Thursday, March 17, 2011

Kesalahan Jamaah Tabligh yang perlu diluruskan

Jika kita membincangkan tentang jamaah tabligh, biasanya mereka akan berkata ; “ itu ( jamaah tabligh ) bukan nama kita, terkadang kita juga dipanggil jamaah kompor atau jamaah dakwah dll. “ Apapun nama mereka sehinggalah kita namakan jamaah tabligh hanya untuk memudahkan saja dalam pembahasan ini.

Diantara ciri khas cara berdakwah jamaah tabligh adalah menghindari kajian dan soal jawab tentang ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', serta lebih menonjolkan sunnah dalam bab cara berpakaian, makan dan minum, tidur, dll yang membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.

Dikalangan masyarakat gerakan dakwah ini sangat populer, khususnya jika dikaitkan dengan akhlak. Mereka sangat menonjolkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, dan itu diantara perkara yang sangat di utamakan dalam prinsip dakwah mereka.
Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Maka dalam pembahasan disini, saya mencuba untuk bersikap adil.

Alhamdulillah, saya pernah bersama mereka, setidaknya saya ingin meletakkan suatu perkara pada tempatnya, karena pembahasan ini bukan untuk menjatuhkan maruah saudara-saudaraku jamaah tabligh. Pembahasan ini untuk pelajaran dan hikmah bagi saudaraku yang telah memahami, dan ini untuk renungan bagi saudaraku di jamaah tabligh untuk di teliti dan dikaji lalu disampaikan antara sesama untuk suatu perubahan.

Bagaimanakah hakikat jamaah tabligh yang bermarkaz di India, Pakistan dan Banglades ? Kajian dibawah ini adalah jawabannya.

Pendiri Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti.

Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis Bri Musliman, hal.583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, ”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah I’tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa’iduha Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19)

Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal.makam Rasulullah 3).

Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14)

Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yang dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi . (Lihat Al-Qaulul Baligh Fit Tahdziri Min Jama’atit Tabligh,Allah karya Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)

Sebagaimana kita pahami bahwa akidah asya’irah dan maturudiyah, fanatik bermazhab, dan mengamalkan tarekat sufi tidak dicontohkan oleh Nabi saw dan atsar para sahabatnya. Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi.

Perkara diatas menunjukkan bahwa pemahaman dan amalan pendiri jamaah tabligh bertentangan dengan sunnah nabi saw dan para sahabatnya. Untuk pembahasan ini, alangkah baiknya kalau para pembaca dapat mengenal terlebih dahulu tentang kesalahan-kesalahan akidah asya’irah, bahayanya fanatik mazhab dan ajaran tarekat sufi. Karena 3 perkara tersebut sangat membudaya dan merupakan amalan di kalangan jamaah tabligh, khususnya para senior dan para masyaikh di jamaah tesebut.

Diantara ciri khusus akidah asya’irah adalah mereka mentakwilkan makna sifat-sifat Allah, seperti mereka mengingkari bahwa Allah itu bersemayam di langit. Padahal pernyataan bahwa Allah bersemayam di langit adalah firman Allah sendiri di surah at Taha:5, serta merujuk pada hadis Mu’awiyah ibnu hakam as-sulami yang diriwayatkan muslim, dimana seorang budak perempuan mengatakan bahwa Allah dilangit, saat Nabi saw bertanya kepadanya. Ini juga sebagaimana apa yang di pahami oleh para sahabatnya seperti Abdullah Bin Abbas saat menafsirkan makna ‘istawa’ pada surah al-‘Araf: 54 dengan makna ’alaa alaihi war tafa’a (Allah berada diatas ‘Arsy dan tinggi, bukhari pada kitab tauhid). Bukankah kita wajib mengikuti pemahaman Nabi dan para sahabatnya dalam memahami Quran? Siapa yang tidak mengikuti jalan para sahabat Nabi saw dalam berislam, maka ia akan sesat. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

Dan sesiapa Yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut jalan Yang lain dari jalan orang-orang Yang beriman(jalan para sahabat), Kami akan memberikannya Kuasa untuk melakukan (kesesatan) Yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke Dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.an-Nisa:115.

Dan banyak lagi kemungkaran dari ajaran asya’irah yang bertentangan dengan sunah Nabi saw, pembahasan selengkapnya akan kita sampaikan pada kesempatan lain insya Allah.

Begitu juga unsur fanatik dalam bermazhab. Pada hakikatnya mereka mengajak manusia untuk beribadah mengikut mazhab. Mereka tidak memfokuskan untuk mengamalkan hadis-hadis shahih dalam ibadah, walaupun sudah jelas kelemahannya tetap saja berpegang pada mazhab.Bukankah kita diperintahan untuk mengikuti Nabi saw dalam ibadah?

Mereka membenarkan ajaran tarekat sufi, seperti naqsabandi, sadzili dll. Padahal amalan-amalan tarekat sufi seperti ini bertentangan dengan amalan Nabi saw, seperti adanya bai’at kepada syaikh guru dalam ibadah, membayangkan wajah guru dalam beribadah, berdzikir dengan lafaz ‘Allah’ saja dll. Sebaliknya ajaran tarekat sufi ini banyak diamalkan di jamaah tabligh, bahkan ia juga jadi amalan diantara para masyaikh-masyaikh tabligh.

6 Sifat/ Perkara yang berunsurkan syubuhat

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 4).

Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al-asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75)

Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah, dan kepada Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jamaah At-Tablighiyyah, hal. 46).

Sifat Kedua: Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri

Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah-sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).

Sifat ketiga: Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir

Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-dasar pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu.

Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim

Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al-wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang bertentangan dengan kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang tersebut 'alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat

Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)
Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata'ala
Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta’lim setiap hari, majelis ta’lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah.

Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i’tikaf pada setiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen) sebut dengan khuruj maka ini bid’ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 7)
Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 6)

Aqidah Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya

Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah:

1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).

2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A’mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Qur’an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A’mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai’atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya Asy-Syaikh Sa’ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).

8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. (Fadhail A’mal, bab Fadhail Ash-Shalati ‘alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).

9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 10).

10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I’tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta’rifuha, hal. 70).

11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A’mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta’an.

Fatwa Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh

1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.

2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar (khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid’ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid’ahan”.

3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata: “Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid’ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur-kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.

4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.” Beliau juga berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.

5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.
Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwamith Thariq.

22 comments:

  1. Saya pernah membuktikan langsung ke india dan bangladesh tadz...MasyaALLAH.. ^_^
    Smoga ALLAH jg beri taufik kpd ustadz utk bisa ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emangnya ada apa disana bos?? Kq segitunya kali? Emgnya kiblat bos kesana ya? Napa gk naik haji aja ato paling tidak umrah gitu?? Kan tu rukun islam.

      Delete
    2. ke india bukan nya kiblat bos.tp belajar dakwa seperti cara2 rasulallah yg tidak hidup di jazirah arab

      Delete
  2. Saya kurang sependapat dg beberapa statement di atas.

    ReplyDelete
  3. Assalamu'alaikum pak Saidan Effendi, mudah2an Anda dan keluarga senantiasa berada dalam rahmat Allah ta'ala.

    Alangkah baiknya jika Bapak menyempatkan diri bertemu dan konfirmasi berita ini ke Syeikh Abu Bakar Al Jazairi di Universitas Madinah.

    Best regards.

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kpd pak galih,

      bisa bapak lawat blog ini:

      http://urusanulama-hl.blogspot.com/2012/04/satu-dialog-yang-menarik.html

      Delete
    2. Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Ulama & Pengarang Tafsir al-Aisar

      Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi ialah seorang ulama hadis yang zuhud. Beliau dilahirkan di Algeria pada tahun 1342 H/1921 M. Ketika umurnya lebih kurang satu tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Ibunya seorang yang soleh yang unggul dalam mendidik anak berdasarkan panduan Islam. Beliau belajar al-Quran ketika beliau masih kanak-kanak saat umurnya dua belas tahun. Beliau selesai awal pendidikan di rumah, kemudian dipindahkan ke ibu kota Algeria dan bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah.

      Selama masa itu, beliau menghadiri pelajaran oleh At-Tayyab Abu Qir dan telah mendapat penerangan-penerangan dengan cahaya kepercayaan dalam tauhid dan sunnah Nabi saw.

      Beliau juga menghafal matan kitab, ilmu lughah dan fiqh Maliki kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke kota lainnya sampai kemudian belajar di Madinah di Masjid Nabawi dan Makkah sehingga mendapat pengakuan (ijazah) dari para masyaikh di sana.

      Diantara gurunya dinegerinya iaitu Syeikh Nu’aim An-Nu’aimi, Syeikh Isa Mu’tauqi dan Syaikh Thayib Al-Uqbi, sedangkan di Madinah ialah Syeikh Umar Bari, Syeikh Muhammad Al-Hafiz, Syeikh Muhammad Khoyal dan selainnya.

      Ketika penjajahan Perancis dimulai pada tahun 1952, beliau pindah ke Madinah. Raja Saud bin Abdul Aziz adalah penguasa saat itu dan Universiti Islam Madinah yang telah dibina. Beliau pertama kali bekerja sebagai seorang guru di Madinah, kemudian ia bergabung dengan Universiti Madinah dan mengajar di sana iaitu di Darul Hadis Madinah hingga bersara. Beliau juga bekerja sebagai penasihat dan penolong di beberapa lembaga berkaitan dengan dunia muslim selama waktu itu.

      Beliau menyerang ahli sufi dan tasauf yang sesat sebagai alasan mengapa umat Islam hilang dalam perjuangan melawan kolonialisme Eropah.

      Karya-karyanya

      Antara karya-karyanya yang terkenal:

      1. Tafsir al-Aisar
      2. Minhajul Muslimin
      3. 90 Seruan Ilahi dalam Al-Quran

      Tafsir al-Aisar ialah suatu kitab tafsir yang mudah difahami sebagaimana nama tafsir ini iaitu 'al-Aisar (termudah)', yang menggabungkan antara erti yang dimaksud dalam firman Allah Taala dengan huraian-huraian bahasa yang mudah, sehingga kalangan awam pun dapat dengan mudah memahaminya.

      Delete
  4. Semoga tuan dikurnaikan hidayah serta tidak menyebarkan fitnah. Jangan hanya menyalin drp tulisan org lain tanpa kajian ilmiah mengenainya.
    Untuk pengetahuan tuan Tareqat Chistiyyah bukan diasaskan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti.Nama Chistiyyah dinisbatkan kpd Abu Ahmad (anak kpd Sultan Farsanafah)yg berasal dr Chisti(satu bandar dlm Khurasan,sekarang Afghanistan),murid kpd Khawaja Abu Ishaq Shami. Utk melihat kpd rantaian sanad lawatilah http://books.themajlis.net/node/450
    Saya bukan org tareqat, tp kebenaran saya buat sikit kajian.

    ReplyDelete
  5. kritikan orang bisa salah dan benar, tetapi dengan salah kritiknya orang apakah berarti jamaah tabligh bebas dari kesalahan akidah dan ibadah?

    ReplyDelete
  6. Sy pesan kalo menilai sesuatu itu harus objektif, jgn mengutamakan sunjektifitas. Karena, ketika seseorang sudah memandang sesuatu secara subjektif, maka yang muncul di pikirannya hanyalah kebenaran saja atau kesalahan saja.
    Setiap kelompok dakwah itu pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Hanya Allah yang tau yang mana yang benar. Yang penting manusia tetap mendakwahkan Islam dan selalu berusaha untuk memperbaiki akhlak dan ibadah, serta keyakinan kita... Afwan...

    ReplyDelete
  7. Taubatlah Antum wahai saudaraku ..........

    ReplyDelete
  8. taubat dari apa ya???

    sila lawat blog ini-

    http://urusanulama-hl.blogspot.com/2012/01/membongkar-kesalahan-tabligh.html

    ReplyDelete
  9. bagai orang buta menuntun orang buta

    ReplyDelete
  10. subhanallah.....
    berapa banyak orang masuk islam dengan majalah, intenet, dan media lainnya?
    subhanallah orang amerika lebih takut kpd orang yang membawa kompor dari pada orang yan membawa senjata atau alat senjta lainnya, krn orang yang membawa kompor itu membawa hidyah....
    kita harus bangga melihat saudara kita yang krn asbabnya banyak orang kafir masuk islam.....
    kamu yang memiliki blog ini berapa masuk islam krn antum yang ngopas ngopas berita dari situs lan?
    jangan terlalu cepat menilai ustdz tentang jt.....
    jelajahi semua situs tentang jt agar ustd terbuka hatinya..... smoga ustd bisa iut mengambil bagian dari jamaah tablight isyaAllah.....

    ReplyDelete
  11. didalam jt ada juga kebaikannya, sebagaimana ada juga keburukannya yang harus kita perbaiki.kalau kerburukan itu tidak kita perbaiki maka justru akan menghapuskan kebaikan yang ada. kekeliruan di jt terletak kepada dimana jt penyebar paham asyaairah, fanatisme bermazhab dan ajaran sufi. didalam tiga aspek itu terdapat kesyirikan, bid ah dan khurafat yang senantiasa menghapuskan semua amalan manusia.

    ReplyDelete
  12. mmg jamaah ade kurng dan silapnyer..sy pn da kurng mngikuti jemaah..tp jemaah bgini prlu ada saya rase..hm,,ape2 pn..saya xsuke wahabi :)

    meh faham ahli sunnah tol2...
    http://jomfaham.blogspot.com/

    ReplyDelete
  13. Assalamualikum,tuan2 semua.... mengaku jer lah kita semua ni jahil..so buat ape kita nak cakap perkara,perihal seseorng,pegangan seseorng atau ape sajelah yg kita tak berapa tahu.banyak2 istigfar tuan2.kita semua ni dah kena tipu dengan setan jer.Masing2 cuba bagitahu bahawa kenyataan dialah yg paling betul walhal masing2 cuma ade sedikit jer pengetahuan.tak payah lah kita nak ikut ape orang cakap pasal seseorang tu.Orang yg bagi pandangan pasal orang lain tu pun tak tau lagi akhir hayat dia macam mana,tak kira lah dia hidup sebagai ulamak ke mufti ke maulana ke atau ustaz..Di sisi Allah kalau mati tak dapat ucap kalimah ke neraka la jawab nyer. Allah yg maha mengetahui segala2nya.Tak payah tuan2 nak sibuk cakap orang ni tak betul orang tu tak betul.Diri sendiri tu dah betul sangat ke?kalau tuan2 rasa sesuatu perjuangan tu ade kebaikan untk diri dan agama tuan2 itu bagus untuk tuan2 sila istiqamah dan tingkatkan pengorbanan,kalau tuan2 rasa sebaliknyer lebih baik diam.komen2 yang tuan2 beri tu sikit pun tak dapat buat umat ni satu hati malah pecah hati adalah.Ingat tuan2 apabila bertambah ilmu kita tetapi sifat tawaduk kita tidak meningkat ketahuilah sessungguhnyer kita telah memiliki sifat iblis.saya bukan apa2 hanya sekadar nasihat.kalau nasehat ni pun tuan2 dah nak melenting saya minta maaf lah ye.Akan datang tak perlu lagi la nak buat perkara macam ni.Bukankah lebih baik diskusi berkenaan iman,barulah iman meningkat.Wassalam....

    ReplyDelete
  14. Untuk menilai sesuatu harus dengan melepaskan interest dan kecenderungan dulu.

    Tulisan di atas saya bisa jadi mengandung kesalahan dan pasti mengandung kebenaran juga. Tinggal jujur hati orang yang dikritik untuk introspeksi maupun jujur hati orang yang mengkritik belajar lagi agar diperoleh kebenaran yang hakiki.

    Jaman sekarang orang sulit terima kritikan, padahal bila benar tentu bermanfaat, bila salah dijelaskan lagi dengan bukti-bukti... demikian bukan?

    ReplyDelete
  15. Subhanallah apa yg diuraikan diatas , wallahi demikianlah sebenarnya jamaah tablig .Uraian diatas menjadi syubhat kami selama ikut jt , dg mengikuti kajian salafy terjawab Alhamdulillah.
    Kelemahan terbesar dari karkun/masturoh (jt) adalah malas belajar dengan baik (taqlid buta). Andai mau baca buku rujukan jt …fadloil amal,kisah sahabat dll, dg ikhlas (disertai berdo’a untuk dimudahkan Allah melihat kebenaran ) dijamin banyaaaak syubhat (alhamdulillah cara ini yang kami tempuh/juga khuruj yg katanya dg cara ini Allah fahamkan agama ?????? ber ulang kali kami khuruj kok makin ngak jelas !! )
    Dengan berharap dapat mengetahui bagaimana beribadah yang benar sesuai Sunnah Rasulullah, kami ikut JT.
    Suami tiap th khuruj 4 bln IPB (7 kali) ,hidmat di Nizamudin , 4 bln negri jauh (Amerika). Masturoh 2 bln ke IP , dibai’at di Nizamudin (oleh maulana Inamul Hasan th 1994). Makin banyak syubhat yg saya dapatkan ,saya tanya mana dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang perintah khuruj itu yg konon katanya sifat utama para sahabat (sahabat juga khuruj ) ???.Betul sahabat juga khuruj tapi sahabatnya maulana ilyas bukan sahabat rasulullah hehe…selama ini kami tertipu…teganya mereka naudzubillah mindzalik. Bukannya jawaban yg kami dapatkan tapi kemarahan (pasti tidak dapat menyebutkan dalil krn memang ini adl da’wah ala maulana Ilyas).
    Niat baik dan semangat saja tidaklah cukup, tapi harus dimulai dengan mencari ilmunya sebelum kita beramal.
    Allah telah menyempurnakan dien-Nya, termasuk dalam hal ini ialah jalan dakwah. Ini merupakan perkara tauqifi, harus atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salafush shalih. Sedangkan apa yang tidak sesuai dengannya, maka ia adalah bid’ah dan kesesatan, sekalipun namanya dipoles dengan apa saja dan biarpun memamerkan berjuta dalih. Apakah kita tega untuk menyatakan sesat orang yg memang telah disesatkan oleh para ulama kaum muslimin ?? apakah kita tetap lebih mendahulukan “perasaan kita” dr pd “ilmu” yg menerangkan siapa mereka sebenarnya??.Apakah kita ragu untuk membela Agama Allah dari kerusakkan yg mereka lakukan??Ataukah kita malah menyalahkan orang yg menerangkan tentang kesesatan mereka??
    Yuuuu belajar masalah agama,masalah tauhid,syirik,sunnah ,bid’ah ,sirah nabawiyah yg shahih dst .
    semoga Allah memberikan hidayah kepada kita .semoga Allah mengampuni kita dan menuntun kita diatas Al-Haq

    ReplyDelete
  16. Apakah admin ni hafiz quran? Sehingga bs bil jt tak berilmu.
    Di lampung ada 7pondok tahfidz dan alim milij jt.hari2 ngaji kitab kuning. Hafal quran dan hadist kutubusttah.
    Pondok al fatah temboro santri nya 18rbu.semuanya hafis quran hafal kutubstth.
    Jadi tak benar jt tak berilmu.
    Kalo sampean mau adu ilmu silahkan?
    Justru albani lah yg sbnarnta sama sekali bukan seorang ulama.beliau adalah tukang servis jam. Hadohhhh hadohhh orang tak tau apa apa saja kok berani nulis asal

    ReplyDelete
  17. Gak ada baia baiat an ni nizamudin pak.
    Kita disana buat dakwah.kami juga tetep naik haji umroh. Bohong kalo bapak bilang di baiat baiat.perintah khuruj sama dgn perintah dakwah.
    Sama aja seperti dalil untuk mondok,kita pake dalil menuntut ilmu.
    Salafi ngeyel tapi tak berilmu

    ReplyDelete