Thursday, November 22, 2012

Hukum Qunut Subuh


PERTANYAAN

Salah satu masalah kontroversial di tengah masyarakat adalah qunut Shubuh. Sebagian menganggapnya sebagai amalan sunnah, sebagian lain menganggapnya pekerjaan bid’ah. Bagaimanakah hukum qunut Shubuh sebenarnya?

JAWABAN

Dalam masalah ibadah, menetapkan suatu amalan bahwa itu adalah disyariatkan (wajib maupun sunnah) terbatas pada adanya dalil dari Al-Qur`an maupun As-sunnah yang shahih menjelaskannya. Kalau tidak ada dalil yang benar, hal itu tergolong membuat perkara baru dalam agama (bid’ah), yang terlarang dalam syariat Islam sebagaimana dalam hadits Aisyah riwayat Bukhary-Muslim,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد ٌّوَ فِيْ رِوَايَةِ مُسْلِمٍ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمُرُنَا فَهُوَ رَدَّ

“Siapa yang yang mengadakan hal baru dalam perkara kami ini (dalam Agama-pent.) apa yang sebenarnya bukan dari perkara maka hal itu tertolak.” Dan dalam riwayat Muslim, “Siapa yang berbuat satu amalan yang tidak di atas perkara kami maka ia (amalan) tertolak.”
Hal ini hendaknya dijadikan sebagai kaidah pokok oleh setiap muslim dalam menilai suatu perkara yang disandarkan kepada agama.

Setelah mengetahui hal ini, kami akan berusaha menguraikan pendapat-pendapat para ulama dalam masalah ini.

Uraian Pendapat Para Ulama

Ada tiga pendapat di kalangan ulama tentang disyariatkan atau tidaknya qunut Shubuh.

Pendapat pertama , qunut shubuh disunnahkan secara terus-menerus. Ini adalah pendapat Malik, Ibnu Abi Laila, Al-Hasan bin Shalih, dan Imam Syafi ’iy.

Pendapat kedua , qunut shubuh tidak disyariatkan karena sudah mansukh ‘ terhapus hukumnya’. Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsaury, dan lain-lainnya dari ulama Kufah.

Pendapat ketiga , qunut pada shalat shubuh tidaklah disyariatkan kecuali pada qunut nazilah yang boleh dilakukan pada shalat shubuh dan pada shalat-shalat lainnya. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Al-Laits bin Sa’d, Yahya bin Yahya Al-Laitsy, dan ahli fiqih dari para ulama Ahlul Hadits.
  • Dalil Pendapat Pertama
Dalil terkuat yang dipakai oleh para ulama, yang menganggap qunut subuh itu sunnah, adalah hadits berikut ini.

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Shubuh sampai beliau meninggalkan dunia.”

Dikeluarkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf 3/110 no. 4964, Ahmad 3/162, Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’ani Al Atsar 1/244, Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wa Mansukhih no. 220, Al-Hakim dalam Al-Arba’in sebagaimana dalamNashbur Rayah 2/132, Al-Baihaqy 2/201 dan dalam Ash-Shugra ` 1/273, Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah 3/123-124 no. 639, Ad-Daraquthny dalam Sunan -nya 2/39, Al-Maqdasy dalam Al-Mukhtarah 6/129-130 no. 2127, Ibnul Jauzy dalamAt-Tahqiq no. 689-690 dan Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah no. 753, dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Mudhih Auwan Al-Jama’ Wa At-Tafriq 2/255 dan Al-Qunutsebagaimana dalam At-Tahqiq 1/463.

Semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Razy, dari Ar-Rabi’ bin Anas, dari Anas bin Malik.
Hadits ini dishahihkan oleh Muhammad bin ‘Ali Al-Balkhy dan Al-Hakim sebagaimana dalam Khulashatul Badrul Munir 1/127 dan disetujui pula oleh Imam Al-Baihaqy. Namun Imam Ibnu Turkumany dalam Al-Jauhar An-Naqy berkata, “Bagaimana bisa sanadnya menjadi shahih sedangkan rawi yang meriwayatkannya dari Ar-Rabi’ bin Anas adalah Abu Ja’far ‘Isa bin Mahan Ar-Razy mutakallamun fihi(dikritik)?” Berkata Ibnu Hambal dan An-Nasa`i, “Laisa bil qawy (bukan orang yang kuat).” Berkata Abu Zur’ah, “Yahimu katsiran (Banyak salahnya).” Berkata Al-Fallas, “Sayyi`ul hifzh (Jelek hafalannya).” Berkata pula Ibnu Hibban, “Dia bercerita dari rawi-rawi yang (membuat) masyhur hal-hal yang mungkar.”
Ibnul Qayyim, dalam Zadul Ma’ad jilid I hal. 276, setelah menukil suatu keterangan dari gurunya, Ibnu Taimiyah, tentang salah satu bentuk hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Razy, berkata, “Dan yang dimaksudkan bahwa Abu Ja’far Ar-Razy adalah orang yang memiliki hadits-hadits yang mungkar, sama sekali tidak dipakai berhujjah oleh seorang pun dari para ahli hadits periwayatan haditsnya yang ia bersendirian dengannya.”

Bagi siapa yang membaca keterangan para ulama tentang Abu Ja’far Ar-Razy ini, akan melihat bahwa kritikan terhadap Abu Ja’far ini adalah jarh mufassar ‘ kritikan yang jelas menerangkan penyebab kelemahan seorang rawi’. Maka apa yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar dalam Taqribut Tahdzib sudah sangat tepat. Beliau berkata, “Shaduqun sayyi`ul hifzh khusushan ‘anil Mughirah ‘ jujur tapi jelek hafalannya, terlebih lagi riwayatnya dari Mughirah’.”

Maka Abu Ja’far ini lemah haditsnya dan hadits qunut subuh yang ia riwayatkan ini adalah hadits yang lemah bahkan mungkar.

Dihukuminya hadits ini sebagai hadits yang mungkar karena 2 sebab:

Pertama , makna yang ditunjukkan oleh hadits ini bertentangan dengan hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali qunut nazilah, sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ عَلَى قَوْمٍ

 “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali bila beliau berdoa untuk (kebaikan) suatu kaum atau berdoa (kejelekan atas suatu kaum).” Dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/314 no. 620 dan Ibnul Jauzi dalam At-Tahqiq 1/460 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no. 639.

Kedua , adanya perbedaan lafazh dalam riwayat Abu Ja’far Ar-Razy ini sehingga menyebabkan adanya perbedaan dalam memetik hukum dari perbedaan lafazh tersebut dan menunjukkan kelemahan dan ketidaktetapan Abu Ja’far Ar-Razy dalam periwayatan. Kadang ia meriwayatkan dengan lafazh yang disebut di atas dan kadang meriwayatkan dengan lafazh,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ فٍي الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Nabi shallahu ‘alahi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/104 no. 7003 (cet. Darut Taj) dan disebutkan pula oleh Imam Al Maqdasy dalam Al-Mukhtarah6/129.

Kemudian sebagian para ulama Syafi’iyah menyebutkan bahwa hadits ini mempunyai beberapa jalan lain yang menguatkan hadits tersebut, maka mari kita melihat jalan-jalan tersebut.

Jalan Pertama , dari jalan Al-Hasan Al-Bashry, dari Anas bin Malik, beliau berkata,
قَنَتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمْرَ وَعُثْمَانَ وَأَحْسِبُهُ وَرَابِعٌ حَتَّى فَارَقْتُهُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman, dan saya (perawi) menyangka “dan keempat” sampai saya berpisah dengan mereka”.

Hadits ini diriwayatkan dari Al-Hasan oleh dua rawi,

Pertama , ‘Amru bin ‘Ubaid. Dikeluarkan oleh Ath-Thahawy dalam Syarh Ma’ani Al-Atsar 1/243, Ad-Daraquthny 2/40, Al-Baihaqy 2/202, Al-Khatib dalam Al-Qunut dan dari jalan Al-Khatib, Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no. 693, dan Adz-Dzahaby dalam Tadzkirah Al-Huffazh 2/494. Dia adalah gembong kelompok sesat Mu’tazilah dan, dalam periwayatan hadits, dianggap sebagai rawi yangmatrukul hadits ‘ ditinggalkan haditsnya’.
Kedua , Isma’il bin Muslim Al Makky, dikeluarkan oleh Ad-Daraquthny dan Al-Baihaqy. Dia dianggap matrukul hadits oleh banyak imam (baca Tahdzibut Tahdzib).

Catatan

Berkata Al-Hasan bin Sufyan dalam Musnad -nya, “Menceritakan kepada kami Ja’far bin Mihran, (ia berkata) menceritakan kepada kami ‘Abdul Warits bin Sa’id, (ia berkata) menceritakan kepada kami Auf, dari Al-Hasan, dari Anas, beliau berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ
“Saya shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maka beliau terus-menerus qunut pada shalat Subuh sampai saya berpisah dengan beliau.” .”

Riwayat ini merupakan kekeliruan dari Ja’far bin Mihran sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Adz-Dzahaby dalam Mizanul I’tidal 1/418, karena ‘Abdul Warits tidak meriwayatkan dari Auf, tetapi dari ‘Amru bin ‘Ubaid sebagaimana dalam riwayat Abu ‘Umar Al Haudhy dan Abu Ma’mar -dan beliau(?) ini adalah orang yang paling kuat riwayatnya dari ‘Abdul Warits-.

Jalan kedua , dari jalan Khalid bin Da’laj, dari Qatadah, dari Anas bin Malik,
صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَخَلْفَ عُمَرَ فَقَنَتَ وَخَلْفَ عُثْمَانَ فَقَنَتَ
“Saya shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu beliau qunut, dan di belakang ‘Umar lalu beliau qunut, dan di belakang ‘Utsman lalu beliau qunut.”

Dikeluarkan oleh Al Baihaqy 2/202 dan Ibnu Syahin dalam Nasikhul Hadits Wa Mansukhih no. 219. Hadits di atas disebutkan oleh Al Baihaqy sebagai pendukung untuk hadits Abu Ja’far Ar-Razy, tetapi Ibnu Turkumany, dalam Al-Jauhar An-Naqy , menyalahkan hal tersebut dengan berkata, “Butuh dilihat keadaan Khalid, apakah bisa dipakai sebagai syahid (pendukung) atau tidak, karena Ibnu Hambal, Ibnu Ma’in dan Ad-Daraquthny melemahkannya dan Ibnu Ma’in berkata (di kesempatan lain), ‘ Laisa bi syay`in ‘ tidak dianggap’,’ dan An-Nasa`i berkata, ‘ Laisa bi tsiqah ‘ bukan tsiqah’.’ Dan tidak seorang pun dari pengarang Kutubus Sittah yang mengeluarkan haditsnya. Dan dalam Al-Mizan, Ad Daraquthny mengategorikannya ke dalam rawi-rawi yang matruk.

Kemudian yang aneh, di dalam hadits Anas yang lalu, perkataannya, ‘ Terus-menerus beliau qunut pada shalat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia,’ tidak terdapat dalam hadits Khalid. Yang ada hanyalah ‘ Beliau (Nabi) ‘alaihis salamqunut,’ dan ini adalah perkara yang ma’ruf ‘ dikenal ‘ . Dan yang aneh hanyalah (perkataan) ‘ terus-menerus melakukannya sampai meninggal dunia’. Maka, terlepas dari anggapan dia yang cocok sebagai pendukung, bagaimana haditsnya bisa dijadikan sebagai syahid (pendukung)?”

Jalan ketiga , dari jalan Ahmad bin Muhammad, dari Dinar bin ‘Abdillah, dari Anas bin Malik,

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْصُبْحِ حَتَّى مَاتَ
“Terus-menerus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam qunut pada shalat Subuh sampai beliau meninggal.”
Dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Qunut , dan dari jalan Al-Khatib, Ibnul Jauzy meriwayatkannya dalam At-Tahqiq no. 695.
Ahmad bin Muhammad, yang diberi gelar dengan nama Ghulam Khalil, adalah salah seorang pemalsu hadits yang terkenal. Adapun tentang Dinar bin ‘Abdillah, berkata Ibnu ‘Ady, “Mungkarul hadits ‘ mungkar haditsnya ’ .” Berkata pula Ibnu Hibban, “Ia meriwayatkan dari Anas bin Malik perkara-perkara palsu, tidak halal dia disebut di dalam kitab kecuali untuk mencelanya.”

Kesimpulan
Jelaslah dari uraian di atas bahwa seluruh dalil-dalil yang dipakai oleh pendapat pertama adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dikuatkan.
Kemudian, anggaplah dalil mereka itu shahih bisa dipakai berhujjah, tetap tidak bisa dijadikan dalil akan disunnahkannya qunut subuh secara terus-menerus, sebab qunut, secara bahasa, mempunyai banyak pengertian. Ada lebih dari 10 makna sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dari Al-Iraqi, dan Ibnul Arabi:
  1. Doa.
  2. Khusyu’.
  3. Ibadah.
  4. Taat.
  5. Menjalankan ketaatan.
  6. Penetapan ibadah kepada Allah.
  7. Diam.
  8. Shalat.
  9. Berdiri.
  10. Lamanya berdiri.
  11. Terus menerus dalam ketaatan.
Selain itu ada makna-makna lain yang dapat dilihat dalam Tafsir Al-Qurthubi2/1022, Mufradat Al-Qur`an hal. 428 karya Al-Ashbahany, dan lain-lain.
Maka jelaslah kelemahan dalil orang yang menganggap qunut subuh terus-menerus itu sunnah.
  • Dalil Pendapat Kedua
Mereka berdalilkan dengan hadits Abu Hurairah riwayat Bukhary-Muslim,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ حِيْنَ يَفْرَغُ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَيُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يَقُوْلُ وَهُوَ قَائِمٌ اَللَّهُمَّ أَنْجِ اَلْوَلِيْدَ بْنَ الْوَلِيْدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِيْ رَبِيْعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الْمُُؤْمِنِيْنَ اَللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِيْ يُوْسُفَ اَللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِاللهَ وَرَسُوْلَهُ ثُمَّ بَلَغَنَا أَنَهُ تَرَكَ ذَلِكَ لَمَّا أَنْزَلَ : (( لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوْبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُوْنَ ))

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, ketika selesai membaca (surah pada rakaat kedua) dalam shalat Fajr kemudian bertakbir lalu mengangkat kepalanya (i’tidal), berkata, ‘ Sami’allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu,’ lalu beliau berdoa dalam keadaan berdiri, ‘Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid, Salamah bin Hisyam, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan orang-orang yang lemah dari kaum mukminin. Ya Allah, keraskanlah pijakan-Mu (adzab-Mu) atas kabilah Mudhar dan jadikanlah atas mereka tahun-tahun (kelaparan) seperti tahun-tahun (kelaparan yang pernah terjadi pada masa) Nabi Yusuf. Wahai Allah, laknatlah kabilah Lihyan, Ri’lu, Dzakwan, dan ‘Ashiyah yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian sampai kepada kami kabar bahwa beliau meninggalkan doa tersebut tatkala telah turun ayat, ‘Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.’.”(diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim)

Berdalilkan dengan hadits ini menganggap mansukh-nya qunut adalah pendalilan yang lemah karena dua hal,

Pertama , ayat tersebut tidaklah menunjukkan mansukh-nya qunut, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurthuby dalam Tafsir -nya, sebab ayat tersebut hanyalah menunjukkan peringatan dari Allah bahwa segala perkara itu kembali kepada-Nya. Dialah yang menentukannya dan hanya Dialah yang mengetahui perkara yang ghaib.
Kedua , diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari Abu Hurairah, beliau berkata,
وَاللهِ لَأَقْرَبَنَّ بِكُمْ صَلاَةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ يَقْنُتُ فِي الظُّهْرِ وَالْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلاَةِ الْصُبْحِ وَيَدْعُوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ.
“Demi Allah, sungguh saya akan mendekatkan (menunjukkan) untuk kalian cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.’ Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Zhuhur, ‘Isya`, dan Shubuh. Beliau mendoakan kebaikan untuk kaum mukminin dan memintakan laknat untuk orang-orang kafir.”
Ini menunjukkan bahwa qunut nazilah belum mansukh. Andaikata qunut nazilahtelah mansukh, tentunya Abu Hurairah tidak akan mencontohkan cara shalat Nabishallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam dengan qunut nazilah.
  • Dalil Pendapat Ketiga
Pertama, hadits Sa’ad bin Thariq bin Asyam Al-Asyja’i,
قُلْتُ لأَبِيْ : “يَا أَبَتِ إِنَّكَ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وآله وسلم وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ هَهُنَا وَبِالْكُوْفَةِ خَمْسَ سِنِيْنَ فَكَانُوْا بَقْنُتُوْنَ فيِ الفَجْرِ” فَقَالَ : “أَيْ بَنِيْ مُحْدَثٌ“.
“Saya bertanya kepada ayahku, ‘ Wahai ayahku, engkau shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa alihi wa sallam dan di belakang Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum di sini dan di Kufah selama 5 tahun, apakah mereka melakukan qunut pada shalat Shubuh?’ Maka dia menjawab, ‘ Wahai anakku, (qunut Shubuh) adalah perkara baru (bid’ah).’.” Dikeluarkan oleh Tirmidzy no. 402, An-Nasa`i no. 1080 dan dalam Al-Kubra no. 667, Ibnu Majah no. 1242, Ahmad 3/472 dan 6/394, Ath-Thayalisy no. 1328, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 2/101 no. 6961, Ath-Thahawy 1/249, Ath-Thabarany 8/8177-8179, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 1989, Baihaqy 2/213, Al-Maqdasy dalamAl-Mukhtarah 8/97-98, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 677-678, dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal . Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Irwa`ul Ghalilno. 435 dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain .
Kedua, hadits Ibnu ‘Umar,
عَنْ أَبِيْ مِجْلَزِ قَالَ : “صَلَّيْتُ مَعَ اِبْنِ عُمَرَ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمْ يَقْنُتْ”. فَقُلْتُ : “آلكِبَرُ يَمْنَعُكَ”, قَالَ : “مَا أَحْفَظُهُ عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِيْ“.
“Dari Abu Mijlaz, beliau berkata, ‘ Saya shalat Shubuh bersama Ibnu ‘Umar lalu beliau tidak qunut.’ Maka saya berkata, ‘ Apakah lanjut usia yang menahanmu (melakukan qunut)?’ Ibnu ‘Umar berkata, ‘ Saya tidak menghafal hal tersebut dari para shahabatku.’.” Dikeluarkan oleh Ath-Thahawy 1\246, Al-Baihaqy 2\213, dan Ath-Thabarany sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawa’id 2\137. Al-Haitsamy berkata, “Rawi-rawinya tsiqah.”
Ketiga , tidak ada dalil yang shahih menunjukkan disyariatkannya mengkhususkan qunut pada shalat Shubuh secara terus-menerus.
Keempat , qunut shubuh secara terus-menerus tidak dikenal di kalangan shahabat sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Umar pada hadits di atas, bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Majmu’ Al-Fatawa , berkata, “Dan demikian pula selain Ibnu ‘Umar dari para shahabat, mereka menghitung (menganggap) hal tersebut termasuk perkara-perkara baru yang bid’ah.”
Kelima , berbagai nukilan orang-orang, yang berpendapat disyariatkannya qunut shubuh, dari beberapa shahabat bahwa mereka melakukan qunut, terbagi dua:
  • Ada yang shahih tetapi tidak ada sisi pendalilan dari nukilan-nukilan tersebut.
  • Ada yang sangat jelas menunjukkan bahwa mereka melakukan qunut shubuh, tetapi nukilan tersebut lemah dan tidak bisa dipakai berhujjah.
Keenam , setelah mengetahui penjelasan di atas, maka sangatlah mustahil mengatakan bahwa qunut shubuh, dengan membaca doa qunut “Allahummahdina fi man hadait …,” sampai akhir doa kemudian diaminkan oleh para makmum, disyari’atkan secara terus-menerus. Andaikan hal tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya akan dinukil oleh para shahabat dengan nukilan yang pasti dan sangat banyak sebagaimana halnya shalat, karena qunut adalah ibadah, yang kalau dilakukan secara terus menerus maka akan dinukil oleh banyak shahabat. Tetapi kenyataannya, qunut hanya dinukil dalam hadits yang lemah. Demikian keterangan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad .
Kesimpulan
Jelaslah, dari uraian di atas, lemahnya dua pendapat pertama dan kuatnya dalil pendapat ketiga, sehingga memberikan kesimpulan pasti bahwa qunut shubuh secara terus-menerus (selain qunut nazilah) adalah bid’ah, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Wallahu a’lam.
Silakan lihat permasalahan ini dalam Tafsir Al-Qurthuby 4/200-201, Al-Mughny2/575-576, Al-Inshaf 2/173, Syarh Ma’an i Al-Atsar 1/241-254, Al-Ifshah 1/323, Al-Majmu’ 3/483-485, Hasyiyah Ar-Radd Al Murbi’ 2/197-198, Nailul Authar 2/155-158 (cet. Darul Kalim Ath-Thayyib), Majmu’ Al Fatawa 22/104-111, dan Zadul Ma’ad1/271-285.
Sumber : dzulqarnain.net

Monday, November 19, 2012

Kenali Ciri-ciri Ahli Bidaah dan Ajaran Sesat

Orang yang tidak mengenali keburukan, mudah terjebak ke dalamnya. Orang yang tidak tahu ciri-ciri kepalsuan, cepat terpedaya dengannya. Ada orang ingin membeli permata, malangnya terbeli kaca, lantaran tidak arif yang mana manikam, dan yang mana kaca.

Orang yang mahu membeli emas jika tidak tahu yang mana tulen dan yang mana palsu, mungkin mudah tertipu. Bermodalkan hanya RM50, ada sindiket menjual seutas rantai dengan harga ribuan ringgit dengan menyadurkannya dengan warna emas dan menandakan cangkuknya dengan nombor 916. Akibat tidak kenal tulen dan palsu, ramai pelanggan sudah tertipu.

Untuk mengenali satu-satu barang yang tulen lagi asli, bukan hanya melalui ciri-ciri keaslian dan ketulenan. Kemahiran tentang kaedah penipuan dan ciri-ciri pemalsuan sangat penting agar kita cepat mengecam dan mengenal pasti jika ia berlaku.  

Dalam perihal agama juga begitu. Mahu mengenal Iman yang hakiki, mestilah mempelajari apa itu kufur dengan segala cabang-cabangnya. Mempelajari Tauhid yang suci, mestilah dirangkaikan dengan ilmu mengenai syirik dan bahagian-bahagiannya. Erti sebenar ketaatan tidak akan diketahui jika tidak mengetahui apa itu maksiat. Keteguhan kepada sunnah tidak akan difahami jika tidak kenal apa itu Bidaah. Begitulah seterusnya. Setiap perkara dipelajari dengan lawannya.

Kaedah inilah yang diisyaratkan di dalam hadis Huzaifah bin Al-Yaman. Beliau berkata, “Orang ramai bertanya Rasulullah Sallallahu Alahi Wasallam tentang kebaikan, dan aku pula bertanya baginda tentang keburukan kerana takut ia menimpaku”. (Direkod oleh Bukhari dan Muslim)

Di dalam satu puisi Arab:

Kukenal keburukan bukan untuk diamalkan,
Tapi untuk menghindarkan darinya,
Kerana orang yang tak kenal keburukan,
mudah terjerumus ke dalamnya.

Berhadapan dengan pelbagai fitnah di zaman ini, umat Islam mesti mempunyai pengetahuan tentang bidaah dan kesesatan serta ciri-cirinya. Belajar apa itu bidaah, dan apa itu sesat supaya kita terselamat. Belajar apakah ciri-ciri ajaran sesat agar tidak mudah diperdaya.

Menyedari pentingnya tajuk ini, saya akan cuba menyenaraikan beberapa ciri-ciri ajaran yang menyeleweng. Supaya apabila kita berdepan dengan kumpulan yang mempunyai ciri-ciri sebegini, kita akan lebih berhati-hati.

Antara ciri-ciri ahli bidaah dan ajaran menyeleweng ialah:

1) Tidak menyenangi ilmu hadis. Ia adalah ciri terpenting mana-mana kumpulan ajaran sesat dan ahli bidaah. Mereka amat fobia dengan firman Allah, dan sabda Nabi Sallallahu Alahi Wasallam. Manakan tidak, fakta dari dua sumber inilah yang akan membongkar temberang dan pembohongan ahli bidaah. Mereka akan kelu dan kaku jika cuba berhujah di hadapan kitab-kitab hadis.

Abu Utsman Al-Shabuni (wafat: 449H) meriwayatkan bahawa Abu Nasr bin Sallam Al-Faqih berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi kumpulan yang menyeleweng dan paling dibenci oleh mereka selain daripada mendengar hadis dan meriwayatkannya dengan sanad”.

Al-Hakim (wafat: 404H) dalam kitab Makrifah Ulum al-Hadis menceritakan bahawa Syeikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaq Al-Faqih berdebat dengan seorang lelaki. Apabila Syeikh menyebut, “Telah meriwayatkan kepada kami oleh si Fulan…”, lantas lelaki tersebut berkata, “Tinggalkan sahaja periwayatan. Sampai bila masih mahu menggunakan periwayatan?”. Syeikh tersebut kemudian menghalau lelaki tersebut dari rumahnya.

2) Memusuhi dan memperlekahkan ahli hadis. Ahli bidaah dan sesat bukan setakat membenci ilmu hadis, malah tidak menyenangi ulama yang tutur katanya dihiasi “Firman Allah, dan sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam”. Kerana ahli hadis lah benteng kepada kemurnian ajaran Islam.

Abu Hatim Al-Razi (wafat: 277 H) berkata, “Tanda ahli bidaah ialah mencela terhadap ahli hadis”.
Ahmad bin Sinan Al-Qattan berkata, “Tidak ada ahli bidaah di atas dunia ini kecuali dia membenci ahli hadis. Apabila seorang lelaki membuat bidaah, akan tercabut dari hatinya kemanisan hadis”.

Al-Hakim (wafat: 404H) menyebut di dalam kitab Makrifah Ulum Al-Hadis, “Beginilah kami mmengenali samada ketika perjalanan atau ketika menetap, bahawa setiap orang yang dinisbahkan kepada menyeleweng dan bidaah akan memandang hina terhadap ‘Thoifah Mansurah’ (Ahli Sunnah)”.
Abu Utsman Al-Shabuni (wafat: 449H) menegaskan, “Tanda paling jelas kumpulan ahli bidaah ialah terlalu membenci terhadap mereka yang membawa hadis-hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, serta mereka memperlekehkan golongan ini”.

3) Melabelkan Ahli Sunnah dengan pelbagai gelaran. Antara gelaran-gelaran yang sering bermain di bibir ahli bidaah ialah menuduh Ahli Sunnah sebagai ‘Musyabbihah’.

Ishaq bin Rahuyah (wafat: 238H) berkata: “Tanda Jahm dan pengikut-pengikut mereka ialah: mereka mendakwa ke atas Ahli Sunnah Wal Jamaah serta celaan bohong bahawa mereka (Ahli Sunnah) adalah musyabbihah”.

Kata Abu Hatim Al-Razi (wafat: 277 H): “Tanda Jahmiyyah ialah mereka menamakan Ahli Sunnah sebagai Musyabbihah”.

Selain gelaran Musyabbihah, ahli bidaah sering menggelarkan ahli sunnah sebagai ‘Hasyawiyyah’ dan ‘Zahiriyyah’ sebagaimana disebut oleh Abu Utsman Al-Shabuni (wafat: 449H).

Malah Imam Bukhari sendiri pernah dilabelkan sebagai ‘Hasyawiyyah’ oleh ahli bidaah. Di dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala, Imam Zahabi menyebut bahawa Al-Shahib (wafat: 385) seorang berfahaman Syiah dan Muktazilah disebut kepadanya nama Imam Bukhari. Lalu beliau berkata, “Siapa Bukhari? Hasyawi yang tidak boleh dirujuk kepadanya”.

Demikian perangai ahli bidaah dari dahulu sampai sekarang, melabelkan ahli sunnah dengan pelbagai gelaran.

4) Melampau dalam kepercayaan. Antara ciri-ciri ajaran yang menyeleweng ialah melampau dalam satu-satu kepercayaan. Sikap melampau sangat ditegah dalam Al-Quran dan Sunnah. Sesatnya Kristian adalah kerana sikap melampau mereka terhadap Nabi Isa Alaihissalam. Nabi Isa, hamba Allah yang bertaraf Rasul diangkat mereka sebagai Tuhan yang disembah.

Sikap seperti inilah yang ada pada banyak ajaran-ajaran songsang. Mengangkat guru-guru dan syeikh-syeikh mereka melebihi had yang sebenar. Menganggap guru mereka mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada anak-anak muridnya. Ada yang percaya guru mereka boleh bertolak ansur dengan Tuhan dalam hal-hal ajal dan maut. Paling aneh lagi melucukan, setiap kumpulan ini menganggap guru mereka lah wali paling tinggi tarafnya di zamannya. Pelbagai gelaran diberikan, Sahibuzzaman, Sultan Awliya, Wakil Tuhan, dan macam-macam.

5) Guru yang mengaku bahawa dia Wali Allah. Ada sesetengah ajaran kebiasaannya ajaran tarekat, gurunya secara terang-terangan mengaku bahawa dia adalah Wali Allah. Yang lebih hebat, jika ditambah lagi dengan kelebihan-kelebihan lain seperti dilantik sebagai Wakil Allah, atau Orang Allah.
Kalau kita tahu apa makna wali yang sebenar, nescaya kita tidak akan mempercayai individu yang mengaku bahawa dia wali. Wali adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah Taala. Orang yang benar-benar bertaqwa tidak akan sekali-kali mengangkat dirinya dan mengaku bahawa dia paling bertaqwa. Mengaku wali bererti mengaku ketinggian taqwanya kepada Allah.

Allah berfirman, maksudnya:
“Maka jangan kamu memuji diri kamu sendiri, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang bertaqwa”. (Al-Najm: 32)

6) Berhujah menggunakan mimpi guru. Oleh kerana ajaran Quran dan Sunnah tidak mungkin memihak kepada kumpulan-kumpulan ajaran sesat, mereka terpaksa mencari helah lain bagi mengaburi mata para pengikut. Antaranya berhujah dengan mimpi.

Berhujah dengan mimpi tanpa merujuk kepada syariat menjadi sebab kesesatan. Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil berkata, “Hendaklah bersikap jaga-jaga dengan permainan syaitan terhadap manusia dalam mimpi waktu tidur. Betapa ramai individu malahan kumpulan menjadi sesat dengan sebab mimpi”.
Hendaklah kita meyakini bahawa syariat Islam sudah sempurna dan lengkap. Tidak berhajat kepada penambahan melalui mimpi mana-mana wali atau wakil Tuhan. Malahan, seluruh ulama bersepakat bahawa mimpi tidak boleh dijadikan hujah dalam hukum-hakam.

7) Menganggap guru mereka tidak melakukan dosa. Atau dengan kata lain guru mereka maksum, seperti para Nabi.

Lihat bagaimana Syiah Rafidhah mempercayai bahawa imam-imam mereka yang 12 orang adalah manusia maksum, tidak melakukan dosa. Kepercayaan seperti ini menunjukkan kesesatan mereka.
Begitu juga sesetengah ajaran tarekat yang menyifatkan guru mereka sebagai tidak berdosa. Tidak berani menggunakan perkataan ‘Maksum’ yang khas bagi para Nabi, mereka mencipta istilah lain, iaitu ‘Mahfuz’. Hakikat dan maksudnya sama iaitu mengangkat guru setaraf dengan Nabi Sallallahu Alahi Wasallam.

Imam Malik bin Anas (wafat: 179H) berkata, “Setiap orang diambil kata-katanya dan ditolak. Kecuali empunya kubur ini (Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam)”.

Demikian beberapa ciri-ciri untuk mengenali ahli bidaah dan ajaran menyeleweng. Semoga dengan mengenali sifat-sifat mereka, kita akan lebih berjaga-jaga apabila bertemu dengan kumpulan seperti ini. Mudah-mudahan Allah Taala menyelamatkan akidah dan pegangan kita daripada diperdaya oleh musuh-musuhNya.

Asal Usul Bubur Asyura


Esok, 10 Muharram adalah Hari Asyura. Antara tradisi orang Melayu turun temurun apabila tiba tarikh ini  ialah membuat bubur Asyura. Bubur Asyura ialah sejenis makanan yang diperbuat daripada pelbagai campuran ramuan sempena 10 Muharram. Ada yang mengatakan, campuran ramuan hendaklah terdiri daripada 10 jenis bahan makanan, jangan dikurang dan jangan dilebih. Jika tidak, ia tidak dinamakan bubur Asyura.

Entah dari mana sumbernya saya tidak tahu. Yang pasti, sudah 10 tahun saya tidak merasai keenakan makan bubur Asyura di kampung.
Mengimbau zaman kanak-kanak di hari Asyura, masih teringat apabila bubur Asyura hampir masak, saya bersama adik-adik dan rakan-rakan, masing-masing dengan memegang tempurung kelapa menyerbu kawah yang berisi bubur yang masih panas. Satu nostalgia yang tidak dilupakan, makan bubur Asyura berpiringkan tempurung dan bersudukan daun kelapa.

Waktu itu, tidak pernah terlintas di fikiran saya sempena apakah dibuat jamuan bubur Asyura. Adakah ia satu amalan keagamaan atau sekadar adat bangsa? Sehingga apabila masuk ke sekolah menengah dan mendapati jamuan bubur Asyura dijadikan upacara tahunan yang dianjurkan oleh pihak Sekolah.
Dengan sedikit kajian ringkas tentang asal-usul bubur Asyura dalam masyarakat Melayu, mungkin boleh dikatakan kewujudan jamuan bubur Asyura dalam masyarakat Melayu bertitik tolak dari dua sandaran.

Pertama: Cerita Bahtera Nabi Nuh a.s.

Banyak laman web menyebut tentang kisah ini. Dinukilkan dalam kitab “Nihayatuz Zain” karangan Syeikh Nawawi Al Banteni, dan di dalam kitab “Nuzhatul Majalis” karangan Syeikh Abdur Rahman Al Ushfuri serta di dalam kitab “Jam’ul Fawaid” karangan Syeikh Daud Al Fathoni. Yang antara lainnya menceritakan bahawa, ketika mana bahtera Nabi Nuh a.s. berlabuh di bukit Juudi pada Hari Asyura’, maka berkatalah ia pada umatnya :
“Himpunkan apa yang kamu miliki daripada makanan yang lebih-lebih”. Maka, dibawalah satu genggam daripada kacang Baqila’ iaitu kacang ful (kacang poi) dan satu genggam kacang Adas, Ba’ruz dan hinthoh dan tepung sehingga menjadi tujuh bagai biji-bijian yang dimasak. Maka berkatalah Nabi Nuh A.S : “Masaklah sekeliannya kerana kamu sudah mendapat kesenangan sekarang”.

Penilaian:

- Cerita seperti ini perlu kepada kajian. Dari manakah sumbernya dan apakah taraf kedudukan kisah ini. Setakat ini saya tidak menemui sebarang petunjuk tentang kisah ini dalam sumber hadis dan atsar. Sesiapa yang menjumpainya, diharap dapat membantu.
- Jika kisah ini sahih sekalipun, dan kita menerima kaedah ‘Syarak sebelum kita adalah syarak kita juga’, persoalannya adakah makanan yang dibuat oleh Nabi Nuh a.s. adalah satu bentuk jamuan sempena 10 Muharram, atau ia adalah makanan biasa yang berkebetulan pada tarikh 10 Muharram?
- Jika benar kisah ini, dan betul istinbat orang Melayu bahawa disunatkan membuat bubur berdasarkan cerita ini, mengapa tidak ada anjuran daripada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam atau amalan para sahabat tentang perkara ini?

Kedua: Hadis Galakan Memberi Keluasan Kepada Keluarga

Mungkin sandaran lain bagi jamuan bubur Asyura ialah hadis-hadis tentang memberi galakan supaya pada hari Asyura hendaklah menghulur dan berkongsi kesenangan dengan kaum keluarga.
Hadis yang dimaksudkan ialah:
“Sesiapa memberi keluasan kepada keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi keluasan kepadanya sepanjang tahun itu”.
Mungkin kerana mempercayai kelebihan dalam hadis ini, sesetengah orang Islam mahu memberi keluasan kepada kaum keluarga pada hari 10 Muharram, dengan harapan Tuhan akan mempermudahkan rezekinya sepanjang tahun tersebut. Antara bentuk memberi keluasan ialah mengadakan jamuan makanan.
Cuma kedudukan hadis ini di sisi ulama hadis adalah paslu atau dhaif. Rujuk: Al-Maudhu’aat oleh Ibn Jauzi 2/572, Al-Manar al-Munif oleh Ibn Qayyim 1/111, Al-Fawaid al-Majmu’ah oleh Syaukani 1/98.
Sekali lagi kita terpaksa terima bahawa jika sandaran mengadakan jamuan bubur Asyura ialah hadis ini, sebenarnya ia adalah hadis yang tidak sahih. Jangan terlalu mengharap kepada fadhilat yang belum pasti kesahihannya.
Cuma, membuat bubur Asyura itu kalau setakat dijadikan adat, tanpa ada kepercayaan keagamaan, ia bukanlah satu yang salah. Kalau orang Melayu suka berbuka puasa dengan bubur Asyura, buatlah bubur Asyura. Tetapi elakkan  kepercayaan yang kurang sahih, seperti mengaitkannya dengan makanan Nabi Nuh a.s. sewaktu berlabuhnya bahtera baginda.

Wallahu A’lam.
http://abuumair1.wordpress.com

Sunday, November 18, 2012

Kisah Saad bin Abi Waqqas yang difitnah!

Merujuk buku Bidayah Wan Nihayah karangan Ibn Katsir, terdapat  kisah Saad bin Abi Waqqas r.a, salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w yang dijanjikan syurga semasa beliau masih hidup lagi, bahkan digelar oleh Rasulullah juga sebagai salah satu dari Panah Allah.

Kisah kali ini berkisar ketika Saad bin Abi Waqqas r.a menjadi gabenor di bumi Kufah, beliau dan para tentera muslimin sedang bersiap siaga untuk menggempur bumi Nahrawand pada tahun 20H.

Ketika itu, timbul sekelompok golongan dari penduduk Kufah yang mengadakan demostrasi(Dalam Kita bidayah Wan Nihayah, perkataan 'demonstrasi' digunakan) untuk memprotes Saad bin Abi Waqqas r.a. Mereka mendakwa bahawa Saad seorang yang solat tidak betul dan melapor-laporkan tindak tanduk Saad kepada Khalifah Amirul Mukminin ketika itu iaitu Umar ibn Al-Khattab r.a. Wakil yang dihantar ialah Al-Jirah bin Sinan dan penyokong-penyokongnya.

Tatkala berita itu disampaikan kepada Umar, beliau seakan-akan meragui kebenarannya namun tetap menghantarkan Muhammad bin Maslamah untuk memastikan berita yang sampai kepadanya tersebut. laporan Muhammad adalah bercanggah dengan aduan Al-jirah yang mengatakan penduduk Kufah memprotes Saad sebagai Gabenor mereka. Ternyata sebahagian besar dari Penduduk Kufah memuji Saad bin Abi Waqqas sebagai gabenor mereka. Mereka yang tidak senang dengan Saad itu hanyalah penyokong-penyokong Al-Jirah sahaja. Bila mereka ditanya tentang Saad, mereka hanya diam tanpa butir kata yang terbit dari mulut mereka.

Sehinggalah Muhammad bin Maslamah tiba di sebuah perkmapungan Bani 'Abs. Seorang lelaki bernama Abu Sa'adah Usamah bin Qatadah berbicara

" Jika engkau inginkan berita mengenai Saad, ketahuilah, Saad tidak pernah membahagikan dengan rata, tidak adil terhadap rakyatnya dan tidak pernah berperang bersama pasukannya"

Sa'ad yang mendapat tahu apa yang diucapkan oleh Abu Sa'adah tadi pun berdoa ke hadrat Allah

"Ya Allah, jika apa yang dikatakannya(Abu Sa'adah) adalah dusta, riya, dan kerana ingin dipuji, maka butakanlah matanya, banyakkan anaknya dan jatuhkan dia ke dalam fitnah dan jerat hawa nafsu yang menyesatkan"

Allah memperkenankan doa Saad. Tak lama kemudian, mata Abu Sa'adah menjadi buta, dia memiliki 10 orang anak perempuan, dan jika mendengar tentang wanita sahaja, dia akan berusaha untuk mendatangi wanita tersebut, dan menggodanya. jika dia tergelincir jatuh dia akan selalu berkata

"Aku terkena doa Sa'ad, Si lelaki yang penuh berkah"

Sa'ad juga mendoakan Al-Jirah dan sahabatnya yang juga telah memfitnah Sa'ad, maka seluruh mereka diserang penyakit di seluruh tubuh mereka dan mendapat bencana kehancuran pada harta mereka(tidak dicerita lebih lanjut dalam Bidayah Wan Nihayah bagaimana kisah mereka)

Apabila Sa'ad menemui Amirul mukminin, Umar al-Khattab, Amirul mukminin telah bertanya kepadanya tentang perihal solatnya, untuk memastikan kesahihan berita yang beliau terima. Sa'ad memberitahu Umar, bahwa Beliau memanjangkan dua rakaat yang awal dan memendekkan dua rakaat yang akhir, kemudian Sa'ad berkata

"Tidak sedikit pun aku berpaling dari tatacara solat yang diajar oleh Rasulullah s.a.w"

Umar menjawab

" Begitulah prasangkaku terhadapmu wahai Abu Ishaq(gelaran bagi Sa'ad)"

Sa'ad menyambung bicara

" Aku adalah orang kelima yang memeluk Islam, Kami pernah makan daun kayu ketika tidak menemukan lagi makanan sehingga mulut kami luka-luka, aku juga orang yang pertama memanah di jalan Allah, dan Rasulullah pernah mengumpulkan nama kedua ibubapaku untukku padahal baginda tidak pernah sebelumnya melakukan sebegitu kepada seorang pun. tapi kini Bani Sa'ad menganggap diriku tidak pandai solat dengan betul,(dalam riwayat lain, mencurigai keislaman Sa'ad). Jika benarlah apa yang diperkatakan mereka, binasalah aku dan sia-sialah amalanku."

Kemudian Umar bertanya siapa yang beliau cadangkan untuk mengganti beliau, Sa'ad memilih Abdullah bin Abdullah bin Itban, salah seorang tokoh sahabat yang sudah berumur. Umar lalu membenarkan pelantikan Abdullah sebagai pengganti Sa'ad menjadi Gabenor di Kufah.

Selepas itu, Hampir sahaja Sa'ad menuntut orang yang memfitnahnya agar dikenakan hukuman berat, namun beliau tidak berbuat begitu, kerana khuatir tindakanya itu akan mempengaruhi orang lain, dan menyebabkan kelak, orang akan menjadi takut untuk melaporkan tingkah laku para pemimpin mereka.

Umar pernah berkata dalam wasiatnya yang Sa'ad termasuk dalam tokoh penting dalam mesyuarat memilih khalifah

" Jika Jabatan khalifah ternyata jatuh kepada Sa'ad, maka ia berhak untuk itu, tetapi jika tidak maka siapa sahaja yang menjadi khalifah hendaklah selalu meminta tunjuk ajar dan nasihat dari Sa'ad, sesungguhnya aku memecatnya bukan kerana dia tidak sanggup memikul amanah, apatah lagi, kerana dirinya berlaku khianat"

Sahabat-sahabat pembaca, sejarah islam itu akan berulang seperti mana Sunnatullah itu akan berulang,

فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا

sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah Allah itu (35:43)

Siapa sahaja yang memperjuangkan Islam sebagai satu Deen atau sistem hidup yang Haq, pasti akan menemui pelbagai fitnah dan mehnah di hadapannya oleh musuh-musuh Islam, bahkan dari muslim yang dengki terhadap pejuang Islam yang tulen dan kebangkitan Islam.

Namun, jika perjuangan Islam yang kita lalui itu, adalah laluan yang senang dan selesa, muhasabahlah kembali, apakah benar jalan yang kita pilih itu? atau sebenarnya ia hanyalah kaca dari timbunan kaca yang bersembunyi di dalamnya permata yang berharga.

Bagi mereka yang memusuhi agama Allah atau cuba-cuba memfitnah para pejuangnya,nantikanlah akibatnya!
Mungkin akibat itu tidak dizahirkan di dunia seperti apa yang berlaku kepada Abu Sa'adah dan Al-Jirah dalam kisah di atas. Namun, jangan lupa, hidup kita tidak sekadar di dunia. Akhirat nanti akan terzahir segalanya.

Monday, November 12, 2012

Kafirkah Ibnu shina dan al farabi


PENDAHULUAN
Seorang hamba Allah mengemukakan persoalan di bawah :
“Assalamualaikum..saya ada 1 persoalan setelah membaca soal jawab ustaz di atas. Ustaz ada menyatakan "Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Munqiz min adh-Dhalal MENGKAFIRKAN Socrates, Plato dan Aristotle serta umat Islam yang mengikut mereka seperti Ibnu Sina dan al-Farabi." Berdasarkan kenyataan tersebut, adakah ini bermakna sarjana Islam yang terkenal dalam dunia Islam seperti Ibnu Sina dan al-Farabi adalah dari golongan orang-orang bukn Islam keraan mereka mengikut Socrates, Plato dan Aristotle? Atau mereka hanya mengikut dari segi pndangan ilmu tetapi tetap seorang Islam? Boleh ustaz perjelaskan pada saya...?

(*Artikel ini boleh dibaca dalam Bahasa Melayu Indonesia... di bahagian bawah. Sesi soal jawab dna jawapannya juga ada di bawah)

SIAPAKAH AHLI-AHLI FALSAFAH?
Golongan ahli falsafah ialah orang-orang yang mendakwa mereka ialah golongan ahli logik dan membawa pendalilan secara logik. Mereka terdiri daripada beberapa golongan, tetapi dalam kitab Al-Munqiz min Adh-Dhalal, Imam Al-Ghazali membahagikan kesemuanya kepada 3 golongan iaitu:
1. Dahriyyun
2. Tabi’iyyun
3. Ilahiyyun
Dalam golongan manakah Ibnu Sina dan Al-Farabi? Mari kita mengenali setiap golongan terlebih dahulu.
Dahriyyun
Mereka menafikan kewujudan Tuhan. Mereka percaya alam ini terjadi dengan sendirinya. Imam Al-Ghazali menyatakan mereka sebagai zindik. Maksudnya mereka bukan Islam.
Tabi’iyyun
Banyak mengkaji tentang manusia, haiwan dan tumbuh-tumbuhan. Hasil kajian mereka menunjukkan adanya Pencipta kerana segala ciptaan itu dijadikan begitu sempurna. Maksudnya mereka yakin kewujudan Tuhan. Namun begitu mereka menafikan kebangkitan semula, hari akhirat, syurga, neraka, Padang Mahsyar, hisab dan lain-lain. Mereka juga menolak konsep pahala dan dosa. Bagi mereka tidak ada pahala dan dosa. Oleh itu mereka menjadi hamba kepada hawa nafsu. Golongan ini juga disebut zindik. Mereka bukan Islam.
Ilahiyyun
Antara bidang yang dikuasai danq dikaji oleh golongan ini ialah matematik, kejuruteraan, geografi, biologi, keTuhanan, politik, akhlak dan mantiq (logik). Mereka percaya akan kewujudan Tuhan.
Antara tokoh golongan ini ialah Socrates, muridnya Plato, dan murid Plato iaitu Aristotle. Namun kaum Ilahiyyun ini terpecah pula kepada 2 puak. Menurut Imam Al-Ghazali, Aristotle tidak menerima pendapat Plato dan Socrates, malah Aristotle menganggap mereka berdua tidak bersih dan masih kekal dalam kekufuran dan bid’ah.

DI MANA IBNU SINA DAN AL-FARABI?
Di mana Ibnu Sina dan Al-Farabi? Mereka berada dalam kelompok ketiga kerana merekalah yang paling banyak mencedok ilmu-ilmu Aristotle. Jadi lanjutan tulisan ini akan dijuruskan kepada kaum Ilahiyyun sahaja.
Kata Imam Al-Ghazali : “...maka sewajarnyalah mereka (Socrates, Plato, Aristotle dan para pengikut ajaran mereka) itu dianggap kafir, dan juga mengkafirkan pengikut-pengikut mereka dalam kalangan ahli falsafah Islam seperti Ibnu Sina, Al-Farabi dan orang-orang seperti mereka.”

APAKAH YANG DIKAFIRKAN OLEH AL-GHAZALI?
Adakah Imam Al-Ghazali mengkufurkan keseluruhan pegangan kaum Ilahiyyun? Tentunya tidak. Beliau hanya menolak perkara-perkara yang salah dan yang melemahkan sahaja. Terdapat 20 perkara asas dalam pegangan kaum ini yang ditolak oleh Imam Al-Ghazali. Pembahagiannya adalah seperti berikut :
1. 3 perkara yang wajib dikufurkan.
2. 17 perkara yang dibid’ahkan.
Pengisian kita selanjutnya akan tertumpu kepada 3 perkara yang wajib dikafirkan sahaja, agar menepati kehendak soalan (iaitu tentang ‘kafir’).
Pertama – Tentang alam akhirat. Golongan ini percaya yang jasad tidak akan dihimpun semula dengan ruh selepas kematian. Kenikmatan syurga dan keazaban neraka itu juga bersifat rohani, bukan jasmani. Sedangkan menurut ajaran agama Islam, jasad kita akan berhimpun semula dengan ruh di akhirat nanti, dan syurga neraka itu dialami oleh rohani dan jasmani.
Kedua – Tuhan hanya mengetahui perkara-perkara yang bersifat umum, dan tidak mengetahui perkara-perkara yang kecil-kecil. Hal ini juga berbeza dengan pegangan umat Islam iaitu Tuhan Maha Mengetahui segala perkara.
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun sebesar zarah, baik yang di langit mahupun yang di bumi, yang lebih kecil daripada itu ataupun yang lebih besar.” (Saba’ : 3)
Ketiga – Mereka percaya alam ini qadim. Maksudnya alam ini sudah sedia ada sebagaimana Tuhan yang sudah sedia ada sejak azali. Unsur-unsur awal yang menjadikan alam ini sudah sedia ada bersama-sama Tuhan. Tuhan bukanlah Pencipta segala sesuatu kerana ada benda yang tidak diciptakan oleh Tuhan tetapi benda itu sudah sedia wujud.
Keyakinan umat Islam tentunya berbeza. Kita percaya alam ini baharu. Pada asalnya ia tidak ada, yang ada hanyalah Tuhan. Selepas Tuhan menciptakan alam ini, barulah alam ini wujud. Alam tidak qadim. Yang qadim hanyalah Allah. Tuhan menciptakan segala sesuatu termasuklah alam ini.
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan haq.” (Al-An’am : 73)
“Dialah yang awal, dan yang akhir, yang zahir, yang batin.” (Al-Hadid : 3)
Inilah tiga perkara yang dikufurkan oleh Imam Al-Ghazali. Adakah dengan menolak 3 perkara di atas, menjadikan seseorang itu bukan Islam? .......

ADAKAH IBNU SINA DAN AL-FARABI MUSLIM?
Berbalik kepada persoalan yang dikemukakan. Adakah Ibnu Sina dan Al-Farabi (atau sesiapa sahaja) masih dikira Islam ataupun sudah bukan Islam (ketika mereka berpegang dengan 3 perkara di atas SAHAJA, sekiranya selepas itu mereka mengubah pendirian mereka sebelum meninggal dunia tanpa kita ketahui, tidaklah termasuk dalam perbincangan kita hari ini)?
Semua orang ada pandangan tersendiri. Anda sendiri cuba buat penilaian. Seandainya ada seseorang yang meyakini 3 perkara di atas, dia masih Islam atau bukan? Contohnya orang itu menyebutkan (dan meyakini) bahawa :
1. “Selepas kita mati nanti, jasad kita akan hancur dan lenyap. Di akhirat nanti, yang dibangkitkan hanyalah ruh. Ruh itulah yang akan masuk syurga ataupun neraka.”
2. “Bukan semua perkara Allah tahu! Ada perkara-perkara yang Allah tidak tahu. Dia tidak Maha Mengetahui. Tidak ada suatu apa pun yang bersifat Maha Mengetahui.”
3. “Alam ini bukan Allah yang buat. Ia sudah siap-siap ada. Bukan semua benda Allah cipta. Ada benda yang Allah tidak cipta.”
Bagaimana? .......

HUJAH-HUJAH KEMUSLIMAN MEREKA
Ibnu Sina dan Al-Farabi masih dalam kalangan orang-orang Islam. Antara hujah-hujahnya :
Pertama – Sefaham kita mereka mengakui dan meyakini Dua Kalimah Syahadah sehinggalah ke hari mati mereka. WaAllahua’lam.
Kedua – Kita digalakkan berpegang dengan saranan mendahulukan sangka baik berbanding sangka buruk selagi ada ruang yang sesuai untuk bersangka baik.
Ketiga – Standard penggredan Imam Al-Ghazali biasanya lebih tinggi daripada standard penggredan professor-profesor lain. Contohnya, jika gred A memerlukan markah 80% pada pandangan ulama lain, gred A pada Imam Al-Ghazali mungkin 85%. Jadi “kufur” pada Imam Al-Ghazali tidak semestinya membawa maksud seseorang itu telah terkeluar daripada agama Islam.
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali mengatakan ilmu-ilmu jalan ke akhirat itu ialah ilmu mukasyafah dan ilmu mu’ammalah. Jika kita belajar ilmu hadith dan ilmu fiqh sekalipun, masih belum dikira sebagai ilmu-ilmu jalan ke akhirat walaupun kedua-duanya bersangkutan dengan akhirat juga. Hal ini menunjukkan standard penggredan Imam Al-Ghazali yang tinggi.
Keempat – Ibnu Sina dan Al-Farabi kekal beribadah, iaitu mengerjakan syariat Nabi Muhammad saw sehinggalah ke akhir hayat mereka. Kegemaran Ibnu Sina meminum arak untuk dapatkan “feel” dan berubat tidaklah menjadikan dia seorang bukan Islam.
Al-Ghazali menulis dalam Al-Munqiz :
Tetapi apabila ditanya : “Mengapa kamu minum arak?”
Lantas ia (ahli falsafah) menjawab : “Dilarang minum arak itu kerana dikhuatiri membangkitkan perseteruan dan permusuhan. Tetapi aku dengan kebijaksanaanku dapat menghindarkan perkara tersebut. Sebaliknya aku bertujuan mempertajamkan lagi fikiranku.”
“Sehinggakan Ibnu Sina sendiri telah menulis wasiatnya yang dia telah berjanji dengan Allah tentang perkara-perkara tersebut. Dia membesarkan hukum-hukum syara’, tidak mencuaikan ibadat-ibadat keagamaan. Dia minum arak sebagai ubat dan bukannya untuk berseronok-seronok. Bahkan semasa kemuncak keimanannya dan sentiasa beribadat, dia tetap meminum arak dengan tujuan untuk berubat.”
Jelasnya Ibnu Sina menghalalkan arak bagi sesiapa yang mampu mengawal diri, lebih-lebih lagi jika arak itu membantu menguatkan pemikiran. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam.

HUJAH-HUJAH KETIDAKMUSLIMAN MEREKA
Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan Ibnu Sina dan Al-Farabi bukan Islam lagi? Saya tidak nafikan hujah-hujah golongan ini juga bagus-bagus.
Pertama - Allah yang disembah oleh umat Islam ialah Dia Yang Maha Mengetahui. Mustahil Allah tidak Maha Mengetahui. Apabila golongan ini menyembah sesuatu yang tidak maha mengetahui, maksudnya mereka sudah menyembah ataupun tersembah selain Allah. Menyembah selain daripada Allah sebagai Tuhan, tentunya menjadikan mereka bukan Islam lagi.
Kedua – Allah yang disembah oleh umat Islam ialah Pencipta seluruh alam makhluk. Apabila golongan ini menyembah sesuatu yang tidak menciptakan segala perkara, maka sebenarnya mereka sedang menyembah selain Allah. Berabdi kepada selain Allah tentunya bukan Islam lagi.
Ketiga – Allah yang disembah oleh umat Islam bersifat qadim, dan hanya Dia sahaja yang qadim. Jika kita beri’tiqad bahawa ada sesuatu yang lain yang turut sama bersifat qadim, turut sama sedia ada sejak azali, hal ini sudah bertentangan dengan i’tiqad Ahli Sunnah wal Jamaah. Maksudnya Tuhan sudah ada saingan sejak azali. Tuhan tidak bersendirian. Tuhan tidak Esa. Tuhan yang sebegitu tidaklah bertepatan dengan Allah SWT yang disembah oleh umat Islam. Tuhan sebegitu sudah ada yang setara dengannya dari segi keazalian.
“Dan tidak ada suatu apa pun yang setanding dengan-Nya.” (Al-Ikhlas : 4)
Keempat – Dalam kitab Lisanul Mizan, Syeikh Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan para ulama pada zaman Ibnu Sina dan Al-Farabi menghukum mereka sebagai kafir.

KESIMPULAN
Ibnu Sina dan Al-Farabi masih dalam agama Islam ataupun tidak, yang pastinya kita jangan sesekali menerima pegangan-pegangan mereka yang nyata salah di sisi agama Islam, sebagaimana yang dinyatakan di atas tadi.

Abu Zulfiqar

Kafirkah Ibnu shina dan al farabi


PENDAHULUAN
Seorang hamba Allah mengemukakan persoalan di bawah :
“Assalamualaikum..saya ada 1 persoalan setelah membaca soal jawab ustaz di atas. Ustaz ada menyatakan "Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Munqiz min adh-Dhalal MENGKAFIRKAN Socrates, Plato dan Aristotle serta umat Islam yang mengikut mereka seperti Ibnu Sina dan al-Farabi." Berdasarkan kenyataan tersebut, adakah ini bermakna sarjana Islam yang terkenal dalam dunia Islam seperti Ibnu Sina dan al-Farabi adalah dari golongan orang-orang bukn Islam keraan mereka mengikut Socrates, Plato dan Aristotle? Atau mereka hanya mengikut dari segi pndangan ilmu tetapi tetap seorang Islam? Boleh ustaz perjelaskan pada saya...?

(*Artikel ini boleh dibaca dalam Bahasa Melayu Indonesia... di bahagian bawah. Sesi soal jawab dna jawapannya juga ada di bawah)

SIAPAKAH AHLI-AHLI FALSAFAH?
Golongan ahli falsafah ialah orang-orang yang mendakwa mereka ialah golongan ahli logik dan membawa pendalilan secara logik. Mereka terdiri daripada beberapa golongan, tetapi dalam kitab Al-Munqiz min Adh-Dhalal, Imam Al-Ghazali membahagikan kesemuanya kepada 3 golongan iaitu:
1. Dahriyyun
2. Tabi’iyyun
3. Ilahiyyun
Dalam golongan manakah Ibnu Sina dan Al-Farabi? Mari kita mengenali setiap golongan terlebih dahulu.
Dahriyyun
Mereka menafikan kewujudan Tuhan. Mereka percaya alam ini terjadi dengan sendirinya. Imam Al-Ghazali menyatakan mereka sebagai zindik. Maksudnya mereka bukan Islam.
Tabi’iyyun
Banyak mengkaji tentang manusia, haiwan dan tumbuh-tumbuhan. Hasil kajian mereka menunjukkan adanya Pencipta kerana segala ciptaan itu dijadikan begitu sempurna. Maksudnya mereka yakin kewujudan Tuhan. Namun begitu mereka menafikan kebangkitan semula, hari akhirat, syurga, neraka, Padang Mahsyar, hisab dan lain-lain. Mereka juga menolak konsep pahala dan dosa. Bagi mereka tidak ada pahala dan dosa. Oleh itu mereka menjadi hamba kepada hawa nafsu. Golongan ini juga disebut zindik. Mereka bukan Islam.
Ilahiyyun
Antara bidang yang dikuasai danq dikaji oleh golongan ini ialah matematik, kejuruteraan, geografi, biologi, keTuhanan, politik, akhlak dan mantiq (logik). Mereka percaya akan kewujudan Tuhan.
Antara tokoh golongan ini ialah Socrates, muridnya Plato, dan murid Plato iaitu Aristotle. Namun kaum Ilahiyyun ini terpecah pula kepada 2 puak. Menurut Imam Al-Ghazali, Aristotle tidak menerima pendapat Plato dan Socrates, malah Aristotle menganggap mereka berdua tidak bersih dan masih kekal dalam kekufuran dan bid’ah.

DI MANA IBNU SINA DAN AL-FARABI?
Di mana Ibnu Sina dan Al-Farabi? Mereka berada dalam kelompok ketiga kerana merekalah yang paling banyak mencedok ilmu-ilmu Aristotle. Jadi lanjutan tulisan ini akan dijuruskan kepada kaum Ilahiyyun sahaja.
Kata Imam Al-Ghazali : “...maka sewajarnyalah mereka (Socrates, Plato, Aristotle dan para pengikut ajaran mereka) itu dianggap kafir, dan juga mengkafirkan pengikut-pengikut mereka dalam kalangan ahli falsafah Islam seperti Ibnu Sina, Al-Farabi dan orang-orang seperti mereka.”

APAKAH YANG DIKAFIRKAN OLEH AL-GHAZALI?
Adakah Imam Al-Ghazali mengkufurkan keseluruhan pegangan kaum Ilahiyyun? Tentunya tidak. Beliau hanya menolak perkara-perkara yang salah dan yang melemahkan sahaja. Terdapat 20 perkara asas dalam pegangan kaum ini yang ditolak oleh Imam Al-Ghazali. Pembahagiannya adalah seperti berikut :
1. 3 perkara yang wajib dikufurkan.
2. 17 perkara yang dibid’ahkan.
Pengisian kita selanjutnya akan tertumpu kepada 3 perkara yang wajib dikafirkan sahaja, agar menepati kehendak soalan (iaitu tentang ‘kafir’).
Pertama – Tentang alam akhirat. Golongan ini percaya yang jasad tidak akan dihimpun semula dengan ruh selepas kematian. Kenikmatan syurga dan keazaban neraka itu juga bersifat rohani, bukan jasmani. Sedangkan menurut ajaran agama Islam, jasad kita akan berhimpun semula dengan ruh di akhirat nanti, dan syurga neraka itu dialami oleh rohani dan jasmani.
Kedua – Tuhan hanya mengetahui perkara-perkara yang bersifat umum, dan tidak mengetahui perkara-perkara yang kecil-kecil. Hal ini juga berbeza dengan pegangan umat Islam iaitu Tuhan Maha Mengetahui segala perkara.
“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun sebesar zarah, baik yang di langit mahupun yang di bumi, yang lebih kecil daripada itu ataupun yang lebih besar.” (Saba’ : 3)
Ketiga – Mereka percaya alam ini qadim. Maksudnya alam ini sudah sedia ada sebagaimana Tuhan yang sudah sedia ada sejak azali. Unsur-unsur awal yang menjadikan alam ini sudah sedia ada bersama-sama Tuhan. Tuhan bukanlah Pencipta segala sesuatu kerana ada benda yang tidak diciptakan oleh Tuhan tetapi benda itu sudah sedia wujud.
Keyakinan umat Islam tentunya berbeza. Kita percaya alam ini baharu. Pada asalnya ia tidak ada, yang ada hanyalah Tuhan. Selepas Tuhan menciptakan alam ini, barulah alam ini wujud. Alam tidak qadim. Yang qadim hanyalah Allah. Tuhan menciptakan segala sesuatu termasuklah alam ini.
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan haq.” (Al-An’am : 73)
“Dialah yang awal, dan yang akhir, yang zahir, yang batin.” (Al-Hadid : 3)
Inilah tiga perkara yang dikufurkan oleh Imam Al-Ghazali. Adakah dengan menolak 3 perkara di atas, menjadikan seseorang itu bukan Islam? .......

ADAKAH IBNU SINA DAN AL-FARABI MUSLIM?
Berbalik kepada persoalan yang dikemukakan. Adakah Ibnu Sina dan Al-Farabi (atau sesiapa sahaja) masih dikira Islam ataupun sudah bukan Islam (ketika mereka berpegang dengan 3 perkara di atas SAHAJA, sekiranya selepas itu mereka mengubah pendirian mereka sebelum meninggal dunia tanpa kita ketahui, tidaklah termasuk dalam perbincangan kita hari ini)?
Semua orang ada pandangan tersendiri. Anda sendiri cuba buat penilaian. Seandainya ada seseorang yang meyakini 3 perkara di atas, dia masih Islam atau bukan? Contohnya orang itu menyebutkan (dan meyakini) bahawa :
1. “Selepas kita mati nanti, jasad kita akan hancur dan lenyap. Di akhirat nanti, yang dibangkitkan hanyalah ruh. Ruh itulah yang akan masuk syurga ataupun neraka.”
2. “Bukan semua perkara Allah tahu! Ada perkara-perkara yang Allah tidak tahu. Dia tidak Maha Mengetahui. Tidak ada suatu apa pun yang bersifat Maha Mengetahui.”
3. “Alam ini bukan Allah yang buat. Ia sudah siap-siap ada. Bukan semua benda Allah cipta. Ada benda yang Allah tidak cipta.”
Bagaimana? .......

HUJAH-HUJAH KEMUSLIMAN MEREKA
Ibnu Sina dan Al-Farabi masih dalam kalangan orang-orang Islam. Antara hujah-hujahnya :
Pertama – Sefaham kita mereka mengakui dan meyakini Dua Kalimah Syahadah sehinggalah ke hari mati mereka. WaAllahua’lam.
Kedua – Kita digalakkan berpegang dengan saranan mendahulukan sangka baik berbanding sangka buruk selagi ada ruang yang sesuai untuk bersangka baik.
Ketiga – Standard penggredan Imam Al-Ghazali biasanya lebih tinggi daripada standard penggredan professor-profesor lain. Contohnya, jika gred A memerlukan markah 80% pada pandangan ulama lain, gred A pada Imam Al-Ghazali mungkin 85%. Jadi “kufur” pada Imam Al-Ghazali tidak semestinya membawa maksud seseorang itu telah terkeluar daripada agama Islam.
Dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam Al-Ghazali mengatakan ilmu-ilmu jalan ke akhirat itu ialah ilmu mukasyafah dan ilmu mu’ammalah. Jika kita belajar ilmu hadith dan ilmu fiqh sekalipun, masih belum dikira sebagai ilmu-ilmu jalan ke akhirat walaupun kedua-duanya bersangkutan dengan akhirat juga. Hal ini menunjukkan standard penggredan Imam Al-Ghazali yang tinggi.
Keempat – Ibnu Sina dan Al-Farabi kekal beribadah, iaitu mengerjakan syariat Nabi Muhammad saw sehinggalah ke akhir hayat mereka. Kegemaran Ibnu Sina meminum arak untuk dapatkan “feel” dan berubat tidaklah menjadikan dia seorang bukan Islam.
Al-Ghazali menulis dalam Al-Munqiz :
Tetapi apabila ditanya : “Mengapa kamu minum arak?”
Lantas ia (ahli falsafah) menjawab : “Dilarang minum arak itu kerana dikhuatiri membangkitkan perseteruan dan permusuhan. Tetapi aku dengan kebijaksanaanku dapat menghindarkan perkara tersebut. Sebaliknya aku bertujuan mempertajamkan lagi fikiranku.”
“Sehinggakan Ibnu Sina sendiri telah menulis wasiatnya yang dia telah berjanji dengan Allah tentang perkara-perkara tersebut. Dia membesarkan hukum-hukum syara’, tidak mencuaikan ibadat-ibadat keagamaan. Dia minum arak sebagai ubat dan bukannya untuk berseronok-seronok. Bahkan semasa kemuncak keimanannya dan sentiasa beribadat, dia tetap meminum arak dengan tujuan untuk berubat.”
Jelasnya Ibnu Sina menghalalkan arak bagi sesiapa yang mampu mengawal diri, lebih-lebih lagi jika arak itu membantu menguatkan pemikiran. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam.

HUJAH-HUJAH KETIDAKMUSLIMAN MEREKA
Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan Ibnu Sina dan Al-Farabi bukan Islam lagi? Saya tidak nafikan hujah-hujah golongan ini juga bagus-bagus.
Pertama - Allah yang disembah oleh umat Islam ialah Dia Yang Maha Mengetahui. Mustahil Allah tidak Maha Mengetahui. Apabila golongan ini menyembah sesuatu yang tidak maha mengetahui, maksudnya mereka sudah menyembah ataupun tersembah selain Allah. Menyembah selain daripada Allah sebagai Tuhan, tentunya menjadikan mereka bukan Islam lagi.
Kedua – Allah yang disembah oleh umat Islam ialah Pencipta seluruh alam makhluk. Apabila golongan ini menyembah sesuatu yang tidak menciptakan segala perkara, maka sebenarnya mereka sedang menyembah selain Allah. Berabdi kepada selain Allah tentunya bukan Islam lagi.
Ketiga – Allah yang disembah oleh umat Islam bersifat qadim, dan hanya Dia sahaja yang qadim. Jika kita beri’tiqad bahawa ada sesuatu yang lain yang turut sama bersifat qadim, turut sama sedia ada sejak azali, hal ini sudah bertentangan dengan i’tiqad Ahli Sunnah wal Jamaah. Maksudnya Tuhan sudah ada saingan sejak azali. Tuhan tidak bersendirian. Tuhan tidak Esa. Tuhan yang sebegitu tidaklah bertepatan dengan Allah SWT yang disembah oleh umat Islam. Tuhan sebegitu sudah ada yang setara dengannya dari segi keazalian.
“Dan tidak ada suatu apa pun yang setanding dengan-Nya.” (Al-Ikhlas : 4)
Keempat – Dalam kitab Lisanul Mizan, Syeikh Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan para ulama pada zaman Ibnu Sina dan Al-Farabi menghukum mereka sebagai kafir.

KESIMPULAN
Ibnu Sina dan Al-Farabi masih dalam agama Islam ataupun tidak, yang pastinya kita jangan sesekali menerima pegangan-pegangan mereka yang nyata salah di sisi agama Islam, sebagaimana yang dinyatakan di atas tadi.

Abu Zulfiqar