Wednesday, November 7, 2012

Bid;ahkah menghadapkan orang yang sakrataul maut ke arah kiblat

Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Naashiruddin Al-Albaniy rahimahullah berkata dalam kitabnya yang masyhur : Ahkaamul-Janaaiz wa Bida’uhaa hal. 307 (Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1412 H) saat menjelaskan macam-macam bid’ah seputar pengurusan jenazah :
“………………
5. Menghadapkan orang yang sedang sakaratul-maut ke arah kiblat. Perbuatan tersebut telah diingkari oleh Sa’iid bin Al-Musayyib sebagaimana terdapat dalam Al-Muhallaa 5/174 dan Maalik sebagaimana dalam Al-Madkhal 3/229-230. Tidaklah shahih hadits yang menjadi dasar akan hal itu (telah lewat pembahasannya pada halalaman 11)[1].” [selesai].
Adapun atsar Sa’id bin Al-Musayyib yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah adalah :
وأما قراءة سورة ( يس ) عنده ، وتو جيهه نحو القبلة فلم يصح فيه حديث ،بل كره سعيد بن المسيب توجيهه إليها ، وقال : " أليس الميت امرأ مسلما !؟ ".
وعن زرعة بن عبد الرحمن أنه شهد سعيد بن المسيب في مرضه وعنده أبو سلمة بن عبد الرحمن فغشي على سعيد ، فأمر أبو سلمة أن يحول فراشه إلى الكعبة . فأفاق ، فقال : حولتم فراشي ! ؟ فقالوا نعم ، فنظر إلى أبي سلمة فقال : أراه بعلمك ؟ فقال : أنا أمرتهم!فأمر سعيد أن يعاد فراشه.
إخرجه ابن أبي شيبة في " المصنف " ( 4 / 76 ) بسند صحيح عن زرعة .
“Adapun bacaan surat Yaasiin di sisi mayit dan menghadapkannyake arah kiblat, maka tidak ada satupun hadits shahih. Bahkan menghadapkan ke arah kiblat merupakan hal yang dibenci oleh Sa’iid bin Al-Musayyib. Ia berkata : “Bukankah mayit itu seorang muslim ?”.
Dan dari Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahwsannya ia pernah menyaksikan Sa’iid bin Al-Musayyib ketika ia sedang sakit dan di sisinya ada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’iid pun pingsan ketika itu. Lalu Abu Salamah memerintahkan agar tempat tidurnya dihadapkan ke arah Ka’bah (kiblat). Sa’id kemudian sadar (dari pingsannya) dan berkata : "Apakah kalian telah merubah tempat tidurku ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu ia memandang Abu Salamah dan berkata : “Aku pikir hal itu dilakukan berdasarkan pengetahuanmu”. Abu Salamah berkata : “Aku (memang) yang memerintahkan mereka !”. Sa’id pun kemudian menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan ke tempat semula”. [Ahkaamul-Janaaiz, hal. 20-21].[2]
Penjelasan beliau rahimahullah di atas perlu dicermati lebih lanjut, karena ada beberapa riwayat yang bertolak belakang dari apa yang beliau jelaskan. Berikut di antaranya :
أخبرني إسماعيل بن محمد بن الفضل بن محمد الشعراني ثنا جدي ثنا نعيم بن حماد ثنا عبد العزيز بن محمد الدراوردي عن يحيى بن عبد الله بن أبي قتادة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة سأل عن البراء بن معرور فقالوا توفي وأوصى بثلثه لك يا رسول الله وأوصى أن يوجه الى القبلة لما احتضر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أصاب الفطرة وقد رددت ثلثه على ولده ثم ذهب فصلى عليه فقال اللهم اغفر له وارحمه وأدخله جنتك وقد فعلت. هذا حديث صحيح فقد احتج البخاري بنعيم بن حماد واحتج مسلم بن الحجاج بالدراوردي ولم يخرجا هذا الحديث ولا أعلم في توجه المحتضر الى القبلة غير هذا الحديث
Telah mengkhabarkan kepada kami Isma’iil bin Muhammad bin Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy : Telah menceritakan kepada kami kakekku : Telah menceitakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-‘Aziiz bin Muhammad Ad-Daraawardiy, dari Yahyaa bin ‘Abdillah bin Abi Qataadah, dari ayahnya[3] : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau bertanya tentang Al-Barraa’ bin Ma’ruur. Maka mereka (para shahabat) berkata : “Ia telah meninggal dan berwasiat dengan sepertiga (hartanya) untukmu wahai Rasulullah. Ia juga berwasiat agar ia dihadapkan ke kiblat jika ia meninggal". Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ia berada di atas fithrah, dan aku kembalikan sepertiga harta itu kepada anaknya”. Lalu beliau pergi untuk menshalatinya. Beliau bersabda : “Ya Allah, ampunilah ia, sayangilah ia, dan masukkanlah ia ke dalam surga-Mu. Dan aku telah melakukannya”.
Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih. Nu’aim bin Hammaad telah digunakan sebagai hujjah oleh Al-Bukhari. Adapun Muslim telah berhujjah dengan Ad-Daraawardiy. Namun hadits ini tidak diriwayatkan oleh mereka berdua. Aku tidak mengetahui dalil untuk menghadapkan kiblat bagi orang yang meninggal kecuali hadits ini” [Al-Mustadrak lil-Haakim, 1/353; Majlis Daairatil-Ma’aarif, Cet. 1/1340 H].
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
صحيح، فقد احتج (خ) بنعيم و(م) بالدراوردي.
“Shahih, Al-Bukhari telah berhujjah dengan Nu’aim dan Muslim berhujjah dengan Ad-Daraawardiy” [idem, 1/354].
Hadits ini lemah karena Nu’aim bin Hammaad. Walaupun ia dipakai oleh Al-Bukhariy, para ulama telah banyak memberikan kritik kepadanya. Setelah menyebutkan beberapa komentar ulama dalam At-Tahdziib, Ibnu Hajar rahimahullah memberi kesimpulan dalam At-Taqriib :
صدوق يخطىء كثيرا فقيه عارف بالفرائض
“Jujur namun banyak salahnya. Seorang faqiih yang mengetahui seluk-beluk ilmu faraaidl” [At-Taqriib, hal. 1006 no. 7215, tahqiq : Abul-Asybaal Shaghiir Al-Baakistaaniy; Daarul-‘Aashimah].
Selain itu, riwayat ‘Abdul-‘Aziiz Ad-Darawardiy dari Nu’aim bin Hammaad - sebagaimana dalam sanad yang dibawakan oleh Al-Haakim - bukan merupakan persyaratan yang dipakai oleh Al-Bukhariy.[4]
Namun riwayat ini mempunyai beberapa penguat di antaranya :
وأخبرنا أبو بكر بن القاضي أنبأ أبو سهل بن زياد، ثنا عبد الكريم بن الهيثم، ثنا أبو اليمان، أنبأ شعيب، عن الزهري، عن عبد الرحمن بن عبد الله بن كعب بن مالك في قصة ذكرها قال : وكان البراء بن معرور أول مَن استقبل القبلة حياً وميتاً.
Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr bin Al-Qaadliy : Telah memberitakan kepada kami Abu Sahl bin Ziyad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Kariim bin Al-Haitsam : Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah memberitakan kepada kami Syu’aib, dari Az-Zuhriy, dari ‘Abdurahman bin ‘Abdillah bin Ka’b bin Maalik mengenai kisah yang ia sebutkan/ceritakan. Ia berkata : “Adalah Al-Barraa’ bin Ma’ruur orang yang pertama kali menghadap ke kiblat pada saat hidupnya maupun saat matinya” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa, 3/384, tahqiq : Muhammad ‘Abdil-Qaadit ‘Athaa (3/539-540); Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 3/1424 H. Al-Baihaqiy berkata : “Hadits tersebut adalah mursal jayyid”].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
وروى يعقوب بن سفيان في تاريخه من طريق ابن شهاب عن عبد الرحمن بن عبد الله بن خعب قال : قال خعب : كان البراء بن معرور أول من استقبل الكعبة حياً وعند حضرة وفاته...
Ya’quub bin Sufyaan meriwayatkan dalam Taariikh-nya dari jalan Ibnu Syihaab, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Ka’b, ia berkata : Telah berkata Ka’b : “Adalah Al-Barraa’ bin Ma’ruur orang yang pertama kali menghadap ke Ka’bah (kiblat) saat hidupnya dan pada saat kematiannya…” [Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar, 1/149 no. 619].
عبد الرزاق عن معمر عن الزهري : أن البراء بن معرور الأنصاري لما حضره الموت قال لأهله وهو بالمدينة : استقبلوا بي الكعبة.
‘Abdurrazzaaq, dari Ma’mar, dari Az-Zuhriy : Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur Al-Anshaariy saat menjelang kematiannya ia berkata kepada keluarganya – yang saat itu ia berada di Madinah - : “Hadapkanlah aku ke Ka’bah !” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6064 – mursal].
Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
وروى ابن شاهن بإسنا لين من طريق عبد الله بن أبي قتادة حدثني أمي عن أبي : أن البراء بن معرور مات قبل الهجرة فوجه قبره إلى الكبلة...
Dan Ibnu Syaahin meriwayatkan dengan sanad layyin (lemah) dari jalan ‘Abdullah bin Abi Qataadah : Telah menceritakan kepadaku ibuku, dari ayahku : Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur meninggal sebelum hijrah, dan kuburnya dihadapkan ke arah Kiblat…” [Al-Ishaabah, 1/149].
Juga tentang kisah wafatnya Faathimah yang dibawakan oleh Ummu Salmaa, yang di dalamnya disebutkan :
واضطجعت واستقبلت القبلة وجعلت يدها تحت خدها
“….lalu ia tidur terlentang, menghadap kiblat, dan meletakkan kedua tangannya di bawah pipinya…” [Diriwayatkan Ahmad dalam Al-Musnad, 6/461 – dla’if, karena ‘an’anah Ibnu Ishaaq dan juga karena ke-dla’if-an ‘Ubaidullah bin ‘Aliy bin Abi Raafi’].
Beberapa penguat di atas dapat menaikkan hadits Al-Barraa’ bin Ma’ruur ke derajat hasan (lighairihi) sehingga bisa digunakan sebagai hujjah.
Ditambah lagi, perbuatan sebagian shahabat Sa’iid bin Al-Musayyib kepada Sa’id untuk menghadapkannya ke arah kiblat saat menjelang wafatnya menunjukkan perbuatan tersebut merupakan satu kelaziman di kalangan salaf. Adapun pengingkaran Sa’id, ada kemungkinan ia belum mengetahui dalil akan masyru’-nya perbuatan itu sebagaimana diketahui para shahabatnya rahimahumullah.
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
يستحب أن يستقبل به القبلة وهذا مجمع عليه وفى كيفيته المستحبة وجهان (أحدهما) علي قفاه واخمصاه الي القبلة ويرفع رأسه قليلا ليصير وجهه إلى القبلة حكاه جماعات من الخراسانيين وصاحبا الحاوى والمستظهري من العراقيين وقطع به الشيخ أبو محمد الجويني والغزالي وغيرهما قال امام الحرمين وعليه عمل الناس (والوجه الثاني) وهو الصحيح المنصوص للشافعي في البويطي وبه قطع جماهير العراقيين وهو الاصح عند الاكثرين من غيرهم وهو مذهب مالك وأبى حنيفة يضحع على جنبه الايمن مستقبل القبلة كالموضوع في اللحد فان لم يمكن لضيق المكان أو غيره فعلى جنبه الايسر إلى القبلة فان لم يمكن فعلى ففاه والله أعلم
“Disukai untuk menghadapkannya ke arah kiblat, dan ini telah menjadi kesepakatan. Adapun dalam hal kaifiyah-nya, maka ada dua cara : Pertama, ia dibaringkan di atas tengkuk dan punggungnya ke arah kiblat, dan kepalanya diangkat sedikit agar wajahnya menghadap kiblat. Pendapat ini diriwayatkan dari para ulama Khurasan, serta pengarang kitab Al-Haawiy (yaitu Al-Mawardiy – Abul-Jauzaa’) dan Al-Mustadhariy dari kalangan ulama ‘Iraq. Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwainiy, Al-Ghazzaaliy, dan yang lainnya juga memilih pendapat ini. Al-Imam Al-Haramain berkata : ‘Perbuatan inilah yang diamalkan oleh orang-orang’. Kedua, dan inilah yang shahih ternukil dari Asy-Syaafi’iy dalam riwayat Al-Buwaithiy. Pendapat inilah yang dipilih oleh mayoritas ulama ‘Iraq; dan paling shahih menurut mayoritas ulama (lainnya) dibandingkan selain mereka. Inilah madzhab Maalik dan Abu Hanifah, yaitu orang yang akan mati itu tidur miring ke sebelah kanan menghadap kiblat, seperti jenazah yang diletakkan di liang lahat. Apabila itu tidak bisa dilakukan karena sempitnya tempat atau yang lainnya, maka miring ke sebelah kirinya sambil menghadap kiblat. Jika itu tidak bisa juga, maka di atas tengkuknya (sebagaimana cara pertama). Wallaahu a’lam” [Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab, 5/105-106, tahqiq : Muhammad Najiib Al-Muthii’iy; Maktabah Al-Irsyaad].
Asy-Syaukaniy rahimahullah berkata :
والأولى الاستدلال لمشروعية التوجيه بما رواه الحاكم والبيهقي عن أبي قتادة‏:‏ ‏"‏أن البراء بن معرور أوصى أن يوجه للقبلة إذا احتضر فقال رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وآله وسلم‏:‏ أصاب الفطرة‏"‏
“Dan istidlal yang lebih kuat adalah disyari’atkanya untuk menghadapkan (mayit/orang yang akan mati ke arah kiblat) berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Haakim dan Al-Baihaqiy dari Abu Qataadah : ‘Bahwasannya Al-Barraa’ bin Ma’ruur berwasiat agar dihadapkan ke kiblat apabila ia meninggal. Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Ia telah sesuai dengan fithrah” [Nailul-Authaar, 4/21; Maktabah Ad-Dakwah Al-Islaamiyah].
Kesimpulan : Disunnahkan bagi orang yang hendak meninggal untuk dihadapkan ke arah kiblat. Perbuatan ini bukan termasuk bid’ah. Inilah pendapat kuat yang dipegang jumhur ulama salaf.
Wallaahu a’lam.
[Abul-Jauzaa’ – banyak mengambil faedah dari penjelasan Asy-Syaikh Mushthafa bin Al-‘Adawiy hafidhahullah dalam Al-Ghusl wal-Kafaan – perumahan ciomas permai, bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com].


[1] Sebagaimana dalam kitab asli – Abul-Jauzaa’.
[2] Ada empat lafadh dalam atsar Sa’iid bin Al-Musayyib rahimahullah ini :
حدثنا أبو عامر العقدي عن محمد بن قيس قال حدثني زرعة بن عبد الرحمن أنه شهد سعيد بن المسيب في مرضه وعنده أبو سلمة بن عبد الرحمن فغشي على سعيد فأمر أبو سلمة أن يحول فراشه إلى الكعبة فأفاق فقال حولتم فراشي فقالوا نعم فنظر إلى أبي سلمة فقال أراه عملك فقال أنا أمرتهم فقال فأمر سعيد أن يعاد فراشه
Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al-‘Aqadiy, dari Muhammad bin Qais, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahwsannya ia pernah menyaksikan Sa’iid bin Al-Musayyib ketika ia sedang sakit dan di sisinya ada Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’iid pun pingsan ketika itu. Lalu Abu Salamah memerintahkan untuk tempat tidurnya dihadapkan ke arah Ka’bah (kiblat). Sa’id kemudian sadar (dari pingsannya) dan berkata : Apakah kalian telah merubah tempat tidurku ?”. Mereka menjawab : “Ya”. Lalu ia memandang Abu Salamah dan berkata : “Aku pikir hal itu dilakukan berdasarkan pengetahuanmu”. Abu Salamah berkata : “Aku (memang) yang memerintahkan mereka !”. Sa’id pun kemudian menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan ke tempat semula” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/239, tahqiq & takhrij : Muhammad ‘Awwaamah (7/121); Daarul-Qiblah, Cet. 1/1427 H - shahih].
حدثنا جعفر بن عون عن سفيان عن إسماعيل بن أمية عن سعيد بن المسيب أنه كرهه وقال أليس الميت امرءا مسلما
Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin ‘Aun, dari Sufyaan, dari Ismaa’iil bin Umayyah, dari Sa’iid bin Al-Musayyib : Bahwasannya ia membencinya (memiringkan mayit ke arah kiblat – Abul-Jauzaa’). Ia berkata : “Bukankah mayit itu orang yang beragama Islam (muslim) ?” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/239 (7/120) – shahih].
عن عبد الرزاق عن ابن جريج عن إسماعيل بن أمية أن إنساناً حين حضر ابن المسيب الموتُ وهو مستلق، قال : احرفوه، قال : أو لست عليها، يعني أنه على القبلة وإن لم كن مستقبلها لأنه مسلم.
Dari ‘Abdurrazzaaq, dari Ibnu Juraij, dari Ismaa’iil bin Umayyah : Bahwasannya ada seseorang yang hadir saat Sa’iid bin Al-Musayyib menjelang kematiannya, dan ia alam keadaan tidur terlentang. Orang tersebut berkata : “Balikkanlah ia (ke arah kiblat)”. Sa’iid berkata : “Atau apakah aku tidak berada di atasnya ?” – yaitu ia berada di atas kiblat, meskipun ia tidak menghadap ke arahnya, karena ia seorang muslim [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6062, tahqiq & takhrij : Habiibur-Rahmaan Al-A’dhamiy, Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 2/1403 H – shahih].
عبد الرزاق عن معمر والثوري عن إسماعيل بن أمية أن رجلاً دخل على ابن المسيب وهو شاكي مستلقي فقال : وجّهوه للقبلة، فغضب سعيد، وقال : أَوَ لستُ إلى القبلة.
‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar dan Ats-Tsauriy, dari Ismaa’iil bin Umayyah : Bahwasannya ada seorang laki-laki yang masuk menemui Ibnul-Musayyib yang tengah sakit dan tidur terlentang. Ia berkata : “Hadapkanlah ia ke arah kiblat !”. Sa’id pun marah (mendengar itu) dan berkata : “Ataukah aku tidak berada di atas kiblat (muslim) ?” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/392 no. 6063 – shahih].
[3] Yang benar : “Dari Yahyaa – yaitu Ibnu Abi Katsiir - , dari ‘Abdullah bin Abi Qataadah, dari ayahnya” [lihat Tatabbu’u Auhaam Al-Haakim allatiii Sakata ‘Alaihadz-Dzahabiy oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Haadiy Al-Wadi’iy, 1/499; Daarul-Haramain, Cet. 1/1417 H].
[4] Lihat At-Ta’diil wat-Tajriih liman Kharaja ‘anhul-Bukhaariy fil-Jamii’ish-Shahiih oleh Abul-Waliid Al-Baajiy, 2/860 no. 735, tahqiq : Ahmad Al-Bazzaar; Cet. Maroko].


http://abul-jauzaa.blogspot.com

Hukum mencium tangan dan membongkokan badan

Hukum Mencium Tangan Dan Membongkokkan Badan Ketika Bersalaman

[Pertama] Hukum Mencium Tangan

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah (Wafat: 1420H) mengatakan:

و أما تقبيل اليد ، ففي الباب أحاديث و آثار كثيرة ، يدل مجموعها على ثبوت ذلك
عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط
الآتية :

1 - أن لا يتخذ عادة بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ، و يتطبع هؤلاء
على التبرك بذلك ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم و إن قبلت يده فإنما كان ذلك
على الندرة ، و ما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة ، كما هو معلوم من
القواعد الفقهية .

2 - أن لا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره ، و رؤيته لنفسه ، كما هو الواقع
مع بعض المشايخ اليوم .

3 - أن لا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة ، كسنة المصافحة ، فإنها مشروعة بفعله
صلى الله عليه وسلم و قوله ، و هي سبب تساقط ذنوب المتصافحين كما روي في غير ما حديث واحد ، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر ، أحسن أحواله أنه جائز .

“Berkaitan mencium tangan; dalam soal ini terdapat banyak hadis dan atsar dari kalangan salaf yang secara keseluruhan menunjukkan bahawa hadis tersebut sahih dari Nabi. Oleh sebab itu, kami berpendapat dibolehkan mencium tangan seorang ulama (yang ahli sunnah, bukan ahli bid’ah – pent.) jika memenuhi beberapa syarat berikut ini.

1. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Sehingga ulama tertentu terbiasa menghulurkan tangannya kepada murid-muridnya. Demikian juga para murid terbiasa mengambil barakah dengan mencium tangan gurunya. Ini kerana Nabi sendiri jarang sekali tangannya dicium oleh para shahabat. Jika demikian maka tidak boleh menjadikannya sebagai kebiasaan yang dilakukan terus-menerus sebagaimana kita ketahui dalam perbahasan kaedah-kaedah fiqh.

2. Perbuatan mencium tangan tersebut tidaklah menyebabkan ulama tersebut merasa sombong dan merasa lebih baik daripada yang lain serta menganggap dirinyalah yang paling hebat berbanding yang lain.

3. Perbuatan mencium tangan tersebut tidak menyebabkan hilangnya sunnah Nabi yang sudah diketahui seperti sunnah bersalaman. Bersalam atau berjabat tangan adalah satu amal yang dianjurkan berdasarkan perbuatan dan sabda Nabi. Bersalaman tangan adalah salah satu sebab gugurnya dosa-dosa orang yang melakukannya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadis. Oleh itu, tidak sepatutnya sunnah berjabat tangan ini ditinggalkan kerana mengejar suatu amalan yang hanya berstatus mubah (dibolehkan).” (Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah 1/159, Maktabah Syamilah)

[Kedua] Membongkokkan atau menundukkan badan sebagai penghormatan

Hadis daripada Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu, Kami bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

“Wahai Rasulullah, adakah sebahagian kami boleh membongkokkan (atau menundukkan) badan kepada sebahagian yang lain (yang ditemui)?” Rasulullah bersabda, “Tidak boleh.” Kami bertanya lagi, “Adakah kami boleh berpelukan jika saling bertemu?” Beliau bersabda, “Tidak boleh. Yang benar hendaklah kalian saling bersalaman.” (Sunan Ibnu Majah, no. 3692. Dinilai hasan oleh al-Albani)

Anas B. Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ

“Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, adakah kami boleh saling menundukkan (atau membongkokkan) badan apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki tersebut bertanya lagi, “Adakah boleh mendakapnya (memeluknya) dan menciumnya?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Lelaki itu bertanya lagi, “Adakah boleh mengambil tangannya dan bersalaman dengannya?” Rasulullah menjawab, “Ya.”.” (Sunan at-Tirmidzi, no. 2728. Dinilai hasan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani)

Imam al-Qurthubi rahimahullah (Wafat: 671H) berkara:

وَرَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا إِلَى بَعْضٍ إِذَا الْتَقَيْنَا؟ قَالَ:" لَا"، قُلْنَا: أَفَيَعْتَنِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ" لَا". قُلْنَا: أَفَيُصَافِحُ بَعْضُنَا بَعْضًا؟ قَالَ" نَعَمْ"

Diriwayatkan daripada Anas B. Malik, beliau berkata, “Kami bertanya:

“Wahai Rasulullah bolehkah kami saling membongkokkan (menundukkan) badan apabila kami bertemu?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Anas bertanya, “Untuk saling berpelukan di antara satu dengan lain?” Rasulullah menjawab, “Tidak.” Anas bertanya lagi, “Dengan saling bersalaman di antara satu dengan yang lain?” Rasulullah menjawab, “Ya.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/265)

Imam al-Qurthubi mengatakan:

وَإِذَا سَلَّمَ فَإِنَّهُ لَا يَنْحَنِي، وَلَا أَنْ يُقَبِّلَ مَعَ السَّلَامِ يَدَهُ، وَلِأَنَّ الِانْحِنَاءَ عَلَى مَعْنَى التَّوَاضُعِ لَا يَنْبَغِي إِلَّا لِلَّهِ. وَأَمَّا تَقْبِيلُ الْيَدِ فَإِنَّهُ مِنْ فِعْلِ الْأَعَاجِمِ، وَلَا يُتَّبَعُونَ عَلَى أَفْعَالِهِمُ الَّتِي أَحْدَثُوهَا تَعْظِيمًا مِنْهُمْ لِكُبَرَائِهِمْ

“Tidak boleh bersalaman (atau menghulur tangan) diiringi dengan membongkokkan badan dan mencium tangan. Membongkokkan badan dalam maksud atau tujuan kerendahan hati hanya boleh ditujukan kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala). Adapun mencium tangan, itu adalah perbuatan orang-orang ajam (selain ‘Arab) yang dilakukan dengan maksud memuliakan orang-orang tuanya.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/266)

Makanala Syaikh al-Albani rahimahullah dalam ash-Shahihah, tentang perbuatan mencium tangan (tanpa menundukkan kepala), beliau mengatakan (secara ringkas):

Dibolehkan mencium tangan dari kalangan ulama (orang-orang soleh dan berilmu) dengan beberapa syarat. (Ulama yang dimaksudkan adalah ulama Ahlu Sunnah wal-Jama’ah). [Pertama] Antaranya tidak dijadikan sebagai kebiasaan, kerana para sahabat Nabi sendiri tidak biasa mencium tangan Nabi. Dan orang yang dicium tangannya tersebut tidak menghulurkan tangannya supaya dicium.

[Kedua] Tidak menjadikan orang yang dicium tangannya tersebut riya’, sombong, dan merasa lebih baik dari yang lain.

[Ketiga] Tidak menghilangkan sunnah bersalaman tangan sebagaimana biasa yang dianjurkan oleh Sunnah Rasulullah. (Rujuk Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, 1/159)

Adapun perbuatan saling berpelukan (berdakapan) dibenarkan apabila pulang dari musafir atau setelah lama tidak bertemu. Tetapi jika menjadikan ianya sebagai kebiasaan (selain dari ketika balik safar), maka tidak dibolehkan (makruh). Ini sebagaimana diriwayatkan dari amalan para sahabat Nabi.

كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقوا تصافحوا، و إذا قدموا من سفر تعانقوا

“Bahawasanya para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila bertemu mereka saling bersalaman, dan apabila pulang dari safar (bermusafir), mereka saling berpelukan.” (Majma’ az-Zawa’id, 8/75. Kata al-Haitsami, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dan para perawinya adalah perawi kitab ash-Shahih.” Dinilai sahih oleh al-Albani)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian saling bersalaman melainkan dosa keduanya akan diampunkan (oleh Allah) sebelum ia berpisah.” (Musnad Ahmad, no. 18547. Sunan Abu Daud, no. 5212. Sunan at-Tirmidzi, no. 2727. Sunan Ibnu Majah, no. 3693. Dinilai sahih oleh al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth)
 
http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Hukummencium tangan orang tua dan guru sebagai tanda penghormatan

Di Indonesia, mencium tangan merupakan kebiasaan (‘urf) yang ma’ruf beredar di tengah masyarakat, terutama ditujukan kepada orang tua atau sebagian guru yang mempunyai keutamaan. Ada sebagian ikhwan yang mengingkari perbuatan ini dan menganggapnya sebagai tindakan ghulluw (berlebih-lebihan) dan bid’ah, tidak ada contohnya dari kalangan salaf.
Jika kita dudukkan permasalahan secara lebih arif, segala macam ‘urf itu diperbolehkan asalkan tidak bertentangan dengan syari’at.[1] Tidak terkecuali permasalahan yang tertera dalam judul artikel.

Ada nash yang menunjukkan kebolehan mencium tangan orang lain sebagai satu tanda penghormatan. Di antaranya :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ بِبَغْدَادَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَصْرٍ التَّمَّارُ قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَّافُ بْنُ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَزِينٍ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ، قَالَ: " بَايَعْتُ بِيَدِي هَذِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَاهَا، فَلَمْ يُنْكِرْ ذَلِكَ "
Telah menceritakan Ahmad bin Al-Hasan bin ‘Abdil-Jabbaar Ash-Shuufiy di baghdaad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Nashr At-Tammaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aththaaf bin Khaalid Al-Makhzuumiy, dari ‘Abdurrahmaan bin Raziin, dari Salamah bin Al-Akwaa’, ia berkata : “Aku berbaiat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan tanganku ini, lalu kami menciumnya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal itu” [Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Al-Muqri’ dalam Ar-Rukhshah fii Taqbiilil-Yadd no. 12; hasan].
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَّافُ بْنُ خَالِدٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ رَزِينٍ، قَالَ: " مَرَرْنَا بِالرَّبَذَةِ، فَقِيلَ لَنَا: هَا هُنَا سَلَمَةُ بْنُ الأَكْوَعِ، فَأَتَيْنَاهُ فَسَلَّمْنَا عَلَيْهِ، فَأَخْرَجَ يَدَيْهِ، فَقَالَ: بَايَعْتُ بِهَاتَيْنِ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَأَخْرَجَ كَفًّا لَهُ ضَخْمَةً كَأَنَّهَا كَفُّ بَعِيرٍ، فَقُمْنَا إِلَيْهَا فَقَبَّلْنَاهَا "
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Maryam, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Aththaaf bin Khaalid, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahmaan bin Raziin, ia berkata : “Kami pernah melewati daerah Rabadzah. Lalu dikatakan kepada kami : “Itu dia Salamah bin Al-Akwa’”. Maka kami mendatanginya dan mengucapkan salam kepadanya. Lalu ia mengeluarkan kedua tangannya dan berkata : “Aku berbaiat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan kedua tanganku ini”. Ia mengeluarkan kedua telapak tangannya yang besar yang seperti tapak onta. Kami pun berdiri, lalu menciumnya (tangan Salamah)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad no. 973; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Al-Adabul-Mufrad hal. 372].
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ، نَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ النَّيْسَابُورِيُّ، نَا الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ دَاوُدَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: " رَكِبَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، فَأَخَذَ ابْنَ عَبَّاسٍ بِرِكَابِهِ، فَقَالَ لَهُ: لا تَفْعَلْ يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا، فَقَالَ زَيْدٌ: أَرِنِي يَدَكَ، فَأَخْرَجَ يَدَهُ، فَقَبَّلَهَا زَيْدٌ، وَقَالَ: هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِأَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad An-Naisaabuuriy : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan bin ‘Iisaa, dari Ibnul-Mubaarak, dari Daawud, dari Asy-Sya’biy, ia berkata : Zaid bin Tsaabit pernah mengendarai hewan tunggangannya, lalu Ibnu ‘Abbaas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. Zaid berkata : “Jangan engkau lakukan wahai anak paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Ibnu ‘Abbaas berkata : “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami”. Zaid berkata : “Kemarikanlah tanganmu”. Lalu Ibnu ‘Abbaas mengeluarkan tangannya, kemudian Zaid menciumnya dan berkata : “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ahli bait Nabi kami shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Diinawariy dalam Al-Mujaalasah wa Jawaahirul-‘Ilm 4/146-147 no. 1314; dihasankan oleh Masyhuur Hasan Salmaan dalam takhrij-nya atas kitab tersebut].
Perkataan Ibnu ‘Abbaas dan Zaid : “beginilah kami diperintahkan…..”, menunjukkan hukum marfu’ atas riwayat ini.[2]
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ فَيَّاضٍ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ سَلَمَةَ، أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَبَّلَ يَدَ عُمَرَ ، قَالَ تَمِيمٌ: وَالْقُبْلَةُ سُنَّةٌ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, ia berkata : telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Ziyaad bin Fayyaadl, dari Tamiim bin Salamah : Bahwasannya Abu ‘Ubaidah (bin Al-Jarraah) pernah mencium tangan ‘Umar”. Tamiim berkata : “Ciuman (tangan) adalah sunnah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 26611 dan dalam Al-Adab no. 4; dla’iif[3], namun perkataan Tamiim bahwa ciuman tangan adalah sunnah, shahih].
Tamiim adalah seorang tsiqah dari kalangan ulama tabi’iin pertengahan.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ، ثنا سَعِيدٌ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ طَلْحَةَ، " أَنَّهُ قَبَّلَ يَدَ خَيْثَمَةَ ".قَالَ مَالِكٌ: وَقَبَّلَ طَلْحَةُ يَدِي
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy Ash-Shaaigh : Telah menceritakan kepada kami Sa’iid (bin Manshuur) : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan (bin ‘Uyainah), dari Maalik bin Mighwal, dari Thalhah : Bahwasannya ia mencium tangan Khaitsamah. Maalik berkata : “Dan Thalhah mencium tanganku” [Diriwayatkan oleh Ibnul-‘Arabiy dalam Al-Qubal no. 6; shahih].
Maalik bin Mighwal adalah seorang tsiqah dari kalangan kibaaru atbaa’it-taabi’iin. Thalhah bin Musharrif adalah seorang yag tsiqah, qari’, lagi mempunyai keutamaan dari kalangan ulama shighaarut-taabi’iin.
عَنْ عَلِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، يَقُولُ: " لا بَأْسَ بِهَا لِلْإِمَامِ الْعَادِلِ، وَأَكْرَهُهَا عَلَى دُنْيَا "
Dari ‘Aliy bin Tsaabit, ia berkata : Aku mendengar Sufyaan Ats-Tsauriy berkata : “Tidak mengapa dengannya (yaitu mencium tangan) terhadap imam yang adil, namun aku membencinya jika dilandasi alasan dunia” [Al-Wara’, no. 479; shahih].
Al-Marwaziy rahimahullah berkata :
سألت أبا عبد الله عن قبلة اليد فلم ير به بأسا على طريق التدين ،وكرهها على طريق الدنيا
“Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) tentang mencium tangan, maka ia memandang hal itu tidak mengapa jika dilakukan karena alasan agama, dan ia memakruhkan jika dilakukan karena alasan keduniaan” [Al-Wara’, no. 476].
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
تَقْبِيل يَد الرَّجُل لِزُهْدِهِ وَصَلَاحه أَوْ عِلْمه أَوْ شَرَفه أَوْ صِيَانَته أَوْ نَحْو ذَلِكَ مِنْ الْأُمُور الدِّينِيَّة لَا يُكْرَه بَلْ يُسْتَحَبّ ، فَإِنْ كَانَ لِغِنَاهُ أَوْ شَوْكَته أَوْ جَاهه عِنْد أَهْل الدُّنْيَا فَمَكْرُوه شَدِيد الْكَرَاهَة وَقَالَ أَبُو سَعِيد الْمُتَوَلِّي : لَا يَجُوز
“Mencium tangan seorang laki-laki dikarenakan kezuhudan, keshalihan, ilmu yang dimiliki, kemuliaannya, penjagaannya, atau yang lainnya dari perkara-perkara agama tidaklah dibenci, bahkan disukai. Namun apabila hal itu dilakukan karena faktor kekayaan, kekuasaan, atau kedudukannya di mata orang-orang, maka hal itu sangat dibenci. Dan berkata Abu Sa’iid Al-Mutawalliy : ‘Tidak diperbolehkan” [Fathul-Baariy, 11/57].
Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata :
وأما تقبيل اليد ففي الباب أحاديث وآثار كثيرة، يدل مجموعها على ثبوت ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط الآتية:-
1 - ألا يتخذ عادة بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ويتطبع على التبرك بذلك، فإن النبي صلى الله عليه وسلم وإن قبلت يده فإنما كان على الندرة، وما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة كما هو معلوم من القواعد الفقهية.
2 - ألا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره، ورؤيته لنفسه كما هو الواقع مع بعض المشايخ اليوم
3 - ألا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة، كسنة المصافحة، فإنها مشروعة بفعله صلى الله عليه وسلم وقوله، وهي سبب تساقط ذنوب المتصافحين كما روي في غير ما حديث واحد، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر أحسن أحواله أنه جائز. 
“Dan adapun mencium tangan, maka dalam bab ini terdapat hadits-hadits dan atsar-atsar yang sangat banyak yang menunjukkan dengan berkumpulnya tentang tetapnya hal itu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka kami berpandangan tentang bolehnya mencium tangan seorang ‘aalim apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
1.    Agar tidak menjadikannya kebiasaan yang menjadikan seorang ‘aalim bertabiat mengulurkan tangannya kepada murid-muridnya, yang kemudian menjadi tabi’at (si murid) untuk bertabarruk dengannya. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam meskipun tangan beliau dicium para shahabat, maka kejadian itu sangatlah jarang. Jika demikian, maka tidak diperbolehkan menjadikan hal itu sebagai sunnah yang dilakukan secara terus-menerus sebagaimana diketahui dalam kaidah fiqhiyyah.
2.    Agar tidak membiarkan hal menjadi kesombongan seorang ‘aalim kepada yang lainnya dan pandangannya terhadap dirinya sendiri sebagaimana hal itu terjadi pada sebagian masyaikh saat ini.
3.    Agar tidak menjadi sebab peniadaan sunnah yang telah diketahui, seperti sunnah berjabat tangan, karena itu disyari’atkan berdasarkan perbuatan dan perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dimana jabat tangan tersebut menjadi sebab gugurnya dosa-dosa dua orang yang melakukannya, sebagaimana diriwayatkan lebih dari satu hadits. Maka tidak diperbolehkan membatalkannya (sunnah jabat tangan) dengan sebab mengerjakan amalan yang keadaan terbaiknya dihukumi boleh” [Silsilah Ash-Shahiihah, 1/252-253].
Asy-Syaikh Ibnul-Jibriin rahimahullah berkata :
نرى جواز ذلك إذا كان على وجه الاحترام والتوقير للوالدين والعلماء وذوي الفضل وكبار الأسنان من الأقارب ونحوهم، وقد ألف في ذلك ابن الأعرابي رسالة في أحكام تقبيل اليد ونحوها، فليرجع إليها، ومتى كان هذا التقبيل للأقارب المُسنين وذوي الفضل فإنه يكون احترامًا ولا يكون تذللا ولا يكون تعظيمًا، وقد رأينا بعض مشائخنا يُنكرون ذلك ويمنعونه، وذلك منهم من باب التواضع لا لتحريمه فيما يظهر. والله أعلم
“Kami berpendapat bolehnya hal itu, apabila tujuannya untuk menghormati dan menghargai kedua orang tua, ulama, orang terhormat dan yang berusia lanjut dari karib kerabat dan yang lain. Ibnul-‘Arabiy telah menulis tentang hal itu tentang hukum mencium tangan dan semisalnya. Maka dipersilakan merujuk kepadanya. Apabila mencium tangan ini ditujukan kepada karib kerabat yang berusia lanjut dan orang yang mempunyai keutamaan (ulama) maka hal itu untuk menghormati, bukan merupakan perendahan diri dan pengagungan kepadanya. Kami telah melihat sebagian guru kami mengingkari hal itu dan melarangnya. Hal itu karena sifat tawadlu' dari mereka, bukan karena mengharamkannya. Wallahu a'lam [lihat : http://ibn-jebreen.com/ftawa.php?view=vmasal&subid=12410&parent=3212].
Walhasil, mencium tangan seseorang sebagai satu tanda penghormatan kita terhadapnya (misal : orang tua, suami, guru, ulama, dan yang semisalnya) adalah diperbolehkan dengan rambu-rambu syar’iy yang telah dijelaskan para ulama di atas.
Inilah sedikit yang bisa saya tuliskan, semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yogyakarta, Indonesia].


Catatan kecil :
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa ciuman tangan yang dilakukan Zaid kepada Ibnu ‘Abbaas bukan dalam rangka tabarruk, akan tetapi dalam rangka penghormatan terhadap Ahlul-Bait. Hal itu dikarenakan apa yang dilakukan Zaid merupakan balasan atas penghormatan Ibnu ‘Abbaas yang telah menuntun kendaraannya.
[3]     Karena keterputusan antara Tamiim dengan ‘Umar radliyallaahu ‘anh

Tuesday, November 6, 2012

Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq: Ketinggian Akhlaq Lemah Lembut



Tiga perkara ini (Al Hilm, Al Anah dan Ar Rifq) memiliki makna yang berdekatan. Ketiganya mengandung makna berlemah lembut dalam bermuamalah dengan sesama. Oleh karena itu, para ulama menjadikan pembahasannya dalam satu bab.
Al Hilm (الحلم) maknanya adalah seseorang bisa menguasai dirinya ketika marah.  Jika seseorang dilanda amarah maka dengan segera dia bisa menguasai dirinya, tidak terburu-buru merespon atau memberikan balasan.
Sedangkan Al ‘Anah (الأناة) maknanya adalah berhati-hati dalam menghadapi permasalahan dan tidak tergesa-gesa. Artinya seseorang tidaklah mengambil sebuah permasalahan dengan zhahirnya belaka, lalu dia pun dengan tergesa-gesa menghukumi permasalahan tersebut sebelum dia menelitinya dengan lebih lanjut.
Adapun Ar Rifq (الرفق) maknanya adalah: Bermuamalah dengan manusia dengan lemah lembut bahkan sampai-sampai jika orang tersebut berhak untuk mendapat hukuman dan sanksi maka dia pun tetap memperlakukannya dengan lemah lembut.

Tingginya kedudukan tiga sifat ini
Ketiga sifat ini banyak mendapat pujian dalam di syariat Islam.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Asyaj ‘Abdul Qais,
إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yaitu al hilm dan al anah”. (HR. Muslim)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ
“Sesungguhnya Allah Rafiq (Maha Lembut), dan mencintai rifq/kelembutan, Dia memberikan pada rifq, apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya”. (HR. Muslim)
Dari beliau (‘Aisyah) radhiyallahu ‘anha juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap keras dan keji, sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. (HR. Muslim)
Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ
“Barang siapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya”. (HR. Muslim)


Kelembutan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalh figur yang penuh kasih sayang dan kelemahlembutan. Allah ta’ala berfirman,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
Kasih sayang dan kelemahlembutan beliau nampak pada Hadits-hadits berikut:
1. Kisah Arab Badui yang Kencing di Masjid
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala kami dimasjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang A’rabi  (Arab dusun) kencing di masjid, maka para sahabat menghardiknya, “Mah mah (yaitu pergi/tinggalkan)”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jangan kalian hardik, biarkan dia (jangan putus kencingnya)”.
Parasahabat membiarkan A’rabi  tersebut untuk menunaikan kencingnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya masjid-masjid tidak boleh untuk kencing, tetapi dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh kalian diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan, guyurlah air kencing tadi dengan satu ember air”.
A’rabi  itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati selain kami”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh engkau telah mempersempit perkara yang luas.” (Muttafaqun ‘alaihi)

2. Metode Beliau dalam Menegur Para Sahabat
Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam ‘Aisyah-Sulami radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seseorang yang shalat itu bersin.
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mendoakan, “Semoga Allah merahmatimu”.
Orang-orang yang shalat melihat kepadaku dalam rangka mengingkari. Mu’awiyah mengatakan kepada mereka, “Kenapa kalian melihatku begitu?”
Orang-orang yang shalat memukulkan tangan-tangan mereka ke paha-paha mereka dengan tujuan supaya diam, maka Muawiyah pun diam tatkala mereka diam sampai selesai shalat.
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi ibu bapakku, aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum atau sesudahnya yang paling baik pengajarannya dibanding beliau, maka demi Allah, beliau tidak memojokkan aku, tidak memukulku dan tidak mencelaku”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sesuatu pun padanya yang berupa ucapan manusia, tetapi shalat itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an”.
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru lepas dari masa jahiliyah, dan Allah datangkan Islam. Dan sesungguhnya ada di antara kami orang-orang yang mendatangi dukun yang mereka mengakui ilmu ghaib”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kamu mendatangi mereka!!”
Mua’wiyah radhiyallahu ‘anhu, “Dan di antara kami ada orang-orang yang ber-tathayur (menganggap sial dengan sesuatu).”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itu adalah sesuatu yang didapatkan pada dada-dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka dari tujuan-tujuan mereka, karena yang demikian itu tidak berpengaruh, tidak mendatangkan manfaat mau pun mudharat.” (HR. Muslim)

3. Bimbingan Beliau terhadap ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Orang-orang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Kebinasaan bagimu”. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagi kalian juga”. ‘Aisyah berkata, “Kebinasaan bagi kalian, laknat dan murka Allah atas kalian”.
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahan wahai ‘Aisyah, wajib bagimu untuk lemah lembut, hati-hati kamu dari sikap keras dan keji”.
‘Aisyah, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan, aku telah membalas mereka dan itu dikabulkan bagiku dan ucapan mereka terhadapku tidaklah dikabulkan “. (HR. Al Bukhari)
Dalam riwayat Muslim, “Jangan kamu (wahai ‘Aisyah) menjadi orang yang berbuat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap perkataan kotor/keji dan mengatakan dengan ucapan kotor”.

4. Wasiat Beliau ketika Mengutus Para Da’i
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mengutus sahabatnya dalam suatu urusan, beliau bersabda,
 بَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا وَيَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا
“Gembirakanlah mereka, jangan bikin lari, permudah urusan mereka, jangan mempersulit”. (Muttafaqun ‘alaihi)


Lemah Lembut dalam Mengajak Orang kepada Kebaikan
Lemah lembut dalam berdakwah adalah salah satu modal utama di dalam berdakwah. Allah ta’ala berfirman,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)
Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad bin Hanbal, “Bagaimana sepantasnya seseorang memerintahkan kepada yang ma’ruf?”
Beliau menjawab,
“Hendaknya dia memerintah dengan lemah lembut dan merendahkan diri.” Kemudian beliau berkata, “Jika mereka memperdengarkan kepadanya perkara yang dia benci, jangan dia marah, sehingga jadilah dia ingin membela dirinya.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 52)
Al-Imam Sufyan berkata,
“Janganlah memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar kecuali orang yang di dalamnya ada tiga perkara: Berlemah-lembut dengan apa yang ia perintahkan dan lemah-lembut dengan apa yang ia larang, adil dengan apa yang ia perintahkan dan adil dengan apa yang ia larang, mengilmui apa yang ia perintahkan dan mengilmui apa yang ia larang.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal, hal 37)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Maka semestinya untuk mempunyai tiga hal: Ilmu, sikap lemah lembut, dan kesabaran. Ilmu sebelum memerintahkan dan melarang, sikap lemah-lembut bersamanya, dan kesabaran setelahnya. Dan setiap dari tiga hal ini mesti menemaninya dalam keadaan-keadaan ini.” (Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Ibnu Taimiyyah, hal 18)
Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

Oleh: Abu Umar Al Bankawy
Sumber:
-          Syarh Riyadhis Shalihin, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
-          Qutufun min Syamaaili Al Muhammadiyyah, Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
-          Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
-          Al Amr bil Ma’ruf wan Nahi anil Munkar, Abu Bakr bin Al Khallal