Monday, August 8, 2011

PANDUAN SHOLAT TARAWIH MENGIKUT SUNNAH

Cara shalat Tarawih adalah :

1. Dianjurkan solat berjamaah

Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau ( bermakmum di belakang ), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian ( untuk mengimami shalat ) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Lebih utama dalam pelaksanaannya dengan dua rakaat terus salam, walaupun dibolehkan juga untuk melakukannya dengan empat raka'at terus salam. Sebagaimana riwayat dibawah ini :

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka'at dua raka'at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka'at. ( H.R : Jama'ah)

Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka'at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka'at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka'at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. ( H.R : Al- Bukhary,Muslim dan lainnya )

Kedua hadis diatas banyak disalah pahami sehingga dijadikan hujah oleh sebagian ulama yang mengatakan bahwa sholat tarawih boleh dilakukan tanpa batas raka'atnya, walaupun mereka tidak menolak untuk melakukan 11 raka'at jika tidak mampu lebih dari itu.

Pandangan diatas bahwa sholat tarawih adalah sholat yang bisa dilakukan tanpa batas adalah keliru. Karena jika kita melihat kembali lafaz hadisnya, didapati dimana sipenanya bertanya dengan menggunakan kata " bagaimana cara sholat malam ", bukan " berapa sholat malam ". Kata bagaimanamenunjukkan kepada cara sholat itu, adapun berapa menunjukkan bilangan sholat itu.

Sholat yang dilakukan tanpa bilangan adalah sholat sunah muthlaq, adapun sholat tarawih bukan sholat sunnah muthlaq. Tetapi ianya sholat sunnah tatawwuk hukumnya sunnah muakkad yang mendekati wajib.

3. Tidak lebih dari sebelas raka'at yakni salam tiap dua raka'at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka'at.

Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka'at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya : Beliau shalat empat raka'at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka'at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. ( H.R : Al- Bukhary,Muslim dan lainnya )

Didalam hadis lain dijelaskan bahwa nabi saw melakukan sholat tarawih 13 raka'at, seperti :

Hadits dari Aisyah ra, Rasulullah shalat malam 13 rakaat.

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam tiga belas raka'at kemudian bila sudah mendengar seruan adzan Shubuh Beliau mengerjakan dua raka'at shalat sunnat yang ringan.
(Shahih Bukhari)

Pada zahirnya nampak kedua hadis diatas bertentangan, tetapi sebenarnya tidak demikian halnya. Sebab tambahan dua raka'at yang ada pada riwayat Malik dan Bukhari bisa diartikan sholat ba'diyah isya' atau sholat iftitah ( sholat pembukaan sebelum sholat malam ). Tentang sholat iftitah ini Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw biasa memulai sholat malam ( 11 raka'at ) itu dengan dua raka'at yang ringan.

Adapun perincian 13 raka'at yang dimaksud pada riwayat diatas adalah sebagaimana riwayat Zaid bin Khalid al-Juhani bahwasanya berkata: “Aku perhatikan shalat malam Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Yaitu (ia) shalat dua rakaat yang ringan kemudian ia shalat dua rakaat yang panjang sekali. Kemudian shalat dua rakaat, dan dua rakaat ini tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian shalat dua rakaat (tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya), kemudian witir satu rakaat, yang demikian adalah tiga belas rakaat.” (Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr)

4. Dibuka dengan dua raka'at yang ringan.

Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka'at yang ringan, kemudian solat delapan raka'at, kemudian solat witir. ( H.R : Muslim )

5. Bacaan dalam sholat tarawih dengan dimulakan bacaan yang panjang jika mampu, jika tidak maka cukup membaca semampunya mengikut juga kemampuan para makmum.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)

6. Bacaan dalam witir : Raka'at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka't kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka'at ketiga : Qulhuwallahu ahad.
Dari Ubay bin Ka'ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A'la )dan ( Qul ya ayyuhal kafirun) dan (Qulhu wallahu ahad ).
( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i dan Ibnu Majah )

7. Membaca do'a qunut dalam shalat witir.

Doa qunut nafilah yakni doa qunut dalam shalat witir termasuk amalan sunnah yang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahuinya banyak kaum muslimin yang membid’ahkan imam yang membaca doa qunut witir. Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)

يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ

“Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud dan An-Nasa’i dalam kitab Sunanul Qubro, Ahmad, Thobroni, Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad shahih)

Adapun doa qunut tersebut dilakukan setelah ruku’ atau boleh juga sebelum ruku’. Doa tersebut dibaca keras oleh imam dan diaminkan oleh para makmumnya. Dan boleh mengangkat tangan ketika membaca doa qunut tersebut.

Di antara doa qunut witir yang disyariatkan adalah:

« الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ »


Dan kadangkala beliau membaca shalawat, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat berikut. Silakan lihat kitab Fadhlu Shalat 'Alan Nabi _ (hal 33) dan Talkhis Shifat Shalat {HAL.45).

Jika datang pertengahan ramadhan maka doa qunut witir tadi dilanjutkan dengan membaca do'a qunut nazilah kemudian sholawat dan doa untuk kaum muslimin. Hal itu dilakukan mulai pertengahan terakhir Ramadhan. Berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih dari para imam pada masa kekhalifahan Umar Ra. Dalam hadits terdahulu dari Abdurrahman bin Abdin Al-Qaari disebutkan, yang artinya :

"Mereka mengucapkan laknat atas orang-orang kafir pada pertengahan terakhir Ramadhan:

Ya Allah, binasakanlah orang-orang kafir yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mendustakan rasul-rasul-Mu, tidak beriman kepada janji-Mu, cerai beraikanlah persatuan mereka, hujamkanlah rasa takut dalam hati mereka dan timpakanlah kehinaan dan siksa-Mu atas mereka, yaa ilah Yang Maha Haq." Kemudian membaca shalawat atas Nabi _ dan mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin semampunya, lalu memohon ampunan bagi segenap kaum muslimin. la melanjutkan: 'Setelah beliau mengucapkan laknat atas orangorang kafir, membaca shalawat atas Nabi, memohon ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat, beliau membaca doa berikut:

"Yaa Allah hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu jua kami mengerjakan shalat. Kepada-Mu kami berusaha dan bergegas. Kami mengharap rahmat-Mu yaa Rabb kami, dan kami takut kepada siksa-Mu, sesungguhnya siksa-Mu pasti menimpa orang-orang yang memusuhi-Mu."

Kemudian beliau bertakbir dan sujud. H.R Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (II/155-156/1100).

Untuk memudahkan membaca Qunut Nazilah, contoh lafaznya :

اللهُمَّ إنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنُؤْمِنُ بِكَ ، وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْكَ وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ وَلَا نَكْفُرُكَ ، اللهُمَّ إيَّاكَ نَعْبُدُ ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ ، إنَّ عَذَابَكَ الجِدَّ بِالْكُفَّارِ مُلْحَقٌ ، اللهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ وأهْلَ الكِتَابِ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ

اللهُمَّ أَعِزَّ الإسْلَامَ وَالْمُسلمين، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْن, اللهم أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالطُّغَاةَ وَالظَّالِمِيْنَ يا رب العالمين.. اللهم اِنَّنَا نَجْعَلُكَ فى نُحُورِ أعداءِنَا و نَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِم, اللهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَهُم وَ فَرِّقْ جَمْعَهم و شَتِّتْ كَلِمَتَهم و زَلْزِلْ أَقْدَامَهم يا قهَّار , يا جبَّار , يا مُنْتَقِم, يا الله, يا الله, يا الله.

اللهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابَ وَيَا مُجْرِيَ السَّحَابَ وَيَا هَازِمَ الْأَحْزَابَ اِهْزِمْهُمْ وَاْنصُرْنَا عَلَيْهِمْ.

اللَّهُمَّ أَنْجِ المسلمين في فلسطين اللَّهُمَّ أَنْجِ المسلمين في كُلِّ مَكَان, اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ, اللَّهُمَّ أهْلِكْ أمْرِيْكَانَ وَمَنْ وَالَاهُمْ, اللهُمَّ أَهْلِكِ الْيَهُوْدَ وَمَنْ وَالَاهُمْ
,
اللهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِكْ، والْمُضْطَهَدِيْنَ فِيْ دِيْنِهِمْ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، اللهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا فِيْ فِلَسْطِيْن ، اللهُمَّ انْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ، اللهُمَّ اجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ، وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ.


Maksudnya: “Ya Allah sesungguhnya kami memohon pertolongan dariMU dan kami beriman denganMu, dan kami bertawakkal kepada Mu, dan kami memuja Mu dengan kebaikan dan kami tidak mengkufuriMU, Ya Allah hanya engkau yang kami sembah dan kepada Mu kami menunaikan solat dan bersujud, kepadaMu kami menuju, dan kami menyegerakan langkah, kami mengharapkan rahmatMu dan kami takutkan azabMu, sesungguhnya azabMu sangat pedih akan dikenakan kepada orang-orang yang kafir, Ya Allah azablah orang-orag kafir Ahli kitab yang menghalang-halangi dari jalanMU.

Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, dan hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrik, Ya Allah hancurkan musuh-musuhMu yang merupakan musuh-musuh agama (Islam), Ya Allah binasakanlah kekufuran, toghout dan orang-orang yang zalim, Wahai tuhan sekelian alam. Ya Allah kami serahkan leher-leher musuh kami (kepadaMu) dan kami berlindung denganMu daripada kejahatan-kejahatan mereka. Ya Allah cerai-beraikan himpunan mereka, pecah-belahkan kesatuan mereka, selerakkanlah kalimah mereka, dan goncangkan kedudukan mereka, Wahai tuhan yang maha gagah, wahai tuhan yang maha keras, wahai tuhan yang maha membalas, Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah,

Ya Allah, wahai tuhan, yang menurunkan al-Kitab, wahai tuhan yang menjalankan awan, wahai tuhan yang mengalahkan tentera al-Ahzab, kalahkanlah mereka (orang-orang kuffar) dan bantulah kami menghadapi mereka.

Ya Allah, selamatkanlah kaum muslimin di Palestin, Ya Allah selamatkanlah kaum muslimin di semua tempat, Ya Allah selamatkanlah kaum-kaum yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman, Ya Allah hancurkan Amerika dan sekutu-sekutunya, Ya Allah hancurkan Yahudi dan sekutu-sekutunya.

Ya Allah bantulah saudara-saudara kami para pejuang di jalanMu, yang ditindas kerana agama yang mereka anuti di semua tempat. Ya Allah bantulah saudara-saudara kami di Palestin, Ya Allah bantulah mereka, Ya Allah bantulah mereka berdepan dengan musuhMu dan musuh mereka, Ya Allah satukanlah kalimah mereka, dan saf-saf mereka, wahai tuhan sekelian alam, Wahai tuhan kami sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampunkan kami dan mengasihani kami, sudah pasti kami akan tergolong dari kalangan orang-orang yang rugi.”

8. Bacaan Sesudah Shalat Witir

Menurut riwayat Nasa’i, Rasulullah SAW setelah shalat witir beliau membaca Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali.

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ عَبْدِالرَّحْمٰنِ بْنِ اَبْزَى عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَانَ يُوْتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْلٰى، وَقُلْ يٰۤايُّهَا اْلكَافِرُوْنَ، وَقُلْ هُوَاللهُ اَحَدٌ. فَاِذَا فَرَغَ قَالَ: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ ثَلاَ ثًا وَ يَمُدُّ فِى الثَّالِثَةِ. ﴿النسائى ٣:٢٤٧﴾

Dari Qatadah dari Zurarah dari Abdur Rahman bin Abza dari Rasulullah SAW di dalam shalat witir membaca surat Al-A’laa, Al-Kaafirun dan Al-Ikhlash. Setelah selesai lalu beliau mengucapkan, “Subhaanal Malikil Qudduus 3 kali, dan beliau memanjangkan pada bacaan yang ketiga”. [HR Nasaiy juz 3 hal 247]

Dan menurut riwayat Thabrani, setelah bacaan tersebut ada tambahan “Rabbul malaaikati war ruuh” (namun tambahan ini tidak shahih, karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Isa bin Yunus, yang tidak diketahui jarh-ta’dilnya)



Peringatan :

1. أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّى فِيْ رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكَعَةَ وَالْوِتْرَ

Rasulullah s.a.w tidak pernah melakukan solat tarawih 20 rakaat dan witir.

Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadis Abbas, bahawasanya Rasulullah s.a.w pernah solat ( Malam ) di bulan ramadhan 20 rakaat dan witir, maka sanadnya lemah. Hadis ini bertentangan dengan hadis 'Aisyah yang terdapat dalam shahihain. Pernyataan sama juga diungkapkan oleh Imam az-Zaila'I dalam kitab Nasbur-Rayah: 11:153. Syaikh Nasiruddin Al Bani juga berpendapat bahawa hadis ini lemah, seperti yang dinyatakan oleh Imam Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawa 11:73. Yang menyebabkan kelemahannya adalah rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim Bin Uthman. Didalamkitab at-Taqrib Ibnu Hjar menyebutkan bahawa rawi ini adalah Matrukul hadis. Baihaqi menjelaskan bahawa Abi Syaibah bersendirian ( tafarrada bihi )dan ia ini lemah. Begitu juga pernyataan al-Haitsami dalam Majma'uz-Zawaid 111:172, bahawa dia itu lemah.

2. Umar juga tidak pernah solat tarawih 20 rakaat.

Pada riwayat lain dari Abdurrazaq yang juga melalui jalan Muhammad Bin Yusuf dikatakan bahawa solat yang dilakukan Umar adalah 21 rakaat. (Lihat Fathul bari IV:204).

Riwayat ini tidak boleh dipakai kerana:
a. Lafaazhnya menyalahi riwayat yang sohih( iaitu 11 rakaat ).
b. Abdurrazaq telah bersendirian denganlafaz seperti ini ( 21 rakaat ).

Imam Ahmad menyatakan bahawa Abdurrazaq menjadi buta di akhir umurnya, maka barang siapa mendengar daripadanya setelah kebutaannya, tidak dianggap apa-apa, Nasa'I mengatakan: Perlu diteliti mereka yang mencatat di akhir usianya. Syaikh Al-bani berpendapat : " Hadis yang tidak jelas, apakah diriwayatkan sebelum atau sesudah ikhtilah, tiak boleh diterima.

3. Tidak ada sahabat Rasulullah yang melakukan solat 20 rakaat.

Selain daripada Umar ra terdapat banyak riwayat lain yang dinisbahkan kepada sahabat lain yang menerangkan bahawa mereka melakukan solat tarawih 20 rakaat, contohnya :

Riwayat dari Abi al-Hasna yang bermaksud bahawa Ali ra memerintahkan seorang lelaki mengimami mereka dibulan ramadhan dengan 20 rakaat. Diriwayatkan olrh Ibnu Abi Syaibah dalam "al-Mushannaf 11:90/1: danBaihaqi 11:497.

Pada sanadnya terdapat Abul Hasna yang oleh adz-Dzahabi dikatakan " tidak dikenal dan al-Hafiz menyebutnya " majhul "

Banyak lagi riwayat-riwayat lemah yang selalu dijadikan dalil, untuk yang ingin mendapat lebih maklumat maka boleh merujuk kepada kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah oleh Husein Ibnu 'Audah al-'Awaisyah juga kitab Kelemahan riwayat tarawih 20 rakaat oleh Albani.

Adapun Syaikh Al-Albany beliau berpendapat akan wajibnya terbatas pada 11 atau 13 raka’at.Dan Syaikh Al-Albany dalam Sholatut Tarawih hal. 19-21 (Cet. Kedua) menjelaskan dengan lengkap bahwa hadits yang mengatakan bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan sholat Tarawih 20 raka’at adalah hadits yang lemah sekali.

Dan di hal. 48-56, Syaikh Al-Albany menegaskan lemahnya penisbatan pelaksanaan 20 raka’at pada ‘Umar bin Khoththob disertai dengan nukilan pelemahan dari beberapa Imam dan beliau sebutkan bahwa yang benar dari ‘Umar adalah pelaksanaan 11 raka’at.
Dan di hal. 65-71, beliau menerangkan bahwa tidak ada nukilan yang syah dari seorang shahabatpun tentang pelaksanaan Tarawih 20 raka’at.

Dan di hal. 72-74, beliau membantah sangkaan sebagian orang yang mengatakan bahwa syari’at sholat Tarawih 20 raka’at merupakan kesepakatan para ulama.

Baca pembahasan tentang masalah di atas dalam : Al-Istidzkar 2/68-70, 95, Al-Majmu’ 3/527, Thorhut Tatsrib 3/97-98, Fathul Bari 4/252, Al-Mughny 2/601-604, Al-Inshof 2/180, Nailul Author 3/57, Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 7/194-198, Asy-Syarh Al-Mumti’ 4/65-77, Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 14/187-189 dan Taudhih Al-Ahkam 2/410-415 (Cet. Kelima).

TAMBAHAN KETERANGAN TENTANG JUMLAH RAKAAT SHOLAT TARAWIH

Jumlah Rakaat dlm Shalat Tarawih

Kemudian utk jumlah rakaat dlm shalat tarawih adl 11 rakaat berdasarkan:
1. Hadits yg diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman beliau berta pada ‘Aisyah tentang sifat shalat Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan beliau menjawab:

مَا كَانَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَ فِيْ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ..

“Tidaklah melebihkan pada bulan Ramadhan dan tdk pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.”

‘Aisyah ra dalam hadits di atas mengisahkan tentang jumlah rakaat shalat malam Rasulullah saw yg telah beliau saksikan sendiri yaitu 11 rakaat baik di bulan Ramadhan atau bulan lainnya. “Beliaulah yg paling mengetahui tentang keadaan Nabi n
di malam hari dari lainnya.”

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata: “ rakaat adl 11 rakaat dan kami memilih tdk lbh krn mengikuti Rasulullah saw, maka sesungguh beliau saw tak melebihi 11 rakaat sampai beliau saw wafat.”

2. Dari Saaib bin Yazid beliau berkata:

أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيْمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُوْمَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“’Umar bin Al-Khaththab ra memerintahkan pada Ubai bin Ka’b dan Tamim Ad-Dari utk memimpin shalat berjamaah sebanyak 11 rakaat.”

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata dlm Al-Irwa tentang hadits ini: “ ini isnad sangat shahih.” Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin berkata: “Dan ini merupakan nash yg jelas dan perintah dari ‘Umar dan sesuai dengan nash krn beliau termasuk manusia yg paling bersemangat dlm berpegang teguh dgn As Sunnah apabila Rasulullah saw tak melebihkan dari 11 rakaat mk sesungguh kami berkeyakinan bahwa ‘Umar ra
akan berpegang teguh dgn jumlah ini .”

Adapun pendapat yg menyatakan bahwa shalat tarawih itu jumlah 23 rakaat adl pendapat yg lemah krn dasar yg digunakan oleh pemegang pendapat ini hadits-hadits yg lemah. Di antara hadits-hadits tersebut:

1. Dari Yazid bin Ruman beliau berkata:

كَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ فِيْ زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِيْ رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً

“Manusia menegakkan di bulan Ramadhan pada masa ‘Umar bin Al-Khaththab z
23 rakaat.”

Al-Imam Al-Baihaqi berkata: “Yazid bin Ruman tdk menemui masa ‘Umar ”.

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani men-dha’if-kan hadits ini sebagaimana dlm Al-Irwa

2. Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّى فِيْ رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكَعَةَ وَالْوِتْرَ

“Sesungguh Nabi saw shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.”

Al-Imam Ath-Thabrani berkata: “Tidak ada yg meriwayatkan hadits ini dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dgn sanad ini saja.”

Dalam kitab Nashbur Rayah dijelaskan: “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adl perawi yg lemah menurut kesepakatan dan dia telah menyelisihi hadits yg shahih riwayat Abu Salamah sesungguh beliau berkata pada ‘Aisyah ra: “Bagaimana shalat Rasulullah saw di bulan Ramadhan? .”

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ .
Sebagai penutup kami mengingatkan tentang kesalahan yg terjadi pada pelaksanaan shalat tarawih yaitu dgn membaca dzikir-dzikir atau doa-doa tertentu yg dibaca secara berjamaah pada tiap-tiap dua rakaat setelah salam. Amalan ini adl amalan yg bid’ah .

Wallohu a’lam

Maraji’:

1. Shohih Muslim
2. Qiyaamur Ramadhan li Syaikh Al-Albanyrahimahullah
3. Sifat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
4. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
5. Majalah As-Sunnah Edisi 07/1424H/2003M
6. kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah oleh Husein Ibnu 'Audah
al-'Awaisyah

No comments:

Post a Comment