Menyambut Kelahiran Cahaya Mata Dengan Sunnah
Pendahuluan
Dalam suatu hadis, ada diriwayatkan supaya mengahwini wanita-wanita yang subur supaya berupaya melahirkan zuriat yang baik-baik.
Ini adalah sebagaimana hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu (r.a.), Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.) bersabda:
“Kahwini-lah wanita-wanita yang penyayang dan subur kerana sesungguhnya pada hari kiamat kelak aku berbangga dengan umatku yang paling ramai bilangannya berbanding nabi-nabi yang lain.” (Hadis Riwayat Ahmad di dalam Musnadnya, jil. 3, m/s. 158 & 245)
Dalam hal ini, antara hikmah yang dapat kita semua perhatikan adalah kelak anak-anak tersebut mampu membantu mendoakan kebaikan buat kita dan juga (dengan izin-Nya) membantu kita di masa-masa hadapan.
Ini dapat dilihat dalam hadis dari Abu Hurairah r.a., bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Apabila seseorang manusia itu mati, terputuslah daripadanya segala amalan melainkan tiga perkara: 1 – Sedekah Jariah, 2 – Ilmu yang bermanfaat, dan 3 – Anak soleh yang mendoakannya.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Wasiat, Hadis no. 14. Dan Abu Daud, Kitab Wasiat, no. 3880)
Oleh itu, selain memiliki zuriat yang ramai, ayah dan ibu juga perlulah berusaha untuk mendidik dan menjaga anak-anak tersebut dengan usaha yang keras, tanggungjawab, dan didikan yang sebaik-baiknya.
Dalam suatu hadis, Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala (s.w.t.) akan menanyakan kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya (dikuasainya), adakah dia menjaga atau menyia-nyiakannya. Sehinggakan seseorang akan ditanyakan mengenai rumah tangganya.” (Hadis Riwayat Ibnu Hibban dalam Sahihnya. Lihat: Sislsilah al-Ahaadis ash-Shahihah, no. 1626)
Oleh itu, serba sedikit, melalui tulisan ini ia dimulakan dengan memahami adab-adab dalam menyambut kelahiran anak-anak sebagai cahaya mata penyeri keluarga berdasarkan sunnah-sunnah yang sahih.
TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM
Banyak penulis dan peneliti membicarakan tentang tujuan pendidikan individu muslim. Mereka berbicara panjang lebar dan terinci dalam bidang ini, hal yang tentu saja bermanfaat. Apa yang mereka katakan kami ringkaskan sebagai berikut: "Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa keseluruhannya agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada solat, puasa dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah." (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu'atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at Thiflil Muslim wa Thuruq 'Ilajiha, hal. 76.
MEMPERHATIKAN ANAK SEBELUM LAHIR
Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasehat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda : "Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi." (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
'
Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang datang melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda : "Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacaya terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar."
'
Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti tuntunan Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita: "Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, membaca: "Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami". Maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya".
'
MEMPERHATIKAN ANAK KETIKA DALAM KANDUNGAN
Setiap muslim akan merasa kagum dengan kebesaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan kebajikan. Sebagaimana Islam memberikan perhatian kepada anak sebelum kejadiannya, seperti dikemukakan tadi, Islam pun memberikan perhatian besar kepada anak ketika masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya.
'
Sabda Rasulullah : "Sesungguhnya Allah membebaskan separuh solat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil". (Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa'i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat: "Isnad hadits inijayyid' ) Si ibu hendaklah berdo'a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang soleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Karena termasuk do'a yang dikabulkan adalah do'a orang tua untuk anaknya.
Cahaya Mata Penyeri Kehidupan
Allah s.w.t. berfirman:
“Dan orang-orang yang berkata (berdoa): “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pimpinan bagi orang-orang yang bertakwa”. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) kerana kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya…” (al-Furqon, 25: 74-75)
Anak-anak yang dilahirkan adalah merupakan kurnia dari Allah dan merupakan suatu bentuk amanah bagi kedua ibu dan bapa untuk menjaganya dengan kaedah yang digariskan. Ia berupaya menjadi penyeri kehidupan dan menggembirakan hati bagi mereka yang mengerti. Anak-anak adalah termasuk juga ke dalam salah satu perhiasan dan kesenangan dunia yang digambarkan oleh Allah s.w.t. sebagaimana dalam firman-Nya, (maksudnya):
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, iaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).” (Ali Imran, 3: 14)
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi sholeh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi, 18: 46)
Doa Sebagai Sarana Dikurniakan Anak Yang Sholeh
Doa adalah salah satu sarana yang agung yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman sebagai suatu bentuk penghubung dirinya kepada Allah s.w.t.. Melalui doa, Allah s.w.t. memberi peluang kepada kita untuk memohon sesuatu yang diperlukan dan diingini. Malalui doa jugalah Allah akan membantu kita dengan mengabulkan (memperkenankan) apa yang diingini oleh hati-hati kita. Allah s.w.t. berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku memperkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah, 2: 186)
Melalui al-Qur’an sendiri, terdapat banyak kisah-kisah dan doa-doa yang boleh menjadi contoh kepada para keluarga, pasangan suami isteri, dan mereka yang berkaitan, tentang kehebatan doa agar dikurniakan cahaya mata serta meraih kurniaan anak yang sholeh.
Sebagai contoh, di sini diutarakan dua kisah dan doa yang berkaitan;
1 – Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (a.s.),
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.” (al-Baqarah, 2: 126-128)
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” .... “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Ibrahim, 14: 35 & 39)
2 – Doa Nabi Zakaria ‘alahis salam;
Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh." (Ali Imran, 3: 38-39)
Isteri Nabi Zakariya adalah seorang yang mandul dan dia sendiri adalah seorang yang sangat tua, namun dengan kuasa dan izin dari Allah, doanya telah diperkenankan. Menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di, “Kedua hal itu (tua dan mandul) merupakan penghalang, namun Allah berfirman (maksudnya) “Demikianlah, Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya”. Bahawasanya sebagaimana telah berlaku hikmah-Nya dengan berjalannya segala sesuatu itu menurut sebab-sebabnya yang wajar, maka Allah juga berkuasa merubah hukum alam tersebut menurut kekuasaan dan apa yang dikehendaki-Nya.” (Tafsir as-Sa’di (Judul Asli: Taisir al-Karim al-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan), jil. 1, m/s. 490)
Tanggungjawab Melahirkan Anak
Allah s.w.t. berfirman (maksudnya,
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan...” (al-Ahqaaf, 46: 15)
Seorang ibu, memiliki tanggungjawab yang besar bagi menjaga dan sekaligus melahirkan anak yang dikandungnya dengan selamat walaupun dengan susah payah.
Di dalam suatu hadis, disebutkan tentang kisah (dari hadis Imran bin Hushain) seorang wanita yang telah berzina sehinggalah dia hamil. Lalu dia merasa bersalah dan berjumpa dengan Nabi s.a.w. agar menjatuhkan hukuman kepadanya atas kesalahannya berzina. Tetapi Nabi berpesan kepada walinya supaya memawa dia pulang dan mengawasinya dengan baik sehinggalah dia telah melahirkan anaknya.
“Bahawasanya ada seorang wanita dari Juhainah mendatangi Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam, yang pada ketika itu dia dalam keadaan hamil kerana hasil perbuatan zina. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan perbuatan yang mengharuskan hukum hadd. Kerana itu, laksanakanlah hukuman itu ke atas-ku”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memanggil walinya lalu bersabda, “Perlakukanlah/jagalah dia dengan baik. Jika dia telah melahirkan, bawalah dia menghadapku”. Maka walinya pun melaksanakan apa yang diperintah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam...” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab al-Hudud, no. 4207)
Daripada kisah ini dapat dilihat betapa besarnya peranan ibu untuk menjaga, dan melahirkan anak yang dikandungnya dengan keadaan yang selamat.
Meng-azankan Bayi Pada Telinganya
Berkenaan permasalahan ini, ada suatu perbahasan yang agak menarik dan sekaligus memberikan kesimpulan yang agak kontra dengan kebiasaan amalan masyarakat kita yang biasa mengazankan telinga bayi sebaik saja kelahirannya. Oleh itu, di sini saya utarakan satu perbahasan mengenai status hadis berkaitan meng-azankan telinga bayi.
Hadis Pertama
Hadis ini berasal dari Abu Rofi’, bekas budak Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.), ia berkata: “Saya melihat Rasulullah s.a.w. azan, seperti azan solat, di telinga al-Hasan bin Ali, ketika Fathimah radhiyallahu ‘anha (r.anha.) melahirkannya”.
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud (5105), at-Tirmidziy (4/1514), al-Baihaqiy dalam al-Kubro (9/300), dan dalam asy-Syu’ab (6/389-390), ath-Thabraniy dalam al-Kabir (931-2578), dan dalam ad-Du’a (2/944), Ahmad (6/9-391-392), Abdur-Razzaq (7986), ath-Thoyalisiy (970), al-Hakim (3/179), dan al-Baghawiy dalam Syarh as-Sunnah (11/273).
Al-Hakim berkata, “Sahih sanadnya sekalipun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya”. Akan tetapi, ia disanggah oleh adz-Dzahabi dengan berkata: “Ashim adalah dho’if (lemah)”. at-Tirmidzi berkata, “Semua meriwayatkannya dari jalur Sufyan ats-Tsauri dari Ashim bin Ubaidillah dari Ubaidillah bin Abi Rofi’ dari bapaknya”.
Ini juga merupakan Hadis Riwayat ath-Thabraniy dalam al-Kabir (926,2579), dan dibawakan hadis ini oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id (4/60) dari jalur Hammad bin Syu’aib dari Ashim bin Ubaidillah dari Ali bin al-Husain dari Abi Rofi’ dengan sedikit tambahan, “Beliau azan di telinga al-Hasan dan al-Husain”. Dia berkata di akhirnya, “Beliau memerintahkan hal itu kepada mereka”.
Di dalam sanad hadis ini terdapat Hammad bin Syu’aib. Ibnu Ma’in telah men-dho’if-kannya. Menurut al-Bukhari, “Mungkar hadisnya”. Pada tempat lain, ia berkata: “Mereka meninggalkan hadisnya”. al-Haitsami berkata dalam al-Majma’ (4/60), “Di dalamnya terdapat Hammad bin Syu’aib, sedang dia adalah amat lemah”.
Di dalamnya juga terdapat Ashim bin Ubaidillah, seorang yang dho’if (lemah). Selain itu, Hammad telah menyelisihi Sufyan ats-Tsaury, sama ada dalam hal sanad mahupun redaksi hadis, ini adalah kerana ia telah meriwayatkannya dari Ashim dari Ali bin al-Husain dari Abi Rofi’. Dia menggantikan Ubaidullah bin Abi Rofi’ dengan Ali bin al-Husain, dan ia juga menambahkan lafaz pada redaksi hadis, “…al-Husain”, dan perintah berazan. Hammad yang ini termasuk orang yang tidak diterima hadisnya, jika menyendiri dalam meriwayatkan hadis, kerana kelemahan pada dirinya yang telah anda ketahui. Apalagi ia menyelisihi orang yang lebih tsiqah (terpercaya) dan teliti daripada dirinya seperti ats-Tsaury. Dengan ini, hadis Hammad menjadi mungkar kerana kelemahannya yang pertama, dan kedua, penyelisihannya terhadap orang yang lebih tsiqah.
Adapun jalur kedua dari Sufyan, terdapat seorang yang bernama Ashim bin Ubaidillah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (r.h.) berkata dalam at-Taqrib, “Dia lemah”. Al-Hafizh juga menyebutkan dalam at-Tahdzib (5/42), Syu’bah berkata, “Andaikan Ashim ditanya, “Siapakah yang membangunkan (membina) Masjid Bashrah, niscaya ia akan menjawab, “Fulan dari fulan dari Nabi s.a.w. bahawa beliau telah membangunkannya”. Ini untuk menggambarkan rawi ini bermudah-mudah meriwayatkan hadis, tanpa memperhatikan hadis yang ia riwayatkan sehingga dia banyak menyelisihi orang yang lebih tsiqah.Adz-Dzahaby berkata dalam al-Mizan (2/354), “Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata: Ashim adalah hadisnya mungkar. Ad-Daruquthny berkata: Ia ditinggalkan, orangnya lalai”. Lalu ia membawakan hadis Abu Rofi’, “Bahawa Rasulullah s.a.w. meng-azani telinga al-Hasan dan al-Husain”. Ringkasnya, hadis ini dho’if (lemah) kerana masalahnya ada pada Ashim, sedang anda telah tahu keadaan dirinya.
Ibnul Qoyyim menyebutkan dalam dalam kitabnya Tuhfah al-Wadud (hal.17) hadis Abu Rofi’, lalu membawakan dua hadis yang satunya dari Ibnu Abbas, dan lainnya lagi dari al-Husain bin Ali. Beliau menjadikan kedua hadis ini sebagai penguat bagi hadis Abu Rofi’ dan membuatkan tajuk, “Bab: Dianjurkannya azan ditelinga bayi”. Hal ini sebenarnya kurang tepat sesuai dengan perbahasan yang akan kita ketahui kemudian, Insya Allah.
Hadis Kedua
Adapun hadis kedua dari Ibnu Abbas r.a., diriwayatkan oleh al-Baihaqy dalam Syu’abul Iman (6/8620) dari Muhammad bin Yunus dari al-Hasan bin Amer bin Saif as-Sadusy, ia berkata, al-Qosim bin Muthoyyib Telah menceritakan kami dari Manshur bin Shofiyyah dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas: ”Bahawasanya Nabi s.a.w. azan di telinga al-Hasan bin Ali pada hari ia dilahirkan, di telinga kanannya. Beliau melakukan iqomat pada telinga kirinya”.
Setelah itu, al-Baihaqi berkata: “Pada sanadnya terdapat kelemahan”. Kami katakan, “Bahkan hadis ini palsu”. Penyakitnya ada pada al-Hasan bin Amer. Al-Hafizh berkata dalam at-Taqrib, “Orangnya matruk/ditinggalkan”. Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-Jarh wa at-Ta’dil (1/2/26), biografi (no.109), “Saya pernah mendengarkan ayahku berkata: [Kami pernah melihat al-Hasan bin Amer di Bashrah, dan kami tidak menulis hadis darinya, sedang dia itu ditinggalkan hadisnya]”. Adz-Dzahaby berkata dalam al-Mizan, “al-Hasan bin Amer dikatakan pendusta oleh Ibnul Madiny. Al-Bukhory berkata, “Dia pendusta”. Ar-Rozy berkata, “Dia ditinggalkan”.”.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, diantara kaedah-kaedah Ilmu Mushtholah Hadis bahawa hadis dho’if (lemah) tidak akan boleh dinaik taraf menjadi hadis sahih atau hasan, kecuali ia datang dari jalur periwayatan yang lain, dengan syarat: Tiada orang (perawi) yang teruk ke-dho’if-annya/kelemahannya dalam jalur tersebut, apalagi sehingga ada pendusta (dalam jalur periwayatannya). Jadi, hadis kedua dari Ibnu Abbas ini (dalam keadaanya sebegini) tetap kedudukannya sebagai hadis dho’if dan tidak boleh dijadikan hujjah. Berdasarkan ilmu hadis, hadis Ibnu Abbas tersebut tidak boleh dijadikan sebagai penguat bagi hadis Abu Rofi’. Jadi, hadis Abu Rofi’ tetap kedudukannya sebagai hadis dho’if, sedang hadis Ibnu Abbas adalah palsu!!
Hadis Ketiga
Adapun hadis al-Hasan bin Ali, hadis ini diriwayatkan oleh Yahya ibnul Ala’ dari Marwan bin Salim dari Talhah bin Ubaidillah dari al-Hasan bin Ali, ia berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w., “Barang siapa yang dikurniakan seorang anak, lalu ia meng-azani pada telinga kanannya dan beriqomat pada telinga kirinya, niscaya anak itu tidak akan dimudharatkan/dibahayakan oleh Ummu Shibyan”.
Hadis Riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (6/390), Ibnus Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah (623). Hadis ini dibawakan oleh al-Haitsami dalam al-Majma’’ (4/59) dengan katanya, “Hadis Riwayat Abu Ya’la(6780), di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama Marwan bin Salim al-Ghifary, sedang ia itu matruk (ditinggalkan hadisnya)”.
Bahkan hadis al-Husain bin Ali di atas adalah palsu, di dalamnya terdapat seorang rawi yang bernama Yahya Ibnul Ala’ dan Marwan bin Salim, keduanya memalsukan hadis sebagaimana hal ini disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadis adh-Dho’ifah (321). Dengan itu, hadis Abu Rofi’ tetap keadaannya sebagai hadis dho’if sebagaimana yang dikatakan oleh al-Hafizh dalam at-Talkhish (4/149): “Inti permasalahannya pada Ashim bin Ubaidillah, sedang ia itu dho’if.”
Terdahulu, Syaikh Al-Albani pernah meng-hasan-kan hadis ini dalam Kitabnya Shahih Sunan at-Tirmidzy (1224), Shahih Sunan Abu Daud (4258), al-Irwa’ (4/401), dan Silsilah al-Ahadis adh-Dho’ifah (1/493).
Namun kemudiannya Syaikh al-Albani menyemak semula peng-hasanan yang beliau lakukan terhadap hadis Abu Rofi’ (hadis pertama) dan meletakkannya di dalam Kitab adh-Dho’ifah pada cetakan terakhir yang diterbitkan oleh Maktabah al-Ma’arif (1/494/no.321), “Sekarang saya tegaskan (walaupun Kitab asy-Syu’ab telah dicetak), bahawa hadis Ibnu Abbas tidak sesuai/layak untuk dijadikan penguat (bagi hadis Abu Rofi’ - pent.), kerana di dalamnya terdapat rawi pendusta dan matruk (ditinggalkan). Saya amat hairan terhadap al-Baihaqy dan Ibnul Qoyyim, bagaimana mereka berdua hanya men-dho’if-kan hadis tersebut sehingga saya hampir memastikan sesuainya hadis tersebut dijadikan sebagai penguat. Makanya, dengan itu saya menganggap bahawa diantara kewajiban saya adalah untuk mengingatkan hal itu dan mentakhrijnya pada perbahasan akan datang (no.6121)”.
Di sana ada sebuah hadis yang diriwayatkan di dalam kitab “Manaqib al-Imam Ali” (113) dari Ibnu Umar secara marfu’. Cuma sayangnya hadis ini sekali lagi turut tidak boleh dijadikan sebagai penguat kerana di dalamnya ada rawi pendusta. Abu Ishaq al-Huwainy berkata dalam al-Insyirah (hal.96), “Kesimpulannya, tidak ada satu hadis pun yang boleh menjadi penguat bagi hadis ini menurut yang saya ketahui, Wallahu a’lam”.
Jadi, tiga hadis di atas tidak boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sunnahnya meng-azankan, dan meng-iqomatkan telinga bayi yang baru lahir, kerana kelemahan dan kepalsuannya.
Sumber: Buletin Juma’at al-Atsariyyah, edisi 02 Tahun I.
Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas. Alamat: Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne. No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel.
Kesimpulannya:
Dengan perbahasan ini, ia menunjukkan bahawa meng-azankan pada telinga bayi di saat kelahirannya adalah tidak sahih dari sunnah Nabi s.a.w.. Wallahu a’lam...
Mentahnik Bayi Dengan Kurma
Tahnik bermaksud memamahkan kurma hingga hancur, menyuapkan ke mulut bayi dan menggosokkan kurma tersebut (yang telah hancur tadi) ke langit-langit mulut si bayi. Ia dilakukan dengan memasukkan sedikit kurma yang telah hancur dikunyah ke mulut bayi, kemudian menggerak-gerakkannya ke kanan dan kiri dengan lemah lembut. Ia dilakukan sehinggalah mulut bayi tersebut dapat mengecapi/memakan kurma yang dimamah tadi dengan sebaiknya.
Ini adalah berdasarkan beberapa hadis yang menunjukkan perihal kesunnahan perbuatan ini yang tsabit dari Nabi s.a.w. sendiri. Antara hadisnya adalah sebagaimana berikut,
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu (r.a.), katanya: “Telah dilahirkan untukku seorang bayi lelaki lalu aku membawanya kepada Nabi s.a.w. dan baginda menamakannya Ibrahim lalu ditahnikkannya dengan sebiji buah kurma. Beliau mendoakan keberkatan dan kemudiannya memulangkannya kembali kepadaku.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Aqiqah, no. 376)
Berkata Dr. Faruq Musahil dalam Majalah al-Ummah al-Qathariyah, jil. 50 dalam sebuah artikel berjudul: “Perhatian Islam Terhadap Nutrisi Anak”, ketika menjelaskan hadis berkaitan tahnik, beliau menyatakan:
“Tahnik dengan timbangan apapun merupakan sebuah mukjizat kedoktoran Nabi yang telah berlaku sejak empat belas abad yang lalu agar manusia mengetahui tujuan dan hikmah di sebaliknya. Berdasarkan ilmu kedoktoran, anak kecil itu (khususnya yang baru sahaja lahir) memiliki kebarangkali yang tinggi untuk mengalami kematian dan penyakit jika terjadinya dua perkara, (iaitu) – 1 – Jika kadar gula dalam darah berkurang (disebabkan kelaparan), dan – 2 – Jika darjah suhu tubuh mereka turun mendadak ketika dihadapkan kepada udara dingin dari persekitaran mereka.” (Dinukil dari Buku “Mendidik anak Bersama Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, Terbitan Pustaka Arafah, oleh Muhammad Suwaid)
Berdasarkan pembuktian saintifik, sememangnya hal ini diperakui di mana gula yang merupakan binaan dari glucosa terutamanya gula dari buah-buahan seperti kurma merupakan gula teringkas yang mudah dicernakan dan pemberi tenaga segera kepada tubuh badan sekaligus membantu menentukan kandungan gula dalam darah. Gula juga memainkan peranan dalam kadar metabolisma dalam badan yang mana berupaya memberikan kesan peningkatan suhu badan pada kadar tertentu.
Mendoakan Kebaikan/Keberkatan
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu (r.a.), katanya: “Telah dilahirkan untukku seorang bayi lelaki lalu aku membawanya kepada Nabi s.a.w. dan baginda menamakannya Ibrahim lalu ditahnikkannya dengan sebiji buah kurma. Beliau mendoakan keberkatan dan kemudiannya memulangkannya kembali kepadaku.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Aqiqah, no. 376)
Aqiqah Dan Mencukur Rambut Bayi
Aqiqah di sini dimaksudkan dengan menyembelih haiwan dan mencukur rambut si bayi.
Dari satu hadis, Rasulullah s.a.w. bersabda (maksudnya):
“Sesuatu yang perlu mengiringi bayi yang lahir itu adalah aqiqah. Oleh itu, sembelihlah untuk tujuan aqiqah itu dan singkirkanlah darinya bahaya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Aqiqah, no. 380)
Dalam hadis yang lain,
“Setiap anak (yang lahir) dipelihara dengan aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke tujuh, lalu diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadis Riwayat Tirmidzi. Disahihkan oleh al-Albani. Lihat: Sahihul Jami’ oleh al-Albani, no. 4184)
Hukum Aqiqah;
Hukum aqiqah, menurut Sheikh Dahlawi rahimahullah (r.h.), “Disunnahkan bagi orang yang memiliki atau mampu membeli dua ekor kambing agar menyembelih dua ekor untuk anak- lelaki.” (Rujuk: Hujjatullah al-Baalighah, 2/144)
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal r.h., “Sesungguhnya aqiqah itu menghidupkan sunnah dan aku berharap agar Allah memberi ganjaran yang setimpal.” (Rujuk: Kitab Tuhfat al-Maulud, m/s. 39)
Menurut Imam Malik, “Persoalan aqiqah menurut pandangan kami adalah bahawa orang yang menyembelih aqiqah. Ia boleh melakukan aqiqah untuk anaknya dengan kambing, sama ada kambing jantan mahupun betina. Aqiqah itu bukanlah wajib, akan tetapi mustahab (disukai/sunnah) dan ia sentiasa diamalkan oleh orang-orang dari kalangan kita.” (al-Muwattha’, Kitab Aqiqah (26), no. 7)
Disunnahkan Pada Hari Ketujuh;
“Setiap anak (yang lahir) dipelihara dengan aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke tujuh...”
Dalam riwayat yang lain, ath-Thabrani dan Dhiya’ juga meriwayatkan secara marfu’ dari Buraidah r.a., “Aqiqah itu disembelihkan pada hari ke tujuh, atau ke empat belas, atau dua puluh satu.” (Lihat: Shahihul Jami’, no. 4132)
Jika melihat zahir hadis, ia jelas menunjukkan bahawa disunnahkan aqiqah itu pada ari yang ke tujuh. Namun ada sebahagian pendapat menyatakan dibolehkan ber-aqiqah pada hari yang lain jika tidak dapat pada hari yang ke tujuh. Sebagaimana pendapat Ibnul Qayyim,
“Melakukan aqiqah pada hari ke tujuh adalah sunnah. Namun, jika disembelih pada hari ke empat, ke lapan, ke sepuluh, atau selepasnya tetap dikira sebagai aqiqah. Aqiqah itu dikira mengenai hari penyembelihan bukannya hari dimasak dan dimakan.” (Rujuk Tuhfat al-Maulud, m/s. 43) Wallahu a’lam...
Haiwan Sembelihan;
1 – Aqiqah itu dilakukan untuk anak lelaki adalah dengan dua ekor kambing dan bagi anak perempuan adalah dengan seekor kambing. Dan jantina haiwan itu tidak mengapa sama ada jantan ataupun betina.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma’ binti Yazid secara marfu’, “Aqiqah adalah hak yang mesti ditunaikan. Untuk anak lelaki dua ekor kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.” (Disahihkan oleh al-Albani, lihat: Shahihul Jami’, no. 4106 dan 4107)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha (r.anha), berkata: “Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Aqiqah untuk anak lelaki dengan dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan adalah satu ekor kambing”.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, no. 1565. Ibnu Majah, no. 3163. Disahihkan oleh al-Albani)
Menurut Imam Malik, “Persoalan aqiqah menurut pandangan kami adalah bahawa orang yang menyembelih aqiqah. Ia boleh melakukan aqiqah untuk anaknya dengan kambing, sama ada kambing jantan mahupun betina...” (al-Muwattha’, Kitab Aqiqah (26), no. 7)
2 – Haiwan mestilah sihat, sempurna, dan tidak cacat.
Menurut Imam Malik, “Mereka yang melaksanakan aqiqah untuk anaknya, sama hal nya dengan melaksanakan ibadah kurban. Binatang yang disembelih tidak boleh buta sebelah matanya, tidak boleh kurus, cacat, atau sakit. Juga tidak boleh dijual dagingnya mahupun kulitnya dan tidak boleh dipatahkan tulangnya. Keluarga yang melakukan aqiqah boleh makan dagingnya dan menyedekahkannya kepada orang lain. Namun, si anak tidak boleh menyentuh darahnya.” (al-Muwattha’, Kitab Aqiqah (26), no. 7)
Mecukur Keseluruhan Rambut Bayi;
“Setiap anak (yang lahir) dipelihara dengan aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ke tujuh, lalu diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadis Riwayat Tirmidzi. Disahihkan oleh al-Albani. Lihat: Sahihul Jami’ oleh al-Albani, no. 4184)
Selain melaksanakan ‘aqiqah, disunnahkan untuk mencukur keseluruhan rambut si anak sebagaimana hadis di atas.
Kemudiannya, rambut yang telah dicukur, disunnahkan juga untuk menimbangnya dan kemudian mengeluarkan sedekah berdasarkan kiraan berat rambut yang ditimbang dengan beberapa keping perak. Iaitu menukarkan berat rambut dengan berat perak.
Imam Malik meriwayatkan, bahawa “Fatimah, anak Rasulullah (s.a.w.) menimbang rambut Hasan, Husein, Zainab, dan Ummi Kaltsum dan mengeluarkan sedekah mengikut kiraan berat rambut yang ditimbang dengan (nilai) perak.” (al-Muwattha’, Kitab Aqiqah (26), no. 2)
Memberikan nama;
Disunnahkan juga memberi nama kepadanya jika ia belum diberikan nama pada hari ‘aqiqah dilaksanakan atau ketika rambut dicukur, sebagaimana hadis “...lalu diberi nama dan dicukur rambutnya” iaitu dengan memberikan kepadanya nama yang baik. Ini dapat dilihat dalam beberapa hadis antaranya,
Dari Abu Wahb al-Jusyami r.a., bahawa Nabi s.a.w. bersabda, “Namailah (anak-anakmu) dengan nama-nama para nabi. Sedangkan nama yang paling disukai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan nama yang paling benar adalah Harits dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb dan Murrah.” (Hadis Riwayat Abu Daud dan an-Nasa’i. Sanad Hadis ini majhul, namun dapat dikuatkan dengan beberapa hadis-hadis yang lain. Lihat: Jami’ al-Ushul, 1/357, Tahqiq Syu’aib al-Arnauth)
Dari Abu Basrah, Nabi s.a.w. bersabda, “Sebaik-baik nama kamu adalah Abdullah dan Abdurrahman serta Harits.” (Hadis Riwayat ath-Thabrani. Lihat: Shahihul Jami’, no. 3269)
Ibu bapa hendaklah menjauhi diri dari meletakkan/memberikan nama kepada anak tersebut dengan nama-nama yang khusus bagi Allah seperti al-Ahad (yang Esa), al-Kholiq (yang Maha Pencipta), dan seumpamanya. Juga janganlah sekali-kali meletakkan nama dengan nama-nama yang buruk dan memiliki maksud yang tidak elok.
Sheikh Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid menyatakan, “Kuniyah (nama panggilan) kepada bayi juga akan mendatangkan kesan yang amat besar ke atas dirinya. (Rujuk: Tasmiyat al-Maulud, m/s. 706, oleh Sheikh Dr. Bakr)
Mengkhatan-kan Anak
Khatan ialah sesuatu yang dipotong bagi lelaki dan perempuan. Dalam erti kata lain, memotong lebihan kulit yang berada di kepala zakar bagi lelaki. (Lihat: al-Aulaad wa Tarbiyatuhum fi Dhau’i al-Islam, karya Sheikh Muhammad al-Muqbil, m/s. 91)
Menurut pendapat yang lain, “Kata khitan menurut bahasa bererti memotong kulit yang menutupi kepada zakar. Sedangkan menurut istilah syar’i, adalah memotong bulatan bahagian hujung hasyafah, iaitu tempat pemotongan kulit yang menutupi kepala zakar yang juga menjadi tempat kemuliaan dari hukum syari’at. Ini berdasarkan hadis, “Jika telah bertemu dua khitan (kemaluan) maka wajib mandi” (Lihat: Silsilah al-Ahaadis ash-Shahihah, no. 1261).” (Rujuk: Mendidik Anak Bersama Nabi, m/s. 94, oleh Muhammad Suwaid)
Khatan bagi anak perempuan adalah memotong lebihan kulit yang menyerupai balung ayam jantan yang terletak di atas faraj. (Rujuk: Didik Anak Cara Islam, m/s. 46, oleh Syaikhah Abdullah)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Syaddad bin Aus r.a., bahawa Nabi s.a.w. bersabda, “Khitan itu merupakan sunnah bagi kaum lelaki dan kemuliaan bagi kaum wanita.”
Daripada Abu Hurairah r.a., aku mendengar Nabi bersabda, “Lima (5) perkara adalah fitrah bagi manusia, (iaitu) berkhatan, mencukur bulu ari-ari, memendekkan misai, memotong (memendekkan) kuku, dan mencabut bulu ketiak.”(Hadis Riwayat Bukhari, Kitab Pakaian, no. 779)
Ibnul Jauzi menyatakan bahawa berkhatan itu adalah sunnah muakkadah menurut pandangan Malik dan Abu Hanifah, manakala menurut asy-Syafi’i adalah fardhu. (Lihat: al-Qawaanin al-Fiqhiyah, m/s. 314, oleh Ibnul Jauzi)
Adab mengkhatan bagi anak perempuan, dari Ummu ‘Athiyyah, Rasulullah s.a.w. telah menyatakan kepada tukang khitan dengan katanya, “Apabila kamu melakukan khatan janganlah berlebih-lebihan kerana ia itu akan mendatangkan kebaikan kepada perempuan tersebut dan ia lebih disukai oleh suami.” (Hadis Riwayat Abu Daud. Lihat: Shahiul Jami’, no. 7352)
Menyusukan Dan Memelihara Anak
Seorang ibu yang melahirkan anaknya hendaklah memelihara, menjaga, membelai dan menyusukan anaknya. Ia juga turut menjadi tanggungjawab si bapa dalam urusan memberi nafkah yang baik kepadanya dan memastikan anak tersebut sentiasa dalam keadaan yang selamat.
Allah s.w.t. berfirman (maksudnya):
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, iaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan kerana anaknya dan seorang ayah kerana anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permesyuwaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan bayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahawa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah, 2: 233)
Menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di di dalam Tafsirnya, “Khabar dari ayat ini menunjukkan sebagai suatu perintah – “hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh”. Apabila seseorang bayi telah sempurna dua tahun menyusu ibu, maka telah selesailah tempoh menyusunya dan air susu yang diberi selepas tempoh itu adalah menyamai dengan pelbagai makanan yang lain. Kerana itu jugalah, penyusuan yang berlaku setelah tempoh dua tahun itu tidaklah dikira (sebagai wajib) dan tidak juga diharamkan.
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan kerana anaknya dan seorang ayah kerana anaknya, dan warispun berkewajiban demikian.”
Hal ini mencakupi buat mereka yang masih dalam ikatan pernikahan dengan suaminya mahupun yang telah diceraikan; maka seorang ayah wajib memberinya makan. Ertinya, memberi nafkah dan pakaian iaitu upah bagi pekerjaan menyusui yang dilakukan. Ini juga menunjukkan bahawa apabila masih dalam ikatan pernikahan, suaminya wajib memberi nafkah dan pakaian, sesuai menurut keadaannya. Kerana itu Allah berfirman, (maksudnya) “seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” Tidaklah seseorang yang fakir dibebankan untuk memberikan nafkah seperti nafkahnya orang yang kaya, dan tidak pula seorang yang tidak mempunyai harta hingga mendapatkannya.” (Tafsir as-Sa’di (Judul Asli: Taisir al-Karim al-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan), jil. 1, m/s. 377-379)
Oleh itu, ayah dan ibu serta waris, seharusnya menggalas tanggungjawab bagi memastikan anak yang di bawah jagaan mereka mendapat pemeliaharan yang baik bermula dari pemberian susu ibu sebagai nutrisi pertamanya dalam tempoh yang telah ditunjukkan. Atas alasan yang tertentu juga dan tidak memudharatkan, dibolehkan bagi si ayah dan ibu (penjaga) untuk meminta orang lain untuk menyusukan anak tersebut.
Dalam beberapa kajian saintifik, air susu ibu memiliki nutrisi yang sangat-sangat penting dan mencukupi bagi seorang bayi yang berada di bawah umur 2 tahun. Di samping itu ia turut membantu membina proses tumbesaran yang normal, membantu penghasilan antibodi yang baik, dan membantu memelihara kesihatan bayi dengan lebih sempurna berbanding dengan susu-susu buatan yang selainnya. Kasih sayang si ibu terhadap anak juga akan menjadi lebih terserlah dan si anak mendapat belaian yang sewajarnya dari seorang ibu yang penyayang.
Ibu Bapa Yang Sholeh Dan Kesannya
Peribadi yang baik dan soleh adalah merupakan tauladan yang terbaik buat anak-anak yang berada di bawah jagaan mereka. Ini terlaksana antaranya apabila kedua orang tua mempunyai disiplin dan keperibadian yang bertaqwa kepada Allah dengan mengikuti panduan yang ditunjukkan oleh-Nya di samping sentiasa bekerjasama bagi melaksanakan tugas dalam mendidik dengan baik.
Ini juga dapat dilihat melalui firman Allah s.w.t. (yang maksudnya):
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebahagiannya (mewarisi) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran, 3: 34)
Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di berkomentar, “Dan Allah menyebutkan keluarga-keluarga besar tersebut dan apa yang di dalamnya berupa manusia-manusia yang agung yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, dan bahawasanya keutamaan dan kebaikan itu telah diwariskan secara turun temurun oleh anak-cucu mereka, yang mencakupi lelaki dan wanita. Ini adalah merupakan kurniaan yang paling utama dan tempat kemurahan dan kebaikan-Nya yang paling utama. (Tafsir as-Sa’di (Judul Asli: Taisir al-Karim al-Rahman fii Tafsir Kalam al-Mannan), jil. 1, m/s. 487)
Kesan daripada Ibu bapa yang bertaqwa dan sholeh, para malaikat juga turut mendoakan buat mereka kebaikan dan memohonkan syurga buat anak-anak yang memiliki ibu bapa yang sholeh. Ini dapat dilihat dari firman Allah s.w.t. berikut (maksudnya):
“Ya Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam Syurga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka serta keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Mukmin, 40: 8)
Malah, suatu anugerah dari Allah s.w.t., seandainya anak-anak cucu yang tersebut lahir dan hidup dalam keadaan yang penuh taqwa dan keimanan, taat kepada Allah s.w.t., maka Allah juga turut menyatakan bahawa kelak nanti di Syurga, Allah akan mempertemukan mereka.
Allah s.w.t. berfirman (maksudnya): “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (ath-Thuur, 52: 21)
Anak-Anak Yang Sholeh Akan Mendoakan Ibu Bapanya
Memiliki anak yang sholeh adalah merupakan sebahagian kurniaan yang sangat bermakna bermula dari dunia sehinggalah meninggal dunia. Ini terlaksana melalui keperibadiannya yang sentiasa merendah diri menjaga akhlak kepada ibu bapa atau orang tua, sekaligus mendoakan kebaikan buat kedua ibu dan bapanya tidak kira semasa hayatnya mahu pun setelah meninggal dunia. Ini dilihat dari firman Allah s.w.t. yang maksudnya,
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (al-Isra’, 17: 24-25)
“Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku petunjuk untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (an-Naml, 27: 19)
Juga melalui hadis Nabi s.a.w., kita dikhabarkan bahawa doa dan amalan anak-anak yang sholeh itu sentiasa memberi kesan yang baik kepada kedua orang tuanya walaupun orang tuanya telah meninggal dunia.
“Apabila seseorang manusia itu mati, terputuslah daripadanya segala amalan melainkan tiga perkara: 1 – Sedekah Jariah, 2 – Ilmu yang bermanfaat, dan 3 – Anak soleh yang mendoakannya.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Wasiat, Hadis no. 14. Dan Abu Daud, Kitab Wasiat, no. 3880)
Penutup Dan Kesimpulan
Ketika menyambut kelahiran orang baru (bayi), agama kita agama Islam memiliki ciri-ciri yang istimewa beradasarkan contoh daripada sunnah untuk dilaksanakan dan dipraktikkan. Ianya selain berupa bentuk sebagai tanggungjawab, ia juga sebenarnya merupakan suatu amalan yang berbentuk ibadah yang bertujuan mencari keredhaan Allah dalam menerima kurniaan anugerah-Nya melalui anak yang diberi. Praktik amalan tersebut secara ringkas dapatlah disimpulkan sebagaimana berikut,
1 – Melahirkan si anak dengan baik.
2 – Mentahnik.
3 – Mendoakan Kebaikan.
4 – Melaksanakan ‘aqiqah dan mencukur keseluruhan rambutnya.
5 – Memberikan nama kepada anak yang dilahirkan.
6 – Mengkhatankan-nya.
7 – Memelihara, menjaga, menyusukan, dan memberikan nafkah.
Saturday, September 3, 2011
Meletakkan Sutrah (Penghadang) Ketika Solat
Meletakkan Sutrah (Penghadang) Ketika Solat
Definisi Sutrah
Sutrah adalah suatu yang diletakkan di hadapan orang yang solat setinggi kira-kira pelana unta. Ini adalah berdasarkan suatu hadis dari Abu Musa bin Talhah dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.) pernah bersabda,
“Apabila salah seorang kamu sudah meletakkan sesuatu setinggi pelana unta di hadapannya maka solatlah dan jangan pedulikan siapa saja yang melintas di sebalik sutrah tersebut”.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat, no. 499)
Hukum Meletakkan Sutrah
Sebahagian ulama menyatakan bahawa hukum meletakkan sutrah adalah sunnah, sebahagiannya menyatakan sebagai sunnah yang sangat-sangat dituntut, manakala sebahagian lagi menyatakan sebagai wajib. Ini adalah antaranya berdasarkan kepada dalil hadis sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu (r.a.), ia berkata: “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, “Janganlah kamu solat kecuali memasang (meletakkan) sutrah dan jangan biarkan seorangpun melintas di hadapanmu. Apabila ia tetap berkeras, maka lawanlah dia kerana dia ditemani syaitan”.” (Hadis Riwayat Ibnu Khuzaimah, no. 820)
Dari Abu Dzarr r.a., dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian sedang mengerjakan solat, sesungguhnya dia telah memiliki batasan (sutrah) jika di hadapannya terdapat suatu penghadang seperti pelana unta (sekedup). Jika di hadapannya tidak terdapat sesuatu seperti itu, solatnya akan terputus jika dilintasi oleh keldai, wanita, dan anjing hitam. Aku berkata, “Wahai Abu Dzarr, apa perbezaan antara anjing hitam dengan anjing merah atau kuning?” Ia menjawab, “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau tanyakan ini juga pernah aku tanyakan kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau menjawab, “Anjing hitam itu adalah syaitan”.”” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat, no. 510)
Dari hadis ini dapat diambil kesimpulan hukum bahawa solat seseorang muslim sudah dianggap sah walaupun tanpa sutrah. Hanya saja solat tersebut akan batal apabila berlaku tiga hal seperti yang dinyatakan oleh hadis tersebut. Maka, sutrah bukanlah syarat sah solat. (Rujuk: Ensiklopedi Tarjih, m/s. 224)
Bagi yang sengaja mengerjakan solat tanpa sutrah dan tanpa ada uzur syar’i maka solatnya tetap sah. Kecuali jika seorang perempuan berhaid (yang baligh), atau keldai, atau anjing hitam melintasi hadapannya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis tersebut, ia menunjukkan bahawasanya seseorang yang solat tanpa sutrah maka solatnya sah. Hanya dikhuwatirkan nilai solatnya berkurang atau mungkin mengakibatkan batalnya solat jika tiga hal di atas melintas. Bukanlah membawa erti solat orang tersebut batal terus. (Ensiklopedi Tarjih, m/s. 225)
Tuntutan Meletakkan Sutrah
Sebenarnya sangat banyak hadis-hadis yang menekankan penggunaan (peletakkan) sutrah (penghadang) ketika solat. Dan apa yang sewajarnya kita ambil dari hal ini, adalah mengikuti sunnah, sebagaimana termaktub dalam suatu hadis berkenaan solat,
Nabi s.a.w. bersabda, “Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku bersolat..” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Azan, no. 604. Lihat juga Irwau’ul Ghalil oleh Sheikh al-Albani, hadis no. 213)
Begitulah kita melaksanakan ibadah, ittiba’ (mengikuti) apa yang dipraktikkan dan ditunjukkan oleh baginda Nabi s.a.w.
Menurut Sheikh al-Albani di dalam Kitabnya, Sifat Solat Nabi... dalam bab ini,
“Sutrah dalam solat menjadi kewajiban imam dan orang yang solat sendirian, sekalipun di dalam masjid besar. Demikianlah pendapat Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il, dari imam Ahmad. Ujarnya: “Pada suatu hari saya solat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan solat di dalam masjid Jami’. Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, “Pasanglah (letaklah) sesuatu sebagai sutrahmu!” Aku pun memasang (menjadikan) seseorang untuk menjadi sutrah (solatku).” Kejadian ini merupakan isyarat dari imam Ahmad bahawa orang yang solat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di hadapannya. Pendapat inilah yang benar, namun kebanyakan tempat telah mengabaikan hal ini...” (Rujuk: Sifat Solat Nabi, 95)
Bolehnya (Suruhan) Menolak Orang Yang Melintas
Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., dia bercerita: “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan solat dengan menghadap sesuatu yang membatasinya (sutrah) dari orang lain lalu dan kemudiannya ada seseorang yang hendak melintasi (dalam kawasan antara tempat berdiri dengan sutrah) hendaklah kalian menghalangnya dan jika dia berkeras, hendaklah kalian menyerangnya kerana sesungguhnya dia itu syaitan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Solat, no. 509. Muslim, Kitab Solat, no. 505)
Kedudukan (Posisi) Sutrah
1 – Diletakkan di hadapan. Atau pun benda yang menjadi sutrah itu mestilah berada di hadapan.
2 – Tingginya adalah setinggi lebih kurang setinggi pelana unta (sekurang-kurangnya).
3 – Jaraknya dari tempat sujud adalah sekadar lebih kurang mencukupi laluan seekor anak kambing. Ini adalah berdasarkan hadis berikut,
Daripada sahl bin Sa’d, “Jarak di antara tempat sujud Rasulullah dengan sutrah adalah sekira-kira mencukupi untuk laluan seekor anak kambing.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 475)
Cukup Dengan Satu Sutrah Bagi Satu Solat Jema’ah
Daripada Ibnu ‘Umar, “Apabila Rasulullah keluar untuk melaksanakan Solat ‘Ied, dia memesan supaya membawa tombak dan ia diletakkan (ditancapkan) di hadapan tempat solat, dan beliau solat dengan menghadap ke arah posisi tersebut manakala para makmum di belakang beliau.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat, no. 1010)
Berdasarkan hadis ini dan beberapa hadis yang lain seumpamanya, menunjukkan bahawa sutrah untuk imam adalah memadai buat makmum lain di belakangnya.
Antara Benda (Objek) Yang Dijadikan Sutrah Di Dalam Hadis
1 – Manusia yang sedang diam/duduk.
2 – Unta (haiwan tunggangan).
3 – Lembing/Tombak.
4 – Pelana unta (sekedup).
5 – Dinding.
6 – Pokok.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Definisi Sutrah
Sutrah adalah suatu yang diletakkan di hadapan orang yang solat setinggi kira-kira pelana unta. Ini adalah berdasarkan suatu hadis dari Abu Musa bin Talhah dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.) pernah bersabda,
“Apabila salah seorang kamu sudah meletakkan sesuatu setinggi pelana unta di hadapannya maka solatlah dan jangan pedulikan siapa saja yang melintas di sebalik sutrah tersebut”.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat, no. 499)
Hukum Meletakkan Sutrah
Sebahagian ulama menyatakan bahawa hukum meletakkan sutrah adalah sunnah, sebahagiannya menyatakan sebagai sunnah yang sangat-sangat dituntut, manakala sebahagian lagi menyatakan sebagai wajib. Ini adalah antaranya berdasarkan kepada dalil hadis sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu (r.a.), ia berkata: “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, “Janganlah kamu solat kecuali memasang (meletakkan) sutrah dan jangan biarkan seorangpun melintas di hadapanmu. Apabila ia tetap berkeras, maka lawanlah dia kerana dia ditemani syaitan”.” (Hadis Riwayat Ibnu Khuzaimah, no. 820)
Dari Abu Dzarr r.a., dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian sedang mengerjakan solat, sesungguhnya dia telah memiliki batasan (sutrah) jika di hadapannya terdapat suatu penghadang seperti pelana unta (sekedup). Jika di hadapannya tidak terdapat sesuatu seperti itu, solatnya akan terputus jika dilintasi oleh keldai, wanita, dan anjing hitam. Aku berkata, “Wahai Abu Dzarr, apa perbezaan antara anjing hitam dengan anjing merah atau kuning?” Ia menjawab, “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau tanyakan ini juga pernah aku tanyakan kepada Rasulullah s.a.w. dan beliau menjawab, “Anjing hitam itu adalah syaitan”.”” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat, no. 510)
Dari hadis ini dapat diambil kesimpulan hukum bahawa solat seseorang muslim sudah dianggap sah walaupun tanpa sutrah. Hanya saja solat tersebut akan batal apabila berlaku tiga hal seperti yang dinyatakan oleh hadis tersebut. Maka, sutrah bukanlah syarat sah solat. (Rujuk: Ensiklopedi Tarjih, m/s. 224)
Bagi yang sengaja mengerjakan solat tanpa sutrah dan tanpa ada uzur syar’i maka solatnya tetap sah. Kecuali jika seorang perempuan berhaid (yang baligh), atau keldai, atau anjing hitam melintasi hadapannya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis tersebut, ia menunjukkan bahawasanya seseorang yang solat tanpa sutrah maka solatnya sah. Hanya dikhuwatirkan nilai solatnya berkurang atau mungkin mengakibatkan batalnya solat jika tiga hal di atas melintas. Bukanlah membawa erti solat orang tersebut batal terus. (Ensiklopedi Tarjih, m/s. 225)
Tuntutan Meletakkan Sutrah
Sebenarnya sangat banyak hadis-hadis yang menekankan penggunaan (peletakkan) sutrah (penghadang) ketika solat. Dan apa yang sewajarnya kita ambil dari hal ini, adalah mengikuti sunnah, sebagaimana termaktub dalam suatu hadis berkenaan solat,
Nabi s.a.w. bersabda, “Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku bersolat..” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Azan, no. 604. Lihat juga Irwau’ul Ghalil oleh Sheikh al-Albani, hadis no. 213)
Begitulah kita melaksanakan ibadah, ittiba’ (mengikuti) apa yang dipraktikkan dan ditunjukkan oleh baginda Nabi s.a.w.
Menurut Sheikh al-Albani di dalam Kitabnya, Sifat Solat Nabi... dalam bab ini,
“Sutrah dalam solat menjadi kewajiban imam dan orang yang solat sendirian, sekalipun di dalam masjid besar. Demikianlah pendapat Ibnu Hani’ dalam Kitab Masa’il, dari imam Ahmad. Ujarnya: “Pada suatu hari saya solat tanpa memasang sutrah di depan saya, padahal saya melakukan solat di dalam masjid Jami’. Imam Ahmad melihat kejadian ini, lalu berkata kepada saya, “Pasanglah (letaklah) sesuatu sebagai sutrahmu!” Aku pun memasang (menjadikan) seseorang untuk menjadi sutrah (solatku).” Kejadian ini merupakan isyarat dari imam Ahmad bahawa orang yang solat di masjid besar atau masjid kecil tetap berkewajiban memasang sutrah di hadapannya. Pendapat inilah yang benar, namun kebanyakan tempat telah mengabaikan hal ini...” (Rujuk: Sifat Solat Nabi, 95)
Bolehnya (Suruhan) Menolak Orang Yang Melintas
Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., dia bercerita: “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan solat dengan menghadap sesuatu yang membatasinya (sutrah) dari orang lain lalu dan kemudiannya ada seseorang yang hendak melintasi (dalam kawasan antara tempat berdiri dengan sutrah) hendaklah kalian menghalangnya dan jika dia berkeras, hendaklah kalian menyerangnya kerana sesungguhnya dia itu syaitan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Solat, no. 509. Muslim, Kitab Solat, no. 505)
Kedudukan (Posisi) Sutrah
1 – Diletakkan di hadapan. Atau pun benda yang menjadi sutrah itu mestilah berada di hadapan.
2 – Tingginya adalah setinggi lebih kurang setinggi pelana unta (sekurang-kurangnya).
3 – Jaraknya dari tempat sujud adalah sekadar lebih kurang mencukupi laluan seekor anak kambing. Ini adalah berdasarkan hadis berikut,
Daripada sahl bin Sa’d, “Jarak di antara tempat sujud Rasulullah dengan sutrah adalah sekira-kira mencukupi untuk laluan seekor anak kambing.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 475)
Cukup Dengan Satu Sutrah Bagi Satu Solat Jema’ah
Daripada Ibnu ‘Umar, “Apabila Rasulullah keluar untuk melaksanakan Solat ‘Ied, dia memesan supaya membawa tombak dan ia diletakkan (ditancapkan) di hadapan tempat solat, dan beliau solat dengan menghadap ke arah posisi tersebut manakala para makmum di belakang beliau.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat, no. 1010)
Berdasarkan hadis ini dan beberapa hadis yang lain seumpamanya, menunjukkan bahawa sutrah untuk imam adalah memadai buat makmum lain di belakangnya.
Antara Benda (Objek) Yang Dijadikan Sutrah Di Dalam Hadis
1 – Manusia yang sedang diam/duduk.
2 – Unta (haiwan tunggangan).
3 – Lembing/Tombak.
4 – Pelana unta (sekedup).
5 – Dinding.
6 – Pokok.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Meletakkan Tangan (Bersedekap) Di Atas Dada Ketika Qiyam Solat
Meletakkan Tangan (Bersedekap) Di Atas Dada Ketika Qiyam Solat
Perintah Bersedekap Dan Meletakkan Tangan Di Dada
1 - Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata:
“Orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas lengan kirinya dalam solat.” (Hadis Riwayat oleh Malik di dalam Kitab al-Muwaththa’, 1/174. Darinya diriwayatkan juga oleh al-Bukhari, 2/178. Juga diriwayatkan oleh Imam Muhammad dalam al-Muwaththa’, 156. Ahmad, 5/336. Dan al-Baihaqi, 2/28)
“Suatu ketika, Nabi pernah melewati seseorang yang sedang solat, tetapi orang ini meletakkan tangan kirinya pada tangan kanannya (tangan kiri menggenggam tangan kanan, ed.), lalu beliau s.a.w. meleraikannya, kemudian orang itu meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya.” (Hadis Riwayat Ahmad, dan Abu Daud dengan sanad yang sahih. Lihat dalam kitab Sifat Solat Nabi, oleh Sheikh al-Albani)
2 – Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu (r.a.), dia mengatakan bahawa aku pernah mendengar Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.) bersabda:
“Sesungguhnya kami, golongan para Nabi, telah diperintahkan untuk menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam solat.” (Hadis Riwayat Ibnu Hibban di dalam kitab Shahiihnya, 885 – Mawaarid. Ath-Thabrani di dalam kitab Mu’jam al-Kabir, 10851, dan al-Ausath, 1/10-11. Dan dari keduanya diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi di dalam kitab al-Mukhtaarah, 63/10/2)
Menurut Sheikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, hadis ini sahih bertepatan dengan syarat Muslim dan dinilai sahih oleh as-Suyuti di dalam kitab Tanwiir al-Hawaalik, 1/174.
3 – Dari Thawus, dia berkata:
“Rasulullah s.a.w. biasa meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya lalu menekankan keduanya pada dadanya ketika beliau sedang solat.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, 1/121, dengan sanad yang jayyid. Menurut Sheikh al-albani, walaupun hadis ini mursal, namun ia adalah hujjah bagi semua orang. Malah jumhur ulama berhujjah dengan hadis mursal. Adapun yang tidak berhujjah dengannya kecuali jika diriwayatkan secara maushul atau yang memiliki atau memiliki beberapa syahid (penguat), itulah yang benar. Dan hadis ini sendiri memiliki syahid)
Dari Wa’il bin Hujr:
“Bahawasanya dia melihat Nabi s.a.w. meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya dan kemudian meletakkan keduanya pada dadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Kitab Shahiihnya, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Nashbur Raayah, 1/314. Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi di dalam kitab Sunannya, 2/30 melalui dua jalan yang masing-masing saling memperkuat yang lainnya)
Dari Qabishah bin Hulb, dari ayahnya, dia bercerita:
“Aku pernah menyaksikan Nabi s.a.w. berpaling ke kanan dan ke kiri. Aku juga menyaksikan beliau meletakkan yang ini di atas dadanya. Yahya (Ibnu Sa’ad) menjelaskan peletakkan tangan kanan pada tangan kiri di atas pergelangan tangan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, 5/226, dengan sanad yang para perawinya tsiqah, termasuk perawi Muslim selain Qabishah ini. Al-Ijli dan Ibnu Hibban telah menilainya tsiqah, tetapi tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Simak bin Harb. Ibnu al-Madini dan an-Nasa’i berkata, “Majhul (tidak dikenali)”, sedangkan di dalam kitab at-Taqriib disebutkan bahawa dia berstatus maqbul)
Menurut Sheikh al-Albani, “Hadis seperti ini termasuk hadis hasan jika disertai syawahid. Oleh kerana itu, setelah men-takhrij untuknya dari hadis tentang pemegangan tangan kiri dngan tangan kanan ini, at-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan”. Adapun peletakan tangan di bawah pusat, menurut kefahamanku, hal tersebut adalah dhaif, sebagaimana yang diungkapkan oleh an-Nawawi, az-Zaila’i, dan yang lainnya.” (Rujuk: Ahkamul Janaiz wa Bid’a’uha, m/s. 269)
Kesimpulan:
1 – Cara bersedekap adalah dengan cara tangan kanan menggenggam tanga kiri pada tempat pergelangan atau pun lengan.
2 – Jari-jari tangan kanan pada keadaan menggenggam tangan kiri pada tempat pergelangan tangan atau lengan kiri.
3 – Kedudukan sedekap (tangan kanan yang menggenggam tangan kiri) adalah diletakkan pada bahagian dada.
Menurut Sheikh Ibnu al-Utsaimin, “Itulah dua cara yang tersebut, iaitu yang pertama penggenggaman (tangan kanan menggenggam tangan kiri) dan yang kedua adalah perletakan (di dada).” (Lihat: Kitab asy-Syarhul Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’, 3/193, oleh Sheikh Muhammad Sholeh al-‘Utsaimin)
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/
Perintah Bersedekap Dan Meletakkan Tangan Di Dada
1 - Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata:
“Orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas lengan kirinya dalam solat.” (Hadis Riwayat oleh Malik di dalam Kitab al-Muwaththa’, 1/174. Darinya diriwayatkan juga oleh al-Bukhari, 2/178. Juga diriwayatkan oleh Imam Muhammad dalam al-Muwaththa’, 156. Ahmad, 5/336. Dan al-Baihaqi, 2/28)
“Suatu ketika, Nabi pernah melewati seseorang yang sedang solat, tetapi orang ini meletakkan tangan kirinya pada tangan kanannya (tangan kiri menggenggam tangan kanan, ed.), lalu beliau s.a.w. meleraikannya, kemudian orang itu meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya.” (Hadis Riwayat Ahmad, dan Abu Daud dengan sanad yang sahih. Lihat dalam kitab Sifat Solat Nabi, oleh Sheikh al-Albani)
2 – Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu (r.a.), dia mengatakan bahawa aku pernah mendengar Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam (s.a.w.) bersabda:
“Sesungguhnya kami, golongan para Nabi, telah diperintahkan untuk menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam solat.” (Hadis Riwayat Ibnu Hibban di dalam kitab Shahiihnya, 885 – Mawaarid. Ath-Thabrani di dalam kitab Mu’jam al-Kabir, 10851, dan al-Ausath, 1/10-11. Dan dari keduanya diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi di dalam kitab al-Mukhtaarah, 63/10/2)
Menurut Sheikh Muhammad Nasiruddin al-Albani, hadis ini sahih bertepatan dengan syarat Muslim dan dinilai sahih oleh as-Suyuti di dalam kitab Tanwiir al-Hawaalik, 1/174.
3 – Dari Thawus, dia berkata:
“Rasulullah s.a.w. biasa meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya lalu menekankan keduanya pada dadanya ketika beliau sedang solat.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, 1/121, dengan sanad yang jayyid. Menurut Sheikh al-albani, walaupun hadis ini mursal, namun ia adalah hujjah bagi semua orang. Malah jumhur ulama berhujjah dengan hadis mursal. Adapun yang tidak berhujjah dengannya kecuali jika diriwayatkan secara maushul atau yang memiliki atau memiliki beberapa syahid (penguat), itulah yang benar. Dan hadis ini sendiri memiliki syahid)
Dari Wa’il bin Hujr:
“Bahawasanya dia melihat Nabi s.a.w. meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya dan kemudian meletakkan keduanya pada dadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Kitab Shahiihnya, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Nashbur Raayah, 1/314. Diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi di dalam kitab Sunannya, 2/30 melalui dua jalan yang masing-masing saling memperkuat yang lainnya)
Dari Qabishah bin Hulb, dari ayahnya, dia bercerita:
“Aku pernah menyaksikan Nabi s.a.w. berpaling ke kanan dan ke kiri. Aku juga menyaksikan beliau meletakkan yang ini di atas dadanya. Yahya (Ibnu Sa’ad) menjelaskan peletakkan tangan kanan pada tangan kiri di atas pergelangan tangan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, 5/226, dengan sanad yang para perawinya tsiqah, termasuk perawi Muslim selain Qabishah ini. Al-Ijli dan Ibnu Hibban telah menilainya tsiqah, tetapi tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Simak bin Harb. Ibnu al-Madini dan an-Nasa’i berkata, “Majhul (tidak dikenali)”, sedangkan di dalam kitab at-Taqriib disebutkan bahawa dia berstatus maqbul)
Menurut Sheikh al-Albani, “Hadis seperti ini termasuk hadis hasan jika disertai syawahid. Oleh kerana itu, setelah men-takhrij untuknya dari hadis tentang pemegangan tangan kiri dngan tangan kanan ini, at-Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan”. Adapun peletakan tangan di bawah pusat, menurut kefahamanku, hal tersebut adalah dhaif, sebagaimana yang diungkapkan oleh an-Nawawi, az-Zaila’i, dan yang lainnya.” (Rujuk: Ahkamul Janaiz wa Bid’a’uha, m/s. 269)
Kesimpulan:
1 – Cara bersedekap adalah dengan cara tangan kanan menggenggam tanga kiri pada tempat pergelangan atau pun lengan.
2 – Jari-jari tangan kanan pada keadaan menggenggam tangan kiri pada tempat pergelangan tangan atau lengan kiri.
3 – Kedudukan sedekap (tangan kanan yang menggenggam tangan kiri) adalah diletakkan pada bahagian dada.
Menurut Sheikh Ibnu al-Utsaimin, “Itulah dua cara yang tersebut, iaitu yang pertama penggenggaman (tangan kanan menggenggam tangan kiri) dan yang kedua adalah perletakan (di dada).” (Lihat: Kitab asy-Syarhul Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’, 3/193, oleh Sheikh Muhammad Sholeh al-‘Utsaimin)
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/
SHOLAT TAHIYATUL MASJID
Solat Tahiyatul Masjid
Hukum Solat Tahiyatul Masjid
“Jika salah seorang dari kamu memasuki masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan solat dua rakaat.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Solat, no. 444. Muslim, Kitab Musafir & Qasarnya, no. 714)
Dari Jabir bin ‘Abdillah r.a., dia menyatakan: “Sulaik al-Ghifani pernah datang pada hari Jumaat ketika Rasulullah s.a.w. sedang menyampaikan khutbah lalu dia terus duduk. Beliau s.a.w. pun berkata kepadanya:
“Wahai Sulaik, berdiri dan ruku’lah dua rakaat serta pendekkanlah dalam melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jumaat ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat dengan seringkasnya”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, no. 930)
Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan, “Jika salah seorang di antara kamu memasuki masjid, hendaklah dia tidak duduk hingga mengerjakan solat dua rakaat.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab at-Tahajjud, no. 1163)
Bentuk perintah dalam hadis-hadis tersebut secara zahirnya menunjukkan wajib, dan larangan meninggalkannya apabila memasuki masjid. Jumhur ulama, termasuk Ibnu Hazm, berpendapat bahawa perintah dalam hadis tersebut dipalingkan kepada hukum anjuran, berdasarkan sejumlah dalil.
Menurut Dr. Sa’id Wahf al-Qahthani, “Yang paling tepat adalah sunnah mu’akkad, demikian itu pendapat jumhur.” (Ensiklopedi Solat, jil. 1, 513)
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan: “Di dalamnya terkandung pengertian disunnahkan melaksanakannya, yang ia bersifat sunnah menurut kesepakatan kaum muslimin. Di dalamnya juga terkandung pengertian disunnahkan memberi penghormatan (Tahiyat) kepada masjid setiap kali memasukinya.” (Syarhun Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, 5/233)
Masuk Masjid Ketika Iqamah Solat Sudah/Sedang Dikumandangkan
Jika seseorang memasuki masjid ketika iqamah solat sedang atau sudah dikumandangkan, hendaklah dia masuk menyertai solat yang sedang didirikan itu kerana telah gugur baginya solat Tahiyatul Masjid dua rakaat.
Hal ini adalah berdasarkan hadis berikut:
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Jika iqamah solat sudah dikumandangkan, tidak ada solat lagi, kecuali solat wajib.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat Musafir & Qasarnya, no. 710)
Memasuki Masjid Ketika Imam/Khatib Berkhutbah
Dari Jabir bin ‘Abdillah r.a., dia menyatakan: “Sulaik al-Ghifani pernah datang pada hari Jumaat ketika Rasulullah s.a.w. sedang menyampaikan khutbah lalu dia terus duduk. Beliau s.a.w. pun berkata kepadanya:
“Wahai Sulaik, berdiri dan ruku’lah dua rakaat serta pendekkanlah dalam melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jumaat ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat dengan seringkasnya”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, no. 930)
Berdasarkan hadis ini, jika seorang muslim memasuki masjid ketika imam sedang menyampaikan khutbah Jumaat, hendaklah dia tidak duduk sebelum mengerjakan solat Tahiyatul Masjid dua rakaat dengan meringankannya.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/
Hukum Solat Tahiyatul Masjid
“Jika salah seorang dari kamu memasuki masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan solat dua rakaat.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab Solat, no. 444. Muslim, Kitab Musafir & Qasarnya, no. 714)
Dari Jabir bin ‘Abdillah r.a., dia menyatakan: “Sulaik al-Ghifani pernah datang pada hari Jumaat ketika Rasulullah s.a.w. sedang menyampaikan khutbah lalu dia terus duduk. Beliau s.a.w. pun berkata kepadanya:
“Wahai Sulaik, berdiri dan ruku’lah dua rakaat serta pendekkanlah dalam melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jumaat ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat dengan seringkasnya”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, no. 930)
Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan, “Jika salah seorang di antara kamu memasuki masjid, hendaklah dia tidak duduk hingga mengerjakan solat dua rakaat.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab at-Tahajjud, no. 1163)
Bentuk perintah dalam hadis-hadis tersebut secara zahirnya menunjukkan wajib, dan larangan meninggalkannya apabila memasuki masjid. Jumhur ulama, termasuk Ibnu Hazm, berpendapat bahawa perintah dalam hadis tersebut dipalingkan kepada hukum anjuran, berdasarkan sejumlah dalil.
Menurut Dr. Sa’id Wahf al-Qahthani, “Yang paling tepat adalah sunnah mu’akkad, demikian itu pendapat jumhur.” (Ensiklopedi Solat, jil. 1, 513)
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan: “Di dalamnya terkandung pengertian disunnahkan melaksanakannya, yang ia bersifat sunnah menurut kesepakatan kaum muslimin. Di dalamnya juga terkandung pengertian disunnahkan memberi penghormatan (Tahiyat) kepada masjid setiap kali memasukinya.” (Syarhun Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, 5/233)
Masuk Masjid Ketika Iqamah Solat Sudah/Sedang Dikumandangkan
Jika seseorang memasuki masjid ketika iqamah solat sedang atau sudah dikumandangkan, hendaklah dia masuk menyertai solat yang sedang didirikan itu kerana telah gugur baginya solat Tahiyatul Masjid dua rakaat.
Hal ini adalah berdasarkan hadis berikut:
Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “Jika iqamah solat sudah dikumandangkan, tidak ada solat lagi, kecuali solat wajib.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat Musafir & Qasarnya, no. 710)
Memasuki Masjid Ketika Imam/Khatib Berkhutbah
Dari Jabir bin ‘Abdillah r.a., dia menyatakan: “Sulaik al-Ghifani pernah datang pada hari Jumaat ketika Rasulullah s.a.w. sedang menyampaikan khutbah lalu dia terus duduk. Beliau s.a.w. pun berkata kepadanya:
“Wahai Sulaik, berdiri dan ruku’lah dua rakaat serta pendekkanlah dalam melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jumaat ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat dengan seringkasnya”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, no. 930)
Berdasarkan hadis ini, jika seorang muslim memasuki masjid ketika imam sedang menyampaikan khutbah Jumaat, hendaklah dia tidak duduk sebelum mengerjakan solat Tahiyatul Masjid dua rakaat dengan meringankannya.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/
SHOLAT SUNNAH TAUBAT
Solat Sunnah Taubat
Kita sebagai manusia biasa tidak terlepas daripada melakukan pelbagai kesilapan. Dan adakalanya mungkin terjerumus ke dalam persoalan yang dilarang, yang mengakibatkan dosa, atau perkara yang dibenci oleh Allah s.w.t. Oleh itu Allah s.w.t. dengan sikapnya yang Maha Pengasih, dan Maha Pengampun sentiasa memberikan ruang kepada hambanya untuk kembali kepada fitrah dan membersihkan diri dari pelbagai kesilapan, ketergelinciran dan kesalahan.
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Surah Ali Imran, 3: 131)
Antara cara dan kaedah memelihara diri daripada ancaman api neraka Allah, menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di di dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut adalah:
“Dengan cara meninggalkan hal-hal yang menjerumuskan ke dalamnya, berupa kekufuran dan kemaksiatan khususnya kemaksiatan yang besar, yang akan mengheret kepada kekufuran, bahkan ia merupakan sifat dari kekufuran yang telah Allah siapkan neraka bagi pelaku-pelakunya.
Maka meninggalkan kemaksiatan akan menyelamatkan dari api neraka dan menjaga diri dari kemurkaan Yang Mahakuasa. Sedang perbuatan-perbuatan yang baik dan berbentuk ketaatan membuahkan redha Allah, ganjaran Syurga, dan memperolehi rahmat.” (Tafsir as-Sa’di, jil. 1, m/s. 545)
Di dalam ayat yang lain, Allah s.w.t. berfirman:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3: 135)
Dalam menafsirkan surah Ali Imran ayat 135, Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di menyatakan, “Telah terjadi perbuatan-perbuatan buruk yang besar atau yang kecil yang dilakukan oleh mereka, lalu mereka segera bertaubat dan meminta ampunan, mereka mengingat Rabb mereka dan ancaman-Nya bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka mereka memohon ampunan pada-Nya atas dosa-dosa mereka itu, menutup aib-aib mereka, di samping mereka meninggalkan hingga akar-akarnya dan menyesal atasnya. Kerana itulah Allah berfirman, Maksudnya: “dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.” (Tafsir as-Sa’di, jil. 1, m/s. 547-548)
Oleh itu, antara cara untuk memulakan taubat adalah pertamanya dengan segera meninggalkan perbuatan keji/maksiat yang tersebut dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Dianjurkan juga untuk melaksanakan solat sunnah taubah/taubat. Sebagaimana menurut ke-empat-empat mazhab, solat sunnah atas sebab bertaubat dari dosa adalah dianjurkan. (Rujuk Ibnu ‘Abidin, 1/462, ad-Dasuqi, 1/314, Asna al-Muthakib, dan Kasyaf al-Qanna’, 1/443. Dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jil. 2, m/s. 95)
Hal ini, adalah sebagaimana berdasarkan hadis berikut:
Dari Asma’ bin al-Hakam al-Fazari, dia menjelaskan: Aku pernah mendengar ‘Ali r.a. berkata: “sesungguhnya aku adalah seorang yang jika mendengar sebuah hadis dari Rasulullah, Allah akan memberiku manfaat dari hadis tersebut bersesuaian dengan kehendak-Nya. Jika ada seseorang dari sahabatnya menyampaikan hadis, aku akan memintanya bersumpah. Jika dia mahu bersumpah kepadaku, aku akan membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dia menyatakan dia pernah mendengar Rasulullah bersabda, (Maksudnya): “Tidaklah seseorang melakukan sesuatu perbuatan dosa lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci kemudian mengerjakan solat dan memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya. Kemudian beliau membaca ayat (Maksudnya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3: 135)”.” (Diriwayatkan oleh at-Timidzi dalam Kitab Solat, no. 406. Abu Daud, Kitab al-Witr, no. 1521. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Kitab Shahihnya, 2/389-390. Dinilai Sahih oleh Sheikh al-Albani di dalam Kitab Shahih Sunan Abi Daud, 1/283)
Menurut Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Solat taubat ini boleh dilakukan/dilaksanakan bila-bila masa sahaja, walaupun di dalam waktu-waktu yang dilarang mengerjakan solat, kerana taubat ini adalah wajib dilakukan dengan segera, dan pelakunya disunnahkan (dituntut) untuk mengerjakan (solat) dua rakaat.” (Fatawa Sheikhul Islam, 23/215)
Kesimpulan:
Maka, bagi mereka yang bertaubat atau ingin bertaubat, dianjurkan (disunnahkan) untuk melaksanakan sebagaimana yang ditunjukkan melalui hadis tersebut, iaitu dengan melakukan solat sunnah sebanyak dua rakaat dan kemudiannya memohon keampunan kepada Allah.
Wallahu a’lam...
Rujukan:
1 – Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an & Sunnah (Judul Asli: Sholaatul Mu’min Mafhuum wa Fadhaa’il wa Adab wa Anwaa’ wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitab was Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
2 – Shahih Fiqih Sunnah (Judul Asli: Shahih fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Mazahib al-A’immah, oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim), Terbitan Pustaka at-Tazkia.
3 – Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah s.a.w. (Judul Asli: Bughyatul Mutathawwi’ fii Shalaatit Tathawwu’, oleh Sheikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
4 – Tafsir as-Sa’di (Judul Asli: Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, oleh Sheikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di), Terbitan Pustaka Sahifa.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Kita sebagai manusia biasa tidak terlepas daripada melakukan pelbagai kesilapan. Dan adakalanya mungkin terjerumus ke dalam persoalan yang dilarang, yang mengakibatkan dosa, atau perkara yang dibenci oleh Allah s.w.t. Oleh itu Allah s.w.t. dengan sikapnya yang Maha Pengasih, dan Maha Pengampun sentiasa memberikan ruang kepada hambanya untuk kembali kepada fitrah dan membersihkan diri dari pelbagai kesilapan, ketergelinciran dan kesalahan.
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Surah Ali Imran, 3: 131)
Antara cara dan kaedah memelihara diri daripada ancaman api neraka Allah, menurut Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di di dalam tafsirnya terhadap ayat tersebut adalah:
“Dengan cara meninggalkan hal-hal yang menjerumuskan ke dalamnya, berupa kekufuran dan kemaksiatan khususnya kemaksiatan yang besar, yang akan mengheret kepada kekufuran, bahkan ia merupakan sifat dari kekufuran yang telah Allah siapkan neraka bagi pelaku-pelakunya.
Maka meninggalkan kemaksiatan akan menyelamatkan dari api neraka dan menjaga diri dari kemurkaan Yang Mahakuasa. Sedang perbuatan-perbuatan yang baik dan berbentuk ketaatan membuahkan redha Allah, ganjaran Syurga, dan memperolehi rahmat.” (Tafsir as-Sa’di, jil. 1, m/s. 545)
Di dalam ayat yang lain, Allah s.w.t. berfirman:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3: 135)
Dalam menafsirkan surah Ali Imran ayat 135, Sheikh Abdur Rahman as-Sa’di menyatakan, “Telah terjadi perbuatan-perbuatan buruk yang besar atau yang kecil yang dilakukan oleh mereka, lalu mereka segera bertaubat dan meminta ampunan, mereka mengingat Rabb mereka dan ancaman-Nya bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka mereka memohon ampunan pada-Nya atas dosa-dosa mereka itu, menutup aib-aib mereka, di samping mereka meninggalkan hingga akar-akarnya dan menyesal atasnya. Kerana itulah Allah berfirman, Maksudnya: “dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.” (Tafsir as-Sa’di, jil. 1, m/s. 547-548)
Oleh itu, antara cara untuk memulakan taubat adalah pertamanya dengan segera meninggalkan perbuatan keji/maksiat yang tersebut dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Dianjurkan juga untuk melaksanakan solat sunnah taubah/taubat. Sebagaimana menurut ke-empat-empat mazhab, solat sunnah atas sebab bertaubat dari dosa adalah dianjurkan. (Rujuk Ibnu ‘Abidin, 1/462, ad-Dasuqi, 1/314, Asna al-Muthakib, dan Kasyaf al-Qanna’, 1/443. Dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, jil. 2, m/s. 95)
Hal ini, adalah sebagaimana berdasarkan hadis berikut:
Dari Asma’ bin al-Hakam al-Fazari, dia menjelaskan: Aku pernah mendengar ‘Ali r.a. berkata: “sesungguhnya aku adalah seorang yang jika mendengar sebuah hadis dari Rasulullah, Allah akan memberiku manfaat dari hadis tersebut bersesuaian dengan kehendak-Nya. Jika ada seseorang dari sahabatnya menyampaikan hadis, aku akan memintanya bersumpah. Jika dia mahu bersumpah kepadaku, aku akan membenarkannya. Sesungguhnya Abu Bakar telah memberitahuku, dia menyatakan dia pernah mendengar Rasulullah bersabda, (Maksudnya): “Tidaklah seseorang melakukan sesuatu perbuatan dosa lalu dia bangun (bangkit) dan bersuci kemudian mengerjakan solat dan memohon ampunan kepada Allah, melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya. Kemudian beliau membaca ayat (Maksudnya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3: 135)”.” (Diriwayatkan oleh at-Timidzi dalam Kitab Solat, no. 406. Abu Daud, Kitab al-Witr, no. 1521. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Kitab Shahihnya, 2/389-390. Dinilai Sahih oleh Sheikh al-Albani di dalam Kitab Shahih Sunan Abi Daud, 1/283)
Menurut Sheikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Solat taubat ini boleh dilakukan/dilaksanakan bila-bila masa sahaja, walaupun di dalam waktu-waktu yang dilarang mengerjakan solat, kerana taubat ini adalah wajib dilakukan dengan segera, dan pelakunya disunnahkan (dituntut) untuk mengerjakan (solat) dua rakaat.” (Fatawa Sheikhul Islam, 23/215)
Kesimpulan:
Maka, bagi mereka yang bertaubat atau ingin bertaubat, dianjurkan (disunnahkan) untuk melaksanakan sebagaimana yang ditunjukkan melalui hadis tersebut, iaitu dengan melakukan solat sunnah sebanyak dua rakaat dan kemudiannya memohon keampunan kepada Allah.
Wallahu a’lam...
Rujukan:
1 – Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an & Sunnah (Judul Asli: Sholaatul Mu’min Mafhuum wa Fadhaa’il wa Adab wa Anwaa’ wa Ahkam wa Kaifiyyah fii Dhau’il Kitab was Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
2 – Shahih Fiqih Sunnah (Judul Asli: Shahih fiqh as-Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Mazahib al-A’immah, oleh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim), Terbitan Pustaka at-Tazkia.
3 – Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah s.a.w. (Judul Asli: Bughyatul Mutathawwi’ fii Shalaatit Tathawwu’, oleh Sheikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul), Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i.
4 – Tafsir as-Sa’di (Judul Asli: Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, oleh Sheikh Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di), Terbitan Pustaka Sahifa.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Sunnahkah (Tsabitkah) Solat Qabliyah Jumaat?
Diriwayatkan dari as-Sa’ib bin Yazid, ia berkata, “Sesungguhnya azan pada hari Jumaat pada awalnya ketika imam duduk di atas mimbar pada hari Jumaat, iaitu pada masa Rasulullah s.a.w., Abu Bakar, dan Umar r.anhuma. Pada masa khalifah Utsman r.a. (ketika jumlah mereka semakin ramai), dia memerintahkan untuk mengumandangkan azan ketiga (iaitu azan tambahan) pada hari Jumaat. Ia memerintahkan untuk mengumandangkan azan dari atas az-Zaura’, lalu hal itu terus berlangsung dan tidak ada seorang pun yang mencelanya. Padahal mereka telah mengkritiknya (sebelumnya), ketika dia menyempurnakan solat di Mina.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 916, Abu Daud, no. 1087, at-Tirmidzi, no. 516, an-Nasa’i, 3/101, dan Ibnu Majah, no. 1135)
Dapat difahami melalui hadis ini bahawa:
1 – Azan pada hari Jumaat dilakukan ketika imam duduk di atas mimbar.
2 – Disunnahkan satu kali azan pada hari Jumaat, iaitu ketika imam duduk di atas mimbar.
Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid pada hari Jumaat (ketika Nabi s.a.w. sedang berkhutbah), maka beliau bertanya, “Apakah engkau sudah solat?” Ia menjawab, “Belum”. Beliau s.a.w. berkata, “Kalau begitu, solatlah dua rakaat”.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 930, dan Muslim, no. 875)
Menurut Abu Malik Kamal di dalam Kitabnya, Shahih Fiqh Sunnah:
“Tidak ada solat sunnah qabliyah sebelum solat Jumaat. Jika azan telah dikumandangkan, maka tidak boleh seorang pun bangkit mengerjakan solat. (Kecuali jika dia datang setelah azan dikumandangkan, maka ia boleh mengerjakan solat sunnah Tahiyatul Masjid, kemudian duduk. Ataupun ia lupa solat Tahiyatul Masjid, maka dia boleh bangun untuk mengerjakannya) Ini adalah pendapat ulama yang paling sahih. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan majoriti sahabatnya (kecuali imam Nawawi) serta inilah pendapat yang masyhur dari mazhab Ahmad. (al-Fatawa al-Kubra, Sheikhul Islam, 2/433, dan Tharh at-Tatsrib, 3/41) Inilah yang selaras yang bertepatan dengan sunnah. Kerana Rasulullah s.a.w. keluar dari rumahnya, menuju ke masjid, dan setelah beliau naik ke mimbar, Bilal memulai azan Jumaat. Setelah azan selesai, Nabi terus sahaja berkhutbah tanpa ada pemisah. Hal ini (situasi ini) disaksikan dengan jelas, jadi, bilakah masanya mereka mengerjakan solat sunnah (Qabliyah Jumaat)? Oleh itu, barangsiapa mendakwa bahawa mereka semua (para sahabat di hadapan nabi ketika berkhutbah – tamb.) berdiri untuk mengerjakan solat dua rakaat, setelah Bilal selesai mengumandangkan azan, maka ia adalah orang yang tidak melihat kepada sunnah.
Malah hal ini dikuatkan lagi dengan hadis Ibnu Umar, ia berkata, “Aku solat bersama Rasulullah s.a.w. dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat setelah Jumaat.” Ini adalah nash yang sangat jelas bahawa solat Jumaat, menurut sahabat, terpisah dari solat Zuhur (solat Jumaat adalah berbeza dengan solat Zuhur) dengan sendirinya. Kerana tidak disebutkan bahawa solat Jumaat memiliki solat sunnah, kecuali setelahnya, maka diketahui bahawa tidak ada solat sunnah Qabliyah Jumaat. (Shahih Fiqih Sunnah, jil. 2, m/s. 310)
Imam asy-Syafi’e rahimahullah menyatakan berkenaan hal ini, “Maka setelah matahari tergelincir dan imam telah duduk di atas mimbar, serta mu’azzin (tukang azan) mengumandangkan azan, maka tidak ada lagi ruku’ (solat). Maka janganlah seseorang ruku’ (solat), melainkan seseorang yang datang (ke masjid) dalam keadaan belum ruku’ (solat), maka hendaklah dia ruku’ (solat Tahiyatul masjid).” (al-Umm, jil. 1, m/s. 202)
Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah:
Adapun Nabi s.a.w. tidak pernah mengerjakan solat Qabliyah Jumaat atau apa-apa pun selepas azan Jumaat. Tidak pernah dinukil berkenaannya walaupun walaupun dari seorang. Sesungguhnya di masa Nabi s.a.w. tidak pernah dikumandangkan azan kecuali setelah baginda di atas mimbar. Setelah Bilal azan, Rasulullah lantas meneruskan dengan dua khutbah. Setelah itu Bilal iqamah, maka Nabi s.a.w. bersolat bersama sekalian manusia (yang ada). Oleh yang demikian, maka tidak mungkin Baginda dan tidak juga walau salah seorang dari kaum muslimin yang solat Jumaat dengan Baginda s.a.w. melakukan solat selepas azan. Tidak pernah seorang pun menukil bahawa Baginda solat di rumahnya sebelum keluar ke masjid di hari Jumaat.” (Majmu’ al-Fatawa, jil. 24, m/s. 188)
Berkata ‘Abdullah ‘Abdur Rahman al-Bassam, “Tidak ada sunnah untuk solat Jumaat sebelumnya (Qabliyatul Jumaah). Itulah kata-kata ulama dan dengannyalah petunjuk sunnah.” (Taudhihul Ahkam min Bulughul Maram, 2/345) Katanya lagi, “Tidak ada sunnah rawatib sebelum solat Jumaat, sesungguhnya Nabi s.a.w. setelah keluar dari rumahnya terus naik ke mimbar, lantas Bilal terus mengumandangkan azan, setelah sempurna azan, Nabi s.a.w. terus berkhutbah tanpa berlengah.” (Taudhihul Ahkam min Bulughul Maram, 2/345)
Solat Sunnah Qabliyah Jumaat Menurut Mazhab ays-Syafi’e
Di sisi al-Imam asy-Syafi’e rahimahullah (204H) sendiri, menurutnya tidak ada solat sunat Qabliyah Jumaat. Pendapat beliau dalam bab ini adalah selari dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dimana beliau berkata:
Aku menyukai apabila azan pada hari Jumaat dilaungkan ketika imam sudah memasuki masjid dan beliau duduk pada tempat yang beliau berkhutbah di atasnya dengan posisi yang agak tinggi seperti kayu atau pelepah kurma, mimbar, pelantar atau selainnya, atau di atas tanah itu sendiri. Apabila (imam telah) melakukan (sedemikian), muazin melaungkan azan. Apabila telah selesai, imam berdiri lalu menyampaikan khutbah. Tidak ada tambahan ke atas itu. (al-Umm (Tahqiq: Ahmad Badr al-Din; Dar al-Qutaibah, 1996), jld. 3, m/s. 60)
Sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w. dan dipraktikkan oleh para sahabat, al-Imam asy-Syafi’e juga menyukai agar orang-orang yang sampai awal ke masjid melaksanakan solat-solat sunat mutlak sehinggalah imam menaiki mimbar. Setelah menerangkan kelebihan orang yang pergi awal ke masjid sempena solat Jumaat, beliau berkata:
Apabila orang ramai pergi melaksanakan solat Jumaat, hendaklah mereka bersolat sehinggalah imam menaiki mimbar. Apabila imam berada di atas mimbar, mereka yang mendirikan solat dua rakaat dan berkata-kata hendaklah berhenti supaya imam dapat memulakan khutbah. Apabila imam berkhutbah, mereka diam memerhatikannya. (al-Umm, jil. 3, m/s. 73)
Al-Hafiz Abu Syamah rahimahullah (665H) menerangkan:
Bahawa kebiasaan Nabi s.a.w. ketika keluar dari rumahnya pada hari Jumaat, maka baginda terus naik ke mimbar lalu muazin melaungkan azan. Setelah muazin selesai melaungkan azannya, maka baginda terus menyampaikan khutbahnya. Seandainya pada solat Jumaat tersebut wujud solat sunat qabliyah, tentu sesudah azan selesai dilaungkan baginda akan menyuruh para sahabat mendirikan solat sunat tersebut. Bahkan baginda sendiri akan mendirikannya terlebih dahulu sebelum menyuruh para sahabatnya. Pada zaman Nabi s.a.w., tidak dikenali solat sunat pada hari Jumaat yang didirikan setelah azan dilaungkan dan didirikan di hadapan khatib. (Bid‘ah yang Dibungkus Dengan Hadits Palsu (Judul Asli: al-Ba’its al-Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, Tahqiq: Basyir Muhammad Uyun),Terbitan Pustaka Azzam, m/s. 225-226)
al-Hafiz al-‘Iraqi rahimahullah (806H):
Yang sedemikian adalah kerana Nabi al-Sholah wa al-Salam, tidak dilaungkan azan pada hari Jumaat kecuali di hadapan baginda dan baginda pada ketika itu di atas mimbar. Maka tidaklah baginda bersolat untuknya (sesudah azan). Dan demikian juga para sahabat radhiallahu 'anhum, dimana apabila keluarnya imam mereka terus memberhentikan solat. (Tharh al-Tsarib fi Syarh al-Taqrib (Muassasah al-Tarikh al-‘Arabi, Beirut, 1996), jil. 3, m/s. 41)
Adapun yang dimaksudkan oleh al-Hafiz al-‘Iraqi sebagai solat yang dihentikan oleh para sahabat ketika keluarnya imam, ia adalah solat-solat sunat mutlak seperti solat sunnah Tahiyatul Masjid, dan selainnya.
Berkata Abu Syamah lagi, Sesungguhnya solat-solat sunnah adalah solat yang dinukil (diterima) dari Rasulullah s.a.w., melalui perkataan atau amalan, namun solat Qabliyatul Jumaat (solat sebelum Jumaat) tidak pernah terdapat walau satu pun riwayat dari Nabi s.a.w. yang membuktikan bahawa ia perbuatan sunnah.” (al-Ba’its al-Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, m/s. 195)
Kemusykilan Dan Pencerahannya
Kemusykilan:
Di antara setiap dua azan ada solat, di antara setiap dua azan ada solat (kemudian baginda bersabda pada kali ketiga):
“Kepada sesiapa yang mengingininya.” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Azan, hadis no. 627)
Pencerahan:
Hadis di atas memang dijadikan hujah oleh para imam Mazhab al-Syafi’e yang mensabitkan solat sunat qabliyah Jumaat. Al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani membongkar hakikat ini:
Apa yang paling kuat dijadikan pegangan bagi mensyari‘atkan (solat sunat) dua rakaat sebelum Jumaat adalah keumuman daripada apa yang disahihkan oleh Ibn Hibban daripada hadis ‘Abd Allah bin al-Zubair secara marfu’: “Tidak ada solat fardhu melainkan ia didahului oleh dua rakaat”, juga hadis semisal daripada ‘Abd Allah bin Mughaffal dalam bab “Waktu Maghrib”: “Di antara setiap dua azan ada solat.” (Fath al-Bari, jil. 3, ms. 96)
Kata-kata al-Hafiz Ibn Hajar di atas bukanlah untuk membenarkan penggunaan dua hadis tersebut sebagai dalil, sebaliknya mengisyaratkan kelemahannya. Isyarat ini dapat ditangkap daripada perkataan beliau “…adalah keumuman daripada apa yang…”, kerana dalil yang umum tidak boleh digunakan bagi mengkhususkan sesuatu amalan jika amalan itu sendiri telah dinafikan oleh dalil khusus yang lain.
Di antara yang berhujah dengan hadis ‘Abd Allah bin Mughaffal ialah al-Imam al-Nawawi rahimahullah (676H) dimana beliau berkata:
Dan adapun sunat sebelumnya (qabliyah Jumaat) maka asasnya adalah hadis ‘Abd Allah bin Mughaffal yang telah disebut dalam perbincangan sebelum ini: “Di antara setiap dua azan ada solat” dan juga diqiyaskan kepada solat Zohor. (al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Tahqiq: M. Najib; Dar al-Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, Beirut, 2001), jil. 3, ms. 349)
Menggunakan hadis di atas sebagai dalil adalah tidak tepat. Selain daripada sifatnya yang umum, ia juga dipandang tidak tepat kerana:
1 - Yang dimaksudkan dengan “dua azan” bukanlah dua azan solat Jumaat sebagaimana yang wujud sekarang. Ini kerana pada zaman Rasulullah s.a.w., hanya ada satu azan bagi solat Jumaat. Maka yang dimaksudkan sebagai “dua azan” ialah azan dan iqamat. Demikian jelas al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani: “Maksudnya ialah azan dan iqamah. Tidak sah mengambil (kefahaman) hadis ini secara zahir.” (Fath al-Bari, jil. 2, ms. 315)
2 - Azan dan iqamat berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w. ketika melaksanakan solat Jumaat. Akan tetapi – sebagaimana yang dijelaskan sebelum ini – tertib perlaksanaan solat Jumaat pada zaman baginda tidak memungkinkan perlaksanaan solat sunat qabliyah Jumaat.
Oleh itu pendapat al-Imam al-Nawawi di atas telah ditolak oleh Al-Hafiz al-Busyiri rahimahullah (840H):
Dan di antara yang terbaik yang dijadikan dalil dengannya (dalam bab solat sunat qabliyah Jumaat) ialah apa yang sabit daripada dua kitab sahih daripada hadis ‘Abd Allah bin Mughaffal daripada Nabi s.a.w.: “Di antara setiap dua azan ada solat”.
Padahal ini mustahil berlaku pada solat (Rasulullah) s.a.w. kerana sesungguhnya baginda di antara azan dan iqamat berkhutbah, maka tidak ada solat pada ketika itu di antara kedua-duanya (azan dan iqamat).
Benar, bahawa sesudah itu Utsman (ibn ‘Affan radhiallahu 'anh) mengadakan azan di atas al-Zawra (sebagai azan pertama manakala azan kedua di dalam masjid), memungkinkan solat sunat Jumaat sebelum keluarnya imam untuk berkhutbah. (Mishbah al-Zujajah fi Zawa‘id Ibn Majah, Tahqiq: Kamal Yusuf; Dar al-Jinan, Beirut, 1986), jil. 1, ms. 213)
Oleh itu tidaklah tepat menggunakan hadis “Di antara setiap dua azan ada solat” sebagai dalil kerana tertib perlaksanaan solat Jumaat pada zaman Rasulullah s.a.w., khasnya dari azan hingga iqamat, tidak memiliki selang masa untuk melaksanakan solat sunat qabliyah Jumaat.
Kemusykilan Kedua:
Apakah boleh mengqiyaskan solat sunat qabliyah Jumaat kepada solat sunat qabliyah Zohor sebagaimana kata-kata al-Imam al-Nawawi yang dinukil di atas?
Pencerahan:
Kata-kata atau pendapat al-Imam Nawawi untuk menggunakan kaedah qiyas dalam persoalan ini telah ditolak oleh seorang tokoh Mazhab al-Syafi’e yang sezaman dengan beliau, iaitu al-Hafiz Abu Syamah:
Alasan tidak adanya solat sunat qabliyah Jumaat adalah bahawa yang dimaksudkan dengan solat sunat dalam pandangan kami adalah solat yang didasarkan kepada petunjuk Rasulullah s.a.w. sama ada petunjuk itu dalam bentuk ucapan mahupun perbuatan. Berkenaan solat sunat qabliyah Jumaat, tidak ada satu petunjuk jua daripada Nabi s.a.w. yang menunjukkan bahawa solat tersebut disunnahkan. Disamping itu tidak dibenarkan melakukan qiyas dalam menetapkan dalil syar‘i yang berkenaan dengan solat. (al-Ba’its al-Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, m/s. 224)
Sebenarnya terdapat banyak perbezaan antara solat Jumaat dan solat Zohor. Di antaranya, solat Jumaat wajib berjamaah manakala solat Zohor hanya sunat muakad, wajib meninggalkan jual beli apabila dilaungkan azan Jumaat, solat Jumaat adalah 2 rakaat manakala solat Zohor adalah 4 rakaat, solat Jumaat didahului dengan khutbah manakala solat Zohor tidak, bacaan surah dalam solat Jumaat adalah kuat manakala dalam solat Zohor adalah perlahan dan sebagainya. Perbezaan-perbezaan ini menutup pintu yang membolehkan perhubungan antara solat Jumaat dan solat Zohor melalui jalan qiyas. Bahkan dalam bab ini terdapat dalil yang menunjukkan perbezaan solat-solat sunat bagi solat Zohor dan Jumaat. Dalil tersebut ialah hadis ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu 'anhuma dimana beliau berkata:
Bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersolat sebelum zohor dua rakaat dan sesudah zohor dua rakaat, sesudah Maghrib dua rakaat di rumahnya dan sesudah Isya’ dua rakaat. Dan baginda tidak bersolat sesudah Jumaat sehinggalah meninggalkan masjid dan baginda bersolat dua rakaat. (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jumuah, hadis no. 937)
Perhatikan bahawa apabila Ibn ‘Umar menerangkan solat-solat sunat Rasulullah, beliau membezakan antara solat Zohor dan solat Jumaat. Dua perbezaan yang paling nyata adalah:
1 - Solat Zohor memiliki sunat qabliyah dan ba’diyah manakala solat Jumaat hanya memiliki sunat ba’diyah.
2 - Sunat ba’diyah Zohor dilaksanakan di masjid manakala sunat ba’diyah Jumaat dilaksanakan di dalam rumah.
Justeru pendapat al-Imam al-Nawawi untuk menggunakan kaedah qiyas dalam bab ini adalah pendapat yang lemah. Ini kerana peranan qiyas adalah menghubungkan satu persoalan baru dalam kehidupan manusia kepada persoalan asal yang sudah sedia wujud hukumnya pada zaman Rasulullah berdasarkan kesamaan illat (sebab di sebalik hukum). Adapun ibadah, maka tidak boleh ada satu jua ibadah yang baru melainkan apa yang sudah disyari‘atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan itu, qiyas tidak memiliki peranan untuk mewujudkan hukum ibadah yang baru, seperti mewujudkan ibadah “solat qabliyah Jumaat” dan menghukumnya sebagai “sunat”.
Lebih dari itu, syarat utama bagi qiyas ialah wujudnya sebab yang sama antara kedua-dua persoalan yang ingin dihubungkan. Syarat ini tidak dapat dipraktikkan dalam persoalan ibadah kerana manusia tidak mampu mengetahui “sebab di sebalik” sesuatu ibadah untuk dikaitkan kepada ibadah yang lain. Sebab di sebalik semua ibadah adalah ketaatan kepada Allah semata-mata. Namun, toh dikatakan boleh mengamalkan qiyas untuk ibadah, ia tetap tidak boleh digunakan dalam persoalan solat sunat qabliyah Jumaat kerana terdapat banyak perbezaan antara solat Jumaat dan solat Zohor sepertimana yang diterangkan di atas.
Kemusykilan Ketiga:
Jika dikaji semua hadis-hadis dalam bab ini, ditemui bahawa sebahagian sahabat ada yang melaksanakan solat sunat sebelum solat Jumaat. Kenapakah hadis-hadis ini tidak dijadikan dalil bagi solat sunat qabliyah Jumaat?
Pencerahan:
Benar bahawa terdapat hadis-hadis yang menerangkan bahawa para sahabat melaksanakan solat-solat sunat sebelum solat Jumaat. Namun solat-solat sunat tersebut bukanlah solat sunat qabliyah Jumaat tetapi adalah solat sunat mutlak semata-mata.
Ringkasnya, solat sunat (tathawwu’) terdiri daripada dua jenis:
1 - Solat sunat mutlak, ia adalah solat-solat sunat yang didirikan secara bebas.
2 - Solat sunat khusus, ia adalah solat-solat sunat yang terikat dengan peraturan syari‘at. Contohnya ialah solat Id al-Adha, solat Id al-Fitri, solat Jenazah, solat Witir, solat Dhuha, solat Istikarah dan sebagainya.
Solat-solat sunat sebelum atau selepas sesuatu solat wajib juga duduk di dalam kategori ini.
Maka apa yang dilakukan oleh para sahabat, ia adalah solat sunat mutlak. Ia bukan solat sunat qabliyah Jumaat yang duduk di dalam kategori solat sunat khusus yang sedang kita bincang dalam pencerahan ini. Para pembaca sekalian perlu membezakan antara dua bentuk solat sunat ini dengan pembezaan yang sejelas-jelasnya, umpama siang dengan malam. Ini kerana banyak kekeliruan timbul dalam bab ini, termasuk di kalangan sebahagian tokoh dan ilmuan, disebabkan kegagalan untuk membezakan dua bentuk solat sunat ini. Al-Hafiz Abu Syamah berkata:
Solat sunat tersebut dibolehkan dan tidak dikategorikan sebagai perbuatan mungkar jika dilihat dari sudut ibadah solat. Namun kemungkaran ibadah tersebut terletak pada keyakinan orang-orang di antara mereka dan sebahagian orang yang memiliki pengetahuan, yang menganggap solat tersebut sebagai solat sunat qabliyah Jumaat, seperti solat sunat qabliyah Zohor. (al-Ba’its al-Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, m/s. 223)
Adapun melaksanakan solat-solat sunat secara mutlak sebelum Jumaat, maka ia disunnahkan oleh hadis berikut daripada Salman al-Farisi radhiallahu 'anh bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:
Tidaklah seseorang itu mandi pada hari Jumaat dan bersuci semampu dirinya, meminyakkan rambut atau menyapu minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju ke masjid) dan dia tidak memisahkan dua orang (yang telah sedia duduk di saf hadapan masjid), kemudian dia bersolat menurut apa yang ditentukan oleh Allah baginya (yakni sekadar mampu), kemudian dia diam apabila imam berkata-kata (berkhutbah), kecuali diampunkan baginya (dosa-dosa) antara Jumaat itu dan Jumaat berikutnya. (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jumuah, hadis no. 883)
Maka berdasarkan hadis di atas, para sahabat berusaha untuk pergi awal ke masjid dalam keadaan berseri-seri. Kemudian mereka melaksanakan solat-solat sunat mutlak sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w. sehinggalah masuknya waktu solat Jumaat. Solat-solat sunat mutlak yang dilaksanakan oleh para sahabat berbeza-beza jumlah rakaatnya, semuanya bergantung kepada kemampuan masing-masing.
Penjelasan al-Hafiz Abu Syamah sekali lagi menjadi rujukan:
Abu Bakar al-Munzir berkata: “Kami telah meriwayatkan daripada Ibn ‘Umar bahawa beliau biasa mendirikan solat sunat sebelum Jumaat sebanyak 12 rakaat. Dalam riwayat lain daripada Ibn ‘Abbas bahawa beliau biasa mendirikan solat sunat (sebelum Jumaat) sebanyak 8 rakaat.”
Keterangan di atas menjadi dalil bahawa solat sunat yang dilaksanakan oleh mereka (para sahabat) adalah semata-mata solat sunat (mutlak) menurut pandangan mereka sendiri dan bukan didasarkan kepada petunjuk (yakni contoh praktikal daripada) Nabi s.a.w.. Demikian juga dengan jumlah rakaat yang diriwayatkan daripada mereka, dimana jumlah rakaatnya berbeza-beza. Hal ini semata-mata sebagai solat sunat (mutlak) tanpa dikaitkan dengan solat Jumaat.
Selanjutnya berkenaan waktu perlaksanaannya, bahawa para sahabat sebagaimana yang disebut di atas, mendirikan solat tersebut sebelum dilaungkan azan dan sebelum masuknya waktu solat Jumaat. Ini kerana mereka datang ke masjid pada pagi hari sebelum imam tiba (sebagaimana yang dianjurkan oleh hadis Salman al-Farisi di atas), maka mereka biasa mendirikan solat sunat (mutlak).
Solat sunat (mutlak) seperti ini biasa juga mereka dirikan pada solat Id (Hari Raya) padahal mereka juga mengetahui bahawa dalam solat Id tidak ada solat sunat qabliyah dan ba’diyahnya. (al-Ba’its al-Ingkar al-Bida’ wa al-Hawadits, m/s. 223)
Al-Hafiz al-‘Iraqi turut menjelaskan:
Terdapat kemusykilan di dalam masalah ini, disebabkan oleh satu bab yang disusun oleh (al-Imam) Ibn Abi Syaibah di dalam (kitab) al-Musannafnya, iaitu “Bab solat sebelum Jumaat” dimana di dalamnya terdapat riwayat daripada ‘Abd Allah ibn Mas‘ud bahawanya beliau bersolat empat rakaat sebelum Jumaat, daripada Ibn ‘Umar bahawa beliau mengasingkan diri pada hari Jumaat untuk bersolat dengan panjang sebelum keluarnya imam, daripada ‘Umar bin Abd al-Aziz dimana beliau bersolat sebelum Jumaat sebanyak 10 rakaat, daripada Ibrahim al-Nakha’e dimana beliau bersolat sebelum Jumaat empat rakaat, daripada Abi Majlazin bahawa beliau bersolat dirumahnya dua rakaat pada hari Jumaat dan daripada Thawus dimana beliau tidak akan mendatangi masjid pada hari Jumaat sehinggalah beliau bersolat di rumahnya dua rakaat.
Tidaklah daripada semua itu menjadi dalil ke atas solat sunat (sebelum) Jumaat kerana yang sedemikian dilaksanakan sebelum gelincir matahari (sebelum masuk waktu Jumaat). (Tharh al-Tsarib, jil. 3, ms. 43)
Kesimpulan:
1 - Solat Qabliyah sebelum perlaksanaan solat Jumaat adalah tidak sunnah dan tiada contohnya dari Rasulullah s.a.w. dan sahabat-sahabat yang lainnya.
2 - Apa yang ada selepas atau sebaik sahaja selepas azan zuhur di hari Jumaat (ketika di masjid), hanyalah solat sunnah Tahiyatul Masjid iaitu bagi mereka yang belum melaksanakannya.
http://fiqh-sunnah.blogspot.com/
SHOLAT QASHAR DIUTAMAKAN DALAM PERJALANAN
Qasarkanlah (Pendekkanlah) Solatmu Ketika Dalam Perjalanan (Musafir)
Maksud Musafir (as-Safar) Secara Umum:
As-Safar bererti penempuhan jarak. As-Safar bererti keluar dari kampung halaman menuju satu tempat yang berjarak jauh sehingga kerananya pelakunya diperbolehkan untuk mengqasarkan (memendekkan) solatnya. (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 225)
Pengertian Ringkas Solat Secara Qasar:
Memendekkan/mengurangkan bilangan rakaat solat bagi solat fardhu yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Iaitu bagi solat Zuhur, ‘Asar, dan ‘Isya’.
Mengqasarkan Solat Adalah Sedekah Allah:
Allah s.w.t. berfirman di dalam surah an-Nisa’ ayat 101 (maksudnya):
“Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-Qasar solatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.”
Dalam hal ini, terdapat suatu riwayat dari Abu Ya’la bin Umayyah, dia menceritakan:
“Aku pernah berkata kepada ‘Umar bin Khaththab: (Allah berfirman:) “maka tidaklah mengapa kamu meng-Qasar solatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir”. (Namun sekarang) masyarakat sekarang sudah berada dalam keadaan aman. ‘Umar berkata: “Aku juga pernah merasa hairan sebagaimana engkau merasa hairan. Maka aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai hal tersebut. Beliau bersabda: “Ia suatu sedekah yang telah disedekahkan oleh allah kepada kamu. Oleh itu, terimalah sedekah Allah.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 686)
Hadis-Hadis Berkenaan Tuntutan Meng-Qasarkan Solat Di Dalam Perjalanan:
1 – Abdullah bin ‘Umar r.a. berkata:
“Aku pernah menemani Rasulullah s.a.w. dalam perjalanannya dan beliau tidak pernah mengerjakan solat lebih dari dua rakaat (bagi setiap solat). Demikian juga dengan Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Usman r.anhum. (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 689)
2 – Dari ‘Aisyah r.ha, dia menyatakan: “Ketika solat pertama kali diwajibkan, Allah mewajibkan dua rakaat-dua rakaat, sama ada ketika sedang tidak dalam perjalanan mahupun ketika dalam perjalanan. (Selepas hijrah Nabi s.a.w.) Solat ketika safar ditetapkan/dibiarkan (dua rakaat), dan solat ketika tidak safar (dalam perjalanan) ditambah (jumlah rakaatnya). (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 1570)
Imam Ahmad rahimahullah di dalam al-Musnadnya (6/241) menambahkan:
“Kecuali solat Maghrib dan subuh”. (Rujuk: Nota kaki no. 71, m/s. 550, Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i)
3 – Dari Ibnu ‘Abbas r.a., dia menyatakan:
“Allah telah mewajibkan solat melalui lisan Nabi Kalian s.a.w. ketika tidak dalam perjalanan (musafir) adalah empat rakaat dan ketika dalam perjalanan dua rakaat, serta ketika menghadapi rasa takut adalah satu rakaat.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab orang-orang yang musafir, no. 687)
Menurut Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, yang menaqalkan daripada Sheikh Abdul Aziz bin Bazz:
“Dasar solat yang pertamanya adalah dua rakaat, sebagaimana yang diwajbkan oleh Allah Ta’ala, kemudian setelah hijrah, Allah s.w.t. menambahkannya dua rakaat lagi bagi yang tidak dalam perjalanan menjadi empat rakaat, iaitu pada solat ‘Isya’, Zuhur, dan ‘Asar. Adapun solat ketika dalam perjalanan, masih tetap dua rakaat, iaitu bagi solat ‘Isya’, Zuhur, dan ‘Asar (diqasarkan). Dengan demikian, meng-Qasarkan solat (di dalam perjalanan) adalah sunnah mu’akkad kerana tidak ada larangan untuk mengerjakan solat secara lengkap, iaitu empat rakaat. (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 252)
Walau bagaimanapun, perlu difahami dan diketahui bahawa meng-Qasarkan solat (memendekkannya menjadi dua rakaat) di dalam perjalanan (musafir) adalah lebih baik dan utama daripada melaksanakannya secara sempurna (tamam). Ini adalah berdasarkan kepada hadis berikut:
Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. dia menyatakan, Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah suka jika keringanan yang Dia berikan itu dimanfaatkan sebagaimana Dia tidak suka kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.” (Hadis yang dinilai Hasan menurut Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitabnya, Irwaa’ul Ghaliil, 3/9, no. 564)
Daripada Ibnu Mas’oud dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma:
“Sesungguhnya Allah sangat menyukai rukhsah (keringanan) dari-Nya dimanfaatkan sebagaimana Dia menyukai pelbagai kewajiban yang dari-Nya dikerjakan.” (Hadis yang dinilah Sahih menurut Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitabnya, Irwaa’ul Ghaliil)
Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan (di dalam Majmuu’ al-Fataawaa, 24/9):
“Bahkan terdapat suatu pendapat dari mazhabnya Abu Hanifah dan Imam Malik, bahawa hukum melaksanakan solat secara Qasar di dalam perjalanan (musafir) adalah suatu yang wajib.” (Dirujuk dari nota kaki no. 80, Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 252)
Persoalan Jarak Dalam Musafir:
Dari Abi Sa’id r.a., beliau menyatakan:
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. apabila bermusafir sejauh satu farsakh, maka beliau mengqasarkan solatnya.” (Hadis Riwayat Sa’id bin Mansur)
Dari Anas r.a., bahawasanya beliau menjawab semasa ditanya tentang solat qasar di antara Basrah dan kufah: “Dahulu Rasulullah s.a.w. jika berpergian (musafir) sejauh tiga batu (satu farsakh) beliau s.a.w. solat dua rakaat (qasar). (Diriwayatkan oleh Muslim, ahmad, dan Abu Daud).
Menurut para ulama fiqh, satu farsakh ialah tiga batu. Ini diambil mengikut jarak kiraan Parsi. (Dirujuk dari: Kertas Kerja Ust. Rasul bin Dahri, Solat Qasar & Jamak, m/s. 6)
Menurut sebahagian ulama, bahawa yang dinamakan sebagai musafir itu tidaklah dihadkan dengan jarak-jarak yang tertentu. Tetapi, dalam hal ini, adalah merujuk kepada ‘uruf (adat kebiasaan) seseorang itu berada. Jika jarak perjalanan dianggap sebagai musafir (pergi keluar kawasan dari tempat kebiasaan ke tempat yang di luar kebiasaan) oleh sesebuah masyarakat, maka dia boleh meng-Qasarkan solatnya dan berbuka puasa.
Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:
“Dalil yang lebih tepat dan kuat ialah pendapat ulama yang membolehkan qasar solat dan berbuka puasa ketika musafir dan tidak ada jarak perjalanan yang khusus. Inilah pendapat yang paling sahih.” (Rujuk Kitab Majmuu’ al-Fataawaa, 24/106)
Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah. Alasannya, Allah dan Rasul tidak pernah menghadkan jarak tertentu dalam bermusafir yang membolehkan solat diqasarkan dan puasa dibenarkan berbuka.
Imam Abu al-Qasim al-Kharqi rahimahullah telah menyatakan dalam kitab al-Mughni:
“Aku tidak bersetuju dengan pendapat yang diutarakan oleh kebanyakan ulama fiqh kerana pendapat mereka itu tidak ada hujjahnya (dalam menghadkan jarak musafir). Ini kerana, terdapat riwayat dari kata-kata para sahabat yang saling bercanggah. Sedangkan, tidak boleh berhujjah menggunakan dalil yang saling berbeza.”
Pendapat yang terpilih adalah, tidak harus meng-Qasarkan solat apabila jarak kurang daripada tiga batu. 1 batu adalah bersamaan 1748 meter. Manakala 3 batu adalah bersamaan 5541 meter (5.541 kilometer). Oleh itu, seseorang boleh meng-Qasarkan solat apabila mencapai had ini.
Menurut riwayat Ibn Abi Syaibah rahimahullah dengan sanad sahih dari Ibnu ‘Umar r.a.. Pendapat ini dipersetujui oleh Ibnu Hazm, katanya:
“Nabi s.a.w. telah keluar ke perkuburan Baqi’ (dengan jarak kurang dari 3 batu) untuk mengebumikan jenazah dan keluar ke Fadaq untuk membuang hajat. Tetapi Baginda s.a.w. tidak pernah meng-Qasarkan solatnya.” (Disalin dari buku Wudhu’ dan Solat Menurut Sunnah dan Mazhab Syafie, oleh Abu Ruwais asy-Syubrawi, Terbitan Karya Bestari Sdn. Bhd.)
Disimpulkan dari beberapa pendapat, bahawa pendapat yang terpilih adalah tiada had tertentu yang membataskan seseorang untuk dikategorikan sebagai musafir. Ia adalah bergantung kepada ‘uruf/kebiasaan seseorang itu sendiri iaitu dari mana dia berada (kawasan kebiasaan dia berada/menetap) dan ke mana dia keluar (ke tempat yang di luar kebiasaannya) tanpa dihadkan jaraknya. (Disimpulkan dari perbahasan dalam buku Fiqh Dan Musafir Penerbangan, Hafiz Firdaus Abdullah, Di bawah Tajuk Mengqasar Solat Dalam Penerbangan, Terbitan Perniagaan Jahabersa, m/s. 161-204)
Bila Solat Qasar Segera Boleh Dilakukan:
Dalam hal ini, Ibnu Mundzir rahimahullah berkata (Dipetik daripada: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 259):
“Para ulama sepakat bahawa orang yang hendak melakukan perjalanan boleh meng-Qasar solat jika sudah keluar dari seluruh rumah yang ada di kampung yang ditinggalkannya. (Majmuu’ Fataawaa Ibni Bazz, 12/267)
Tempoh (Lamanya) Musafir Yang Dibolehkan Solat Qasar Tetap Dilaksanakan:
Berikut dibawakan fatwa Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah ketika menjawab pertanyaan “tentang seseorang yang mengetahui bahawa dia akan bermukim dua bulan, apakah dia boleh mengqasarkan solat?”
Beliau menjawab:
“Di dalam masalah ini terdapat perbezaan pendapat di kalangan ulama. Di antara mereka ada yang mewajibkan untuk mengerjakan solat secara lengkap, tetapi ada juga di antara mereka yang mewajibkan qasar solat. Yang benar adalah keduanya boleh berlaku. Barangsiapa yang mahu meng-Qasarkan solatnya tidaklah dilarang, dan yang hendak mengerjakannya secara lengkap pun tidak dilarang. Selain itu, mereka juga berbeza pendapat berkenaan mana yang lebih afdhal di antara keduanya. Barangsiapa yang masih menyimpan keraguan, maka mengerjakan solat secara sempurna adalah lebih baik sebagai langkah berhati-hati. Sedangkan orang yang memahami sunnah dan mengetahui Rasulullah s.a.w. tidak mensyariatkan bagi orang yang di dalam perjalanan untuk mengerjakan solat melainkan dengan dua rakaat, dan tidak memberikan batasan perjalanan dengan waktu dan tempat, serta tidak juga memberikan batasan masa tinggal dengan waktu tertentu, tidak tiga, empat, dua belas, atau lima belas hari, maka dia boleh meng-Qasar solatnya, sebagaimana yang dikerjakan oleh kebanyakan ulama salaf. Sehinggakan Masruq pernah bermukim beberapa tahun dengan tetap mengqasarkan solatnya. Kaum muslimin juga pernah bermukim di Nahawanda selama enam bulan dan mereka (tetap) mengqasar solat. Mereka meng-Qasarkan solat dalam keadaan mengetahui bahawa keperluan mereka tidak akan cukup empat hari atau lebih. Sebagaimana Nabi s.a.w. dan para Sahabat beliau setelah pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah) selama di Makkah lebih kurang dua puluh hari beliau meng-Qasarkan solat. Mereka juga pernah bermukim di Makkah selama sepuluh hari dan berbuka puasa di siang hari pada bulan Ramadhan. Setelah membebaskan kota Makkah, Nabi s.a.w. mengetahui bahawa beliau perlu bermukim di sana lebih dari empat hari. Seandainya pembatasan tersebut tidak mempunyai dasar (niat menetap/mastautin – pen.), bererti seorang musafir masih tetap sebagai musafir yang boleh meng-Qasarkan solat walaupun dia bermukim di suatu tempat beberapa bulan. Wallahu a’lam.” (Majmuu’ al-Fataawaa, 14/17-18). (Dinukil dari nota kaki no. 114, Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 262)
Adakah Solat Sunnah Rawatib Ketika Dalam Musafir:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Kegigihan dan kesungguhan Rasulullah s.a.w. dalam memelihara solat sunnah sebelum Subuh lebih besar daripada solat sunnah yang lainnya sehingga beliau tidak pernah meninggalkannya. Begitu pula solat witr, sama ada ketika dalam perjalanan mahu pun ketika sedang di rumah... Tidak pernah dinukil bahawa Rasulullah s.a.w. mengerjakan solat sunnah rawatib selain solat sunnah sebelum subuh dan solat witr dalam perjalanannya.” (Rujuk: Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad, 1/315)
Berdasarkan fatwa Imam Ibnul Qayyim, ini menunjukkan bahawa difahami hanya solat sunnah rawatib subuh dan solat witr yang dituntut. Dan tiada sandaran bagi kesunnahan melakukan solat sunnah rawatib bagi solat-solat yang lain melainkan sebelum solat subuh.
Bagaimana Dengan Solat-solat Sunnah Yang Lainnya:
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Para ulama telah sepakat untuk menetapkan sunnah (adanya) terhadap solat-solat sunnah mutlak (solat-solat sunnah yang memiliki sebab untuk ia dilakukan) dalam perjalanan.” (Syarhun Nawawi ‘alaa Sahih Muslim, 5/205). (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 269)
Solat sunnah mutlak yang dimaksudkan adalah seperti solat sunnah Thawaf, Solat Tahiyatul Masjid, Solat sunnah wudhu’, solat Dhuha, dan seumpamanya.
Solat Di Belakang Imam Yang Bermastautin Ketika Kita Bermusafir:
Ibnu ‘Abbas rahimahullah (ketika bermusafir), dia akan solat empat rakaat jika solat bersama imam (yang bermastautin) dan dua rakaat (Qasar) jika solat sendirian. (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 17 (688))
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menyebutkan:
“Majoriti mereka menyatakan bahawa jika seorang musafir melakukan takbiratul ihram di belakang orang yang bermukim/bermastautin sebelum salamnya, maka dia harus mengerjakan solat seperti orang mukim, iaitu mengerjakan secara lengkap (empat rakaat)”. (at-Tamhiid, 16/311-312)
“Mereka yang bermusafir ketika menjadi makmum kepada imam yang bermastautin harus mengerjakan solat seperti yang dilakukan imamnya (solat sempurna/empat rakaat). (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 271)
Pendapat ini adalah didasari kepada hadis:
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Oleh kerana itu, janganlah kalian menyelisihinya, jika dia bertakbir, bertakbirlah kalian...” (Hadis Riayat Muslim, Kitab ash-Solah, no. 414)
Solat Di Belakang Imam Yang Bermusafir (Imam Yang Meng-Qasarkan Solatnya):
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan:
“Para ulama telah sepakat bahawa jika orang yang bermukim/bermastautin menjadi makmum kepada imam yang bermusafir lalu musafir itu mengucapkan salam (setelah dua rakaat solatnya secara Qasar – pen.), maka orang yang bermukim harus menyempurnakan solatnya (kepada empat rakaat).” (Rujuk: al-Mughni, 3/146. Lihat: Nailul Authaar, asy-Syaukani, 2/403)
Jika seorang musafir mengimami beberapa orang yang bermukim/bermastautin, lalu dia mengerjakan solat itu secara lengkap/tamam/sempurna, maka solat mereka itu sempurna dan sah, hanya saja bertentangan dengan yang afdhal (sunnahnya). (Majmuu’ Fataawaa Ibni Baaz, 12/260). (Dinukil daripada: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 270-271)
Perbezaan Di Antara Solat Qasar Dengan Solat Jamak:
Qasar (memendekkan solat fardhu yang empat rakaat):
Qasar solat itu tidak memiliki sebab kecuali ketika dalam perjalanan (musafir) sahaja. Maka, rukhsah meng-Qasarkan solat itu adalah khusus ketika musafir sahaja, iaitu bagi solat yang empat rakat menjadi dua rakaat.
Jamak (menghimpunkan dua solat fardhu):
Jamak solat itu lebih luas daripada qasar solat. Oleh kerana itu, jamak memiliki beberapa sebab lain selain perjalanan, sebagai contoh kerana sakit, istihadhah, hujan, jalan berlumpur, angin kencang udara dingin, kesukaran yang dihadapi berkaitan masa bagi salah satu waktu solat, dan seumpamanya. Menjamakkan solat ketika musafir adalah dimakruhkan ketika mana tidak memiliki sebab, malah adalah lebih baik tidak menjamakkan solat ketika dalam bermusafir melainkan benar-benar diperlukan atau memiliki maslahah. (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 275-276)
Oleh: Nawawi Subandi
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Maksud Musafir (as-Safar) Secara Umum:
As-Safar bererti penempuhan jarak. As-Safar bererti keluar dari kampung halaman menuju satu tempat yang berjarak jauh sehingga kerananya pelakunya diperbolehkan untuk mengqasarkan (memendekkan) solatnya. (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 225)
Pengertian Ringkas Solat Secara Qasar:
Memendekkan/mengurangkan bilangan rakaat solat bagi solat fardhu yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Iaitu bagi solat Zuhur, ‘Asar, dan ‘Isya’.
Mengqasarkan Solat Adalah Sedekah Allah:
Allah s.w.t. berfirman di dalam surah an-Nisa’ ayat 101 (maksudnya):
“Dan apabila kamu berpergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-Qasar solatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.”
Dalam hal ini, terdapat suatu riwayat dari Abu Ya’la bin Umayyah, dia menceritakan:
“Aku pernah berkata kepada ‘Umar bin Khaththab: (Allah berfirman:) “maka tidaklah mengapa kamu meng-Qasar solatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir”. (Namun sekarang) masyarakat sekarang sudah berada dalam keadaan aman. ‘Umar berkata: “Aku juga pernah merasa hairan sebagaimana engkau merasa hairan. Maka aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai hal tersebut. Beliau bersabda: “Ia suatu sedekah yang telah disedekahkan oleh allah kepada kamu. Oleh itu, terimalah sedekah Allah.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 686)
Hadis-Hadis Berkenaan Tuntutan Meng-Qasarkan Solat Di Dalam Perjalanan:
1 – Abdullah bin ‘Umar r.a. berkata:
“Aku pernah menemani Rasulullah s.a.w. dalam perjalanannya dan beliau tidak pernah mengerjakan solat lebih dari dua rakaat (bagi setiap solat). Demikian juga dengan Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Usman r.anhum. (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 689)
2 – Dari ‘Aisyah r.ha, dia menyatakan: “Ketika solat pertama kali diwajibkan, Allah mewajibkan dua rakaat-dua rakaat, sama ada ketika sedang tidak dalam perjalanan mahupun ketika dalam perjalanan. (Selepas hijrah Nabi s.a.w.) Solat ketika safar ditetapkan/dibiarkan (dua rakaat), dan solat ketika tidak safar (dalam perjalanan) ditambah (jumlah rakaatnya). (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 1570)
Imam Ahmad rahimahullah di dalam al-Musnadnya (6/241) menambahkan:
“Kecuali solat Maghrib dan subuh”. (Rujuk: Nota kaki no. 71, m/s. 550, Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i)
3 – Dari Ibnu ‘Abbas r.a., dia menyatakan:
“Allah telah mewajibkan solat melalui lisan Nabi Kalian s.a.w. ketika tidak dalam perjalanan (musafir) adalah empat rakaat dan ketika dalam perjalanan dua rakaat, serta ketika menghadapi rasa takut adalah satu rakaat.” (Hadis Riwayat Muslim, Kitab orang-orang yang musafir, no. 687)
Menurut Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, yang menaqalkan daripada Sheikh Abdul Aziz bin Bazz:
“Dasar solat yang pertamanya adalah dua rakaat, sebagaimana yang diwajbkan oleh Allah Ta’ala, kemudian setelah hijrah, Allah s.w.t. menambahkannya dua rakaat lagi bagi yang tidak dalam perjalanan menjadi empat rakaat, iaitu pada solat ‘Isya’, Zuhur, dan ‘Asar. Adapun solat ketika dalam perjalanan, masih tetap dua rakaat, iaitu bagi solat ‘Isya’, Zuhur, dan ‘Asar (diqasarkan). Dengan demikian, meng-Qasarkan solat (di dalam perjalanan) adalah sunnah mu’akkad kerana tidak ada larangan untuk mengerjakan solat secara lengkap, iaitu empat rakaat. (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 252)
Walau bagaimanapun, perlu difahami dan diketahui bahawa meng-Qasarkan solat (memendekkannya menjadi dua rakaat) di dalam perjalanan (musafir) adalah lebih baik dan utama daripada melaksanakannya secara sempurna (tamam). Ini adalah berdasarkan kepada hadis berikut:
Daripada ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. dia menyatakan, Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah suka jika keringanan yang Dia berikan itu dimanfaatkan sebagaimana Dia tidak suka kemaksiatan kepada-Nya dilakukan.” (Hadis yang dinilai Hasan menurut Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitabnya, Irwaa’ul Ghaliil, 3/9, no. 564)
Daripada Ibnu Mas’oud dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma:
“Sesungguhnya Allah sangat menyukai rukhsah (keringanan) dari-Nya dimanfaatkan sebagaimana Dia menyukai pelbagai kewajiban yang dari-Nya dikerjakan.” (Hadis yang dinilah Sahih menurut Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani di dalam kitabnya, Irwaa’ul Ghaliil)
Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan (di dalam Majmuu’ al-Fataawaa, 24/9):
“Bahkan terdapat suatu pendapat dari mazhabnya Abu Hanifah dan Imam Malik, bahawa hukum melaksanakan solat secara Qasar di dalam perjalanan (musafir) adalah suatu yang wajib.” (Dirujuk dari nota kaki no. 80, Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 252)
Persoalan Jarak Dalam Musafir:
Dari Abi Sa’id r.a., beliau menyatakan:
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. apabila bermusafir sejauh satu farsakh, maka beliau mengqasarkan solatnya.” (Hadis Riwayat Sa’id bin Mansur)
Dari Anas r.a., bahawasanya beliau menjawab semasa ditanya tentang solat qasar di antara Basrah dan kufah: “Dahulu Rasulullah s.a.w. jika berpergian (musafir) sejauh tiga batu (satu farsakh) beliau s.a.w. solat dua rakaat (qasar). (Diriwayatkan oleh Muslim, ahmad, dan Abu Daud).
Menurut para ulama fiqh, satu farsakh ialah tiga batu. Ini diambil mengikut jarak kiraan Parsi. (Dirujuk dari: Kertas Kerja Ust. Rasul bin Dahri, Solat Qasar & Jamak, m/s. 6)
Menurut sebahagian ulama, bahawa yang dinamakan sebagai musafir itu tidaklah dihadkan dengan jarak-jarak yang tertentu. Tetapi, dalam hal ini, adalah merujuk kepada ‘uruf (adat kebiasaan) seseorang itu berada. Jika jarak perjalanan dianggap sebagai musafir (pergi keluar kawasan dari tempat kebiasaan ke tempat yang di luar kebiasaan) oleh sesebuah masyarakat, maka dia boleh meng-Qasarkan solatnya dan berbuka puasa.
Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan:
“Dalil yang lebih tepat dan kuat ialah pendapat ulama yang membolehkan qasar solat dan berbuka puasa ketika musafir dan tidak ada jarak perjalanan yang khusus. Inilah pendapat yang paling sahih.” (Rujuk Kitab Majmuu’ al-Fataawaa, 24/106)
Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah. Alasannya, Allah dan Rasul tidak pernah menghadkan jarak tertentu dalam bermusafir yang membolehkan solat diqasarkan dan puasa dibenarkan berbuka.
Imam Abu al-Qasim al-Kharqi rahimahullah telah menyatakan dalam kitab al-Mughni:
“Aku tidak bersetuju dengan pendapat yang diutarakan oleh kebanyakan ulama fiqh kerana pendapat mereka itu tidak ada hujjahnya (dalam menghadkan jarak musafir). Ini kerana, terdapat riwayat dari kata-kata para sahabat yang saling bercanggah. Sedangkan, tidak boleh berhujjah menggunakan dalil yang saling berbeza.”
Pendapat yang terpilih adalah, tidak harus meng-Qasarkan solat apabila jarak kurang daripada tiga batu. 1 batu adalah bersamaan 1748 meter. Manakala 3 batu adalah bersamaan 5541 meter (5.541 kilometer). Oleh itu, seseorang boleh meng-Qasarkan solat apabila mencapai had ini.
Menurut riwayat Ibn Abi Syaibah rahimahullah dengan sanad sahih dari Ibnu ‘Umar r.a.. Pendapat ini dipersetujui oleh Ibnu Hazm, katanya:
“Nabi s.a.w. telah keluar ke perkuburan Baqi’ (dengan jarak kurang dari 3 batu) untuk mengebumikan jenazah dan keluar ke Fadaq untuk membuang hajat. Tetapi Baginda s.a.w. tidak pernah meng-Qasarkan solatnya.” (Disalin dari buku Wudhu’ dan Solat Menurut Sunnah dan Mazhab Syafie, oleh Abu Ruwais asy-Syubrawi, Terbitan Karya Bestari Sdn. Bhd.)
Disimpulkan dari beberapa pendapat, bahawa pendapat yang terpilih adalah tiada had tertentu yang membataskan seseorang untuk dikategorikan sebagai musafir. Ia adalah bergantung kepada ‘uruf/kebiasaan seseorang itu sendiri iaitu dari mana dia berada (kawasan kebiasaan dia berada/menetap) dan ke mana dia keluar (ke tempat yang di luar kebiasaannya) tanpa dihadkan jaraknya. (Disimpulkan dari perbahasan dalam buku Fiqh Dan Musafir Penerbangan, Hafiz Firdaus Abdullah, Di bawah Tajuk Mengqasar Solat Dalam Penerbangan, Terbitan Perniagaan Jahabersa, m/s. 161-204)
Bila Solat Qasar Segera Boleh Dilakukan:
Dalam hal ini, Ibnu Mundzir rahimahullah berkata (Dipetik daripada: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 259):
“Para ulama sepakat bahawa orang yang hendak melakukan perjalanan boleh meng-Qasar solat jika sudah keluar dari seluruh rumah yang ada di kampung yang ditinggalkannya. (Majmuu’ Fataawaa Ibni Bazz, 12/267)
Tempoh (Lamanya) Musafir Yang Dibolehkan Solat Qasar Tetap Dilaksanakan:
Berikut dibawakan fatwa Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyah ketika menjawab pertanyaan “tentang seseorang yang mengetahui bahawa dia akan bermukim dua bulan, apakah dia boleh mengqasarkan solat?”
Beliau menjawab:
“Di dalam masalah ini terdapat perbezaan pendapat di kalangan ulama. Di antara mereka ada yang mewajibkan untuk mengerjakan solat secara lengkap, tetapi ada juga di antara mereka yang mewajibkan qasar solat. Yang benar adalah keduanya boleh berlaku. Barangsiapa yang mahu meng-Qasarkan solatnya tidaklah dilarang, dan yang hendak mengerjakannya secara lengkap pun tidak dilarang. Selain itu, mereka juga berbeza pendapat berkenaan mana yang lebih afdhal di antara keduanya. Barangsiapa yang masih menyimpan keraguan, maka mengerjakan solat secara sempurna adalah lebih baik sebagai langkah berhati-hati. Sedangkan orang yang memahami sunnah dan mengetahui Rasulullah s.a.w. tidak mensyariatkan bagi orang yang di dalam perjalanan untuk mengerjakan solat melainkan dengan dua rakaat, dan tidak memberikan batasan perjalanan dengan waktu dan tempat, serta tidak juga memberikan batasan masa tinggal dengan waktu tertentu, tidak tiga, empat, dua belas, atau lima belas hari, maka dia boleh meng-Qasar solatnya, sebagaimana yang dikerjakan oleh kebanyakan ulama salaf. Sehinggakan Masruq pernah bermukim beberapa tahun dengan tetap mengqasarkan solatnya. Kaum muslimin juga pernah bermukim di Nahawanda selama enam bulan dan mereka (tetap) mengqasar solat. Mereka meng-Qasarkan solat dalam keadaan mengetahui bahawa keperluan mereka tidak akan cukup empat hari atau lebih. Sebagaimana Nabi s.a.w. dan para Sahabat beliau setelah pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah) selama di Makkah lebih kurang dua puluh hari beliau meng-Qasarkan solat. Mereka juga pernah bermukim di Makkah selama sepuluh hari dan berbuka puasa di siang hari pada bulan Ramadhan. Setelah membebaskan kota Makkah, Nabi s.a.w. mengetahui bahawa beliau perlu bermukim di sana lebih dari empat hari. Seandainya pembatasan tersebut tidak mempunyai dasar (niat menetap/mastautin – pen.), bererti seorang musafir masih tetap sebagai musafir yang boleh meng-Qasarkan solat walaupun dia bermukim di suatu tempat beberapa bulan. Wallahu a’lam.” (Majmuu’ al-Fataawaa, 14/17-18). (Dinukil dari nota kaki no. 114, Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 262)
Adakah Solat Sunnah Rawatib Ketika Dalam Musafir:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Kegigihan dan kesungguhan Rasulullah s.a.w. dalam memelihara solat sunnah sebelum Subuh lebih besar daripada solat sunnah yang lainnya sehingga beliau tidak pernah meninggalkannya. Begitu pula solat witr, sama ada ketika dalam perjalanan mahu pun ketika sedang di rumah... Tidak pernah dinukil bahawa Rasulullah s.a.w. mengerjakan solat sunnah rawatib selain solat sunnah sebelum subuh dan solat witr dalam perjalanannya.” (Rujuk: Zaadul Ma’aad fii Hadyi Khairil ‘Ibaad, 1/315)
Berdasarkan fatwa Imam Ibnul Qayyim, ini menunjukkan bahawa difahami hanya solat sunnah rawatib subuh dan solat witr yang dituntut. Dan tiada sandaran bagi kesunnahan melakukan solat sunnah rawatib bagi solat-solat yang lain melainkan sebelum solat subuh.
Bagaimana Dengan Solat-solat Sunnah Yang Lainnya:
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
“Para ulama telah sepakat untuk menetapkan sunnah (adanya) terhadap solat-solat sunnah mutlak (solat-solat sunnah yang memiliki sebab untuk ia dilakukan) dalam perjalanan.” (Syarhun Nawawi ‘alaa Sahih Muslim, 5/205). (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 269)
Solat sunnah mutlak yang dimaksudkan adalah seperti solat sunnah Thawaf, Solat Tahiyatul Masjid, Solat sunnah wudhu’, solat Dhuha, dan seumpamanya.
Solat Di Belakang Imam Yang Bermastautin Ketika Kita Bermusafir:
Ibnu ‘Abbas rahimahullah (ketika bermusafir), dia akan solat empat rakaat jika solat bersama imam (yang bermastautin) dan dua rakaat (Qasar) jika solat sendirian. (Hadis Riwayat Muslim, Kitab Solat orang-orang yang musafir, no. 17 (688))
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menyebutkan:
“Majoriti mereka menyatakan bahawa jika seorang musafir melakukan takbiratul ihram di belakang orang yang bermukim/bermastautin sebelum salamnya, maka dia harus mengerjakan solat seperti orang mukim, iaitu mengerjakan secara lengkap (empat rakaat)”. (at-Tamhiid, 16/311-312)
“Mereka yang bermusafir ketika menjadi makmum kepada imam yang bermastautin harus mengerjakan solat seperti yang dilakukan imamnya (solat sempurna/empat rakaat). (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 271)
Pendapat ini adalah didasari kepada hadis:
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Oleh kerana itu, janganlah kalian menyelisihinya, jika dia bertakbir, bertakbirlah kalian...” (Hadis Riayat Muslim, Kitab ash-Solah, no. 414)
Solat Di Belakang Imam Yang Bermusafir (Imam Yang Meng-Qasarkan Solatnya):
Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan:
“Para ulama telah sepakat bahawa jika orang yang bermukim/bermastautin menjadi makmum kepada imam yang bermusafir lalu musafir itu mengucapkan salam (setelah dua rakaat solatnya secara Qasar – pen.), maka orang yang bermukim harus menyempurnakan solatnya (kepada empat rakaat).” (Rujuk: al-Mughni, 3/146. Lihat: Nailul Authaar, asy-Syaukani, 2/403)
Jika seorang musafir mengimami beberapa orang yang bermukim/bermastautin, lalu dia mengerjakan solat itu secara lengkap/tamam/sempurna, maka solat mereka itu sempurna dan sah, hanya saja bertentangan dengan yang afdhal (sunnahnya). (Majmuu’ Fataawaa Ibni Baaz, 12/260). (Dinukil daripada: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 270-271)
Perbezaan Di Antara Solat Qasar Dengan Solat Jamak:
Qasar (memendekkan solat fardhu yang empat rakaat):
Qasar solat itu tidak memiliki sebab kecuali ketika dalam perjalanan (musafir) sahaja. Maka, rukhsah meng-Qasarkan solat itu adalah khusus ketika musafir sahaja, iaitu bagi solat yang empat rakat menjadi dua rakaat.
Jamak (menghimpunkan dua solat fardhu):
Jamak solat itu lebih luas daripada qasar solat. Oleh kerana itu, jamak memiliki beberapa sebab lain selain perjalanan, sebagai contoh kerana sakit, istihadhah, hujan, jalan berlumpur, angin kencang udara dingin, kesukaran yang dihadapi berkaitan masa bagi salah satu waktu solat, dan seumpamanya. Menjamakkan solat ketika musafir adalah dimakruhkan ketika mana tidak memiliki sebab, malah adalah lebih baik tidak menjamakkan solat ketika dalam bermusafir melainkan benar-benar diperlukan atau memiliki maslahah. (Rujuk: Ensiklopedi Solat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, oleh Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, Terbitan Pustaka Imam asy-Syafi’i, m/s. 275-276)
Oleh: Nawawi Subandi
http://fiqh-sunnah.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)