Saturday, February 12, 2011

KENAPA KITA MERAYAKAN MAULID NABI S.A.W ?

Kata “ maulidur rasul “diambil dari bahasa arab bermaksud kelahiran Rasul. Hari kelahiran Nabi s.a.w jatuh pada hari ke-12 bulan Rabiul Awal, tahun Gajah bersamaan dengan 23 April 571. Baginda adalah Nabi terakhir yang diutus oleh Allah S.W.T

Setiap tahun pada hari itu, umat Islam di seluruh dunia akan mengadakan majlis memperingati kelahiran Nabi Muhammad s.a.w dengan mengadakan beberapa acara seperti perarakan, ceramah dan sebagainya. Untuk mensukseskan perayaan maulid Nabi ini, maka tidak sedikit harta yang dinafkahkan oleh masyarakat. Tetapi acara seperti ini juga tidak mampu memberikan manfaat yang besar kepada kaum muslimin, apabila ditinjau dari perbaikan akhlak dan sikap beragama mereka. Bukti akan hal ini terlalu banyak untuk disebutkan. Dan setiap kita cukup sebagai saksi dari gagalnya seremonial tahunan ini dalam mengangkat moral ummat dan mengembalikan kesadaran beragama mereka.

Apa yang salah dari perayaan maulid Nabi, bukankah acara tersebut merupakan ungkapan kegembiraan kita dengan Nabi kita sendiri?! Dengannya kita bisa melakukan renungan dan kajian sejarah kehidupan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam?! Mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam?! Bukankah semua ini adalah niat baik yang melatar belakangi perayaan tersebut?

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu kepada orang-orang yang didapatinya di masjid Kufah, ketika itu mereka terbagi-bagi dalam kelompok-kelompok majlis dzikir, majlis memuji dan mengingat Allah Ta'ala, kata Ibnu Mas'ud r.a :"Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya". Hal ini karena mereka melakukan suatu yang tidak pernah dikerjakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam semasa hidupnya.

Diantara masyarakat yang bersetuju dengan adanya perayaan maulid mengatakan bahwa perayaan maulid ini diadakan hanya untuk mengungkapkan kegembiraan, untuk mengkaji dan meneladani kehidupan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Padahal untuk mempelajari sunnah-sunnah beliau caranya adalah dengan menerapkan ajarannya dalam kehidupan kita, dan dengan belajar ilmu agama diantaranya sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bukan dengan cara-cara yang baru yang hanya dikenal setelah berlalunya tiga generasi yang mulia, shahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in.

SEJARAH MUNCULNYA PERAYAAN MAULID

Adapun perayaan Maulid ini tidak dikenal di masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, generasi pertama ummat ini dan tidak dikenal dalam mazhab yang empat, Hanafiah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hambaliyah. Lantas siapa orang yang pertama kali mengadakan perayaan maulid ? Perayaan Maulidur rasul telah diasaskan oleh kerajaan syiah Fatimiah di Mesir. Kerajaan Fatimah telah merayakan perayaan ini secara besar-besaran. Bukan hanya hari jadi Rasulullah saw sahaja yang dirayakan, tetapi juga ahli keluarga Nabi saw seperti Zainab, Hassan, Hussain ( r.a.). juga dirayakan. Bahkan mereka juga merayakan kelahiran Nabi Isa as.

Walaubagaimanapun, semua perayaan ini telah dihentikan pada tahun 488 atas perintah Perdana Menteri al-Afdal Shahindah pada ketika itu yang berpegang kuat pada sunnah seperti tercatit di dalam buku Al-Kamel, karangan Ibnu Al-Atheer. Masyarakat berhenti merayakannya sehingga Al-Ma’moon Al-Bataa’ni memegang kuasa kerajaan ketika itu. Beliau telah memulakan kembali perayaan yang telah dihentikan sebelum itu.
Apabila Kerajaan al-Ayubbiah merampas kuasa, semua perayaan telah dihentikan. Namun begitu, masyarakat tetap merayakannya dikalangan keluarga mereka di dalam rumah.

Pada Abad ke 7, Putera Muzafar Al-Deen telah mewartakan perayaan Maulid Nabi di Bandar Irbil. Beliau merupakan seorang sunni. Muzafar mengambil berat akan perayaan ini sehingga memerintahkan agar persediaan seperti mendirikan khemah, menghias khemah dan pelbagai lagi dilaksanakan seawal dan sebaik mungkin. Setiap kali selepas solat Asar, Muzafar akan menyaksikan perayaan ini di dalam khemah yang telah didirikan itu.

Perayaan diadakan pada 8 Rabiulawal dan kadang-kadang 12 Rabiulawal. Sambutannya diisikan dengan pelbagai acara antaranya membaca sejarah Nabi ( s.a.w.) sehinggalah kepada menghias binatang ternakan untuk disembelih kemudian diadakan jamuan besar-besaran.
Berkata Ibnu Haajj Abu Abdullah Al-Abdari, perayaan tersebut tersebar luas di seluruh Mesir pada zaman pemerintahan Putera Muzafar ini. Beliau menentang akan perayaan yang diadakan. Banyak buku telah ditulis mengenai perayan Maulidur Rasul ini antara penulisnya ialah Ibn Dahya, meniggal dunia pada 633, Muhy Ed-Deen Ibn Al-`Arabi, meniggal di Damascus pada 683, Ibn Taghrabik, meniggal di Mesir pada 670, dan Ahmad Al-`Azli dan anaknya Muhammad, meniggal di Sebata pada 670.
Namun, malangnya acara peringatan kelahiran Nabi tersebut telah dicemari dengan pelbagai amalan bidaah. Keadaan ini telah mengundang perselisihan pendapat antara ulama’ mengenai hukum mengadakan sambutan Maulidur Rasul. Menurut Sheikh Muhammad Fadl `Ashur, pada kurun ke-9, terdapat ulama’ yang membolehkannya dan ada pula yang melarang diadakan sambutan tersebut. As-Suyuti, Ibn Hajar Al-`Asqalani and Ibn Hajar Al-Haythmi mengharuskannya, namun mereka mengutuk bidaah yang berleluasa yang berlaku dalam sambutan tersebut.

PERAYAAN MAULID NABI ADALAH IBADAH

Sebelum kita menentukan hukum merayakan maulid Nabi s.a.w, ada satu soalan yang harus kita jawab yaitu apakah perayaan maulid nabi ini ibadah atau adat tradisi ?
Jika anda berpendapat bahwa merayakan maulid nabi adalah ibadah dimana siapa merayakannya akan mendapatkan pahala, maka untuk mengetahui apakah ibadah ini benar atau salah, wajib kita melihat kepada dua syarat . Pertama adanya niat ikhlas, dan kedua ada contoh dari nabi Muhammad s.a.w dan diamalkan oleh para sahabatnya. Setidaknya bagi golongan yang berpendapat bahwa perayaan maulid adalah ibadah harus mampu mendatangkan dalil-dalil dari Quran dan Hadis. Mereka harus menjelaskan bahwa nabi Muhammad s.a.w memberikan contoh dalam pelaksanaannya begitu juga para sahabatnya. Suatu amalan yang dinamakan ibadah, tentulah ada contoh dari nabi Muhammad s.a.w.

Malangnya masih banyak hari ini golongan yang tidak mampu mendatangkan dalil yang kukuh, kecuali mereka menggunakan dalil yang bersifat umum dan ditafsirkan mengikut akal dan pendapat mereka, tanpa menunjukkan bukti secara pasti bahwa Nabi dan para sahabat pernah merayakan maulid.
Didalam bab ibadah, sangat penting bagi kita untuk memastikan adakah ibadah itu di amalkan Nabi dan sahabatnya atau tidak. Islam adalah apa yang diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya, bukan mengikut akal dan keadaan zaman.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :
( فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ )

Maksudnya : “ Sesungguhnya, orang yang hidup di antara kalian selepasku akan melihat banyak perselisihan yang timbul ; maka tetaplah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa al-Mahdiyyin al-Rashidiin, berpeganglah dengannya, dan gigitlah ia dengan geraham …“. [HR Abu Daud : 4607, al-Tirmidzi : no.2676]

Sebagai pengikut Nabi, kita wajib berpegang kepada perintahnya pada hadis diatas. Yaitu berpegang kepada sunnah Nabi s.a.w dan sunnah para sahabatnya. Maknanya jika perayaan maulid Nabi adalah ibadah yang memberikan manfaat besar, tentulah itu diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Tetapi keterangan itu tidak ada, tidak satupun ulama yang bisa memberikan keterangan bahwa perayaan Nabi pernah diamalkan oleh mereka.

Jika kita memperhatikan pendapat para ulama yang bersetuju pelaksanaan perayaan maulid nabi adalah ibadah, maka kita akan melihat bahwa mereka selalu memberikan dalil yang bersifat umum dan ditafsirkan mengikut akal dan keadaan zaman. Mereka tidak sedar bahwa sesuatu amalan itu dinilai ibadah dan baik adalah jika itu diamalkan oleh Nabi dan para sahabat, bukan jika ia sesuai dengan akal dan keadaan zaman.

Diantara contoh dalil-dalil golongan yang membolehkan Maulid Nabi ;

1- Perayaan Maulid merupakan ekspresi kebahagiaan dan kegembiraan dengan diutusnya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan hal ini termasuk perkara yang diboleh dilakukan karena Al-Qur’an memerintahkannya sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah Ta’ala :

"Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira" (Qs. Yunus; 58).

Ayat ini memerintahkan kita untuk bergembira disebabkan rahmat-Nya, sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah rahmat Allah yang paling agung, Allah Ta’ala berfirman :
"Dan tidaklah kami utus kamu melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (Qs. Al Anbiya'; 107)

Sanggahannya:

Pertama, bergembira dengan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam, kelahirannya, syariat-syariatnya pada umumnya adalah wajib. Dan penerapannya di setiap situasi, waktu dan tempat, bukan pada malam-malam tertentu.
Kedua, pengambilan dalil surat Yunus ayat ke 58 untuk melegalkan acara Maulid nyata sangat dipaksakan. Karena para ahli tafsir seperti Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Al Baghawi, Al Qurthubi dan Ibnul Arabi serta yang lainnya tidak seorangpun dari mereka yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan kata rahmat pada ayat tersebut adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, namun yang dimaksud dengan rahmat adalah Al Qur’an. Seperti yang diterangkan dalam ayat sebelumnya.

"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman". (Qs. Yunus; 57).
Ibnu Katsir menerangkan; "Firman Allah Ta’ala "rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman" maksudnya dengan Al-Qur’an, petunjuk dan rahmat bisa didapatkan dari Allah Ta’ala. Ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang beriman dengan Al-Qur'an dan membenarkannya serta meyakini kandungannya. Hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala;

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman" (Qs. Al Israa'; 82).

2- Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri mengagungkan hari kelahirannya, beliau mengekspresikan hal itu dengan berpuasa, seperti diriwayatkan dari Abu Qatadahradiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya tentang puasa hari senin, beliau menjawab; "Pada hari itu aku dilahirkan, aku diutus atau diwahyukan kepadaku".

Sanggahannya :

Hadist Abu Qatadah radiyallahu 'anha di atas adalah hadits yang shahih, tapi menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam merayakan sendiri kelahirannya, ini yang salah. Kesimpulannya dalilnya shahih, pendalilannya salah. Dikarenakan beberapa alasan;

1- Diriwayatkan dalam hadits yang lain, bahwa puasa beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam di hari Senin, karena amalan di hari itu diperlihatkan kepada Allah Ta'ala.

2- Kalau ucapan mereka benar, kenapa tidak ada seorang pun dari shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang memahami sabda diatas dengan pemahaman demikian. Kemudian datang orang-orang belakangan yang memahami puasa beliau di hari Senin sebagai ekspresi pengagungan terhadap hari kelahirannya, lalu dari situ mereka mengadakan acara yang dinamakan Maulid!! Apakah mereka lebih mengetahui kebenaran dari para shahabat yang mulia?! Dan kebenaran itu luput dari mereka dan hanya diketahui oleh orang yang datang belakangan?! Sungguh ajaib logika orang-orang pintar akhir zaman, hasbunallahu wani'mal wakiil.

3- Perkataan mereka : Perayaan Maulid memang bid'ah, tapi bid'ah hasanah (baik)."

Sanggahannya:

Cukup dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Setiap bid'ah adalah sesat". Dan seperti itu pulalah yang disampaikan Ibnu Umar radiyallahu 'anhuma kepada orang-orang yang memiliki anggapan salah ini, kata beliau; "Setiap bid'ah adalah sesat walaupun orang menganggapnyabaik".

Al Imam Malik rahimahullah berkata; "Barangsiapa yang membuat bid'ah di dalam Islam yang dianggapnya baik, ia telah menuduh Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam khianat dalam menyampaikan risalah. Karena Allah Ta'ala berfirman;
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (Qs. Al Maidah; 3), maka segala sesuatu yang bukan agama dihari itu, bukan pula agama di hari ini.
Apabila ajaran maulid adalah petunjuk dan kebenaran, kenapa Rasululah SAW dan para shahabatnya, tidak pernah menganjurkannya?! Apakah mereka tidak tahu?! Kemungkinan yang lain, mereka tahu tapi menyembunyikan kebenaran. Dua kemungkinan ini sama batilnya!! Alangkah dzalim apa yang mereka perbuat kepada nabinya dengan alasan cinta kepadanya?!

Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa perayaan maulid nabi bukan suatu ibadah. Jika ia ibadah tentu telah dicontohkan nabi dan para sahabat. Maknanya jika merayakan maulid dengan meyakini bahwa ianya ibadah adalah amalan yang tidak benar, dan ini haram hukumnya. Karena ibadah jelas WAJIB dibuktikan dengan contoh dari Nabi s.a.w.

Diantara ulama yang tidak membenarkan untuk merayakan maulid Nabi adalah :

[1]. Syeikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam kitabnya "Iqtidlous Sirotul Mustaqim Mukholafata Ashabil Jahim", hal: 295 tentang Maulid Nabawy: "Tidak pernah dilakukan oleh as-salafus sholeh padahal dorongan untuk diadakannya perayaan ini sudah ada, dan tidak ada penghalangnya, sehingga seandainya perayaan ini sebuah kebaikan yang murni atau lebih besar, niscaya as salaf (ulama terdahulu) -semoga Allah meridloi mereka- akan lebih giat dalam melaksanakannya daripada kita, sebab mereka lebih dari kita dalam mencintai Rosulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengagungkannya, dan mereka lebih bersemangat dalam mendapatkan kebaikan. Dan sesungguhnya kesempurnaan rasa cinta dan pengagungan kepada beliau terletak pada sikap mengikuti dan mentaati perintahnya, dan menghidupkan sunnah-sunnahnya, baik yang lahir ataupun batin, serta menyebarkan ajarannya, dan berjuang dalam merealisasikan hal itu dengan hati, tangan dan lisan. Sungguh inilah jalannya para ulama terdahulu dari kalangan kaum muhajirin dan anshor yang selalu mengikuti mereka dalam kebaikan". Dan silahkan baca pernyataan beliau dalam kitab "Al Fatawa Al Misriyah" 1/312.

[02]. Perkataan Ibnul Qoyyim dalam kitabnya "I'lamu Al Muwaaqi'in", hal: (2/ 390-391). "Jika ada yang bertanya, dari mana kalian mengetahui bahwa Rasulullah tidak melakukannya, tidak ditemukannya dalil tidak mesti perbuatan tersebut tidak ada".
Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak mengetahui petunjuk dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta apa yang beliau sampaikan, kalau pertanyaan ini benar dan dapat diterima, tentu akan ada yang berpendapat dianjurkannya azan untuk sholat tarawih, dengan alasan yang sama, dan datang lagi yang lain menganjurkan mandi setiap sholat, dengan alasan yang sama juga, dan seterusnya, maka terbuka lebarlah pintu bid'ah, setiap orang yang melakukan bid'ah akan berkata : Dimana anda mengetahui bahwa hal ini tidak dilakukan Rasulullah".

PERAYAAN MAULID NABI ADALAH ADAT

Ada diantara ulama yang membolehkan perayaan maulid karena memandang ianya hanya adat istiadat masyarakat, selama tidak ada amalan-amalan bid ah dan maksiat didalam perayaan tersebut. Jika dalam perayaan tersebut terdapat unsur-unsur bidah dan maksiat, maka ia nya diharamkan. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah :


1. Sheikh Yusuf Al-Qaradawi berpendapat bahawa umat Islam pada zaman kini semakin lupa akan kepentingan sirah Nabi s.a.w, maka sambutan Maulidur Rasul ini adalah suatu kaedah untuk mengingatkan mereka mengenai perjuangan Nabi agar dapat diambil pengajaran daripadanya. Beliau menambah bahawa sekiranya sambutan ini dijalankan dengan sejajar dengan syariah(tiada bidaah), ia dapat mendekatkan umat Islam kepada ajaran Islam dan sunnah serta sirah kehidupan baginda s.a.w.

2. Sheikh `Atiyyah Saqr pula berpendapat bahawa sambutan ini dibolehkan sebagai tanda cinta kepada baginda dan merupakan usaha yang membantu kita untuk mencontohi baginda. Namun, ianya mestilah tidak membabitkan perkara-perkara yang dilarang oleh agama seperti pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, tidak beradab dalam masjid, dan sebagainya. Tambah beliau, kaedah menyambut sambutan ini adalah seperti mentelaah sirah dan sunnah baginda, membina masjid dan tempat keagamaan, melakukan kerja-kerja sukarelawan yang kesemuanya dapat mengingatkan kita untuk menghayati kisah perjuangan baginda dahulu.

Sanggahan :

Sheikh Yusuf Al-Qaradawi berpendapat bahawa umat Islam pada zaman kini semakin lupa akan kepentingan sirah Nabi s.a.w, maka sambutan Maulidur Rasul ini adalah suatu kaedah untuk mengingatkan mereka mengenai perjuangan Nabi agar dapat diambil pengajaran daripadanya. Jika ini suatu kaedah yang benar dalam membangkitkan semangat untuk mengingat perjuangan nabi, tentulah amalan ini dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Tapi fakta secara umum dapat dilihat bahwa kaedah ini telah menjadi pintu untuk berbagai amalan bidah boleh masuk. Bahkan banyak perayaan maulid Nabi dirayakan dengan pembaziran uang dan mensia-siakan masa. Bahkan secara umum masyarakat kita beranggapan bahwa merayakan maulid Nabi mendatangkan pahala. Jika demikian, maka merayakan maulid adalah tetap dijadikan ibadah. Keyakinan seperti ini adalah bid ah. Maka untuk mengatakan bahwa perayaan maulid dibolehkan dengan syarat tidak bercampur amalan bid ah, justru tiak boleh diterima. Karena pelaksanaan maulid itu sendiri adalah bid ah yang membuka pintu untuk datang bid ah yang lain. Perayaan maulid yang dianggap sebagian ulama hanya sebagai adat, sebetulnya perkara yang syubhat. Karena fakta di dalam masyarakat perayaan maulid tetap berunsurkan ibadah yang siapa merayakannya mendapatkan pahala dan kebaikan.

Sheikh `Atiyyah Saqr pula berpendapat bahawa sambutan ini dibolehkan sebagai tanda cinta kepada baginda dan merupakan usaha yang membantu kita untuk mencontohi baginda.

Jika kita memahami bahwa perayaan maulid dibolehkan karena sebagai tanda cinta kepada Nabi, maka ungkapan ini sangat keliru, karena hendaknya bukti cinta kepada nabi adalah mengetahui dan mengamalkan apa yang diperintahkan nabi. Bukan dengan mengamalkan bid ah.

Amalan adat istiadat juga dapat dihukumkan haram jika ianya bercanggah terhadap ajaran nabi s.a.w. Jika pelaksanaan maulid dipandang sebagai suatu adat. Maka adat tersebut harus dipastikan tidak bertentangan dengan sunnah Nabi, dan tidak unsur meniru-niru budaya orang kafir serta berbangga atasnya.

Diantara garis panduan untuk memastikan bahwa adat tidak bertentangan dengan Islam adalah :

Pertama: Meniru-niru adat dan tradisi orang kafir

Perayaan maulid Nabi s.a.w tidak dicontohkan oleh nabi dan para sahabatnya, juga 4 Imam mazhab. Perayaan maulid ini dilaksanakan pertama kali oleh golongan syiah fatimiyah di Mesir. Syiah di golongkan sebagai ahli kufur di dalam pandangan Islam. Karena rusaknya akidah dan ibadah mereka.
Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah (11/127) berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Diantaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-”.

Dari keterangan diatas, dapat dipahami bahwa mengadakan perayaan maulid Nabi adalah cara orang yahudi. Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir. Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama. Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103)

Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

Kedua: Menghamburkan harta secara boros

Menjelang hari maulid Nabi, berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa berjuta-juta rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk suatu negara, hanya demi merayakan hari maulid Nabi. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Untuk membenarkan perayaan maulid Nabi dikarenakan ianya hanya sebagai adat atau kaedah mengingat nabi, atau sebagai ungkapan cinta kepada Nabi adalah perkara syubhat ( perkara yang tidak jelas ). Karena mudharat merayakan maulid nabi lebih banyak dari pada gambaran postif yang kita pikirkan. Itu dibuktikan dengan berbagai bidah dan maksiat yang ada pada setiap pelaksaan maulid nabi dari kurun ke kurun, seperti meniru adat dan tradisi kaum kufar untuk menunjukkan cintakepada Nabi. Padahal Nabi sendiri sudah mengajarkan bagaimana cara mengungkapkana cinta kepadanya dan Nabi telah memberi kaedah cara mengingatnya sebagaimana apa yang telah diamalkan oleh para sahabatnya.

Sebagai orang Islam dan pengikut Nabi Muhammad s.a.w, sepatutnya kita menghindarkan diri dari pelaksanaan perkara-perkara yang syubhat, seperti perayaan maulid Nabi. Jika kita ingin mengungkapkan cinta dan mengajarkan islam kepada masyarakat, maka dengan meniru apa yang diamalkan oleh para sahabat Raulullah s.a.w adalah suatu cara yang benar dan tepat. Umat Islam pernah mencapai suatu kejayaan yang sangat hebat di zaman para sahabat, tetapi tidak ada didalam sejarah dimana mereka mencapai itu semua dengan amalan merayakan maulid Nabi setiap tahun. Mereka mencapai kejayaan itu hanya dengan mengamalkan apa yang Nabi s.a.w amalkan dan perintahkan, baik perkara itu didalam politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya.

PENUTUP

Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
"Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia." [HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)]

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu -hafizhahullah- berkata, "Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia." [Lihat Minhajul Firqatun Najiyah (hal. 111)]

Setelah kita mengetahui hal ini, lalu bagaimana cara mencintai Nabi-Shallallahu ‘alaihi wasallam-?
Cinta kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah dengan mengikuti syari’at beliau. Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , atau itu adalah bid’ah hasanah. Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !!

Sudah sepatutnya kita berusaha untuk tidak merayakan maulid nabi, disebabkan dalil-dalil yang lemah dalam pelaksanaannya serta banyak unsur mudharatnya.

* Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- .

Syaikh bin Baaz-rahimahullah- menjawab, "Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shallallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka.
Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak". [HR. Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (2697) dan Muslim(1718)]

Beliau juga bersabda, "Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat." [Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shahih Al-Jami’ (2546)]

Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman,

"Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya ." (QS. Al-Hasyr :7).

No comments:

Post a Comment