Saturday, August 6, 2011

HADIS-HADIS KEUTAMAAN MEMBACA SURAH YASIN DIMALAM JUM'AT ADALAH LEMAH

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Blog salah seorang teman dan menemukan pembahasan tentang derajat hadits keutamaan membaca surat Yasin di malam hari (selengkapnya silakan baca di : http://alponti.multiply.com/journal/item/14/Adakah_Hadits_Shahih_tentang_Fadhilah_Surah_YASIN).

Langsung saja,… hadits yang dimaksud adalah :

أخبرنا محمد بن إسحاق بن إبراهيم مولى ثقيف حدثنا الوليد بن شجاع بن الوليد السكوني حدثنا أبي حدثنا زياد بن خيثمة حدثنا محمد بن جحادة عن الحسن عن جندب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaaq bin Ibraahiim maula Tsaqiif : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa’ bin Al-Waliid As-Sakuuniy : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Khaitsamah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhaadah, dari Al-Hasan, dari Jundab ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang membaca surat Yaasiin di malam hari dengan mengharap wajah Allah, maka ia akan diampuni”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 2574 dan Al-Mawaarid no. 665.

Para perawi hadits ini semuanya adalah tsiqah, hanya saja Al-Hasan – yaitu Al-Bashriy – membawakannya dengan ‘an’anah, sedangkan ia adalah seorang mudallis.

Untuk menambah faedah, berikut yang disampaikan teman saya – hafidhahullah – dalam Blognya :

Dalam beberapa literatur yang saya baca dapat disimpulkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri memang mendengar hadits dari Jundab. Al-Hafizh dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib mengatakan begini, ”Dia meriwayatkan dari Ubay bin Ka’b, Sa’d bin Ubadah, Umar bin Al-Khathtab padahal dia tidak pernah bertemu dengan mereka. Dia juga meriwayatkan dari Tsauban, ’Ammar bin Yasir, Abu Hurairah, Utsman bin Abu Al-Ash, Ma’qil bin Sinan padahal dia tidak mendengar langsung dari mereka. Dan (dia juga meriwayatkan) dari Utsman, Ali, Abu Musa, Abu Bakrah, Imran bin Hushain, JUNDAB AL-BAJALI, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Amr bin Al-Ash, Mu’awiyah, Ma’qil bin Yasar, Anas, Jabir dan banyak sahabat Nabi SAW yang lain serta para tabi’in.”

Dari sini kita bisa paham bahwa mulai dari nama Utsman sampai kepada Jabir maka pendengaran Al-Hasan akan hadits mereka tak perlu diragukan. Wallahu a’lam.

Bukti paling konkrit bahwa Al-Hasan Al-Bashri memang mendengar langsung dari Jundab adalah sebagaimana riwayat Al-Bukhari dalam Shahihnya hadits nomor 3463, kitab Ahadits Al-Anbiya`, bab: Maa Dzukira ’an Bani Israail. Hadits yang sama juga terdapat dalam Shahih Muslim, no. 113. Hadits ini menceritakan seorang yang mati bunuh diri dan Allah mengharamkan surga untuknya.

Al-Hasan Al-Bashri memang dikenal sebagai mudallis. Namun, dia masuk dalma kategori mudallis yang tidak parah. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Thabaqatul Mudallisin (atau nama lainnya Ta’rif Ahli At-Taqdis bi Maratib Al-Maushufin bi At-tadlis) memasukkannya dalam peringkat kedua dari golongan para mudallis (Lihat kitab tersebut pada biografi nomor 40). Artinya, bila memang benar dia pernah mendengar dari syekhnya maka tadlisnya bisa diterima, apalagi ‘an’anah-nya masuk dalam syarat Al-Bukhari dan Muslim.

Tidak dipungkiri bahwasannya Jundab radliyallaahu ‘anhu memang syaikh (guru) dari Hasan Al-Bashriy rahimahullah dimana ia pernah bertemu dengannya dan mendengarkan hadits/riwayat darinya. Namun harus diingat bahwa di sini Al-Hasan telah melakukan tadlis isnad. Pertemuan dan periwayatan dengan as-sama’ secara umum tidaklah langsung menshahihkan semua riwayat Al-Hasan (begitu juga perawi mudallis lainnya) yang dibawakan dengan ‘an’anah dari Jundab. Riwayat Al-Hasan dari Jundab radliyallaahu ‘anhu dikatakan shahih jika ada penjelasan tentang penyimakan hadits yang ia riwayatkan.

Adapun definisi tadlis isnad adalah :

أن يَرْوِيَ الراوي عمن قد سمع منه ما لم يسمع منه من غير أن يذكر سمعه منه.... ومعنى هذا التعريف أن تدليس الإسناد أن يروي الراوي عن شيخ قد سَمِعَ منه بعض الأحاديث، لكن هذا الحديث الذي دلسه لم يسمعه منه ، وإنما سمعه من شيخ آخر عنه ، فيٌسْقِطٌ ذلك الشيخَ ويرويه عنه بلفظ محتمل للسماع وغيره ، كـ " قال " أو " عن " ليوهم غيره أنه سمعه منه ، لكن لا يصرح بأنه سمع منه هذا الحديث فلا يقول : " سمعت " أو " حدثني " حتى لا يصير كذاباً بذلك ، ثم قد يكون الذي أسقطه واحداً أو أكثر

“Jika si perawi meriwayatkan hadits yang tidak pernah ia dengar dari orang yang pernah ia dengar haditsnya; tanpa menyebutkan bahwa perawi tersebut mendengar hadits itu darinya….. Penjelasan definisi tadlis isnad ini adalah bahwa seorang perawi meriwayatkan beberapa hadits yang ia dengar dari seorang syaikh (guru), namun hadits yang ia tadlis­-kan tidak pernah ia dengar dari gurunya itu. Hadits itu ia dengar melalui (perantara) syaikh yang lain, dari syaikh-nya yang pertama tadi. Orang tersebut (si mudallis) menggugurkan syaikh yang menjadi perantara, dan kemudian ia (si mudallis) meriwayatkan darinya (syaikh yang pertama) dengan lafadh yang mengandung kemungkinan mendengar (samaa’) atau yang semisalnya; seperti lafadh قَالَ (telah berkata) atau عَنْ (dari) – agar orang lain menyangka bahwa ia telah mendengar dari syaikh tersebut. Padahal tidak benar orang itu telah mendengar hadits ini. Ia tidak mengatakan سَمِعْتُ (aku telah mendengar) atau حَدَّةَنِيْ (telah menceritakan kepadaku), sehingga ia tidak bisa disebut sebagai pendusta atas perbuatan itu. Orang yang ia gugurkan tadi bisa satu orang atau lebih” [lihat Taisiru Mushthalahil-Hadiits oleh Dr. Mahmud Ath-Thahhaan hal. 62 dan Ta’riifu Ahlit-Taqdiis bi-Maraatibil-Maushuufiina bit-Tadliis oleh Ibnu Hajar hal. 10, tahqiq : Dr. ‘Abdul-Ghaffaar Sulaiman & Muhammad bin Ahmad ‘Abdil-‘Aziiz].

Definisi di atas adalah definisi yang diberikan oleh Al-Bazzaar, Ibnu ‘Abdil-Barr, Ibnul-Qaththaan, Ibnu Hajar, As-Sakhawiy, dan yang lainnya [lihat Al-Jawaahirus-Sulaimaaniyyah oleh Abul-Hasan Al-Ma’ribiy, hal. 259]. Dan definisi inilah yang lebih tepat.

Adapun penyikapan atas ‘an’anah Al-Hasan Al-Bashriy, maka sikap pertengahan dalam hal ini adalah : ‘An’anah Al-Hasan Al-Bashriy diterima apabila ia meriwayatkan dari selain shahabat (yaitu tabi’in). Adapun ‘an’anah-nya dari shahabat, maka tidak diterima hingga ia menyatakan secara jelas (tashriih) atas penyimakan riwayatnya. Inilah yang dijelaskan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah (lihat Ash-Shahiihah, 2/511) yang kemudian disepakati oleh Asy-Syaikh Abul-Hasan Mushthafa As-Sulaimaniy hafidhahullah. Apalagi melihat kenyataan bahwa Al-Hasan banyak meng-irsal-kan hadits. Walaupun keduanya mempunyai tafshil yang berbeda, namun intinya adalah sama.

Adapun berdalil diterimanya ‘an’anah Al-Hasan dari Jundab dengan dasar apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, maka ini kurang tepat. Tidak lain dikarenakan riwayat Al-Hasan dari Jundab dalam Shahihain telah disebutkan secara jelas dijelaskan penyimakannya.

حدثنا محمد قال حدثنا حجاج حدثنا جرير عن الحسن حدثنا جُنْدب بن عبد الله....

Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Hajjaaj : Telah menceritakan kepada kami Jariir, dari Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Jundab bin ‘Abdillah……… [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3463].

وحدثنا محمد بن أبي بكر المقدمي. حدثنا وهب بن جرير. حدثنا أبي. قال: سمعت الحسن يقول: حدثنا جندب بن عبدالله البجلي في هذا المسجد

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bakr Al-Muqaddamiy : Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jariir : Telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata : Aku mendengar Al-Hasan berkata : Telah menceritakan kepada kami Jundab bin ‘Abdillah Al-Bajaliy tentang hadits masjid…. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 113].

Kesimpulannya : Hadits di atas adalah dla’if karena ‘an’anah Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah. Pendla’ifan ‘an’anah dalam hadits ini dinyatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Al-Arna’uth, dan Asy-Syaikh Husain Salim Asad rahimahumullah.

CONTOH HADIS-HADIS TENTANG KEUTAMAAN YASIN :

1. Jalur Jundab bin 'Abdillah

أخبرنا محمد بن إسحاق بن إبراهيم مولى ثقيف حدثنا الوليد بن شجاع بن الوليد السكوني حدثنا أبي حدثنا زياد بن خيثمة حدثنا محمد بن جحادة عن الحسن عن جندب قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaaq bin Ibraahiim maula Tsaqiif : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa’ bin Al-Waliid As-Sakuuniy : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Khaitsamah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Juhaadah, dari Al-Hasan, dari Jundab ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang membaca surat Yaasiin di malam hari dengan mengharap wajah Allah, maka ia akan diampuni”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 2574 dan Al-Mawaarid no. 665.

Abu Haatim mengatakan bahwa riwayat Al-Hasan dari Jundab adalah mursal. Namun jumhur mengatakan bersambung alias Jundab memang merupakan syaikh dari Al-Hasan.

2. Jalur Abu Hurairah

حدثنا الوليد بن شجاع حدثني أبي حدثني زياد بن خيثمة عن محمد بن جحادة عن الحسن عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له في تلك الليلة

Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa' : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Ziyaad bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhaadah, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah, ia berkata Telah bersabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam : "Barangsiapa membaca YASIN pada suatu malam dengan mengharap Wajah Allah, niscaya akan dia akan diampuni pada malam itu" [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 3417].

Riwayat AlHasan dari Abu Hurairah adalah mursal, sebagaimana dikatakan jumhur (Ayyuub, 'Aliy bin Zaid, Bahz bin Asad, Yuunus bin 'Ubaid, dan yang lainnya).

3. Jalur 'Athaa' secara mursal.

حدثنا الوليد بن شجاع حدثني أبي حدثني زياد بن خيثمة عن محمد بن جحادة عن عطاء بن أبي رباح قال بلغني أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من قرأ يس في صدر النهار قضيت حوائجه

Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa' : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Ziyaad bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhaadah, dari 'Athaa' bin Abi Rabbaah, ia berkata : Telah sampai kepadaku bahwasannya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Siapa membaca YASIN pada permulaan siang maka akan dipenuhi kebutuhannya" [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy no. 3418].

Riwayat ini lemah karena mursal.

4. Jalur Ma'qil bin Yasar.

أخبرنا علي بن أحمد بن عبدان أنا أحمد بن عبيد الصفار ثنا أبو مسلم إبراهيم بن عبد الله ثنا أبو عمر الضرير ثنا المعتمر بن سليمان عن أبيه عن رجل عن معقل بن يسار المزني : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال :

من قرأ يس ابتغاء وجه الله عز و جل غفر له ما تقدم من ذنبه فأقرؤها عند موتاكم

Telah menceritakan kepada kami 'Aliy bin Ahmad bin 'Abdaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin 'Ubaid Ash-Shaffaar : Telah menceritakan kepada kami Abu Muslim Ibraahiim bin 'Abdillah : Telah menceritakan kepada kami Abu 'Umar Adl-Dlariir: Telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir bin Sulaimaan, dari ayahnya, dari seorang laki-laki, dari Ma'qil bin Yasaar Al-Muzanniy : Bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : "Barangsiapa yang membaca YASIN karena mengharap wajah Allah, 'azza wa jalla, niscaya ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka bacalah di sisi orang yang meninggal di antara kalian" [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman, no. 2231].

Sanad riwayat ini lemah karena ada perawi yang mubham. Di sini tidak disebutkan lafadh malam atau siang sebagaimana riwayat sebelumnya.
Abu Al-Jauzaa' : mengatakan...
on
22 Juli 2011 22:55

5. Riwayat mauquf Ibnu 'Abbaas radliyallaahu 'anhu.

حدثنا عمرو بن زرارة ثنا عبد الوهاب ثنا راشد أبو محمد الحماني عن شهر بن حوشب قال : قال ابن عباس من قرأ يس حين يصبح أعطي يسر يومه حتى يمسي ومن قرأها في صدر ليلة أعطي يسر ليلته حتى يصبح

Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Zuraarah : Telah menceritakan kepada kami 'Abdul-Wahhaab : Telah menceritakan kepad kami Raasyid Abu Muhammad Al-Himmaaniy, dari Syahr bin Hausyan, ia berkata : Ibnu 'Abbaas berkata : "Siapa yang membaca YASIN ketika pagi maka dia akan mendapatkan kemudahan pada hari itu sampai sore. Siapa yang membacanya pada awal malam, maka dia akan mendapat kemudahan pada malam itu sampai subuh" [Diriwayatkan Ad-Daarimiy no. 3419].

Sanad hadits ini lemah karena Syahr bin Hausyab. Ia banyak dikritik karena faktor hapalannya. Haditsnya baik untuk mutaba'ah.

PEMBAHASAN :

Perhatikan riwayat no, 1, 2, dan 3. Sanad riwayat itu pada hakekatnya satu, yaitu Al-Waliid bin Syujaa' : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepadaku Ziyaad bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhaadah, dari Al-Hasan. Nah, dari sini kemudian nampak idlthirabnya. Kadang Al-Hasan meriwayatkan dari Jundab dari Nabi, kadang meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi, dan kadang meriwayatkan dari 'Atha' secara mursal dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Selain idlthirab pada sanad, nampak pula idlthirab pada matan. Pada riwayat 1 dan 2 disebutkan membaca di waktu malam, sedangkan di riwayat 3 disebutkan membaca di permulaan siang.

Riwayat no. 1, 2, dan 3 bukanlah jenis riwayat yang saling menguatkan karena hakekatnya satu sanad.

Adapun hadits Ma'qil, telah kita ketahui kelemahannya. Selain itu, matannya juga berbeda, karena di situ tidak disebutkan waktu membacanya (apakah malam atau sing). Namun disebutkan secara mutlak : Barangsiapa yang membaca surat Yasin. Dan kemudian ada tambahan untuk membaca di sisi orang yang meninggal.

Hadits Ma'qil ini tidak bisa menguatkan riwayat sebelumnya dengan alasan yang telah saya sebutkan.

Adapun riwayat Ibnu 'Abbaas, selain dengan sebab kedla'ifannya, ia juga berstatus mauquf yang tidak bisa menguatkan riwayat marfu' sebelumnya menurut pendapat yang raajih di kalangan muhadditsiin. Juga, Anda dapat lihat bahwa matannya agak sedikit berbeda.


Sumber :http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/07/aliy-bin-abi-thaalib-berbaiat-kepada.html

No comments:

Post a Comment

Post a Comment