Syi'ah Zaidiyyah dibandingkan dengan semua sekte Syi'ah, penyimpangannya adalah yang 'paling ringan'. Tapi jangan diartikan bahwa jika dikatakan 'paling ringan' maka itu sama dengan 'ringan'. Karena pembandingan itu hanyalah pembandingan di antara sekte-sekte Syi'ah. Adapun Syi'ah Zaidiyyah sendiri di mata Ahlus-Sunnah, tetap merupakan firqah yang sesat karena menyerupai Mu'tazillah.
Dan perlu diingat bahwa Zaidiyyah ini terpecah lagi menjadi tiga sekte : Jaarudiyyah, Sulaimaaniyyah, dan Shaalihiyyah. Dan masing-masing pun terbagi lagi menjadi sub-sub sekte. Yang paling parah adalah orang-orang Huutsiyyiin yang sekarang memerangi Ahlus-Sunnah di Yaman. Ia termasuk dari kelompok Jaarudiyyah. Kelompok ini (Huutsiyyah)hampir-hampir tidak beda dengan Syi'ah Raafidlah. Dan memang kebanyakan Syi'ah Zaidiyyah yang ada di jaman sekarang ini lebih menyerupai Syi'ah Imaamiyyah (Raafidlah), berbeda dengan Syi'ah Zaidiyyah jaman sebelumnya.
Wednesday, January 11, 2012
Jika Imam Qunut Subuh Apakah Makmum Harus Ikut Qunut? Kapankah Makmum Harus Sesuai Imam dan Kapankah Boleh berbeda?
Jika Imam Qunut Subuh Apakah Makmum Harus Ikut Qunut? Kapankah Makmum Harus Sesuai Imam dan Kapankah Boleh berbeda?
gelasPertanyaan : Assalamu'alaikum ustadz...barokallahu fiik, ada beberapa pertanyaan yang mengganjal, terutama terkait kondisi mengikuti imam dalam sholat.
1. Bagaimana bila kita tahu dari kebiasaannya selama ini imam duduk tawarruk, apakah kita juga duduk tawarruk tatkala raka'at terakhir sholat subuh?
2. juga, bagaimana bila kita tidak tahu kebiasaan duduk imam (misalnya karena kita ada di masjid lain)?
3. bila kita ada di shaf pertama dan ada persis di sekitar belakang imam, apakah boleh kita melihat sejenak ke arah imam untuk melihat bagaimana ia duduk? atau, sebaliknya, bagaimana kalau kita ada di shaf kedua, ketiga, dst. tapi benar-2 tdk tahu kebiasaan duduk imam?
jazakallahu khoir ustadz... wassalamu'alaikum
Jawab :
Pertanyaan seperti ini sama dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Apakah jika imam menggerak-gerakan jarinya tatkala tasyahhud maka makmum juga harus ikut menggerak-gerakan jarinya, padahal sang makmum tidak meyakini akan sunnahnya menggerak-gerakan jari tatkala tasyahhud? Dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam mengangkat kedua tangan tatkala hendak sujud maka makmum juga harus mengangkat kedua tangannya (padahal sang makmum tidak meyakini disunnahkannya hal tersebut)? Dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam hendak sujud dengan meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya apakah makmum juga harus demikian?, sementara makmum meyakini didahulukannya kedua tangan sebelum kedua lutut?, dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam melakukan duduk istirahat -tatkala hendak berdiri ke rakaat ke dua atau ke rakaat ke empat- maka makmum juga harus duduk istirahat (padahal sang makmum tidak meyakini adanya duduk istirahat)?, dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam qunut subuh maka sang makmum juga harus qunut subuh? (padahal sang makmum meyakini tidak disyari'atkannya qunut subuh)
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita harus paham apa saja perkara-perkara yang sang makmum harus mengikuti imam dan tidak boleh menyelisihinya?
Para pembaca yang budiman, nash yang berkaitan dengan permasalahan ini adalah sabda Nabi
إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا وإذا رَفَعَ فَارْفَعُوا وإذا قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وإذا صلى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
"Hanyalah dijadikan imam adalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku' maka ruku'lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata "Sami'allahu liman hamidahu" ucapkanlah "Robbanaa wa lakalhamdu". Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk" (HR Al-Bukhari no 657)
Rasulullah juga bersabda:
إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا عليه فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا ...
"Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, jika ia ruku' maka ruku'lah kalian…" (HR Al-Bukhari no 689)
Ibnu Hajar berkata, "Dan kondisi pengikut (makmum) adalah tidak mendahului orang yang diikutinya (imam), dan juga tidak menyertainya, dan juga tidak berdiri lebih maju di hadapannya, akan tetapi ia memperhatikan gerakan dan kondisi sang imam lalu ia segera menyusul sebagaimana gerakan sang imam" (Fathul Baari 2/178)
Berkata An-Nawawi : "Hadits ini dalil akan wajibnya makmum untuk mengikuti imam dalam takbir, berdiri, duduk, ruku', sujud, dan hendaknya ia melakukannya setelah imam. Maka ia bertakbirotul ihroom setelah imam selesai bertakbirotul ihrom. Jika bertakbirotul ihrom sebelum imam bertakbirotul ihrom maka tidak sah sholatnya. Ia ruku' setelah imam mulai ruku' dan sebelum imam berdiri dari ruku'. Jika ia menyertai imam (dalam ruku'-pent) atau mendahului imam maka ia telah berbuat keburukan akan tetapi sholatnya tidak batal. Demikian juga sujud. Dan ia member salam setelah imam selesai salam, jika ia salam sebelum imam salam maka sholatnya batal, kecuali jika ia berniat untuk memisahkan diri dari jama'ah sholat. Dan ada khilaf dalam permasalahan ini..." (Al-Minhaaj 4/131)
An-Nawawi juga berkata, "Adapun sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti maka maknanya menurut Imam As-Syafi'i dan sekelompok ulama yaitu (diikuti) pada perbuatan-perbuatan (gerakan-gerakan) yang dzohir (nampak), karena boleh saja seseorang yang sholat fardu bermakmum kepada orang yang sholat sunnah dan sebaliknya, demikian juga seorang yang sholat asar bermakmum kepada orang yang sholat dzuhur dan sebaliknya.
Malik dan Abu Hanifah radhiallahu 'anhumaa dan para ulama yang lain berkata bahwasanya hal ini tidak diperbolehkan. Mereka berkata bahwasanya makna hadits adalah imam diikuti pada gerakan-gerakan dan juga pada niat (jadi niat harus sama antara imam dan makmum-pent). As-Syafii –radhiallahu 'anhu- dan para ulama yang sepakat dengannya berdalil dengan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami (dua kelompok dari) para sahabat di Batn Nakhl tatkala sholat khouf dua kali, sekali bersama kelompok pertama dan yang kdua bersama kelompok yang kedua. Maka sholat beliau yang kedua adalah sunnah adapun (para sahabat dari kelompok yang kedua) yang bermakmum di belakang Nabi sholat mereka adalah fardhu. Demikian juga hadits Mu'adz tatkala beliau setelah sholat isya bersama Nabi maka beliaupun setelah itu mendatangi kaum beliau lalu mengimami mereka, maka sholat tersebut sunnah di sisi Mu'adz dan wajib di sisi kaumnya.
Hal ini menunjukan bahwa mengikuti imam hanya wajib pada perbuatan-perbuatan (gerakan-gerakan) yang dzohir (Al-Minhaaj 4/134)
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang lebih menguatkan pendapat Imam An-Nawawi ini (madzhab As-Syafi'i) bahwasanya kewajiban mengikuti imam yang pada gerakan-gerakan yang dzhohir karena yang disebutkan oleh Nabi dalam hadits adalah ruku', takbir, bangkit dari ruku' dan semacamnya, adapun niat maka tidak disebutkan dalam hadits (lihat Fathul Baari 2/178)
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa makmum hanya wajib mengikuti gerakan-gerakan dzohir sang imam, jika sang imam bertakbir maka ia bertakbir pula, jika imam rukuk maka ia segera ruku' juga dan demikian juga jika imam duduk atau berdiri. Hal ini dimaksudkan agar makmum tidak mendahului imam atau terlambat mengikuti imam.
Adapun gerakan-gerakan yang tidak mengakibatkan penyelisihan terhadap imam berupa mendahului atau keterlambatan maka tidak wajib bagi makmum untuk mengikuti imam.
Sebagai contoh jika sang imam tatkala duduk tasyahhud sholat subuh dengan tawarruk sedangkan sang makmum meyakini sunnahnya duduk iftirosy maka tidak wajib bagi sang makmum untuk meniru cara duduk sang imam. Karena hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan penyelisihan berupa mendahului atau keterlambatan.
Demikian juga jika ternyata sang imam tidak menggerak-gerakan jarinya sementara sang makmum meyakini sunnahnya menggerak-gerakan jari tatkala tasyahhud maka tidak wajib bagi sang makmum untuk mengikuti sang imam.
Syaikh Al-'Utsaimiin berkata, "Adapun perkara yang mengantarkan kepada penyelisihan imam maka imam harus diikuti (tidak boleh diselisihi-pent), adapun perkara yang tidak menyelisihi imam –seperti mengangkat kedua tangan tatkala hendak ruku' jika ternyata sang imam tidak mengangkat kedua tangannya sedangkan makmum memandang disyari'atkannya mengangkat kedua tangan- maka tidak mengapa bagi makmum untuk mengangkat kedua tangannya. Karena hal ini tidak mengakibatkan penyelisihan terhadap imam atau keterlambatan (dalam mengikuti imam).
Demikian juga halnya dalam masalah duduk, jika imam tidak duduk tawarruk sedangkan sang makmum memandang disyari'atkannya duduk tawarruk atau sebaliknya maka sang makmum tidak mengikuti sang imam, karena sang makmum tidak menyelisihi sang imam dan juga tidak terlambat (dalam mengikuti sang imam). (Majmuu' Fataawaa wa rosaail As-Syaikh Al-'Utsaimiin15/79)
Bagaimana jika sang imam tidak duduk istirahat?
Jika sang imam tidak duduk istirahat tatkala bangkit ke rakaat ke dua atau ke rakaat ke empat, sedangkan makmum memandang disyari'atkannya hal ini, maka apakah makmum tetap boleh duduk istirahat menyelisihi imam? Dan bagaimana jika perkaranya sebaliknya?
Syaikh Al-'Utsaimiin rahimahullah berkata, "Adapun jika (penyelisihan gerakan-pent) mengakibatkan keterlambatan makmum –misalnya makmum memandang disyari'atkannya duduk istirahat sementara sang imam tidak- maka makmum tidak duduk istirahat. Karena jika sang makmum duduk istirahat maka ia akan terlambat dari imam, padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintah kita untuk bersegera dalam mengikuti imam, beliau bersabda, "Jika imam bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika imam ruku maka ruku'lah…". Demikian juga jika perkaranya sebaliknya. Jika imam memandang disyari'atkannya duduk istirahat sementara sang makmum tidak, maka jika imam duduk istirahat hendaknya sang makmum juga duduk meskipun sang makmum tidak memandang disyari'atkannya duduk istirahat, namun demi mengikuti imam. Inilah kaidah dalam mengikuti imam, yaitu makmum tidak melakukan hal yang menyebabkan penyelisihan atau keterlambatan" (Majmuu' Fataawaa wa rosaail As-Syaikh Al-'Utsaimiin15/79)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Telah valid bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam duduk istirahat, akan tetapi para ulama berselisih antara apakah Nabi melakukannya karena beliau sudah tua sehingga butuh untuk duduk istirahat?, ataukah Nabi melakukannya karena duduk istirahat merupakan sunnah dalam sholat?. Barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan kedua maka menganggap duduk istirahat hukumnya mustahab sebagaimana pendapat As-Syafi'i dan salah satu riwayat dari Ahmad. Dan barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan pertama maka tidak menganggap mutahabnya duduk istirahat kecuali jika memerlukannya sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Malik, dan salah satu riwayat dari Ahmad.
Barangsiapa yang melakukan duduk istirahat maka tidak boleh diingkari meskipun posisinya sebagai makmum (sementara imam tidak melakukannya-pent) karena keterlambatannya mengikuti (imam yang tidak duduk istirahat) hanya sedikit dan tidak termasuk keterlambatan yang dilarang –menurut mereka yang berpendapat akan mustahabnya duduk istirahat-. Bukankah ini perbuatan yang merupakan perkara ijtihad? Karena sesungguhnya telah bertentangan antara melakukan sunnah ini –yaitu menurutnya- dengan bersegera mengikuti imam?, sesungguhnya mengikuti imam lebih utama daripada terlamabat. Akan tetapi keterlambatan tersebut hanya sedikit, maka perkaranya seperti jika imam berdiri dari tasyahhud awal sebelum makmum menyelesaikan (bacaan) tasyahhud awal padahal makmum memandang mustahabnya menyempurnakan bacaan tasyahhud awal (sehingga akhirnya sang makmum terlambat beridiri-pent). Atau seperti jika imam salam padahal sang makmum masih ingin berdoa sedikit lagi, apakah sang makmum segera salam ataukah menyempurnakan dahulu doanya?. Permasalahan-permasalahan seperti ini termasuk permasalahan ijtihad, dan yang paling kuat adalah bersegera mengikuti imam lebih utama dari pada terlambat karena melakukan perkara yang mustahab. Wallahu A'lam (Majmuu' Al-Fataawaa 22/452-453).
Bagaimana jika sang imam qunut subuh?
Ibnu Taimiyyah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ "Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti" dan juga bersabda لاَ تَخْتَلِفُوْا عَلَى أَئِمَّتِكُمْ "Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian", dan telah valid juga dalam shahih bahwasanya beliau bersabda يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ، وَعَلَيْهِمْ "Mereka (para imam) sholat bagi kalian, jika mereka benar maka pahalanya buat kalian dan buat mereka, dan jika mereka salah maka pahalanya bagi kalian dan kesalahan bagi mereka. Bukankah jika imam membaca surat setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang terakhir dan memanjangkan bacaan surat tersebut maka wajib bagi makmum untuk mengikutinya (menunggunya-pent)?. Adapun mendahului imam maka hal ini tidak diperbolehkan, maka jika imam qunut maka tidak boleh makmum mendahuluinya, akan tetapi harus mengikuti imam. Oleh karenanya Abdullah bin Mas'uud mengingkari Utsman karena sholat empat rakaat (tatkala safar-pent) akan tetapi beliau sholat empat rakaat diimami oleh Utsman. Maka dikatakan kepada beliau kenapa beliau berbuat demikian, maka beliau berkata الخِلاَفُ شَرٌّ Perselisihan itu buruk" (Al-Fataawa Al-Kubro 1/229)
Beliau juga berkata, "Wajib bagi makmum untuk mengikuti imam pada perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad msekipun sang makmum tidak sependapat. Sebagaimana jika imam qunut subuh atau menambah jumlah takbir tatkala sholat janazah hingga tujuh kali. Akan tetapi jika sang imam meninggalkan satu perkara yang perkara tersebut menurut makmum adalah rukun atau syarat sholat maka ada khilaf (apakah makmum tetap mengikuti imam atau tidak?-pent)" (Jaami'ul Masaail 5/388)
Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, “Lihatlah para Imam (kaum muslimin) yang benar-benar memahami nilai persatuan. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat qunut shalat Subuh adalah bid’ah. Meskipun demikian beliau berkata, “Jika engkau shalat di belakang Imam yang qunut maka ikutilah qunutnya, dan aminkanlah doa imam tersebut.” Semua ini demi persatuan barisan dan hati, serta agar tidak timbul kebencian antara sebagian kita terhadap sebagian yang lain.” (Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ 4/86)
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 09 Dzul Qo'dah 1431 H / 17 Oktober 2010 M
Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
Artikel: www.firanda.com
gelasPertanyaan : Assalamu'alaikum ustadz...barokallahu fiik, ada beberapa pertanyaan yang mengganjal, terutama terkait kondisi mengikuti imam dalam sholat.
1. Bagaimana bila kita tahu dari kebiasaannya selama ini imam duduk tawarruk, apakah kita juga duduk tawarruk tatkala raka'at terakhir sholat subuh?
2. juga, bagaimana bila kita tidak tahu kebiasaan duduk imam (misalnya karena kita ada di masjid lain)?
3. bila kita ada di shaf pertama dan ada persis di sekitar belakang imam, apakah boleh kita melihat sejenak ke arah imam untuk melihat bagaimana ia duduk? atau, sebaliknya, bagaimana kalau kita ada di shaf kedua, ketiga, dst. tapi benar-2 tdk tahu kebiasaan duduk imam?
jazakallahu khoir ustadz... wassalamu'alaikum
Jawab :
Pertanyaan seperti ini sama dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Apakah jika imam menggerak-gerakan jarinya tatkala tasyahhud maka makmum juga harus ikut menggerak-gerakan jarinya, padahal sang makmum tidak meyakini akan sunnahnya menggerak-gerakan jari tatkala tasyahhud? Dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam mengangkat kedua tangan tatkala hendak sujud maka makmum juga harus mengangkat kedua tangannya (padahal sang makmum tidak meyakini disunnahkannya hal tersebut)? Dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam hendak sujud dengan meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya apakah makmum juga harus demikian?, sementara makmum meyakini didahulukannya kedua tangan sebelum kedua lutut?, dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam melakukan duduk istirahat -tatkala hendak berdiri ke rakaat ke dua atau ke rakaat ke empat- maka makmum juga harus duduk istirahat (padahal sang makmum tidak meyakini adanya duduk istirahat)?, dan jika sebaliknya?
- Apakah jika imam qunut subuh maka sang makmum juga harus qunut subuh? (padahal sang makmum meyakini tidak disyari'atkannya qunut subuh)
Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka kita harus paham apa saja perkara-perkara yang sang makmum harus mengikuti imam dan tidak boleh menyelisihinya?
Para pembaca yang budiman, nash yang berkaitan dengan permasalahan ini adalah sabda Nabi
إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا وإذا رَفَعَ فَارْفَعُوا وإذا قال سمع الله لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وإذا صلى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وإذا صلى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
"Hanyalah dijadikan imam adalah untuk diikuti, maka jika imam sholat berdiri maka sholatlah kalian (wahai para mekmum-pent) berdiri juga, jika imam ruku' maka ruku'lah kalian, dan jika imam bangkit maka bangkitlah, dan jika imam berkata "Sami'allahu liman hamidahu" ucapkanlah "Robbanaa wa lakalhamdu". Jika imam sholat berdiri maka sholatlah berdiri, dan jika imam sholat duduk maka sholatlah kalian seluruhnya dengan duduk" (HR Al-Bukhari no 657)
Rasulullah juga bersabda:
إنما جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فلا تَخْتَلِفُوا عليه فإذا رَكَعَ فَارْكَعُوا ...
"Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, jika ia ruku' maka ruku'lah kalian…" (HR Al-Bukhari no 689)
Ibnu Hajar berkata, "Dan kondisi pengikut (makmum) adalah tidak mendahului orang yang diikutinya (imam), dan juga tidak menyertainya, dan juga tidak berdiri lebih maju di hadapannya, akan tetapi ia memperhatikan gerakan dan kondisi sang imam lalu ia segera menyusul sebagaimana gerakan sang imam" (Fathul Baari 2/178)
Berkata An-Nawawi : "Hadits ini dalil akan wajibnya makmum untuk mengikuti imam dalam takbir, berdiri, duduk, ruku', sujud, dan hendaknya ia melakukannya setelah imam. Maka ia bertakbirotul ihroom setelah imam selesai bertakbirotul ihrom. Jika bertakbirotul ihrom sebelum imam bertakbirotul ihrom maka tidak sah sholatnya. Ia ruku' setelah imam mulai ruku' dan sebelum imam berdiri dari ruku'. Jika ia menyertai imam (dalam ruku'-pent) atau mendahului imam maka ia telah berbuat keburukan akan tetapi sholatnya tidak batal. Demikian juga sujud. Dan ia member salam setelah imam selesai salam, jika ia salam sebelum imam salam maka sholatnya batal, kecuali jika ia berniat untuk memisahkan diri dari jama'ah sholat. Dan ada khilaf dalam permasalahan ini..." (Al-Minhaaj 4/131)
An-Nawawi juga berkata, "Adapun sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti maka maknanya menurut Imam As-Syafi'i dan sekelompok ulama yaitu (diikuti) pada perbuatan-perbuatan (gerakan-gerakan) yang dzohir (nampak), karena boleh saja seseorang yang sholat fardu bermakmum kepada orang yang sholat sunnah dan sebaliknya, demikian juga seorang yang sholat asar bermakmum kepada orang yang sholat dzuhur dan sebaliknya.
Malik dan Abu Hanifah radhiallahu 'anhumaa dan para ulama yang lain berkata bahwasanya hal ini tidak diperbolehkan. Mereka berkata bahwasanya makna hadits adalah imam diikuti pada gerakan-gerakan dan juga pada niat (jadi niat harus sama antara imam dan makmum-pent). As-Syafii –radhiallahu 'anhu- dan para ulama yang sepakat dengannya berdalil dengan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami (dua kelompok dari) para sahabat di Batn Nakhl tatkala sholat khouf dua kali, sekali bersama kelompok pertama dan yang kdua bersama kelompok yang kedua. Maka sholat beliau yang kedua adalah sunnah adapun (para sahabat dari kelompok yang kedua) yang bermakmum di belakang Nabi sholat mereka adalah fardhu. Demikian juga hadits Mu'adz tatkala beliau setelah sholat isya bersama Nabi maka beliaupun setelah itu mendatangi kaum beliau lalu mengimami mereka, maka sholat tersebut sunnah di sisi Mu'adz dan wajib di sisi kaumnya.
Hal ini menunjukan bahwa mengikuti imam hanya wajib pada perbuatan-perbuatan (gerakan-gerakan) yang dzohir (Al-Minhaaj 4/134)
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang lebih menguatkan pendapat Imam An-Nawawi ini (madzhab As-Syafi'i) bahwasanya kewajiban mengikuti imam yang pada gerakan-gerakan yang dzhohir karena yang disebutkan oleh Nabi dalam hadits adalah ruku', takbir, bangkit dari ruku' dan semacamnya, adapun niat maka tidak disebutkan dalam hadits (lihat Fathul Baari 2/178)
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa makmum hanya wajib mengikuti gerakan-gerakan dzohir sang imam, jika sang imam bertakbir maka ia bertakbir pula, jika imam rukuk maka ia segera ruku' juga dan demikian juga jika imam duduk atau berdiri. Hal ini dimaksudkan agar makmum tidak mendahului imam atau terlambat mengikuti imam.
Adapun gerakan-gerakan yang tidak mengakibatkan penyelisihan terhadap imam berupa mendahului atau keterlambatan maka tidak wajib bagi makmum untuk mengikuti imam.
Sebagai contoh jika sang imam tatkala duduk tasyahhud sholat subuh dengan tawarruk sedangkan sang makmum meyakini sunnahnya duduk iftirosy maka tidak wajib bagi sang makmum untuk meniru cara duduk sang imam. Karena hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan penyelisihan berupa mendahului atau keterlambatan.
Demikian juga jika ternyata sang imam tidak menggerak-gerakan jarinya sementara sang makmum meyakini sunnahnya menggerak-gerakan jari tatkala tasyahhud maka tidak wajib bagi sang makmum untuk mengikuti sang imam.
Syaikh Al-'Utsaimiin berkata, "Adapun perkara yang mengantarkan kepada penyelisihan imam maka imam harus diikuti (tidak boleh diselisihi-pent), adapun perkara yang tidak menyelisihi imam –seperti mengangkat kedua tangan tatkala hendak ruku' jika ternyata sang imam tidak mengangkat kedua tangannya sedangkan makmum memandang disyari'atkannya mengangkat kedua tangan- maka tidak mengapa bagi makmum untuk mengangkat kedua tangannya. Karena hal ini tidak mengakibatkan penyelisihan terhadap imam atau keterlambatan (dalam mengikuti imam).
Demikian juga halnya dalam masalah duduk, jika imam tidak duduk tawarruk sedangkan sang makmum memandang disyari'atkannya duduk tawarruk atau sebaliknya maka sang makmum tidak mengikuti sang imam, karena sang makmum tidak menyelisihi sang imam dan juga tidak terlambat (dalam mengikuti sang imam). (Majmuu' Fataawaa wa rosaail As-Syaikh Al-'Utsaimiin15/79)
Bagaimana jika sang imam tidak duduk istirahat?
Jika sang imam tidak duduk istirahat tatkala bangkit ke rakaat ke dua atau ke rakaat ke empat, sedangkan makmum memandang disyari'atkannya hal ini, maka apakah makmum tetap boleh duduk istirahat menyelisihi imam? Dan bagaimana jika perkaranya sebaliknya?
Syaikh Al-'Utsaimiin rahimahullah berkata, "Adapun jika (penyelisihan gerakan-pent) mengakibatkan keterlambatan makmum –misalnya makmum memandang disyari'atkannya duduk istirahat sementara sang imam tidak- maka makmum tidak duduk istirahat. Karena jika sang makmum duduk istirahat maka ia akan terlambat dari imam, padahal Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintah kita untuk bersegera dalam mengikuti imam, beliau bersabda, "Jika imam bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika imam ruku maka ruku'lah…". Demikian juga jika perkaranya sebaliknya. Jika imam memandang disyari'atkannya duduk istirahat sementara sang makmum tidak, maka jika imam duduk istirahat hendaknya sang makmum juga duduk meskipun sang makmum tidak memandang disyari'atkannya duduk istirahat, namun demi mengikuti imam. Inilah kaidah dalam mengikuti imam, yaitu makmum tidak melakukan hal yang menyebabkan penyelisihan atau keterlambatan" (Majmuu' Fataawaa wa rosaail As-Syaikh Al-'Utsaimiin15/79)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Telah valid bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam duduk istirahat, akan tetapi para ulama berselisih antara apakah Nabi melakukannya karena beliau sudah tua sehingga butuh untuk duduk istirahat?, ataukah Nabi melakukannya karena duduk istirahat merupakan sunnah dalam sholat?. Barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan kedua maka menganggap duduk istirahat hukumnya mustahab sebagaimana pendapat As-Syafi'i dan salah satu riwayat dari Ahmad. Dan barangsiapa yang berpendapat dengan kemungkinan pertama maka tidak menganggap mutahabnya duduk istirahat kecuali jika memerlukannya sebagaimana pendapat Abu Hanifah, Malik, dan salah satu riwayat dari Ahmad.
Barangsiapa yang melakukan duduk istirahat maka tidak boleh diingkari meskipun posisinya sebagai makmum (sementara imam tidak melakukannya-pent) karena keterlambatannya mengikuti (imam yang tidak duduk istirahat) hanya sedikit dan tidak termasuk keterlambatan yang dilarang –menurut mereka yang berpendapat akan mustahabnya duduk istirahat-. Bukankah ini perbuatan yang merupakan perkara ijtihad? Karena sesungguhnya telah bertentangan antara melakukan sunnah ini –yaitu menurutnya- dengan bersegera mengikuti imam?, sesungguhnya mengikuti imam lebih utama daripada terlamabat. Akan tetapi keterlambatan tersebut hanya sedikit, maka perkaranya seperti jika imam berdiri dari tasyahhud awal sebelum makmum menyelesaikan (bacaan) tasyahhud awal padahal makmum memandang mustahabnya menyempurnakan bacaan tasyahhud awal (sehingga akhirnya sang makmum terlambat beridiri-pent). Atau seperti jika imam salam padahal sang makmum masih ingin berdoa sedikit lagi, apakah sang makmum segera salam ataukah menyempurnakan dahulu doanya?. Permasalahan-permasalahan seperti ini termasuk permasalahan ijtihad, dan yang paling kuat adalah bersegera mengikuti imam lebih utama dari pada terlambat karena melakukan perkara yang mustahab. Wallahu A'lam (Majmuu' Al-Fataawaa 22/452-453).
Bagaimana jika sang imam qunut subuh?
Ibnu Taimiyyah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ "Hanyalah dijadikan imam untuk diikuti" dan juga bersabda لاَ تَخْتَلِفُوْا عَلَى أَئِمَّتِكُمْ "Janganlah kalian menyelisihi imam-imam kalian", dan telah valid juga dalam shahih bahwasanya beliau bersabda يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ، وَعَلَيْهِمْ "Mereka (para imam) sholat bagi kalian, jika mereka benar maka pahalanya buat kalian dan buat mereka, dan jika mereka salah maka pahalanya bagi kalian dan kesalahan bagi mereka. Bukankah jika imam membaca surat setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang terakhir dan memanjangkan bacaan surat tersebut maka wajib bagi makmum untuk mengikutinya (menunggunya-pent)?. Adapun mendahului imam maka hal ini tidak diperbolehkan, maka jika imam qunut maka tidak boleh makmum mendahuluinya, akan tetapi harus mengikuti imam. Oleh karenanya Abdullah bin Mas'uud mengingkari Utsman karena sholat empat rakaat (tatkala safar-pent) akan tetapi beliau sholat empat rakaat diimami oleh Utsman. Maka dikatakan kepada beliau kenapa beliau berbuat demikian, maka beliau berkata الخِلاَفُ شَرٌّ Perselisihan itu buruk" (Al-Fataawa Al-Kubro 1/229)
Beliau juga berkata, "Wajib bagi makmum untuk mengikuti imam pada perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad msekipun sang makmum tidak sependapat. Sebagaimana jika imam qunut subuh atau menambah jumlah takbir tatkala sholat janazah hingga tujuh kali. Akan tetapi jika sang imam meninggalkan satu perkara yang perkara tersebut menurut makmum adalah rukun atau syarat sholat maka ada khilaf (apakah makmum tetap mengikuti imam atau tidak?-pent)" (Jaami'ul Masaail 5/388)
Syaikh Ibnu 'Utsaimin berkata, “Lihatlah para Imam (kaum muslimin) yang benar-benar memahami nilai persatuan. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat qunut shalat Subuh adalah bid’ah. Meskipun demikian beliau berkata, “Jika engkau shalat di belakang Imam yang qunut maka ikutilah qunutnya, dan aminkanlah doa imam tersebut.” Semua ini demi persatuan barisan dan hati, serta agar tidak timbul kebencian antara sebagian kita terhadap sebagian yang lain.” (Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’ 4/86)
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 09 Dzul Qo'dah 1431 H / 17 Oktober 2010 M
Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja
Artikel: www.firanda.com
BILAKAH DIHUKUMKAN WAJIB UNTUK PERGI KEMASJID SHOLAT BERJAMAAH
Abu Hurairah r.a, meriwayatkan bahawa suatu ketika ada seorang buta yang datang menemui Rasulullah S.A.W. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak memiliki penuntun yang selalu membimbingku untuk berangkat ke masjid.” Dia bertanya kepada Rasulullah S.A.W. dengan tujuan meminta keringanan agar boleh mengerjakan solat di rumah, maka beliau pun memberikan keringanan untuknya. Akan tetapi, ketika dia berpaling (hendak pulang) maka beliau menanyakan kepadanya, “Apakah kamu masih mendengar azan untuk solat [berjemaah]?”. Dia menjawab,”Ya.” Maka Nabi pun mengatakan, “Kalau begitu penuhilah panggilan itu.”
(HR. Muslim [653]).
An-Nawawi rahimahullah berkata'“Di dalam hadits ini terdapat penunjukan dalil bagi [ulama] yang berpendapat bahwa sholat jamaah adalah wajib ‘ain [bagi setiap lelaki]…” (Syarh Muslim, cet. Dar Ibn Al-Haitsam, 3/459).
Nabi S.A.W bersabda, “Tidaklah ada tiga orang [muslim] di suatu kota atau kampung namun mereka tidak mendirikan solat [berjemaah] di sana, kecuali karena syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu [solat] berjemaah. Karena serigala itu hanya akan memangsa domba yang jauh [menyendiri].” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Al-Hakim serta beliau -Al-Hakim- mensahihkannya)
Ketika menerangkan hadits di atas, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “[Ungkapan] itu –perintah Nabi kepada orang yang buta untuk menghadiri solat berjemaah– menunjukkan wajibnya solat berjemaah bagi orang buta, dan menunjukkan pula bahawa kebutaan bukanlah alasan untuk tidak mengikuti solat jemaah. Hadits itu pun menunjukkan bahawa solat berjemaah itu wajib dilakukan di masjid, bukanlah maksudnya hanya sekedar berjemaah -meskipun bukan di masjid-. Namun, yang diperintahkan adalah secara berjemaah dan bertempat di masjid…” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, cet Dar Al-Bashirah, 3/252). Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid.
Seandainya ia dilakukan bukan di masjid maka hal itu tidak menggugurkan dosa -bahkan mereka berdosa karenanya [iaitu karena solat berjemaah tidak di masjid]- meskipun solat mereka tetap dinilai sah menurut pendapat yang terkuat, demikian keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin di tempat yang lain (lihat Syarh Shalat Al-Jama’ah, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, hal. 26).
Oleh sebab itu, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memfatwakan tidak boleh bagi seseorang atau sekelompok orang melaksanakan solat berjemaah di rumah padahal masjid dekat dengan rumah mereka. Adapun, apabila letak masjid itu sangat jauh dan mereka tidak boleh mendengar azan [maksud azan di sini adalah azan tanpa mikrofon, demikian menurut Syaikh dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 3/252], maka tidak mengapa bagi mereka melakukan shalat jemaah di rumah selama memang jarak tempat mereka jauh dari masjid dan sulit bagi mereka untuk menghadiri solat berjemaah (lihat Fatawa Arkan Al-Islam, cet. Dar Ats-Tsurayya hal. 367-368).
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
(HR. Muslim [653]).
An-Nawawi rahimahullah berkata'“Di dalam hadits ini terdapat penunjukan dalil bagi [ulama] yang berpendapat bahwa sholat jamaah adalah wajib ‘ain [bagi setiap lelaki]…” (Syarh Muslim, cet. Dar Ibn Al-Haitsam, 3/459).
Nabi S.A.W bersabda, “Tidaklah ada tiga orang [muslim] di suatu kota atau kampung namun mereka tidak mendirikan solat [berjemaah] di sana, kecuali karena syaitan telah menguasai mereka. Maka hendaklah kamu [solat] berjemaah. Karena serigala itu hanya akan memangsa domba yang jauh [menyendiri].” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i dan Al-Hakim serta beliau -Al-Hakim- mensahihkannya)
Ketika menerangkan hadits di atas, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “[Ungkapan] itu –perintah Nabi kepada orang yang buta untuk menghadiri solat berjemaah– menunjukkan wajibnya solat berjemaah bagi orang buta, dan menunjukkan pula bahawa kebutaan bukanlah alasan untuk tidak mengikuti solat jemaah. Hadits itu pun menunjukkan bahawa solat berjemaah itu wajib dilakukan di masjid, bukanlah maksudnya hanya sekedar berjemaah -meskipun bukan di masjid-. Namun, yang diperintahkan adalah secara berjemaah dan bertempat di masjid…” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, cet Dar Al-Bashirah, 3/252). Shalat berjama’ah wajib dilakukan di masjid.
Seandainya ia dilakukan bukan di masjid maka hal itu tidak menggugurkan dosa -bahkan mereka berdosa karenanya [iaitu karena solat berjemaah tidak di masjid]- meskipun solat mereka tetap dinilai sah menurut pendapat yang terkuat, demikian keterangan Syaikh Ibnu Utsaimin di tempat yang lain (lihat Syarh Shalat Al-Jama’ah, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, hal. 26).
Oleh sebab itu, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah memfatwakan tidak boleh bagi seseorang atau sekelompok orang melaksanakan solat berjemaah di rumah padahal masjid dekat dengan rumah mereka. Adapun, apabila letak masjid itu sangat jauh dan mereka tidak boleh mendengar azan [maksud azan di sini adalah azan tanpa mikrofon, demikian menurut Syaikh dalam Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 3/252], maka tidak mengapa bagi mereka melakukan shalat jemaah di rumah selama memang jarak tempat mereka jauh dari masjid dan sulit bagi mereka untuk menghadiri solat berjemaah (lihat Fatawa Arkan Al-Islam, cet. Dar Ats-Tsurayya hal. 367-368).
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
Tuesday, January 10, 2012
SYIAH DAN PERPECAHANNYA
Syiah
al-Zirariah, al-Yunusiah, al-Syaitaniah
al-Zirariah
Mereka adalah pengikut Zirarah bin A’yun. Dia pernah mengikut fahaman al-Afthahiyah yang berkata, imam itu adalah Abdullah bin Jaafar. Kemudian, dia keluar daripada fahaman ininlalu mengikuti fahaman al-Musawiyah. Seterusnya dia mencipta ajarannya sendiri. Antaranya dia berkata, Allah itu pada mulanya tidak hidup, tidak berkuasa, tidak mendengar, tidak melihat, tidak mengetahui dan tidak berkehendak. Kemudian dia mencipta untuk dirinya sendiri akan sifat-sifat kuasa, berkehendak, ilmu, hidup, mendengar dan melihat.
al-Yunusiah
Mereka adalah pengikut Yunus bin Abdul Rahman al-Qami. Pada mulanya dia menganut fahaman Imamiah Qat’iyah uang memutuskan Imam Jaafar sudah mati. Kemudian dia membawa fahamannya sendiri yang mengatakan Allah itu ditanggung oleh malaikat yang menanggung Arasy, sedangkan Allah itu lebih kuat daripada mereka.
Ini juga termasuk di kalangan ajaran-ajaran yang mengelirukan dan terlalu mengada-adakan perkara palsu kepada Allah.
al-Syaitaniah
Mereka adalah pengikut seorang yang bernama Abu Jaafar bin an-Nukman al-Ahwal al-Rafadhi yang digelar juga dengan nama Syaitani al-Tak. Dia antara orang yang bertanggungjawab membawa fahaman dalam aliran Syiah. Imam adalah orang-orang disebutkan secara tertentu. Mereka berkata, orang yang disebutkan itu adalah Zaid. Dia mengarang sebuah buku berkenaan dengan kepimpinan. Di dalam bukunya, dia menafikan kenyataan Allah dalam surah at-Taubah, ayat 40,
“Salah seorang daripada dua orang ketika keduanya berada di dalam gua.”
Ayat ini menerangkan peristiwa Nabi Muhammad bersama Abu Bakar di dalam gua Thur. Dia bersetuju dengan pendapat Hisyam bin Salim aljawaqi yang berpegang pada ajaran Mujasimah. Dia juga bersependapat dengan Hisyam bin al-Hakam yang menyatakan Allah itu mengetahui dengan sendirinya tetapi mengetahui dalam perkara-perkara yang ditakdirkan olehnya dan dikehendakinya sahaja. Bagi perkara yang belum ditakdirkan, dia tidak mengetahuinya.
Penutup Kumpulan Syiah
Demikian sebahagian daripada beberapa perkara yang lahir dalam fahaman Syiah. Selain itu ada lagi dalamnya beberapa fahaman lain yang mempunyai pengikut-pengikutnya yang disebut secara khusus.
Al-Karrabiah, Al-Kamiliah, Muhammadiah, Hisyamiah
Al-Karrabiah:
Mereka adalah pengikut Abu Karab al-Dharir dan sesetengah ulamak menamakan dengan Ibnu al-Dharir. Golongan ini terlalu melampau memuja Muhammad bin al-Hanafiah sehingga melampaui batas akal dan agama. Selain itu mereka mempunyai pegangan yang sama dengan golongan-golongan sesat yang lain. Mereka juga berpendapat Muhammad bin al-Hanafiah tidak mati sehingga sekarang. Mereka mendakwa dia berada di banjaran gunung Radhwa. Di sebelah kanannya ada singa dan di sebelah kirinya ada harimau yang sentiasa mengawalnya. Dia diberi rezeki yang tidak perlu dicari pada setiap hari. Mereka juga berkata Muhammad bin al-Hanafiah dihukum begitu kerana dia cenderung kepada Abdul Malik bin Marwan yang menjadi khalifah kerajaan Umawiyah pada zamannya.
Al-Kamiliah:
Mereka adalah pengikut Abu Kamil. Dia mendakwa semua sahabat yang meninggalkan majlis ikrar setia kepada Ali hukumnya kafir. Mereka juga berkata Allah itu mampu berkata-kata dengan semua lidah dan bahasa serta mampu berdiri di semua tempat. Mereka juga mendakwa Allah dapat menzahirkan dirinya dengan rupa manusia sama ada dengan seluruh rupa atau sebahagiannya sahaja. Abu Kamil mampu kembali hidup semula sebelum berlakunya hari kiamat. Mereka membenarkan kata-kata iblis yang mendakwa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam kerana dia diciptakan daripada api. Api lebih mulia daripada tanah kerana api itu bercahaya sedangkan tanah itu tidak bercahaya. Selain itu, api juga pernah disembah. Mereka juga berpegang pada pendapat yang mendakwa jawatan imam adalah cahaya yang berpindah daripada seseorang kepada seseorang yang lain. Kadang-kadang, cahaya itu juga dapat berpindah ke dalam diri nabi. Kadang-kadang, cahaya boleh berpindah ke dalam diri imam biasa dan kadang-kadang juga imam boleh menjadi nabi. Fahaman ini menular pada awal pemerintahan Abbasiah.
Muhammadiah:
Iaitu golongan yang menunggu kelahiran semula Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abu Talib. Walaupun beliau dibunuh, mereka berkata, “Muhammad bin Abdullah masih hidup. Beliau bersembunyi di bukit Hajar yang terletak di daerah Najd. Pada akhir zaman, dia akan diperintah keluar daripada persembunyian.”
Hisyamiah:
Golongan ini mempunyai dua puak, pengikut Hisyam bin al-Hakam al-Rafazi dan pengikut Hisyam bin Salam bin al-Jawaqi.
- Hisyam al-Hakim al-Rafazi: Pengasas ajaran atau fahaman yang menyatakan Allah itu berjisim. Walaupun tidak sama dengan yang lain, tetapi boleh digambarkan dari segi zatnya walaupun sifat kuasanya tidak terhingga. Dia tinggi dan lebar, lebarnya sama dengan tingginya. Mereka juga berkata Tuhan itu nur yang bercahaya seperti perak yang bersih dan mutiara yang bulat. Dakwaan itu adalah bohong dan tidak ada bukti yang membenarkan dakwaan mereka.
Mereka juga menghadkan sifat-sifat Allah yang maha sempurna itu dengan menyatakan ilmu Allah itu terhad. Mereka berkata, “Adalah mustahil Allah itu mengetahui segala sesuatu secara berpanjangan.” Mereka mendakwa Allah mengetahui suatu dengan didahulukan tetapi tidak mengetahuinya terlebih dahulu. Mereka berkata al-Quran itu tidak khalik (pencipta) dan bukan makhluk (diciptakan). Ia adalah perbuatan Allah seperti juga ilmunya. Mereka membenarkan derhaka kepada para nabi sedangkan imam-imam pula bersifat maksum. Mereka berhujah, nabi itu diwahyukan padanya.
- Hisyam bin Salam bin al-Jawaqi: Mereka lebih melampau lagi dengan membawa pegangan Mujasad dan Musyabihat. Mereka berpegang dengan fahaman yang menyatakan Allah itu berupa manusia yang tidak berdaging dan berdarah. Dia adalah cahaya yang putih yang mempunyai pancaindera yang lima. Mereka mendakwa Allah mempunyai tangan, kaki, hidung, mulut, mata dan telinga. Dia mendengar dengan yang lain daripada apa yang dia melihat dengannya. Seluruh pancainderanya berbeza-beza antara satu sama lain, separuh yang di atasnya berongga dan separuh yang di bawahnya tidak, mempunyai cahaya hitam dan putih, iradahnya. (berkehendak) ialah harakat (gerak). Sifat ini bukannya sifat bagi Allah dan bukan lain daripadanya. Apabila dia menghendaki sesuatu, dia bergerak. Maka berlakulah seperti kehendaknya.
Qaramitah & Duruz
Mereka adalah pengikut kepada Hamdan bin al-As’as yang terkenal dengan Hamdan Qirmit. Qirmit bermakna melangkah pendek apabila berjalan. Ini kerana Hamdan dilihat pada zahirnya sebagai seorang yang bersifat zuhud dan fakir. Dia menetap di kampung daerah Teluk Parsi dengan mendirikan sebuah kawasan dan menamakannya dengan Darul Hijrah kononnya mengikut contoh nabi. Selepas berjaya mendapat pengaruh, dia menyebarkan ajarannya di daerah sekitarnya.
Ajarannya juga berfahaman kebatinan. Antara cara dia mengumpul pengikut dan menegakkan ajarannya adalah dengan mengumpulkan harta yang menjadi milik bersama sehingga masing-masing mempunyai senjata bagi menentang sesiapa yang menghalang.
Masalah makan minum diatasi dengan cara berkongsi. Kemudian, dia membawa pengikutnya supaya bergaul bebas antara lelaki dan perempuan dengan tujuan berjinak-jinak dan berkasih sayang.
Pada tahun 513 Hijrah (12 Januari 930) , mereka menyerang Mekah dengan bala tentera yang dipimpin oleh Abu Tahir al-Janabi. Pada Hari Raya Haji, mereka membunuh jemaah yang datang ke masjid dan orang-orang yang tawaf. Mereka masuk ke dalam Kaabah dengan berkuda, kencing semasa tawaf, mencabut Hajarul Aswad dan mengambil perhiasan Kaabah sambil mencaci secara mengejek.
“Kalaulah rumah ini menjadi Tuhan, nescaya dia menyiram api neraka ke atas kita. Sesungguhnya kami tinggalkan jenazah-jenazah antara telaga zam-zam dan bukit Safa yang tidak mahu kepadanya melainkan Tuhan yang mengaku Tuhan.”
Batu Hajarul Aswad menjadi rampasan mereka selama 20 tahun sehingga tentera Islam dapat mengalahkan mereka dan mengambil semula Hajarul Aswad.
Duruz
Mereka adalah kumpulan yang berasal daripada golongan pelampau Syiah yang pernah menegakkan Kerajaan Fatimiah di Utara Afrika. Pengikut kepada Muhammad bin Ismail al-Duruzi, yang berbangsa Turki. Sebahagian sarjana menyatakan dia berbangsa Parsi. Dia menjadi penyokong kuat kepada raja al-Hakim Biamrillah yang mengaku menjadi Tuhan. Dia dengan beraninya mengisytiharkan raja itu sebagai Tuhan di salah sebuah masjid di bandar Kaherah, Mesir. Kemudian, dia mengajak orang ramai beriman dan beribadah kepadanya tetapi golongan Durzi melaknatnya dan tidak menghormatinya lagi. Golongan Durzi mendakwa mereka adalah pengikut kepada Hamzah bin Ali al-Zuzani al-Farisi yang bergelar al-Hadi yang juga kenalan rapat al-Hakim Biamrillah.
Al-Hakim memeritahnya supaya menerima jawatan pemimpin menyeru kepada fahaman Ismailiah dengan gelaran al-Sannadu al-Hadi dan diperintah supaya menjadikan Lembah Tim sebagai pusat kegiatannya. Apabila al-Hakim Biamrillah menghilangkan diri, golongan Durzi berpendapat dia menghilangkan dirinya bagi membuang kotoran murid-muridnya. Dia akan kembali semula apabila kezaliman di dunia ini sampai ke puncaknya dan dia kembali semula bagi menghitungkan orang-orang bukan Islam.
Terlalu payah mendapat rujukan mengenai dengan ajaran mereka kerana mereka sangat merahsiakannya. Mereka tinggal berasingan daripada orang ramai iaitu di kawasan bukit-bukau dan pergunungan di Lubnan. Walau bagaimanapun, mereka adalah pecahan daripada fahaman Ismailiah bil Batiniah. Antara perkara yang menjadi kepercayaan mereka adalah:
- Mempercayai tanasukh, iaitu roh berpindah daripada orang yang sudah mati kepada jasad orang lain. Alasan mereka adalah walaupun jasadnya mati namun rohnya tetap hidup. Mereka juga berkata, “Iblis lahir dalam tubuh Nabi Adam, kemudian berpindah ke tubuh Nabi Nuh, kemudian ke tubuh Nabi Ibrahim, kemudian ke tubuh Nabi Musa kemudian ke tubuh Nabi Isa, akhirnya ke tubuh Nabi Muhammad.” Mereka berkata pula, “Syaitan itu lahir dalam tubuh Nabi Adam. Kemudian ke dalam tubuh Sam bin Nuh, kemudian ke dalam tubuh Nabi Ismail, kemudian ke dalam tubuh Yushak, kemudian ke dalam tubuh Syam’un al-Shafa, kemudian ke dalam tubuh Ali bin Abi Talib, kemudian ke dalam tubuh Qidah (salah seorang pemimpin golongan Qaramitah).
- Ruh orang yang mati akan kembali semula ke dunia ke dalam tubuh kanak-kanak yang baru dilahirkan.
- Percaya kepada Injil dan al-Quran dengan cara memilih ayat yang boleh ditakwil dan meninggalkan ayat-ayat yang tidak boleh ditakwil. Mereka berkata juga al-Quran itu diwahyukan kepada Sulaiman al-Farisi. Kemudian ia diambil oleh Muhammad dan dia menisbahkannya kepada dirinya. Mereka menamakan al-Quran dalam buku-buku mereka dengan al-Mastur al-Mubin.
- Mereka cenderung tidak mengerjakan ibadah dan jihad kerana mereka percaya Raja al-Hakim Biamrillah menjelma kepada mereka pada awal tahun 804 Hijrah lalu menggugurkan perintah sembahyang, puasa, zakat, haji, jihad, wilayah dan syahadah.
Al-Ismailiah al-Waqifah
Golongan ini dianggap sebahagian daripada Syiah yang radikal dan terkeluar daripada agama Islam. Mereka percaya, yang menjadi Imam adalah Ismail bin Jaafar as-Sadiq, tetapi Isna Ashariah tidak mengiktiraf fahaman ini dan tidak mengiktiraf Ismail menjadi Imam selepas Imam Jaafar as-Sadiq meninggal dunia. Menurut mereka, Ismail adalah seorang yang melakukan kerja-kerja maksiat yang termasuk dalam dosa besar seperti meminum arak dan sebagainya. Namun, pengikut fahaman Ismailiah berkata, “Tidak mengapa dia mengerjakan dosa besar kerana dia maksum. Apabila dia minum arak, dia minum di bawah ilmu Allah.”
Menurut Imam Abu Hasan al-Asy’ari, daripada fahaman Ismailiah ini juga lahirnya fahaman Qaramitah yang mengikut ajaran batiniah. Kemudian golongan Ismailiah bertelingkah dalam isu kematian Ismail.
Ada di kalangan mereka yang berpendapat, Ismail tidak mati tetapi berpura-pura mati sebagai taqiah (menyelamatkan diri) daripada menjadi mangsa pemerintahan Abbasiah. Ada juga yang berpendapat, Ismail sebenarnya sudah mati maka anak-anaknya pula yang menjadi imam setepasnya. Ada juga berpendapat, yang menjadi imam selepas Ismail adalah anaknya Muhammad bin Ismail. Buku ini akan membincangkan dengan lebih terperinci apabila memasuki fahaman Ghulah yang dianggap terkeluar daripada Islam.
GHULAH AL-SYIAH
Mereka adalah terdiri daripada kumpulan fahaman Syiah yang dihukum keluar daripada Islam walaupun mereka mengaku sebagai pengikut Islam, kerana fahaman yang menjadi pegangan mereka membatalkan akidah. Antara fahaman-fahaman itu adalah:
Al-Saba’iah
Mereka adalah pengikut ajaran yang dibawa oleh Abdullah Inn S,di,r. Dia berasal daripada agama Yahudi kemudiannya mengaku Islam. Dia pernah berkata kepada Ali, “Awak adalah awak” Ia bermaksud, awak adalah Tuhan. Lalu dia dihalau ke Madyan. Selepas Ali meninggal dunia, dia menyebarkan ijarannya. Antara ajarannya, Yushak bin Nun adalah orang s.mg diwasiatkan oleh Musa, Ali juga diwasiatkan oleh Nabi Muhammad. Selepas itu, ajaran itu berkembang daripadanya luhaman-fahaman radikal yang lain. Kemudian, dia mendakwa Ali sebenarnya tidak mati. Beliau datang bersama awan, guruh .idalah suaranya, kilat ialah senyumnya, apabila bumi dipenuhi kezaliman, Ali turun memenuhi dengan keadilan. Kemudian dia membawa fahaman tanasukh al-arwah (selepas roh berpisah daripada jasad seseorang, roh itu berpindah pula ke jasad yang lain). Fahaman itu berasal daripada kepercayaan agama Hindu. Kemudian dia menyatakan, Tuhan menjelma ke dalam diri imam-imam yang dilantik selepas Ali.
Ismailiah
Pada awalnya fahaman ini seperti yang dijelaskan berhubung dengan Ismailiah al-Waqifah, iaitu mereka berpendapat imam mereka adalah Ismail binjaafar as-Sadiq. Oleh itu, mereka berselisih faham dengan golongan yang menyatakan imam selepas Jaafar adalah Musa al-Kazim. Golongan yang berpendirian sederhana mengakui Imam Musa al-Kazim. Mereka menyatakan Ismail menjadi imam yang disimpan dahulu seperti Hasan bin Ali di mana anak-anaknya tidak harus menjadi imam apabila dia meninggal dunia. Tetapi golongan Ismailiah ini berpendapat Ismail juga terus meninggalkan pusaka menjadi imam kepada anak-anaknya seperti juga Husain bin Ali. Ada juga di kalangan mereka yang berpendapat Jaafar melantik Musa sebagai penggantinya kerana untuk memelihara keselamatan Ismail, yang sebenar menjadi imam ialah Ismail bukannya Musa.
Akidah mereka terkeluar daripada Islam kerana diresapi oleh perkara-perkara yang membatalkan akidah seperti membezakan syariat Allah dan menafikan tempat-tempatnya. Mereka berpecah kepada beberapa fahaman:
Al-Batiniah
Golongan ini digelarkan dengan nama al-Batiniah kerana mereka berkata, “Syariat Allah itu ada lahir dan batinnya, begitu juga dengan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad”, mereka menghurai ayat-ayat Allah dan hadis Nabi Muhammad dengan cara yang menyeleweng daripada maknanya yang sebenar berpandukan Nabi Muhammad, para sahabat, tabi’in dan sarjana Islam yang diiktiraf. Mereka mendakwa imam itu ada yang tersembunyi.
Antara akidah mereka seperti yang dinyatakan dalam buku mereka adalah, Allah menjadikan dirinya kemudian kedua-duanya mentadbir alam ini. Mereka juga menafikan mukjizat. Menafikan turunnya malaikat membawa wahyu dari langit. Mereka menuduh nabi-nabi adalah orang-orang yang mahu jawatan menjadi ketua semata-mata. Mereka berpendapat hukum-hukum syariat itu boleh ditakwil. Sembahyang ditakwil dengan dengan taat kepada imam. Haji itu menziarahi imam. Puasa itu menahan rahsia imam bukannya tidak makan. Berzina itu adalah mendedahkan rahsia imam mereka juga berkata,
“Sesiapa yang tahu makna hakikat ibadah, gugur fardu ibadah daripadanya dengan mentakwilkan kata-kata Allah surah aJ-Hijr, ayat 99,
“Sembahlah Tuhanmu sehingga kamu yakin.”
Mereka juga menimbulkan syak kepada al-Quran, Taurat, Zabur dan Injil, membatalkan hukum syariat, tidak percaya kepada hidup semula selepas mati dan menolak adanya malaikat dan jin. Antara masalah-masalah dalam al-Quran yang dijadikan bahan perbincangan mereka adalah,
“Huruf-huruf yang menjadi permulaan surah-surah al-Quran dengan takwil-takwil yang direka.”
Antara cara yang dilakukan bagi mempengaruhi orang ramai adalah dengan menagih simpati dan menyokong Ahli Bait yang menjadi sasaran tekanan pada zaman Umawiyah dan Abbasiah.
Gerakan ini bertolak daripada gerakan Abdullah bin Saba’ yang bergabung dengan golongan Ismailiah. Antara tokoh mereka adalah al-Mughirah bin Said al-A ‘jali yang selalu datang berjumpa Imam Muhammad Baqir. Kemudian dia memutarbelitkan ajaran yang sebenar, antaranya mentafsirkan kenyataan Allah surah an-Nahl, ayat 90,
“Sesungguhnya Allah menyeru kepada keadilan, berbuat baik dan memberi hak kepada kaum keluarga dan melarang daripada kejahatan dan mungkar.”
Dia berkata “Adil dan ihsan itu adalah Fatimah dan Ali, kaum kerabat adalah Hasan dan Husain, kejahatan itu adalah Abu Bakar dan mungkar itu Umar.”
Apabila Imam Muhammad al-Baqir mengetahui penyelewengan al-Mughirah, beliau menolak dengan sekeras-kerasnya dan menjauhkan diri daripadanya.
Pada akhirnya al-Mughirah bertindak lebih melampau lagi sehingga mengatakan Ali boleh menghidupkan orang mati dan mengetahui perkara yang ghaib. Kemudian dia melantik dirinya menjadi imam sehingga mengaku menjadi Tuhan.
Kemudian lahir pula muridnya yang bernama Abu Mansur al-A’jali yang berkata, “Nabi itu tidak berakhir dengan Nabi Muhammad. Pintu-pintunya terbuka kepada golongan Ismailiah.”
Abu Mansur sendiri mengaku dirinya menjadi nabi. Ajaran ini dihidupkan pada zaman sekarang oleh golongan Baha’i.
Antara tokohnya juga adalah Maimun bin Dishan yang berasal daripada pengikut agama Yahudi. Kemudian dia menganut Islam dan menganut ajaran Batiniah. Dia membawa fahaman yang menyatakan imam itu mempunyai sifat maksum yang tidak terhingga kerana pelantikannya daripada Allah. Dia wajib bersifat memelihara syariat sejak azali dan berada dalam ilmu Allah yang qadim, bersama nur yang awal, berpindah daripada nabi kepada imam. Bagi memelihara rahsia fahamannya, dia membahagikannya kepada tujuh martabat. Seseorang itu tidak naik ke martabat yang lebih tinggi melainkan selepas berjaya diuji.
Isna Ashariah (Imam 12)
Fahaman Imamiah juga dikenali sebagai Isna Ashariah tetapi ada di kalangan mereka seperti Kasyaf al’Ghita’. Dia adalah salah seorang sarjana mereka pada zaman moden. Mereka juga menganut agama tauhid semata-mata, menolak fahaman yang menyatakan Allah serupa dengan makhluk, menolak sifat-sifat kekurangan, menolak ajaran tanasuh al-ruh, mujassimah, hulul dan ittihad. Golongan ini yang dikenali dengan Isna Ashariah Jaafariah pada hari ini menolak fahaman-fahaman yang bercanggah dengan dasar-dasar akidah yang dianuti oleh sebahagian daripada aliran-aliran sebelumnya dan menganggapnya kafir.
ISNA ASHARIAH (IMAM 12)
Fahaman Imamiah juga dikenali dengan Isna Ashariah tetapi ada di kalangan mereka seperti Kasyaf al-Ghita’. Dia adalah salah seorang sarjana mereka pada zaman moden Mereka juga menganut agama tauhid semata-mata, menolak fahaman yang menyatakan Allah serupa dengan makhluk, menolak sifat-sifat kekurangan, menolak ajaran tanasuh al-ruh, mujasimah, hulul dan ittihad. Golongan yang dikenali dengan Isna Ashariah Jaafariah pada hari ini menolak fahaman-fahaman yang bercanggah dengan dasar-dasar akidah yang dianuti oleh sebahagian daripada aliran-aliran sebelumnya dan menganggapnya kafir.
Mereka juga menambah rukun iman yang ke-6 iaitu percaya kepada imam. Menurut mereka, jawatan imam adalah anugerah Tuhan sebagaimana nabi. Allah menyuruh nabinya supaya menunjukkan imam melalui bukti al-Quran. Apabila nabi menyampaikan ajarannya daripada Allah maka imam menyampaikannya daripada nabi. Mereka percaya imam adalah maksum (terpelihara) daripada dosa seperti nabi.
Dalam ilmu fikah, mereka berselisih pendapat dengan Ahli Sunnah wal Jamaah dalam perkara nikah Mut’ah (kahwin bertempoh). Mereka mengharuskan nikah ini walaupun Ahli Sunnah mengharamkannya. Mereka menjamakkan sembahyang di tempat tinggal, sembahyang Jumaat ditangguhkan sehingga lahirnya imam yang ghaib iaitu Imam Mahdi, sembahyang hari raya hukumnya wajib. Sembahyang tarawih tidak dilakukan secara berjamaah. Menambahkan azan dengan kalimah ‘Aku bersaksi Ali itu wali Allah’ dan ‘Marilah mengerjakan perbuatan baik” dan lain-lain lagi.
Dalam ilmu tafsir dan rujukan hadis, mereka dapat memastikan laporan Ahli Bait yang diambil daripada Ali bin Abi Talib. Mereka tidak mengiktiraf laporan Abu Hurairah dan sahabat-sahabat yang lain. Begitu juga buku-buku tafsir seperti Tafsir al-Tabari, al-Qurtubi, Ibnu Katsir dan sebahagiannya dan buku-buku hadis seperti Al-Muwatha’ karangan Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sahih Bukhari dan Muslim dan buku al-Arba’ah.
Sejarah Syiah Imamiyyah
Mereka adalah golongan Syiah yang kedua terbesar dan berusaha supaya lebih hampir pada perpaduan dengan umat Islam seluruhnya. Golongan Syiah ini adalah paling ramai pengikutnya, iaitu dua pertiga penduduk Iran, separuh daripada penduduk Iraq, sebahagian penduduk Lubnan, beberapa juta di India dan di Asia Tengah yang dijajah oleh komunis Rusia.
Mereka dikenali juga dengan nama fahaman Jaafariah iaitu menyandarkan kepada Imam Jaafar as-Sadiq yang dianggap sebagai pemimpin besar yang menjadi ikutan. Beliau diakui oleh seluruh sarjana Islam termasuk juga sarjana Ahli Sunnah wal Jamaah. Imam Jaafar as-Sadiq adalah sarjana mujtahid, kaya dengan ilmu, warak dan zuhud yang tidak melampau pandangannya. Namun, timbul beberapa pendapat yang berbeza daripada pendapatnya selepas beliau meninggal dunia.
Mereka dikenali juga dengan nama fahaman Isna Ashariah (Imam 12) kerana mereka menentukan 12 imam iaitu:
1. Ali bin Abu Talib
2. Hasan bin Ali
3. Husain bin Ali
4. Ali bin Husain (Zainal Abidin)
5. Muhammad bin Ali bin Hussin (Muhammad Baqir)
6. Jaafar bin Muhammad (as-Sadiq)
7. Musa bin Jaafar (al-Kazim)
8. Ali bin Musa (al-Rida)
9. Muhammad bin Ali (aljawad)
10. Ali bin Muhammad (al-Hadi)
11. Hasan bin Ali (al-Askari)
12. Muhammad bin Husain (al-Mahdi). Beliau hilang pada tahun 329 Hijrah. Pengikut Imamiah percaya beliau akan lahir menjadi Imam Mahdi pada akhir zaman.
Kemudian mereka berpecah pula kepada beberapa fahaman yang mempunyai pegangan dan akidah yang berlainan antara satu sama lain, Sebahagiannya terpesong daripada ajaran Imam Jaafar as-Sadiq.
BAQIRIAH DAN JAAFARIAH
Mereka adalah pengikut kepada Muhammad Baqir, imam yang ke-5 menurut senarai imam-imam mereka. Mereka juga pengikut anaknya Imam Jaafar as-Sadiq iaitu imam yang ke-6. Para pengikutnya berkata, kedua-duanya adalah imam seperti Zainal Abidin yang menjadi imam sebelum daripada keduanya, tetapi di kalangan mereka ada yang berpendapat:
1. Yang menjadi imam mesti daripada keturunan mereka berdua.
2. Yang menjadi Imam adalah Ali, kemudian sumber menetapkan Hasan, diikuti Husain, kemudian kepada anaknya yang bernama Ali kemudian kepada Baqir. Sekiranya Baqir masih hidup, beliau dikatakan bakal menjadi Imam Mahdi pada akhir zaman.
Walau bagaimanapun, Baqir meninggal dunia sebelum menepati ramalan mereka. Mereka melantik anaknya iaitu Jaafar menjadi imam. Imam Jaafar as-Sadiq tinggal di Madinah. Golongan Syiah menganggap Jaafar mempunyai rahsia-rahsia ilmu. Jaafar berpindah ke negara Iraq. Beliau menolak sekeras-kerasnya pendapat-pendapat yang yang diada-adakan oleh mereka yang mendakwa sebagai pengikutnya dan pendapat itu bercanggah dengan Islam. Antara fahaman mereka: Hilangnya imam, berpindah roh orang yang mati ke dalam roh orang-orang yang masih hidup atau kembali semula ke alam dunia selepas mati, menyerupakan Tuhan dengan makhluk, menolak fahaman Muktazilah, Jabariah dan penyelewengan-penyelewengan yang lain dan melaknat sekeras-kerasnya mereka yang menyeleweng itu. Namun, pengikut-pengikutnya berpecah selepas beliau meninggal dunia, antaranya:
Nawusiah
Pengikut bernama Nawus dan sebahagian sarjana menamakannya Ibnu Nawus. Mereka berpendapatJaafar as-Sadiq dipilih menjadi imam berdasarkan sumber daripada Imam Baqir. Jaafar as-Sadiq dipercayai masih hidup hingga sekarang dan beliau bakal menjadi Imam Mahdi pada akhir zaman. Ada juga yang berpendapat, Ali akan hidup semula bagi memenuhi bumi dengan keadilan. Kemudian golongan yang bernama Saba’iah bergabung dengan golongan ini.
Al-lfthahiah atau Al-A’mariah
Mereka adalah pengikut Amar yang disandarkan kepada Abdullah al-Aftah, anak Imam Jaafar as-Sadiq. Mereka percaya, Imam Jaafar berpesan supaya melantik anaknya Abdullah menjadi imam. Namun, Abdullah meninggalkan dunia 70 hari selepas ayahnya meninggal dunia.
Al-Sumaitiah
Mereka adalah pengikut Yahya bin Abi al-Syumaith yang juga menjadi pengikut kepada al-Muhtar bin Abi Ubaid al-Thaqafi dan terbunuh bersamanya. Mereka berpendapat, imam itu dilantik melalui sumber daripada Imam Jaafar kepada anaknya. Manakala bakal Imam Mahdi adalah daripada kalangan anak-anaknya. Imam itu dipilih daripada anak-anak Imam Jaafar secara turutan iaitu Ismail, Muhammad, Abdullah al Aftah dan Ishak.
AL-MUSAWIYAH DAN AL-MAFADLIAH
Mereka adalah kumpulan yang percaya yang menjadi imam adalah Musa binjaafar al-Kazim. Ketua kumpulan ini adalah al-Faisal bin Umar. Mereka percaya, Musa al-Kazim masih hidup. Beliau pernah dibawa masuk berjumpa dengan Khalifah Harun ar-Rashid dan tidak keluar lagi. Beliau juga diramal akan keluar menjadi Imam Mahdi. Menurut sejarah, Imam Musa ditahan kemudian meninggal dunia (syahid) kerana diracun. Kemudian golongan ini berpecah pula kepada beberapa fahaman:
Al-Maaturah
Mereka yang berpendapat tidak tahu sama ada Imam Musa masih hidup atau sudah mati.
Al-Quda’yah
Mereka yang mengambil keputusan Imam Musa sudah mati.
Al-Waqifah
Mereka yang berpendapat, Imam Musa tidak mati sebaliknya beliau akan lahir semula selepas ghaib.
T
Sejarah Syiah Zaidiyyah
Mereka adalah pengikut Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin. Imam Zaid dikenali sebagai Abu Muhammad dan Abu Hasan. Aliran ini dianggap paling hampir dengan fahaman Ahli Sunnah wal Jamaah. Mereka tidak menganggap martabat imam itu sama seperti martabat nabi-nabi. Mereka tidak mengkafirkan para sahabat nabi Muhammad. Mereka berpendapat Imam Zaid paling layak menjadi imam selepas Husain bin Ali meninggal dunia. Kemudian, ia diikuti zuriat daripada keturunan Fatimah az-Zahra”. Mereka mengiktiraf Abu Bakar, Umar sebagai imam negara Islam walaupun mereka percaya Ali lebih layak. Ini kerana, orang yang kurang syaratnya boleh menjadi khalifah walaupun ada orang yang paling layak dan imam tidak mestinya maksum. Dalam perkara Tauhid mereka lebih hampir kepada Muktazilah, tetapi dalam perkara Fikah mereka lebih hampir kepada mazhab Syafie. Pengikut mereka masih ramai di negeri Yaman dan sedikit di Asia Tenggara.
Imam Zaid gugur syahid bersama-sama beberapa orang pengikutnya ketika mereka keluar menentang tentera kerajaan Umawiah di bawah pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik. Peristiwa itu berlaku pada hari Isnin 2 Safar tahun 122 Hijrah ketika Imam Zaid berusia 42 tahun. Kemudian anaknya Yahya bin Zaid menjadi imam, Yahya juga dibunuh pada akhir kerajaan Umaiyah, kemudian kepimpinan mereka beralih kepada Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Hassan bin Ali bin Abi Talib yang lahir di Madinah tetapi beliau terbunuh pada zaman kerajaan Abbasiah. Imam Abu Hanifah (imam fahaman Hanafi) bersimpati dengannya dan melafaz ikrar setia sehingga Abu Hanifah dihukum penjara oleh Abu Jaafar al-Mansur dan meninggal dunia dalam penjara.
Fahaman Zaidiah berpecah kepada 3 aliran:
Jarudiah
Pengikut kepada Abu Jarud (Sulaiman bin Zaid bin Abi Zaid). Dia menyeleweng daripada ajaran Imam Zaid. Ajarannyaberfahaman, Hasan bin Ali menjadi imam selepas ayahnya. Selepas Hasan, Husain bin Ali bakal menggantikannya berpandukan wasiat Ali. Di kalangan mereka ada yang berpendapat, Imam Mahdi yang lahir pada akhir zaman adalah Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali yang dikenali dengan Nafsu Zakiah, yang dibunuh syahid pada zaman kerajaan Abbasiah.
Sulaimaniah
Adalah pengikut Sulaiman binjarrir al-Zaidi, mereka mengiktiraf perlantikan Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah walaupun pada mereka Ali lebih layak. Namun, mereka mengecam keras tindakan Uthman, Aisyah, Thalhah dan Zubair kerana menentang Ali bin Abu Talib.
Battariah
Pengikut Hasan bin Soleh bin Yahya. Mereka mengiktiraf perlantikan khalifah Abu Bakar dan Umar dan tidak salah melantik mereka berdua. Perlantikan Uthman tidak boleh dipertikaikan kerana beliau termasuk dalam 10 sahabat yang dijamin syurga oleh Nabi Muhammad. Bagi mereka sebarang kesilapan diserahkan kepada Allah. Kedudukan Ali di sisi mereka adalah manusia paling baik selepas Nabi Muhammad, paling layak menjadi khalifah, tetapi Ali menyerah jawatan itu kepada orang lain secara rela. Mereka juga berpendapat, sesiapa yang menghunuskan pedangnya dengan berani, bersifat zuhud lagi alim di kalangan keturunan Hasan dan Husain, dia layak menjadi imam.
Hasan bin Soleh bin Yahya yang menjadi pemimpin fahaman ini adalah seorang yang alim. Imam Muslim pernah merekodkan hadis daripadanya dan Bukhari menyebut rekodnya dalam buku al-Adabu Mufrad.
Antara imam-imam fahaman Zaidiah yang terkenal adalah Imam Zaid bin Ali, Imam Yahya bin Zaid bin Ali dan Imam Muhammad bin Abdullah al-Nafsu al-Zakiah.
Sejarah Syiah
Menurut Imam Abu Hasan Asy’ari dalam bukunya Maqalaat Islamiyiin dan Asyaharastani di dalam bukunya al-Milal wal Nihal, Syiah adalah nama yang diberi kepada mereka yang mengaku sebagai pengikut Ali dan percaya beliau mempunyai kelebihan berbanding para sahabat lain. Mereka lahir menjadi suatu aliran selepas berlaku ketegangan yang menjadi ukuran peperangan antara Ali dan Muawiyah. Apabila Ali dan generasi pertama Ahli Bayt meninggal dunia, timbul di kalangan mereka pandangan-pandangan yang tersendiri berhubung dengan akidah dan syariah. Antaranya mereka berhujah, kepimpinan negara adalah salah satu daripada rukun dan prinsip Islam. Tidak boleh bagi Nabi membiarkannya dan menyerahkan kepada umat semata-mata. Mereka percaya Imam itu bersifat maksum (suci daripada dosa).
Mereka percaya kedudukan Ali lebih layak menjadi khalifah dan bukannya melalui proses Syura (mesyuarat) sahaja. Mereka mendakwa kelebihan Ali berdasarkan kepada bukti secara terang dan tersembunyi. Bukti terang daripada Nabi Muhammad dengan katanya,
“Siapa yang dia jadikan aku sebagai tuannya maka Ali yang menjadi tuannya.”
Dan Nabi Muhammad berkata lagi,
“Orang yang paling layak menjadi hakim di kalangan kamu adalah Ali”.
Bukti yang tersembunyi adalah Nabi Muhammad menghantar Ali supaya membaca surah at-Taubah kepada jemaah haji, bukannya Abu Bakar.
Oleh itu mereka percaya kepimpinan negara Islam mesti diserahkan kepada Ali bin Abu Talib dan keturunannya. Melantik orang lain bermaksud merampas hak dan melantik orang yang tidak layak. Ada antara mereka menyifatkan perbuatan itu zalim dan kafir.
Akhirnya, Syiah berpecah kepada fahaman-fahaman yang banyak. Ada yang bersikap sederhana dan ada yang radikal.
Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang
Masjid Rusila, Marang, Terengganu
al-Zirariah, al-Yunusiah, al-Syaitaniah
al-Zirariah
Mereka adalah pengikut Zirarah bin A’yun. Dia pernah mengikut fahaman al-Afthahiyah yang berkata, imam itu adalah Abdullah bin Jaafar. Kemudian, dia keluar daripada fahaman ininlalu mengikuti fahaman al-Musawiyah. Seterusnya dia mencipta ajarannya sendiri. Antaranya dia berkata, Allah itu pada mulanya tidak hidup, tidak berkuasa, tidak mendengar, tidak melihat, tidak mengetahui dan tidak berkehendak. Kemudian dia mencipta untuk dirinya sendiri akan sifat-sifat kuasa, berkehendak, ilmu, hidup, mendengar dan melihat.
al-Yunusiah
Mereka adalah pengikut Yunus bin Abdul Rahman al-Qami. Pada mulanya dia menganut fahaman Imamiah Qat’iyah uang memutuskan Imam Jaafar sudah mati. Kemudian dia membawa fahamannya sendiri yang mengatakan Allah itu ditanggung oleh malaikat yang menanggung Arasy, sedangkan Allah itu lebih kuat daripada mereka.
Ini juga termasuk di kalangan ajaran-ajaran yang mengelirukan dan terlalu mengada-adakan perkara palsu kepada Allah.
al-Syaitaniah
Mereka adalah pengikut seorang yang bernama Abu Jaafar bin an-Nukman al-Ahwal al-Rafadhi yang digelar juga dengan nama Syaitani al-Tak. Dia antara orang yang bertanggungjawab membawa fahaman dalam aliran Syiah. Imam adalah orang-orang disebutkan secara tertentu. Mereka berkata, orang yang disebutkan itu adalah Zaid. Dia mengarang sebuah buku berkenaan dengan kepimpinan. Di dalam bukunya, dia menafikan kenyataan Allah dalam surah at-Taubah, ayat 40,
“Salah seorang daripada dua orang ketika keduanya berada di dalam gua.”
Ayat ini menerangkan peristiwa Nabi Muhammad bersama Abu Bakar di dalam gua Thur. Dia bersetuju dengan pendapat Hisyam bin Salim aljawaqi yang berpegang pada ajaran Mujasimah. Dia juga bersependapat dengan Hisyam bin al-Hakam yang menyatakan Allah itu mengetahui dengan sendirinya tetapi mengetahui dalam perkara-perkara yang ditakdirkan olehnya dan dikehendakinya sahaja. Bagi perkara yang belum ditakdirkan, dia tidak mengetahuinya.
Penutup Kumpulan Syiah
Demikian sebahagian daripada beberapa perkara yang lahir dalam fahaman Syiah. Selain itu ada lagi dalamnya beberapa fahaman lain yang mempunyai pengikut-pengikutnya yang disebut secara khusus.
Al-Karrabiah, Al-Kamiliah, Muhammadiah, Hisyamiah
Al-Karrabiah:
Mereka adalah pengikut Abu Karab al-Dharir dan sesetengah ulamak menamakan dengan Ibnu al-Dharir. Golongan ini terlalu melampau memuja Muhammad bin al-Hanafiah sehingga melampaui batas akal dan agama. Selain itu mereka mempunyai pegangan yang sama dengan golongan-golongan sesat yang lain. Mereka juga berpendapat Muhammad bin al-Hanafiah tidak mati sehingga sekarang. Mereka mendakwa dia berada di banjaran gunung Radhwa. Di sebelah kanannya ada singa dan di sebelah kirinya ada harimau yang sentiasa mengawalnya. Dia diberi rezeki yang tidak perlu dicari pada setiap hari. Mereka juga berkata Muhammad bin al-Hanafiah dihukum begitu kerana dia cenderung kepada Abdul Malik bin Marwan yang menjadi khalifah kerajaan Umawiyah pada zamannya.
Al-Kamiliah:
Mereka adalah pengikut Abu Kamil. Dia mendakwa semua sahabat yang meninggalkan majlis ikrar setia kepada Ali hukumnya kafir. Mereka juga berkata Allah itu mampu berkata-kata dengan semua lidah dan bahasa serta mampu berdiri di semua tempat. Mereka juga mendakwa Allah dapat menzahirkan dirinya dengan rupa manusia sama ada dengan seluruh rupa atau sebahagiannya sahaja. Abu Kamil mampu kembali hidup semula sebelum berlakunya hari kiamat. Mereka membenarkan kata-kata iblis yang mendakwa dirinya lebih mulia daripada Nabi Adam kerana dia diciptakan daripada api. Api lebih mulia daripada tanah kerana api itu bercahaya sedangkan tanah itu tidak bercahaya. Selain itu, api juga pernah disembah. Mereka juga berpegang pada pendapat yang mendakwa jawatan imam adalah cahaya yang berpindah daripada seseorang kepada seseorang yang lain. Kadang-kadang, cahaya itu juga dapat berpindah ke dalam diri nabi. Kadang-kadang, cahaya boleh berpindah ke dalam diri imam biasa dan kadang-kadang juga imam boleh menjadi nabi. Fahaman ini menular pada awal pemerintahan Abbasiah.
Muhammadiah:
Iaitu golongan yang menunggu kelahiran semula Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan bin Ali bin Abu Talib. Walaupun beliau dibunuh, mereka berkata, “Muhammad bin Abdullah masih hidup. Beliau bersembunyi di bukit Hajar yang terletak di daerah Najd. Pada akhir zaman, dia akan diperintah keluar daripada persembunyian.”
Hisyamiah:
Golongan ini mempunyai dua puak, pengikut Hisyam bin al-Hakam al-Rafazi dan pengikut Hisyam bin Salam bin al-Jawaqi.
- Hisyam al-Hakim al-Rafazi: Pengasas ajaran atau fahaman yang menyatakan Allah itu berjisim. Walaupun tidak sama dengan yang lain, tetapi boleh digambarkan dari segi zatnya walaupun sifat kuasanya tidak terhingga. Dia tinggi dan lebar, lebarnya sama dengan tingginya. Mereka juga berkata Tuhan itu nur yang bercahaya seperti perak yang bersih dan mutiara yang bulat. Dakwaan itu adalah bohong dan tidak ada bukti yang membenarkan dakwaan mereka.
Mereka juga menghadkan sifat-sifat Allah yang maha sempurna itu dengan menyatakan ilmu Allah itu terhad. Mereka berkata, “Adalah mustahil Allah itu mengetahui segala sesuatu secara berpanjangan.” Mereka mendakwa Allah mengetahui suatu dengan didahulukan tetapi tidak mengetahuinya terlebih dahulu. Mereka berkata al-Quran itu tidak khalik (pencipta) dan bukan makhluk (diciptakan). Ia adalah perbuatan Allah seperti juga ilmunya. Mereka membenarkan derhaka kepada para nabi sedangkan imam-imam pula bersifat maksum. Mereka berhujah, nabi itu diwahyukan padanya.
- Hisyam bin Salam bin al-Jawaqi: Mereka lebih melampau lagi dengan membawa pegangan Mujasad dan Musyabihat. Mereka berpegang dengan fahaman yang menyatakan Allah itu berupa manusia yang tidak berdaging dan berdarah. Dia adalah cahaya yang putih yang mempunyai pancaindera yang lima. Mereka mendakwa Allah mempunyai tangan, kaki, hidung, mulut, mata dan telinga. Dia mendengar dengan yang lain daripada apa yang dia melihat dengannya. Seluruh pancainderanya berbeza-beza antara satu sama lain, separuh yang di atasnya berongga dan separuh yang di bawahnya tidak, mempunyai cahaya hitam dan putih, iradahnya. (berkehendak) ialah harakat (gerak). Sifat ini bukannya sifat bagi Allah dan bukan lain daripadanya. Apabila dia menghendaki sesuatu, dia bergerak. Maka berlakulah seperti kehendaknya.
Qaramitah & Duruz
Mereka adalah pengikut kepada Hamdan bin al-As’as yang terkenal dengan Hamdan Qirmit. Qirmit bermakna melangkah pendek apabila berjalan. Ini kerana Hamdan dilihat pada zahirnya sebagai seorang yang bersifat zuhud dan fakir. Dia menetap di kampung daerah Teluk Parsi dengan mendirikan sebuah kawasan dan menamakannya dengan Darul Hijrah kononnya mengikut contoh nabi. Selepas berjaya mendapat pengaruh, dia menyebarkan ajarannya di daerah sekitarnya.
Ajarannya juga berfahaman kebatinan. Antara cara dia mengumpul pengikut dan menegakkan ajarannya adalah dengan mengumpulkan harta yang menjadi milik bersama sehingga masing-masing mempunyai senjata bagi menentang sesiapa yang menghalang.
Masalah makan minum diatasi dengan cara berkongsi. Kemudian, dia membawa pengikutnya supaya bergaul bebas antara lelaki dan perempuan dengan tujuan berjinak-jinak dan berkasih sayang.
Pada tahun 513 Hijrah (12 Januari 930) , mereka menyerang Mekah dengan bala tentera yang dipimpin oleh Abu Tahir al-Janabi. Pada Hari Raya Haji, mereka membunuh jemaah yang datang ke masjid dan orang-orang yang tawaf. Mereka masuk ke dalam Kaabah dengan berkuda, kencing semasa tawaf, mencabut Hajarul Aswad dan mengambil perhiasan Kaabah sambil mencaci secara mengejek.
“Kalaulah rumah ini menjadi Tuhan, nescaya dia menyiram api neraka ke atas kita. Sesungguhnya kami tinggalkan jenazah-jenazah antara telaga zam-zam dan bukit Safa yang tidak mahu kepadanya melainkan Tuhan yang mengaku Tuhan.”
Batu Hajarul Aswad menjadi rampasan mereka selama 20 tahun sehingga tentera Islam dapat mengalahkan mereka dan mengambil semula Hajarul Aswad.
Duruz
Mereka adalah kumpulan yang berasal daripada golongan pelampau Syiah yang pernah menegakkan Kerajaan Fatimiah di Utara Afrika. Pengikut kepada Muhammad bin Ismail al-Duruzi, yang berbangsa Turki. Sebahagian sarjana menyatakan dia berbangsa Parsi. Dia menjadi penyokong kuat kepada raja al-Hakim Biamrillah yang mengaku menjadi Tuhan. Dia dengan beraninya mengisytiharkan raja itu sebagai Tuhan di salah sebuah masjid di bandar Kaherah, Mesir. Kemudian, dia mengajak orang ramai beriman dan beribadah kepadanya tetapi golongan Durzi melaknatnya dan tidak menghormatinya lagi. Golongan Durzi mendakwa mereka adalah pengikut kepada Hamzah bin Ali al-Zuzani al-Farisi yang bergelar al-Hadi yang juga kenalan rapat al-Hakim Biamrillah.
Al-Hakim memeritahnya supaya menerima jawatan pemimpin menyeru kepada fahaman Ismailiah dengan gelaran al-Sannadu al-Hadi dan diperintah supaya menjadikan Lembah Tim sebagai pusat kegiatannya. Apabila al-Hakim Biamrillah menghilangkan diri, golongan Durzi berpendapat dia menghilangkan dirinya bagi membuang kotoran murid-muridnya. Dia akan kembali semula apabila kezaliman di dunia ini sampai ke puncaknya dan dia kembali semula bagi menghitungkan orang-orang bukan Islam.
Terlalu payah mendapat rujukan mengenai dengan ajaran mereka kerana mereka sangat merahsiakannya. Mereka tinggal berasingan daripada orang ramai iaitu di kawasan bukit-bukau dan pergunungan di Lubnan. Walau bagaimanapun, mereka adalah pecahan daripada fahaman Ismailiah bil Batiniah. Antara perkara yang menjadi kepercayaan mereka adalah:
- Mempercayai tanasukh, iaitu roh berpindah daripada orang yang sudah mati kepada jasad orang lain. Alasan mereka adalah walaupun jasadnya mati namun rohnya tetap hidup. Mereka juga berkata, “Iblis lahir dalam tubuh Nabi Adam, kemudian berpindah ke tubuh Nabi Nuh, kemudian ke tubuh Nabi Ibrahim, kemudian ke tubuh Nabi Musa kemudian ke tubuh Nabi Isa, akhirnya ke tubuh Nabi Muhammad.” Mereka berkata pula, “Syaitan itu lahir dalam tubuh Nabi Adam. Kemudian ke dalam tubuh Sam bin Nuh, kemudian ke dalam tubuh Nabi Ismail, kemudian ke dalam tubuh Yushak, kemudian ke dalam tubuh Syam’un al-Shafa, kemudian ke dalam tubuh Ali bin Abi Talib, kemudian ke dalam tubuh Qidah (salah seorang pemimpin golongan Qaramitah).
- Ruh orang yang mati akan kembali semula ke dunia ke dalam tubuh kanak-kanak yang baru dilahirkan.
- Percaya kepada Injil dan al-Quran dengan cara memilih ayat yang boleh ditakwil dan meninggalkan ayat-ayat yang tidak boleh ditakwil. Mereka berkata juga al-Quran itu diwahyukan kepada Sulaiman al-Farisi. Kemudian ia diambil oleh Muhammad dan dia menisbahkannya kepada dirinya. Mereka menamakan al-Quran dalam buku-buku mereka dengan al-Mastur al-Mubin.
- Mereka cenderung tidak mengerjakan ibadah dan jihad kerana mereka percaya Raja al-Hakim Biamrillah menjelma kepada mereka pada awal tahun 804 Hijrah lalu menggugurkan perintah sembahyang, puasa, zakat, haji, jihad, wilayah dan syahadah.
Al-Ismailiah al-Waqifah
Golongan ini dianggap sebahagian daripada Syiah yang radikal dan terkeluar daripada agama Islam. Mereka percaya, yang menjadi Imam adalah Ismail bin Jaafar as-Sadiq, tetapi Isna Ashariah tidak mengiktiraf fahaman ini dan tidak mengiktiraf Ismail menjadi Imam selepas Imam Jaafar as-Sadiq meninggal dunia. Menurut mereka, Ismail adalah seorang yang melakukan kerja-kerja maksiat yang termasuk dalam dosa besar seperti meminum arak dan sebagainya. Namun, pengikut fahaman Ismailiah berkata, “Tidak mengapa dia mengerjakan dosa besar kerana dia maksum. Apabila dia minum arak, dia minum di bawah ilmu Allah.”
Menurut Imam Abu Hasan al-Asy’ari, daripada fahaman Ismailiah ini juga lahirnya fahaman Qaramitah yang mengikut ajaran batiniah. Kemudian golongan Ismailiah bertelingkah dalam isu kematian Ismail.
Ada di kalangan mereka yang berpendapat, Ismail tidak mati tetapi berpura-pura mati sebagai taqiah (menyelamatkan diri) daripada menjadi mangsa pemerintahan Abbasiah. Ada juga yang berpendapat, Ismail sebenarnya sudah mati maka anak-anaknya pula yang menjadi imam setepasnya. Ada juga berpendapat, yang menjadi imam selepas Ismail adalah anaknya Muhammad bin Ismail. Buku ini akan membincangkan dengan lebih terperinci apabila memasuki fahaman Ghulah yang dianggap terkeluar daripada Islam.
GHULAH AL-SYIAH
Mereka adalah terdiri daripada kumpulan fahaman Syiah yang dihukum keluar daripada Islam walaupun mereka mengaku sebagai pengikut Islam, kerana fahaman yang menjadi pegangan mereka membatalkan akidah. Antara fahaman-fahaman itu adalah:
Al-Saba’iah
Mereka adalah pengikut ajaran yang dibawa oleh Abdullah Inn S,di,r. Dia berasal daripada agama Yahudi kemudiannya mengaku Islam. Dia pernah berkata kepada Ali, “Awak adalah awak” Ia bermaksud, awak adalah Tuhan. Lalu dia dihalau ke Madyan. Selepas Ali meninggal dunia, dia menyebarkan ijarannya. Antara ajarannya, Yushak bin Nun adalah orang s.mg diwasiatkan oleh Musa, Ali juga diwasiatkan oleh Nabi Muhammad. Selepas itu, ajaran itu berkembang daripadanya luhaman-fahaman radikal yang lain. Kemudian, dia mendakwa Ali sebenarnya tidak mati. Beliau datang bersama awan, guruh .idalah suaranya, kilat ialah senyumnya, apabila bumi dipenuhi kezaliman, Ali turun memenuhi dengan keadilan. Kemudian dia membawa fahaman tanasukh al-arwah (selepas roh berpisah daripada jasad seseorang, roh itu berpindah pula ke jasad yang lain). Fahaman itu berasal daripada kepercayaan agama Hindu. Kemudian dia menyatakan, Tuhan menjelma ke dalam diri imam-imam yang dilantik selepas Ali.
Ismailiah
Pada awalnya fahaman ini seperti yang dijelaskan berhubung dengan Ismailiah al-Waqifah, iaitu mereka berpendapat imam mereka adalah Ismail binjaafar as-Sadiq. Oleh itu, mereka berselisih faham dengan golongan yang menyatakan imam selepas Jaafar adalah Musa al-Kazim. Golongan yang berpendirian sederhana mengakui Imam Musa al-Kazim. Mereka menyatakan Ismail menjadi imam yang disimpan dahulu seperti Hasan bin Ali di mana anak-anaknya tidak harus menjadi imam apabila dia meninggal dunia. Tetapi golongan Ismailiah ini berpendapat Ismail juga terus meninggalkan pusaka menjadi imam kepada anak-anaknya seperti juga Husain bin Ali. Ada juga di kalangan mereka yang berpendapat Jaafar melantik Musa sebagai penggantinya kerana untuk memelihara keselamatan Ismail, yang sebenar menjadi imam ialah Ismail bukannya Musa.
Akidah mereka terkeluar daripada Islam kerana diresapi oleh perkara-perkara yang membatalkan akidah seperti membezakan syariat Allah dan menafikan tempat-tempatnya. Mereka berpecah kepada beberapa fahaman:
Al-Batiniah
Golongan ini digelarkan dengan nama al-Batiniah kerana mereka berkata, “Syariat Allah itu ada lahir dan batinnya, begitu juga dengan ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad”, mereka menghurai ayat-ayat Allah dan hadis Nabi Muhammad dengan cara yang menyeleweng daripada maknanya yang sebenar berpandukan Nabi Muhammad, para sahabat, tabi’in dan sarjana Islam yang diiktiraf. Mereka mendakwa imam itu ada yang tersembunyi.
Antara akidah mereka seperti yang dinyatakan dalam buku mereka adalah, Allah menjadikan dirinya kemudian kedua-duanya mentadbir alam ini. Mereka juga menafikan mukjizat. Menafikan turunnya malaikat membawa wahyu dari langit. Mereka menuduh nabi-nabi adalah orang-orang yang mahu jawatan menjadi ketua semata-mata. Mereka berpendapat hukum-hukum syariat itu boleh ditakwil. Sembahyang ditakwil dengan dengan taat kepada imam. Haji itu menziarahi imam. Puasa itu menahan rahsia imam bukannya tidak makan. Berzina itu adalah mendedahkan rahsia imam mereka juga berkata,
“Sesiapa yang tahu makna hakikat ibadah, gugur fardu ibadah daripadanya dengan mentakwilkan kata-kata Allah surah aJ-Hijr, ayat 99,
“Sembahlah Tuhanmu sehingga kamu yakin.”
Mereka juga menimbulkan syak kepada al-Quran, Taurat, Zabur dan Injil, membatalkan hukum syariat, tidak percaya kepada hidup semula selepas mati dan menolak adanya malaikat dan jin. Antara masalah-masalah dalam al-Quran yang dijadikan bahan perbincangan mereka adalah,
“Huruf-huruf yang menjadi permulaan surah-surah al-Quran dengan takwil-takwil yang direka.”
Antara cara yang dilakukan bagi mempengaruhi orang ramai adalah dengan menagih simpati dan menyokong Ahli Bait yang menjadi sasaran tekanan pada zaman Umawiyah dan Abbasiah.
Gerakan ini bertolak daripada gerakan Abdullah bin Saba’ yang bergabung dengan golongan Ismailiah. Antara tokoh mereka adalah al-Mughirah bin Said al-A ‘jali yang selalu datang berjumpa Imam Muhammad Baqir. Kemudian dia memutarbelitkan ajaran yang sebenar, antaranya mentafsirkan kenyataan Allah surah an-Nahl, ayat 90,
“Sesungguhnya Allah menyeru kepada keadilan, berbuat baik dan memberi hak kepada kaum keluarga dan melarang daripada kejahatan dan mungkar.”
Dia berkata “Adil dan ihsan itu adalah Fatimah dan Ali, kaum kerabat adalah Hasan dan Husain, kejahatan itu adalah Abu Bakar dan mungkar itu Umar.”
Apabila Imam Muhammad al-Baqir mengetahui penyelewengan al-Mughirah, beliau menolak dengan sekeras-kerasnya dan menjauhkan diri daripadanya.
Pada akhirnya al-Mughirah bertindak lebih melampau lagi sehingga mengatakan Ali boleh menghidupkan orang mati dan mengetahui perkara yang ghaib. Kemudian dia melantik dirinya menjadi imam sehingga mengaku menjadi Tuhan.
Kemudian lahir pula muridnya yang bernama Abu Mansur al-A’jali yang berkata, “Nabi itu tidak berakhir dengan Nabi Muhammad. Pintu-pintunya terbuka kepada golongan Ismailiah.”
Abu Mansur sendiri mengaku dirinya menjadi nabi. Ajaran ini dihidupkan pada zaman sekarang oleh golongan Baha’i.
Antara tokohnya juga adalah Maimun bin Dishan yang berasal daripada pengikut agama Yahudi. Kemudian dia menganut Islam dan menganut ajaran Batiniah. Dia membawa fahaman yang menyatakan imam itu mempunyai sifat maksum yang tidak terhingga kerana pelantikannya daripada Allah. Dia wajib bersifat memelihara syariat sejak azali dan berada dalam ilmu Allah yang qadim, bersama nur yang awal, berpindah daripada nabi kepada imam. Bagi memelihara rahsia fahamannya, dia membahagikannya kepada tujuh martabat. Seseorang itu tidak naik ke martabat yang lebih tinggi melainkan selepas berjaya diuji.
Isna Ashariah (Imam 12)
Fahaman Imamiah juga dikenali sebagai Isna Ashariah tetapi ada di kalangan mereka seperti Kasyaf al’Ghita’. Dia adalah salah seorang sarjana mereka pada zaman moden. Mereka juga menganut agama tauhid semata-mata, menolak fahaman yang menyatakan Allah serupa dengan makhluk, menolak sifat-sifat kekurangan, menolak ajaran tanasuh al-ruh, mujassimah, hulul dan ittihad. Golongan ini yang dikenali dengan Isna Ashariah Jaafariah pada hari ini menolak fahaman-fahaman yang bercanggah dengan dasar-dasar akidah yang dianuti oleh sebahagian daripada aliran-aliran sebelumnya dan menganggapnya kafir.
ISNA ASHARIAH (IMAM 12)
Fahaman Imamiah juga dikenali dengan Isna Ashariah tetapi ada di kalangan mereka seperti Kasyaf al-Ghita’. Dia adalah salah seorang sarjana mereka pada zaman moden Mereka juga menganut agama tauhid semata-mata, menolak fahaman yang menyatakan Allah serupa dengan makhluk, menolak sifat-sifat kekurangan, menolak ajaran tanasuh al-ruh, mujasimah, hulul dan ittihad. Golongan yang dikenali dengan Isna Ashariah Jaafariah pada hari ini menolak fahaman-fahaman yang bercanggah dengan dasar-dasar akidah yang dianuti oleh sebahagian daripada aliran-aliran sebelumnya dan menganggapnya kafir.
Mereka juga menambah rukun iman yang ke-6 iaitu percaya kepada imam. Menurut mereka, jawatan imam adalah anugerah Tuhan sebagaimana nabi. Allah menyuruh nabinya supaya menunjukkan imam melalui bukti al-Quran. Apabila nabi menyampaikan ajarannya daripada Allah maka imam menyampaikannya daripada nabi. Mereka percaya imam adalah maksum (terpelihara) daripada dosa seperti nabi.
Dalam ilmu fikah, mereka berselisih pendapat dengan Ahli Sunnah wal Jamaah dalam perkara nikah Mut’ah (kahwin bertempoh). Mereka mengharuskan nikah ini walaupun Ahli Sunnah mengharamkannya. Mereka menjamakkan sembahyang di tempat tinggal, sembahyang Jumaat ditangguhkan sehingga lahirnya imam yang ghaib iaitu Imam Mahdi, sembahyang hari raya hukumnya wajib. Sembahyang tarawih tidak dilakukan secara berjamaah. Menambahkan azan dengan kalimah ‘Aku bersaksi Ali itu wali Allah’ dan ‘Marilah mengerjakan perbuatan baik” dan lain-lain lagi.
Dalam ilmu tafsir dan rujukan hadis, mereka dapat memastikan laporan Ahli Bait yang diambil daripada Ali bin Abi Talib. Mereka tidak mengiktiraf laporan Abu Hurairah dan sahabat-sahabat yang lain. Begitu juga buku-buku tafsir seperti Tafsir al-Tabari, al-Qurtubi, Ibnu Katsir dan sebahagiannya dan buku-buku hadis seperti Al-Muwatha’ karangan Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, Sahih Bukhari dan Muslim dan buku al-Arba’ah.
Sejarah Syiah Imamiyyah
Mereka adalah golongan Syiah yang kedua terbesar dan berusaha supaya lebih hampir pada perpaduan dengan umat Islam seluruhnya. Golongan Syiah ini adalah paling ramai pengikutnya, iaitu dua pertiga penduduk Iran, separuh daripada penduduk Iraq, sebahagian penduduk Lubnan, beberapa juta di India dan di Asia Tengah yang dijajah oleh komunis Rusia.
Mereka dikenali juga dengan nama fahaman Jaafariah iaitu menyandarkan kepada Imam Jaafar as-Sadiq yang dianggap sebagai pemimpin besar yang menjadi ikutan. Beliau diakui oleh seluruh sarjana Islam termasuk juga sarjana Ahli Sunnah wal Jamaah. Imam Jaafar as-Sadiq adalah sarjana mujtahid, kaya dengan ilmu, warak dan zuhud yang tidak melampau pandangannya. Namun, timbul beberapa pendapat yang berbeza daripada pendapatnya selepas beliau meninggal dunia.
Mereka dikenali juga dengan nama fahaman Isna Ashariah (Imam 12) kerana mereka menentukan 12 imam iaitu:
1. Ali bin Abu Talib
2. Hasan bin Ali
3. Husain bin Ali
4. Ali bin Husain (Zainal Abidin)
5. Muhammad bin Ali bin Hussin (Muhammad Baqir)
6. Jaafar bin Muhammad (as-Sadiq)
7. Musa bin Jaafar (al-Kazim)
8. Ali bin Musa (al-Rida)
9. Muhammad bin Ali (aljawad)
10. Ali bin Muhammad (al-Hadi)
11. Hasan bin Ali (al-Askari)
12. Muhammad bin Husain (al-Mahdi). Beliau hilang pada tahun 329 Hijrah. Pengikut Imamiah percaya beliau akan lahir menjadi Imam Mahdi pada akhir zaman.
Kemudian mereka berpecah pula kepada beberapa fahaman yang mempunyai pegangan dan akidah yang berlainan antara satu sama lain, Sebahagiannya terpesong daripada ajaran Imam Jaafar as-Sadiq.
BAQIRIAH DAN JAAFARIAH
Mereka adalah pengikut kepada Muhammad Baqir, imam yang ke-5 menurut senarai imam-imam mereka. Mereka juga pengikut anaknya Imam Jaafar as-Sadiq iaitu imam yang ke-6. Para pengikutnya berkata, kedua-duanya adalah imam seperti Zainal Abidin yang menjadi imam sebelum daripada keduanya, tetapi di kalangan mereka ada yang berpendapat:
1. Yang menjadi imam mesti daripada keturunan mereka berdua.
2. Yang menjadi Imam adalah Ali, kemudian sumber menetapkan Hasan, diikuti Husain, kemudian kepada anaknya yang bernama Ali kemudian kepada Baqir. Sekiranya Baqir masih hidup, beliau dikatakan bakal menjadi Imam Mahdi pada akhir zaman.
Walau bagaimanapun, Baqir meninggal dunia sebelum menepati ramalan mereka. Mereka melantik anaknya iaitu Jaafar menjadi imam. Imam Jaafar as-Sadiq tinggal di Madinah. Golongan Syiah menganggap Jaafar mempunyai rahsia-rahsia ilmu. Jaafar berpindah ke negara Iraq. Beliau menolak sekeras-kerasnya pendapat-pendapat yang yang diada-adakan oleh mereka yang mendakwa sebagai pengikutnya dan pendapat itu bercanggah dengan Islam. Antara fahaman mereka: Hilangnya imam, berpindah roh orang yang mati ke dalam roh orang-orang yang masih hidup atau kembali semula ke alam dunia selepas mati, menyerupakan Tuhan dengan makhluk, menolak fahaman Muktazilah, Jabariah dan penyelewengan-penyelewengan yang lain dan melaknat sekeras-kerasnya mereka yang menyeleweng itu. Namun, pengikut-pengikutnya berpecah selepas beliau meninggal dunia, antaranya:
Nawusiah
Pengikut bernama Nawus dan sebahagian sarjana menamakannya Ibnu Nawus. Mereka berpendapatJaafar as-Sadiq dipilih menjadi imam berdasarkan sumber daripada Imam Baqir. Jaafar as-Sadiq dipercayai masih hidup hingga sekarang dan beliau bakal menjadi Imam Mahdi pada akhir zaman. Ada juga yang berpendapat, Ali akan hidup semula bagi memenuhi bumi dengan keadilan. Kemudian golongan yang bernama Saba’iah bergabung dengan golongan ini.
Al-lfthahiah atau Al-A’mariah
Mereka adalah pengikut Amar yang disandarkan kepada Abdullah al-Aftah, anak Imam Jaafar as-Sadiq. Mereka percaya, Imam Jaafar berpesan supaya melantik anaknya Abdullah menjadi imam. Namun, Abdullah meninggalkan dunia 70 hari selepas ayahnya meninggal dunia.
Al-Sumaitiah
Mereka adalah pengikut Yahya bin Abi al-Syumaith yang juga menjadi pengikut kepada al-Muhtar bin Abi Ubaid al-Thaqafi dan terbunuh bersamanya. Mereka berpendapat, imam itu dilantik melalui sumber daripada Imam Jaafar kepada anaknya. Manakala bakal Imam Mahdi adalah daripada kalangan anak-anaknya. Imam itu dipilih daripada anak-anak Imam Jaafar secara turutan iaitu Ismail, Muhammad, Abdullah al Aftah dan Ishak.
AL-MUSAWIYAH DAN AL-MAFADLIAH
Mereka adalah kumpulan yang percaya yang menjadi imam adalah Musa binjaafar al-Kazim. Ketua kumpulan ini adalah al-Faisal bin Umar. Mereka percaya, Musa al-Kazim masih hidup. Beliau pernah dibawa masuk berjumpa dengan Khalifah Harun ar-Rashid dan tidak keluar lagi. Beliau juga diramal akan keluar menjadi Imam Mahdi. Menurut sejarah, Imam Musa ditahan kemudian meninggal dunia (syahid) kerana diracun. Kemudian golongan ini berpecah pula kepada beberapa fahaman:
Al-Maaturah
Mereka yang berpendapat tidak tahu sama ada Imam Musa masih hidup atau sudah mati.
Al-Quda’yah
Mereka yang mengambil keputusan Imam Musa sudah mati.
Al-Waqifah
Mereka yang berpendapat, Imam Musa tidak mati sebaliknya beliau akan lahir semula selepas ghaib.
T
Sejarah Syiah Zaidiyyah
Mereka adalah pengikut Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin. Imam Zaid dikenali sebagai Abu Muhammad dan Abu Hasan. Aliran ini dianggap paling hampir dengan fahaman Ahli Sunnah wal Jamaah. Mereka tidak menganggap martabat imam itu sama seperti martabat nabi-nabi. Mereka tidak mengkafirkan para sahabat nabi Muhammad. Mereka berpendapat Imam Zaid paling layak menjadi imam selepas Husain bin Ali meninggal dunia. Kemudian, ia diikuti zuriat daripada keturunan Fatimah az-Zahra”. Mereka mengiktiraf Abu Bakar, Umar sebagai imam negara Islam walaupun mereka percaya Ali lebih layak. Ini kerana, orang yang kurang syaratnya boleh menjadi khalifah walaupun ada orang yang paling layak dan imam tidak mestinya maksum. Dalam perkara Tauhid mereka lebih hampir kepada Muktazilah, tetapi dalam perkara Fikah mereka lebih hampir kepada mazhab Syafie. Pengikut mereka masih ramai di negeri Yaman dan sedikit di Asia Tenggara.
Imam Zaid gugur syahid bersama-sama beberapa orang pengikutnya ketika mereka keluar menentang tentera kerajaan Umawiah di bawah pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik. Peristiwa itu berlaku pada hari Isnin 2 Safar tahun 122 Hijrah ketika Imam Zaid berusia 42 tahun. Kemudian anaknya Yahya bin Zaid menjadi imam, Yahya juga dibunuh pada akhir kerajaan Umaiyah, kemudian kepimpinan mereka beralih kepada Muhammad bin Abdullah bin Hassan bin Hassan bin Ali bin Abi Talib yang lahir di Madinah tetapi beliau terbunuh pada zaman kerajaan Abbasiah. Imam Abu Hanifah (imam fahaman Hanafi) bersimpati dengannya dan melafaz ikrar setia sehingga Abu Hanifah dihukum penjara oleh Abu Jaafar al-Mansur dan meninggal dunia dalam penjara.
Fahaman Zaidiah berpecah kepada 3 aliran:
Jarudiah
Pengikut kepada Abu Jarud (Sulaiman bin Zaid bin Abi Zaid). Dia menyeleweng daripada ajaran Imam Zaid. Ajarannyaberfahaman, Hasan bin Ali menjadi imam selepas ayahnya. Selepas Hasan, Husain bin Ali bakal menggantikannya berpandukan wasiat Ali. Di kalangan mereka ada yang berpendapat, Imam Mahdi yang lahir pada akhir zaman adalah Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali yang dikenali dengan Nafsu Zakiah, yang dibunuh syahid pada zaman kerajaan Abbasiah.
Sulaimaniah
Adalah pengikut Sulaiman binjarrir al-Zaidi, mereka mengiktiraf perlantikan Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah walaupun pada mereka Ali lebih layak. Namun, mereka mengecam keras tindakan Uthman, Aisyah, Thalhah dan Zubair kerana menentang Ali bin Abu Talib.
Battariah
Pengikut Hasan bin Soleh bin Yahya. Mereka mengiktiraf perlantikan khalifah Abu Bakar dan Umar dan tidak salah melantik mereka berdua. Perlantikan Uthman tidak boleh dipertikaikan kerana beliau termasuk dalam 10 sahabat yang dijamin syurga oleh Nabi Muhammad. Bagi mereka sebarang kesilapan diserahkan kepada Allah. Kedudukan Ali di sisi mereka adalah manusia paling baik selepas Nabi Muhammad, paling layak menjadi khalifah, tetapi Ali menyerah jawatan itu kepada orang lain secara rela. Mereka juga berpendapat, sesiapa yang menghunuskan pedangnya dengan berani, bersifat zuhud lagi alim di kalangan keturunan Hasan dan Husain, dia layak menjadi imam.
Hasan bin Soleh bin Yahya yang menjadi pemimpin fahaman ini adalah seorang yang alim. Imam Muslim pernah merekodkan hadis daripadanya dan Bukhari menyebut rekodnya dalam buku al-Adabu Mufrad.
Antara imam-imam fahaman Zaidiah yang terkenal adalah Imam Zaid bin Ali, Imam Yahya bin Zaid bin Ali dan Imam Muhammad bin Abdullah al-Nafsu al-Zakiah.
Sejarah Syiah
Menurut Imam Abu Hasan Asy’ari dalam bukunya Maqalaat Islamiyiin dan Asyaharastani di dalam bukunya al-Milal wal Nihal, Syiah adalah nama yang diberi kepada mereka yang mengaku sebagai pengikut Ali dan percaya beliau mempunyai kelebihan berbanding para sahabat lain. Mereka lahir menjadi suatu aliran selepas berlaku ketegangan yang menjadi ukuran peperangan antara Ali dan Muawiyah. Apabila Ali dan generasi pertama Ahli Bayt meninggal dunia, timbul di kalangan mereka pandangan-pandangan yang tersendiri berhubung dengan akidah dan syariah. Antaranya mereka berhujah, kepimpinan negara adalah salah satu daripada rukun dan prinsip Islam. Tidak boleh bagi Nabi membiarkannya dan menyerahkan kepada umat semata-mata. Mereka percaya Imam itu bersifat maksum (suci daripada dosa).
Mereka percaya kedudukan Ali lebih layak menjadi khalifah dan bukannya melalui proses Syura (mesyuarat) sahaja. Mereka mendakwa kelebihan Ali berdasarkan kepada bukti secara terang dan tersembunyi. Bukti terang daripada Nabi Muhammad dengan katanya,
“Siapa yang dia jadikan aku sebagai tuannya maka Ali yang menjadi tuannya.”
Dan Nabi Muhammad berkata lagi,
“Orang yang paling layak menjadi hakim di kalangan kamu adalah Ali”.
Bukti yang tersembunyi adalah Nabi Muhammad menghantar Ali supaya membaca surah at-Taubah kepada jemaah haji, bukannya Abu Bakar.
Oleh itu mereka percaya kepimpinan negara Islam mesti diserahkan kepada Ali bin Abu Talib dan keturunannya. Melantik orang lain bermaksud merampas hak dan melantik orang yang tidak layak. Ada antara mereka menyifatkan perbuatan itu zalim dan kafir.
Akhirnya, Syiah berpecah kepada fahaman-fahaman yang banyak. Ada yang bersikap sederhana dan ada yang radikal.
Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang
Masjid Rusila, Marang, Terengganu
Fatwa Para Ulama tentang Firqah “Jama’ah Tabligh”
Fatwa Para Ulama tentang Firqah “Jama’ah Tabligh”
Kita akan membawa beberapa fatwa (keputusan) para ulama tentang Firqah Tabligh, agar ummat mengerti bahwa kita menuduh mereka sesat bukan dari kita sendiri, tapi kita mengambilnya dari ucapan ulama kita yang mulia, semoga Allah mengampuni mereka yang telah wafat dan menjaga yang masih hidup. Perhatikan ucapan para ulama ini agar terbuka kekaburan yang selama ini menutupi mereka. Dan hendaklah bagi mereka yang masuk ke dalam kelompok ini segera keluar dan yang kagum segera sadar dan membenci, karena kematian itu datangnya tiba-tiba.
1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah
“Dari Muhammad bin Ibrahim kepada yang terhormat raja Khalid bin Su’ud.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Wa ba’du:
Saya telah menerima surat Anda dengan no. 37/4/5/D di 21/1/82H. Yang berkaitan tentang permohonan untuk bekerja sama dengan kelompok yang menamakan dirinya dengan “Kulliyatud Da’wah wat Tabligh Al Islamiyyah.”
Maka saya katakan: Bahwa jama’ah ini tidak ada kebaikan padanya dan jama’ah ini adalah jama’ah yang sesat. Dan setelah membaca buku-buku yang dikirimkan, kami dapati di dalamnya berisi kesesatan dan bid’ah serta ajakan untuk beribadah kepada kubur dan kesyirikan. Perkara ini tidak boleh didiamkan. Oleh karena itu kami akan membantah kesesatan yang ada di dalamnya. Semoga Allah menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 29/1/82H.” (Al Qaulul Baligh hal. 29 dengan diringkas)
2. Syaikh Hummud At Tuwaijiri rahimahullah
“Adapun ucapan penanya: Apakah aku menasehatinya untuk ikut khuruj dengan orang-orang tabligh di dalam negeri ini (Saudi) atau di luar?
Maka saya jawab: Saya menasehati penanya dan yang lainnya yang ingin agamanya selamat dari noda-noda kesyirikan, ghuluw, bid’ah dan khurafat agar jangan bergabung dengan orang-orang Tabligh dan ikut khuruj bersama mereka. Apakah itu di Saudi atau di luar Saudi. Karena hukum yang paling ringan terhadap orang tabligh adalah: Mereka ahlul bid’ah, sesat dan bodoh dalam agama mereka serta pengamalannya. Maka orang-orang yang seperti ini keadaannya, tidak diragukan lagi bahwa menjauhi mereka adalah sikap yang selamat.
Sungguh sangat indah apa yang dikatakan seorang penyair:
Janganlah engkau berteman dengan teman yang bodoh.
Hati-hatilah engkau darinya.
Betapa banyak orang bodoh yang merusak seorang yang baik ketika berteman dengannya.”
(Al Qaulul Baligh, syaikh Hummud At Tuwaijiri hal. 30)
3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah
Pertanyaan:
Di sini ada pertanyaan: Apa pendapat Anda tentang Jama’ah (firqah) Tabligh dan apakah ukuran khuruj ada terdapat dalam sunnah?
Jawab:
Pertanyaan ini adalah pertanyaan penting. Dan aku memiliki jawaban yang ringkas, serta kalimat yang benar wajib untuk dikatakan. Yang saya yakini bahwa da’wah tabligh adalah: sufi gaya baru. Da’wah ini tidak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khuruj yang mereka lakukan dan yang mereka batasi dengan tiga hari dan empat puluh hari, serta mereka berusaha menguatkannya dengan berbagai nash, sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan nash secara mutlak. Sebenarnya cukup bagi kita untuk bersandar kepada salafus shalih. Penyandaran ini adalah penyandaran yang benar. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk tidak bersandar kepadanya. Bersandar kepada para salafus sholih, -wajib diketahui hakikat ini,- bukanlah seperti bersandar kepada seseorang yang dikatakan pemilik mazhab ini atau kepada seorang syaikh yang dikatakan bahwa dia pemilik tarikat ini atau kepada seseorang yang dikatakan bahwa dia pemilik jama’ah tertentu. Berintima’ (bergabung) kepada salaf adalah berintima’ kepada sesuatu yang ‘ishmah (terpelihara dari dosa). Dan berintima’ kepada selain mereka adalah berintima’ kepada yang tidak ‘ishmah. Firqah mereka itu –cukup bagi kita dengan berintima’ kepada salaf- bahwa mereka datang membawa sebuah tata tertib khuruj untuk tabligh (menyampaikan agama), menurut mereka. Itu tidak termasuk perbuatan salaf, bahkan bukan termasuk perbuatan khalaf, karena ini baru datang di masa kita dan tidak diketahui di masa yang panjang tadi. (Sejak zaman para salaf hingga para khalaf). Kemudian yang mengherankan, mereka mengatakan bahwa mereka khuruj (keluar) untuk bertabligh, padahal mereka mengakui sendiri bahwa mereka bukan orang yang pantas untuk memikul tugas tabligh (penyampaian agama) itu. Yang melakukan tabligh (penyampaian agama) adalah para ulama, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dengan mengutus utusan dari kalangan para sahabatnya yang terbaik yang tergolong ulama mereka dan fuqaha` mereka untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Beliau mengirim Ali sendirian, Abu Musa sendirian, dan Mu’adz sendirian. Tidak pernah beliau mengirim para sahabatnya dalam jumlah yang besar, padahal mereka sahabat. Karena mereka tidak memiliki ilmu seperti beberapa sahabat tadi. Maka apa yang kita katakan terhadap orang yang ilmunya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sahabat yang tidak dikirim Nabi, apa lagi dibanding dengan para sahabat yang alim seperti yang kita katakan tadi?! Sedangkan mereka (Firqah Tabligh) keluar berdakwah dengan jumlah puluhan, kadang-kadang ratusan. Dan ada di antara mereka yang tidak berilmu, bahkan bukan penuntut ilmu. Mereka hanya memiliki beberapa ilmu yang dicomot dari sana sini. Adapun yang lainnya, hanya orang awam saja. Di antara hikmah orang dulu ada yang berbunyi: Sesuatu yang kosong tidak akan bisa memberi. Apa yang mereka sampaikan kepada manusia, padahal mereka mengaku (jama’ah) Tabligh?
Kita menasehati mereka di Suriah dan Amman agar duduk dan tinggal di negeri mereka dan duduk mempelajari agama, khususnya mempelajari aqidah tauhid, -yang iman seorang mukmin tidak sah walau bagaimanapun shalihnya dia, banyak shalat dan puasanya-, kecuali setelah memperbaiki aqidahnya.
Kita menasehati mereka agar tinggal di negeri mereka dan membuat halaqah ilmu di sana serta mempelajari ilmu yang bermanfaat dari para ulama sebagai ganti khurujnya mereka ke sana kemari, yang kadang-kadang mereka pergi ke negeri kufur dan sesat yang di sana banyak keharaman, yang tidak samar bagi kita semua yang itu akan memberi bekas kepada orang yang berkunjung ke sana, khususnya bagi orang yang baru sekali berangkat ke sana. Di sana mereka melihat banyak fitnah, sedangkan mereka tidak memiliki senjata untuk melidungi diri dalam bentuk ilmu untuk menegakkan hujjah kepada orang, mereka akan menghadapi, khususnya penduduk negeri itu yang mereka ahli menggunakan bahasanya, sedangkan mereka (para tabligh) tidak mengerti tentang bahasa mereka.
Dan termasuk syarat tabligh adalah hendaknya si penyampai agama mengetahui bahasa kaum itu, sebagaimana diisyaratkan oleh Rabb kita ‘Azza wa Jalla dalam Al Qur`an:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
“Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dia menerangkan kepada mereka.” (Ibrahim: 4)
Maka bagaimana mereka bisa menyampaikan ilmu, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki ilmu?! Dan bagaimana mereka akan menyampaikan ilmu, sedangkan mereka tidak mengerti bahasa kaum itu?! Ini sebagai jawaban untuk pertanyaan ini. (Dari kaset Al Qaulul Baligh fir Radd ‘ala Firqatit Tabligh)
4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan:
Semoga Allah merahmati Anda, ya syaikh. Kami mendengar tentang (firqah) tabligh dan dakwah yang mereka lakukan, apakah anda membolehkan saya untuk ikut serta dengan mereka? Saya mengharap bimbingan dan nasehat dari anda. Semoga Allah memberi pahala kepada anda.
Jawab:
Siapa yang mengajak kepada Allah adalah muballigh, (sebagaimana Nabi bersabda –pent) “Sampaikan dariku walau satu ayat.” Adapun jama’ah (firqah) tabligh yang terkenal dari India itu, di dalamnya terdapat khurafat-khurafat, bid’ah-bid’ah dan kesyirikan-kesyirikan. Maka tidak boleh khuruj (keluar) bersama mereka. Kecuali kalau ada ulama yang ikut bersama mereka untuk mengajari mereka dan menyadarkan mereka, maka ini tidak mengapa. Tapi kalau untuk mendukung mereka, maka tidak boleh, karena mereka memiliki khurafat dan bid’ah. Dan orang alim yang keluar bersama mereka hendaknya menyadarkan dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
Tanya:
Para penuntut ilmu menanya kepada anda dan para ulama kibar (senior) lainnya tentang: Apakah anda menyetujui kalau mereka bergabung dengan kelompok yang ada seperti Ikhwan, Tabligh, kelompok Jihad dan yang lainnya atau anda menyuruh mereka untuk belajar bersama para da’i salaf yang mengajak kepada dakwah salafiyyah?
Jawab:
Kita nasehati mereka semuanya untuk belajar bersama para thalabul ilmi lainnya dan berjalan di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita nasehati mereka semuanya agar tujuannya untuk mengikuti Al Kitab dan sunnah dan berjalan di atas jalan Ahlus sunnah wal Jama’ah. Dan hendaknya mereka menjadi ahlus sunnah atau para pengikut salafus shalih. Adapun berhizb dengan Ikhwanul Muslimin, Tablighi atau yang lainnya, maka tidak boleh. Ini keliru. Kita nasehati mereka agar menjadi satu jama’ah dan bernisbah kepada Ahlus sunnah wal jama’ah. Inilah jalan yang lurus untuk menyatukan langkah. Kalau ada berbagai nama sedangkan semuanya di atas satu jalan, dakwah salafiyyah, maka tidak mengapa, seperti yang ada di Shan’a dan yang lainnya, tapi yang penting tujuan dan jalan mereka satu. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
5. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Ghudayyan hafidhahullah (anggota Hai’ah Kibarul Ulama`)
Pertanyaan:
Kami berada di suatu kampung dan berdatangan kepada kami apa yang dinamakan dengan (firqah) Tabligh, apakah kami boleh ikut berjalan bersama mereka? Kami mohon penjelasannya.
Jawab:
Jangan kalian ikut berjalan bersama mereka!! Tapi berjalanlah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!! (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
6. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidhahullah
Pertanyaan:
Syaikh, di sana ada kelompok-kelompok bid’ah, seperti Ikhwan dan Tabligh serta yang lainnya. Apakah kelompok ini termasuk Ahlus Sunnah? Dan apa nasehat anda tentang masalah ini?
Jawab:
“Kelompok-kelompok ini… Telah diketahui bahwa yang selamat adalah yang seperti yang telah saya terangkan tadi, yaitu kalau sesuai dengan Rasulullah dan para sahabatnya, yang mana beliau berkata ketika ditanya tentang Al Firqatun Najiyah: Yang aku dan para sahabatku ada di atasnya. Firqah-firqah baru dan beraneka ragam ini, pertama kali: bid’ah. Karena lahirnya di abad 14. Sebelum abad 14 itu mereka tidak ada, masih di alam kematian. Dan dilahirkan di abad 14. Adapun manhaj yang lurus dan sirathal mustaqim, lahirnya atau asalnya adalah sejak diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka siapa yang mengikuti ini dialah yang selamat dan berhasil. Adapun yang meninggalkan berarti dia menyimpang. Firqah-firqah itu telah diketahui bahwa padanya ada kebenaran dan ada kesalahan, akan tetapi kesalahan-kesalahannya besar sekali, maka sangat dikhawatirkan.
Hendaknya mereka diberi semangat untuk mengikuti jama’ah yakni Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan yang berada di atas jalan salaf ummat ini serta yang menta’wil menurut apa yang datang dari Rasulullah bukan dengan yang datang dari si fulan dan fulan, menurut tarikat-tarikat yang ada di abad 14 H. Maka kedua kelompok yang tadi disinggung adanya hanya di abad 14 H. Mereka berpegang dan berjalan di atas jalan-jalan dan manhaj-manhaj itu. Mereka tidak berpegang dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan Sunnah, tapi dengan pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran dan manhaj-manhaj yang baru dan bid’ah yang mereka membangun jalan dan manhaj mereka di atasnya.
Dan yang paling jelas di kalangan mereka adalah: Wala` dan Bara`. Al Wala` wal Bara` di kalangan mereka adalah bagi yang masuk ke dalam kelompok mereka, misalnya Ikhwanul Muslimin, siapa yang masuk ke dalam kelompok mereka, maka dia menjadi teman mereka dan akan mereka cintai walaupun dia dari rafidlah, dan akhirnya dia menjadi saudara dan teman mereka.
Oleh karena ini mereka mengumpulkan siapa saja, termasuk orang rafidlah yang membenci sahabat dan tidak mengambil kebenaran dari sahabat. Kalau dia masuk ke dalam kelompok mereka, jadilah dia sebagai teman dan anggota mereka. Mereka membela apa yang dia bela dan membenci apa yang dia benci.
Adapun Tabligh, pada mereka terdapat perkara-perkara mungkar. Pertama: dia adalah manhaj yang bid’ah dan berasal dari Delhi (India –red) bukan dari Mekkah atau Madinah. Tapi dari Delhi di India. Yakni seperti telah diketahui bahwa di sana penuh dengan khurafat, bid’ah dan syirik walau di sana juga banyak Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti jama’ah ahlul hadits, yang mereka adalah sebaik-baik manusia di sana. Tetapi Tabligh ini keluar dari sana melalui buatan para pemimpin mereka yang ahli bid’ah dan tarekat sufi yang menyimpang dalam aqidah. Maka kelompok ini adalah kelompok bid’ah dan muhdats. Di antara mereka ada Sufi dan Asy’ari yang jelas-jelas bukan berada di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dalam aqidah dan manhaj. Dan yang selamat adalah orang yang mengikuti manhaj salaf dan yang berjalan di atas jalan mereka.” (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
7. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah
“Saya tidak pernah khuruj dengan mereka (Firqah tabligh), tapi saya pergi untuk suatu keperluan, yakni ke Kashmir. Setelah selesai dari pekerjaan ini aku melewati Delhi. Maka ada yang mengatakan kepadaku: Mari kita singgah ke suatu tempat untuk dikunjungi, yaitu ke markas Tabligh yaitu di Nizamuddin. Nizamuddin ini adalah masjid yang dekat dengan markas jama’ah tabligh. Di dalamnya ada lima kubur yang diberi kubah. Yakni kuburan yang disembah, bukan menyembah kepada Allah. Ini ibadah yang jelas syirik. Maka kami melewati ‘monumen’ ini. Kemudian kami singgah ke markas tabligh. Orang-orang berselisih apakah di dalamnya ada kuburan atau tidak.
Maku Abdurrab bertanya, ini orang yang saya ceritakan tadi, apakah di dalam masjid Tabligh ini ada kuburan? Yang cerdas di kalangan mereka berkata: Tidak, di sini tidak ada kuburan! Kuburan Ilyas di Mekkah atau di tempat ini atau itu yang jauh. Maka dia terus bertanya hingga ada seseorang yang menunjukkan atau mengabarkan bahwa di sana ada kuburan Ilyas dan di sebelahnya kuburan istrinya.
Kemudian al Akh Abdurrab pergi ke kedua kuburan itu dan mencari-carinya setelah ketemu, dia datang kepada kami sambil berkata: Mari, saya tunjukkan kepada kalian dua kuburannya. Maka kami melihat, ini kuburan Ilyas dan ini kuburan istrinya yang keduanya ada di dalam masjid.
Kemudian setelah itu kami pastikan bahwa di dalamnya ada empat kuburan, bukan dua kuburan saja. Kami memastikannya melalui orang-orang yang dipercaya yang telah berjalan bersama Tabligh bertahun-tahun.
Tidak akan berkumpul masjid dan kuburan (di satu tempat) dalam agama Islam. Akan tetapi, mereka ini karena kesufiannya, kebodohannya terhadap manhaj dakwah para nabi, jauh darinya dan meremehkannya, mereka menguburkan para gurunya di masjid, padahal para ulama telah mengatakan: bahwa shalat di dalam masjid yang ada kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya tidak sah. Saya bertanya tentang hal ini kepada Syaikh Bin Bazz. Sebenarnya saya tahu tentang ini dan juga para Thalabul Ilmi bahwa shalat di dalam masjid yang ada satu kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya tidak sah. Maka saya tanyakan kepada Syaikh Bin Bazz, agar hadirin mendengar jawabannya. Saya katakan: Apa pendapat anda, syaikh, tentang masjid yang ada kuburan di dalamnya, apakah sah shalat di dalamnya? Beliau menjawab: Tidak! Saya katakan: Di dalamnya ada banyak kuburan? Beliau mengatakan: Terlebih lagi demikian! Saya katakan: Kuburannya bukan di kiblat masjid, tapi di sebelah kiri dan kanannya? Beliau menjawab: Demikian juga, tetap tidak sah. Saya katakan kepada beliau bahwa masjid induk atau markas induk tabligh di dalamnya ada beberapa kuburan? Maka beliau menjawab: Tetap shalatnya tidak sah!
Sangat disayangkan sekali, kelompok ini bergerak di dunia, tetapi beginilah keadaannya; tidak mengajak kepada tauhid, tidak membasmi syirik dan tidak membasmi jalan-jalan menuju kesyirikan. Mereka terus berjalan dengan melewati beberapa kurun dan generasi tetap dengan dakwah seperti ini. Tidak mau berbicara tentang tauhid, memerangi kesyirikan dan tidak membolehkan bagi para pengikutnya untuk melaksanakan kewajiban ini. Ini adalah suatu hal yang telah diketahui di kalangan mereka.
Maka kita meminta kepada mereka agar kembali kepada Allah dan mempelajari manhaj dakwah para nabi, mereka juga jama’ah yang lainnya.
Mengapa demikian wahai saudara-saudara? Karena kalau ada yang berdakwah mengajak kepada shalat, orang akan berkata: Silahkan! Tidak ada yang melarang, mereka tidak akan khawatir. Akan tetapi coba kalau mengatakan: Berdo’a kepada selain Allah adalah perbuatan syirik! Membangun kuburan haram hukumnya! Menyembelih untuk selain Allah adalah syirik! Maka mereka akan marah.
Ada seorang pemuda yang berkhuthbah di suatu masjid tentang persatuan, akhlak, perekonomian, dekadensi moral, dan yang lainnya. Orang-orang semuanya, masya Allah, berkumpul dan mendengarkannya. Kita katakan kepadanya: Ya akhi… jazakallahu khairan, khuthbah anda sangat baik, tetapi orang-orang yang ada di hadapanmu ini tidak mengenal tentang tauhid, mereka terjatuh dalam kesyirikan dan bid’ah, maka terangkan kepada mereka tentang manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam! Maka ketika dia mulai berbicara, merekapun mulai bersungguh-sungguh. Ketika dia terus berbicara, merekapun semakin jengkel. Maka ketika yang ketiga kalinya ada sekelompok orang yang ada di masjid bangkit dan memukulinya! Maka dia datang kepadaku sambil menangis. Dia berkata: Aku habis bertengkar dengan mereka, mereka memukuliku! Maka aku katakan kepadanya: Sekarang engkau telah berjalan di atas manhaj dakwah para Nabi. Kalau engkau tetapi seperti dulu bertahun-tahun, engkau tidak akan berselisih dengan seorangpun. Dari sinilah kelompok yang ada ini bergerak, mereka memerangi bagian ini. Nabi bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاء ثُمَّ اْلأّمْثَل فَاْلأَمْثَل
“Seberat-berat manusia diberi cobaan adalah para Nabi, kemudian yang selanjutnya dan kemudian yang selanjutnya.”
Karena mereka menghadapi berbagai gangguan yang hanya Allah yang tahu tentang kerasnya gangguan itu ketika mereka berdakwah kepada tauhid dan membasmi kesyirikan. Dari sinilah para da’i yang mengajak kepada tauhid dan membasmi syirik malah disakiti. Kalau dakwah Ikhwan dan Tabligh disenangi manusia karena meremehkan sisi ini. Tapi kalau aku berkhuthbah di masjid seperti ini, sedikit sekali yang mau mendengarku dan menerima dakwahku, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Kalau aku berdakwah mengajak shalat, mereka akan berkata: silahkan. Tapi kalau aku berdakwah untuk bertauhid dan memerangi kesyirikan, semuanya akan lari dan merasa asing. Inilah dakwah para Nabi.
Inilah dasarnya mengapa mereka menjadi manusia yang paling banyak ganngguannya. Sekarang para salafiyyun, para da’i kepada tauhid keadaan mereka dikaburkan oleh manusia. Karena banyaknya fitnah, kebohongan-kebohongan dan tuduhan dusta yang ditujukan kepada mereka. Mengapa? Karena mereka mengajak untuk mentauhidkan Allah!
Kelompok ini tidak bisa masuk ke dalam lapangan ini, karena mereka takut kepada sisi ini. Tetapi mereka akan ditanya di hadapan Allah. Demi Allah, telah datang kepada kami seseorang atau segolongan Tabligh di Benares, di sebuah rumah yang saya tempati dengan syaikh Shalih Al Iraqi. Mereka berkata: Kami dengar kalian datang, kami sangat senang, maka kami datang mengunjungi kalian agar kalian ikut bersama kami berdakwah kepada Allah. Dan tempat kami adalah masjid ini. Maka kami juga gembira dan mendatangi masjid itu, ternyata masjid itu tempat tarikat Berelwian. Mereka adalah para penyembah berhala dan sangat keterlaluan dalam penyembahan itu.
Mereka meyakini bahwa para wali bisa mengetahui perkara yang ghaib dan mengatur alam. Mereka membolehkan untuk bernadzar, menyembelih, sujud dan ruku’ kepada kuburan. Singkat kata: mereka adalah golongan penyembah berhala. Maka Syaikh Shalih pergi dan bersama kami ada seorang penerjemah, namanya Abdul Alim, sekarang dia ada di Rabithah Al Alam Islami. Kami bawa orang ini untuk menerjemahkan ucapan syaikh. Maka syaikhpun berbicara. Setiap selesai berbicara beliau melihat kepada penerjemah agar diterjemahkan. Maka penerjemahpun akan bergerak, maka ternyata pemimpin tabligh melihat dan berkata: Tungguh, saya yang akan menerjemahkan. Maka syaikh terus berbicara, tapi tidak ada seorangpun yang menerjemahkan. Hingga ceramahnya selesai. Ketika selesai acara itu dia mengucap salam dan malah pergi. Maka kami tetapi di situ menunggu terjemah. Dia berkata: Saya ada keperluan, biar orang ini yang menerjemahkan. Maka kami shalat Isya’ sambil menunggu terjemahan ceramah itu, tapi tidak kunjung diterjemahkan. Maka saya temui lagi orang itu dan mengatakan: Ya akhi, kami datang ke tempat kalian ini bukan untuk main-main. Tapi kalian tadi meminta kepada kami untuk ikut serta bersama kalian berdakwah, maka kamipun datang menyambut ajakan kalian. Dan syaikh tadi telah berbicara. Ketika penerjemah akan menerjemah engkau malah melarangnya. Dan engkau menjanjikan akan menerjemahkannya, tapi engkau tidak lakukan sedikitpun. Maka dia berkata: Ya akhi, engkau tahu?! Masjid ini milik Khurafiyyin!! Kalau kita berbicara tentang tauhid, mereka akan mengusir kita dari masjid. Maka saya katakan: Ya akhi, apakah seperti ini dakwah para Nabi? Ya akhi, dakwah kalian sekarang menyebar di penjuru dunia. Kalian pergi ke Amerika, Iran dan Asia, kalian tidak dapati sedikitpun perlawanan selama-lamanya. Apakah seperti ini dakwah para Nabi? Semua manusia menerimanya dan menghormatinya? Dakwah para Nabi padanya ada pertempuran, darah, kesusahan-kesusahan dan lain-lain. Kalau engkau diusir dari suatu masjid, berdakwahlah di masjid lain atau di jalan-jalan atau di hotel-hotel. Katakan kalimat yang haq dan tinggalkan. Rasul saja diusir dari Mekkah karena sebab dakwah ini. Kemudian saya tanya sudah berapa lama dakwah ini berjalan? Dia berkata: Belum tiga puluh tahun. Saya katakan: Kalian telah menyebar di India, utara dan selatan. Dan engkau melihat fenomena kesyirikan di hadapanmu dan telah mati berjuta-juta orang. Sudah berapa juta orang yang mati selama itu dalam keadaan berada di atas kesesatan, kesyirikan dan bid’ah yang kalian sebarkan ini?! Dan engkau belum menerangkan hal itu kepada mereka! Apakah engkau tidak merasa kalau engkau akan ditanya di hadapan Allah karena engkau menyembunyikan kebenaran ini dan tidak menyampaikannya kepada para hamba Allah?! Diapun diam. Maka aku permisi dan keluar.
Mereka menyembunyikan kebenaran yang dinyatakan Al Qur`an. Dan mereka tidak menegakkan panji-panji tauhid dan tidak mau menyatakan peperangan kepada kesyirikan dan bid’ah. Mereka ini terkena ayat Allah:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ
“Sesungguhnya orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al Baqarah: 159).
Apa yang mereka dapati kalau mereka telah menyembunyikan kebenaran yang paling nyata?! Dan hal yang paling besar yang bukti-bukti itu berdiri di atasnya?! Bukti-bukti yang paling besar adalah ayat-ayat tauhid. Dakwah yang paling besar yang dilakukan para nabi dan Al Qur`an adalah tauhid. Dan yang paling jelek dan bahaya adalah syirik dan bid’ah. Al Qur`an dan Sunnah telah memeranginya. Kemudian mereka malah setuju dan bersama kesyirikan, bid’ah, dan para pendukungnya sampai mati. Berapa banyak orang yang mati di bawah panji ini dalam keadaan tidak tahu kebenaran tauhid selama itu?! Dan dalam keadaan tidak bisa membedakan antara tauhid dengan syirik?!
Kalau mereka tidak dihisab karena menyembunyikan ayat tauhid, maka siapa lagi yang dihisab?
Kita berharap kepada Allah agar menjadi orang yang menolong agama ini dan menasehati kaum muslimin. Dan agar Allah menjauhkan kita dari sifat menipu dalam agama, karena membiarkan bid’ah dan syirik adalah penipuan yang paling besar. Tidak ada penipuan yang bisa menyaingi penipuan ini. Kalau menipu manusia dalam perdagangan saja Rasulullah berlepas tangan, maka bagaimana lagi kalau menipu dalam agama? Bagaimana engkau bisa diam terhadap kesyirikan dan bid’ah?! Engkau merusak aqidah kaum muslimin dan masyarakat mereka. Kemudian engkau mengatakan: Kita semua kaum muslimin, bersaudara dan engkau tidak menerangkan mana yang haq dan mana yang batil?! Kita memohon kepada Allah agar Dia menjaga kita dari penyakit ini.” (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
8. Syaikh Shalih bin Abdullah Al Abud hafidhahullah
Adapun tabligh… ketika Khilafah Utsmaniyyah runtuh bangkitlah firqah ini dengan pemikiran jama’ah ini, firqah tabligh. Dan mereka membuat dasar-dasar untuk para pengikutnya dengan nama “Ushulus Sittah” yang mereka dakwahkan manusia kepadanya. Dan di akhirnya mereka membai’at menurut empat macam tarekat sufi; Jistiyyah, Syahrawardiyyah, Naqsyabandiyah dan Matur… saya lupa yang keempat, yang jelas empat tarekat. Mereka dalam bidang aqidah adalah Maturidiyah atau Asy’ariyyah. Dan dalam pemahaman syahadat mereka, yaitu syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah. Mereka tidak memahami maknanya kecuali bahwa: Tidak ada yang Kuasa untuk Mencipta dan Mengadakan serta Membuat kecuali Allah. Dan dalam memahami makna Muhammad Rasulullah, (mereka tidak memahaminya seperti yang kita fahami, yaitu membenarkan apa yang beliau sampaikan, mentaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan peringatkan dan Allah tidak diibadahi kecuali dengan apa yang beliau syariatkan). Pemahaman ini tidak ada di kalangan jama’ah tabligh, bahkan kadang-kadang mereka mengkultuskan individu-individu tertentu dan menyatakan mereka memiliki ‘Ishmah (tidak akan salah). Dan sampai-sampai bila para syaikhnya mati, mereka bangun di atas kuburannya bangunan-bangunan dalam masjid. Tabligh adalah firqah, tanpa perlu diragukan lagi. Karena menyelisihi firqatun Najiyah. Mereka memiliki manhaj khusus. Yang tidak ikut ke dalamnya tidak dianggap sebagai orang yang mendapat hidayah. Tabligh membagi manusia menjadi: Muhtadi (orang yang mendapat hidayah) dan manusia yang masih diharapkan mendapat hidayah (tim penggembira saja –pent). Golongan Muhtadi adalah yang telah masuk keseluruhan dalam tandhim (keorganisasian) dan firqah mereka. Dan yang non Muhtadi, tidak termasuk golongan mereka walaupun dia imam kaum muslimin. Ini dalam pemahaman mereka.
Ikhwanul Muslimin juga demikian, yang termasuk tandhim mereka adalah Ikhwanul Muslimin dan yang tidak masuk, maka bukan Ikhwanul Muslimin walaupun orang itu adalah alim dalam Islam. Cukup sikap ta’ashshub ini menjadi dalil bahwa mereka telah mengeluarkan diri-diri mereka sendiri dari jama’ah kaum muslimin. Karena jama’ah kaum muslimin tidak menganggap bahwa hidayah hanya sampai kepada mereka saja. Dan manhaj mereka adalah manhaj yang paling luas, karena mereka tidak mencap setiap orang yang tidak sefaham dengan mereka sebagai orang kafir. Tapi mereka masih mengakui bahwa mereka adalah kaum muslimin dan mengharapkan agar dia mendapat hidayah. Meskipun orang itu mengkafirkan mereka, mereka tetap tidak membalasnya dengan mengkafirkannya pula. Maka manhaj Firqatun Najiyah adalah manhaj yang paling luas dalam hal ini. Wallahu A’lam.
(Semua fatwa ini diambil dari kaset Al Qaulul Baligh ‘ala Dzammi Jama’atit Tabligh)
9. Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah
Setelah membawakan pendirian beliau terhadap Ikhwanul Muslimin beliau berkata: “Adapun Jama’ah tabligh, silakan engkau membaca apa yang dituturkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Washshabi, ia berkata:
1. Mereka mengamalkan hadits-hadits dla’if (lemah) bahkan maudlu’ (palsu) serta Laa Ashla Lahu (tidak ada asalnya).
2. Tauhid mereka penuh dengan bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah. Karena dakwah mereka berdasarkan Al Faqra (kefakiran) yaitu khuruj (keluar). Dan ini diharuskan di setiap bulan 3 hari, setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan, dan setiap pekan 2 jaulah… jaulah pertama di Masjid yang didirikan shalat padanya dan yang kedua berpindah-pindah. Di setiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang didirikan shalat padanya, yang kedua di rumah. Mereka tidak senang kepada seseorang kecuali bila dia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan Allah Ta’ala.
3. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada tauhid akan memecah belah ummat saja.
4. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada sunnah juga memecah belah ummat.
5. Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahwa: Bid’ah yang bisa mengumpulkan manusia lebih baik daripada sunnah yang memecah belah manusia.
6. Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara isyarat atau terang-terangan.
7. Mereka berpendapat bahwa manusia tidak bisa selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang enggan akan hancur. Mereka berkata: “Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh.” Ini saya dengar dengan telinga saya sendiri di Urdun (Yordania –ed) dan Yaman.
8. Mereka tidak menaruh perhatian terhadap tauhid Uluhiyyah dan Asma` was Sifat.
9. Mereka tidak mau menuntut ilmu dan berpendapat bahwa waktu yang digunakan untuk itu hanya sia-sia belaka.” (Dinukil dari kutaib Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i hafidhahullah hal. 15-17)
Sumber: Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M
(Dikutip dari http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=6, judul asli Fatwa-fatwa Para Ulama tentang Firqah Tabligh, Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M).
Sumber:
http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=970
Kita akan membawa beberapa fatwa (keputusan) para ulama tentang Firqah Tabligh, agar ummat mengerti bahwa kita menuduh mereka sesat bukan dari kita sendiri, tapi kita mengambilnya dari ucapan ulama kita yang mulia, semoga Allah mengampuni mereka yang telah wafat dan menjaga yang masih hidup. Perhatikan ucapan para ulama ini agar terbuka kekaburan yang selama ini menutupi mereka. Dan hendaklah bagi mereka yang masuk ke dalam kelompok ini segera keluar dan yang kagum segera sadar dan membenci, karena kematian itu datangnya tiba-tiba.
1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah
“Dari Muhammad bin Ibrahim kepada yang terhormat raja Khalid bin Su’ud.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Wa ba’du:
Saya telah menerima surat Anda dengan no. 37/4/5/D di 21/1/82H. Yang berkaitan tentang permohonan untuk bekerja sama dengan kelompok yang menamakan dirinya dengan “Kulliyatud Da’wah wat Tabligh Al Islamiyyah.”
Maka saya katakan: Bahwa jama’ah ini tidak ada kebaikan padanya dan jama’ah ini adalah jama’ah yang sesat. Dan setelah membaca buku-buku yang dikirimkan, kami dapati di dalamnya berisi kesesatan dan bid’ah serta ajakan untuk beribadah kepada kubur dan kesyirikan. Perkara ini tidak boleh didiamkan. Oleh karena itu kami akan membantah kesesatan yang ada di dalamnya. Semoga Allah menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. 29/1/82H.” (Al Qaulul Baligh hal. 29 dengan diringkas)
2. Syaikh Hummud At Tuwaijiri rahimahullah
“Adapun ucapan penanya: Apakah aku menasehatinya untuk ikut khuruj dengan orang-orang tabligh di dalam negeri ini (Saudi) atau di luar?
Maka saya jawab: Saya menasehati penanya dan yang lainnya yang ingin agamanya selamat dari noda-noda kesyirikan, ghuluw, bid’ah dan khurafat agar jangan bergabung dengan orang-orang Tabligh dan ikut khuruj bersama mereka. Apakah itu di Saudi atau di luar Saudi. Karena hukum yang paling ringan terhadap orang tabligh adalah: Mereka ahlul bid’ah, sesat dan bodoh dalam agama mereka serta pengamalannya. Maka orang-orang yang seperti ini keadaannya, tidak diragukan lagi bahwa menjauhi mereka adalah sikap yang selamat.
Sungguh sangat indah apa yang dikatakan seorang penyair:
Janganlah engkau berteman dengan teman yang bodoh.
Hati-hatilah engkau darinya.
Betapa banyak orang bodoh yang merusak seorang yang baik ketika berteman dengannya.”
(Al Qaulul Baligh, syaikh Hummud At Tuwaijiri hal. 30)
3. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah
Pertanyaan:
Di sini ada pertanyaan: Apa pendapat Anda tentang Jama’ah (firqah) Tabligh dan apakah ukuran khuruj ada terdapat dalam sunnah?
Jawab:
Pertanyaan ini adalah pertanyaan penting. Dan aku memiliki jawaban yang ringkas, serta kalimat yang benar wajib untuk dikatakan. Yang saya yakini bahwa da’wah tabligh adalah: sufi gaya baru. Da’wah ini tidak berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khuruj yang mereka lakukan dan yang mereka batasi dengan tiga hari dan empat puluh hari, serta mereka berusaha menguatkannya dengan berbagai nash, sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan nash secara mutlak. Sebenarnya cukup bagi kita untuk bersandar kepada salafus shalih. Penyandaran ini adalah penyandaran yang benar. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk tidak bersandar kepadanya. Bersandar kepada para salafus sholih, -wajib diketahui hakikat ini,- bukanlah seperti bersandar kepada seseorang yang dikatakan pemilik mazhab ini atau kepada seorang syaikh yang dikatakan bahwa dia pemilik tarikat ini atau kepada seseorang yang dikatakan bahwa dia pemilik jama’ah tertentu. Berintima’ (bergabung) kepada salaf adalah berintima’ kepada sesuatu yang ‘ishmah (terpelihara dari dosa). Dan berintima’ kepada selain mereka adalah berintima’ kepada yang tidak ‘ishmah. Firqah mereka itu –cukup bagi kita dengan berintima’ kepada salaf- bahwa mereka datang membawa sebuah tata tertib khuruj untuk tabligh (menyampaikan agama), menurut mereka. Itu tidak termasuk perbuatan salaf, bahkan bukan termasuk perbuatan khalaf, karena ini baru datang di masa kita dan tidak diketahui di masa yang panjang tadi. (Sejak zaman para salaf hingga para khalaf). Kemudian yang mengherankan, mereka mengatakan bahwa mereka khuruj (keluar) untuk bertabligh, padahal mereka mengakui sendiri bahwa mereka bukan orang yang pantas untuk memikul tugas tabligh (penyampaian agama) itu. Yang melakukan tabligh (penyampaian agama) adalah para ulama, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dengan mengutus utusan dari kalangan para sahabatnya yang terbaik yang tergolong ulama mereka dan fuqaha` mereka untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Beliau mengirim Ali sendirian, Abu Musa sendirian, dan Mu’adz sendirian. Tidak pernah beliau mengirim para sahabatnya dalam jumlah yang besar, padahal mereka sahabat. Karena mereka tidak memiliki ilmu seperti beberapa sahabat tadi. Maka apa yang kita katakan terhadap orang yang ilmunya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sahabat yang tidak dikirim Nabi, apa lagi dibanding dengan para sahabat yang alim seperti yang kita katakan tadi?! Sedangkan mereka (Firqah Tabligh) keluar berdakwah dengan jumlah puluhan, kadang-kadang ratusan. Dan ada di antara mereka yang tidak berilmu, bahkan bukan penuntut ilmu. Mereka hanya memiliki beberapa ilmu yang dicomot dari sana sini. Adapun yang lainnya, hanya orang awam saja. Di antara hikmah orang dulu ada yang berbunyi: Sesuatu yang kosong tidak akan bisa memberi. Apa yang mereka sampaikan kepada manusia, padahal mereka mengaku (jama’ah) Tabligh?
Kita menasehati mereka di Suriah dan Amman agar duduk dan tinggal di negeri mereka dan duduk mempelajari agama, khususnya mempelajari aqidah tauhid, -yang iman seorang mukmin tidak sah walau bagaimanapun shalihnya dia, banyak shalat dan puasanya-, kecuali setelah memperbaiki aqidahnya.
Kita menasehati mereka agar tinggal di negeri mereka dan membuat halaqah ilmu di sana serta mempelajari ilmu yang bermanfaat dari para ulama sebagai ganti khurujnya mereka ke sana kemari, yang kadang-kadang mereka pergi ke negeri kufur dan sesat yang di sana banyak keharaman, yang tidak samar bagi kita semua yang itu akan memberi bekas kepada orang yang berkunjung ke sana, khususnya bagi orang yang baru sekali berangkat ke sana. Di sana mereka melihat banyak fitnah, sedangkan mereka tidak memiliki senjata untuk melidungi diri dalam bentuk ilmu untuk menegakkan hujjah kepada orang, mereka akan menghadapi, khususnya penduduk negeri itu yang mereka ahli menggunakan bahasanya, sedangkan mereka (para tabligh) tidak mengerti tentang bahasa mereka.
Dan termasuk syarat tabligh adalah hendaknya si penyampai agama mengetahui bahasa kaum itu, sebagaimana diisyaratkan oleh Rabb kita ‘Azza wa Jalla dalam Al Qur`an:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
“Tidaklah kami mengutus seorang rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dia menerangkan kepada mereka.” (Ibrahim: 4)
Maka bagaimana mereka bisa menyampaikan ilmu, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki ilmu?! Dan bagaimana mereka akan menyampaikan ilmu, sedangkan mereka tidak mengerti bahasa kaum itu?! Ini sebagai jawaban untuk pertanyaan ini. (Dari kaset Al Qaulul Baligh fir Radd ‘ala Firqatit Tabligh)
4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
Pertanyaan:
Semoga Allah merahmati Anda, ya syaikh. Kami mendengar tentang (firqah) tabligh dan dakwah yang mereka lakukan, apakah anda membolehkan saya untuk ikut serta dengan mereka? Saya mengharap bimbingan dan nasehat dari anda. Semoga Allah memberi pahala kepada anda.
Jawab:
Siapa yang mengajak kepada Allah adalah muballigh, (sebagaimana Nabi bersabda –pent) “Sampaikan dariku walau satu ayat.” Adapun jama’ah (firqah) tabligh yang terkenal dari India itu, di dalamnya terdapat khurafat-khurafat, bid’ah-bid’ah dan kesyirikan-kesyirikan. Maka tidak boleh khuruj (keluar) bersama mereka. Kecuali kalau ada ulama yang ikut bersama mereka untuk mengajari mereka dan menyadarkan mereka, maka ini tidak mengapa. Tapi kalau untuk mendukung mereka, maka tidak boleh, karena mereka memiliki khurafat dan bid’ah. Dan orang alim yang keluar bersama mereka hendaknya menyadarkan dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
Tanya:
Para penuntut ilmu menanya kepada anda dan para ulama kibar (senior) lainnya tentang: Apakah anda menyetujui kalau mereka bergabung dengan kelompok yang ada seperti Ikhwan, Tabligh, kelompok Jihad dan yang lainnya atau anda menyuruh mereka untuk belajar bersama para da’i salaf yang mengajak kepada dakwah salafiyyah?
Jawab:
Kita nasehati mereka semuanya untuk belajar bersama para thalabul ilmi lainnya dan berjalan di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita nasehati mereka semuanya agar tujuannya untuk mengikuti Al Kitab dan sunnah dan berjalan di atas jalan Ahlus sunnah wal Jama’ah. Dan hendaknya mereka menjadi ahlus sunnah atau para pengikut salafus shalih. Adapun berhizb dengan Ikhwanul Muslimin, Tablighi atau yang lainnya, maka tidak boleh. Ini keliru. Kita nasehati mereka agar menjadi satu jama’ah dan bernisbah kepada Ahlus sunnah wal jama’ah. Inilah jalan yang lurus untuk menyatukan langkah. Kalau ada berbagai nama sedangkan semuanya di atas satu jalan, dakwah salafiyyah, maka tidak mengapa, seperti yang ada di Shan’a dan yang lainnya, tapi yang penting tujuan dan jalan mereka satu. (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
5. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Ghudayyan hafidhahullah (anggota Hai’ah Kibarul Ulama`)
Pertanyaan:
Kami berada di suatu kampung dan berdatangan kepada kami apa yang dinamakan dengan (firqah) Tabligh, apakah kami boleh ikut berjalan bersama mereka? Kami mohon penjelasannya.
Jawab:
Jangan kalian ikut berjalan bersama mereka!! Tapi berjalanlah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!! (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
6. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafidhahullah
Pertanyaan:
Syaikh, di sana ada kelompok-kelompok bid’ah, seperti Ikhwan dan Tabligh serta yang lainnya. Apakah kelompok ini termasuk Ahlus Sunnah? Dan apa nasehat anda tentang masalah ini?
Jawab:
“Kelompok-kelompok ini… Telah diketahui bahwa yang selamat adalah yang seperti yang telah saya terangkan tadi, yaitu kalau sesuai dengan Rasulullah dan para sahabatnya, yang mana beliau berkata ketika ditanya tentang Al Firqatun Najiyah: Yang aku dan para sahabatku ada di atasnya. Firqah-firqah baru dan beraneka ragam ini, pertama kali: bid’ah. Karena lahirnya di abad 14. Sebelum abad 14 itu mereka tidak ada, masih di alam kematian. Dan dilahirkan di abad 14. Adapun manhaj yang lurus dan sirathal mustaqim, lahirnya atau asalnya adalah sejak diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka siapa yang mengikuti ini dialah yang selamat dan berhasil. Adapun yang meninggalkan berarti dia menyimpang. Firqah-firqah itu telah diketahui bahwa padanya ada kebenaran dan ada kesalahan, akan tetapi kesalahan-kesalahannya besar sekali, maka sangat dikhawatirkan.
Hendaknya mereka diberi semangat untuk mengikuti jama’ah yakni Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan yang berada di atas jalan salaf ummat ini serta yang menta’wil menurut apa yang datang dari Rasulullah bukan dengan yang datang dari si fulan dan fulan, menurut tarikat-tarikat yang ada di abad 14 H. Maka kedua kelompok yang tadi disinggung adanya hanya di abad 14 H. Mereka berpegang dan berjalan di atas jalan-jalan dan manhaj-manhaj itu. Mereka tidak berpegang dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan Sunnah, tapi dengan pendapat-pendapat, pemikiran-pemikiran dan manhaj-manhaj yang baru dan bid’ah yang mereka membangun jalan dan manhaj mereka di atasnya.
Dan yang paling jelas di kalangan mereka adalah: Wala` dan Bara`. Al Wala` wal Bara` di kalangan mereka adalah bagi yang masuk ke dalam kelompok mereka, misalnya Ikhwanul Muslimin, siapa yang masuk ke dalam kelompok mereka, maka dia menjadi teman mereka dan akan mereka cintai walaupun dia dari rafidlah, dan akhirnya dia menjadi saudara dan teman mereka.
Oleh karena ini mereka mengumpulkan siapa saja, termasuk orang rafidlah yang membenci sahabat dan tidak mengambil kebenaran dari sahabat. Kalau dia masuk ke dalam kelompok mereka, jadilah dia sebagai teman dan anggota mereka. Mereka membela apa yang dia bela dan membenci apa yang dia benci.
Adapun Tabligh, pada mereka terdapat perkara-perkara mungkar. Pertama: dia adalah manhaj yang bid’ah dan berasal dari Delhi (India –red) bukan dari Mekkah atau Madinah. Tapi dari Delhi di India. Yakni seperti telah diketahui bahwa di sana penuh dengan khurafat, bid’ah dan syirik walau di sana juga banyak Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti jama’ah ahlul hadits, yang mereka adalah sebaik-baik manusia di sana. Tetapi Tabligh ini keluar dari sana melalui buatan para pemimpin mereka yang ahli bid’ah dan tarekat sufi yang menyimpang dalam aqidah. Maka kelompok ini adalah kelompok bid’ah dan muhdats. Di antara mereka ada Sufi dan Asy’ari yang jelas-jelas bukan berada di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dalam aqidah dan manhaj. Dan yang selamat adalah orang yang mengikuti manhaj salaf dan yang berjalan di atas jalan mereka.” (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
7. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah
“Saya tidak pernah khuruj dengan mereka (Firqah tabligh), tapi saya pergi untuk suatu keperluan, yakni ke Kashmir. Setelah selesai dari pekerjaan ini aku melewati Delhi. Maka ada yang mengatakan kepadaku: Mari kita singgah ke suatu tempat untuk dikunjungi, yaitu ke markas Tabligh yaitu di Nizamuddin. Nizamuddin ini adalah masjid yang dekat dengan markas jama’ah tabligh. Di dalamnya ada lima kubur yang diberi kubah. Yakni kuburan yang disembah, bukan menyembah kepada Allah. Ini ibadah yang jelas syirik. Maka kami melewati ‘monumen’ ini. Kemudian kami singgah ke markas tabligh. Orang-orang berselisih apakah di dalamnya ada kuburan atau tidak.
Maku Abdurrab bertanya, ini orang yang saya ceritakan tadi, apakah di dalam masjid Tabligh ini ada kuburan? Yang cerdas di kalangan mereka berkata: Tidak, di sini tidak ada kuburan! Kuburan Ilyas di Mekkah atau di tempat ini atau itu yang jauh. Maka dia terus bertanya hingga ada seseorang yang menunjukkan atau mengabarkan bahwa di sana ada kuburan Ilyas dan di sebelahnya kuburan istrinya.
Kemudian al Akh Abdurrab pergi ke kedua kuburan itu dan mencari-carinya setelah ketemu, dia datang kepada kami sambil berkata: Mari, saya tunjukkan kepada kalian dua kuburannya. Maka kami melihat, ini kuburan Ilyas dan ini kuburan istrinya yang keduanya ada di dalam masjid.
Kemudian setelah itu kami pastikan bahwa di dalamnya ada empat kuburan, bukan dua kuburan saja. Kami memastikannya melalui orang-orang yang dipercaya yang telah berjalan bersama Tabligh bertahun-tahun.
Tidak akan berkumpul masjid dan kuburan (di satu tempat) dalam agama Islam. Akan tetapi, mereka ini karena kesufiannya, kebodohannya terhadap manhaj dakwah para nabi, jauh darinya dan meremehkannya, mereka menguburkan para gurunya di masjid, padahal para ulama telah mengatakan: bahwa shalat di dalam masjid yang ada kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya tidak sah. Saya bertanya tentang hal ini kepada Syaikh Bin Bazz. Sebenarnya saya tahu tentang ini dan juga para Thalabul Ilmi bahwa shalat di dalam masjid yang ada satu kuburan atau beberapa kuburan, shalatnya tidak sah. Maka saya tanyakan kepada Syaikh Bin Bazz, agar hadirin mendengar jawabannya. Saya katakan: Apa pendapat anda, syaikh, tentang masjid yang ada kuburan di dalamnya, apakah sah shalat di dalamnya? Beliau menjawab: Tidak! Saya katakan: Di dalamnya ada banyak kuburan? Beliau mengatakan: Terlebih lagi demikian! Saya katakan: Kuburannya bukan di kiblat masjid, tapi di sebelah kiri dan kanannya? Beliau menjawab: Demikian juga, tetap tidak sah. Saya katakan kepada beliau bahwa masjid induk atau markas induk tabligh di dalamnya ada beberapa kuburan? Maka beliau menjawab: Tetap shalatnya tidak sah!
Sangat disayangkan sekali, kelompok ini bergerak di dunia, tetapi beginilah keadaannya; tidak mengajak kepada tauhid, tidak membasmi syirik dan tidak membasmi jalan-jalan menuju kesyirikan. Mereka terus berjalan dengan melewati beberapa kurun dan generasi tetap dengan dakwah seperti ini. Tidak mau berbicara tentang tauhid, memerangi kesyirikan dan tidak membolehkan bagi para pengikutnya untuk melaksanakan kewajiban ini. Ini adalah suatu hal yang telah diketahui di kalangan mereka.
Maka kita meminta kepada mereka agar kembali kepada Allah dan mempelajari manhaj dakwah para nabi, mereka juga jama’ah yang lainnya.
Mengapa demikian wahai saudara-saudara? Karena kalau ada yang berdakwah mengajak kepada shalat, orang akan berkata: Silahkan! Tidak ada yang melarang, mereka tidak akan khawatir. Akan tetapi coba kalau mengatakan: Berdo’a kepada selain Allah adalah perbuatan syirik! Membangun kuburan haram hukumnya! Menyembelih untuk selain Allah adalah syirik! Maka mereka akan marah.
Ada seorang pemuda yang berkhuthbah di suatu masjid tentang persatuan, akhlak, perekonomian, dekadensi moral, dan yang lainnya. Orang-orang semuanya, masya Allah, berkumpul dan mendengarkannya. Kita katakan kepadanya: Ya akhi… jazakallahu khairan, khuthbah anda sangat baik, tetapi orang-orang yang ada di hadapanmu ini tidak mengenal tentang tauhid, mereka terjatuh dalam kesyirikan dan bid’ah, maka terangkan kepada mereka tentang manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam! Maka ketika dia mulai berbicara, merekapun mulai bersungguh-sungguh. Ketika dia terus berbicara, merekapun semakin jengkel. Maka ketika yang ketiga kalinya ada sekelompok orang yang ada di masjid bangkit dan memukulinya! Maka dia datang kepadaku sambil menangis. Dia berkata: Aku habis bertengkar dengan mereka, mereka memukuliku! Maka aku katakan kepadanya: Sekarang engkau telah berjalan di atas manhaj dakwah para Nabi. Kalau engkau tetapi seperti dulu bertahun-tahun, engkau tidak akan berselisih dengan seorangpun. Dari sinilah kelompok yang ada ini bergerak, mereka memerangi bagian ini. Nabi bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاء ثُمَّ اْلأّمْثَل فَاْلأَمْثَل
“Seberat-berat manusia diberi cobaan adalah para Nabi, kemudian yang selanjutnya dan kemudian yang selanjutnya.”
Karena mereka menghadapi berbagai gangguan yang hanya Allah yang tahu tentang kerasnya gangguan itu ketika mereka berdakwah kepada tauhid dan membasmi kesyirikan. Dari sinilah para da’i yang mengajak kepada tauhid dan membasmi syirik malah disakiti. Kalau dakwah Ikhwan dan Tabligh disenangi manusia karena meremehkan sisi ini. Tapi kalau aku berkhuthbah di masjid seperti ini, sedikit sekali yang mau mendengarku dan menerima dakwahku, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah. Kalau aku berdakwah mengajak shalat, mereka akan berkata: silahkan. Tapi kalau aku berdakwah untuk bertauhid dan memerangi kesyirikan, semuanya akan lari dan merasa asing. Inilah dakwah para Nabi.
Inilah dasarnya mengapa mereka menjadi manusia yang paling banyak ganngguannya. Sekarang para salafiyyun, para da’i kepada tauhid keadaan mereka dikaburkan oleh manusia. Karena banyaknya fitnah, kebohongan-kebohongan dan tuduhan dusta yang ditujukan kepada mereka. Mengapa? Karena mereka mengajak untuk mentauhidkan Allah!
Kelompok ini tidak bisa masuk ke dalam lapangan ini, karena mereka takut kepada sisi ini. Tetapi mereka akan ditanya di hadapan Allah. Demi Allah, telah datang kepada kami seseorang atau segolongan Tabligh di Benares, di sebuah rumah yang saya tempati dengan syaikh Shalih Al Iraqi. Mereka berkata: Kami dengar kalian datang, kami sangat senang, maka kami datang mengunjungi kalian agar kalian ikut bersama kami berdakwah kepada Allah. Dan tempat kami adalah masjid ini. Maka kami juga gembira dan mendatangi masjid itu, ternyata masjid itu tempat tarikat Berelwian. Mereka adalah para penyembah berhala dan sangat keterlaluan dalam penyembahan itu.
Mereka meyakini bahwa para wali bisa mengetahui perkara yang ghaib dan mengatur alam. Mereka membolehkan untuk bernadzar, menyembelih, sujud dan ruku’ kepada kuburan. Singkat kata: mereka adalah golongan penyembah berhala. Maka Syaikh Shalih pergi dan bersama kami ada seorang penerjemah, namanya Abdul Alim, sekarang dia ada di Rabithah Al Alam Islami. Kami bawa orang ini untuk menerjemahkan ucapan syaikh. Maka syaikhpun berbicara. Setiap selesai berbicara beliau melihat kepada penerjemah agar diterjemahkan. Maka penerjemahpun akan bergerak, maka ternyata pemimpin tabligh melihat dan berkata: Tungguh, saya yang akan menerjemahkan. Maka syaikh terus berbicara, tapi tidak ada seorangpun yang menerjemahkan. Hingga ceramahnya selesai. Ketika selesai acara itu dia mengucap salam dan malah pergi. Maka kami tetapi di situ menunggu terjemah. Dia berkata: Saya ada keperluan, biar orang ini yang menerjemahkan. Maka kami shalat Isya’ sambil menunggu terjemahan ceramah itu, tapi tidak kunjung diterjemahkan. Maka saya temui lagi orang itu dan mengatakan: Ya akhi, kami datang ke tempat kalian ini bukan untuk main-main. Tapi kalian tadi meminta kepada kami untuk ikut serta bersama kalian berdakwah, maka kamipun datang menyambut ajakan kalian. Dan syaikh tadi telah berbicara. Ketika penerjemah akan menerjemah engkau malah melarangnya. Dan engkau menjanjikan akan menerjemahkannya, tapi engkau tidak lakukan sedikitpun. Maka dia berkata: Ya akhi, engkau tahu?! Masjid ini milik Khurafiyyin!! Kalau kita berbicara tentang tauhid, mereka akan mengusir kita dari masjid. Maka saya katakan: Ya akhi, apakah seperti ini dakwah para Nabi? Ya akhi, dakwah kalian sekarang menyebar di penjuru dunia. Kalian pergi ke Amerika, Iran dan Asia, kalian tidak dapati sedikitpun perlawanan selama-lamanya. Apakah seperti ini dakwah para Nabi? Semua manusia menerimanya dan menghormatinya? Dakwah para Nabi padanya ada pertempuran, darah, kesusahan-kesusahan dan lain-lain. Kalau engkau diusir dari suatu masjid, berdakwahlah di masjid lain atau di jalan-jalan atau di hotel-hotel. Katakan kalimat yang haq dan tinggalkan. Rasul saja diusir dari Mekkah karena sebab dakwah ini. Kemudian saya tanya sudah berapa lama dakwah ini berjalan? Dia berkata: Belum tiga puluh tahun. Saya katakan: Kalian telah menyebar di India, utara dan selatan. Dan engkau melihat fenomena kesyirikan di hadapanmu dan telah mati berjuta-juta orang. Sudah berapa juta orang yang mati selama itu dalam keadaan berada di atas kesesatan, kesyirikan dan bid’ah yang kalian sebarkan ini?! Dan engkau belum menerangkan hal itu kepada mereka! Apakah engkau tidak merasa kalau engkau akan ditanya di hadapan Allah karena engkau menyembunyikan kebenaran ini dan tidak menyampaikannya kepada para hamba Allah?! Diapun diam. Maka aku permisi dan keluar.
Mereka menyembunyikan kebenaran yang dinyatakan Al Qur`an. Dan mereka tidak menegakkan panji-panji tauhid dan tidak mau menyatakan peperangan kepada kesyirikan dan bid’ah. Mereka ini terkena ayat Allah:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ
“Sesungguhnya orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkan kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al Baqarah: 159).
Apa yang mereka dapati kalau mereka telah menyembunyikan kebenaran yang paling nyata?! Dan hal yang paling besar yang bukti-bukti itu berdiri di atasnya?! Bukti-bukti yang paling besar adalah ayat-ayat tauhid. Dakwah yang paling besar yang dilakukan para nabi dan Al Qur`an adalah tauhid. Dan yang paling jelek dan bahaya adalah syirik dan bid’ah. Al Qur`an dan Sunnah telah memeranginya. Kemudian mereka malah setuju dan bersama kesyirikan, bid’ah, dan para pendukungnya sampai mati. Berapa banyak orang yang mati di bawah panji ini dalam keadaan tidak tahu kebenaran tauhid selama itu?! Dan dalam keadaan tidak bisa membedakan antara tauhid dengan syirik?!
Kalau mereka tidak dihisab karena menyembunyikan ayat tauhid, maka siapa lagi yang dihisab?
Kita berharap kepada Allah agar menjadi orang yang menolong agama ini dan menasehati kaum muslimin. Dan agar Allah menjauhkan kita dari sifat menipu dalam agama, karena membiarkan bid’ah dan syirik adalah penipuan yang paling besar. Tidak ada penipuan yang bisa menyaingi penipuan ini. Kalau menipu manusia dalam perdagangan saja Rasulullah berlepas tangan, maka bagaimana lagi kalau menipu dalam agama? Bagaimana engkau bisa diam terhadap kesyirikan dan bid’ah?! Engkau merusak aqidah kaum muslimin dan masyarakat mereka. Kemudian engkau mengatakan: Kita semua kaum muslimin, bersaudara dan engkau tidak menerangkan mana yang haq dan mana yang batil?! Kita memohon kepada Allah agar Dia menjaga kita dari penyakit ini.” (Dari kaset Al Qaulul Baligh)
8. Syaikh Shalih bin Abdullah Al Abud hafidhahullah
Adapun tabligh… ketika Khilafah Utsmaniyyah runtuh bangkitlah firqah ini dengan pemikiran jama’ah ini, firqah tabligh. Dan mereka membuat dasar-dasar untuk para pengikutnya dengan nama “Ushulus Sittah” yang mereka dakwahkan manusia kepadanya. Dan di akhirnya mereka membai’at menurut empat macam tarekat sufi; Jistiyyah, Syahrawardiyyah, Naqsyabandiyah dan Matur… saya lupa yang keempat, yang jelas empat tarekat. Mereka dalam bidang aqidah adalah Maturidiyah atau Asy’ariyyah. Dan dalam pemahaman syahadat mereka, yaitu syahadat Laa Ilaaha Illallah dan Muhammad Rasulullah. Mereka tidak memahami maknanya kecuali bahwa: Tidak ada yang Kuasa untuk Mencipta dan Mengadakan serta Membuat kecuali Allah. Dan dalam memahami makna Muhammad Rasulullah, (mereka tidak memahaminya seperti yang kita fahami, yaitu membenarkan apa yang beliau sampaikan, mentaati apa yang beliau perintahkan, menjauhi apa yang beliau larang dan peringatkan dan Allah tidak diibadahi kecuali dengan apa yang beliau syariatkan). Pemahaman ini tidak ada di kalangan jama’ah tabligh, bahkan kadang-kadang mereka mengkultuskan individu-individu tertentu dan menyatakan mereka memiliki ‘Ishmah (tidak akan salah). Dan sampai-sampai bila para syaikhnya mati, mereka bangun di atas kuburannya bangunan-bangunan dalam masjid. Tabligh adalah firqah, tanpa perlu diragukan lagi. Karena menyelisihi firqatun Najiyah. Mereka memiliki manhaj khusus. Yang tidak ikut ke dalamnya tidak dianggap sebagai orang yang mendapat hidayah. Tabligh membagi manusia menjadi: Muhtadi (orang yang mendapat hidayah) dan manusia yang masih diharapkan mendapat hidayah (tim penggembira saja –pent). Golongan Muhtadi adalah yang telah masuk keseluruhan dalam tandhim (keorganisasian) dan firqah mereka. Dan yang non Muhtadi, tidak termasuk golongan mereka walaupun dia imam kaum muslimin. Ini dalam pemahaman mereka.
Ikhwanul Muslimin juga demikian, yang termasuk tandhim mereka adalah Ikhwanul Muslimin dan yang tidak masuk, maka bukan Ikhwanul Muslimin walaupun orang itu adalah alim dalam Islam. Cukup sikap ta’ashshub ini menjadi dalil bahwa mereka telah mengeluarkan diri-diri mereka sendiri dari jama’ah kaum muslimin. Karena jama’ah kaum muslimin tidak menganggap bahwa hidayah hanya sampai kepada mereka saja. Dan manhaj mereka adalah manhaj yang paling luas, karena mereka tidak mencap setiap orang yang tidak sefaham dengan mereka sebagai orang kafir. Tapi mereka masih mengakui bahwa mereka adalah kaum muslimin dan mengharapkan agar dia mendapat hidayah. Meskipun orang itu mengkafirkan mereka, mereka tetap tidak membalasnya dengan mengkafirkannya pula. Maka manhaj Firqatun Najiyah adalah manhaj yang paling luas dalam hal ini. Wallahu A’lam.
(Semua fatwa ini diambil dari kaset Al Qaulul Baligh ‘ala Dzammi Jama’atit Tabligh)
9. Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah
Setelah membawakan pendirian beliau terhadap Ikhwanul Muslimin beliau berkata: “Adapun Jama’ah tabligh, silakan engkau membaca apa yang dituturkan syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al Washshabi, ia berkata:
1. Mereka mengamalkan hadits-hadits dla’if (lemah) bahkan maudlu’ (palsu) serta Laa Ashla Lahu (tidak ada asalnya).
2. Tauhid mereka penuh dengan bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah. Karena dakwah mereka berdasarkan Al Faqra (kefakiran) yaitu khuruj (keluar). Dan ini diharuskan di setiap bulan 3 hari, setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan, dan setiap pekan 2 jaulah… jaulah pertama di Masjid yang didirikan shalat padanya dan yang kedua berpindah-pindah. Di setiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang didirikan shalat padanya, yang kedua di rumah. Mereka tidak senang kepada seseorang kecuali bila dia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan Allah Ta’ala.
3. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada tauhid akan memecah belah ummat saja.
4. Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada sunnah juga memecah belah ummat.
5. Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahwa: Bid’ah yang bisa mengumpulkan manusia lebih baik daripada sunnah yang memecah belah manusia.
6. Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara isyarat atau terang-terangan.
7. Mereka berpendapat bahwa manusia tidak bisa selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang enggan akan hancur. Mereka berkata: “Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh.” Ini saya dengar dengan telinga saya sendiri di Urdun (Yordania –ed) dan Yaman.
8. Mereka tidak menaruh perhatian terhadap tauhid Uluhiyyah dan Asma` was Sifat.
9. Mereka tidak mau menuntut ilmu dan berpendapat bahwa waktu yang digunakan untuk itu hanya sia-sia belaka.” (Dinukil dari kutaib Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna, Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i hafidhahullah hal. 15-17)
Sumber: Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M
(Dikutip dari http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=6, judul asli Fatwa-fatwa Para Ulama tentang Firqah Tabligh, Buletin Islamy Al Manhaj edisi VI/1419 H/1998 M).
Sumber:
http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=970
SYI’AH & RAFIDHAH
SYI’AH & RAFIDHAH
Apa beda syiah dan rafidhah? Kapan muncul istilah rafidhah? Tamu situs kita, DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, membahas masalah ini, lewat makalahnya yang dikirim pada kami lewat email.
Istilah "Rafidhah" sering kita dengar di berbagai buku, majalah dan media massa, baik di Timur Tengah ataupun di Negara-Negara Islam, Namun sayangnya terdapat beberapa kekeliruan dalam memahaminya, sehingga ungkapan "Rafidhah" belum begitu dipastikan apakah gelaran tersebut untuk seluruh sekte Syi’ah, atau hanya sekte-sekte tertentu saja dalam berbagai aliran Syi'ah?. Untuk menjawab hal ini (hakikat pemakaian istilah "Rafidhah"), maka penulis dalam tulisan ini akan memaparkan asal-usul munculnya "Rafidhah".
Kalau melihat sejarah, penamaan Rafidhah ini erat kaitannya dengan gelaran yang diberikan oleh pendiri syi’ah Zaidiyah yaitu Imam Zain bin Ali, yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H.
Salah seorang ulama Syi'ah Zaidiyah Imam Yahya bin Hamzah 'Alawi (w. 749 H) mendefinisikan Syi’ah Zaidiyah sebagai: "Setiap golongan memiliki doktrin yang dibawa oleh pemimpin masing-masing. Adapun istilah Zaidiyah muncul setelah era Imam Zaid bin Ali bin al-Husain. Semenjak itulah Zaidiyah dikenal sebagai salah satu aliran Syi’ah yang mengatasnamakan nama pemimpinnya".
Jelas dari teks diatas penamaan Syi’ah Zaidiyah dikaitkan dengan Imam Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan Zaidiyah merupakan salah satu kelompok Syiah terbesar selain Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Isma’iliyah yang masih eksis sampai saat ini. Imam Ahmad bin Yahya al-Murtadha (w. 840 H) dalam kitabnya yang terkenal "al-Bahru az-Zahhar" menegaskan, bahwa ada tiga golongan besar Syi’ah, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Isma’ilyah (di kenal dengan Syi'ah Bathiniyah).
Sumber-sumber sejarah dan kitab-kitab klasik yang membahas tentang aliran-aliran Islam menjelaskan bahwa sebenarnya sejarah kemunculan Zaidiyah ditandai ketika Imam Zaid melancarkan revolusi melawan pemerintahan Bani Umayyah, yang didukung oleh lima belas ribu pasukan berasal dari penduduk Kufah di Iraq, di mana hal serupa dilakukan sebelumnya oleh kakek Imam Zaid yaitu imam Hussein bin Ali bin Abi Talib, dan mengalami kegagalan fatal dalam pertempuran di kota Karbala, dengan menewaskan 61 tentara Imam Hussein bin Ali. Namun selanjutnya Imam Zaid tidak menerima kegagalan tersebut, justru ia bersikeras untuk meneruskan revolusi kakeknya dan terus menerus memerangi Bani Umayyah sampai titik darah penghabisan. Maka ia dan bala tentaranya meninggalkan kota Kufah menuju tempat kekuasaan gubernur (Yusuf bin Umar at-Thsaqafi) yang merupakan agen kepala negara ketika itu (Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan) yang berkuasa dari tahun 105 sampai tahun 125 Hijriyah.
Tatkala kedua pasukan tersebut bertemu dan saling berhadap-hadapan, dan sebelum kedua pasukan tersebut memulai peperangan, pasukan imam Zaid yang berasal dari penduduk Kufah berkata kepada Imam Zaid: "Kami akan menyokong perjuangamu, namun sebelumnya kami ingin tahu terlebih dahulu sikapmu terhadap Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab di mana kedua-duanya telah menzalimi kakekmu Imam Ali bin Abi Thalib". Imam Zaid menjawab: "bagi saya mereka berdua adalah orang yang baik, dan saya tak pernah mendengar ucapan dari ayahku Imam Zainal Abidin tentang perihal keduanya kecuali kebaikan. Dan kalaulah saat ini saya berani melawan dan menantang perang Bani Umayyah, itu disebabkan karena mereka telah membunuh kakek saya (imam Husain bin Ali). Di samping itu, mereka telah memberanguskan kota Madinah di tengah teriknya matahari pada siang hari. Ketika itu terjadilah peperangan sengit di pintu Tiba kota Madinah. Dan tentara Yazid bin Mu’awiyah (w 63H) ketika itu telah menginjak-injak kehormatan kami, dan membunuh beberapa orang sahabat. Dan mereka menghujani mesjid dengan lemparan batu dan api".
Setelah mendengar sikap dan jawaban Imam Zaid, para tentara Kufah meninggalkan Imam Zaid. Dan Imam Zaid berkata kepada mereka: "kalian telah menolak saya, kalian telah menolak saya". Semenjak hari itu tentara tersebut dikenal dengan nama (Rafidhah) . Mereka inilah yang di kemudian hari dikenal dengan nama golongan Syi’ah Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah.
Peristiwa inilah yang menjadi akar sejarah penggunaan istilah (Rafidhah) bagi golongan syi’ah Imamiyah, yang di tandai dengan penolakan dukungan perang mereka bersama Imam Zaid untuk menghadapi gubernur Iraq ketika itu (Yusuf bin Umar at-Tsaqafi). Sejarah ini dicatat oleh salah satu sejarawan dan ulama Zaidiyah yang bernama Nasywan al-Himyari (w 573H). Dan dia menegaskan bahwa Penamaan Rafidha bagi golongan syi’ah, disebabkan oleh penolakan mereka membantu imam Zaid untuk berpeperang melawan Bani Umayyah. Yaitu, ketika mereka menanyakan sikap Imam Zaid terhadap Abu Bakar dan Umar. Dan ternyata Imam Zaid memberikan tanggapan yang positif terhadap kedua mantan khalifah tersebut) .
Dan kemungkinan besar catatan Nasywan inilah yang membuat salah satu tokoh Mu’tazilah (al-Jahidz) menyimpulkan, bahwa syi’ah sebenarnya terbagi kepada dua golongan saja, yaitu: Syi'ah Zaidiyah dan Syi'ah Rafidhah. Meskipun demikian, dia mengakui kalau masih terdapat golongan lain, namun golongan tersebut baginya tidak terorganisir.
Dari keterangan al-Jahidz nampak jelas bahwa istilah "Rafidhah" menurutnya adalah dua golongan syi’ah, yaitu: Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah dan Ismiliyah al-Bathiniyah.
Hemat penulis, berdasarkan keterangan diatas, sebuah kekeliruan bila memandang perkataan atau istilah "Rafidhah" disamaratakan untuk semua golongan syi’ah tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Seperti yang terjadi pada salah seorang sejarawan Ahlu Sunnah yang sangat populer yang berasal dari golongan 'Asy'ariah, yaitu Abdul Qahir al-Baghdadi dalam bukunya "al-Farq Baina al-Firaq". Di situ disebutkan: "Golongan Rafidhah setelah wafatnya imam Ali bin Abi Thalib terpecah kepada empat golongan, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah dan Ghulat (ekstrim). Dan anehnya pandangan inipun diikuti oleh al-Isfarayani yang menegaskan kembali bahwa: "Golongan-golongan Rafidhah terbagi kepada tiga, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Kaisaniyah".
Kekeliruan ini diingatkan oleh salah seorang ulama syi’ah Zaidiyah "Ahmad bin Musa at-Thabari". Ia menegaskan bahwa: "Asumsi golongan al-Hasywiyah (Ahlu Sunnah) terhadap syi’ah, mereka menjuluki semua golongan syi’ah dengan satu penamaan, yaitu Rafidhah. Pandangan ini dari segi sejarah tentunya keliru. Sebab yang dimaksud Rafidhah sebenarnya adalah Syi'ah Imamiyah yang merupakan salah satu golongan Syi’ah. Mereka menolak untuk menyokong imam Zaid dalam berperang melawan pasukan Umawiyyah, padahal mereka sendiri telah membai'at imam Zaid. Bahkan pada hakikatnya, golongan imamiyah sendiri memiliki beberapa sekte lagi, diantaranya: Syi'ah Qaramithah (Isma'iliyah). Pada kesempatan lain ia menjelaskan bahwa: "Golongan Imamiyah adalah pengikut imam Musa al-Kazhim bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Itsna'asyariyah), dan pengikut imam Isma’il bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Isma'iliyah".
Kemudian, imam Shalih al-Maqbali ikut menegaskan juga bahwa syi’ah Zaidiyah bukanlah bagian dari golongan Rafidhah, dan bukan pula golongan Syi’ah ekstim (ghulat). Ia berkata: (Syi’ah Zaidiyah tidak masuk ke dalam golongan Rafidhah. Bahkan juga tidak dapat digolongkan kepada syi’ah ekstrim, karena Syi'ah Zaidiyah memandang baik para sahabat (yang dikafirkan oleh Imamiyah dan Isma'iliyah), seperti: Utsman, Thalhah, Zubair, Aisyah, terlebih lagi kepada dua sahabat Rasulullah, khalifah Abu Bakar dan dan Umar .
Terdapat juga pandangan lain dan tak dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, yaitu asumsi bahwa Zaidiyah sebenarnya bukan golongan syi’ah, melainkan ia salah satu dari aliran pemikiran Mu’tazilah. Dengan alasan: jika ide mengaitkan Zaidiyah dengan Syi’ah atas dasar bahwa pendiri Zaidiyah adalah berasal dari keturunan ahlu bait, maka begitu juga halnya dengan mu'tazilah, sesungguhnya ide pemikiran Mu’tazilah juga muncul dari ajaran ahlu bait. Statemen ini bukan merupakan sesuatu yang aneh dan menimbulkan rasa heran, sebab Washil bin 'Atha sebagai pendiri Mu’tazilah belajar dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad al-Hanafiyyah yang merupakan ahlu bait.
Di samping itu, Zaidiyah bukan mazhab yang ekstrim dan berlebihan, sebagaimana ekstimnya syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Sebagai contoh yang konkrit, kepemimpinan imam Ali dijadikan fokus utama golongan Syi’ah dan membuahkan nilai-nilai yang ekstrim. Dan keekstriman tersebut tidak ditemukan dalam sikap Zaidiyah terhadap imam, di mana Zaidiyah tidak menganggap imam itu ma'sum. Hal ini disebabkan karena Zaidiyah sangat moderat dalam menilai seorang imam, dalam arti lain tidak mengkultuskan imam. Ditambah lagi, Zaidiyah tidak mengkafirkan para sahabat, sebagaimana syi’ah Imamiyah dan Isma’iliyah terang-terangan mengkafirkan mereka.
Di antara ulama yang berpandangan bahwa Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran Mu’tazilah dan bukan bagian dari golongan Syi’ah adalah, DR. Muhammad Imarah, lalu diikuti oleh Dr. Abdul Aziz al-Maqalih. Keduanya menegaskan bahwa: "(Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran dalam Mu’tazilah. Oleh karena itu, tidaklah tepat pandangan para ulama -baik klasik ataupun kontemporer- yang menggolongkan Zaidiyah sebagai bagian daripada syi’ah" . Senada dengan pandangan diatas, Syekh Ali Asfur menafikan Zaidiyah sebagai bagian dari golongan Syi’ah, dengan alasan yang sama juga bahwa Zaidiyah tidak mengatakan imam itu ma’sum (terpelihara dari noda dan dosa) .
Hemat penulis ini merupakan asumsi yang keliru dan perlu di tinjau ulang. Sebab semangat Syi’ah sangat jelas dalam Zaidiyah. Khususnya pada masalah Imamah (politik), di mana mereka mensyaratkan (seperti halnya Imamiyah dan Isma'iliyah) bahwa imam mesti berasal dari keturunan Fatimah. Dan bedanya, kalau Imamiyah dan Isma'iliyah mensyaratkan garis keturunan dari imam Husein saja, sedangkan Zaidiyah berpendapat dari garis keturunan keduanya, yaitu: Hasan dan Husein, (dan hal ini juga yang membuat mereka bertengkar secara interen).
Adapun alasan bahwa Syi'ah Zaidiyah dikenal sebagai golongan yang memiliki pemikiran yang moderat dan tidak ekstrim dibandingkan golongan Syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Maka alasan inipun tidak dapat diterima. Sebab, kemoderatan dan keekstriman berpikir merupakan tabi’at tiap golongan dan aliran manapun. Oleh karena itu, tiap-tiap golongan dapat ditemukan kecenderungan moderat dan ekstrim, seperti halnya dalam golongan Syi'ah Zaidiyah. Di sanapun terdapat sekumpulan ulama Zaidiyah yang berpikiran ekstrim yang dikenal dengan golongan (Syi'ah Zaidiyah al-Jarudiyah). Rincian pandangan golongan ini dapat dibaca dalam buku penulis tentang teori politik Syi'ah "al-Firaq as-Syi'iyyah wa Ushuuluha as-Siyasiyah wa Mauqif Ahli Sunnah Minha" USIM, Malaysia, 2009.
Imam Shalih al-Maqbali di lain tempat menjelaskan tentang adanya unsur moderat dan unsur ekstrim dalam tiap golongan, seperti yang terjadi dalam Syi'ah Zaidiyah. Ia menjelaskan lebih jauh bahwa: "Sebagian dari pengikut Awam Zaidiyah ada yang berpandangan bahwa derajat dan kedudukan seorang imam sama saja dengan kedudukan Nabi … dan hal ini membuktikan bahwa setiap mazhab ada saja unsur bid’ah didalamnya. Bahkan dipenuhi dengan berbagai bid’ah. Dan terlebih lagi kalau orang tersebut hanya mengandalkan kepada akal pikirannya sendiri. Dan yang tepenting serta merupakan realiti bahwa semua mazhab telah berbuat demikian, walaupun dalam sebagian permasalahan saja" .
Juga perlu ditandaskan di sini, bahwa ulama Syi’ah Imamiyah telah menegaskan Zaidiyah sebagai salah satu golongan Syi’ah. Syekh al-Mufid (w 413H) berkata: "Sesungguhnya syi’ah itu ada dua golongan: Imamiyah dan Zaidiyah) . Dan Imamiyah yang dimaksudkan disini adalah: Itsna ‘Asyariah dan Ismal’iliyah".
Pada tempat lain, Syekh Muhammad Husein al-Kasyiful Ghita dalam penjelasannya tentang perbedaan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah dibandingkan syi’ah lain, ia menegaskan: "
keistimewaan utama yang dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dibandingkan dengan seluruh golongan dan aliran keislaman yang lain, yaitu keyakinan mereka terhadap imam dua belas. Dan atas dasar meyakini imam dua belas inilah yang membuat penamaan golongan imamiyah dengan nama "al-Itsna ‘Asyariah".
Sebab tidak semua golongan Syi’ah meyakini dua belas imam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penamaan Syi’ah mencakupi juga golongan Zaidiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Fathiyyah dan lain-lain" . Sebagai pelengkap, Nasywan al-Humayri menegaskan pembagian gologan Syi’ah kepada enam sekte, yaitu: (Saba'iyyah, Sahabiyyah, Gharabiyyah, Kamiliyyah, Zaidiyyah dan Imamiyyah) .
Ada pandangan lain dari Al-Malithi. Ia berpandangan, bahwa Mu’tazilah itu sebenarnya adalah bagian dari golongan Syi’ah Zaidiyah. Tentu pandangan ini tak dapat diterima. Sebab tidak dapat dipepertanggunjawabkan keilmiahannya.
Demikianlah asal usul penamaan Rafidhah, yang merupakan gelaran atau julukan yang diberikan oleh pendiri Syi’ah Zaidiyah yang dikategorikan sebagai salah satu golongan terbesar Syi’ah selain Syi'ah Imamiyah Itsna’asyariah dan Syi'ah Isma’iliyah Bathinyah.
DR Kamaludin Nurdin Marjuni
Department of Islamic Theology & Religion
ISLAMIC SCIENCE UNIVERSITY OF MALAYSIA
Apa beda syiah dan rafidhah? Kapan muncul istilah rafidhah? Tamu situs kita, DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, membahas masalah ini, lewat makalahnya yang dikirim pada kami lewat email.
Istilah "Rafidhah" sering kita dengar di berbagai buku, majalah dan media massa, baik di Timur Tengah ataupun di Negara-Negara Islam, Namun sayangnya terdapat beberapa kekeliruan dalam memahaminya, sehingga ungkapan "Rafidhah" belum begitu dipastikan apakah gelaran tersebut untuk seluruh sekte Syi’ah, atau hanya sekte-sekte tertentu saja dalam berbagai aliran Syi'ah?. Untuk menjawab hal ini (hakikat pemakaian istilah "Rafidhah"), maka penulis dalam tulisan ini akan memaparkan asal-usul munculnya "Rafidhah".
Kalau melihat sejarah, penamaan Rafidhah ini erat kaitannya dengan gelaran yang diberikan oleh pendiri syi’ah Zaidiyah yaitu Imam Zain bin Ali, yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H.
Salah seorang ulama Syi'ah Zaidiyah Imam Yahya bin Hamzah 'Alawi (w. 749 H) mendefinisikan Syi’ah Zaidiyah sebagai: "Setiap golongan memiliki doktrin yang dibawa oleh pemimpin masing-masing. Adapun istilah Zaidiyah muncul setelah era Imam Zaid bin Ali bin al-Husain. Semenjak itulah Zaidiyah dikenal sebagai salah satu aliran Syi’ah yang mengatasnamakan nama pemimpinnya".
Jelas dari teks diatas penamaan Syi’ah Zaidiyah dikaitkan dengan Imam Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan Zaidiyah merupakan salah satu kelompok Syiah terbesar selain Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Isma’iliyah yang masih eksis sampai saat ini. Imam Ahmad bin Yahya al-Murtadha (w. 840 H) dalam kitabnya yang terkenal "al-Bahru az-Zahhar" menegaskan, bahwa ada tiga golongan besar Syi’ah, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Isma’ilyah (di kenal dengan Syi'ah Bathiniyah).
Sumber-sumber sejarah dan kitab-kitab klasik yang membahas tentang aliran-aliran Islam menjelaskan bahwa sebenarnya sejarah kemunculan Zaidiyah ditandai ketika Imam Zaid melancarkan revolusi melawan pemerintahan Bani Umayyah, yang didukung oleh lima belas ribu pasukan berasal dari penduduk Kufah di Iraq, di mana hal serupa dilakukan sebelumnya oleh kakek Imam Zaid yaitu imam Hussein bin Ali bin Abi Talib, dan mengalami kegagalan fatal dalam pertempuran di kota Karbala, dengan menewaskan 61 tentara Imam Hussein bin Ali. Namun selanjutnya Imam Zaid tidak menerima kegagalan tersebut, justru ia bersikeras untuk meneruskan revolusi kakeknya dan terus menerus memerangi Bani Umayyah sampai titik darah penghabisan. Maka ia dan bala tentaranya meninggalkan kota Kufah menuju tempat kekuasaan gubernur (Yusuf bin Umar at-Thsaqafi) yang merupakan agen kepala negara ketika itu (Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan) yang berkuasa dari tahun 105 sampai tahun 125 Hijriyah.
Tatkala kedua pasukan tersebut bertemu dan saling berhadap-hadapan, dan sebelum kedua pasukan tersebut memulai peperangan, pasukan imam Zaid yang berasal dari penduduk Kufah berkata kepada Imam Zaid: "Kami akan menyokong perjuangamu, namun sebelumnya kami ingin tahu terlebih dahulu sikapmu terhadap Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab di mana kedua-duanya telah menzalimi kakekmu Imam Ali bin Abi Thalib". Imam Zaid menjawab: "bagi saya mereka berdua adalah orang yang baik, dan saya tak pernah mendengar ucapan dari ayahku Imam Zainal Abidin tentang perihal keduanya kecuali kebaikan. Dan kalaulah saat ini saya berani melawan dan menantang perang Bani Umayyah, itu disebabkan karena mereka telah membunuh kakek saya (imam Husain bin Ali). Di samping itu, mereka telah memberanguskan kota Madinah di tengah teriknya matahari pada siang hari. Ketika itu terjadilah peperangan sengit di pintu Tiba kota Madinah. Dan tentara Yazid bin Mu’awiyah (w 63H) ketika itu telah menginjak-injak kehormatan kami, dan membunuh beberapa orang sahabat. Dan mereka menghujani mesjid dengan lemparan batu dan api".
Setelah mendengar sikap dan jawaban Imam Zaid, para tentara Kufah meninggalkan Imam Zaid. Dan Imam Zaid berkata kepada mereka: "kalian telah menolak saya, kalian telah menolak saya". Semenjak hari itu tentara tersebut dikenal dengan nama (Rafidhah) . Mereka inilah yang di kemudian hari dikenal dengan nama golongan Syi’ah Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah.
Peristiwa inilah yang menjadi akar sejarah penggunaan istilah (Rafidhah) bagi golongan syi’ah Imamiyah, yang di tandai dengan penolakan dukungan perang mereka bersama Imam Zaid untuk menghadapi gubernur Iraq ketika itu (Yusuf bin Umar at-Tsaqafi). Sejarah ini dicatat oleh salah satu sejarawan dan ulama Zaidiyah yang bernama Nasywan al-Himyari (w 573H). Dan dia menegaskan bahwa Penamaan Rafidha bagi golongan syi’ah, disebabkan oleh penolakan mereka membantu imam Zaid untuk berpeperang melawan Bani Umayyah. Yaitu, ketika mereka menanyakan sikap Imam Zaid terhadap Abu Bakar dan Umar. Dan ternyata Imam Zaid memberikan tanggapan yang positif terhadap kedua mantan khalifah tersebut) .
Dan kemungkinan besar catatan Nasywan inilah yang membuat salah satu tokoh Mu’tazilah (al-Jahidz) menyimpulkan, bahwa syi’ah sebenarnya terbagi kepada dua golongan saja, yaitu: Syi'ah Zaidiyah dan Syi'ah Rafidhah. Meskipun demikian, dia mengakui kalau masih terdapat golongan lain, namun golongan tersebut baginya tidak terorganisir.
Dari keterangan al-Jahidz nampak jelas bahwa istilah "Rafidhah" menurutnya adalah dua golongan syi’ah, yaitu: Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah dan Ismiliyah al-Bathiniyah.
Hemat penulis, berdasarkan keterangan diatas, sebuah kekeliruan bila memandang perkataan atau istilah "Rafidhah" disamaratakan untuk semua golongan syi’ah tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Seperti yang terjadi pada salah seorang sejarawan Ahlu Sunnah yang sangat populer yang berasal dari golongan 'Asy'ariah, yaitu Abdul Qahir al-Baghdadi dalam bukunya "al-Farq Baina al-Firaq". Di situ disebutkan: "Golongan Rafidhah setelah wafatnya imam Ali bin Abi Thalib terpecah kepada empat golongan, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah dan Ghulat (ekstrim). Dan anehnya pandangan inipun diikuti oleh al-Isfarayani yang menegaskan kembali bahwa: "Golongan-golongan Rafidhah terbagi kepada tiga, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Kaisaniyah".
Kekeliruan ini diingatkan oleh salah seorang ulama syi’ah Zaidiyah "Ahmad bin Musa at-Thabari". Ia menegaskan bahwa: "Asumsi golongan al-Hasywiyah (Ahlu Sunnah) terhadap syi’ah, mereka menjuluki semua golongan syi’ah dengan satu penamaan, yaitu Rafidhah. Pandangan ini dari segi sejarah tentunya keliru. Sebab yang dimaksud Rafidhah sebenarnya adalah Syi'ah Imamiyah yang merupakan salah satu golongan Syi’ah. Mereka menolak untuk menyokong imam Zaid dalam berperang melawan pasukan Umawiyyah, padahal mereka sendiri telah membai'at imam Zaid. Bahkan pada hakikatnya, golongan imamiyah sendiri memiliki beberapa sekte lagi, diantaranya: Syi'ah Qaramithah (Isma'iliyah). Pada kesempatan lain ia menjelaskan bahwa: "Golongan Imamiyah adalah pengikut imam Musa al-Kazhim bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Itsna'asyariyah), dan pengikut imam Isma’il bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Isma'iliyah".
Kemudian, imam Shalih al-Maqbali ikut menegaskan juga bahwa syi’ah Zaidiyah bukanlah bagian dari golongan Rafidhah, dan bukan pula golongan Syi’ah ekstim (ghulat). Ia berkata: (Syi’ah Zaidiyah tidak masuk ke dalam golongan Rafidhah. Bahkan juga tidak dapat digolongkan kepada syi’ah ekstrim, karena Syi'ah Zaidiyah memandang baik para sahabat (yang dikafirkan oleh Imamiyah dan Isma'iliyah), seperti: Utsman, Thalhah, Zubair, Aisyah, terlebih lagi kepada dua sahabat Rasulullah, khalifah Abu Bakar dan dan Umar .
Terdapat juga pandangan lain dan tak dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, yaitu asumsi bahwa Zaidiyah sebenarnya bukan golongan syi’ah, melainkan ia salah satu dari aliran pemikiran Mu’tazilah. Dengan alasan: jika ide mengaitkan Zaidiyah dengan Syi’ah atas dasar bahwa pendiri Zaidiyah adalah berasal dari keturunan ahlu bait, maka begitu juga halnya dengan mu'tazilah, sesungguhnya ide pemikiran Mu’tazilah juga muncul dari ajaran ahlu bait. Statemen ini bukan merupakan sesuatu yang aneh dan menimbulkan rasa heran, sebab Washil bin 'Atha sebagai pendiri Mu’tazilah belajar dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad al-Hanafiyyah yang merupakan ahlu bait.
Di samping itu, Zaidiyah bukan mazhab yang ekstrim dan berlebihan, sebagaimana ekstimnya syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Sebagai contoh yang konkrit, kepemimpinan imam Ali dijadikan fokus utama golongan Syi’ah dan membuahkan nilai-nilai yang ekstrim. Dan keekstriman tersebut tidak ditemukan dalam sikap Zaidiyah terhadap imam, di mana Zaidiyah tidak menganggap imam itu ma'sum. Hal ini disebabkan karena Zaidiyah sangat moderat dalam menilai seorang imam, dalam arti lain tidak mengkultuskan imam. Ditambah lagi, Zaidiyah tidak mengkafirkan para sahabat, sebagaimana syi’ah Imamiyah dan Isma’iliyah terang-terangan mengkafirkan mereka.
Di antara ulama yang berpandangan bahwa Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran Mu’tazilah dan bukan bagian dari golongan Syi’ah adalah, DR. Muhammad Imarah, lalu diikuti oleh Dr. Abdul Aziz al-Maqalih. Keduanya menegaskan bahwa: "(Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran dalam Mu’tazilah. Oleh karena itu, tidaklah tepat pandangan para ulama -baik klasik ataupun kontemporer- yang menggolongkan Zaidiyah sebagai bagian daripada syi’ah" . Senada dengan pandangan diatas, Syekh Ali Asfur menafikan Zaidiyah sebagai bagian dari golongan Syi’ah, dengan alasan yang sama juga bahwa Zaidiyah tidak mengatakan imam itu ma’sum (terpelihara dari noda dan dosa) .
Hemat penulis ini merupakan asumsi yang keliru dan perlu di tinjau ulang. Sebab semangat Syi’ah sangat jelas dalam Zaidiyah. Khususnya pada masalah Imamah (politik), di mana mereka mensyaratkan (seperti halnya Imamiyah dan Isma'iliyah) bahwa imam mesti berasal dari keturunan Fatimah. Dan bedanya, kalau Imamiyah dan Isma'iliyah mensyaratkan garis keturunan dari imam Husein saja, sedangkan Zaidiyah berpendapat dari garis keturunan keduanya, yaitu: Hasan dan Husein, (dan hal ini juga yang membuat mereka bertengkar secara interen).
Adapun alasan bahwa Syi'ah Zaidiyah dikenal sebagai golongan yang memiliki pemikiran yang moderat dan tidak ekstrim dibandingkan golongan Syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Maka alasan inipun tidak dapat diterima. Sebab, kemoderatan dan keekstriman berpikir merupakan tabi’at tiap golongan dan aliran manapun. Oleh karena itu, tiap-tiap golongan dapat ditemukan kecenderungan moderat dan ekstrim, seperti halnya dalam golongan Syi'ah Zaidiyah. Di sanapun terdapat sekumpulan ulama Zaidiyah yang berpikiran ekstrim yang dikenal dengan golongan (Syi'ah Zaidiyah al-Jarudiyah). Rincian pandangan golongan ini dapat dibaca dalam buku penulis tentang teori politik Syi'ah "al-Firaq as-Syi'iyyah wa Ushuuluha as-Siyasiyah wa Mauqif Ahli Sunnah Minha" USIM, Malaysia, 2009.
Imam Shalih al-Maqbali di lain tempat menjelaskan tentang adanya unsur moderat dan unsur ekstrim dalam tiap golongan, seperti yang terjadi dalam Syi'ah Zaidiyah. Ia menjelaskan lebih jauh bahwa: "Sebagian dari pengikut Awam Zaidiyah ada yang berpandangan bahwa derajat dan kedudukan seorang imam sama saja dengan kedudukan Nabi … dan hal ini membuktikan bahwa setiap mazhab ada saja unsur bid’ah didalamnya. Bahkan dipenuhi dengan berbagai bid’ah. Dan terlebih lagi kalau orang tersebut hanya mengandalkan kepada akal pikirannya sendiri. Dan yang tepenting serta merupakan realiti bahwa semua mazhab telah berbuat demikian, walaupun dalam sebagian permasalahan saja" .
Juga perlu ditandaskan di sini, bahwa ulama Syi’ah Imamiyah telah menegaskan Zaidiyah sebagai salah satu golongan Syi’ah. Syekh al-Mufid (w 413H) berkata: "Sesungguhnya syi’ah itu ada dua golongan: Imamiyah dan Zaidiyah) . Dan Imamiyah yang dimaksudkan disini adalah: Itsna ‘Asyariah dan Ismal’iliyah".
Pada tempat lain, Syekh Muhammad Husein al-Kasyiful Ghita dalam penjelasannya tentang perbedaan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah dibandingkan syi’ah lain, ia menegaskan: "
keistimewaan utama yang dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dibandingkan dengan seluruh golongan dan aliran keislaman yang lain, yaitu keyakinan mereka terhadap imam dua belas. Dan atas dasar meyakini imam dua belas inilah yang membuat penamaan golongan imamiyah dengan nama "al-Itsna ‘Asyariah".
Sebab tidak semua golongan Syi’ah meyakini dua belas imam. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penamaan Syi’ah mencakupi juga golongan Zaidiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Fathiyyah dan lain-lain" . Sebagai pelengkap, Nasywan al-Humayri menegaskan pembagian gologan Syi’ah kepada enam sekte, yaitu: (Saba'iyyah, Sahabiyyah, Gharabiyyah, Kamiliyyah, Zaidiyyah dan Imamiyyah) .
Ada pandangan lain dari Al-Malithi. Ia berpandangan, bahwa Mu’tazilah itu sebenarnya adalah bagian dari golongan Syi’ah Zaidiyah. Tentu pandangan ini tak dapat diterima. Sebab tidak dapat dipepertanggunjawabkan keilmiahannya.
Demikianlah asal usul penamaan Rafidhah, yang merupakan gelaran atau julukan yang diberikan oleh pendiri Syi’ah Zaidiyah yang dikategorikan sebagai salah satu golongan terbesar Syi’ah selain Syi'ah Imamiyah Itsna’asyariah dan Syi'ah Isma’iliyah Bathinyah.
DR Kamaludin Nurdin Marjuni
Department of Islamic Theology & Religion
ISLAMIC SCIENCE UNIVERSITY OF MALAYSIA
BUKTI NYATA KEPALSUAN MAZHAB SYI'AH
Ternyata sejarah menyimpan bukti-bukti bahwa mazhab syiah -yang ada hari ini- bukanlah mazhab yang dianut oleh Nabi dan Ahlulbait. Apa saja bukti-bukti itu? Silahkan baca selengkapnya.
Ulama syi’ah selalu membuat klaim bahwa mazhab mereka adalah warisan dari keluarga Nabi . Kita banyak mendengar klaim seperti ini di mana-mana, khususnya ditujukan bagi muslim yang awam. Awam di sini bukan sekedar awam dalam artian tidak berpendidikan atau tidak terpelajar, tetapi awam dalam pemahaman Islam, termasuk kalangan awam yang saya maksud adalah kalangan intelektual yang berpendidikan tinggi hingga menyelesaikan jenjang pasca sarjana, barangkali juga diberi gelar profesor. Tetapi dalam masalah pemahaman agama sangat awam, bahkan banyak dari pemilik gelar –satu gelar ataupun lebih - yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan benar.
Banyak orang awam terpesona oleh cerita-cerita yang enak didengar tentang mazhab ahlulbait, begitu juga cerita tentang penderitaan ahlulbait dan cerita-cerita lainnya. Mereka terpengaruh oleh cerita-cerita syiah tanpa bisa melacak asal usul cerita-cerita itu, tanpa bisa memilah apakah cerita itu benar adanya atau hanya sekedar dongeng tanpa ada faktanya. Di satu sisi kita kasihan melihat orang-orang awam yang tertipu, tetapi di sisi lain kita bisa memaklumi bahwa orang awam tidak dapat melacak asal usul periwayatan sebuah cerita. Karena untuk melacak kebenaran sebuah cerita bukan hal yang mudah bagi orang awam, begitu juga memanipulasi cerita tidak mudah dilakukan oleh orang awam.
Tetapi jika kita melihat lagi sejarah dengan teliti, kita akan menemukan peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan banyak klaim yang dibuat oleh syiah. Hingga akhirnya kita bertanya-tanya tentang kebenaran klaim syiah. Dan yang lebih mengherankan lagi, syiah tetap saja tidak bergeming dan bersikeras memegang teguh klaimnya yang telah dibantah oleh sejarah. Yang disebut klaim bisa jadi hanya kesimpulan dari beberapa fakta yang bisa saja keliru, namun mestinya jika klaim itu bertabrakan dengan satu bukti nyata dan sejarah yang benar-benar terjadi, mestinya mereka yang mencari kebenaran akan meninjau kembali pemikiran sebelumnya yang keliru.
Tetapi berbeda bagi ulama syiah, karena ada beberapa ulama syiah berusaha menutupi peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan mazhab syiah, atau seperti kata Abbas Al Qummi : dapat melemahkan akidah orang banyak, yang bisa kita temukan dalam kitab Ma’rifatul Imam, karya Sayyid Muhammad Husein Al Huseini:
Temanku – Ayatullah Sayyid Shadruddin Al Jaza’iri- menceritakan pada suatu hari dia berada di rumah Ayatullah Sayyid Muhsin Al Amin Al Amili di Syam, kebetulan Tsiqatul Muhadditsin Abbas Al Qummi juga ada di sana. Lalu terjadilah dialog antara Abbas Al Qummi dan Muhsin Al Amin. Abbas Al Qummi bertanya pada Muhsin Al Amin mengapa anda menyebutkan baiat imam Ali Zainal Abidin kepada Yazid bin Muawiyah, -semoga dia dan ayahnya dikutuk dan masuk neraka- dalam kitab “A’yanu As Syi’ah”? Muhsin Al Amin menjawab : kitab A’yanu As Syi’ah adalah kitab sejarah, karena telah terbukti dalam sejarah bahwa ketika Muslim bin Uqbah menyerang kota Madinah, membunuh dan merampok serta memperbolehkan kehormatan selama tiga hari atas perintah Yazid, melakukan kejahatan yang tidak mampu ditulis oleh pena, imam As Sajjad telah berbaiat pada yazid karena kepentingan mendesak, dan karena taqiyah untuk menjaga diri dan bani hasyim. Baiat ini adalah seperti baiat Ali pada Abubakar setelah enam bulan dari wafatnya Nabi , setelah syahidnya Fatimah.
Abbas Al Qummi mengatakan: tidak boleh menyebutkan kejadian ini meskipun benar terjadi, karena dapat melemahkan akidah orang banyak, dan kita harus selalu menyebutkan kejadian yang tidak betentangan dengan akidah orang banyak.
Muhsin Al Amin mengatakan: saya tidak tahu mana kejadian sejarah yang ada manfaat di dalamnya dan mana yang tidak ada manfaatnya, hendaknya anda mengingatkan saya pada kejadian yang tidak ada manfaatnya, saya tidak akan menuliskannya.
Untuk membrowsing referensinya, silahkan klik di sini
Selain berusaha “menghapus” peristiwa itu dari buku-buku, ulama syiah juga menebarkan keraguan seputar peristiwa-peristiwa yang tidak sejalan dengan kepentingan syiah dan “melemahkan akidah orang”, seperti Ali Al Milani yang mencoba meragukan peristiwa Abubakar diperintahkan oleh Nabi untuk menjadi imam shalat. Dia mencoba menguji peristiwa itu melalui metode penelitian hadits ala syiah. Namun itu tidak banyak berguna karena peristiwa itu tercantum di Shahih Bukhari, yang dianggap shahih oleh kaum muslimin. Jika peristiwa itu diragukan, maka sudah semestinya peristiwa lainnya yang tercantum dalam Shahih Bukhari juga ikut diragukan, seperti peristiwa Saqifah, dan peristiwa Nabi yang menyerahkan bendera perang pada Ali pada perang Khaibar. Juga hadits tentang kedudukan Nabi Muhammad dan Ali yang dinyatakan bagai Nabi Musa dan Nabi Harun.
Akhirnya orang awam banyak yang tidak mengetahui –atau meragukan- peristiwa-peristiwa penting yang bertentangan dengan kepentingan penyebaran syiah, hingga akhirnya peristiwa-peristiwa itu tidak dijadikan data dalam proses menarik kesimpulan. Akhirnya kesimpulan itu bisa jadi benar secara urutan logika, tetapi karena ada data yang tidak diikutkan –atau premis yang tidak valid- maka kesimpulannya menjadi keliru.
Sejarah keluarga Nabi
Pada makalah singkat ini kami akan membuktikan pada pembaca seputar sejarah keluarga Nabi yang disepakati oleh para sejarawan baik sunni maupun syiah, yang akan membuktikan bahwa para ahlul bait tidak pernah menganut ajaran yang dianut dan diyakini oleh kaum syiah hari ini.
Seluruh sejarawan baik dari pihak syiah maupun sunni bahwa ahlulbait Nabi tinggal bermukim di kota madinah, di tengah-tengah penganut mazhab ahlussunnah wal jamaah, sebagian Khalifah yang berkuasa menginginkan mereka agar pindah ke kota lain, tetapi mereka tetap ingin tinggal di kota Madinah.
Meskipun Musa Al Kazhim akhirnya pindah ke Irak atas permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid, tinggal sebagai tamu dinasti abbasiyah hingga meninggal dunia di baghdad pada tahun 183 hijriyah, dan dikubur di Baghdad, hari ini daerah di sekitar kuburnya disebut dengan kazhimiyah, karena kuburnya ada di sana.
Begitu pula Ali Ar Ridha dipanggil oleh Al Ma’mun untuk dijadikan putra mahkota yang akan menggantikan jabatannya sebagai khalifah, akhirnya Ali pergi ke khurasan dan meninggal dunia pada tahun 203 Hijriyah, dan dimakamkan di kota Masyhad.
Bagitu juga Ali Al Hadi meninggalkan kota Madinah, tetapi tidak menuju kufah dan malah tinggal di Samarra’, karena memenuhi panggilan Khalifah Al Mutawakkil, dan meninggal dunia pada tahun 254 hijriyah, meninggalkan dua orang anak yang bernama hasan dan Ja’far. Hasan menjadi imam kesebelas bagi syiah sementara Ja’far dijuluki oleh syiah dengan julukan Ja’far al Kadzab(si penipu) karena dia menyangkal keberadaan anak Hasan al Askari yang diyakini keberadaannya oleh syiah, yang mana dengan itu dia membongkar kepalsuan ajaran syiah. Dengan ini bisa dipahami bahwa keberadaan para imam ahlulbait di luar kota madninah adalah dalam waktu yang sangat singkat, dan semua itu di luar keinginan mereka sendiri, karena memenuhi panggilan khalifah yang berkuasa saat itu.
Di sini muncul beberapa pertanyaan yang logis alias masuk akal tentang mazhab yang dianut oleh keluarga Nabi nan suci. Bukan hanya pertanyaan, tapi bukti-bukti nyata bagi mereka yang mempergunakan akal sehatnya untuk berpikir, yang tidak dapat dibantah oleh syiah baik di masa lalu atau saat ini (jika ada pembaca yang dapat membantah saya persilahkan, tapi saya tidak menjanjikan imbalan): Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya pemalsuan sejarah bahwa para imam adalah bermazhab syiah :
Ali berada di bawah ketaatan para khulafa Rasyidin yang menjabat khalifah sebelumnya, jika memang mazhab Ali berbeda dengan para khalifah sebelumnya –seperti diklaim oleh syiah- sudah pasti Ali akan keluar dari Madinah yang penduduknya tidak mau berbaiat kepadanya, dan pergi ke negeri Islam lainnya, apalagi negeri yang belum lama masuk dalam Islam seperti Irak dan Persia, yang mana penduduk negeri itu baru masuk Islam dan haus akan kebenaran, jika memang Ali benar-benar dihalangi untuk menduduki jabatan yang menjadi haknya pasti mereka akan menolongnya, tetapi yang terjadi adalah Ali tidak keluar dari Madinah, baru keluar dari madinah setelah dibaiat menjadi khalifah.
Begitu juga peristiwa perdamaian antara Hasan dan Muawiyah, sudah semestinya Hasan tidak menyerahkan jabatan imamah pada Muawiyah, jika memang imamah adalah jabatan yang sama seperti kenabian –seperti diyakini syiah, lihat Ashlu Syi’ah wa Ushuluha juga Aqaidul Imamiyah-, sudah semestinya Hasan berjuang sampai tetes darah terakhir, apalagi ribuan tentara siap untuk mendukungnya menumpas Muawiyah, bukannya menumpas Muawiyah, Hasan malah menyerahkan jabatan yang menjadi amanat ilahi –sebagaimana kenabian- kepada musuh yang telah memerangi ayahnya.
Para imam setelah imam Ali tidak pernah memberontak pada khalifah yang adil, kecuali imam husein yang syahid di Karbala, meskipun demikian beliau memberontak karena kezhaliman Yazid, bukan karena husein yang menginginkan untuk menjadi imam, meskipun dia adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah saat itu.
Maka kita simak saat Zaid bin Ali berdialog dengan Muhammad Al Baqir mengenai apakah untuk menjadi seorang imam disyaratkan untuk memberontak, sedangkan zaid meyakini hal itu, yaitu untuk menjadi imam seseorang harus memberontak pada khalifah. Muhammad Al Baqir membantah hal itu dengan menyatakan jika syarat yang ditetapkan oleh zaid benar maka ayah mereka berdua “Ali bin Husain” bukanlah imam karena dia tidak memberontak pada Yazid dan tidak mengajak orang lain untuk memberontak. Peristiwa baiat Ali bin Husein terhadap Yazid disebutkan oleh Muhsin Al Amin dalam A’yanus Syiah.
Juga bagaimana para keluarga Nabi tetap tinggal di tengah-tengah ahlussunnah jika memang mereka bermazhab syiah –seperti klaim syiah selama ini- , mengapa mereka tidak tinggal di wilayah yang banyak terdapat orang yang mencintai mereka dari golongan rafidhah dan ghulat seperti di Kufah maupun Khurasan, apalagi saat mereka tinggal di Madinah mereka tidak luput dari pengawasan Bani Abbasiyah yang saat itu menguasai pemerintahan. Berbeda ketika mereka menyebar di negeri lain.
Semua ahlulbait yang memberontak kepada khalifah tidak ada yang bermazhab syiah rafidhah, mereka memberontak karena alasan politik, bukan karena alasan mazhab, sedangkan ahlulbait yang berhasil mendirikan negara tidak ada dari mereka yang menerapkan mazhab syiah: Seperti : Ahlulbait yang bermazhab sunni, yang berhasil mendirikan negara adalah: Idris bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pendiri dinasti Adarisah di Maghrib, bahkan Idris bin Hasan adalah penyebab utama dari menyebarnya mazhab maliki di maroko, semua itu karena imam Malik tidak mengakui keabsahan baiat Abu Ja’far Al Manshur yang telah berbaiat sebelumnya kepada Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang dikenal dengan nama An Nafsu Az Zakiyyah, maka dia berpendapat bahwa Abu Ja’far masih terikat baiat dengan Muhammad bin Hasan, imam Malik disiksa karena pendapatnya itu, dan dia tidak menarik ucapannya.
Baiat kepada Muhammad dilakukan secara rahasia, di antara yang berbaiat adalah saudara-saudaranya, ayahnya, Abu Ja’far Al Manshur, Abul Abbas dan Ja’far As Shadiq yang dianggap oleh syiah sebagai imam ke enam, juga banyak tokoh ahlul bait lainnya.
Asyraf Makkah yang merupakan keturunan Imam Husein, yang memerintah Makkah beberapa abad yang lalu.
Begitu juga Asyraf madinah yang merupakan keturunan Hasan, yang memerintah kota Madinah. Begitu juga ahlulbait yang bermazhab Zaidi, walaupun mereka bermazhab Zaidi tapi mereka tidak terpengaruh oleh ajaran Rafidhah, mereka hanya menganggap Ali lebih utama dibanding Abubakar dan Umar, mereka juga mensyaratkan bahwa yang lebih mulia dan utama harus menjabat khalifah, namun mereka juga mencintai seluruh sahabat Nabi , yang dalam sejarah dikenal dengan istilah syiah sebagai sikap politik, bukan sebagai mazhab.
Ahlulbait penganut mazhab zaidi yang berhasil mendirikan negara dan tidak terpengaruh mazhab rafidhah:
Muhammad bin Yusuf Al Ukhaidhir, dia adalah Muhammad bin Yusuf bin Ibrahim bin Musa Al Jaun bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pendiri pemerintahan Ukhaidhiri di wilayah Yamamah, begitu juga anak keturunannya, Muhammad adalah orang yang datang dari Hijaz ke Yamamah dan mendirikan negara di sana pada tahun 252 H/866 M.
Begitu juga Husein bin Qasim Ar Rassi, pendiri pemerintahan Alawiyah di Sha’dah dan Shan’a, Yaman, pada tahun 280 H. Ayahnya yang bernama Qasim Ar Rassi adalah penulis kitab “bantahan terhadap kaum rafidhah”, yang telah dicetak.
An Nashir lil Haqq Al Hasan yang dijuluki Al Athrusy karena pendengarannya kurang baik, pendiri negara Alawiyyin di Dailam, yang mengajarkan islam pada penduduk Jil dan Dailam yang kekuasaannya mencapai Thabaristan, berhasil membebaskan Amil dan masuk ke kota Jalus pada tahun 301 H, tetap memimpin pemerintahan hingga wafat tahun 304 H. dia meninggalkan warisan ilmiyah yang banyak, yang tidak memuat ajaran rafidhah sedikitpun, di antaranya adalah kitab Al Bisat, ditahqiq oleh Abdul Karim Jadban, diterbitkan pertama kali pada tahun 1997 oleh dar turats di Sha’dah.
Sedangkan banyak dari ahlulbait sendiri yang termasuk ulam ahlussunnah, di antaranya adalah kebanyakan dari 11 imam,- karena imam yang ke 12 sebenarnya tidak pernah ada- seperti Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad al Baqir, Ja’far as Shadiq, Musa al Kazhim dan ahlulbait lainnya. Begitu juga Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Abdullah bin Yazid bin Muthalib bin Abdi Manaf bin Qushay Al Muththalibi As Syafi’I, beliau adalah imam salah satu dari empat mazhab dalam ahlussunnah wal jamaah, yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Nabi , karena dia adalah keturunan Muthalib bin Abdi Manaf, sama seperti Nabi Muhammad yang juga keturunan Abdi Manaf, sedangkan keluarga Muththalib juga termasuk ahlulbait yang tidak boleh menerima sedekah, seperti pendapat jumhur ulama.
Al Qur’an memuat kisah Nabi Isa yang menolak klaim kaum Nasrani terhadap dirinya, menyatakan bahwa Nabi Isa bukanlah Tuhan yang layak disembah. Kita perlu meneliti lebih dalam sebelum meyakini sesuatu. Jika mazhab syiah bukanlah mazhab ahlulbait seperti diklaim oleh syi'ah, lalu mazhab siapa?
Ulama syi’ah selalu membuat klaim bahwa mazhab mereka adalah warisan dari keluarga Nabi . Kita banyak mendengar klaim seperti ini di mana-mana, khususnya ditujukan bagi muslim yang awam. Awam di sini bukan sekedar awam dalam artian tidak berpendidikan atau tidak terpelajar, tetapi awam dalam pemahaman Islam, termasuk kalangan awam yang saya maksud adalah kalangan intelektual yang berpendidikan tinggi hingga menyelesaikan jenjang pasca sarjana, barangkali juga diberi gelar profesor. Tetapi dalam masalah pemahaman agama sangat awam, bahkan banyak dari pemilik gelar –satu gelar ataupun lebih - yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan benar.
Banyak orang awam terpesona oleh cerita-cerita yang enak didengar tentang mazhab ahlulbait, begitu juga cerita tentang penderitaan ahlulbait dan cerita-cerita lainnya. Mereka terpengaruh oleh cerita-cerita syiah tanpa bisa melacak asal usul cerita-cerita itu, tanpa bisa memilah apakah cerita itu benar adanya atau hanya sekedar dongeng tanpa ada faktanya. Di satu sisi kita kasihan melihat orang-orang awam yang tertipu, tetapi di sisi lain kita bisa memaklumi bahwa orang awam tidak dapat melacak asal usul periwayatan sebuah cerita. Karena untuk melacak kebenaran sebuah cerita bukan hal yang mudah bagi orang awam, begitu juga memanipulasi cerita tidak mudah dilakukan oleh orang awam.
Tetapi jika kita melihat lagi sejarah dengan teliti, kita akan menemukan peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan banyak klaim yang dibuat oleh syiah. Hingga akhirnya kita bertanya-tanya tentang kebenaran klaim syiah. Dan yang lebih mengherankan lagi, syiah tetap saja tidak bergeming dan bersikeras memegang teguh klaimnya yang telah dibantah oleh sejarah. Yang disebut klaim bisa jadi hanya kesimpulan dari beberapa fakta yang bisa saja keliru, namun mestinya jika klaim itu bertabrakan dengan satu bukti nyata dan sejarah yang benar-benar terjadi, mestinya mereka yang mencari kebenaran akan meninjau kembali pemikiran sebelumnya yang keliru.
Tetapi berbeda bagi ulama syiah, karena ada beberapa ulama syiah berusaha menutupi peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan mazhab syiah, atau seperti kata Abbas Al Qummi : dapat melemahkan akidah orang banyak, yang bisa kita temukan dalam kitab Ma’rifatul Imam, karya Sayyid Muhammad Husein Al Huseini:
Temanku – Ayatullah Sayyid Shadruddin Al Jaza’iri- menceritakan pada suatu hari dia berada di rumah Ayatullah Sayyid Muhsin Al Amin Al Amili di Syam, kebetulan Tsiqatul Muhadditsin Abbas Al Qummi juga ada di sana. Lalu terjadilah dialog antara Abbas Al Qummi dan Muhsin Al Amin. Abbas Al Qummi bertanya pada Muhsin Al Amin mengapa anda menyebutkan baiat imam Ali Zainal Abidin kepada Yazid bin Muawiyah, -semoga dia dan ayahnya dikutuk dan masuk neraka- dalam kitab “A’yanu As Syi’ah”? Muhsin Al Amin menjawab : kitab A’yanu As Syi’ah adalah kitab sejarah, karena telah terbukti dalam sejarah bahwa ketika Muslim bin Uqbah menyerang kota Madinah, membunuh dan merampok serta memperbolehkan kehormatan selama tiga hari atas perintah Yazid, melakukan kejahatan yang tidak mampu ditulis oleh pena, imam As Sajjad telah berbaiat pada yazid karena kepentingan mendesak, dan karena taqiyah untuk menjaga diri dan bani hasyim. Baiat ini adalah seperti baiat Ali pada Abubakar setelah enam bulan dari wafatnya Nabi , setelah syahidnya Fatimah.
Abbas Al Qummi mengatakan: tidak boleh menyebutkan kejadian ini meskipun benar terjadi, karena dapat melemahkan akidah orang banyak, dan kita harus selalu menyebutkan kejadian yang tidak betentangan dengan akidah orang banyak.
Muhsin Al Amin mengatakan: saya tidak tahu mana kejadian sejarah yang ada manfaat di dalamnya dan mana yang tidak ada manfaatnya, hendaknya anda mengingatkan saya pada kejadian yang tidak ada manfaatnya, saya tidak akan menuliskannya.
Untuk membrowsing referensinya, silahkan klik di sini
Selain berusaha “menghapus” peristiwa itu dari buku-buku, ulama syiah juga menebarkan keraguan seputar peristiwa-peristiwa yang tidak sejalan dengan kepentingan syiah dan “melemahkan akidah orang”, seperti Ali Al Milani yang mencoba meragukan peristiwa Abubakar diperintahkan oleh Nabi untuk menjadi imam shalat. Dia mencoba menguji peristiwa itu melalui metode penelitian hadits ala syiah. Namun itu tidak banyak berguna karena peristiwa itu tercantum di Shahih Bukhari, yang dianggap shahih oleh kaum muslimin. Jika peristiwa itu diragukan, maka sudah semestinya peristiwa lainnya yang tercantum dalam Shahih Bukhari juga ikut diragukan, seperti peristiwa Saqifah, dan peristiwa Nabi yang menyerahkan bendera perang pada Ali pada perang Khaibar. Juga hadits tentang kedudukan Nabi Muhammad dan Ali yang dinyatakan bagai Nabi Musa dan Nabi Harun.
Akhirnya orang awam banyak yang tidak mengetahui –atau meragukan- peristiwa-peristiwa penting yang bertentangan dengan kepentingan penyebaran syiah, hingga akhirnya peristiwa-peristiwa itu tidak dijadikan data dalam proses menarik kesimpulan. Akhirnya kesimpulan itu bisa jadi benar secara urutan logika, tetapi karena ada data yang tidak diikutkan –atau premis yang tidak valid- maka kesimpulannya menjadi keliru.
Sejarah keluarga Nabi
Pada makalah singkat ini kami akan membuktikan pada pembaca seputar sejarah keluarga Nabi yang disepakati oleh para sejarawan baik sunni maupun syiah, yang akan membuktikan bahwa para ahlul bait tidak pernah menganut ajaran yang dianut dan diyakini oleh kaum syiah hari ini.
Seluruh sejarawan baik dari pihak syiah maupun sunni bahwa ahlulbait Nabi tinggal bermukim di kota madinah, di tengah-tengah penganut mazhab ahlussunnah wal jamaah, sebagian Khalifah yang berkuasa menginginkan mereka agar pindah ke kota lain, tetapi mereka tetap ingin tinggal di kota Madinah.
Meskipun Musa Al Kazhim akhirnya pindah ke Irak atas permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid, tinggal sebagai tamu dinasti abbasiyah hingga meninggal dunia di baghdad pada tahun 183 hijriyah, dan dikubur di Baghdad, hari ini daerah di sekitar kuburnya disebut dengan kazhimiyah, karena kuburnya ada di sana.
Begitu pula Ali Ar Ridha dipanggil oleh Al Ma’mun untuk dijadikan putra mahkota yang akan menggantikan jabatannya sebagai khalifah, akhirnya Ali pergi ke khurasan dan meninggal dunia pada tahun 203 Hijriyah, dan dimakamkan di kota Masyhad.
Bagitu juga Ali Al Hadi meninggalkan kota Madinah, tetapi tidak menuju kufah dan malah tinggal di Samarra’, karena memenuhi panggilan Khalifah Al Mutawakkil, dan meninggal dunia pada tahun 254 hijriyah, meninggalkan dua orang anak yang bernama hasan dan Ja’far. Hasan menjadi imam kesebelas bagi syiah sementara Ja’far dijuluki oleh syiah dengan julukan Ja’far al Kadzab(si penipu) karena dia menyangkal keberadaan anak Hasan al Askari yang diyakini keberadaannya oleh syiah, yang mana dengan itu dia membongkar kepalsuan ajaran syiah. Dengan ini bisa dipahami bahwa keberadaan para imam ahlulbait di luar kota madninah adalah dalam waktu yang sangat singkat, dan semua itu di luar keinginan mereka sendiri, karena memenuhi panggilan khalifah yang berkuasa saat itu.
Di sini muncul beberapa pertanyaan yang logis alias masuk akal tentang mazhab yang dianut oleh keluarga Nabi nan suci. Bukan hanya pertanyaan, tapi bukti-bukti nyata bagi mereka yang mempergunakan akal sehatnya untuk berpikir, yang tidak dapat dibantah oleh syiah baik di masa lalu atau saat ini (jika ada pembaca yang dapat membantah saya persilahkan, tapi saya tidak menjanjikan imbalan): Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya pemalsuan sejarah bahwa para imam adalah bermazhab syiah :
Ali berada di bawah ketaatan para khulafa Rasyidin yang menjabat khalifah sebelumnya, jika memang mazhab Ali berbeda dengan para khalifah sebelumnya –seperti diklaim oleh syiah- sudah pasti Ali akan keluar dari Madinah yang penduduknya tidak mau berbaiat kepadanya, dan pergi ke negeri Islam lainnya, apalagi negeri yang belum lama masuk dalam Islam seperti Irak dan Persia, yang mana penduduk negeri itu baru masuk Islam dan haus akan kebenaran, jika memang Ali benar-benar dihalangi untuk menduduki jabatan yang menjadi haknya pasti mereka akan menolongnya, tetapi yang terjadi adalah Ali tidak keluar dari Madinah, baru keluar dari madinah setelah dibaiat menjadi khalifah.
Begitu juga peristiwa perdamaian antara Hasan dan Muawiyah, sudah semestinya Hasan tidak menyerahkan jabatan imamah pada Muawiyah, jika memang imamah adalah jabatan yang sama seperti kenabian –seperti diyakini syiah, lihat Ashlu Syi’ah wa Ushuluha juga Aqaidul Imamiyah-, sudah semestinya Hasan berjuang sampai tetes darah terakhir, apalagi ribuan tentara siap untuk mendukungnya menumpas Muawiyah, bukannya menumpas Muawiyah, Hasan malah menyerahkan jabatan yang menjadi amanat ilahi –sebagaimana kenabian- kepada musuh yang telah memerangi ayahnya.
Para imam setelah imam Ali tidak pernah memberontak pada khalifah yang adil, kecuali imam husein yang syahid di Karbala, meskipun demikian beliau memberontak karena kezhaliman Yazid, bukan karena husein yang menginginkan untuk menjadi imam, meskipun dia adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah saat itu.
Maka kita simak saat Zaid bin Ali berdialog dengan Muhammad Al Baqir mengenai apakah untuk menjadi seorang imam disyaratkan untuk memberontak, sedangkan zaid meyakini hal itu, yaitu untuk menjadi imam seseorang harus memberontak pada khalifah. Muhammad Al Baqir membantah hal itu dengan menyatakan jika syarat yang ditetapkan oleh zaid benar maka ayah mereka berdua “Ali bin Husain” bukanlah imam karena dia tidak memberontak pada Yazid dan tidak mengajak orang lain untuk memberontak. Peristiwa baiat Ali bin Husein terhadap Yazid disebutkan oleh Muhsin Al Amin dalam A’yanus Syiah.
Juga bagaimana para keluarga Nabi tetap tinggal di tengah-tengah ahlussunnah jika memang mereka bermazhab syiah –seperti klaim syiah selama ini- , mengapa mereka tidak tinggal di wilayah yang banyak terdapat orang yang mencintai mereka dari golongan rafidhah dan ghulat seperti di Kufah maupun Khurasan, apalagi saat mereka tinggal di Madinah mereka tidak luput dari pengawasan Bani Abbasiyah yang saat itu menguasai pemerintahan. Berbeda ketika mereka menyebar di negeri lain.
Semua ahlulbait yang memberontak kepada khalifah tidak ada yang bermazhab syiah rafidhah, mereka memberontak karena alasan politik, bukan karena alasan mazhab, sedangkan ahlulbait yang berhasil mendirikan negara tidak ada dari mereka yang menerapkan mazhab syiah: Seperti : Ahlulbait yang bermazhab sunni, yang berhasil mendirikan negara adalah: Idris bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pendiri dinasti Adarisah di Maghrib, bahkan Idris bin Hasan adalah penyebab utama dari menyebarnya mazhab maliki di maroko, semua itu karena imam Malik tidak mengakui keabsahan baiat Abu Ja’far Al Manshur yang telah berbaiat sebelumnya kepada Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang dikenal dengan nama An Nafsu Az Zakiyyah, maka dia berpendapat bahwa Abu Ja’far masih terikat baiat dengan Muhammad bin Hasan, imam Malik disiksa karena pendapatnya itu, dan dia tidak menarik ucapannya.
Baiat kepada Muhammad dilakukan secara rahasia, di antara yang berbaiat adalah saudara-saudaranya, ayahnya, Abu Ja’far Al Manshur, Abul Abbas dan Ja’far As Shadiq yang dianggap oleh syiah sebagai imam ke enam, juga banyak tokoh ahlul bait lainnya.
Asyraf Makkah yang merupakan keturunan Imam Husein, yang memerintah Makkah beberapa abad yang lalu.
Begitu juga Asyraf madinah yang merupakan keturunan Hasan, yang memerintah kota Madinah. Begitu juga ahlulbait yang bermazhab Zaidi, walaupun mereka bermazhab Zaidi tapi mereka tidak terpengaruh oleh ajaran Rafidhah, mereka hanya menganggap Ali lebih utama dibanding Abubakar dan Umar, mereka juga mensyaratkan bahwa yang lebih mulia dan utama harus menjabat khalifah, namun mereka juga mencintai seluruh sahabat Nabi , yang dalam sejarah dikenal dengan istilah syiah sebagai sikap politik, bukan sebagai mazhab.
Ahlulbait penganut mazhab zaidi yang berhasil mendirikan negara dan tidak terpengaruh mazhab rafidhah:
Muhammad bin Yusuf Al Ukhaidhir, dia adalah Muhammad bin Yusuf bin Ibrahim bin Musa Al Jaun bin Hasan Al Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pendiri pemerintahan Ukhaidhiri di wilayah Yamamah, begitu juga anak keturunannya, Muhammad adalah orang yang datang dari Hijaz ke Yamamah dan mendirikan negara di sana pada tahun 252 H/866 M.
Begitu juga Husein bin Qasim Ar Rassi, pendiri pemerintahan Alawiyah di Sha’dah dan Shan’a, Yaman, pada tahun 280 H. Ayahnya yang bernama Qasim Ar Rassi adalah penulis kitab “bantahan terhadap kaum rafidhah”, yang telah dicetak.
An Nashir lil Haqq Al Hasan yang dijuluki Al Athrusy karena pendengarannya kurang baik, pendiri negara Alawiyyin di Dailam, yang mengajarkan islam pada penduduk Jil dan Dailam yang kekuasaannya mencapai Thabaristan, berhasil membebaskan Amil dan masuk ke kota Jalus pada tahun 301 H, tetap memimpin pemerintahan hingga wafat tahun 304 H. dia meninggalkan warisan ilmiyah yang banyak, yang tidak memuat ajaran rafidhah sedikitpun, di antaranya adalah kitab Al Bisat, ditahqiq oleh Abdul Karim Jadban, diterbitkan pertama kali pada tahun 1997 oleh dar turats di Sha’dah.
Sedangkan banyak dari ahlulbait sendiri yang termasuk ulam ahlussunnah, di antaranya adalah kebanyakan dari 11 imam,- karena imam yang ke 12 sebenarnya tidak pernah ada- seperti Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad al Baqir, Ja’far as Shadiq, Musa al Kazhim dan ahlulbait lainnya. Begitu juga Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Abdullah bin Yazid bin Muthalib bin Abdi Manaf bin Qushay Al Muththalibi As Syafi’I, beliau adalah imam salah satu dari empat mazhab dalam ahlussunnah wal jamaah, yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Nabi , karena dia adalah keturunan Muthalib bin Abdi Manaf, sama seperti Nabi Muhammad yang juga keturunan Abdi Manaf, sedangkan keluarga Muththalib juga termasuk ahlulbait yang tidak boleh menerima sedekah, seperti pendapat jumhur ulama.
Al Qur’an memuat kisah Nabi Isa yang menolak klaim kaum Nasrani terhadap dirinya, menyatakan bahwa Nabi Isa bukanlah Tuhan yang layak disembah. Kita perlu meneliti lebih dalam sebelum meyakini sesuatu. Jika mazhab syiah bukanlah mazhab ahlulbait seperti diklaim oleh syi'ah, lalu mazhab siapa?
Subscribe to:
Posts (Atom)