Friday, July 22, 2011

KEUTAMAAN MU'AWIYAH RA ( Bantahan tentang riba, minum arak, membunuh dan mengambil harta secara bathil )

Kritikan Kaum Pendengki Terhadap Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu

Para pendengki telah menuduh Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu dengan berbagai tuduhan yang amat dipaksakan. Berita tentang ucapan dan perilaku Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu, diselewengkan agar sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Berikut ini kami maparkan beberapa krirtikan saja, terhadap Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu, beserta tanggapan kami.
1. Mu’awiyah menghalalkan riba
Berikut riwayatnya:
حدثنا هشام بن عمار، حدثنا يحيى بن حمزة، حدثني برد بن سنان، عن إسحاق ابن قبيصة، عن أبيه؛ أن عبادة بن الصامت الأنصاري، النقيب، صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم غزا، مع معاوية، أرض الروم. فنظر إلى الناس وهم يتبايعون كسر الذهب بالدنانير، وكسر الفضة بالدراهم. فقال: يا أيها الناس، إنكم تأكلون الربا. سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ((لا تبتاعوا الذهب بالذهب إلا مثلا بمثل. لا زيادة بينهما ولا نظرة)) فقال له معاوية: يا أبا الوليد، لا أرى الربا في هذه إلا من كان نظرة. فقال عبادة: أحدثك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وتحدثني عن رأيك! لئن أخرجني الله، لا أساكنك بأرض لك علي فيها إمرة. فلما قفل لحق بالمدينة. فقال له عمر بن الخطاب: ما أقدمك يا أبا الوليد؟ فقص عليه القصة، وما قال من مساكنته. فقال: ارجع يا أبا الوليد إلى أرضك. فقبح الله أرضا لست فيها وأمثالك. وكتب إلى معاوية: لا إمرة لك عليه. واحمل الناس على ما قال، فإنه هو الأمر.
Bercerita kepada kami Hisyam bin ‘Imar, bercerita kepada kami Yahya bin Hamzah, bercerita kepada saya Burdun bin Sinan, dari Ishaq bin Qabishah dari Ayahnya bahwa Ubadah bin Shamit Al Anshari seorang Utusan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pergi berperang bersama Muawiyah ke negeri Rum. Suatu saat Ia melihat orang-orang tukar menukar emas dengan menambah beberapa dinar sebagai tambahan dan tukar menukar perak dengan tambahan beberapa dinar. Maka Ubadah bin Shamit berkata “Wahai manusia sesungguhnya kamu melakukan riba karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda “Tidak ada tukar menukar antara emas dengan emas kecuali setara dengan tidak menambah dan tidak menuggu (tunai)”. Muawiyah berkata kepadanya “ Wahai Abu Walid aku tidak melihat itu sebagai riba kecuali jika memang menunggu waktu”. Ubadah berkata “Aku berkata kepadamu hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang kamu berbicara dengan akal pikiranmu sendiri. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengeluarkan aku, aku tidak mau tinggal di negeri yang sama denganmu sedang engkau menjadi pemimpinnya”. Ketika Ubadah kembali ke Madinah maka Umar bertanya kepadanya “Apa yang membuatmu kembali wahai Abul Walid?”. Maka dia menceritakan perselisihannya dengan Muawiyah serta janjinya untuk tidak tinggal di tanah yang sama dengan Muawiyah. Umar berkata “kembalilah kamu ke negerimu Abul Walid, semoga Allah menjauhkan kebaikan suatu negri yang tidak memiliki dirimu dan orang-orang sepertimu”. Kemudian Umar menulis surat kepada Muawiyah “kamu tidak berhak memerintahnya dan perintahkan orang-orang untuk mengikuti ucapannya (Abul Walid) karena dialah yang benar”. (HR. Ibnu Majah No. 18. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 18)
Hadits ini menunjukkan kelirunya Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhuma, dan kekeliruan itu pun tidak kita ingkari. Tetapi, tidak benar membawa kekeliruan ini dengan pemaknaan bahwa dia telah menghalalkan apa-apa yang Allah Ta’ala haramkan plus dijuluki membangkang terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yakni riba. Yang diingkari Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu adalah kebenaran atas keberadaan hadits tersebut, ini dalam rangka kehati-hatian beliau dalam meriwayatkan hadits. Hal ini dapat kita temui dalam hadits lain yang setema dengan hal ini.
حدثنا عبيدالله بن عمر القواريري حدثنا حماد بن زيد عن أيوب عن أبي قلابة قال كنت بالشام في حلقة فيها مسلم بن يسار فجاء أبو الأشعث قال قالوا أبو الأشعث أبو الأشعث فجلس فقلت له حدث أخانا حديث عبادة بن الصامت قال نعم غزونا غزاة وعلى الناس معاوية فغنمنا غنائم كثيرة فكان فيما غنمنا آنية من فضة فأمر معاوية رجلا أن يبيعها في أعطيات الناس فتسارع الناس في ذلك فبلغ عبادة بن الصامت فقام فقال إني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم ينهى عن بيع الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح إلا سواء بسواء عينا بعين فمن زاد أو ازداد فقد أربى فرد الناس ما أخذوا فبلغ ذلك معاوية فقام خطيبا فقال ألا ما بال رجال يتحدثون عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أحاديث قد كنا نشهده ونصحبه فلم نسمعها منه فقام عبادة بن الصامت فأعاد القصة ثم قال لنحدثن بما سمعنا من رسول الله صلى الله عليه و سلم وإن كره معاوية ( أو قال وإن رغم ) ما أبالي أن لا أصحبه في جنده ليلة سوداء قال حماد هذا أو نحوه

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar Al Qawariri yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayub dari Abi Qilabah yang berkata “Ketika berada di Syam, saya mengikuti suatu halaqah dan disana ada Muslim bin Yasar, kemudian datanglah Abul Asy’ats. Lalu orang-orang berkata “Abul Asy’ats telah datang, Abul Asy’ats telah datang”. Ketika ia duduk, aku berkata kepadanya “ceritakanlah hadis kepada saudara kami yaitu hadis Ubadah bin Shamit”. Dia menjawab “baiklah, suatu ketika kami mengikuti perperangan dan di dalamnya ada Muawiyah, lalu kami mendapatkan ghanimah yang banyak diantaranya ada wadah yang terbuat dari perak. Muawiyah kemudian menyuruh seseorang untuk menjual wadah tersebut ketika orang-orang menerima bagian harta ghanimah maka orang-orang ramai menawarnya . Hal itu terdengar oleh Ubadah bin Shamit maka ia berdiri dan berkata “Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam kecuali dengan takaran yang sama dan tunai, barangsiapa melebihkan maka ia telah melakukan riba”. Oleh karena itu orang-orang menolak dan tidak jadi mengambil wadah tersebut. Hal itu sampai ke telinga Muawiyah maka dia berdiri dan berkhutbah, dia berkata: “Kenapa ada beberapa orang menyampaikan hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam padahal kami telah bersama Beliau dan kami tidak pernah mendengar hal itu dari Beliau”. Kemudian Ubadah bin Shamit berdiri dan mengulangi ceritanya dan berkata: “Sungguh kami akan selalu meriwayatkan apa yang kami dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun Muawiyah membencinya” atau dia berkata “Saya tidak peduli walaupun akan dipecat dari tentaranya di malam hari yang gelap gulita”. Hammad mengatakan: ini atau yang seperti itu ”. (HR. Muslim No. 1587, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 10260, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 5/297)
Jadi, yang diingkari oleh Mu’awiyah adalah keberadaan hadits tersebut, bukan dia mengingkari keharaman riba. Walau kita menganggap bahwa ‘Ubadah bin Ash Shamit adalah pihak yang benar dan Mu’awiyah yang keliru, tetaplah kita tidak mencela dan menghinanya dengan sebutan dia telah menghalalkan riba dan inkar sunnah, sebab kejadian seperti ini cukup sering terjadi, yakni seorang sahabat meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu sahabat nabi yang lain –khususnya yang belum pernah dengar- mengingkarinya. Bukan karena mengingkari isinya, tetapi: benarkah adanya hadits tersebut?
Tetapi bagi orang yang di hatinya telah ada kebencian, maka bagaimana pun juga Mu’awiyah Radhiallahu ‘Ahu tetaplah salah.
Sungguh, zalim adalah perbuatan yang diharamkan. Menimbang untuk orang lain secara semena-mena, tetapi untuk diri sendiri dibuat seadil mungkin. Sungguh, para sahabat nabi –Radhiallahu ‘Anhum – tidaklah ma’shum (terjaga dari dosa). Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka pernah melakukan kekeliruan. Namun, kita tidaklah mengotori lisan kita dengan mencerca mereka hanya karena kesalahan mereka yang tidak seberapa dibanding jasa mereka terhadap Islam. Na’udzubillah …. Itu bukan akhlak seorang muslim!
Apakah kita mau mencerca Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, karena beliau pernah membuat nabi marah? Sebagaimana diceritakan dalam hadits muttafaq ‘alaih (Imam Bukhari dan Imam Muslim).

عن علي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم طرقه وفاطمة، فقال: (ألا تصليان؟) قال فقالت: يا رسول الله أنفسنا بيد الله.فإن شاء أن يبعثنا بعثنا، فانصرف حين قلت ذلك، ثم سمعته وهو مول يضرب فخذه وهو يقول: (وكان الانسان أكثر شئ جدلا)

Dari ‘Ali, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangunkan Ali dan Fathimah. Beliau bersabda: “Kalian berdua sudah shalat (malam)?” Ali menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia berkehendak niscaya Dia akan membangunkan kami.” Lalu nabi berpaling ketika saya mengatakan demikian, kemudian saya mendengarnya bergumam sambil memukul-mukul pahanya, dan bersabda: “Memang manusia itu suka banyak berdebat!” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Adakah orang yang tega mencerca Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu karena dia telah mendebat nabi dan membuatnya kesal? Lalu kenapa cercaan begitu mudah keluar ketika yang melakukan kesalahan adalah Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu? Inilah ketidakadilan alias kezaliman. Memang kebencian sangat dekat dengan perilaku zalim (tidak pada tempatnya).

2. Mu’awiyah Peminum Khamr

Tuduhan ini berdasarkan riwayat:

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، حَدَّثَنِي حُسَيْنٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَأَبِي عَلَى مُعَاوِيَةَ فَأَجْلَسَنَا عَلَى الْفُرُشِ، ثُمَّ أُتِينَا بِالطَّعَامِ فَأَكَلْنَا، ثُمَّ " أُتِينَا بِالشَّرَابِ فَشَرِبَ مُعَاوِيَةُ، ثُمَّ نَاوَلَ أَبِي، ثُمَّ قَالَ: مَا شَرِبْتُهُ مُنْذُ حَرَّمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " ثُمَّ قَالَ مُعَاوِيَةُ: كُنْتُ أَجْمَلَ شَبَابِ قُرَيْشٍ وَأَجْوَدَهُ ثَغْرًا، وَمَا شَيْءٌ كُنْتُ أَجِدُ لَهُ لَذَّةً كَمَا كُنْتُ أَجِدُهُ وَأَنَا شَابٌّ غَيْرُ اللَّبَنِ، أَوْ إِنْسَانٍ حَسَنِ الْحَدِيثِ يُحَدِّثُنِي

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di hamparan . Ia menyajikan makanan dan kami memakannya kemudian ia menyajikan minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata: “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”. Muawiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan aku dahulu memiliki kenikmatan seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku”. (HR. Ahmad No. 22941, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 11/94-95, tetapi tidak ada teks: ” …. dan menawarkan kepada ayahku. Dia berkata: “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”. Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 27/127. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan; isnadnya qawwi-kuat )

Tentang perkataan: “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”. Siapakah yang mengucapkan kalimat ini ?

Imam Ibnu ‘Asakir memberikan komentar sebagai berikut:

أي: معاوية بن أبي سفيان، ولعله قال ذلك لِما رأَى من الكراهة والإنكار في وجه بريدة، لظنِّه أنه شرابٌ مُحرَّم، والله أعلم .



“Yaitu Mu’awiyah bin Abi Sufyan, barangkali dia mengatakan demikian ketika melihat adanya ketidaksukaan dan penolakan pada wajah Buraidah, yang menunjukkan dugaan bahwa dia meminum sesuatu yang diharamkan. Wallahu A’lam.” (Tarikh Dimasyq, Hal. 417)

Keterangan Imam Ibnu ‘Asakir ini adalah kemungkinan pertama, yaitu menunjukkan bahwa justru Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu bukanlah seorang pemabuk dan peminum khamr, sebab dia menjauhkan minuman tersebut sejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarangnya. Kemungkinan lain adalah jika kalimat : “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”, adalah ucapan Buraidah, maka ini semakin menunjukkan bahwa bisa jadi Mu’awiyah belum tahu bahwa itu sudah diharamkan, atau mungkin dia sudah tahu tapi mentakwilnya, sehingga dia menghidangkan minuman itu ( dalam hadits itu tidak disebutkan jenis minumannya) lalu menyicipinya, sampai akhirnya Buraidah memberi tahu bahwa dia sudah tidak meminumnya sejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengharamkannya. Wallahu A’lam

3. Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu Memerintahkan Membunuh dan Makan Harta secara batil

Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

هذا ابن عمك معاوية يأمرنا أن نأكل أموالنا بيننا بالباطل. ونقتل أنفسنا

“Inlah anak pamanmu, Mu’awiyah, dia memerintahkan kami untuk memakan harta kami secara batil dan memerintahkan kami membunuh jiwa-jiwa kami.” (HR. Muslim No. 1844)

Tidak benar hadits ini dijadikan alasan untuk menyebut bahwa Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu memerintahkan pembunuhan dan makan harta haram. Hadits ini tidak berbicara secara umum, melainkan terkait perselisihan beliau dengan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Beliau berijtihad untuk memerangi para pembela Ali Radhiallahu ‘Anhu dan merampas harta mereka dalam konteks perang. Tentu, ini adalah ijtihad yang keliru. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah tidaklah membela Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu dalam beberapa kesalahannya, termasuk hal ini, dan dengan tegas mengatakan Ali Radhiallahu ‘Anhu adalah pihak yang benar. Tetapi, tidaklah kesalahan itu dijadikan alat untuk melabelkan Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu sebagai seorang pembunuh dan gelar buruk lainnya. Sebab, kita paham bahwa salah dalam ijtihad diberikan satu pahala, walau diketahui kesalahan tersebut dikemudian hari berakibat fatal.

Hal ini juga ditegaskan oleh Al Imam An Nawawi Rahimahullah tentang hadits di atas:

الْمَقْصُود بِهَذَا الْكَلَام : أَنَّ هَذَا الْقَائِل لَمَّا سَمِعَ كَلَام عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن الْعَاصِ ، وَذَكَرَ الْحَدِيث فِي تَحْرِيم مُنَازَعَة الْخَلِيفَة الْأَوَّل ، وَأَنَّ الثَّانِي يُقْتَل ، فَاعْتَقَدَ هَذَا الْقَائِل هَذَا الْوَصْف فِي مُعَاوِيَة لِمُنَازَعَتِهِ عَلِيًّا - رَضِيَ اللَّه عَنْهُ

“Maksud perkataan ini adalah bahwa orang yang mengucapkan ini ketika mendengar perkataan Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash, dan menyebutkan hadits pengharaman menentang khalifah, itu yang pertama, ada pun yang kedua tentang larangan dibunuhnya (khalifah). Si pengucap meyakini bahwa sifat ini ada pada diri Mu’awiyah karena dia telah menentang ‘Ali Radhiallahu ‘Anhu.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/318. Mauqu’ Ruh Al Islam)

Peperangan antara keduanya tidak boleh membuat kita mengeluarkan tuduhan ‘murtad’ kepada salah satu di antara keduanya, atau kedua-duanya. Sebab Allah Ta’ala tetap mengisyaratkan, bisa saja terjadi kaum beriman akan saling memerangi. Allah Ta’ala pun tetap menyebut ‘mukmin’ kepada dua kelompok yang saling berperang itu.

Allah Ta’ala berfirman:

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Hujurat (49): 9)

Ayat ini dengan tegas menyebut dua golongan yang berperang sebagai ‘beriman.’ Wallahu A’lam

1 comment: