Sunday, June 24, 2012

Adakah sholat ba'diyah selepas sholat jumaat?

Dua rakaat dirumah
Sholat sunnah ba’diyah jum’at minimal jumlahnya dua reka’at, yang dilakukan di rumah.  
Hal ini berdasarkan hadist Abdullah bin Umar r.a :  

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بَعْدَ الْجُمُعَةِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ.

Maksudnya:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersolat dua rakaat sesudah (solat) Jumaat dua rakaat di rumahnya. - Hadis riwayat Imam al-Nasa’i, dalam Sunannya, Kitab al-Jumu’ah, no: 1411.
Diperkuat dengan hadist Abdullah bin Umar r.a yang lain :
عن عبد الله أنه كان إذا صلى الجمعة انصرف فسجد سجدتين في بيته ثم قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصنع ذلك .
“ Bahwasanya Abdullah bin Umar r.a jika selesai sholat Jum’at, segera melakukan sholat dua reka’at di rumahnya. Kemudian dia berkata : “ Bahwasanya Rosulullah saw melaksanakan seperti itu . “ ( HR Muslim )
Juga diperkuat dengan hadist Abdullah bin Umar r.a yang lainnya ketika menerangkan tentang sifat sholat sunnah Rosulullah saw , beliau berkata :
فكان لا يصلي بعد الجمعة حتى ينصرف فيصلي ركعتين في بيته
“ Bahwasanya Rosulullah saw tidaklah sholat sehabis Jum’at sampai beliau pergi dan sholat di rumahnya dua reka’at . “ ( HR Muslim )
Empat rakaat di masjid.
Boleh juga melakukan sholat sunnah ba’diyah jum’at dengan empat reka’at, yang dilakukan di masjid. Inilah yang dianjurkan oleh Rosulullah saw sendiri dalam beberapa hadistnya, diantaranya adalah hadist Abu Hurairah r.a bahwasanya Rosulullah saw bersabda :
إذا صلى أحدكم الجمعة فليصل بعدها أربعا
“ Jika salah satu diantara kalaian sholat Jum’at, hendaknya dia mengerjakan sholat empat reka’at sesudahnya. “ ( HR Muslim )
 Dalam lafadh lain beliau bersabda :
إذا صليتم بعد الجمعة فصلوا أربعا
“ Jika kalian sholat habis jum’at, maka sholatlah empat reka’at. “ ( HR Muslim )
Dalam lafadh lain disebutkan :
من كان منكم مصليا بعد الجمعة فليصل أربعا
“ Barang siapa diantara kalian sholat habis jum’at, maka hendaklah dia sholat empat reka’at “ ( HR Muslim )


Tuesday, June 19, 2012

Metode Mengkritik dan Mengoreksi Antara Para Da’i

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
الحمد لله رب العالمين , والصلاة والسلام على نبينا محمد النبي الأمين , وعلى آله وصحبه ومن اتبع سنته إلى يوم الدين أما بعد
Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla memerintahkan untuk berbuat adil dan melakukan perbaikan, melarang dari kezaliman, melampaui batas dan permusuhan. Dan sungguh Allah ta’ala telah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dengan membawa ajaran yang juga dibawa oleh seluruh rasul, yaitu dakwah kepada tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya bagi Allah ta’ala semata. Dan Allah ta’ala memerintahkan beliau untuk menegakkan keadilan dan melarang dari kezaliman, yaitu melarang peribadahan kepada selain Allah ta’ala, perpecahan, perselisihan dan pelanggaran atas hak-hak para hamba.

Dan sungguh telah tersebar di zaman ini, banyak sekali orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan dakwah kepada kebaikan, yang mereka itu merendahkan kehormatan saudara-saudara mereka para da’i yang sudah masyhur. Mereka berbicara menjatuhkan kehormatan para penuntut ilmu, du’at dan para penceramah. Mereka lakukan itu secara rahasia di majelis-majelis mereka. Dan terkadang mereka merekamnya di kaset-kaset lalu disebarkan di tengah-tengah manusia. Dan bisa jadi pula mereka lakukan hal itu secara terang-terangan pada ceramah terbuka di masjid-masjid.

Metode ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya dari banyak sisi:

Pertama: Hal itu adalah tindakan melampaui batas terhadap hak-haknya kaum muslimin, bahkan orang-orang khusus di antara mereka, yaitu para penuntut ilmu dan para da’i yang telah mengerahkan segenap potensi mereka untuk mengarahkan dan membimbing manusia serta memperbaiki aqidah dan manhaj mereka. Dan juga telah berusaha mengatur pelajaran-pelajaran, ceramah-ceramah dan menulis buku-buku yang bermanfaat.

Kedua: Perbuatan tersebut memecah belah persatuan kaum muslimin dan mengoyak barisan mereka. Padahal, para penuntut ilmu dan da’i itu sendiri lebih butuh kepada persatuan dan jauh dari perselisihan, perpecahan dan banyaknya desas desus di antara mereka. Secara khusus, bahwa para da’i yang direndahkan tersebut adalah dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sudah dikenal dalam memerangi bid’ah dan khurafat, melawan para da’i yang mengajak kepada kesesatan, menyingkap borok-borok dan tipu daya mereka. Maka kami tidak melihat kemaslahatan dalam perbuatan ini kecuali bagi musuh dari kalangan orang-orang kafir, munafiq dan sesat yang selalu menunggu-nunggu hal ini terjadi.

Ketiga: Perbuatan tersebut merupakan bentuk kerja sama dan pertolongan terhadap orang-orang yang ingin menghancurkan Islam, yaitu kaum sekuler, pengekor Barat dan selain mereka dari kalangan orang-orang sesat yang telah dikenal dalam menjatuhkan para da’i dan berbuat kedustaan serta memusuhi para da’i dalam tulisan maupun rekaman mereka. Maka tidaklah orang-orang yang terburu-buru tersebut menunaikan hak ukhuwah Islamiyah jika mereka menolong musuh-musuh mereka untuk memerangi saudara-saudara mereka dari kalangan penuntut ilmu, para da’i dan selain mereka.

Keempat: Sesungguhnya perbuatan tersebut akan merusak hati orang-orang umum maupun khusus, menebarkan dan menyiarkan kedustaan dan kebatilan, dan menjadi sebab semakin banyaknya ghibah dan namimah, serta membuka pintu-pintu keburukan atas orang-orang yang lemah jiwanya, yang selalu menyebarkan syubhat-syubhat, mengobarkan fitnah dan berkeinginan besar untuk menyakiti kaum muslimin dengan sesuatu yang tidak mereka lakukan.

Kelima: Bahwa banyak ucapan yang dikatakan tersebut adalah sesuatu yang tidak memiliki hakikat, melainkan sekedar persangkaan yang mana setan telah menghiasi dan menipu mereka sehingga keburukan nampak baik dalam pandangan mereka. Dan Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.” [Al-Hujurat: 12]

Dan seorang mukmin sepatutnya membawa ucapan saudara muslimnya kepada makna yang paling baik. Berkata sebagian Salaf,
لا تظن بكلمة خرجت من أخيك سوء وأنت تجد لها في الخير محملا
“Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap satu kalimat yang keluar dari saudaramu, sedang engkau mendapati kemungkinan makna yang baik baginya.”

Keenam: Apa yang terdapat pada ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dalam perkara yang dibolehkan padanya ijtihad, maka seorang yang berijtihad tidaklah dihukum dan dicela apabila dia memang layak berijtihad. Jika dia menyelisihi selainnya dalam ijtihad, sepatutnya dia didebat dengan cara yang terbaik, dengan keinginan besar agar dia mencapai kebenaran dari jalan yang paling dekat dan menolak was-was dan pemecahbelahan yang dilakukan setan di antara manusia.
Jika cara terbaik itu tidak memungkinkan, dan seseorang melihat bahwa dia harus menerangkan adanya penyimpangan maka hendaklah dengan ungkapan yang paling baik dan isyarat yang paling halus. Tanpa menyerang, atau melukai, atau berbuat zalim dalam ucapan yang dapat membawa kepada penolakan terhadap al-haq atau berpaling darinya. Dan juga tanpa disertai serangan terhadap pribadi, menuduh niat atau menambah ucapan yang tidak patut. Dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam perkara yang semisal ini,
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَكَذَ
“Mengapakah orang-orang tersebut mengucapkan ini dan itu (yakni Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menyebutkan kesalahan mereka tanpa menyebutkan nama mereka secara terang-terangan, pen).” [HR. Muslim]
Maka yang aku nasihatkan kepada Ikhwan yang telah menodai kehormatan para da’i dan melukai mereka hendaklah bertaubat kepada Allah ta’ala dari apa yang mereka tulis dengan tangan-tangan mereka, atau yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka yang telah menyebabkan rusaknya hati sebagian pemuda dan membakar mereka dengan kedengkian dan kebencian, menyibukkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan dakwah kepada Allah ta’ala, dengan desas desus dan pembicaraan tentang fulan dan fulan, mencari-cari dan memburu apa yang mereka anggap salah, hingga berlebih-lebihan dalam hal itu.
Sebagaimana aku nasihatkan kepada mereka untuk meralat apa yang telah mereka lakukan dengan suatu tulisan atau selainnya yang dapat melepaskan mereka dari perbuatan seperti ini dan berusaha menghilangkan pengaruh buruk yang ada dalam benak orang-orang yang mendengarkan ucapan mereka. Dan hendaklah mereka bersegera melakukan amalan-amalan yang dapat menghasilkan pendekatan diri kepada Allah ta’ala dan bermanfaat bagi para hamba. Juga hendaklah mereka berhati-hati dari sikap tergesa-gesa dalam memutlakkan pengkafiran, pengfasikan dan pembid’ahan kepada selain mereka tanpa ada bukti dan dalil. Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
مَنْ قَالَ لِأَخِيْهِ: يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya wahai kafir, maka ucapan tersebut pasti kembali kepada salah satu dari keduanya.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dan yang disyari’atkan bagi para da’i dan penuntut ilmu, apabila ada perkara rumit dalam ucapan orang-orang yang berilmu atau selain mereka, maka hendaklah dia merujuk kepada para ulama yang mu’tabar dan bertanya kepada mereka agar mendapatkan keterangan yang jelas dan sampai kepada hakikatnya serta menghilangkan keraguan dan syubhat, sebagai pengamalan dari firman Allah ta’ala,
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Andaikan mereka menyerahkan urusannya kepada Rasul dan Ulil Amri (pemegang urusan dari kalangan umaro dan orang-orang berilmu) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisa’: 83]

Dan kepada Allah jualah kita memohon untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin seluruhnya dan menyatukan hati serta amalan mereka di atas ketakwaan, memberikan taufiq kepada seluruh ulama kaum muslimin dan seluruh da’i yang mengajak kepada kebenaran untuk melakukan amalan yang Dia ridhoi dan bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, menyatukan kalimat mereka di atas hidayah, melindungi mereka dari sebab-sebab perpecahan dan perselisihan, menolong kebenaran dan menghinakan kebatilan dengan mereka, sesungguhnya Dia adalah Penolong dalam hal itu dan Maha Mampu melakukannya.
. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه , ومن اهتدى بهداه إلى يوم الدين

Jama’ah Tabligh Mengajarkan Syirik dan Bid’ah


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di bawah ini adalah sebuah kisah dari sekian banyak kisah yang mengandung ajaran syirik dan bid’ah yang disebarkan oleh Jama’ah Tabligh, terdapat dalam sebuah kitab yang sering dibawa oleh jama’ah ini dari satu masjid ke masjid lainnya, yaitu kitab Fadhail Al-A’mal, disebutkan pada halaman 484:
“Dari Syaikh Waliullah yang berkata dalam kitab Qaulul Jamil: “Ayah saya telah berkata bahwa ketika saya baru belajar suluk, dalam satu nafas dianjurkan supaya membaca Laa ilaaha illallah sebanyak dua ratus kali,”
Syaikh Abu Yazid Qurtubhi berkata: “Saya mendengar bahwa barang-siapa membaca kalimat Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, ia akan terbebas dari api neraka. Setelah mendengar hal itu, saya membaca untuk istri saya sesuai dengan nishab[1] tersebut. Tidak lupa, saya juga membaca untuk nishab diri saya sendiri.
Di dekat saya, tinggal seorang pemuda yang terkenal sebagai ahli kasyaf.[2] Dia juga kasyaf tentang surga dan neraka. Namun saya agak meragukan kebenarannya. Pada suatu ketika, pemuda tersebut ikut makan bersama kami. Tiba-tiba ia berkata dan meminta kepada saya sambil berteriak, katanya: “Ibu saya masuk neraka, dan telah saya saksikan keadaannya.”
Karena melihat kegelisahan pemuda tersebut, saya berpikir untuk membacakan baginya satu nishab bacaan saya untuk menyelamatkan ibunya, di samping juga untuk mengetahui kebenaran mengenai kasyaf-nya. Maka, saya membacanya sebanyak 70.000 kali sebagai nishab yang saya baca untuk diri saya itu, guna saya hadiahkan kepada ibunya. Saya meyakini dalam hati bahwa ibunya pasti selamat. Tidak ada yang mendengar niat saya ini kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Setelah beberapa waktu, pemuda tersebut berteriak, “Wahai paman, wahai paman, ibu saya telah bebas dari api neraka.”
Dari pengalaman itu, saya memperoleh dua manfaat: Pertama, saya menjadi yakin tentang keutamaan membaca Laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, karena sudah terbukti kebenarannya. Kedua, saya menjadi yakin bahwa pemuda tersebut benar-benar seorang ahli kasyaf.”[3]
Bahaya Besar dalam Kisah Ini:
  1. Perbuatan Syirik kepada Allah Rabbul ‘alamin
Kesyirikan dalam kisah di atas adalah klaim mengetahui ilmu ghaib yang mereka namakan kasyaf, bahkan dapat mengetahui keadaan seseorang apakah masuk surga atau neraka, padahal telah dimaklumi bersama bahwa hal itu termasuk perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ 
“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.” [An-Naml: 65]
Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan dalam Tafsir-nya:
يقول تعالى آمرًا رسوله صلى الله عليه وسلم أن يقول معلمًا لجميع الخلق: أنه لا يعلم أحد من أهل السموات والأرض الغيب. وقوله: { إِلا اللَّهَ } استثناء منقطع، أي: لا يعلم أحد ذلك إلا الله، عز وجل، فإنه المنفرد بذلك وحده، لا شريك له، كما قال: { وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ } الآية [الأنعام: 59]، وقال: { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [لقمان: 34]، والآيات في هذا كثيرة
“Allah ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk mengajarkan kepada seluruh makhluk, bahwasannya tidak ada satupun penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib. Dan firman Allah ta’ala, “(Tidak ada penduduk langit dan bumi yang mengetahui perkara ghaib) keuali Allah” adalah sebuah pengecualian yang terputus, yaitu bermakna: Tidak ada satupun yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya Dia esa dalam perkara ilmu tentang yang ghaib, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” [Al-An’am: 59]
Dan juga firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Luqman: 34]
Dan ayat-ayat tentang ini masih banyak.” [Tafsir Ibnu Katsir, 6/207]
Dari penjelasan di atas maka jelaslah bahwa ilmu tentang perkara ghaib adalah suatu kekhususan bagi Allah ta’ala, sehingga jika ada makhluk yang mengklaim mengetahui perkara ghaib berarti dia telah menyamakan dirinya dengan Allah ta’ala.
Demikian pula apabila seseorang meyakini ada selain Allah ta’ala yang mengetahui perkara ghaib berarti dia telah menyamakan Allah ta’ala dengan orang tersebut. Inilah hakikat kesyirikan, yaitu menyamakan Allah ta’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah ta’ala.
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menghukumi kafir terhadap orang yang mempercayai ucapan dukun dan peramal tentang perkara ghaib yang akan terjadi di masa depan, sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:
من أتى عرافًا أو كاهنًا، فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم 
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lalu dia membenarkan ucapannya, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu’alaihi wa sallam-.” [HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Albani dalam Shahih At-Targhib, no. 3047]
Adapun sebagian perkara ghaib yang disampaikan oleh para Rasul -baik Rasul dari kalangan manusia maupun malaikat yang diutus untuk menyampaikan wahyu- maka itu bukanlah suatu ilmu yang dapat mereka ketahui sendiri melainkan itu adalah ilmu yang Allah ta’ala wahyukan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ 
“(Dia adalah Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridai-Nya” [Al-Jin: 26-27]
Jadi, sebagian ilmu ghaib yang diketahui oleh makhluk adalah kekhususan bagi sebagian makhluk saja, yaitu para Rasul, bukan manusia biasa. Itupun mereka dapatkan melalui wahyu, bukan karena suatu amalan khusus, seperti dzikir tertentu dengan jumlah tertentu dan cara tertentu sebagaimana dalam kisah Jama’ah Tabligh di atas.
Sehingga para Rasul tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah Allah ta’ala wahyukan kepada mereka, maka kita tidak boleh meyakini para Rasul mengetahui perkara ghaib sebagaimana Allah ta’ala mengetahuinya. Bahkan Rasul yang paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam secara khusus diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk mengabarkan kepada manusia bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib, sebagaimana firman-Nya:
قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ 
“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.” [Al-A’rof: 188]
Inilah salah satu bentuk kesyirikan yang diajarkan oleh Jama’ah Tabligh. Dan diantara bahaya perbuatan syirik adalah menghapuskan seluruh kebaikan yang pernah diamalkan oleh pelakunya, sebagaimana firman Allah ta’ala:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu menyekutukan Allah, niscaya terhapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az-Zumar: 65]
Maka melalui tulisan ini kami nasihatkan kepada Jama’ah Tabligh secara khusus dan kaum muslimin secara umum untuk meninggalkan jama’ah yang mengajarkan kesyirikan ini dan berhati-hati darinya.
Adapun bahaya syirik lainnya dan bentuk-bentuknya dapat dilihat dalam artikel berikut:
  • PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK (1) [Link:http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/01/peringatan-dari-bahaya-syirik-1/ ]
  • PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK (2) [Link:http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/01/peringatan-dari-bahaya-syirik-2/ ]
  • PERINGATAN DARI BAHAYA SYIRIK (Ceramah) [Link:http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/13/peringatan-dari-bahaya-syirik-ceramah/ ]
  1. Perbuatan Bid’ah dalam Agama
Ulama seluruhnya sepakat[4] bahwa ibadah tidak dianggap syah apabila tidak memenuhi dua syarat:
Pertama: Ikhlas karena Allah ta’ala.
Kedua: Meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Penjelasan syarat  syahnya ibadah lebih detail dapat dilihat pada artikel:
  • Syarat Diterimanya Ibadah
    Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/03/syarat-diterimanya-ibadah/
  • Syarat Diterimanya Ibadah (Ceramah)
    Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/13/syarat-diterimanya-ibadah-ceramah/
Maka tidak cukup dalam ibadah hanya dengan modal ikhlas saja, tetapi harus disertai dengan peneladanan terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sehingga apabila seseorang beribadah kepada Allah ta’ala dengan niat yang ikhlas namun tidak meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka tidak diterima amalannya, sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang tidak berasal darinya maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Juga sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَد
“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Inilah bahaya perbuatan bid’ah dalam agama, yaitu tertolaknya amalan bid’ah karena tidak meneladani Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sangat mengherankan, Jama’ah Tabligh yang katanya mau meneladani dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum, ternyata dakwah mereka sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan teladan para sahabat radhiyallahu’anhum.
Dalam kisah di atas, terdapat beberapa bentuk bid’ah:
1)     Membaca Laa ilaaha illallah dalam satu nafas.
2)     Menentukan jumlah dzikir 200 kali.
3)     Menentukan jumlah dzikir 70.000 kali.
4)   Berdzikir untuk orang lain (sebagai hadiah), baik yang masih hidup maupun sudah mati.
5)   Menetapkan keyakinan dan amalan tanpa berdasarkan dalil, tetapi melalui kasyaf yang syirik.
Ini semuanya bid’ah, tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum.
Adapun bahaya perbuatan bid’ah dapat dilihat pada artikel Peringatan dari Bahaya Bid’ah.
Link: http://nasihatonline.wordpress.com/2010/08/01/peringatan-dari-bahaya-bid’ah/
Jika amalan terhapus karena syirik dan tertolak karena bid’ah, maka apa yang bisa diharapkan dari jama’ah yang mengajarkan syirik dan bid’ah ini!?
Demikianlah, apabila dakwah tidak dilandasi dengan ilmu maka kerusakannya lebih besar dibanding kebaikannya, bahkan yang lebih parah lagi, ketika mereka berbuat kerusakan mereka anggap sedang melakukan perbaikan.
Semoga pembahasan ringkas ini dapat menjadi renungan bagi Jama’ah Tabligh dan seluruh kaum muslimin.
Wallahul Muwaffiq.


[1] Nishab artinya bahagian

[2] Ahli kasyaf adalah seseorang yang mampu melihat segala hal ghaib, karena hijab telah diangkat darinya. Begitulah anggapan mereka, namun hakekatnya semua itu adalah bohong belaka.

[3] Kisah dan catatan kaki dinukil melalui perantara sebuah tulisan yang berjudul Kitab Fadha`il Al-A’mal dalam Timbangan As-Sunnah karya Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi  hafizhahullah di majalah Asy-Syari’ah.

[4] Lihat Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 115 pada syarah hadits kelima.

Mengkritisi Pemahaman “Islam” Liberal (Menyingkap Akar Kerancuan Pemikiran Irshad Manji)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Liberal, yang bermakna bebas, adalah sebuah kata yang sebetulnya tidak cocok disandarkan kepada Islam, sebab Islam itu sendiri bermakna tunduk dan patuh kepada Allah tabaraka wa ta’ala, berserah diri kepada-Nya, yang berarti tidak bebas melakukan berbagai hal dalam kehidupan ini tanpa terikat dengan ketentuan-ketentuan sang pencipta; Allah Rabbul’alamin.
Jika dinalar dengan logika yang sehat pun, makna Islam seperti di atas maka insya Allah sama sekali tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat, sebab akal yang sehat dapat memahami bahwa manusia dan seluruh alam ini adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala dan selalu butuh kepada-Nya, maka sudah sepatutnya seluruh makhluk tidak menyombongkan diri dengan menolak ketentuan-ketentuan sang pencipta; Allah jalla wa ‘ala.
Akan tetapi, jika akal manusia telah rusak, baik sadar maupun tidak sadar, maka logika di atas dapat terbalik seratus delapan puluh derajat. Namun itulah yang terjadi apabila seseorang menganut paham liberal, bebas tak terikat dengan ketentuan-ketentuan apapun juga. Menariknya, kebanyakan pelopor paham liberal adalah orang-orang yang pernah belajar “islam” di dunia barat yang notabene didominasi oleh non muslim, sehingga “wajar” jika kemudian pandangan-pandangan mereka selalu tidak ingin terikat dengan Islam.
Sebagai bukti, mereka yang berpaham liberal pada akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa (sepanjang yang kami teliti, dua poin berikut adalah pangkal kekafiran mereka):
  • Tidak ada yang bisa mengklaim bahwa Allah ta’ala, yang disembah oleh umat Islam, sebagai satu-satunya yang layak disembah sedangkan yang lain salah.
  • Semua agama sama, baik Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan lain sebagainya. Tidak boleh seorang pun mengklaim agamanya saja yang benar sedangkan yang lain salah.
Dari sini tercabang semua pandangan mereka yang menolak ajaran-ajaran Islam, diantaranya:
  1. Penolakan terhadap ketentuan waris laki-laki mendapat dua bagian wanita
  2. Imam sholat harus laki-laki
  3. Jihad terhadap orang-orang kafir
  4. Penyesatan kelompok-kelompok yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah
  5. Hukum-hukum hudud
  6. Tidak syahnya pernikahan wanita muslimah dengan laki-laki non muslim
  7. Tidak boleh saling mewarisi dengan non muslim
  8. Hingga penolakan mereka terhadap pengharaman free sex dan hubungan sejenis atau LBGT (lesbian, gay, bisexual dan transgender) yang akhir-akhir ini semakin mencuat, khususnya setelah kedatangan salah satu tokoh mereka yang lesbi; Irshad Manji.
Yang menarik dicermati adalah, meskipun mereka telah mengetahui dalil-dalil agama, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bahkan ijma’ (kesepakatan) seluruh ulama bahwa, “Tidak ada yang berhak di sembah selain Allah ta’ala, dan semua yang disembah manusia selain-Nya adalah salah” dan “Tidak ada agama yang benar selain Islam, sedangkan semua agama selain Islam tidak syah dalam pandangan Allah ta’ala,” tetapi dengan mudahnya mereka menolak seluruh dalil-dalil agama tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Diantara bentuk penolakan secara langsung adalah seperti pandangan mereka bahwa dalil-dalil agama tersebut sudah tidak otentik lagi, namun anehnya, untuk mendukung hal ini mereka tidak segan-segan menggunakan dalil-dalil agama. Dan lebih aneh lagi, ketika berargumentasi dengan dalil-dalil agama tersebut mereka tidak peduli apakah dalil yang mereka gunakan itu adalah sebuah ayat yang hukumnya sudah mansukh bahkan hadits maudhu’ (palsu) sekalipun.
Dan saya berkeyakinan hal itu terjadi karena mereka memang tidak memiliki “perangkat ilmu” untuk dapat mengenali nasikh dan mansukh, serta membedakan antara hadits maqbul (layak diterima) dan mardud (tidak layak diterima karena lemah atau palsu). Tidak adanya perangkat ilmu ini diperparah dengan telah adanya “asumsi awal” yang berusaha tetap dipertahankan tanpa peduli bahwa hal itu salah atau benar, sehingga yang terjadi adalah mencari “pembenaran” bukan “kebenaran”. Inilah yang dikenal dengan istilah ta’asshub (fanatisme), sadar maupun tidak, adanya metodelogi mencari pembenaran ini menunjukkan bahwa sifat fanatisme ini ada pada diri mereka.
Apabila kita kembali menengok ke belakang, di awal penciptaan manusia, sesungguhnya metode mencari “pembenaran” inilah yang digunakan iblis ketika menentang ketetapan Allah tabaraka wa ta’ala. Iblis sudah memiliki “asumsi awal” bahwa dialah yang lebih mulia dari Nabi Adam ‘alaihissalam, pada akhirnya diapun mencari pembenaran dengan berusaha memutar otaknya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa memang dialah yang lebih mulia dengan alasan dia tercipta dari api sedang manusia dari tanah. Dengan modal pendalilan yang lemah inilah iblis berani menentang perintah Allah tabaraka wa ta’ala, dan hasilnya diapun dimurkai dan diusir dari surga.
Penggunaan dalil-dalil agama meskipun hadits palsu inilah yang ditempuh oleh Salman Rushdie dalam “Ayat-ayat Setannya” dan diikuti begitu saja oleh Irshad Manji dalam “Beriman Tanpa Rasa Takut” (edisi terjemahan). Anehnya, Manji dalam beberapa pernyataannya selalu menyerukan agar bersikap kritis terhadap dalil-dalil agama, tidak begitu saja menerimanya, namun ternyata dia sendiri tidak mampu bersikap kritis terhadap Rushdie dan terhadap hadits palsu yang dia jadikan untuk mendukung pemikirannya. Perhatikan ucapannya berikut ini dalam mengkritisi keotentikan Al-Qur’anul Karim,
“Itulah bagaimana ”ayat-ayat setan” – ayat-ayat yang memuja berhala – dilaporkan pernah diterima oleh Muhammad dan dicatat sebagai ayat otentik untuk al-Quran. Nabi kemudian  mencoret ayat-ayat tersebut, menyalahkan tipu daya setan sebagai penyebab kesalahan catat tersebut. Namun, kenyataan bahwa para filosof muslim selama berabad-abad telah mengisahkan cerita ini sungguh telah memperlihatkan keraguan yang sudah lama ada terhadap kesempurnaan al-Quran.” (Beriman Tanpa Rasa Takut, hal. 96-97).[1] 
Walaupun sebagian ulama Islam ada yang mencantumkan hadits tentang kisah “ayat-ayat setan” tersebut pada sebagian karya-karya mereka, akan tetapi kita diajarkan untuk bersikap kritis terhadap pendapat manusia selain Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, prinsip ilmiahnya adalah seperti ucapan Al-Imam Malik rahimahullah, “Semua perkataan bisa diterima dan bisa ditolak kecuali ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam” terlebih ucapan Allah tabaraka wa ta’ala.
Kisah di atas diriwayatkan tidak kurang dari 10 riwayat namun semuanya riwayat mursal (terputus sanadnya) tidak ada yang maushul (sampai kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam) sehingga tidak dapat saling menguatkan antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu para ulama ahli hadits yang terkenal dengan ketelitian dalam meriwayatkan hadits tidak seorangpun meriwayatkan hadits ini, seperti para penyusun Kutubus Sittah; Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan An-Nasai tidak sedikitpun meriwayatkan kisah di atas. Bahkan Al-Qodhi ‘Iyadh telah menukil kesepakatan (ijma’) ulama akan batilnya matan kisah tersebut (lihat Asy-Syifa, 2/126).
Demikian pula para ulama muhaqqiqin telah meneliti dan menjelaskan kepalsuan kisah ini seperti Al-Imam Al-Mufassir Al-Qurthubi dalam Ahkamul Qur’an (12/80-84), Al-Kirmani, sebagaimana dinukil oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Al-Fath (8/498), Al-‘Aini dalam Umdatul Qori (9/47) dan Asy-Syaukani dalam Fathul Qodir (3/247-248), bagi siapa yang ingin melihat penjelasan ilmiah atas kepalsuan kisah ini secara lebih detail silakan membaca penjelasan Al-Muhaddits Al-Albani dalam sebuah buku khusus mengkritik kisah tersebut secara sanad dan matan yang berjudul, “Nashbul Majaaniq li Nasfi Qisshotil Gharaaniq.” 
MENCARI AKAR PENYIMPANGAN
Telah dimaklumi bersama bahwa untuk mengobati suatu penyakit, yang terbaik adalah dimulai dengan menghilangkan sebab munculnya penyakit tersebut. Maka sejauh yang bisa kami teliti, diantara sebab penyimpangan para penganut liberal ini adalah kerancuan berpikir (syubhat) yang ada di kepala mereka, diantaranya kerancuan berpikir mereka bahwa,
“Manusia tidak dapat mengenali hakikat kebenaran yang sejati, yang tahu hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga manusia tidak dapat meyakini ajaran yang Allah ta’ala turunkan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai satu-satunya yang benar, sedangkan yang lain salah.”
Dan kadang-kadang, kerancuan berpikir mereka ini dibungkus dengan kata-kata indah seakan-akan dalam rangka memuliakan Allah ta’ala dan menempatkan kedudukan manusia sesuai kedudukannya, namun hakikat di balik itu adalah sebaliknya, yaitu menuhankan (akal) manusia dan merendahkan Allah ‘azza wa jalla. Perhatikan ucapan Irshad Manji dalam wawancara yang diterbitkan di web resmi kaum liberal berikut ini ketika dia menolak pelarangan terhadap Ahmadiyah,
“Melarang mereka (Ahmadiyah, pen) adalah suatu bentuk kesombongan kalangan Muslim mainstream yang mengambil alih peran Tuhan. Jika kita meyakini ada kebenaran final dan hanya Tuhan yang berhak menghukum orang yang tidak beriman atau memberi pahala pada mereka yang beriman, lalu siapakah kita ini sehingga menganggap orang lain tidak beriman?”
Juga ucapan Manji dalam bukunya “Beriman Tanpa Rasa Takut”:
“Setelah begitu banyak mengeksplorasi, interpretasi pribadiku atas Al-Qur’an telah menuntunku ke arah tiga pesan yang berulang kali muncul. Pertama, hanya Tuhan yang sepenuhnya tahu kebenaran atas segala sesuatu. Kedua, hanya Tuhan saja yang dapat menghukum kaum yang tidak percaya, sesuatu yang masuk akal, karena hanya Tuhan yang tahu apa itu keyakinan yang sesungguhnya…”[2]
[Cetak tebal dari kami]
Perhatikan juga ucapan salah seorang “pembesar” mereka di web resmi kelompok liberal berikut ini,
“Saya meyakini bahwa Allah Yang Esa dan Yang Mutlak tak mungkin dijelaskan oleh manusia yang relatif. Karena itu, diperlukan kerendah-hatian dari setiap manusia untuk tak mengabsolutkan konsep ketuhanannya. Kita mesti belajar untuk tak jadi manusia yang menganggap diri selalu benar. Amat berbahaya sekiranya setiap orang mengklaim bahwa rumus ketuhanan versi dirinya adalah yang paling benar. Itu bukan hanya menunjukkan kepongahan si perumus, melainkan juga telah mengecilkan kebesaran Allah yang tak berhingga itu…”
[Cetak tebal dari kami]
MELURURSKAN KERANCUAN
Ucapan di atas jika dilihat sekilas nampak benar,[3] dan seakan-akan yang mereka inginkan dari pemikiran tersebut adalah memuliakan Allah ta’ala, akan tetapi maksud yang sebenarnya adalah, “Janganlah Anda yakini ajaran atau agama (Islam) Anda yang paling benar sedang yang lain salah, Anda tidak mampu memahami kebenaran yang hakiki, sehingga semua agama benar menurut keyakinan masing-masing maka tidak boleh saling menyalahkan, hal itu karena Anda tidak mampu memahami ucapan Allah ta’ala, hanya Allah ta’ala sendiri yang mampu mengetahui kebenaran.” Maka intinya, mereka menganggap semua agama benar, inilah makna ucapan Manji di atas.
Adapun yang dimaksudkan dalam ucapan sang “pembesar” di atas adalah, ”Jangan Anda yakini Allah ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan sedangkan yang lain salah sebagaimana makna kalimat Laa ilaaha illallah sebab Anda tidak bisa memahami makna Laa ilaaha illallah sebagaimana yang Allah ta’ala inginkan.” Maka intinya, tidak boleh menyalahkan agama lain yang menyembah selain Allah ta’ala.
Tidak diragukan lagi keyakinan di atas adalah kekafiran yang menyebabkan orang yang meyakininya murtad, keluar dari Islam. Untuk meluruskannya maka kami jawab dari beberapa sisi:
Pertama: Allah ta’ala sendiri telah menetapkan bahwa Dialah sesembahan yang benar, sesembahan selain-Nya adalah salah. Sebagaimana firman-Nya:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Yang demikian itu karena sesungguhnya dialah Allah (sesembahan) yang benar, adapun yang mereka sembah selain-Nya adalah salah, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al-Hajj: 62]
Ayat ini telah sangat jelas sekali, tidak membutuhkan penafsiran dengan akal manusia, tetapi hendaklah gunakan akal yang sehat untuk memahami dan menerima ayat ini. Jelas sekali ayat ini menujukkan bahwa hanya Allah ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar, selain-Nya adalah salah.
Berikut kami sebutkan bukti-bukti ilmiah dari wahyu dan akal yang sehat, yang mendukung bahwa makna ayat di atas adalah sesuai zhahirnya, tidak lagi membutuhkan penafsiran dari akal manusia yang terbatas.
Manusia meyakini bahwa Allah ta’ala yang telah menciptakan mereka, maka akal yang sehat dapat memahami bahwa sudah sepatutnya hanya Allah ta’ala yang layak disembah. Sehingga Allah tabaraka wa ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firmannya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” [Al-Baqorah: 21]
Oleh karena itu Allah ta’ala mencela sesembahan-sesembahan selain-Nya yang tidak sedikitpun mampu menciptakan sesuatu. Sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لاَّ يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka (orang-orang yang menyekutukan Allah ta’ala) tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 73-74]
Demikian pula jika Anda membaca pengabaran dari Allah ta’ala tentang ucapan orang-orang kafir ketika mereka menolak untuk menjadikan Allah ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan, maka logika yang sehat akan dapat memahami bahwa siapa yang menolak ketetapan tersebut berarti dia tidak ada bedanya dengan orang-orang kafir yang menentang dakwah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah ta’ala:
أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
“Apakah dia (Muhammad) menjadikan yang disembah adalah sesembahan yang satu saja, sesungguhnya ini adalah sesuatu yang sangat aneh.” [Shod: 5]
Oleh karena itu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa dosa yang paling besar adalah perbuatan syirik. Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah ta’ala suatu tandingan/sekutu padahal Dia yang menciptakanmu.” Aku berkata, “Sesungguhnya hal itu benar-benar dosa besar. Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda,  “Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu.” Aku berkata, “Kemudian apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim][4]
Dan subhanallah, seorang mukmin yang akalnya sehat dan fitrahnya lurus juga meyakini, bahwa Allah ta’ala tidak sekedar sebagai Penciptanya, bahkan dia senantiasa butuh kepada Allah ta’ala untuk dapat bertahan hidup di dunia ini, maka kesombongan mana lagi yang lebih besar dibanding orang yang menolak ketentuan Allah ta’ala untuk manusia, yaitu mengesakan-Nya dalam ibadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga.
Sehingga Allah ta’ala mengecam orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan yang sedikitpun tidak mampu memberikan manfaat ataupun mudarat kepada mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya:
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ
“Dia berkata, ‘Apakah kalian beribadah kepada selain Allah yang tidak sedikitpun mampu memberikan manfaat dan mudarat kepada kalian’.” [Al-Anbiya’: 66]
Juga firman-Nya:
قُلِ ادْعُواْ الَّذِينَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً
“Katakanlah, ‘Serulah yang kalian sangka sebagai sesembahan selain-Nya, maka mereka tidak sedikitpun mampu menghilangkan bahaya dari kalian dan tidak pula memindahkannya’.” [Al-Isra’: 56]
Maka inilah hakikat kesombongan manusia, dia butuh kepada Allah ta’ala namun dia tidak menjadikan-Nya sebagai satu-satunya sesembahan sebagaimana ketentuan-Nya, namun dengan permainan kata-katanya Manji mampu membalikkan fakta bahwa kesombongan adalah ketika seorang meyakini kebenaran apa yang telah Allah ta’ala tetapkan dengan alasan manusia tidak mampu memahami kebenaran tersebut.
Sebagai jawaban kepada Manji, berikut ini adalah sebuah hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang menjelaskan kepada kita hakikat kesombongan,
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan meskipun hanya sebesar biji dzarrah,” seseorang berkata, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang ingin pakaian dan sandalnya bagus,” Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan, “Seseungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, (kesombongan bukanlah itu) tetapi kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh manusia.” [HR. Muslim][5]
Maka silakan Anda gunakan akal sehat Anda, apakah masuk akal jika Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang menolak kebenaran adalah orang yang sombong dan dia tidak akan masuk surga padahal dia tidak dapat mengenali kebenaran tersebut!?
Apakah orang yang berakal sehat dapat menerima sesuatu sebagai kebenaran sementara dia tidak mampu mengenalinya dan tidak meyakini hal itu sebagai kebenaran yang hakiki!?
Kedua: Uraian di atas dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dipahami oleh akal manusia tanpa membutuhkan penafsiran yang rumit sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada agama yang benar di muka bumi ini selain Islam. Sebab hanya Islam satu-satunya agama yang mengajarkan tauhid dan melarang syirik. Oleh karena itu Allah ta’ala menegaskan:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” [Ali Imron: 19]
Juga penegasan Allah jalla wa ‘ala:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين
“Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama baginya maka sekali-kali tidak akan diterima dari padanya dan dia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi.” [Ali Imron: 85]
Mungkin Anda dapat mengatakan bahwa yang dimaksud Islam dalam ayat di atas adalah berserah diri kepada Allah ta’ala sehingga bisa jadi maknanya termasuk Yahudi dan Nasrani jika mereka juga berserah diri kepada Allah ta’ala. Maka kami katakan, akal sehat memahami bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang yang lebih memahami Al-Qur’an dibanding manusia yang lainnya, sebab beliau diajari Al-Qur’an secara langsung oleh Allah ta’ala melalui perantara malaikat Jibril ‘alaihissalam yang terpercaya, yang hanya menyampaikan sesuai perintah Allah ta’ala kepadanya.
Dalam hadits berikut terdapat penjelasan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bahwa siapapun termasuk Yahudi dan Nasrani yang tidak beriman dengan risalah Islam yang beliau bawa maka dia akan termasuk penghuni neraka,
وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang aku, baik Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati sebelum beriman dengan risalah yang aku diutus membawanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [HR. Muslim][6]
Ketiga: Pandangan liberal bahwa manusia tidak dapat mengetahui kebenaran adalah tidak masuk akal, sebab jika demikian adanya maka tidak perlu Allah ta’ala menurunkan wahyu-Nya sebagai kebenaran jika memang tidak dapat diketahui. Pandangan tersebut juga sama saja dengan melecehkan tugas para Rasul ‘alaihimussalam untuk menyampaikan kebenaran, karena percuma, ternyata kebenaran yang disampaikan para Rasul tersebut tidak dapat diketahui oleh manusia.
Allah ta’ala menegaskan bahwa wahyu yang diturunkannya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam itulah kebenaran:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ
“Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada wahyu yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah kebenaran dari Rabb mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” [Muhammad: 2]
Dalam ayat yang mulia ini juga, Allah ta’ala berjanji kepada orang-orang yang beriman dengan kebenaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bahwa akan dihapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan diperbaiki keadaan mereka. Maka apakah ini hanyalah sebuah janji kosong belaka sebab ternyata manusia tidak mampu mengetahui kebenaran tersebut!? Mungkinkah manusia mengimani sesuatu yang tidak mungkin dia ketahui!?
Keempat: Allah ta’ala telah mengabarkan kepada kita hakikat sesungguhnya bahwa sebetulnya manusia mampu mengenal kebenaran yang hakiki, bahkan oleh orang-orang kafir sekalipun, hanya saja sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran tersebut. Sebagaimana firman-Nya:
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Nabi Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” [Al-Baqorah: 146-147]
Dalam ayat yang mulia ini Allah ta’ala dengan jelas sekali mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah mengetahui kebenaran, sebab dahulu Allah ta’ala telah menurunkan Taurat dan Injil yang telah mengabarkan kepada mereka akan kebenaran Islam sebagai satu-satunya agama yang diterima setelah diutusnya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Akan tetapi sebagaimana kata Allah jalla wa ‘ala, mereka menyembunyikan kebenaran tersebut. Walaupun begitu nampaknya mereka masih lebih baik dari orang-orang liberal yang sama sekali tidak mampu mengenal kebenaran dan menganggap manusia seluruhnya seperti mereka.
Dalam ayat yang mulia ini juga terdapat perintah Allah ta’ala agar kita tidak meragukan kebenaran yang berasal dari-Nya, maka apakah mungkin kita tidak meragukan sesuatu yang tidak mungkin kita kenali dengan baik!?
Kelima: Sesungguhnya kerancuan liberal bahwa tidak boleh menyalahkan ajaran agama apapun yang dipahami oleh setiap orang adalah sesuatu yang tidak masuk akal, sebab hal itu tidak mungkin diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
Karena jika mereka jujur mengaplikasikannya maka pertama sekali yang melanggar kerancuan ini adalah mereka sendiri, sebab konsekuensinya mereka tidak boleh menyalahkan siapapun termasuk kaum muslimin yang menyalahkan mereka bahkan mengkafirkan mereka, toh mereka sendiri juga tidak peduli jika mati sebagai muslim ataupun kafir sama saja bagi mereka.
Namun ternyata dedengkot mereka, sebagaimana dalam web pribadinya, menyatakan kejengkelannya ketika ditanya, “Anda agamanya apa?” dan “Anda Muslim bukan?” Padahal seharusnya, sebelum dia jengkel dan menegur penanya dengan sebuah artikel khusus, adalah mengoreksi dirinya terlebih dahulu, “Mengapa Anda sampai ditanya demikian? Mengapa pula Anda harus jengkel? Bukankah Anda yang mengajarkan untuk tidak saling menyalahkan? Mengapa Anda jengkel ketika orang lain menyalahkan Anda!?”
Demikian pula, kaum liberal tidak boleh mengklaim bahwa keyakinan liberal itu sebagai kebenaran, sebab konsekuensinya akan menyalahkan keyakinan orang lain yang meyakini pemikiran liberal itu salah. Dan juga akan berbenturan dengan keyakinan mereka sendiri bahwa manusia tidak mampu mengenali kebenaran, berarti pemahaman liberal bukan pemahaman yang benar sebab dia adalah hasil dari usaha manusia. Oleh karena itu ucapan Manji di atas lebih tepat diarahkan kepadanya,
“Melarang mereka (Ahmadiyah, pen) adalah suatu bentuk kesombongan kalangan Muslim mainstream yang mengambil alih peran Tuhan…”
Maka Anda pun tidak boleh melarang orang-orang yang menyalahkan Ahmadiyah ataupun menyalahkan orang yang menyalahkan Anda. Jika Anda masih melakukannya berarti Anda telah melakukan suatu bentuk kesombongan.
Alhamdulillah, ini yang bisa kami tulis, semoga dengan membaca dalil-dalil agama dan logika-logika ini mereka dapat tersadar dari penyimpangan-penyimpangannya dan kaum muslimin terselamatkan dari kerancuan-kerancuan pemikiran mereka. Allahumma amiin.

[1] Dikutip melalui perantara sebuah web berpemahaman Khawarij, sehingga saya tidak mencantumkan alamatnya, karena khawatir menjadi ta’awun menyebarkan web menyimpang tersebut. Dan sebagai peringatan kepada sebagian Ikhwan yang insya Allah termasuk Ahlus Sunnah, “Takutlah kepada Allah ta’ala dari turut andil menyebarkan web-web berpahaman Khawarij seperti Voa-Khawarij, Era-Ikhwani, Tidak-Rahmah, dll. Janganlah engkau tertipu dengan permusuhan mereka terhadap Liberal dan Syi’ah sehingga engkau tidak waspada dengan pemahaman Khawarij yang ada pada mereka.”
[2] Dinukil dari status FB seorang Kiai Liberal pendukung Manji si Lesbi
[3] Jika diperhatikan syubhat mereka ini semisal atau bahkan lebih dahsyat dari syubhat yang dibantah oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam risalah Al-Ushulus Sittah keenam yang telah kami bahas dalam sebuah kajian, silakan download rekamannya di http://rizkytulus.wordpress.com/2012/01/19/download-kajian-ushul-sittah-ustadz-sofyan-chalid-ruray/
[4] HR. Al-Bukhari no. 4477 dan Muslim no. 267 dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu.
[5] HR. Muslim, no. 275 dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu.
[6] HR. Muslim, no, 403 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.


http://nasihatonline.wordpress.com

Monday, June 18, 2012

ILMU MUSTALAH HADITH

Bahagian Satu
Pengertian Hadith
Mustalah hadith ialah satu ilmu untuk mengetahui istilah-istilah yang digunakan dalam ilmu hadith. Orang yang mula menyusunnya ialah Qadi Abu Mahmud al-Ramahramzi [Tahun 360 Hijrah].

Hadith menurut bahasa, ialah;
Pertama: Yang baharu,
Kedua: Perkhabaran,
Ketiga: Yang dekat atau yang belum lama.

Menurut istilah ahli hadith pula: ialah segala ucapan nabi, segala perbuatan dan segala keadaannya. Masuk ke dalam pengertian keadaannya, segala yang diriwayatkan dalam buku sejarah seperti hal keputraannya, tempatnya dan segala yang bertalian dengannya. Pengertian ini samalah dengan pengertian sunnah menurut istilah golongan ahli hadith. Tetapi pengertian ini berlainan dengan pengertian ahli usul. Dan sebab berlainan ini ialah kerana berlainan jurusan yang mereka lihat dan mereka tinjau.

Ahli (ulama') hadith membahaskan peribadi rasul sebagai seorang yang dijadikan ikutan bagi umatnya. Kerana ini mereka pindahkan dan mereka terangkan segala yang bersangkutan dengan rasul, baik mengenai riwayat, perjalanannya, mengenai budi pekertinya, keutamaannya, keistimewaannya, tutur katanya, perbuatan-perbuatannya; sama ada yang dapat mewujudkan hukum atau tidak.
Ulama' usul membahaskan rasul sebagai seorang pengatur undang-undang yang meletakkan atau menciptakan dasar-dasar ijtihad bagi para mujtahid sesudahnya, dan menerangkan kepada manusia perlembagaan hidup (dustur al-hayat) maka mereka pun memperhatikan segala tutur kata rasul, perbuatan-perbuatannya dan taqrirnya, iaitu pengakuan-pengakuannya bersangkutan dengan perkara penetapan hukum.

Sementara itu ulama' fiqh membahaskan peribadi rasul sebagai seorang yang seluruh perbuatannya atau perkataannya atau menunjukkan kepada suatu hukum syara'. Mereka membahaskan hukum-hukum yang mengenai para mukallaf dan perbuatan mereka dari segi hukum wajib, haram, harus, makruh dan mandub (sunat).

Pengertian Sunnah

Sunnah menurut bahasa: ialah jalan yang dilalui sama ada terpuji atau tidak; juga suatu adat yang telah dibiasakan walaupun tidak baik.

Rasul SAW bersabda:

"Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah (perjalanan-perjalanan) orang yang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga sekiranya mereka memasuki lubang dab (serupa binatang biawak) nescaya kamu memasukinya juga." (Hadith riwayat Muslim)

"Barangsiapa menjalani suatu sunnah (perjalanan) yang baik, maka baginya pahala sunnah itu dan pahala yang mengerjakan dengannya hingga hari qiamat, dan barangsiapa mengadakan suatu sunnah (perjalanan) yang jahat (buruk) maka atasnya dosanya dan dosa orang yang mengerjakan dengannya hingga hari qiamat." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim)

Jelaslah bahawa menurut hadith tersebut, perkataan sunnah itu diertikan dengan perjalanan, sama ada baik atau pun yang jahat, sebagaimana yang dimaksudkan oleh bahasa.

Sunnah menurut istilah ahli hadith:
ialah segala yang dipindahkan dari nabi sallallahu 'alayhi wa sallam baik yang merupakan perkataan, perbuatan, mahupun yang merupakan taqrir, sebelum nabi dibangkitkan menjadi rasul, mahupun sesudahnya. Kebanyakan ahli hadith menetapkan bahawa pengertian yang demikian sama dengan pengertian hadith.

Sunnah menurut pengertian dan istilah ahli usul:
ialah segala yang dipindahkan dari nabi sallallahu 'alayhi wa sallam sama ada perkataannya dan perbuatannya, mahupun taqrirnya yang bersangkutan dengan hukum. Inilah pengertian yang dimaksudkan oleh sabdanya ini:

"Sesungguhnya aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara tidak akan kamu sesat selama kamu berpegang dengan keduanya: iaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasulnya". (Hadith riwayat Malik)

1. Contoh sunnah (hadith) perkataan (qauliyyah) ialah:

"Segala 'amal itu dengan niat." [Riwayat Bukhari, Muslim dan sekelian ulama' hadith]

2. Contoh sunnah (hadith) perbuatan (fi'iliyyah) ialah:

"Bersembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku bersembahyang." [Riwayat Bukhari dan Muslim]

3. Contoh hadith (sunnah) taqrir. Taqrir ialah:

(a) Nabi SAW membenarkan apa yang diperbuat oleh seorang sahabat dengan tidak mencegah atau menyalahkan serta menunjukkan keredaannya;

(b) menerangkan kebagusan yang diperbuat itu serta dikuatkan pula.

Contoh yang pertama ialah sebagaimana Nabi saw membenarkan ijtihad para sahabat mengenai urusan sembahyang 'Asar di Bani Quraizah dengan sabdanya:

"Jangan bersembahyang seorang kamu melainkan di Bani Quraizah." [Riwayat Bukhari]

Sebahagian sahabat memahamkan perkataan itu menurut hakikat larangannya lalu menta'khirkan sembahyang 'Asar itu sampai selepas Maghrib. Dan ada sebahagian yang lain tidak memahamkan demikian, mereka memahamkan bahawa yang dimaksudkan nabi bercepat-cepat pergi ke Bani Quraizah. Kerana itu mereka mengerjakan sembahyang 'Asar pada waktunya, sebelum tiba ke Bani Quraizah.

Kedua-dua perbuatan sahabat yang berlainan oleh berlainan ijtihad sampai kepada Nabi saw beritanya, dan Nabi saw tinggal berdiam diri tidak membantah apa-apa.

Contoh yang kedua sebagaimana yang diriwayatkan bahawa Khalid bin Walid pernah memakan dab (sejenis haiwan seperti biawak) kemudian dikemukakan orang kepada Nabi saw. Nabi saw sendiri enggan memakannya, maka bertanya sebahagian sahabat:

"Adakah diharamkan makannya ya Rasulullah? Lalu ia bersabda: Tidak! cuma binatang itu tidak ada di negeri kaumku, kerana itu aku tidak gemar kepadanya."
Selanjutnya pernah juga dinamakan sunnah itu suatu yang ditunjuki oleh dalil syara', baik berdasarkan dalil Qur'an atau pun berdasarkan hadith, mahu pun berdasarkan ijtihad para sahabat, seperti mengumpulkan mashaf (Qur'an) dan menyuruh manusia membaca menurut suhuf 'Uthman, dan seperti membukukan ilmu (menyusun dan mengarangnya).

Lawan dari sunnah ini ialah bid'ah, inilah yang dimaksudkan oleh hadith:

"Berpeganglah kamu sungguh-sungguh dengan sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang mendapat pertunjuk sesudahku." [Abu Daud & Tarmizi]

Sementara itu ulama' fiqh berpendapat, bahawa suatu yang diterima dari Nabi saw dengan tidak difardukan dan tidak diwajibkan dinamakan sunnah. Imbangannya ialah wajib, haram, makruh dan mubah. Lawannya ialah bid'ah; talak yang dijatuhkan dalam haid menurut mereka dinamakan: talak bid'ah.

Ulama' Syafi'e mengatakan bahawa sunnah itu ialah suatu yang dipahalai orang yang mengerjakannya, tidak disiksai orang yang meninggalkannya.

Menurut ulama' mazhab Hanafi, sunnah itu ialah suatu yang disunnahkan Nabi saw atau para khalifah serta dikekalkan mengerjakannya, seperti azan dan berjama'ah.

PERBEZAAN ANTARA HADITH DENGAN HADITH QUDSI

Dalam kitab-kitab hadith didapati hadith Qudsi. Ulama' hadith mengatakan bahawa hadith Qudsi itu:
ialah perkataan Nabi saw yang disebut dengan mengatakan Allah bertitah, disandarkan perkataan itu kepada Allah dan diriwayatkan daripadanya.

Kesimpulannya Hadith Qudsi: ialah titah Allah yang disampaikan kepada Nabi saw di dalam mimpi atau dengan jalan ilham, lalu Nabi saw menerangkan apa yang disampaikan itu kepada umatnya dengan ibarat atau susunan perkataannya sendiri serta menyandarkan kepada Allah; sedang hadith-hadith yang lain tidak demikian itu. Hadith Qudsi itu dinamakan juga Hadith Ilahi atau Hadith Rabbani.
Dan pernah pula dibezakan Hadith Qudsi dengan yang lainnya; iaitu segala hadith yang bersangkut dengan kebersihan atau kesucian zat Allah dan sifat-sifat kebesaran dan kemuliaanNya. [Kitab al-Dar al-Nadid min Majmu'ah al-Hafid]
Contoh Hadith Qudsi itu, Rasulullah saw bersabda:

"Firman Allah Ta'ala: Tiap-tiap amal anak Adam untuknya kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu untukKu, dan Aku akan memberi balasan dengannya. Dan puasa itu perisai, maka apabila seorang kamu berpuasa janganlah ia memaki-maki, mencarut-carut dan janganlah dia menghiruk-pikukkan; maka jika dia dimaki oleh seorang atau hendak dibunuhnya, hendaklah ia katakan: aku ini berpuasa." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim)
Rasulullah saw bersabda:

"Firman Allah Ta'ala: Aku menurut persangkaan hambaKu dan Aku bersamanya di mana saja ia sebut (ingat) akan daku." (Hadith riwayat Bukhari & Muslim)

ISTILAH-ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM 'ILMU MUSTHALAH HADITH

Di antara istilah-istilah yang digunakan itu ialah:

Sanad: iaitu jalan yang menyampaikan kepada hadith.

Isnad: iaitu menyebutkan hadith itu kepada orang yang mengatakannya. Sanad dan isnad hampir sama ertinya; keduanya adalah penting untuk menentukan nilaian hadith. 'Abdullah bin Mubarak berkata: "Isnad adalah dari urusan agama, dan kalaulah tidak kerana isnad, nescaya berkatalah orang yang mau apa yang ia mau berkata."

Musannid: iaitu orang yang meriwayatkan hadith dengan isnadnya.

Musnad: iaitu kitab yang dikumpulkan hadith di dalamnya, yang diriwayatkan dari seorang sahabat atau lebih.

Matan: iaitu hadith nabi (s.a.w) yang di akhir sanad.

Riwayat: iaitu memindahkan hadith dari seorang kepada seorang yang lain, dan orang yang memindahkan disebut rawi.

Istikhraj dan Ikhraj: iaitu mengambil sesuatu hadith dari sesuatu kitab, dan mencari sanad yang lain dari sanad penyusun kitab itu, atau menerangkan bahawa hadith itu dipindahkan oleh penyusun dari kitab yang lain; umpamanya dikatakan: Akhrajah Al-Bukhari, ertinya: mengeluarkan hadith itu oleh Imam Bukhari; maksudnya ada disebut di dalam Bukhari dan ia memindahkannya ke dalam kitabnya.

Muhaddis: iaitu orang yang banyak menghafaz hadith serta mengetahui sifat-sifat orang yang meriwayatkan tentang 'adil dan kecacatannya.

Hafiz: iaitu orang yang menghafaz sebanyak 100,000 hadith dengan isnadnya.

Hujjah: iaitu orang yang menghafaz sebanyak 300,000 hadith dengan isnadnya.

Hakim: iaitu orang yang meliputi 'ilmunya dengan urusannya hadith.

BAHAGIAN-BAHAGIAN NAMA HADITH
HADITH-HADITH ITU TERBAHAGI KEPADA BEBERAPA BAHAGIAN, DI ANTARANYA;

1. HADITH MUTAWATIR

Iaitu hadith "Perbuatan atau perkataan atau pengakuan (taqrir) Nabi saw yang diketahui oleh beberapa orang yang sampai kepada bilangan mutawatir, iaitu bilangan yang tidak mungkin pada fikiran kita bahawa mereka akan bermuafakat berbuat dusta tentang perkhabaran (hadith) itu. Dan dari mereka yang tersebut sampai pula perkhabaran itu kepada orang lain yang dipercayai. Demikianlah pertalian penerimaan turun temurun itu sampai ke akhirnya."

Contoh hadith mutawatir itu ialah:

"Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempatkan tempat duduknya di dalam neraka." [Riwayat Jama'ah dari Abu Hurairah - hadith ini menurut kata Imam Nawawi diriwayatkan oleh 200 orang sahabat.]

2. HADITH MASYHUR ATAU MUSTAFIDH

Iaitu hadith yang diriwayatkan dari tiga sanad yang berlainan orang atau hadith yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih kepada tiga orang atau lebih dan begitulah seterusnya hingga dapat sekurang-kurangnya tiga sanad yang berlainan.

Contohnya ialah:

"Orang-orang Islam ialah mereka yang sejahtera sekalian orang Islam dari (bahaya) lidahnya dan tangannya."

Hadis ini diriwayatkan oleh tiga orang Imam hadith dari sanad yang berlainan. Pertama: Imam Bukhari. Kedua: Imam Muslim. Ketiga: Imam Tirmizi.

Sanad Imam Bukhari: ialah Bukhari dari Adam dari Syu'bah dari 'Abdullah B. Abu Safar, dari Al-Sya'bi, dari 'Abdullah Bin 'Amru dari Nabi Sallallahu 'alayhi wa sallam.

Sanad Imam Muslim: ialah Imam Muslim dari Sa'id, dan Yahya, dari Abu Burdah dari Abu Burdah, dari Abu Musa dari Nabi sallallahu 'alayhi wa sallam.

Sanad Imam Tirmizi: ialah Tirmizi dari Qatadah, dari Al-Laith dari Al-Qa'qa', dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah dari Nabi sallallahu 'alayhi wa sallam.

Cubalah perhatikan ketiga-tiga sanad tersebut. Di antaranya tidak seorangpun yang sama nama dan orangnya. Abu Burdah dalam sanad Imam Muslim ada dua tetapi orangnya berlainan. Abu Burdah yang pertama itu cucu dari Abu Burdah yang kedua, jadi dengan demikian tidaklah sama.

3. HADITH SAHIH

Iaitu hadith yang berhubung sanadnya dari permulaan hingga akhirnya dan orang yang menjadi riwayatnya semuanya mempunyai sifat-sifat ini:

a) Adil
b) Dabid
c) Sejahtera dari keganjilan
d) Sejahtera dari 'illat (kecederaan) yang memburukkan).

Penjelasan Sifat-sifat Perawi:

'Adil: Yang dimaksudkan dengan 'adil ialah: Orang Islam, baligh, ber'aqal, tidak mengerjakan dosa besar, tidak pula berkekalan melakukan dosa kecil dan tidak mengerjakan perkara-perkara yang menjatuhkan maruah atau kehormatan diri.

Dabid: Yang dimaksudkan dengannya ialah: Orang yang cukup kuat ingatan untuk mengingat sesuatu yang didengarnya. Bila sahaja dikehendaki ia dapat mengeluarkannya (menyebutkannya) dari ingatannya dengan mudah. Termasuk kepada pengertian ini apabila ia menulis hadith yang telah didengarnya dan disimpannya serta diyakini benar-benar sahnya sehingga diriwayatkan orang daripadanya.

Sejahtera dari keganjilan: Yang dimaksudkan ialah: Sejahtera riwayatnya dari perbezaan dari riwayat orang-orang yang kepercayaan dengan bertambah atau berkurang pada sanadnya atau matannya.

Sejahtera dari 'illat (kecederaan yang memburukkan): Yang dimaksudkan ialah:

Sejahteranya dari sebab-sebab yang tersembunyi yang dapat memburukkan atau mencacatkan hadith, misalnya; didapati setelah dilakukan penelitian yang mendalam, bahawa di antara seorang perawi (yang meriwayatkan hadith) yang tadinya disangka kuat ingatan, tenyata seorang yang tidak kuat ingatannya.
Hadith sahih boleh dijadikan hujjah dalam hukum Islam misalnya ialah:

"Tidak ada sembahyang bagi orang yang tidak membaca Fatihah." (Riwayat Bukhari dari 'Ubadah bin Samit)

"Kalaulah tidak aku menyusahkan atas ummatku nescaya aku perintahkan mereka dengan bersugi pada tiap-tiap kali sembahyang." (Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah)

"Barangsiapa mengumpulkan (sesuatu barang untuk dijual dengan harga yang lebih mahal) maka ia adalah bersalah." (Riwayat Muslim, Abu Dawud dan Tirmizi)

4. HADITH HASAN

Iaitu hadith yang berhubung (bersambung) sanadnya dan diriwayatkan oleh orang-orang yang 'adil sama seperti hadith sahih, tetapi kurang dabidnya; iaitu kurang kekuatan ingatannya (hafaznya) lagi sejahtera dari keganjilan dan kecederaan.

Kekurangan satu syarat itu mengurangkan nilai dan martabat hadith, dan meletakkan tingkatan hadith hasan.

Hadith hasan boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sesuatu hukum. Misal hadith hasan ialah seperti misal hadith sahih yang lalu, iaitu hadith:

"Kalaulah tidak aku menyusahkan atas ummatku nescaya aku perintahkan mereka dengan bersugi pada tiap-tiap kali sembahyang." (Riwayat Bukhari dari Abu Hurairah)

Hadith ini adalah sahih menurut riwayat Bukhari dari jalan (sanad) A'raj dari Abu Hurairah. Dan hadith ini juga dikatakan hadith hasan menurut riwayat Tirmizi dari jalan (sanad) Muhammad bin 'Amru dari Abi Salamah dari Abu Hurairah.

Adapun sebab hadith ini menjadi hadith hasan kerana menurut riwayat Tirmizi bahawa Muhammad bin 'Amru salah seorang daripada sanadnya tidak mempunyai kekuatan ingatan yang diperlukan dalam syarat hadith sahih.
Lagi misal hadith hasan ialah:

"Sembelihan anak binatang dalam perut ibunya ialah sembelihan ibunya[*]."

[*] Maksudnya: cukuplah sembelihan ibunya sahaja.

Hadith ini diriwayatkan oleh beberapa imam hadith. Dan kalau dilihat dari sanad imam Tirmizi, nyatalah bahawa di antara beberapa orang sanadnya ada seorang yang benama Mujalid. Ia seorang yang lemah. Begitu pula kalau dilihat dari sanad Imam Hakim (dalam kitabnya al-Mustadrak) maka teranglah bahawa di antara beberapa orang sanadnya ada seorang yang benama Abu Laili. Ia seorang ulama' fiqh dan qadi hadith tersebut dengan sendirinya telah menjadi hadith hasan.

ISTILAH YANG DIPAKAI UNTUK MARTABAT HADITH-HADITH SAHIH

Menurut yang diistilahkan dalam ilmu ini, bahawa apabila satu hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanad mereka masing-masing maka dinamakan hadith tersebut: (riwayat Bukhari dan Muslim). Dan apabila hadith yang satu itu diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanad yang satu yang bersamaan qaul dan matan dan sanadnya, maka hadith itu dinamakan: Hadith Muttafaqun 'Alaih, ertinya: yang disetujui keduanya atasnya.

Hadith seperti ini, iaitu (yang disetujui keduanya atasnya) adalah setinggi martabat hadith, yang diutamakan dan didahulukan waktu mengambil dalil satu-satu hukum daripada yang lainnya.

Ulama' hadith telah membahagikan hadith sahih kepada tujuh bahagian.

1. Hadith sahih yang disetujui keduanya (oleh Bukhari dan Muslim), iaitu keduanya meriwayatkan dengan sanad yang satu. Ini yang dinamakan muttafaqun 'alaih.

2. Hadith sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari sendiri.

3. Hadith sahih yang diriwayatkan oleh Muslim sendiri.

4. Hadith sahih yang diriwayatkan oleh ulama' hadith (selain keduanya) dengan sanad sepakat antara keduanya. Ini yang dinamakan yang dipersetujui oleh keduanya.

5. Hadith sahih yang diriwayatkan oleh Ulama' hadith dengan sanad Bukhari menurut syarat-syarat yang dipakai Bukhari sendiri dalam kitabnya. Ini yang dinamakan menurut syarat Bukhari.

6. Hadith sahih yang diriwayatkan oleh ulama' hadith dengan sanad Muslim atau menurut syarat-syarat yang dipakai Musllm sendiri. Ini dinamakan menurut syarat Muslim.

7. Hadith sahih yang diriwayatkan oleh ulama' hadith selain Bukhari dan Muslim.
Dengan memerhatikan bahagian-bahagian ini tahulah kita bahawa hadith sahih itu bertingkat-tingkat martabatnya dan kedudukannya diutamakan dari yang lainnya dan apabila ditemui hadith lain yang bertentangan maksudnya dengan hadith sahih, maka hadith sahih inilah yang didahulukan dan diamalkan.

HADITH HASAN SAHIH

Dalam kitab-kitab hadith seperti kitab Sunan Tirmizi dan dalam kitab ini (Hadith Empat Puluh) ada didapati di akhir hadith perkataan "Hasan Sahih" ertinya hadith ini hasan lagi sahih. Dengan demikian bermakna hadith itu mempunyai dua martabat: pertama hasan dan kedua sahih.

Menurut keterangan ulama' hadith, bahawa hadith tersebut dikatakan hasan menurut perhitungan atau penilaian pada satu sanadnya. Dan dikatakan pula sahih padanya menurut perhitungan atau penilaian pada sanadnya yang lain. Ini jika pada hadith itu ada sanadnya (jalannya).

Jika pada hadith itu satu sanadnya, maka erti hasan padanya menurut pandangan segolongan ulama' hadith dan sahih menurut pandangan ulama' yang lain, yang tidak sama tinjauan terhadap sifat dan peribadi orang yang menjadi rawinya atau yang memindahkannya.

HADITH DA'IF

laitu hadith yang tidak mempunyai syarat hadith sahih dan tidak pula syarat hadith hasan, misalnya: rawinya (orang yang meriwayatkannya) bukan orang Islam, belum lagi baligh, tidak pula diketahui orangnya atau sifatnya, tidak bagus ingatannya kerana selalu lupa, tidak benar percakapannya, tetapi pernah berdusta, serta tidak menjauhi dari melakukan dosa dan perbuatan-perbuatan yang menjatuhkan maruah atau kehormatan peribadinya, ditambah lagi riwayatnya menyalahi riwayat orang yang lebih masyhur daripadanya.

Hadith da'if mempunyai martabat yang berlainan; ada yang terlampau lemah, dan ada yang lemah, menurut keadaan sanad dan matannya. Di antara hadith da'if ialah hadith munqati', mu'addal, syaz, muddarab.

Misal hadith da'if ialah:

"Barangsiapa berkata kepada orang miskin, bergembiralah engkau! Maka sesungguhnya wajiblah (tetaplah) syurga baginya." (Riwayat Ibn 'Adi)
Dalam riwayat hadith ini, ada seorang bernama 'Abdul Malik bin Harun yang dituduh pendusta. Kerana ini hadith tersebut dipandang da'if.

"Menuntut ilmu adalah fardu atas tiap-tiap orang Islam lelaki dan wanita." (Riwayat al-Baihaqi Ahmad dari Anas)

Imam al-Baihaqi berkata: Hadith ini masyhur di antara manusia tetapi sanadnya lemah dan telah diriwayatkan menerusi jalan yang banyak yang kesemuanya lemah belaka.

Sementara itu Imam Nawawi telah pula berkata: Hadith itu da'if (lemah) sekalipun maknanya sahih (betul) dan telah diriwayatkan oleh Abu Ya'la al-Musalla dalam Masnadnya dengan sanadnya sekali dari Anas dan Nabi Sallallahu 'alayhi wa sallam. Dalam sanadnya itu terdapat seorang benama Hafsin bin Sulayman, ia orang yang lemah.

"Makhluq itu keluarga Allah, dan mereka yang lebih kasih kepada Allah ialah mereka yang lebih bermanfa'at kepada keluarganya."

Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la al-Musalla dari riwayat Yusuf bin 'Atiyyah dari Thabit dari Anas dari Nabi Sallallahu 'alayhi wa sallam. Yusuf bin 'Atiyyah adalah orang yang lemah, kerana ini hadithnya adalah hadith yang lemah.

Hukum meriwayatkan hadith da'if dan mengamalkannya*

Sebahagian Ulama' membolehkan kita meriwayatkan hadith da'if dengan tidak menerangkan keda'ifannya dalam perkara yg berhubungan dengan kisah atau cerita, pengajaran atau nasihat dan yg bertalian dengan keutamaan ‘amal (Fadail al-‘amal) itu sahaja, dan tidak dalam perkara yg berhubungan dengan i'tiqad dan dengan hukum halal, haram, makhruh, sunat. Demikian menurut pendapat sebahagian Ulama'.

Seterusnya mereka sepakat menetapkan bahawa tidak boleh sama sekali kita mengamalkan hadith da'if untuk menetapkan sesuatu hukum halal, haram, hukum jual-beli, hukum perkahwinan, talaq dan lain-lain.

Imam Bukahri, Muslim dan Abu Bakar Ibn al-'Arabi menetapkan bahawa tidak boleh kita mempergunakan hadith da'if untuk segenap pekerjaan, untuk segala keperluan walaupun untuk menerangkan keutamaan sesuatu ‘amal, supaya tidak ada orang yg mengatakan kepada Rasulullah saw perkataan yg tidak baginda katakan, dan supaya tidak ada orang yg meng'itiqadkan sunat sesuatu perkara yg tidak disunatkan.

Sementara itu Imam Nawawi berkata: "Bahawa Ulama' hadith, fiqh dan lain-lain telah menetapkan bahawa boleh kita mempergunakan hadith da'if untuk ‘amal-'amal utama (Fadail ‘amal) dan untuk pengajaran menggemarkan dan menakutkan, selama hadith itu belum sampai ke darjat maudu' (palsu).

1. Hadith Sahih Li Zaatihi:

Perkataan Sahih adalah lawan kpd perkataan sakit.
Dari sudut istilah:

Iaitu Hadis yg bersambung sanadnya melalui pembawakan org yg kuat hafalan dan adil serta meriwayatkan drpd org yg kuat hafalan dan adil sehinggalah ke akhirnya tanpa terdapat syuzuz iaitu keganjilan dan tanpa ada illat iaitu kecacatan.

2. Sahih Li Ghairihi atau dinamakan juga Hasan Li Zaatihi apabila ianya diriwayatkan melalui satu atau beberapa cara yg lain maka ianya dibantu oleh suatu kekuatan pada dua bentuk:

Pertama: Riwayatnya adalah melalui perawi-perawi yg masyhur dgn kebenaran dan penjagaan rahsia sekalipun berkurangan kekuatan hafalan mereka ataupun tidak mencapai taraf ahli Hafaz yg mahir dari kalangan perawi-perawi Hadis Sahih.

Kedua: Riwayatnya adalah melalui cara yg lain di mana dgn cara ini diperolehi satu kekuatan yg dapat menggantikan apa yg hilang pada kesempurnaan kekuatan hafalan dan dapat menaikkan taraf dari taraf Hasan kpd taraf Sahih, cuma ianya bukan Li Zaatihi, bahkan ianya dianggap Li Ghairihi. Hadith Sahih:
Hukumnya:

1- Hadis tersebut adalah sahih dan wajib membuat hukum dengannya apabila terdapat di dlm kedua-dua kitab sahih Bukhari dan Muslim, sebagaimana pendapat yg dipilih oleh Ibnu Solah serta menetapkan kesahihannya.

2- Wajib beramal dgn setiap Hadis sekalipun tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar di dlm huraian kitab An-Nakhbah.

3- Hendaklah diterima kesahihannya sekalipun tiada yg beramal dengannya, sebagaimana pendapat Al-Qasimi di dlm kitab kaedah-kaedah meriwayatkan Hadis, iaitu Qawaid At-Tahdis.

4- Tidak terhalang utk beramal selepas menerima Hadis yg sahih jika diketahui tidak terdapat hukum yg membatalkan atau tiada perselisihan jumhur ulama atau tiada pertembungan, bahkan hendaklah beramal dengannya sehinggalah terdapat suatu ayat Al-Qur'an Atau Hadis yg melarang, maka hendaklah diperhatikan padanya terlebih dahulu.

5- Tidak akan mencacatkan kesahihan sesebuah Hadis walaupun hanya terdapat seorang sahaja dari kalangan sahabat yg meriwayatkannya. Ini adalah diambil drpd kata-kata Ibnu Al-Qayyim di dlm kitab (Ighathah Al-Lahfan).

6- Tidak semua Hadis yg sahih diceritakan kpd org awam. Dalilnya ialah: Hadis yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim drpd Muaz dan antaranya (Tidak ada seseorang yg mengucapkan kalimah syahadah bahawa tiada tuhan yg layak disembah melainkan Allah dan bahawa Nabi Muhammad s.a.w adalah pesuruh Allah akan memasuki neraka kerana Allah mengharamkan Neraka kepadanya). Sehubungan dgn itu Muaz berkata: Wahai Rasulullah! Apakah aku boleh menyampaikannya kpd org ramai agar mereka dapat bergembira? Rasulullah s.a.w bersabda: (Kalau begitu mereka akan hanya berserah tanpa berusaha). Tetapi Muaz menyampaikannya juga selepas kewafatan baginda.

Kedudukan Hadis Sahih mengikut karangan yg masyhur iaitu tujuh kedudukan:

1- Hadis yg telah disepakati kesahihannya oleh Syaikhan iaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun 'alaihi).

2- Hadis yg hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

3- Hadis yg hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim.

4- Hadis yg menepati syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim walaupun mereka berdua tidak meriwayatkan di dlm Sahih masing-masing. Imam Nawawi berkata: (Pendapat mereka bermaksud: Untuk memastikan Hadis Sahih kita mestilah berpandukan kpd syarat imam Bukhari dan Muslim secara mengenal pasti bahawa perawi-perawi Hadis tersebut terdapat di dlm kedua-dua kitab mereka (kitab sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim) kerana mereka berdua tidak meletakkan syarat di dlm kitab masing-masing begitu juga di dalam kitab-kitab yg lain).

5- Hadis yg menepati syarat Imam Bukhari tetapi beliau tidak meriwayatkannya di dlm kitab sahih.

6- Hadis yg menepati syarat Imam Muslim tetapi beliau tidak meriwayatkannya di dlm kitab sahih.

7- Hadis yg dianggap sahih oleh ulama-ulama selain drpd keduanya tetapi tidak menepati syarat salah seorang drpd mereka.

Bahagian Dua

Abu Isa At-Tirmizi dianggap sebagai org pertama yg diketahui telah membahagikan Hadis kpd Sahih, Hasan dan Dhaif sebagaimana yg disebut oleh Ibnu Taimiyah di dlm kitab Majmuk Al-Fatawa tetapi pengertiannya terhadap Hadis Hasan, ialah Hadis Hasan Li Ghairihi. Beliau telah membuat pengertian di dlm bab kecacatan-kecacatan yg terdapat di dlm kitab Jami'nya, di mana katanya: (Setiap Hadis yg diriwayatkan kemudian tidak terdapat pada isnadnya perawi yg dituduh berbohong dan Hadis tersebut juga tidak ganjil serta diriwayatkan dgn bentuk lain yg seumpamanya, maka pada pendapat kami ianya adalah Hadis Hasan).

Perkataan berlawanan dgn kuat. Dhaif terdapat dlm bentuk fizikal (hissi) dan maknawi. Dhaif yg dikehendaki di sini ialah dari segi maknawi.
Dari sudut istilah:

Pengertian yg dibuat oleh Ibnu Solah ialah: Setiap Hadis yg tidak terkumpul padanya sifat2 Hadis Sahih dan Hadis Hasan.

Dhaif dapat dibahagikan apabila hilang syarat2 penerimaan kpd beberapa jenis dan secara ringkasnya adalah seperti berikut:

a - Hilang syarat sanad yg bersambung. Ianya dapat dibahagikan kpd lima bahagian iaitu:

1 - Muallak 2-Mungqati' 3-Muaddhal 4-Mursal 5-Mudlis

b - Hilang syarat adil. Ianya dapat dibahagikan kpd beberapa bahagian iaitu:

1 - Maudu' 2-Matruk 3-Mungkar 4-Matruh 5-Mudha'af 6-Mubham

c - Hilang syarat kuat hafalan. Ianya terbahagi kpd:

1 - Mudraj 2-Maqlub 3- Muddtarib 4-Musahhif dan Muharrif

d - Hilang syarat terpelihara drpd syuzuz (keganjilan). Ianya dapat dibahagikan kpd satu bahagian sahaja iaitu syaz.

e - Hilang syarat terpelihara drpd Illat (kecacatan). Ianya hanyalah satu bahagian sahaja iaitu Muallil.

Hukum meriwayat dan beramal dengannya (Hadis dhaif)

Hadis-hadis Dhaif yg tidak tetap dan tidak ditegaskan pembohongannya.

Ibnu Taimiyah menyebut di dlm kitab Majmuk Al-Fatawa: (Apabila diketahui ianya adalah batal dan Hadis yg diada-adakan, tidak harus cenderung kepadanya, kerana sesuatu pembohongan adalah sama sekali tidak berfaedah, tetapi apabila terdapat ketetapan bahawa ianya adalah Sahih, maka tetaplah hukumnya dan apabila berlaku keraguan pada keduanya maka ia boleh diriwayatkan kerana kemungkinan ianya benar dan tiada kemudaratan pada pembohongannya.

Imam Ahmad berkata: Apabila seseorang berkata: Jika terdapat suatu targhib (Dorongan mendekati kebaikan) dan tarhib (Dorongan menjauhi keburukan), maka kami mempermudahkan pada sanad-sanadnya. Maksudnya: Kami meriwayatkan Hadis, di dlm Hadis tersebut disertakan dgn sanad-sanad sekalipun perawinya tidak mempunyai kepercayaan yg boleh dibuat hujah.

Begitu juga ada yg berpendapat: Ianya boleh diamalkan dari sudut kelebihan-kelebihan amalan.

Dimana (beramal dengannya ialah beramal dgn amalan yg soleh seperti membaca Al-Qur'an dan berzikir). Begitu juga pendapat beliau: (Apabila Hadis-hadis bab kelebihan mempunyai kadar dan had tertentu seperti sembahyang dlm waktu tertentu dgn bacaan tertentu atau dgn cara tertentu, maka ianya tidak harus kerana galakan terhadap gambaran yg tertentu ini, tidak tetap dgn dalil syarak).

Kemudian beliau mengakhiri kata-katanya dgn berkata: Maka keputusannya dlm bab ini, dibolehkan meriwayat dan beramal dengannya dlm keadaan targhib dan tarhib, bukan dlm bab galakan. Kemudian pegangan terhadap perkara wajib, iaitu kadar pahala dan balasan bergantung pada dalil syarak).

Kesimpulan drpd kata-kata Ibnu Taimiyah yg lepas, iaitu syarat-syarat yg wajib diikuti ketika meriwayatkan Hadis Dhaif yg tidak tetap pembohongannya serta tidak ditegaskan kebenarannya.

Syarat-syarat tersebut ialah:

1- Hendaklah terkandung dlm asas amalan seperti membaca Al-Qur'an dan doa.

2- Bukan dari ketetapan syarak atau merupakan sifat bagi Allah iaitu drpd perkara-perkara yg berhubung dgn aqidah dan hukum, juga bukan galakan dan seumpamanya.

3- Ianya bukan perkara batil yg dibuat-buat. Jika diketahui kebatilan dan ianya perkara yg dibuat-buat, maka tidak harus diambil kira dan berhujah dengannya dlm semua perkara.

Hadith Maudhu’ (Palsu / Dusta)

Pengertiannya pada bahasa:

Kalimah maudhuk iaitu menjatuhkannya dan dinamakan sedemikian kerana tergugur kedudukannya.

Dari sudut istilah:

Berita yg dibuat-buat terhadap Rasulullah [s.a.w] sebagai pembohongan terhadap baginda.

Kedudukannya:

Ianya adalah seburuk-buruk jenis Dhaif, bahkan sesetengah ulama menjadikannya satu bahagian yg berasingan, tidak tergolong drpd Hadis-hadis Dhaif dan tidak digunakan padanya dgn lafaz Hadis melainkan dari sudut org yg memaudhukkannya.

Hukum meriwayatkannya:

Telah sepakat pengharaman meriwayatkan berita yg dibuat-buat Dan disandarkan kpd Rasulullah [s.a.w], melainkan jika diiringi dgn keterangan tentang Maudhuknya, ini ialah kerana Rasulullah [s.a.w] pernah bersabda:

Sesiapa yg membuat pembohongan terhadapku dgn sengaja maka disediakan tempatnya di dlm Neraka.
Sabda Baginda lagi:

Sesiapa yg memperkatakan sesuatu tentang aku dgn percakapan yg diketahui ianya adalah bohong maka dia adalah salah seorang pembohong.

Tanda-tanda Hadis Maudhuk:

Para ulama telah menggariskan kaedah-kaedah utk mengenali Hadis-hadis Maudhu’. Di antara kaedah-kaedah tersebut ialah:

1- Pengakuan drpd pembuat sendiri, seperti pengakuan Ibnu Abu Mariam yg mengaku membuat pembohongan terhadap Hadis-hadis Kelebihan Surah.

2- Terdapat bukti pada kedudukkan hubungan perawi, seperti meriwayatkan drpd syeikh yg terbukti beliau tidak menemuinya, hidup sezaman dgn nya, meninggal dunia sebelum kelahiran perawi atau beliau tidak memasuki tempat yg beliau mendakwa pernah mendengarnya spt Makmun bin Ahmad Al-Harawi yg mendakwa pernah mendengar drpd Hisyam bin Umar, maka Ibnu Hiban bertanya padanya: Bilakah kamu memasuki Syam? Beliau menjawab: Pada tahun 250 Hijrah. Ibnu Hiban berkata: Sesungguhnya Hisyam yg diriwayatkan oleh Makmun telah meninggal dunia pada tahun 245 Hijrah.

3- Terdapat bukti pada matan yg menunjukkan pembohongannya, seperti terdapat pada riwayat tersebut kesalahan pada tata bahasa atau terdapat kelemahan pada lafaz dan tergugur makna.

4- Bersalahan dgn akal, fizikal dan penyaksian: Spt riwayat drpd Ar-Rahman bin Zaid bin Aslam bahawa kapal Nabi Nuh a.s tawaf di Baitullah tujuh keliling dan sembahyang di belakang makam dua rakaat.

5- Bersalahan dgn keterangan Al-Qur'an dan sunnah yg sahih, yg tidak boleh ditakwil seperti: Aku adalah penutup para Nabi, tiada Nabi selepasku melainkan jika dikehendaki oleh Allah; maka ianya bersalahan dengan firman Allah s.w.t yg bermaksud: (Tetapi Muhamad adalah pesuruh Allah dan penutup para Nabi) dan seperti apa yg bersalahan terhadap kebenaran sunnah yg mutawatir (Akulah penyudah, tiada Nabi selepasku).

6- Bersalahan dgn data sejarah yg diketahui pada masa Nabi s.a.w seperti riwayat dikenakan Jizyah ke atas org Yahudi selepas perang Khaibar dan tidak dikenakan kerja tanpa upah terhadap mereka dgn disaksikan oleh Saad bin Muaz dan ditulis oleh Muawiah bin Abu Sufian. Sedangkan ketetapan sejarah mengatakan bahawa Jizyah belum lagi diperkenalkan dan belum disyariatkan pada tahun peperangan Khaibar kerana ayat tentang Jizyah diturunkan selepas tahun peperangan Tabuk. Sesungguhnya Saad bin Muaz meninggal dunia sebelum peristiwa tersebut iaitu dlm peperangan Khandak. Manakala Muawiah pula memeluk Islam pada tahun pembukaan Mekah.

7- Khabar tentang perkara yg penting berulang dakwaan pembawakannya seperti yg berlaku dgn disaksikan oleh semua sahabat tetapi tidak meriwayatkanya melainkan seorang sahaja dan yg lainnya menyembunyikannya, seperti diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah memegang tangan Ali bin Abu Talib ketika dihadiri oleh seluruh sahabat sewaktu kepulangan mereka dari mengerjakan Haji Widak, kemudian baginda bersabda selepas org ramai mengenalinya: (Kanak2 ini adalah, saudaraku dan akan menjadi khalifah selepasku, maka hendaklah kamu mendengar dan mentaatinya). Adakah seseorang Muslim boleh menerima berita yg menunjukkan semua sahabat telah sepakat utk menyembunyikannya ketika mereka memilih Abu Bakar sebagai Khalifah dan dgn dipersetujui oleh Abu Bakar dan mereka menyetujuinya sbg khalifah mereka?

8- Mengandungi balasan yg berat teradap dosa kecil atau pahala yg banyak terhadap amalan yg sedikit. Perkara ini masyhur terhadap balasan siksa dan balasan baik seperti kata mereka: (Sesiapa yang mengucapkan kalimah "Tiada illah melain Allah" maka Allah akan menciptakan utk nya seekor burung yg mempunyai tujuh puluh ribu lidah manakala setiap lidah mempunyai tujuh puluh ribu bahasa yg sentiasa meminta keampunan untuknya.

Hadith Qudsi

Pengertiannya pada bahasa:

Al-Qudsi dinisbahkan kpd perkataan Al-Qudus iaitu suci, manakala Hadis Qudsi pula ialah Hadis yg dinisbahkan kpd Zat Yg Maha Suci iaitu Allah s.w.t.
Dari sudut istilah:

Hadis yg diriwayatkan kpd kita drpd Nabi s.a.w. Sanad Hadis tersebut disandarkan oleh Nabi s.a.w kpd Allah s.w.t samada bersambung atau tidak dan ianya bukan Al-Qur'an.

Bentuk Riwayatnya:

Utk meriwayatkan Hadis Qudsi perawi boleh menggunakan dua bentuk riwayat iaitu:

1 - Sabda Rasulullah s.a.w tentang apa yg diriwayatkan atau (diceritakan) oleh Allah s.w.t.
2 - Firman Allah s.w.t sebagaimana yg diriwayatkan oleh Rasulullah s.a.w.
Hukumnya:
Terbahagi kpd Hadis yg diterima atau Hadis yg ditolak mengikut keadaan perawi.

Dalam meriwayatkan hadis dhaif, ulama' telah menggariskan kaedah2 tertentu. tidak boleh secara semborono.

Al-Imam al-Nawawi ada menyebutkan:

Para ulama dari kalangan ahli Hadis, ahli Feqh dan selainnya berkata: Dibenarkan dan disukai beramal dengan hadis Dhaif dalam hal2 fadha'il serta targhib dan tarhib, selama hadis itu tidak berstatus maudhu' (palsu). (Al-Azkar, hal. 5)

Fadha'il bermaksud hadis2 yang menyatakan kelebihan beramal. Targhib ialah hadis yang mengandung galakan untuk berbuat baik. Dan tarhib pula adalah yang mengandungi ancaman bagi mereka yang berbuat jahat dan maksiat.

Berdasarkan pendapat al-Nawawi, dapat kita simpulkan bahawa beramal dengan hadis dha'if adalah dilarang kecuali:

1. Dalam hal2 fadha'il, targhib dan tarhib. Kebalikannya ialah, hadis dhaif tidak boleh digunakan sebagai hujah hukum.

2. Kedha'ifan hadis itu tidak sampai ke tahap maudhu'.

------------------------

Apabila al-Imam al-Nawawi mensyaratkan pengamalan hadis dha'if adalah yang tidak sampai ke taahap maudhu', maka kita tertanya2 apakah maksudnya? Apakah penafsirannya?

Catatan kaki di dalam al-Azkar ada menyebutkan:

"Perkataan al-Nawawi: (Selama hadis itu tidak berstatus maudhu'): Termasuk hadis yang terlalu dha'if. Maka tidak boleh beramal dengan hadis yg di dalamnya terdapat rawi yang pendusta atau tertuduh dusta. Dan, ada lagi dua syarat untuk beramal dengan hadis Dha'if, iaitu: Sesuatu amalan itu hendaklah mempunyai syahid yang lain (ada dasarnya dari nash lain yang sahih) seperti ia berada di bawah suatu nash yang umum atau di bawah satu kaedah umum. Ketika beramal dengan hadis ini hendaklah tidak di-Iktikadkan bahawa ia sabit (dari Rasulullah s.a.w.). Malah, hendaklah di-iktikadkan sebagai ihtiati (langkah berjaga2) sahaja." (ibid.)

Ini bermakna berdasarkan kepada kenyataan al-Imam al-Nawawi dan dari catatan kaki dalam kitab al-Azkar, bahawa untuk beramal dengan hadis Dhaif bukanlah secara mutlak boleh beramal. Asal sahaja ada hadis dhaif yang berbentuk fadha'il amal, maka kita boleh terus beramal dengannya. Bukan begitu. Mahu beramal dengan hadis dhai'if ada syarat-syaratnya. Sebagaimana yg dinyatakan ada 4 syarat:

1. Hadis itu untuk fadha'il a'mal, targhib dan tarhib.

2. Hadis itu tidak terlalu dha'if dan tidak maudhu'.

3. Amalannya mestilah mempunyai dasarnya dari nash sahih yang lain yang umum atau ia berada di bawah kaedah yang umum.

4. Semasa beramal, hadis itu tidak di-iktikad-kan sabit dari Rasulullah s.a.w.. Malah ia hendaklah ber-iktikad untuk ihtiyati sahaja.

Jadi, adalah suatu tanggapan yang salah apabila kita berhadapan dengan hadis dha'if lalu kita mengatakan: "Tidak mengapa, ini hanya untuk fadhilat amal sahaja.." Tanpa kita memperhatikan syarat2nya.

Antaranya, beliau menyebutkan:

"… Al-Hafiz Ibnu Hajar menetapkan tiga persyaratan untuk dapat diterimanya periwayatan yang lemah (dhaif) dalam hadis-hadis raqa'iq dan targhib. Ketiga syarat itu disebutkan oleh al-Hafiz al-Sayuthi dalam Tadribur Rawi sebagai berikut:

Pertama (syarat ini disepakati oleh para ahli): Kelemahan tersebut tidak keterlaluan. Kerana itu, harus ditolak periwayatan tunggal dari orang-orang yang memang dikenal sebagai pembohong, atau yang dicurigai sebagai pembohong, ataupun yang dikenal hafalannya sangat tidak akurat.

Kedua: Makna hadis tersebut masih dapat digolongkan dalam suatu tema dasar umum yang diakui. Maka harus ditolak setiap hadis yang hanya dikarang begitu sahaja, dan tidak ada asalnya sama sekali.

Ketiga: Pada saat penerapannya, hendaknya tidak dipercayai sebagai hadis yang tak diragukan asalnya dari Nabi s.a.w. Agar tidak terjadi penisbahan suatu ucapan kepada baginda, sedangkan baginda tidak mengucapkannya. Jadi, hendaknya hadis tersebut dipercayai dengan sikap ihtiyath (berhati-hati). (Kaifa Nata'amalu Ma'as Sunnah (edisi terjemahan: Bagaimana Memahami Hadis Nabi s.a.w.), hal. 71)
Download Pdf - Musthalahul Hadis (Ringkasan)

Khamis, 21 Jun 2007

Topic 008 - FIQHUL WAQI’

FIQHUL WAQI’

Fiqh bererti “Ilmu”. Waqi’ bererti “Kenyataan Atau Kebenaran”. Apabila dua kalimah ini digabungkan ia bererti “Ilmu Kenyataan Atau Ilmu Kebenaran”. Ia dikatakan juga sebagai “Ilmu Peristiwa Dan Hukumnya”. Namun, jika difahami penggunaan kesemua istilah-istilah ini, ia tidak dapat memberi kenyataan, kebenaran atau apa pun ilmu yang hak yang berkenaan dengannya, kecuali jika diambil atau difahami dari kitab Allah dan sunnah RasulNya. Maka fiqhul waqi’ yang sebenar adalah yang diambil, dipelajar dan difahami dari al-Quran dan as-Sunnah. Oleh kerana itu, Syeikh Nasruddin al-Albani rahimahullah berkata:

“Asas awal fiqhul waqi’ (yang dikehendaki oleh syara, Pent.) ialah mengetahui al-Kitab dan as-Sunnah melalui manhaj Salaf as-Soleh. Sama ada secara pemahaman atau cara pelaksanaannya, bukan hanya setakat pengakuan dan angan-angan. Maka tidak boleh dikatakan “memahami fiqhul waqi’ yang sebenar” sesiapa yang tidak mengetahui kitab Rabb-Nya dan sunnah Nabi-Nya”. (Lihat: Soal Jawab Haula Fiqhul Waqi’, hlm. 16-17 Al-Albani)

Secara ringkas, fiqhul waqi’ dapat difahami dengan jelas dari penjelasan Ibnul Qaiyim rahimahullah. Beliau berkata:
وَلاَ يَتَمَكَّنُ الْمُفْتِيُّ وَلاَ الْحَاكِمُ مِنَ الْفتوَى وَالْحُكْم بِالْحَقِّ اِلاَّ بِنَوْعَيْنِ مِنَ الْفَهْمِ .
“Seseorang mufti atau hakim tidak akan mampu berfatwa dan mengeluarkan (memutuskan) hukum kecuali setelah memahami (waqi’/kenyataan. Pent.) dua (jenis) pemahaman:
اَحَدُهُمَا : فَهْمُ الْوَاقَعِ ، وَالْفِقْهُ فِيْهِ ، وَاسْتِنْبَاطُ عِلْمِ حَقِيْقَته مَا وَقَعَ بَالْقَرَائِنِ وَاْلأمَارَاتِ وَالْعَلاَمَاتِ حَتَّى يحِيْطَ بِهِ عِلْمًا.
“Pertama: Memahami (tahu dan mengerti) tentang waqi’ (kejadian/keadaan/kondisi), berilmu tentang ilmu hakikat (peristiwa/kejadian yang sedang berlaku pada masyarakat. Pent.) Kemudian mampu membuat keputusan secara hakikat yang sebenarnya dari kejadian tersebut, disertai dengan pembuktian-pembuktian, tanda-tanda dan ciri-cirinya sehingga dirinya menguasai ilmu tersebut”.
وَالنَّوْعُ الثَّانِيْ : فَهْمُ الْوَاجِبِ فِى الْوَاقِعِ : وَهُوَ فَهْمُ حُكْم اللهِ الَّذِيْ حكمَ بِهِ فَى كِتَابِهِ اَوْ عَلَى لِسَانِ رَسُوْلِهِ فِى هَذَا الْوَاقِعِ.
“Kedua: Faham (menguasai) ilmu yang wajib yang berkaitan dengan kenyataan. Iaitu memahami hukum-hakam Allah di dalam al-Quran dan lisan (Sunnah) Rasul-Nya yang dengannya Allah telah menentukan sesuatu hukum berdasarkan kenyataan kejadian yang berlaku”.

Kemudian melaksanakan kedua perkara ini (yang wajib digabungkan. Pent), salah satunya dengan yang lainnya kerana tidak boleh dipisahkan. Dan sesiapa yang mengarahkan kesungguh-sungguhannya dan mengorbankan ruang waktunya yang panjang untuk yang demikian, maka dia tidak terlepas dari mendapat dua atau satu pahala dari dua perkara tersebut.

Maka orang alim dituntut untuk menguasai ilmu waqi’ atau berusaha untuk memahaminya agar dapat diputuskan peristiwa/kejadian dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. (Lihat: اعلام الموقعين 1/187. Ibnu Qaiyim)

Dari kenyataan Ibnu Qaiyim, maka fiqhul waqi’ dapat disimpulkan:

“Mengetahui hukum-ahkam Allah Subhanahu wa-Ta’ala yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah NabiNya. Kemudian mampu menerapkan keduanya pada kejadian yang berlaku serta permasalahan yang ada pada ketika itu”.

Penjelasan di atas ini berdasarkan firman Allah:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ هُمْ
“Dan hendaklah engkau berhukum antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah turuti hawa nafsu mereka”. (Al-Maidah, 5:49)
اِنَّا اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا اَرَاكَ اللهُ.
“Sesungguhnya telah Kami turunkan aL-Kitab (al-Quran) kepadamu agar kamu berhukum antara mereka dengan apa yang telah diperlihatkan Allah kepadamu”. (An-Nisaa, 105)

Dengan demikian, untuk menetapkan dan melaksanakan fiqhul waqi’ maka asasnya adalah al-Quran dan as-Sunnah kerana keduanya merupakan penerangan, petunjuk dan pelajaran dalam menghadapi waqi’.

Ini bermakna, mengamalkan fiqhul waqi’ sebagaimana yang dituntut dan mengikut manhaj yang dilalui oleh para Salaf as-Soleh, adalah memenuhi perintah Allah Subhana wa-Ta’ala yang berdasarkan firmanNya:
اِنَّا اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرَاكَ اللهُ.
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili (berhukum) antara manusia dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu”. (An-Nisaa, 4:105)
وَاَنِ احْكُمْ بِيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ هُمْ.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”. (Al-Maidah, 5:49)
هَذَا بَيَانٌ للنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ للْمُتَّقِيْنَ.
“(Al-Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran, 3:138)

Ayat di atas ini menjelaskan bahawa keadaan, kejadian (peristiwa), kondisi dan situasi (waqi’) ditundukkan dan dirujukkan kepada hukum-ahkam al-Quran dan as-Sunnah. Bukan al-Quran dan as-Sunnah diketepikan kerana memenuhi kehendak fiqhul waqi’ (kondisi, situasi, peristiwa dan kenyataan) yang berlandaskan hawa nafsu, yang diimarahkan dan yang dijadikan fiqh keutamaan sehingga kerananya menjadi penyembah pendewaan akal (aklani – (عقلاني sehingga terkeluar dari panduan dan kehendak al-Kitab (al-Quran dan as-Sunnah).

Namun pengertian fiqhul waqi’ yang dimaksudkan oleh golongan haraki hizbi ialah fiqh (ilmu) tentang peristiwa/kejadian atau kenyataan yang berkaitan dengan politik yang sedang berlaku ke atas masyarakat, pergolakan pemerintahan dan hal-hal yang berkaitan dengan negara, tetapi malangnya mereka mengenepikan hakikat waqi’ mengikut panduan syara, kerana mengutamakan akal fikiran dan hawa nafsu.

Orang-orang yang bertaqlidkan kepada orang-orang hizbi yang mendewa-dewakan fiqhul waqi’ yang meninggalkan panduan al-Quran dan as-Sunnah. Maka pengertian fiqhul waqi’ yang mereka maksudkan amat jauh dari pengertian yang dikehendaki oleh syara. Kerana fiqhul waqi’ yang mereka pakai hanya menekankan soal-soal politik (siasah), hakimiyah dan soal-soal muamalah sahaja, sehingga dengan mudah menuduh para ulama Salaf as-Soleh (yang tidak akan menerima dan tidak menyibukkan diri dengan fiqhul waqi’ ciptaan mereka/hizbiyun) dianggap bebal, dungu, jumud (beku, kaku atau kolot) dan bodoh tentang hakikat fiqih waqi.
FIQHUL WAQI’ MENURUT HIZBIYAH (PUAK-PUAK) YANG MENYIMPANG

Fiqhul waqi’ (فقه الواقع) yang dikenal juga dengan sebutan fiqh keutamaan, fiqh aulawiyaat (فقه الاولويات) atau fiqh priority, menurut pandangan orang-orang haraki (harakiyun/orang-orang yang bergerak dalam gerakan kelompok hizbiyah), maka mereka memahami sebagai ilmu tentang kondisi, keadaan dan kejadian semasa yang ditekankan terutamanya dalam soal-soal politik secara yang berlebih-lebihan.

Dijadikan fiqhul waqi’ ini oleh mereka sebagai manhaj dakwah, manhaj tarbiyah dan dianggap lebih penting dari persoalan akidah dan solat. Sehingga ada suara-suara mereka yang berpegang dengan teori fiqhul waqi’ haraki ini mengatakan tanpa segan silu bahawa:

“Golongan ulama Salaf hanya sibuk dengan tauhid, syirik, janggut, isbal, sunnah dan bid’ah! Tetapi tidak tahu tentang fiqhul waqi’. Bagaimana dan bila mereka boleh maju?”

Mereka menyuarakan lagi:

“Jangan sibukkan umat ini dengan riwayat-riwayat hadis, serukan mereka tentang waqi’ yang berdaya maju”.

Golongan hizbi haraki, menghidupkan fahaman fiqhul waqi’ yang dilarikan dari kehendak syara’ agar umat Islam mengeratkan fikiran mereka dengan sumber-sumber media informasi agar hanya mengetahui waqi’ul ummah (masyarakat). Buktinya ialah mereka amat menitik-beratkan persoalan media informasi dan mengajak masyarakat memberi penumpuan kepadanya sedangkan mereka masih bodoh dalam persoalan agama terutamanya persoalan akidah, manhaj dan malahan yang asas.

Mereka lupa bahawa semua media utama di dunia telah dikuasai oleh kaum kuffar yang menggunakan media untuk memerangi dan menghancurkan umat Islam dan akidah mereka.

Golongan hizbi yang melaungkan fiqhul waqi’ sewajarnya menyedari bahawa khabar dari media kuffar dan orang-orang fasik tidak dapat dipastikan kebenarnnya. Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar berjaga-jaga dari berita yang didatangkan oleh mereka. Firman Allah:
َا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِنْ جَآءَ كُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاءٍ فَتَبَيَّنُوْا.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bila datang kepada kamu orang fasik dengan membawa berita, maka periksalah”. (Al-Hujuraat, 6)

MENGHADIAHKAN PAHALA BACAAN KEPADA SI MATI

Jika dipertimbangkan mengikut logika akal, amalan membaca fatihah atau membaca ayat-ayat al-Quran kemudian menghadiahkan pahala bacaannya kepada si Mati (arwah), tentulah tidak ada salahnya, malah ia menggambarkan suatu perbuatan yang baik, bagus dan mulia. Begitu juga dengan membaca al-Quran dengan mengadakan kenduri arwah, tahlilan atau yasinan beramai-ramai atau berseorangan, sama ada yang dikhususkan di malam-malam tertentu, di hari-hari tertentu, di bulan-bulan tertentu atau di tempat-tempat tertentu seperti di atas kubur dan sebagainya, pastinya sekali pandang perbuatan ini adalah baik, malah menggambarkan pekerjaan terpuji kerana antara tujuannya ialah untuk menghapuskan dosa seseorang (roh orang mati) di samping mengirim pahala yang dibaca oleh orang yang ramai kepada si mati untuk mengurangkan penderitaannya. Namun, apabila dikembalikan kepada syara ia adalah perbuatan bid’ah yang mungkar.

Ada antara mereka (terutama pengemar kenduri arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan) berhujjahkan hadis berikut untuk membolehkan membaca surah Yasin sama ada untuk menghapuskan dosa si Mati atau mengirim pahala bacaan tersebut kepada si Mati:
مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ اَوْ اَحَدِهِمَا يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَقَرَاَ يَس ، غُفِرَ لَهُ
“Barangsiapa yang menziarahi kubur orang tuanya atau salah seorang dari keduanya pada hari Jumaat, kemudian membacakan surah Yasin, maka akan diampunkan dosanya".

Hadis di atas ini adalah hadis batil, palsu atau tidak ada asal usulnya. Terdapat di dalam sanadnya seorang yang bernama 'Amar yang dikenali sebagai pemalsu hadis dan banyak meriwayatkan hadis-hadis yang batil. Imam Daraqutni rahimahullah berkata tentang 'Amar: "Amar adalah seorang pemalsu hadis".[1]

Terdapat beberapa ulama yang sezaman dengan Imam Syafie yang telah mengharamkan kenduri arwah, salah seorang dari mereka ialah sahabat Imam Syafie bernama Imam Muzani rahimahullah, beliau menolak pendapat mereka yang membolehkan kenduri arwah, malah beliau telah menfatwakan tentang pengharaman mengirim (menghadiahkan) pahala dari bacaan al-Quran untuk menyelamatkan orang mati sebagaimana yang diamalkan dalam majlis kenduri arwah, beliau berkata:
فَاَعْلَمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ مَا اَعْلَمَ اللهُ مِنْ اَنَّ جِنَايَةَ كُلِّ امْرِئٍ عَلَيْهِ كَمَا اَنَّ عَمَلُهُ لَهُ لاَ لِغَيْرِهِ وَلاَ عَلَيْهِ
"Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam telah memberi tahu sebagaimana Allah memberi tahu: Bahawa dosa tiap-tiap orang adalah buat kecelakaan dirinya sendiri sebagaimana amalannya itu buat kebaikan dirinya sendiri bukan untuk kecelakaan orang lain".[1]

Terdapat juga segolongan mereka yang berhujjahkan fatwa Syeikhul Islam Imam Ibn Taimiyah rahimahullah yang pernah membolehkan perbuatan mereka yang menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada orang yang telah mati, tetapi pada kenyataannya Syeikhul Islam Ibn Taimiyah telah ruju’ (menarik balik dan membatalkan fatwa beliau), yang mana beliau telah menegaskan:

“Bahawa bukan menjadi suatu kebiasaan bagi para Salaf as-Soleh apabila mereka mengerjakan solat-solat sunnah, berpuasa, haji dan membaca al-Quran lalu pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah mati”

Penarikan semula Syeikhul Islam Ibn Taimiyah terhadap fatwa beliau yang pada asalnya membolehkan (menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada si Mati) kemudian mengharamkannya, ianya boleh ditemui di dalam kitab Ali Abdul al-Kafi as-Subki “Takmilatul Majmu” - شرح مهذب تكملة المجموع jld. 10 hlm. 417.

Di dalam kitab (الخازن الجمل) juz. 4 hlm. 236 dan di dalam kitab “Syarah Muslim” juz 1 hlm. 90. Imam an-Nawawi rahimahullah telah menjelaskan pendapat Imam as-Syafie tentang perbuatan yang diamalkan dalam majlis kenduri arwah iaitu pengiriman pahala kepada orang mati. Beliau berkata:
وَاَمَّا قِرَاءَ ةُ الْقُرْآنِ فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِى اَنَّهُ لاَ تَصِلُ ثَوَابُهَا اِلَى الْمَيِّتِ.

“Adapun bacaan al-Quran maka yang masyhur dikalangan mazhab Syafie bahawa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati”.

Sekali lagi Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab السبكي - تكملة المجموع ، شرح مهذب juz 10 hlm. 426 bahawa:
وَاَمَّا قِرَاءَ ةُ الْقُرْآنِ وَجَعَلَ ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلاَةُ عَنْهُ وَنَحْوَهَا فَذَهَبَ الشَّافِعِي وَالجُمْهُوْرُ اَنَّهَا لاَ تَلْحَقُ الْمَيِّتَ ، وَكَرَّرَ ذَلِكَ فِى عِدَّةِ مَوَاضِعِ فِى شَرْحِ مُسْلِمِ

“Adapun pembacaan al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada orang mati, membayar solatnya dan sebagainya, maka menurut Imam Syafie dan jumhur ulama Syafie adalah tidak sampai kepada si Mati. Penjelasan seperti ini telah diulang-ulang (oleh Imam Muslim) dalam kitab syarah Muslim”.

Di dalam kitab الفتاوى الكبرى الفقهية Syeikh al-Haitami rahimahullah juga telah menjelaskan:
اَلْمَيِّتُ لاَيُقْرَاُ عَلَى مَااَطْلَقَهُ الْمُتَقَدِّمُوْنَ مِنْ اَنَّ الْقِرَاءَ ةَ لاَ تصِلُهُ اَي الْمَيِّتَ لاَنَّ ثَوَابَهَا لِلْقَارِئ وَالثَّوَابُ عَلَى عَمَلِ لاَيُنْقَلُ عَنْ عَامِلِ ذَلِكَ الْعَمَلِ ، قَالَ تَعَالَى {وَاَنْ لَيْسَ للاِنْسَانِ {اِلاَّ مَاسَعَى

“Mayat tidak boleh dibacakan al-Quran sebagaimana keterangan yang ditetapkan oleh orang-orang terdahulu, bahawa bacaan al-Quran pahalanya tidak sampai kepada si Mati, lantaran pahala bacaan hanya untuk si Pembaca. Pahala amalan pula tidak boleh dipindah-pindahkan dari si Pembuat berdasarkan firman Allah Ta’ala: Dan manusia tidak memperolehi pahala kecuali dari amalan yang dikerjakannya sendiri”.

Ada yang berpendapat bahawa ayat 39 di surah an-Najm ini telah dan dimansuhkan oleh ayat 21 di surah ath-Thur. Imam Syaukani rahimahullah menolak pendapat ini dan beliau berkata:

Adapun makna dari ayat: (Seseorang tidak akan mendapat melainkan atas usahanya sendiri). Lafaz dalam ayat ini termasuk umum yang mukhasas, oleh itu tidak tepat kalau ada yang berkata bahawa ayat ini telah dimansuhkan dalam urusan ini, kerana yang khas tidak boleh memansuhkan lafaz umum, tetapi hanya sebagai takhsisnya sahaja. Maka apabila ada dalil lain yang boleh menentukan bahawa seseorang memperolehi manfaat dari amal orang lain, maka dalil itu sebagai takhsisnya bukan sebagai nasikh serperti ayat yang terdapat di surah ath-Thur: (Kami akan hubungkan dengan mereka itu anak cucu mereka)”.

Namun apabila dibuka secara ilmiyah ruang agama untuk membincangkan, mengkaji dan meneliti semula amalan yang diperkatakan di atas, terbukti ia terlalu bertentangan dengan syara, malah termasuk dalam amalan atau perbuatan yang ditegah, diharamkan dan bid'ah. Benarnya kenyataan ini dapat dibuktikan apabila kita memahami kesemua hujjah-hujjah dan dalil-dalil syara yang dikemukakan oleh para ulama dari kalangan mazhab Syafie.

Walaupun ada pendapat yang menyangka bahawa persoalan kenduri arwah, yasinan, tahlilan dan selamatan ini tidak perlu diungkit dan dibangkitkan lagi kerana (kononnya) ia telah lama diselesaikan oleh para ulama, namun perlu diketahui bahawa yang telah diselesaikan oleh para ulama terutamanya Imam Syafie dan para ulama yang bermazhab Syafie ialah tentang pengharaman dan bid’ahnya amalan tersebut bukan sebaliknya. Pembuktian kenyataan ini dapat difahami dan dibuktikan melalui beberapa fatwa Imam Syafie dan para ulama as-Syafieyah sebagaimana yang telah di nukil di dalam tulisan ini.
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أو علم ينتفع به من بعده , أو ولد صالح يدعو له
Ertinya: “Apabila mati anak adam, terputus semua amalannya kecuali tiga perkara: Sedeqah jariah, Ilmunya yang dimanfaatkan orang selepas kematiannya, dan anaknya yang soleh yang mendoakannya”

[1]Lihat: كتاب الموضوعات Juz 3. hlm. 239. Dan Lihat: اعانة الطالبين Juz. 2. Hlm. 146.[2]Lihat: هامش الام للشافعي Juz. 7. Hlm. 269. 
 
http://fiqh-sunnah.blogspot.com