Wednesday, January 4, 2012

Diantara Akidah Syi'ah

Diantara Akidah Syi'ah

Oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi.

Sepatah Kata Dari Penterjemah
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa
dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba'du :
Sebenarnya, sudah lama saya ingin menterjemah buku kecil ini, yang penuh dengan
bukti yang akurat dari buku-buku pegangan kaum syi'ah. Tatkala salah seorang
ikhwan yang mulia mengirim email kepada saya untuk minta dikirimi makalah
tentang syi'ah, disebabkan di kampusnya sedang gencar-gencarnya dakwah syi'ah,
maka saya semakin terdorong untuk cepat-cepat menterjemahkan buku ini, agar
kerusakan aqidah golongan yang sesat ini bisa diketahui oleh masyarakat umum.
Tulisan ini insya Allah akan saya kirim lewat group diskusi ini secara bertahap
menjadi 16 edisi. Terjemahan ini diizinkan untuk disebarluaskan bagi siapa yang
ingin menyebarkannya secara cuma-cuma, asalkan tidak dirobah sedikitpun dari
tulisannya.
Akhirnya kepada Allah -lah kita memohon agar kita semua diberi keikhlasan dalam
beramal shaleh, dan ditetapkan di atas agama-Nya yang lurus, dianugerahkan niat
yang baik, dan pemahaman yang benar terhadap Al Quran dan Sunnah sesuai dengan
pemahaman sahabat. Serta dijauhkan dari segala yang merusak akidah, sesungguhnya
Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Amiin.

Pendahuluan
Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga senantiasa
dianugerahkan atas Rasulullah dan atas keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.
Amma ba'du :
Sesunguhnya motivasi yang mendorong untuk menulis makalah ini adalah apa yang
terlihat belakangan ini, yakni, semakin gencarnya kegiatan Rafidhah (syi'ah)
dalam mendakwahi ajaran mereka setaraf dunia Islam, dan bahaya terhadap agama
islam yang dimiliki oleh golongan yang keluar ini, serta kelengahan dari
kebanyakkan dari awam kaum muslimin terhadap bahaya mereka, serta apa-apa yang
terdapat dalam akidah mereka berupa syirik, celaan terhadap Al Quran, celaan
terhadap para sahabat, ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para imam. Sungguh
penyusun telah bertekat untuk menulis makalah ini, dan menjawab apa yang menjadi
problem dalam permasalahan ini secara ringkas, mengikuti metode syeikh kita
Syeikh Alaamah abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin -semoga Allah menjaganya-
dalam kitab beliau (( At Ta'liiqaatu 'Ala Matni Lum'atil 'Itiqaad )), dan dengan
cara menukil dari buku-buku Rafidhah yang terkenal dan tersohor di kalangan
mereka, serta dari buku-buku ahli sunnah dari kalangan para imam-imam terdalulu
dan belakangan, dimana mereka telah membantah dan menerangkan kerusakan akidah
mereka yang berdiri atas kesyirikan, ghuluw (sikap berlebih-lebihan), kedustaan,
caci maki, celaan, tikaman, dll.
Sesungguhnya penyusun telah berusaha dalam makalah yang singkat dan kurang
berharga ini, untuk membuktikan kesalahan mereka dari buku-buku mereka dan
karangan-karangan yang terpercaya di kalangan mereka, sebagaimana perkataan
Syeikh Ibrahim bin Sulaiman Al Jabhan -semoga Allah menjaganya- : "Dari mulutmu
aku menghukummu wahai pemeluk syi'ah".
Akhirnya, penyusun memohon kepada Allah 'Ajja wa Jalla semoga makalah ini
bermanfaat bagi orang-orang yang bisa memandang dengan baik, sebagaimana firman
Allah: "INNA FII DZAALIKA LADZIKRA LIMAN KAANA LAHUU QALBUN AW ALQAA-SSAM'A WA
HUWA SYAHIID"
"Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi
orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksikannya " (Surat : Qoof, ayat : 37).
Dan penyusun mengucapkan terima kasih, kepada setiap orang yang ikut menanam
saham bersama penyusun dalam menerbitkan buku kecil ini, Wallahu 'Alam, semoga
Allah senantiasa menganugerahkan shalawat dan salam atas Rasulullah dan atas
keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya.

Kapan Munculnya Firqah Rafidhah?
Firqah ini tumbuh tatkala muncul seorang Yahudi mendakwakan dirinya sudah masuk
Islam, namanya Abdullah bin saba. Mendakwakan kecintaan terhadap ahli bait, dan
terlalu memuja-muji Ali, dan mendakwakan, bahwa Ali punya wasiat untuk
mendapatkan khalifah, kemudian ia mengangkat Ali sampai ke tingkat Ketuhanan,
hal ini diakui oleh buku-buku syi'ah sendiri.
Al Qummi berkata dalam bukunya "Al Maqaalaat wal Firaq" : Ia mengakui
keberadaannya, dan menganggabnya orang pertama yang berbicara tentang wajibnya
keimaman Ali, dan raj'iyah Ali, dan menampakkan celaan terhadap Abi Bakr, Umar
dan Utsman serta seluruh sahabat, seperti yang dikatakan oleh An Nubakhti di
bukunya "Firaqus Syi'ah". Sebagaimana Al Kissyi mengatakan demikian juga di
bukunya yang dikenal dengan "Rijaalul Kissyi". Pengakuan adalah tuan argumen
(argumen yang akurat), dan mereka-mereka ini semuanya adalah syeikh-syeikh besar
Rafidhah.
Al Baghdadi berkata : Kelompok Sabaiyah adalah pengikut Abdullah bin Saba yang
telah berlebih-lebihan (dalam memuji) Ali, dan mendakwakkan, bahwasanya Ali
adalah nabi, kemudian bersikap berlebih-lebiahn lagi, sehingga ia mendakwakan
bahwasanya Ali adalah Allah.
Al Baghdadi berkata juga : adalah ia (Abdullah bin Saba) anak orang berkulit
hitam, asal usulnya adalah orang Yahudi dari penduduk Hirah (Yaman), lalu
mengumumkan keislamannya, dan menginginkan agar ia mempunyai kerinduan dan
kedudukan di sisi penduduk negeri Kufah, dan ia juga menyebutkan kepada mereka,
bahwasanya ia membaca di Taurat, bahwa sesungguhnya bagi tiap-tiap nabi punya
orang yang diwasiatkan, dan sesungguhnya Ali adalah orang yang diwasiatkan
Muhammad Sholallahu 'alaihi wassalam.
Dan As Syahrastaani menyebutkan dari ibnu Saba, bahwasanya ia adalah orang yang
pertama kali menyebarkan perkataan keimaman Ali secara nas / telah ditetapkan,
dan ia menyebutkan juga dari kelompok sabaiyah, bahwa kelompok ini adalah firqah
(golongan) yang pertama sekali mengatakan masalah ghaibah dan akidah raj'iyah,
kemudian syiah mewarisinya setelah itu, meskipun mereka itu berbeda, dan pecahan
golongan mereka banyak. Perkataan tentang keimaman dan kekhilafan Ali merupakan
nas dan wasiat, itu merupakan dari kesalahan-kesalahan Ibnu Saba. Yang akhirnya
syi'ah sendiri berpecah menjadi golongan-golongan dan perkataan-perkataan yang
banyak sampai puluhan golongan dan perkataan.
Begitulah syiah membuat bid'ah dalam perkataan tentang keyakinan wasiat,
raj'iyah, ghaibah, bahkan perkataan menjadikan imam-imam sebagai tuhan, karena
mengikuti Ibnu Saba orang yahudi itu.

Kenapa Syi'ah Dinamakan Dengan Rafidhah?
Penamaan ini disebutkan oleh syeikh mereka Al Majlisi dalam bukunya "Al Bihaar"
dan ia mencantumkan empat hadits dari hadits-hadits mereka.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan rafidhah, karena mereka datang ke Zaid
bin Ali bin Husein, lalu mereka berkata : "Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakr
dan Umar sehingga kami bisa bersamamu!", lalu beliau menjawab : "Mereka berdua
(Abu Bakr dan Umar) adalah sahabat kakekku, bahkan aku setia kepada mereka".
Mereka berkata : "Kalau begitu, kami menolakmu (rafadhnaak) maka dinamakanlah
mereka Raafidhah (yang menolak), dan orang yang membai'at dan sepakat dengan
Zaid bin Ali bin Husein disebut Zaidiyah.
Ada yang mengatakan : mereka dinamakan dengan Raafidhah, karena mereka menolak
keimaman (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar.
Dan dikatakan mereka dimanakan dengan Rafidhah karena mereka menolak agama.

Rafidhah Terpecah Menjadi Berapa Firqoh (Golongan)?
Ditemukan di dalam buku Daairatul Ma'arif bahwasanya : golongan yang muncul dari
cabang-cabang syi'ah jauh melebihi dari angka tujuhpuluh tiga golongan yang
terkenal itu.
Bahkan dikatakan oleh seorang rafidhah Mir Baqir Ad Damaad, sesungguhnya seluruh
firqoh-firqoh yang tersebut dalam hadits, yaitu hadits berpecahnya umat ini
menjadi tujuhpuluh tiga golongan, maksudnya adalah firqoh-firqoh syi'ah. Dan
sesungguhnya golongan yang selamat itu dari mereka adalah golongan Imamiyah.
Al Maqrizi menyebutkan bahwa jumlah firqoh-firqoh mereka itu sampai 300 (tiga
ratus) firqoh.
As Syahrastaani berkata : Sesungguhnya Rafidhah terbagi menjadi lima bagian : Al
Kisaaniyah, Az Zaidiyah, Al Imamiyah, Al Ghaliyah dan Al Ismailiyah.
Al Baghdadi berkata : Sesungguhnya Rafidhah setelah masa Ali ada empat golongan
: Zaidiyah, Imamiyah, Ghulaah dan Kisaaniyah.
Perlu diperhatikan bahwa sesungguhnya Az Zaidiyah tidak termasuk dari
firqoh-forqoh Rafidhah, kecuali kelompok Al Jarudiyah.

Apakah dimaksud dengan akidah Al Badaa' yang diimani oleh Rafidhah?
Al Badaa' yaitu bermakna tampak (muncul) setelah sembunyi, atau bermakna
timbulnya pandangan baru. Al Badaa' sesuai dengan kedua makna itu, haruslah
didahului oleh ketidaktahuan, serta baru diketahui. Keduanya ini merupakan suatu
hal yang mustahil atas diri Allah, akan tetapi orang Rafidhah (syiah)
menisbatkan kepada Allah sifat Al Badaa'.
Telah diriwayatkan dari Ar Rayaan bin Al Sholt, ia berkata : "Saya telah
mendengar Al Ridha berkata : "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali
mengharamkan khamar, dan mengakui bahwa Allah itu memiliki sifat Al Badaa". Dan
dari Abi Abdillah ia berkata : "Tidak pernah Allah diibadati dengan sesuatu
apapun seperti (mengibadatinya dengan) Al Badaa". Maha Tinggi Allah dari hal itu
dengan ketinggian yang besar.
Lihatlah wahai saudarku muslim, bagaimana mungkin mereka menisbatkan kepada
Allah subhanahu wa ta'ala sifat jahal (ketidaktahuan), sedangkan Dia mengatakan
tentang diri-Nya :
Artinya : "Katakanlah : Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang tahu
ghaib kecuali Allah."
Dan di sisi lain Rafidhah (syi'ah) meyakini bahwa sesungguhnya para imam
mengetahui seluruh ilmu, dan tidak akan tersembunyi baginya sesuatu apapun.
Apakah ini keyakinan Islam (akidah Islam) yang dibawa oleh nabi Muhammad
-Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- ??????

Apa Akidah Rafidhah Dalam Masalah Sifat ?
Adalah Rafidhah orang yang pertama kali mengatakan tajsiim (bersifat seperti
tubuh manusia). Sungguh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menentukan bahwa
sesungguhnya orang yang melakukan kedustaan ini dari kalangan kaum Rafidhah
adalah Hisyam ibnul Hakam, dan Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin
Abdurrahman Al Qummi, dan Abu Ja'far Al Ahwal.
Seluruh orang yang disebutkan tadi termasuk syeikh-syeikh besar golongan Itsna
Asyariyah (Rafidhah), kemudian mereka menjadi pemeluk paham Jahmiyah mu'athilah,
sebagaimana sekumpulan riwayat mereka menyifati Rabb semesta alam dengan
sifat-sifat negetif yang mereka masukkan sebagai sifat yang tetap bagi Allah.
Dan sungguh Ibnu Babawaih meriwayatkan lebih dari tujuhpuluh riwayat yang
mengatakan bahwa Allah Ta'ala, tidak disifiti dengan jaman, tidak dengan tempat,
tidak dengan bagaimananya, tidak dengan gerak, tidak dengan berpindah, tidak
dengan sesuatupun dari sifat-sifat tubuh, Dia bukan yang bisa diraba, bukan
bertubuh dan berbentuk." Maka syeikh-syeikh mereka mengikuti jalan (metode) yang
sesat ini dengan menta'til (menghilangkan) sifat-sifat yang tercantum dalam
AlQuran dan sunnah.
Sebagaimana mereka mengingkari turunnya Allah yang Maha Agung. Mereka mengatakan
Al Quran makhluk, mereka mengingkari ru'yah (melihat kepada Allah) pada hari
akhirat. Tercantum dalam kitab "Biharul Anwar", bahwasanya Abu Abdillah Ja'far
As Shodiq ditanya tentang Allah ta'ala, apakah bisa dilihat pada hari akhirat?
Beliau berkata : "Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari hal itu dengan ketinggian
yang besar, sesungguhnya pandangan tidak akan bisa mencapai kecuali hal-hal yang
mempunyai warna dan bentuk, dan Allah yang menciptakan warna-warni dan bentuk".
Bahkan mereka mengatakan : "Jika seandainya dinisbatkan kepada Allah sebagian
sifat seperti ru'yah, maka dihukum sebagai murtad, sebagaimana yang didapatkan
dari syeikh mereka Ja'far Al Najfi di kitab "Kasyful Ghitho'" hal : 417. Perlu
diketahui bahwasanya melihat kepada Allah pada hari akhirat adalah benar adanya
dan sudah konsisten dalam Kitab dan Sunnah tanpa meliputi seluruhnya dan tanpa
bagaimananya, sebagaimana firman Allah :
"Wajah-wajah pada saat itu berseri-seri, kepada Rabbnya melihat" (Al Qiyamah :
22,23).
Dan dari sunnah apa yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits
Jarir bin Abdillalh Al Bajali, berkata : "Adalah kami duduk-duduk bersama
Rasulullah, lalu beliau melihat kepada purnama, pada malam empat belas, lalu
bersabda : "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang,
sebagaimana kalian melihat ini (purnama), dimana kalian tidak berdesakan
melihatnya". Dan ayat-ayat serta hadits-hadits dalam masalah itu banyak sekali,
yang tidak memungkinkan kita untuk menyebutkannya.

Apa Keyakinan Rafidhah (Syiah) Terhadap Al Quran-ul Karim Yang Ada Di
Tengah-Tengah Kita Sekarang, Padahal Allah Telah Berjanji Untuk Menjaganya?
Sesungguhnya Rafidhah yang dinamakan pada zaman kita sekarang ini dengan syiah,
mengatakan sesungguhnya Al Quran yang ada di pada kita, bukanlah Al Quran yang
telah diturunkan kepada nabi Muhammad, akan tetapi telah dirubah, ditukar,
ditambah dan dikurangi. Jumhur ahli hadits dari kalangan syi'ah meyakini adanya
pelencengan (perubahan) dalam Al Quran seperti yang disebutkan oleh An Nuuri Al
Tibrisi dalam kitabnya "Fashlul Khithab Fi Tahrifil Kitabi Rabbil Arbab".
Dan Muhammad bin Ya'qub Al Kulaini berkata di "Usulul Kafi" di bawah Bab bahasan
: "Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengumpulkan Al Quran seluruhnya, kecuali
para iman" dari Jabir ia berkata : saya telah mendengar Abu Ja'far berkata :
"Tidaklah seseorang dari manusia mendakwakan bahwasanya dia telah mengumpulkan
Al Quran secara keseluruhannya sebagaimana Allah telah menurunkannya, kecuali ia
itu adalah orang pendusta. Tidak ada yang mempu mengumpulkannya dan menghafalnya
seperti yang telah diturunkan Allah kecuali Ali bin Abi Talib dan para imam
setelah mereka".
Dan Ahmad Al Tibrisi dalam kitab "AL Ihtijaaj" dan Al Mulla Hasan dalam
tafsirnya " As Shaafi" sesungguhnya Umar telah berkata kepada Zaid bin Tsabit :
Sesungguhnya Ali telah datang kepada kita dengan membawa Al Quran, yang di
dalamnya tercantum aib-aib orang muhajirin dan anshor. Dan sungguh kami telah
memandang untuk mengumpulkan Al Quran dan menghilangkan setiap apa-apa yang di
dalamnya terdapat aib-aib muhajirin dan anshr. Dan Zaid pun telah memenuhinya
untuk itu, kemudian berkata : "Jika saya telah selesai dari (mengumpulkan) Al
Quran sesuai yang anda minta, lalu jelas atas saya akan Al Quran yang
dikumpulkannya (Ali), bukankah itu menghancurkan setiap apa yang telah anda
kerjakan? Maka berkata Umar : "Jadi bagaimana jalan keluarnya? Berkata Zaid :
Anda lebih tahu dengan jalan keluarnya", berkata Umar : Tiada jalan keluar
kecuai kita harus membunuhnya agar kita lega darinya. Lalu ia pun merancang
pembunuhannya (Ali) lewat tangan Khalid bin Walid, akan tetapi dia tidak mempu
melakukannya.
Tatkala Umar menjadi khalifah, mereka (para sahabat) meminta Ali untuk
mendatangkan Al Quran kepada mereka, agar mereka sama mereka merubahnya. Lantas
Umar berkata : Wahai Abul Hasan, alangkah baiknya kalau seandainya kamu membawa
Al Quran yang pernah kamu bawa ke hadapan Abu Bakr, agar kita bersatu atasnya.
Lalu Ali berkata : Tidak mungkin, dan tidak mungkin ada jalan untuk itu,
sebenarnya saya membawanya ke hadapan Abu Bakr hanyalah untuk menegakkan hujjah
atasnya, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat "Sesungguhnya kami akan
hal ini dalam keadaan lengah" (Al 'Araf :172), atau agar kalian tidak mengatakan
; "Kamu tidak pernah mendatangkannya kepada kami" (Al 'Araf : 129). Sesungguhnya
Al Quran ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci, dan
orang-orang yang diwasiatkan dari kalangan anakku. Lalu berkata Umar : "Apakah
ada waktu untuk menampakkannya diketahui ? Lantas Ali berkata : "Ya, jika telah
bangkit seseorang dari anakku, ia akan menampakkannya dan membawa manusia
atasnya.
Walau bagaimanapun orang syiah menampakkan sikap berlepas dirinya terhadap buku
An Nuri al Tibrisi ini, demi mengamalkan akidah taqiyah, akan tetapi kitab itu
terselubung dan tersimpan dalam ratusan nas-nas (pernyataan-pernyataan) dari
ulama mereka dalam kitab-kitab yang diakui, menetapkan hal itu, dan bahwasanya
mereka betul-betul yakin dengan perubahan itu, dan beriman dengannya, akan
tetapi mereka tidak ingin timbul kehebohan sekitar akidah mereka ini terhadap
alquran.
Dan tinggal setelah itu, bahwa ada dua Al Quran, yang pertama yang diketahui,
dan yang lain khusus, tersembunyi. Diantaranya surat Wilayah, dan diantara yang
didakwakan oleh syi'ah Rafidhah, bahwa ada satu ayat telah dihapus dari Al Quran
yaitu :
"Dan kami telah menjadikan Ali sebagai menantumu", Mereka mendakwakan ayat ini
dihapus dari surat Alam Nasyrah, sementara mereka tidak pernah malu dangan
dakwaan mereka ini, karena mereka mengetahui bahwa surat itu adalah makkiyah,
dan Ali belum menjadi menantu Nabi saat di Mekah.

Bagaimana Akidah Rafidhah Terhadap Para Sahabat Rasulullah?
Akidah Rafidhah berdiri atas caci maki, mencala dan mengkafirkan para sahabat
-semoga Allah meridhoi para sahabat-. Al Kulaini menyebutkan di "Furu' Al Kafi"
dari Ja'far 'alaihi salam : "Manusia menjadi murtad setelah Nabi (meninggal)
kecuali tiga orang, lalu aku bertanya : siapa tiga orang itu ? beliau berkata :
Al miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari dan Salman Al Farisi.
Al Majlisi dalam kitab "Haqqul Yakin" menyebutkan : "Bahwasanya seorang budak
Ali bin Hasein berkata kepadanya : saya mempunyai hak pelayanan yang wajib atas
dirimu, maka beritahu aku tentang Abu Bakr dan Umar, lalu ia menjawab : "Mereka
berdua adalah orang kafir, dan orang yang mencintai mereka maka ia orang kafir
juga."
Dalam tafsir Al Qummi pada firman Allah (An Nahl : 90) :
Mereka mengatakan : al fahsyaa' (keji) adalah Abu Bakr, mungkar adalah Umar dan
baghyi (kezoliman) adalah Utsman.
Mereka mengatakan dalam buku mereka "Miftahul Jinaan" : Ya Allah anugerahkanlah
salawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad dan laknatlah dua berhala kaum
Quraisy dan dua yang mereka sembah selain Allah. dan dua toghut serta anak
perempuan mereka berdua....dan seterusnya. Dan yang mereka maksudkan dengan itu
adalah Abu Bakr, Umar, Aisyah dan Hafshah.
Pada hari asyura (hari ke sepuluh bulan Muharram), mereka membawa seekor anjing
lalu mereka namakan dengan umar, kemudian mereka menghujani dengan pukulan pakai
tongkat, serta melontarnya dengan batu sampai mati, kemudian mereka menghadirkan
seekor anak kambing, mereka beri nama dengan Aisyah, kemudian mereka mulai
mencabut bulunya, dan menghujani dengan pukulan pakai sandal, sampai mati.
Sebagaimana mereka merayakan hari terbunuhnya Faruq Umar bin Khatab dan mereka
memberi nama pembunuh umar yaitu abu Lukluk al Majusi dengan nama Baba
Syujaa'uddin (bapak) pemberani agama (pahlawan agama), semoga Allah meridhoi
seluruh sahabat dan para ummul mukminin.
Lihatlah wahai saudaraku muslim, alangkah dengkinya dan alangkah kejinya
golongan yang keluar dari agama ini, tentang apa yang telah mereka katakan
terhadap manusia pilihan setelah para nabi, yang mana Allah dan rasul-Nya telah
memuji mereka. Dan telah sepakat umat ini atas keadilan (kelurusan dan
keterpercayaan) dan keutamaan mereka. Sejarah dan kenyataan pun telah
membuktikan dan menyaksikan serta perkara-perkara ini sudah merupakan
pengetahuan yang wajib diketahui (oleh setiap umat) atas kebaikan, dan posisi
mereka selalu di depan serta jihad mereka dalam Islam.

Apa Segi Kesamaan Antara Yahudi dengan Rafidhah?
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah berkata : Bukti dari, sesungguhnya bencana Rafidhah
adalah bencana Yahudi, hal itu terlihat pada :
Sesungguhnya orang Yahudi mengatakan : Tidak boleh yang menjadi raja kecuali
dari keluarga nabi Daud, Rafidhah berkata : Tidak boleh menjadi imam kecuali
dari anak Ali.
Yahudi mengatakan : Tidak ada jihad di jalan Allah sampai keluar Masehid Dajjal
dan diturunkan pedang. Orang Rafidhah mengatakan : Tidak ada jihad di jalan
Allah sampai keluar Al Mahdi, dan datingnya penyeru menyeru dari langit.
Orang Yahudi mengakhirkan (mengundurkan) shalat sampai bintang bertebaran,
begitu juga orang Rafidhah mereka mengundurkan shalat maghrib sampai
bintang-bintang bertebaran, padahal hadits mengatakan : "Senantiasa umatku di
atas fitrah, selama mereka tidak mengakhirkan shalat maghrib sampai bintang
bertebaran.
Orang Yahudi telah merubah taurat, begitu juga orang Rafidhah, mereka telah
merubah Al Quran.
Orang Yahudi tidak memandang bolehnya mengusap khuf (sepatu kulit yang menutupi
mata kaki), begitu juga orang Rafidhah.
Orang Yahudi membenci malaikat Jibril, mereka mengatakan : Malaikat Jibril
adalah musuh kita dari kalangan malaikat. Begitu juga orang Rafidhah, mereka
mengatakan : Malaikat Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad.
Begitu juga orang Rafidhah meyerupai orang kristen pada satu ajaran nasrani
yaitu, wanita-wanita mereka tidak memiliki hak mendapatkan mahar, akan tetapi
hanya bersenang-senang dengan mereka dengan kesenangan, begitu juga orang
Rafidhah, mereka menikah dengan cara mut'ah, dan mereka menghalalkan itu.
Orang yahudi dan kristen lebih utama dari orang Rafidhah dengan satu sifat
(yaitu) :
Orang yahudi jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk
agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Musa.
Orang Kristen jika ditanya : siapakah orang yang terbaik di kalangan pemeluk
agamamu? Mereka menjawab : adalah Hawari (sahabat-sahabat) Isa.
Orang rafidhah jika ditanya : siapakah orang yang terburuk di kalangan pemeluk
agamamu? Mereka menjawab : adalah sahabat-sahabat Muhammad.

Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Para Imam Mereka?
Rafidhah mendakwakan kema'suman (terjaga dari dosa) bagi para imam, dan
bahwasanya mereka mengetahui hal ghaib. Dinukil oleh Al Kulaini dalam Usulul
Kafi : "Telah berkata Imam Ja'far as Shodiq : "Kami adalah perbendaharaan ilmu
Allah, kami adalah penterjemah perintah Allah, kami adalah kaum yang maksum,
telah diperintahkan untuk menta'ati kami, dan dilarang untuk menentang kami,
kami adalah hujjah Allah yang kuat terhadap siapa yang berada di bawah langit
dan di atas bumi".
Al Kulaini meriwayatkan di Al Kafi : Bab "Sesungguhnya para imam, jika mereka
berkehendak untuk mengetahui, maka mereka pasti mengetahuinya". Dari Jafar ia
berkata : "Sesungguhnya Imam jika ia berkehendak mengetahui, maka ia pasti
mengetahui, dan sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan
sesungguhnya mereka tidak akan mati kecuali dengan pilihan mereka sendiri."
Khumaini yang celaka menyebutkan - dalam salah satu tulisannya bahwa para imam
lebih afdhal (mulia) dari para nabi dan rasul, ia berkata - semoga Allah
menghinakannya : "Sesungguhnya imam-imam kita mempunyai suatu kedudukan yang
tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan, dan tidak pula oleh nabi yang
diutus".
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : "Orang Rafidhah mendakwakan sesungguhnya
agama ini diserahkan kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, maka yang halal itu
adalah yang dihalalkan mereka, dan yang haram itu adalah yang diharamkan mereka,
serta agama itu adalah apa yang mereka syariatkan".
Jika pembaca ingin melihat kekufuran, kesyirikan dan ghuluw (sikap
berlebih-lebihan mereka) -semoga Allah melindungi kita- maka bacalah syair-syair
yang diungkapkan oleh syeikh mereka zaman sekarang ini yaitu Ibrahim Al Amili,
terhadap Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhai Ali- :
Abu hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati),
dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi.
Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib,
maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul.
Engkaulah yang mengendalikan poros alam,
bagimu para ulamanya yang tinggi.
Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki, kau menghidupkan besok,
bila engkau menghendaki kau cabut ubun-ubun.

Ali bin Sulaiman Al Mazidi mengutarakan syairnya dalam memuji Ali bin Abi Thalib
:
Abu Hasan engkaulah suami orang yang suci,
Dan (engkaulah) sisi tuhan yang diibadati serta jiwa rasul.
Dan (engkaulah) pernama kesempuranaan dan matahari akal,
(engkau) Hamba dari tuhan, dan engkaulah yang Maha Raja.
Engkau dipanggil oleh nabi di hari kadir,
Dan telah menaskan atas dirimu sesuai dengan kejadian Ghadir
Bahwasanya engkau bagi kaum mukminin adalah amir (pemimpin),
dia telah mengkalungkan kepadamu buhul kekuasaannya.
Kepadamulah kembalinya seluruh perkara,
dan engkaulah yang maha mengetahui dengan kadungan dada.
Engkaulah yang akan membangkitkan apa yang ada dalam kubur
Bagimulah pengadilan hari kiamat berdasarkan kepada nas.
Engkaulah yang maha mendengar dan engkaulah yang maha melihat
Engkau atas setiap sesuatu maha mampu.
Kalaulah tidak karena engkau, pasti bintang tidak berjalan
Kalaulah tidak karena engkau, pasti planet tidak berputar.
Engkaulah, dengan setiap makhluk mengetahui,
Engkaulah yang berbicara dengan ahli kitab.
Kalaulah tidak karena engkau, tidak mungkin musa
akan diajak berbicara, Maha suci Dzat yang telah menciptakanmu
Engkau akan melihat rahasia namamu di jagat raya,
Kecintaan terhadap dirimu seperti matahari di atas kening.
Kebencian terhadap dirimu di wajah orang yang membenci,
Bagaikan peniup api, maka tidak akan beruntung yang membencimu.
Siapa itu yang telah ada, dan siapa itu yang ada,
Tidak para nabi dan tidak (pula) para rasul,
Tidak (pula) qalam lauh dan tidak (pula) alam semesta,
(kecuali) Seluruhnya adalah hamba-hamba bagimu.
Wahai Abu Hasan wahai yang mengatur wujud,
(wahai) goa orang yang terusir, dan tempat berlindung pendatang.
yang memberi minum pengagungmu pada hari berkumpul (hari kiamat).
orang yang mengingkari hari berbangkit, adalah orang yang mengingkarimu.
Wahai Abu Hasan wahai Ali yang gagah.
Kesetiaan padamu bagiku di dalam kuburku sebagai tanda penunjuk,
Namamu bagiku dalam keadaan sempit merupakan lambang
Dan kecintaan kepadamu adalah yang memasukkanku ke dalam surgamu
Dengan lantaran dirimu kemulian yang ada pada diriku.
Bila datang perintah Tuhan yang Maha Mulia
Menyeru penyeru, berangkat-berangkat (kematian-kematian).
Dan tidaklah mungkin engkau akan meninggalkan orang yang berlindung denganmu.

Apakah syi'ir seperti ini diucapkan oleh seorang muslim yang memeluk agama
Islam?, Demi Allah, bahkan sesungguhnya orang-orang jahiliyah (Kafir) sekalipun
belum pernah jatuh dalam kesyirikan dan kekufuran, terlalu muja-muji / ghuluw
seperti yang diperbuat oleh orang rafidhah celaka ini.

Apa Akidah Raj'ah Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?
Orang Rafidhah telah membuat bidah raj'ah, berkata Al Mufid : "Telah sepakat
mazhab imamiyah atas wajibnya terjadi raj'ah di kebanyakan dari para orang yang
telah mati". Yaitu (yang mereka maksudkan dengan raj'ah ini) bangkitnya penutup
imam-imam mereka, yang bernama Al Qaaim pada akhir zaman, ia keluar dari
bangunan di bawah tanah, lalu menyembelih seluruh musuh-musuh politiknya, dan
mengembalikan kepada syiah hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok-kelompok
lain sepanjang masa (yang telah berlalu).
Berkata sayid Al Murtadho di dalam kitabnya "Al Masail An Nashiriyah" :
"Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar disalib pada saat itu di atas suatu pohon di
zaman Al Mahdi -yakni imam mereka yang kedua belas- yang mereka beri nama Qaaim
Ali Muhammad (penegak keluarga Muhammad), dan pohon itu pertamanya basah sebelum
penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya.
Berkata Al Majlisi di dalam Kitab "Haqul Yakin" dari Muhammad Al Baqir (berkata)
: "Jika Al Mahdi telah keluar, maka sesungguhnya ia akan menghidupkan 'Aisyah
Ummul Mukminin dan ia melaksanakan (menjatuhkan) hukum had (hudud) atas diri
Aisyah".
Kemudian bagi mereka pemahaman raj'ah ini berkembang, dan mengatakan
(berlakunya) raj'ah (kembali hidup) seluruh orang syiah dan imam-imam mereka dan
seluruh musuh mereka bersama imam-imam mereka. Akidah khurafat ini mengungkapkan
rasa dengki yang tersembunyi di dalam diri mereka, yang mereka mengungkapkan
rasa dengki itu dengan cerita dongeng seperti ini. Dan adalah keyakinan ini
merupakan sarana (jembatan) yang diambil oleh orang-orang Sabaiyah untuk
mengingkari hari akhirat.
Apa Akidah Taqiyah Menurut Orang Rafidhah?
Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka zaman sekarang dengan
ucapannya : "Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan
dengan apa yang kamu yakini; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau
untuk menjaga kehormatanmu". Bahkan mereka mendakwakan bawah sesungguhnya
Rasulullah telah melakukannya (Taqiyah) tatkala Abdullah bin Ubai bin Salul
kepala orang-orang munafik meninggal, dimana beliau datang untuk menyolatkannya,
lalu Umar berkata kepadanya : Tidakkah Allah telah melarangmu dari hal itu?
-yakni berdiri di atas kuburan munafik ini-, lalu Rasulullah menjawabnya :
"Celaka kamu, kamu tidak tahu apa yang saya ucapkan : sesungguhnya saya
mengucapkan : Ya Allah isilah perutnya dengan api, dan penuhilah kuburannya
dengan api dan selalulah api membakar dirinya ".
Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mereka telah menyandarkan kepada diri
Rasulullah kedustaan. Apakah masuk akal, bahwa para sahabat Rasulullah mendoakan
rahmat untuknya (Abdullah bin Ubai), sedangkan Nabi melaknatnya?
Al Kulaini menukilkan di usul Kafi : " Berkata Abu Abdillah: "wahai Abu Umar
sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak
pada (akidah) taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan
taqiyah, taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam
dalam air untuk membuat arak) dan di dalam menyapu atas khuuf (kaus atau kulit
kulit)." Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : "Jagalah agama
kalian dan tutuplah agama itu dengan taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang
yang tidak mempunyai taqiyah."
Maka orang Rafidhah memandang taqiyah itu adalah fardu (wajib), tidak akan
berdiri mazhab ini kecuali dengan taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok
mazhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka selalu
melaksanakannya taqiyah itu terlebih-lebih, bila konsisi yang sulit telah
mengepung mereka, maka hati-hatilah dari orang Rafidhah wahai kaum muslimin.

Apa Keyakinan At-thiinah (Tanah) Yang Diimani Oleh Orang Rafidhah?
Yang dimaksud dengan at thiinah (tanah) menurut orang Rafidhah adalah tanah
perkuburan Husain "radhiallhu 'anhu-. Salah seorang dari orang-orang sesat
mereka yang bernama Muhammad An Nu'man Al Haritsi yang bergelar dengan "Syeikh
Al Mufid", menukilkan di kitabnya "Al Mazaar" dari Abi Abdillah ia berkata : "Di
tanah perkuburan Husain terdapat obat untuk segala penyakit dan ia merupakan
obat yang paling besar (ampuh)".
Berkata Abdullah : "Oleskanlah di mulut bayi kalian tanah (perkuburan) Husain"
Ia berkata : Telah dikirim kepada Abi Hasan Al Ridha dari negeri Khurasan sebuah
bungkusan kain di antaranya terdapat segumpal tanah, maka dikatakan kepada
utusan itu : Apa ini? Ia berkata : Tanah perkuburan Husain, tidaklah ia mengirim
sedikitpun dari bungkusan kain atau lainnya, kecuali ia meletakkan di dalamnya
tanah itu, dan berkata tanah itu pengaman insya Allah. Dikatakan kepadanya :
Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Shadiq tentang pengambilannya
akan tanah perkuburan Husain, maka Shodiq menjawab : "Apa bila kamu mengambilnya
maka ucapkanlah : "Ya Allah sesungguhnya saya meminta kepadamu disebabkan oleh
hak malaikat yang telah mengenggamnya (tanah ini), dan meminta kepadamu,
disebabkan oleh hak Nabi yang telah menyimpannya, dan oleh hak Al Washi (Ali)
yang telah bersatu di dalamnya agar Engkau melimpahkan Shalawat kepada Muhammad
dan atas keluarga Muhammad dan agar Engkau menjadikannya obat penawar untuk
seluruh penyakit, dan pengaman dari seluruh ketakutan, dan penjaga dari seluruh
kejahatan.
Abu Abdillah ditanya tentang penggunaan dua jenas tanah dari perkuburan Hamzah
dan pekuburan Husain serta mana yang paling utama diantara keduanya, maka ia
berkata : "Tasbih yang dibuat dari tanah perkuburan Husain akan bertasbih
(sendirinya) ditangan, tanpa (pemiliknya) bertasbih."
Sebagaimana orang Rafidhah mendakwakan, sesungguhnya orang syi'ah tercipta dari
tanah yang khusus dan orang Sunni tercipta dari tanah yang lain, lalu terjadilah
pengadukkan antara kedua tanah tadi dengan cara tertentu, maka apa-apa yang
terdapat pada orang syiah dari kemasiatan dan kejahatan, maka itu merupakan
pengaruh dari tanah sunni, dan apa-apa yang terdapat pada orang sunni dari
kebaikan dan anamah, maka itu disebabkan oleh pengaruh tanah syi'ah. Dan apabila
pada hari Kiamat nanti, maka kejelekan dan dosa-dosa orang syi'ah diletakkan di
atas Ahli Sunnah, dan kebaikan (pahala) Ahli Sunnah akan diberikan kepada orang
syi'ah.

Apa Akidah Orang Rafidhah Terhadap Ahli Sunnah?
Akidah orang Rafidhah berdiri di atas penghalalan harta dan darah ahli sunnah.
Al Shoduq di kitab (Al 'Ilal) meriwayatkan dengan sanadnya kepada Daud bin
Farqad, ia berkata : "Saya telah berkata kepada Abi Abdillah : Apa yang anda
katakan terhadap An Naashib (Ahli Sunnah), ia berkata : "Darahnya halal, akan
tetapi saya bertaqiyah atasmu, jika kamu mampu untuk membalikkan dinding atas
dirinya (ahli sunnah) atau menenggelamkannya di laut, agar ia tidak akan
bersaksi atas dirimu, maka lakukanlah. Saya berkata : Apa pandanganmu di
hartanya? Ia menjawab : "Ambillah semampumu".
Bahkan orang syi'ah Rafidhah memandang, bahwa kekafiran Ahli Sunnah lebih berat
dari kekafiran orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka (Yahudi dan Nasrani)
menurut Rafidhah orang-orang kafir asli, dan mereka ini (ahli sunnah) adalah
kafir murtad, dan kafir murtad lebih berat menurut ijma', oleh karena itu mereka
(mau) berkerja sama dengan orang-orang kuffar untuk melawan kaum muslimin, hal
itu seperti yang disaksikan oleh sejarah.
Terdapat di dalam kitab "Wasaail As Syi'ah" (diriwayatkan) dari Al Fudhail bin
Yasaar, ia berkata : saya telah bertanya kepada Abu Ja'far tentang wanita
'Arifah (yakni wanita bermazhab Rafidhah) apakah saya menikahkannya dengan An
Nashib (ahli Sunnah)? Maka ia berkata : "Tidak; karena Nashiba (ahli sunnah )
orang kafir."
An Nawasib (orang-orang An Nasib) menurut pemahaman Ahli sunnah adalah mereka
yang membenci Ali bin Abi Thalib "radhiallahu 'anhu-, akan tetapi menurut orang
Rafidhah, mereka menamakan Ahli sunnah dengan Nawashib (An Nashib), karena
mereka mendahulukan keimaman Abu Bakr, dan Umar dan Utsman atas Ali, padahal
sesungguhnya mengutamakan Abu Bakr dan Umar atas diri Ali telah terjadi sejak
zaman Nabi, dalilnya perkataan Ibnu Umar : "Adalah kami di zaman rasulullah
memilih di antara sahabat siapa yang terbaik, maka kami memilih (orang yang
terbaik) Abu Bakr, kemudian Umar kemudian Utsman". (H.R. Bukhari), dan ditambah
oleh At Thabrani di Kitab "Mu'jam Al Kabir" : Nabi pun mengetahui hal yang
demikian dan tidak mengingkarinya". Dan bagi Ibnu Asaakir : "Adalah kami
mengutamakan Abu Bakr, dan Umar, dan Utsman dan Ali".
Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib sesungguhnya ia
berkata : "Sebaik-baik umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakr, kemudian Umar,
kalau aku berkehendak pasti aku telah menyebutkan orang yang ketiga". Berkata
Adz Dzahabi : Ini (Hadits ini) Mutawatir."

Apa Keyakinan Orang Rafidhah Tentang Nikah Mut'ah? Dan Apa Keutamaannya Menurut
Mereka?
Nikah mut'ah mempunyai keutamaan yang agung sekali di sisi orang Rafidhah
-Al'iyaadzu billah-. Tercantum dalam kitab "Manhaj As Shodiqin" karangan
Fathullah Al Kaasyaani dari As Shodiq (menerangkan) bahwasanya nikah mut'ah itu
adalah dari ajaran agamaku dan agama bapak-bapakku, dan orang yang
melaksanakannya berarti dia mengerjakan ajaran agama kita, dan orang yang
mengingkarinya berarti dia mengingkari ajaran agama kita, bahkan ia memeluk
agama lain dari agama kita. Dan anak (hasil) nikah mut'ah lebih mulia dari anak
istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut'ah adalah kafir murtad."
Al Qummi menukilkan di dalam kitab "Man Laa Yahduruhu Al Faqiih" dari Abdulah
bin Sinan dari Abi Abdillah, ia berkata : "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala
telah mengharamkan atas golongan kita setiap yang memabukkan dari sertiap
minuman, dan telah mengganti mereka dari hal itu dengan nikah mut'ah".
Orang Rafidhah tidak pernah menyaratkan (membatasi) bilangan tertentu dalam
nikah mut'ah. Tercantum dalam kitab "Furuu' Al Kafi" dan At Tahdziib" dan "Al
Istibshoor" dari Zaraarah, dari Abi Abdillah, ia berkata : "Saya telah
menyebutkan kepadanya akan nikah mut'ah apakah nikah mut'ah itu (terjadi) dari
empat (yang dibolehkan), ia berkata : nikahilah dari mereka-mereka (para wanita)
seribu, sesungguhnya mereka-mereka itu adalah wanita yang disewa (dikontrak).
Dan dari Muhammad bin Muslim dari Abi Ja'far sesungguhnya ia berkata tentang
nikah mut'ah : "Bukan nikah mut'ah itu (dilakukan) dari empat (istri yang
dibolehkan), karena ia (nikah mut'ah) tidak ada talak, tidak mendapat warisan,
akan tetapi ia itu hanyalah sewaan".
Bagaimana mungkin ini, padahal Allah telah berfirman :
Artinya : "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka
dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka
itulah orang-orang yang melampaui batas". (Al Mukminun : 5-7).
Maka jelaslah dari ayat yang mulia ini bahwa sesungguhnya apa yang dihalalkan
dari nikah adalah istri dan budak perempuan yang dimiliki, dan diharamkan apa
yang lebih dari (selain) itu. Wanita yang dimut'ah adalah wanita sewaan, maka ia
bukanlah istri (yang sah), dan ia tidak bisa mendapatkan warisan dan tidak bisa
ditalak, jadi dia itu adalah pelacur / wanita pezina -waliyaadzubillah-. Syeikh
Abdullah bin Jibriin berkata : "Orang Rafidhah berdalih dalam menghalalkan nikah
mut'ah dengan ayat di surat An Nisa' yaitu firman Allah:
Artinya : "Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali
budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai
ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu)
mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka
istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada
mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban;". (An Nisa : 24).
Jawab : Sesungguhnya ayat ini semuanya dalam masalah nikah; dari firman Allah
ayat 19 di surat An Nisa sampai 23, setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang
haram dinikahi karena nasab dan sebab, kemudian Allah berfirman :
Artinya : "Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian."
Maksudnya dihalalkan bagimu menikahi selain wanita-wanita (yang disebutkan tadi)
bila kamu menikahi mereka untuk bersenang-senang yaitu bersetubuh yang halal,
maka berikanlah mahar mereka yang telah kamu wajibkan untuk mereka, dan jika
mereka mengugurkan sesuatu dari mahar-mahar itu berdasarkan dari jiwa yang baik
(keridhoan hati), maka tidak mengapa atas kamu dalam hal itu. Beginilah ayat ini
ditafsirkan oleh jumhur (mayoritas) sahabat dan orang-orang setelah mereka.
Bahkan di sisi (menurut) orang Rafidhah perkaranya telah sampai menghalalkan
menyetubuhi wanita di lubang anusnya. Tercantum dalam kitab "Al Istibshoor" dari
Ali bin Al Hakam ia berkata : "Saya telah mendengar Shofwan berkata : "Saya
telah berkata kepada Al Ridha : Sesungguhnya seorang laki-laki dari
budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah,
maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakanmu, ia berkata : apa itu? Ia
berkata : Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di
lubang anusnya? Ia menjawab : Ya, hal itu boleh baginya".

Apa Keyakinan Orang Rofidhah Terhadap Najaf Dan Karbala? Dan Apa Keutamaan
Menziarahinya Menurut Mereka?
Orang syi'ah sungguh telah menjadikan tempat-tempat perkuburan imam-imam mereka
baik imam dakwaan mereka belaka atau hakiki, sebagai tempat yang haram dan suci
(seperti maram Makkah) : maka kota Kufah adalah haram, Karbala haram, Qum haram.
Dan mereka meriwayatkan dari As Shidiq : "Sesungguhnya Allah memiliki haram
yaitu kota Mekkah, dan Rasulullah memilik haram yaitu kota Madinah, dan Amirul
mukminin memiliki haram yaitu kota Kufah dan kita memiliki haram yaitu Qum.
Karbala menurut mereka lebih afdhol (utama) dari Ka'bah. Hal ini tercantum dalam
kitab "Al Bihaar" dari Abi Abdillah bahwasanya ia berkata : "sesungguhnya Allah
telah mewahyukan ke Ka'bah; kalaulah tidak karena tanah Karbala, maka Aku tidak
akan mengutamakanmu, dan kalaulah tidak karena orang yang dipeluk oleh bumi
Karbala (Husain), maka Aku tidak akan menciptakanmu, dan tidaklah Aku meciptakan
rumah yang mana engkau berbangga dengannya, maka tetap dan berdiamlah kamu, dan
jadilah kamu sebagai dosa yang rendah, hina, dina, dan tidak congkak dan sombong
terhadap bumi Karbala, kalau tidak, pasti Aku telah buang dan lemparkan kamu ke
dalam Jahanam.
Dan tercantum juga di dalam kitab "Al Mazaar" karangan Muhammad An Nu'man yang
diberi gelar dengan syeikh Mufid, di dalam Bab "Ucapan saat berdiri di atas
kuburan" yaitu orang yang menziarahi kuburan Husain mengisyaratkan dengan tangan
kanannya sambil mengucapkan doa yang panjang, diantaranya :
"Saya datang berziarahmu, untuk mencari keteguhan kaki di dalam berhijrah
kepadamu, dan sungguh saya telah meyakini bahwasanya Allah Jalla Tsanaauhu,
dengan lantaranmu Dia melapangkan kesulitan, dan dengan lantaranmu Dia
menurunkan Rahmat, dan dengan lantaranmu Dia menahan bumi yang jatuh bersama
penduduknya, dengan lantaramu Allah mengokohkan gunung-gunung di atas
pondasinya, dan sungguh saya telah menghadap (munajat) kepada Rabbku, bahwa
dengan lantaranmu wahai tuanku untuk menyelesaikan hajat kebutuhan dan keampunan
dosa-dosaku."
Dan tercantum dalam kitab "Al Mazaar" tentang keutamaan kota Kufah, dari Ja'far
Al Shodiiq ia berkata : "Tempat yang paling mulia (utama) setelah haram Allah
dan haram rasul-Nya adalah kota Kufah, karena kota Kufah Suci bersih, di sana
terdapat kuburan para nabi dan rasul dan ahli wasiat yang jujur, dan di sana
terlihat keadilan Allah, dan di sana datang Qaimah (penegak) dan
pengegak-penegak setelahnya, Kota Kufah itu tempat turunnya para nabi dan ahli
wasiat serta orang-orang yang sholeh.
Lihatlah wahai pembaca yang budiman, bagaimana mereka itu jatuh dalam
kesyirikan, karena mereka meminta kepada selain Allah dalam menyelesaikan dan
memenuhi hajat kebutuhan, meminta dan memohon pengampunan dosa-dosa kepada
manusia, bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan Allah telah berfirman :
"Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah" (Ali Imran :
135).
Kita berlindung dengan Allah dari perbuatan syirik.

Apa Segi Perbedaan Antara Syi'ah Rafidhah Dengan Ahli Sunnah?
Berkata : Nizhomuddin Muhammad Al 'Azhomi di dalam mukaddimah buku "Syiah dan
Nikah Mut'ah" : Sesungguhnya perbedaan antara kita dengan mereka bukanlah
terpokus di perbedaan cabang-cabang fikih, seperti masalah nikah mut'ah saja,
sama sekali tidak, sesungguhnya perbedaan itu pada dasarnya adalah perbedaan
dalam masalah pokok-pokok prinsip, ya.. perbedaan dalam akidah terpokus di
beberapa point dibawah ini :
1. Rafidhah mengatakan sesungguhnya Al Quran dirubah (diselewengkan) dan kurang.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan : Sesungguhnya Al Quran adalah
kalamullah lengkap tanpa ada kekurangan, tidak pernah dan tidak akan dihinggapi
oleh penukarbalikan, mengurangan dan perubahan sampai Allah mewariskan bumi ini
dan orang-orang yang ada di atasnya (hari Kiamat), sebagaimana Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya. (QS. 15:9)
2. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah terkecuali beberapa
orang, telah murtad setelah rasulullah wafat, dan mereka berbalik 180 derajat,
dan mereka mengkhianati amanah dan agama, terutama tiga orang khalifah; As
Shidiq (Abu Bakr), Al Faruq (Umar) dan Dzu Nurain (Utsman), oleh karena itu
mereka yang bertiga ini menurut mereka (Rafidhah) adalah termasuk orang yang
paling bersangatan kekufuran, kesesatan dan kesalahannya.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan sesungguhnya para sahabat Rasulullah
adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi, dan sesungguhnya mereka itu adalah
adil (istiqomah) seluruhnya, tidak pernah sengaja berdusta atas nabi mereka,
mereka orang-orang yang terpercaya dalam menukilkan berita.
3. Rafidhah mengatakan sesungguhnya para imam adalah imam-imam Rafidhah yang dua
belas yang ma'shum (terjaga dari dosa), mereka mengetahui hal ghaib, dan
mengetahui seluruh ilmu yang dikeluarkan (diajarkan) kepada para malaikat, para
nabi dan para rasul, dan sesungguhnya mereka mengetahui ilmu yang terdahulu dan
sekarang, dan tidak ada yang tersembunyi bagi mereka sesuatu apapun, dan
sesungguhnya mereka mengetahui seluruh bahasa alam semesta, dan sesungguhnya
seluruh bumi ini adalah milik mereka.
Sedangkan kita (Ahli Sunnah) mengatakan, sesungguhnya mereka itu adalah manusia
biasa seperti manusia-manusia lainnya, tiada perbedaan antara mereka, diantara
imam-imam itu adalah ahli fikih, ulama dan khalifah, dan kita tidak menisbahkan
kepada mereka apa yang tidak pernah mereka katakan terhadap diri mereka sendiri,
bahkan kita berlepas diri darinya dan mereka pun (para imam) berlepas diri dari
hal itu.

Apa Keyakinan Orang Rafidhah Pada Hari Asyura (Sepuluh Muharram) Dan Apa
Keutamaannya Menurut Mereka?
Sesungguhnya Rafidhah mengadakan perayaan dan perkumpulan dan ratapan tangis,
mereka melakukan demonstrasi di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan umum.
Mereka memakai pakaian hitam tanda duka cita dalam memperingati mati syahidnya
Husain dengan mengonsentrasikan pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram di
setiap tahun, dengan keyakinan sesungguhnya perbuatan itu termasuk dari
sebaik-baik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka mereka memukul-mukul pipi
mereka dengan tangan mereka sendiri, memukul-mukul dada dan punggung mereka.
Mereka merobek-robek baju sambil menangis dan berteriak-teriak dengan menyeru :
wahai Husain, wahai Husain. Terlebih-lebih pada hari ke sepuluh setiap bulan
Muharram, bahkan mereka memukul diri mereka sendiri dengan rantai besi dan
pedang, seperti yang terjadi di negeri-negeri yang dihuni oleh Rafidhah seperti
Iran.
Dan para ulama mereka mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang bodoh ini
dimana hal itu menjadi bahan tawaan semua umat. Sungguh salah seorang dari
pembesar mereka yaitu Muhammad Hasan Alu Kasyif al Ghatha, telah ditanya tentang
apa yang dilakukan oleh pengikut golongannya seperti menukul dan menampar
wajah.... dst, ia berkata : sesungguhnya ini termasuk dari mengagungkan
syiar-syiar Allah :
"Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul
dari ketaqwaan hati". (QS. 22:32)

Apakah Keyakinan Orang Rafidhah Tentang Bai'at
Orang Rafidhah menganggap setiap pemerintahan selain pemerintahan Itsna 'Asyara
(syi'ah Itsna "asyarah / Imammiyah / Rafidhah ) adalah pemerintahan yang batil
(tidak sah). Diriwayatkan di dalam kitab "Al Kaafii" dengan syarahan (uraian) Al
Mazandaraani dan di dalam kitab Al Ghaibah oleh An Nu'mani, dari Abi Ja'far, ia
berkata : "Setiap bendera yang diangkat (dikibarkan) sebelum bendera Al Qaaim
-Mahdinya orang Rafidhah- maka pemiliknya adalah thoghut".
Dan tidak boleh menta'ati seorang hakim yang bukan dari Allah, kecuali dengan
cara taqiyah (kemunafikan), penguasa yang absolut dan zholim tidaklah pantas
untuk menjadi pemimpin, dan setiap pemimpin yang bersifat yang serupa dengan
itu. Seluruhnya gelar itu mereka memberikan nama itu kepada penguasa kaum
muslimin yang bukan dari imam-imam mereka, orang paling utama dari mereka itu
adalah khulafaurasyidin -semoga Allah meridhoi mereka- yaitu : Abu Bakr, Umar
dan Utsman.
Tokoh Rafidhah Al Majlisi, dimana ia merupakan salah seorang dari orang-orang
yang sesat dari mereka, pengarang kitab "Bihaarul Anwar", berkata tentang tiga
orang khalifah rasyidin : "Sesungguhnya mereka tiada lain kecuali perampas yang
zholim, murtad dari agama, semoga laknat Allah atas mereka dan terhadap
orang-orang yang mengikuti mereka di dalam menzholimi ahlu bait dari pertama
sampai terakhir". Inilah yang dikatakan oleh imam mereka Al Majlisi yang
kitabnya dikatagorikan ke dalam reffrensi mereka (rujukan) yang pokok dan
terpenting dalam hadits mengenai umat yang paling mulia setelah para rasul dan
nabi.
Berdasarkan kepada keyakinan mereka terhadap khilifah kaum muslimin, maka mereka
menganggap setiap orang yang bekerjasama dengan mereka adalah thoghut dan
zholim. Al Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Hanzholah, ia
berkata : "Saya telah bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua orang dari
golongan kita, di antara mereka berdua terjadi perselisihan dalam masalah agama
atau harta warisan, lalu mereka berdua berhukum (minta diselesaikan secara
hukum) kepada penguasa dan kepada hakim, apakah hal itu halal? Ia berkata :
barangsiapa berhukum (meminta diselesaikan secara hukum) kepada mereka, dengan
kebenaran atau kebatilan, maka sesungguhnya mereka berhukum kepada thoghut, dan
apa yang telah diputuskan untuknya sesungguhnya yang ia ambil adalah harta
haram, walaupun sebenarnya itu haknya, karena ia telah mengambilnya dengan hukum
thoghut".
Berkata Khumaini yang celaka -semoga Allah menghukumnya dengan hukum sepantas
dan setimpal- dalam mengomentari pembicaraan mereka ini : "Imam itu sendiri
dilarang untuk merujuk kepada penguasa-penguasa dan hakim-hakim mereka, dan
merujuk kepada mereka dikatagorikan merujuk kepada thoghut."

Apakah Hukum Usaha Mendekatkan Antara Ahli Sunnah Yang Bertauhid Dengan Rafidhah
Yang Musyrik?
Saudaraku pembaca yang budiman, saya cukupkan saja dalam masalah ini, dengan
mencantumkan tulisan dari tulisan-tulisan DR. Nashir AL Qafari di dalam kitabnya
: "Masalah At Taqriib", yaitu tulisan yang ke tujuh, dimana beliau berkata
-semoga Allah menjaganya :
"Bagaimana mungkin mendekatkan antara orang yang mencaci kitab Allah dan
menafsirkannya tidak sesuai dengan tafsirannya, dan mendakwakan turunnya
kitab-kitab ilahi (wahyu) kepada imam-imamnya setelah Al Quranul Karim?, dan ia
memandang keimaman itu adalah kenabian, para imam baginya seperti para nabi dan
bahkan lebih mulia, dan ia menafsirkan mengibadati Allah semata yang mana itu
adalah inti dari misi (ajaran) para rasul seluruhnya tidak sesuai dengan
maknanya yang hakiki, dan mendakwakan bahwa sesungguhnya ibadah itu adalah ta'at
kepada para imam. dan sesungguhnya syirik kepada Allah adalah mentaati selain
mereka (para imam) bersama mereka, ia mengkafirkan orang-orang yang terbaik dari
para sahabat rasulullah, dan mengkliem seluruh para sahabat dengan murtad,
kecuali tiga atau empat atau tujuh sesaui dengan perbedaan riwayat mereka. Dan
orang ini (orang Syiah) tampil berbeda dengan keganjilan dari jamaah kaum
muslimin dengan masalah-masalah akidah dan keyakinan di dalam keimaman,
kemaksuman (terjaga dari dosa), taqiyah (kemunafikan), dan mengatakan raj'ah
(imam kembali ke dunia), Al qhaibah (menghilangnya As Kaari) dan Al Bada'."

Apakah Perkataan Para Imam Terdahulu Dan Belakang Tentang Rafidhah (Syi'ah)?
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berkata: "Dan sungguh telah sepakat ahli ilmu
dalam bidang naqal, riwayat dan sanad, bahwasanya Rafidhah adalah yang paling
pendusta dari kalangan kelompok-kelompok (yang sesat), berbohong terdapat dalam
diri mereka sudah sejak lama, oleh karena inilah para imam-imam Islam
memtitelkan keistimewaan mereka dengan sering (banyak) berdusta.
Asyhab bin Abdul Aziz telah berkata : Imam Malik telah ditanya tentang Rafidhah,
maka beliau menjawab : Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah
mengambil riwayat dari mereka, sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta
(pembohong).
Dan berkata Imam Malik : orang yang mecaci maki para sahabat Rasulullah, maka ia
tidak berhak mendapatkan nama, atau tempat di dalam Islam.
Berkata Ibnu Katsir di dalam firman Allah :
"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mu'min)". (Al Fath : 29).
"Dari ayat ini, maka Imam Malik menyimpulkan di dalam satu riwayat darinya,
dengan mengkafirkan orang-orang rafidhah dimana mereka membenci para sahabat,
beliau berkata : "Karena para sahabat menjengkelkan hati mereka (orang-orang
rafidhah), barangsiapa yang dijengkeli oleh para sahabat maka ia adalah kafir
oleh ayat ini".
Al Qarthubi telah berkata : "Sungguh Imam Malik telah berbuat baik dalam
ucapannya dan ia telah benar dalam menafsirkannya, maka barangsiapa mencela
seorang saja dari mereka atau mencela riwayatnya maka ia sungguh telah membantah
Allah Rabb semesta alam, dan telah menggugurkan syari'at-syari'at kaum
muslimin."
Abu Hatim telah berkata : " Telah menceritakan kepada kami Harmalah, ia berkata
: Saya telah mendengar Imam Syafi'i berkata : "Saya belum pernah melihat
seseorang yang lebih mudah bersaksi dengan kepalsuan daripada Rafidhah".
Muammil bin Ahab telah berkata : "Saya telah mendengar Yazid bin Harun berkata :
"Ditulis (riwayat hadits) dari setiap pelaku bid'ah bila tidak mengajak ke
bid'ahnya, kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka itu pendusta."
Dan Muhammad bin Sa'ad Al Ashbahaani telah berkata : "Saya telah mendengar
syeikh Syuraik berkata : "Ambillah ilmu itu dari setiap orang yang kamu jumpai
kecuali Rafidhah, sesungguhnya mereka membuat-buat (memalsukan) hadits, dan
mereka menjadikan hal itu sebagai agama". Syuraik ini adalah Syuraik bin
Abdullah Qodhi (hakim) kota Kufah.
Mu'awiyah telah berkata : "Saya telah mendengan Al 'Amasy berkata : Saya
menjumpai sekelompok manusia, dan mereka tidaklah menyebutkan tentang mereka
(rafidhah) kecuali (digolongkan kepada) orang-orang sangat pembohong", maksudnya
(mereka pembohong itu) adalah pengikut AL Mughirah bin Sa'id yang bermadzhab
rafidhah lagi pendusta, seperti yang disifati oleh imam Adz Dzahabi.
Syeikhul Islam telah berkata dalam mengomentari apa yang dikatakan oleh para
imam salaf : "Dan adapun Rafidhah asal usul bid'ah mereka diambil dari Zindiq
dan kufur serta unsur kesengajaan, kebohongan banyak sekali di tengah-tengah
mereka, dan mereka mengakui hal itu, dengan mengatakan : Agama kita adalah
Taqiyah, yaitu salah seorang dari mereka mengucapkan dengan lidahnya berbeda
dengan apa yang ada di hatinya. Dan inilah hakikat kebohongan dan kemunafikan,
maka mereka dalam hal itu sebagaimana pepadah : "Ia telah melemparku dengan
penyakitnya lalu ia lari".
Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal : Saya telah bertanya kepada bapakku
tentang Rafidhah, maka ia mengatakan : "Yaitu orang-orang yang mencaci maki atau
mencela Abu Bakr dan Umar". Dan Imam Ahmad ditanya tentang Abu Bakr dan Umar,
maka ia menjawab : Doa'kanlah mereka berdua agar diberi rahmat, dan berlepas
dirilah dari orang yang membenci mereka berdua".
Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr Al Marwazi, ia berkata : Saya telah
bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencaci maki Abu
Bakr dan Umar serta 'Aisyah, maka ia berkata : "Saya tidak memandangnya di dalam
Islam (artinya orang yang mencaci itu telah keluar dari Islam-pent).
Al Khallal meriwayatkan, ia berkata : Saya telah diberi tahu oleh Harb bin
Ismail Al Karmaani, ia berkata : Telah bercerita kapada kami Musa bin Harun bin
Ziad, ia berkata : saya telah mendengar Al Firyaabi sedangkan seorang laki-laki
bertanya kepadanya tentang orang yang mencaci maki Abu Bakr, ia berkata : Kafir.
Lalu ia berkata lagi, apakah disolatkan? Ia berkata: Tidak."
Ibnu Hazam telah berkata : tentang Rafidhah tatkala ia berdebat dengan orang
Kristen, dan orang-orang memberikan kepadanya kitab-kitab Rafidhah untuk
bantahan terhadapnya (Ibnu Hazam dan berkata) : sesungguhnya Rafidhah bukanlah
kaum muslimin, dan perkataan mereka bukanlah argumen terhadap agama, akan tetapi
Rafidhah itu hanyalah suatu golongan, mula terjadinya kira-kira duapuluh lima
tahun setelah Nabi Wafat, dan permulaannya adalah merespon pangilan orang yang
hampir masuk islam dari orang-orang yang dihina Allah. Rafidhah itu adalah
kelompok yang berjalan atas jalan ajaran Yahudi dan Nasrani dalam kebohongan dan
kekufuran."
Abu Zur'ah Ar Raazi berkata : "Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah
seorang dari para sahabat Rasulullah, maka ketahuilah sesungguhnya dia itu
Zindiq."
Lajnah Daimah Lil Iftak (Lembaga Tetap untuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia
pernah ditanya dengan satu pertanyaan, dalam pertanyaan itu penanya mengatakan
bahwa ia dan sekelompok teman bersamanya berada di perbatasan utara berdekatan
dengan cek point negara Iraq. Di sana ada sekelompok penduduk yang bermadzhab Al
Ja'fariyah, dan diantara mereka (kelompok penanya) ada orang yang enggan untuk
memakan sembelihan penduduk itu, dan diantara mereka ada yang makan, maka kami
bertanya: Apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, ketahuilah
sesungguhnya mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta
seluruh pemimpin-pemimpin mereka di dalam keadaan sulit dan keadaan lapang ?
Lalu Lajnah (lembaga) yang diketuai oleh Syeikh Abdul 'Aziz bin Abdullah bin Baz
dan (anggota-anggotanya); Syeikh Abdul Razaq 'Afifi, Syeikh Abdullah bin
Ghudayan, dan Syeikh Abdullah bin Qu'uud, semoga Allah memberi pahala kepada
mereka semua.
Jawabannya : Segala puji bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga
dianugerahkan kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, dan
adapun selanjutnya:
Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa sesungguhnya
jamaah (kelompok) yang memiliki ajaran Ja'fariyah, mereka berdo'a dan meminta
tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta pemimpin-pemimpin mereka, maka mereka
itu adalah orang-orang musyrik murtad, kelaur dari agama Islam, semoga Allah
melindungi kita dari itu, tidaklah halal memakan sembelihan mereka, karena
sembelihan itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama Allah saat
menyembelihnya."
Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin ditanya, soal itu berbunyi : wahai
syeikh yang mulia, di negeri kami terdapat seorang rafidhah (bermadzhab syi'ah
rafidhah) bekerja sebagai tukang sembelih, maka ahlusunnah datang kepadanya
untuk menyembelih sembelihan mereka, dan begitu juga sebagian rumah makan,
bekerja sama dengan orang rafidhah ini, dan dengan rafidhah lainnya yang
berprofesi sama, apakah hukumnya bertransaksi atau berkoneksi dengan orang
rafidhah ini dan semisalnya? Apakah hukum sembelihannya, apakah sembelihannya
halal atau haram, berikanlah kepada kami fatwa, semoga syeikh diberi pahala oleh
Allah.
Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh wa ba'du:
Tidaklah halal sembelihan orang rafidhah, dan juga memakan sembelihannya,
sesungguhnya orang rafidhah pada umumnya adalah orang-orang musyrik, dimana
mereka selalu menyeru Ali bin Abi Thalib di waktu sempit dan lapang, sampai di
Arafah dan saat tawaf dan sa'i, mereka juga menyeru anak-anak beliau dan
imam-imam mereka seperti yang sering kita dengar dari mereka, perbuatan ini
adalah syirik akbar dan keluar dari agama Islam yang berhak dihukum mati
atasnya.
Sebagaimana mereka sangat berlebih-lebihan dalam menyifati Ali, mereka menyifati
beliau dengan sifat-sifat yang tidak layak kecuali hanya untuk Allah,
sebagaimana kita mendengarnya dari mereka di Arafah, dan mereka disebabkan
perbuatan itu telah murtad, yang mana mereka telah menjadikannya sebagai Rabb,
Sang Pencipta, dan Yang mengatur Alam, Yang mengetahui ghaib, yang menguasai
kemudaratan dan manfaat, dan semisal itu.
Dan sebagaimana mereka mencela Al Quran, mereka mendakwakan bawah para sahabat
telah merubah, menghilangkan dari Al Quran ayat-ayat yang banyak berhubungan
dengan Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, lalu mereka tidak berpedoman kepada Al
Quran dan mereka tidak memandangnnya sebagai dalil dan argumen.
Sebagaimana mereka mencela pemuka-pemuka sahabat, seperti tiga orang khalifah
rasyidin, dan selain mereka dari orang yang diberi kabar gembira jaminan masuk
surga, para umul mukminin (istri-istri rasulullah), para sahabat yang terkenal,
seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan semisalnya, maka mereka tidak menerima
hadits-hadits para sahabat tersebut, karena mereka itu orang kafir menurut
dakwaan mereka, mereka tidak mengamalkan hadits-hadits di Bukhari Muslim kecuali
yang berasal dari Ahlu Bait. Mereka bergantung dengan hadits-hadits palsu atau
hadits-hadits yang di dalamnya tidak ada bukti atas apa yang mereka katakan.
Akan tetapi walaupun demikian, mereka itu adalah bersikap munafik, maka mereka
mengucapkan dengan lidah mereka apa yang tidak ada pada hati mereka (yang tidak
mereka yakini), mereka menyembunyikan di diri mereka apa yang tidak mereka
tampakkan kepadamu, mereka berkata : barangsiapa tidak bersikap taqiyah (nifaq)
maka tidak ada agama baginya. Maka dakwaan mereka itu tidak bisa diterima dalam
ukhwah persaudaraan, dan dakwaan mereka akan cinta syari'at... dan seterusnya.
Sikap nifaq adalah merupakan akidah bagi mereka. Semoga Allah menjaga (kita)
dari kejelekan mereka, semoga Allah menganugerahkan shalawat dan salam keada
Muhammad, dan keluarga beliau serta para sahabatnya.

No comments:

Post a Comment