Wednesday, January 4, 2012

Diantara Akidah Syi'ah

Diantara Akidah Syi'ah

Oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi.

Sepatah Kata Dari Penterjemah
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa
dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba'du :
Sebenarnya, sudah lama saya ingin menterjemah buku kecil ini, yang penuh dengan
bukti yang akurat dari buku-buku pegangan kaum syi'ah. Tatkala salah seorang
ikhwan yang mulia mengirim email kepada saya untuk minta dikirimi makalah
tentang syi'ah, disebabkan di kampusnya sedang gencar-gencarnya dakwah syi'ah,
maka saya semakin terdorong untuk cepat-cepat menterjemahkan buku ini, agar
kerusakan aqidah golongan yang sesat ini bisa diketahui oleh masyarakat umum.
Tulisan ini insya Allah akan saya kirim lewat group diskusi ini secara bertahap
menjadi 16 edisi. Terjemahan ini diizinkan untuk disebarluaskan bagi siapa yang
ingin menyebarkannya secara cuma-cuma, asalkan tidak dirobah sedikitpun dari
tulisannya.
Akhirnya kepada Allah -lah kita memohon agar kita semua diberi keikhlasan dalam
beramal shaleh, dan ditetapkan di atas agama-Nya yang lurus, dianugerahkan niat
yang baik, dan pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan Sunnah sesuai dengan
pemahaman sahabat. Serta dijauhkan dari segala yang merusak akidah, sesungguhnya
Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Amiin.

Pendahuluan
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa
dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba'du :
Sesunguhnya motivasi yang mendorong untuk menulis makalah ini adalah apa yang
terlihat belakangan ini, yakni, semakin gencarnya kegiatan Rafidhah (syi'ah)
dalam mendakwahi ajaran mereka setaraf dunia Islam, dan bahaya terhadap agama
islam yang dimiliki oleh golongan yang keluar ini, serta kelengahan dari
kebanyakkan dari awam kaum muslimin terhadap bahaya mereka, serta apa-apa yang
terdapat dalam akidah mereka berupa syirik, celaan terhadap Al Quran, celaan
terhadap para sahabat, ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para imam. Sungguh
penyusun telah bertekat untuk menulis makalah ini, dan menjawab apa yang menjadi
problem dalam permasalahan ini secara ringkas, mengikuti metode syeikh kita
Syeikh Alaamah abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin -semoga Allah menjaganya-
dalam kitab beliau (( At Ta'liiqaatu 'Ala Matni Lum'atil 'Itiqaad )), dan dengan
cara menukil dari buku-buku Rafidhah yang terkenal dan tersohor di kalangan
mereka, serta dari buku-buku ahli sunnah dari kalangan para imam-imam terdalulu
dan belakangan, dimana mereka telah membantah dan menerangkan kerusakan akidah
mereka yang berdiri atas kesyirikan, ghuluw (sikap berlebih-lebihan), kedustaan,
caci maki, celaan, tikaman, dll.
Sesungguhnya penyusun telah berusaha dalam makalah yang singkat dan kurang
berharga ini, untuk membuktikan kesalahan mereka dari buku-buku mereka dan
karangan-karangan yang terpercaya di kalangan mereka, sebagaimana perkataan
Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Al Jabhan -semoga Allah menjaganya- : "Dari mulutmu
aku menghukummu wahai pemeluk syi'ah".
Akhirnya, penyusun memohon kepada Allah 'Ajja wa Jalla semoga makalah ini
bermanfaat bagi orang-orang yang bisa memandang dengan baik, sebagaimana firman
Allah: "INNA FII DZAALIKA LADZIKRA LIMAN KAANA LAHUU QALBUN AW ALQAA-SSAM'A WA
HUWA SYAHIID"
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi
orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksikannya " (Surat : Qoof, ayat : 37).
Dan penyusun mengucapkan terima kasih, kepada setiap orang yang ikut menanam
saham bersama penyusun dalam menerbitkan buku kecil ini, Wallahu 'Alam, semoga
Allah senantiasa menganugerahkan shalawat dan salam atas Rasulullah dan atas
keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Kapan Munculnya Firqah Rafidhah?
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk
Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan
terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk
mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan,
hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya "Al Maqaalaat wal Firaq" : Ia mengakui
keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya
keimaman Ali, dan raj'iyah Ali, dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar
dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di
bukunya "Firaqus Syi'ah". Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di
bukunya yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi". Pengakuan adalah tuan argumen
(argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar
Rafidhah.
Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang
telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali
adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebiahn lagi, sehingga ia mendakwakan
bahwasanya Ali adalah Allah.
Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit
hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu
mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan
kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka,
bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya
orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan
Muhammad Sholallahu 'alaihi wassalam.
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang
pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan,
dan ia menyebutkan juga dari kelompok sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah
(golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah dan akidah raj'iyah,
kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan
golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan
nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya
syi'ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang
banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat,
raj'iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan, karena
mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.

Kenapa Syi'ah Dinamakan Dengan Rafidhah?
Penamaan ini disebutkan oleh syeikh mereka Al Majlisi dalam bukunya "Al Bihaar"
dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid
bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr
dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!", lalu beliau menjawab : "Mereka berdua
(Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka".
Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah
mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai'at dan sepakat dengan
Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak
keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar.
Dan dikatakan mereka dimanakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.

Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?
Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma'arif bahwasanya : golongan yang muncul dari
cabang-cabang syi'ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang
terkenal itu.
Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad, sesungguhnya seluruh
firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini
menjadi tujuhpuluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi'ah. Dan
sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.
Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga
ratus) firqoh.
As Syahrastaani berkata : Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al
Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah.
Al Baghdadi berkata : Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan
: Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.
Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari
firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.

Apakah dimaksud dengan akidah Al Badaa' yang diimani oleh Rafidhah?
Al Badaa' yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna
timbulnya pandangan baru. Al Badaa' sesuai dengan kedua makna itu, haruslah
didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu
hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah)
menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa'.
Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : "Saya telah
mendengar Al Ridha berkata : "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali
mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa". Dan
dari Abi Abdillah ia berkata : "Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu
apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa". Maha Tinggi Allah dari hal itu
dengan ketinggian yang besar.
Lihatlah wahai saudarku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada
Allah subhanahu wa ta'ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan
tentang diri-Nya :
Artinya : "Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu
ghaib kecuali Allah."
Dan di sisi lain Rafidhah (syi'ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam
mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.
Apakah ini keyakinan Islam (akidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad
-Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- ??????

Apa Akidah Rafidhah Dalam Masalah Sifat ?
Adalah Rafidhah orang yang pertama kali mengatakan tajsiim (bersifat seperti
tubuh manusia). Sungguh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menentukan bahwa
sesungguhnya orang yang melakukan kedustaan ini dari kalangan kaum Rafidhah
adalah Hisyam ibnul Hakam, dan Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin
Abdurrahman Al Qummi, dan Abu Ja'far Al Ahwal.
Seluruh orang yang disebutkan tadi termasuk syeikh-syeikh besar golongan Itsna
Asyariyah (Rafidhah), kemudian mereka menjadi pemeluk paham Jahmiyah mu'athilah,
sebagaimana sekumpulan riwayat mereka menyifati Rabb semesta alam dengan
sifat-sifat negetif yang mereka masukkan sebagai sifat yang tetap bagi Allah.
Dan sungguh Ibnu Babawaih meriwayatkan lebih dari tujuhpuluh riwayat yang
mengatakan bahwa Allah Ta'ala, tidak disifiti dengan jaman, tidak dengan tempat,
tidak dengan bagaimananya, tidak dengan gerak, tidak dengan berpindah, tidak
dengan sesuatupun dari sifat-sifat tubuh, Dia bukan yang bisa diraba, bukan
bertubuh dan berbentuk." Maka syeikh-syeikh mereka mengikuti jalan (metode) yang
sesat ini dengan menta'til (menghilangkan) sifat-sifat yang tercantum dalam
AlQuran dan sunnah.
Sebagaimana mereka mengingkari turunnya Allah yang Maha Agung. Mereka mengatakan
Al Quran makhluk, mereka mengingkari ru'yah (melihat kepada Allah) pada hari
akhirat. Tercantum dalam kitab "Biharul Anwar", bahwasanya Abu Abdillah Ja'far
As Shodiq ditanya tentang Allah ta'ala, apakah bisa dilihat pada hari akhirat?
Beliau berkata : "Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian
yang besar, sesungguhnya pandangan tidak akan bisa mencapai kecuali hal-hal yang
mempunyai warna dan bentuk, dan Allah yang menciptakan warna-warni dan bentuk".
Bahkan mereka mengatakan : "Jika seandainya dinisbatkan kepada Allah sebagian
sifat seperti ru'yah, maka dihukum sebagai murtad, sebagaimana yang didapatkan
dari syeikh mereka Ja'far Al Najfi di kitab "Kasyful Ghitho'" hal : 417. Perlu
diketahui bahwasanya melihat kepada Allah pada hari akhirat adalah benar adanya
dan sudah konsisten dalam Kitab dan Sunnah tanpa meliputi seluruhnya dan tanpa
bagaimananya, sebagaimana firman Allah :
"Wajah-wajah pada saat itu berseri-seri, kepada Rabbnya melihat" (Al Qiyamah :
22,23).
Dan dari sunnah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits
Jarir bin Abdillalh Al Bajali, berkata : "Adalah kami duduk-duduk bersama
Rasulullah, lalu beliau melihat kepada purnama, pada malam empat belas, lalu
bersabda : "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang,
sebagaimana kalian melihat ini (purnama), dimana kalian tidak berdesakan
melihatnya". Dan ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah itu banyak sekali,
yang tidak memungkinkan kita untuk menyebutkannya.

Apa Keyakinan Rafidhah (Syiah) Terhadap Al Quran-ul Karim Yang Ada Di
Tengah-Tengah Kita Sekarang, Padahal Allah Telah Berjanji Untuk Menjaganya?
Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah,
mengatakan sesungguhnya Al Quran yang ada di pada kita, bukanlah Al Quran yang
telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar,
ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi'ah meyakini adanya
pelencengan (perubahan) dalam Al Quran seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al
Tibrisi dalam kitabnya "Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab".
Dan Muhammad bin Ya'qub Al Kulaini berkata di "Usulul Kafi" di bawah Bab bahasan
: "Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Quran seluruhnya, kecuali
para iman" dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja'far berkata :
"Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan
Al Quran secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia
itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mempu mengumpulkannya dan menghafalnya
seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam
setelah mereka".
Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab "AL Ihtijaaj" dan Al Mulla Hasan dalam
tafsirnya " As Shaafi" sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit :
Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Quran, yang di
dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor. Dan sungguh kami telah
memandang untuk mengumpulkan Al Quran dan menghilangkan setiap apa-apa yang di
dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshr. Dan Zaid pun telah memenuhinya
untuk itu, kemudian berkata : "Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al
Quran sesuai yang anda minta, lalu jelas atas saya akan Al Quran yang
dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda
kerjakan? Maka berkata Umar : "Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid :
Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya", berkata Umar : Tiada jalan keluar
kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang
pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mempu
melakukannya.
Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk
mendatangkan Al Quran kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas
Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa
Al Quran yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakr, agar kita bersatu atasnya.
Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu,
sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakr hanyalah untuk menegakkan hujjah
atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat "Sesungguhnya kami akan
hal ini dalam keadaan lengah" (Al 'Araf :172), atau agar kalian tidak mengatakan
; "Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami" (Al 'Araf : 129). Sesungguhnya
Al Quran ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan
orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : "Apakah
ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : "Ya, jika telah
bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia
atasnya.
Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku
An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah taqiyah, akan tetapi kitab itu
terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari
ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya
mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan
tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap
alquran.
Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Quran, yang pertama yang diketahui,
dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang
didakwakan oleh syi'ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Quran
yaitu :
"Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu", Mereka mendakwakan ayat ini
dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan
dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah,
dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.

Bagaimana Akidah Rafidhah Terhadap Para Sahabat Rasulullah?
Akidah Rafidhah berdiri atas caci maki, mencala dan mengkafirkan para sahabat
-semoga Allah meridhoi para sahabat-. Al Kulaini menyebutkan di "Furu' Al Kafi"
dari Ja'far 'alaihi salam : "Manusia menjadi murtad setelah Nabi (meninggal)
kecuali tiga orang, lalu aku bertanya : siapa tiga orang itu ? beliau berkata :
Al miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi.
Al Majlisi dalam kitab "Haqqul Yakin" menyebutkan : "Bahwasanya seorang budak
Ali bin Hasein berkata kepadanya : saya mempunyai hak pelayanan yang wajib atas
dirimu, maka beritahu aku tentang Abu Bakr dan Umar, lalu ia menjawab : "Mereka
berdua adalah orang kafir, dan orang yang mencintai mereka maka ia orang kafir
juga."
Dalam tafsir Al Qummi pada firman Allah (An Nahl : 90) :
Mereka mengatakan : al fahsyaa' (keji) adalah Abu Bakr, mungkar adalah Umar dan
baghyi (kezoliman) adalah Utsman.
Mereka mengatakan dalam buku mereka "Miftahul Jinaan" : Ya Allah anugerahkanlah
salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan laknatlah dua berhala kaum
Quraisy dan dua yang mereka sembah selain Allah. dan dua toghut serta anak
perempuan mereka berdua....dan seterusnya. Dan yang mereka maksudkan dengan itu
adalah Abu Bakr, Umar, Aisyah dan Hafshah.
Pada hari asyura (hari ke sepuluh bulan Muharram), mereka membawa seekor anjing
lalu mereka namakan dengan umar, kemudian mereka menghujani dengan pukulan pakai
tongkat, serta melontarnya dengan batu sampai mati, kemudian mereka menghadirkan
seekor anak kambing, mereka beri nama dengan Aisyah, kemudian mereka mulai
mencabut bulunya, dan menghujani dengan pukulan pakai sandal, sampai mati.
Sebagaimana mereka merayakan hari terbunuhnya Faruq Umar bin Khatab dan mereka
memberi nama pembunuh umar yaitu abu Lukluk al Majusi dengan nama Baba
Syujaa'uddin (bapak) pemberani agama (pahlawan agama), semoga Allah meridhoi
seluruh sahabat dan para ummul mukminin.
Lihatlah wahai saudaraku muslim, alangkah dengkinya dan alangkah kejinya
golongan yang keluar dari agama ini, tentang apa yang telah mereka katakan
terhadap manusia pilihan setelah para nabi, yang mana Allah dan rasul-Nya telah
memuji mereka. Dan telah sepakat umat ini atas keadilan (kelurusan dan
keterpercayaan) dan keutamaan mereka. Sejarah dan kenyataan pun telah
membuktikan dan menyaksikan serta perkara-perkara ini sudah merupakan
pengetahuan yang wajib diketahui (oleh setiap umat) atas kebaikan, dan posisi
mereka selalu di depan serta jihad mereka dalam Islam.

Apa Segi Kesamaan Antara Yahudi dengan Rafidhah?
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : Bukti dari, sesungguhnya bencana Rafidhah
adalah bencana Yahudi, hal itu terlihat pada :
Sesungguhnya orang Yahudi mengatakan : Tidak boleh yang menjadi raja kecuali
dari keluarga nabi Daud, Rafidhah berkata : Tidak boleh menjadi imam kecuali
dari anak Ali.
Yahudi mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Masehid Dajjal
dan diturunkan pedang. Orang Rafidhah mengatakan : Tidak ada jihad di jalan
Allah sampai keluar Al Mahdi, dan datingnya penyeru menyeru dari langit.
Orang Yahudi mengakhirkan (mengundurkan) shalat sampai bintang bertebaran,
begitu juga orang Rafidhah mereka mengundurkan shalat maghrib sampai
bintang-bintang bertebaran, padahal hadits mengatakan : "Senantiasa umatku di
atas fitrah, selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang
bertebaran.
Orang Yahudi telah merubah taurat, begitu juga orang Rafidhah, mereka telah
merubah Al Quran.
Orang Yahudi tidak memandang bolehnya mengusap khuf (sepatu kulit yang menutupi
mata kaki), begitu juga orang Rafidhah.
Orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan : Malaikat Jibril
adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Begitu juga orang Rafidhah, mereka
mengatakan : Malaikat Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad.
Begitu juga orang Rafidhah meyerupai orang kristen pada satu ajaran nasrani
yaitu, wanita-wanita mereka tidak memiliki hak mendapatkan mahar, akan tetapi
hanya bersenang-senang dengan mereka dengan kesenangan, begitu juga orang
Rafidhah, mereka menikah dengan cara mut'ah, dan mereka menghalalkan itu.
Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat
(yaitu) :
Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk
agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Musa.
Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk
agamamu? Mereka menjawab : adalah Hawari (sahabat-sahabat) Isa.
Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk
agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Muhammad.

Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Para Imam Mereka?
Rafidhah mendakwakan kema'suman (terjaga dari dosa) bagi para imam, dan
bahwasanya mereka mengetahui hal ghaib. Dinukil oleh Al Kulaini dalam Usulul
Kafi : "Telah berkata Imam Ja'far as Shodiq : "Kami adalah perbendaharaan ilmu
Allah, kami adalah penterjemah perintah Allah, kami adalah kaum yang maksum,
telah diperintahkan untuk menta'ati kami, dan dilarang untuk menentang kami,
kami adalah hujjah Allah yang kuat terhadap siapa yang berada di bawah langit
dan di atas bumi".
Al Kulaini meriwayatkan di Al Kafi : Bab "Sesungguhnya para imam, jika mereka
berkehendak untuk mengetahui, maka mereka pasti mengetahuinya". Dari Jafar ia
berkata : "Sesungguhnya Imam jika ia berkehendak mengetahui, maka ia pasti
mengetahui, dan sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan
sesungguhnya mereka tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri."
Khumaini yang celaka menyebutkan - dalam salah satu tulisannya bahwa para imam
lebih afdhal (mulia) dari para nabi dan rasul, ia berkata - semoga Allah
menghinakannya : "Sesungguhnya imam-imam kita mempunyai suatu kedudukan yang
tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh nabi yang
diutus".
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : "Orang Rafidhah mendakwakan sesungguhnya
agama ini diserahkan kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, maka yang halal itu
adalah yang dihalalkan mereka, dan yang haram itu adalah yang diharamkan mereka,
serta agama itu adalah apa yang mereka syariatkan".
Jika pembaca ingin melihat kekufuran, kesyirikan dan ghuluw (sikap
berlebih-lebihan mereka) -semoga Allah melindungi kita- maka bacalah syair-syair
yang diungkapkan oleh syeikh mereka zaman sekarang ini yaitu Ibrahim Al Amili,
terhadap Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhai Ali- :
Abu hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati),
dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi.
Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,
maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul.
Engkaulah yang mengendalikan poros alam,
bagimu para ulamanya yang tinggi.
Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,
bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.

Ali bin Sulaiman Al Mazidi mengutarakan syairnya dalam memuji Ali bin Abi Thalib
:
Abu Hasan engkaulah suami orang yang suci,
Dan (engkaulah) sisi tuhan yang diibadati serta jiwa rasul.
Dan (engkaulah) pernama kesempuranaan dan matahari akal,
(engkau) Hamba dari tuhan, dan engkaulah yang Maha Raja.
Engkau dipanggil oleh nabi di hari kadir,
Dan telah menaskan atas dirimu sesuai dengan kejadian Ghadir
Bahwasanya engkau bagi kaum mukminin adalah amir (pemimpin),
dia telah mengkalungkan kepadamu buhul kekuasaannya.
Kepadamulah kembalinya seluruh perkara,
dan engkaulah yang maha mengetahui dengan kadungan dada.
Engkaulah yang akan membangkitkan apa yang ada dalam kubur
Bagimulah pengadilan hari kiamat berdasarkan kepada nas.
Engkaulah yang maha mendengar dan engkaulah yang maha melihat
Engkau atas setiap sesuatu maha mampu.
Kalaulah tidak karena engkau, pasti bintang tidak berjalan
Kalaulah tidak karena engkau, pasti planet tidak berputar.
Engkaulah, dengan setiap makhluk mengetahui,
Engkaulah yang berbicara dengan ahli kitab.
Kalaulah tidak karena engkau, tidak mungkin musa
akan diajak berbicara, Maha suci Dzat yang telah menciptakanmu
Engkau akan melihat rahasia namamu di jagat raya,
Kecintaan terhadap dirimu seperti matahari di atas kening.
Kebencian terhadap dirimu di wajah orang yang membenci,
Bagaikan peniup api, maka tidak akan beruntung yang membencimu.
Siapa itu yang telah ada, dan siapa itu yang ada,
Tidak para nabi dan tidak (pula) para rasul,
Tidak (pula) qalam lauh dan tidak (pula) alam semesta,
(kecuali) Seluruhnya adalah hamba-hamba bagimu.
Wahai Abu Hasan wahai yang mengatur wujud,
(wahai) goa orang yang terusir, dan tempat berlindung pendatang.
yang memberi minum pengagungmu pada hari berkumpul (hari kiamat).
orang yang mengingkari hari berbangkit, adalah orang yang mengingkarimu.
Wahai Abu Hasan wahai Ali yang gagah.
Kesetiaan padamu bagiku di dalam kuburku sebagai tanda penunjuk,
Namamu bagiku dalam keadaan sempit merupakan lambang
Dan kecintaan kepadamu adalah yang memasukkanku ke dalam surgamu
Dengan lantaran dirimu kemulian yang ada pada diriku.
Bila datang perintah Tuhan yang Maha Mulia
Menyeru penyeru, berangkat-berangkat (kematian-kematian).
Dan tidaklah mungkin engkau akan meninggalkan orang yang berlindung denganmu.

Apakah syi'ir seperti ini diucapkan oleh seorang muslim yang memeluk agama
Islam?, Demi Allah, bahkan sesungguhnya orang-orang jahiliyah (Kafir) sekalipun
belum pernah jatuh dalam kesyirikan dan kekufuran, terlalu muja-muji / ghuluw
seperti yang diperbuat oleh orang rafidhah celaka ini.

Apa Akidah Raj'ah Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?
Orang Rafidhah telah membuat bidah raj'ah, berkata Al Mufid : "Telah sepakat
mazhab imamiyah atas wajibnya terjadi raj'ah di kebanyakan dari para orang yang
telah mati". Yaitu (yang mereka maksudkan dengan raj'ah ini) bangkitnya penutup
imam-imam mereka, yang bernama Al Qaaim pada akhir zaman, ia keluar dari
bangunan di bawah tanah, lalu menyembelih seluruh musuh-musuh politiknya, dan
mengembalikan kepada syiah hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok-kelompok
lain sepanjang masa (yang telah berlalu).
Berkata sayid Al Murtadho di dalam kitabnya "Al Masail An Nashiriyah" :
"Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar disalib pada saat itu di atas suatu pohon di
zaman Al Mahdi -yakni imam mereka yang kedua belas- yang mereka beri nama Qaaim
Ali Muhammad (penegak keluarga Muhammad), dan pohon itu pertamanya basah sebelum
penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya.
Berkata Al Majlisi di dalam Kitab "Haqul Yakin" dari Muhammad Al Baqir (berkata)
: "Jika Al Mahdi telah keluar, maka sesungguhnya ia akan menghidupkan 'Aisyah
Ummul Mukminin dan ia melaksanakan (menjatuhkan) hukum had (hudud) atas diri
Aisyah".
Kemudian bagi mereka pemahaman raj'ah ini berkembang, dan mengatakan
(berlakunya) raj'ah (kembali hidup) seluruh orang syiah dan imam-imam mereka dan
seluruh musuh mereka bersama imam-imam mereka. Akidah khurafat ini mengungkapkan
rasa dengki yang tersembunyi di dalam diri mereka, yang mereka mengungkapkan
rasa dengki itu dengan cerita dongeng seperti ini. Dan adalah keyakinan ini
merupakan sarana (jembatan) yang diambil oleh orang-orang Sabaiyah untuk
mengingkari hari akhirat.
Apa Akidah Taqiyah Menurut Orang Rafidhah?
Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka zaman sekarang dengan
ucapannya : "Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan
dengan apa yang kamu yakini; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau
untuk menjaga kehormatanmu". Bahkan mereka mendakwakan bawah sesungguhnya
Rasulullah telah melakukannya (Taqiyah) tatkala Abdullah bin Ubai bin Salul
kepala orang-orang munafik meninggal, dimana beliau datang untuk menyolatkannya,
lalu Umar berkata kepadanya : Tidakkah Allah telah melarangmu dari hal itu?
-yakni berdiri di atas kuburan munafik ini-, lalu Rasulullah menjawabnya :
"Celaka kamu, kamu tidak tahu apa yang saya ucapkan : sesungguhnya saya
mengucapkan : Ya Allah isilah perutnya dengan api, dan penuhilah kuburannya
dengan api dan selalulah api membakar dirinya ".
Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mereka telah menyandarkan kepada diri
Rasulullah kedustaan. Apakah masuk akal, bahwa para sahabat Rasulullah mendoakan
rahmat untuknya (Abdullah bin Ubai), sedangkan Nabi melaknatnya?
Al Kulaini menukilkan di usul Kafi : " Berkata Abu Abdillah: "wahai Abu Umar
sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak
pada (akidah) taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan
taqiyah, taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam
dalam air untuk membuat arak) dan di dalam menyapu atas khuuf (kaus atau kulit
kulit)." Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : "Jagalah agama
kalian dan tutuplah agama itu dengan taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang
yang tidak mempunyai taqiyah."
Maka orang Rafidhah memandang taqiyah itu adalah fardu (wajib), tidak akan
berdiri mazhab ini kecuali dengan taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok
mazhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka selalu
melaksanakannya taqiyah itu terlebih-lebih, bila konsisi yang sulit telah
mengepung mereka, maka hati-hatilah dari orang Rafidhah wahai kaum muslimin.

Apa Keyakinan At-thiinah (Tanah) Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?
Yang dimaksud dengan at thiinah (tanah) menurut orang Rafidhah adalah tanah
perkuburan Husain "radhiallhu 'anhu-. Salah seorang dari orang-orang sesat
mereka yang bernama Muhammad An Nu'man Al Haritsi yang bergelar dengan "Syeikh
Al Mufid", menukilkan di kitabnya "Al Mazaar" dari Abi Abdillah ia berkata : "Di
tanah perkuburan Husain terdapat obat untuk segala penyakit dan ia merupakan
obat yang paling besar (ampuh)".
Berkata Abdullah : "Oleskanlah di mulut bayi kalian tanah (perkuburan) Husain"
Ia berkata : Telah dikirim kepada Abi Hasan Al Ridha dari negeri Khurasan sebuah
bungkusan kain di antaranya terdapat segumpal tanah, maka dikatakan kepada
utusan itu : Apa ini? Ia berkata : Tanah perkuburan Husain, tidaklah ia mengirim
sedikitpun dari bungkusan kain atau lainnya, kecuali ia meletakkan di dalamnya
tanah itu, dan berkata tanah itu pengaman insya Allah. Dikatakan kepadanya :
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Shadiq tentang pengambilannya
akan tanah perkuburan Husain, maka Shodiq menjawab : "Apa bila kamu mengambilnya
maka ucapkanlah : "Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepadamu disebabkan oleh
hak malaikat yang telah mengenggamnya (tanah ini), dan meminta kepadamu,
disebabkan oleh hak Nabi yang telah menyimpannya, dan oleh hak Al Washi (Ali)
yang telah bersatu di dalamnya agar Engkau melimpahkan Shalawat kepada Muhammad
dan atas keluarga Muhammad dan agar Engkau menjadikannya obat penawar untuk
seluruh penyakit, dan pengaman dari seluruh ketakutan, dan penjaga dari seluruh
kejahatan.
Abu Abdillah ditanya tentang penggunaan dua jenas tanah dari perkuburan Hamzah
dan pekuburan Husain serta mana yang paling utama diantara keduanya, maka ia
berkata : "Tasbih yang dibuat dari tanah perkuburan Husain akan bertasbih
(sendirinya) ditangan, tanpa (pemiliknya) bertasbih."
Sebagaimana orang Rafidhah mendakwakan, sesungguhnya orang syi'ah tercipta dari
tanah yang khusus dan orang Sunni tercipta dari tanah yang lain, lalu terjadilah
pengadukkan antara kedua tanah tadi dengan cara tertentu, maka apa-apa yang
terdapat pada orang syiah dari kemasiatan dan kejahatan, maka itu merupakan
pengaruh dari tanah sunni, dan apa-apa yang terdapat pada orang sunni dari
kebaikan dan anamah, maka itu disebabkan oleh pengaruh tanah syi'ah. Dan apabila
pada hari Kiamat nanti, maka kejelekan dan dosa-dosa orang syi'ah diletakkan di
atas Ahli Sunnah, dan kebaikan (pahala) Ahli Sunnah akan diberikan kepada orang
syi'ah.

Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Ahli Sunnah?
Akidah orang Rafidhah berdiri di atas penghalalan harta dan darah ahli sunnah.
Al Shoduq di kitab (Al 'Ilal) meriwayatkan dengan sanadnya kepada Daud bin
Farqad, ia berkata : "Saya telah berkata kepada Abi Abdillah : Apa yang anda
katakan terhadap An Naashib (Ahli Sunnah), ia berkata : "Darahnya halal, akan
tetapi saya bertaqiyah atasmu, jika kamu mampu untuk membalikkan dinding atas
dirinya (ahli sunnah) atau menenggelamkannya di laut, agar ia tidak akan
bersaksi atas dirimu, maka lakukanlah. Saya berkata : Apa pandanganmu di
hartanya? Ia menjawab : "Ambillah semampumu".
Bahkan orang syi'ah Rafidhah memandang, bahwa kekafiran Ahli Sunnah lebih berat
dari kekafiran orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka (Yahudi dan Nasrani)
menurut Rafidhah orang-orang kafir asli, dan mereka ini (ahli sunnah) adalah
kafir murtad, dan kafir murtad lebih berat menurut ijma', oleh karena itu mereka
(mau) berkerja sama dengan orang-orang kuffar untuk melawan kaum muslimin, hal
itu seperti yang disaksikan oleh sejarah.
Terdapat di dalam kitab "Wasaail As Syi'ah" (diriwayatkan) dari Al Fudhail bin
Yasaar, ia berkata : saya telah bertanya kepada Abu Ja'far tentang wanita
'Arifah (yakni wanita bermazhab Rafidhah) apakah saya menikahkannya dengan An
Nashib (ahli Sunnah)? Maka ia berkata : "Tidak; karena Nashiba (ahli sunnah )
orang kafir."
An Nawasib (orang-orang An Nasib) menurut pemahaman Ahli sunnah adalah mereka
yang membenci Ali bin Abi Thalib "radhiallahu 'anhu-, akan tetapi menurut orang
Rafidhah, mereka menamakan Ahli sunnah dengan Nawashib (An Nashib), karena
mereka mendahulukan keimaman Abu Bakr, dan Umar dan Utsman atas Ali, padahal
sesungguhnya mengutamakan Abu Bakr dan Umar atas diri Ali telah terjadi sejak
zaman Nabi, dalilnya perkataan Ibnu Umar : "Adalah kami di zaman rasulullah
memilih di antara sahabat siapa yang terbaik, maka kami memilih (orang yang
terbaik) Abu Bakr, kemudian Umar kemudian Utsman". (H.R. Bukhari), dan ditambah
oleh At Thabrani di Kitab "Mu'jam Al Kabir" : Nabi pun mengetahui hal yang
demikian dan tidak mengingkarinya". Dan bagi Ibnu Asaakir : "Adalah kami
mengutamakan Abu Bakr, dan Umar, dan Utsman dan Ali".
Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib sesungguhnya ia
berkata : "Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakr, kemudian Umar,
kalau aku berkehendak pasti aku telah menyebutkan orang yang ketiga". Berkata
Adz Dzahabi : Ini (Hadits ini) Mutawatir."

Apa Keyakinan Orang Rafidhah Tentang Nikah Mut'ah? Dan Apa Keutamaannya Menurut
Mereka?
Nikah mut'ah mempunyai keutamaan yang agung sekali di sisi orang Rafidhah
-Al'iyaadzu billah-. Tercantum dalam kitab "Manhaj As Shodiqin" karangan
Fathullah Al Kaasyaani dari As Shodiq (menerangkan) bahwasanya nikah mut'ah itu
adalah dari ajaran agamaku dan agama bapak-bapakku, dan orang yang
melaksanakannya berarti dia mengerjakan ajaran agama kita, dan orang yang
mengingkarinya berarti dia mengingkari ajaran agama kita, bahkan ia memeluk
agama lain dari agama kita. Dan anak (hasil) nikah mut'ah lebih mulia dari anak
istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut'ah adalah kafir murtad."
Al Qummi menukilkan di dalam kitab "Man Laa Yahduruhu Al Faqiih" dari Abdulah
bin Sinan dari Abi Abdillah, ia berkata : "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala
telah mengharamkan atas golongan kita setiap yang memabukkan dari sertiap
minuman, dan telah mengganti mereka dari hal itu dengan nikah mut'ah".
Orang Rafidhah tidak pernah menyaratkan (membatasi) bilangan tertentu dalam
nikah mut'ah. Tercantum dalam kitab "Furuu' Al Kafi" dan At Tahdziib" dan "Al
Istibshoor" dari Zaraarah, dari Abi Abdillah, ia berkata : "Saya telah
menyebutkan kepadanya akan nikah mut'ah apakah nikah mut'ah itu (terjadi) dari
empat (yang dibolehkan), ia berkata : nikahilah dari mereka-mereka (para wanita)
seribu, sesungguhnya mereka-mereka itu adalah wanita yang disewa (dikontrak).
Dan dari Muhammad bin Muslim dari Abi Ja'far sesungguhnya ia berkata tentang
nikah mut'ah : "Bukan nikah mut'ah itu (dilakukan) dari empat (istri yang
dibolehkan), karena ia (nikah mut'ah) tidak ada talak, tidak mendapat warisan,
akan tetapi ia itu hanyalah sewaan".
Bagaimana mungkin ini, padahal Allah telah berfirman :
Artinya : "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka
dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka
itulah orang-orang yang melampaui batas". (Al Mukminun : 5-7).
Maka jelaslah dari ayat yang mulia ini bahwa sesungguhnya apa yang dihalalkan
dari nikah adalah istri dan budak perempuan yang dimiliki, dan diharamkan apa
yang lebih dari (selain) itu. Wanita yang dimut'ah adalah wanita sewaan, maka ia
bukanlah istri (yang sah), dan ia tidak bisa mendapatkan warisan dan tidak bisa
ditalak, jadi dia itu adalah pelacur / wanita pezina -waliyaadzubillah-. Syeikh
Abdullah bin Jibriin berkata : "Orang Rafidhah berdalih dalam menghalalkan nikah
mut'ah dengan ayat di surat An Nisa' yaitu firman Allah:
Artinya : "Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali
budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai
ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu)
mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka
istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada
mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban;". (An Nisa : 24).
Jawab : Sesungguhnya ayat ini semuanya dalam masalah nikah; dari firman Allah
ayat 19 di surat An Nisa sampai 23, setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang
haram dinikahi karena nasab dan sebab, kemudian Allah berfirman :
Artinya : "Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian."
Maksudnya dihalalkan bagimu menikahi selain wanita-wanita (yang disebutkan tadi)
bila kamu menikahi mereka untuk bersenang-senang yaitu bersetubuh yang halal,
maka berikanlah mahar mereka yang telah kamu wajibkan untuk mereka, dan jika
mereka mengugurkan sesuatu dari mahar-mahar itu berdasarkan dari jiwa yang baik
(keridhoan hati), maka tidak mengapa atas kamu dalam hal itu. Beginilah ayat ini
ditafsirkan oleh jumhur (mayoritas) sahabat dan orang-orang setelah mereka.
Bahkan di sisi (menurut) orang Rafidhah perkaranya telah sampai menghalalkan
menyetubuhi wanita di lubang anusnya. Tercantum dalam kitab "Al Istibshoor" dari
Ali bin Al Hakam ia berkata : "Saya telah mendengar Shofwan berkata : "Saya
telah berkata kepada Al Ridha : Sesungguhnya seorang laki-laki dari
budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah,
maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakanmu, ia berkata : apa itu? Ia
berkata : Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di
lubang anusnya? Ia menjawab : Ya, hal itu boleh baginya".

Apa Keyakinan Orang Rofidhah Terhadap Najaf Dan Karbala? Dan Apa Keutamaan
Menziarahinya Menurut Mereka?
Orang syi'ah sungguh telah menjadikan tempat-tempat perkuburan imam-imam mereka
baik imam dakwaan mereka belaka atau hakiki, sebagai tempat yang haram dan suci
(seperti maram Makkah) : maka kota Kufah adalah haram, Karbala haram, Qum haram.
Dan mereka meriwayatkan dari As Shidiq : "Sesungguhnya Allah memiliki haram
yaitu kota Mekkah, dan Rasulullah memilik haram yaitu kota Madinah, dan Amirul
mukminin memiliki haram yaitu kota Kufah dan kita memiliki haram yaitu Qum.
Karbala menurut mereka lebih afdhol (utama) dari Ka'bah. Hal ini tercantum dalam
kitab "Al Bihaar" dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : "sesungguhnya Allah
telah mewahyukan ke Ka'bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak
akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi
Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan
rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan
jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong
terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke
dalam Jahanam.
Dan tercantum juga di dalam kitab "Al Mazaar" karangan Muhammad An Nu'man yang
diberi gelar dengan syeikh Mufid, di dalam Bab "Ucapan saat berdiri di atas
kuburan" yaitu orang yang menziarahi kuburan Husain mengisyaratkan dengan tangan
kanannya sambil mengucapkan doa yang panjang, diantaranya :
"Saya datang berziarahmu, untuk mencari keteguhan kaki di dalam berhijrah
kepadamu, dan sungguh saya telah meyakini bahwasanya Allah Jalla Tsanaauhu,
dengan lantaranmu Dia melapangkan kesulitan, dan dengan lantaranmu Dia
menurunkan Rahmat, dan dengan lantaranmu Dia menahan bumi yang jatuh bersama
penduduknya, dengan lantaramu Allah mengokohkan gunung-gunung di atas
pondasinya, dan sungguh saya telah menghadap (munajat) kepada Rabbku, bahwa
dengan lantaranmu wahai tuanku untuk menyelesaikan hajat kebutuhan dan keampunan
dosa-dosaku."
Dan tercantum dalam kitab "Al Mazaar" tentang keutamaan kota Kufah, dari Ja'far
Al Shodiiq ia berkata : "Tempat yang paling mulia (utama) setelah haram Allah
dan haram rasul-Nya adalah kota Kufah, karena kota Kufah Suci bersih, di sana
terdapat kuburan para nabi dan rasul dan ahli wasiat yang jujur, dan di sana
terlihat keadilan Allah, dan di sana datang Qaimah (penegak) dan
pengegak-penegak setelahnya, Kota Kufah itu tempat turunnya para nabi dan ahli
wasiat serta orang-orang yang sholeh.
Lihatlah wahai pembaca yang budiman, bagaimana mereka itu jatuh dalam
kesyirikan, karena mereka meminta kepada selain Allah dalam menyelesaikan dan
memenuhi hajat kebutuhan, meminta dan memohon pengampunan dosa-dosa kepada
manusia, bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan Allah telah berfirman :
"Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah" (Ali Imran :
135).
Kita berlindung dengan Allah dari perbuatan syirik.

Apa Segi Perbedaan Antara Syi'ah Rafidhah Dengan Ahli Sunnah?
Berkata : Nizhomuddin Muhammad Al 'Azhomi di dalam mukaddimah buku "Syiah dan
Nikah Mut'ah" : Sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka bukanlah
terpokus di perbedaan cabang-cabang fikih, seperti masalah nikah mut'ah saja,
sama sekali tidak, sesungguhnya perbedaan itu pada dasarnya adalah perbedaan
dalam masalah pokok-pokok prinsip, ya.. perbedaan dalam akidah terpokus di
beberapa point dibawah ini :
1. Rafidhah mengatakan sesungguhnya Al Quran dirubah (diselewengkan) dan kurang.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan : Sesungguhnya Al Quran adalah
kalamullah lengkap tanpa ada kekurangan, tidak pernah dan tidak akan dihinggapi
oleh penukarbalikan, mengurangan dan perubahan sampai Allah mewariskan bumi ini
dan orang-orang yang ada di atasnya (hari Kiamat), sebagaimana Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9)
2. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah terkecuali beberapa
orang, telah murtad setelah rasulullah wafat, dan mereka berbalik 180 derajat,
dan mereka mengkhianati amanah dan agama, terutama tiga orang khalifah; As
Shidiq (Abu Bakr), Al Faruq (Umar) dan Dzu Nurain (Utsman), oleh karena itu
mereka yang bertiga ini menurut mereka (Rafidhah) adalah termasuk orang yang
paling bersangatan kekufuran, kesesatan dan kesalahannya.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah
adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi, dan sesungguhnya mereka itu adalah
adil (istiqomah) seluruhnya, tidak pernah sengaja berdusta atas nabi mereka,
mereka orang-orang yang terpercaya dalam menukilkan berita.
3. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para imam adalah imam-imam Rafidhah yang dua
belas yang ma'shum (terjaga dari dosa), mereka mengetahui hal ghaib, dan
mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan (diajarkan) kepada para malaikat, para
nabi dan para rasul, dan sesungguhnya mereka mengetahui ilmu yang terdahulu dan
sekarang, dan tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sesuatu apapun, dan
sesungguhnya mereka mengetahui seluruh bahasa alam semesta, dan sesungguhnya
seluruh bumi ini adalah milik mereka.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan, sesungguhnya mereka itu adalah manusia
biasa seperti manusia-manusia lainnya, tiada perbedaan antara mereka, diantara
imam-imam itu adalah ahli fikih, ulama dan khalifah, dan kita tidak menisbahkan
kepada mereka apa yang tidak pernah mereka katakan terhadap diri mereka sendiri,
bahkan kita berlepas diri darinya dan mereka pun (para imam) berlepas diri dari
hal itu.

Apa Keyakinan Orang Rafidhah Pada Hari Asyura (Sepuluh Muharram) Dan Apa
Keutamaannya Menurut Mereka?
Sesungguhnya Rafidhah mengadakan perayaan dan perkumpulan dan ratapan tangis,
mereka melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan umum.
Mereka memakai pakaian hitam tanda duka cita dalam memperingati mati syahidnya
Husain dengan mengonsentrasikan pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram di
setiap tahun, dengan keyakinan sesungguhnya perbuatan itu termasuk dari
sebaik-baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mereka memukul-mukul pipi
mereka dengan tangan mereka sendiri, memukul-mukul dada dan punggung mereka.
Mereka merobek-robek baju sambil menangis dan berteriak-teriak dengan menyeru :
wahai Husain, wahai Husain. Terlebih-lebih pada hari ke sepuluh setiap bulan
Muharram, bahkan mereka memukul diri mereka sendiri dengan rantai besi dan
pedang, seperti yang terjadi di negeri-negeri yang dihuni oleh Rafidhah seperti
Iran.
Dan para ulama mereka mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang bodoh ini
dimana hal itu menjadi bahan tawaan semua umat. Sungguh salah seorang dari
pembesar mereka yaitu Muhammad Hasan Alu Kasyif al Ghatha, telah ditanya tentang
apa yang dilakukan oleh pengikut golongannya seperti menukul dan menampar
wajah.... dst, ia berkata : sesungguhnya ini termasuk dari mengagungkan
syiar-syiar Allah :
"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul
dari ketaqwaan hati". (QS. 22:32)

Apakah Keyakinan Orang Rafidhah Tentang Bai'at
Orang Rafidhah menganggap setiap pemerintahan selain pemerintahan Itsna 'Asyara
(syi'ah Itsna "asyarah / Imammiyah / Rafidhah ) adalah pemerintahan yang batil
(tidak sah). Diriwayatkan di dalam kitab "Al Kaafii" dengan syarahan (uraian) Al
Mazandaraani dan di dalam kitab Al Ghaibah oleh An Nu'mani, dari Abi Ja'far, ia
berkata : "Setiap bendera yang diangkat (dikibarkan) sebelum bendera Al Qaaim
-Mahdinya orang Rafidhah- maka pemiliknya adalah thoghut".
Dan tidak boleh menta'ati seorang hakim yang bukan dari Allah, kecuali dengan
cara taqiyah (kemunafikan), penguasa yang absolut dan zholim tidaklah pantas
untuk menjadi pemimpin, dan setiap pemimpin yang bersifat yang serupa dengan
itu. Seluruhnya gelar itu mereka memberikan nama itu kepada penguasa kaum
muslimin yang bukan dari imam-imam mereka, orang paling utama dari mereka itu
adalah khulafaurasyidin -semoga Allah meridhoi mereka- yaitu : Abu Bakr, Umar
dan Utsman.
Tokoh Rafidhah Al Majlisi, dimana ia merupakan salah seorang dari orang-orang
yang sesat dari mereka, pengarang kitab "Bihaarul Anwar", berkata tentang tiga
orang khalifah rasyidin : "Sesungguhnya mereka tiada lain kecuali perampas yang
zholim, murtad dari agama, semoga laknat Allah atas mereka dan terhadap
orang-orang yang mengikuti mereka di dalam menzholimi ahlu bait dari pertama
sampai terakhir". Inilah yang dikatakan oleh imam mereka Al Majlisi yang
kitabnya dikatagorikan ke dalam reffrensi mereka (rujukan) yang pokok dan
terpenting dalam hadits mengenai umat yang paling mulia setelah para rasul dan
nabi.
Berdasarkan kepada keyakinan mereka terhadap khilifah kaum muslimin, maka mereka
menganggap setiap orang yang bekerjasama dengan mereka adalah thoghut dan
zholim. Al Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Hanzholah, ia
berkata : "Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua orang dari
golongan kita, di antara mereka berdua terjadi perselisihan dalam masalah agama
atau harta warisan, lalu mereka berdua berhukum (minta diselesaikan secara
hukum) kepada penguasa dan kepada hakim, apakah hal itu halal? Ia berkata :
barangsiapa berhukum (meminta diselesaikan secara hukum) kepada mereka, dengan
kebenaran atau kebatilan, maka sesungguhnya mereka berhukum kepada thoghut, dan
apa yang telah diputuskan untuknya sesungguhnya yang ia ambil adalah harta
haram, walaupun sebenarnya itu haknya, karena ia telah mengambilnya dengan hukum
thoghut".
Berkata Khumaini yang celaka -semoga Allah menghukumnya dengan hukum sepantas
dan setimpal- dalam mengomentari pembicaraan mereka ini : "Imam itu sendiri
dilarang untuk merujuk kepada penguasa-penguasa dan hakim-hakim mereka, dan
merujuk kepada mereka dikatagorikan merujuk kepada thoghut."

Apakah Hukum Usaha Mendekatkan Antara Ahli Sunnah Yang Bertauhid Dengan Rafidhah
Yang Musyrik?
Saudaraku pembaca yang budiman, saya cukupkan saja dalam masalah ini, dengan
mencantumkan tulisan dari tulisan-tulisan DR. Nashir AL Qafari di dalam kitabnya
: "Masalah At Taqriib", yaitu tulisan yang ke tujuh, dimana beliau berkata
-semoga Allah menjaganya :
"Bagaimana mungkin mendekatkan antara orang yang mencaci kitab Allah dan
menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsirannya, dan mendakwakan turunnya
kitab-kitab ilahi (wahyu) kepada imam-imamnya setelah Al Quranul Karim?, dan ia
memandang keimaman itu adalah kenabian, para imam baginya seperti para nabi dan
bahkan lebih mulia, dan ia menafsirkan mengibadati Allah semata yang mana itu
adalah inti dari misi (ajaran) para rasul seluruhnya tidak sesuai dengan
maknanya yang hakiki, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya ibadah itu adalah ta'at
kepada para imam. dan sesungguhnya syirik kepada Allah adalah mentaati selain
mereka (para imam) bersama mereka, ia mengkafirkan orang-orang yang terbaik dari
para sahabat rasulullah, dan mengkliem seluruh para sahabat dengan murtad,
kecuali tiga atau empat atau tujuh sesaui dengan perbedaan riwayat mereka. Dan
orang ini (orang Syiah) tampil berbeda dengan keganjilan dari jamaah kaum
muslimin dengan masalah-masalah akidah dan keyakinan di dalam keimaman,
kemaksuman (terjaga dari dosa), taqiyah (kemunafikan), dan mengatakan raj'ah
(imam kembali ke dunia), Al qhaibah (menghilangnya As Kaari) dan Al Bada'."

Apakah Perkataan Para Imam Terdahulu Dan Belakang Tentang Rafidhah (Syi'ah)?
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata: "Dan sungguh telah sepakat ahli ilmu
dalam bidang naqal, riwayat dan sanad, bahwasanya Rafidhah adalah yang paling
pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong terdapat dalam
diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam Islam
memtitelkan keistimewaan mereka dengan sering (banyak) berdusta.
Asyhab bin Abdul Aziz telah berkata : Imam Malik telah ditanya tentang Rafidhah,
maka beliau menjawab : Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah
mengambil riwayat dari mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta
(pembohong).
Dan berkata Imam Malik : orang yang mecaci maki para sahabat Rasulullah, maka ia
tidak berhak mendapatkan nama, atau tempat di dalam Islam.
Berkata Ibnu Katsir di dalam firman Allah :
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mu'min)". (Al Fath : 29).
"Dari ayat ini, maka Imam Malik menyimpulkan di dalam satu riwayat darinya,
dengan mengkafirkan orang-orang rafidhah dimana mereka membenci para sahabat,
beliau berkata : "Karena para sahabat menjengkelkan hati mereka (orang-orang
rafidhah), barangsiapa yang dijengkeli oleh para sahabat maka ia adalah kafir
oleh ayat ini".
Al Qarthubi telah berkata : "Sungguh Imam Malik telah berbuat baik dalam
ucapannya dan ia telah benar dalam menafsirkannya, maka barangsiapa mencela
seorang saja dari mereka atau mencela riwayatnya maka ia sungguh telah membantah
Allah Rabb semesta alam, dan telah menggugurkan syari'at-syari'at kaum
muslimin."
Abu Hatim telah berkata : " Telah menceritakan kepada kami Harmalah, ia berkata
: Saya telah mendengar Imam Syafi'i berkata : "Saya belum pernah melihat
seseorang yang lebih mudah bersaksi dengan kepalsuan daripada Rafidhah".
Muammil bin Ahab telah berkata : "Saya telah mendengar Yazid bin Harun berkata :
"Ditulis (riwayat hadits) dari setiap pelaku bid'ah bila tidak mengajak ke
bid'ahnya, kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka itu pendusta."
Dan Muhammad bin Sa'ad Al Ashbahaani telah berkata : "Saya telah mendengar
syeikh Syuraik berkata : "Ambillah ilmu itu dari setiap orang yang kamu jumpai
kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka membuat-buat (memalsukan) hadits, dan
mereka menjadikan hal itu sebagai agama". Syuraik ini adalah Syuraik bin
Abdullah Qodhi (hakim) kota Kufah.
Mu'awiyah telah berkata : "Saya telah mendengan Al 'Amasy berkata : Saya
menjumpai sekelompok manusia, dan mereka tidaklah menyebutkan tentang mereka
(rafidhah) kecuali (digolongkan kepada) orang-orang sangat pembohong", maksudnya
(mereka pembohong itu) adalah pengikut AL Mughirah bin Sa'id yang bermadzhab
rafidhah lagi pendusta, seperti yang disifati oleh imam Adz Dzahabi.
Syeikhul Islam telah berkata dalam mengomentari apa yang dikatakan oleh para
imam salaf : "Dan adapun Rafidhah asal usul bid'ah mereka diambil dari Zindiq
dan kufur serta unsur kesengajaan, kebohongan banyak sekali di tengah-tengah
mereka, dan mereka mengakui hal itu, dengan mengatakan : Agama kita adalah
Taqiyah, yaitu salah seorang dari mereka mengucapkan dengan lidahnya berbeda
dengan apa yang ada di hatinya. Dan inilah hakikat kebohongan dan kemunafikan,
maka mereka dalam hal itu sebagaimana pepadah : "Ia telah melemparku dengan
penyakitnya lalu ia lari".
Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal : Saya telah bertanya kepada bapakku
tentang Rafidhah, maka ia mengatakan : "Yaitu orang-orang yang mencaci maki atau
mencela Abu Bakr dan Umar". Dan Imam Ahmad ditanya tentang Abu Bakr dan Umar,
maka ia menjawab : Doa'kanlah mereka berdua agar diberi rahmat, dan berlepas
dirilah dari orang yang membenci mereka berdua".
Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : Saya telah
bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencaci maki Abu
Bakr dan Umar serta 'Aisyah, maka ia berkata : "Saya tidak memandangnya di dalam
Islam (artinya orang yang mencaci itu telah keluar dari Islam-pent).
Al Khallal meriwayatkan, ia berkata : Saya telah diberi tahu oleh Harb bin
Ismail Al Karmaani, ia berkata : Telah bercerita kapada kami Musa bin Harun bin
Ziad, ia berkata : saya telah mendengar Al Firyaabi sedangkan seorang laki-laki
bertanya kepadanya tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr, ia berkata : Kafir.
Lalu ia berkata lagi, apakah disolatkan? Ia berkata: Tidak."
Ibnu Hazam telah berkata : tentang Rafidhah tatkala ia berdebat dengan orang
Kristen, dan orang-orang memberikan kepadanya kitab-kitab Rafidhah untuk
bantahan terhadapnya (Ibnu Hazam dan berkata) : sesungguhnya Rafidhah bukanlah
kaum muslimin, dan perkataan mereka bukanlah argumen terhadap agama, akan tetapi
Rafidhah itu hanyalah suatu golongan, mula terjadinya kira-kira duapuluh lima
tahun setelah Nabi Wafat, dan permulaannya adalah merespon pangilan orang yang
hampir masuk islam dari orang-orang yang dihina Allah. Rafidhah itu adalah
kelompok yang berjalan atas jalan ajaran Yahudi dan Nasrani dalam kebohongan dan
kekufuran."
Abu Zur'ah Ar Raazi berkata : "Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah
seorang dari para sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu
Zindiq."
Lajnah Daimah Lil Iftak (Lembaga Tetap untuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia
pernah ditanya dengan satu pertanyaan, dalam pertanyaan itu penanya mengatakan
bahwa ia dan sekelompok teman bersamanya berada di perbatasan utara berdekatan
dengan cek point negara Iraq. Di sana ada sekelompok penduduk yang bermadzhab Al
Ja'fariyah, dan diantara mereka (kelompok penanya) ada orang yang enggan untuk
memakan sembelihan penduduk itu, dan diantara mereka ada yang makan, maka kami
bertanya: Apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, ketahuilah
sesungguhnya mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta
seluruh pemimpin-pemimpin mereka di dalam keadaan sulit dan keadaan lapang ?
Lalu Lajnah (lembaga) yang diketuai oleh Syeikh Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Baz
dan (anggota-anggotanya); Syeikh Abdul Razaq 'Afifi, Syeikh Abdullah bin
Ghudayan, dan Syeikh Abdullah bin Qu'uud, semoga Allah memberi pahala kepada
mereka semua.
Jawabannya : Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga
dianugerahkan kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, dan
adapun selanjutnya:
Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa sesungguhnya
jamaah (kelompok) yang memiliki ajaran Ja'fariyah, mereka berdo'a dan meminta
tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta pemimpin-pemimpin mereka, maka mereka
itu adalah orang-orang musyrik murtad, kelaur dari agama Islam, semoga Allah
melindungi kita dari itu, tidaklah halal memakan sembelihan mereka, karena
sembelihan itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama Allah saat
menyembelihnya."
Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin ditanya, soal itu berbunyi : wahai
syeikh yang mulia, di negeri kami terdapat seorang rafidhah (bermadzhab syi'ah
rafidhah) bekerja sebagai tukang sembelih, maka ahlusunnah datang kepadanya
untuk menyembelih sembelihan mereka, dan begitu juga sebagian rumah makan,
bekerja sama dengan orang rafidhah ini, dan dengan rafidhah lainnya yang
berprofesi sama, apakah hukumnya bertransaksi atau berkoneksi dengan orang
rafidhah ini dan semisalnya? Apakah hukum sembelihannya, apakah sembelihannya
halal atau haram, berikanlah kepada kami fatwa, semoga syeikh diberi pahala oleh
Allah.
Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh wa ba'du:
Tidaklah halal sembelihan orang rafidhah, dan juga memakan sembelihannya,
sesungguhnya orang rafidhah pada umumnya adalah orang-orang musyrik, dimana
mereka selalu menyeru Ali bin Abi Thalib di waktu sempit dan lapang, sampai di
Arafah dan saat tawaf dan sa'i, mereka juga menyeru anak-anak beliau dan
imam-imam mereka seperti yang sering kita dengar dari mereka, perbuatan ini
adalah syirik akbar dan keluar dari agama Islam yang berhak dihukum mati
atasnya.
Sebagaimana mereka sangat berlebih-lebihan dalam menyifati Ali, mereka menyifati
beliau dengan sifat-sifat yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah,
sebagaimana kita mendengarnya dari mereka di Arafah, dan mereka disebabkan
perbuatan itu telah murtad, yang mana mereka telah menjadikannya sebagai Rabb,
Sang Pencipta, dan Yang mengatur Alam, Yang mengetahui ghaib, yang menguasai
kemudaratan dan manfaat, dan semisal itu.
Dan sebagaimana mereka mencela Al Quran, mereka mendakwakan bawah para sahabat
telah merubah, menghilangkan dari Al Quran ayat-ayat yang banyak berhubungan
dengan Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, lalu mereka tidak berpedoman kepada Al
Quran dan mereka tidak memandangnnya sebagai dalil dan argumen.
Sebagaimana mereka mencela pemuka-pemuka sahabat, seperti tiga orang khalifah
rasyidin, dan selain mereka dari orang yang diberi kabar gembira jaminan masuk
surga, para umul mukminin (istri-istri rasulullah), para sahabat yang terkenal,
seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan semisalnya, maka mereka tidak menerima
hadits-hadits para sahabat tersebut, karena mereka itu orang kafir menurut
dakwaan mereka, mereka tidak mengamalkan hadits-hadits di Bukhari Muslim kecuali
yang berasal dari Ahlu Bait. Mereka bergantung dengan hadits-hadits palsu atau
hadits-hadits yang di dalamnya tidak ada bukti atas apa yang mereka katakan.
Akan tetapi walaupun demikian, mereka itu adalah bersikap munafik, maka mereka
mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada pada hati mereka (yang tidak
mereka yakini), mereka menyembunyikan di diri mereka apa yang tidak mereka
tampakkan kepadamu, mereka berkata : barangsiapa tidak bersikap taqiyah (nifaq)
maka tidak ada agama baginya. Maka dakwaan mereka itu tidak bisa diterima dalam
ukhwah persaudaraan, dan dakwaan mereka akan cinta syari'at... dan seterusnya.
Sikap nifaq adalah merupakan akidah bagi mereka. Semoga Allah menjaga (kita)
dari kejelekan mereka, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam keada
Muhammad, dan keluarga beliau serta para sahabatnya.

Waspadai Syiah, Mereka Siap Menikam dari Belakang

Waspadai Syiah, Mereka Siap Menikam dari Belakang


Waspadai Syiah, Mereka Siap Menikam dari Belakang
Syiah dan TaqiyahKomentar Ulama Tentang Syiah


Oleh : Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc.

Syi’ah dulu diimpor dari Iran dengan malu-malu kucing; diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Muncul gerakan reformasi tahun 1998, Syi’ah pun menggeliat. Paham dari Persia ini pun mengemas ajarannya dengan berbagai caranya. Dari kemasan ilmiah hingga kemasan syahwat. Hasilnya, banyak anak mudah yang terpedaya.

Banyak yang tidak tahu dan tidak mau tahu tentang bahaya di balik kemasan ajaran Syi’ah. Wajar karena bungkus taqiyahnya begitu kuat. Hakikatnya Syi’ah berbeda dengan kita, ahlussunnah. Kita Ahlussunnah wal jamaah mencintai ahli bait (keluarga Rasulullah e), tidak pilih kasih baik terhadap istri-istri Rasul (ummahatul mukminin) atau dari paman-paman Rasul apalagi dari anak cucu beliau (dari Fatimah ke bawah). Kami membicarakan Syi’ah bukan berarti membicarakan keluarga Rasul. Kami akan mengungkap orang-orang yang mengkultuskan keluarga Rasul (ahli bait), dalam hal ini yang disponsori oleh Abdullah bin Saba’. Orang ini berasal dari Yahudi kemudian pura-pura masuk Islam dan merusak akidah Islam sejak Khalifah Ustman hingga sekarang. Dia letakkan dasar-dasar kesyirikan dan kekufuran; seperti pengkultusan ahli bait di atas para nabi bahkan sampai dituhankan. Bukan kepada Ali saja sampai keluarga Rasul seperti Fatimah dan Zaenab seterusnya. Ketika haji, mereka hanya membuat keributan di sekitar Baqi, mereka menangis sambil meratap ya.. Fatimah ya.. Zaenab.



1. Tentang Al-Quran mereka menuduh Ahlussunnah telah mengurangi dan menambahi. Ditulis oleh ulama Syi’ah buku berjudul Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Husain bin Muhammad Taqi al-Nuri al-Thabari. Menurut ulama Syi’ah, kaumnya boleh membaca al-Quran sekarang (Utsmani) hingga datang imam ke-12 untuk mengajarinya. Menurut akidah mereka mush-haf yang dibawa imam tersebut tebalnya tiga kali lipat dari al-Quran sekarang.

Jadi kalau ada yang berkampanye penyatuan Suni Syi’ah bagaimana mungkin? Syi’ah meragukan al-Quran kita yang sekarang ini, sedangkan menurut Rasulullah barangsiapa yang ragu dengan al-Quran adalah kafir.



2. Akidah terhadap para sahabat terutama kepada Abu Bakar, Umar dan Ustman. Orang Syi’ah meyakini al-Jibtu dan Thaghut adalah Abu Bakar dan Umar, bahkan disebutkan dalam doa ‘dua berhala Quraisy’ dalam kitab mereka (Miftahul Janan) halaman 114, yang terjemahnya ‘Wahai Allah limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya. Kutuklah dua berhala, dua sesembahan, dua tukang sihir Quraisy beserta kedua anak wanita keduanya.’ Yang dimaksudkan di sini adalah Aisyah dan Hafshah semoga Allah meridhai semua amin.

Termasuk keyakinan mereka adalah setelah Rasulullah e meninggal para sahabat kafir kecuali beberapa sahabat yang bisa dihitung dengan jari. Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib halaman 19-20. Hal tersebuit bertentangan dengan akidah Ahlussunnah bahwa kita harus mencintai para sahabat, mengikutinya serta tidak boleh mencela, dan meyakini bahwa semua sahabat adalah adil dan selalu mendoakan kebaikan.

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي

“Allah melaknat orang yang mencela sahabatku.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Thabrani dalam Al-Mu’jam.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr:10)

Bagimana akidah Syi’ah terhadap Umar? Saking bencinya terhadap Umar, waktu Sayidina Umar dibunuh oleh Abu Luluah si Majusi itu, mereka menjadikan hari terbunuhnya Umar sebagai hari raya bagi Syi’ah. Pelaku pembunuhan dianggap sebagai sang pamberani. Hal ini disebabkan Umar lah yang menaklukkan Persia yang sekarang menjadi Iran. Ini simpulan dari Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib halaman 20.



Akidah Syi’ah dalam Menanti Kedatangan Imam ke-12 (Imam Mahdi)

Menurut Syi’ah, setelah Imam Mahdi turun atau datang atau bangkit dari tidurnya kemudian Allah membangkitkan penguasa umat Islam yang telah lalu terutama Khalifah Abu Bakar dan Umar yang mereka juluki berhala quraisy yang dianggap telah merampas hak Ali dan keturunannya (sebagai khalifah atau pemegang kekuasaan umat Islam). Menurut keyakinan orang Syi’ah bahwa Imam Mahdi akan membalas dan memerintah untuk membunuh dan memusnahkan setiap 500 orang secara bersama-sama. Akhirnya hingga ia genap membunuh sebanyak 3000 penguasa Islam. Hal ini, masih menurut mereka, akan terjadi sebelum hari kebangkitan atau kiamat kelak. Dikutip dari Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib halaman 21-22.

Syi’ah meyakini bahwa pengetahuan tentang yang ghaib adalah hak imam mereka saja, adapun para nabi tidak punya hak. Bahkan mereka sampai menempatkan imam mereka pada posisi tuhan.

Bagaimana dengan Ahlussunnah? Masalah ghaib adalah khusus milik Allah. Adapun Nabi mendapat petunjuk dari Allah hanya pada saat dharurat. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,



وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَاشَاء

“…, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. … .” (Al-Baqarah:255)



Akidah Syi’ah tentang Keluarga Rasul (Alul Bait)

Menurut Syi’ah ahli bait Rasulullah e terbatas pada Ali dan sebagian anak beliau saja beserta cucu-cucu beliau tersebut. Sementara ahli bait menurut Ahlussunnah adalah pengikut Islam. Ada juga yang mengatakan mereka yang paling bertakwa di antara umatnya. Disebutkan juga ahli bait adalah keluarga Rasul yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Abdulmuththalib, termasuk istri-istri Rasulullah e.



Siy’ah dan Taqiyah

Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlussunnah. Hanya saja menurut Ahlussunnah taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam. Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Quran Syi’ah adalah sama dengan Quran Ahlussunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah. Padahal kakikatnya orang Syi’ah sangat membenci dan menganggap telah merampas.

Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang Syi’ah adalah melakukan kawin mut’ah (kawin kontrak), tidak melakukan shalat Jumat sebelum datangnya imam ke-12, suka berdebat membahas tentang wasiat Rasulullah e, dan tidak mau menampakkan kesyi’ahannya dengan menyimpan semua akidahnya di dalam dada dengan cara taqiyah. Orang Syi’ah begitu bersemangat melontarkan slogan ‘La syarqiyah wala gharbiyah walakin islamiyah’diterjemahkan dengan ‘tidak Syi’ah tidak juga Suni tetapi Islam’, sesudah terpola dengan tidak mempermasalahkan Syi’ah barulah dimuati dengan akidah Syi’ah.

SAudaraku kaum Muslimin. Perlu diketahui bahwa di antara kota-kota yang dijadikan sebagai pusat penyebaran ajaran Syi’ah adalah Bandung, Pekalongan, dan Bangil. Silakan periksa lebih detil lagi keberadaan yayasan Syi’ah di seluruh Indoensia, bias dicek lewat internet. Tidak rahasia lagi bahwa pada waktu Khumaini berkuasa banyak ulama Suni di Iran yang dibantai dan disiksa, masjid-masjid Muslim pun dihancurkan.

Perlu juga diingat bahwa antara Syi’ah dan Yahudi adalah bersaudara. Karena memang pencetus Syi’ah adalah Abdullah bin Saba yang Yahudi. Ia pura-pura masuk Islam, karena tidak senang melihat persatuan umat Islam dalam Ahlussunnah pada waktu itu. PErhatikan sejarah terbunuhnya Utsman dan pembunuhan-pembunuhan berikutnya. Sejarah kontemporer juga menguatkan bukti sejarah lampau. Bukan sebuah rahasia jika masuknya Amerika ke Afghanistan tidak lain karena dibantu oleh kaum Syi’ah. Sebelumnya juga begitu, hancurnya Irak pun dengan peran serta kaum Syi’ah Irak dan Iran, hingga sekarang kekuasaan dipegang oleh orang Syi’ah yang menjadi boneka negara penjajah—tidak layak dilupakan kisah sepak terjang pengkhianatan Alqomah yang Syi’ah bekerja sama dengan Tartar meluluhlantakkan Baghdad pada zaman dahulu.

Perhatikan pula perilaku Syi’ah di Palestina, perhatikan orang di dalam Hamas. Lihat pula Libanon. Untuk memancing Amerika masuk, Syi’ah lewat tentaranya, ‘Hizbullah’ melakukan gerakan pura-pura melawan Amerika. Kemudian setelah Amerika lewat Israel melakukan serangan balik mereka lari hingga yang dibantai adalah penduduk yang Ahlussunnah. Akhir-akhir ini Yaman dan perbatasan Saudi Arabia juga digoncang oleh ulah Syi’ah. Orang Syi’ah pura-pura menyerang. Jika terjadi perang mereka berharap akan masuklah Yahudi/Amerika dengan alasan keamanan.



Komentar Ulama tentang Syi’ah

Bagaimana para ulama rabbaniyin berusaha menyelamatkan umat dari pengaruh dan cengkeraman paham Syi’ah? Di antara yang dilakukan adalah menjelaskan tentang kerusahan dan bahaya ajaran Syi’ah. Berikut adalah perkataan sebagian ulama:

1. Perkataan Al-Qadhi Abu Ya’la

“Adapun Syi’ah Rafidhah apabila mengkafirkan dan memfasikkan sahabat berarti jelas masuk neraka dan termasuk kafir.” (Al-Mu’tamid hal. 267. Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 84.

1. Perkataan Ibnu Hazm al-Zhahiri

“Adapun perkataan mereka (nashara), mereka menuduh bahwa Rafidhah (Syi’ah) telah mengganti al-Quran. Sedangkan RAfidhah tidak termasuk kaum Muslimin. Sesungguhnya Syi’ah adalah golongan yang baru muncul 25 tahun setelah wafatnya RAsulullah e. Rafidhah adalah golongan yang berjalan seperti jalannya Yahudi dan Nashara dalam kebohongan dan dusta.” (Al-Fashlu fil Milal wan Nihal II/213)

“Tidak ada perslisihan di antara firqah-firqah yang menisbatkan kepada Islam baik Ahlussunnah, Mu’tazilah, Khawarij, Murjiah dan Zaidiyah; semuanya bersepakat harus mengambil dalil dari al-Quran yang Ahlussunnah. Hanya Rafidhah ekstrim yang menyelisihi. Kelompok ini kafir dan musyrik menurut para ulama Islam.” (Al-Ihkam Libni Hazm I/96) (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 84)

1. Perkataan Al-Qadhi Iyadh

“Kami memutuskan tentang kekafiran Rafidhah ekstrim yang mengatakan bahwa imam-imam mereka lebih mulia dari para nabi. Kami mengkafirkan orang yang mengingkari al-Quran atau hurufnya atau mengubahnya atau menambah sebagaimana halnya telah dilakukan oleh kelompok kebatinan dan Isma’iliyah.” (Fatawa al-Ulama fisy Syi'’h al-Rawafidhi hal. 84)

1. Perkataan Al-Shan’ani

“Umat Islam telah bersepakat untuk mengkafirkan Syi’ah Imamiyah. Karena mereka meyakini bahwa sahabat telah sesat di samping mereka juga mengingkari ijma’ (sahabat). Mereka juga telah menjuluki shabat dengan sesuatu yang tidak layak bagi sahabat itu sendiri.” (Al-Ansab II/341) (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 85)

1. Perkataan Ibnu Taimiyah

“Barangsiapa yang menuduh bahwa al-Quran ayatnya ada yang ditambahi atau dikurangi atau disimpan atau menuduh mentakwil batiniyah yang menggugurkan amalan-amalan yang disyariatkan tidak ada khilaf tentang kekafiran mereka. Barangsiapa menyangka bahwa para sahabat telah murtad setelah Rasulullah e wafat, kecuali tinggal beberapa orang yang tidak sampai 27 orang, atau menuduh kebanyakan sahabat adalah fasik, maka tidak diragukan lagi orang semacam ini telah kafir. Karena telah mendustakan nash al-Quran (dalam al-Quran Allah meridhai dan memuji mereka/para sahabat).” (Al-Sharimul Maslul hal. 586-587)

“Sesungguhnya [Syi’ah] lebih jelek dari ahli hawa dan lebih layak untuk diperangi daripada Khawarij.” (Majmu’ al-Fatawa XXVIII/482) (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidhi hal. 85)

1. Fatwa Lajnah Daimah

Soal: Penanya tinggal di perbatasan utara. Di wilayah tersebut ada beebrapa markas Irak. Di dalamnya ada orang yang beraliran Syi’ah ja’fariyah. Sebagian ada yang membolehkan makan sembelihannya, sebagian lagi melarangnya. Kami tanyakan apakah boleh memakan sembelihannya sedangkan jelas mereka itu pada waktu susah dan senang selalu meminta kepada Ali, Hasan, Husain, dan sayid-sayidnya.

Jawaban: Kalau keadaannya seperti yang disebutkan oleh penanya—mereka memohon kepada Ali, Hasan, Husain, dan sayidnya—berarti termasuk musyrik, murtad dari Islam; wal’iyadzubillah. Jadi, tidak halal memakan sembelihan mereka, karena status sembelihannya seperti bangkai. Sekalipun mereka menyebut bismillah saat menyembelih.

Wabillahit taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbibi wa sallam.

Ketua: Syaikh Abdulaziz bin Baz

Wakil: Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghadyan dan Abdullah bin Qu’ud

Fatwa al-Lajnah al-Daimah hal. 15

1. Syaikh Muhammad Nashituddin al-Albani

“Bismillahirrahmanirrahim. Setelah kami pelajari lima pernyataan yang terdapat di dalam kitab yang berjudul “’Ruhullah’ al-Khumaini”, ingin kami jelaskan hukum tentag isinya. Kami berkata dengan nama Allah yang Esa dan kami meminta pertolongan kepada-Nya. Bahwa setiap pernyataan dari lima poin yang terdapat dalam buku ‘Ruhullah’ al-Khumaini tersebut adalah jelas perkataan kufur dan syirik. Kalimat-kalimatnya menyelisihi al-Quran dan al-Sunnah maupun ijma’ kaum Muslimin. Karena kelima perkara tersebut dharurat maka harus diketahui oleh kaum Muslimin. Jadi, siapa yang berkata seperti hal tersebut dengan keyakinan, sekalipun hanya sebagian, berarti termasuk musyrik. Orang itu kafir meskipun melakukan puasa dan shalat serta mengira dirinya muslim. … . Kami heran selalu saja ada orang yang mengaku dirinya sebagai Ahlussunnah tetapi mengadakan ta’awun (saling membantu) dengan Khumaini dalam urusan dakwah. Bahkan ada yang mendukung dalam penegakan negara mereka di bumi kaum Muslimin. Apakah orang-orang tersebut memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa hal tersebut adalah kufur dan sesat. Mereka termasuk perusak. Bukankah Allah tidak senang terhadap orang-orang yang merusak?!..... (Nafsul (?) Kitab hal. 79)

1. Syaikh Bin Baz

Pertanyaan: Berangkat dari pengetahuan Syaikh tentang sejarah Rafidhah (Syi’ah), apa sikap Syaikh terhadap pemikiran pendekatan antara Alussunnah dan Syi’ah?

Jawaban: “Pendekatan antara Syi’ah dan Ahlussunnah tidaklah mungkin. Karena akidahnya saja memang sudah berbeda. Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah ialah men-tauhid-kan Allah secara ikhlas beribadah karena Allah l. Allah adalah Dzat yang mengetahui hal yang ghaib. Ahlussunnah juga tidak menyekutukan Allah sedikit pun—baik dengan malaikat maupun dengan rasul dan nabi yang diutus—dan bahwa hanya Allahlah yang tahu hal-hal yang ghaib. Termasuk akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mencintai para sahabat. Sahabat adalah orang yang paling mulia di antara makhluk yang ada,di bawah kemuliaan para nabi. Di antara jajaran para sahabat yang paling mulia adalah Abu Bakar, kemudian Umar, disusul Utsman dan Ali.

Sedangkan Rafidhah/Syi’ah menyelisihi semua keyakinan lurus tersebut. Jadi, tidak mungkin Syi’ah bersatu dengan Ahlussunnah sebagaimana Yahudi dan Nashara atau penuembah berhala dengan Ahlussunnah. Demikian pula Rafidhah dan Ahlussunnah tidak mungkin bersatu disebabkab sudah berbeda akidah, sebagaimana sudah dijelaskan.” (Fatawa al-Ulama fisy Syi’ah al-Rawafidh hal. 78)



Demikianlah bahaya dan kerusakan Syi’ah, berikut pandangan ulama dari zaman dahulu hingga sekarang. Yang jelas kewaspadaan dan pembenahan internal kaum muslimin mendesak dilakukan. Jelas dai Syi’ah selalu bergerak dari hari ke hari memanfaatkan berbagai momentum dan sarana. Di Indonesia Negara Iran telah membangun Islamic Cultural Center (ICC), sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari sinilah kemudian disebar lembaga yang bernama Iranian Cornen (IC). Menurut sebuah sumber di antara yang aktif mengajar di ICC adalah akak beradik Umar shihab (seorang ketua MUI) dan Umar Shihab (penulis Tafsir Misbah). Jalaluddin Rahmat (akrab disapa Kang Jalal), Haidar Baqir, dan O Hashem (salah satu penulis yang secara serius menfitnah Abu Hurairah). Juga ikut sejumlah keturunan alawiyin seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

Di antara perguruan tinggi yang memiliki Iranian Corner, masih menurut sumber yang sama, adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas ahmad dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Tidak cukup di situ dana Negara Iran juga digelontorkan dengan menawarkan bea siswa kepada para pemuda untuk belajar ke Iran. Tidak kurang ada 300 mahasiswa Indonesia yang tengah digodog di Iran, sementara sejulah 200-an yang lain sudah pulang ke Indonesia dengan mengemban tugas menyebar ajaran Syi’ah lewat pengajian, PT, maupun membuat yayasan. Sebut saja Ahmad Baraqbah dengan pondoknya Al-Hadi Pekalongan, Husain al-Kaff dengan Yayasan Al-Jawwad Bandung, dan masih ada puluhan yayasan Syi’ah yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Ya, paham Syi’ah Rafidhah sedang mengepung Indonesia, masihkan kita akan lengah dan lemah?!



Rujukan:



1. Mas-alatut Taqrib baina Ahlissunah wasy Syi’ah. Dr. Nashir Abdullah bin Ali al-Ghifari. Dua jilid.
2. Al-Mausu’ah al-Muyassarah fi Al-Adyani wal Madzahib wal Ahzab al-Mu’ashirah. Dua jilid. Dr. Mani’ bin Hammad al-Juhni.
3. Al-Khuthuth al-Aridhah. Al-Sayid Muhibbuddin al-Khathib.
4. ‘Aqa-idusy Syi’ah fil Mizan. Muhammad Kamil al-Hasyimi.
5. Shuratani al-Mutadhatani ‘inda Ahlissunnah wasy Syi’ah al-Imamiyah. Abul HAsan al-Nadwi.
6. Al-Tasyayu’ baina Mafhumil A-immah wal Mafhumil Farisi. Muhammad al-Yandari.
7. Al-Tahrafu al-Dini fi Irani. Abdul Jalil.
8. Al-Muamarah ‘alal Ka’bah minal Qaramithah ilal Khumaini Tarikh wa Wasya-iq. Dr. Abdul Mun’im al-Namiri.
9. Hakikat Syi’ah, terjemahan. Abdullah bin Abdillah al-Maushuli.
10. Bantahan dan PEringatan Atas Syi’ah Rafidhah, terjemahan. Al-Imam Muhammad bin Abdilwahhab.
11. Sikap Ahlul Bait Terhadap Sahabat Nabi, terjemahan. Muhammad bin Ali al-Syaukani.



Sumber Buku Syi’ah:

1. Fashlul Khithab fi Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Husain bin Muhammad Taqi al-Nuri al-Thabari.
2. Al-Ushulu minal Kafi. Al-Kulaini al-Razi. Dua jilid.

Membongkar Kebohongan & Penyesatan Buku ''Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi''

Membongkar Kebohongan & Penyesatan Buku ''Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi''

Waspadai buku “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku yang diberi Kata Pengantar oleh Ketua PBNU, Prof KH Said Agil Siraj ini penuh dengan kesesatan, antara lain: menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim, mengajarkan rasisme, penuh kecurangan dan kebohongan, mempromosikan ajaran Syi’ah, memicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin, terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan, mengajarkan sikap kurang ajar kepada para Ulama, memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam, dan mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah.



Oleh: AM. Waskito

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” –selanjutnya disingkat dengan SBSSW– ini sangat berbahaya kalau tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari judulnya saja, tampak sangar, provokatif, dan berpotensi menjerumuskan kaum Muslimin dalam pertikaian tanpa kesudahan. Buku SBSSW ini tidak layak diklaim sebagai buku ilmiah. Bisa dikatakan, buku ini adalah buku adu-domba, yang ditulis oleh orang Syiah dan Liberal, dalam rangka membenturkan sekelompok Ummat Islam dengan kelompok lainnya. Bahkan ia sudah masuk kategori buku Black Champaign.

Kita harus belajar dari kejadian-kejadian aktual di tengah masyarakat. Misalnya kerusuhan di Cikeusik Banten yang menimpa penganut Ahmadiyyah. Kerusuhan itu sudah direkayasa sedemikian rupa; disana telah dipersiapkan barisan provokator, penyerang bersenjata, pengambil gambar, korban, tukang upload video di internet, dll. Lalu pasca kejadian itu, dibuat rekayasa opini yang sangat keji melalui media-media TV. Dalam opini yang dikembangkan, digambarkan betapa beringas sikap aktivis Islam kepada kaum Ahmadiyyah. Padahal pihak Ahmadiyyah sendiri melalui pimpinannya (Deden) sejak awal sudah menginginkan terjadi kerusuhan di tempat tersebut. Akibat kerusuhan ini, para aktivis Liberal (baca: kaum non Muslim) berkoar-koar meminta supaya FPI dibubarkan. Kejadian itu mencerminkan skenario adu-domba, permusuhan, dan penyesatan opini. Kaum Liberal (non Muslim) yang kebanyakan adalah anak-cucu kaum PKI di tahun 1965 dulu, mereka selalu berada di balik aksi-aksi jahat untuk menghancurkan citra kaum Muslimin dan merusak persatuan Ummat. Di balik beredarnya buku SBSSW tercium aroma kuat modus serupa, berupa adu domba dan penyesatan opini. Semoga Allah Ta’ala mengekalkan laknat, kehancuran usaha, kesusahan hidup, serta kehinaan, atas kaum pendosa yang selalu memfitnah Islam dan kaum Muslimin itu. Amin Allahumma amin, ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir.

Buku ini bisa memicu banyak bahaya di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Disini kita akan membahas sisi-sisi bahaya tersebut, antara lain sebagai berikut:
1. Menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim

Buku ini memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi apa yang oleh penulis disebut sebagai sekte Salafi Wahabi. Menyebarkan kebencian seperti itu jelas sangat dilarang dalam Islam.

Dalam hadits Nabi SAW bersabda, “Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya dizhalimi, dan menghinanya. Taqwa itu di sini –kata Nabi sambil menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang disebut berbuat jahat jika dia menghina saudara Muslimnya)” [HR. Muslim].
2. Mengajarkan rasisme yang sangat berbahaya

Buku ini mengandung ajaran-ajaran RASIS yang sangat berbahaya. Penulisnya mengajak Ummat Islam memusuhi negara Saudi, para ulamanya, kaum santrinya, serta Pemerintahannya. Selain itu penulis buku itu juga mengajak memusuhi siapa saja, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mendukung paham Wahabi.

Salah satu bukti sikap RASIS dari penulis buku ini ada di hal. 174. Disana dia mengatakan: “Tanduk setan itu berasal dari keturunan Bani Tamim. Sedangkan kita tahu bahwa, pendiri Salafi Wahabi itu juga berasal dari keturunan yang sama, yaitu Bani Tamim, sebagaimana gelar yang selalu dipakainya: Muhammad Ibnu Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi. Jadi klop sudah. Bukan dibuat-buat.” (SBSSW, hal. 174). Dalam halaman yang cukup banyak penulis ini menghancurkan nama baik wilayah Najd, di Saudi. Salah satunya dia katakan: “Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana munculnya tanduk setan.” (SBSSW, hal. 158).

Anehnya vonis “tanduk setan” terhadap Najd dan penduduknya ini tidak dilakukan, kecuali setelah di Najd bangkit dakwah Wahabi. Artinya, vonis itu mengandung niat busuk. Kalau misalnya wilayah Najd dianggap “tanduk setan”, seharusnya mereka sudah melontarkan vonis jauh-jauh hari sebelum muncul gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan seharusnya, mereka dan Khilafah Utsmani di Turki tidak boleh marah ketika Najd direbut oleh keluarga Ibnu Saud. Ya buat apa marah, wong Najd sudah divonis sebagai “tanduk setan” kok? Malah mereka seharusnya bersyukur, ada manusia yang mau mengolah wilayah “tanduk setan” itu. Kalau melihat dendam kesumat kaum anti Wahabi, baik dari sisi kaum Alawiyyun atau kaum Syiah, masalah sebenarnya bukan ke persoalan Najd sebagai “tanduk setan.” Tetapi Najd yang semula dikuasai keluarga Syarif Hussein selama 700 tahun, lalu berpindah kekuasaan ke tangan Ibnu Saud. Itu sebenarnya masalah utama di balik munculnya hadits-hadits soal Najd sebagai “tanduk setan” ini. Bisa jadi, ketika 700 tahun Najd dikuasai keluarga Syarif, mereka tidak banyak menyinggung soal Najd sebagai “tanduk setan.”

Bukan hanya Bani Tamim atau penduduk Najd yang dilecehkan penulis, dia juga melecehkan orang Arab.

Dalam bukunya dia berkata: “Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal.” (SBSSW, hal. 224).

Padahal Nabi SAW menyebut bahwa puncak fitnah itu ada saat kedatangan dajjal. Bahkan kata beliau, para Nabi dan Rasul selalu mengingatkan ummatnya tentang dajjal ini. Lalu kini, si penulis menuduh banyak orang Arab ‘lebih dajjal’ dari dajjal sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Berarti dalam hal ini penulis merasa lebih pintar dari Nabi SAW? Masya Allah!! Banyak bukti-bukti sikap RASIS dari si penulis yang menyebut diri Syaikh Idahram ini. Dan sikap RASIS ini sudah menjadi ciri khas kaum Syiah dan penganut SEPILIS.

Para penganut Syiah di Indonesia banyak dari keturunan Arab Yaman (Hadramaut). Mereka itu orang Arab, atau keturunan Arab. Padahal dalam akidah Syiah, jika nanti turun Imam Al Mahdi Al Qaim, dia akan membabat habis bangsa Arab, hanya menyisakan kaum Persia. Begitu keyakinan mereka. (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, karya Sayyid Hussein Al Musawi, hal. 134-135). Pemimpin FPI, Habib Rieziq Shihab, pernah menulis sebuah makalah ilmiah tentang karakter RASIS kaum Liberal.
3. Penuh kecurangan dan kebohongan

Buku ini penuh kecurangan dan kebohongan. Penulis secara sadar mengacaukan akal para pembaca dengan data-data, kutipan, referensi, dll. Tetapi semua itu tidak dituangkan dalam suatu pembahasan ilmiah secara jujur.

Contoh, ketika dia menyebutkan kekejaman kaum Wahabi di hal. 61-138, bab tentang, “Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama.” Disini yang diceritakan penulis hanya kekejaman, keganasan, kesadisan, serta angkara murka kaum Wahabi. Tetapi penulis tidak pernah sedikit pun mengakui bahwa semua itu merupakan bentuk KONFLIK POLITIK antara keluarga-keluarga Emir (bangsawan) di Jazirah Arab.

Konflik seperti itu sudah terjadi sejak lama di Jazirah Arab, bahkan sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan oleh ibunya. Penulis ini juga hanya menghujat posisi Kerajaan Saudi, padahal yang melepaskan diri dari Khilafah Utsmani Turki bukan hanya Saudi. Disana ada Yaman, Bahrain, UEA, Qatar, Irak, Oman, Mesir, Yordania, Syria, dll. Kecurangan yang dibungkus kemasan ilmiah, tentu lebih berbahaya, sebab ia akan dikira sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.
4. Mempromosikan ajaran Syi’ah

Buku ini juga mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal itu dalam buku SBSSW. Nanti akan kita bahas secara khusus tentang akidah yang dianut penulis (Syaikh Idahram). Salah satu contoh kecil, sangat halus, tetapi kelihatan. Perhatikan kalimat berikut ini: “Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an Najaf al Asyraf, namun hanya sampai di As Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105).

Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan Al Asyraf. Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu.

Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena disana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan Al Haram As Syarif. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan Al Asyraf (artinya, lebih mulia atau paling mulia). Seolah, mereka ingin mengatakan, bahwa Najaf lebih mulia dari Kota Makkah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208).

Demi Allah, Ahlus Sunnah di seluruh dunia Islam tidak akan ada yang mengatakan perkataan seperti ini. Perkataan seperti ini hanya akan keluar dari lidah orang-orang Syiah (Rafidhah). Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. Pendapat yang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah, madzhab fikih itu hanya ada 4 saja, yaitu madzhab Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam Syafi’i (Syafi’i), dan madzhab Imam Ahmad (Hanbali). Kalau ada tambahan, paling madzhab Zhahiri. Itu pun tidak masyhur di kalangan Ahlus Sunnah. Lalu dalam buku SBSSW itu, si penulis Syiah berusaha membohongi kaum Muslimin, dengan mengatakan, bahwa dalam Islam ada sedikitnya 7 madzhab. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Bahkan madzhab Ja’fari dalam kalimat di atas disebut pada urutan pertama. Lebih busuk lagi, madzhab Syiah Imamiyyah yang merupakan salah satu sekte Syiah paling ekstrem, disebut sebagai madzhab Islam juga. Allahu Akbar!

Kalimat di atas juga mengandung kebodohan yang sangat telanjang. Coba perhatikan kalimat berikut ini: Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi. (SBSSW, hal. 208). Kalimat seperti ini hanya mungkin dikatakan oleh orang gila. Bayangkan, si penulis secara tegas mengklaim, bahwa madzhab Salaf itu tidak ada. Tetapi pada kalimat yang sama, dia mengakui bahwa imam-imam madzhab (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad), termasuk bagian dari ulama Salaf. Si penulis bermaksud mementahkan eksistensi madzhab Salaf, tetapi saat yang sama dia mengakui bahwa imam-imam madzhab itu termasuk imam madzhab Salaf. Kalau dia jujur ingin mengatakan, bahwa madzhab Salaf tidak ada, berarti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hanbali juga tidak ada. Ya bagaimana lagi, wong mereka itu imam-imam Salaf kok. Si penulis itu mengakui, bahwa mereka adalah imam-imam Salaf.

Sangat disayangkan dalam hal ini, KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini. Padahal MUI sendiri pada tahun 1984 pernah mengeluarkan fatwa yang menjelaskan pokok-pokok kesesatan paham Syiah menurut Ahlus Sunnah, kemudian MUI meminta Ummat Islam mewaspadai sekte ini. (Lihat situs voa-islam.com, tentang tersebarnya fatwa palsu MUI tentang Syiah yang ditulis anggota MUI, Prof. Dr. Umar Shihab. Fatwa itu mengklaim bahwa paham Syiah tidak sesat menurut MUI. Lalu redaksi voa-islam.com mencantumkan fatwa MUI asli yang dikeluarkan tahun 1984, tentang aspek-aspek kesesatan Syiah).

Bahkan KH. Ma’ruf Amin pernah diminta MUI untuk mengkaji tentang haramnya Nikah Mut’ah di kalangan Syi’ah. (Lihat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, hal. 144. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, tahun 2006).

Seharusnya beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Kalau ingin membantah KH. Ma’ruf Amin ini, kita merasa tidak enak, sebab beliau termasuk ulama sepuh di negeri kita. Tetapi kalau melihat keterlibatan beliau dalam mendukung buku SBSSW itu, kita sangat menyesalinya. Bisakah disini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah? Wallahu A’lam bisshawaab. Semoga saja dukungan KH. Ma’ruf Amin ini hanyalah merupakan ketergelinciran seorang alim dan semoga ia segera dihapus dengan pernyataan bara’ah (berlepas diri dari buku SBSSW itu). Kalau beliau tidak melakukannya, secara pribadi saya akan menyebut beliau sebagai pendukung Syiah dan SEPILIS. Siapapun yang terlibat mempromosikan ajaran sesat (Syiah dan SEPILIS) tidak layak didoakan mendapat khusnul khatimah, karena promosi seperti itu bisa membuat ribuan kaum Muslimin mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
5. Pemicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin

Buku ini bisa memicu pertikaian besar di tengah kaum Muslimin. Mengapa dikatakan demikian? Sebab sang penulis tidak mengidentifikasi kaum Wahabi dengan ciri-ciri yang jelas. Dengan sendirinya masyarakat akan bingung memahami, Wahabi itu apa dan bagaimana? Perlu diketahui, yang mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah, bukan hanya dakwah Wahabi. Jamaah-jamaah Islam yang lain juga mengajarkan hal itu.

Contoh, gerakan Ikhwanul Muslimin. Manhaj gerakan ini merujuk kepada Ushulul Isyrin (prinsip 20) yang diajarkan Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah. Dalam prinsip itu juga diajarkan tentang pentingnya Tauhid, buruknya syirik; pentingnya Sunnah, buruknya bid’ah. Bahkan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah (DDII), Pesantren Hidayatullah, Wahdah Islamiyyah, dll. juga mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah. Begitu pula Majelis Mujahidin, Jamaah Ansharut Tauhiid, dan yayasan-yayasan dakwah Salafi. Jika masyarakat salah paham, mereka akan menyangka bahwa semua organisasi, lembaga, atau yayasan itu harus dibenci dan dimusuhi, karena mereka dianggap Wahabi.
6. Terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan

Buku ini secara jelas telah mengajarkan prinsip-prinsip KESESATAN secara telanjang. Disini akan disebutkan beberapa pernyataan penulis. Coba perhatikan kalimat berikut ini: “Sesungguhnya Salaf tidak pernah sama dalam memahami berbagai masalah agama yang begitu komplek.” (SBSSW, hal. 201). Ini adalah jenis KESESATAN BESAR. Kalimat ini jelas meniadakan Al Ijma’ di kalangan para Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Padahal para ulama sudah sepakat, kalau suatu urusan telah menjadi ijma’ (konsensus) mayoritas Shahabat, hal itu menjadi dasar hukum yang kuat. Misalnya ijma’ Shahabat dalam memilih empat Khalifah (Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan ‘Ali Ra) sebagai pemimpin Ummat. Ijma’ ini tidak diragukan lagi. Begitu pula ijma’ mereka dalam Jihad Fi Sabilillah, penulisan Mushaf Al Qur’an, menyatukan bacaan Al Qur’an, Shalat berjamaah di masjid, Shalat ‘Ied, Shalat Istisqa’, menyelenggarakan Zakat, Shaum Ramadhan, manasik Haji, dll. Apa saja yang dilakukan secara jama’i oleh Shahabat Ra, dan tidak ada pengingkaran mereka atas hal itu, ia adalah Ijma’ Shahabat.

Kalau dikatakan Salaf tidak pernah sama dalam segala masalah agama, otomatis mereka selalu berselisih dan berselisih. Disini mengandung dua tuduhan dahsyat. Pertama, penulis itu telah menuduh para Shahabat Ra bermental buruk, sehingga sulit menyatukan kalam.

Di mata kaum Syiah, mencela, menghina, atau merendahkan para Shahabat Ra bukan sesuatu yang aneh. Bahkan melaknat para Shahabat itu telah menjadi amal shalih tersendiri. Na’udzbillah min dzalik.

Mereka selalu berpecah-belah, tak pernah bersatu. Kedua, penulis juga menuduh ajaran Islam sebagai biang perpecahan. Padahal secara hakiki, Islam mengajarkan prinsip Al Jamaah, yaitu persatuan Ummat. Bahkan ada ulama yang mengatakan, perpecahan adalah qurrata a’yun-nya syaitan. Karena syaitan sangat berkepentingan terhadap perpecahan Ummat

Kemudian, perhatikan kalimat berikut ini, “Siapa saja yang ahli atau telah memenuhi syarat dalam memahami teks-teks agama, dia berhak atas hal itu, tidak wajib mengikuti pemahaman Salaf seperti yang disangkakan Salafi Wahabi.” (SBSSW, hal. 205). Lihatlah betapa beraninya ucapan penulis ini! Dia begitu meremehkan kaum Salaf, dan merasa dirinya setara dengan Salaf. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Sudah masyhur tentang kisah Imam Malik rahimahullah. Beliau pernah ditanya 40 pertanyaan, dan sebagian besar pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, “Laa ad-riy” (aku tidak tahu). Hanya satu pertanyaan yang beliau jawab. Lihatlah, betapa sangat hati-hatinya Imam Malik dalam berfatwa. Padahal siapa yang meragukan pengetahuan beliau tentang Islam? Ajaran yang menyuruh Ummat Islam mengikuti jejak Salafus Shalih, bukanlah monopoli kaum Wahabi. Hal itu disebutkan dalam Al Qur’an, Surat At Taubah ayat 100:

“Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam, dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah telah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan besar.”

Disini ada kalimat “walladzinat taba’uu hum bil ihsan” (dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan). Ini adalah dalil qath-iy tentang pentingnya mengikuti jejak Salafus Shalih (para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in).

Lucunya, si penulis dalam bukunya ternyata getol mengikuti konsep keilmuwan yang ditinggalkan para Salaf, setidaknya dalam soal riwayat hadits-hadits. Bisa dikatakan disini, “Tanpa peranan generasi Salaf, kita hari ini tidak akan memiliki ilmu apapun.”

Di halaman lain penulis SBSSW berkata: “Bagaimana mungkin mereka mengharuskan kita mengikuti madzhab Salaf, kalau namanya saja tidak ada? Sebab tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam sejarah peradaban umat Islam, apa yang dinamakan madzhab Salaf.” (SBSSW, hal. 207-208). Ini adalah puncak kebodohan si penulis. Memang dalam Al Qur’an atau As Sunnah, tidak disebutkan secara eksplisit “madzhab Salaf.” Tetapi kaum Salaf itu ada dan nyata. Kaum Salaf adalah para Shahabat Nabi, Khulafaur Rasyidin, Ahlul Bait Nabi, kaum Muhajirin, kaum Anshar, peserta Perang Badar, peserta Bai’at Ridhwan, dll. Begitu pula Imam madzhab fiqih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal; para imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ad Darimi, dll. Semua itu adalah kaum Salaf. Mereka ada dan nyata. Hanya orang-orang pandir yang akan mengingkari mereka.

Kita tidak perlu mencari-cari sebutan “madzhab Salaf” untuk mengikuti jejak mereka. Adanya eksistensi kaum Salaf yang merupakan generasi terbaik Ummat ini, itu sudah menunjukkan adanya manhaj Salaf. Seperti pernyataan kaum Badui yang masih bersih fithrah ketika ditanya tentang eksistensi Allah. “Adanya jejak kaki dan kotoran hewan, bisa menunjukkan adanya kafilah yang melintasi padang pasir. Begitu pula, adanya bintang-bintang di langit menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta.” Adanya suatu kaum yang memiliki sifat-sifat tertentu, hal itu sudah membuktikan adanya manhaj kaum tersebut. Kalau kemudian manhaj Salaf hendak dibuang, jelas akan bubar agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Bagaimana bisa kita memahami Islam, tanpa metode yang dicontohkan kaum Salaf? Adapun bentuk mengikuti manhaj Salaf itu secara kongkritnya ialah mengikuti dan melestarikan kaidah-kaidah ilmiyah yang diwariskan kaum Salaf di bidang Al Qur’an, Tafsir, ilmu Hadits, Akidah, Fiqih, Ibadah, hukum Haad, Siyasah, Suluk, ilmu bahasa, sastra Arab, dll. Sejauh kita beragama mengikuti kaidah-kaidah ilmiah itu, berarti kita telah mengikuti Salaf. Dan kaidah-kaidah inilah yang selama ini hendak dihancurkan oleh para penganut SEPILIS.
7. Kurang ajar kepada para Ulama

Buku ini mengajarkan sikap kurang ajar kepada para ulama yang telah diakui oleh Ummat. Perilaku seperti ini sudah khas menjadi ciri kaum Syiah dan SEPILIS. Mereka tidak segan-segan menyerang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Az Zuhri, bahkan melecehkan para Shahabat Ra. Salah satu bukti sikap kurang ajar ke ulama ialah perkataan penulis berikut ini: “Menurut hemat penulis, dalam masalah ini (yaitu soal apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan –pen.), Imam Ahmad lah yang keliru. Sebab Allah SWT secara terang berfirman dalam Al Qur’an, ‘Ma ya’tihim min dzikrin min robbihim muhdatsin’ (tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang muhdats/baru dari Tuhan mereka).” [QS. Al Anbiya’: 2].

Lihat, betapa lancangnya si penulis dalam membantah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah! Dia merasa lebih pandai dari Imam Ahmad. Masya Allah.

Dengan berdalil memakai surat Al Anbiya’ ayat 2 ini, penulis hendak mematahkan akidah Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa Al Qur’an itu Kalamullah, bukan muhdats (ciptaan baru). Menurut si penulis, Al Qur’an itu ciptaan baru alias makhluk. Namun sangat curangnya, dia memotong kelanjutan dari ayat tersebut. Kelanjutannya adalah, “Illa istama’uhu wa hum yal’abuun” (melainkan mereka mendengarkan, namun dengan main-main). Jadi yang dimaksud dalam Surat Al Anbiya’ ayat 2 itu ialah celaan terhadap sikap buruk orang musyrikin, tatkala datang ayat-ayat Allah yang baru (karena memang Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur), mereka mendengarkan tetapi sambil bermain-main. Ayat ini berkaitan dengan kelakuan orang musyrik, bukan dalil bahwa Al Qur’an itu makhluk. Kalau tidak percaya, silakan Pembaca periksa sendiri ayat tersebut menurut versi terjemahan paling popluler di Indonesia, yaitu Departemen Agama RI. Ulama akidah menjelaskan, bahwa keyakinan ‘Al Qur’an itu makhluk’, apabila didasari pengetahuan dan kesengajaan, akan membuat kafir pelakunya. Sebab dengan keyakinan itu mereka hendak menyamakan Al Qur’an dengan makhluk, yang tentu di siksi makhluk terdapat banyak kelemahan dan kesalahan. Siapapun yang meyakini demikian, berarti dia telah kufur kepada Al Qur’an. Padahal salah satu syarat keimanan adalah at tashdiqu bil qalbi (pembenaran dengan hati). Kalau hatinya sudah kufur kepada Al Qur’an, otomatis imannya pun gugur. Maka orang-orang Syiah yang meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah-ubah oleh para Shahabat Nabi Saw termasuk ke golongan gugur iman itu. Na’udzubillah minal kufri.

Di sisi lain, penulis ini dengan sangat lancang mengatakan: “Jadi benar apa yang disangkakan selama ini, bahwa ternyata Salaf yang mereka maksud, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ibnu Taimiyah dan CS-nya.” (SBSSW, hal. 220). Begitu juga: “Sudah jelaslah, siapakah sebenarnya yang mereka ikuti, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab dan CS-nya, yang mereka klaim sebagai ‘Salaf’.” (SBSSW, hal. 222). Menyebut ulama besar dengan kata “CS-nya” bukanlah adab manusia terpelajar. Ia hanya pantas dilakukan manusia-manusia otak kotor. Lebih buuk lagi si penulis mengatakan: “Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi –sosok temperamental dan kejam yang telah membunuhi ribuan umat Islam semasa hidupnya-, hampir semua ulama yang hidup sezaman dengannya menganggap ajarannya sesat.” (SBSSW, hal. 223).

Jahatnya, si penulis sama sekali tidak pernah bisa membuktikan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membunuh manusia, apalagi sampai ribuan manusia. Itu tak ada bukti valid yang bisa dipegang.

Penulis ini tentu saja tidak segan melecehkan ulama-ulama besar lain, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Shalih Fauzan, bahkan melecehkan dewan fatwa Saudi, Lajnah Da’imah. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diharapkan dari penulis ini? Masih adakah kebaikan disana?
8. Memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam

Dalam mengkritik gerakan dan paham Wahabi, penulis jelas-jelas menggunakan metode TAJASSUS alias mencari-cari kesalahan. Cara demikian biasanya dilakukan kalangan intelijen anti Islam, untuk mengadu-domba Ummat. Metode tajassus bukan metode ilmiah, tetapi termasuk metode khianat dalam ilmu. Metode tajassus pertama kali dikembangkan oleh Fir’aun dan Bani Israil, ketika mereka selalu mencari-cari kesalahan Musa As. Bahkan tajassus itu termasuk perbuatan haram. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa laa tajas-sasuu” (dan janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan). [Al Hujuraat: 12].

Di hadapan sikap tajassus, tidak ada seorang manusia pun yang selamat dari kesalahan. Namanya juga mencari-cari kesalahan; kalau tidak ketemu, ya dipaksakan agar tetap ada kesalahan. Dalam buku SBSSW itu penulis menyebut fatwa Syaikh Bin Baz tentang “bumi tidak berputar.” Di antara sekian banyak fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz yang bermanfaat, sehingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi pernah menyebut beliau sebagai Al Imamul Jazirah, ternyata oleh penulis diambil fatwa tentang “bumi tidak berputar ini” (hal. 220-221). Begitu pula penulis ini menyebut pendapat Ibnu Taimiyyah yang ganjil tentang “siksa neraka untuk orang kafir tidak kekal” (hal. 184). Pendapat-pendapat seperti ini bukan pendapat utama mereka. Ia adalah pendapat “recehan” di sisi sedemikian banyak pendapat-pendapat mereka yang berkualitas. Tetapi karena memang dasarnya benci, apapun kesalahan yang dijumpai akan dipakai untuk menyerang.

Salah satu yang lucu ialah ketika si penulis mengutip pandangan Dr. Said Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, As Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhab Islami. (SBSSW, hal. 27). Dengan dasar buku ini dia menuduh ulama-ulama Wahabi tidak mengikuti madzhab apapun. Padahal para ahli-ahli Islam sudah mafhum, bahwa ulama-ulama Saudi, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, mereka itu pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Ini sangat nyata dan jelas.

Dalam soal “Al Qur’an adalah Kalamullah” jelas-jelas mereka mengikuti akidah Imam Ahmad. Begitu pula Bahkan Syaikh Al Albani rahimahullah telah menyusun kitab Al Irwa’ul Ghalil, sebanyak total 9 jilid. Kitab ini berisi takhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Manarus Sabil yang menjadi pegangan fiqih madzhab Hanbali. Ulama-ulama Wahabi pun giat memberikan syarah terhadap kitab Aqidah Thahawiyyah, yang bersumber dari akidah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Dan begitu bencinya penulis ini kepada Wahabi, sampai dia menulis: “Pembagian tauhid semacam itu tidak terdapat juga di dalam karya murid-murid Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal seperti Ibnu Al Jauzi dan Al Hafizh Ibnu Katsir.” (SBSSW, hal. 236).

Kalau dunia ilmiah sudah dimasuki metode tajassus ini, hasilnya hanyalah kerusakan, dendam, dan kesesatan. Tidak ada kebaikan dari metode yang dibangun di atas cara haram. Bukankah tajassus diharamkan dalam Al Qur’an?

9. Penulisnya tertimpa penyakit Gila

Penulis ini (Idahram) termasuk orang-orang yang sudah tertimpa penyakit “gila.” Di dalam bukunya ini tercampur-baur berbagai macam pemikiran, akidah, fitnah, kebohongan, dendam kesumat, kecurangan, dan sebagainya. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi.

Contohnya, perhatikan kalimat berikut ini: “Kita harus melepaskan pemahaman-pemahaman tersebut dan kembali kepada Al Qur’an, Sunnah Rasul SAW, dan ilmu bahasa Arab sebagai alatnya. Lalu, kita pakai otak kita untuk memahami dan menelaah perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, sehingga akan jelas bagi kita saat itu, mana pendapat yang benar dan mana yang salah di antara mereka. Kita kembali kepada pemahaman kita, bukan kepada pemahaman Salaf.” (SBSSW, hal. 211).

Lihatlah betapa beraninya penulis dalam meninggikan otaknya di atas ilmu para Salaf yang mulia. Kemudian baca kalimat berikut ini: “Sebab, jika semua orang Arab ‘berhak’ untuk menafsirkan Al Qur’an sekehendak hatinya, tanpa mengerti rambu-rambunya, dan boleh berijtihad tanpa keahlian yang dia miliki, maka semua orang Arab menjadi ulama. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal. Itulah sebabnya, kenapa tidak sembarang orang boleh berijtihad dan mengeluarkan fatwa.” (SBSSW, hal. 224).

Dua kutipan ini tentu sangat mencengangkan; satu sisi memberi kebebasan penuh kepada akal untuk mencerna perselisihan-perselisihan agama; di sisi lain tidak boleh sembarangan memahami agama dengan akal sendiri. Padahal jarak antara kalimat pertama dan kedua hanya beberapa halaman saja.

Kegilaan itu merata dalam buku si penulis. Ketika dia membahas hadits-hadits tentang Najd, dia mengklaim bahwa Najd adalah tempatnya fitnah, tempatnya puncak kekafiran, tempatnya “tanduk setan.” Tetapi ketika membahas tentang kekejaman kaum Wahabi (seperti yang dituduhkan penulis), dia menyebutkan kota-kota di Najd yang menjadi sasaran keganasan kaum Wahabi, seperti Thaif, Qashim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, Syammar, dan lainnya. (Lihat SBSSW, hal. 77-106).
10. Mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah

Dan terakhir, di antara bahaya terbesar di balik tersebarnya buku ini, adalah suatu kenyataan, bahwa Wahabi hanya merupakan SASARAN KESEKIAN dari serangan orang-orang ini. Serangan ini merupakan satu agenda, di samping agenda-agenda serangan lain.

Tentu kita masih ingat munculnya buku, “Ilusi Negara Islam.” Di sana gerakan-gerakan dakwah Islam internasional juga mendapatkan stigmatisasi, dengan label “gerakan transnasional.” Tujuannya, agar masyarakat Indonesia membenci gerakan-gerakan dakwah dari luar negeri itu.

Kita menyadari, kaum Syiah, penganut SEPILIS, Yahudi-Nashrani, orientalis Barat, aliran-aliran sesat, mereka sudah sepakat untuk menghancurkan fondasi ajaran Islam dari dasar-dasarnya. Siang malam mereka berjuang untuk merealisasikan tujuan penghancuran Akidah, Syariat, dan Peradaban Islam. Seperti LSM SETARA Institute.

Adalah sangat ajaib ketika Said Agil Siraj, Ketua PBNU, memberikan dukungan terbuka terhadap buku SBSSW ini. Apa tujuannya? Apakah ingin menghancurkan dakwah Islam, ilmu Syariat, merusak persatuan Ummat, dan mencerai-beraikan proyek-proyek pembangunan Islam selama ini? Di mana kualitas intelektualitas seorang Said Agil Siraj sebagai “profesor doktor” dan Ketua PBNU? Tidak ingatkah Said Agil Siraj bahwa dia mendapat gelar doktor setelah menamatkan studi di Universitas Ummul Qura’, yang dikelola kaum Wahabi?

Kalau kata orang Jawa Timur, “Yo, sing nduwe isin-lah, Pak!” Anda sudah kenyang mendapat fasilitas dari kaum Wahabi, bahkan anak-anak Anda lahir di bawah kemurahan kaum Wahabi, lalu kini Anda ikut menyerang paham Wahabi dengan membabi-buta. Apakah dulu di pesantren Anda tidak diajari pelajaran adab seorang Muslim?

Kalau membaca buku SBSSW itu, saya yakin bahwa posisi Said Agil Siraj ini –semoga Allah membalas perbuatannya secara adil dan menjadi ibrah besar bagi kaum Muslimin di Nusantara- bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. Saya yakin, Said Agil Siraj terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda ini.

Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, sosok Said Agil Siraj ini pernah dikafirkan oleh 12 orang kyai. Ada pula yang melayangkan surat ke Universitas Ummul Qura, meminta supaya mereka mencabut gelar doktor Said Agil. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, karya Budi Handrianto, hal. 160. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, 2007).

Demikianlah sekilas pandangan tentang buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi,” karya Syaikh Idahram. Buku ini andaikan ditulis dengan semangat kejujuran, metode ilmiah Islami, serta upaya melakukan koreksi terhadap sesama Muslim, dalam rangka memperbaiki kehidupan Ummat; tentu upaya itu akan disambut dengan rasa syukur. Sekurangnya, ia akan dipandang sebagai sumbangan ilmiah berharga. Tetapi dengan performa judul, metode penulisan, serta sekian banyak kecurangan yang dilakukan penulis; tidak diragukan lagi bahwa buku SBSSW itu ditujukan untuk merusak kehidupan kaum Muslimin.

Secara pribadi saya menghimbau agar para ahli-ahli Islam segera “turun tangan” untuk membuat analisis obyektif atas buku SBSSW itu. Kemudian hasilnya, silakan sampaikan kepada khalayak kaum Muslimin. Saya sendiri berpandangan, buku ini sangat berbahaya, dan sudah selayaknya di-black list, atau ditarik dari peredaran.

Akhirul kalam, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu merahmati kaum Muslimin di negeri ini, menolong mereka atas segala prahara berat yang menimpa, menyantuni mereka atas segala konspirasi jahat yang dilontarkan musuh-musuh Islam, serta meluaskan hidayah ke seluruh sudut negeri, agar lebih banyak manusia yang hidup di atas keshalihan; bukan di atas khianat, kedengkian, dan permusuhan terhadap Islam. Allahumma amin. Wallahu a’lamu bis-shawab. []

Membedah kesesatan syiah

Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?

Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).

Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj

Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a) As-Sholah
b) As-Shoum
c) Az-Zakah
d) Al-Haj
e) Al wilayah

2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
a) At-Tauhid
b) An Nubuwwah
c) Al Imamah
d) Al Adlu
e) Al Ma’ad

3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat

Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a) Abu Bakar
b) Umar
c) Utsman
d) Ali Radhiallahu anhu

Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

6. Ahlussunnah : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

Syiah : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

7. Ahlussunnah : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

9. Ahlussunnah : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :
a) Bukhari
b) Muslim
c) Abu Daud
d) Turmudzi
e) Ibnu Majah
f) An Nasa’i
(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

Syiah : Kitab-kitab Syiah ada empat :
a) Al Kaafi
b) Al Istibshor
c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih
d) Att Tahdziib
(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

10. Ahlussunnah : Al-Qur’an tetap orisinil

Syiah : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

11. Ahlussunnah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

Syiah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.
Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

12. Ahlussunnah : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

Syiah : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
Keterangan : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

13. Ahlussunnah : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

Syiah : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

14. Ahlussunnah : Khamer/ arak tidak suci.

Syiah : Khamer/ arak suci.

15. Ahlussunnah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

Syiah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

16. Ahlussunnah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

Syiah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.
(jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

17. Ahlussunnah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

Syiah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.
(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

18. Ahlussunnah : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

Syiah : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

19. Ahlussunnah : Shalat Dhuha disunnahkan.

Syiah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.
(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.

Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.

Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

SEJARAH HIDUP IMAM SYAFII

Di kampung miskin di kota Ghazzah (orang Barat menyebutnya Gaza ) di bumi Palestina, pada th. 150 H (bertepatan dengan th. 694 M) lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Idris bin Abbas Asy-Syafi`ie dengan seorang wanita dari suku Azad. Bayi lelaki keturunan Quraisy ini akhirnya dinamai Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie . Demikian nama lengkapnya sang bayi itu. Namun kebahagiaan keluarga miskin ini dengan kelahiran bayi tersebut tidaklah berlangsung lama. Karena beberapa saat setelah kelahiran itu, terjadilah peristiwa menyedihkan, yaitu ayah sang bayi meninggal dunia dalam usia yang masih muda. Bayi lelaki yang rupawan itu pun akhirnya hidup sebagai anak yatim.

Sang ibu sangat menyayangi bayinya, sehingga anak yatim Quraisy itu tumbuh sebagai bayi yang sehat. Maka ketika ia telah berusia dua tahun, dibawalah oleh ibunya ke Makkah untuk tinggal di tengah keluarga ayahnya di kampung Bani Mutthalib. Karena anak yatim ini, dari sisi nasab ayahnya, berasal dari keturunan seorang Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang bernama Syafi’ bin As-Sa’ib. Dan As-Sa’ib ayahnya Syafi’, sempat tertawan dalam perang Badr sebagai seorang musyrik kemudian As-Sa’ib menebus dirinya dengan uang jaminan untuk mendapatkan status pembebasan dari tawanan Muslimin. Dan setelah dia dibebaskan, iapun masuk Islam di tangan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Maka nasab bayi yatim ini secara lengkap adalah sebagai berikut:

Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .

Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wasallam bersabda:
“Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 - 66).

Di lingkungan Bani Al-Mutthalib, dia tumbuh menjadi anak lelaki yang penuh vitalitas. Di usia kanak-kanaknya, dia sibuk dengan latihan memanah sehingga di kalangan teman sebayanya, dia amat jitu memanah. Bahkan dari sepuluh anak panah yang dilemparkannya, sepuluh yang kena sasaran, sehingga dia terkenal sebagai anak muda yang ahli memanah.

Demikian terus kesibukannya dalam panah memanah sehingga ada seorang ahli kedokteran medis waktu itu yang menasehatinya. Dokter itu menyatakan kepadanya: “Bila engkau terus menerus demikian, maka sangat dikuatirkan akan terkena penyakit luka pada paru-parumu karena engkau terlalu banyak berdiri di bawah panas terik mata hari.” Maka mulailah anak yatim ini mengurangi kegiatan panah memanah dan mengisi waktu dengan belajar bahasa Arab dan menekuni bait-bait sya’ir Arab sehingga dalam sekejab, anak muda dari Quraisy ini menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya dalam usia kanak-kanak. Di samping itu dia juga menghafal Al-Qur’an, sehingga pada usia tujuh tahun telah menghafal di luar kepala Al-Qur’an keseluruhannya.

Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.

Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.

Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Ia pun demi kehausan ilmu, akhirnya berangkat dari Makkah menuju Al-Madinah An Nabawiyah guna belajar di halaqah Imam Malik bin Anas di sana. Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.

Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”

Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Beliau banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Ketika Muhammad bin Idris As-Syafi’i Al-Mutthalibi Al-Qurasyi telah berusia dua puluh tahun, dia sudah memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan Ulama’ di jamannya dalam berfatwa dan berbagai ilmu yang berkisar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi beliau tidak mau berpuas diri dengan ilmu yang dicapainya. Maka beliaupun berangkat menuju negeri Yaman demi menyerap ilmu dari para Ulama’nya.

Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sejak di kota Baghdad, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie mulai dikerumuni para muridnya dan mulai menulis berbagai keterangan agama. Juga beliau mulai membantah beberapa keterangan para Imam ahli fiqih, dalam rangka mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam . Kitab fiqih dan Ushul Fiqih pun mulai ditulisnya. Popularitas beliau di dunia Islam yang semakin luas menyebabkan banyak orang semakin kagum dengan ilmunya sehingga orang pun berbondong-bondong mendatangi majelis ilmu beliau untuk menimba ilmu. Tersebutlah tokoh-tokoh ilmu agama ini yang mendatangi majelis beliau untuk menimba ilmu padanya seperti Abu Bakr Abdullah bin Az-Zubair Al-Humaidi (beliau ini adalah salah seorang guru Al-Imam Al-Bukhari), Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Hanbal (yang kemudian terkenal dengan nama Imam Hanbali), Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Ya’qub Yusuf Al-Buaithi, Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi, Harmalah bin Yahya, Musa bin Abil Jarud Al-Makki, Abdul Aziz bin Yahya Al-Kinani Al-Makki (pengarang kitab Al-Haidah ), Husain bin Ali Al-Karabisi (beliau ini sempat di tahdzir oleh Imam Ahmad karena berpendapat bahwa lafadh orang yang membaca Al-Qur’an adalah makhluq), Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizami, Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani, Ahmad bin Muhammad Al-Azraqi, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh ilmu yang lainnya. Dari murid-murid beliau di Baghdad, yang paling terkenal sangat mengagumi beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal atau terkenal dengan gelar Imam Hanbali.
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Mizzi dengan sanadnya bersambung kepada Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali). Beliau menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada ayahku: Maka ayahku menjawab: .”

Diriwayatkan pula bahwa Sulaiman bin Al-Asy’ats menyatakan: “Aku melihat bahwa Ahmad bin Hanbal tidaklah condong kepada seorangpun seperti condongnya kepada As-Syafi`ie.” Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Imam Hanbali menyatakan: “Aku tidak pernah meninggalkan doa kepada Allah di sepertiga terakhir malam untuk enam orang. Salah satunya ialah untuk As-Syafi`ie.”

Diriwayatkan pula oleh Imam Shalih bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hanbali): “Pernah ayahku berjalan di samping keledai yang ditumpangi Imam Syafi`ie untuk bertanya-tanya ilmu kepadanya. Maka melihat demikian, Yahya bin Ma’ien sahabat ayahku mengirim orang untuk menegur beliau. Yahya menyatakan kepadanya: . Maka ayah pun menyatakan kepada Yahya: .”

Di samping Imam Hanbali yang sangat mengaguminya, juga diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Tarikh nya dengan sanadnya dari Abu Tsaur. Dia menceritakan: “Abdurrahman bin Mahdi pernah menulis surat kepada As-Syafi`ie, dan waktu itu As-Syafi`ie masih muda belia. Dalam surat itu Abdurrahman meminta kepadanya untuk menuliskan untuknya sebuah kitab yang terdapat padanya makna-makna Al Qur’an, dan juga mengumpulkan berbagai macam tingkatan hadits, keterangan tentang kedudukan ijma’ (kesepakatan Ulama’) sebagai hujjah / dalil, keterangan hukum yang nasikh (yakni hukum yang menghapus hukum lainnya) dan hukum yang mansukh (yakni hukum yang telah dihapus oleh hukum yang lainnya), baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka As-Syafi`ie muda menuliskan untuknya kitab Ar-Risalah dan kemudian dikirimkan kepada Abdurrahman bin Mahdi.

Begitu membaca kitab Ar-Risalah ini, Abdurrahman menjadi sangat kagum dan sangat senang kepada As-Syafi`ie sehingga beliau menyatakan: “Setiap aku shalat, aku selalu mendoakan As-Syafi`ie.” Kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi`ie akhirnya menjadi kitab rujukan utama bagi para Ulama’ dalam ilmu Ushul Fiqih sampai hari ini. Pujian para Ulama’ dan kekaguman mereka bukan saja datang dari orang-orang yang seangkatan dengan beliau dalam ilmu, akan tetapi datang pula pujian itu dari para Ulama’ yang menjadi guru beliau.

Antara lain ialah Sufyan bin Uyainah, salah seorang guru beliau yang sangat dikaguminya. Sebaliknya Sufyan pun sangat mengagumi Imam As-Syafi`ie, sampai diceritakan oleh Suwaid bin Saied sebagai berikut: “Aku pernah duduk di majelis ilmunya Sufyan bin Uyainah.

As-Syafi`ie datang ke majelis itu, masuk sembari mengucapkan salam dan langsung duduk untuk mendengarkan Sufyan yang sedang menyampaikan ilmu. Waktu itu Sufyan sedang membaca sebuah hadits yang sangat menyentuh hati. Betapa lembutnya hati beliau saat mendengar hadits itu menyebabkan As-Syafi`ie mendadak pingsan.

Orang-orang di majelis itu menyangka bahwa As-Syafi`ie meninggal dunia sehingga peristiwa ini dilaporkan kepada Sufyan: . Maka Sufyan pun menyatakan: .”

Demikian pujian para Ulama’ yang sebagiannya kami nukilkan dalam tulisan ini untuk menggambarkan kepada para pembaca sekalian betapa beliau sangat tinggi kedudukannya di kalangan para Ulama yang sejaman dengannya. Apalagi tentunya para ulama’ yang sesudahnya.

Imam As-Syafi`ie tinggal di Baghdad hanya dua tahun. Setelah itu beliau pindah ke Mesir dan tinggal di sana sampai beliau wafat pada th. 204 H dan usia beliau ketika wafat 54 th. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai, yaitu ilmu yang beliau tulis di kitab Ar-Risalah dalam ilmu Ushul Fiqih. Di samping itu beliau juga menulis kitab Musnad As-Syafi`ie , berupa kumpulan hadits Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam yang diriwayatkan oleh beliau; dan kitab Al-Um berupa kumpulan keterangan beliau dalam masalah fiqih. Sebagaimana Al-Um , kumpulan riwayat keterangan Imam As Syafi`ie dalam fiqih juga disusun oleh Al-Imam Al-Baihaqi dan diberi nama Ma’rifatul Aatsar was Sunan . Al-Imam Abu Nu’aim Al-Asfahani membawakan beberapa riwayat nasehat dan pernyataan Imam As-Syafi`ie dalam berbagai masalah yang menunjukkan pendirian Imam As-Syafi`ie dalam memahami agama ini. Beberapa riwayat Abu Nu’aim tersebut kami nukilkan sebagai berikut :
Imam As-Syafi`ie menyatakan: “Bila aku melihat Ahli Hadits, seakan aku melihat seorang dari Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 109)

Ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan beliau kepada para Ahli Hadits.

Imam As-Syafi`ie menyatakan: “Sungguh seandainya seseorang itu ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, lebih baik baginya daripada dia mempelajari ilmu kalam.” (HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 111)
Beliau menyatakan juga: “Seandainya manusia itu mengerti bahaya yang ada dalam Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya dia akan lari daripadanya seperti dia lari dari macan.”

Ini menunjukkan betapa anti patinya beliau terhadap Ilmu Kalam, suatu ilmu yang membahas perkara Tauhid dengan metode pembahasan ilmu filsafat.

Diriwayatkan oleh Ar-Rabi’ bin Sulaiman bahwa dia menyatakan: Aku mendengar As-Syafi`ie berkata:
“Barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka sungguh dia telah kafir.” ((HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Al-Hilyah nya juz 9 hal. 113)

Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim Al-Asfahani bahwa Al-Imam As-Syafi`ie telah mengkafirkan seorang tokoh ahli Ilmu Kalam yang terkenal dengan nama Hafs Al-Fardi, karena dia menyatakan di hadapan beliau bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Demikian tegas Imam As-Syafi`ie dalam menilai mereka yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan memang para Ulama’ Ahlis Sunnah wal Jama’ah telah sepakat untuk mengkafirkan siapa yang meyakini bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

Al-Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan pula dengan sanadnya dari Al-Buwaithie yang menyatakan: “Aku bertanya kepada As-Syafi`ie: Maka beliau pun menjawabnya: . Akupun bertanya lagi kepada beliau: Maka beliau pun menjawab: .”

Demikian Imam As-Syafi`i mengajarkan sikap terhadap Ahlil Bid’ah seperti yang disebutkan contohnya dalam pernyataan beliau, yaitu orang-orang yang mengikuti aliran Rafidlah yang di Indonesia sering dinamakan Syi’ah. Aliran Syiah terkenal dengan sikap kebencian mereka kepada para Shahabat Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , khususnya Abu Bakar dan Umar. Di samping Rafidlah, masih ada aliran bid’ah lainnya seperti Qadariyah yaitu aliran pemahaman yang menolak beriman kepada rukun iman yang keenam (yaitu keimanan kepada adanya taqdir Allah Ta`ala). Juga aliran Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu hanya keyakinan yang ada di hati dan amalan itu tidak termasuk dari iman. Murji’ah juga menyatakan bahwa iman itu tidak bertambah dengan perbuatan ketaatan kepada Allah dan tidak pula berkurang dengan kemaksiatan kepada Allah. Semua ini adalah pemikiran sesat, yang menjadi alasan bagi Imam As-Syafi`ie untuk melarang orang shalat di belakang imam yang berpandangan dengan salah satu dari pemikiran-pemikiran sesat ini.

Imam As-Syafi`ie juga amat keras menganjurkan ummat Islam untuk jangan ber taqlid (yakni mengikut dengan membabi buta) kepada seseorang pun sehingga meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika pendapat orang yang diikutinya itu menyelisihi pendapat keduanya.

Hal ini dinyatakan oleh beliau dalam beberapa pesan sebagai berikut:
Al-Hafidh Abu Nu`aim Al-Asfahani meriwayatkan dalam Hilyah nya dengan sanad yang shahih riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, katanya: “Ayahku telah menceritakan kepadaku bahwa Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie berkata: .”

Demikianlah para Ulama’ bersikap tawadlu’ sebagai kepribadian utama mereka. Sehingga tidak menjadi masalah bagi mereka bila guru mengambil manfaat dari muridnya dan muridnya yang diambil manfaat oleh gurunya tidak pula kemudian menjadi congkak dengannya. Tetap saja sang murid mengakui dan mengambil manfaat dari gurunya, meskipun sang guru mengakui di depan umum tentang ketinggian ilmu si murid. Guru-guru utama Imam Asy Syafi`ie, Imam Malik dan Imam Sufyan bin Uyainah, dengan terang-terangan mengakui keutamaan ilmu As-Syafi`ie. Bahkan Imam Sufyan bin Uyainah banyak bertanya kepada Imam Asy-Syafi`ie saat Imam Syafi’ie ada di majelisnya. Padahal Imam Asy-Syafi`ie duduk di majelis itu sebagai salah satu murid beliau, dan bersama para hadirin yang lainnya, mereka selalu mengerumuni Imam Sufyan untuk menimba ilmu daripadanya. Tetapi meskipun demikian, Imam Syafi`ie tidak terpengaruh oleh sanjungan gurunya. Beliau tetap mendatangi majelis gurunya dan memuliakannya. Di samping itu, hal yang amat penting pula dari pernyataan Imam Asy-Syafi`ie kepada Imam Ahmad bin Hanbal tersebut di atas, menunjukkan kepada kita betapa kuatnya semangat beliau dalam merujuk kepada hadits shahih untuk menjadi pegangan dalam bermadzhab, dari manapun hadits shahih itu berasal.

Imam Asy-Syafi`ie menyatakan pula: “Semua hadits yang dari Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wasallam maka itu adalah sebagai omonganku. Walaupun kalian tidak mendengarnya dariku.”
Demikian beliau memberikan patokan kepada para murid beliau, bahwa hadits shahih itu adalah dalil yang sah bagi segala pendapat dalam agama ini. Maka pendapat dari siapapun bila menyelisihi hadits yang shahih, tentu tidak akan bisa menggugurkan hadits shahih itu. Bahkan sebaliknya, pendapat yang demikianlah yang harus digugurkan dengan adanya hadits shahih yang menyelisihinya.

P e n u t u p :

Masih banyak mutiara hikmah yang ingin kami tuangkan dalam tulisan ini dari peri hidup Imam Asy-Syafi`ie. Namun dalam kesempatan ini, rasanya tidak cukup halaman yang tersedia untuk memuat segala kemilau mutiara hikmah peri hidup beliau itu. Bahkan telah ditulis oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah kitab-kitab tebal yang berisi untaian mutiara hikmah peri hidup Imam besar ini. Seperti Al-Imam Al-Baihaqi menulis kitab Manaqibus Syafi`ie , juga Ar-Razi menulis kitab dengan judul yang sama. Kemudian Ibnu Abi Hatim menulis kitab berjudul Aadaabus Syaafi’ie . Dan masih banyak lagi yang lainnya. Itu semua menunjukkan kepada kita, betapa agungnya Imam besar ini di mata para Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah Ta`ala menggabungkan kita di barisan mereka di hari kiamat nanti. Amin ya Mujibas sa’ilin .

Daftar Pustaka:
1. Tarikh Baghdad , Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 58 – 59, Darul Fikr – Beirut Libanon, tanpa tahun.
2. Hilyatul Awliya’ Wathabaqatul Asfiya’ , Abu Nu’aim Al-Ashfahani, jilid 9 hal 65 – 66. Juga hal. 67, Darul Fikr, Beirut – Libanon, et. 1416 H / 1996 M. Lihat pula Tahdzibul Kamal jilid 24 hal. 358 – 360. Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abul Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, diterbitkan oleh Mu’assatur Risalah, cet. Pertama th. 1413 H / 1992 M.
3. Tarikh Baghdad , Al-Khatib Al-Baghdadi, jilid 2 hal. 60.
4. Ibid, hal. 63.
5. Hilyatul Awliya’ , Al-Hafidh Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Asfahani, jilid 9 hal 70, Darul Fikr Beirut Libanon, cet. Th. 1416 H / 1996 M.
6. Siar A’lamin Nubala’ , Al-Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 6 – 7, Mu’assasatur Risalah, cetakan ke 11 th. 1417 H / 1996 M.
7. Tahdzibul Kamal fi Asma’ir Rijal , Al-Hafidh Al-Mutqin Jamaluddin Abil Hajjaj Yusuf Al-Mizzi, jilid 24 hal. 271.
8. Siar A’lamin Nubala’ , Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 18. Juga Abu Nu’aim Al-Asfahani meriwayatkannya dalam Hilyatul Auliya’ juz 9 hal. 95.
9. Hilyatul Auliya’ , Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal 109 – 113.
10. Siar A’lamin Nubala’ , Adz-Dzahabi, jilid 10 hal. 31.
11. Hilyatul Auliya’ , Al-Hafidh Abu Nu’aim Al-Asfahani, jilid 9 hal. 170.
12. Demikian diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib nya dan Ibnu Asakir dalam Tarikh nya dan dinukil oleh Adz-Dzahabi dalam Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 17.
13. Diriwayatkan dalam Aadaabus Syafi`ie dan Al-Bidayah . Adz-Dzahabi menukilkan riwayat ini dalam Siar A’lamin Nubala’ jilid 10 hal. 35.

Membendung makar syiah ( syiah itu kafir bagi Imam malik, Syafii dll )

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbingmu ke atas Siratal Mustaqim.
Bahwasanya orang-orang orientalis dan orang-orang syiah berusaha untuk merusak aqidah umat Islam. Mereka mencela, menuduh pengkhianat, bahkan kafir terhadap para Sahabat – murid-murid Rasululllah shallallahu waalaihi wa sallam.

Mereka membungkus kejahatan mereka dengan kata-kata yang indah, dengan memberikan tinjauan-tinjauan politik, ekonomi, sosial budaya terhadap Sejarah Islam, tetapi pada ujungnya mereka mencela para Sahabat.

Mengapa mereka mencela para Sahabat ?
Karena dengan mencela para sahabat mereka bermaksud untuk membatalkan Al-Quran dan Al-Hadits, karena lewat para Sahabatlah kita mengetahui Al-Quran dan Al-Hadits dan itulah tujuan mereka.

Mencela para Sahabat dengan tuduhan pendusta, pengkhianat, bahkan kafir berarti juga menuduh dakwah Rasulullah gagal. Mencela para Sahabat berarti juga mencela Rasulullah. Misalkan, jika dikatakan bahwa teman-teman akrabnya si Fulan itu: tukang mabok, pencopet, perampok, suka pergi ke tempat pelacuran, apa yang kalian simpulkan tentang si Fulan. Tentu kalian akan mengatakan bahwa si Fulan kurang lebih sama dengan teman-temannya itu.

Lewat pintu inilah (mencela para Sahabat Nabi) orang-orang orientalis dan syiah berusaha merusak aqidah umat Islam. Syiah itu seperti serigala berbulu domba, mereka mengaku sebagai umat Islam, tetapi mereka sesungguhnya akan menikam aqidah kalian-wahai saudaraku, hati-hatilah !

Tulisan singkat ini berusaha untuk menutup pintu yang biasanya digunakan masuk oleh srigala-srigala berbulu domba dan kemudian akan merusak aqidah umat Islam. Bila ingin rinci, bacalah kitab-kitab para ulama ahli hadits yang mengupas masalah seperti ini. Tulisan ini merupakan pembelaan bagi para Sahabat.

I. PARA SAHABAT ADALAH SEBAIK-BAIK UMAT

Allah taala menyatakan bahwa para sahabat merupakan sebaik-baik umat, Allah taala berfirman [artinya]: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”(Ali-Imran:110)

Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah pada generasiku (sahabat), kemudian setelahnya (tabiin) kemudian setelahnya (tabiut tabiin)” (HR. Bukhari & Muslim dan lainnya)

Apabila ada orang sesat yang menuduh para sahabat nabi sebagai sejahat-jahat umat-sebagai pengkhianat, siapa yang akan kalian benarkan, apakah ucapan Allah dan Rasul-Nya atau orang-orang sesat tersebut wahai orang-orang yang berakal ?

II. PERSAKSIAN AL-QURAN BAHWA PARA SAHABAT BERIMAN DENGAN SEBENAR-BENARNYA

Sungguh, Allah taala telah bersaksi bahwa para sahabat Nabi, baik dari Muhajirin maupun Anshar bahwa mereka adalah mumin yang haqiqi. Allah berfirman [artinya]: “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. (Al-Anfaal:74)

III. PARA SAHABAT TELAH DI RIDHAI OLEH ALLAH TAALA

Allah telah meridhai para sahabat, dan menjanjikan begi mereka Sorga, Allah berfirman [artinya]: “Dan orang-orang yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah:100)

IV. KEKAFIRAN MERUPAKAN HAL YANG SANGAT JAUH BAGI PARA SAHABAT

Allah telah membimbing para Sahabat untuk mencintai keimanan dan membenci kekafiran, Allah berfirman: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (Al-Hujurat:7)

Adalah sangat menggelikan mendengar gonggongan serigala-serigala berbulu domba, yang mereka menuduh para Sahabat kemudian murtad sepeninggal Rasulullah. Padahal Allah telah menjadikan para Sahabat mencintai keimanan dan membenci kekafiran, Allah juga telah menjanjikan Surga bagi Muhajirin dan Anshar. Apakah mungkin Allah menjanjikan sorga kepada orang-orang yang murtad ?. Berita gembira bahwa para sahabat akan memperoleh sorga membuktikan bahwa para sahabat terbebas dari kemunafikan.

V. ALLAH TELAH MENJADIKAN SAHABAT SEBAGAI KHALIFAH DAN BUKTI-BUKTINYA.

Sungguh, Allah telah berjanji akan menjadikan khalifah (penguasa) bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Allah berfirman [artinya]: ” Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa” (An-Nur:55).

Pada masa kekhalifahan khulafaur Rasyidin wilayah umat Islam meluas sampai ke Persia, Bashra, Damaskus, Mesir, Rumawi, Konstantinopel (sekarang Ankara Turki), Maroko, Cyprus, Cina, Iraq, Khurasan, Ahwaz dan negeri-negeri lainnya.

Kenyataan sejarah ini sebagai bukti bahwa para Sahabat merupakan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.

VI. PARA SAHABAT TIDAK MENGUBAH SEDIKITPUN DIEN DAN SYARIAT.

Allah juga menjamin bahwa para Sahabat tidak akan merubah sedikitpun dien (agama) dan syariat yang mereka terima dari Rasulullah shallallahualaihi wa sallam, Allah berfirman [artinya]: ” Di antara orang-orang mumin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya)” (Al-Ahzab:23)

VII. SAHABAT BUKAN MUNAFIQ DAN MUNAFIQ BUKAN SAHABAT

Munafiq pada masa Rasulullah tidaklah banyak dan mereka jelas ciri-cirinya. Kaum Mukminin mengetahui orang-orang munafiq dari Al-Quran, Al-Quran menerangkan bahwa bahwa kaum munafiq akan mengatakan demikian-demikian. Allah juga telah menyingkap keadaan munafiqin. Dalil tentang hal ini akan terlalu banyak untuk disebutkan disini.

Definisi Sahabat Nabi adalah orang yang bertemu Nabi dalam keadaan iman dan meninggal dalam keadaan iman.

VIII. PARA SAHABAT BUKANLAH MALAIKAT DAN BUKAN PULA NABI, SEHINGGA TIDAK MASUM

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbingmu ke atas Siratal Mustaqim.
Para Sahabat itu bukanlah malaikat dan bukan pula Nabi, sehingga tidak terbebas dari kesalahan, namun Allah telah menjanjikan ampunan bagi mereka. Sehingga tidak pantas bagi kita mengorek-ngorek kesalahan-kesalahan mereka, misalnya dengan membahas perselisihan diantara mereka dan kemudian sebagian sahabat dicela.

Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah membimbingmu ke atas Siratal Mustaqim.
Sahabat itu mujtahidin, sehingga bila ijtihadnya keliru mereka mendapat satu pahala dan jika benar mendapat 2 pahala.

Allah taala berfirman [artinya]: “Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan” (Al-Baqarah:141)

Para Sahabat telah pergi dengan membawa keridhaan Rabb, dijanjikan sorga, diampuni kesalahannya dan keutamaan-keutamaan lainnya. Pantaskah kita mengorek-ngorek kesalahan mereka ?.
Beramalah untuk bekal kalian menghadap Rabbul Alamin !

IX. HUKUM ORANG YANG MENCACI PARA SAHABAT DENGAN MENUDUHNYA KAFIR, MURTAD DAN FASIQ SEMUANYA ATAU SEBAGIANNYA.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan: ” Adapun orang yang melampaui masalah itu, hingga menyangka bahwa para sahabat itu murtad sepeninggal Rasulullah shallallahualaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang saja yang tidak sampai sepuluh orang, atau menganggap para Sahabat pada umumnya fasiq, maka yang demikian itu tidak diragukan kekafirannya, karena dengan demikian dia telah mengkufuri banyak ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan karidhaan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan barangsiapa yang meragukan kekafirannya, berarti dia kafir dengan kafir yang sebenar-benarnya kafir…” kemudian beliau menyatakan: ” Dan kekafiran yang demikian ini adalah perkara yang sudah diketahui dengan pasti dari agama Islam. (As-Sharimul Maslul)

Imam Malik berpendapat kafir terhadap orang-orang yang membenci para Sahabat berdasarkan Surat Al-Fath ayat 29 yang menerangkan keadaan para Sahabat: “Agar Allah menjengkelkan orang-orang kafir dengan keadaan mereka seperti itu”. Pengertian seperti ini juga disepakati oleh Imam Syafii dan lainya. (As-Shawaiqul Muhriqah, Tafsir Ibnu Katsier, As-Sunnah karya Al-Khallal)

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga, dan para Sahabatnya.
Allahu taala alam. Akhiru dawana wal hamdulillahirabbil alamin.