan seluruh kitab-kitab,

Tetapi mereka, mereka tidak beriman kepada seluruh para rasul, mereka kafir kepada ‘Isa dan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkaitan dengan orang-orang Yahudi,

dan orang-orang Nashara, mereka kafir kepada penutup para nabi, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam! Mereka juga tidak beriman kepada Al-Qur’an!

Bagaimana kita mengatakan mereka beriman? Sedangkan mereka kafir kepada sebagian para rasul! dan mereka juga kafir kepada sebagian kitab-kitab!

Mereka bukanlah mukminin, mereka bukanlah mukminin,

Ini adalah upaya al-khalth (mencampurkan alhaq dan bathil) dan penyesatan umat manusia! wajib mengingkarinya. [selesai jawaban beliau]

——————-

Saudaraku yang saya hormati, runtutan tahdzir para ulama’ kibar dan masyayikh dari ucapan, perbuatan, dan manhaj Al-Halabi yang sudah tampil di blog ini demikian pula yang belum tampil menunjukkan bahwa pada manhaj Al-Halabi ada kholal dan penyimpangan….

Renungilah penjelasan para ulama’ kibar!

Hanyakah disebabkan pembelaan kita terhadap Ali Al-Halabi membawa kita meninggalkan semua tahdzir dan peringatan para ulama’ atasnya? wallahul musta’an…..

Kembali kepada alhaq adalah keutamaan, sedangkan terus berjalan di atas kekeliruan adalah kebinasaan dan kesengsaraan……

(Download pdf tanya jawab syaikh Shalih Fauzan hafidhahullah disini…

http://www.4shared.com/document/8IxAgndm/risalahamansyaikhfauzan.html

atau audionya

http://www.4shared.com/audio/gBC8iURC/risalahamansyaikhfauzan.html .

RISALAH AMMAN "PERNYATAAN SIKAP KONFERENSI ISLAM INTERNASIONAL" YANG MENGELIRUKAN

Konferensi ini diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.)

Bismillahir-Rahmanir-Rahim

SALAM DAN SALAWAT SEMOGA TERCURAH PADA BAGINDA NABI MUHAMMAD DAN KELUARGANYA YANG SUCI

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa... (Al-Nisa',4:1)

Sesuai dengan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh YTH Imam Besar Syaikh Al-Azhar, YTH Ayatollah Sayyid Ali Al-Sistani, YTH Mufti Besar Mesir, para ulama Syiah yang terhormat (baik dari kalangan Syiah Ja'fari maupun Zaidi), YTH Mufti Besar Kesultanan Oman, Akademi Fiqih Islam Kerajaan Saudi Arabia, Dewan Urusan Agama Turki, YTH Mufti Besar Kerajaan Yordania dan Para Anggota Komite Fatwa Nasional Yordania, dan YTH Syaikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi;Sesuai dengan kandungan pidato Yang Mulia Raja Abdullah II bin Al-Hussein, Raja Yordania, pada acara pembukaan konferensi;

Sesuai dengan pengetahuan tulus ikhlas kita pada Allah SWT;

Dan sesuai dengan seluruh makalah penelitian dan kajian yang tersaji dalam konferensi ini, serta seluruh diskusi yang timbul darinya;

Kami, yang bertandatangan di bawah ini, dengan ini menyetujui dan menegaskan kebenaran butir-butir yang tertera di bawah ini:

(1) Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. Lebih lanjut, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam.

(2) Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam mazhab-mazhab Islam dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan di antara mereka. Para pengikut/penganut kedelapan mazhab Islam yang telah disebutkan di atas semuanya sepakat dalam prinsip-prinsip utama Islam (Ushuluddin). Semua mazhab yang disebut di atas percaya pada satu Allah yang Mahaesa dan Makakuasa; percaya pada al-Qur'an sebagai wahyu Allah; dan bahwa Baginda Muhammad saw adalah Nabi dan Rasul untuk seluruh manusia. Semua sepakat pada lima rukun Islam: dua kalimat syahadat (syahadatayn); kewajiban shalat; zakat; puasa di bulan Ramadhan, dan Haji ke Baitullah di Mekkah. Semua percaya pada dasar-dasar akidah Islam: kepercayaan pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk dari sisi Allah. Perbedaan di antara ulama kedelapan mazhab Islam tersebut hanya menyangkut masalah-masalah cabang agama (furu’) dan tidak menyangkut prinsip-prinsip dasar (ushul) Islam. Perbedaan pada masalah-masalah cabang agama tersebut adalah rahmat Ilahi. Sejak dahulu dikatakan bahwa keragaman pendapat di antara 'ulama adalah hal yang baik.

(3) Mengakui kedelapan mazhab dalam Islam tersebut berarti bahwa mengikuti suatu metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada orang yang berhak mengeluarkan fatwa tanpa keahlihan pribadi khusus yang telah ditentukan oleh masing-masing mazhab bagi para pengikutnya. Tidak ada orang yang boleh mengeluarkan fatwa tanpa mengikuti metodologi yang telah ditentukan oleh mazhab-mazhab Islam tersebut di atas. Tidak ada orang yang boleh mengklaim untuk melakukan ijtihad mutlak dan menciptakan mazhab baru atau mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak bisa diterima hingga membawa umat Islam keluar dari prinsip-prinsip dan kepastian-kepastian Syariah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab yang telah disebut di atas.

(4) Esensi Risalah Amman, yang ditetapkan pada Malam Lailatul Qadar tahun 1425 H dan dideklarasikan dengan suara lantang di Masjid Al-Hasyimiyyin, adalah kepatuhan dan ketaatan pada mazhab-mazhab Islam dan metodologi utama yang telah ditetapkan oleh masing-masing mazhab tersebut. Mengikuti tiap-tiap mazhab tersebut di atas dan meneguhkan penyelenggaraan diskusi serta pertemuan di antara para penganutnya dapat memastikan sikap adil, moderat, saling memaafkan, saling menyayangi, dan mendorong dialog dengan umat-umat lain.

(5) Kami semua mengajak seluruh umat untuk membuang segenap perbedaan di antara sesama Muslim dan menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; memperkuat sikap saling mendukung di antara bangsa-bangsa dan negara-negara umat Islam; memperkukuh tali persaudaraan yang menyatukan mereka dalam saling cinta di jalan Allah. Dan kita mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pertikaian di antara sesama Muslim dan tidak membiarkan pihak-pihak asing mengganggu hubungan di antara mereka.

Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka itu islahkan hubungan di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya. (Al-Hujurat, 49:10).

Amman, 27-29 Jumadil Ula 1426 H./ 4-6 Juli 2005 M.

Para penandatangan:

AFGHANISTAN

1. YTH. Nusair Ahmad Nour
Dubes Afghanistan untuk Qatar

ALJAZAIR

1. YTH. Lakhdar Ibrahimi
Utusan Khusus Sekjen PBB; Mantan Menlu Aljazair
2. Prof. Dr. Abd Allah bin al-Hajj Muhammad Al Ghulam Allah
Menteri Agama
3. Dr. Mustafa Sharif
Menteri Pendidikan
4. Dr. Sa'id Shayban
Mantan Menteri Agama
5. Prof. Dr. Ammar Al-Talibi
Departemen Filsafat, University of Algeria
6. Mr. Abu Jara Al-Sultani
Ketua LSM Algerian Peace Society Movement

AUSTRIA

1. Prof. Anas Al-Shaqfa
Ketua Komisi Islam
2. Mr. Tar afa Baghaj ati
Ketua LSM Initiative of Austrian Muslims

AUSTRALIA

1. Shaykh Salim 'Ulwan al-Hassani
Sekjen, Darulfatwa, Dewan Tinggi Islam

AZERBAIJAN

1. Shaykh Al-Islam Allah-Shakur bin Hemmat Bashazada
Ketua Muslim Administration of the Caucasus

BAHRAIN

1. Syaikh Dr. Muhammad Ali Al-Sutri
Menteri Kehakiman
2. Dr. Farid bin Ya'qub Al-Miftah
sekretaris Kementerian Agama

BANGLADESH

1. Prof. Dr. Abu Al-Hasan Sadiq
Rektor Asian University of Bangladesh

BOSNIA dan HERZEGOVINA

1. Prof. Dr. Syaikh Mustafa Ceric
Ketua Majlis 'Ulama'dan Mufti Besar Bosnia dan Herzegovina
2. Prof. Hasan Makic
Mufti Bihac
3. Prof. Anes Lj evakovic
Peneliti dan Pengajar, Islamic Studies College

BRAZIL

1. Syaikh Ali Muhmmad Abduni
Perwakilan International Islamic Youth Club di Amerika Latin

KANADA

1. Shaykh Faraz Rabbani
Guru, Hanafijurisprudence, Sunnipath.com

REPUBLIK CHAD

1. Shaykh Dr. Hussein Hasan Abkar
Presiden, Higher Council for Islamic Affair; Imam Muslim, Chad

MESIR

1. Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq
Menteri Agama
2. Prof. Dr. Ali Jumu'a
Mufti Besar Mesir
3. Prof. Dr. Ahmad Muhammad Al-Tayyib
Rektor Universitas Al-Azhar University
4. Prof. Dr. Kamal Abu Al-Majd
Pemikir Islam; Mantan Menteri Informasi;
5. Dr. Muhammad Al-Ahmadi Abu Al-Nur
Mantan Menteri Agama Mesir; Profesor Fakultas Syariah, Yarmouk University, Jordan
6. Prof. Dr. Fawzi Al-Zifzaf
Ketua Masyayikh Al-Azhar; Anggota the Academy of Islamic Research
7. Prof. Dr. Hasan Hanafi
Peneliti dan Cendekiawan Muslim, Departemen Filsafat, Cairo University
8. Prof. Dr. Muhammad Muhammad Al-Kahlawi
Sekjen Perserikatan Arkeolog Islam;
Dekan Fakultas Studi Kesejarahan Kuno, Cairo University
9. Prof. Dr. Ayman Fuad Sayyid
Mantan Sekjen, Dar al-Kutub Al-Misriyya
10. Syaikh Dr. Zaghlul Najjar
Anggota Dewan Tinggi Urusan Islam, Mesir
11. Syaikh Moez Masood
Dai Islam
12. Dr. Raged al-Sirjani
13. Dr. Muhammad Hidaya

PERANCIS

1. Syaikh Prof. Dalil Abu Bakr
Ketua Dewan Tinggi Urusan Agama Islam dan Dekan Masjid Paris
2. Dr. Husayn Rais
Direktur Urusan Budaya, Masjid Jami’ Paris

JERMAN

1. Prof. Dr. Murad Hofmann
Mantan Dubes Jerman untuk Maroko
2. Syaikh Salah Al-Din Al- Ja'farawi
Asisten Sekjen World Council for Islamic Propagation

INDIA

1. H.E. Maulana Mahmood Madani
Anggota Parlemen
Sekjen Jamiat Ulema-i-Hind
2. Ja'far Al-Sadiq Mufaddal Sayf Al-Din
Cendikiawan Muslim
3. Taha Sayf Al-Din
Cendikiawan Muslim
4. Prof. Dr. Sayyid Awsaf Ali
Rektor Hamdard University
5. Prof. Dr. Akhtar Al-Wasi
Dekan College of Humanities and Languages

INDONESIA

1. Dr. Tutty Alawiyah
Rektor Universitas Islam Al-Syafi'iyah
2. Rabhan Abd Al-Wahhab
Dubes RI untuk Yordania
3. KH Ahmad Hasyim Muzadi
Mantan Ketua PBNU
4. Rozy Munir
Mantan Wakil Ketua PBNU
5. Muhamad Iqbal Sullam
International Conference of Islamic Scholars, Indonesia

IRAN

1. Ayatollah Syaikh Muhammad Ali Al-Taskhiri
Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah.
2. Ayatollah Muhammad Waez-zadeh Al-Khorasani
Mantan Sekjen Majma Taqrib baynal Madzahib Al-Islamiyyah
3. Prof. Dr. Mustafa Mohaghegh Damad
Direktur the Academy of Sciences; Jaksa; Irjen Kementerian Kehakiman
4. Dr. Mahmoud Mohammadi Iraqi
Ketua LSM Cultural League and Islamic Relations in the Islamic Republic of Iran
5. Dr. Mahmoud Mar'ashi Al-Najafi
Kepala Perpustakaan Nasional Ayatollah Mar'ashi Al-Najafi
6. Dr. Muhammad Ali Adharshah
Sekjen Masyarakat Persahabatan Arab-Iran
7. Shaykh Abbas Ali Sulaymani
Wakil Pemimpin Spiritual Iran di wilayah Timur Iran

IRAK

1. Grand Ayatollah Shaykh Husayn Al-Mu'ayyad
Pengelola Knowledge Forum
2. Ayatollah Ahmad al-Bahadili
Dai Islam
3. Dr. Ahmad Abd Al-Ghaffur Al-Samara'i
Ketua Diwan Waqaf Sunni

ITALIA

1. Mr. Yahya Sergio Pallavicini
Wakil Ketua, Islamic Religious Community of Italy (CO.RE.IS.)

YORDANIA

1. Prof. Dr. Ghazi bin Muhammad
Utusan Khusus Raja Abdullah II bin Al-Hussein
2. Syaikh Izzedine Al-Khatib Al-Tamimi
Jaksa Agung
3. Prof. Dr. Abdul-Salam Al-Abbadi
Mantan Menteri Agama
4. Prof. Dr. Syaikh Ahmad Hlayyel
Penasehat Khusus Raja Abdullah dan Imam Istana Raja
5. Syaikh Said Al-Hijjawi
Mufti Besar Yordania
6. Akel Bultaji
Penasehat Raja
7. Prof. Dr. Khalid Touqan
Menteri Pendidikan dan Riset
8. Syaikh Salim Falahat
Ketua Umum Ikhwanul Muslimin Yordania
9. Syaikh Dr. Abd Al-Aziz Khayyat
Mantan Menteri Agama
10. Syaikh Nuh Al-Quda
Mantan Mufti Angkatan Bersenjata Yordania
11. Prof. Dr. Ishaq Al-Farhan
Mantan Menteri Pendidikan
12. Dr. Abd Al-Latif Arabiyyat
Mantan Ketua DPR Yordania;
Shaykh Abd Al-Karim Salim Sulayman Al-Khasawneh
Mufti Besar Angkatan Bersenjata Yordania
13. Prof. Dr. Adel Al-Toweisi
Menteri Kebudayaan
14. Mr.BilalAl-Tall
Pemimpin Redaksi Koran Liwa'
15. Dr. Rahid Sa'id Shahwan
Fakultas Ushuluddin, Balqa Applied University

KUWAIT

1. Prof. Dr. Abdullah Yusuf Al-Ghoneim
Kepala Pusat Riset dan Studi Agama
2. Dr. Adel Abdullah Al-Fallah
Wakil Menteri Agama

LEBANON

1. Prof. Dr. Hisham Nashabeh
Ketua Badan Pendidikan Tinggi
2. Prof. Dr. Sayyid Hani Fahs
Anggota Dewan Tinggi Syiah
3. Syaikh Abdullah al-Harari
Ketua Tarekat Habashi
4. Mr. Husam Mustafa Qaraqi
Anggota Tarekat Habashi
5. Prof. Dr. Ridwan Al-Sayyid
Fakultas Humaniora, Lebanese University; Pemred Majalah Al-Ijtihad
6. Syaikh Khalil Al-Mays
Mufti Zahleh and Beqa' bagian Barat

LIBYA

1. Prof. Ibrahim Al-Rabu
Sekretaris Dewan Dakwah Internasional
2. Dr. Al-Ujaili Farhat Al-Miri
Pengurus International Islamic Popular Leadership

MALAYSIA

1. Dato' Dr. Abdul Hamid Othman
Menteri Sekretariat Negara
2. Anwar Ibrahim
Mantan Perdana Menteri
3. Prof. Dr. Muhamad Hashem Kamaly
Dekan International Institute of Islamic Thought and Civilisation
4. Mr. Shahidan Kasem
Menteri Negara Bagian Perlis, Malaysia
5. Mr. Khayri Jamal Al-Din
Wakil Ketua Bidang Kepemudaan UMNO

MALADEWA

1. Dr. Mahmud Al-Shawqi
Menteri Pendidikan

MAROKO

1. Prof. Dr. Abbas Al-Jarari
Penasehat Raja
2. Prof. Dr. Mohammad Farouk Al-Nabhan
Mantan Kepala DarAl-Hadits Al-Hasaniyya
3. Prof. Dr. Ahmad Shawqi Benbin
Direktur Perpustakaan Hasaniyya
4. Prof. Dr. Najat Al-Marini
Departemen Bahasa Arab, Mohammed V University

NIGERIA

1. H.H. Prince Haji Ado Bayero
Amir Kano
2. Mr. Sulayman Osho
Sekjen Konferensi Islam Afrika

KESULTANAN OMAN

1. Shaykh Ahmad bin Hamad Al-Khalili
Mufti Besar Kesultanan Oman
2. Shaykh Ahmad bin Sa'ud Al-Siyabi
Sekjen Kantor Mufti Besar

PAKISTAN

1. Prof. Dr. Zafar Ishaq Ansari
Direktur Umum, Pusat Riset Islam, Islamabad
2. Dr. Reza Shah-Kazemi
Cendikiawan Muslim
3. Arif Kamal
Dubes Pakistan untuk Yordania
4. Prof. Dr. Mahmoud Ahmad Ghazi
Rektor Islamic University, Islamabad; Mantan Menteri Agama Pakistan

PALESTINA

1. Shaykh Dr. Ikrimah Sabri
Mufti Besar Al-Quds dan Imam Besar Masjid Al-Aqsa
2. Shaykh Taysir Raj ab Al-Tamimi
Hakim Agung Palestina

PORTUGAL

1. Mr. Abdool Magid Vakil
Ketua LSM Banco Efisa
2. Mr. Sohail Nakhooda
Pemred Islamica Magazine

QATAR

1. Prof. Dr. Shaykh Yusuf Al-Qaradawi
Ketua Persatuan Internasional Ulama Islam
2. Prof. Dr. Aisha Al-Mana'i
Dekan Fakultas Hukum Islam, University of Qatar

RUSIA

1. Shaykh Rawi Ayn Al-Din
Ketua Urusan Muslim
2. Prof. Dr. Said Hibatullah Kamilev
Direktur, Moscow Institute of Islamic Civilisation
3. Dr. Murad Murtazein
Rektor, Islamic University, Moskow

ARAB SAUDI

1. Dr. Abd Al-Aziz bin Uthman Al-Touaijiri
Direktur Umum, The Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO)
2. Syaikh al-Habib Muhammad bin Abdurrahman al-Saqqaf

SENEGAL

1. Al-Hajj Mustafa Sisi
Penasehat Khusus Presiden Senegal

SINGAPORA

1. Dr. Yaqub Ibrahim
Menteri Lingkuhan Hidup dan Urusan Muslim

AFRIKA SELATAN

1. Shaykh Ibrahim Gabriels
Ketua Majlis Ulama Afrika Utara South African 'Ulama'

SUDAN

1. Abd Al-Rahman Sawar Al-Dhahab
Mantan Presiden Sudan
2. Dr. Isam Ahmad Al-Bashir
Menteri Agama

SWISS

1. Prof. Tariq Ramadan
Cendikiawan Muslim

SYRIA

1. Dr. Muhammad Sa'id Ramadan Al-Buti
Dai, Pemikir dan Penulis Islam
2. Prof. Dr. Syaikh Wahba Mustafa Al-Zuhayli
Ketua Departemen Fiqih, Damascus University
3. Syaikh Dr. Ahmad Badr Hasoun
Mufti Besar Syria



THAILAND

1. Mr. Wan Muhammad Nur Matha
Penasehat Perdana Menteri
2. Wiboon Khusakul
Dubes Thailand untuk Irak

TUNISIA

1. Prof. Dr. Al-Hadi Al-Bakkoush
Mantan Perdana Menteri Tunisia
2. Dr. Abu Baker Al-Akhzuri
Menteri Agama

TURKI

1. Prof. Dr. Ekmeleddin I lis an og hi
Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI)
2. Prof. Dr. Mualla Saljuq
Dekan Fakultas Hukum, University of Ankara
3. Prof. Dr. Mustafa Qag nci
Mufti Besar Istanbul
4. Prof. Ibrahim Kafi Donmez
Profesor Fiqih University of Marmara

UKRAINa

1. Shaykh Dr. Ahmad Tamim
Mufti Ukraina

UNI EMIRAT ARAB

1. Mr. Ali bin Al-Sayyid Abd Al-Rahman Al-Hashim
Penasehat Menteri Agama
2. Syaikh Muhammad Al-Banani
Hakim Pengadilan Tinggi
3. Dr. Abd al-Salam Muhammad Darwish al-Marzuqi
Hakim Pengadilan Dubai

INGGRIS

1. Syaikh Abdal Hakim Murad / Tim Winter
Dosen, University of Cambridge
2. Syaikh Yusuf Islam /Cat Steven
Dai Islam dan mantan penyanyi
3. Dr.FuadNahdi
Pemimpin Redaksi Q-News International
4. SamiYusuf
Penyanyi Lagu-lagu Islam

AMERIKA SERIKAT

1. Prof. Dr. Seyyed Hossein Nasr
Penulis dan profesor Studi-studi Islam, George Washington University
2. Syaikh Hamza Yusuf
Ketua Zaytuna Institute
3. Syaikh Faisal Abdur Rauf
Imam Masjid Jami Kota New York
4. Prof. Dr. Ingrid Mattson
Profesor Studi-studi Islam, Hartford Seminary; Ketua Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA)

UZBEKISTAN

1. Syaikh Muhammad Al-Sadiq Muhammad Yusuf
Mufti Besar

YAMAN

1. Syaikh Habib 'Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz
Ketua Madrasah Dar al-Mustafa, Tarim
2. Syaikh Habib Ali Al-Jufri
Dai Internasional

Prof. Dr. Husayn Al-Umari
Anggota UNESCO; Profesor Sejarah, Universitas San



Naskah ARAB RISALAH AMMAN





حول
حقيقة الإسلام ودوره في المجتمع المعاصر
عمّان- المملكة الأردنية الهاشمية
27- 29 جمادى الأولى 1426هـ/ الموافق 4-6 تموز (يوليو) 2005م



بسم الله الرحمن الرحيم



والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وسلّم

]يا أيّها الناس اتقوا ربّكم الذي خلقكم من نفسٍ واحدة [ [النساء 1]



بيان صادر عن المؤتمر الإسلامي الدولي الذي عقد في عمّان، عاصمة المملكة الأردنية الهاشمية، تحت عنوان (حقيقة الإسلام ودوره في المجتمع المعاصر)، في المدة 27- 29 جمادى الأولى 1426هـ/ 4- 6 تموز (يوليو) 2005م



وفقاً لما جاء في فتوى فضيلة الإمام الأكبر شيخ الأزهر المكرّم، وفتوى سماحة آية الله العظمى السيد علي السيستاني الأكرم، وفتوى فضيلة مفتي الديار المصرية الأكرم، وفتاوى المراجع الشيعية الأكرمين (الجعفرية والزيدية)، وفتوى فضيلة المفتي العام لسلطنة عُمان الأكرم، وفتوى مجمع الفقه الإسلامي الدولي (منظمة المؤتمر الإسلامي- جدّة، المملكة العربية السعودية)، وفتوى المجلس الأعلى للشؤون الدينية التركية، وفتوى فضيلة مفتي المملكة الأردنية الهاشمية ولجنة الإفتاء الأكرمين فيها، وفتوى فضيلة الشيخ الدكتور يوسف القرضاوي الأكرم،









ووفقاً لما جاء في خطاب صاحب الجلالة الهاشمية الملك عبد الله الثاني ابن الحسين ملك المملكة الأردنية الهاشمية في افتتاح مؤتمرنا،



ووفقاً لعلمنا الخالص لوجه الله الكريم،



ووفقاً لما قدم في مؤتمرنا هذا من بحوث ودراسات وما دار فيه من مناقشات،





فإننا، نحن الموقعين أدناه، نعرب عن توافقنا على ما يرد تالياً، وإقرارنا به:

(1) إنّ كل من يتّبع أحد المذاهب الأربعة من أهل السنّة والجماعة (الحنفي، والمالكي، والشافعي، والحنبلي) والمذهب الجعفري، والمذهب الزيدي، والمذهب الإباضي، والمذهب الظاهري، فهو مسلم، ولا يجوز تكفيره. ويحرم دمه وعرضه وماله. وأيضاً، ووفقاً لما جاء في فتوى فضيلة شيخ الأزهر، لا يجوز تكفير أصحاب العقيدة الأشعريّة، ومن يمارس التصوّف الحقيقي. وكذلك لا يجوز تكفير أصحاب الفكر السلفي الصحيح.

كما لا يجـــوز تكفير أيّ فئة أخــرى مـن المسلمين تؤمــن بالله سبحانه وتعالى وبرسوله صلى الله عليه وسلم وأركان الإيمان، وتحترم أركان الإسلام، ولا تنكر معلوماً من الدين بالضرورة.

(2) إنّ ما يجمع بين المذاهب أكثر بكثير ممّا بينها من الاختلاف. فأصحاب المذاهب الثمانية متفقون على المبادىء الأساسيّة للإسلام. فكلّهم يؤمنون بالله سبحانه وتعالى، واحداً أحداً، وبأنّ القرآن الكريم كلام الله المنزَّل، وبسيدنا محمد عليه الصلاة والسلام نبياً ورسولاً للبشرية كافّة. وكلهم متفقون على أركان الإسلام الخمسة: الشهادتين، والصلاة، والزكاة، وصوم رمضان، وحجّ البيت، وعلى أركان الإيمان: الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره وشرّه. واختلاف العلماء من أتباع المذاهب هو اختلاف في الفروع وليس في الأصول، وهو رحمة. وقديماً قيل: إنّ اختلاف العلماء في الرأي أمرٌ جيّد.

(3) إنّ الاعتراف بالمذاهب في الإسلام يعني الالتزام بمنهجية معينة في الفتاوى: فلا يجوز لأحد أن يتصدّى للإفتاء دون مؤهّلات شخصية معينة يحددها كل مذهب، ولا يجوز الإفتاء دون التقيّد بمنهجية المذاهب، ولا يجوز لأحد أن يدّعي الاجتهاد ويستحدث مذهباً جديداً أو يقدّم فتاوى مرفوضة تخرج المسلمين عن قواعد الشريعة وثوابتها وما استقرَّ من مذاهبها.

(4) إنّ لبّ موضوع رسالة عمّان التي صدرت في ليلة القدر المباركة من عام 1425 للهجرة وقُرئت في مسجد الهاشميين، هو الالتزام بالمذاهب وبمنهجيتها؛ فالاعتراف بالمذاهب والتأكيد على الحوار والالتقاء بينها هو الذي يضمن الاعتدال والوسطية، والتسامح والرحمة، ومحاورة الآخرين.

(5) إننا ندعو إلى نبذ الخلاف بين المسلمين وإلى توحيد كلمتهم، ومواقفهم، وإلى التأكيد على احترام بعضهم لبعض، وإلى تعزيز التضامن بين شعوبهم ودولهم، وإلى تقوية روابط الأخوّة التي تجمعهم على التحابّ في الله، وألاّ يتركوا مجالاً للفتنة وللتدخّل بينهم.

فالله سبحانه يقول:

]إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم واتقوا الله لعلكم تُرحمون [ [الحجرات 10].

والحمد لله وحده.





قائمة بأسماء السادة الموقعين في المؤتمر الإسلامي الدولي





حول
حقيقة الإسلام ودوره في المجتمع المعاصر*

جمهورية أذربيجان



سماحة شيخ الإسلام الله شكور بن همّت باشا زادة/ رئيس إدارة مسلمي القفقاز

المملكة الأردنية الهاشمية



صاحب السموّ الملكي الأمير غازي بن محمد/ المبعوث الشخصي والمستشار الخاص لجلالة الملك عبد الله الثاني ابن الحسين المعظم، رئيس مجلس أمناء مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي



سماحة الشيخ عز الدين الخطيب التميمي/ مستشار جلالة الملك للشؤون الإسلامية، قاضي القضاة



معالي الأستاذ الدكتور عبد السلام العبادي/ وزير الأوقاف والشؤون والمقدسات الإسلامية



سماحة الأستاذ الدكتور أحمد هليل/ مستشار جلالة الملك/ إمام الحضرة الهاشمية



سماحة الشيخ سعيد الحجاوي/ المفتي العام للمملكة الأردنية الهاشمية



معالي السيد عقل بلتاجي/ مستشار جلالة الملك



معالي الأستاذ الدكتور خالد طوقان/ وزير التربية والتعليم/ وزير التعليم العالي والبحث العلمي

سماحة الشيخ سالم الفلاحات/ المراقب العام للإخوان المسلمين



سماحة الأستاذ الدكتور الشيخ عبد العزيز الخياط/ وزير الأوقاف سابقاً



سماحة الدكتور الشيخ نوح القضاة/ مفتي القوات المسلحة الأردنية سابقاً



معالي الأستاذ الدكتور خالد الكركي/ نائب رئيس مجلس أمناء مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي/ رئيس جامعة جرش الأهلية

معالي الأستاذ الدكتور إسحق الفرحان/ رئيس جامعة الزرقاء الأهلية/ وزير التربية والتعليم سابقاً

معالي الأستاذ كامل الشريف/ الأمين العام للمجلس الإسلامي العالمي للدعوة والإغاثة

معالي الدكتور عبد اللطيف عربيّات/ رئيس مجلس النواب سابقاً، رئيس مجلس شورى جبهة العمل الإسلامي

سماحة العميد عبد الكريم سليم سليمان الخصاونة/ المفتي العام للقوات المسلحة الأردنية

عطوفة الأستاذ الدكتور عادل الطويسي/ رئيس جامعة آل البيت

فضيلة الأستاذ الدكتور يوسف غيظان/ عميد كلية الدعوة وأصول الدين، جامعة البلقاء التطبيقية

فضيلة الشيخ حسن السقّاف/ مستشار سمو رئيس مجلس أمناء مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي، مدير دار الإمام النووي للنشر والتوزيع

سعادة المهندس مروان الفاعوري/ رئيس منتدى الوسطية للفكر والثقافة

سعادة السيدة نوال الفاعوري/ مربية ومفكرة إسلامية

فضيلة الأستاذ الدكتور عبد الناصر أبو البصل/ عميد كلية الشريعة- جامعة اليرموك

عطوفة الأستاذ بلال التل/ رئيس تحرير صحيفة اللواء

سعادة الأستاذ الدكتور عزمي طه السيد/ كلية الدراسات الفقهية والقانونية - جامعة آل البيت

الدكتور راشد سعيد شهوان/ كلية أصول الدين - جامعة البلقاء التطبيقية

أستراليا

الشيخ سليم علوان الحسيني/ أمين عام دار الفتوى- المجلس الإسلامي الأعلى

جمهورية أفغانستان

سعادة السيد نصير أحمد نور/ سفير أفغانستان في دولة قطر

الجمهورية الألمانية

سعادة الأستاذ الدكتور مراد هوفمان/ سفير ألمانيا السابق في المملكة المغربية/ مفكر وباحث

فضيلة الشيخ صلاح الدين الجعفراوي/ الأمين العام المساعد للمجلس العالمي للدعوة الإسلامية

دولة الإمارات العربية المتحدة:

سماحة السيد علي بن السيد عبد الرحمن الهاشم/ مستشار سمو رئيس الدولة للشؤون القضائية والدينية

سماحة الشيخ محمد البناني/ القاضي بالمحكمة الاتحادية العليا- الإمارات العربية المتحدة

الدكتور عبد السلام محمد درويش المرزوقي/ قاضي في محكمة دبي.

الولايات المتحدة الأمريكية:

الأستاذ الدكتور سيّد حسين نصر/ أستاذ الدراسات الإسلامية في جامعة جورج واشنطن

فضيلة الشيخ حمزة يوسف/ رئيس مؤسسة الزيتونة

فضيلة الشيخ فيصل عبد الرؤوف/ إمام مسجد نيويورك

سعادة الدكتورة إنجريد ماتسون/ أستاذة الدراسات الإسلامية - كلية هارتفورد

سعادة الأستاذ الدكتور سليمان عبد الله شلايفر/ مدير مركز أدهم للصحافة والتلفزيون/ الجامعة الأمريكية - القاهرة

فضيلة الدكتور الشيخ نوح حاميم كلر/ داعية ومفكر إسلامي/ عضو مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي

سعادة السيد نهاد عوض/ مدير عام مجلس العلاقات الإسلامية الأمريكية

سعادة الأستاذ الدكتور جيمس موريس/ جامعة إكستر

الشيخ عبد الله أدهمي/ داعية ومفكر إسلامي

سعادة الدكتور يوسف لومبارد/ مفكر إسلامي

جمهورية إندونيسيا:

سعادة الدكتورة توتي علوية عبد الله شافعي/ رئيسة جامعة الشافعية الإسلامية

سعادة السيد ربحان عبد الوهاب/ سفير الجمهورية الإندونيسية إلى المملكة الأردنية الهاشمية

سعادة الحاج أحمد هاشم مزادي/ رئيس المجلس المركزي لجمعية نهضة العلماء

سعادة السيد محمد رازي منير/ مساعد رئيس المجلس المركزي لجمعية نهضة العلماء

سعادة السيد محمد إقبال سُلام/ المؤتمر العالمي للجامعات الإسلامية

جمهورية أوزبكستان:

سماحة الشيخ محمد الصادق محمد يوسف/ المفتي العام للجمهورية

سعادة الأستاذ يوسفوف أرتقبيك/ مفكر إسلامي

أوكرانيا

المفتي الشيخ أحمد تميم/ مفتي أوكرانيا

جمهورية إيران الإسلامية:

سماحة آية الله الشيخ محمد علي التسخيري/ الأمين العام للمجمع العالمي للتقريب بين المذاهب الإسلامية

سماحة آية الله محمد واعظ زادة الخراساني/ الأمين العام للمجمع العالمي للتقريب بين المذاهب الإسلامية (سابقاً)

سماحة الأستاذ الدكتور السيد مصطفى محقّق داماد/ مدير أكاديمية العلوم، القاضي بوزارة العدل، رئيس مؤسسة التفتيش العام

سماحة حجة الإسلام والمسلمين الدكتور محمود محمدي عراقي/ رئيس رابطة الثقافة والعلاقات الإسلامية في الجمهورية الإسلامية الإيرانية

سعادة الدكتور السيد محمود مرعشي النجفي/ رئيس مكتبة آية الله العظمى مرعشي النجفي

سعادة الدكتور محمد علي آذرشب/ الأمين العام لجمعية الصداقة العربية الإيرانية

سعادة السيد مرتضى هاشم بور قادي/ المدير العام لدائرة العلاقات الدولية/ دائرة المعارف الإسلامية الكبرى

فضيلة العلامة الشيخ عباس علي سليماني/ مندوب الإمام في شرق إيران

سعادة السيد غلام رضا ميرزائي/ عضو مجلس الشورى

سعادة الدكتور محمد رضا خاتمي/ زعيم جبهة المشاركة السياسية الإصلاحية

سماحة الشيخ محمد شريعتي/ جبهة المشاركة السياسية الإصلاحية

الأستاذ ما شاء الله محمود شمس الواعظين/ كاتب وصحفي.

إيطاليا

السيد يحيى سيرجيو بالاّفيسثيني/ نائب الرئيس، التجمّع الديني الإسلامي في إيطاليا.

جمهورية الباكستان:

سعادة الأستاذ الدكتور ظفر إسحاق أنصاري/ المدير العام لمركز البحوث الإسلامية، إسلام آباد- باكستان

سماحة الدكتور رضا شاه كاظمي/ باحث ومفكر إسلامي

سعادة الأستاذ عارف كمال/ مفكر إسلامي، سفير جمهورية الباكستان إلى المملكة الأردنية الهاشمية

سماحة الأستاذ الدكتور محمود أحمد غازي/ رئيس الجامعة الإسلامية في إسلام أباد

الشيخ الدكتور محمد طاهر القادري/ مركز البحوث الإسلامية- إسلام آباد

مملكة البحرين:

سماحة الشيخ الدكتور محمد علي الستري/ وزير العدل

سعادة الدكتور فريد بن يعقوب المفتاح/ وكيل وزارة الشؤون الإسلامية

جمهورية البرازيل:

فضيلة الشيخ علي محمد عبدوني/ ممثل الندوة العالمية للشباب الإسلامي في أمريكا اللاتينية والمعتمد الديني لدار الفتوى للجمهورية اللبنانية في ساوباولو

البرتغال

السيد عبد المجيد وكيل/ رئيس بانكو إفيسبا

السيد سهيل ناخودا/ رئيس تحرير مجلة إسلاميكا

جمهورية بنغلادش

سعادة الأستاذ الدكتور أبو الحسن صادق/ رئيس جامعة بنغلادش الآسيوية

البوسنة والهرسك:

فضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ مصطفى تسيريتش/ رئيس العلماء والمفتي العام في البوسنة والهرسك

فضيلة الأستاذ حسن ماكيتش/ مفتي بيهاتش

سعادة الأستاذ أنس ليفاكوفيتش/ باحث ومحاضر/ كلية الدراسات الإسلامية

مملكة تايلند:

سعادة السيد وان محمد نور ماثا/ مستشار دولة رئيس الوزراء

سعادة السيد ويبون خوساكول/ سفير تايلند - بغداد

الجمهورية التركية:

معالي الأستاذ الدكتور أكمل الدين إحسان أوغلو/ الأمين العام لمنظمة المؤتمر الإسلامي

سعادة الأستاذ الدكتور علي أوزاك/ رئس وقف دراسات العلوم الإسلامية - إستانبول

سعادة الأستاذة الدكتورة معلّى سلجوق/ عميدة كلية الشريعة - أنقرة

سعادة البروفسور الدكتور مصطفى شاغريجي/ مفتي اسطنبول وأستاذ الفلسفة الإسلامية

سعادة البروفسور إبراهيم كافي دونماز/ أستاذ الفقه الإسلامي في جامعة مرمرة

جمهورية تشاد

الشيخ الدكتور حسين حسن أبكر/ رئيس المجلس الأعلى للشؤون الإسلامية بجمهورية تشاد

الجمهورية التونسية:

دولة الأستاذ الدكتور الهادي البكوش/ رئيس وزراء تونس سابقاً

السيد الدكتور أبو بكر الأخزوري/ وزير الشؤون الدينيّة

سعادة الأستاذ الدكتور علي الشّابي/ رئيس المجلس الإسلامي الأعلى، وزير الشؤون الإسلامية سابقاً

سعادة الأستاذ الحبيب شيبوب/ كاتب ومؤرخ

سعادة الدكتور عامر الزمالي/ مستشار شؤون العالم الإسلامي، اللجنة الدولية للصليب الأحمر

الجمهورية الجزائرية الديمقراطية الشعبية:

معالي الأستاذ الأخضر الإبراهيمي/ المبعوث الخاص للأمين العام للأمم المتحدة

معالي الأستاذ الدكتور بو عبد الله بن الحاج محمد آل غلام الله/ وزير الشؤون الدينية والأوقاف

معالي الدكتور مصطفى شريف/ وزير التعليم العالي وسفير الجزائر في القاهرة سابقاً

معالي الدكتور سعيد شيبان/ وزير الشؤون الدينية سابقاً

سعادة الأستاذ الدكتور عمّار الطالبي/ قسم الفلسفة - جامعة الجزائر

سعادة السيد أبو جرة سلطاني/ حركة مجتمع السلم

جنوب إفريقيا:

الشيخ إبراهيم جابرييلز/ رئيس علماء جنوب إفريقيا

جمهورية روسيا الاتحادية:

فضيلة الشيخ راوي عين الدين/ رئيس الإدارة الدينية للمسلمين

سعادة الأستاذ الدكتور سعيد هبة الله كاميليف/ مدير معهد الحضارة الإسلامية - موسكو

سعادة الدكتور مراد مرتازين/ رئيس الجامعة الإسلامية - موسكو

السيد روشان عباسوف/ مدير قسم العلاقات الخارجية لمجلس شورى المفتين لروسيا

المملكة العربية السعودية:

معالي الدكتور عبد العزيز بن عثمان التويجري/ المدير العام للمنظمة الإسلامية للتربية والعلوم والثقافة

الشيخ الحبيب محمد بن عبد الرحمن السقاف

جمهورية سنغافورة:

معالي الدكتور يعقوب إبراهيم/ وزير البيئة والموارد المائية، الوزير المكلف بالشؤون الإسلامية

جمهورية السنغال:

معالي السيد الحاج مصطفى سيسي/ المستشار الخاص لفخامة رئيس الجمهورية السنغالية

سعادة الأستاذ عبد الله باه/ رئيس اتحاد المتطوعين للتربية والثقافة الإسلامية

الجمهورية السودانية:

فخامة الرئيس عبد الرحمن سوار الذهب/ رئيس الجمهورية الأسبق

معالي الدكتور عصام أحمد البشير/ وزير الإرشاد والأوقاف

سعادة الأستاذ الدكتور عز الدين عمر موسى/ محاضر في قسم التاريخ ، جامعة الملك سعود - الرياض

الجمهورية العربية السورية:

فضيلة الأستاذ الدكتور محمد سعيد رمضان البوطي/ داعية ومفكر إسلامي

فضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ وهبة مصطفى الزحيلي/ رئيس قسم الفقه الإسلامي ومذاهبه، كلية الشريعة - جامعة دمشق

سماحة الدكتور صلاح الدين أحمد كفتارو/ المدير العام لمجمع الشيخ أحمد كفتارو

سماحة الشيخ الدكتور أحمد بدر حسون/ مفتي الجمهورية العربية السورية

فضيلة الدكتور محمد توفيق سعيد البوطي/ أستاذ الفقه وأصوله- كلية الشريعة- جامعة دمشق

سويسرا

الأستاذ طارق رمضان/ مفكر إسلامي

الجمهورية العراقية

سماحة آية الله العظمى الشيخ حسين المؤيد/ المنتدى العلمي- بغداد

سماحة آية الله أحمد البهادلي/ داعية إسلامي

الدكتور أحمد عبد الغفور السامرائي/ رئيس ديوان الوقف السني

سماحة السيد عبد الصاحب الخوئي/ الأمين العام لمؤسسة الإمام الخوئي الخيرية

سماحة السيد محمد الموسوي/ الأمين العام لرابطة أهل البيت العالمية الإسلامية

سعادة الأستاذ الدكتور عبد العزيز الدوري/ باحث ومؤرخ، قسم التاريخ - الجامعة الأردنية

سعادة الأستاذ الدكتور بشار عوّاد معروف/ باحث ومحقق، عضو مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي والمشرف العلمي على مشروع التفاسير فيها

سماحة الشيخ عباس علي كاشف الغطاء/ كلية الدراسات الإسلامية - جامعة الكوفة

سعادة الدكتور عبد الحميد النجدي / مفكر إسلامي

سماحة الشيخ وليد فرج الله الأسدي/ كلية الدراسات الإسلامية - جامعة الكوفة

فضيلة الشيخ الأستاذ الدكتور أحمد الكبيسي/ داعية ومفكر إسلامي

سعادة الأستاذ غانم جواد/ مدير الشؤون الثقافية، مؤسسة الإمام الخوئي الخيرية

سعادة السيد محمد علاوي / نائب المدير العام لرابطة أهل البيت العالمية الإسلامية

سعادة الأستاذ سعد الملاّ/ مفكر إسلامي

سعادة الدكتور مصطفى عبد الإله كمال الدين/ مفكر إسلامي

سلطنة عُمان

سماحة الشيخ أحمد بن حمد الخليلي/ المفتي العام لسلطنة عُمان

فضيلة الشيخ أحمد بن سعود السيابي/ الأمين العام بمكتب المفتي العام للسلطنة

جمهورية فرنسا

فضيلة الشيخ دليل أبو بكر/رئيس مجلس الديانة الإسلامية في فرنسا/ إمام جامع باريس

سعادة الدكتور حسين رئيس/ مدير الشؤون الثقافية لمسجد باريس

دولة فلسطين

فضيلة الشيخ الدكتور عكرمة صبري/ المفتي العام للقدس والديار الفلسطينية، خطيب المسجد الأقصى المبارك

فضيلة الشيخ تيسير رجب التميمي/ قاضي قضاة فلسطين

دولة قطر

فضيلة الأستاذ الدكتور الشيخ يوسف القرضاوي/ مدير مركز بحوث السنة والسيرة - جامعة قطر

سعادة الأستاذة الدكتورة عائشة المناعي/ عميدة كلية الشريعة - جامعة قطر

كندا:

الشيخ فراز ربّاني/ عالم حنفي

دولة الكويت

معالي الأستاذ الدكتور عبد الله يوسف الغنيم/ رئيس مركز البحوث والدراسات الكويتية

سعادة الدكتور عادل عبد الله الفلاح/ وكيل وزارة الأوقاف والشؤون الإسلامية

الجمهورية اللبنانية

سعادة الأستاذ الدكتور هشام نشابة/ رئيس مجلس إدارة المعاهد العليا، عميد التربية والتعليم ، جمعية المقاصد الخيرية الإسلامية

فضيلة الشيخ السيد هاني فحص/ عضو المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

الشيخ عبد الله بن محمد الهرري

السيد حسام بن مصطفى قراقرة/ رئيس جمعية المشاريع الخيرية الإسلامية

سعادة الأستاذ الدكتور رضوان السيّد/ كلية الآداب - الجامعة اللبنانية، رئيس تحرير مجلة الاجتهاد

سعادة الأستاذ محمد السماك/ الأمين العام للجنة الوطنية الإسلامية المسيحية للحوار ، الأمين العام للقمة الروحية الإسلامية

سماحة القاضي الشرعي الجعفري الشيخ أسد الله الحرشي/ المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

سماحة الشيخ خليل الميس/ مفتي زحلة والبقاع الغربي

فضيلة الشيخ عبد الأمير قبلان/ نائب رئيس المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

الشيخ جميل محمد الحسيني/ رئيس جمعية المشايخ الصوفية في لبنان

سعادة الأستاذ حسن فرحات/ المجلس الإسلامي الشيعي الأعلى

الجماهيرية العربية الليبية الشعبية الاشتراكية العظمى

سعادة الأستاذ إبراهيم الربو/ أمين مكتب المؤتمرات/ جمعية الدعوة الإسلامية العالمية

سعادة الدكتور العجيلي فرحات الميري/ مسؤول شؤون الحوار بالقيادة الشعبية الإسلامية العالمية

جزر المالديف

معالي الدكتور محمود شوقي/ وزير التربية والتعليم

جمهورية ماليزيا

معالي فيهين فادوكا الدكتور عبد الحميد عثمان/ الوزير برئاسة الوزراء

الدكتور أنور إبراهيم/ نائب رئيس الوزراء الأسبق

سعادة الأستاذ الدكتور محمد هاشم كمالي/ عميد المعهد العالمي للفكر الإسلامي والحضارة الإسلامية

معالي السيد شهيدان قاسم/ الوزير الأول لولاية برلنس- ماليزيا

سعادة السيد خيري جمال الدين/ نائب رئيس قطاع الشباب، المنظمة الوطنية المتحدة لماليزيا

الأوقاف

فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة/ مفتي جمهورية مصر العربية

فضيلة الأستاذ الدكتور أحمد محمد أحمد الطيب/ رئيس جامعة الأزهر

معالي الأستاذ الدكتور أحمد كمال أبو المجد/ مفكر إسلامي، وزير الإعلام سابقاً، محام بالنقض وخبير دولي في شؤون التحكيم

معالي الدكتور محمد الأحمدي أبو النور/ وزير الأوقاف في جمهورية مصر العربية سابقاً، والأستاذ في كلية الشريعة - جامعة اليرموك، الأردن

فضيلة الأستاذ الدكتور فوزي الزفزاف/ رئيس اللجنة الدائمة للأزهر الشريف للحوار بين الأديان السماوية، عضو مجمع البحوث الإسلامية

سعادة الأستاذ الدكتور حسن حنفي/ باحث ومفكر إسلامي، قسم الفلسفة - جامعة القاهرة، عضو مؤسسة آل البيت للفكر الإسلامي

سعادة الأستاذ الدكتور محمد محمد الكحلاوي/ أمين الاتحاد العام للآثاريين العرب، عميد كلية الآثار- فرع الفيوم، جامعة القاهرة

سعادة الأستاذ الدكتور أيمن فؤاد سيّد/ المدير العام لدار الكتب المصرية سابقاً

فضيلة الشيخ الدكتور زغلول النجار الأكرم/ رئيس لجنة الإعجاز العلمي في القرآن والسنة في المجلس الأعلى للشؤون الإسلامية- القاهرة

فضيلة الشيخ الأستاذ معز مسعود/ داعية إسلامي

الدكتور راغب السرجاني

الدكتور محمد هداية

المملكة المتحدة

الشيخ عبد الحكيم مراد/ جامعة كامبردج

فضيلة الشيخ يوسف إسلام/ داعية ومنشد إسلامي

فضيلة الدكتور عباس مهاجراني/ عضو مؤسسة الإمام الخوئي الخيرية

سعادة الدكتور فؤاد نهدي/ إعلامي إسلامي

سعادة السيد شمس فيلاني / مفكر إسلامي

سعادة الدكتور فرهد دفتري/ مفكر إسلامي

السيد سامي يوسف/ منشد إسلامي

المملكة المغربية

معالي الأستاذ الدكتور عباس الجراري/ مستشار جلالة الملك

معالي الأستاذ الدكتور عبد الهادي بوطالب/ المستشار السابق لجلالة الملك

سعادة الأستاذ الدكتور عبد الهادي التازي/ عضو أكاديمية المملكة المغربية، سفير سابق

سعادة الأستاذ الدكتور محمد فاروق النبهان/ مدير دار الحديث الحسنية سابقاً

سعادة الأستاذ الدكتور أحمد شوقي بنبين/ مدير المكتبة الحسنية

سعادة الأستاذة الدكتورة نجاة المريني/ قسم اللغة العربية - جامعة محمد الخامس

سعادة الدكتور عبدو الفيلالي الأنصاري/ مفكر إسلامي

موريشيوس

فضيلة الشيخ غلام محمد/ الرئيس والمدير العام لجمعية الهلال الأزرق

النمسا

سعادة البروفسور أنس الشقفة/ رئيس الهيئة الدينية الإسلاميّة

السيد طرفة البغاجاتي/ مبادرة مسلمي النمسا

جمهورية نيجيريا الفيدرالية

صاحب السمو الملكي الحاجي آدو باييرو/ أمير كانو

السيد سليمان أوشو/ الأمين العام للمؤتمر الإسلامي لإفريقيا

جمهورية الهند

سعادة مولانا محمود مدني/ عضو البرلمان، الأمين العام لجمعية علماء الهند، معهد ديوباند الديني

سمو الأمير جعفر الصادق مفضل سيف الدين/ مفكر إسلامي

سمو الأمير طه سيف الدين/ مفكر إسلامي

سعادة الأستاذ الدكتور سيد أوصاف علي/ رئيس جامعة هامدارد

سعادة الأستاذ الدكتور أختر الواسع/ رئيس دائرة الدراسات الإسلامية، عميد كلية الإنسانيات واللغات، مدير مركز ذاكر حسين للدراسات الإسلامية

جمهورية اليمن

سماحة الشيخ إبراهيم بن محمد الوزير/ الأمين العام لحركة التوحيد والعمل الإسلامي

الشيخ الحبيب عمر بن محمد بن سالم بن حفيظ/ عميد دار المصطفى بتريم للدراسات الإسلامية

فضيلة الشيخ الحبيب علي الجفري/ داعية ومفكر إسلامي

معالي الأستاذ الدكتور حسين العمري/ عضو مجلس الشورى، عضو المجلس التنفيذي لليونسكو، أستاذ التاريخ الحديث والمعاصر - جامعة صنعاء

* رتبت أسماء الدول المشاركة حسب الترتيب الهجائي