Fitnah Dari Arah Timur [Nejed Ataukah 'Iraq?]
Suatu hari Rasulullah pernah mendoakan negeri Yaman dan Syam, cerita ini terekam dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sohihnya
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan” [1][Shahih Bukhari 2/33 no 1037]
-Selanjutnya hadits ini kita sebut hadits pertama-
Yaman dan Syam adalah negeri yang jelas, lalu dimanakah letak Najd yang dimaksud dalam hadit diatas? Sebenarnya dalam menafsirkan lafadz Najd, kebanyakan ulama ulama condong memvonis bahwa yang dimaksud adalah negeri Iraq, sekalipun begitu Realitas yang terjadi sekarang membuat beberapa orang bingung karena yang familiar di telinga dan lisan bahwa daerah Najd berada di Arab Saudi tepatnya dekat Diríyah dan sekitarnya yang merupakan tempat kelahiran Muhammad bin Abdul Wahab yang belakangan diperkenalkan oleh Penjajah Inggris sebagai perndiri sebuah Aliran yang ditakuti dunia dan mereka mereka menamakannya “Wahabi.”. ditambah lagi orang-orang yang tinggal disekitar daerah tersebut dinisbahkan dengan nama al-Najdi.
Apa itu Najd?
Secara bahasa Najd adalah tanah yang tinggi. Pemilik Kamus terkenal Asli Indonesia- KH Ahmad Warson Munawwir- menyebutkan dalam kamusnya
أنجد البناء: إرتفع artinya tinggi
النجد : مصدر نجد
(ج نُجُدٌ ونِجَادٌ ونُجُودٌ واَنجَادٌ) artinya tanah yang tinggi.[2]
Jika anda ingin menambah Pengetahuan tentang Makna Najd, silahkan membuka kamus-kamus unggulan seperti seperti Lisan Al-’Arab, Mu’jam Maqayis Al-Lughah, dan Al-Qamus Al-Muhit niscaya anda akan mendapati bahwa mereka akan bersepakat bahwa Najd itu adalah tanah yang tinggi.
Dalam mensyarahkan hadits ini Al hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani menukil pendapat al Khattabi tentang najd yang merupakan negeri Iraq:
نجد من جهة المشرق، ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها وهي مشرق أهل المدينة، وأصل نجد ما ارتفع من الأرض وهو خلاف الغور فإنه ما انخفض منها، وتهامة كلها من الغور ومكة من تهامةِ
Najd Itu berada disebelah timur. Siapapun yang berada diMadinah, maka najdnya adalah pedalaman Iraq dan sekitarnya. Itulah sebelah timur Madinah. Asal kata Najd adalah tanah yang meninggi, berbeda dengar ghaur yang berarti tanah yang rendah. Seluruh Tihamah merupakah Ghaur dan Mekkah termasuk bagian Tihamah.[3]
Setelah itu Ibnu Hajar menambahkan pernyataan al Khattabi bahwa Najd adalah setiap tanah yang tinggi dengan mengatakan
كل شيء ارتفع بالنسبة إلى ما يليه يسمى المرتفع نجدا والمنخفض غورا
Setiap yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekitarnya dinamakan Najd dan setiap yang lebih rendah dinamakan Ghaur.
Dari pemahaman Ini tentu kandidat tafsiran Najd terkait hadits nabi diatas menjadi banyak. Bahkan pemilik kitab Mu’jamul buldan Menyebutkan ada 12 Najd yang pernah dikenal oleh orang Arab dan tentu dataran Najd di Saudi Arabia[4] dan Juga Negeri iraq termasuk diantara yang bernama Najd[5]
Menelisik Hadits-Hadits terkait
Kita tidak akan mendapatkan informasi jelas dan tepat jika hanya mengandalkan bahasa untuk mencari tahu tentang Najd yang dimaksud oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Dalam hal ini tentu kita harus membandingkan hadits-hadits yang memiliki kaitan dengan hadits diatas.
Perselisihan tentang dimanakah tanduk setan itu akan muncul mengerucut kepada dua tempat Najd Yamamah yang merupakan daerah sekitar Riyadh dan atau Dir’iyah atau negeri Iraq
Berikut beberapa hadits terkait
حدثنا عبدالله بن عمر بن أبان وواصل بن عبدالأعلى وأحمد بن عمر الوكيعي (واللفظ لابن أبان). قالوا: حدثنا ابن فضيل عن أبيه. قال: سمعت سالم بن عبدالله بن عمر يقول: يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم للكبيرة! سمعت أبي، عبدالله بن عمر يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الفتنة تجئ من ههنا” وأومأ بيده نحو المشرق “من حيث يطلع قرنا الشيطان” وأنتم يضرب بعضكم رقاب بعض. وإنما قتل موسى الذي قتل، من آل فرعون، خطأ فقال الله عز وجل له: {وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا} [[20/طه/40
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang berasal dari keluarga Fir’aun karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)]
-Selanjutnya hadits diatas kita sebut hadits kedua-
حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر
Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]
-Selanjutnya hadits diatas kita sebut hadits ketiga-
Telah dinukil beberapa pendapat terkait tafsir dari najd dalam hadits pertama, diantaranya:
Najd adalah Negeri Iraq
Inilah Pendapat yang paling banyak dinukil. Pendapat ini merupakan pendapat Imam khattabi, Ibnu Abdil Bar[6], al Kirmani[7], dan Allamatul Iraq al Alusi[8]. Pendapat ini tentunya dikuatkan Oleh para pendukung dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab seperti Syaikh Albani dan murid-muridnya dan sekumpulan Ulama Hijaz. Mereka berdalil dengan hadits kedua dan sejenisnya yang secara jelas mengatakan bahwa fitnah tersebut akan datang dari Iraq. Selain itu kajian hadits-hadits dan Realitas tentang kemunculan Dajjal dan Khawarij juga menguatkan bahwa iraqlah yang dimaksud negeri sumber Fitnah tersebut. Ditambah lagi dengan perang jamal, pembunuhan cucu Rasulullah, dan perang saudara hingga sekarang mengambil lokasi di Iraq.
Ibnu Taimiyah pernah meunjukkan bahwa hadits-hadits tersebut merujuk kepada Kufah- Iraq-, beliau berkata:
ومعلوم أنه كان بالكوفة من الفتنة والتفرق ما دل عليه النص والإجماع، لقول النبي صلى الله عليه وسلم : الفتنة من ههنا، الفتنةمن ههنا، الفتنة من ههنا،من حيث يطلع قرن الشيطان
Diketahui bahwa di Kufah terjadi fitnah dan perpecahan yang telah ditunjukkan oleh Nash dan Ijma karena ada Sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: fitnah dari arah sini, fitnah dari arah sini, fitnah dari Arah sini, yaitu dari tempat munculnya tanduk setan[9]
Najd Adalah Tanah Kelahiran Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab
Pendapat ini banyak Muncul di jaman ini dari kalangan Syiah, Alawiyah, dan Pendukung tokoh Asyáriyah dari libanon yang bernama al Harary. Mereka terkenal dengan nama gerakan Ahbas atau AICP. Kalangan-kalangan ini adalah musuh dakwah Syaikh Muhammad bin abdul Wahab. Mereka berhujjah dengan Hadits ketiga karena Kabilah Rabiah dan Mudhar menurut mereka hidup di Hijaz dan sekitarnya bukan Iraq. Mereka juga berhujjah dengan hadits ramalan Rasulullah terhadap Dzulkhuwaisirah at Tamimi dan realitas munculnya Musailamah yang merupakan keturunan bani hanifah dari Kabilah Rabiah.
Najd adalah seluruh daerah Masyriq al Arabiy
Jika kita perhatikan, hadits-hadits yang memberitakan tentang fitanah dan tanduk setan banyak merujuk kepada kata masyriq secara umum maupun masyriq dalam hal arah dan matahari terbit. Dari sini lahirlah pendapat ini
Pendapat ini lebih Moderat dan mengambil jalan tengah dari perselisihan diatas. Dalam kitab Naqdu al Taqdis[10] ibnu Taimiyah berkata:
قد تواتر عن النبي إخباره بأن الفتنة ورأس الكفر من المشرق الذي هو مشرق مدينته كنجد وما يشرق عنها
Telah Mutawatir khobar dari Nabi Shallallahu alaihi Wasallam bahwa fitnah dan pangkal kekufuran berasal dari timur –timur Madinah- seperti Najd dan semua daerah sebelah timurnya (Madinah)
Kemudian beliau memberikan contoh yang terjadi di Najd Hijaz
ولا ريب أن من هؤلاء ظهرت الردة وغيرها من الكفر، من جهة مسيلمة الكذاب وأتباعه وطليحة الأسدي وأتباعه، وسجاح وأتباعها، حتى قاتلهم أبو بكر الصديق ومن معه من المؤمنين، حتى قتل من قتل، وعاد إلى الإسلام من عاد مؤمنا أو منافقا
Tidak diragukan lagi bahwa disana muncul kemurtadan dan hal-hal lain yang termasuk kekufuran, diantaranya Musailamah al Kadzab dan para pengikutnya, Thalihah al Asadiy dan para pengikutnya, Sujah dan para pengikutnya hingga mereka diperangi oleh abu Bakar as Shiddiq dan orang-orang mukmin yang bersama beliau. Ada yang terbunuh dan ada yang kembali sebagai mukmin maupun Munafiq.[11]
Pendapat ibnu Taimiyah ini tidak bertentangan dengan apa yang telah ia katakan di Majmu Fatawâ diatas, karena negeri Iraq berada di Masyriq
Senada dengan hal ini, Ulama-ulama yang merupakan anggota lembaga Fatwa tertinggi diarab Saudi yang diketuai Oleh Syaikh Abdul Aziz bin bazz memfatwakan bahwa hadits-hadits semacam ini berlaku umum untuk tempat yang disebut Masyriq. Setelah memaparkan pendapat para ulama tentang Tafsir hadits-hadits ini, mereka menyimpulkan
والظاهر أن الحديث يعم جميع المشرق الأدنى والأقصى والأوسط، ومن ذلك فتنة مسيلمة وفتنة المرتدين من ربيعة ومضر وغيرهما
Yang nampak, hadits itu berlaku umum untuk seluruh Masyriq baik yang dekat, jauh maupun tengah. Termasuk fitnah tersebut adalah Fitnah Musailamah dan fitnah orang-orang Murtad dari Kabilah Rabiah dan Mudhar dan selain keduanya.[12]
Apa itu Masyriq?
Kita sebagai Ajam mungkin terjebak dengan kata ini dan menerjemahkan secara letterlijk dengan istilah ‘timur’ , tapi kita tidak sepenuhnya benar, masyriq menurut orang arab dan yang sering disebut dalam banyak istilah sejarah merupakan suatu bagian wilayah timur tengah yang membentang dari laut tengah disebelah barat hingga dataran tinggi Iran disebelah timur. Daerah tersebut adalah daerah disebelah timur Jazirah arab, sebaliknya mereka menyebut wilayah sebelah barat seperti Tunisia dan maroko dengan istilah Maghrib yang secara Bahasa berarti ‘barat’. Dari sini kita bisa tahu bahwa wilayah masyriq adalah Iraq, Palestina, Yordania, Libanon, Arab Saudi, Uni emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman, Bahrain. Adapun mesir dan sudan merupakan daerah percampuran antara masyriq dan maghrib.
Jembatan antar pendapat.
Dalam Sohih Bukhari disebutkan
حدثنا علي بن عبد الله حدثنا سفيان عن اسماعيل عن قيس عن أبي مسعود يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم قال : من ههنا جاءت الفتن نحوالمشرق والجفاء وغلظ القلوب في الفدادين أهل الوبر عند أصول اذناب الابل والبقر في ربيعة ومضر
Telah menceritakan kepadaku Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku Sufyan dari Ismail dari Qais dari Abi Mas’ud, telah sampai kepadanya bahwa Nabi Shallallahu alaihi Wasallam berkata: dari sini datang fitnah yaitu sekitar masyriq, kasar dan keras hati ada pada Fadadin yaitu Arab pedalaman yang bermata pencaharian dari unta dan sapi pada kabilah Rabiah dan Mudhar[13]
Kita tahu bahwa orang-orang iraq tidak dikenal sebagai pengembala atau peternak Unta, namun itu adalah mata pencaharian orang-orang Hijaz kala itu, sebaliknya Orang Hijaz tidak bermata pencaharian sebagai peternak Sapi, namun itu adalah mata pencaharian orang-orang iraq yang mengkhususkan diri beternak sapi dan bercocok tanam.
Benar, Penduduk Hijaz adalah keturunan kabilah Mudhar dan Rabiah, tapi jangan salah!. kebanyakan bangsa arab adalah keturunan dua kabilah besar ini. Rasulullah merupakan keturunan dari kabilah Mudhar. Beliau adalah Mudhar bin Nazzar bin Maad bin Adnan. Kabilah ini bercabang menjadi dua kabilah yaitu kabilah Qays Ailan bin Mudhar dan Qabilah Ilyas bin Mudhar yang dari sinilah asal Bani Tamim Moyang Syaikh Muhammad bin abdul Wahab dan juga suku Quraisy yang merupakan moyang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
Kabilah Rabiah merupakan salah satu kabilah pokok terbesar bangsa arab selain Mudhar dari keturunan Adnan. Beliau adalah Rabiah bin Nazzar bin Maad bin Adnan. Kabilah ini hidup di Hijaz kemudian pindah ke timur, utara, dan tengah Jazirah Arab. Salah satu keturunan Rabiah yaitu Abdul Qais pindah ke daerah timur dari jazirah arab. Bani Hanifah yang juga masih keturunan Rabiah menetap di Yamamah. Dari Bani Hanifah inilah Musailamah al kadzab berasal.
Jika kita telah mengetahui asal usul Qabilah Rabiah dan Mudhar serta besar dan banyaknya cabang-cabang dari mereka, maka dipastikan bahwa penyebaran mereka tidak hanya disatu tempat (Hijaz,red), namun mereka tersebar diseantaro jazirah arab, karena mereka adalah pangkal kabilah arab utama dan terbesar. Dalam Kitab Ansharul Husain karangan Muhammad Mahdi Syamsuddin halaman 218 disebutkan “ kami mengetahui bahwa kebanyakan penduduk Bashrah berasal dari Kabilah Rabiah dan Mudhar”.
Dari pembahasan ini maka jelaslah bahwasanya hadits-hadits diatas menunjukkan bahwa fitnah tersebut bisa saja terdapat terjadi secara umum diseluruh Masyriq, hanya saja telah datang beberapa isyarat dan realitas bahwa tafsirannya mengerucut kepada Najd Hijaz dan negeri Iraq.
Kaidah Penting
* keutamaan yang tetap dalam bentuk umum tidak menjadi ketetapan bagi individu begitu juga kecaman yang tetap dengan keumuman tidak menjadi ketetapan bagi Individu.
Jika benar bahwa yang dimaksud Najd adalah Iraq atau Yamamah (Hijaz), maka kita tidak boleh menetapkan celaan dan kecaman kepada pribadi-pribadinya karena tidak otomatis penduduk negeri tersebut menjadi tercela. Berapa banyak orang fasik dan tercela berada di Madinah, Mekkah dan Syam sedangkan banyak sekali orang alim lagi terpuji tinggal dan lahir di Iraq dan Hijaz. Dalam sebuah hadits yang ditujukan kepada penduduk Madinah disebutkan
إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ
Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah ditengah-tengah rumah kalian seperti tetesan-tetesan Hujan.
Apakah boleh kita mencela penduduk Madinah atau Ulama madinah? Hasya Wa kalla
* Bumi tidak mensucikan individu
Begitu indah apa yang dikatakan oleh dua orang yang telah dipersaudarakan oleh Rasulullah shallallahu Alaihi Wasallam.karena cintanya Salman kepada abu Darda, beliau menginginkan Saudaranya tersebut Pindah bersamanya kesyam sebagai daerah yang kerap dipuji oleh Rasulullah., lalu Abu Darda menjawab dengan jawaban yang perlu ditulis dengan tinta emas, Abu Darda menjawab:أما بعد, فأن الأرض المقدسة لا تقدس أحداً, وإنما يقدس الإنسان بعملهAmma ba’du, Sesungguhnya tanah yang disucikan tidak dapat mensucikan seorangpun, Yang bisa mensucikan seseorang adalah amalnya.
* Celaan dan kecaman terhadap suatu daerah tertentu terkait fitnah yang akan terjadi didaerah tersebut tidak terjadi sepanjang kurun dan waktu tapi terkadang daerah tersebut adalah mercusuar dari pengetahuan dan keilmuan serta kejayaan.
Syaikh Abdul Latif Alu Syaikh yang merupakan keturunan Syaikh Muhammad bin abdul Wahab mengatakan :ولا يقول مسلم بذم علماء العراق لما ورد فيها، وأكابر أهل الحديث وفقهاء الأمة أهل الجرح والتعديل أكثرهم من أهل العراقSeorang muslim tidak layak mencela Ulama Iraq karena hadits-hadits tersebut, para pembesar ahli hadits dan para fuqaha Ummat serta ahli Jarh dan ta’dhil kebanyakan berasal dari Iraq[14]
Kepada para Pencela Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
Saya amat mengkhawatirkan kalau mereka termasuk dalam khitob firman Allah Subhanahu Wataala:
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu’min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. Qurán surat Al Buruj :10
Semoga bermanfaat.
[1] HR Bukhari 2/33 no 1037
[2] Al Munawwir hal 1388
[3] Al-’Asqalani, Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Hajar, Fath Al-Bari Bi Sharh Sahih Al-Bukhari, Dar Al-Ma’rifah, Beirut, 1379H, 13: 47
[4] Disebut Najd Hijaz, yaitu daerah sekitar Riyadh sekarang dan Dir’iyah
[5] Mu’jam al Buldân 5:265
[6] Tamhid 1/279
[7] Al Fath 13/47
[8] Ghayatul Amani Fi Raddi Ala al Nabhani 2/148
[9] Majmu Fatawâ jilid 20/316
[10] Kitab ini memiliki Nama lain yaitu Bayan Talbis Jahmiyah dan merupakan bantahan terhadap salah satu kitab milik Imam al Razi
[11] Bayan Talbis Jahmiyah 1/17-24
[12] Fatawâ Lajnah Daimah lil buhuts wal Ifta, Abdurrazak al duwais jilid 3 pertanyaan nomor 6667. ditandatangani oleh Syaikh abdul Aziz bin Baz, syaikh Abdullah Ghudayyan, Syaikh Abdullah bin Quud, Syaikh Abdul Razaq al Afifi
[13] HR Bukhari
[14] Mishbahu al Dzulam hal 236
Saturday, June 25, 2011
MUSUH-MUSUH ISLAM DARI ZAMAN NABI SAW HINGGA HARI INI
Bahaya Laten Orang-Orang Yahudi. Dan Orang-Orang Musyrik
Secara umum bahaya laten adalah bahaya atau ancaman secara sistemik, terorganisir yang ada, namun kehadirannya tidak disadari dan mengganggu sendi-sendi kehidupan manusia baik dalam hal beragama, berpolitik, berideologi, bernegara dll.
Lalu mengapa kita harus menyoroti orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik?
Sesuai dengan firman Allah,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Selanjutnya kami menulis mereka (dalam huruf miring/italic) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Kecuali dalam firman Allah atau Hadits yang memang biasa tertulis dalam huruf miring/italic
Bahaya Laten pada zaman Rasulullah.
Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami, Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah, sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang), dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!” Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku, wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka……
Dalam kasus Rasulullah Saw. mereka yang kurang ilmu ini memprotes Rasulullah saat membagikan ghanimah. Mereka menuduh Rasulullah Saw. tidak adil karena tidak membagi rata harta itu. Jelas ini kebodohan. Rasulullah tentu lebih tahu daripada orang ini. Tapi, dia merasa bahwa dialah yang benar. Inilah sifat dasar orang-orang Khawarij.
Semasa Rasulullah Saw. memang belum terjadi fitnah karena mereka. Sebab, saat para sahabat ingin memerangi mereka, oleh Rasulullah Saw. dicegah. Rasulullah Saw. tahu di belakangnya ada teman-teman mereka yang sifatnya sama. Sangat mungkin saat temannya dianiaya, mereka akan mengobarkan perang melawan Rasulullah Saw. dan sahabatnya. Padahal, mereka bukan orang “kafir.” Shalat, shaum, dan ritual mereka boleh dikatakan di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang akan merusak Islam. Rasulullah Saw. memilih menjauhkan mereka dari Madinah. Dan mereka memilih tinggal di suatu kampung bernama Haruri. Oleh sebab itu pula, mereka sering disebut kaum Haruriyyah.
Sedangkan kisah suku Aus dan Khajraj. Pada masa Jahiliyah kedua suku tersebut saling bermusuhan dan berperang selama 120 tahun. Setelah mereka memeluk Islam Allah menyatukan hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan saling menyayangi.
Ketika orang-orang Aus dan Khajraj sedang berkumpul dalam satu majlis, kemudian ada seorang Yahudi yang melalui mereka, lalu ia mengungkit-ungkit permusuhan dan peperangan mereka pada bani Bu’ats. Maka permusuhan diantara kedua suku tersebut mulai memanas kembali, kemarahan mulai timbul, sebagian mencerca sebagian lain dan keduanya saling mengangkat senjata, lalu ketegangan tersebut disampaikan kepada nabi shallallahu alaihi wa salam. Kemudian beliau mendatangi mereka untuk menenangkan dan melunakkan hati mereka, seraya bersabda:
“Apakah dengan panggilan-panggilan jahiliyah, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” Lalu beliau membacakan Ali Imron ayat 103 yang artinya,
‘Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”
Setelah itu mereka menyesal atas apa yang telah terjadi dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakan senjata masing-masing.
Bahaya laten pada zaman sahabat nabi.
Fitnah paling besar yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij terjadi pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang dimulai saat terbunuhnya Utsman ibn ‘Affan. Kekerasan yang mereka lakukan dipicu oleh kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali ibn Abi Thalib untuk berdamai dengan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin melalui perundingan Tahkim.
Mereka semula mendukung Ali ra. dan berlindung di bawah kekuasannya setelah sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Utsman ibn ‘Affan. Agar kejahatan mereka tidak terbongkar, mereka ingin memanfaatkan Ali ra. dengan bersegera membai’atnya sebagai Khalifah dan masuk menjadi barisan pendukung Ali.
Mereka tahu bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Mu’awiyah sangat vokal meuntut alas atas kematian Utsman. Namun, mereka pula yang memprovokasi Ali dan pasukannya untuk memerangi mereka atas nama tindakan bughât.
Perang Jamal dan Shiffin yang sama-sama tidak diinginkan oleh para sahabat yang mulia itu akhirnya terjadi. Pemicu meletusnya kedua perang itu adalah orang-orang Khawarij yang posisinya juga dimanfaatkan oleh Abdullah ibn Saba, pentolan Yahudi-Munafik yang menjadi dalang dari semua fitnah pada masa Khulafaur-Rasyidin.
Saat Ali memutuskan untuk berdamai dengan Mu’awiyah dan melakukan perundingan (Tahkîm), serta masng-masing pihak menyadari kekeliruannya, terlihatlah watak asli kelompok ini Mereka terlihat sangat kecewa; dan akhirnya membuat makar terhadap otoritas kekuasaan Ali ra. Makar yang berakhir dengan pembunuhan keji yang mereka lakukan terhadap Khalifah kekasih Rasulullah Saw. ini.
Orang yang membunuh Ali bernama Abdurrahman ibn Muljam. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa pembunuh ini sebenarnya sangat tidak pantas menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh Ali bin Abi Thalib yang sudah dijanjikan Allah Swt. akan masuk surga.
Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Umar ibn Khattab, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash.
Namun, karena ilmunya yang dangkal, sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Ali ibn Abi Thalib.
Pada masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia diadili. Hukuman Qishash pun dijatuhkan padanya. Saat hendak dipenggal kepalanya, ia berteriak, “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Lihatlah betapa ia dengan sangat percaya diri meyakini bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ali ibn Abi Thalib kekasih Rasulullah Saw. adalah sebuah kebenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa hal demikian melanggar aturan yang jelas dalam Islam.
Sedemikian hebat peran Khawarij dalam menghancurkan barisan umat Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw. mensinyalir bahwa sampai kiamat orang-orang yang berperilaku semacam ini akan ada sampai hari kiamat.
Mereka tetap akan mengibarkan panji-panji Islam. Perilaku keseharian mereka mencerminkan orang yang dekat dengan Allah Swt., namun kebodohan mereka telah menyeret mereka ke lembah kenistaan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Swt.
Pada umumnya mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan kekuasaan atau ekonomi untuk melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam, namun mereka melakukannya atas nama Islam.
Dalam kasus ini yang paling dirugikan adalah Islam. Rasulullah mengibaratkan apa yang mereka lakukan seperti anak panah yang mengoyak binatang buruan dengan sangat cepat, tapi tanpa bekas. Dari ujung sampai pangkal anak panah tidak terlihat bekas sama sekali saking cepatnya anak panah itu menyambar dan menembus tubuh binatang buruan itu. Binatang itu mati, tapi tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Jangankan pelakunya, jejak pada anak panah pun tidak ada.
Belajar dari peristiwa gencatan senjata dalam perang “Shiffin” antara tentara Saidina ‘Ali dan Saidina Mu’awiyah maka kedua belah pihak mengangkat suatu panitia yang terdiri dari dua golongan yang bermusuhan ini. Panitia ini tujuannya untuk menjadi hakim dalam perselisihan ini, yakni mencari jalan untuk terlaksananya perdamaian antara dua golongan ummat Islam yang melakukan perang saudara.
Sekumpulan orang “khawarij” tidak mau menerima terbentuknya panitia penyelesai itu, karena menurut pendapat mereka hukum tidak boleh diminta kepada manusia, tetapi harus diminta kepada Allah. Mereka mengeluarkan semboyan: “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah.
Ketika disampaikan kepada Saidina ‘Ali semboyan orang khawarij ini, beliau menjawab: “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah)
Pesan Saidina ‘Ali ini sebaiknya untuk selalu diingat kaum muslim untuk menghadapi bahaya laten dari orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Bahaya Laten pada masa akhir kekhalifahan Turki Ustmani
Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.
Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.
Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”
Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.
Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.
Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.
Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.
Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.
Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.
Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.
Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.
Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.
Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.
Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.
Bahaya Laten dalam Pemikiran / Pemahaman / Akidah / I’tiqad.
Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat Islam. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.
Mereka juga membuat/mengarahkan agama baru seperti Bahaiyah yang didirikan seseorang Freemason Abdulbaha.
Ahmadiyah didirikan oleh seorang Freemasonry India Mirza Ghulam Ahmad, yang radikal disebut aliran Qadyani, dan yang halus disebut aliran Lahore. Biaya dakwah dan tablighnya itu dari Freemasonry International melalui penguasa Inggris.
Freemasonry pun mensponsori terbentuknya tharekat-tharekat Islam yang berfatwa dan bergerak sejalan dengan ajaran Freemasonry itu, di bentuknya pada tahun 1946 gerakan Quraniyah dipimpin oleh Syekh Yakub dari Palestina, segala sesuatu harus berdasar Qur’an tanpa tafsir dan semua hadits Nabi saw ditolaknya, sehingga mereka shalat dan saum hanya berdasarkan Qur’an, tidak ada raka’at dalam shalat, tidak ada bacaan tertentu dalam shalat, tidak ada adzan, qamat dsb.
Mereka melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Biasa mereka lakukan pengrusakan disaat peperangan/penyerangan wilayah/negara Muslim. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Ingat pesan Saidina Ali Rda, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan maksud/tujuan yang salah).
Setelah mereka pelajari dan sesuai dengan maksud/tujuan mereka maka mereka “menyebar luaskan” dan membantu/mendanai penerbitan buku-buku / tulisan tersebut. Setelah mereka berhasil “menyusupi” Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) ke Arab Saudi, diawali dengan konsep keamanan dan bentuk negara kerajaan maka selanjutnya mereka “seolah-olah” mendukung kemajuan Islam dengan membantu menerbitkan buku-buku karya Imam Muslim yang sesuai dengan maksud/tujuan mereka minimal adalah upaya menimbulkan konflik dan pertentangan dikalangan muslim diseluruh dunia.
Pemikiran dan pemahaman yang tidak cocok menurut mereka adalah pemikiran dan pemahaman seperti Muhammad bin Abdul Wahab yang menginduk pada pemikiran salaf ala Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah melakukan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits yang sebagian pihak memberikan istilah “Pemurnian Pemahaman” dalam arti bahwa penafsiran Qur an dan hadis harus dilakukan dengan mengikut paham para sahabat nabi saw.
Metode pemikiran, pemahaman atau penafsiran Ibnu Taimiyah terhadap Al-Qur’an dan Hadits dan dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab,yang dianggap mereka sebagai ancaman. Untuk selanjutnya merekame manfaatkan perbedaan pendapat dikalangan ulama islam untuk mewujudkan pertikaian dan perbalahan sesama umat islam.
Mereka munculkan isu bahwa Sebagian kaum muslimin yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau dengan Muhammad bin Abdul Wahab dapat berlaku keras/kasar kepada sesama muslim namun mereka bisa berlaku lembut/lunak kepada orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik. Walaupun sebetulnya Ibnu Taimiyah mengatakan sebaliknya. Mereka menyalah artikan apa saja yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti ungkapan dibawah ini:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata , ”Seorang mu’min terhadap mu’min lainnya bagaikan kedua tangan, salah satu mencuci tangan yang lain, namun bisa saja kotoran ( yang melekat ditangan) tidak bisa hilang kecuali dengan bentuk cara (pembersihan) yang keras/kasar. Namun (cara keras/kasar seperti) itu benar-benar mendatangkan kebersihan dan kehalusan (pada tangan) yang membuat kita memuji cara yang kasar tersebut.” [ lihat : Majmu' Fatawa XXvIII/53-54]
Bagi Ibnu Taimiyah, hak pertama yang harus diperoleh oleh non muslim ( kafir zimmah )adalah perlindungan terhadap ancaman eksternal dan internal. Untuk perlindungan dari ancaman dari luar, umat Islam, termasuk pemerintahannya berkewajiban menggunakan segala potensinya, meski jumlah kelompok non muslim hanya hitungan jari.
Ibnu Hazm, Ahli Fiqh terkenal, berpendapat: “Bila ada tentara yang masuk ke negara kita untuk menyerang ahli zimmah (kelompok non muslim), kita harus membela mereka dengan senjata sampai nafas terakhir, demi membela orang dilindungi Allah dan RasulNya. Siapa yang tidak melakukannya, berarti telah melecehkan perjanjian perlindungan dengan Allah dan Rasul.
Al-Qurafi dari mazhab al-Maliki menambahkan bahwa ‘perjanjian’ yang membawa korban nyawa dan harta umat Islam untuk melindungi Ahli Kitab adalah perjanjian yang maha agung.
Sikap Ibnu Taimiyah terhadap kelompok non muslim, juga mencerminkan betapa konsistennya terhadap perjanjian perlindungan dalam Islam (zimmah). Ketika tentara Tartar hanya membebaskan tawaran orang Islam, Ibnu Taimiyah berkata kepada komandan Tartar waktu itu: “Kami tidak rela, kecuali kalau semua tawanan Yahudi dan Nashrani dibebaskan, karena mereka dalam perjanjian perlindungan dengan kami (zimmah). Kami tidak rela membiarkan orang Zimmah dan kelompok agama lain tetap menjadi tawanan .
Perlindungan jiwa dan kekayaaan kelompok non muslim, menurut Ma’badi, mencakup perlindungan kekayaan yang dilarang dalam Islam spt minuman keras dan babi dan melaksanakan ritual yang bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk juga, kesaksian selama tidak terkait dengan masalah agama Islam spt perkawinan dan perceraian.
Hak non muslim lainnya adalah kehidupan yang layak di hari tua dan merupakan fardu kifayah bagi umat Islam; pembebasan bila ditawan musuh; dan menduduki jabatan publik selama tidak terkait langsung dengan ajaran Islam spt Imam, Jihad dan sebagainya .
Sebagian muslim yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau sepahaman dengan Muhammad bin Abdul Wahab bahkan dapat menolak mengibaratkan orang-orang yahudi zionis bagaikan Ya’juj Ma’juj hanya dikarenakan kaum Zionis, walaupun kebanyakan mereka datang dari berbagai negara Eropa, akan tetapi mereka adalah kaum Yahudi keturunan Sam bin Nuh. Mereka hanya menyandarkan kepada keturunan saja tanpa melihat realita yang sesungguhnya.
Saat ini sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatirkan jika anaknya melanjutkan pendidikan agama di Arab Saudi, sehingga mereka menyatakan pendapat bahwa, “berhati-hatilah karena jika anakmu kembali mereka memungkinkan untuk “mengkafirkan” orang tuanya.
Begitu juga sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatiran jika anaknya melanjutkan pendidikan di Universitas Islam (IAIN dahulunya) di Indonesia karena mereka khawatir jika anaknya selesai pendidikan akan berpahaman liberal.
Paham liberal yang didapat oleh ulama/imam Indonesia yang didapat dari pendidikan di Barat seperti Amerika. Pendidikan yang dibiayai oleh mereka yang sesungguhnya adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman.
Bahaya laten dengan mecerai-beraikan umat muslim.
Sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M. Lalu “mereka” (orang-orang yang keras permusuhannya dengan orang beriman) merubahnya dan memecah ukhuwah Islamiyah kedalam nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme. Sehingga saat ini, kita dengan sesama negara tetangga seperti Malaysia yang muslimpun dapat terjangkit permusuhan hanya berdasarkan nasionalisme.
Kemudian dalam bentuk nation-state atau negara dalam kesatuan bangsa, “mereka” memecahkan kekuatan negara dengan konsep desentralisasi atau otonomi daerah.
Mereka juga mengupayakan memecah “kekuatan” negara kepada warganegara masing-masing dengan memasyarakatkan demokrasi secara langsung, yakni pemilihan kepala negara / presiden dipilih langsung oleh rakyat. Padahal Negara kita bertahun-tahun telah menerapkan pemilihan kepala Negara / presiden dipilih dengan sistem perwakilan, oleh orang-orang berkompeten, berilmu dan utusan golongan. Hal ini menyerupai dengan system syariah Islam yang salah satunya menggunakan prinsip perwakilan/legislatif atau dikenal dengan istilah ahlu halli wal aqdhi ., berisikan orang-orang yang berkompeten, berilmu dan utusan golongan yang diharapkan dalam memutuskan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Hadist.
Saat ini, pemilihan presiden/kepala negara di negeri kita bagaikan acara pemilihan penyanyi secara idola atau besarnya tanggapan pemirsa/penonton (idol). Kita bisa bandingkan hasil pemilihan yang dilakukan oleh pemirsa/penonton dengan pemilihan yang dilakukan oleh orang-orang berkompeten seperti dewan juri.
Begitu juga dalam urusan akidah, mereka memecah kekuatan berjamaah, berkelompok, bermahzab menjadi kekuatan-kekuatan individu masing-masing dengan mensoalisasikan pemikiran anti mahzab, hizb, kelompok.
Mereka mencari pembenaran dari pemahaman Ibnu Taimiyah yang dilanjuti Muhammad bin Abdul Wahab. Tanpa kita sadari mereka membuat sebagian umat muslim tidak mempercayai ulama/imam, padahal Allah telah berfirman, ” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 ). Sebagian dari mereka menyempitkan batasan ulil amri kepada imam/ahlu bait.
Sebenarnya mereka memang telah berniat untuk menghilangkan pengaruh ulama/imam/mujtahid (mereka menyebut rohaniawan non yahudi) dari kaum muslim perhatikan apa yang mereka sebut dengan protokol.
Protokol Zionis yang ketujuhbelas
…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para “rohaniawan non-Yahudi” dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..
Dengan memasyarkatkan “tidak mempercayai ulama/imam/mujtahid”, mereka juga berupaya “memberatkan” kaum muslim untuk seluruhnya mempunyai kemampuan ijtihad (pemahaman/penafsiran) atau memecah kekuatan kaum muslim kepada kemapuan/kekuatan individu muslim masing-masing.
Arti Ijtihad menurut ilmu Usul-fiqih yang terpakai dalam syari’at Islam ialah “usaha seorang ahli fiqih menggali dan mengeluarkan hukum-hukum fiqih yang tersirat di dalam Qur’an dan Hadits”
Di dalam ta’rif ini ada beberapa unsur:
1. Usaha seorang ahli fiqih.
2. Ahli fiqih.
3. Menggali dan mengeluarkan hukum fiqih.
4. Hukum fiqih yang tersirat.
5. Dari dalam Al Qur’an dan Hadits.
Usaha seorang yang bukan ahli fiqih tidaklah dinamakan ijtihad. Yang dinamakan ahli fiqih ialah seorang ulama atau katakanlah sarjana yang dalam ilmunya dalam bahasa Arab, dan dalam pula ilmunya dalam tafsir Al Qur’an dan Tafsir Hadits, yang dengan ilmunya itu mempunyai kesanggupan mengeluarkan hukum-hukum agama yang akan dipakai seluruh ummat Islam. Ahli fiqih yang seperti itu dinamai Imam Mujtahid.
Adapun orang awam atau rakyat banyak yang tidak sanggup berijtihad boleh mengikuti saja kepada Imam Mujtahid itu dan mereka dinamai “pengikut” atau “muqallid” atau orang yang taqlid. Jadi arti taqlid ialah mengikuti imam-imam Mujtahid; bukan mengikuti bapak-bapak, bukan mengikuti orang-orang dulu, bukan mengikuti nenek-moyang.
Mereka berupaya agar umat muslim terpecah kepada kekuatan individu dengan memperjuangkan hak-hak indinvidu. Sehingga memungkinkan terjadi kompetisi pada sesama individu dan individu yang kuat yang akan berkuasa dan memimpin. Sehingga pada akhirnya akan tercipta penghambaan kepada manusia sesuai dengan maksud/tujuan mereka menguasai dunia, satu pemimpin (the new world order). Bagi mereka, manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.
Lihat SABILI No. 16 Th XVII, 4 Maret 2010, 18 Rabiul Awal 1431, hal 30
Bagi mereka tidak ada Tuhan (Allah). Nabi Adam hanya mitos, karena manusia berasal dari proses evolusi (teori Darwin). Alam semesta berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan, karena Tuhan juga dianggap mitos. Bahkan saking keblingernya mereka meyakini “manusialah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya.
****
Akhirnya, baiklah kita selalu mengingat bahwa sesama muslim adalah bersaudara meskipun di negara yang berbeda. Marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah, persatuan dalam aqidah Islam berpegang kepada qur an dan hadis sesuai paham para sahabat nabi saw.
Sebaiknya selalu diingat firman Allah bahwa,
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)
Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik
Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.
Setinggi apapun pencapaian pemahaman agama Islam, sebaiknya tidak menganggap muslim lain lebih rendah dan berlaku sombong. Allah berfirman,
”Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS al-Qashash : 76).
Dalam berda’wah kepada non muslim apalagi mengingatkan kepada sesama muslim lakukanlah dengan sebaik-baiknya perlakuan dan bersabarlah. Sungguh umat muslim yang marah, emosi dalam berda’wah menunjukkan ketidak-dekatan dengan Allah dan bukanlah sebagai muslim yang terbaik (muslim yang pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak muslim yang yakin bahwa segala perbuatannya selalui dilihat Allah).
Seberapapun kita merasa tinggi dalam beribadah ingatlah selalu hadits Rasulullah bahwa, …. yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka.
“Tidak sampai melewati tenggorokan mereka”, inilah yang terjadi, ada sebagian umat muslim, semakin hari semakin merasa ibadah mereka seperti rutinitas yang “kering”. Pengajian yang mereka ikuti, bagi mereka memang terasa lebih “ilmiah”dan “masuk-akal” namun kurang terasa “kedalamannya” pada lubuk hati mereka. Mereka mendalami Al-Qur’an dan Hadist sebagaimana ilmu pengetahuan semata
Wallahu a’lam
Pustaka buku:
1. Zionisme – Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era
Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di Asia Tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik
founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah
8. I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru
9. “40 Masalah Agama”, Buku 1 s/d 4, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru
Secara umum bahaya laten adalah bahaya atau ancaman secara sistemik, terorganisir yang ada, namun kehadirannya tidak disadari dan mengganggu sendi-sendi kehidupan manusia baik dalam hal beragama, berpolitik, berideologi, bernegara dll.
Lalu mengapa kita harus menyoroti orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik?
Sesuai dengan firman Allah,
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (Al Maaidah: 82).
Selanjutnya kami menulis mereka (dalam huruf miring/italic) adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik. Kecuali dalam firman Allah atau Hadits yang memang biasa tertulis dalam huruf miring/italic
Bahaya Laten pada zaman Rasulullah.
Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami, Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah, sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang), dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!” Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku, wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka……
Dalam kasus Rasulullah Saw. mereka yang kurang ilmu ini memprotes Rasulullah saat membagikan ghanimah. Mereka menuduh Rasulullah Saw. tidak adil karena tidak membagi rata harta itu. Jelas ini kebodohan. Rasulullah tentu lebih tahu daripada orang ini. Tapi, dia merasa bahwa dialah yang benar. Inilah sifat dasar orang-orang Khawarij.
Semasa Rasulullah Saw. memang belum terjadi fitnah karena mereka. Sebab, saat para sahabat ingin memerangi mereka, oleh Rasulullah Saw. dicegah. Rasulullah Saw. tahu di belakangnya ada teman-teman mereka yang sifatnya sama. Sangat mungkin saat temannya dianiaya, mereka akan mengobarkan perang melawan Rasulullah Saw. dan sahabatnya. Padahal, mereka bukan orang “kafir.” Shalat, shaum, dan ritual mereka boleh dikatakan di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang akan merusak Islam. Rasulullah Saw. memilih menjauhkan mereka dari Madinah. Dan mereka memilih tinggal di suatu kampung bernama Haruri. Oleh sebab itu pula, mereka sering disebut kaum Haruriyyah.
Sedangkan kisah suku Aus dan Khajraj. Pada masa Jahiliyah kedua suku tersebut saling bermusuhan dan berperang selama 120 tahun. Setelah mereka memeluk Islam Allah menyatukan hati mereka sehingga mereka menjadi bersaudara dan saling menyayangi.
Ketika orang-orang Aus dan Khajraj sedang berkumpul dalam satu majlis, kemudian ada seorang Yahudi yang melalui mereka, lalu ia mengungkit-ungkit permusuhan dan peperangan mereka pada bani Bu’ats. Maka permusuhan diantara kedua suku tersebut mulai memanas kembali, kemarahan mulai timbul, sebagian mencerca sebagian lain dan keduanya saling mengangkat senjata, lalu ketegangan tersebut disampaikan kepada nabi shallallahu alaihi wa salam. Kemudian beliau mendatangi mereka untuk menenangkan dan melunakkan hati mereka, seraya bersabda:
“Apakah dengan panggilan-panggilan jahiliyah, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian?.” Lalu beliau membacakan Ali Imron ayat 103 yang artinya,
‘Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai , dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”
Setelah itu mereka menyesal atas apa yang telah terjadi dan berdamai kembali seraya berpeluk-pelukan dan meletakan senjata masing-masing.
Bahaya laten pada zaman sahabat nabi.
Fitnah paling besar yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij terjadi pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang dimulai saat terbunuhnya Utsman ibn ‘Affan. Kekerasan yang mereka lakukan dipicu oleh kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali ibn Abi Thalib untuk berdamai dengan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin melalui perundingan Tahkim.
Mereka semula mendukung Ali ra. dan berlindung di bawah kekuasannya setelah sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Utsman ibn ‘Affan. Agar kejahatan mereka tidak terbongkar, mereka ingin memanfaatkan Ali ra. dengan bersegera membai’atnya sebagai Khalifah dan masuk menjadi barisan pendukung Ali.
Mereka tahu bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Mu’awiyah sangat vokal meuntut alas atas kematian Utsman. Namun, mereka pula yang memprovokasi Ali dan pasukannya untuk memerangi mereka atas nama tindakan bughât.
Perang Jamal dan Shiffin yang sama-sama tidak diinginkan oleh para sahabat yang mulia itu akhirnya terjadi. Pemicu meletusnya kedua perang itu adalah orang-orang Khawarij yang posisinya juga dimanfaatkan oleh Abdullah ibn Saba, pentolan Yahudi-Munafik yang menjadi dalang dari semua fitnah pada masa Khulafaur-Rasyidin.
Saat Ali memutuskan untuk berdamai dengan Mu’awiyah dan melakukan perundingan (Tahkîm), serta masng-masing pihak menyadari kekeliruannya, terlihatlah watak asli kelompok ini Mereka terlihat sangat kecewa; dan akhirnya membuat makar terhadap otoritas kekuasaan Ali ra. Makar yang berakhir dengan pembunuhan keji yang mereka lakukan terhadap Khalifah kekasih Rasulullah Saw. ini.
Orang yang membunuh Ali bernama Abdurrahman ibn Muljam. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa pembunuh ini sebenarnya sangat tidak pantas menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh Ali bin Abi Thalib yang sudah dijanjikan Allah Swt. akan masuk surga.
Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Umar ibn Khattab, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash.
Namun, karena ilmunya yang dangkal, sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Ali ibn Abi Thalib.
Pada masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia diadili. Hukuman Qishash pun dijatuhkan padanya. Saat hendak dipenggal kepalanya, ia berteriak, “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Lihatlah betapa ia dengan sangat percaya diri meyakini bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ali ibn Abi Thalib kekasih Rasulullah Saw. adalah sebuah kebenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa hal demikian melanggar aturan yang jelas dalam Islam.
Sedemikian hebat peran Khawarij dalam menghancurkan barisan umat Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw. mensinyalir bahwa sampai kiamat orang-orang yang berperilaku semacam ini akan ada sampai hari kiamat.
Mereka tetap akan mengibarkan panji-panji Islam. Perilaku keseharian mereka mencerminkan orang yang dekat dengan Allah Swt., namun kebodohan mereka telah menyeret mereka ke lembah kenistaan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Swt.
Pada umumnya mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan kekuasaan atau ekonomi untuk melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam, namun mereka melakukannya atas nama Islam.
Dalam kasus ini yang paling dirugikan adalah Islam. Rasulullah mengibaratkan apa yang mereka lakukan seperti anak panah yang mengoyak binatang buruan dengan sangat cepat, tapi tanpa bekas. Dari ujung sampai pangkal anak panah tidak terlihat bekas sama sekali saking cepatnya anak panah itu menyambar dan menembus tubuh binatang buruan itu. Binatang itu mati, tapi tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Jangankan pelakunya, jejak pada anak panah pun tidak ada.
Belajar dari peristiwa gencatan senjata dalam perang “Shiffin” antara tentara Saidina ‘Ali dan Saidina Mu’awiyah maka kedua belah pihak mengangkat suatu panitia yang terdiri dari dua golongan yang bermusuhan ini. Panitia ini tujuannya untuk menjadi hakim dalam perselisihan ini, yakni mencari jalan untuk terlaksananya perdamaian antara dua golongan ummat Islam yang melakukan perang saudara.
Sekumpulan orang “khawarij” tidak mau menerima terbentuknya panitia penyelesai itu, karena menurut pendapat mereka hukum tidak boleh diminta kepada manusia, tetapi harus diminta kepada Allah. Mereka mengeluarkan semboyan: “La hukma illah lillah”, tidak ada hukum melainkan hanya dari Allah.
Ketika disampaikan kepada Saidina ‘Ali semboyan orang khawarij ini, beliau menjawab: “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan tujuan yang salah)
Pesan Saidina ‘Ali ini sebaiknya untuk selalu diingat kaum muslim untuk menghadapi bahaya laten dari orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Bahaya Laten pada masa akhir kekhalifahan Turki Ustmani
Sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.
Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.
Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”
Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.
Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal.
Secara perlahan namun pasti, “lembaga-lembaga pengkajian” yang dipimpin para orientalis Barat ini meracuni pemikiran umat Islam Turki. Para orientalis menjelek-jelekkan sistem Islam dan membangga-banggakan sistem nasionalisme. Jumlah orang-orang kafir pun meningkat. Lewat penguasaan jaringan media dunia, Yahudi Internasional menghembuskan stigma jahat kepada Turki Utsmani jika Turki merupakan “The Sickman From Asia”, Orang Sakit Dari Asia. Sejumlah kebijakan ekonomi Turki disabotase. Dan perekonomian Turki pun terpuruk.
Dari luar, strategi Yahudi adalah dengan memisahkan Turki Utsmani dengan Arab. Dari sinilah lahir gerakan nasionalisme Arab. Jenderal Allenby mengirim seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence ke Hijaz untuk menemui para pemimpin di sana. TE. Lawrence ini diterima dengan sangat baik dan seluruh hasutannya di makan mentah-mentah oleh tokoh-tokoh Hijaz. Maka orang-orang dari Hijaz ini kemudian membangkitkan nasionalisme Arab dan mengajak tokoh-tokoh pesisir Barat Saudi untuk berontak terhadap kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmaniyah, dan setelah itu mendirikan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Adalah hal yang aneh, gerakan Wahabi yang mengakui sebagai pengikut sunnah Rasulullah SAW ternyata mendukung pendirian kerajaan, monarkhi absolut, yang tidak dikenal dalam khasanah keislaman. Sistem Monarkhi Absolut merupakan bid’ah kubro.
Para pemuda Arab diracuni pemikirannya untuk meninggalkan Islam dan menuhankan Nasionalisme Arab. Maka pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab sebagai jalan baru untuk berjuang. Dokumen yang ditemukan di Konsulat Prancis Damsyik telah membongkar rencana pengkhianatan kepada khilafah yang didukung Inggris dan Prancis.
Dari dalam kekhalifahan sendiri, Konspirasi Yahudi menanamkan banyak orang untuk bisa bekerja demi kepentingannya. Salah satunya adalah Rasyid Pasha, menteri luar negeri di era Sultan Abdul Majid II (1839) ini memperkenalkan Naskah Terhormat (Kholkhonah), yang sesungguhnya merupakan copy-paste dari UU sekuler Eropa.
Pada 1 September 1876, pihak Konspirasi berhasil mengangkat Midhat Pasha, seorang Mason, jadi perdana menteri. Dia membentuk panitia Ad Hoc menyusun UUD sekuler Belgia (dikenal sebagai Konstitusi 1876). Namun Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak Konstitusi ini karena isinya bertentangan dengan syari’at Islam. Midhat Pasha pun dipecat. Hal ini menyebabkan Konspirasi menjalankan agenda B, yakni melakukan pemberontakan yang dijalankan oleh Gerakan Turki Muda yang berpusat di Salonika, sebuah pusat komunitas Yahudi Dumamah, tempat Mustafa Kemal berasal (1908). Kemudian, atas bantuan Barat, Sultan Abdul Hamid II dipecat dan dibuang ke Salonika.
Dalam Perang Dunia I (1914), Inggris menyerang Istambul dan menduduki Gallipoli.
Inggris kemudian sengaja mendongkrak popularitas Mustafa Kemal dengan memunculkannya sebagai pahlawan Perang Ana Forta (1915). Mustafa Kemal menjadi populer dan kemudian menggerakan revolusi nasionalisme. Dia menghasilkan Deklarasi Sivas (1919 M), yang mencetuskan Turki merdeka dan melucuti semua wilayah kekhalifahan Utsmaniyah. Akhirnya Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan sebagainya mendeklaraskan diri sebagai negara nasionalis sendiri yang lepas dari Utsmaniyah. Ideologi Islam dibuang dan digantikan dengan ideologi Nasionalisme.
Saat itu, banyak tokoh Islam yang tertipu dan termakan propaganda Barat mengatakan jika politik Islam atau “politik aliran” sudah bukan masanya lagi, alias sudah ketinggalan zaman.
Sejak saat itu, Mustaf Kemal secara cepat dan gradual berhasil menguasai Turki. Pada 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun rakyat masih banyak yang mendukung kekhalifahan yang kekuasaannya sebenarnya sudah banyak yang lumpuh. Oleh rakyat, Mustafa Kemal dinyatakan murtad. Namun Mustaf Kemal melakukan aksi tandingan dengan mengorbankan darah Muslim Turki. Akhirnya pada 3 Maret 1924, Mustafa Kemal memecat Khalifah dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Turki dijadikan negara sekuler. Semua simbol-simbol keagamaan, terutama Islam, dihapuskan dan terlarang.
Bahaya Laten dalam Pemikiran / Pemahaman / Akidah / I’tiqad.
Mereka adalah Paulus (Yahudi dari Tarsus) yang mengubah esensi dasar agama Nasrani dari yang hanya sebagai agama kaum Nabi Isa menjadi agama misi ke seluruh dunia. Mereka adalah Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman) yang memecah umat Islam. Mereka adalah Mustafa Kemal Attaturk (Yahudi dari Dumamah) yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmani. Mereka adalah Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) yang harum namanya di Saudi dan disebut sebagai Lawrence of Arabia. Mereka adalah Snouck Hurgronje (Yahudi Belanda) yang pura-pura masuk Islam dan menggunakan ‘keIslamannya’ sebagai senjata untuk menghancurkan umat Islam Indonesia.
Mereka juga membuat/mengarahkan agama baru seperti Bahaiyah yang didirikan seseorang Freemason Abdulbaha.
Ahmadiyah didirikan oleh seorang Freemasonry India Mirza Ghulam Ahmad, yang radikal disebut aliran Qadyani, dan yang halus disebut aliran Lahore. Biaya dakwah dan tablighnya itu dari Freemasonry International melalui penguasa Inggris.
Freemasonry pun mensponsori terbentuknya tharekat-tharekat Islam yang berfatwa dan bergerak sejalan dengan ajaran Freemasonry itu, di bentuknya pada tahun 1946 gerakan Quraniyah dipimpin oleh Syekh Yakub dari Palestina, segala sesuatu harus berdasar Qur’an tanpa tafsir dan semua hadits Nabi saw ditolaknya, sehingga mereka shalat dan saum hanya berdasarkan Qur’an, tidak ada raka’at dalam shalat, tidak ada bacaan tertentu dalam shalat, tidak ada adzan, qamat dsb.
Mereka melakukan pengrusakan sumber-sumber tulisan, buku-buku karya Imam Muslim terdahulu, manuskrip yang banyak tersimpan di perpustakaan-perustakaan dan pelbagai tempat penyimpanan. Biasa mereka lakukan pengrusakan disaat peperangan/penyerangan wilayah/negara Muslim. Tidak seluruhnya mereka rusak namun mereka mempelajari terlebih dahulu yang mana sesuai dengan maksud/tujuan mereka. Ingat pesan Saidina Ali Rda, “kalimatu haqin urida bihil batil” (perkataan yang benar dengan maksud/tujuan yang salah).
Setelah mereka pelajari dan sesuai dengan maksud/tujuan mereka maka mereka “menyebar luaskan” dan membantu/mendanai penerbitan buku-buku / tulisan tersebut. Setelah mereka berhasil “menyusupi” Terrence E. Lawrence (Yahudi dari Inggris) ke Arab Saudi, diawali dengan konsep keamanan dan bentuk negara kerajaan maka selanjutnya mereka “seolah-olah” mendukung kemajuan Islam dengan membantu menerbitkan buku-buku karya Imam Muslim yang sesuai dengan maksud/tujuan mereka minimal adalah upaya menimbulkan konflik dan pertentangan dikalangan muslim diseluruh dunia.
Pemikiran dan pemahaman yang tidak cocok menurut mereka adalah pemikiran dan pemahaman seperti Muhammad bin Abdul Wahab yang menginduk pada pemikiran salaf ala Ibnu Taimiyah.
Ibnu Taimiyah melakukan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits yang sebagian pihak memberikan istilah “Pemurnian Pemahaman” dalam arti bahwa penafsiran Qur an dan hadis harus dilakukan dengan mengikut paham para sahabat nabi saw.
Metode pemikiran, pemahaman atau penafsiran Ibnu Taimiyah terhadap Al-Qur’an dan Hadits dan dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab,yang dianggap mereka sebagai ancaman. Untuk selanjutnya merekame manfaatkan perbedaan pendapat dikalangan ulama islam untuk mewujudkan pertikaian dan perbalahan sesama umat islam.
Mereka munculkan isu bahwa Sebagian kaum muslimin yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau dengan Muhammad bin Abdul Wahab dapat berlaku keras/kasar kepada sesama muslim namun mereka bisa berlaku lembut/lunak kepada orang-orang Yahudi maupun orang-orang musyrik. Walaupun sebetulnya Ibnu Taimiyah mengatakan sebaliknya. Mereka menyalah artikan apa saja yang diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah, seperti ungkapan dibawah ini:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata , ”Seorang mu’min terhadap mu’min lainnya bagaikan kedua tangan, salah satu mencuci tangan yang lain, namun bisa saja kotoran ( yang melekat ditangan) tidak bisa hilang kecuali dengan bentuk cara (pembersihan) yang keras/kasar. Namun (cara keras/kasar seperti) itu benar-benar mendatangkan kebersihan dan kehalusan (pada tangan) yang membuat kita memuji cara yang kasar tersebut.” [ lihat : Majmu' Fatawa XXvIII/53-54]
Bagi Ibnu Taimiyah, hak pertama yang harus diperoleh oleh non muslim ( kafir zimmah )adalah perlindungan terhadap ancaman eksternal dan internal. Untuk perlindungan dari ancaman dari luar, umat Islam, termasuk pemerintahannya berkewajiban menggunakan segala potensinya, meski jumlah kelompok non muslim hanya hitungan jari.
Ibnu Hazm, Ahli Fiqh terkenal, berpendapat: “Bila ada tentara yang masuk ke negara kita untuk menyerang ahli zimmah (kelompok non muslim), kita harus membela mereka dengan senjata sampai nafas terakhir, demi membela orang dilindungi Allah dan RasulNya. Siapa yang tidak melakukannya, berarti telah melecehkan perjanjian perlindungan dengan Allah dan Rasul.
Al-Qurafi dari mazhab al-Maliki menambahkan bahwa ‘perjanjian’ yang membawa korban nyawa dan harta umat Islam untuk melindungi Ahli Kitab adalah perjanjian yang maha agung.
Sikap Ibnu Taimiyah terhadap kelompok non muslim, juga mencerminkan betapa konsistennya terhadap perjanjian perlindungan dalam Islam (zimmah). Ketika tentara Tartar hanya membebaskan tawaran orang Islam, Ibnu Taimiyah berkata kepada komandan Tartar waktu itu: “Kami tidak rela, kecuali kalau semua tawanan Yahudi dan Nashrani dibebaskan, karena mereka dalam perjanjian perlindungan dengan kami (zimmah). Kami tidak rela membiarkan orang Zimmah dan kelompok agama lain tetap menjadi tawanan .
Perlindungan jiwa dan kekayaaan kelompok non muslim, menurut Ma’badi, mencakup perlindungan kekayaan yang dilarang dalam Islam spt minuman keras dan babi dan melaksanakan ritual yang bertentangan dengan ajaran agama. Termasuk juga, kesaksian selama tidak terkait dengan masalah agama Islam spt perkawinan dan perceraian.
Hak non muslim lainnya adalah kehidupan yang layak di hari tua dan merupakan fardu kifayah bagi umat Islam; pembebasan bila ditawan musuh; dan menduduki jabatan publik selama tidak terkait langsung dengan ajaran Islam spt Imam, Jihad dan sebagainya .
Sebagian muslim yang sepahaman dengan Ibnu Taimiyah dan/atau sepahaman dengan Muhammad bin Abdul Wahab bahkan dapat menolak mengibaratkan orang-orang yahudi zionis bagaikan Ya’juj Ma’juj hanya dikarenakan kaum Zionis, walaupun kebanyakan mereka datang dari berbagai negara Eropa, akan tetapi mereka adalah kaum Yahudi keturunan Sam bin Nuh. Mereka hanya menyandarkan kepada keturunan saja tanpa melihat realita yang sesungguhnya.
Saat ini sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatirkan jika anaknya melanjutkan pendidikan agama di Arab Saudi, sehingga mereka menyatakan pendapat bahwa, “berhati-hatilah karena jika anakmu kembali mereka memungkinkan untuk “mengkafirkan” orang tuanya.
Begitu juga sebagian orang tua di negara kita dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia mulai ada ke khawatiran jika anaknya melanjutkan pendidikan di Universitas Islam (IAIN dahulunya) di Indonesia karena mereka khawatir jika anaknya selesai pendidikan akan berpahaman liberal.
Paham liberal yang didapat oleh ulama/imam Indonesia yang didapat dari pendidikan di Barat seperti Amerika. Pendidikan yang dibiayai oleh mereka yang sesungguhnya adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman.
Bahaya laten dengan mecerai-beraikan umat muslim.
Sejak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjadi kepala negara Daulah Islamiyyah (Negara Islam) pertama di Madinah, ummat Islam hidup dalam sistem aqidah-state (negara berdasarkan kesatuan aqidah) selama bertahun-tahun sampai dengan berakhirnya kesultanan Turki Ustmani pada tahun 1924M. Lalu “mereka” (orang-orang yang keras permusuhannya dengan orang beriman) merubahnya dan memecah ukhuwah Islamiyah kedalam nation-state (negara bedasarkan kesatuan bangsa) atau yang lebih kita kenal dengan nasionalisme. Sehingga saat ini, kita dengan sesama negara tetangga seperti Malaysia yang muslimpun dapat terjangkit permusuhan hanya berdasarkan nasionalisme.
Kemudian dalam bentuk nation-state atau negara dalam kesatuan bangsa, “mereka” memecahkan kekuatan negara dengan konsep desentralisasi atau otonomi daerah.
Mereka juga mengupayakan memecah “kekuatan” negara kepada warganegara masing-masing dengan memasyarakatkan demokrasi secara langsung, yakni pemilihan kepala negara / presiden dipilih langsung oleh rakyat. Padahal Negara kita bertahun-tahun telah menerapkan pemilihan kepala Negara / presiden dipilih dengan sistem perwakilan, oleh orang-orang berkompeten, berilmu dan utusan golongan. Hal ini menyerupai dengan system syariah Islam yang salah satunya menggunakan prinsip perwakilan/legislatif atau dikenal dengan istilah ahlu halli wal aqdhi ., berisikan orang-orang yang berkompeten, berilmu dan utusan golongan yang diharapkan dalam memutuskan berpegang teguh pada Al Qur’an dan Hadist.
Saat ini, pemilihan presiden/kepala negara di negeri kita bagaikan acara pemilihan penyanyi secara idola atau besarnya tanggapan pemirsa/penonton (idol). Kita bisa bandingkan hasil pemilihan yang dilakukan oleh pemirsa/penonton dengan pemilihan yang dilakukan oleh orang-orang berkompeten seperti dewan juri.
Begitu juga dalam urusan akidah, mereka memecah kekuatan berjamaah, berkelompok, bermahzab menjadi kekuatan-kekuatan individu masing-masing dengan mensoalisasikan pemikiran anti mahzab, hizb, kelompok.
Mereka mencari pembenaran dari pemahaman Ibnu Taimiyah yang dilanjuti Muhammad bin Abdul Wahab. Tanpa kita sadari mereka membuat sebagian umat muslim tidak mempercayai ulama/imam, padahal Allah telah berfirman, ” Wahai orang-orang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rosul-Nya dan ulil amri di antara kamu ” (QS An Nisa’ : 59 ). Sebagian dari mereka menyempitkan batasan ulil amri kepada imam/ahlu bait.
Sebenarnya mereka memang telah berniat untuk menghilangkan pengaruh ulama/imam/mujtahid (mereka menyebut rohaniawan non yahudi) dari kaum muslim perhatikan apa yang mereka sebut dengan protokol.
Protokol Zionis yang ketujuhbelas
…Kita telah lama menjaga dengan hati-hati upaya mendiskreditkan para “rohaniawan non-Yahudi” dalam rangka menghancurkan misi mereka, yang pada saat ini dapat secara serius menghalangi misi kita. Pengaruh mereka atas masyarakat mereka berkurang dari hari ke hari. Kebebasan hati nurani yang bebas dari faham agama telah dikumandangkan dimana-mana. Tinggal masalah waktu maka agama-agama itu akan bertumbangan..
Dengan memasyarkatkan “tidak mempercayai ulama/imam/mujtahid”, mereka juga berupaya “memberatkan” kaum muslim untuk seluruhnya mempunyai kemampuan ijtihad (pemahaman/penafsiran) atau memecah kekuatan kaum muslim kepada kemapuan/kekuatan individu muslim masing-masing.
Arti Ijtihad menurut ilmu Usul-fiqih yang terpakai dalam syari’at Islam ialah “usaha seorang ahli fiqih menggali dan mengeluarkan hukum-hukum fiqih yang tersirat di dalam Qur’an dan Hadits”
Di dalam ta’rif ini ada beberapa unsur:
1. Usaha seorang ahli fiqih.
2. Ahli fiqih.
3. Menggali dan mengeluarkan hukum fiqih.
4. Hukum fiqih yang tersirat.
5. Dari dalam Al Qur’an dan Hadits.
Usaha seorang yang bukan ahli fiqih tidaklah dinamakan ijtihad. Yang dinamakan ahli fiqih ialah seorang ulama atau katakanlah sarjana yang dalam ilmunya dalam bahasa Arab, dan dalam pula ilmunya dalam tafsir Al Qur’an dan Tafsir Hadits, yang dengan ilmunya itu mempunyai kesanggupan mengeluarkan hukum-hukum agama yang akan dipakai seluruh ummat Islam. Ahli fiqih yang seperti itu dinamai Imam Mujtahid.
Adapun orang awam atau rakyat banyak yang tidak sanggup berijtihad boleh mengikuti saja kepada Imam Mujtahid itu dan mereka dinamai “pengikut” atau “muqallid” atau orang yang taqlid. Jadi arti taqlid ialah mengikuti imam-imam Mujtahid; bukan mengikuti bapak-bapak, bukan mengikuti orang-orang dulu, bukan mengikuti nenek-moyang.
Mereka berupaya agar umat muslim terpecah kepada kekuatan individu dengan memperjuangkan hak-hak indinvidu. Sehingga memungkinkan terjadi kompetisi pada sesama individu dan individu yang kuat yang akan berkuasa dan memimpin. Sehingga pada akhirnya akan tercipta penghambaan kepada manusia sesuai dengan maksud/tujuan mereka menguasai dunia, satu pemimpin (the new world order). Bagi mereka, manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.
Lihat SABILI No. 16 Th XVII, 4 Maret 2010, 18 Rabiul Awal 1431, hal 30
Bagi mereka tidak ada Tuhan (Allah). Nabi Adam hanya mitos, karena manusia berasal dari proses evolusi (teori Darwin). Alam semesta berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan, karena Tuhan juga dianggap mitos. Bahkan saking keblingernya mereka meyakini “manusialah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya.
****
Akhirnya, baiklah kita selalu mengingat bahwa sesama muslim adalah bersaudara meskipun di negara yang berbeda. Marilah kita teguhkan Ukhuwah Islamiyah, persatuan dalam aqidah Islam berpegang kepada qur an dan hadis sesuai paham para sahabat nabi saw.
Sebaiknya selalu diingat firman Allah bahwa,
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (Al Maaidah: 82)
Ingat, kaum itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik
Marilah kita intropeksi diri sendiri maupun jamaah/kelompok/organisasi adakah tersusupi kaum itu atau adakah tersusupi pemikiran/pendapat dari kaum itu.
Setinggi apapun pencapaian pemahaman agama Islam, sebaiknya tidak menganggap muslim lain lebih rendah dan berlaku sombong. Allah berfirman,
”Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS al-Qashash : 76).
Dalam berda’wah kepada non muslim apalagi mengingatkan kepada sesama muslim lakukanlah dengan sebaik-baiknya perlakuan dan bersabarlah. Sungguh umat muslim yang marah, emosi dalam berda’wah menunjukkan ketidak-dekatan dengan Allah dan bukanlah sebagai muslim yang terbaik (muslim yang pada tingkatan seolah-olah melihat Allah atau paling tidak muslim yang yakin bahwa segala perbuatannya selalui dilihat Allah).
Seberapapun kita merasa tinggi dalam beribadah ingatlah selalu hadits Rasulullah bahwa, …. yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka.
“Tidak sampai melewati tenggorokan mereka”, inilah yang terjadi, ada sebagian umat muslim, semakin hari semakin merasa ibadah mereka seperti rutinitas yang “kering”. Pengajian yang mereka ikuti, bagi mereka memang terasa lebih “ilmiah”dan “masuk-akal” namun kurang terasa “kedalamannya” pada lubuk hati mereka. Mereka mendalami Al-Qur’an dan Hadist sebagaimana ilmu pengetahuan semata
Wallahu a’lam
Pustaka buku:
1. Zionisme – Gerakan Menaklukan dunia, Alm Z A Maulani (mantan kabakin era
Habibi)
2. Ancaman Global freemasonry, Harun Yahya
3. Dajjal dan simbol setan , Toto Tasmara
4. Freemansory di Asia Tenggara , Abdullah Pattani
5. Mimpi Buruk Kemanusiaan: Sisi-sisi Gelap Zionisme / Ralph Schoenman
6. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak tabir pemikiran politik
founding father, Drs Muhammad Thalib & Irfan S. Awwas
7. Suka Duka Gerakan Islam Dunia Arab, Maryam Jameelah
8. I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru
9. “40 Masalah Agama”, Buku 1 s/d 4, KH Siradjuddin Abbas, Pustaka Tarbiyah Baru
FENOMENA TERORISME
Fenomena terorisme :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ
Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami, Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah, sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang), dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!” Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku, wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Mereka menusuk agama seperti anak panah menusuk buruannya. Dilihat mata panahnya, ternyata tidak ditemukan apapun; kemudian dilihat pegangan panahnyanya juga tidak ditemukan apa-apa, lalu dilihat batang panahnya tidak ada apa-apa juga, dan kemudaian dilihat bulu anak panahnya, juga tidak ditemukan apapun. Sungguh ia sudah mendahului kotoran dan darah (binatang buruan itu). Tanda-tanda mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti susu perempuan atau seperti anggota tubuh yang terguncang. Dan mereka keluar saat terjadi perpecahan di antara orang-orang.
Abu Sa’id berkata, “Aku bersumpah bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah Saw.; dan aku bersumpah bahwa Ali r.a. memerangi mereka. Akupun ikut bersama Ali. Ali memerintah untuk mencari lak-laki itu. (Akhirnya) Ia dapat ditangkap dan dihadapkan (kepada kami) hingga aku dapat melihat sifat-sifat yang disebutkan Nabi Saw. (Shahih Al-Bukhari, No. 3341).
*****
Hadis di atas sengaja dijadikan pembuka tulisan ini untuk menunjukkan bagaimana Islam memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan terjadi hal-hal yang sepertinya “mengatasnamakan” Islam, tapi sesungguhnya akan menghancurkan Islam sendiri. Hadis di atas ditujukan kepada orang-orang Khawarij di zaman Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang yang pengetahuan terhadap Islamnya sangat dangkal, namun memiliki semangat yang besar untuk “menegakkan Islam”. Semangat mereka ini justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh Islam.
Dalam kasus Rasulullah Saw. mereka yang kurang ilmu ini memprotes Rasulullah saat membagikan ghanimah. Mereka menuduh Rasulullah Saw. tidak adil karena tidak membagi rata harta itu. Jelas ini kebodohan. Rasulullah tentu lebih tahu daripada orang ini. Tapi, dia merasa bahwa dialah yang benar. Inilah sifat dasar orang-orang Khawarij.
Semasa Rasulullah Saw. memang belum terjadi fitnah karena mereka. Sebab, saat para sahabat ingin memerangi mereka, oleh Rasulullah Saw. dicegah. Rasulullah Saw. tahu di belakangnya ada teman-teman mereka yang sifatnya sama. Sangat mungkin saat temannya dianiaya, mereka akan mengobarkan perang melawan Rasulullah Saw. dan sahabatnya. Padahal, mereka bukan orang “kafir.” Shalat, shaum, dan ritual mereka boleh dikatakan di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang akan merusak Islam. Rasulullah Saw. memilih menjauhkan mereka dari Madinah. Dan mereka memilih tinggal di suatu kampung bernama Haruri. Oleh sebab itu pula, mereka sering disebut kaum Haruriyyah.
Fitnah paling besar yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij terjadi pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang dimulai saat terbunuhnya Utsman ibn ‘Affan. Kekerasan yang mereka lakukan dipicu oleh kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali ibn Abi Thalib untuk berdamai dengan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin melalui perundingan Tahkim. Mereka semula mendukung Ali ra. dan berlindung di bawah kekuasannya setelah sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Utsman ibn ‘Affan. Agar kejahatan mereka tidak terbongkar, mereka ingin memanfaatkan Ali ra. dengan bersegera membai’atnya sebagai Khalifah dan masuk menjadi barisan pendukung Ali.
Mereka tahu bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Mu’awiyah sangat vokal meuntut alas atas kematian Utsman. Namun, mereka pula yang memprovokasi Ali dan pasukannya untuk memerangi mereka atas nama tindakan bughât. Perang Jamal dan Shiffin yang sama-sama tidak diinginkan oleh para sahabat yang mulia itu akhirnya terjadi. Pemicu meletusnya kedua perang itu adalah orang-orang Khawarij yang posisinya juga dimanfaatkan oleh Abdullah ibn Saba, pentolan Yahudi-Munafik yang menjadi dalang dari semua fitnah pada masa Khulafaur-Rasyidin. Saat Ali memutuskan untuk berdamai dengan Mu’awiyah dan melakukan perundingan (Tahkîm), serta masng-masing pihak menyadari kekeliruannya, terlihatlah watak asli kelompok ini. Mereka terlihat sangat kecewa; dan akhirnya membuat makar terhadap otoritas kekuasaan Ali ra. Makar yang berakhir dengan pembunuhan keji yang mereka lakukan terhadap Khalifah kekasih Rasulullah Saw. ini.
Orang yang membunuh Ali bernama Abdullah ibn Muljam. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa pembunuh ini sebenarnya sangat tidak pantas menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh Ali bin Abi Thalib yang sudah dijanjikan Allah Swt. akan masuk surga. Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Umar ibn Khattab, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash. Namun, karena ilmunya yang dangkal, sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Ali ibn Abi Thalib.
Pada masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia diadili. Hukuman Qishash pun dijatuhkan padanya. Saat hendak dipenggal kepalanya, ia berteriak, “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Lihatlah betapa ia dengan sangat percaya diri meyakini bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ali ibn Abi Thalib kekasih Rasulullah Saw. adalah sebuah kebenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa hal demikian melanggar aturan yang jelas dalam Islam.
Sedemikian habat peran Khawarij dalam menghancurkan barisan umat Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw. mensinyalir bahwa sampai kiamat orang-orang yang berperilaku semacam ini akan ada sampai hari kiamat. Mereka tetap akan mengibarkan panji-panji Islam. Perilaku keseharian mereka mencerminkan orang yang dekat dengan Allah Swt., namun kebodohan mereka telah menyeret mereka ke lembah kenistaan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Swt. Pada umumnya mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan kekuasaan atau ekonomi untuk melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam, namun mereka melakukannya atas nama Islam.
Dalam kasus ini yang paling dirugikan adalah Islam. Rasulullah mengibaratkan apa yang mereka lakukan seperti anak panah yang mengoyak binatang buruan dengan sangat cepat, tapi tanpa bekas. Dari ujung sampai pangkal anak panah tidak terlihat bekas sama sekali saking cepatnya anak panah itu menyambar dan menembus tubuh binatang buruan itu. Binatang itu mati, tapi tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Jangankan pelakunya, jejak pada anak panah pun tidak ada.
Yang mereka lakukan pun sama. Islam dibawa-bawa untuk tindakan yang sama sekali tidak ada pembenarannya dalam syari’at. Atas nama jihad orang-orang yang tidak ada hak atas mereka untuk membunuhnya dibunuh dengan cara-cara yang sangat keji. Apakah dengan cara dibom, diculik, atau dengan cara-cara lain. Dari sisi manapun jelas Islam tidak membenarkannya. Namur, karena bendera Islam yang dikibarkan akibatnya Islam menjadi “tertuduh”. Siapa yang melakukannya? Tidak jelas sama sekali. Sebagian besar hanya menduga-duga.
Bagaimana dengan kasus-kasus pengeboman yang terjadi di berbagai sudut negeri kita? Sebagian besar umat Islam jelas menjadi korban fitnah. Umat Islam dituduh sebagai biang dari segala kerusuhan, pembunuhan, makar, dan instabilitas negara. Padahal, sebagian besar umat Islam tidak pernah membenarkan perilaku semacam itu. Apalagi para ulama yang mengerti dalil dengan baik. Siapa yang melakukannya? Sampai hari ini pun tidak pernah ada informasi yang jelas dan valid mengenai siapa pelakunya. Semua, bahkan intelijen negara sekalipun, tidak pernah punya bukti-bukti kongkrit dan meyakinkan tentang siapa sesungguhnya di balik berbagai peristiwa pengeboman itu. Hanya syak wasangka yang berkembang. Persis seperti yang diisyaratkan Rasulullah bahwa akan terjadi ketidakjelasan dalam hal ini.
Namun amat disayangkan sebagian orang, bahkan petinggi-petinggi negara dan publik figur yang suaranya akan didengar oleh banyak orang malah membuat tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar. Sebagian besar tuduhan itu hanyalah fitnah yang menyudutkan kelompok-kelompok tertentu. Tidak ada bukti sama sekali. Omongan mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan secara faktual.
Dengan semena-mena, misalnya, dari mulut seorang Hendropriyono yang mantan Kepala BAKIN meluncur kata-kata yang tidak diteliti dulu bahwa pelaku-pelaku bom ini berasal dari kalangan Wahabi. Istilah Wahabi ini ditujukan kepada mereka yang mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahab dalam berbagai kitabnya. Ajaran ini bahkan sekarang menjadi standar resmi Islam yang dipraktikkan di Saudi Arabia. Oleh sebab itu, kata Wahabi ini sering dialamatkan kepada alumni-alumni Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Para pengikutnya itulah yang dimaksud dengan Wahabi.
Bagi mereka yang mengerti ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab dan gerakan dakwahnya di Semenanjung Arab pasti akan segera dapat menyimpulkan bahwa Hendropriyono-maaf-bodoh dalam masalah ini. Dia sama sekali tidak tahu apa ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab. Seandainya saja dia mau sedikit membaca Ushûl Al-Tsalâtsah, Kitâb Al-Tauhîd, atau komentar-komentar yang dibuat oleh para muridnya, pasti tidak akan keluar kata-kata yang lebih banyak berisi fitnah itu. Bahkan, kalau boleh dipukul rata, hampir semua syaikh dan ulama besar di Saudi Arabia adalah cucu murid Muhammad ibn Abdul Wahhab. Mereka adalah pelestari dan penyebar ajaran-ajaran beliau. Kalau memang ajaran itu yang menjadi sebab-musabab “terorisme,” pasti sebelum terjadi di Indonesia kasus pengeboman ni akan terlebih dahulu meletus di Saudi Arabia. Apalagi Kerajaan Saudi Arabia ini terang-terangan bersekutu dengan Amerika.
Syaikh Shalih ibn Utsaimin (w. 2004), salah seorang ulama besar Saudi Arabia menulis risalah khusus bertajuk Fitnah Al-Khawârij. Dalam buku itu, dengan sangat tegas beliau mengatakan bahwa tindakan bom bunuh diri dilakukan di berbagai negara termasuk yang terjadi di Indonesia tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam. Ia mengutuk keras para pelakunya dan menyebutnya sebagai “Khawarij-Khawarij” modern. Apa yang mereka lakukan sama sekali bukan jihad.
Ibn Utsaimin ini adalah seorang pengagum berat Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab. Ia memberikan syarah untuk Kitâb Al-Tauhîd dan Ushûl Al-Tsalâtsah karya Muhammad ibn Abdul Wahhab. Kalau memang ajaran ini yang menjadi sumber ‘terorisme’ seperti yang dituduhkan Hendropriyono, kenapa beliau justru mengecam berbagai tindakan seperti itu?
Di sinilah perlu kearifan dari para public figure saat berbicara. Saat omongan ini disiarkan ke seluruh penjuru dunia, berapa banyak orang akan tersesatkan dengan cara pandangnya? Akibat omongannya yang ngawur itu, akan berapa banyak orang yang menjadi benci terhdap ajaran-ajaran yang benar dan baik-baik saja seperti ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab? Kalau sampai ini terus terjadi seperti itu, bukan mustahil justru yang menjadi biang keladi fitnah di tengah umat Islam adalah orang yang menuduh-nuduh tanpa dasar itu. Mereka yang melakukan pengeboman, sekalipun benar orang-orang yang kelihatannya ber-Islam secara taat, hanya menjadi wayang. Benarkah begitu? Wallâhu A’lam bi Al-Shawwâb.
Oleh Tiar Anwar Bachtiar dari situs persis
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ
Abu Al-Yaman telah menceritakan pada kami, Syuaib telah mengabarkan pada kami dari Al-Zuhri, ia berkata: Abu Salamah ibn Abdurrahman telah mengabarkan kepadaku bahwa Abu Said Al-Khudri r.a. berkata, “Ketika kami berada di samping Rasulullah, sementara Beliau sedang membagikan bagian harta (rampasan perang), dating kepadanya Dzul Huwaishirah. Ia adalah seorang laki-laki dari Bani Tamim. Kemudian ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah Engkau!” Rasul pun menjawab, “Celakalah engkau! Siapa lagi yang akan berbuat adil kalau aku tidak berlaku adil? Kau pasti akan kecewa dan merugi kalau aku tidak berbuat adil.” Umar kemudian berkata, “Izinkan aku, wahai Rasulullah, untuk memukul tengkuknya.” Beliau menjawab, “Biarkan saja dia. Sebab, dia memiliki teman-teman yang salah seorang di antara kalian akan menganggap shalatnya sendiri belum seberapa kalau dibandingkan dengan shalat mereka, begitu pula dengan shaumnya dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Mereka menusuk agama seperti anak panah menusuk buruannya. Dilihat mata panahnya, ternyata tidak ditemukan apapun; kemudian dilihat pegangan panahnyanya juga tidak ditemukan apa-apa, lalu dilihat batang panahnya tidak ada apa-apa juga, dan kemudaian dilihat bulu anak panahnya, juga tidak ditemukan apapun. Sungguh ia sudah mendahului kotoran dan darah (binatang buruan itu). Tanda-tanda mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti susu perempuan atau seperti anggota tubuh yang terguncang. Dan mereka keluar saat terjadi perpecahan di antara orang-orang.
Abu Sa’id berkata, “Aku bersumpah bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah Saw.; dan aku bersumpah bahwa Ali r.a. memerangi mereka. Akupun ikut bersama Ali. Ali memerintah untuk mencari lak-laki itu. (Akhirnya) Ia dapat ditangkap dan dihadapkan (kepada kami) hingga aku dapat melihat sifat-sifat yang disebutkan Nabi Saw. (Shahih Al-Bukhari, No. 3341).
*****
Hadis di atas sengaja dijadikan pembuka tulisan ini untuk menunjukkan bagaimana Islam memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan terjadi hal-hal yang sepertinya “mengatasnamakan” Islam, tapi sesungguhnya akan menghancurkan Islam sendiri. Hadis di atas ditujukan kepada orang-orang Khawarij di zaman Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang yang pengetahuan terhadap Islamnya sangat dangkal, namun memiliki semangat yang besar untuk “menegakkan Islam”. Semangat mereka ini justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memperkeruh Islam.
Dalam kasus Rasulullah Saw. mereka yang kurang ilmu ini memprotes Rasulullah saat membagikan ghanimah. Mereka menuduh Rasulullah Saw. tidak adil karena tidak membagi rata harta itu. Jelas ini kebodohan. Rasulullah tentu lebih tahu daripada orang ini. Tapi, dia merasa bahwa dialah yang benar. Inilah sifat dasar orang-orang Khawarij.
Semasa Rasulullah Saw. memang belum terjadi fitnah karena mereka. Sebab, saat para sahabat ingin memerangi mereka, oleh Rasulullah Saw. dicegah. Rasulullah Saw. tahu di belakangnya ada teman-teman mereka yang sifatnya sama. Sangat mungkin saat temannya dianiaya, mereka akan mengobarkan perang melawan Rasulullah Saw. dan sahabatnya. Padahal, mereka bukan orang “kafir.” Shalat, shaum, dan ritual mereka boleh dikatakan di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang akan merusak Islam. Rasulullah Saw. memilih menjauhkan mereka dari Madinah. Dan mereka memilih tinggal di suatu kampung bernama Haruri. Oleh sebab itu pula, mereka sering disebut kaum Haruriyyah.
Fitnah paling besar yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij terjadi pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang dimulai saat terbunuhnya Utsman ibn ‘Affan. Kekerasan yang mereka lakukan dipicu oleh kekecewaan mereka terhadap keputusan Ali ibn Abi Thalib untuk berdamai dengan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin melalui perundingan Tahkim. Mereka semula mendukung Ali ra. dan berlindung di bawah kekuasannya setelah sebelumnya terlibat dalam pembunuhan Utsman ibn ‘Affan. Agar kejahatan mereka tidak terbongkar, mereka ingin memanfaatkan Ali ra. dengan bersegera membai’atnya sebagai Khalifah dan masuk menjadi barisan pendukung Ali.
Mereka tahu bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, dan Mu’awiyah sangat vokal meuntut alas atas kematian Utsman. Namun, mereka pula yang memprovokasi Ali dan pasukannya untuk memerangi mereka atas nama tindakan bughât. Perang Jamal dan Shiffin yang sama-sama tidak diinginkan oleh para sahabat yang mulia itu akhirnya terjadi. Pemicu meletusnya kedua perang itu adalah orang-orang Khawarij yang posisinya juga dimanfaatkan oleh Abdullah ibn Saba, pentolan Yahudi-Munafik yang menjadi dalang dari semua fitnah pada masa Khulafaur-Rasyidin. Saat Ali memutuskan untuk berdamai dengan Mu’awiyah dan melakukan perundingan (Tahkîm), serta masng-masing pihak menyadari kekeliruannya, terlihatlah watak asli kelompok ini. Mereka terlihat sangat kecewa; dan akhirnya membuat makar terhadap otoritas kekuasaan Ali ra. Makar yang berakhir dengan pembunuhan keji yang mereka lakukan terhadap Khalifah kekasih Rasulullah Saw. ini.
Orang yang membunuh Ali bernama Abdullah ibn Muljam. Siapa pun tidak akan menyangka bahwa pembunuh ini sebenarnya sangat tidak pantas menjadi seorang pembunuh, apalagi membunuh Ali bin Abi Thalib yang sudah dijanjikan Allah Swt. akan masuk surga. Abdurrahman ibn Muljam adalah seorang yang sangat rajin beribadah. Shalat dan shaum, baik yang wajib maupun sunnah, melebihi kebiasaan rata-rata orang di zaman itu. Bacaan Al-Qurannya sangat baik. Karena bacaannya yang baik itu, pada masa Umar ibn Khattab, ia diutus untuk mengajar Al-Quran ke Mesir atas permintaan gubernur Mesir, Amr ibn Al-’Ash. Namun, karena ilmunya yang dangkal, sesampai di Mesir ia malah terpangaruh oleh hasutan orang-orang Khawarij yang selalu berbicara mengatasnamakan Islam, tapi sesungguhnya hawa nafsu yang mereka turuti. Ia pun terpengaruh. Ia tinggalkan tugasnya mengajar dan memilih bergabung dengan orang-orang Khawarij sampai akhirnya, dialah yang ditugasi menjadi eksekutor pembunuhan Ali ibn Abi Thalib.
Pada masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia diadili. Hukuman Qishash pun dijatuhkan padanya. Saat hendak dipenggal kepalanya, ia berteriak, “Jangan kau penggal kepalaku sekaligus! Potonglah bagian-bagian tubuhku sedikit demi sedikit supaya aku menyaksikan bagaimana tubuhku disiksa di jalan Allah!” Lihatlah betapa ia dengan sangat percaya diri meyakini bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ali ibn Abi Thalib kekasih Rasulullah Saw. adalah sebuah kebenaran. Ia tidak pernah merasa bahwa hal demikian melanggar aturan yang jelas dalam Islam.
Sedemikian habat peran Khawarij dalam menghancurkan barisan umat Islam. Sampai-sampai Rasulullah Saw. mensinyalir bahwa sampai kiamat orang-orang yang berperilaku semacam ini akan ada sampai hari kiamat. Mereka tetap akan mengibarkan panji-panji Islam. Perilaku keseharian mereka mencerminkan orang yang dekat dengan Allah Swt., namun kebodohan mereka telah menyeret mereka ke lembah kenistaan dan pelanggaran terhadap aturan-aturan Allah Swt. Pada umumnya mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan kekuasaan atau ekonomi untuk melakukan tindakan-tindakan yang jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam, namun mereka melakukannya atas nama Islam.
Dalam kasus ini yang paling dirugikan adalah Islam. Rasulullah mengibaratkan apa yang mereka lakukan seperti anak panah yang mengoyak binatang buruan dengan sangat cepat, tapi tanpa bekas. Dari ujung sampai pangkal anak panah tidak terlihat bekas sama sekali saking cepatnya anak panah itu menyambar dan menembus tubuh binatang buruan itu. Binatang itu mati, tapi tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya. Jangankan pelakunya, jejak pada anak panah pun tidak ada.
Yang mereka lakukan pun sama. Islam dibawa-bawa untuk tindakan yang sama sekali tidak ada pembenarannya dalam syari’at. Atas nama jihad orang-orang yang tidak ada hak atas mereka untuk membunuhnya dibunuh dengan cara-cara yang sangat keji. Apakah dengan cara dibom, diculik, atau dengan cara-cara lain. Dari sisi manapun jelas Islam tidak membenarkannya. Namur, karena bendera Islam yang dikibarkan akibatnya Islam menjadi “tertuduh”. Siapa yang melakukannya? Tidak jelas sama sekali. Sebagian besar hanya menduga-duga.
Bagaimana dengan kasus-kasus pengeboman yang terjadi di berbagai sudut negeri kita? Sebagian besar umat Islam jelas menjadi korban fitnah. Umat Islam dituduh sebagai biang dari segala kerusuhan, pembunuhan, makar, dan instabilitas negara. Padahal, sebagian besar umat Islam tidak pernah membenarkan perilaku semacam itu. Apalagi para ulama yang mengerti dalil dengan baik. Siapa yang melakukannya? Sampai hari ini pun tidak pernah ada informasi yang jelas dan valid mengenai siapa pelakunya. Semua, bahkan intelijen negara sekalipun, tidak pernah punya bukti-bukti kongkrit dan meyakinkan tentang siapa sesungguhnya di balik berbagai peristiwa pengeboman itu. Hanya syak wasangka yang berkembang. Persis seperti yang diisyaratkan Rasulullah bahwa akan terjadi ketidakjelasan dalam hal ini.
Namun amat disayangkan sebagian orang, bahkan petinggi-petinggi negara dan publik figur yang suaranya akan didengar oleh banyak orang malah membuat tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar. Sebagian besar tuduhan itu hanyalah fitnah yang menyudutkan kelompok-kelompok tertentu. Tidak ada bukti sama sekali. Omongan mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan secara faktual.
Dengan semena-mena, misalnya, dari mulut seorang Hendropriyono yang mantan Kepala BAKIN meluncur kata-kata yang tidak diteliti dulu bahwa pelaku-pelaku bom ini berasal dari kalangan Wahabi. Istilah Wahabi ini ditujukan kepada mereka yang mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahab dalam berbagai kitabnya. Ajaran ini bahkan sekarang menjadi standar resmi Islam yang dipraktikkan di Saudi Arabia. Oleh sebab itu, kata Wahabi ini sering dialamatkan kepada alumni-alumni Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Para pengikutnya itulah yang dimaksud dengan Wahabi.
Bagi mereka yang mengerti ajaran-ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab dan gerakan dakwahnya di Semenanjung Arab pasti akan segera dapat menyimpulkan bahwa Hendropriyono-maaf-bodoh dalam masalah ini. Dia sama sekali tidak tahu apa ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab. Seandainya saja dia mau sedikit membaca Ushûl Al-Tsalâtsah, Kitâb Al-Tauhîd, atau komentar-komentar yang dibuat oleh para muridnya, pasti tidak akan keluar kata-kata yang lebih banyak berisi fitnah itu. Bahkan, kalau boleh dipukul rata, hampir semua syaikh dan ulama besar di Saudi Arabia adalah cucu murid Muhammad ibn Abdul Wahhab. Mereka adalah pelestari dan penyebar ajaran-ajaran beliau. Kalau memang ajaran itu yang menjadi sebab-musabab “terorisme,” pasti sebelum terjadi di Indonesia kasus pengeboman ni akan terlebih dahulu meletus di Saudi Arabia. Apalagi Kerajaan Saudi Arabia ini terang-terangan bersekutu dengan Amerika.
Syaikh Shalih ibn Utsaimin (w. 2004), salah seorang ulama besar Saudi Arabia menulis risalah khusus bertajuk Fitnah Al-Khawârij. Dalam buku itu, dengan sangat tegas beliau mengatakan bahwa tindakan bom bunuh diri dilakukan di berbagai negara termasuk yang terjadi di Indonesia tidak dapat dibenarkan dalam ajaran Islam. Ia mengutuk keras para pelakunya dan menyebutnya sebagai “Khawarij-Khawarij” modern. Apa yang mereka lakukan sama sekali bukan jihad.
Ibn Utsaimin ini adalah seorang pengagum berat Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab. Ia memberikan syarah untuk Kitâb Al-Tauhîd dan Ushûl Al-Tsalâtsah karya Muhammad ibn Abdul Wahhab. Kalau memang ajaran ini yang menjadi sumber ‘terorisme’ seperti yang dituduhkan Hendropriyono, kenapa beliau justru mengecam berbagai tindakan seperti itu?
Di sinilah perlu kearifan dari para public figure saat berbicara. Saat omongan ini disiarkan ke seluruh penjuru dunia, berapa banyak orang akan tersesatkan dengan cara pandangnya? Akibat omongannya yang ngawur itu, akan berapa banyak orang yang menjadi benci terhdap ajaran-ajaran yang benar dan baik-baik saja seperti ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab? Kalau sampai ini terus terjadi seperti itu, bukan mustahil justru yang menjadi biang keladi fitnah di tengah umat Islam adalah orang yang menuduh-nuduh tanpa dasar itu. Mereka yang melakukan pengeboman, sekalipun benar orang-orang yang kelihatannya ber-Islam secara taat, hanya menjadi wayang. Benarkah begitu? Wallâhu A’lam bi Al-Shawwâb.
Oleh Tiar Anwar Bachtiar dari situs persis
BERHATI-HATI DENGAN KUMPULAN ( GOLONGAN ) AHBASH
Setelah diselidiki rupanya mereka yang membuat blog-blog untuk menghentam wahabi rupanya adalah daripada kelompok ahbash yang telah difatwakan sesat oleh segenap ulama ahli sunnah wal jamaah. mereka bukan setakat mengaku ahli sunnah wal jamaah malah menghukum orang yang tak sealiran dengan mereka semuanya kafir. Mereka ini tidak segan silu untuk mengkafirkan siapa sahaja yang tak ikut mereka.
Lihat saja blog-blog yang dikeluarkan mereka, bukan setakat memfitnah tetapi diejeknya dan dikutuknya orang-orang tertentu. Sila klik link di bawah ini:
www.abu-syafiq.blogspot.com
www.mingguanwahabi.blogspot.com
www.bankwahabi.wordpress.com
Berikut saya nyatakan pemikiran serta pegangan mereka yang saya nukil dari web almanhaj.or.id (http://www.almanhaj.or.id/content/1941/slash/0):
PEMIKIRAN DAN AQIDAH FIRQOH AL-AHBASY
1- Mereka mengaku berada di atas madzhab Imam Syafi’i, baik dalam masalah aqidah ataupun fiqih. Tetapi pada kenyataannya, mereka sangat jauh dengan pengakuan yang mereka katakan. Bahkan mereka berani mentakwilkan sifat-sifat Allah dengan tanpa kaidah yang benar menurut syar’i. Mereka menatkwilkan istiwa Allah dengan istiilaa sebagaimana takwil yang telah dilakukan oleh orang-orang Mu’tazilah dan Jahmiyah.
2- Mereka mengatakan, bahwa lafazh Al-Qur’an adalah dari Jibril, bukan dari Allah. Anggapan yang sembrono ini tercantum dalam kitab mereka yang berjudul ‘Izharul Aqidah As-Suniyah, halaman 591.
3- masalah iman, mereka mengatakan bahwa iman seseorang selamanya akan sempurna dan tidak akan pernah rusak, walaupun orang tersebut tidak pernah menegakkan rukun-rukun Islam yang ada. Pendapat seperti ini termasuk dari aqidah Murji’ah Jahmiyah.
4- bab Tauhid, mereka seperti Jabriyah yang meyakini bahwa Allah lah yang telah mendorong orang kafir melaksanakan kekafirannya. Seorang hamba tidak mempunyai kuasa atau kemampuan untuk menolaknya.
Pendapat seperti ini, jelas sangat keliru, karena menurut pandangan Ahlus sunnah wal Jama’ah, setiap manusia mempunyai kehendak untuk memilih jalan kebenaran dan kesesatan, sebagaimana manusia juga bisa memilih yang baik untuk kehidupan dunia mereka.
5- menganjurkan kepada manusia untuk beribadah ke kuburan, meminta pertolongan dan hajatnya kepada orang-orang yang telah meninggal. Bahkan firqoh Al-Ahbasy ini berkeyakinan, bahwa orang yang telah meninggal akan keluar dari kuburan untuk menolong manusia, kemudian akan kembali lagi setelahnya. Disamping itu, firqoh sesat ini juga membolehkan manusia untuk meminta perlindungan kepada selain Allah dan meminta barakah kepada batu.
6- ini banyak merajihkan hadits palsu untuk menguatkan madzhab mereka dan sebaliknya, mereka melemahkan hadits shahih yang bertentangan dengan ajaran mereka.
7- Mereka banyak mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Muawiyah, Aisyah, Khalid bin Walid. Menurut anggapan kelompok ini, orang-orang yang ikut bersama Mu’awiyah untuk melawan Ali, maka mereka meninggal dalam keadaan Jahiliyyah.
7- Mereka juga mengkafirkan banyak para ulama. Misalnya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Adz-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Nashiruddin Al-Albani, dan sebagainya.
9- Mereka juga banyak mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyimpang. Sebagai contoh : melihat, berikhtilat, dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah halal, wanita yang berhias dan tabarruj boleh keluar rumah walaupun tidak dizinkan oleh suaminya.
Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan mereka yang harus diwaspadai.
SUMBER PEMIKIRAN DAN AQIDAH FIRQOH AL-AHBASY
Pemikiran dan aqidah mereka dapat disimpulkan sebagai berikut :
[1]. Dalam masalah sifat-sifat Allah, firqah ni menganut mazhab Al-Asy’ariyah, yang mirip dengan manhaj jahmiyah.
[2]. Dalam masalah iman, mereka menganut pemikiran Murji’ah dan Jahmiyah
[3]. Dalam beribadah, mereka menggunakan thariqah yang tidak ada ada dalam Islam, semisal thariqah Ar-rifa’iyah dan Naqsabandi.
[4]. Mereka juga memiliki aqidah Ja’fariyah Al-Bathiniyah.
[5]. Pemikiran mereka juga diambil dari berbagai sumber dan macam aliran lain, yang bertujuan untuk menipu dan mengoyak persatuan umat Islam, baik dari sisi aqidah dan manhaj yang benar, yaitu menhajnya para Salafush Shalih, manhaj Rasulullah dan para sahabatnya.
Demikian penjelasan singkat tentang firqah yang sesat ini. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya dan muslihatnya. Wallahul Musta’an.
Lihat saja blog-blog yang dikeluarkan mereka, bukan setakat memfitnah tetapi diejeknya dan dikutuknya orang-orang tertentu. Sila klik link di bawah ini:
www.abu-syafiq.blogspot.com
www.mingguanwahabi.blogspot.com
www.bankwahabi.wordpress.com
Berikut saya nyatakan pemikiran serta pegangan mereka yang saya nukil dari web almanhaj.or.id (http://www.almanhaj.or.id/content/1941/slash/0):
PEMIKIRAN DAN AQIDAH FIRQOH AL-AHBASY
1- Mereka mengaku berada di atas madzhab Imam Syafi’i, baik dalam masalah aqidah ataupun fiqih. Tetapi pada kenyataannya, mereka sangat jauh dengan pengakuan yang mereka katakan. Bahkan mereka berani mentakwilkan sifat-sifat Allah dengan tanpa kaidah yang benar menurut syar’i. Mereka menatkwilkan istiwa Allah dengan istiilaa sebagaimana takwil yang telah dilakukan oleh orang-orang Mu’tazilah dan Jahmiyah.
2- Mereka mengatakan, bahwa lafazh Al-Qur’an adalah dari Jibril, bukan dari Allah. Anggapan yang sembrono ini tercantum dalam kitab mereka yang berjudul ‘Izharul Aqidah As-Suniyah, halaman 591.
3- masalah iman, mereka mengatakan bahwa iman seseorang selamanya akan sempurna dan tidak akan pernah rusak, walaupun orang tersebut tidak pernah menegakkan rukun-rukun Islam yang ada. Pendapat seperti ini termasuk dari aqidah Murji’ah Jahmiyah.
4- bab Tauhid, mereka seperti Jabriyah yang meyakini bahwa Allah lah yang telah mendorong orang kafir melaksanakan kekafirannya. Seorang hamba tidak mempunyai kuasa atau kemampuan untuk menolaknya.
Pendapat seperti ini, jelas sangat keliru, karena menurut pandangan Ahlus sunnah wal Jama’ah, setiap manusia mempunyai kehendak untuk memilih jalan kebenaran dan kesesatan, sebagaimana manusia juga bisa memilih yang baik untuk kehidupan dunia mereka.
5- menganjurkan kepada manusia untuk beribadah ke kuburan, meminta pertolongan dan hajatnya kepada orang-orang yang telah meninggal. Bahkan firqoh Al-Ahbasy ini berkeyakinan, bahwa orang yang telah meninggal akan keluar dari kuburan untuk menolong manusia, kemudian akan kembali lagi setelahnya. Disamping itu, firqoh sesat ini juga membolehkan manusia untuk meminta perlindungan kepada selain Allah dan meminta barakah kepada batu.
6- ini banyak merajihkan hadits palsu untuk menguatkan madzhab mereka dan sebaliknya, mereka melemahkan hadits shahih yang bertentangan dengan ajaran mereka.
7- Mereka banyak mencela para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Muawiyah, Aisyah, Khalid bin Walid. Menurut anggapan kelompok ini, orang-orang yang ikut bersama Mu’awiyah untuk melawan Ali, maka mereka meninggal dalam keadaan Jahiliyyah.
7- Mereka juga mengkafirkan banyak para ulama. Misalnya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Adz-Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Nashiruddin Al-Albani, dan sebagainya.
9- Mereka juga banyak mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyimpang. Sebagai contoh : melihat, berikhtilat, dan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram adalah halal, wanita yang berhias dan tabarruj boleh keluar rumah walaupun tidak dizinkan oleh suaminya.
Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan mereka yang harus diwaspadai.
SUMBER PEMIKIRAN DAN AQIDAH FIRQOH AL-AHBASY
Pemikiran dan aqidah mereka dapat disimpulkan sebagai berikut :
[1]. Dalam masalah sifat-sifat Allah, firqah ni menganut mazhab Al-Asy’ariyah, yang mirip dengan manhaj jahmiyah.
[2]. Dalam masalah iman, mereka menganut pemikiran Murji’ah dan Jahmiyah
[3]. Dalam beribadah, mereka menggunakan thariqah yang tidak ada ada dalam Islam, semisal thariqah Ar-rifa’iyah dan Naqsabandi.
[4]. Mereka juga memiliki aqidah Ja’fariyah Al-Bathiniyah.
[5]. Pemikiran mereka juga diambil dari berbagai sumber dan macam aliran lain, yang bertujuan untuk menipu dan mengoyak persatuan umat Islam, baik dari sisi aqidah dan manhaj yang benar, yaitu menhajnya para Salafush Shalih, manhaj Rasulullah dan para sahabatnya.
Demikian penjelasan singkat tentang firqah yang sesat ini. Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya dan muslihatnya. Wallahul Musta’an.
WAHHABI DAN KERUNTUHAN KERAJAAN ISLAM TURKI UHTMANIYAH
WAHHABI DAN KERUNTUHAN KERAJAAN ISLAM TURKI UHTMANIYAH
Oleh: Dr. Abdul Rahman Hj. Abdullah
Menerusi salah satu risalah beliau yang berjudul Usah Terpesona Tajdid Segera Wahabi: Mula abad ke-18 Wahabi menentang ulil amri sehingga musnah kerajaan Islam Uhtmaniah (Berita Minggu, Ahad 20 Disember 2009, ms. 30), Muhammad Uthman El-Muhammady menulis:
Berbanding tajdid Ahli Sunnah kita boleh sebutkan tajdid segera Wahabi bermula dari abad ke-18 itu. Antara yang berlaku ialah tuduhan umat Islam melakukan kesyirikan dan bidaah, lalu atas nama mengembalikan sunnah dan memerangi bidaah, berlaku penentang terhadap ulil amri waktu itu iaitu kerajaan Uthmaniah Turki yang berabad mempertahankan Islam yang sedang dimusuhi Barat. Apabila ia dilemahkan dari dalam oleh usaha golongan itu atas nama menegakkan tauhid dan sunnah, akhirnya ia lemah dari dalam, apalagi golongan itu bermuafakat dengan British dan Perancis seperti tercatat dalam ‘Unwan al-Majdi, akhirnya jatuhlah khalifah itu dengan Kamal Attarturk memberi pukulan maut ke atasnya.
Sebenarnya isu yang dibangkitkan oleh Muhammad Uthmaniyah El-Muhammady di dalam kenyataannya di atas bukanlah satu isu yang baru. Malah isu ini juga pernah disuarakan oleh beliau sejak beberapa tahun yang lalu iaitu di dalam Mingguan Malaysia, 27 November, 2005.
Bagi menjawab semula fitnah yang dilontarkan oleh beliau ini, ada baik kiranya kita meneliti sebuah risalah yang penulis nukil daripada buku berjudul Aliran Dakwah di Malaysia: Satu Titik Pertemuan karya saudara Dr. Abdul Rahman Hj. Abdullah (terbitan Karya Bestari Sdn Bhd, Selangor, 2007), ms. 336 di bawah ini:
Suatu tuduhan yang tidak pernah putus diperkatakan ialah bahawa, golongan Wahhabiah yang menjadi punca kejatuhan khilafah Turki Uthmani. Tuduhan palsu yang tidak berasaskan fakta sejarah ini perlu diperbetulkan, apalagi kerana ia turut dibangkitkan oleh Ustaz Muhd. Uhtman El-Muhammady. Menurutnya, fahaman Wahhabi itu sendiri berkembang luas sehingga menjatuhkan kerajaan Turki Uthmaniyah di Turki (Mingguan Malaysia, 27 Nov. 2005). Sesiapa yang meneliti sejarah Asia Barat secara saksama, nescaya akan mendapati bahawa kejatuhan khilafah Turki Uthmaniyah tidak ada kaitan sama sekali dengan peranan Saudi-Wahhabi. Untuk memahami peranannya, elok ditinjau latar belakang tanah Hijaz (Makkah-Madinah) terlebih dahulu.
Dengan tamatnya era Khulafa’ al-Rasyidin (661M), maka lenyaplah juga kepentingan Hijaz (Makkah-Madinah) sebagai pusat pemerintahan dan tamadun Islam. Dengan kenaikan kerajaan Bani Umayyah (661-750M) yang berpusat di Syam atau Damsyik, timbul pemberontakan oleh ‘Abdullah bin Zubair di Hijaz pada zaman Abdul Malik bin Marwan (685-705M), dan juga pemberontakan Khawarij dan penduduk Hijaz pada zaman Marwan bin Muhammad (744-750M).
Pada zaman kerajaan Bani Abbasiah (750-1258M) yang berpusat di Baghdad, golongan Syiah Alawiyah menjadikan kota Hijaz sebagai pusat penentangan mereka terhadap kerajaan ini. Inilah era pertama sejarah golongan Alawiyah, iaitu era pemberontakan Syiah Alawiyah di Hijaz. Antara para pemberontak tersebut ialah:
1. Muhammad bin Abdullah (“al-Nafs al-Zakiyah”) bin al-Hassan bin al-Hussain bin Ali bin Abi Talib, yang melancarkan pemberontakannya pada zaman Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pada tahun 145H/761M. Kerana tewas, saudaranya Ibrahim bin Abdullah meneruskan pemberontakannya di Basrah, Iraq.
2. Al-Hussain bin Ali bin al-Hassan bin Ali bin Abi Talib, yang dibaiat sebagai khalifah di Madinah oleh golongan Alawiyah, dan bangkit memberontak terhadap Khalifah al-Hadi pada tahun 169H.
3. Muhammad (al-Dibaj) bin Jaafar al-Sadiq, yang dilantik sebagai khalifah oleh golongan Alawiyah pada zaman Khalifah al-Makmun (813-833M). Walau pun tewas, tetapi Khalifah al-Makmun telah mengampunkannya.
4. Serangan golongan Qaramitah (Syiah Batiniyah) dari Bahrain terhadap pemerintah Bani Abbasiah di Makkah pada 929M. Mereka telah membunuh lebih kurang 30, 000 jamaah haji serta merampas Hajar Aswad lalu dibawa ke Bahrain, sebelum dipulangkan 22 tahun kemudian.
5. Penguasaan Bani al-Ukhairdhir (Syiah Zaidiyah) secara autonomi di Hijaz pada 335-350H, setelah memisahkan diri daripada Bani Abbasiah.
Demikianlah sejak pemberontakan “al-Nafs al-Zakiyah” hingga serangan puak Qaramitah, telah terjadi tidak kurang daripada tujuh puluh kali pemberontakan Alawiyah atau Syiah di Makkah. Selepas era pemberontakan Syiah Alawiyah, muncullah era kedua, iaitu era pemerintahan mereka sendiri di Hijaz yang disebut “Nizam al-Asyraf” atau sistem pemerintahan para Syarif, yang bermazhab Syiah yang bermula sejak tahun 928M hingga tahun 1924M. Bagaimanapun ia bukanlah mutlak (de facto) di bawah kuasa mereka, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan luar yang lebih kuat. Para penguasa luar yang turut mencaturi zaman “Nizam al-Asyraf” ialah seperti berikut:
1. Penguasaan Mesir (Fatimiyah, Ayyubiyah, Mamluk).
2. Penguasaan Turki Uthmaniyah (1517-1803M).
3. Penguasaan Saudi-Wahhabi (1803-1813M) yang berpusat di Dar’iyah.
4. Penguasaan Muhammad Ali Pasya (1813-1841M) dari Mesir.
5. Penguasaan Turki Uthmaniyah (1841-1916M).
Tetapi mulai tahun 1916, Syarif Hussain bin Ali (1908-1924) lalu mengisytiharkan kemerdekaan Hijaz daripada penguasaan Turki, dengan membentuk sistem monarki (Nizam al-Mamlakah). Bagaimanapun dengan kebangkitan semula gerakan Saudi-Wahhabi, akhirnya pemerintahan Syarif Hussain jatuh pada tahun 1924, dan digantikan oleh kerajaan Saudi-Wahhabi 1925.
Sejauh manakah kebenaran dakwaan Ustaz Muhd. Uthman El-Muhammady bahawa fahaman Wahhabilah yang menjadi punca kejatuhan kerajaan Turki Uthmani? Sesiapa yang meneliti sejarah hubungan mereka secara saksama, nescaya akan mendapati bahawa, golongan Saudi-Wahhabi sentiasa menghormati serta setia kepada Khilafah Uthmaniyah, dan kejatuhan Khilafah Islam ini pula tidak ada kaitannya sama sekali dengan golongan Wahhabi.
Pertama-tama sekali tentang sikap politik Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, menurut Dr. Ajil Jasim al-Nasymi dalam tulisannya “Pemerintahan Khilafah dan Gerakan Wahhabiyah,” dalam kitab-kitabnya (Muhammad bin Abdul Wahab) tidak ada yang menegaskan permusuhannya terhadap pemerintahan khilafah. Tumpuan beliau hanya kepada usaha dakwah, nasihat, atau menentang kemungkaran-kemungkaran (syirik dan bid’ah).
Dari segi bukti sejarah misalnya, ketika Amir Saudi bin Abdul Aziz berjaya menguasai Makkah pada tahun 1803 dalam era “Nizam al-Asyraf”, dia mengutus surat kepada Sultan Salim III di Turki menyatakan pengakuannya sebagai sultan. Malah, ketika Amir Saudi digantikan oleh puteranya, Abdullah, dia juga mendukung khilafah Islam dengan menyatakan kesetiaannya kepada Sultan Uhtmani.
Bukan sahaja pada zaman “Nizam al-Asyraf”, malah ketika golongan Saudi-Wahhabi berkuasa penuh di Hijaz yang bermula pada tahun 1925 itu pun, mereka masih mengakui kekhilafahan Uthmaniyah. Contoh terbaik ialah tindakan Malik Abdul Aziz bin Abdul Rahman (1932-1953) yang telah mengutus surat kepada Sultan Abdul Hamid II (1876-1909), dengan mengakui kedaulatannya dan kesetiannya kepada khalifah Turki.
Jelaslah bahawa, golongan Saudi-Wahhabi bukannya memusuhi bahkan mengakui kedaulatan dan menunjukkan kesetiannya kepada khalifah Uthmaniyah. Sebenarnya mereka yang menentang khalifah Turki yang bermazhab sunni (hanafi) itu ialah, para pemerintah Asyraf (syarif-syarif) Makkah sendiri yang bermazhab Syiah. Contohnya ialah percubaan Syarif Ghalib yang memerintah Makkah bagi pihak Sultan Uthmaniyah yang merancang untuk membebaskan dirinya daripada penguasaan Istanbul. Tetapi sebelum sempat bertindak, ia dicabar oleh golongan Wahhabi yang kemudiannya berjaya menguasai Makkah sepanjang tahun 1803-1813. Malah, yang lebih penting lagi ialah tindakan Syarif Hussain yang sanggup berkerjasama dengan wakil British, T.E Lawrence, untuk melancarkan “Pemberontakan Arab” pada tahun 1916 menentang Sultan Abdul Hamid II di Turki.
Tidak cukup setakat itu, projek mega landasan keretapi oleh Sultan Abdul Hamid II di antara Damsyik dengan Makkah itu bukan sahaja telah disekat oleh Syarif Hussain bin Ali setakat di Madinah sahaja, malah landasan yang sudah berjaya dibangunkan di Madinah itupun kemudiannya diletupkan oleh pihak Inggeris dengan kerjasama Faisal bin Hussain bin Ali. Padahal, biaya untuk projek mega ini datangnya daripada sumbangan derma Dunia Islam, dan tujuan didirikan itupun adalah untuk mendaulatkan gagasan pan-Islamisme atau Penyatuan Dunia Islam.
Jika dari segi pertama sudah jelas bahawa, golongan Saudi-Wahhabi menunjukkan kesetiaan kepada khilafah Uthmaniyah, maka persoalannya bolehkah ia didakwa sebagai punca yang membawa kejatuhan khilafah ini? Jelasnya, adakah kejatuhan Turki Uthmani yang kemudiannya digantikan oleh kerajaan sekular pemimpin tokoh Yahudi Dunama yang bernama Mustafa Kemal pada tahun 1925 itu berlaku kerana golongan Saudi-Wahhabi?
Pada hakikatnya, sebab-sebab kejatuhan Turki Uthmani dapat disimpulkan kepada tiga faktor besar, iaitu:
1. Keruntuhan akhlak para pemerintah.
2. Gerakan Yahudi Freemason.
3. Kerajaan Kristian Eropah.
Di antara ketiga-tiga faktor besar ini, faktor utamalah yang paling dominan. Memang pada peringkat awalnya, khilafah Uthmaniyah dikuasai oleh sultan-sultan yang berwibawa besar dan mempunyai komitmen dengan manhaj al-Sunnah dalam perjalanan dakwah dan jihadnya. Tetapi pada peringkat kemudiannya, muncullah para penguasa yang menjauh daripada syariat Allah, terlalu menjaga hati rakyat bukan Islam tetapi zalim ke atas umat Islam. Mereka hidup mewah, berpoya-poya dan tenggelam dalam syahwat Kalau pun benar tuduhan bahawa, golongan Saudi-Wahhabi menentang khilafah Uthmaniyah dengan cara membebaskan Hijaz daripada penguasaan Uthmaniyah, maka golongan Saudi-Wahhabi bukanlah satu-satunya pihak yang berbuat demikian. Selain di Hijaz, di sana-sini timbul gerakan-gerakan menuntut kemerdekaan seperti berikut:
1. Di Mesir – Gerakan Ali Bek al-Kabir, kemudian gerakan Muhammad Ali.
2. Palestin – Gerakan pemimpin penduduk tempatan Zahir Umar.
3. Di Lebanon – Gerakan Fakhrudin Ma’ni, kemudian gerakan orang-orang Syihabiyah.
4. Di Iraq – Gerakan raja-raja Pasya, puncaknya adalah Sulaiman Pasya (Abu Laila).
5. Di Yaman – Gerakan al-Zaidiyah.
6. Di Afrika – Gerakan Sanusiyah.
Dengan menyingkap tabir sejarah hubungan Saudi-Wahhabi dengan khilafah Turki Uthmaniyah serta faktor-faktor kejatuhan Khilafah Islam hendaknya tidaklah timbul lagi sebarang tuduhan bahawa, golongan Wahhabilah yang menjadi punca kejatuhan Khalifah Islam di Turki tersebut. hendaknya kita menjadi golongan ‘celik sejarah’ bukannya ‘buta sejarah’ sehingga timbul tuduhan yang melulu dan tidak berasaskan kepada fakta-fakta sejarah yang sebenar, sebaliknya berasaskan emosi semata-mata.
(Dinukil dari lampiran buku "Siapakah Pengikut Imam Al-Syafie dan Mazhab Syafie yang Sebenar?" Dikarang oleh Mohd Hairi Bin Nonchi dan Mohd Yaakub Bin Mohd Yunus, Jahabersa, ms. 311-321)
Oleh: Dr. Abdul Rahman Hj. Abdullah
Menerusi salah satu risalah beliau yang berjudul Usah Terpesona Tajdid Segera Wahabi: Mula abad ke-18 Wahabi menentang ulil amri sehingga musnah kerajaan Islam Uhtmaniah (Berita Minggu, Ahad 20 Disember 2009, ms. 30), Muhammad Uthman El-Muhammady menulis:
Berbanding tajdid Ahli Sunnah kita boleh sebutkan tajdid segera Wahabi bermula dari abad ke-18 itu. Antara yang berlaku ialah tuduhan umat Islam melakukan kesyirikan dan bidaah, lalu atas nama mengembalikan sunnah dan memerangi bidaah, berlaku penentang terhadap ulil amri waktu itu iaitu kerajaan Uthmaniah Turki yang berabad mempertahankan Islam yang sedang dimusuhi Barat. Apabila ia dilemahkan dari dalam oleh usaha golongan itu atas nama menegakkan tauhid dan sunnah, akhirnya ia lemah dari dalam, apalagi golongan itu bermuafakat dengan British dan Perancis seperti tercatat dalam ‘Unwan al-Majdi, akhirnya jatuhlah khalifah itu dengan Kamal Attarturk memberi pukulan maut ke atasnya.
Sebenarnya isu yang dibangkitkan oleh Muhammad Uthmaniyah El-Muhammady di dalam kenyataannya di atas bukanlah satu isu yang baru. Malah isu ini juga pernah disuarakan oleh beliau sejak beberapa tahun yang lalu iaitu di dalam Mingguan Malaysia, 27 November, 2005.
Bagi menjawab semula fitnah yang dilontarkan oleh beliau ini, ada baik kiranya kita meneliti sebuah risalah yang penulis nukil daripada buku berjudul Aliran Dakwah di Malaysia: Satu Titik Pertemuan karya saudara Dr. Abdul Rahman Hj. Abdullah (terbitan Karya Bestari Sdn Bhd, Selangor, 2007), ms. 336 di bawah ini:
Suatu tuduhan yang tidak pernah putus diperkatakan ialah bahawa, golongan Wahhabiah yang menjadi punca kejatuhan khilafah Turki Uthmani. Tuduhan palsu yang tidak berasaskan fakta sejarah ini perlu diperbetulkan, apalagi kerana ia turut dibangkitkan oleh Ustaz Muhd. Uhtman El-Muhammady. Menurutnya, fahaman Wahhabi itu sendiri berkembang luas sehingga menjatuhkan kerajaan Turki Uthmaniyah di Turki (Mingguan Malaysia, 27 Nov. 2005). Sesiapa yang meneliti sejarah Asia Barat secara saksama, nescaya akan mendapati bahawa kejatuhan khilafah Turki Uthmaniyah tidak ada kaitan sama sekali dengan peranan Saudi-Wahhabi. Untuk memahami peranannya, elok ditinjau latar belakang tanah Hijaz (Makkah-Madinah) terlebih dahulu.
Dengan tamatnya era Khulafa’ al-Rasyidin (661M), maka lenyaplah juga kepentingan Hijaz (Makkah-Madinah) sebagai pusat pemerintahan dan tamadun Islam. Dengan kenaikan kerajaan Bani Umayyah (661-750M) yang berpusat di Syam atau Damsyik, timbul pemberontakan oleh ‘Abdullah bin Zubair di Hijaz pada zaman Abdul Malik bin Marwan (685-705M), dan juga pemberontakan Khawarij dan penduduk Hijaz pada zaman Marwan bin Muhammad (744-750M).
Pada zaman kerajaan Bani Abbasiah (750-1258M) yang berpusat di Baghdad, golongan Syiah Alawiyah menjadikan kota Hijaz sebagai pusat penentangan mereka terhadap kerajaan ini. Inilah era pertama sejarah golongan Alawiyah, iaitu era pemberontakan Syiah Alawiyah di Hijaz. Antara para pemberontak tersebut ialah:
1. Muhammad bin Abdullah (“al-Nafs al-Zakiyah”) bin al-Hassan bin al-Hussain bin Ali bin Abi Talib, yang melancarkan pemberontakannya pada zaman Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pada tahun 145H/761M. Kerana tewas, saudaranya Ibrahim bin Abdullah meneruskan pemberontakannya di Basrah, Iraq.
2. Al-Hussain bin Ali bin al-Hassan bin Ali bin Abi Talib, yang dibaiat sebagai khalifah di Madinah oleh golongan Alawiyah, dan bangkit memberontak terhadap Khalifah al-Hadi pada tahun 169H.
3. Muhammad (al-Dibaj) bin Jaafar al-Sadiq, yang dilantik sebagai khalifah oleh golongan Alawiyah pada zaman Khalifah al-Makmun (813-833M). Walau pun tewas, tetapi Khalifah al-Makmun telah mengampunkannya.
4. Serangan golongan Qaramitah (Syiah Batiniyah) dari Bahrain terhadap pemerintah Bani Abbasiah di Makkah pada 929M. Mereka telah membunuh lebih kurang 30, 000 jamaah haji serta merampas Hajar Aswad lalu dibawa ke Bahrain, sebelum dipulangkan 22 tahun kemudian.
5. Penguasaan Bani al-Ukhairdhir (Syiah Zaidiyah) secara autonomi di Hijaz pada 335-350H, setelah memisahkan diri daripada Bani Abbasiah.
Demikianlah sejak pemberontakan “al-Nafs al-Zakiyah” hingga serangan puak Qaramitah, telah terjadi tidak kurang daripada tujuh puluh kali pemberontakan Alawiyah atau Syiah di Makkah. Selepas era pemberontakan Syiah Alawiyah, muncullah era kedua, iaitu era pemerintahan mereka sendiri di Hijaz yang disebut “Nizam al-Asyraf” atau sistem pemerintahan para Syarif, yang bermazhab Syiah yang bermula sejak tahun 928M hingga tahun 1924M. Bagaimanapun ia bukanlah mutlak (de facto) di bawah kuasa mereka, tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan luar yang lebih kuat. Para penguasa luar yang turut mencaturi zaman “Nizam al-Asyraf” ialah seperti berikut:
1. Penguasaan Mesir (Fatimiyah, Ayyubiyah, Mamluk).
2. Penguasaan Turki Uthmaniyah (1517-1803M).
3. Penguasaan Saudi-Wahhabi (1803-1813M) yang berpusat di Dar’iyah.
4. Penguasaan Muhammad Ali Pasya (1813-1841M) dari Mesir.
5. Penguasaan Turki Uthmaniyah (1841-1916M).
Tetapi mulai tahun 1916, Syarif Hussain bin Ali (1908-1924) lalu mengisytiharkan kemerdekaan Hijaz daripada penguasaan Turki, dengan membentuk sistem monarki (Nizam al-Mamlakah). Bagaimanapun dengan kebangkitan semula gerakan Saudi-Wahhabi, akhirnya pemerintahan Syarif Hussain jatuh pada tahun 1924, dan digantikan oleh kerajaan Saudi-Wahhabi 1925.
Sejauh manakah kebenaran dakwaan Ustaz Muhd. Uthman El-Muhammady bahawa fahaman Wahhabilah yang menjadi punca kejatuhan kerajaan Turki Uthmani? Sesiapa yang meneliti sejarah hubungan mereka secara saksama, nescaya akan mendapati bahawa, golongan Saudi-Wahhabi sentiasa menghormati serta setia kepada Khilafah Uthmaniyah, dan kejatuhan Khilafah Islam ini pula tidak ada kaitannya sama sekali dengan golongan Wahhabi.
Pertama-tama sekali tentang sikap politik Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, menurut Dr. Ajil Jasim al-Nasymi dalam tulisannya “Pemerintahan Khilafah dan Gerakan Wahhabiyah,” dalam kitab-kitabnya (Muhammad bin Abdul Wahab) tidak ada yang menegaskan permusuhannya terhadap pemerintahan khilafah. Tumpuan beliau hanya kepada usaha dakwah, nasihat, atau menentang kemungkaran-kemungkaran (syirik dan bid’ah).
Dari segi bukti sejarah misalnya, ketika Amir Saudi bin Abdul Aziz berjaya menguasai Makkah pada tahun 1803 dalam era “Nizam al-Asyraf”, dia mengutus surat kepada Sultan Salim III di Turki menyatakan pengakuannya sebagai sultan. Malah, ketika Amir Saudi digantikan oleh puteranya, Abdullah, dia juga mendukung khilafah Islam dengan menyatakan kesetiaannya kepada Sultan Uhtmani.
Bukan sahaja pada zaman “Nizam al-Asyraf”, malah ketika golongan Saudi-Wahhabi berkuasa penuh di Hijaz yang bermula pada tahun 1925 itu pun, mereka masih mengakui kekhilafahan Uthmaniyah. Contoh terbaik ialah tindakan Malik Abdul Aziz bin Abdul Rahman (1932-1953) yang telah mengutus surat kepada Sultan Abdul Hamid II (1876-1909), dengan mengakui kedaulatannya dan kesetiannya kepada khalifah Turki.
Jelaslah bahawa, golongan Saudi-Wahhabi bukannya memusuhi bahkan mengakui kedaulatan dan menunjukkan kesetiannya kepada khalifah Uthmaniyah. Sebenarnya mereka yang menentang khalifah Turki yang bermazhab sunni (hanafi) itu ialah, para pemerintah Asyraf (syarif-syarif) Makkah sendiri yang bermazhab Syiah. Contohnya ialah percubaan Syarif Ghalib yang memerintah Makkah bagi pihak Sultan Uthmaniyah yang merancang untuk membebaskan dirinya daripada penguasaan Istanbul. Tetapi sebelum sempat bertindak, ia dicabar oleh golongan Wahhabi yang kemudiannya berjaya menguasai Makkah sepanjang tahun 1803-1813. Malah, yang lebih penting lagi ialah tindakan Syarif Hussain yang sanggup berkerjasama dengan wakil British, T.E Lawrence, untuk melancarkan “Pemberontakan Arab” pada tahun 1916 menentang Sultan Abdul Hamid II di Turki.
Tidak cukup setakat itu, projek mega landasan keretapi oleh Sultan Abdul Hamid II di antara Damsyik dengan Makkah itu bukan sahaja telah disekat oleh Syarif Hussain bin Ali setakat di Madinah sahaja, malah landasan yang sudah berjaya dibangunkan di Madinah itupun kemudiannya diletupkan oleh pihak Inggeris dengan kerjasama Faisal bin Hussain bin Ali. Padahal, biaya untuk projek mega ini datangnya daripada sumbangan derma Dunia Islam, dan tujuan didirikan itupun adalah untuk mendaulatkan gagasan pan-Islamisme atau Penyatuan Dunia Islam.
Jika dari segi pertama sudah jelas bahawa, golongan Saudi-Wahhabi menunjukkan kesetiaan kepada khilafah Uthmaniyah, maka persoalannya bolehkah ia didakwa sebagai punca yang membawa kejatuhan khilafah ini? Jelasnya, adakah kejatuhan Turki Uthmani yang kemudiannya digantikan oleh kerajaan sekular pemimpin tokoh Yahudi Dunama yang bernama Mustafa Kemal pada tahun 1925 itu berlaku kerana golongan Saudi-Wahhabi?
Pada hakikatnya, sebab-sebab kejatuhan Turki Uthmani dapat disimpulkan kepada tiga faktor besar, iaitu:
1. Keruntuhan akhlak para pemerintah.
2. Gerakan Yahudi Freemason.
3. Kerajaan Kristian Eropah.
Di antara ketiga-tiga faktor besar ini, faktor utamalah yang paling dominan. Memang pada peringkat awalnya, khilafah Uthmaniyah dikuasai oleh sultan-sultan yang berwibawa besar dan mempunyai komitmen dengan manhaj al-Sunnah dalam perjalanan dakwah dan jihadnya. Tetapi pada peringkat kemudiannya, muncullah para penguasa yang menjauh daripada syariat Allah, terlalu menjaga hati rakyat bukan Islam tetapi zalim ke atas umat Islam. Mereka hidup mewah, berpoya-poya dan tenggelam dalam syahwat Kalau pun benar tuduhan bahawa, golongan Saudi-Wahhabi menentang khilafah Uthmaniyah dengan cara membebaskan Hijaz daripada penguasaan Uthmaniyah, maka golongan Saudi-Wahhabi bukanlah satu-satunya pihak yang berbuat demikian. Selain di Hijaz, di sana-sini timbul gerakan-gerakan menuntut kemerdekaan seperti berikut:
1. Di Mesir – Gerakan Ali Bek al-Kabir, kemudian gerakan Muhammad Ali.
2. Palestin – Gerakan pemimpin penduduk tempatan Zahir Umar.
3. Di Lebanon – Gerakan Fakhrudin Ma’ni, kemudian gerakan orang-orang Syihabiyah.
4. Di Iraq – Gerakan raja-raja Pasya, puncaknya adalah Sulaiman Pasya (Abu Laila).
5. Di Yaman – Gerakan al-Zaidiyah.
6. Di Afrika – Gerakan Sanusiyah.
Dengan menyingkap tabir sejarah hubungan Saudi-Wahhabi dengan khilafah Turki Uthmaniyah serta faktor-faktor kejatuhan Khilafah Islam hendaknya tidaklah timbul lagi sebarang tuduhan bahawa, golongan Wahhabilah yang menjadi punca kejatuhan Khalifah Islam di Turki tersebut. hendaknya kita menjadi golongan ‘celik sejarah’ bukannya ‘buta sejarah’ sehingga timbul tuduhan yang melulu dan tidak berasaskan kepada fakta-fakta sejarah yang sebenar, sebaliknya berasaskan emosi semata-mata.
(Dinukil dari lampiran buku "Siapakah Pengikut Imam Al-Syafie dan Mazhab Syafie yang Sebenar?" Dikarang oleh Mohd Hairi Bin Nonchi dan Mohd Yaakub Bin Mohd Yunus, Jahabersa, ms. 311-321)
PENCETUS ISTILAH PERTAMA WAHABI
PENCETUS ISTILAH PERTAMA WAHABI
Oleh :
Al-Ustadz Jalâl Abŭ Alrŭb**
Editor :
Tim Riset Salafî Manhaj
Alih Bahasa :
Abŭ Salmâ bin Burhân Yŭsŭf
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Alloh yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemurah
Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte (kelompok-tamb) Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam.1. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India. Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.2 Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.3
Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî4. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :
“Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.
- Margoliouth5 sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”.
- Thomas Patrick Hughes6 menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh….
- George Rentz7 mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’…. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.8
Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :
- Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.
- Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.
Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.
Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah.9 Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).
Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.
Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.
Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.
CATATAN KAKI :
* Dari Jalâl Abŭ Alrub dan Alâ Mencke (ed.), Biography and Mission of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb (Orlando, Florida: Madinah Publisher, 1424/2003), hal. 677-81. Dengan tambahan ekstra catatan oleh Tim Salafimanhaj. Catatan dari Salafi Manhaj diberi tanda “Catatan Editor”.
Catatan Penterjemah : Artikel ini dialihbahasakan dari “Who First Used The Term “Wahhabi”? “(http://www.salafimanhaj.com/pdf/SalafiManhaj_TermWahhabi.pdf)
** Catatan Penterjemah : Jalâl Abŭ Alrub adalah seorang penulis Islam salafî yang mumpuni. Beliau memiliki website bermanfaat, yaitu http://islamlife.com. Beliau aktif menulis counter dan tanggapan/bantahan terhadap syubuhat dan penyesatan opini para jurnalis Barat. Beliau pernah terlibat debat beberapa kali dengan para jurnalis dan penulis ’Neo-Con’. Terakhir kali, beliau menantang debat Robert Spencer (seorang Katolik pro Neo-Con, yang mengangkat dirinya sebagai ’Islam Specialist’ dan banyak menulis tentang Islam secara ngawur dan tendensius. Ia adalah orang dibalik website jihadwatch dan dhimmiwatch.) Namun, Robert Spencer sepertinya tidak punya ’guts’ (nyali), sehingga ia tidak pernah mau berhadapan langsung dengan Jalâl Abŭ Alrub.
1 Lihat : Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh : Dârul Habîb : 2000; hal. 55
2 Catatan Editor : W.W. Hunter dalam bukunya yang berjudul “The Indian Musalmans” mencatat bahwa selama pemberontakan orang India tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim ‘Wahhâbi’ yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya bahwa :
“There is no fear to the British in India except from the Wahhabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihaad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.”
“Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahhâbi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat dengan atas nama jihâd untuk memusnahkan penindasan akibat dari ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”
Lihat: W.W. Hunter, “The Indian Musalmans”, cet.1 di London: Trűbner and Co., 1871; Calcuta: Comrade Publishers, 1945, 2nd edn.; New Delhi: Rupa & Co., 2002 Reprint
3 Catatan Ediotr : Di Bengal selama masa ini, banyak kaum muslimin termasuk tua, muda dan para wanita, semuanya disebut dengan “Wahhâbi” dan dianggap sebagai “pemberontak” yang melawan Inggris kemudian digantung pada tahun 1863-1864. Mereka yang dipenjarakan di Pulau Andaman dan disiksa adalah para ulama dari komunitas Salafî-Ahlul Hadîts, seperti Syaikh Ja’far Tsanisârî, Syaikh Yahyâ ‘Alî (1828-1868), Syaikh Ahmad ‘Abdullâh (1808-1881), Syaikh Nadzîr Husain ad-Dihlawî dan masih banyak lagi lainnya. Untuk bacaan lebih lanjut, silakan lihat :
v Mu’înud-dîn Ahmad Khân, A History if The Fara’idi Movement in Bengal (Karachi: Pakistan Historical Society, 1965).
v Barbara Daly Metrcalf, Islamic Revival in British India: Deoband, 1860-1900 (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1982), hal. 26-77.
v Qiyâmud-dîn Ahmad (Professor Sejarah di Universitas Patna), The Wahhabi Movement in India (Ner Delhi: Manohar, 1994, 2nd edition). Terutama pada bab tujuh “The British Campaigns Againts the Wahhabis on the North-Western Frontier” dan bab kedelapan “State Trials of Wahhabi Leaders, 183-65.”
Muhammad Ja’far, Târikhul ‘Ajîb dan Târikhul ‘Ajîb – History of Port Blair (Nawalkshore Press, 1892, 2nd edition).
4 Lihat: ibid, hal. 70
5 D.S. Margoliouth, Wahabiya, hal. 618, 108.
Catatan Editor : Artikel karya Margoliouth yang berjudul ‘Wahhabis’ ini juga dapat ditemukan di dalam The First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936 (New York: E.J. Brill, 1987 Reprint) vol.8 , hal.1087 karya M.T. Houtsma, T.W. Arnold, R. Basset, R. Hartman, A.J. Wensinck, H.A.R. Gibb, W. Heffening dan E. Lêvi-Provençal (ed) dan The Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden and London: E.J. Brill and Luzac & Co., 1960), hal. 619 karya H.A.R Gibb, J.H. Kramers dan E. Lêvi-Provençal (ed). Artikel ini juga dicetak ulang dalam :
v Reading, UK: Ithaca Press, 1974
v Leiden: Brill, 1997
v Dan cetakan pertama, Leiden and London: E.J. Bril and Luzac & Co., dan New York: Cornel University Press, 1953.
6 Thomas Patrick Huges, Dictionary of Islam, hal. 59
7 George Rentz dan AS.J. Arberry, The Wahhabis in Religion in The Middle East: Three Religion in Concord and Conflict, Vol.2 (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), hal. 270
8 Lihat: Nâshir ibn Ibrâhîm ibn ‘Abdullâh Tuwaim, Asy-Syaikh Muhammad ibn ‘Abd`ul Wahhâb: Hayâtuhu wa Da’watuhu fi`r Ru`yâ al-Istisyrâqiyya: Dirôsah Naqdîyyah (Riyadh: Kementerian Urusan Keislaman, Pusat Penelitian dan Studi Islam, 1423/2003) hal. 86-7.
Catatan Editor : Buku ini juga dapat dilihat secara online di http://islamport.com/d/3/amm/1/100/2213.html
9 Lihat: Qodhî Ahmad ibn Hajar Alu Abŭthâmi (al-Bŭthâmi), Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb : His Salafî Creed and Reformist Movement, hal. 66
Sumber: Maktabah Risalah Abu Salma edisi CHM, http://dear.to/abusalma
Oleh :
Al-Ustadz Jalâl Abŭ Alrŭb**
Editor :
Tim Riset Salafî Manhaj
Alih Bahasa :
Abŭ Salmâ bin Burhân Yŭsŭf
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan Nama Alloh yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemurah
Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte (kelompok-tamb) Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam.1. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India. Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.2 Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.3
Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî4. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :
“Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.
- Margoliouth5 sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”.
- Thomas Patrick Hughes6 menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh….
- George Rentz7 mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’…. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.8
Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :
- Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.
- Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.
Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.
Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah.9 Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).
Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.
Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.
Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.
CATATAN KAKI :
* Dari Jalâl Abŭ Alrub dan Alâ Mencke (ed.), Biography and Mission of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb (Orlando, Florida: Madinah Publisher, 1424/2003), hal. 677-81. Dengan tambahan ekstra catatan oleh Tim Salafimanhaj. Catatan dari Salafi Manhaj diberi tanda “Catatan Editor”.
Catatan Penterjemah : Artikel ini dialihbahasakan dari “Who First Used The Term “Wahhabi”? “(http://www.salafimanhaj.com/pdf/SalafiManhaj_TermWahhabi.pdf)
** Catatan Penterjemah : Jalâl Abŭ Alrub adalah seorang penulis Islam salafî yang mumpuni. Beliau memiliki website bermanfaat, yaitu http://islamlife.com. Beliau aktif menulis counter dan tanggapan/bantahan terhadap syubuhat dan penyesatan opini para jurnalis Barat. Beliau pernah terlibat debat beberapa kali dengan para jurnalis dan penulis ’Neo-Con’. Terakhir kali, beliau menantang debat Robert Spencer (seorang Katolik pro Neo-Con, yang mengangkat dirinya sebagai ’Islam Specialist’ dan banyak menulis tentang Islam secara ngawur dan tendensius. Ia adalah orang dibalik website jihadwatch dan dhimmiwatch.) Namun, Robert Spencer sepertinya tidak punya ’guts’ (nyali), sehingga ia tidak pernah mau berhadapan langsung dengan Jalâl Abŭ Alrub.
1 Lihat : Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh : Dârul Habîb : 2000; hal. 55
2 Catatan Editor : W.W. Hunter dalam bukunya yang berjudul “The Indian Musalmans” mencatat bahwa selama pemberontakan orang India tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim ‘Wahhâbi’ yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya bahwa :
“There is no fear to the British in India except from the Wahhabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihaad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.”
“Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahhâbi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat dengan atas nama jihâd untuk memusnahkan penindasan akibat dari ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”
Lihat: W.W. Hunter, “The Indian Musalmans”, cet.1 di London: Trűbner and Co., 1871; Calcuta: Comrade Publishers, 1945, 2nd edn.; New Delhi: Rupa & Co., 2002 Reprint
3 Catatan Ediotr : Di Bengal selama masa ini, banyak kaum muslimin termasuk tua, muda dan para wanita, semuanya disebut dengan “Wahhâbi” dan dianggap sebagai “pemberontak” yang melawan Inggris kemudian digantung pada tahun 1863-1864. Mereka yang dipenjarakan di Pulau Andaman dan disiksa adalah para ulama dari komunitas Salafî-Ahlul Hadîts, seperti Syaikh Ja’far Tsanisârî, Syaikh Yahyâ ‘Alî (1828-1868), Syaikh Ahmad ‘Abdullâh (1808-1881), Syaikh Nadzîr Husain ad-Dihlawî dan masih banyak lagi lainnya. Untuk bacaan lebih lanjut, silakan lihat :
v Mu’înud-dîn Ahmad Khân, A History if The Fara’idi Movement in Bengal (Karachi: Pakistan Historical Society, 1965).
v Barbara Daly Metrcalf, Islamic Revival in British India: Deoband, 1860-1900 (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1982), hal. 26-77.
v Qiyâmud-dîn Ahmad (Professor Sejarah di Universitas Patna), The Wahhabi Movement in India (Ner Delhi: Manohar, 1994, 2nd edition). Terutama pada bab tujuh “The British Campaigns Againts the Wahhabis on the North-Western Frontier” dan bab kedelapan “State Trials of Wahhabi Leaders, 183-65.”
Muhammad Ja’far, Târikhul ‘Ajîb dan Târikhul ‘Ajîb – History of Port Blair (Nawalkshore Press, 1892, 2nd edition).
4 Lihat: ibid, hal. 70
5 D.S. Margoliouth, Wahabiya, hal. 618, 108.
Catatan Editor : Artikel karya Margoliouth yang berjudul ‘Wahhabis’ ini juga dapat ditemukan di dalam The First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936 (New York: E.J. Brill, 1987 Reprint) vol.8 , hal.1087 karya M.T. Houtsma, T.W. Arnold, R. Basset, R. Hartman, A.J. Wensinck, H.A.R. Gibb, W. Heffening dan E. Lêvi-Provençal (ed) dan The Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden and London: E.J. Brill and Luzac & Co., 1960), hal. 619 karya H.A.R Gibb, J.H. Kramers dan E. Lêvi-Provençal (ed). Artikel ini juga dicetak ulang dalam :
v Reading, UK: Ithaca Press, 1974
v Leiden: Brill, 1997
v Dan cetakan pertama, Leiden and London: E.J. Bril and Luzac & Co., dan New York: Cornel University Press, 1953.
6 Thomas Patrick Huges, Dictionary of Islam, hal. 59
7 George Rentz dan AS.J. Arberry, The Wahhabis in Religion in The Middle East: Three Religion in Concord and Conflict, Vol.2 (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), hal. 270
8 Lihat: Nâshir ibn Ibrâhîm ibn ‘Abdullâh Tuwaim, Asy-Syaikh Muhammad ibn ‘Abd`ul Wahhâb: Hayâtuhu wa Da’watuhu fi`r Ru`yâ al-Istisyrâqiyya: Dirôsah Naqdîyyah (Riyadh: Kementerian Urusan Keislaman, Pusat Penelitian dan Studi Islam, 1423/2003) hal. 86-7.
Catatan Editor : Buku ini juga dapat dilihat secara online di http://islamport.com/d/3/amm/1/100/2213.html
9 Lihat: Qodhî Ahmad ibn Hajar Alu Abŭthâmi (al-Bŭthâmi), Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb : His Salafî Creed and Reformist Movement, hal. 66
Sumber: Maktabah Risalah Abu Salma edisi CHM, http://dear.to/abusalma
MELURUSKAN PEMAHAMAN KELIRU TENTANG SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Meluruskan Pemahaman Keliru Tentang Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab
Penulis: Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz As-Sindi
Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendokong dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.
Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syeikh yang melontarkan kepada beliau dengan pelbagai tuduhan, bahawa perkataan mereka tidak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduh tidak mempunyai sebarang bukti dari perkataan Syaekh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekadar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.
Saya yakin tidak ada seorangpun yang berfikir objektif kecuali dia mengakui bahawa cara terbaik untuk mengetahui fakta yang sebenarnya adalah dengan melihat kepada yang bersangkutan, kemudian mengambil informasi langsung dari apa yang telah disampaikannya.
Kitab-kitab Syeikh dapat kita temui, perkataan-perkataannya pun masih lagi terjaga. Dengan mengacu kepada itu semua akan terbukti apakah isu-isu tersebut benar atau salah. Adapun tuduhan-tuduhan yang tidak disertai dengan bukti hanyalah fatamorgana yang tak ada kenyataanya.
Dalam lembaran-lembaran ini, berisi catatan-catatan ringan perkataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan amanah dinukil dari kitab-kitabnya yang sah. Saya telah mengumpulkannya dan yang dapat saya lakukan hanyalah sekadar menyusun.
Catatan berisi jawaban-jawaban terus dari Syeikh terhadap tuduhan-tuduhan kepada beliau yang dilancarkan oleh para penentangnya. Dengan jelas ditepisnya segala apa yang dituduhkan. Saya yakin -dengan taufiq dari Allah- hal itu cukup untuk menjelaskan kebenaran bagi siapa yang benar-benar mencarinya.
Adapun yang membangkang terhadap Syeikh dan dakwahnya, senang menyebarkan kedustaaan dan kebohongan, perlu saya katakan kepada mereka: kasihanilah dirimu sesungguhnya kebenaran akan jelas, agama Allah akan menang dan matahari yang bersinar terang tidak akan dapat ditutupi dengan telapak tangan.
Inilah perkataan Syeikh menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, kalau anda mendapati perkataan Syeikh yang mendustakannya maka tampakkan dan datangkanlah jangan anda sembunyikan…..! Namun kalau tidak -dan anda tidak akan mendapatkannya- maka saya menasihati anda dengan satu perkara hendaklah anda menghadapkan diri kepada Allah dengan membuang segala hawa nafsu dan fanatisme, meminta kepada-Nya untuk memperlihatkan al-haq (kebenaran) dan membimbingmu kepadanya, kemudian anda fikirkan apa yang telah dikatakan oleh orang ini (Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab), apakah dia membawa sesuatu yang bukan dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Salallahu ‘Alaihi Wasallam.
Lalu fikirkan sekali lagi: apakah ada jalan keselamatan selain perkataan yang benar dan membenarkan al-haq. Bila telah tampak bagi anda kebenaran maka kembalilah kepada akal yang sihat, menujulah kepada al-haq, sesungguhnya hal itu lebih baik daripada terus menerus berada dalam kebatilan, hanya kepada Allah sahaja segala perkara dikembalikan.
HAKIKAT DAKWAH SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Sebagai permulaan pembahasan kita akan lebih baik kalau kita menukil beberapa perkataan ringkas Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam menjelaskan apa yang beliau dakwahkan, jauh dari awan gelap propaganda yang dilancarkan para penentangnya yang mereka menghalangi kebanyakan manusia agar jauh dari dakwah tersebut. Beliau mengatakan:
"Aku katakan -hanya bagi Allah segala puji dan kurnia dan dengan Allah segala kekuatan- : sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkanku ke jalan yang lurus, agama lurus agama Ibrahim yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik. Dan aku –Alhamdulillah-, tidak mengajak kepada mazhab salah seorang sufi, ahli fekah, filosof, atau salah satu imam-imam yang aku muliakan…..
Aku hanya mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku mengajak kepada sunnah Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam yang baginda menasihatkan umatnya dari yang awal sampai yang akhir untuk selalu mengikutinya. Aku berharap semoga aku tidak menolak segala kebenaran apabila telah sampai kepadaku, bahkan aku persaksikan kepada Allah, para malaikat dan semua makhluk-Nya, siapapun diantara kamu yang menyampaikan kebenaran kepadaku, pasti akan aku terima dengan sepenuh hati, dan aku akan memukulkan ke tembok setiap perkataan para imamku yang bertentangan dengan kebenaran, kecuali Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam kerana baginda tidak mengatakan kecuali kebenaran."(Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 37-38).
"Dan aku -segala puji hanya milik Allah-, hanyalah mengikuti, bukan mengada-ada." (Mu’allafat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal 36).
"Gambaran mengenai permasalahan yang sebenarnya adalah aku katakan : tidak ada yang boleh ditujukan doa kecuali Allah sahaja yang tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah berfirman (maksudnya): "Maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun bersamaan dengan Allah" (Al Jin: 18).
Allah juga berfirman berkaitan dengan hak Nabi-Nya (maksudnya): Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak berkuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan" (Al Jin: 21)
Demikianlah firman Allah dan apa yang disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah kepada kita, ….. inilah antaraku denganmu, kalau ada yang menyebutkan tentangku di luar daripada itu, maka itu adalah dusta dan kebohongan". (Ad-Durarus Saniyyah, 1/90-91).
Masalah Pertama: IKTIQAD BELIAU TENTANG NABI
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab difitnah para musuhnya dengan berbagai tuduhan keji berkaitan dengan iktiqadnya terhadap Nabi, tuduhan itu berupa :
Pertama: Beliau tidak menyakini bahawa Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah penutup sekalian Nabi.
Dikatakan demikian, padahal semua kitab-kitab beliau penuh berisi tentang bantahan terhadap syubhat itu. Berikut ini menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut, diantaranya dalam perkataan beliau:
"Aku beriman bahawa Nabi kita Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba pun sehingga dia beriman dengan diutusnya baginda serta bersaksi akan kenabiannya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
"Makhluk paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi darjatnya adalah yang paling tinggi dalam mengikuti dan mencontohi baginda (Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam) dalam ilmu dan amalannya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 32)
Kedua: Dia telah menghancurkan hak Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak meletakkan baginda pada kedudukannya yang selayaknya.
Untuk melihat hakikat beliau sebagai tertuduh, saya nukilkan sebahagian perkataan yang telah beliau tegaskan berkaitan dengan apa yang diyakini tentang hak Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau berkata:
"Tatkala Allah berkehendak menampakkan tauhid dan kesempurnaan agama-Nya, agar kalimah-Nya adalah tinggi dan seruan orang-orang kafir adalah rendah, Allah mengutus Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penutup para nabi dan kekasih Tuhan semesta alam. Baginda terus menerus dikenali dalam setiap generasi, bahkan dalam Taurat dan Injil telah disebutkan, sehingga akhirnya Allah mengeluarkan mutiara itu, antara Bani Kinanah dengan Bani Zuhrah. Maka Allah mengutusnya pada saat terhentinya pengutusan para rasul, lalu menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Baginda mempunyai tanda-tanda dan petunjuk tentang kebenaran kenabian sebelum diangkat menjadi nabi, yang tanda-tanda tersebut tidak dapat dikalahkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Allah membesarkan baginda dengan baik, mempunyai kehormatan tertinggi pada kaumnya, paling baik akhlaknya, paling mulia, paling lembut dan paling benar dalam berucap, akhirnya kaumnya memberikan gelaran dengan Al-Amin, kerana Allah telah menciptakan pada baginda keadaan-keadaan baik dan budi pekerti yang diredhai-Nya." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 90-91).
"Dan baginda adalah pemimpin para pemberi syafa’at, pemilik Al-Maqamul Mahmud (kedudukan hamba yang paling mulia di hari kiamat), sedang Nabi Adam 'Alaihissalam dan orang-orang sesudahnya akan berada di bawah panjinya." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 86).
"Utusan (Rasul) yang pertama adalah Nabi Nuh Alaihis Salam dan yang paling akhir serta paling mulia adalah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 143)
"Baginda telah menyampaikan penjelasan dengan cara terbaik dan paling sempurna, manusia yang paling menginginkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah, belas kasih terhadap orang-orang yang beriman, telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan terus menerus menyembah Allah sehingga baginda wafat." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 21).
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga mengambil kesimpulan dari sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam (maksudnya): Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan semua manusia. Beliau mengatakan "Kewajiban mencintai Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam melebihi cinta terhadap diri sendiri, keluarga mahupun harta." (Kitabut Tauhid, hal 108).
Ketiga: Mengingkari syafaat Rasululullah Salallahu Alaihi Wasallam.
Syeikh berkenan menjawab syubhat ini, beliau mengatakan:
"Mereka menyangka bahawa kami mengingkari syafaat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Maha suci Engkau Allah, ini adalah tuduhan yang besar. Kami mempersaksikan kepada Allah Ta'ala bahawa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam adalah pemberi syafaat dan diberi kekuasaan oleh Allah untuk memberi syafaat, pemilik Al-Maqamul Mahmud. Kita meminta kepada Allah Yang Maha Mulia, Tuhan Arasy yang agung untuk memberikan syafaat kepada baginda untuk kita, dan mengumpulkan kita di bawah panjinya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 63-64)
Syeikh telah menjelaskan sebab penyebaran propaganda dusta ini, beliau berkata:
"Mereka itu ketika aku sebutkan apa yang telah disebutkan Allah dan Rasul-Nya . serta semua ulama dari segala golongan, tentang perintah untuk ikhlas beribadah kepada Allah, melarang dari menyerupakan diri dengan Ahlul Kitab sebelum kita yang mereka itu menjadikan ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, mereka mengatakan: kamu merendahkan para nabi, orang-orang soleh dan para wali!" (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 50)
Masalah Kedua: TENTANG AHLI BAIT
Termasuk tuduhan yang ditujukan kepada Syeikh: Beliau tidak mencintai Ahli Bait Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghancurkan hak mereka. Jawaban atas pernyataan ini: Apa yang dikatakan itu bertentangan dengan kenyataan, bahkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengakui akan hak mereka untuk dicintai dan dimuliakan. Beliau konsisten dengan hal ini bahkan mengingkari orang yang tidak seperti itu. Beliau rahimahullah berkata:
"Allah telah mewajibkan kepada manusia berkaitan dengan hak-hak terhadap ahli bait. Tidak boleh bagi seorang muslim menjatuhkan hak-hak mereka dengan mengira ini adalah termasuk tauhid, padahal hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan. Kita tidak mengingkari kecuali apa yang mereka lakukan berupa penghormatan terhadap ahli bait disertai dengan keyakinan mereka layak untuk disembah, atau penghormatan terhadap mereka yang mengaku dirinya layak disembah." (Mu’allafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal 284)
Dan bagi sesiapa sahaja yang mahu memperhatikan biografi Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab akan terbuktilanh apa yang telah dia katakan. Cukuplah diketahui beliau telah menamai enam dari tujuh anak-anaknya dengan nama para ahli bait yang mulia -semoga Allah merahmati mereka. Keenam anak-anaknya itu adalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan bukti yang jelas menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghargaannya terhadap ahli bait.
Masalah Ketiga : KARAMAH PARA WALI
Tersebar isu di kalangan orang ramai bahawa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingkari karamah para wali. Menepis kebohongan ini, di beberapa tempat Syeikh rahimahullah telah merumuskan aqidah beliau yang tegas berkaitan dengan masalah ini, berbeza jauh dengan apa yang selama ini tersebar. Diantaranya terdapat di dalam sebuah perkataannya tatkala beliau menerangkan tentang aqidah beliau:
"Dan aku meyakini tentang karamah para wali." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
Bagaimana mungkin beliau dituduh dengan tuduhan tersebut, padahal dia mengatakan bahawa orang yang mengingkari karamah para wali adalah ahli bid’ah dan kesesatan, beliau berkata:
"Dan tidak ada seorangpun mengingkari karamah para wali kecuali dia adalah ahli bid’ah dan kesesatan." (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 1, hal: 169)
Masalah Keempat: TAKFIR (Pengkafiran)
Termasuk perkara terbesar yang disebarkan berkenaan dengan Syeikh dan orang-orang yang mencintainya adalah dikatakan mengkafirkan khalayak kaum muslimin dan pernikahan kaum muslimin tidak sah kecuali kelompoknya atau yang hijrah kepadanya. Syeikh telah menepis syubhat ini di beberapa tempat, diantara pada perkataan beliau:
"Pendapat orang bahawa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kami katakan: Maha Suci Engkau Allah, ini adalah kedustaan besar." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 100)
"Mereka menisbahkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syaitan yang berkuda mahupun yang berjalan kaki. Mereka menyebarkan berita bohong tentang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekadar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahawa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini boleh masuk kedalam fikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini. Aku berlepas diri kepada Allah dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rosak dan hilang kesedarannya. Semoga Allah memerangi orang-orang yang mempunyai tujuan yang batil". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)
"Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillah- tidaklah seperti itu." (Ad-Durarus Saniyyah 1/73)
Masalah Kelima : ALIRAN KHAWARIJ
Sebahagian orang ada yang menuduh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahawa dia berada di atas aliran khawarij yang mengkafirkan manusia hanya kerana kemaksiatan biasa. Untuk menjawabnya kita ambil dari tulisan perkataan Syeikh rahimahullah sendiri. Beliau rahimahullah berkata:
"Aku tidak menyaksikan seorang pun dari kaum muslimin bahawa dia masuk syurga atau masuk neraka kecuali orang yang telah disaksikan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Akan tetapi aku mengharapkan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, dan sangat khuatir akan orang yang berbuat jahat. Aku tidak mengkafirkan seorang dari kaum muslimin pun hanya kerana dosa biasa dan aku tidak mengeluarkannya dari agama Islam." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
Masalah Keenam : TAJSIM (Menjisimkan / menyerupakan Allah dengan makhluk)
Termasuk yang digembar-gemburkan juga tentang Syeikh adalah beliau dianggap mujassim, iaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Beliau telah menerangkan keyakinan dia tentang masalah ini dan ternyata sangat jauh dengan apa yang telah dituduhkan padanya, beliau berkata :
"Termasuk beriman kepada Allah adalah: beriman dengan apa yang Allah sifati terhadap Zat-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui sabda Rasul-Nya, tanpa adanya tahrif (merubah teks mahupun makna dari nas aslinya -pent) ataupun ta’til (menafikan sebahagian atau semua sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan terhadap diri-Nya -pent), bahkan aku beriktiqad bahawa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka aku tidak menafikan dari Allah sifat yang telah Dia tetapkan terhadap diri-Nya, aku tidak mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, aku tidak menyimpangkan dari kebenaran dalam nama dan sifat-sifat Allah. Aku tidak menggambarkan bagaimana sebenarnya sifat-sifat Allah dan juga tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk, kerana Dia Maha Suci, tiada yang menyamai, tiada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki tandingan dan tidak layak diukur dengan makhluk-Nya. Kerana Allah Ta'ala Yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang selain-Nya. Zat Yang paling benar firman-Nya dan paling baik dalam perkataan-Nya. Allah menyucikan diri-Nya dari dari apa yang dikatakan oleh para penentang iaitu ahli takyif (menggambarkan hakikat sifat-sifat Allah) mahupun ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Juga mensucikan diri-Nya dari pengingkaran ahli tahrif mahupun ahli ta’til, maka Allah berfirman (maksudnya): Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam (As Shaffat: 180-182) (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 29)
"Dan sudah dimaklumi bahawa ta’til adalah lawan dari tajsim, ahli ta’til adalah musuh ahli tajsim, sedang yang haq adalah yang berada di antara keduanya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 11, hal 3)
Masalah Ketujuh: MENYELISIHI PARA ULAMA
Sebahagian manusia mengatakan bahawa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyelisihi semua ulama dalam dakwahkannya, tidak melihat kepada perkataan mereka, tidak mengacu kepada kitab-kitab mereka dan beliau membawa perkara baru serta membuat mazhab kelima.Orang yang paling baik dalam menjelaskan bagaimana hakikatnya adalah beliau sendiri. Beliau berkata:
"Kami mengikuti Kitab dan Sunnah serta mengikuti para pendahulu yang soleh dari umat ini dan mengikuti apa yang menjadi sandaran perkataan para imam yang empat: Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris (As Syafi’i) dan Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmati mereka". (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 96)
"Bila kamu mendengar aku berfatwa dengan sesuatu yang dengannya aku keluar dari kesepakatan (ijmak) ulama, sampaikan perkataan itu kepadaku." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 53)
"Bila kamu menyangka bahawa para ulama bertentangan dengan apa yang aku jalani, inilah kitab-kitab mereka ada di depan kita." (Ad-Durarus Saniyyah jilid 2, hal 58)
"Aku membantah seorang bermazhab hanafi dengan perkataan ulama-ulama akhir dari mazhab hanafi, demikian juga penganut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, semua saya bantah hanya dengan perkataan ulama-ulama mutaakhirin yang menjadi rujukan dalam mazhab mereka". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:82)
"Secara global yang saya ingkari adalah: keyakinan terhadap selain Allah dengan keyakinan yang tidak layak bagi selain Allah. Bila Anda dapati aku mengatakan sesuatu dari diriku sendiri, maka buanglah. Atau dari kitab yang aku temui sedangkan telah disepakati untuk tidak diamalkan, buanglah. Atau saya menukil dari ahli mazhabku sahaja, buanglah. Namun bila aku mengatakannya berdasarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya Sallallahu 'Alaihi Wasallam atau berdasarkan ijmak ulama dari segala mazhab, maka tidaklah layak bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berpaling darinya hanya kerana mengikuti seorang ahli di zamannya atau ahli daerahnya, atau hanya kerana kebanyakan manusia di zamannya berpaling darinya." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid1, hal 76)
PENUTUP
Sebagai penutup, disini ada dua nasihat yang disampaikan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab:
Pertama: Bagi orang yang berusaha menentang dakwah ini berikut semua pengikutnya, serta mengajak manusia untuk menentangnya lalu melontarkan beraneka ragam tuduhan dan kebatilan. Bagi mereka Syeikh berkata:
"Saya katakan bagi yang menentangku, bahawa sudah menjadi kewajiban bagi semua manusia untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap umatnya. Aku katakan kepada mereka: kitab-kitab itu ada pada kamu, perhatikanlah kandungannya, jangan kamu mengambil perkataanku sedikitpun. Hanya sahaja apabila kamu telah mengerti sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kitab-kitabmu itu maka ikutilah meskipun berbeza dengan kebanyakan manusia… Janganlah kamu mentaatiku, dan jangan mentaati kecuali perintah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang ada di dalam kitab-kitab kamu…
Ketahuilah tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu kecuali mengikuti Rasulullah .. Dunia akan berakhir, namun syurga dan neraka jangan sampai ada orang berakal yang melupakannya". (Ad -Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 89-90)
"Aku mengajak orang yang menyelisihiku kepada empat perkara: kepada Kitabullah, kepada sunnah Rasulullah, atau kepada ijmak kesepakatan ahli ilmu. Apabila masih membangkang aku mengajaknya untuk mubahalah." (Ad-Durarus Saniyyah 1/55)
Kedua: Bagi yang masih bimbang. Syeikh berkata:
"Hendaklah anda banyak merendah dan menghiba kepada Allah, khususnya pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada akhir malam, di akhir-akhir solat dan setelah azan.
Juga perbanyaklah membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam, khususnya doa yang tercantum dalam As-Sahih bahawa Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa dengan mengucap (maksudnya): Wahai Allah Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Yang Memutuskan hukum diantara hamba-hamba-Mu yang berselisih, tunjukkanlah kepadaku mana yang haq diantara yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki. Hendaklah anda melantunkan doa ini dengan sangat mengharap kepada Zat Yang Mengabulkan doa orang kesulitan yang berdoa kepada-Nya, dan Yang telah Menunjukkan Ibrahim Alaihissalam disaat semua manusia menentangnya. Katakanlah: "Wahai Yang telah mengajari Ibrahim, ajarilah aku."
Apabila Anda merasa berat disebabkan manusia menyelisihimu, fikirkanlah firman Allah Subahahu Wata’ala (maksudnya): Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. (Al-Jatsiyah: 18-19)
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (Al-An’am: 118)
Ingatlah sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dalam As-Sahih (maksudnya): "Agama Islam bermula dengan keadaan dianggap asing dan akan kembali dianggap asing seperti ketika bermulanya."
Juga sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam (maksudnya): "Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu …." Sampai akhir hadis [1], juga sabda baginda (maksudnya): "Hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' ar-rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku." Juga sabdanya "Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan, kerana setiap bid’ah adalah kesesatan." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 42-43)
"Jika telah jelas bagimu bahawa ini adalah al-haq yang tidak diragukan lagi, dan sudah merupakan kewajiban untuk menyebarkan al-haq itu serta mengajarkannya kepada para wanita mahupun lelaki, maka semoga Allah merahmati orang yang menunaikan kewajiban itu dan bertaubat kepada Allah serta mengakui al-haq itu pada dirinya. Sesungguhnya orang yang telah bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa sama sekali. Semoga Allah menunjukkan kami dan anda sekalian dan semua saudara-saudara kita kepada apa yang dicintai dan diredhai-Nya. Wassalam…" (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 43)
_____________________________________
[1] Lengkapnya adalah: "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada manusia secara serta merta, akan tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi seorang yang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu maka mereka sesat dan menyesatkan manusia." (HR. Bukhari dan Muslim).
Diterjemahkan oleh Muhammad Hamid Alwi
Dari teks aslinya berjudul: "Tas-hihu Mafahim Khati’ah"
Disunting semula oleh Abu Soleh
Sumber: http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1508
Penulis: Syeikh Sholeh bin Abdul Aziz As-Sindi
Semenjak berlalunya tahun-tahun yang panjang, dalam kurun waktu yang lama, kontroversi tentang Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan dakwahnya masih terus berjalan. Antara yang mendokong dan yang menentang, atau yang menuduh dan yang membela.
Yang perlu diperhatikan mengenai ucapan orang-orang yang menentang Syeikh yang melontarkan kepada beliau dengan pelbagai tuduhan, bahawa perkataan mereka tidak disertai dengan bukti. Apa yang mereka tuduh tidak mempunyai sebarang bukti dari perkataan Syaekh, atau didasarkan pada apa yang telah ditulis dalam kitabnya, tapi hanya sekadar tuduhan yang dilontarkan oleh pendahulu, kemudian diikuti oleh orang setelahnya.
Saya yakin tidak ada seorangpun yang berfikir objektif kecuali dia mengakui bahawa cara terbaik untuk mengetahui fakta yang sebenarnya adalah dengan melihat kepada yang bersangkutan, kemudian mengambil informasi langsung dari apa yang telah disampaikannya.
Kitab-kitab Syeikh dapat kita temui, perkataan-perkataannya pun masih lagi terjaga. Dengan mengacu kepada itu semua akan terbukti apakah isu-isu tersebut benar atau salah. Adapun tuduhan-tuduhan yang tidak disertai dengan bukti hanyalah fatamorgana yang tak ada kenyataanya.
Dalam lembaran-lembaran ini, berisi catatan-catatan ringan perkataan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan amanah dinukil dari kitab-kitabnya yang sah. Saya telah mengumpulkannya dan yang dapat saya lakukan hanyalah sekadar menyusun.
Catatan berisi jawaban-jawaban terus dari Syeikh terhadap tuduhan-tuduhan kepada beliau yang dilancarkan oleh para penentangnya. Dengan jelas ditepisnya segala apa yang dituduhkan. Saya yakin -dengan taufiq dari Allah- hal itu cukup untuk menjelaskan kebenaran bagi siapa yang benar-benar mencarinya.
Adapun yang membangkang terhadap Syeikh dan dakwahnya, senang menyebarkan kedustaaan dan kebohongan, perlu saya katakan kepada mereka: kasihanilah dirimu sesungguhnya kebenaran akan jelas, agama Allah akan menang dan matahari yang bersinar terang tidak akan dapat ditutupi dengan telapak tangan.
Inilah perkataan Syeikh menjawab tuduhan-tuduhan tersebut, kalau anda mendapati perkataan Syeikh yang mendustakannya maka tampakkan dan datangkanlah jangan anda sembunyikan…..! Namun kalau tidak -dan anda tidak akan mendapatkannya- maka saya menasihati anda dengan satu perkara hendaklah anda menghadapkan diri kepada Allah dengan membuang segala hawa nafsu dan fanatisme, meminta kepada-Nya untuk memperlihatkan al-haq (kebenaran) dan membimbingmu kepadanya, kemudian anda fikirkan apa yang telah dikatakan oleh orang ini (Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab), apakah dia membawa sesuatu yang bukan dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Salallahu ‘Alaihi Wasallam.
Lalu fikirkan sekali lagi: apakah ada jalan keselamatan selain perkataan yang benar dan membenarkan al-haq. Bila telah tampak bagi anda kebenaran maka kembalilah kepada akal yang sihat, menujulah kepada al-haq, sesungguhnya hal itu lebih baik daripada terus menerus berada dalam kebatilan, hanya kepada Allah sahaja segala perkara dikembalikan.
HAKIKAT DAKWAH SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Sebagai permulaan pembahasan kita akan lebih baik kalau kita menukil beberapa perkataan ringkas Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam menjelaskan apa yang beliau dakwahkan, jauh dari awan gelap propaganda yang dilancarkan para penentangnya yang mereka menghalangi kebanyakan manusia agar jauh dari dakwah tersebut. Beliau mengatakan:
"Aku katakan -hanya bagi Allah segala puji dan kurnia dan dengan Allah segala kekuatan- : sesungguhnya Tuhanku telah menunjukkanku ke jalan yang lurus, agama lurus agama Ibrahim yang hanif dan dia tidak termasuk orang-orang musyrik. Dan aku –Alhamdulillah-, tidak mengajak kepada mazhab salah seorang sufi, ahli fekah, filosof, atau salah satu imam-imam yang aku muliakan…..
Aku hanya mengajak kepada Allah Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku mengajak kepada sunnah Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam yang baginda menasihatkan umatnya dari yang awal sampai yang akhir untuk selalu mengikutinya. Aku berharap semoga aku tidak menolak segala kebenaran apabila telah sampai kepadaku, bahkan aku persaksikan kepada Allah, para malaikat dan semua makhluk-Nya, siapapun diantara kamu yang menyampaikan kebenaran kepadaku, pasti akan aku terima dengan sepenuh hati, dan aku akan memukulkan ke tembok setiap perkataan para imamku yang bertentangan dengan kebenaran, kecuali Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam kerana baginda tidak mengatakan kecuali kebenaran."(Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 37-38).
"Dan aku -segala puji hanya milik Allah-, hanyalah mengikuti, bukan mengada-ada." (Mu’allafat Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal 36).
"Gambaran mengenai permasalahan yang sebenarnya adalah aku katakan : tidak ada yang boleh ditujukan doa kecuali Allah sahaja yang tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah berfirman (maksudnya): "Maka janganlah kamu berdoa kepada seorangpun bersamaan dengan Allah" (Al Jin: 18).
Allah juga berfirman berkaitan dengan hak Nabi-Nya (maksudnya): Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak berkuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan" (Al Jin: 21)
Demikianlah firman Allah dan apa yang disampaikan dan diwasiatkan Rasulullah kepada kita, ….. inilah antaraku denganmu, kalau ada yang menyebutkan tentangku di luar daripada itu, maka itu adalah dusta dan kebohongan". (Ad-Durarus Saniyyah, 1/90-91).
Masalah Pertama: IKTIQAD BELIAU TENTANG NABI
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab difitnah para musuhnya dengan berbagai tuduhan keji berkaitan dengan iktiqadnya terhadap Nabi, tuduhan itu berupa :
Pertama: Beliau tidak menyakini bahawa Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam adalah penutup sekalian Nabi.
Dikatakan demikian, padahal semua kitab-kitab beliau penuh berisi tentang bantahan terhadap syubhat itu. Berikut ini menunjukkan kebohongan tuduhan tersebut, diantaranya dalam perkataan beliau:
"Aku beriman bahawa Nabi kita Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam adalah penutup para nabi dan rasul. Tidak akan sah iman seorang hamba pun sehingga dia beriman dengan diutusnya baginda serta bersaksi akan kenabiannya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
"Makhluk paling beruntung, paling agung kenikmatannya dan paling tinggi darjatnya adalah yang paling tinggi dalam mengikuti dan mencontohi baginda (Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam) dalam ilmu dan amalannya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 32)
Kedua: Dia telah menghancurkan hak Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak meletakkan baginda pada kedudukannya yang selayaknya.
Untuk melihat hakikat beliau sebagai tertuduh, saya nukilkan sebahagian perkataan yang telah beliau tegaskan berkaitan dengan apa yang diyakini tentang hak Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau berkata:
"Tatkala Allah berkehendak menampakkan tauhid dan kesempurnaan agama-Nya, agar kalimah-Nya adalah tinggi dan seruan orang-orang kafir adalah rendah, Allah mengutus Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai penutup para nabi dan kekasih Tuhan semesta alam. Baginda terus menerus dikenali dalam setiap generasi, bahkan dalam Taurat dan Injil telah disebutkan, sehingga akhirnya Allah mengeluarkan mutiara itu, antara Bani Kinanah dengan Bani Zuhrah. Maka Allah mengutusnya pada saat terhentinya pengutusan para rasul, lalu menunjukkannya kepada jalan yang lurus. Baginda mempunyai tanda-tanda dan petunjuk tentang kebenaran kenabian sebelum diangkat menjadi nabi, yang tanda-tanda tersebut tidak dapat dikalahkan oleh orang-orang yang hidup pada masanya. Allah membesarkan baginda dengan baik, mempunyai kehormatan tertinggi pada kaumnya, paling baik akhlaknya, paling mulia, paling lembut dan paling benar dalam berucap, akhirnya kaumnya memberikan gelaran dengan Al-Amin, kerana Allah telah menciptakan pada baginda keadaan-keadaan baik dan budi pekerti yang diredhai-Nya." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 90-91).
"Dan baginda adalah pemimpin para pemberi syafa’at, pemilik Al-Maqamul Mahmud (kedudukan hamba yang paling mulia di hari kiamat), sedang Nabi Adam 'Alaihissalam dan orang-orang sesudahnya akan berada di bawah panjinya." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 86).
"Utusan (Rasul) yang pertama adalah Nabi Nuh Alaihis Salam dan yang paling akhir serta paling mulia adalah Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 143)
"Baginda telah menyampaikan penjelasan dengan cara terbaik dan paling sempurna, manusia yang paling menginginkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah, belas kasih terhadap orang-orang yang beriman, telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad dan terus menerus menyembah Allah sehingga baginda wafat." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 21).
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga mengambil kesimpulan dari sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam (maksudnya): Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kamu sampai aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya dan semua manusia. Beliau mengatakan "Kewajiban mencintai Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam melebihi cinta terhadap diri sendiri, keluarga mahupun harta." (Kitabut Tauhid, hal 108).
Ketiga: Mengingkari syafaat Rasululullah Salallahu Alaihi Wasallam.
Syeikh berkenan menjawab syubhat ini, beliau mengatakan:
"Mereka menyangka bahawa kami mengingkari syafaat Nabi Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Maha suci Engkau Allah, ini adalah tuduhan yang besar. Kami mempersaksikan kepada Allah Ta'ala bahawa Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam adalah pemberi syafaat dan diberi kekuasaan oleh Allah untuk memberi syafaat, pemilik Al-Maqamul Mahmud. Kita meminta kepada Allah Yang Maha Mulia, Tuhan Arasy yang agung untuk memberikan syafaat kepada baginda untuk kita, dan mengumpulkan kita di bawah panjinya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 63-64)
Syeikh telah menjelaskan sebab penyebaran propaganda dusta ini, beliau berkata:
"Mereka itu ketika aku sebutkan apa yang telah disebutkan Allah dan Rasul-Nya . serta semua ulama dari segala golongan, tentang perintah untuk ikhlas beribadah kepada Allah, melarang dari menyerupakan diri dengan Ahlul Kitab sebelum kita yang mereka itu menjadikan ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, mereka mengatakan: kamu merendahkan para nabi, orang-orang soleh dan para wali!" (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal: 50)
Masalah Kedua: TENTANG AHLI BAIT
Termasuk tuduhan yang ditujukan kepada Syeikh: Beliau tidak mencintai Ahli Bait Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghancurkan hak mereka. Jawaban atas pernyataan ini: Apa yang dikatakan itu bertentangan dengan kenyataan, bahkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengakui akan hak mereka untuk dicintai dan dimuliakan. Beliau konsisten dengan hal ini bahkan mengingkari orang yang tidak seperti itu. Beliau rahimahullah berkata:
"Allah telah mewajibkan kepada manusia berkaitan dengan hak-hak terhadap ahli bait. Tidak boleh bagi seorang muslim menjatuhkan hak-hak mereka dengan mengira ini adalah termasuk tauhid, padahal hal itu adalah perbuatan yang berlebih-lebihan. Kita tidak mengingkari kecuali apa yang mereka lakukan berupa penghormatan terhadap ahli bait disertai dengan keyakinan mereka layak untuk disembah, atau penghormatan terhadap mereka yang mengaku dirinya layak disembah." (Mu’allafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal 284)
Dan bagi sesiapa sahaja yang mahu memperhatikan biografi Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab akan terbuktilanh apa yang telah dia katakan. Cukuplah diketahui beliau telah menamai enam dari tujuh anak-anaknya dengan nama para ahli bait yang mulia -semoga Allah merahmati mereka. Keenam anak-anaknya itu adalah: Ali, Abdullah, Husain, Hasan, Ibrahim dan Fatimah. Ini merupakan bukti yang jelas menunjukkan betapa besar kecintaan dan penghargaannya terhadap ahli bait.
Masalah Ketiga : KARAMAH PARA WALI
Tersebar isu di kalangan orang ramai bahawa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingkari karamah para wali. Menepis kebohongan ini, di beberapa tempat Syeikh rahimahullah telah merumuskan aqidah beliau yang tegas berkaitan dengan masalah ini, berbeza jauh dengan apa yang selama ini tersebar. Diantaranya terdapat di dalam sebuah perkataannya tatkala beliau menerangkan tentang aqidah beliau:
"Dan aku meyakini tentang karamah para wali." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
Bagaimana mungkin beliau dituduh dengan tuduhan tersebut, padahal dia mengatakan bahawa orang yang mengingkari karamah para wali adalah ahli bid’ah dan kesesatan, beliau berkata:
"Dan tidak ada seorangpun mengingkari karamah para wali kecuali dia adalah ahli bid’ah dan kesesatan." (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 1, hal: 169)
Masalah Keempat: TAKFIR (Pengkafiran)
Termasuk perkara terbesar yang disebarkan berkenaan dengan Syeikh dan orang-orang yang mencintainya adalah dikatakan mengkafirkan khalayak kaum muslimin dan pernikahan kaum muslimin tidak sah kecuali kelompoknya atau yang hijrah kepadanya. Syeikh telah menepis syubhat ini di beberapa tempat, diantara pada perkataan beliau:
"Pendapat orang bahawa saya mengkafirkan secara umum adalah termasuk kedustaan para musuh yang menghalangi manusia dari agama ini, kami katakan: Maha Suci Engkau Allah, ini adalah kedustaan besar." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 100)
"Mereka menisbahkan kepada kami berbagai macam kedustaan, fitnah pun semakin besar dengan mengerahkan terhadap mereka pasukan syaitan yang berkuda mahupun yang berjalan kaki. Mereka menyebarkan berita bohong tentang seorang yang masih mempunyai akal merasa malu untuk sekadar menceritakannya apalagi sampai tertipu. Diantaranya apa yang mereka katakan bahawa aku mengkafirkan semua manusia kecuali yang mengikutiku dan pernikahan mereka tidak sah. Sungguh suatu keanehan, bagaimana mungkin perkataan ini boleh masuk kedalam fikiran orang waras. Dan apakah seorang muslim akan mengatakan seperti ini. Aku berlepas diri kepada Allah dari perkataan ini, yang tidak bersumber kecuali dari orang yang berpikiran rosak dan hilang kesedarannya. Semoga Allah memerangi orang-orang yang mempunyai tujuan yang batil". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 80)
"Aku hanya mengkafirkan orang yang telah mengetahui agama Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian setelah dia mengetahuinya lantas mengejeknya, melarang manusia dari memeluk agama tersebut dan memusuhi orang yang berpegang dengannya. Tetapi kebanyakan umat –alhamdulillah- tidaklah seperti itu." (Ad-Durarus Saniyyah 1/73)
Masalah Kelima : ALIRAN KHAWARIJ
Sebahagian orang ada yang menuduh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahawa dia berada di atas aliran khawarij yang mengkafirkan manusia hanya kerana kemaksiatan biasa. Untuk menjawabnya kita ambil dari tulisan perkataan Syeikh rahimahullah sendiri. Beliau rahimahullah berkata:
"Aku tidak menyaksikan seorang pun dari kaum muslimin bahawa dia masuk syurga atau masuk neraka kecuali orang yang telah disaksikan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam. Akan tetapi aku mengharapkan kebaikan bagi orang yang berbuat baik, dan sangat khuatir akan orang yang berbuat jahat. Aku tidak mengkafirkan seorang dari kaum muslimin pun hanya kerana dosa biasa dan aku tidak mengeluarkannya dari agama Islam." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 32)
Masalah Keenam : TAJSIM (Menjisimkan / menyerupakan Allah dengan makhluk)
Termasuk yang digembar-gemburkan juga tentang Syeikh adalah beliau dianggap mujassim, iaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. Beliau telah menerangkan keyakinan dia tentang masalah ini dan ternyata sangat jauh dengan apa yang telah dituduhkan padanya, beliau berkata :
"Termasuk beriman kepada Allah adalah: beriman dengan apa yang Allah sifati terhadap Zat-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui sabda Rasul-Nya, tanpa adanya tahrif (merubah teks mahupun makna dari nas aslinya -pent) ataupun ta’til (menafikan sebahagian atau semua sifat-sifat Allah yang telah Allah tetapkan terhadap diri-Nya -pent), bahkan aku beriktiqad bahawa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka aku tidak menafikan dari Allah sifat yang telah Dia tetapkan terhadap diri-Nya, aku tidak mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, aku tidak menyimpangkan dari kebenaran dalam nama dan sifat-sifat Allah. Aku tidak menggambarkan bagaimana sebenarnya sifat-sifat Allah dan juga tidak menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk, kerana Dia Maha Suci, tiada yang menyamai, tiada yang setara dengan-Nya, tidak memiliki tandingan dan tidak layak diukur dengan makhluk-Nya. Kerana Allah Ta'ala Yang paling mengetahui tentang diri-Nya dan tentang yang selain-Nya. Zat Yang paling benar firman-Nya dan paling baik dalam perkataan-Nya. Allah menyucikan diri-Nya dari dari apa yang dikatakan oleh para penentang iaitu ahli takyif (menggambarkan hakikat sifat-sifat Allah) mahupun ahli tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Juga mensucikan diri-Nya dari pengingkaran ahli tahrif mahupun ahli ta’til, maka Allah berfirman (maksudnya): Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam (As Shaffat: 180-182) (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 29)
"Dan sudah dimaklumi bahawa ta’til adalah lawan dari tajsim, ahli ta’til adalah musuh ahli tajsim, sedang yang haq adalah yang berada di antara keduanya". (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 11, hal 3)
Masalah Ketujuh: MENYELISIHI PARA ULAMA
Sebahagian manusia mengatakan bahawa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyelisihi semua ulama dalam dakwahkannya, tidak melihat kepada perkataan mereka, tidak mengacu kepada kitab-kitab mereka dan beliau membawa perkara baru serta membuat mazhab kelima.Orang yang paling baik dalam menjelaskan bagaimana hakikatnya adalah beliau sendiri. Beliau berkata:
"Kami mengikuti Kitab dan Sunnah serta mengikuti para pendahulu yang soleh dari umat ini dan mengikuti apa yang menjadi sandaran perkataan para imam yang empat: Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris (As Syafi’i) dan Ahmad bin Hanbal semoga Allah merahmati mereka". (Muallafatus Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, jilid 5, hal: 96)
"Bila kamu mendengar aku berfatwa dengan sesuatu yang dengannya aku keluar dari kesepakatan (ijmak) ulama, sampaikan perkataan itu kepadaku." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 53)
"Bila kamu menyangka bahawa para ulama bertentangan dengan apa yang aku jalani, inilah kitab-kitab mereka ada di depan kita." (Ad-Durarus Saniyyah jilid 2, hal 58)
"Aku membantah seorang bermazhab hanafi dengan perkataan ulama-ulama akhir dari mazhab hanafi, demikian juga penganut mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, semua saya bantah hanya dengan perkataan ulama-ulama mutaakhirin yang menjadi rujukan dalam mazhab mereka". (Ad Durarus Saniyyah, jilid 1, hal:82)
"Secara global yang saya ingkari adalah: keyakinan terhadap selain Allah dengan keyakinan yang tidak layak bagi selain Allah. Bila Anda dapati aku mengatakan sesuatu dari diriku sendiri, maka buanglah. Atau dari kitab yang aku temui sedangkan telah disepakati untuk tidak diamalkan, buanglah. Atau saya menukil dari ahli mazhabku sahaja, buanglah. Namun bila aku mengatakannya berdasarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya Sallallahu 'Alaihi Wasallam atau berdasarkan ijmak ulama dari segala mazhab, maka tidaklah layak bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berpaling darinya hanya kerana mengikuti seorang ahli di zamannya atau ahli daerahnya, atau hanya kerana kebanyakan manusia di zamannya berpaling darinya." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid1, hal 76)
PENUTUP
Sebagai penutup, disini ada dua nasihat yang disampaikan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab:
Pertama: Bagi orang yang berusaha menentang dakwah ini berikut semua pengikutnya, serta mengajak manusia untuk menentangnya lalu melontarkan beraneka ragam tuduhan dan kebatilan. Bagi mereka Syeikh berkata:
"Saya katakan bagi yang menentangku, bahawa sudah menjadi kewajiban bagi semua manusia untuk mengikuti apa yang telah diwasiatkan oleh Nabi Sallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap umatnya. Aku katakan kepada mereka: kitab-kitab itu ada pada kamu, perhatikanlah kandungannya, jangan kamu mengambil perkataanku sedikitpun. Hanya sahaja apabila kamu telah mengerti sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam kitab-kitabmu itu maka ikutilah meskipun berbeza dengan kebanyakan manusia… Janganlah kamu mentaatiku, dan jangan mentaati kecuali perintah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam yang ada di dalam kitab-kitab kamu…
Ketahuilah tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu kecuali mengikuti Rasulullah .. Dunia akan berakhir, namun syurga dan neraka jangan sampai ada orang berakal yang melupakannya". (Ad -Durarus Saniyyah, jilid 1, hal 89-90)
"Aku mengajak orang yang menyelisihiku kepada empat perkara: kepada Kitabullah, kepada sunnah Rasulullah, atau kepada ijmak kesepakatan ahli ilmu. Apabila masih membangkang aku mengajaknya untuk mubahalah." (Ad-Durarus Saniyyah 1/55)
Kedua: Bagi yang masih bimbang. Syeikh berkata:
"Hendaklah anda banyak merendah dan menghiba kepada Allah, khususnya pada waktu-waktu yang mustajab, seperti pada akhir malam, di akhir-akhir solat dan setelah azan.
Juga perbanyaklah membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam, khususnya doa yang tercantum dalam As-Sahih bahawa Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam berdoa dengan mengucap (maksudnya): Wahai Allah Tuhannya Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak, Engkaulah Yang Memutuskan hukum diantara hamba-hamba-Mu yang berselisih, tunjukkanlah kepadaku mana yang haq diantara yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Menunjukkan ke jalan yang lurus bagi siapa yang Engkau kehendaki. Hendaklah anda melantunkan doa ini dengan sangat mengharap kepada Zat Yang Mengabulkan doa orang kesulitan yang berdoa kepada-Nya, dan Yang telah Menunjukkan Ibrahim Alaihissalam disaat semua manusia menentangnya. Katakanlah: "Wahai Yang telah mengajari Ibrahim, ajarilah aku."
Apabila Anda merasa berat disebabkan manusia menyelisihimu, fikirkanlah firman Allah Subahahu Wata’ala (maksudnya): Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. (Al-Jatsiyah: 18-19)
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (Al-An’am: 118)
Ingatlah sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam dalam As-Sahih (maksudnya): "Agama Islam bermula dengan keadaan dianggap asing dan akan kembali dianggap asing seperti ketika bermulanya."
Juga sabda Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam (maksudnya): "Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu …." Sampai akhir hadis [1], juga sabda baginda (maksudnya): "Hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa' ar-rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku." Juga sabdanya "Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan, kerana setiap bid’ah adalah kesesatan." (Ad-Durarus Saniyyah, jilid 1, hal: 42-43)
"Jika telah jelas bagimu bahawa ini adalah al-haq yang tidak diragukan lagi, dan sudah merupakan kewajiban untuk menyebarkan al-haq itu serta mengajarkannya kepada para wanita mahupun lelaki, maka semoga Allah merahmati orang yang menunaikan kewajiban itu dan bertaubat kepada Allah serta mengakui al-haq itu pada dirinya. Sesungguhnya orang yang telah bertaubat dari dosanya seperti orang yang tak mempunyai dosa sama sekali. Semoga Allah menunjukkan kami dan anda sekalian dan semua saudara-saudara kita kepada apa yang dicintai dan diredhai-Nya. Wassalam…" (Ad Durarus Saniyyah, jilid 2, hal 43)
_____________________________________
[1] Lengkapnya adalah: "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari dada manusia secara serta merta, akan tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi seorang yang alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu maka mereka sesat dan menyesatkan manusia." (HR. Bukhari dan Muslim).
Diterjemahkan oleh Muhammad Hamid Alwi
Dari teks aslinya berjudul: "Tas-hihu Mafahim Khati’ah"
Disunting semula oleh Abu Soleh
Sumber: http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1508
Subscribe to:
Posts (Atom)