Tuesday, May 17, 2011

10 PEMBATAL KEISLAMAN

10 PEMBATAL KEISLAMAN

Pembatal Pertama :

Menyekutukan Allah SWT ( Syirik ).

Yang demikian itu dengan menjadikan sekutu sebagai penengah/ perantara antara dia dengan Allah, mereka berdoa kepada sekutu tersebut, memohon syafa’at, bertawakal kepadanya, meminta bantuan kepadanya, bernazar untuk mereka, menyembelih dengan nama mereka, meyakini bahwa mereka selain Allah itu dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfa’at, maka ia telah kafir.

Allah berfirman didalam QS. An-Nisa’ : 48 , yang artinya :

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa syirik mempersekutukanNya (dengan sesuatu apajua), dan akan mengampunkan dosa Yang lain dari itu bagi sesiapa Yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya). dan sesiapa Yang mempersekutukan Allah (dengan sesuatu Yang lain), maka Sesungguhnya ia telah melakukan dosa Yang besar.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 72 , yang artinya :

Demi sesungguhnya! telah kafirlah orang-orang Yang berkata: "Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam". padahal Al-Masih sendiri berkata:" Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu, bahawasanya sesiapa Yang mempersekutukan Allah Dengan sesuatu Yang lain, maka Sesungguhnya Allah haramkan kepadanya syurga, dan tempat kembalinya ialah neraka; dan tiadalah seorang Penolong pun bagi orang-orang Yang berlaku zalim".

Pembatal Kedua :

Berpaling dari Islam dengan lebih memilih agama Yahudi, Nashrani, Majusi, Komunis, Sekularisme, Masuni, Ba’ats atau selainnya dari keyakinan yang membawa kekufuran jika ia meyakininya.

Allah berfirman didalam QS. Al-Baqarah : 217 , yang artinya :

Mereka bertanya kepadamu (Wahai Muhammad), mengenai (hukum) berperang Dalam bulan Yang dihormati; katakanlah: "Peperangan Dalam bulan itu adalah berdosa besar, tetapi perbuatan menghalangi (orang-orang Islam) dari jalan Allah dan perbuatan kufur kepadaNya, dan juga perbuatan menyekat (orang-orang Islam) ke Masjid Al-Haraam (di Makkah), serta mengusir penduduknya dari situ, (semuanya itu) adalah lebih besar lagi dosanya di sisi Allah. dan (ingatlah), angkara fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan (semasa perang Dalam bulan Yang dihormati). dan mereka (orang-orang kafir itu) sentiasa memerangi kamu hingga mereka (mahu) memalingkan kamu dari ugama kamu kalau mereka sanggup (melakukan Yang demikian); dan sesiapa di antara kamu Yang murtad (berpaling tadah) dari ugamanya (ugama Islam), lalu ia mati sedang ia tetap kafir, maka orang-orang Yang demikian, rosak binasalah amal usahanya (yang baik) di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah ahli neraka, kekal mereka di dalamnya (selama-lamanya).

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 54 , yang artinya :

Wahai orang-orang Yang beriman! sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari ugamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum Yang ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang Yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang Dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang Yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia Allah Yang diberikanNya kepada sesiapa Yang dikehendakiNya; kerana Allah Maha Luas limpah kurniaNya, lagi meliputi pengetahuanNya.

Allah berfirman didalam QS. Muhammad : 25-30 , yang artinya :

25. Sesungguhnya orang-orang Yang telah berbalik kepada keingkaran mereka sesudah terang nyata kepada mereka kebenaran petunjuk (yang dikemukakan kepadaNya), Syaitanlah Yang memperdayakan mereka (berlaku demikian), serta memanjangkan angan-angan mereka.

26. berlakunya Yang demikian ialah: kerana mereka berkata kepada orang-orang Yang tidak menyukai perkara Yang diturunkan oleh Allah: "Kami akan patuh kepada kamu pada setengah perkara (yang berhubung Dengan menentang Muhammad dan pengikutnya) itu"; sedang Allah mengetahui Segala (perkataan dan perbuatan) Yang mereka sembunyikan.

27. (Kalaulah mereka terlepas sekarang dari bencana kejahatan mereka) maka Bagaimanakah (Mereka dapat menolak azab seksa) apabila malaikat mengambil nyawa mereka sambil memukul muka dan punggung mereka?
28. (kematian mereka Dalam keadaan Yang buruk) itu, kerana mereka menurut (serta melakukan) perkara-perkara Yang menyebabkan kemurkaan Allah, dan mereka pula membenci perkara-perkara Yang diredhaiNya; oleh itu, Allah gugurkan amal-amal mereka (yang baik, Yang pernah mereka lakukan).

29. Patutkah orang-orang (munafik) Yang ada penyakit (syak, ragu-ragu) Dalam hatinya: menyangka Bahawa Allah tidak sekali-kali akan mendedahkan perasaan dendam dan hasad dengki mereka (terhadap Nabi Muhammad s.a.w dan umatnya)?

30. dan sekiranya Kami kehendaki, tentulah Kami akan memperkenalkan mereka kepadamu (Wahai Muhammad), lalu Engkau tetap mengenalinya Dengan tanda-tanda (yang menjadi sifat) mereka; dan Demi sesungguhnya, Engkau akan mengenali mereka dari gaya dan tutur katanya. dan (ingatlah kamu masing-masing), Allah mengetahui Segala Yang kamu lakukan.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 5 , yang artinya :

Pada masa ini Dihalalkan bagi kamu (memakan makanan) Yang lazat-lazat serta baik-baik. dan makanan (sembelihan) orang-orang Yang diberikan Kitab itu adalah halal bagi kamu, dan makanan (sembelihan) kamu adalah halal bagi mereka (tidak salah kamu memberi makan kepada mereka). dan (dihalalkan kamu berkahwin) Dengan perempuan-perempuan Yang menjaga kehormatannya - di antara perempuan-perempuan Yang beriman, dan juga perempuan-perempuan Yang menjaga kehormatannya dari kalangan orang-orang Yang diberikan Kitab dahulu daripada kamu apabila kamu beri mereka maskahwinnya, sedang kamu (dengan cara Yang demikian), bernikah bukan berzina, dan bukan pula kamu mengambil mereka menjadi perempuan-perempuan simpanan. dan sesiapa Yang ingkar (akan syariat Islam) sesudah ia beriman, maka Sesungguhnya gugurlah amalnya (yang baik) dan adalah ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang Yang rugi.

Pembatal Ketiga :

Orang yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir, baik itu yahudi, Nashrani, Majusi, orang-orang musyrik atau orang yang mulhid ( Atheis )atau selain itu dari berbagai macam kekufuran atau ia meragukan kekufuran mereka atau dia membenarkan mazhab mereka, maka ia telah kafir.

Yang demikian itu karena Allah telah mengkafirkan mereka sedangkan dia menyelisihi Allah dan rasulNya, tidak mau mengkafirkan mereka atau meragukan kekafiran mereka atau dia membenarkan mazhab mereka, sedangkan kekufuran mereka itu telah menentang Allah SWT.

Allah berfirman didalam QS. Al-Bayyinah : 6 , yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang Yang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik itu akan ditempatkan di Dalam neraka Jahannam, kekalah mereka di dalamnya. mereka itulah Sejahat-jahat makhluk.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 17 , yang artinya :

Demi sesungguhnya, kafirlah orang-orang Yang berkata: "Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam) Katakanlah (Wahai Muhammad): "(Dakwaan itu tidak benar) kerana siapakah Yang dapat menahan (seksa) dari Allah sedikit jua pun kalau ia mahu membinasakan Al-Masih Ibni Maryam beserta ibunya dan orang-orang Yang ada di muka bumi semuanya?" dan (ingatlah) bagi Allah jualah Kuasa pemerintahan langit dan bumi dan Segala Yang ada di antara keduanya. ia menciptakan apa jua Yang dikehendakiNya. dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 72-73 , yang artinya :

72. Demi sesungguhnya! telah kafirlah orang-orang Yang berkata: "Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam". padahal Al-Masih sendiri berkata:" Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu, bahawasanya sesiapa Yang mempersekutukan Allah Dengan sesuatu Yang lain, maka Sesungguhnya Allah haramkan kepadanya syurga, dan tempat kembalinya ialah neraka; dan tiadalah seorang Penolong pun bagi orang-orang Yang berlaku zalim".

73. Demi Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang Yang berkata: "Bahawasanya Allah ialah salah satu dari tiga tuhan". padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa. dan jika mereka tidak berhenti dari apa Yang mereka katakan itu, sudah tentu orang-orang Yang kafir dari antara mereka akan dikenakan azab seksa Yang tidak terperi sakitnya.

Allah berfirman didalam QS. An-Nisaa’ : 150-151 , yang artinya :

150. Sesungguhnya orang-orang Yang kufur ingkar kepada Allah dan Rasul-rasulNya, dan (orang-orang yang) hendak membeza-bezakan iman mereka di antara Allah dan Rasul-rasulNya, dan (orang-orang yang) berkata: "Kami beriman kepada setengah Rasul-rasul itu dan kufur ingkar kepada setengahnya Yang lain", serta bertujuan hendak mengambil jalan lain antara iman dan kufur itu:

151. mereka itulah orang-orang Yang kafir Dengan sebenar-benarnya. dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu azab seksa Yang menghina.

Allah berfirman didalam QS. An-Nisaa’ : 140 , yang artinya :

Dan Sesungguhnya Allah telahpun menurunkan kepada kamu (perintahNya) di Dalam Kitab (Al-Quran), iaitu: apabila kamu mendengar ayat-ayat keterangan Allah diingkari dan diejek-ejek (oleh kaum kafir dan munafik), maka janganlah kamu duduk (bergaul) Dengan mereka sehingga mereka masuk kepada memperkatakan soal Yang lain; kerana Sesungguhnya (jika kamu melakukan Yang demikian), tentulah kamu sama seperti mereka. Sesungguhnya Allah akan menghimpunkan sekalian orang manufik dan orang kafir di Dalam neraka jahannam.

Pembatal Keempat :

Orang yang neyakini bahwasanya petunjuk selain petunjuk Nabi saw lebih sempurna dari petunjuknya atau meyakini bahwa hukum selain hukum Nabi saw lebih baik dari hukum beliau, seperti orang-orang yang mebih memilih hukum-hukum thoghut dari pada hukumnya Nabi saw.

Dan masuk kedalamnya , orang-orang yang mayakini bahwa peraturan dan undang-undang yang dibuat manusia lebih utama daripada syariat Islam atau dia meyakini bahwasanya syariat Islam tidak sesuai lagi untuk ditetapkan dizaman sekarang ini atau dia meyakini bahwa Islam sebagai sebab ketertinggalan zaman.
Atau dia membatasi Islam hanya pada keterikatan seseorang kepada Rabb-Nya saja dan tidak memasukkan kepada perkara / urusan kehidupan yang lainnya.

Dan masuk dalam pembatal keislaman ini yaitu orang yang berpandangan bahwa penerapan hukum Allah berupa : potong tangan bagi pencuri atau rajam bagi pezina muhson ( orang yang telah menikah secara resmi ) tidak sesuai lagi pada zaman sekarang.

Dan masuk dalam hal tersebut, bagi semua orang yang berkeyakinan tentang bolehnya berhukum dengan selain syariat Allah dalam berbagai mu’amalah dan hukum-hukumNya atau selain keduanya. Walau dia tidak meyakini bahwa yang demikian itu lebih utama dari hukum syariat, maka dengan hal itu telah membolehkan apa yang Allah telah haramkan menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).
Seluruh orang yang membolehkan apa yang telah diharamkan Allah dan raulNya dari pada apa-apa yang telah diketahui berasal dari agama secara pasti, seperti zina, riba, dan berhukum dengan selain hukum Allah dan selain itu, maka dia telah kafir berdasarkan ijma’ ulama.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 50, yang artinya :

Sesudah itu, Patutkah mereka berkehendak lagi kepada hukum-hukum jahiliyah? padahal - kepada orang-orang Yang penuh keyakinan - tidak ada sesiapa Yang boleh membuat hukum Yang lebih pada daripada Allah.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 44, yang artinya :

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, Yang mengandungi petunjuk dan cahaya Yang menerangi; Dengan Kitab itu Nabi-nabi Yang menyerah diri (kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi, dan (dengannya juga) ulama mereka dan pendita-penditanya (menjalankan hukum Allah), sebab mereka diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari Kitab Allah (Taurat) itu, dan mereka pula adalah menjadi penjaga dan pengawasnya (dari sebarang perubahan). oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu takut kepadaKu (dengan menjaga diri dari melakukan maksiat dan patuh akan perintahKu); dan janganlah kamu menjual (membelakangkan) ayat-ayatKu Dengan harga Yang sedikit (kerana mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan dunia); dan sesiapa Yang tidak menghukum Dengan apa Yang telah diturunkan oleh Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang kafir.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 45, yang artinya :

Dan Kami telah tetapkan atas mereka di Dalam Kitab Taurat itu, Bahawa jiwa dibalas Dengan jiwa, dan mata dibalas Dengan mata, dan hidung dibalas Dengan hidung, dan telinga dibalas Dengan telinga, dan gigi dibalas Dengan gigi, dan luka-luka hendaklah dibalas (seimbang). tetapi sesiapa Yang melepaskan hak membalasnya, maka menjadilah ia penebus dosa baginya; dan sesiapa Yang tidak menghukum Dengan apa Yang telah diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang Yang zalim.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 47, yang artinya :

Dan hendaklah ahli Kitab Injil menghukum Dengan apa Yang telah diturunkan oleh Allah di dalamnya; dan sesiapa Yang tidak menghukum Dengan apa Yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang Yang fasik.

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 19, yang artinya :

Sesungguhnya ugama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. dan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) Yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai ugama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan Yang sah tentang kebenarannya; (perselisihan itu pula) semata-mata kerana hasad dengki Yang ada Dalam kalangan mereka. dan (ingatlah), sesiapa Yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka Sesungguhnya Allah amat segera hitungan hisabNya.

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 85, yang artinya :

Dan sesiapa Yang mencari ugama selain ugama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang Yang rugi.

Allah berfirman didalam QS. An-nisaa’ : 65, yang artinya :

Maka Demi Tuhanmu (Wahai Muhammad)! mereka tidak disifatkan beriman sehingga mereka menjadikan Engkau hakim Dalam mana-mana perselisihan Yang timbul di antara mereka, kemudian mereka pula tidak merasa di hati mereka sesuatu keberatan dari apa Yang telah Engkau hukumkan, dan mereka menerima keputusan itu Dengan sepenuhnya.

Pembatal Kelima :

Orang yang marah / murka benci terhadap sesuatu dari apa-apa yang dibawa oleh Nabi muhammad saw walaupun ia melakukannya, maka ia telah kafir.

Allah berfirman didalam QS. Muhammad : 8-9, yang artinya :

8. dan (sebaliknya) orang-orang Yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka, dan (Allah) mensia-siakan amal-amal mereka.

9. berlakunya Yang demikian, kerana Sesungguhnya mereka tidak menyukai apa Yang diturunkan oleh Allah (mengenai ajaran Tauhid dan hukum-hukum Syarak Yang diterangkan di Dalam Al-Quran), lalu Allah menggugurkan amal-amal mereka.

Allah berfirman didalam QS. Muhammad : 25-28, yang artinya :

25. Sesungguhnya orang-orang Yang telah berbalik kepada keingkaran mereka sesudah terang nyata kepada mereka kebenaran petunjuk (yang dikemukakan kepadaNya), Syaitanlah Yang memperdayakan mereka (berlaku demikian), serta memanjangkan angan-angan mereka.

26. berlakunya Yang demikian ialah: kerana mereka berkata kepada orang-orang Yang tidak menyukai perkara Yang diturunkan oleh Allah: "Kami akan patuh kepada kamu pada setengah perkara (yang berhubung Dengan menentang Muhammad dan pengikutnya) itu"; sedang Allah mengetahui Segala (perkataan dan perbuatan) Yang mereka sembunyikan.

27. (Kalaulah mereka terlepas sekarang dari bencana kejahatan mereka) maka Bagaimanakah (Mereka dapat menolak azab seksa) apabila malaikat mengambil nyawa mereka sambil memukul muka dan punggung mereka?

28. (kematian mereka Dalam keadaan Yang buruk) itu, kerana mereka menurut (serta melakukan) perkara-perkara Yang menyebabkan kemurkaan Allah, dan mereka pula membenci perkara-perkara Yang diredhaiNya; oleh itu, Allah gugurkan amal-amal mereka (yang baik, Yang pernah mereka lakukan).

Pembatal Keenam :

Orang yang mengolok-olok ( menghina ) Allah dan rasulNya, Qur an, dan agama Islam, Malaikat atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syiar dari syiar-syiar Islam seperti sholat, zakat, puasa, haji, thawaf di ka’bah, wukuf di Arafah, atau menghina masjid, adzan, jenggot, atau sunnah-sunnah Nabi saw lainnya, dan selain itu dari syiar-syiar agama Allah dan tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta terdapat keberkahan padanya, maka dia telah kafir.

Allah berfirman didalam QS. At-Taubah : 65-66, yang artinya :

65. dan jika Engkau bertanya kepada mereka (tentang ejek-ejekan itu) tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya Kami hanyalah berbual dan bermain-main". katakanlah: "Patutkah nama Allah dan ayat-ayatNya serta RasulNya kamu memperolok-olok dan mengejeknya?"

66. janganlah kamu berdalih (dengan alasan-alasan Yang dusta), kerana Sesungguhnya kamu telah kufur sesudah kamu (melahirkan) iman. jika Kami maafkan sepuak dari kamu (kerana mereka bertaubat), maka Kami akan menyeksa puak Yang lain, kerana mereka adalah orang-orang Yang terus bersalah.

Allah berfirman didalam QS. AL-Muthoffifin : 29-36, yang artinya :

29. Sesungguhnya orang-orang Yang derhaka, mereka selalu tertawakan orang-orang Yang beriman.

30. dan apabila orang-orang Yang beriman lalu dekat mereka, mereka mengerling dan memejam celikkan mata sesama sendiri (mencemuhnya).

31. dan apabila mereka kembali kepada kaum keluarganya, mereka kembali Dengan riang gembira;

32. dan apabila mereka melihat orang-orang Yang beriman, mereka berkata: "Sesungguhnya orang-orang itu adalah golongan Yang sesat!"

33. pada hal mereka tidak diutus untuk menjaga sesat atau tidaknya orang-orang Yang beriman itu!

34. maka pada hari ini, orang-orang Yang beriman pula tertawakan orang Yang kafir itu.

35. sambil mereka berehat di atas pelamin-pelamin (yang berhias), serta melihat (hal Yang berlaku kepada musuhnya).

36. (untuk menambahkan kegembiraan mereka, mereka ditanya): "Bukankah orang-orang Yang kafir itu telah dibalas akan apa Yang mereka telah kerjakan dahulu?"

Allah berfirman didalam QS. AL-An’am : 68, yang artinya :

Dan apabila Engkau melihat orang-orang Yang memperkatakan Dengan cara mencaci atau mengejek-ejek ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka memperkatakan soal Yang lain; dan jika Engkau dilupakan oleh Syaitan (lalu Engkau duduk bersama mereka), maka janganlah Engkau duduk lagi bersama-sama kaum Yang zalim itu, sesudah Engkau mengingati (akan larangan itu).

Allah berfirman didalam QS. An-nisaa’ : 140, yang artinya :

Dan Sesungguhnya Allah telahpun menurunkan kepada kamu (perintahNya) di Dalam Kitab (Al-Quran), iaitu: apabila kamu mendengar ayat-ayat keterangan Allah diingkari dan diejek-ejek (oleh kaum kafir dan munafik), maka janganlah kamu duduk (bergaul) Dengan mereka sehingga mereka masuk kepada memperkatakan soal Yang lain; kerana Sesungguhnya (jika kamu melakukan Yang demikian), tentulah kamu sama seperti mereka. Sesungguhnya Allah akan menghimpunkan sekalian orang manufik dan orang kafir di Dalam neraka jahannam.

Pembatal Ketujuh:

Sihir, termasuk didalamnya ash-shorfu dan al-‘Athfu.
Ash-shorfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengan merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seseorang terhadap isterinya kepada kebencian.

Adapun al-‘Athfu adalah merupakan amalan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk memacu dan mendorong seseorang dari apa yang tidak ia cintai sehingga ia mencintainya dengan cara-cara syaithan.

Allah berfirman didalam QS. Al-Baqarah’ : 102, yang artinya :

Mereka (membelakangkan Kitab Allah) dan mengikut ajaran-ajaran sihir Yang dibacakan oleh puak-puak Syaitan Dalam masa pemerintahan Nabi Sulaiman, padahal Nabi Sulaiman tidak mengamalkan sihir Yang menyebabkan kekufuran itu, akan tetapi puak-puak Syaitan itulah Yang kafir (dengan amalan sihirnya); kerana merekalah Yang mengajarkan manusia ilmu sihir dan apa Yang diturunkan kepada dua malaikat: Harut dan Marut, di negeri Babil (Babylon), sedang mereka berdua tidak mengajar seseorang pun melainkan setelah mereka menasihatinya Dengan berkata: "Sesungguhnya Kami ini hanyalah cubaan (untuk menguji imanmu), oleh itu janganlah Engkau menjadi kafir (dengan mempelajarinya)". Dalam pada itu ada juga orang-orang mempelajari dari mereka berdua: ilmu sihir Yang boleh menceraikan antara seorang suami Dengan isterinya, padahal mereka tidak akan dapat sama sekali memberi mudarat (atau membahayakan) Dengan sihir itu seseorang pun melainkan Dengan izin Allah. dan sebenarnya mereka mempelajari perkara Yang hanya membahayakan mereka dan tidak memberi manfaat kepada mereka. dan Demi Sesungguhnya mereka (kaum Yahudi itu) telahpun mengetahui Bahawa sesiapa Yang memilih ilmu sihir itu tidaklah lagi mendapat bahagian Yang baik di akhirat. Demi Sesungguhnya amat buruknya apa Yang mereka pilih untuk diri mereka, kalaulah mereka mengetahui.

Pembatal Kedelapan :

Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum muslimin.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah’ : 51, yang artinya :

Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani itu sebagai teman rapat, kerana setengah mereka menjadi teman rapat kepada setengahnya Yang lain; dan sesiapa di antara kamu Yang menjadikan mereka teman rapatnya, maka Sesungguhnya ia adalah dari golongan mereka itu mereka itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Yang berlaku zalim.

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 100-101, yang artinya :

100. Wahai orang-orang Yang beriman! jika kamu taat akan sesuatu puak dari orang-orang (Yahudi dan Nasrani) Yang diberikan Kitab itu, nescaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang-orang kafir sesudah kamu beriman.
101. dan Bagaimana kamu akan menjadi kafir padahal kepada kamu dibacakan ayat-ayat Allah (Al-Quran), dan Dalam kalangan kamu ada RasulNya (Muhammad, s.a.w)? dan sesiapa berpegang teguh kepada (ugama) Allah, maka Sesungguhnya ia telah beroleh petunjuk hidayah ke jalan Yang betul (lurus).

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 149-150, yang artinya :

149. Wahai orang-orang Yang beriman! jika kamu taatkan orang-orang Yang kafir nescaya mereka akan menolak kamu kembali kepada kekufuran, lalu menjadilah kamu orang-orang Yang rugi.

150. (janganlah kamu taatkan mereka!) bahkan (taatlah kepada) Allah Pelindung kamu, dan Dia lah sebaik-baik Penolong.

Allah berfirman didalam QS. Al-Mumtahanah : 1-2, yang artinya :

1. Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuh kamu menjadi teman rapat, Dengan cara kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita rahsia orang-orang mukmin) Dengan sebab hubungan baik dan kasih mesra Yang ada di antara kamu Dengan mereka, sedang mereka telah kufur ingkar terhadap kebenaran (Islam) Yang sampai kepada kamu; mereka pula telah mengeluarkan Rasulullah (s.a.w) dan juga mengeluarkan kamu (dari tanah suci Makkah) disebabkan kamu beriman kepada Allah Tuhan kamu. (janganlah kamu berbuat demikian) jika betul kamu keluar untuk berjihad pada jalanKu dan untuk mencari keredaanKu. (tidak ada sebarang faedahnya) kamu mengadakan hubungan kasih mesra Dengan mereka secara rahsia, sedang Aku amat mengetahui akan apa Yang kamu rahsiakan dan apa Yang kamu zahirkan. dan (ingatlah), sesiapa di antara kamu Yang melakukan perkara Yang demikian, maka Sesungguhnya telah sesatlah ia dari jalan Yang betul.

2. jika mereka dapat Menguasai kamu, nescaya mereka menjadi musuh Yang membahayakan kamu, dan mereka akan membebaskan tangan mereka dan lidah mereka terhadap kamu Dengan kejahatan, serta mereka suka kalaulah kamu juga menjadi kafir (seperti mereka).

Allah berfirman didalam QS. Al-Mumtahanah : 13, yang artinya :

Wahai orang-orang Yang beriman! janganlah kamu jadikan teman rapat mana-mana kaum Yang dimurkai Allah, mereka telah berputus asa daripada mendapat kebaikan akhirat, sebagaimana berputus asanya orang-orang kafir Yang ada di Dalam kubur.

Pembatak Kesembilan :

Barang siapa yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari syariat/ ajaran Nabi saw, sebagaimana Khidir dibolehkan keluar dari syariat Musa ‘Alaihissalam, maka ia telah kafir.

Allah berfirman didalam QS. Al-A’raaf : 158, yang artinya :

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Aku adalah pesuruh Allah kepada kamu semuanya, (di utus oleh Allah) Yang Menguasai langit dan bumi, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Yang menghidupkan dan mematikan. oleh itu, berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi Yang Ummi Yang beriman kepada Allah dan Kalimah-kalimahNya (Kitab-kitabNya); dan ikutilah Dia, supaya kamu beroleh hidayah petunjuk".

Allah berfirman didalam QS. Al-Anbiya’ : 107, yang artinya :

Dan tiadalah Kami mengutuskan Engkau (Wahai Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Allah berfirman didalam QS. Al-Furqon : 1, yang artinya :

Maha berkat Tuhan Yang menurunkan Al-Furqaan kepada hambaNya (Muhammad), untuk menjadi peringatan dan amaran bagi seluruh penduduk alam.

Allah berfirman didalam QS. Saba’ : 28, yang artinya :

Dan tiadalah Kami mengutusmu (Wahai Muhammad) melainkan untuk umat manusia seluruhnya, sebagai Rasul pembawa berita gembira (kepada orang-orang Yang beriman), dan pemberi amaran (kepada orang-orang Yang ingkar); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu).

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 19, yang artinya :

Sesungguhnya ugama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. dan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) Yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai ugama Islam dan enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan Yang sah tentang kebenarannya; (perselisihan itu pula) semata-mata kerana hasad dengki Yang ada Dalam kalangan mereka. dan (ingatlah), sesiapa Yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka Sesungguhnya Allah amat segera hitungan hisabNya.

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 85, yang artinya :

Dan sesiapa Yang mencari ugama selain ugama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan ia pada hari akhirat kelak dari orang-orang Yang rugi.

Allah berfirman didalam QS. Al-Maa-idah : 3, yang artinya :

Diharamkan kepada kamu (memakan) bangkai (binatang Yang tidak disembelih), dan darah (yang keluar mengalir), dan daging babi (termasuk semuanya), dan binatang-binatang Yang disembelih kerana Yang lain dari Allah, dan Yang mati tercekik, dan Yang mati dipukul, dan Yang mati jatuh dari tempat Yang tinggi, dan Yang mati ditanduk, dan Yang mati dimakan binatang buas, kecuali Yang sempat kamu sembelih (sebelum habis nyawanya), dan Yang disembelih atas nama berhala; dan (diharamkan juga) kamu merenung nasib Dengan undi batang-batang anak panah. Yang demikian itu adalah perbuatan fasik. pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari ugama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya). sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu. pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu ugama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi ugama untuk kamu. maka sesiapa Yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda Yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Allah berfirman didalam QS. Ali Imran : 83, yang artinya :

Patutkah sesudah (mengakui dan menerima perjanjian) itu, mereka mencari lain dari ugama Allah? padahal kepadaNyalah tunduk taat sekalian makhluk Yang ada di langit dan di bumi, sama ada Dengan sukarela ataupun terpaksa, dan kepadanya lah mereka dikembalikan.

Pembatal Kesepuluh :

Berpaling dari agama Allah SWT,ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya. Yang dimaksud dengan berpaling yang termasuk dari pembatal – pembatal keislaman adalah berpaling dari mempelajari pokok-pokok agama yang seseorang dapat dikatakan muslim dengannya, meskipun ia jahil/ bodoh terhadap perkara – perkara agama yang sifatnya terperinci. Karena ilmu terhadap agama secara terkadang tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali para ulama dan para penuntut ilmu.

Allah berfirman didalam QS. Al- Ahqaaf : 3, yang artinya :

(ingatlah), tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta Segala Yang ada di antara keduanya melainkan Dengan ada gunanya Yang benar dan Dengan ada masa penghujungnya Yang tertentu (yang padanya dijalankan pembalasan); dan orang-orang Yang kafir berpaling dari menerima peringatan Yang diberikan kepada mereka mengenainya.

Allah berfirman didalam QS. As-Sajdah : 22, yang artinya :

Dan tidaklah ada Yang lebih zalim daripada orang Yang diberi ingat Dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya (dan tetap mengingkarinya); Sesungguhnya Kami tetap membalas.

Allah berfirman didalam QS. Thoha : 124, yang artinya :

"Dan sesiapa Yang berpaling ingkar dari ingatan dan petunjukKu, maka Sesungguhnya adalah baginya kehidupan Yang sempit, dan Kami akan himpunkan Dia pada hari kiamat Dalam keadaan buta".

Oleh Muhammad bin Abdul Wahab al-Washobi al-Yamani. Dari Kitab al-Qoulu al-Mufid Fii adillatil At-Tauhid “ Babu Nawaqidul al Islam “asyrah”

Monday, May 16, 2011

DI ANTARA AQIDAH SYI’AH YANG BERTENTANGAN DENGAN ISLAM

DI ANTARA AQIDAH SYI’AH YANG BERCANGGAH DENGAN ISLAM


MUKADDIMAH

1. Aqidah at-Tahrif fi al-Quran
2. Aqidah al-Imamah dan al-Walayah
3. Aqidah Takfir as-Sahabah (Aqidah Mengkafirkan Sahabat)
4. Aqidah ar-Raj’ah
5. Penutup


MUKADDIMAH

Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w, adalah ugama yang terakhir, lengkap, terjamin dan universal. Ia mempunyai daya untuk membimbing, membina dan mengeluarkan peribadi-peribadi dan generasi contoh sampai qiamat. Ia juga mempunyai kemampuan dan kekuatan rahsia untuk mempertahankan dirinya dari segala bentuk serangan dan ancaman. Sejarah menyaksikan bahawa setiap fahaman dan fitnah yang telah cuba bersemuka dengan Islam pasti menerima kegagalan dan kekalahan.

Kemampuan dan kekuatan Islam yang luar biasa itu sangat menyakitkan hati musuh-musuh Islam, kerana itu sejak zaman permulaan Islam sampai ke hari ini mereka tidak henti-henti merancang dan menyusun fitnah yang boleh memecahbelahkan umat Islam dengan mencipta ajaran-ajaran dan fahaman-fahaman yang berbagai-bagai untuk menimbulkan keraguan terhadap Islam. Mereka sedar bahawa selagi umat Islam berpegang teguh dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w mereka akan bersatu padu dan menjadi benteng kukuh untuk memelihara Islam sehingga tidak mungkin akan ada satu pun kuasa yang dapat merobohkannya.

Ketika wilayah-wilayah dari dua kuasa besar dunia, Rom dan Farsi satu demi satu jatuh ke tangan Islam dan tidak mampu bertahan lagi, apatah akan melawannya dengan kekuatan senjata, ketika itu musuh-musuh Islam bermuafakat untuk menyusup masuk ke dalam masyarakat Islam dan menggugatkannya dari dalam. Sasaran mereka ialah orang-orang yang baru memeluk agama Islam yang belum lagi diresapi betul-betul oleh ajaran Islam dan masih belum terhapus dari jiwa mereka saki baki ajaran agama mereka yang lalu. Melalui taktik-taktik ini mereka telah berjaya dan kejayaannya terbukti jelas dengan syahidnya Khalifah Islam yang ketiga Sayyidina Usman bin Affan r.a.

Gerakan musuh Islam atas nama Islam yang pertama ini dikenali di dalam sejarah Islam dengan “Gerakan Abdullah bin Saba’ dan rakan-rakannya”. Gerakan ini telah meletakkan batu-batu asas ajaran dan fahamannya yang kemudiannya dibinakan di atas asas-asas itu sebuah bangunan kukuh bernama Syi’ah Rafidhah.

Taktik yang sama telah digunakan oleh musuh-musuh Islam di zaman-zaman kemudiannya dengan berbagai-bagai nama seperti Babiah, Bahaiah, Qadiani, Batiniah, Ingkar Sunnah dan lain-lain. Tetapi gerakan-gerakan yang lain selain Syi’ah tidak dapat bertahan lama kerana asas-asasnya tidak begitu kukuh dan mereka pula tidak seperti Syi’ah yang mengamalkan prinsip “taqiyyah”.

Semua gerakan-gerakan tersebut pada hakikatnya telah disusun dan dirancang untuk memusnahkan ajaran Islam. Ini dapat diketahui dengan jelas apabila dikaji aqidah-aqidahnya berdasarkan kitab-kitab muktabar di kalangan mereka.

Walaupun golongan Syi’ah sangat kuat berpegang dengan prinsip “taqiyyah” dan sebelum ini agak sukar untuk mendapatkan kitab-kitabnya, namun selepas tercetusnya revolusi di Iran mereka merasakan sudah kuat dan sudah sampai masanya untuk mendedahkan kitab-kitabnya yang selama ini disembunyikan ke muka dunia. Dengan itu mudahlah bagi kita untuk mengkaji ajaran Syi’ah dari sumbernya sendiri dan semoga kemenangan revolusi di Iran itu akan menamatkan riwayat Syi’ah yang selama ini dikaitkan dengan Islam apabila umat Islam di dunia menyedari tentang aqidah-aqidah mereka yang bercanggah dengan Islam.
Kertas kerja ini ditulis khusus untuk mendedahkan sebahagian dari aqidah Syi’ah Imamiah Itsna Asyariah untuk menjadi bahan renungan dan peringatan bagi orang-orang yang terpengaruh dengan ajaran Syi’ah khasnya dan umat Islam di tanah air kita amnya.

Walaupun banyak aqidah-aqidah Syi’ah Imamiah Itsna Asyariah yang bercanggah dengan Islam, tetapi di dalam kesempatan ini kita hanya mengemukakan empat aqidah daripada aqaid mereka yang terang bercanggah dengan aqidah Islam dan dengan keempat-empat aqidah ini atau salah satu daripadanya ulamak-ulamak Islam di zaman lampau telah mengkafirkan Syi’ah ini.

Empat aqidah yang diketengahkan nanti ialah:

1) Aqidah at-Tahrif fi al-Quran
2) Aqidah al-Imamah wa al-Walayah
3) Aqidah Takfir as-Sahabah
4) Aqidah ar-Raj’ah

atas

1. Aqidah at-Tahrif fi al-Quran

Iaitu suatu aqidah bahawa al-Quran yang ada di tangan umat Islam hari ini sudah diubah, ditokok tambah dan diselewengkan.

1.1. Kepercayaan ini termasuk di dalam dharuriat aliran Syi’ah seperti yang dikatakan oleh Sayyid Hashim al-Bahrani seorang ahli tafsir Syi’ah yang besar di dalam muqaddimah tafsirnya yang bernama al-Burhan. “Saya yakin tentang benarnya (fahaman tentang al-Quran sudah diseleweng dan ditokok tambah) setelah diselidiki dan dikaji riwayat-riwayat dan atsar-atsar sehingga kita boleh memutuskan bahawa kepercayaan kepada perkara ini adalah salah satu daripada dharuriat aliran Syi’ah. (1)

Syeikh Ali Asghrar al-Burujardi salah seorang tokoh Syi’ah di abad ketiga belas menulis di dalam buku aqidahnya, “Wajib kita beri’tiqad bahawa al-Quran yang asal tidak diubah dan ditukarganti (isinya). Al-Quran yang asal ini ada pada Imam al-Asr (Imam Mahdi) – semoga Allah menyegerakan kemunculannya, bukan pada orang lain. Sesungguhnya orang-orang munafiq telah mengubah dan menukargantikan al-Quran yang ada pada mereka itu”. (2)

1.2. Pengakuan tentang tokoh-tokoh Syi’ah tentang aqidah ini:
Allamah an-Nuuri at-Thabarsi menaqalkan daripada Mulla Baqir al-Majlisi bahawa beliau berkata: “Tidak tersembunyi lagi bahawa hadits ini dan banyak hadits-hadits yang lain jelas menunjukkan tentang al-Quran yang ada ini telah dikurangkan dan diubah. Hadith-hadits ini sampai kepada mutawaatir ma’nan, membuangkan kesemuanya boleh menghilangkan sama sekali kepercayaan kita kepada hadits-hadits malah saya yakin bahawa hadits-hadits tentang perkara Imamah. Bagaimana mereka boleh menyabitkan Imamah kepada hadits?” (3)

Di dalam tafsir al-Qummi, pengarangnya Ali bin Ibrahim al-Qummi seorang pentafsir yang tertua di dalam Syi’ah menyebutkan di dalam muqaddimahnya, “Ada di antara isi al-Quran itu nasikh dan mansukh. Ada di antaranya muhkam dan ada pula mutasyaabih. Ada di antaranya berlainan dari yang diturunkan oleh Allah.” (4)

Di dalam kitab Fashlu al-Khitaab, Alamah Husain bin Muhammad Taqiy an-Nuuri at-Thabarsi menukilkan kata-kata Sayyid Ni’Matullah al-Jazaairi, “Bahawa tokoh-tokoh Syi’ah telah sepakat tentang sahihnya hadits-hadits yang sampai ke peringkat mutawaatir yang menunjukkan dengan jelas tentang berlakunya penyelewengan terhadap al-Quran.” (5)

Di antara ulamak dan tokoh-tokoh Syi’ah yang mempercayai demikian dan telah menulis dalam kitab mereka masing-masing ialah al-Kulaini, al-Barqi, al-Iyasyi, an-Nu’mani Furat bin Ibrahim, Ahmad bin Thaha at-Thabarsi, al-Majlisi, as-Sayyid Ni’matullah al-Jazaaifi, al-Hurrul Amili, Allamah al-Fatuni dan Sayyid al-Bahrani. Mereka yang tersebut itu berpegang kepada beberapa ayat al-Quran dan riwayat-riwayat yang tidak mungkin diketepikan sebagaimana yang disebutkan oleh Sayyid Thayyib al-Musavi di dalam Muqaddimah Tafsir al-Qummi halaman 23 hingga 24.

1.3 Contoh al-Quran yang ditakrifkan:
Di sini kita akan mengemukakan beberapa contoh al-Quran yang ditakrifkan menurut Syi’ah:

1.3.1 Al-Kulaini meriwayatkan di dalam al-Kafi dari Abi Basir dari Abi Abdillah a.s berhubung dengan firman Allah di dalam surah al-Ahzab ayat 71.

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

Bermaksud: “Sesiapa yang taat kepada Allah berhubung dengan walayah Ali dan walayah Imam sesudahnya maka sesungguhnya dia mendapat kemenangan yang besar. Demikianlah ayat ini diturunkan.” (6)

1.3.2 Al-Kulaini meriwayatkan lagi di dalam kitab yang sama dari Abdullah bin Sinan dari Abi Abdillah a.s. berhubung dengan firman Allah di dalam Surah Thaha ayat 115.

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْماً

Bermaksud: “Dan sesungguhnya kami telah berpesan kepada Adam pada masa yang lalu dengan beberapa pesanan berhubung dengan Muhamad, Ali, Fatimah, al-Hasan, al-Husain dan para Imam dari zuriat mereka. Tetapi ia lupa demi Allah. Beginilah ayat itu diturunkan kepada Muhammad s.a.w.” (7)

1.3.3 Seorang tokoh hadits dan fiqh Syi’ah yang terkenal di abad ke 6 Hijrah, Ahmad bin Ali bin Abi Thalib at-Thabarsi di dalam kitabnya al-Ihtijaj meriwayatkan bahawa; “Seorang zindiq telah mengemukakan beberapa kritiknya terhadap al-Quran kepada Sayyidina Ali, lalu beliau menjawab kritikan-kritikannya itu. Di antara kritiknya ialah tentang ayat 3 Surah an-Nisa’.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

Menurut kaedah nahu, ayat ini mengandungi jumlah syarthiyyah. Apa yang diperlukan oleh jumlah syartiyyah dari jaza’nya tidak terdapat di dalam ayat ini sedikitpun. Sebagai menjawab kritikan itu Sayyidina Ali berkata: “Ia adalah di antara ayat yang digugurkan oleh munafiqin dari al-Quran. Sebenarnya di antara perkataan “dan” itu terdapat lebih dari 1/3 al-Quran yang terdiri dari ayat-ayat khitab dan ayat-ayat qasas.” (8)
Al-Kasyi juga telah menaqalkan riwayat ini dari at-Thabarsi di dalam tafsirnya as-Shaafi jilid 1 halaman 11.

atas

1.4 Golongan yang bertanggungjawab di dalam usaha menokok tambah al-Quran itu menurut Syi’ah berdasarkan kitab-kitab mereka yang muktabar ialah para sahabat Rasulullah s.a.w.

1.4.1 Allamah Kamaluddin Maitsam al-Bahrani menuliskan tentang pengumpulan al-Quran oleh Sayyidina Utsman r.a. bahawa: “Beliau telah menyatukan orang ramai di atas qiraat Zaid bin Tsabit sahaja dan membakar mashaf-mashaf yang lain. Beliau telah membatalkan (membuangkan) ayat-ayat yang tidak syak lagi sebahagian daripada al-Quran.” (9)

1.4.2 At-Thabarsi meriwayatkan; Di dalam riwayat Abi Zar al-Ghifari (tersebut) bahawa setelah Rasulullah s.a.w wafat, Sayyidina Ali mengumpulkan al-Quran dan membawanya ke muka Muhajirin dan Ansar. Beliau telah menunjukkan al-Quran itu kepada mereka, mengingatkan wasiat Rasullulah s.a.w kepadanya. Abu Bakar membukanya. Pada muka surat pertama lagi rahsia kejahatan mereka (sahabat) telah terdedah. Umar terus melompat dan berkata: “Wahai Ali, ambillah semula mashaf ini, kami tidak memerlukannya.” Ali a.s. pun mengambilnya dan terus pulang. Kemudian Zaid bin Tsabit dipanggil. Dia adalah orang yang ahli tentang al-Quran. Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya tadi Ali datang dengan membawa al-Quran yang di dalamnya tercatit segala kejahatan Muhajirin dan Ansar. Kami fikir mahu menyusun al-Quran dan membuang daripadanya cerita-cerita yang mengaibkan golongan Muhajirin dan Ansar.”

Maka Zaid pun mengambil tugas itu. Kemudian Zaid berkata: “Apabila saya selesai menyusun al-Quran mengikut permintaan kamu itu, dan Ali akan mengemukakan al-Quran yang disusunnya, tidakkah menjadi sia-sia apa yang kamu lakukan ini?” Umar berkata: “Kalau begitu, apa helahnya?” Zaid menjawab: “Kamu lebih tahu tentang helahnya.” Maka Umar pun berkata: “Tidak ada helah lain selain dari kita membunuhnya, dengan itu kita tidak lagi diganggu olehnya”.

Umar pun merancang untuk membunuhnya melalui Khalid bin al-Walid tetapi ia tidak mampu melaksanakan rancangannya itu. Setelah dilantik menjadi Khalifah, mereka (para sahabat) meminta Sayyidina Ali memberikan al-Quran itu kepada mereka (sebenarnya untuk menyelewengkan isi al-Quran itu). Sayyidina Ali berkata: “Mana boleh, tidak ada lagi jalan untuk mendapatkan al-Quran itu. Aku hanya mengemukakan kepada Abu Bakar supaya hujjah tetap ke atas kamu dan kamu tidak dapat berkata pada hari qiamat nanti. Sesungguhnya kami tidak mengetahui tentang perkara ini, atau kamu berkata; Engkau tidak pernah membawa al-Quran ini kepada kami. Sesungguhnya al-Quran yang ada padaku ini tidak dapat disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci dan penerima wasiat dari anak cucuku sahaja.”
Mendengar keterangan Ali a.s. itu Umar berkata: “Adakah waktunya al-Quran itu telah dipastikan?” Ali a.s. menjawab: “Ya, apabila bangkit orang yang bangkit (Imam Mahadi) dari keturunanku, dia akan mengemukakan al-Quran itu dan mengajak manusia menggunakan al-Quran itu.” (10)

atas

1.5 Ulamak-ulamak mutaqaddimin Syi’ah kecuali empat orang dari mereka telah ittifaq tentang telah berlakunya penyelewengan dan tokok tambah pada al-Quran yang ada ini. Mereka berempat itu ialah;

i) Ibn Babwaih al-Qummi yang digelarkan dengan Syeikh Shaduq (w 381H)
ii) Sayyid Murtadha yang digelarkan dengan Alamul Huda (w 436H)
iii) Abu Jaafar at-Thusi (w 460H)
iv) Abu Ali at-Thabarsi (w 548H)

Walau bagaimanapun keempat-empat mereka ini berdasarkan kitab-kitab mereka telah mengakui hakikat ini. Penafian mereka adalah berdasarkan “taqiyyah”.

Untuk mengetahui mengapakah mereka berempat ini menafikan aqidah ini dan begitu juga setengah-setengah ulamak mutaakhirin Syi’ah yang lain walaupun hadits-hadits yang menyebutkan perkara ini sudah sampai ke peringkat mutaawatir dan mustafidh seperti yang disebutkan oleh Mirza Hussain Muhammad Taqiy at-Thabarsi an-Nuuri di dalam bukunya Fashlu al-Khitaab, perlulah kita merujuk kepada keterangan as-Sayyid Ni’matullah al-Jazaairi selepas beliau membuktikan yang al-Quran yang ada ini telah diselewengkan dan ditokok tambah dengan hadits-hadits mustafidh dan mutaawatir. Kata beliau: “Ya, memang benar Sayyid Murtadha, Syaikh Shaduq dan Syaikh Thabarsi berbeza pendapat tentang perkara ini. Mereka mengatakan yang al-Quran yang ada dalam dua kulit mushaf ini ialah al-Quran yang diturunkan, tidak lain, tidak berlakunya apa-apa perubahan atau pindaan …….

Yang jelas kata-kata mereka ini lahir dari beberapa banyak muslihat. Di antaranya ialah menutup pintu kritikan (musuh-musuh Syi’ah) bahawa sekiranya boleh berlaku pengubahan, pindaan dan tokok tambah pada al-Quran ini, bagaimana boleh kita beramal mengikut peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya? Jawapan tentang perkara ini akan diberikan nanti.

Sebabnya ialah bagaimana kita akan menganggap tokoh-tokoh tersebut ini mempercayai al-Quran yang ada ini tidak diubah atau ditokok tambah sedangkan mereka sendiri telah meriwayatkan banyak hadits-hadits di dalam karangan mereka yang menunjukkan telah berlakunya semua perkara tersebut.” (11)

atas

1.6 Sebenarnya faktor yang mendorong golongan Syi’ah berpegang dengan aqidah ini ialah:

1.6.1 Golongan Syi’ah percaya Imamah termasuk salah satu aqidah penting mereka. Seseorang yang tidak menerimanya dianggap sebagai kafir. Oleh kerana tidak terdapat di dalam al-Quran satu ayat pun yang dengan jelas menunjukkan keimanan kepada 12 orang Imam mereka, maka mereka mengadakan kepercayaan bahawa al-Quran yang ada ini telah diubah dan diselewengkan daripada asal untuk membenarkan aqidah mereka. Ini dapat dilihat dari kenyataan yang dinukilkan oleh Sayyid Mohsein al-Kasyi daripada seorang ahli tafsir besar di sisi Syi’ah iaitu al-‘Ayasyi. Beliau telah menyebutkan di dalam tafsirnya satu riwayat dari Abi Jaafar a.s. Kata beliau: “Sekiranya tidak berlaku tokok tambah di dalam kitab Allah, tentulah tidak tersembunyi hak kami (hak Imamah) kepada orang-orang yang mempunyai fikiran.” (12)

1.6.2 Oleh kerana al-Quran yang ada ini penuh dengan pujian dan keutamaan yang diakui oleh Allah terhadap para sahabat Rasullullah s.a.w, maka golongan Syi’ah yang begitu dendam terhadap para sahabat tidak dapat menerima al-Quran yang ada ini adalah al-Quran yang benar dan mereka menganggap segala pujian dan keutamaan para sahabat yang tersebut di dalam al-Quran ini adalah hasil ciptaan dan rekaan para sahabat.

1.6.3 Al-Quran yang ada ini telah diusahakan pengumpulannya oleh sahabat-sahabat agung Rasullullah s.a.w seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar dan Utsman r.a. Sedangkan mereka ini mengikut kepercayaan Syi’ah adalah golongan yang telah merampas hak Sayyidina Ali dan berlaku zalim dan kejam terhadap Ahlul Bait.

1.6.4 Di antara matlamat penting Syi’ah daripada aqidah ini ialah untuk membebaskan manusia dari ikatan ugama dan beramal dengan hukum-hukum Allah. Jika akidah ini tidak diperkenalkan bagaimanakah orang-orang Islam akan dapat melepaskan dirinya dari hukum-hukum Allah?. Untuk itu mereka meriwayatkan hadits-hadits yang palsu atas nama Imam-Imam Ahlul Bait dan Rasullullah s.a.w sendiri. Di antaranya ialah apa yang diriwayatkan oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Yazid bin Mu’awiyah katanya: “Abu Jaafar a.s. berkata: “Ugama tidak lain hanya cinta.” Kemudian Abu Jaafar berkata: “Ada seorang lelaki datang menemui Nabi dan berkata: “Wahai Rasullullah, aku cintakan orang-orang yang sembahyang tetapi aku sendiri tidak sembahyang dan aku cintakan orang-orang yang berpuasa, tetapi aku sendiri tidak berpuasa.” Mendengar kata-kata orang itu Rasullullah s.a.w lantas berkata: “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (13)

atas

2. Aqidah al-Imamah dan al-Walayah

Iaitu kepercayaan bahawa Imam-Imam Dua Belas itu dilantik berdasarkan nas dan mereka adalah maksum

2.1 Kedudukan kepercayaan ini di dalam ajaran Syi’ah:

2.1.1 Kepercayaan ini begitu penting di dalam ajaran Syi’ah, sehingga ia merupakan salah satu syarat keimanan dan dianggap terpenting dari antara rukun-rukun Islam yang lain. Setiap Nabi yang datang telah mengakui keimaman dan walayah Ali dan seseorang yang tidak mengenal Imam-Imamnya dianggap tidak mengenal Allah. Al-Kulaini mengemukakan riwayat dari Fudhail dari Abi Jaafar a.s. Kata beliau: “Islam ditegakkan di atas lima perkara; sembahyang, puasa, zakat, haji dan walayah. Pada hari al-Ghadir tidak ada satu pun daripada rukun-rukun yang tersebut ditekankan sebagaimana penekanan diberikan kepada al-Walayah.” (14)

Al-Kulaini meriwayatkan lagi dari Zurarah dari Abi Jaafar a.s. Kata beliau: “Islam ditegakkan di atas lima perkara iaitu sembahyang, zakat, puasa, haji dan walayah.” Zurarah pun berkata: “Aku pun bertanya yang manakah di antara rukun-rukun yang tersebut itu paling utama?” Abu Jaafar menjawab: “Walayahlah yang paling utama.” (15)

Di dalam kitab Bashaair ad-Darajat dan al-Kafi tersebut riwayat dari Abi Abdillah a.s. bahawa beliau berkata: “Walayah kami adalah walayah Allah yang tidak diutusnya seorang Nabi pun melainkan pasti ia membawanya.” (16)

2.2 Allah tidak mungkin dikenali tanpa dikenali terlebih dahulu para Imam dan orang yang tidak mengenali Imam adalah sesat.

2.2.1 Diriwayatkan dari Abi Abdillah a.s. Katanya: “Kamilah orang yang difardhukan Allah supaya ditaati. Setiap orang mesti mengenali kami. Tidak dimaafkan orang yang tidak mengenali kami. Orang yang mengenali kami adalah mukmin. Sesiapa yang tidak mengenali kami dan menolak kami, dia adalah kafir. Orang yang tidak mengenali kami tetapi tidak menolak kami adalah sesat, sehinggalah ia kembali kepada petunjuk yang Allah fardhukan ke atasnya iaitu kewajipan mentaati kami. Sekiranya ia mati di dalam kesesatannya maka Allah akan melakukan apa yang dikehendakiNya terhadapnya.” (17)

2.2.2 Diriwayatkan dari Abi Hamzah. Kata beliau: “Abu Jaafar berkata kepadaku: “Sesungguhnya orang yang mengenali Allah sahaja yang menyembah Allah. Sesiapa yang tidak mengenali Allah bererti ia menyembahnya dalam sesat.” Aku (Abi Hamzah) bertanya: “Semoga diriku dijadikan tebusan untukmu, apakah yang dimaksudkan dengan mengenali Allah?” Beliau (Abu Jaafar) menjawab: “Membenarkan Allah, membenarkan RasulNya s.a.w, menerima Ali dan Imam-Imam sebagai Imam yang benar dan pembawa petunjuk dan berlepas diri daripada musuh-musuh mereka (para Imam). Begitulah Allah dikenali.” (18)

2.2.3 Diriwayatkan daripada Jabir, beliau berkata: “Aku mendengar Abu Jaafar a.s. berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang mengenali Allah dan ImamNya dari kalangan kami Ahlul Bait sahaja yang mengenali Allah dan tidak mengenali Imamnya dari kalangan kami Ahlul Bait sebenarnya ia mengenalinya dan menyembah selain dari Allah. Demi Allah! Begitulah cara mereka sesat.” (19).

2.3 Imam-Imam dua belas itu maksum, mempunyai kuasa yang luar biasa, mempunyai darjat yang lebih tinggi dari Nabi dan Rasul dan para malaikat yang muqarrabun, boleh menghalalkan dan mengharamkan segala sesuatu dan mereka juga menjadi penentu kepada ahli syurga atau ahli neraka. Imam yang kelapan di sisi Syi’ah iaitu Imam Ali bin Musa ar-Ridha a.s. di dalam satu ucapannya yang panjang lebar telah mengemukakan ciri-ciri dan keutamaan para Imam. Di dalam ucapannya beliau beberapa kali menjelaskan tentang maksumnya Imam itu. Antara lain beliau menyebutkan: “Dia adalah maksum, disokong, diberi taufik dan diluruskan segala tindak tanduknya dari pihak Allah. Dia terpelihara dari segala kesalahan dan kegelinciran. Allah menentukannya dengan sifat-sifat seperti ini supaya dia menjadi hujjah kepada hamba-hambaNya dan menjadi penyaksi ke atas makhlukNya.” (20).

Mereka boleh menghalalkan apa yang dikehendaki oleh mereka dan mengharamkan apa yang dikehendaki oleh mereka. Setiap yang dikehendaki oleh mereka pastilah dikehendaki oleh Allah. (21)

Khalimatul Muhadditsin Allamah Baqir al-Majlisi di dalam kitabnya Hayaatu al-Qulub menulis: “Daripada riwayat-riwayat muktabar yang insya-Allah akan disebutkan nanti akan diketahui bahawa martabat Imamah lebih tinggi daripada martabat nubuwah.” (22)

Ayatullah al-Uzama Ruhullah Khomeini di dalam kitabnya al-Hukumah al-Islamiah dengan jelas menegaskan; “Bahawa sesungguhnya di antara dharuriat dan aqidah-aqidah asasi aliran kita (Syi’ah Imamiah Itsna Asyariah) ialah para Imam mempunyai suatu maqam yang tidak sampai kepadanya malaikat muqarrab dan Nabi yang diutuskan.” (23)

Al-Kulaini meriwayatkan tentang keutamaan dan darjah Sayyidina Ali dan Imam-Imam selepasnya daripada Imam Jaafar as-Shadiq. Kata beliau: “Apa yang dibawakan oleh Ali ku ambil dan apa yang dilarang olehnya ku hentikan. Keutamaan yang diperolehinya sama seperti keutamaan yang diperolehi oleh Muhammad dan Muhammad mempunyai keutamaan di atas semua makhluk Allah Azzawajalla. Orang yang mengkritik salah satu hukum yang diberikan olehnya (Ali) sama seperti orang yang mengkritik Allah dan RasulNya. Orang yang menolaknya sama ada dalam perkara kecil atau besar sama seperti melakukan syirik terhadap Allah. Amirul Mukminin (Ali) adalah pintu Allah yang tidak dapat didatangi kecuali melalui pintu itu dan beliau merupakan jalan yang mana orang yang mengikuti jalan yang lain akan binasa. Demikian juga keutamaan yang diperolehi oleh Imam-Imam yang membawa petunjuk sesudahnya satu demi satu.” (24)

Di dalam riwayat yang sama al-Kulaini menyebutkan Abu Abdillah (Jaafar as-Shadiq) menyebutkan Amirul Mukminin (Sayyidina Ali) selalu berkata: “Aku adalah pembahagi syurga dan neraka dari pihak Allah. Aku adalah pembeza (di antara kebenaran dan kebathilan) yang agung. Padaku ada tongkat (Musa), misam (penanda di antara seseorang mukmin dan munafiq). Sesungguhnya para malaikat, ar-Ruh (Jibril) dan para Rasul telah mengakui aku sebagaimana mereka telah mengakui Nabi Muhammad s.a.w. Sesungguhnya aku telah dibebankan sama seperti Nabi Muhammad s.a.w iaitu bebanan daripada Allah. Rasullulllah s.a.w akan dipanggil (pada hari qiamat nanti) dan diberikan persalinan, aku juga akan dipanggil dan diberi persalinan. Dia (Muhammad s.a.w) akan diminta bercakap, aku juga diminta bercakap. Maka pada ketika itu aku juga akan bercakap seperti dia.

Aku telah dikurniakan beberapa keistimewaan yang tidak pernah dikurniakan kepada sesiapa pun sebelumku. Aku mengetahui ajal manusia dan bencana yang menimpa mereka. Aku juga mengetahui nasab keturunan dan cara penyelesaian yang bijaksana. Tidak terlepas daripadaku pengetahuan tentang sesuatu yang ghaib. Aku menyampaikan berita gembira dengan izin Allah dan menunaikannya dari pihakNya. Semua ini adalah daripada Allah yang telah memampukan aku menguasai semua yang tersebut dengan ilmuNya yang luas.” (25)

atas

2.4 Di antara kepercayaan Syi’ah berhubung dengan Imamah ialah kepercayaan tentang ghaibnya Imam yang ke 12 di dalam dua macam ghaibah;
i) Ghaibah Sughra
ii) Ghaibah Kubra

Sebenarnya bolehlah dikatakan kepercayaan kepada ghaibah ini sebagai satu keajaiban di dalam dunia aqidah.

Kisah kelahiran Imam yang kedua belas yang dianggap sebagai Imam Mahdi dan Shahibu az-Zaman penuh dengan keajaiban dan tidak kurang hebatnya dari Kisah 1001 malam. Sehinggakan ulama-ulamak Syi’ah sendiri tidak mengetahui kelahiran seorang yang akhirnya dianggap sebagai Imam yang kedua belas dan Imam Mahdi daripada Imam yang kesebelas Syi’ah Hassan al-Aksari.

Ghaibah Sughra bermula dari 260H – 328H. Pada masa Ghaibah Sughra ini menurut kepercayaan Syi’ah ada beberapa orang yang dianggap sebagai duta-duta Imam Mahadi kepada orang ramai dan pada masa itu Imam Mahadi dianggap masih dihubungi oleh orang-orang tertentu. Di antara mereka ialah Abu Hashim Daud bin al-Qassim al-Jaafari, Muhammad bin Ali bin Bilal, Abu ‘Amar Utsman bin Sa’id as-Samman, Umar al-Ahwaazi, Ahmad bin Ishaaq dan lain-lain.

Setelah itu dianggap bermula zaman Ghaibah Kubra sehingga kepada suatu masa yang tidak dapat ditentukan oleh sesiapa pun.”

2.5 Kata-kata Khomeini di dalam kitabnya al-Hukumah al-Islamiah; “Sesungguhnya Imam Mahdi telah menghilang diri di dalam Ghaibah Kubranya lebih 1000 tahun yang lampau. Barangkali kehilangannya itu akan berterusan selama beberapa ribu tahun lagi sebelum tiba masa keperluan menghendaki munculnya Imam yang dinantikan itu.” (26)

2.6 At-Thabarsi menaqalkan kata-kata Imam Syi’ah yang kesembilan iaitu Muhammad bin Ali berhubung dengan Imam yang kedua belas di dalam kitabnya al-Ihtijah. Kata beliau: “Dialah orang yang kelahirannya tersembunyi dari orang ramai dan dirinya akan terus ghaib dari penglihatan mereka. Sahabat-sahabatnya sebilangan ahli Badar iaitu seramai 313 orang dari seluruh pelusuk bumi akan berkumpul kepadanya. Apabila telah berkumpul orang-orang ikhlas sebanyak bilangan tersebut bersamanya, ketika itu Allah akan menzahirkan urusanNya (akan mengeluarkannya dari Ghaibah Kubranya).” (27)

Riwayat ini bermakna di sepanjang zaman ghaibah Imam Mahdi ini, tidak lagi terkumpul sebanyak bilangan tersebut orang-orang Syi’ah yang ikhlas walaupun pada zahirnya mereka kelihatan ramai. Bagaimanakah agaknya Syi’ah yang ikhlas ini !!

Mulla Baqir al-Majlisi menaqalkan satu riwayat dari Imam al-Baqir bahawa beliau berkata: “Apabila qaim dari keluarga Muhammad s.a.w muncul, Allah akan menolongnya melalui para malaikat dan orang yang mula-mula sekali akan berbai’ah kepadanya ialah Muhammad dan selepas itu, Ali.” (28)

Di dalam kitab yang sama Mulla Baqir al-Majlisi menaqalkan satu riwayat dari Muhammad al-Baqir yang berasal dari kitab Ilalu as-Syaraa’i karangan Ibn Babwaih al-Qummi, kata beliau: “Apabila muncul Imam Mahdi nanti, beliau akan menghidupkan kembali A’isyah dan akan menjalankan hukum had (zina) ke atasnya dan akan membalas dendam Fatimah terhadapnya.” (29)

atas

3. Aqidah Takfir as-Sahabah (Aqidah Mengkafirkan Sahabat)

Kepercayaan Syi’ah tentang majoriti para sahabat telah murtad tidak tersembunyi kepada sesiapa sahaja yang pernah membaca kitab-kitab Syi’ah, sehingga bolehlah dikatakan tidak ada sebuah kitab Syi’ah yang muktabar terutamanya yang ditulis oleh ulamak-ulamak mereka yang lalu melainkan pasti tersebut di dalamnya riwayat-riwayat yang mengkafirkan atau memurtadkan para sahabat atau melaknat, memaki hamun dan melakukan tabarri (tabarra – yakni menyatakan sikap berlepas diri dan tidak mempunyai hubungan kasih sayang) terhadap mereka. Tidak terlepas daripada tuduhan-tuduhan mereka sahabat-sahabat besar Rasullullah s.a.w sekalipun seperti Sayyidina Abu Bakar, Umar, Uthman, Abdul Rahman bin ‘Auf, isteri-isteri Rasullullah s.a.w dan lain-lain.

Di sini kita akan mengemukakan beberapa contoh sahaja daripadanya:

3.1 Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Jaafar as-Sadiq kata beliau: “Para sahabat telah menjadi murtad sepeninggalan Rasullullah s.a.w kecuali tiga orang dari mereka.” Aku bertanya (kata perawi): “Siapakah yang tiga itu?” Abu Jaafar menjawab: “Miqdad bin al-Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al- Farisi.” (30)

Al-Kulaini meriwayatkan daripada Hanan dari ayahnya dari Abi Jaafar a.s. Ayahnya berkata: “Aku bertanya kepadanya (kepada Abi Jaafar): “Anak-anak Yaakub bukan para Nabi?” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi mereka adalah asbat (cucu-cucu) anak-anak para Nabi. Mereka tidak meninggal dunia melainkan dalam keadaan bahagia dan bertaubat dan menyesali apa yang telah mereka lakukan dan sesungguhnya Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) meninggal dalam keadaan tidak bertaubat dan tidak menyesali apa yang mereka lakukan terhadap Amirul Mukminin a.s. Atas mereka berdua laknat Allah, para malaikat dan manusia sekalian.“ (31)

3.2 Syaikh at-Thusi meriwayatkan bahawa Kummait bin Zaid datang menemui Abu Jaafar a.s. lalu bertanya Abu Jaafar tentang Syaikhain (Abu Bakar dan Umar). Abu Jaafar menjawab: “Tidak berlaku pertumpahan darah dan tidak diputuskan sesuatu hukuman yang tidak sesuai dengan hukum Allah, hukum Nabi dan hukum Ali a.s. melainkan dosanya diletakkan di atas tengkuk mereka berdua.”

Mendengar jawapan Abu Jaafar, Kummait berkata: “Allahu Akbar! Allahu Akhbar! Cukuplah, cukuplah.” (32)

Di dalam satu riwayat yang lain at-Thusi mengemukakan satu lagi riwayat iaitu Kummait berkata: ‘Tuan, saya mahu bertanya tuan tentang satu masalah.” Ketika Kummait berkata demikian, Abu Abdillah (Jaafar as-Shadiq) sedang bertelekan di atas bantal. Tetapi sebaik sahaja al-Kummait berkata demikian, beliau terus membetulkan duduknya dan meletakkan bantal di bawah dadanya kemudian berkata: “Tanyalah.” Kummait berkata: “Saya mahu bertanya tuan tentang dua orang itu (Abu Bakar dan Umar).” Abu Abdillah berkata: “Wahai Kummait bin Zaid, tidak tumpah darah dengan cara tidak sebenar di dalam Islam, tidak diperolehi harta dari sumber yang tidak halal, dan tidak dicampuri perempuan secara haram melainkan dosa kesemuanya teletak di atas tengkuk mereka berdua sehingga muncul qaim kita (Imam Mahdi). Kita golongan dari Bani Hasyim menyuruh sama ada orang-orang tua dan orang-orang muda dari kalangan kita memaki mereka berdua dan begitu juga menyatakan sikap berlepas diri dari mereka (tabarra).” (33)

3.3 Allamah Baqir al-Majlisi menulis di dalam kitabnya Hayaatu-al-Qulub bahawa ‘Ayyasi telah meriwayatkan dengan sanad yang muktabar dari Imam Jaafar as-Shadiq bahawa Aisyah dan Hafsah telah meracun Rasulullah s.a.w sehingga Rasulullah s.a.w wafat kerananya. (34)

atas

4. Aqidah ar-Raj’ah

Salah satu aqidah Syi’ah yang jelas bercanggah dengan ajaran Islam ialah kepercayaan mereka tentang akan dibangkitkan para Imam sebelum qiamat untuk menuntut bela atau menghukum orang-orang zalim yang telah merampas hak-hak mereka. Kepercayaan ini merupakan perkara yang telah diijmakkan oleh para ulamak Syi’ah.

4.1 Syaikh Mufid berkata: “Golongan Imamiah sependapat tentang wajibnya raj’ah (kembali) sebahagian besar dari orang-orang mati ke dunia sebelum qiamat.” (35)

4.2 Syarif al-Murtadha yang digelarkan di kalangan orang-orang Syi’ah dengan ‘Alamul Huda di dalam jawapannya kepada persoalan raj’ah yang dikemukakan kepadanya berkata: “Pegangan Syi’ah Imamiah ialah Allah Ta’ala akan membangkitkan (menghidupkan semula) ketika munculnya Imam Mahdi satu golongan yang telah terdahulu meninggal daripada Syi’ahnya dan satu golongan yang lain daripada musuh-musuhnya.” (36)

4.3 Al-Majlisi meriwayatkan daripada Jaafar as-Shadiq a.s. bahawa beliau berkata: “Orang yang mula-mula terbelah bumi kerananya dan bangkit ke dunia (sebelum qiamat) ialah Husain bin Ali dan raj’ah itu bukanlah umum tetapi ia suatu yang khusus. Tidak akan kembali (bangkit sebelum qiamat) kecuali mukmin sejati atau kafir sejati.” (37)

Al-Majlisi meriwayatkan daripada Bukair bin A’yan katanya: “Orang yang aku tidak ragui (Jaafar as-Shadiq) telah menceritakan kepadaku bahawa Rasulullah s.a.w dan Ali akan bangkit sebelum qiamat (raj’ah).” (38)

Diriwayatkan daripada Jaafar as-Sadiq beliau berkata: “Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Tuhanku telah memperjalankan aku pada waktu malam dan mewahyukan kepadaku dari balik tabir apa yang diwahyukanNya dan telah bercakap denganku apa yang dicakapkanNya. Di antara percakapanNya denganku ialah: “Wahai Muhammad, Ali adalah orang yang paling akhir Aku mengambil nyawanya dari para Imam Dua Belas.” (39)

Setelah mengemukakan beberapa banyak riwayat tentang raj’ah al-Majlisi berkata di dalam kitabnya Biharu al-Anwar: “Ketahuilah wahai saudaraku, aku yakin bahawa engkau tidak akan meragui lagi tentang raj’ah setelah aku menjelaskan kedudukannya yang telah diijmak oleh Syi’ah di setiap zaman dan kepercayaan tentangnya di kalangan mereka terlalu jelas dan umum bagaikan matahari di siang hari. Bagaimanakah seseorang mukmin akan meragui kebenaran para Imam mereka yang suci di dalam hadits-hadits mutawaatir yang telah diriwayatkan dari mereka lebih 200 orang dan telah diriwayatkan pula oleh lebih dari 40 orang tokoh-tokoh ulamak yang dipercayai di dalam lebih dari 50 karangan mereka masing-masing.” (40)

atas

5. Penutup

Demikianlah dengan serba ringkasnya kita bentangkan aqidah-aqidah Syi’ah dari kitab-kitab muktabar mereka. Semoga keterangan-keterangan yang diberikan memberi manfa’at kepada kita semua dan semoga Allah sentiasa membimbing kita di jalan yang lurus.

Firman Allah:

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ


Bermaksud:

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau belokkan hati-hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan kurniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMu. Sesungguhnya Engkau Tuhan Yang Maha Mengurniakan.”

(Surah Al’Imran – ayat 8)

atas


Nota:

1 Al-Bahrani – al-Burhan fi Tafsiri al-Quran – Muqaddimah Fasal 4, halaman 49
2 Al-Burujardi-‘Aqaaidu as-Syi’ah – halaman 27
3 An-Nuuri at-Thabarsi – Fashlu al-Khitaab – halaman 353
4 Al-Qummi – Tafsir al-Qummi – Muqaddimatu al-Kitab – j.1 halaman 5
5 An-Nuuri at-Thabarsi – Fashlu al-Khitaab – halaman 30
6 Al-Kulaini – al-Kafi – al-Hujjah Min al-Kafi – jilid 1 halaman 414
7 Al-Kulaini – al-Usul Min al-Kafi jilid 1 halaman 119
8 Ahmad bin Ali-at-Thabarsi – al-Ihtijaj halaman 119
9 Maitsam al-Bahrani – Syarah Nahju al-Balaghah jilid 11 halaman 1
10 At-Thabarsi – al-Ihtijaj halaman 76-77
11 Ni’matullah al-Jazaairi-al-Anwar an-Nu’maniah – jilid 2 halaman 357
12 Al-‘Ayasyi – Tafsir as-Shafi – Muqaddimah Keenam – hal 10
13 Al-Kulaini – Ar-Raudhah Min al-Kafi – jilid 8 halaman
14 Al-Kulaini – al-Usul Min al-Kafi – jilid 2 halaman 20
15 Al-Kulaini –Usul Kafi – jilid 2 halaman 18
16 Bashaairu ad-Darajat – jilid 2 Bab 9
17 Al-Kulaini – al-Kafi – jilid 1 halaman 187
18 Al-Kulaini – al-Usul Min al-Kafi – jilid 1 halaman 180
19 Ibid – halaman 181
20 Ibid – hal 203
21 Ibid – halaman 441
22 Baqir al-Majlisi – Hayaatu al-Qulub – jilid 3 hal 10
23 Khomeini – al-Hukumah al-Islamiah – hal 52
24 Al-Kulaini – al-Usul Min al-Kafi – jilid 1 halaman 196
25 Ibid – halaman 196 - 197
26 Khomeini – al-Hukumah al-Islamiah –hal 26
27 At-Thabarsi – al-Ihtijaj’Ala Ahli al-Lajaj – halaman 230
28 Al-Majlisi – Haqqu al-Yaqin – hal 139
29 Ibid-halaman 139
30 Al-Kulaini – ar-Raudhah Min al-Kafi – jilid 8 hal 245
At-Thusi – Rijal al-Kasyi – jilid 1 halaman 6
Al-Majlisi – Hayaatu al-Qulub – jilid 2 halaman 640
31 Al-Kulaini – ar-Raudhah Min al-Kafi – jilid 8 halaman 246
32 At-Thusi – Ikhtiar Ma’rifati ar-Rijal – jilid 3 halaman 205 – 206
33 Ibid—halaman 206 – 207
34 Al-Majlisi – Hayaatu al-Qulub – jilid 2 halaman 870
35 Syaikh Mufid – Awaailu al-Maqaalat – halaman 52
36 Mohsein al-Amin – A’yaanu as-Syi’ah – jilid 1 halaman 132
37 Al-Majlisi – Biharu al-Anwar – jilid 13 halaman 210
Al-Kasyi – Tafsir as-Shaafi – jilid 1 halaman 959
38. Al-Majlisi – Biharu al-Anwar – jilid 13 hal 210
39. Ibid halaman 217
40. Al-Majlisi – Biharu al-Anwar – jilid 13 halaman 225

atas

http://adiko.multiply.com/journal/item/14

BAHAYA SYIAH KEPADA AQIDAH, SYARIAH, AKHLAK, UMMAH DAN NEGARA

BAHAYA SYIAH KEPADA AQIDAH, SYARIAH, AKHLAK, UMMAH DAN NEGARA

MUQADDIMAH

1. BAHAYANYA KEPADA AQIDAH

1.1.1 Aqidah Syirik Dengan Allah
1.2 Di antara Aqidah Syiah yang sungguh menyesatkan ialah Aqidah Bada’.
1.3 Di antara aqidah Syiah ialah at-Tahrif fi al-Quran, iaitu satu aqidah tentang al-Quran yang ada di tangan umat Islam hari ini sudah diubah, ditokok tambah dan diselewengkan.

2. BAHAYANYA KEPADA SYARIAT

3. BAHAYA KEPADA AKHLAK

3.1.2 Kebiadaban dan Penghinaan Terhadap Isteri-Isteri Nabi S.A.W.
3.1.3 Kebiadaban dan Penghinaan Terhadap Sahabat-Sahabat Rasulullah S.A.W yang lain.
3.2 Diantara ciri yang tidak dapat dipisahkan dari Syiah ialah “Taqiyyah”.

4. BAHAYANYA KEPADA UMMAH

4.1. Memecahbelahkan Ummah
4.2 Mempercayai perkara-perkara bidaah khurafat dan tahyul serta mengamalkannya.
4.3 Keganasan Akan Berlaku Dikalangan Ummah.
4.4 Memusnahkan Imej Islam.

5. BAHAYANYA KEPADA NEGARA

6. PENUTUP

MUQADDIMAH

Ajaran Syiah pada hakikatnya adalah satu ajaran yang dirancang dan disusun sekian lama oleh musuh-musuh Islam. Ia merupakan hasil dan buah daripada pokok-pokok beracun yang ditanam oleh musuh-musuh Islam di bumi Islam.
Untuk mengetahui betapa bahayanya ajaran Syiah kepada aqidah, syariah dan umat Islam, perlu kita merenung kembali sejarah silam ke zaman khalifah Islam ketiga, ketika mana gerakan menentang khalifah dan usaha-usaha menggugat perpaduan umat di setiap wilayah yang dikuasai Islam pada masa itu dilancarkan begitu hebat sehingga akhirnya terkorban syahid Khalifah Umat Islam Uthman bin Affan yang telah dikahwinkan oleh Rasulullah s.a.w. dengan dua orang cahaya matanya, seorang yang berkali-kali dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w. sebagai ahli syurga kerana besar jasa dan sumbangan yang diberikan oleh Uthman dengan mencurahkan harta bendanya yang banyak untuk melengkapkan `Jaisyu al ‘Usrah. Rasulullah s.a.w. bersabda bermaksud: “Selepas hari ini tiada amalan lagi boleh merosakkan Uthman.”
(Ahmad-Tirmidzi).

Umat Islam setelah itu tidak lagi dapat menumpukan perhatian mereka kepada musuh Islam dan pedang mereka tidak lagi terhunus ke muka musuh-musuh yang terdiri daripada Yahudi, Nasrani, Majusi dan sebagainya tetapi sebaliknya mereka mula bercakaran sesama sendiri. Pedang dan lembing mereka mula bergemerincing di medan perang saudara sehingga beberapa lama.

Jika di zaman masyarakat Islam yang sebilangan besarnya terdiri daripada orang-orang yang dididik oleh Rasulullah s.a.w. sendiri dan masih ramai orang yang imannya teguh dan keyakinan tentang Islam begitu mendalam, racun-racun yang disemburkan oleh mereka itu telah dapat juga melemahkan sebahagian anggota masyarakat Islam sehingga menimbulkan huru-hara yang berpanjangan, bayangkanlah bagaimana agaknya jika racun yang begitu berbisa itu disemburkan ke tubuh masyarakat Islam hari ini yang mana anggotanya terdiri daripada orang-orang yang lemah aqidahnya, cetek pengetahuannya tentang selok belok ajaran Islam dan tidak pula mendapat pendidikan Islam yang sempurna, tentu sekali dalam masa yang singkat wajah masyarakat Islam akan berubah kepada rupa yang sungguh menakutkan.

Apakah intisari ajaran Syiah permulaan yang dikepalai oleh Ibnu Saba’ itu? Apakah fahaman-fahaman tajaan Syiah permulaan yang telah berjaya menggugat Islam dari dalam dan telah melemahkan ikatan persaudaraan Islam pada ketika itu? Jawapannya akan kita temui dalam ajaran dan fahaman Syiah hari ini.

Umat Islam hari ini perlu menjadikan sejarah yang lampau sebagai pengajaran dan iktibar, jika tidak sejarah akan berulang lagi. Tidak mungkin umat Islam yang berpegang dengan al-Quran dan as-Sunnah boleh terperangkap dengan jerangkap-jerangkap yang dipasang oleh musuh-musuh yang telah tercatat dalam sejarah muram mereka.

Mukmin sejati mustahil akan terjebak ke dalam fahaman-fahaman salah yang dikemukakan oleh musuh-musuh yang pernah menikam nenek moyang mereka dahulu kerana Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
"لا يلدغ المؤمن من جحر واحد مرتين"
Maksudnya: “Orang mukmin tidak disengat dua kali di lubang yang sama.”

Walaupun golongan Syiah hari ini menafikan hubungannya dengan ajaran yang dibawa oleh Ibnu Saba’ dan rakan-rakannya namun penafian itu tidaklah membawa apa-apa erti jika persamaan di antara kedua-duanya diketahui dan diakui oleh umum termasuk pengikut Syiah sendiri. Lihatlah kepada at-Thusi, seorang tokoh ulamak mutaqaddimin Syiah, beliau dianggap sebagai tokoh yang mendalam ilmunya tentang riwayat dan rijal menuliskan di dalam kitabnya yang dianggap sebagai kitab yang terpenting tentang Rijal Syiah yang dikenali dengan `Rijal Kasyi’. Sebahagian ahli ilmu menyebut bahawa Abdullah Ibnu Saba’ adalah seorang Yahudi yang kemudiannya memeluk Islam dan membela Sayyidina Ali a.s. Semasa beragama Yahudi dia berpendapat Yusya’ bin Nun merupakan Washi bagi Nabi Musa secara ekstrim. Setelah dia masuk Islam (secara pura-pura), fahaman yang sama dibawakan tentang Ali sebagai Washi bagi Rasulullah s.a.w. sepeninggalan Baginda s.a.w. Dialah orang yang mula-mula mengisytiharkan kewajiban melantik Ali sebagai Imam, menyatakan secara terbuka penentangannya terhadap musuh-musuh Ali dan berlepas diri dari mereka bahkan mengkafirkan mereka. Dari sinilah orang yang menentang Syiah mengatakan punca ajaran Syiah dan Rafidhah ialah Agama Yahudi. (Rijal Kasyi Hal: 108)

Di antara tokoh-tokoh Syiah yang juga telah menyebutkan perkara yang sama ialah an-Naubakhti dalam “Firaq asy-Syiah” (hal: 43-44), al-Hulli dalam “Kitabul al-Rijal” (hal: 469), Mamaqami seorang tokoh ulamak mutaakhir Syiah tentang Rijal dalam kitabnya “Tanqihu al-Maqal” Jilid 2 hal: 184), al-Ustarabadi dalam kitab “Manhaju al-Maqal” (hal: 203), Ibnu Abi al-Hadid dalam “Syarah Mahju al-Balaghah” (Jilid 2 hal: 309), Syeikh Abbas al-Qummi dalam kitabnya “Tuhfatu al-Ahbab” (hal: 184) dan lain-lain.

Di kalangan tokoh-tokoh ahli Sunnah pula yang menyebutkan ajaran Ibnu Saba’ dan peranannya dalam memecahbelahkan umat Islam ialah Abu Hasan al-Asyaari dalam “Maqalat al-Islamiyin” (Jilid 1 hal:50), Abdul Qahir al-Baghdadi dalam “al-Farqu Baina al-Firaq” (hal: 233-235), al-Isfiraini dalam “at-Tabsir fi ad-Din” (hal: 108-109), Syahrastani dalam “al-Milal wa an-Nihal” (Jilid 2 hal: 11), at-Tabari dalam “Tarikh al-Umam wa al-Muluk” (Jilid 5 hal 90), Ibnu Kathir dalam “al-Bidayah wa an-Nihayah” (Jilid 7 Hal: 167), Hafiz Ibnu Hajar dalam “Lisan al-Mizan” (Jilid 3 hal: 289) dan lain-lain.

Sebenarnya jika kita perhatikan dengan teliti dan kita mengkaji ajaran Syiah dari semua aspek aqidah, syariah, akhlak dan lain-lain maka kita akan dapati ajaran-ajaran itu telah dirancang sebegitu rupa untuk mengambil alih agama Islam yang sedia ada supaya umat Islam secara tidak sedar menganut dan mengamalkan ajaran-ajaran yang bukan berasal dari Islam sama sekali. Pada ketika itu Islam yang dianuti pada hakikatnya hanya nama semata-mata atau Islam yang palsu dan Islam yang palsu itu tentu sekali tidak membimbangkan atau menggugat kedudukan agama-agama dan fahaman-fahaman lain yang terdapat di dunia. Segala-galanya disusun dan direncanakan sehingga umat Islam sendiri yang pengetahuannya tidak begitu mendalam tentang Islam dapat menerima ajaran yang dikemukakan mereka sebagai ajaran Islam.

Di sini kita akan mendedahkan kepalsuan ajaran Syiah, percanggahannya dengan agama Islam yang suci dan bahayanya kepada umat Islam di setiap tempat supaya agama yang mereka mahu hapuskan dan lenyapkan dari muka bumi (Islam) ini tetap akan mengibarkan bendera kemenangannya sesuai dengan firman Allah yang bermaksud:

“Dialah yang telah mengutuskan Rasulnya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangnya atas segala agama walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukainya” (at-Taubah –ayat 33).

Di antara bahaya dan percanggahan ajaran Syiah dengan Islam yang akan kita kemukakan di sini ialah:
1. Bahayanya kepada aqidah
2. Bahayanya kepada syariat
3. Bahayanya kepada akhlak.
4. Bahayanya kepada ummat.
5. Bahayanya kepada negara.

1. BAHAYANYA KEPADA AQIDAH

1.1.1 Aqidah Syirik Dengan Allah
1.1.2 Muhammad Bin Yaakub al-Kulaini meriwayatkan dalam “Ushul Kahfi” dari Abi Abdillah, kata beliau:-

“Sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan Imam. Dia boleh meletakkannya di mana dikehendaki dan memberikan kepada sesiapa yang dikehendakinya. Itu adalah satu kebenaran dari pihak Allah kepadanya.”( al-Kafi jilid 1 hal :409, bab “dunia ini semuanya kepunyaan Imam”). Sedangkan Allah telah berfirman di dalam al-Quran yang berbunyi:-

"إن الأرض لله يوثرها من يشآء من عباده"

“Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah. Diberikannya kepada sesiapa yang dikehendakinya dari hamba-hambanya” ( al-A’raf Ayat 128)
Allah berfirman:-

"لله ملك السموات والأرض"

“KepunyaanNyalah kerajaan langit dan bumi…..”(al-Hadid Ayat 2)

1.1.3 Allah menyatakan sifatnya dalam al-Quran sebagai yang awal dan akhir, yang zahir dan yang batin sebagaimana firmanNya:-

"هو الأول والأخر والظاهر والباطن"

“Dialah yang awal dan akhir, yang zahir dan yang batin”( al-Hadid Ayat 3)
Tetapi Syiah meriwayatkan kononnya Saidina Ali r.a berkata:-

" انا الأول وانا الأخر وانا الظاهر وانا الباطن وانا وارث الأرض"

“Akulah yang awal dan yang akhir, akulah yang zahir dan akulah yang batin, akulah pewaris bumi……..”(Rijal al-Kasyi hal :211)
Sedangkan Allah berfirman:-

" انا نحن نرث الأرض ومن عليها"

“Kamilah pewaris bumi dan sekelian makhluk yang ada di atasnya……..”( Surah Maryam Ayat 40)

1.1.4 al-Kulaini menyebut dalam Usul Kafi bahawa Imam Muhammad al-Baqir berkata: “Kami adalah wajah Allah, Kami adalah mata Allah di kalangan makhlukNya dan Kami adalah tanganNya yang terhampar menghulurkan rahmat kepada hambaNya.” (Usul Kafi Hal.83). Begitu juga diriwayatkan dari Abi Abdillah (Ja’far as-Sadiq) bahawa Amirul Mukminin Ali a.s selalu berkata: “Akulah pembahagi syurga dan neraka bagi pihak Allah……aku dikurniakan beberapa keistimewaan yang tidak pernah dikurniakan kepada sesiapa pun sebelumku, aku mengetahui kematian dan bencana yang menimpa manusia, keturunan mereka dan kemampuan memutuskan perkara yang tepat. Sesuatu yang telah berlaku tidak terlepas dari pengetahuanku dan tidak tersembunyi dari pengetahuanku apa yang tidak ada di hadapanku.” (Kitab al-Hujjah Min al-Kafi j.1 hal:197)

Seorang ahli tafsir Syiah yang terkenal bernama Maqbul Ahmad dalam tafsirnya ketika mentafsirkan ayat berbunyi :-

" كل شىء هالك الا وجهه"

“Segala sesuatu akan binasa kecuali wajahNya……….”( al-Qashah Ayat 88),
meriwayatkan bahawa Ja’far as-Sadiq mentafsirkan ayat ini dengan: “Kamilah wajah Allah itu.”

1.1.5 Al-Kulaini mengadakan satu bab yang tajuknya berbunyi:-
“Para Imam mengetahui perkara yang lalu dan yang akan datang dan tidak tersembunyi daripada pengetahuan mereka sesuatu pun”.
Di dalam bab ini beliau mengemukakan satu riwayat dari Ja’afar as-Sadiq bahawa beliau berkata:

“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Aku mengetahui apa yang ada di syurga dan di neraka. Aku mengetahui perkara yang berlalu dan perkara yang akan datang.” (Ibid jilid 1 hal 261)

1.1.6 Di dalam kitab yang sama tersebut bahawa para Imam boleh menghalalkan dan mengharamkan apa yang mereka kehendaki dan mereka sekali-kali tidak menghendaki melainkan apa yang dikehendaki Allah. ( al-Ushul Min al-Kafi jilid1 hal:441) Sedangkan Allah berfirman di dalam al-Quran:-

" يا أيها النبيٌ لم تحرم ما احل الله لك "

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu………”(at-Tahrim Ayat 1)

Ini bermakna Syiah menyengutukan Allah dengan para Imam mereka dalam mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, di dalam kitab itu juga al-Kulaini meriwayatkan bahawa as-Sadiq berkata:-

“Mana-mana Imam yang tidak mengetahui sesuatu yang akan menimpanya dan ke mana mereka akan pergi maka ia bukanlah hujjah dari pihak Allah kepada makhlukNya.” (al-Usul Min al-Kafi jilid hal:285)

Sedangkan Allah berfirman yang bermaksud:-

" قل لا يعلم من في السموات والأرض الغيب إلا الله"

“Katakan tiada siapa pun mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi melainkan Allah” (al-Naml Ayat 65)
Di sinilah Syiah menyengutukan Allah dengan Imam-Imam mereka dalam mengetahui perkara ghaib.

atas


1.2 Di antara Aqidah Syiah yang sungguh menyesatkan ialah Aqidah Bada’.
Aqidah ini juga telah dipopularkan oleh Ibn Saba’.]

1.2.1 Bada’ bermakna:
(a) Nyata atau jelas sesuatu setelah tersembunyi seperti yang terpakai dalam firman Allah yang berbunyi:-

"وبدا لهم من الله ما لم يكونوا يحتسبون"

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang tidak pernah terfikir oleh mereka” (Surah Az-Zumar Ayat 47)

(b) Timbul fikiran baru tentang sesuatu setelah melihat keadaan yang berlainan dari apa yang ada dalam pengetahuan seseorang sebelumnya. Ini terpakai dalam firman Allah yang berbunyi :-

" ثم بدا لهم من بعد ما رأو الأيت ليسجننه حتى حين"

“Kemudian timbul fikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahawa mereka mesti memenjarakannya hingga ke suatu masa” (Surah Yusuf , Ayat 35)

Kesimpulannya Bada’ bererti jahil tidak mempunyai ilmu yang meliputi. Golongan Syiah mempercayai Allah bersifat dengan sifat al-Bada’.

Di dalam al-Kafi terdapat satu riwayat yang dikemukakan oleh al-Kulaini dari ar-Rayyan Bin as-Salt, dia berkata: “Aku mendengar ar-Ridha a.s berkata: “Tidak ada seorang pun nabi yang diutus Allah melainkan ia membawa ajaran tentang haramnya arak dan ajaran yang memperakui Allah bersifat dengan al-Bada’.” ( al-Usul Min al-Kafi jilid 1 hal.148)

Hakikat Bada’ ini dihuraikan oleh satu riwayat lain dengan lebih jelas lagi, iaitu riwayat yang dikemukakan oleh al-Kulaini juga dari Abi Hasyim al-Ja’afari katanya: “Pernah aku berada di samping Abi al-Hassan a.s. sepeninggalan anaknya Abu Ja’afar. Ketika itu aku berfikir di dalam diriku dan mahu menceritakan kepadanya apa yang terlintas di hatiku. Seolah-olah Abu Ja’afar dan Abu Muhammad dalam keadaan ini seperti Abu al-Hassan bin Musa dan Ismail bin Ja’afar bin Muhammad. Kisah kedua-duanya sama kerana Abu Muhammad yang diharapkan (menjadi Imam sepeninggalan Abu Ja’afar). Tiba-tiba Abu al-Hassan menghadap ke arahku sebelum lagi aku menceritakan isi hatiku kepadanya, terus dia berkata: “Ya, Wahai Abu Hasyim memang telah berlaku kepada Allah berhubung dengan Abu Muhammad sepeninggalan Abu Ja’afar apa yang Ia (Allah) tidak mengetahui sebelumnya seperti mana telah berlaku kepada Allah tentang Musa sepeninggalan Ismail. Perkara ini memang seperti apa yang terlintas di hatimu walaupun tidak disenangi oleh orang-orang yang sesat. Abu Musa adalah anakku yang menjadi pengganti sesudahku kerana padanya ada pengetahuan yang diperlukan dan bersamanya ada alat Imamah.” (al-Usul Min al-Kafi jilid 1 hal: 327).

An-Naubakhti menyebutkan bahawa Ja’afar bin Muhammad al-Baqir telah menentukan anaknya Ismail sebagai Imam sesudahnya dan beliau telah mengisyaratkan kepadanya semasa hidup lagi, tiba-tiba Ismail mati ketika beliau masih hidup. Maka Ja’afar pun berkata: “Tidak pernah berlaku kepada Allah (al-Bada’) berhubung dengan sesuatu seperti mana berlaku kepadanya berhubung dengan Ismail anakku.” (Firaq as-Syiah hal. 84).

atas

1.2.2 Untuk menguatkan lagi aqidah al-Bada’ ini golongan Syiah mengemukakan riwayat yang kononnya berasal daripada Muhammad al-Baqir bahawa Nabi Luth a.s. juga bimbang akan berlaku Bada’ pada Allah sehingga Baginda tidak sabar-sabar lagi meminta para malaikat yang diutuskan untuk menyiksa kaumnya supaya menyegerakan penyiksaan terhadap mereka sebelum berlaku perubahan pada kehendak Allah kerana sesuatu sebab yang tersembunyi kepadaNya sebelum itu dan baru nyata kemudian setelah berlaku sebab itu (al-Bada). Inilah dialog Nabi Luth dengan para Malaikat yang tersebut di dalam riwayat itu:-

Luth berkata kepada mereka: “Wahai utusan-utusan Tuhanku, apakah perintah Tuhanku kepada kamu terhadap mereka?”
Para Malaikat menjawab: “Ia memerintah kami supaya menimpakan azab ke atas mereka pada dinihari nanti.”
Nabi Luth berkata: “Aku ada hajat dengan kamu.”
Mereka tanya: “Apakah hajatmu itu?”
Nabi Luth berkata: “Kamu timpakanlah azab ke atas mereka sekarang juga kerana aku bimbang akan berlaku Bada’ kepada Tuhanku tentang mereka.”
Para malaikat berkata: “Wahai Luth! Sesungguhnya masa yang dijanjikan untuk menimpakan azab ke atas mereka itu ialah Subuh, bukankah Subuh itu sudah hampir?”(al-Furu’ Min al-Kafi Jilid 5 Hal: 546).

1.2.3. Al-Bada’ mempunyai kelebihan yang tersendiri dalam aqidah Syiah sehingga mereka menganggapnya sebagai pernyataan ubudiyyah terhadap Allah yang tidak ada tolok bandingnya. Mereka meriwayatkan dari Muhammad al-Baqir bahawa beliau berkata: “Tidak ada satu pun pernyataan ubudiyyah kepada Allah yang menyamai al-Bada’.” (al-usul Min al-Kafi Jilid 1 hal: 146).

Daripada Ja’afar as-Sadiq pula mereka meriwayatkan bahawa beliau berkata: “Tiada suatu pun cara pengagungan terhadap Allah yang menyamai al-Bada’.” (Ibid).

Dari Ja’afar as-Sadiq juga, mereka meriwayatkan bahawa beliau berkata: “Sekiranya manusia mengetahui pahala yang terdapat pada memperkatakan dan mempercayai al-Bada’ tentulah mereka tidak jemu-jemu memperkatakannya.” (al-Usul Min al-Kafi Jilid 1 hal: 148).

Lihatlah bagaimana Syiah menghubungkan sifat jahil kepada Allah s.w.t dan menganggapnya sebagai puncak pernyataan ubudiyyah kepada Allah sedangkan Allah s.w.t telah berfirman:-
" وأن الله قد احاط بكل شيء علما"
“Dan sesungguhnya Allah ilmunya meliputi segala sesuatu”. (al-Talaq Ayat 12).

Firman Allah s.w.t:-
" والله بكل شىء عليم "
“Allah Maha mengetahui tentang segala sesuatu”. (Surah An Nisa’ Ayat 176)

Firman Allah s.w.t:-
" إن الله لا يخفى عليه شىء في الأرض ولا في السمآء"
“Sesungguhnya tidak ada satu pun yang tersembunyi kepada Allah baik di bumi mahupun di langit”. (Surah Ali Imran Ayat 5).

Firman Allah s.w.t:-
" هو الله الذى لآاله إلا هو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم"
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang maha pengasih lagi maha penyayang”. (Surah al-Hasyr ayat 22).

atas

1.3 Di antara aqidah Syiah ialah at-Tahrif fi al-Quran, iaitu satu aqidah tentang al-Quran yang ada di tangan umat Islam hari ini sudah diubah, ditokok tambah dan diselewengkan.

1.4 Aqidah al-Imamah dan al-Walayah, iaitu kepercayaan bahawa Imam-Imam dua belas itu dilantik berdasarkan nas dan mereka adalah ma’asum serta wajib ditaati.

1.5 Aqidah Takfir as-Sahabah, iaitu satu aqidah yang mengkafirkan kebanyakkan para sahabat dan menganggap mereka telah murtad setelah wafat Rasulullah s.a.w. kecuali tiga atau empat orang dari mereka sahaja.

1.6 Ar-Raj’ah iaitu satu aqidah dan kepercayaan Syiah tentang para Imam akan dibangkitkan sebelum kiamat untuk menuntut bela dan menghukum orang-orang zalim yang telah merampas hak-hak mereka.

atas

2. BAHAYANYA KEPADA SYARIAT

Sememangnya musuh-musuh Islam yang merupakan pengasas Syiah melalui ajaran yang diada-adakan mereka bermaksud supaya diketepikan dan diperkecilkan syariat yang dibawa oleh Nabi s.a.w. Syariat yang dikemukakan oleh mereka tentu sekali akan bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunah.

2.1 Jika al-Quran menyatakan bahawa “Seseorang akan diberi balasan dan ganjaran mengikut amal yang dilakukan olehnya” (an-Naml ayat 39), “Seseorang manusia tidak menanggung dosa seseorang yang lain” (al-An’am ayat 164), “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” (al-Muddatsir ayat 38), “Orang-orang yang tidak bersembahyang akan dimasukkan ke dalam neraka” (al-Muddatsir ayat 41 dan 42), “Orang-orang yang menyengutukan Allah dengan sesuatu yang lain dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah dan orang-orang yang berzina akan diisikan kedalam neraka pada hari Qiamat nanti kecuali yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh” (al-Furqan ayat 68, 69 & 70), maka Syiah pula akan mengatakan itu semua tidak penting asalkan seseorang sudah mempunyai perhubungan kasih sayang dengan para Imam.
Mereka meriwayatkan bahawa Ja’afar as-Sadiq berkata kepada golongan Syiah: “Ketahuilah demi Allah! Tidak akan masuk ke dalam neraka dua orang pun dari kalangan kamu. Tidak! Demi Allah! Tidak seorang pun!” (ar-Raudhah Jilid 8 hal: 78).

Ja’afar as-Sadiq berkata kepada Syiah (menurut riwayat Syiah): “Sesungguhnya suratan amalan setiap orang dari kamu akan dipenuhkan (dengan pahala tanpa sebarang amalan).” (Ibid-Jilid 8 hal: 315)

Lebih dari itu Ja’afar as-Sidiq berkata bahkan dia akan bersama Nabi dalam darjat mereka (Nabi) pada hari Qiamat nanti. (Muqadimah al-Burhan hal: 21).
Ibnu Babwaih al-Qummi meriwayatkan dari Abi al-Hasan ar-Ridha (Imam Ma’asum yang kelapan di sisi Syiah) bahawa Qalam diangkat (tidak dicatitkan dosa) dari Syiah kita. Tidak seorang pun dari Syiah kita yang melakukan dosa atau kesalahan melainkan pasti akan ada perkara yang menghapuskan dosa-dosanya itu walau pun dia melakukan dosa sebanyak titisan hujan, sebanyak bilangan anak batu dan pasir, sebanyak bilangan duri dan pokok. (Uyunu Akhbari ar-Ridha Jilid 2 hal: 236).

Mereka juga meriwayatkan satu hadis Qudsi (yang direka oleh mereka) bahawa Allah berfirman:- “Ali bin Abi Talib adalah hujahKu atas makhlukKu dan cahayaKu dalam kerajaanKu dan pemegang amanah ilmuKu. Tidak akan masuk ke dalam neraka orang yang mengenalinya walaupun ia mengingkariku.” (Muqaddimah al-Burhan hal: 23 dan Kitab al-Khisal al-Qummi, jilid 2 hal: 583).

Ini bererti untuk masuk ke syurga seseorang itu tidak perlu terikat kepada syariat asalkan ia telah mencintai Ali dan Imam-Imam sesudahnya dan untuk menghindarkan diri dari neraka tidak perlulah seseorang itu meninggalkan maksiat asalkan ia telah mengenali dan menerima Imam dua belas. Setelah itu bebaslah ia melakukan apa sahaja yang dikehendakinya kerana Allah akan mengampunkan mereka, dan mereka akan dimasukkan ke dalam Syurga.

atas

2.2 Golongan Syiah juga tidak memandang berat terhadap sembahyang, zakat dan haji kerana mereka ada meriwayatkan daripada Ja’afar as-Sadiq bahawa beliau berkata: “Sesungguhnya Allah menghindarkan azab dan kebinasaan daripada orang yang tidak bersembahyang dari kalangan kita dengan orang yang bersembahyang daripada Syiah kita. Dan sesungguhnya Allah menghindarkan (azab dan siksaan) daripada Syiah yang tidak mengeluarkan zakat dengan Syiah kita yang mengeluarkan zakat dan sesungguhnya Allah menolak azab dan siksaan daripada Syiah kita yang tidak mengerjakan haji dengan Syiah kita yang mengerjakannya.” (Tafsir al-Qummi, jilid 1 hal: 83 dan 84 Tafsir al-Ayyasyi jilid 1 hal: 135). Mereka tidak memandang berat kepada sembahyang, zakat dan haji kerana dengan adanya segolongan daripada orang yang mengerjakan sembahyang dan menunaikan haji sudah mencukupi.

Tetapi di sebalik pandangan sepi mereka terhadap ajaran dan syariat yang ditekankan dan digalakkan oleh Rasulullah s.a.w., mereka mengadakan syariat yang lain sebagai gantinya. Mereka menggalakan supaya mengerjakannya dan diperbanyakkan pula fadhilat dan keutamaan orang yang mengerjakannya iaitu syariat cintakan ahlulbait, ziarah kubur para Imam, menangisi dan meratapi kematian mereka, menyebarluaskan perhubungan seks yang bebas atas nama kahwin mut’ah, mewajibkan khumus atas nama Imam mereka yang ghaib, mengutamakan tanah Karbala berbanding dengan tanah Mekah dan Madinah, menambah ucapan Syahadah dalam azan dan lain-lain lagi.

2.3 Untuk membuktikan syariat yang diada-adakan oleh mereka itu, mereka mengemukakan riwayat-riwayat (yang direka oleh mereka) dan mentakwilkan ayat-ayat sebagai alasan dari pihak syarak atau sebagai surat-surat pengampunan dan keredhaan dari pihak Allah dan Nabi untuk masuk syurga.

2.3.1 Mereka umpamanya meriwayatkan bahawa menziarahi Husin a.s. (kuburnya) menyamai seratus haji Mabrur dan seratus haji umrah yang diterima Allah. (al-Irsyad-Syeikh Mufid Hal: 252).

2.3.2 Mereka meriwayatkan juga bahawa Nabi ada bersabda: “Seseorang yang menziarahi Husin selepas kematiannya pastilah dia mendapat syurga.”

2.3.3 Untuk mendapat syurga, seseorang yang tidak mampu menziarahi kubur Saiyidina Husein, cukuplah ia menangisi kesyahidan beliau sebagaimana yang diriwayatkan daripada Muhamad al-Baqir bahawa beliau berkata tidak jatuh setitik air mata kerana menagisi al-Husin melainkan pasti Allah akan mengampunkan dosa seseorang itu walaupun banyaknya dosa itu seperti buih-buih di laut dan pastilah dia mendapat syurga. (Jila-u al-Uyun- al-Majlisi, jilid 2 Hal: 464 – 468).

2.3.4 Begitu juga mereka meriwayatkan seseorang yang menangisi Ali ar-Ridha (Imam Ma’asum yang kelapan) pasti akan diharamkan Allah neraka ke atasnya. Ali ar-Ridha berkata; “Tiada seseorang Mukmin pun yang menziarahi kuburku dan mukanya dibasahi setitik air mata melainkan Allah akan mengharamkan tubuhnya atas neraka.” (Uyun Akhbari ar-Ridha, jilid 2 Hal: 227)

2.3.5 Mereka meriwayatkan dari Imam Musa al-Kazim, (Imam Ma’asum yang ketujuh) bahawa beliau berkata: “Sesiapa yang menziarahi kubur anakku Ali pahalanya di sisi Allah menyamai pahala tujuh puluh haji mabrur.” Aku berkata (kata perawi): “Tujuh puluh haji?” Dia berkata: “70,000 haji.” Kemudian dia berkata: “Alangkah banyak haji yang tidak diterima! Dan sesiapa yang menziarahinya (Ali) lalu bermalam dikuburnya, dia seperti menziarahi Allah di arasyNya.” (Kata perawi): “Seperti menziarahi Allah di arasyNya?” Dia menjawab: “Ya.” (Ibid, jilid 2 hal: 259)

atas

2.4 Islam mengadakan institusi perkahwinan demi menjaga keturunan manusia dan kemurniaan hidup berkeluarga dalam satu ikatan tanggungjawab tetapi sebaliknya Syiah mahu menghidupkan amalan jahiliah atas nama Islam dengan mengemukakan syariah mut’ah, meminjam dan menyewakan seks dan menghalalkan amalan kaum Luth dengan isteri-isteri mereka. Kedudukan mut’ah ini begitu penting dalam syariah Syiah . Seseorang itu tidak dianggap sebahagian dari mereka selagi ia tidak menganggap halal amalan mut’ah.

2.4.1. Al-Kulaini meriwayatkan dari Ja’afar bin Muhamad al-Baqir bahawa beliau berkata (bermaksud): “Bukan dari kalangan kami orang yang tidak mempercayai raj’ah (kebangkitan semula kami para Imam sebelum kiamat untuk menghukum orang yang menentang dan memusuhi Ahlul Bait) dan tidak menganggap halal mut’ah kita.”(Man La Yahdhuruna al-Fiqah, jilid 3 m.s. 458, Muntaha al-Amal-Syikh Abbas al-Qummi, j.2, Hal: 341.

Untuk menggalakkan amalan Mut’ah ini mereka mengadakan sekian banyak hadits palsu atas nama para Imam mereka yang dua belas dan Nabi s.a.w. sendiri di mana mereka meriwayatkan dari Nabi, bahawa Baginda bersabda: “Sesiapa yang keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tidak pernah melakukan mut’ah, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan rompong.”

Ketika Nabi s.a.w mi’raj ke langit Baginda telah ditemui oleh Jibril, lalu berkata: “Wahai Muhammad, Allah Tabarakawata’ala berkata: “Sesungguhnya Aku telah mengampunkan orang yang melakukan mut’ah dengan perempuan dari kalangan umatmu.”(Manla Yadhuruhu al-Faqih jilid 3, m.s.: 463).

2.4.1 Perkahwinan Mut’ah tidak memerlukan kepada saksi, wali dan perisytiharan. (Tahzib al-Ahkam jilid 7 Hal 254, an-Nihayah. Hal 489).
Ini boleh dilakukan di antara seorang perempuan dan seorang lelaki di mana-mana sahaja, boleh dilakukan dengan perempuan Majusi, Nasrani dan Yahudi dan dengan perempuan pelacur sekalipun seperti kata Khomeini di dalam kitabnya “Tahrir al-Wasilah”, jilid 2, Hal: 292 - “Tidak perlu disoal dan diambil tahu samada perempuan itu mempunyai suami atau tidak.” (an-Nihayah at-Thusi hal: at-Thusi Hal: 489, Tahzib al-Ahkam jilid 7 Hal: 253).

At-Thusi meriwayatkan dari Fadhal Maula Ahmad bin Rasyad bahawa dia menceritakan kepada Ja’afar as-Sadiq a.s.: “Bahawa aku telah berkahwin dengan seorang perempuan secara mut’ah setelah itu timbul dalam hatiku bahawa perempuan itu mempunyai suami. Tiba-tiba aku dapati memang benar dia mempunyai suami.” Dia (Ja’afar) berkata: “Kenapa kamu selidiki?” (Tahzib al-Ahkam jilid 7 Hal: 253).

Pernah Abdullah bin Umair al-Laisi menemui Abu Ja’afar (Muhammad al-Baqir). Lalu Abdullah berkata kepadanya: “Apa pendapatmu tentang mut’ah?” Beliau berkata: “Allah telah menghalalkan dalam kitabNya dan melalui nabi. Ia adalah halal sampai hari kiamat.” Lalu Abdullah bin Umair al-Laisi berkata: “Wahai Abu Jaafar, adakah orang sepertimu berkata begini sedangkan Umar mengharamkan dan melarang daripada melakukannya?” Berkata Abu Jaafar: “Walaupun Umar mengharamkannya dan melarang daripadanya!” Abdullah bin Umair berkata: “Aku minta supaya engkau dilindungi Allah daripada menghalalkan sesuatu yang diharamkan Umar.” Abdullah bin Umair berkata, maka Abu Jaafar berkata kepadanya: “Engkau berada di atas pendapat ikutanmu dan aku berada di atas keputusan Rasulullah. Mari kita saling memohon kepada Tuhan supaya dilaknatkan (orang yang tidak benar di antara kita). Aku yakin yang benar apa yang diputuskan oleh Rasulullah dan yang salah apa yang diputuskan oleh ikutanmu.” Berkata perawi, Abdullah bin Umair pun mengadap Abu Jaafar seraya berkata: “Adakah engkau suka isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu saudara-saudara perempuan dan sepupu-sepupu perempuan dilakukan mut’ah?” Berkata perawi, maka berpalinglah Abu Jaafar daripada Abdullah bin Umair ketika ia menyebutkan isteri-isterinya dan sepupu-sepupu perempuannya. (al-Furu’Min al-Kafi, jilid 5 Hal: 449; Tahzib al-Ahkam jilid 7 Hal: 251).
atas
2.4.2 Abu Jaafar telah ditanya tentang sekurang-kurang umur perempuan yang boleh dilakukan Mut’ah. Beliau menjawab, iaitu kanak-kanak yang tidak tertipu. Berkata perawi, aku pun berkata: “Semoga Allah mendamaikan engkau. Berapakah minima umur perempuan yang tidak tertipu.” Beliau menjawab: “Sepuluh tahun.” (al-Istibsar, jilid 3 Hal:145, Tahzib al-Ahkam jilid 7, Hal: 225, al-Furu’Min al-Kafi, jilid 5 Hal: 463)

Al-Hulli dalam kitab fiqahnya yang bernama Syaraain al-Islam, (jilid 2 Hal: 186), “Seseorang gadis cerdik yang sudah baligh boleh mengakadkan mut’ahnya sendiri. Walinya tidak berhak membantah, samada ia masih dara atau janda.”

2.4.3 Perempuan boleh dikahwini secara mut’ah mengikut Syiah tanpa had. Ia tidak terbatas sampai empat orang sahaja, tetapi mengikut apa yang mereka riwayatkan dari Jaafar as-Sadiq beliau ada berkata: “Berkahwinlah dengan mereka secara mut’ah walaupun sampai seribu orang kerana mereka itu termasuk di antara perempuan yang disewakan.” (al-Istibar jilid 3 Hal: 147; Tahzib al-Ahkam jilid 7 Hal: 259)

2.4.4 Mas kahwin untuk nikah mut’ah pula tidak terlalu besar, hanya memadai dengan segenggam gandum atau segenggam makanan atau buah tamar. (al-Furu Min al-Kafi, jilid 5 Hal: 457; Tahzib al-Ahkam jilid 7 Hal: 259)

2.4.5 Berkenaan dengan jangkamasa mut’ah itu boleh dilakukan dapat kita ketahui dari riwayat yang dikemukakan oleh mereka dari Abu Hasan Ali bin Muhamad al-Jawad bahawa beliau pernah ditanya: “Berapa lamakah sekurang-kurangnya tempoh mut’ah itu boleh dilakukan? Adakah harus seseorang melakukannya dengan syarat sekali persetubuhan?” Beliau menjawab: “Ya, tidak mengapa tetapi bila selesai hendaklah memalingkan mukanya dan tidak memandang lagi (kepada perempuan itu).” (al-Furu’ Min al-Kafi jilid 5, Hal: 460, al-Istibar jilid 3 Hal: 151).

2.4.6 Selain dari itu, seseorang lelaki boleh berkahwin secara Mut’ah dengan seorang perempuan beberapa kali sebagaimana yang diriwayatkan dari Ja’afar as-Sadiq bahawa beliau berkata: “Tidak mengapa, seseorang boleh melakukan mut’ah dengan seseorang perempuan seberapa banyak kali yang dikehendakinya.” (al-Furu’ Min al-Kafi, jilid 5 Hal: 460)

2.4.7 Bahkan lebih dari itu golongan Syiah berpendapat harus menyewakan faraj dan menghadiahkan kepada sahabat handai. At-Thusi meriwayatkan dari Abu Hasan bahawa dia berkata: “Aku bertanya Abi Abdillah a.s. tentang peminjaman faraj. Dia menjawab: “Tidak mengapa.” (al-Istibsr jilid 3 Hal: 141).

Dengan pembohongan dan pendustaan yang sedemikian itu pada hakikatnya Syiah mahu membuka pintu pelacuran dan perhubungan seks secara bebas tanpa sebarang sekatan dengan seluas-luasnya.

2.4.8 Lebih dari itu lagi golongan Syiah mengharuskan seseorang mengamalkan amalan kaum Luth dengan isterinya atas nama Ahlil Bait. Al-Khulaili meriwayatkan dari al-Ridha bahawa beliau ditanya oleh Safuan bin Yahya: “Salah seorang hamba bebasanmu menyuruh aku bertanya engkau.” Al-Ridha berkata: “Apa pertanyaan itu?” Aku berkata: “Bolehkah seseorang mendatangi isterinya pada duburnya?” Al-Ridha menjawab: “Itu haknya.” Berkata Safuan: “Maka aku pun bertanya dia: “Adakah engkau melakukannya?” Ar-Ridha menjawab: “Kami tidak melakukannya.” (al-Fur’ Min al-Kafi jilid 5, Hal: 40, al-Istibsar Hal: 243 – 244).

Diriwayatkan juga dari Abu Hasan ar-Ridha (Imam Ma’sum yang kelapan) satu riwayat yang lebih jelas dan lebih jelik daripada riwayat di atas, kerana at-Thusi meriwayatkan bahawa beliau (al-Ridha) ditanya oleh seseorang lelaki tentang seorang yang mendatangi isterinya dari belakang (pada dubur). Al-Ridha menjawab: “Satu ayat dalam kitab Allah telah menghalalkannya, iaitu kata-kata Nabi Luth a.s. yang dihikayatkan oleh Allah;
"هؤلآء بناتي هن اطهر لكم"
“Ini anak-anak perempuanku lebih suci untuk kamu.” (Hud ayat 78 )

Sedangkan Nabi Luth sudah maklum bahawa mereka tidak menghendaki faraj. Sebagaimana mereka meriwayatkan dari Ja’afar as-Sadiq melalui Abdullah bin Abi Ya’afur bahawa beliau berkata: “Aku bertanya Abu Abdullah (Ja’afar as-Sadiq) tentang seorang yang mendatangi isteri pada duburnya.” Dia berkata: “Tidak mengapa jika isterinya suka.” Aku pun berkata di mana firman Allah yang berbunyi:
" فأتوهن من حيث امركم الله"
“Datangilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (al-Baqarah Ayat 222)

Lalu Ja’afar bin as-Sadiq menjawab: “Tempat itu untuk mencari anak.”
(Tahzib al-Ahkam, jilid 7, Hal: 414, al-Istibsar jilid 3 Hal: 243)

atas

3. BAHAYA KEPADA AKHLAK

3.1 Kebiadaban dan penghinaan
3.1.1. Kebiadaban dan Penghinaan terhadap Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul.
Orang-orang Syiah dan orang-orang yang diracuni fikirannya oleh fahaman Syiah pasti akan bersifat biadap terhadap nabi-nabi dan rasul-rasul.

Maulla Baqir al-Majlisi meriwayatkan secara dusta dalam kitabnya Biharu al-Anwar daripada Nabi s.a.w. bahawa Nabi s.a.w berkata kepada Ali: “Wahai Ali! Engkau memiliki apa yang tidak dimiliki olehku, Fatimah isterimu, sedangkan aku tidak mempunyai isteri yang seumpamanya. Daripadanya engkau memperolehi dua orang anak lelaki yang mana tidak ada bagiku dua orang anak laki-laki seumpamanya. Khadijah pula ibu mertuamu sedangkan aku tidak mempunyai ibu mertua yang penyayang seumpamanya. Aku sendiri bapa mertuamu. Sedangkan aku tidak mempunyai saudara seumpama Jaafar. Fatimah al-Hasyimiah adalah ibumu, dimana akanku dapat ibu seumpamanya.” (Kitab Biharu al-Anwar – Kitabu asy-Syahadah, jilid 5 Hal 511).

Al-Kulaini menyebutkan bahawa darjat Imamah adalah lebih tinggi dari darjat kenabian, kerasulan dan khullah. Untuk maksud itu dia (Kulaini) telah berdusta atas nama Jaafar as-Sadiq, bahawa beliau berkata: “Sesungguhnya Allah menjadikan Ibrahim sebagai hamba sebelum menjadikannya sebagai nabi dan menjadikannya sebagai nabi sebelum menjadikannya sebagai rasul dan sesungguhnya Allah menjadikannya sebagai khalil sebelum menjadikannya sebagai Imam.” (Kitabu al-Hujjah Min al-Kafi, jilid 1 Hal: 175).

Al-Kulaini meriwayatkan lagi daripada Saif at-Tammar bahawa beliau berkata: “Kami pernah bersama Abi Abdillah a.s. dalam satu kumpulan di Hijir Ismail, maka Abu Abdullah berkata: “Adakah mata-mata gelap mengikut kita?” Kami pun berpaling ke kanan dan ke kiri, tidak kelihatan kepada kami sesiapapun. Maka beliau pun berkata: “Demi Tuhan Kaabah! Demi Tuhan binaan ini! (3 kali) Kiranya aku berada di antara Musa dan Khadir a.s. tentu aku menceritakan kepada mereka berdua bahawa aku lebih alim daripada mereka berdua dan tentu aku akan menyatakan kepada mereka berdua apa yang tidak diketahui oleh mereka sesungguhnya mereka telah dikurniakan ilmu tentang masa lampau. Untuk mereka berdua tidak dikurniakan ilmu tentang apa yang akan terjadi dan apa yang berlaku sampai hari qiamat.” (Usul Kafi, jilid 1 hal: 261).

Diriwayatkan juga dari Jaafar as-Sadiq: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Aku mengetahui apa yang ada di syurga dan di neraka. Aku mengetahui ilmu tentang zaman silam dan ilmu tentang zaman akan datang.” (Ibid)
Mereka menganggap bala yang menimpa Nabi Ayub dan Nabi Yunus ditelan ikan sehingga terpaksa terkurung di dalam perut ikan sampai beberapa lama itu, tidak kerana lain melainkan kerana mereka mengingkari Walayah Ali. (Tafsir Nurrul Tsaqalain jilid 3 Hal: 435)

atas

3.1.2 Kebiadaban dan Penghinaan Terhadap Isteri-Isteri Nabi S.A.W.

Maulla Baqir al-Majlisi mengadakan satu bab yang khusus dalam kitabnya, “Hayatu al-Qulub” bertajuk “Bab Yang Ke 55 pada menyatakan kecelakaan Aisyah dan Hafsah” (jilid 2 Hal: 610 – 612). Di dalam bab ini berkali-kali pengarangnya mengatakan Aisyah dan Hafsah sebagai munafik dan kafir. Beliau mengemukakan riwayat yang kononnya muktabar tentang Aisyah dan Hafsahlah yang telah meracuni Nabi sehingga mengakibatkan kewafatan Baginda. Al-Aisyyasyi telah meriwayatkan dengan sanad yang muktabar dari Imam Ja’afar Sadiq bahawa Aisyah dan Hafsah telah mensyahidkan Rasulullah s.a.w. dengan meracuni Baginda.

Di suatu tempat yang lain didalam kitab yang sama Mulla Baqir al-Majlisi meriwayatkan dari tokoh tafsir Syiah yang terkemuka dari kalangan Mutaqaddimin, iaitu Ali bin Ibrahim al-Qummi bahawa Sayyidina Abu Bakar dan Saidina Umar bersama anak perempuan mereka masing-masing telah mengadakan pakatan untuk membunuh Nabi dengan meracuni Baginda, begini bunyinya, “Maka dua munafik lelaki itu dan dua munafik perempuan itu (Aisyah dan Hafsah) telah mengadakan pakatan untuk membunuh Baginda dengan memberikan racun kepada Baginda.” (Ibid).

atas

3.1.3 Kebiadaban dan Penghinaan Terhadap Sahabat-Sahabat Rasulullah S.A.W yang lain.

Golongan Syiah mempercayai bahawa para sahabat telah murtad sepeninggalan Rasulullah s.a.w. kecuali tiga atau empat orang dari kalangan mereka. Tidak ada lagi kebiadaban dan penghinaan yang lebih dahsyat dari ini.

Al-Kulaini yang dianggap sebagai Bukhari di kalangan Syiah telah meriwayatkan bahawa para sahabat telah murtad sepeninggalan Nabi kecuali tiga orang daripada mereka, iaitu Miqdad bin Aswad, Abu Zar al-Ghifari dan Salman al-Farisi. (al-Raudhah Min al-Kafi jilid.8, Hal 245)

Perkara yang sama telah disebut oleh al-Majlisi yang dianggap sebagai “Khatimatu al-Muhadditsin” di kalangan Syiah bahawa, maksudnya:-
“Para sahabat semuanya binasa, selepas wafat Rasulullah s.a.w. kecuali tiga orang iaitu Abu Zar, Miqdad dan Salman.” (Hayatul Al-Qulub, jilid 2, Hal: 640).

atas

3.2 Diantara ciri yang tidak dapat dipisahkan dari Syiah ialah “Taqiyyah”.

Taqiyyah pada hakikatnya ialah berdusta dan berbohong. Ulamak Islam di zaman lampau tidak mahu menerima riwayat yang dikemukakan oleh mereka lantaran jelas mereka mengamalkan pembohongan kerana itu Imam Syafie berkata: “Tidak pernah aku melihat golongan yang menurut hawa nafsu yang lebih pembohong dari golongan Syiah.”

3.2.1 Syiah ada meriwayatkan hadis dari Imam mereka tentang pentingnya mengamalkan taqiyyah dan tiada agama bagi orang yang tidak mengamalkan taqiyyah. Al-Kulaini meriwayatkan dalam kitabnya al-Kafi bahawa Jaafar as-Sadiq berkata: “Taqiyyah adalah di antara ajaran agamaku dan agama nenek moyangku. Tiada agama bagi orang yang tidak mengamalkan taqqiyyah.”(al-Kafi, jilid 2 Hal:223).

3.2.2 Taqqiyyah adalah amalan yang disukai oleh Imam Maksum dan satu amalan yang meninggikan darjat seseorang di sisi Allah. Al-Kulaini meriwayatkan lagi dari Ja’afar as-Sadiq bahawa beliau berkata: “Demi Allah, tiada sesuatu di atas muka bumi ini yang lebih disukai olehku daripada taqiyyah.”

3.2.3 Sesungguhnya seseorang yang mengamalkan taqqiyyah diangkat darjatnya oleh Allah dan Allah merendahkan darjat orang yang tidak mengamalkannya. Al-Kulaini meriwayatkan daripada Abi Abdillah beliau berkata: “Allah mengangkatkan darjat orang yang mempunyai taqiyyah dan merendahkan orang yang tidak mempunyai taqiyyah.” (Usul Kafi, jilid 2 Halaman: 217).

3.2.4 Taqiyyah perlu dilakukan dalam kebanyakan kehidupan beragama sehingga ia diamalkan dalam sembilan persepuluh kehidupan beragama. Al-Kulaini meriwayatkan lagi dari Ja’afar as-Sadiq beliau berkata: “Sesungguhnya sembilan persepuluh agama terletak dalam taqiyyah, Tiada agama bagi orang yang tidak bertaqiyyah. Taqiyyah boleh dilakukan dalam semua hal, kecuali dalam masalah nabiz dan menyapu khuf”. (al-Kafi, jilid 2 Halaman: 217)

3.2.5 Bahkan ajaran agama Syiah sebenarnya ditegakkan di atas taqiyyah. Al-Kulaini meriwayatkan dari Ja’afar as-Sadiq bahawa beliau berkata: “Sesungguhnya kamu berada di atas agama yang sesiapa menyembunyikannya akan dimuliakan Allah dan sesiapa menyebarkannya akan dihina oleh Allah.” (al-Kafi, jilid 2 Halaman: 222).

3.2.6 Taqiyyah adalah sesuatu yang wajib diamalkan oleh seseorang yang berfahaman Syiah. Akan terkeluar dari Syiah jika tidak mengamalkannya. Diriwayatkan dari Imam kelapan Ali bin Musa bahawa beliau berkata: “Tiada agama bagi orang yang warak dan tiada iman bagi orang yang tidak bertaqiyyah.” Maka beliau ditanya: “Wahai cucunda Rasulullah, sampai bilakah (perlu bertaqiyyah)?” Beliau menjawab: “Sampai hari tertentu, iaitu munculnya Imam Mahadi. Sesiapa yang tidak mengamalkan taqiyyah sebelum keluar Imam Mahadi, bukanlah ia dari kalangan kami.” (Kasyful Ghummah al-Ardabili, Hal: 341).

3.2.7 Kadang-kadang orang-orang Syiah berdalih dengan berkata bahawa taqiyyah itu bukanlah amalan yang bercanggah dengan Islam kerana seseorang boleh mengucapkan kalimah kufur dalam keadaan terpaksa dan dikerasi seperti yang berlaku pada Ammar bin Yasir.

Tetapi sebenarnya ini hanya dolak dalik mereka kerana terlalu banyak riwayat Syiah yang mengemukakan contoh amalan taqiyyah dalam keadaan tiada sebarang tekanan dan paksaan. Di antaranya adalah riwayat yang dikemukakan oleh al-Kulaini dari Muhamad bin Muslim bahawa beliau berkata: “Aku masuk untuk menemui Abi Abdillah (Jaafar as-Sadiq a.s.). Pada ketika itu disisinya ada Abu Hanifah, lalu aku berkata kepadanya: “Semoga diriku dijadikan tebusan untukmu. Aku telah bermimpi suatu mimpi yang aneh.” Maka beliau pun berkata kepadaku: “Wahai Ibnu Muslim, kemukakanlah mimpimu itu. Sekarang ada orang yang arif tentangnya di sini.” Sambil dia mengisyaratkan dengan tangan ke arah Abu Hanifah. Aku pun menceritakan: “Aku bermimpi aku masuk ke dalam rumahku. Tiba-tiba keluar isteriku dengan membawa banyak buah badam dan dihamburkannya buah badam itu kepadaku. Aku berasa sungguh hairan dengan mimpiku ini.”

Maka Abu Hanifah pun menta’birkan mimpiku dengan berkata: “Engkau akan bertengkar dan berhadapan dengan orang-orang yang bangsat berhubung dengan harta pusaka isterimu, tetapi selepas engkau mengalami susah payah engkau akan mendapat juga hajatmu dari harta pusaka itu, InsyaAllah.” Mendengar ta’bir itu Abu Abdillah (Jaafar as-Sadiq) pun berkata: “Demi Allah! Tepat ta’birmu itu, wahai Abu Hanifah!” Berkata Muhamad bin Muslim: “Tak lama kemudian Abu Hanifah pun keluar dari sisinya (Jaafar as-Sadiq), lalu aku berkata kepadanya: “Semoga diriku dijadikan tebusan untukmu. Aku tak suka kepada ta’bir nasib ini.” Lalu ia berkata: “Wahai Ibnu Muslim! Semoga Allah tidak memburukkan padahmu! Ta’bir mereka tidak akan menepati ta’bir kita dan ta’bir kita pula tidak akan menepati ta’bir mereka, ta’bir mimpiku yang sebenar bukanlah seperti yang diceritakannya.”

Muhammad bin Muslim berkata: “Aku pun berkata kepadanya (Jaafar as-Sadiq): “Semoga diriku dijadikan tebusan untukmu. Bagaimana dengan katamu tadi, “Tepat ta’birmu” dan engkau besumpah pula atas ta’birnya padahal dia salah?” Beliau berkata: “Memang benar aku bersumpah tadi dan mengatakan ia tepat, tetapi tepat salah.” (al-Kafi, jilid 8 Halaman: 292).

Kita semua maklum Abu Hanifah bukannya seorang penguasa dan pemerintah yang perlu digeruni dan ditakuti bahkan dia adalah salah seorang yang tidak disenangi oleh pihak penguasa, tetapi apakah yang mendorong Jaafar as-Sadiq bersikap demikian jika tidak untuk menghidupkan amalan taqiyyah?.

3.2.8 Khomeini sendiri mengajar Syiah mengamalkan taqiyyah ketika membicarakan tentang perkara-perkara yang membatalkan solat, katanya: “Perkara kedua (yang membatalkan sembahyang) ialah takfir iaitu meletakkan satu tangan di atas tangan yang lain (dakap qiam) seperti yang dilakukan oleh orang-orang bukan dari kalangan kita. Tetapi tidak mengapa melakukannya dalam keadaan taqiyyah.” (Tahriru al-Wasilah jilid 1 Halaman: 186)

Dia berkata lagi: “Dan sengaja mengucapkan ‘amin’ selepas selesai membaca Fatihah (juga membatalkan sembahyang) kecuali kerana taqiyyah, tidak mengapa mengucapkannya.” (Tahriru al-Wasilah jilid 1 Halaman: 190).

atas


4. BAHAYANYA KEPADA UMMAH

Kebanyakan orang Islam hari ini terdiri daripada orang-orang yang pengetahuannya tentang Islam terlalu mendatar. Merekalah yang akan menjadi mangsa yang ketara kepada ajaran Syiah kerana mengamalkan amalan yang langsung tidak ada kena mengenanya dengan ajaran Islam yang suci murni.

Merekalah yang akan memaki hamun pejuang-pejuang Islam yang lampau terdiri daripada para sahabat, tabi’in, tabii at-tabi’in yang telah begitu berjasa kepada mereka dan juga kepada umat Islam seluruhnya dengan membawa Islam dengan penuh rasa tanggungjawab, generasi demi generasi sehingga ke hari ini.

atas

4.1. Memecahbelahkan Ummah

4.1.1 Kehadiran Syiah akan memecahbelahkan umat Islam kerana menganggap golongan Ahli Sunnah yang berpegang dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah sebagai kafir dan lebih dasyat kekufurannya daripada iblis.
Syeikh Mufid berkata: “Golongan Imamiah sepakat bahawa semua pendokong-pendokong bidaah adalah kafir.” (Awaailu al-Maqalat, Hal: 15).
Ibnu Babwaih al-Qummi yang dianggap sebagai Syeikh Shaduq (Syeikh yang sangat benar) berkata: “Orang yang tidak menerima (tidak mempercayai) Imam Ghaib adalah lebih kafir dari iblis.” (Ikmalu ad-Din, Hal: 13)

4.1.2 Ahli Sunnah khususnya dan semua masyarakat Islam pada pandangan Syiah adalah anak zina kecuali mereka. Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi bahawa manusia semuanya adalah anak zina kecuali Syiah kita.” (Ar-Raudhah min al-Kafi, Hal: 135).
Riwayat yang sama dikemukakan juga oleh al-Majlisi di dalam al-Baiharu Al-Anwar, jilid 24 Hal: 311.

4.1.3 Ahli Sunnah lebih hina dari anjing di sisi Syiah. Mulla Baqir al-Majlisi menulis:
“Mereka (Nashibi atau ahli Sunnah) lebih jelik dari anak zina, sesungguhnya Allah tidak mencipta binatang yang lebih hina dari anjing tetapi Nashibi adalah lebih hina daripadanya lagi.”
(Haqqu al-Yaqin, jilid 2 Hal: 536).

4.1.4 Golongan Syiah menganggap harta ahli Sunnah adalah halal, boleh dicuri dan boleh dirampas. Mereka hanya perlu mengeluarkan khumus daripada harta Ahli Sunnah yang dirampas itu. At-Thusi meriwayatkan dari Abi Abdillah, kata beliau: “Ambillah harta Nashibi di mana sahaja kamu temui dan keluarkanlah 1/5 daripada harta yang diambil itu kepada kami.” (Tahzibu al-Ahkam, jilid 4 Hal: 122-123).
Tokoh-tokoh Syiah juga berpendapat bahawa harta Nashibi dan segala sesuatu yang dimilikinya adalah halal. (Tahzibu Al-Ahkam, jilid 2 Hal:48)
Perkara yang sama disebutkan juga oleh al-Hurrru al-Amili dalam kitabnya Wasailu as-Syiah, jilid 6 Hal: 340.

4.1.5 Golongan Syiah juga menganggap Ahli Sunnah najis. Khomeini berkata, “Ada Nawasib (Ahli Sunnah) dan Khawarij (semoga mereka dilaknat oleh Allah) adalah najis dan ini tidak terhenti kepada penafian mereka terhadap risalah.” (Tahriru al-Wasilah, jilid 1 Hal: 118).

4.1.6 Sembelihan Ahli Sunnah tidak halal di sisi Syiah seperti kata Khomeini: “Halal sembelihan semua golongan-golongan dalam Islam kecuali sembelihan Nashibi walapun ia menyatakan Islamnya.” (Ibid, jilid.2 Hal: 146).
Tidakkah ajaran-ajaran yang seperti ini akan memecahbelahkan umat Islam? Tidakkah fahaman-fahaman yang seperti ini akan menimbulkan permusuhan, suasana benci membenci dan menyimpan dendam kesumat yang berpanjangan di antara satu dengan yang lain?.
Tentu sekali! Inilah yang akan merupakan natijah dari kehadiran ajaran Syiah ke dalam masyarakat umat Islam.
atas

4.2 Mempercayai perkara-perkara bidaah khurafat dan tahyul serta mengamalkannya.
4.2.1 Golongan Syiah menganggap Kufah adalah tanah haram. Bersembahyang dan berbuat kebajikan padanya pasti mendatangkan pahala yang besar.
Mereka meriwayatkan dari Abi Abdillah a.s. bahawa beliau berkata: “Sesungguhnya Mekah adalah Tanah Haram Allah dan Madinah adalah Tanah Haram Muhammad dan Kufah adalah tanah Haram Ali a.s. Sesungguhnya Ali a.s. mengharamkan di Kufah apa yang diharamkan oleh Ibrahim di Mekah dan apa yang diharamkan oleh Muhammad di Madinah.” (Syeikh Abbas al-Qummi- Safinatu al-Bihar jilid 2 Halaman: 498 dan Mulla Mohsein al-Kasyani-al-Wafi, jilid 8 Halaman: 215).
Diriwayatkan dari Abi Abdillah bahawa beliau berkata: “Membelanjakan satu dirham di Kufah sama dengan membelanjakan 100 dirham di tempat lain dan mengerjakan dua rakaat sembahyang padanya dikira sama dengan mengerjakan 100 rakaat di tempat lain.” (Ibid)

4.2.2 Tanah Karbala dianggap sebagai tanah yang suci. Tanahnya juga digunakan oleh orang-orang Syiah sebagai tempat sujud dimana-mana sahaja di dunia ini. Jarang sekali ditemui rumah Syiah yang tidak mempunyai tanah Karbala di dalam berbagai-bagai bentuknya. Mereka juga menganggap tanah Karbala itu boleh dimakan sebagai penawar yang boleh menghilangkan berbagai-bagai jenis penyakit.
Keutamaan yang seperti ini tidak dipercayai ada pada tanah-tanah yang lain termasuklah tanah kubur Rasulullah s.a.w. dan para Imam. yang lain. Khomeini berkata: “Dikecualikan daripada tanah (yang haram dimakan) tanah kubur penghulu kita Abi Abdillah al-Husain a.s. sebagai ubat dan tidak harus dimakan tanah ini dengan tanah lain dan tidak boleh juga dimakan lebih dari kadar kacang putih yang sederhana, tidak termasuk didalam hukum boleh memakan tanah ini, tanah kubur orang lain walaupun tanah kubur Nabi s.a.w. dan tanah kubur para Imam a.s. yang lain.” (Tahriru al-Wasilah, jilid 2 Hal: 164).

4.2.3 Golongan Syiah juga merayakan hari-hari besar orang-orang Majusi dan menganggap sunat mandi pada hari itu.
Khomeini berkata: “Di antaranya (di antara mandi-mandi yang disunatkan itu) ialah mandi dua hariraya dan di antaranya lagi ialah mandi pada hari Nauruz.” (Tahriru al-Wasilah, jilid 1 Hal: 98-99).

4.2.3 Mereka juga mengadakan hari perkabungan kerana kesyahidan Sayyidina Hussain di Karbala pada 10hb. Muharram di mana mereka melakukan bermacam-macam bidaah, khurafat dan kekufuran.

atas

4.3 Keganasan Akan Berlaku Dikalangan Ummah.

4.3.1 Syiah menganggap orang-orang Islam dari kalangan Ahli Sunnah halal darahnya dan harus dibunuh terutama dengan cara yang tidak diketahui oleh sesiapapun. Diriwayatkan dari Daud bin Farqad katanya: “Aku berkata kepada Abi Abdillah a.s. apa katamu tentang membunuh Nashibi?” Beliau berkata: “Halal darahnya tetapi aku bimbangkan dirimu. Sekiranya engkau boleh merobohkan dinding ke atasnya atau engkau menenggelamkannya ke dalam air supaya tiada sesiapapun menyaksikan pembunuhan itu maka lakukanlah.” (Ibn Babwaith Ilalu as-Syara’ Hal: 200, Wasailu as-Syiah, jilid 18 Hal: 163, Biharu al-Anwar, jilid 27 Hal: 231).
At-Thusi mengemukakan satu cerita yang mengisahkan Abu al-Buhair telah membunuh 13 orang Islam kemudian datang bertemu Jaafar as-Sadiq dan menceritakan kepadanya cara-cara pembunuhannya namun Jaafar as-Sadiq tidak menyalahkannya. Abu Buhair menceritakan: “Di antara mereka ada yang aku naik ke atas rumahnya dengan menggunakan tangga kemudian membunuhnya. Ada juga di antara mereka yang aku panggil di muka pintunya pada waktu malam, apabila ia keluar aku terus membunuhnya. Ada juga antara mereka yang aku temaninya di dalam perjalanan bila sampai di tempat yang sunyi aku membunuhnya. Pembunuhan mereka itu tidak diketahui oleh sesiapa pun.” (Rijal Kasyi, Hal: 343).

4.3.2 Sifat Imam Mahdi yang ditunggu oleh Syiah begitu ganas dan kejam sehingga kerjanya tidak lain selain dari membunuh dan menyembelih manusia, terutama bangsa Arab dan kalangan Ahli Sunnah.

Mereka menyatakan apabila muncul Imam Mahadi nanti orang-orang Syiah akan menghadapkan setiap nasibi di hadapan Imam Mahadi. Jika Nasibi itu mengakui Islam iaitu walayah, maka ia dibebaskan, jika tidak akan dipenggal lehernya atau ia bersedia membayar jizyah sebagai ahli Zimmi. (Biharu al-Anwar, jilid 52 Hal: 373, Tafsir Furat bin Ibrahim, Hal: 100).
Mereka mengatakan lagi bahawa pada ketika kemunculan Imam Mahadi nanti tiada layanan yang lain diberikan kepada orang Arab selain menyembelih mereka. (Kitab al-Ghaibah, Hal: 155, Biharu al-Anwar, jilid 52 Hal: 349).

4.3.3 Imam Mahadi yang dinantikan kemunculannya itu yang mengikut kepercayaan ahli Sunnah akan memenuhi bumi dengan keadilan, setelah ianya dipenuhi dengan kezaliman, dianggap oleh Syiah sebagai orang yang akan merobohkan Kaabah dan akan memotong tangan dan kaki penjaga Tanah Haram.

Syeikh Mufid menyebutnya bahawa: “Apabila Imam Mahadi muncul dia akan merobohkan Masjidil Haram dan memotong tangan Bani Syaibah kemudian menggantungkannya di Kaabah serta ditulis kepadanya: “Mereka inilah pencuri-pencuri Kaabah.”
(al-Irsyad Hal: 411, at-Thusi- Kitabu al-Ghaibah, Hal: 282)
atas

4.4 Memusnahkan Imej Islam.

4.4.1 Islam yang suci murni dengan ajaran tauhidnya akan tercemar dengan kepercayaan syirik yang dibawa oleh Syiah atas nama satu golongan dari Islam, seperti yang telah kita kemukakan sebelum ini.

4.4.2 Dengan mengamalkan upacara-upacara seperti pada 10 Muharram yang sungguh memalukan setiap orang Islam, perbuatan-perbuatan yang ditunjukkan oleh golongan Syiah di awal bulan Muharram dan kemuncaknya pada 10 Muharram itu, tidak ada bezanya bagi orang-orang bukan Islam dengan upacara-upacara keugamaan Hindu seperti Thaipusam dan Kawadi atas upacara-upacara yang dilakukan oleh orang-orang jakun di Afrika.

4.4.3 Setiap orang Islam merasa sedih diatas kesyahidan Sayyidina Umar di tangan Abu Lu’luah yang beragama Majusi itu tetapi Syiah yang mendakwa dirinya Islam suka hati dengan tragedi itu bahkan mereka merayakan hari berlakunya tragedi pembunuhan ke atas Sayyidina Umar. Mereka gelarkan Abu Lu’luah dengan Baba Syuja’uddin sebagai menghargai keberaniannya. Ali bin Mudzahir al-Wasiti meriwayatkan dari Ahmad bin Ishaq (seorang tokoh Syiah di Qom dan dianggap telah mendapat kehormatan yang besar kerana bertemu dengan Imam Mahadi dan merupakan orang yang rapat dengan Imam Hassan al-Askari, Imam kesebelas Syiah) bahawa dia berkata: “Hari Kebangsaan, Hari Penghormatan, Hari Kelepasan Besar, Hari Berkat dan Hari Hiburan.”

Sungguh ganjil ugama Islam yang dianuti oleh Syiah kerana kematian pejuang Islam disambut dengan keseronokan dan perayaan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Majusi.

4.5. Ajaran Syiah juga akhirnya akan mengakibatkan hilangnya keyakinan umat kepada agama itu sendiri apabila agama yang benar sudah tidak dipercayai lagi kerana pembawa-pembawanya yang sudah dianggap sebagai perosak, pengkhianat dan perampas hak Ali dan Ahlul Bait selain dari orang yang bertanggungjawab mengubah kandungan al-Quran dan memalsukan hadis-hadis.

Sementara ajaran Syiah yang dianuti ini pula akan membingungkan mereka lantaran penuh dengan kekarutan dan khurafat yang tidak mungkin dapat diterima oleh orang-orang yang mempunyai akal yang waras. Pada ketika itu mereka akan menganggap agama tidak lebih dari candu seperti yang dipercayai oleh orang-orang komunis.
atas

5. BAHAYANYA KEPADA NEGARA

5.1 Bahayanya kepada negara dapat dilihat bagaimana perpecahan yang berlaku di kalangan umat Islam di zaman permulaan Islam hasil fitnah yang dicetuskan oleh mereka.

5.1.1. Gerakan Ibn Saba’ yang mencetuskan huru hara di dalam khilafah Islam di zaman Sayyidina Uthman.

5.1.2. Peperangan saudara yang dicetuskan oleh mereka di dalam peperangan Jamal (yang pertama seumpamanya di dalam sejarah Islam), peperangan Siffin dan sebagainya.

5.2 Mereka merupakan tangan-tangan yang memainkan peranan dalam menjatuhkan kerajaan-kerajaan yang lalu dengan menyokong atau membuka jalan kepada musuh-musuh Islam.

5.2.1 Nasiruddin at-Thusi (W 627 H), Ibn al-Alqami dan penasihatnya Ibn Abil Hadid telah merancang pembunuhan umat Islam secara beramai-ramai yang sungguh mengerikan dengan membuka jalan kepada Hulaku Khan pada tahun 656 H untuk menyerang Baghdad, ibu negara Islam pada masa itu. (Hasyiah al-Muntaqa, Muhibbudin al-Khatib Hal: 20, Ibn Qayyim jilid 2 Hal: 263, Ighasatu al-Bahfan al-Hidayah wa an-Nihayah, jilid 3 Hal : 200-266).
Walaupun Nasiruddin at-Thusi ini dianggap sebagai seorang yang kejam oleh sejarawan-sejarawan Islam namun Khomeini sebaliknya menyanjung tinggi Nasiruddin at-Thusi ini dan orang-orang yang seumpamanya dengan mengatakan mereka telah memberi sumbangan yang besar kepada Islam. (al-Hukumah al-Islamiah, Hal: 128).

5.2.2 Negara Syiah akan bertindak kejam terhadap umat Islam dari kalangan ahli Sunnah umumnya dan golongan ulamak mereka khususnya. Syah Waliyullah misalnya telah direnggangkan pergelangan tangannya semata-mata kerana beliau mengarang sebuah kitab yang bernama ‘Izalatu al-Khafa’ untuk menghilangkan kekeliruan yang ditimbulkan oleh Syiah tentang Khilafah para Khulafa ar-Rasyidin.
Hukuman terhadap Syah Waliyullah ini dijatuhkan oleh seorang pemimpin Syiah yang menguasai Delhi iaitu Najaf Ali Khan pada tahun 1175H.

5.3 Peranan Syiah di dalam menjatuhkan sesebuah negara tidak boleh dipandang kecil kerana negara Iran yang dahulunya merupakan sebuah negara yang dikuasai oleh Ahli Sunnah dan telah melahirkan begitu ramai tokoh-tokoh dan ulamak-ulamak Islam di dalam berbagai-bagai bidang ilmu agama seperti Imam Tarmidzi, Imam Abu Daud, Imam Razi dan lain-lain lagi, tetapi apabila agama Islam lemah kerana pengetahuan penganut-penganutnya tidak mendalam lagi, sementara pengaruh kebendaan dan dunia pula kuat, maka mereka telah dapat dikuasai oleh Syiah dengan mengemukakan hujjah-hujjah yang berupa ilmiah sehingga akhirnya Iran telah bertukar menjadi negara Syiah.

Begitu juga Mesir yang di suatu masa dahulu merupakan negara ahli Sunnah tetapi kemudian ia bertukar tangan menjadi Syiah. Walaupun Syiah itu bukan Syiah Imamiyyah tetapi Syiah Fatimiyyah namun tidak kurang juga dahsyat dan bahayanya dari Imamiyyah Itsna Asyariyyah. Bagaimana pula agaknya negara kita Malaysia yang rata-rata pengetahuan penduduknya masih lemah tentang aqidah dan syariah Islam yang dianuti mereka.

5.4 Di zaman-zaman akhir ini pun mereka tetap memainkan peranan dalam mengganggu kelahiran sebuah negara Islam seperti di Afghanistan.

5.5 Sesebuah negara Syiah begitu mudah menjadi pusat kepada kelahiran berbagai-bagai bentuk bidaah, khurafat dan kekarutan amalan. Ini ialah kerana agama mereka dibina diatas asas-asas yang karut.

5.5.1 Pemimpin-pemimpin Negara Syiah selalunya merupakan pelopor kepada amalan-amalan bidaah.

5.5.2 Orang yang dikatakan mula-mula mengadakan upacara perkabungan terhadap kematian Hussain mengadakan majlis-majlis nyanyian ratapan dengan diiringi muzik, mendirikan kubur-kubur yang besar sebagai tempat kunjungan ialah Maharaja yang zalim Taimurlang (Tamerlane) dan orang-orang seperti Syah Ismail Safawi (907 H) dan sampai sekarang ini pun pemimpin-pemimpin mereka menganggap perkara biasa. (Mahnamah al-Marifat – Hyderabad, Muharram 1389H).

5.6 Kuasa negara mengikut teori `Walayatul Faqih’ merupakan kuasa ketuhanan dan mutlak sehingga boleh membatalkan mana-mana ketentuan Syariat.

5.6.1 Walayatul Faqih adalah satu teori baru dalam menegakkan sebuah kerajaan Syiah kerana mengikut Syiah tidak ada sebuah kerajaan Syiah pun yang boleh ditubuhkan atau ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahadi.
Setiap negara yang ditegakkan sebelum kemunculan Imam Mahadi adalah tidak sah mengikut Syiah walaupun pembawanya berada di atas jalan yang benar.
Al-Kulaini meriwayatkan menerusi Abi Basir dari Abi Abdillah (Jaafar as-Sadiq). Beliau berkata: “Setiap orang yang menjulang bendera sebelum kemunculan al-Qaain adalah thaghut yang disembah.” (ar-Raudhah min al-Kafi, jilid 12 Hal: 295)
Pensyarah kitab al-Kafi Maula Muhamad Salleh al-Mazandarani (W 1080H) di dalam syarahnya terhadap kitab al-Kafi yang dianggap sebagai di antara syarah al-Kafi yang terpilih menulis; “Walaupun orang menjulang itu menyeru kepada kebenaran”.
(Syarah al-Kafi, Jilid 12 Hal:371)

5.6.2 Walayatul Faqih adalah satu teori penubuhan negara yang dikemukakan oleh Khomeni dengan alasan Naib Imam boleh menggantikan Imam dalam menubuhkan sesebuah negara dan penubuhan itu dianggap sah setelah mereka putus asa pada hakikatnya dengan kemunculan Imam Mahadi yang tidak kunjung datangnya. (Lihat al-Hukumat al-Islamiah, Hal: 74)

5.6.3 Kerana itu kita lihat kuasa negara yang tegak di atas Walayatul Faqih adalah mutlak dan bersifat ketuhanan seperti yang dinyatakan oleh Khomeini sendiri dalam sepucuk suratnya yang ditujukan kepada Presiden Republik Iran, Ali Khomeini yang kemudiannya disebarkan oleh sebuah akhbar resmi Iran “Kayhan Bil: 182”, yang diterbitkan pada 23 Jumadul Ula, 1408H dengan tajuk, “Sesungguhnya kerajaan boleh menyepikan masjid-masjid atau merobohkannya dan kerajaan lebih utama dari sembahyang”.
Dalam surat itu Khomeini menulis:
“Sesungguhnya kerajaan merupakan cabang dari kekuasaan Rasulullah s.a.w. yang lurus dan di antara hukum-hukum Islam yang utama dan lebih diutamakan daripada semua hukum-hukum cabang termasuk solat, puasa dan haji.
Oleh itu harus bagi penguasa-penguasa menyepikan masjid-masjid ketika perlu dan merobohkan masjid. Penguasa juga boleh membatalkan mana-mana hukum Islam walaupun yang berkaitan dengan perkara ibadat atau bukan ibadah jika hukum itu bercanggah atau bertentangan dengan kepentingan-kepentingan Islam.
Penguasa boleh menghentikan ibadah haji yang merupakan kewajipan Islam yang penting apabila maslahah negara Islam menghendaki demikian kerana kerajaan ini adalah kekuasaan Ilahi yang mutlak”. (Dipetik dari al-Murtadha, Hal: 249).


atas

6. PENUTUP

Setelah kita meneliti perbincangan yang lalu, adakah kita dapati sesuatu percanggahan di antara Syiah yang dipropagandakan hari ini dengan Syiah yang dikenali oleh ulamak-ulamak Islam dahulu sebagai Syiah Ghulat yang telah mereka hukumkan terkeluar dari Islam.

Adakah Syiah yang sedemikian ajarannya tidak merbahaya kepada aqidah, syariah, akhlak, ummah dan negara Islam?.

Dan adakah Syiah yang fahamannya seperti yang telah kita kemukakan tadi tidak tepat jika dikatakan bahawa sebenarnya mereka adalah satu gerakan musuh Islam yang telah dirancang untuk menghancurkan Islam?.

Apalah yang ada lagi pada aqidah, syariah dan nilai akhlak umat Islam seperti yang dibawa oleh junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. dan para sahabat Baginda yang mulia setelah ajaran Syiah yang begini dianggap sebagai ajaran Islam?.

Tentu sekali tiada lagi yang tinggal dari ajaran Islam yang masih berbaki sesudah itu dan inilah yang dikehendaki oleh mereka.

Sesungguhnya para Imam yang terdiri dari anak cucu Rasulullah s.a.w. yang dianggap sebagai Imam oleh Syiah tidak terlibat sama sekali dengan ajaran-ajaran yang diperkenalkan oleh Syiah kepada dunia atas nama mereka. Malah mereka itu telah pun mengetahui gelagat-gelagat dan jiwa-jiwa orang-orang yang mendakwa sebagai Syiah atau pendokong setia mereka.

Nah! Imam Jaafar as-Sadiq sendiri pernah berkata tentang Syiah bahawa: “Tidak ada satu pun ayat yang diturunkan oleh Allah tentang golongan munafiqin melainkan kandungan ayat itu pasti ada pada orang yang mendakwa Syiah.” (Rijal Kasyi, Hal: 299).

Oleh itu di dalam menghadapi golongan yang mempunyai fahaman yang seumpama ini semestinya setiap muslim menyatakan pendiriannya seperti pernah dinyatakan oleh Nabi Ibrahim a.s. bahawa: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah. Kami engkari (Kekufuranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata-mata …….. .” (Surah al-Muntahanah ayat 4).

atas

http://adiko.multiply.com/journal/item/14