Showing posts with label IBADAH DAN MADZHAB. Show all posts
Showing posts with label IBADAH DAN MADZHAB. Show all posts

Monday, September 5, 2011

MEMBENTENGI RUMAH DARI SETAN

MEMBENTENGI RUMAH DARI SETAN


Sembilan benteng telah kami sebutkan guna mengupayakan terjaganya rumah dari musuh yang terkutuk. Berikut ini kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya sebagai akhir dari pembahasan ini:

Ucapan yang baik dan wajah yang cerah

Setan pasti punya ambisi untuk menghancurkan masyarakat Islam hingga ia membuat rencana, makar dan tipu daya. Di antara rencana yang diprogramkannya adalah menggoyahkan pondasi rumah tangga keluarga muslim, di mana rumah tangga ini merupakan batu bata awal dalam bangunan sebuah masyarakat. Sebagaimana telah kita ketahui dari hadits Jabir ibnu Abdillah c, ia berkata, "Rasulullah n bersabda:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)

Dengan terpisahnya pasangan suami istri niscaya pada akhirnya akan hancur pondasi suatu masyarakat. Hancurnya masyarakat manusia inilah yang didambakan oleh si musuh besar anak manusia.

Mengingat akan hal ini dan yang lainnya, maka sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, karena Allah k telah memerintahkan:

"Dan bergaullah kalian (para suami) terhadap mereka (para istri) dengan baik." (An-Nisa: 19)

Suami selaku qawwam[1] dalam sebuah keluarga semestinya memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada istrinya, sehingga setan tidak memancing di air keruh dalam hubungan dia dengan istrinya. Bukankah Rabbul Izzah telah berfirman:

Katakanlah (ya Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaknyalah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Al-Isra': 53)

Al-Hafizh Ibnu Katsir t, “Allah tabaraka wa ta'ala memerintahkan hamba-Nya dan Rasul-Nya n, untuk menyuruh hamba-hamba Allah yang beriman agar berbicara dan bercakap-cakap menggunakan perkataan-perkataan yang paling baik dan kalimat-kalimat thayyibah/bagus. Karena bila mereka tidak melakukan hal tersebut, niscaya setan akan menimbulkan perselisihan di antara mereka dan meningkatkan ucapan kepada perbuatan/tindakan. Hingga terjadilah kejelekan, pertikaian dan perkelahian. Karena setan, musuh Adam dan anak turunan Adam sejak saat iblis (nenek moyang para setan) menolak untuk sujud kepada Adam, dan permusuhannya ini tampak nyata...." (Tafsir Al Qur'anil Azhim, 5/66)

Al-'Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di t berkata saat menafsirkan ayat di atas, "Ini merupakan perintah untuk mengucapkan seluruh perkataan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah, baik berupa membaca Al-Qur'an, berzikir, menyampaikan ilmu atau diskusi ilmiah, amar ma'ruf, nahi mungkar dan kalimat-kalimat baik yang lembut terhadap sesama makhluk dengan perbedaan martabat dan kedudukan mereka. Bila beredar suatu perkara di antara dua perkara yang baik, maka kita diperintah untuk mengutamakan yang paling baik di antara keduanya, jika memang tidak mungkin keduanya disatukan atau dikumpulkan.

Perkataan yang baik akan mengajak kepada seluruh akhlak yang indah dan amal yang shalih. Karena siapa yang dapat menguasai lisannya niscaya ia dapat menguasai seluruh perkaranya.

Firman Allah:

"Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka", yaitu setan mengupayakan perkara yang dapat merusak agama dan dunia mereka. Maka obat dari hal ini adalah mereka tidak menaati setan yang mengajak mereka agar mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik. Bahkan hendaknya mereka bersikap lunak di antara sesama mereka agar mematahkan setan yang ingin menimbulkan perselisihan di antara mereka. Karena setan adalah musuh mereka yang hakiki, hingga pantaslah mereka memeranginya. Apatah lagi si musuh ingin mengajak mereka, agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.

Karena setan ini terus berupaya menimbulkan perselisihan di antara mereka dan permusuhan, maka yang seharusnya dan semestinya mereka lakukan adalah berupaya melawan musuh mereka dan mematahkan jiwa-jiwa mereka yang memerintahkan kepada kejelekan, di mana setan masuk dari arah tersebut. Dengan begitu, berarti mereka menaati Rabb mereka. Akan luruslah perkara mereka, dan mereka akan terbimbing kepada kebenaran/kelurusan." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 460)

Kata-kata yang baik akan melapangkan dada, melanggengkan pergaulan, menebarkan kebahagiaan di antara suami istri, mewujudkan ketenangan yang diharapkan dari diciptakannya para istri untuk para lelaki, memperkuat unsur-unsur mawaddah/ cinta dan menyuburkan rahmah/kasih sayang di antara suami istri. Allah l berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup/istri-istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir." (Ar-Rum: 21)

Bayangkanlah keadaan sebuah rumah tangga di mana sang suami suka berkata kasar kepada istrinya, menghardik dan membentak. Atau ia suka mengungkit apa yang telah diberikannya kepada istrinya, seperti mengatakan, “Aku yang capek cari duit. Kamu enak aja tinggal pakai. Makanya harus tahu diri, jangan seenaknya menggunakan duitku! "

Kalimat seperti ini tentunya melukai seorang istri, walaupun memang dalam kenyataannya si suami yang mencari nafkah dan uang yang ada dalam rumah adalah miliknya. Kalau tujuan si suami hendak menegur istrinya dalam hal pengaturan belanja rumah tangga, maka suami yang cerdas tentunya tidak akan mengungkapkannya dengan kalimat yang dapat menorehkan luka di dada istrinya.

Lalu apa persangkaan kita terhadap si suami bila ia suka mengucapkan kalimat demikian, padahal istrinya telah berupaya hemat dalam membelanjakan uang yang diberikan suaminya dan berlaku amanah terhadap harta suaminya? Tidak lain karena lisannya yang memang buruk dan tidak pandai bergaul baik dengan istrinya. Kepada suami yang demikian, hendaklah ia menyadari keburukan lisannya. Jangan terus menyakiti istrinya. Waspadalah dari kehancuran mahligai yang telah dibangun bersama istrinya, karena seperti yang telah disinggung di atas bahwa setan bisa menyusup antara dia dan istrinya untuk menimbulkan perselisihan di antara mereka.

Di sisi lain, seorang istri juga lebih utama dituntut untuk bertutur kata yang baik kepada suaminya dan penuh adab dalam menyampaikan ucapan, sehingga istri tidak mengangkat suaranya lebih dari suara suaminya.


Membentengi istri

Abdullah ibnu 'Amr ibnul 'Ash c mengabarkan sabda Rasulullah n:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَليَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيرَهَا وَخَيرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِن شَرِّهَا وَمِن شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيهِ؛ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأخُذ بِذَرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ.

قَالَ أَبو داود: زاد أبو سعيد: (

“Apabila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, hendaknya ia mengucapkan ; Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa yang Engkau ciptakan dia di atasnya. Apabila ia membeli seekor unta, hendaklah ia memegang puncak punuk untanya dan hendaknya ia mengucapkan doa semisal di atas."

Abu Dawud berkata, “Abu Said menambahkan:

ثُمَّ لِيَأخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ باِلْبَرَكَةِ فِي الْمَرأَةِ وَالْخَادِمِ

"Kemudian hendaknya ia memegang ubun-ubun istrinya dan mendoakan keberkahan pada istri atau si budak." (HR. Abu Dawud no. 2160, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud)

Disenangi bagi seorang pengantin menunaikan shalat dua rakaat bersama istrinya saat ia masuk menemui istrinya sebagai upaya menjaga kehidupan rumah tangganya kelak dari setiap perkara yang tidak disenangi. Hal ini dinukilkan dari salaf. Salah satunya dari Syaqiq, ia berkata, “Datang seseorang bernama Abu Hariz. Ia mengabarkan, “Aku telah menikahi seorang gadis perawan yang masih muda dan aku khawatir ia akan membenciku." Ibnu Mas'ud z berkata:

إِنَّ الْإِلْفَ مِنَ اللهِ وَالْفِرْكَ مِنَ الشَّيْطَانِ، يُرِيدُ أَنْ يُكَرِهَّ إِلَيْكُمْ مَا أَحَلَّ اللهُ لَكُم. فَإِذَا أَتَتْكَ فَأْمُرْهَا أَنْ تُصَلِّيَ وَرَاءَكَ رَكْعَتَينِ.

“Sesungguhnya kedekatan itu dari Allah dan kebencian itu dari setan. Setan ingin membuat kalian benci terhadap apa yang Allah halalkan kepada kalian. Maka bila engkau mendatangi istrimu, suruhlah dia shalat dua rakaat di belakangmu.”

Dalam riwayat lain dari Ibnu Mas'ud ada tambahan:

وَقُلْ: اللَّهُمَّ بَارِكْ لِي فِي أَهْلِي وَبَارِكْ لَهُمْ فِيَّ، اللَّهُمَّّ اجْمَعْ بَينَنَا مَا جَمَعْتَ بِخَيرٍ وَفَرِّقْ بَيْنَنَا إِذَا فَرَّقْتَ إِلَى خَيرٍ

“Dan ucapkanlah: Ya Allah, berilah berkah untukku pada keluarga/isteriku dan berilah berkah untuk mereka pada diriku. Ya Allah, kumpulkanlah kami selama Engkau mengumpulkannya dengan kebaikan dan pisahkanlah kami jika memang Engkau memisahkannya kepada kebaikan. (HR. Ibnu Abu Syaibah dan Abdurrazzaq dalam Mushannafnya 6/191/10460-10461. Sanadnya shahih kata Al-Imam Al-Albani t. Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabsrani, 3/21/2, dengan dua sanad yang shahih. Lihat Adabuz Zafaf hal. 96)

Menjaga anak dari gangguan setan

Seorang muslim semestinya menjaga zikir yang diucapkan ketika hendak berhubungan intim dengan istrinya. Karena dengan mengucapkan zikir yang demikian berarti ada upaya menjaga anak dari gangguan setan. Ibnu Abbas c menyampaikan dari Nabi n, sabda beliau, “Seandainya salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya mengucapkan:

بِسمِ اللهِ اللُّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيطاَنَ مَا رَزَقتَناَ؛ فَإِنْ قَضَى اللهُ بَينَهُمَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيطَانُ أَبَدًا

"Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezkikan pada kami," lalu Allah tetapkan lahirnya anak dari hubungan keduanya, niscaya setan tidak akan membahayakan si anak selama-lamanya. (HR. Al-Bukhari no. 5165 dan Muslim no. 3519)

Al-Qadhi Iyadh t berkata tentang bahaya yang disebutkan dalam hadits, “Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah setan tidak dapat merasuki anak yang lahir tersebut (terjaga dari kesurupan jin –pent.). Ada yang mengatakan setan tidak akan menusuk anak tersebut saat lahirnya sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang hal ini[2]. Tidak ada seorangpun yang membawa pengertian bahaya dalam hadits di atas kepada keumuman yang berupa penjagaan dari seluruh kemadaratan, was-was dan penyimpangan[3]." (Al-Ikmal, 4/610)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani t menyebutkan adanya berbagai pendapat tentang maksud penjagaan si anak dari bahaya yang ditimbulkan setan seperti dinyatakan dalam hadits. Ada yang memaknakan, setan tidak apat menguasai si anak karena berkah tasmiyah (ucapan bismillah). Bahkan si anak termasuk dalam sejumlah hamba-hamba yang Allah nyatakan:

"Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, tidak ada kekuasaanmu atas mereka (engkau tidak bisa menguasai mereka) terkecuali orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang sesat/menyimpang." (Al-Hijr: 42)

Ada pula yang mengatakan setan tidak akan menusuk perut si anak. Namun pendapat ini jauh dari kebenaran, karena bertentangan dengan zahir hadits yang menyebutkan:

كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

Ada yang berpendapat, setan tidak dapat membuatnya kesurupan. Ada pula yang berpandangan, setan tidak dapat membahayakan tubuh si anak. Ibnu Daqiqil 'Id t berkata, “Dimungkinkan setan tidak dapat memadaratkan si anak pada agamanya juga." Akan tetapi pendapat ini juga dipermasalahkan, karena tidak ada manusia yang maksum (terjaga dari dosa). Kata Ad-Dawudi tentang makna setan tidak akan memadaratkan si anak adalah, “Setan tidak dapat memfitnah si anak dari agamanya hingga ia keluar dari agamanya kepada kekafiran. Bukan maksudnya si anak terjaga dari berbuat maksiat."

Ada pula yang berpandangan, setan tidak akan memadaratkan si anak dengan menyertai ayahnya menggauli ibunya, sebagaimana riwayat dari Mujahid, “Seorang lelaki yang berhubungan intim dengan istrinya dan ia tidak mengucapkan bismillah, setan akan meliliti saluran kencingnya lalu ikut menggauli istrinya bersamanya. Mungkin ini jawaban yang paling dekat. Dalam hadits ini ada beberapa faedah. Di antaranya, hadits ini mengisyaratkan setan itu terus menyertai anak Adam, tidak terusir darinya kecuali dengan berzikir kepada Allah." (Fathul Bari, 9/285-286)

Menjaga anak dari hewan berbisa dan dari pandangan hasad

Anak kita yang masih kecil belum bisa membentengi dirinya sendiri dengan zikir dan doa, termasuk tentunya zikir pagi dan petang yang dengannya Allah menjanjikan penjagaan bagi hamba yang mengamalkannya. Karenanya, kitalah sebagai orangtua yang membacakan doa perlindungan untuk si anak setiap pagi dan petang. Sambil mengusap kepalanya, kita berdoa:

أُعِيذُكُمْ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِن كُلِّ شَيطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

"Aku melindungkan kalian dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan[4], hewan berbisa dan dari setiap pandangan mata yang menyakiti."

Rasulullah n dahulu melindungkan kedua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain, dengan doa perlindungan ini, dan bersabda:

إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسمَاعِيلَ وَإِسحَاقَ

"Sesungguhnya ayah kalian berdua[5] dulunya mengucapkan doa perlindungan ini untuk Ismail dan Ishaq." (HR. Al-Bukhari no. 3371)

Demikianlah beberapa benteng yang dapat kita upayakan untuk menjaga rumah kita. Bila kita berpegang dengannya niscaya setan akan terusir sehingga kedamaian dan ketentraman pun bisa kita peroleh dalam rumah kita, Insya Allah.

Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab.





[1] Sebagaimana Allah k berfirman:

"Kaum lelaki adalah qawwam/pemimpin atas kaum wanita…." (An-Nisa': 34)

[2] Abu Hurairah z menyampaikan sabda Rasulullah n:

كُلَّ بَنِي آدَمَ يَطعُنُ الشَّيطَانُ فِي جَنْبَيهِ بِإِصْبِعَيْهِ حِينَ يُولَدُ، غَيرَ عِيسَى بْنِ مَريَمَ ذَهَبَ يَطعُنُ فَطَعَنَ فِي الْحِجَابِ

"Setiap anak Adam ditusuk oleh setan dengan dua jemarinya pada dua rusuk si anak Adam saat ia dilahirkan kecuali Isa ibnu Maryam. Setan ingin menusuknya ternyata setan menusuk pada hijab/tabir penghalang." (HR. Al-Bukhari no. 3286)

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah z juga, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

ماَ مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلاَّ يَمَسُّهُ الشَّيطَانُ حِيْنَ يُوْلَدُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيطَانِ، غَيرَ مَريَمَ وَابْنِهَا. ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيرَةَ: {ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ }

"Tidak ada seorang pun dari anak Adam yang lahir melainkan setan menyentuhnya (menusuknya) saat ia lahir. Maka bayi yang baru lahir itu pun menjerit karena tusukan setan tersebut, selain Maryam dan putranya. Kemudian Abu Hurairah membaca ayat: "Dan sesungguhnya aku melindungkan dia (Maryam) dan anak turunannya kepada-Mu dari setan yang terkutuk." (Ali 'Imran: 36)

Disebabkan tusukan setan inilah, bayi yang baru lahir menangis karena rasa sakit yang didapatkannya. (Fathul Bari, 9/573)

[3] Maksudnya tidak ada satu ulama pun yang berpendapat si anak terjaga dari seluruh bahaya sehingga tak satupun bahaya dapat menyentuhnya.

[4]) Termasuk di dalamnya setan dari kalangan jin dan manusia.) Fathul Bari, 6/497)

[5] ) Yakni Ibrahim u. Rasulullah n menyebutnya dengan ayah karena Ibrahim adalah kakek buyut mereka.


http://www.asysyariah.com/

MAAF-MEMAAFKAN DALAM RANGKA HARI RAYA DISYARIATKAN?

MAAF-MEMAAFKAN DALAM RANGKA HARI RAYA DISYARIATKAN?


Mudah memaafkan, penyayang terhadap sesama Muslim dan lapang dada terhadap kesalahan orang merupakan amal shaleh yang keutamaannya besar dan sangat dianjurkan dalam Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh. [al-A’raf/7:199]

Dalam ayat lain, Allah Aza wa Jalla berfirman.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran/3:159]

Bahkan sifat ini termasuk ciri hamba Allah Azza wa Jalla yang bertakwa kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya.

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang-orang yang bertakwa adalah) mereka yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya serta (mudah) memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali-Imran/3:134]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khsusus menggambarkan besarnya keutamaan dan pahala sifat mudah memaafkan di sisi Allah Azza wa Jalla dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat)” [1]

Arti bertambahnya kemuliaan orang yang pemaaf di dunia adalah dengan dia dimuliakan dan diagungkan di hati manusian karena sifatnya yang mudah memaafkan orang lain, sedngkan di akhirat dengan besarnya ganjaran pahala dan keutmaan di sisi Allah Azza wa Jalla. [2]

MAAF-MEMAAFKAN DI HARI RAYA?
Akan tetapi, amal shaleh yang agung ini, bisa berubah menjadi perbuatan haram dan tercela jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Misalnya , mengkhususkan perbuatan ini pada waktu dan sebab tertentu yang tidak terdapat dalil dalam syariat tentang pengkhususan tersebut. Seperti mengkhususkannya pada waktu dan dalam rangka hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.

Ini termasuk perbuatan bid’ah [3] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya semua perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat, dan semua yang sesat (tempatnya) dalam neraka” [4]

Kalau ada yang bertanya : mengapa ini dianggap sebagai perbuatan bid’ah yang sesat, padahal agama Islam jelas-jelas sangat menganjurkan dan memuji sifat mudah memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana telah disebutkan dalam keterangan diatas ?

Jawabnya : Benar, Islam sangat menganjurkan hal tersebut, dengan syarat jika tidak dikhususkan dengan waktu atau sebab tertentu, tanpa dalil (argumentasi) yang menunjukkan kekhususan tersebut. Karena, jika dikhususkan dengan misalnya waktu tertentu tanpa dalil khusus, maka berubah menjadi perbuatan bid’ah yang sangat tercela dalam Islam.

Sebagai contoh shalat malam dan puasa sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, dua jenis ibadah ini jika pelaksanaannya dikhususkan pada hari Jum’at, maka dua masalah besar tersebut menjadi tercela dan haram untuk dilakukan [5], sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَ تَخْتَصُّوالَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامِ مِنْ بَيْنَ اللَّيَالِى وَلاََ تخُصُّوايَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامِ مِنْ بَيْنِ الأَيَامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at di antara malam-malam lainnya (melaksanakan) shalat malam, dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at di antara har-hari lainnya dengan berpuasa, kecuali puasa yang bisa dilakukan oleh salah seorang darimu. [6]

Inilah yang diistilahkan oleh para ulama dengan nama “bid’ah idhafiyyah”, yaitu perbuatan yang secara umum dianjurkan dalam Islam, akan tetapi sebagian kaum Muslimin mengkhususkan perbuatan tersebut dengan waktu, tempat, sebab, keadaan atau tata cara tertentu yang tidak bersumber dari petunjuk Allah Azza wa Jalla dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [7]

Contoh lain dalam masalah ini adalah shalat malam yang dikhususkan pada bulan Rajab dan Sya’ban. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata tentang dua shalat ini : “Shalat (malam di bulan) Rajab dan Sya’ban adalah bid’ah yang sangat buruk dan tercela” [8]

Imam Abu Syamah rahimahullah menjelaskan kaidah penting ini dalam ucapannya: “Tidak diperbolehkan mengkhususkan ibadah-ibadah dengan waktu-waktu (tertentu) yang tidak dikhususkan oleh syariat, akan tetapi hendaknya semua amal kebaikan tersebut bebas (dilakukan) di setiap waktu (tanpa ada pengkhususan). Tidak ada keutamaan satu waktu di atas waktu yang lain, kecuali yang diutamakan oleh syariat dan dikhsusukan dengan satu macam ibadah…. Seperti puasa di hari Arafah dan Asyura, shalat di tengah malam, dan umrah di bulan Ramadhan…”[9]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “… Termasuk (contoh) dalam hal ini bahwa sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan larangan mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa dan hari Jum’at, agar tidak dijadikan sebagai sarana menuju perbuatan bid’ah dalam agama (yaitu) dengan pengkhususan waktu tertentu dengan ibadah yang tidak dikhususkan oleh syarat” [10]

MENIMBANG ACARA HALAL BIL HALAL
Termasuk acara yang marak dilakukan oleh kaum Muslimin di Indonesia dalam rangka saling memaafkan setelah hari raya Idhul Fithri adalah apa yang biasa dikenal dengan acara Halal bil halal.

Acara ini termasuk perbuatan bid’ah yang tercela dengan alasan seperti yang kami paparkan diatas. Acara ini tidak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik umat ini, para sahabat Radhiyallahu anhum, serta para imam ahlus sunnah yang mengikuti jalan mereka dengan baik. Padahal mereka adalah orang-orang yang telah dipuji pemahaman dan pengamalan Islam mereka oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar (para sahabat) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya ; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang benar. [at-Taubah/9 : 100]

Dan dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para Sahabat), kemudian generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka. [11]

Disamping itu acara ini ternyata berisi banyak kemungkaran dan pelanggaran terhadap syariat Allah Azz wa Jalla, diantaranya :

1. Terjadinya ikhtilath (bercampur baur secara bebas) antara laki-laki dengan perempuan tanpa ada ikatan yang dibenarkan dalam syariat. Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, bahkan ini merupakan biang segala kerusakan di masyarakat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah (keburukan/kerusakan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki melebihi (fitnah) kaum perempuan” [12]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mejelaskan hal ini dalam ucapan beliau : “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai malapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun yang khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembang pesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasaan massal (umat manusia) dan munculnya wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan” [13]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah lebih menegaskan hal ini dalam ucapan beiau : “Dalil-dalil (dari al-Qur’an dan hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) secara tegas menunjukkan haramnya (laki-laki) berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, (demikian pula diharamkan) memandangnya, dan semua sarana yang menjerumuskan (manusia) ke dalam perkara yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla. Dalil-dalil tersebut sangat banyak dan kuat (semuanya) menegaskan keharaman –ikhtilath (bercampur baur secara bebas antara laki-laki dengan perempuan kepada perkara (kerusakan) yang sangat buruk akibatnya” [14]

2. Bersalaman dan berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang tidak halal baginya (bukan mahramnya).
Perbuatan ini sangat diharamkan dalam Islam berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya” [15]

3. Kehadiran para wanita yang besolek dan berdandan seperti dandanan wanita-wanita Jahiliyah.
Ini juga diharamkan dalam Islam, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Dan hendaklah kalian (wahai kaum perempuan Mukminah) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (bersolek dan berhias) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu. [Al-Ahzab/33 : 33]

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya wanita adalah aurat, maka jika dia keluar (rumah) setan akan mengikutinya (menghiasinya agar menjadi fitnah bagi laki-laki), dan keadaannya yang paling dekat dengan Rabbnya (Allah) adalah ketika dia berada di dalam rumahnya” [16]

PENUTUP
Demikianlah pemaparan ringkas tentang hukum saling maaf-memaafkan dalam rangka hari raya. Wajib bagi setiap muslim untuk meyakini bahwa semua sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla semua itu telah dijelaskan dan dicontohkan dengan lengkap oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam petunjuk yang beliau bawa.

Sahabat yang mulia Abu Dzar Al Ghifari Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pergi meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burungpun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara kecuali beliu Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kami ilmu tentang hal tersebut”. Kemudian Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

مَا بَقِيَ شَيءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَا عِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidak ada (lagi) yang tertinggal sedikit pun dari (ucapan’perbuatan) yang bisa mendekatkan (kamu) ke surga dan menjauhkan (kamu) dari neraka, kecuali semua itu telah dijelaskan kepadamu” [17]

Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita semua untuk selalu berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah dan menjauhi segala sesuatu yang menyimpang dari sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di akhir hayat kita. Amin

Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam dan di atas sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [18]
Wallahu a’lam

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. Muslim no. 2588 dan imam-imam lainnya
[2]. Lihat syarh Shahih Muslim 16/14 dan Tuhfatul Ahwadzi 6/150
[3]. Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[4]. HR. Muslim no. 867, an-Nasai no. 1578 dan Ibnu Majah no.45
[5]. Lihat Ilmu Ushulil Bida’ hlm.151
[6]. HR. Muslim no. 1144
[7]. Lihat Ilmu Ushulil Bida’ hlm.147-148
[8]. Fatawa al-Imam an-Nawawi hlm.26
[9]. Al-Baits ‘ala Inkaril Bida’i wal Hawadits hlm.165
[10]. Ighatsatul Lahfan I/368
[11]. HR. al-Bukhari dan Muslim
[12]. HR. al-Bukhari no. 4808 dan Muslim no. 2740
[13]. Seperti penyakit AIDS dan penyakit-penyakit kelamin berbahaya lainnya. Na’udzu billahi min dzalik.
[14]. Majalatul Buhutsil Islamiyah 7/343
[15]. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir no. 486 dan 487 dan ar-Ruyani dalam al-Musnad 2/227, dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 226
[16]. HR Ibnu Khzaimah no. 1685, Ibnu Hibban no. 5599 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no. 2890, dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Mundziri dan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 2688
[17]. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir 2/155, no. 1647 dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1803
[18]. Doa yang selalu diucapkan oleh Imam Ahmad bin Hambal yang dikutip oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam tarikh Baghdad 9/349

Sunday, September 4, 2011

Najiskah Darah Manusia?

Najiskah Darah Manusia?

http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Darah itu ada beberapa jenis:

1 - Darah Haid

Darah ini najis, menurut kesepakatan ulama. Telah disebutkan dalil yang menunjukkan kenajisannya.

2. Darah manusia

Terdapat perselisihan pendapat mengenainya. Pendapat yang masyhur dari kalangan para ulama mazhab fiqh bahwasanya darah adalah najis. Namun, mereka tidak memiliki hujjah yang kuat. Kebanyakan mereka menganggap bahawa darah itu diharamkan berdasarkan dalil al-Quran sebagaimana dalam firman-Nya:

“Katakanlah, ‘Tiadalah aku perolehi dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi; kerana sesungguhnya semua itu kotor’.” (al-An’am, 6: 145)

Menurut mereka, pengharaman itu sekaligus menunjukkan kenajisan, sebagaimana yang mereka lakukan (nyatakan) berkenaan dengan khamar. Dan ini sudah jelas. Tetapi telah dinukil dari segolongan besar ahli ilmu berkenaan ijma’ kenajisannya. Perbahasannya akan dibawakan satu persatu.

Di sebelah pihak yang lain, sebilangan ulama muta’akhirin, di antaranya asy-Syaukani, Shiddiq Khan, al-Albani, dan lbnu Utsaimin berpendapat mengenai kesuciannya. Kerana, menurut mereka, tidak ada ketetapan ijma’. Mereka berhujjah dengan dalil-dalil sebagaimana berikut:

A - Hukum asal segala sesuatu itu suci, hingga ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Kami tidak pernah mengetahui bahawasanya Rasulullah memenintahkan untuk menyucikan darah selain darah haid. Padahal banyak orang sering mengalami luka atau sejenisnya. Seandainya darab itu najis, nescaya Rasulullah akan menjelaskannya kerana masalah ini sangat penting.

B - Kaum Muslimin, dari dahulu hingga sekarang, tetap diperintahkan mengerjakan solat dengan luka-luka yang ada pada tubuh mereka. Bahkan ada yang mengalirkan darah yang sangat banyak yang tidak tidak boleh ditahan pengalirannya. Namun, tidak pernah diriwayatkan dari Nabi bahawa beliau memerintahkan untuk mencucinya. Tidak pemah pula diriwayatkan bahawasanya mereka mempersoalkan tentang darah-darah yang keluar tersebut.

Al-Hasan berkata, “Dari dahulu sehinggalah sekarang kaum Muslimin tetap mengerjakan solat dengan luka-luka pada tubuh mereka.” (Sanadnya sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq (1/336), dan asalnya dari lbnu Abu Syaibah dengan sanad yang sahih, seperti mana disebutkan dalam Fathul Bari (1/337))

Dalam hadis sahabat Anshar “Bahawasanya ketika ia solat pada malam hari, ia dipanah oleh seorang musyrik. Lalu ia mencabut panahnya dan meletakkannya. Hingga ia dipanah sehingga tiga kali. Kemudian ia ruku’, sujud, dan terus melanjutkan solatnya, sementara darah terus menaIir.” (Hadis sahih, diriwayatkan secara mu’allaq oleh aI-Bukhari (1/336), dan asalnya dari Ahmad dan selainnya dengan sanad yang sahih)

Al-Albani di dalam kitabnya, Tamamul Minnah (hal. 51-52), mengatakan, “Hadis ini mempunyai hukum marfu’, kerana mustahil Nabi tidak mengetahuinya. Kalaulah darah yang banyak keluar itu membatalkan wudhu’nya, tentulah Rasulullah akan menjelaskannya. Kerana menunda penjelasan pada waktu yang diperlukan adalah tidak boleh, seperti yang difahami dalam kaidah ilmu ushul. Jika kita beranggapan Rasulullah tidak mengetahuinya, namun hal ini tidak tersembunyi bagi Allah yang tidak ada perkara yang tersembunyi bagi-Nya di langit ataupun di bumi. Kalaulah ia membatalkan wudhu, atau najis, tentulah Allah telah mewahyukan tentang hal itu kepada Nabi-Nya, sebagaimana kenyataannya yang sudah jelas bagi sesiapa pun.”

Dalam hadis tentang di mana terbunuhnya Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Umar terus mengerjakan solat, sementara darahnya membasahi sekujur tubuhnya.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Malik (82); al-Baihaqi (1/357) dan selainnya, dengan sanad shahih) Yakni darahnya terus mengalir.

C - Hadis Aisyah berkenaan kisah kematian Sa’ad bin Muadz, ia berkata, “Sa’ad bin Muadz terluka pada peperangan Khandak kerana dipanah oleh seorang laki-laki pada pelipisnya. Lalu Rasulullah membuatkan khemah di masjid agar mudah untuk menjenguknya. Ketika malam tiba, melebarlah lukanya, lalu mengalirlah darah dan lukanya hingga membasahi khemah yang ada di sampingnya. Mereka berkata, “Hai penghuni khemah, apa yang kalian kirim kepada kami?” Ketika mereka melihatnya, ternyata luka Sa’ad telah pecah dan darahnya memancar/mengalir dengan deras. Kemudian beliau pun meninggal.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (3100) secara ringkas; dan ath-Thabrani dalam al-Kabir (VI/7))

Penulis berkata: Tidak diriwayatkan bahawasanya Nabi memerintahkan untuk menyiramkan air padanya. Apalagi hal ini terjadi di masjid, sebagaimana beliau memerintahkan untuk menjiruskan air pada air kencing orang Arab badui, sebagaimana dalam suatu hadis yang mana nabi memerintahkan agar bekas kencing orang badui yang kencing di masjid tersebut dibasuh/disucikan dengan air. (Rujuk; Hadis Riwayat al-Bukhari, 6025. Muslim, 284)

D - Ketika lbnu Rusyd menyebutkan perbezaan pendapat di kalangan ulama tentang darah ikan. Beliau menyebutkan sebab perselisihan mereka, iaitu tentang masalah status bangkainya. Pihak yang berpendapat bangkainya itu masuk dalam keumuman pengharaman, maka mereka menghukumi darahnya juga demikian. Sementara pihak yang mengeluarkan bangkai ikan dan keumuman dalil, maka mereka mengeluarkan hukum darahnya dari hukum tersebut, kerana diqiyaskan pada bangkai.

Saya katakan, mereka juga berpendapat sucinya mayat manusia. Demikian juga darahnya, menurut kaedah yang mereka lakukan. Oleh kerana itu, Ibnu Rusyd mengulas setelahnya, “Nash hanya menunjukkan najisnya darah haid. Adapun selain itu maka hukumnya tetap pada hukum asal yang telah disepakati di antara kedua pihak yang berselisih, iaitu suci. Dan, tidak boleh dikeluarkan dari hukum asal, kecuali dengan nash yang dengannya hujjah dapat ditegakkan.”

Jika ditanyakan: Mengapa tidak diqiyaskan saja dengan darah haid? Bukankah darah haid adalah najis?

Maka kita jawab: ini adalah qiyas yang tidak tepat.

Kerana darah haid adalah darah kebiasaan kaum wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita keturunan Adam.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (294) dan Muslim (1211))

Rasulullah bersabda tentang darah istihadhah, “Itu adalah darah yang berasal dari urat.” (Hadits sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (327) dan Muslim (333))

Kemudian darah haid adalah darah yang sangat kental dan berbau tidak sedap. Ia menyerupai tinja dan air kencing, bukan yang keluar dari selain dua jalur tersebut.

3 - Darah haiwan yang boleh dimakan dagingnya

Pendapat mengenainya seperti pendapat mengenai darah manusia, dalam hal yang tidak adanya dalilnya yang menunjukkan kenajisannya. Jadi, hukumnya dibawa kepada hukum asalnya (iaitu suci).

Pendapat yang menyatakan kesuciannya ini juga dikuatkan oleh:

Hadis dari Ibnu Mas’ud, Ia berkata, “Rasulullah pernah solat di Ka’bah, sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya sedang duduk-duduk. Lalu sebahagian mereka saling berkata pada sebahagian yang lain, “Siapakah di antara kalian yang mahu mengambil kotoran unta milik keluarga si fulan, kemudian mengambil kotoran, darah dan tahinya, lalu membawanya ke mari. Kemudian membiarkannya hingga ketika Muhammad sujud, maka ia meletakkan kotoran tersebut di atas belakangnya?” Bangkitlah orang yang paling celaka di antara mereka. Ketika Rasulullah sujud, ia meletakkannya di antara kedua pundak beliau, dan Nabi tetap sujud. Mereka pun tertawa-tawa.” (Hadis sahih, diriwayatkan oleh aI-Bukhari (240) dan Muslim (1794))

Maka, seandainya darah unta itu adalah najis, tentulah Nabi akan melepas pakaiannya atau keluar dari solatnya.

Diriwayatkan dengan sahih “bahawasanya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengerjakan solat, sementara pada perutnya terdapat kotoran dari darah unta yang baru disembelihnya, tapi dia tidak berwudhu.” (Sanadnya sahih, dikeluarkan dalam Mushannaf ‘Abdurrazzaq (1/25) dan lbnu Abi Syaibah
(1/392))

Wallahu a’lam, walaupun demikian, ijma’ ulama menyatakan bahawa darah itu haram dan najis hukumnya. Antara yang berpendapat sedemikian adalah Ibnul Qayyim, Ibnu Hazm, Ibnu Hajar al-Asqalani, Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnul Arabi, dan Imam al-Nawawi.

Maka, ianya termasuk di dalam persoalan perbezaan pendapat dan khilaf di kalangan ulama yang seharusnya kita berlapang dada.

Disunting dari; Kitab Shahih Sunnah, Terbitan Pustaka at-Tazkia, Jilid 1, oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.

Saturday, September 3, 2011

Adakah Khamar (Arak) Itu Najis?

Adakah Khamar (Arak) Itu Najis?

http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Para ulama berbeza pendapat berkaitan hukum sama ada najis atau tidaknya khamar (arak),

Pendapat yang pertama menyatakan bahawa khamar itu adalah najis. Ini adalah merupakan pendapat jumhur ulama, di antaranya adalah imam mazhab yang empat, dan pendapat ini dipilih oleh sheikhul Islam Ibnu Taimiyah. Hujah mereka adalah firman Allah s.w.t.:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Ma’idah, 5: 90)

Menurut mereka, maksud kalimah rijs di situ adalah membawa najis. Maka, dengan itu mereka menyatakan bahawa kenajisan arak itu adalah termasuk kategori najis hissiyah (najis dari sudut ain yang boleh dikesan dengan pancaindera).

Pendapat kedua, khamar itu suci (tidak najis). Ini adalah pendapat Rabi’ah, al-laits, al-Muzani, dan selainnya dari kalangan salaf. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh asy-Syawkani, ash-Shan’ani, Ahmad Syakir, dan al-Albani rahimahullah. Inilah pendapat yang rajih berdasarkan alasan-alasan sebagaimana yang akan dijelaskan.

Pendapat yang menyatakannya sebagai suci dan tidak najis adalah berdasarkan beberapa alasan-alasan berikut,

1 – Tidak ada keterangan dalam ayat tersebut yang menunjukkan najisnya khamar. Hal itu dapat dilihat dari beberapa sudut,

- kata rijs adalah musytarak. Kalimat/perkataan ini memiliki pengertian yang sangat banyak. Di antaranya adalah kotoran, suatu yang diharamkan, keburukan, siksa/azab, laknat, kufur, kejahatan, dosa, majis, dan lain-lain. (Rujuk: an-Nihayah, Ibnul Atsir, Lisanul ‘Arab dan Mukhtarus Shihah, juga kitab-kitab tafsir)

- Menurut Ibnu Abbas, makna rijs adalah sukhth (dibenci). Manakala Ibnu Zaid menyatakan, rijs adalah syarr (keburukan).

- Kata rijs disebutkan di dalam al-Qur’an pada beberapa tempat. Namun, tidak ada satu pun dari ayat-ayat tersebut menunjukkan bahawa rijs membawa maksud najis.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya arak, perjudian, berhala dan menilik nasib itu adalah perbuatan rijs (keji) termasuk amalan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan tersebut agar kamu mendapat keberuntungan!”. (al-Maidah, 5: 90)

“Begitulah Allah menimpakan rijs (siksa) kepada orang-orang yang tidak beriman”. (al-An’am, 6: 125)

“Kerana sesungguhnya mereka itu adalah rijs (najis) dan tempat mereka adalah Jahanam”. (at-Taubah, 9: 95)

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang rijs (najis) itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. (al-Haj, 22: 30)

- Ketika khamar dalam ayat itu disebutkan bersama dengan berjudi dan mengundi nasib, maka ini merupakan indikasi (petunjuk) yang kuat yang memalingkan makna rijs kepada selain makna najis. Demikian juga dalam firman-Nya:

“Maka berpalinglah dari mereka (orang-orang yang kafir/ingkar); Kerana sesungguhnya mereka itu adalah rijs (najis) dan tempat mereka adalah Jahanam”. (at-Taubah, 9: 95)

Kerana ada dalil-dalil shahih yang menunjukkan bahwa tubuh orang musyrik itu tidak najis.

- Ayat-ayat (dalil-dalil) yang menunjukkan pengharaman khamar tidak pun menunjukkan kenajisannya, tetapi benda yang najis sudah pasti adalah benda yang haram, dan benda yang haram belum tentu ia membawa maksud kepada najis fizikalnya. Sebagai contohnya, diharamkan memakai sutera dan emas bagi lelaki, padahal kedua-duanya benda yang suci menurut syar’i dan ijma’.

- Kata rijs pada ayat tersebut diikat dengan perkataan “termasuk amalan syaitan”. Maka, ia adalah rijs amali (perbuatan yang najis), yang bererti sangat buruk, diharamkan atau dosa. Bukanlah bererti najis ‘aini, sehingga meletakkan keududukan (hukum) benda-benda yang disebutkan dalam ayat tersebut sebagai najis.

2 - Dalam hadis tersebut disebutkan, daripada Anas radhiyallahu ‘anhu, “Rasulullah memerintahkan seseorang untuk mengumumkan: “Ketahuilah sesungguhnya khamar telah diharamkan.” “Aku pun keluar rumah dan menumpahkannya sehingga mengalir di jalan-jalan kota Madinah.” (Hadis Riwayat Bukhari, 2332. Muslim, 1980)

Dalam hadis yang lain, yang mengisahkan tentang seorang laki-laki yang membawa dua buah kantung air terbuat dan kulit yang di dalamnya terisi khamar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah mengharamkan meminumnya dan mengharamkan menjualnya.” Maka laki-laki itu membuka penutup dua kantung itu lalu menumpahkannya hingga habis isinya.” (Hadis Riwayat Muslim, 1206)

Seandainya khamar itu najis, pastilah Rasulullah memerintahkan untuk menyiramkan air pada tanah yang terkena khamar tersebut untuk mensucikannya. Sebagaimana Rasulullah memerintahkan untuk menuangkan air pada air kencing seorang Arab badui sebagaimana dalam suatu hadis. Dan tentunya, Rasulullah akan memerintahkan mereka untuk menjauhinya.

Dan kalaulah khamar itu najis, tentulah Rasulullah memerintahkan pemilik dua kantung air itu untuk mencucinya.

3 - Perlulah difahami bahawa hukum asal setiap sesuatu itu adalah suci. Tidak dapat dipindahkan hukumnya kecuali dengan dalil yang sahih, dan dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan kenajisannya. Maka tetaplah ia pada hukum asalnya.

Wallahu a’lam.

Rujukan: Disunting semula dari Kitab Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal as-Sayyid Salim, Pustaka at-Tazkia, Jilid. 1.

Salah Faham Terhadap Kalimah Rijs/Rijsun (Najis) Untuk Babi

Salah Faham Terhadap Kalimah Rijs/Rijsun (Najis) Untuk Babi

http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Artikel ini adalah sebagai sedikit tambahan kepada artikel sebelumnya yang bertajuk: “Meninjau Semula Hukum Kenajisan Khinzir”

Khinzir atau babi adalah jelas haram hukumnya untuk dijadikan sebagai bahan makanan (haram untuk dimakan) tanpa khilaf di kalangan ulama. Namun penggunaan campuran unsur atau elemen yang berasal dari babi (seperti gelatin babi) telah berleluasa digunakan sebagai bahan campuran terhadap pelbagai barangan termasuk pada pakaian, sabun cuci iaitu termasuklah sabun pencuci pakaian dan sabun mandi, ubat-ubatan, kegunaan alat-alat pejabat dan sekolah (alat tulis), berus gigi, ubat gigi, lembaran-lembaran kertas, berus cat dan sehinggalah di dalam proses penghasilan makanan serta pelbagai lagi peralatan dan keperluan lainnya. Persoalannya, apakah peralatan itu boleh digunakan kerana sebahagian masyarakat Islam menganggap (menghukum) babi sebagai najis berat (mughaladzah) sehingga ada mazhab yang mengharamkan bagi kaum muslimin menyentuhnya. Dan langsung tidak boleh disucikan.

Jika diperhatikan, orang-orang Islam adalah antara pengguna yang teramai yang tidak dapat mengelak daripada menggunakan alat-alat atau benda-benda yang melibatkan unsur babi atau khinzir, sehingga terpaksa digunakan di dalam masjid-masjid dan di rumah-rumah. Alangkah susah dan sulitnya bagi orang-orang yang mengharamkan penggunaan semua benda-benda tersebut, sedangkan mereka terpaksa dan sangat-sangat memerlukannya kerana termasuk sebagai keperluan asas dan utama. Maka bagaimana orang-orang Islam yang terpegang benda-benda atau barangan yang dibuat atau dicampur dengan unsur-unsur babi seperti ubat gigi dan berus gigi, pakaian dan beg yang dibuat dari kulit babi, makanan dan ubata-ubatan, apakah perlu disertu iaitu dicuci tujuh kali satu darinya dengan tanah? Kalau cucian seperti itu wajib, pasti ia amat menyulitkan sedangkan Islam adalah agama yang paling mudah sebagaimana firman Allah ‘Azza wa-Jalla dan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (al-Baqarah, 2: 286)


يَسِّرُوْا ولاَ تُعَسِّرُوْا

“Permudahkanlah dan janganlah kamu persulitkan”.

اَلدِّيْنُ يُسْرٌ

“Agama (Islam) itu mudah.

Adapun ayat-ayat al-Quran yang memperkatakan tentang babi ialah:

حُرِّمِتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ

“Diharamkan bagi kamu (memakan) bangkai, darah dan daging babi”. (al-Maidah, 5: 3)

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِبْرِ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atas kamu (memakan) bangkai, darah dan daging babi”. (an-Nahl, 16: 115)


قُلْ لاَّ أَجِدُ فِي مَآ أُحِيَ إِلَيَّ مُحُرَّمًا عَلى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوْحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فِإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ

“Katakanlah!: Tidaklah aku perolehi dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi kerana sesungguhnya semua itu adalah kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”. (al-An’am, 6: 145)

Semua dalil-dalil al-Quran di atas menunjukkan haramnya bangkai, darah yang mengalir dan daging babi, semuanya itu tidak pernah dihalalkan untuk dimakan. Dan juga amat jelas menunjukkan bahawa bangkai, darah dan daging babi atau apa sahaja dari unsur babi adalah hukumnya haram dimakan kerana semua benda-benda tersebut rijs (keji, najis atau kotor).

Persoalannya, apakah makna dan maksud rijs (رِجْسٌ) pada ayat-ayat di atas ini dan di ayat-ayat yang lain yang diulang-ulang sehingga sepuluh kali? Ada yang memberikan makna atau memaksudkannya sebagai najis berat yang wajib disertu iaitu dicuci tujuh kali dan satu daripadanya dengan tanah dan ada pula yang hanya bermakna kotor dan keji yang haram dimakan?

Jika sekiranya rijs (رِجْسٌ) itu dimaksudkan najis berat, mengapa hanya dikhususkan kepada babi sedangkan ayat-ayat di atas memperkatakan bangkai dan darah seiring (sebaris) dengan persoalan babi dan mengapa bangkai dan darah tidak seberat babi sedangkan ayat-ayat tersebut tidak membeza-bezakannya? Secara logiknya, jika tempat yang terkena/tersentuh babi itu wajib disertu (dibasuh 7 kali) bagi membersihkan najisnya, maka bangkai, darah dan nanah yang mengenai tempat-tempat tertentu juga wajarlah disertu sebagaimana babi tadi.

Begitu juga jika kita melihat kepada ayat-ayat yang lain, kalimah rijs turut dikaitkan dengan benda-benda dan perkara-perkara yang lain sebegaimana berikut:

Dikaitkan dengan perjudian, arak, perdukunan dan berhala sebagaimana firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya arak, perjudian, berhala dan menilik nasib itu adalah perbuatan rijs (keji) termasuk amalan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan tersebut agar kamu mendapat keberuntungan!”. (al-Maidah, 5: 90)

Dikaitkan dengan orang yang tidak beriman sebagaimana firman Allah:

كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لاَيُؤْمِنُوْنَ

“Begitulah Allah menimpakan rijs (siksa) kepada orang-orang yang tidak beriman”. (al-An’am, 6: 125)

Yang berkaitan dengan bangkai dan darah sebagaimana firman Allah:

إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ

“Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi sesungguhnya semuanya itu rijs (kotor)”. (al-An’am, 6: 145)

Yang berkaitan dengan azab dan kemurkaan Allah Azza wa-Jalla sebagaimana firman-Nya:

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِّنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَعَضَبٌ

“Ia berkata: Sesungguhnya sudah pasti kamu akan ditimpa rijs (azab) dan kemarahan dari Tuhanmu”. (al-A’raf, 7:71)


ويَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذَيْنَ لاَ يَعْقِلُوْنَ

“Dan Allah menimpakan rijs (kemurkaan) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”. (Yunus, 10: 100)

Yang berkaitan dengan orang-orang fasik atau munafik sebagaimana firman Allah:

إِنَّهُمْ رِجْسٌ وَمَأْوَهُمْ جَهَنَّم

“Kerana sesungguhnya mereka itu adalah rijs (najis) dan tempat mereka adalah Jahanam”. (at-Taubah, 9: 95)

Yang berkaitan dengan berhala dan dusta sebagaimana firman Allah:

فَاجْتَنِبُوْا الرِّجْسَ مِنَ اْلأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُوْرِ

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang rijs (najis) itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. (al-Haj, 22: 30)

Yang berkaitan dengan dosa sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan rijs (dosa) dari kamu hai ahli bait!”. (al-Ahzab, 33: 33)

Yang berkaitan dengan kekafiran, kemunafikan dan tidak beriman sebagaimana firman Allah:

وَأَمَّا فِى قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوْا وَهُمْ كَافِرُوْنَ

“Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah rijs (kekafiran) mereka dan di samping rijs (kekafirannya) yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (at-Taubah, 9: 125)

Kesemua kalimah rijs pada ayat-ayat al-Quran di atas tidak terdapat walaupun satu ayat yang memakna atau bererti rijs (najis) yang bermaksud najis berat sehingga dicuci tujuh kali apabila menyentuhnya. Malah tidak terdapat keterangan atau suruhan dari al-Quran atau hadis yang sahih yang memerintahkan agar dicuci tujuh kali satu daripadanya dengan tanah apabila tersentuh salah satu dari benda-benda rijs yang tersebut di dalam al-Quran atau hadis. Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim iaitu:

مَنْ لَعِبَ بِالنَّرْدِ شِبْرًا فَكَأَنَّمَا غَمَسَ يَدَهُ فِي لَحْمِ الْحِنْزِيْرِ

“Barangsiapa bermain nard (dadu) walau hanya sejengkal, seolah-olah dia memasukkan tangannya pada daging babi”. (H/R Muslim)

Adapun maksud hadis di atas ini berupa larangan bermain dadu kerana ia membawa kepada perbuatan judi yang diharamkan sebagaimana rijs (diharamkan) memakan daging babi. Pengertian najis mengikut bahasa ialah setiap benda yang kotor, tetapi di dalam syara’ najis mempunyai dua jenis:

Pertama: Najis hissi iaitu najis yang boleh disentuh (tampak/fizikal), dilihat warna serta dihidu baunya seperti rijs (najis) babi, bangkai, darah, nanah, tahi dan sebagainya. Tetapi babi yang seiring dengan darah dan bangkai di dalam ayat di atas, tidak pernah ada hadis yang memerintahkan agar dicuci tujuh kali satu darinya dengan tanah.

Oleh kerana tidak pernah diperolehi atau ditemui walaupun sebuah hadis sahih yang mewajibkan mencuci atau membasuh sesiapa sahaja yang menyentuh atau tersentuh babi sebanyak tujuh kali cucian, sama ada babi atau unsur babi tersebut kering atau basah. Termasuklah peralatan dapur seperti periuk, belanga, sudu, garpu, pinggan, mangkuk atau apa sahaja yang berupa peralatan untuk memasak, makan atau minuman yang digunakan atau tersentuh babi atau juga unsur-unsur babi ia tidak wajib disertu atau dicuci tujuh kali satu darinya dengan tanah. Maka sesiapa yang mewajibkan melakukan seperti itu perlulah mendatangkan hujah dari syara’ kerana agama ini datangnya bukan dari pendapat atau qaul seseorang tetapi dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Berkaitan bekas makanan seperti periuk, belanga, atau pinggan yang terkena babi yang mana mungkin jika bekas-bekas tersebut pernah digunakan oleh orang-orang kafir, maka cara membersihkannya hanya cukup dengan air atau sabun tanpa perlu disertu.

Kedua: Najis maknawi iaitu jenis najis yang tidak boleh dicapai oleh panca-indera seperti najis yang dimaksudkan (ditujukan) kepada nifaq, dosa, syirik dan kekafiran sebagaimana firman Allah pada ayat-ayat yang lalu dan ayat yang berikut ini:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ

“Wahai orang-orang beriman bahawasanya orang-orang musyrik itu najis!”. (at-Taubah, 9: 28)

Kesimpulannya, perkataan/kalimah rijsun yang dimaksudkan tersebut adalah sebagai najis/kotor untuk dimakan dan bukanlah najis untuk disentuh dan dipegang.

Tidak dinafikan di sana terdapat sebahagian ulama mengharamkannya untuk sebagai perhiasan, beg, kasut, pakaian (iaitu yang walaupun bukan untuk bahan makanan) namun sebahagian yang lain seperti ulama Malikiyyah, Abu Daud al-Zahiri dan juga al-Syawkani, mereka melihat tidak ada kesalahannya untuk menggunakannya jika ianya telah melalui proses dibagh/pengawetan/kimia. (rujuk; al-Nawawi, al-Majmu', Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, jil. 4, m.s. 604)

“'kulit apapun yang telah disamak, maka ia telah menjadi suci.” (Hadis Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Nasai’e, Ibn Majah, dari Ibn ‘Abbas. Disahihkan oleh Sheikh al-Albani di dalam kitab Ghayatul Maaram, 27, dan Sahih al-Jami' al-Soghir, 2711.

Manakala di dalam riwayat Muslim dan Abu Daud, berbunyi “jika kulit telah disamak, maka ia telah menjadi suci”. Hadis ini juga dinilai sahih oleh Imam at-Tirmizi, 1728.

Solat Orang-Orang Yang Tertidur Dan Telupa Boleh Di-Qadha’

Solat Orang-Orang Yang Tertidur Dan Telupa Boleh Di-Qadha’

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa lupa mengerjakan solat, hendaklah dia mengerjakan ketika dia teringat. Tidak ada kafarat (denda) baginya, melainkan hanya yang tersebut.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 1/166, no. 597)

“Barangsiapa yang lupa mengerjakan solat atau tertidur sehingga tidak mengerjakan solat maka kafarat (denda) –nya adalah dengan mengerjakan solat yang tertinggal itu ketika dia teringat.” (Hadis Riwayat Muslim, 1/477, no. 684)

Orang yang tertidur dihukumkan sama dengan orang yang tidak sedarkan diri selama tiga hari atau kurang. Pendapat itu telah diriwayatkan dari Ammar, ‘Imran bin Hushain, dan Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhum. (Rujuk: asy-Syarhu al-al-Kabir, Ibnu Qudamah, 3/8. Juga al-Mughni, 2/50-52)

Ada pun jika masa tidak sedarkan diri tersebut melebihi had masa tersebut, tidak ada kewajiban baginya untuk meng-qadha’kan-nya. Kerana orang yang tidak sedarkan diri dalam waktu lebih dari tiga hari sama dengan orang yang tidak waras dan hilang akal. (Lihat: Majmuu’ al-Fatawa Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz yang disusun oleh Abdullah ath-Tahyyar dan Syaikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Baaz, 2/457)

Pengertian Ringkas meng-Qadha’ solat:

Melaksanakan solat yang tertinggal atas sebab lupa atau tertidur. Ia dilakukan dengan niat solat sebagaimana biasa.

Sebagimana Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan solat subuh di luar waktunya ketika mana berada di dalam suatu perjalanan yang amat meletihkan. Solat qadha’ boleh dilakukan secara berjama’ah sebagaimana solat seperti biasa, cuma yang membezakannya adalah waktu dilaksanakannya iaitu ketika mana kita tersedar atau sebaik-sahaja kita teringat ada solat yang belum ditunaikan setelah luput waktunya yang sebenar.

Adapun solat yang dengan sengaja ditinggalkan, maka tiada qadha’ baginya. Tetapi, adalah taubat. Kerana sengaja meninggalkan solat adalah berdosa besar. Penghapus dosa, adalah taubat. Tiada dalil yang menjelaskan berkenaan solat yang sengaja ditinggalkan boleh di-qadha’.

Wallahu a’lam.

Dinukil dari: Ensiklopedi Shalat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah (Judul Asli: Shalaatul Mu’min...), Sheikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, jil. 1, m/s. 176-177)

http://fiqh-sunnah.blogspot.com/

Men-Talqin Menurut Sunnah

Men-Talqin Menurut Sunnah

http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Yang dimaksudkan dengan talqin adalah membantu untuk mengucapkan syahadah (kepada mereka yang nazak dan sedang menghadapi kematian). Hal ini adalah berdasarkan kepada sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam,

“Talqinilah orang yang sedang nazak (hendak meninggal dunia) dari kalangan kalian dengan kalimah Laa Ilaaha Illallah (tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah). Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah merupakan kalimah Laa Ilaaha Illallah pada ketika hendak meninggal dunia, maka dia akan masuk Syurga pada suatu hari kelak walaupun sebelum itu dia perlu menerima beberapa siksaan yang mana harus dilaluinya.”

Beliau juga bersabda,

“Barangsiapa yang meninggal dunia sementara dia mengetahui (meyakini) bahawasanya tidak ada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi melainkan Allah, maka dia akan masuk Syurga.”

Di akhir hadis, beliau bersabda,

“Barangsiapa meninggal dunia dengan tidak menyekutukan allah sedikit pun, maka dia masuk Syurga.”

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahiih-nya. Tambahan di dalam hadis pertama ada pada Ibnu Hibban (Mawaarid, no. 719. Hadis ini mempunyai syahid Mu’adz bin Jabal, dan sanadnya hasan, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam kitab Irwaa’ul Ghaliil, 79) juga ada pada al-Bazzar.

Yang dimaksudkan dengan talqin di sini adalah meminta dan mengajari orang yang sedang nazak (sedang menghadapi saat-saat kematian) supaa mengucapkan kalimah syahadah. Ini adalah sebagaimana hadis berikut,

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu,

“Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjenguk salah seorang dari kaum Anshar seraya berkata: “Wahai pakcik, ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah”. Orang itu bertanya, “Apakah pakcik dari sebelah ibumu atau ayahmu?” Beliau menjawab, “Pakcik dari sebelah ibu”. Maka orang itu bertanya, “Apakah akan lebih baik bagiku untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?” Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya”.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 3/152-154, dan 268 dengan sanad yang sahih berdasarkan syarat Muslim)

Adapun bacaan surah Yaasiin di sebelah orang yang sudah meninggal dunia dan menghadapkannya ke arah kiblat, tidak ada satu pun hadis yang sahih yang boleh dijadikan dalil terhadap hal itu. Bahkan, Sa’id bin al-Musayyid menilai makruh meghadapkan jenazah ke arah kiblat, dia berkata: “Bukankah jenazah itu seorang Muslim?”

Dari Zur’ah bin ‘Abdirrahman, bahawasanya dia pernah menyaksikan Sa’id bin al-Musayyib ketika dalam sakitnya, sementara yang ebrsamanya terdapat Abu Salamah bin ‘Abdirrahman. Sa’id pun jatuh pengsan sehingga Abu Salamah memerintahkan supaya memindahkan tempat tidurnya menghadap ke arah ka’bah. Ketika telah dia tersedar (jaga semula), Sa’id bertanya, “Apakah kalian telah mengubah arah tempat tidurku?” Mereka menjawab, “Ya”. Kemudian, dia melihat ke arah Abu Salamah seraya berkata, “Aku menjangkakan hal tersebut adalah berdasarkan pengetahuanmu?” Dia menjawab, “Aku yang telah menyuruh mereka”. Maka Sa’id menyuruh agar tempat tidurnya dikembalikan lagi seperti sebelumnya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf, 4/76, dengan sanad yang sahih dari Zur’ah)

Juga diperbolehkan bagi seseorang muslim untuk mendatangi orang kafir yang sedang nazak hendak meninggal dunia untuk menjelaskan perihal ajaran Islam dengan harapan dia akan memeluk Islam. Ini adalah berdasarkan kepada hadis Anas radhiyallahu ‘anhu,

“Ada seorang remaja Yahudi yang mengabdi kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu ketika, anak itu jatuh sakit, maka Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguknya. Beliau pun duduk berdekatan kepalanya seraya berkata: “Masuklah Islam”. Kemudian, anak itu melihat ke arah bapa-nya yang ketika itu sedang berada bersamanya. Ayahnya berkata, “Turutilah Abul Qasim (Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam)”. Maka anak itu pun memeluk Islam. Setelah itu, Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam keluar seraya mengucapkan, “Segala Puji hanya bagi Allah yang menyelamatkan dirinya dari api Neraka”. (Ketika anak itu meninggal dunia, beliau berkata, “Solatkanlah sahabat kalian ini!”). (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, al-Hakim, al-Baihaqi, dan Ahmad (3/175, 227, 260, dan 280) Tambahan di dalam kurungan itu merupakan milik Ahmad dalam sebuah riwayat yang lain)

Rujukan: Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah (Ahkamul Jana’iz), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i (Cet. Ke-2, Dec. 2006M), oleh Sheikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, m/s. 33-37.

Doa-doa dan Zikir-zikir Selepas Solat Fardhu Yang Sahih Dari Sunnah

Doa-doa dan Zikir-zikir Selepas Solat Fardhu Yang Sahih Dari Sunnah

http://fiqh-sunnah.blogspot.com


Adab Berzikir Selepas Solat:

1 – Dilaksanakan (dibaca/diwiridkan) secara sendiri-sendiri (individu/bukan secara berjma’ah).

2 – Dilaksanakan (dibaca/diwiridkan) secara perlahan-lahan (direndahkan suara) dan tidak dikuatkan atau dinyaringkan semasa membacanya. Cukup sekadar diri sendiri yang mendengar dan memahaminya atau menghayatinya.

3 – Tiada contohnya (daripada sunnah) bentuk perlaksanaan zikir selepas solat dengan secara berjama’ah dan dengan dengan suara yang kuat, melainkan bagi tujuan mengajar.

4 – Zikir-zikir dan doa-doa ini dilaksanakan (diwiridkan) sebaik sahaja selepas salam (tamat solat fardhu).

Imam asy-Syafi'e rahimahullah berkata di dalam kitabnya yang terkenal, al-Umm:


وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ فإن اللَّهَ عز وجل يقول {وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِك وَلَا تُخَافِتْ بها} يعنى وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حتى لَا تُسْمِعَ نَفْسَك

Terjemahan: Aku berpendapat bahawa seseorang imam dan makmum hendaklah mereka berzikir kepada Allah di setiap kali selepas solat, dan hendaklah mereka merendahkan suara zikirnya, melainkan bagi seseorang imam yang mahu menunjuk ajar para makmumnya berkenaan zikir, maka dia boleh mengeraskan suara/bacaan zikirnya, sehingga apabila dia telah mengetahui bahawa para makmum telah tahu, maka hendaklah dia kembali merendahkan suara zikirnya, kerana Allah 'Azza wa Jalla berfirman (maksudnya):

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Surah al-Israa', 17: 110)

Maksud kata الصلاة (ash-Sholah) wallahu Ta'ala a'lam adalah doa. لا تَجْهَرْ (Laa Tajhar): Janganlah engkau mengangkat suaramu, وَلا تُخَافِتْ (wa laa tukhofit): Janganlah engkau rendahkan sehingga engkau sendiri tidak mendengarnya. (Rujuk: Imam asy-Syafi'e, al-Umm, 1/127)

Zikir-zikir tersebut adalah sebagaimana berikut:

Zikir 1 -

أَسْتَغْفِرُ الله َ(ثلاث) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali). Kemudian baca: “Ya Allah, Engkaulah pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/254, no. 931)

Zikir 2 -

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas se-gala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang menghalang apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal sholehnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 3/348, no. 799 dan Muslim, 3/256, no. 933. at-Tirmidzi, 2/4, no. 275)

Zikir 3 –

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membenci.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/258, no. 935)

Zikir 4 –

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesiapa yang membaca kalimat berikut di setiap selesai solat,

سُبْحَانَ اللهِ(33 ×) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Dan Allah Maha Besar. (Tiga puluh tiga kali). Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

... maka akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di laut.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/262, no. 939. Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan bertasbih (Subhanallah) 10x, Tahmid (Alhamdulillah) 10x, dan Takbir (Allahu Akbar) 10x. Kedua-duanya sahih daripada Nabi dan boleh dipilih yang mana sahaja untuk dibaca)

Zikir 5 –

Membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas setiap kali selesai solat (fardhu):

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١) مَلِكِ النَّاسِ (٢) إِلَهِ النَّاسِ (٣) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاس

(Hadis Riwayat Abu Dawud, 2/86, an-Nasai 3/68. Lihat pula Shohih Sunan at-Tirmidzi, 2/8. Kumpulan ketiga-tiga surah ini dinamakan al-mu’awidzat - lihat Fathul Baari Syarah Shohih al-Bukhari, 9/62)

Zikir 6 –

Membaca ayat Kursi (ayat ke 255 dari surah al-Baqarah) setiap kali selesai solat (fardhu):

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Sesiapa membacanya setiap selesai solat, tidak yang menghalanginya masuk Syurga selain mati.” (Hadis Riwayat an-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal-Lailah No. 100 dan Ibnus Sunni no. 121, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shohih al-Jami’, 5/329 dan Silsilah Hadis Shohih, 2/697 no. 972)

Zikir 7 –

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح

“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dibaca sepuluh kali setiap sesudah solat Maghrib dan Subuh. (Hadis Riwayat at-Tirmidzi 11/377,no. 3396. Beliau berkata: Hadis ini hasan ghoreeb Sahih)

Doa-doa Setelah Salam Dari Solat:

Doa 1 –

Ummu Salamah berkata, “Bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila selesai solat subuh beliau berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, 3/179, no. 915. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Doa 2 –

Sa’ad B. Abu Waqqash berkata, “Di setiap kali selesai solat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari beberapa perkara (dengan doa berikut):

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ اَلْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اَلدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat nyanyuk. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 19/470, no. 5897)

Doa 3 –

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan pada setiap kali selesai solat untuk membaca (berdoa),

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku dalam berzikir kepada-Mu (mengingati-Mu), mensyukuri nikmat-Mu, dan melakukan ibadah yang baik kepada-Mu.” (Hadis Riwayat Ahmad, 36/430, no. 22119. Al-Bukhari, Adabul Mufrad, 1/239, no. 690. Dinilai sahih oleh al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth)

Doa 4 –

Al-Baraa’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahawasanya apabila kami solat di belakang Rasulullah, kami lebih suka berada di saf sebelah kanannya kerana beliau akan menghadapkan wajahnya kepada kami. Dan aku mendengar beliau berdoa (dengan doa berikut),

رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ

“Wahai Tuhan-Ku, jauhkanlah aku dari azab-Mu pada hari di mana engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (Hadis Riwayat Muslim, 4/20, no. 1159)

Doa 5 –

Abu Bakrah berkata, “Bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdoa di akhir solatnya (dengan doa berikut),

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Hadis Riwayat Ahmad, 34/52, no. 20409. Sanadnya kuat di atas syarat Muslim sebagaimana kata Syu’aib al-Arnauth)

DOA ISTIFTAH

DOA ISTIFTAH

Wajib hukumnya (menurut pendapat yang rajih) supaya memulai solat dengan doa istiftah setelah takbir sebelum membaca surah al-Fatihah, sama ada dalam solat fardhu atau pun solat sunnah, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya tidak sempurna solat seseorang sehingga dia berwudhu’... kemudian bertakbir, memuji Allah dan menyanjungi-Nya, lalu membaca al-Qur’an yang mudah ia hafal... Apabila hal ini ia lakukan, maka sempurnalah solatnya.” (Hadis Riwayat an-Nasa’i, 2/20. at-Tirmidzi, 302. Ibnu Majah, 460. Abu Daud. al-Hakim, dengan dipersetujui oleh adz-Dzahabi)

Ash-Shan’ani berkata, “Dari hadis ini dapat disimpulkan bahawa memuji dan membesarkan Allah setelah takbiratul iam secara mutlak adalah hukumnya wajid.” (Subulus Salam, 1/312)

Para ulama berpendapat bahawa, membaca doa istiftah di dalam solat adalah disyari’atkan. Di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Hazm sebagaimana dalam kitabnya, al-Muhalla, Imam asy-syafi’i, dan para ulama Syafi’iyah. (Rujuk: Sifat Shalat Nabi (Judul Asli: Ashlu Shifati Sholatin Nabi), Jil. 1, m/s. 299)

Bilakah Waktu Untuk Membacanya?

Dibaca sebaik sahaja selepas takbiratul ihram, dan sebelum ta’awuzd untuk membaca al-Fatihah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (r.a.), Apabila Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.) telah melakukan takbir memulai solatnya, beliau diam sejenak sebelum membaca al-Fathihah. Maka, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, Demi Ibu dan Bapaku, Aku melihat engkau diam di antara takbiratul Iam dan bacaan al-Fatihah, apakah yang engkau baca?”

Beliau menjawab: “Aku mengucapkan ... (doa istiftah no. 1 (di bawah...))

Berikut adalah beberapa/sebahagian contoh doa-doa istiftah yang tsabit dan sahih daripada sunnah yang baik untuk diamalkan/dipraktikkan di dalam solat.

Doa 1


اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan air es”. (Hadis Riwayat al-Bukhari 1/181 dan Muslim, 1/419)

Doa 2


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah akan nama-Mu, Maha Tinggi kekayaan dan kebe-saran-Mu, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. (Hadis Riwayat Empat penyusun kitab Sunan, dan lihat Shahih at-Tirmidzi, 1/77 dan Shahih Ibnu Majah, 1/135)

Doa 3


وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِيْ، وَنُسُكِيْ، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكَ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِيْ لأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِيْ لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Aku menghadap kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan me-megang agama yang lurus dan aku tidak tergolong orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya solat, ibadah dan hidup serta matiku adalah untuk Allah. Tuhan seru sekalian alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan kerana itu, aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim.

Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, engkau Tuhanku dan aku ada-lah hamba-Mu. Aku menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kula-kukan). Oleh kerana itu ampunilah selu-ruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau. Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak akan menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang jahat, tidak akan ada yang boleh menjauhkan aku daripada-nya, kecuali Engkau. Aku penuhi panggilan-Mu dengan kegembiraan, seluruh kebaikan di kedua tangan-Mu, kejelekan tidak dinisbahkan kepadaMu. Aku hidup dengan pertolongan dan rahmat-Mu, dan kepada-Mu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu”. (Hadis Riwayat Muslim, 1/534)

Doa 4

اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, Tuhan Jibrail, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) apa yang mereka (orang-orang kristian dan yahudi) pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Eng-kau kehendaki”. (Hadis Riwayat Muslim, 1/534)

Doa 5


((اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً)) ثلاثا ((أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ))

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang”. (Diucapkan tiga kali). “Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan dan godaan syaitan”. (Hadis Riwayat Abu Dawud, 1/203, Ibnu Majah, 1/265 dan Ahmad, 4/85. Muslim juga meriwayatkan hadits senada dari Ibnu Umar, dan di dalamnya terdapat kisah, 1/420)

Doa 6


اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، [وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ][وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ][وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ][ وَلَكَ الْحَمْدُ][أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّهُ حَقُّ، وَالنَّارُ حَقُّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقُّ، وَمُحَمَّدٌ حَقُّ، وَالسَّاعَةُ حَقُّ][اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ][أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ][أَنْتَ إِلَـهِيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ]

Apabila Nabi solat Tahajud di waktu malam, beliau membaca: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji dan bagi-Mu kerajaan langit dan bumi serta seisi-nya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, firman-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, Syurga adalah benar (ada), Neraka adalah benar (ada), (terutusnya) para nabi adalah benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu), kejadian hari Kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku menye-rah, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolonganMu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh kerana itu, ampunilah dosaku yang telah lewat dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau”. (Hadis Riwayat al-Bukhari dalam Fathul Bari, 3/3, 11/116, 13/371, 423, 465, dan Muslim meriwayatkannya dengan ringkas, 1/532)


http://fiqh-sunnah.blogspot.com/

Sunnahkah – Berdoa & Berzikir Dengan Berjama’ah, Berlagu, Dan Menangis?

Sunnahkah – Berdoa & Berzikir Dengan Berjama’ah, Berlagu, Dan Menangis?

Mukaddimah

As-Salaamu ‘alaikum,

Artikel ini asalnya adalah sebuah tulisan (berbentuk buku) bantahan yang disusun untuk membantah dan memberi pencerahan terhadap sebuah buku berjudul “Dzikir Berjama’ah: Sunnah Atau Bid’ah?” karya KH Ahmad Dimyathi Badruzzaman, MA. Artikel ini adalah asalnya milik Ustaz Muhammad Arifin Baderi (Indonesia).

Namun, telah saya sunting semula susunan kandungannya dan penggunaan bahasanya supaya nampak lebih bercorak umum dan sesuai sebagai bacaan di peringkat yang lebih umum untuk pembaca di Malaysia. Judul asal tulisan Ustaz Muhammad Arifin Baderi adalah “Sorotan Tajam Terhadap Dzikir Jama’i”.

Melalui artikel ini, ia cuba merungkaikan semula sunnah berzikir dengan memberi penjelasan dan pencerahan terhadap persoalan bagaimanakah sunnah yang sebenar dalam melaksanakan ibadah zikir sekaligus merungkai apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan zikir. Seterusnya ia akan membahaskan (membantah) persoalan berkenaan amalan zikir dengan suara yang dikuatkan (dikeraskan), dinyaringkan, dan dilagukan. Yang mana sebenarnya zikir dengan bentuk suara tersebut adalah sebenarnya menylisihi sunnah.

Juga akan turut diperbincangkan adalah amalan zikir yang dilakukan secara berjama’ah yang telah menjadi seakan-akan suatu sunnah serta syi’ar agama di kalangan masyarakat Islam di sekeliling kita, yang mana sebenarnya ia bukanlah sunnah tetapi bid’ah.

- Nawawi
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/

Pendahuluan

Zikir atau membaca puji-pujian adalah salah satu ibadah yang paling agung. Setelah mengingatkan kaum muslimin akan kenikmatan-Nya di mana ketika diubahnya kiblat mereka dari Bait al-Maqdis dan diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, Allah ta’ala memerintahkan mereka agar berzikir kepada-Nya:

“Kerana itu, ingatlah kepada Aku niscaya Aku akan ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari (kenikmatan)-Ku.” (al-Baqarah, 2: 152)

Pada ayat ini terdapat suatu isyarat bahawa zikir adalah ibadah yang agung, kerana zikir merupakan penzahiran yang nyata terhadap rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas kenikmatan besar ini, iaitu dengan diubahnya kiblat kaum muslimin menjadi ke arah Ka’bah, dan diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w). Dan dalam ayat lain, Allah subhanahu wa Ta’ala (s.w.t.) berfirman:

“Dan laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab, 33: 35)

Kerana itulah, kita sebagai seorang muslim meyakini bahawa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan tugas menjelaskan ibadah ini dengan sempurna. Dan mustahil ada kekurangan dalam penjelasan beliau tentang ibadah ini, sama ada kekurangan yang berkaitan dengan jenis, waktu, atau metode/kaedah pelaksanaannya.

Oleh kerana itu, jika kita perhatikan tidaklah ada suatu keadaan atau waktu yang kita dianjurkan untuk berzikir secara khusus padanya, melainkan beliau telah menjelaskan kepada umatnya. Beliau telah menjelaskan zikir tersebut lengkap dengan tata caranya. Dimulai dari zikir semenjak kita bangun tidur, sehingga kita hendak tidur kembali. Bahkan di ketika kita terjaga di waktu malam, telah diajarkan dan ditunjukkan/dicontohkan zikir-zikir yang sesuai dengannya. Bila kita membuka pelbagai kitab-kitab kumpulan zikir Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang ditulis oleh para ulama’, niscaya kita akan mendapati bahawa seluruh keadaan manusia dan perbuatannya, sama ada dalam solat atau di luar solat, telah diajarkan zikir yang sesuai dengan keadaan itu. Para pembaca yang budiman dijemput dan dipersilakan membaca kitab al-Adzkar karya/susunan Imam Nawawi asy-Syafi’i.

Berdasarkan suasana semasa di masa ini, selain menjadi kenikmatan, juga ada sebahagian keadaan dan tempat menjadi tentangan bagi kita. Sejauh manakah pengamalan kita terhadap sunnah-sunnah beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam berzikir kepada Allah?

Oleh kerananya, tidak ada alasan lagi bagi sesiapa pun untuk mereka-cipta zikir yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Mari kita selidiki hadis berikut, dengan harapan agar kita mendapat pelajaran penting tentang tata cara berzikir:

“Dari sahabat al-Bara’ bin ‘Azib, bahawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila engkau akan berbaring tidur, hendaklah engkau berwudhu’ seperti engkau berwudhu’ untuk solat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kananmu, lalu katakanlah: “Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan wajahku kepada-Mu, dan menyerahkan urusanku kepada-Mu. Dengan rasa mengharap (kerahmatan-Mu) dan takut (akan siksa-Mu) aku menyandarkan punggungku kepada-Mu. Tiada tempat perlindungan dan keselamatan (dari siksa-Mu) melainkan kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus.” Dan jadikanlah bacaan (doa) ini sebagai akhir perkataanmu, kerana jika engkau mati pada malam itu, niscaya engkau mati dalam keadaan menetapi fitrah (agama Islam).” Al-Bara’ bin ‘Azib berkata: “Maka aku mengulang-ulang bacaan (doa) ini, untuk menghafalnya, dan mengatakan: “aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus.” Nabi pun bersabda: “Katakan: Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.” (Riwayat al-Bukhori, 5/2326, hadis no: 5952. Dan Muslim, 4/2081, hadis no: 2710)

Al-Bara’ bin ‘Azib salah mengucapkan doa ini di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Yang seharusnya ia mengucapkan: “Aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus”, ia ucapkan: “Aku beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus”. Perbezaannya hanya kata “Nabi” dan kata “Rasul”, padahal yang dimaksudkan dari keduanya sama, iaitu Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Walau pun demikian, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan kesalahan ini terjadi, sehingga beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegur sahabat al-Bara’ agar membenarkan ucapannya.

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahawa zikir kepada Allah adalah salah satu bentuk ibadah, dan setiap ibadah diatur oleh sebuah kaedah penting, iaitu:

“Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada contohnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam)”

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Hukum asal setiap ibadah ialah tauqif (harus ada contohnya dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam), sehingga tidak boleh dibuat ajaran melainkan yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala. Kalau tidak demikian niscaya kita akan termasuk ke dalam firman Allah:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?!” (asy-Syura, 42: 21)

Sedangkan hukum asal setiap adat istiadat adalah diperbolehkan, sehingga tidak boleh ada yang dilarang melainkan suatu hal yang telah diharamkan oleh Allah. Kalau tidak demikian niscaya kita akan termasuk ke dalam firman Allah:

“Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebahagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” (Yunus, 12: 59) (Lihat: Majmu’ Fatawa, oleh Ibnu Taimiyyah 29/17).

Apabila Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menegur kesalahan al-Bara’ bin ‘Azib mengucapkan satu kata dalam zikir yang beliau ajarkan, maka bagaimana halnya seandainya yang dilakukan oleh Bara’ bin ‘Azib ialah zikir hasil ciptaannya sendiri?

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani asy-Syafi’i, berkata:

“Pendapat yang paling tepat tentang hikmahnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan ucapan orang yang mengatakan “Rasul” sebagai ganti kata “Nabi” adalah: Bahawa bacaan-bacaan zikir adalah bersifat tauqifiyyah (harus ada tuntunannya), dan bacaan-bacaan zikir itu memiliki keistimewaan dan rahsia-rahsia yang tidak dapat diketahui dengan cara qiyas, sehingga wajib kita memelihara lafaz (zikir) sebagaimana diriwayatkan.” (Lihat: Fathul Bari oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 11/112).

Maksud & Pengertian Zikir

Zikir berasal dari kalimat ذكر، يذكر، ذكرا yang membawa maksud mengingat sesuatu atau menyebutnya selepas terlupa atau berdoa kepada Allah. Zikir juga membawa maksud mengingat sesuatu atau menghafaz sesuatu. Juga dapat dimaksudkan dengan sesuatu yang disebut dengan lidah atau suatu yang baik. (Rujuk al-Qamus oleh Fairuz Abadi, Lisanul Arab, dan Mu’jam al-Wasit)

Menurut Imam an-Nawawi, “Berzikir adalah suatu amalan yang disyari’atkan dan sangat dituntut di dalam Islam. Ia boleh dilakukan dengan hati atau lidah. Afdhalnya dengan kedua-duanya sekali”. (Rujuk: al-Adzkar, m/s. 23)

Zikir juga bermaksud solat, membaca al-Qur’an, bertasbih, berdoa, bersyukur, dan taat. (Rujuk: Lisanul Arab)

Zikir menurut syari’at ialah setiap ucapan yang dilakukan bagi tujuan memuji dan berdoa. Iaitu lafaz yang digunakan untuk beribadah kepada Allah, berkaitan dengan pengangungan terhadap-Nya dengan menyebut nama-nama atau sifat-sifat-Nya, memuliakan dan mentauhidkan-Nya, bersyukur dan mengangungkan Zat-Nya, membaca kitab-Nya, dan berdoa kepada-Nya. (Rujuk: al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, jil. 21, m/s. 220)

Imam an-Nawawi di dalam kitabnya, “Ketahuilah bahawa sesungguhnya zikir tidak hanya tasbih, tahlil, dan takbir, bahkan zikir ialah setiap amalan ketaatan yang dilakukan kerana Allah”. (Rujuk al-Adzkar, m/s. 7)

Menurut al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “Zikrullah juga bermaksud berterusan melakukan perkara yang wajib atau yang sunat seperti membaca al-Qur’an, membaca hadis, dan mengikuti majlis-majlis ilmu. Seperti yang dinyatakan di dalam Kitab Nuzhatu al-Muttaqin; Zikir meliputi solat, membaca al-Qur’an, berdoa untuk kebaikan di dunia dan akhirat serta menuntut ilmu.” (Fathul Bari, 11/250)

Perintah, Galakkan, Dan Saranan Berzikir

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (menyebutlah nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Surah al-Ahzab, 33: 41-42)

Ayat ke-42 ini mengisyaratkan bahawa berzikir kepada Allah subhanahu wa Ta’ala boleh dilakukan dalam apa jua waktu.

“(iaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran, 3: 191)

Ayat ini dengan jelas menyebutkan bahawa berzikir kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dapat dilakukan dalam segala situasi dan kadaan, sama ada di ketika berdiri, atau duduk, atau ketika sedang berbaring.

Ganjaran Bagi Mereka Yang Berzikir

Allah subhanahu wa Ta’ala amat menyukai golongan yang sentiasa berzikir dan mengingati-Nya. Pelbagai ganjaran dan kedudukan tertentu akan diberikan kepada individu yang sentiasa menjaga dan melaksanakan zikir dengan sebaik-baiknya. Sebahagiannya, dapat kita lihat melalui beberapa dalil sebagaimana berikut,

Allah Menyediakan Ampunan Dan Pahala;

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzaab, 33: 35)

Dimasukkan Ke Dalam Golongan Ahli Zikr;

“Dari Abi Sa’id dan Abi Hurairah radhiallahu ‘anhuma (r.a.) bahawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Bila seorang suami membangunkan isterinya pada malam hari, kemudian keduanya solat dua raka’at, niscaya keduanya dicatat termasuk laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (Riwayat Abu Dawud, 2/33, hadis no: 1309, Ibnu Majah 1/423, hadis no:1335, dan Al Hakim 2/452, hadis no: 3561)

Allah Sentiasa Mengingati Mereka Yang Berzikir;

“Kerana itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (al-Baqarah, 2: 152)

Menurut Sheikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di dalam menafsirkan ayat tersebut (Rujuk: Tafsir as-Sa’di), “Zikir kepada Allah subhanahu wa Ta’ala yang paling istimewa adalah zikir yang dilakukan dengan hati dan lisan iaitu zikir yang menumbuhkan ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada-Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dari-Nya. Zikir adalah puncaknya rasa syukur, oleh kerana itu Allah memerintahkan hal tersebut secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur secara umum seraya berfirman, (maksudnya) “Dan bersyukurlah kepada-Ku”, maksudnya, terhadap apa yang telah Aku nikmatkan kepada kalian dengan nikmat-nikmat tersebut dan Aku jauhkan dari kalian pelbagai jenis kesulitan. Syukur itu dilakukan dengan hati berbentuk pengakuan atas kenikmatan yang diperolehinya, dengan lisan berbentuk zikir dan pujian, dan dengan anggota tubuh berbentuk ketaatan Allah serta kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.”

Hati Orang Yang Berzikir Dikurniakan Ketenangan;

“(Iaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (ar-Ra’d, 13: 28-29)

Diberi Kejayaan Dan Keberuntungan;

“Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu berjaya.” (al-Anfal, 8: 45)

Melindungi Diri Dari Gangguan Syaitan;

Banyak sekali zikir-zikir dan doa dari hadis-hadis mahupun al-Qur’an yang menjadi panduan buat kita untuk menjauhkan diri dari gangguan syaitan dalam keadaan dan waktu-waktu tertentu. Sebagimana contohnya adalah ayat al-Qursi dan doa-doa yang lain.

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (az-Zukhruf, 43: 36)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan azd-Dzikr (al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr, 15: 9)

Zikir Menghapuskan Dosa;

Rasulullah shollahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari azab Allah iaitu dengan Zikrullah.” (Rujuk: Shahihul Jami’, no. 5644, oleh al-Albani)

Berzikir Dengan Perlahan Dan Merendah Diri Adalah Sunnah

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan berzikirlah (sebutlah) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan senja, dan janganlah kamu menjadi orang yang lalai.” (al-A’araf, 7: 205)

Imam al-Qurthubi al-Maliki ketika menafsirkan ayat ini berkata:

“وَدُونَ الْجَهْر - Dunal Jahri - (tidak mengeraskan suara) maksudnya ialah: tidak meninggikan suara, iaitu cukup dengan memperdengarkan diri sendiri, sebagaimana firman Allah: ‘dan carilah jalan tengah di antara keduanya itu.’ Maksudnya: antara mengeraskan suara dan merendahkannya. Dan ayat ini menunjukkan bahawa meninggikan suara ketika berzikir adalah terlarang.” (al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, oleh al-Qurthubi al-Maliki, 7/355)

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan berkata:

“Maksudnya: berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rasa harap dan takut, dan dengan suaramu (lisanmu) tanpa mengeraskannya, oleh kerana itu Allah berfirman:

“dan dengan tidak mengeraskan suara”, dan demikianlah yang disunnahkan, hendaknya zikir itu (dengan suara) tidak seperti suara memanggil, dan suara yang terlalu keras, oleh kerana itu tatkala para sahabat bertanya kepada rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berkata: Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kita bermunajat (berdo’a dengan berbisik-bisik) kepada-Nya ataukah jauh sehingga kita memanggilnya? Maka Allah turunkan firman-Nya:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku itu dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang memohon, bila ia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah, 2: 186). (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, oleh Ibnu Katsir 2/281). Inilah keterangan Ibnu Katsir secara lengkap, dan pada penjelasanya ini, beliau menyebutkan tiga bentuk suara: suara yang tidak keras dan sewajarnya, yang beliau ungkapkan dengan بالقول لا جهرا, panggilan/seruan نداء dan suara yang terlalu keras بليغا جهرا, dan suara yang tidak sampai pada tingkat panggilan dan juga tidak terlalu keras, inilah yang dimaksudkan dalam hadis-hadis dan ucapan para ulama’ yang menjelaskan dibolehkannya mengeraskan suara, bukan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat masa ini dengan mengadakan kumpulan-kumpulan zikir berjema’ah yang diketuai oleh seorang tekong dengan menggunakan pembesar suara.

Di antara dalil-dalil yang menguatkan pendirian dan prinsip ini adalah hadis riwayat Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, ia menuturkan:

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar rumah menuju ke suatu halaqah (perkumpulan) sebahagian sahabatnya, kemudian beliau bersabda: Apakah yang membuat kalian duduk-duduk? Mereka-pun menjawab: Kami berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah beragama Islam yang telah Ia karuniakan kepada kami. Beliau bersabda: Demi Allah, benarkah kalian tidak duduk-duduk melainkan kerana itu? Mereka menjawab: Demi Allah, tidaklah kami duduk-duduk melainkan kerana itu. Beliau bersabda: Ketahuilah, sesungguhnya aku tidaklah bersumpah kerana mencurigai kalian, akan tetapi Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengkhabarkan bahawa Allah Azza wa Jalla membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat.” (Riwayat Muslim 4/2075, hadis no: 2701)

Seandainya para sahabat yang duduk-duduk berjamaah ini berdizikir dengan diketuai oleh seorang tekong, dengan satu suara (jama’i), dan satu bacaan, dan dengan mengeraskan (menguatkan) suara, niscaya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan. Hal ini (sebagaimana dikatahui bersama) kerana rumah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam melekat dengan dinding masjidnya, sehingga bila zikir mereka bercirikan zikir yang dikuatkan/dilagukan dengan suara yang tinggi, sudah tentulah akan terdengar oleh beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau tidak perlu lagi bertanya tentang apa yang mereka lakukan.

Juga sama-sama kita renungkan pertanyaan para sahabat kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kita bermunajat (berdo’a dengan berbisik-bisik) kepada-Nya ataukah jauh sehingga kita memanggilnya?”

Bila perbezaan antara ketiga-tiga jenis suara ini telah jelas, maka mari kita renungkan hadis berikut:

“Dari Abi Musa rodiallahu ‘anhu ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah dalam suatu perjalanan, kemudian orang-orang mengeraskan suara takbir mereka, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai para manusia, kasihanilah dirimu dan rendahkanlah suaramu! sesungguhnya kamu tidak sedang menyeru Zat yang tuli dan tidak juga jauh. Sesungguhnya kamu sedang menyeru Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.” (Riwayat al-Bukhori, 3/1091, hadis no: 2830. Dan Muslim, 4/2076, hadis no: 2704)

Imam an-Nawawi menjelaskan maksud hadis ini dengan berkata:

“Kasihanilah dirimu, dan rendahkanlah suaramu, kerana mengeraskan suara, biasanya dilakukan seseorang, kerana orang yang ia ajak berbicara berada di tempat yang jauh, agar ia mendengar ucapannya. Sedangkan kamu sedang menyeru Allah Ta’ala, dan Dia tidaklah tuli dan tidak juga jauh, akan tetapi Dia Maha Mendengar dan Maha Dekat …Sehingga dalam hadis ini ada anjuran untuk merendahkan suara zikir, selama tidak ada keperluan untuk mengerasakannya, kerana dengan merendahkan suara itu lebih menunjukkan akan penghormatan dan pengagungan. Dan bila ada kepentingan untuk mengeraskan suara, maka boleh untuk dikeraskan, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadis.” (Syarah Shahih Muslim, oleh Imam an-Nawawi 17/26).

Dari keterangan Imam an-Nawawi ini kita dapat menyimpulkan bahawa pada dasarnya setiap orang yang berzikir itu adalah dengan merendahkan suaranya, kecuali bila ada alasan untuk mengeraskannya, sebagai contoh misalnya apabila seorang imam yang hendak mengajari dan menunjukkan makmumnya wirid-wirid dan zikir-zikir yang dahulu diucapkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam asy-Syafi’ rahimahullah. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Ibnu Abbas rodiallahu’anhu di ketika dia menjadi imam dalam solat janazah dan hendak mengajarkan kepada makmumnya bahawa disunnahkan membaca al-fatihah dalam solat janazah:

“Dari Thalhah bin Abdillah bin ‘Auf ia berkata: Aku pernah mensolati jenazah di belakang (berjamaah dengan) Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, maka beliau membaca surat al-Fatihah (dengan suara keras), kemudian beliau berkata: Agar mereka mengetahui bahawa ini (membaca al-fatihah dalam solat jenazah) adalah sunnah).” (Riwayat Bukhori, 1/448, hadis no: 1270)

Adapun hadis Ibnu Abbas rodiallahu’anhu:

“Bahawa mengeraskan suara ketika berzikir sebaik sahaja orang-orang mendirikan solat fardhu selesai, biasa dilakukan pada zaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan Ibnu Abbas berkata: Dahulu aku mengetahui bahawa mereka telah selesai dari solatnya, bila aku telah mendengarnya (suara zikir).” (Riwayat Bukhori, 1/288, hadis no: 805. Dan Muslim 1/410, hadis no: 583)

Berikut ini adalah perkataan Imam asy-Syafi’i rahimahullah Ta’ala dalam menafsirkan hadis tersebut, “Bahawa beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya dalam beberapa waktu sahaja, ini adalah bagi tujuan mengajari (menunjukkan) sahabatnya cara berzikir, bukanlah bererti mereka (Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya) sentiasa mengeraskan suaranya. Beliau (asy-Syafi’i) berkata: ‘Saya berpendapat bahawa seorang imam dan makmumnya hendaknya mereka berzikir kepada Allah, sebaik sahaja selesai menunaikan solatnya, dan seharusnya mereka merendahkan suara zikirnya, kecuali bagi seorang imam yang ingin agar para makmumnya belajar (zikir) darinya, maka ia boleh mengeraskan zikirnya, hingga bila ia sudah merasa bahawa mereka telah cukup belajar (memahami zikirnya), ia kembali merendahkannya.’” (Syarah Shahih Muslim oleh an-Nawawi 5/84. Dan Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 2/326. Rujuk juga kitab al-Umm oleh asy-Syafi’i, 1/126-127)

Kesimpulan Imam asy-Syafi’i ini didukung oleh beberapa hal berikut ini:

“Diriwayatkan dari Qais bin ‘Abbad ia berkata: Dahulu para sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai untuk mengeraskan suara pada tiga keadaan, iaitu: di saat berperang, menghadiri janazah, dan pada saat berzikir.“ (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, 6/143, no: 30174, Al Baihaqi 4/74, dan Al Khathib Al Baghdadi dalam kitabnya Tarikh baghdad 8/91)

Imam an-Nawawi dalam kitabnya, at-Tahqiq berkata:

“Disunnahkan untuk berzikir dan berdo’a setiap kali selesai solat (lima waktu) dan hendaknya ia merendahkan suaranya. Bila ia seorang imam dan hendak mengajarkan makmumnya (bacaan zikir) maka ia boleh untuk mengeraskan suaranya, kemudian bila mereka telah cukup belajar (apabila makmumnya telah memahami zikirnya), ia kembali merendahkannya (suaranya).” (at-Tahqiq oleh an-Nawawi: 219).

Ucapan beliau pada kitab ini, menjelaskan maksud dari ucapan beliau pada kitab-kitabnya yang lain, hal ini kerana kitab at-Tahqiq adalah antara salah satu buku yang paling akhir yang beliau tuliskan, sehingga pendapat beliau dalam buku ini harus didahulukan berbanding pendapat beliau pada buku-buku yang lainnya, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan kitabnya Syarah Shahih Muslim. (Rujuk: Muqaddimah kitab at-Tahqiq oleh Syeikh ‘Adil Abdul Maujud).

Maka dengan penjelasan ini juga menunjukkan bahawa amalan kebanyakan masyarakat pada hari ini yang menguatkan dan meninggikan suara di kala ketika berzikir adalah suatu kesilapan, kesalahan dan perbuatan yang menyalahi petunjuk as-Sunnah dan wahyu. Serta menyelisihi kalam dan pendirian para imam yang terawal.

Sebagai kesimpulan, kaedah yang benar adalah melaksanakan zikir dengan suara yang perlahan, cukup untuk kita sendiri yang memahami dan mendengarnya. Tidak perlu dikeraskan suara, apatah lagi dilagukan zikirnya dengan nada dan irama-irama yang tertentu.

Bantahan Terhadap Amalan Bolehnya Zikir Berjama’ah

Sebahagian besar daripada kelompok umat Islam hari ini di sekitar kita telah sebati dan menganggap bahawa amalan zikir secara berjema’ah dan dengan suara yang dinyaringkan adalah sebahagian daripada sunnah yang memiliki tuntunan (panduan) dari syari’at.

Oleh itu, sebahagian daripada susunan artikel ini telah dikhaskan untuk memberi pencerahan semula terhadap amalan tersebut dan sekaligus membantah keras terhadap corak dan bentuk amalan tersebut berdasarkan dalil-dalil yang akurat berserta kalam para ulama generasi awal.

Dalil-Dalil Yang Disangka Menjadi Sandaran Zikir Berjema’ah;

“Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri rodhiallahu ‘anhuma, mereka berdua bersaksi bahawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah suatu kaum duduk-duduk menyebut nama Allah Azza wa Jalla (berzikir), melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat, dan dipenuhi oleh kerahmatan, dan akan turun kepada mereka kedamaian, dan mereka akan disebut-sebut oleh Allah dihadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (Riwayat Imam Muslim 4/2074, hadis no: 2700)

Dan hadis:

“Dari sahabat, Abu Hurairah rodhiallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku sentiasa bersamanya bila ia mengingati-Ku. Bila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, niscaya Aku akan mengingatnya dalam Diri-Ku, dan bila ia mengingati-Ku di perkumpulan orang (majlis), maka Aku akan mengingatnya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka.” (Riwayat Bukhori 6/2694, hadis no: 2700, dan Muslim 4/2061, hadis no: 6970)

Dua hadis ini adalah antara dua hadis yang paling utama dan sahih dan seringkali digunakan oleh kebanyakan mereka untuk membolehkan dan menunjukkan sunnahnya amalan zikir berjema’ah. Sekaligus, intipati hadis ini juga mewakili hadis-hadis yang lain yang seringkali digunakan oleh kelompok yang berkeras menyatakan zikir secara berjema’ah itu adalah sunnah.

Untuk mengetahui maksud dan makna hadis-hadis ini, mari kita semak semula secara bersama akan keterangan para ulama’ tentang maksud dari kata majlis zikir:

“Abu Hazzan: Aku pernah mendengar Atha’ bin Abi Rabah (salah seorang tabi’in) berkata: ‘Barang siapa yang duduk di dalam majlis zikir, maka Allah akan mengampuni dengannya sepuluh majlis kebathilan. Dan bila majlis zikir itu ia lakukan di saat berjihad di jalan Allah, niscaya Allah akan mengampuni denganya tujuh ratus (700) majlis kebathilan.’ Abu Hazzan berkata: Aku bertanya kepada Atha’: Apakah yang dimaksud dengan majlis Zikir? Ia menjawab: iaitu majlis (yang membahas) halal dan haram, sebagaimana engkau menunaikan solat, sebagaimana engkau berpuasa, sebagaimana engkau menikah, sebagaimana engkau menceraikan, sebagaimana engkau menjual dan sebagaimana engkau membeli.” (Riwayat Abu Nu’aim, dalam kitabnya Hilyah al-Auliya’: 3/313)

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i, berkata:

“Ketahuilah bahawa keutamaan/pahala berzikir tidak hanya terbatas pada bertasbih, bertahlil, bertahmid (membaca alhamdulillah), bertakbir, dan yang serupa. Akan tetapi setiap orang yang mengamalkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, bererti dia telah berzikir kepada Allah Ta’ala, demikianlah dikatakan oleh Sa’id bin Jubair dan ulama’ yang lainnya. Atha’ (bin Abi Rabah) berkata: ‘Majlis-majlis zikir ialah majlis-majlis yang membicarakan halal dan haram, sbagaimana engkau membeli dan menjual, mendirikan solat, berpuasa, menikah, menceraikan, berhaji dan yang serupa dengan ini‘.” (al-Azkar, oleh Imam an-Nawawi, 9).

Pakar hadis dan fiqih abad ke-9H, iaitu Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata:

(Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 11/209, baca juga Subul al-Salam, oleh Muhammad bin Ismail al-Shan’ani, 4/390-dst, Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ at-Tirmizi, oleh al-Mubarakfuri, 9/222).

“Dan yang dimaksud dengan zikir di sini ialah: mengucapkan bacaan-bacaan yang dianjurkan untuk diucapkan dan diulang-ulang, misalnya bacaan yang disebut dengan al-Baqiyaat as-Shalihat, iaitu: Subhanallah, wa alhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wa Allahu Akbar, dan bacaan-bacaan lain yang serupa dengannya, iaitu: al-hauqalah (laa haula walaa quwwata illa billah), Basmalah, hasbalah (hasbunaallah wa ni’ima al-wakil), dan istighfar, dan yang serupa, dan juga doa memohon kebaikan di dunia dan akhirat. Kata az-Zikir kepada Allah bila disebut juga dapat dimaksudkan: kita terus-menerus mengamalkan amalan-amalan yang diwajibkan atau disunnahkan oleh Allah, seperti membaca al-Qur’an, membaca hadis, mempelajari ilmu, dan menunaikan solat sunnah. Kemudiannya zikir kadang kala dapat dilakukan dengan lisan, dan orang yang mengucapkannya akan mendapatkan pahala, dan tidak disyaratkan untuk selalu mengingat kandungannya, tentunya dengan ketentuan selama ia tidak memaksudkan dengan bacaan itu selain dari kandungannya.(*) Bila bacaan lisannya disertai dengan zikir dalam hatinya, maka itu lebih sempurna, dan bila zikir ini disertai dengan penghayatan terhadap kandungan bacaan itu, yang berupa pengagungan terhadap Allah, dan mensucikan-Nya dari segala kekurangan, niscaya itu akan lebih sempurna. Bila zikir semacam ini terjadi di saat ia mengamalkan amal sholeh yang diwajibkan, seperti solat fardhu, jihad dan lainnya, niscaya akan semakin sempurna. Dan bila ia meluruskan tujuan dan ikhlas kerana Allah, maka itu adalah puncak kesempurnaan.

(*) Misalnya: ketika ia membaca zikir Subhanallah yang ertinya “Maha Suci Allah”, akan tetapi ia memaksudkan dari bacaan ini: ia memohon perlindungan agar terhindar dari penyakit atau yang serupa.

Al-Fakhrurrazi berkata: Yang dimaksudkan zikir dengan lisan ialah mengucapkan bacaan-bacaan yang mengandungi makna tasbih (pensucian), tahmid (pujian), dan tamhid (pengagungan). Dan yang dimaksud zikir dengan hati ialah: memikirkan dalil-dalil yang menunjukkan akan Zat dan Sifat-sifat Allah, juga memikirkan dalil-dalil taklif (syari’at), yang merupakan perintah, dan larangan, sehingga ia dapat mengerti hukum-hukum taklifi (hukum-hukum syari’at yang lima, iaitu: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), dan juga merenungkan rahsia-rahsia yang tersimpan pada makhluq-makhluq Allah. Sedangkan yang dimaksudkan dengan zikir dengan anggota badan ialah: menjadikan anggota badan sibuk dengan amaliah ketaatan, oleh kerana itulah Allah menamakan solat dengan sebutan zikir, Allah berfirman: “Maka bersegeralah kamu menuju zikir kepada Allah (iaitu solat jum’at).” (al-Jum’ah, 62: 9)

Pengertian tentang makna zikir yang disampaikan oleh seorang tabi’in murid para sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan dijabarkan Ibnu Hajar ini, selaras dengan hadis berikut:

“Dari sahabat Abu Hurairah rodhiallahu’anhu ia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah suatu kaum (sekelompok orang) duduk di salah satu rumah Allah (iaitu masjid), mereka membaca kitabullah (al-Qur’an) dan bersama-sama mengkajinya (mempelajarinya), melainkan akan turun kepada mereka kedamaian, dan mereka dipenuhi oleh kerahmatan, dan dinaungi oleh para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.” (Riwayat Muslim)

Tatkala Imam an-Nawawi mensyarah hadis ini, beliau berkata: “Dan (InsyaAllah) keutamaan ini juga diperoleh bagi orang-orang yang berkumpul di sekolah-sekolah, pusat-pusat pengajian dan yang serupa dengan keduanya, sebagaimana halnya berkumpul di masjid.” (Syarah Shahih Muslim, oleh an-Nawawi, 17/22).

Inilah yang dimaksud dengan kata ‘zikir’ yang disebutkan dalam hadis-hadis yang tersebut. Dengan demikian, hadis-hadis ini adalah bersifat umum, mencakupi segala amaliah ketaatan, sama ada berupa ucapan lisan, atau amalan batin, atau amalan anggota badan.

Berdasarkan penjelasan yang telah kita perhatikan, dalil-dalil hadis yang menunjukkan majlis zikir itu adalah bersifat umum dan sama sekali tidak menunjukkan bahawa ia merupakan pemberi incator (penunjuk) akan pensyari’atan ritual zikir secara berjema’ah seperti mana yang difahami oleh beberapa kelompok umat Islam zaman ini yang melakukan ritual zikir berjema’ah (beramai-ramai) dengan bacaan tahmid, tahlil, takbir, dan seumpamanya sama ada setelah selesai solat (kebiasaannya) atau selain dari waktu itu.

Agar lebih jelas lagi, mari kita semak penuturan sahabat Anas bin Malik berikut ini:

“Dari Muhammad bin Abu Bakar ats-Tsaqafi, bahawa ia pernah bertanya kepada sahabat Anas bin Malik rodhiallahu’anhu tatkala ia bersamanya berjalan dari Mina menuju ke padang Arafah: Bagaimanakah dahulu kalian berbuat bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pada hari seperti ini? Maka beliau menjawab: Dahulu ada dari kami yang membaca tahlil, dan tidak diingkari, dan ada dari kami yang membaca takbir, juga tidak diingkari.” (Riwayat Muslim 2/933, hadis no: 1285)

Inilah salah satu contoh nyata kaedah berzikir yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, masing-masing berzikir dengan sendiri-sendiri, tidak dengan diketuai bertekongkan oleh satu orang imam, kemudian yang lainnya mengikuti secara berjema’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Islam zaman ini.

Kisah yang dituturkan oleh sahabat Anas bin Malik tentang metode berzikir yang dilakukan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya inilah yang dimaksudkan oleh sahabat Ibnu Mas’ud dalam ucapannya, tatkala melihat sekumpulan orang berzikir secara berjama’ah:

“Sungguh demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya kalian ini sedang menjalankan ajaran (dalam berzikir) yang lebih benar berbanding ajaran Nabi Muhammad, atau sedang membuka pintu kesesatan?” (Riwayat ad-Darimi, dalam kitab as-Sunnan, 1/79, hadis no: 204, riwayat ini hasan atau shahih lighairihi, kerana diriwayatkan melalui beberapa jalur)

Maksud beliau rodhiallahu’anhu ialah: Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bila berzikir, tidaklah dengan cara diketuai oleh satu orang (jama’i), dengan satu suara dan bacaan yang sama, akan tetapi masing-masing berzikir dengan sendiri-sendiri (masing-masing) dan secara perlahan (merendahkan suara). Ini juga dapat dilihat apabila kata kalimat “zikir” itu sendiri ditafsirkan sebagaimana yang dipaparkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sehingga mencakupi majlis-majlis ilmu. Dan sebagai bukti akan penjelasan Ibnu Hajar diatas, dipaparakan beberapa kisah berikut:

“Sahabat Uqbah bin ‘Amr berkata kepada sahabat Huzaifah: Sudikah engkau membacakan apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Huzaifah berkata: Aku pernah mendengar beliau bersabda: Sesungguhnya tatkala Dajjal keluar kelak, ia akan membawa air dan api. Adapun yang ditunjukkan kepada orang-orang bahawa itu adalah api, maka itu sebenarnya adalah air yang dingin, sedangkan yang ditunjukkan kepada orang-orang bahawa itu adalah air, maka itu sebenarnya adalah api yang membakar. Sehingga barang siapa yang menemuinya, maka hendaklah ia memilih untuk memasuki kepada yang ia tunjukkan sebagai api, kerana sesungguhnya itu adalah air yang dingin …… (setelah Huzaifah selesai membacakan hadis-hadis yang pernah ia dengar dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam) Uqbah bin ‘Amr rodhiallahu ‘anhu berkata: Aku juga pernah mendengarkan beliau bersabda demikian itu.”(Riwayat Bukhori, 3/1272, hadis no: 3266)

Pada kisah ini sahabat Uqbah bin ‘Amr meminta sahabat Huzaifah untuk menyebutkan hadis-hadis yang pernah ia dengar dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan setelah selesai sahabat Uqbah ternyata pernah mendengar semua hadis yang sahabat Huzaifah bacakan. Ini salah satu bukti bahawa mereka bila bertemu saling mengingatkan tentang ilmu yang dimiliki oleh masing-masing mereka, bukan dengan cara membaca zikir yang ditekongkan oleh satu orang, kemudian ditirukan oleh yang lainnya (mengadakan ritual zikir berjema’ah).

Contoh lain:

“Dari Syaqiq (bin Salamah) ia berkata: Suatu ketika sahabat Abdullah (bin Mas’ud) dan Abu Musa duduk bersama, dan keduanya saling mengingat-ingat hadis-hadis Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Abu Musa berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sebelum datangnya kiamat, akan ada hari-hari yang pada saat itu ilmu akan diangkat, dan diturunkan kebodohan (kebodohan berleluasa), dan akan banyak terjadi al-haraj,’ dan al-haraj ialah pembunuhan.” (Riwayat Bukhori, 6/2590, hadis no: 6653. Muslim 4/2056, hadis no: 2672. Dan Ahmad dalam kitab al-Musnad, 4/392)

Contoh lain:

“Abu Salamah bin Abdirrahman berkata: Dahulu sahabat Umar bin al-Khatthab berkata kepada sahabat Abu Musa di ketika ia duduk di majlis: Wahai Abu Musa, ingatkanlah kita tentang Tuhan kita! Maka Abu Musa pun sambil duduk di majlis membaca (al-Qur’an), dan beliau memerdukan suaranya.” (Riwayat ad-Darimi, 2/564, no: 3493. Ibnu Hibban, 16/168, no: 7196. Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, 2/486, no:4179. Dan Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliya’, 1/258)

Inilah majlis zikir yang dilakukan oleh para sahabat dan ulama’ terdahulu. Bahkan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:

“Dari Abi Utsman (an-Nahdi) ia berkata: Salah seorang gabernur pada zaman khalifah Umar bin al-Khatthab menuliskan laporan yang isinya: Sesungguhnya di wilayah saya, ada suatu kelompok orang yang berkumpul-kumpul kemudian berdoa bersama-sama untuk kaum muslimin dan pemimpin. Maka Umar menulis surat kepadanya: Datanglah dan bawa mereka besertamu. Maka garbernur itu datang, (dan sebelum ia datang) Umar telah memerintahkan penjaga pintunya untuk menyiapkan sebuah cambuk (pemukul). Dan tatkala mereka telah masuk ke ruangan, spontan Umar langsung memukul pemimpin kelompok itu dengan cambuk.” (Riwayat Ibnu Abi Syibah dalam kitabnya al-Mushannaf, 5/290, no: 26191)

“Dari sahabat Abu Hurairah rodhiallahu’anhu, ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku sentiasa bersamanya bila ia mengingati-Ku. Bila ia mengingati-Ku di dalam dirinya, niscaya Aku akan mengingatinya dalam Diri-Ku, dan bila ia mengingati-Ku di perkumpulan orang (majlis), maka Aku akan mengingatnya di perkumpulan yang lebih baik dari mereka.” (Riwayat Bukhori, 6/2694, hadis no: 2700. Dan Muslim, 4/2061, hadis no: 6970).

Daripada hadis tersebut, seandainya yang dimaksudkan dari hadis ini ialah ia berzikir dengan cara berjama’ah, saya rasa firman-Nya tidak seperti itu bunyinya, tetapi akan seperti berikut: “Bila ia mengingat-Ku dengan berjama’ah/ramai-ramai”.

Adapun ayat 28 dari surat al-Kahfi, iaitu:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru (berdoa) kepada Tuhannya di waktu pagi dan senja, mengharapkan Wajah Allah (keredhaan-Nya)”, maka untuk memahami maksud ayat ini dengan jelas, mari kita semak bersama keterangan Imamul mufassirin, iaitu Ibnu Jarir at-Thabari:

“Allah Ta’ala berfirman kepada Nabinya Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam: Bersabarlah engkau wahai Muhammad, bersama sahabat-sahabatmu yang menyeru Tuhannya (berzikir/doa), di waktu pagi dan senja, iaitu dengan mengingat-Nya dengan ucapan tasbih, tahmid, tahlil, doa, dan amal-amal sholeh lainnya, seperti: solat-solat fardhu dan lainnya. Mereka mengharapkan dengan perbuatan itu Wajah-Nya (keredhaan-Nya) dan tidak mengharapkan kepentingan dunia apapun.” (Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Aay al-Qur’an, oleh Ibnu Jarir at-Thabari, 15/234)

Dan pada kesempatan lain, beliau berkata: “Berdoa (menyeru) kepada Allah, boleh secara mengagungkan dan memuji Allah dalam bentuk ucapan dan perkataan. Dan doa juga dapat dizahirkan melalui ibadah kepada-Nya dengan anggota badan, sama ada itu ibadah yang diwajibkan ke atas mereka atau lainnya yang merupakan amalan sunnah yang menjadikan-Nya redha, dan pelakunya dikatakan telah beribadah kepada-Nya dengan amalan itu. Dan sangat dimungkinkan bahawa mereka (orang-orang yang dikatakan menyeru kepada Allah pada waktu pagi dan senja) melakukan semua jenis ibadah ini, sehingga Allah mensifatkan mereka dengan sebutan: orang-orang yang menyeru Allah pada waktu pagi dan senja, kerana Allah telah menyebut al-Ibadah dengan sebutan doa, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka Jahnnam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir/al-Mukmin, 40: 60)

Inilah maksud dari kata doa dalam ayat 28 surah al-Kahfi, dengan demikian bila kita gabungkan pemahaman ini dengan pemahaman kata zikir, niscaya akan menjadi jelas bahawa tidak sedikit pun ada dalil atau isyarat yang menunjukkan akan disyari’atkannya zikir berjamaah ayat 28 dari surah al-Kahfi ini.

Apalagi bila kita menggabungkan pemahaman ini dengan pemahaman terhadap hadis berikut:

“Dari Abi Sa’id ia berkata: Suatu ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam beri’itikaf di masjid. Beliau mendengar orang-orang saling mengeraskan suara bacaan mereka, maka beliau membuka tabir dan bersabda: Ketahuilah bahawa kalian semua sedang bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah sebahagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan janganlah kalian saling mengeraskan dalam bacaan kalian, atau beliau bersabda: (Janganlah saling mengeraskan) dalam solat kalian.” (Riwayat Abu Dawud, 2/57, hadis no: 1332)

Fatwa Para Ulama’ Dalam Persoalan Zikir Berjama’ah

1. Imam asy-Syafi’i berkata:

“Saya berpendapat bahawa seorang imam dan makmumnya hendaknya mereka berzikir kepada Allah sebaik selesai solat, dan hendaklah mereka merendahkan (memperlahankan) zikirnya, kecuali bagi seorang imam yang ingin agar para makmumnya belajar (zikir) darinya, maka ia boleh mengeraskan zikirnya, hingga bila ia merasa bahawa mereka telah cukup belajar (telah memahami), ia kembali merendahkannya, kerana Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya.’ (al-Isra’: 110). Maksud kata الصلاة (wallahu Ta’ala a’alam) ialah: doa. Laa Tajhar: Jangan engkau mengangkat suaramu, wa laa tukhofit: Jangan engkau rendahkan hingga engkau sendiri tidak mendengarnya.“ (al-Umm, oleh Imam asy-Syafi’i, 1/127).

2. Imam Yahya bin Abil Khair al-‘Imrani asy-Syafi’i, setelah menyebutkan pelbagai riwayat tentang zikir-zikir Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyimpulkan:

“Riwayat perawi yang meriwayatkan bahawa beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dan mengeraskan suaranya, ditafsiri bahawa beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu agar para sahabatnya belajar dari beliau. Dan riwayat perawi yang menyebutkan bahawa beliau (setelah selesai solat) diam sejenak kemudian berdiri dan pergi, ditafsiri bahawa beliau berdoa dengan merendahkan suaranya, sehingga beliau hanya memperdengarkan untuk dirinya sendiri.” (al-Bayan, oleh Yahya bin Abil Khair al-‘Imrani, 2/250).

3. Imam an-Nawawi berkata:

“Ulama’ mazhab Syafi’i (ashhabunaa), berkata: Zikir dan doa setelah solat, disunnahkan untuk dilakukan dengan merendahkan suara, kecuali bila ia seorang imam dan hendak mengajari orang-orang (makmum), maka dibolehkan untuk mengeraskan suaranya, agar mereka belajar darinya, dan bila dirasa mereka telah cukup belajar dan sudah tahu, maka hendaklah ia kembali merendahkannya.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, oleh Imam an-Nawawi, 3/469)

Dari kedua penjelasan ini jelaslah bahawa zikir itu dilakukan sendiri-sendiri, sehingga yang sunnah ialah dengan cara merendahkan suara, kecuali bila si imam merasa bahawa jama’ahnya belum boleh berzikir, maka ia dianjurkan untuk mengajari mereka dengan cara mengeraskan suaranya. Dan bila dirasa mereka telah cukup belajar, ia kembali merendahkan suaranya. Ini menunjukkan dengan jelas bahawa berzikir dengan satu suara dan ditekongkan oleh seorang ketua/imam, sama ada itu seorang imam solat atau selainnya maka ia tetap tidak sesuai dengan sunnah.

Zikir Secara Jama’i Adalah Bid’ah

Imam Ibnu Katsir telah menceritakan bahawa, “Khalifah Makmun telah menulis kepada Ishak bin Ibrahim yang merupakan Timbalan Gabenur Baghdad pada ketika itu supaya mengarahkan orang ramai bertakbir dengan suara yang lantang setiap sebaik sahaja selesai solat fardhu... Dialah orang pertama yang memulakan perkara tersebut di Masjid Jamek Baghdad dan al-Rashafah. Selepas selesai solat, mereka akan bangun dan bertakbir tiga kali.” Menurut Ibnu Katsir yang seterusnya, “Inilah bid’ah yang direka cipta oleh Makmun tanpa ada sebarang sanad atau dalil yang sahih, ianya tidak pernah dilakukan oleh sesiapapun sebelumnya.” (Rujuk: al-Bidayah wan Nihayah, jil. 10, m/s. 194-195)

Amalan berzikir secara berjama’ah ini juga berkembang pada zaman Makmun disebabkan emunculnya golongan-golongan Sufi dan Rafidhah iaitu golongan Syi’ah yang melampau. (Rujuk: al-Ahwa’ wa al-Firaq wa al-Bida’, jil. 2, m/s. 36)

Sunnahkah Amalan Berdoa Secara Berjama’ah Selepas Solat

Sheikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Mengenai perbuatan imam dan makmum yang berdoa bersam-sama (berjama’ah) selepas solat, tidak seorang pun menukilkan perbuatan itu daripada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Faataawa al-Kubra, 1/171)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Berdoa selepas salam sama ada menghadap ke arah kiblat atau menghadap kepada makmum, semua itu tidak diajar oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah diriwayatkan daripada baginda sama ada dengan sanad yang sahih atau hasan.” ... “Secara umumnya, doa itu sendiri dilakukan ketika solat bererti munajat kepada Allah. Oleh itu, mengapa seseorang tidak berdoa ketika sedang bermunajat kepada Tuhannya. Sedangkan, seseorang hamba itu paling hampir dengan Tuhannya adalah ketika solat.” (Za’adul Ma’ad, 1/249-250)

Imam Asy-Syatibi rahimahullah menyatakan, “Berdoa secara berjama’ah tidak pernah dilakukan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ia juga tidak pernah diucap atau ditaqrirkan (dipersetujui) oleh baginda shollallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-I’tishom, 1/295)

Beberapa Tempat Yang Disyari’atkan Doa/Zikir Dibaca Dengan Kuat (Jahr)

1 - Doa Qunut (Berjama'ah)

2 - Doa khatib yang baca khutbah

3 - Takbir Raya

4 - Talbiyah haji

5 - Doa solat Istisqa’ (Solat/doa minta diturunkan hujan) (Berjama'ah)

6 - Ketika meng-Amiinkan bacaan al-Fatihah di dalam Solat. (Berjama'ah)

Di Antara Tangisan Dan Menyembunyikan Zikir

“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya, iaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, laki-laki yang hatinya senantiasa tekait dengan masjid, dua orang yang saling mencintai kerana Allah, mereka bersatu dan berpisah di atas dasar cinta ini, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan (memiliki kedudukan sosial) dan berparas cantik, kemudian ia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah, orang yang bersedekah dengan suatu sedekah yang ia sembunyikan, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di kesunyian, kemudian berlinanglah kedua matanya.” (Riwayat Bukhori, 1/234, hadis no: 629. Dan Muslim, 2/705, hadis no: 1031)

Allah Ta’ala berfirman:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling bagus (iaitu al-Qur’an), sebuah kitab yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gementar kerananya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya kemudian menjadi luluh kulit dan kalbunya menuju kepada zikir (mengingat) Allah.” (az-Zumar, 39: 23)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir asy-Syafi’i menyebutkan kriteria orang-orang Abraar (yang baik), di antaranya adalah:

“Kriteria ketiga: Mereka sentiasa menjaga adab (kesopanan) tatkala mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an, sebagaimana dahulu yang dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum tatkala mendengar bacaan al-Qur’an dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, kulit mereka tergetar, kemudian menjadi luluh bersama kalbunya untuk berzikir kepada Allah. Mereka tidaklah berteriak seakan histeria, dan menangis dengan dibuat-buat, akan tetapi mereka memiliki ketegaran, keteguhan, kesopanan dan rasa takut, yang tidak akan ada orang yang dapat menyamai mereka dalam hal itu. Oleh kerana itu mereka meraih pujian di dunia dan akhirat dari Tuhan Yang Maha Tinggi.” (Tafsir al-Qur’an al ‘Adzim, oleh Ibnu Katsir, 4/51).

Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya, mereka tergentar oleh bacaan al-Qur’an, air mata mereka berlinang, hati mereka dipenuhi oleh rasa takut kepada Allah. Mereka menangis kerana kalbunya dipenuhi oleh keimanan, bukan kerana hanyut oleh suasana dan intonasi komando. Renungkanlah beberapa riwayat berikut ini:

“Dari sahabat Abdullah bin asy-Syikhkhir rodiallahu ‘anhu ia berkata: Aku pernah menyaksikan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sedang solat, dan di dadanya terdengar suara seakan suara periuk yang mendidih.” (Riwayat Ahmad 4/25. Abu Dawud, 1/390, hadis no: 904. An-Nasa’i, 3/13, hadis no: 1214. Ibnu Khuzaimah, 2/53, hadis no: 900. Ibnu Hibban, 2/439, hadis no: 665. Dan al-Hakim, 1/396, hadis no: 971)

Ini menunjukkan bahawa beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menahan tangisnya, sehingga yang terdengar hanya suara esak-kan di dada beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah sehingga menjadi tangisan dengan suara keras.

Dalam riwayat lain:

“Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: Bacakan untukku al-Qur’an. Aku menjawab: Wahai Rasulullah, apakah layak aku membacanya untukmu, sedangkan al-Qur’an kepadamu lah diturunkan?! Beliau menjawab: Ya. Maka akupun membaca surah an-Nisa’ hingga sampai ke ayat: ‘Maka, bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).’ (an-Nisa’, 4: 41). Beliau bersabda: ‘Sekarang berhentilah (cukup)!’ Dan ternyata kedua mata beliau telah berlinangkan air mata.” (Riwayat Bukhori, 4/1925, hadis no: 4763)

Beliau hanya menitiskan air mata, berbanding dengan tangisan kebanyakan orang pada zaman sekarang bila mendengar ceramah atau nasihat seorang da’i, mereka menangis meraung-raung, sehingga masjid menjadi riuh-rendah kerana suara tangisan orang-orang yang menghadiri ceramah itu. (Situasi ini adalah merujuk pada sebahagian kelompok yang menggelarkan kumpulan mereka sebagai golongan pengamal sufi dan tasawuf) Dan renungkan pula kisah berikut ini:

“Dari sahabat ‘Irbadh bin as-Sariyyah rodiallahu ‘anhu ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam solat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasihat dengan nasihat yang sangat mengesankan, sehingga air mata kami berlinang, dan hati kami tergetar……”

Para sahabat hanya merasakan takut dan tergetar hatinya, dan mata mereka berlinang. Berbeza hal-nya dengan kebanyakan orang pada zaman sekarang, yang menangis meraung-raung. Subhanallah, apakah keimanan mereka lebih tinggi dibanding keimanan para sahabat?! Mustahil.

Ataukah penceramahnya lebih mengena, pandai dan tulus bila dibandingkan dengan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam? Na’uzubillahi min dzalika.

Asma’ binti Abi Bakar tatkala mendengar cerita bahawa ada sekelompok orang yang bila mendengar bacan al-Qur’an, mereka terjatuh pengsan, beliau malah membaca ta’awudz, pertanda beliau tidak menyukai hal ini, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut:

“Abdullah bin Urwah bin al-Zubair, ia berkata: Aku bertanya kepada nenekku Asma’: Bagaimana dahulu para sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bila mereka membaca al-Qur’an? Ia menjawab: Dahulu mereka sebagaimana yang disifatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, berlinang air matanya dan bergetar kulitnya. Akupun berkata: Sesungguhnya di sini ada beberapa orang yang bila mendengarkan bacaan al-Qur’an, mereka terjatuh pengsan: Nenekku berkata: Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan.” (Riwayat Sa’id bin Manshur 2/330, no: 95. Dan al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman, 2/365, no: 2062)

Bila ada yang bertanya: Kalau demikian, bagaimana caranya untuk membezakan orang yang benar-benar menangis kerana takut kepada Allah dengan orang yang menangis kerana hanyut oleh suasana dan intonasi suara penceramah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perhatikanlah jawaban seorang tabi’in berikut ini:

“Dari ‘Imran bin Abdil Aziz, ia berkata: Aku pernah mendengarkan Muhammad bin Sirin ditanya tentang orang yang mendengar bacaan al-Qur’an kemudian dia jatuh pengsan. Ia menjawab: untuk membuktikan kebenaran mereka, biarkan mereka duduk di atas tembok pagar, kemudian mereka diperdengarkan bacaan al-Qur’an dari awal hingga selesai, bila mereka tetap terjatuh, maka mereka benar-benar seperti apa yang mereka katakan (benar-benar khusyu’).” (Riwayat Abu Nu’aim , dalam kitabnya Hilyah al-Auliya’, 2/265).

Metode Muhammad bin Sirin ini adalah metode yang paling tepat untuk membuktikan kebenaran dan ketulusan tangis orang-orang yang menangis di saat berzikir dan mengaminkan do’a orang lain.

Dan menurut hemat saya, yang perlu ditanyakan dan direnungkan lebih mendalam dan pada setiap saat ialah: Mengapa masyarakat kita sekarang menangisnya hanya pada saat mendengar ceramah seseorang atau meng-aminkan do’a seseorang, sedangkan tatkala mendengar bacaan al-Qur’an atau membaca al-Qur’an tidak ada tangisan? Apalagi tangisan, sebutir air mata saja tidak ada, terlebih-lebih bila ia membaca al-Qur’an di kesunyian, dan tidak ada yang mendengar bacaannya?!

Apakah ceramah, nasihat, dan do’a penceramah itu lebih fasih, mengena, tulus bila dibandingkan dengan bacaan al-Qur’an?

Saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk jujur pada diri sendiri, dan bertanya kepada hati nurani masing-masing: Mengapa kalau mendengar orang yang lembut suaranya dan merdu irama bacaannya kita merasa lebih khusyu’, sedangkan bila kita mendengar orang yang tidak menawan suaranya dan kurang enak iramanya, kita kurang khusyu’ atau bahkan tidak khusyu’?! Apakah al-Qur’an-nya berbeza, ataukah hati kita lebih terpengaruh oleh suara seseorang daripada makna al-Qur’an?

Marilah kita jujur kepada diri sendiri, sehingga kita tidak mendustai hati nurani kita, dan (na’uzubillah) tidak mendustai Allah.

Dan contoh nyata, mari kita renungkan kisah berikut ini:

“Dari Nuh bin Qais, ia menyatakan: Antaraku dan saudaraku Khalid dengan ‘Amr bin ‘Ubaid (tokoh golongan Mu’tazilah – pent.) terjalin persahabatan, sehingga ia sering berkunjung ke rumah kami. Dan bila ia mendirikan solat di masjid, ia berdiri seperti sebatang kayu, maka akupun berkata kepada saudaraku Khalid: Tidakkah engkau lihat ‘Amr, betapa khusyu’nya dan betapa rajinnya ia beribadah?! Maka saudaraku Khalid menjawab: Apakah engkau tidak pernah melihatnya bila ia solat di rumah, bagaimanakah ia mendirikan solat?! Maka akupun melihatnya tatkala ia solat di rumah, ternyata ia menoleh ke kanan dan ke kiri.” (Lihat kisah ini di kitab ad-Dhu’afa’ oleh al-‘Uqaili, dan 3/285, Mizan Al I’itidal oleh az-Zahabi 5/333).

Sesungguhnya semua ini kita akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah subhanahu wa Ta’ala, di hari qiamat. Pada saat itu kita tidak akan dapat berpura-pura di hadapan-Nya, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini:

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan.” (Yaasiin, 36: 65)

Menangis ketika berzikir adalah salah satu sifat terpuji, asalkan tangisannya yang tersebut adalah benar-benar lahir dari ketulusan kerana Allah, oleh kerana itu dalam banyak dalil disebutkan bahawa yang terpuji ialah orang yang berzikir lalu menangis, sedangkan ia dalam kesunyian, bukan di dalam keramaian.

Kesimpulan:

1 – Berzikir adalah suatu yang disyari’atkan dan merupakan amalan yang tinggi nilainya di sisi Allah.

2 – Berzikir tidak terhad dengan tasbih, tahmid, tahlil, atau takbir semata-mata. Tetapi maksud kalimat zikir itu sendiri boleh membawa pengertian/penisbahan kepada majlis ilmu, kuliah ilmu, doa, bacaan al-Qur’an, perbincangan tentang agama, dan solat. Ia juga merangkumi segala amal yang merupakan perbuatan taqarrub mengingati Allah yang berupa ketaatan.

3 – Kalimat/lafaz zikir yang di-amalkan dan dipraktikkan mestilah tsabit dan sahih dari saranan wahyu iaitu sama ada dari dalil al-Qur’an mahupun sunnah. Dan lafaz-lafaz zikir tidaklah boleh direkacipta menurut kehendak hawa nafsu.

4 – Berzikir yang betul adalah dengan cara merendahkan suara dan tidak menguatkannya, cukup untuk diri sendiri mendengarnya. Di samping hati yang ikhlas dan tulus kerana mencari keredhaan Allah semata-mata.

5 – Berzikir secara berjama’ah bukanlah suatu sunnah tetapi adalah merupakan bid’ah iaitu suatu ritual dan amalan yang se-akan-akan ibadah yang di-ada-adakan tanpa berpandukan dalil. Juga tidak tsabit kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam terhadap amalan berdoa secara berjama’ah sebaik selesai solat.

6 – Tiada dalilnya yang menunjukkan adanya zikir-zikir yang dilafazkan dalam bentuk berlagu (nyaring) dan berirama atau dengan intonasi-intonasi yang tertentu.


http://fiqh-sunnah.blogspot.com/